BIMBINGAN MEREDUKSI KECEMASAN AKADEMIK PESERTA DIDIK MELALUI TEKNIK SELF AFFIRMATION : Penelitian Pra-Eksperimen Terhadap Peserta Didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012.

37 

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMAKASIH ... iii

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Pertanyaan Penelitian ... 7

E. Metode Penelitian ... 8

F. Manfaat Penelitian ... 8

G. Struktur Organisasi Skripsi ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 10

A. Konsep Kecemasan Akademik dan Teknik Self Affirmation ... 10

B. Kerangka Berpikir ... 37

C. Hipotesis Penelitian ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 40

B. Desain Penelitian ... 40

C. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 41

D. Definisi Operasional Variabel ... 41

E. Instrumen Penelitian ... 42

F. Proses Pengembangan Instrumen ... 44

G. Pengumpulan Data Penelitian ... 46

(2)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59

A. Intensitas Kecemasan Akademik Peserta Didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 ... 59

B. Kecemasan AkademikPeserta Didik ... 63

C. Program Teknik Self Affirmation dalam Mereduksi kecemasan Akademik Peserta Didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 ... 68

D. Pelaksanaan Teknik Self Affirmation dalam Mereduksi kecemasan Akademik Peserta Didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 ... 78

E. Efektivitas Teknik Self Affirmation dalam Mereduksi kecemasan Akademik Peserta Didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 ... 110

F. KeterbatasanPenelitian ... 119

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 121

A. Kesimpulan ... 121

B. Saran ... 121

DAFTAR PUSTAKA ... 123

(3)

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

3.1 Kisi-kisi Instrumen Kecemasan Akademik... 43

3.2 Konversi Skor Mentah Menjadi Matang dengan Batas Lulus Ideal... 47

3.3 Interpretasi Skor Kategorisasi Kecemasan Akademik... 47

3.4 Rekap Penilaian Instrumen Program Intervensi... 58

4.1 Gambaran Umum Kecemasan Akademik Peserta didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012... 59

4.2 Gambaran Kecemasan Akademik Peserta didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012... 63

4.3 Profil Kecemasan Akademik Peserta didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012... 64

4.4 Analisis Berpikir Peserta Didik (Sesi 1)... 81

4.5 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi2)... 84

4.6 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi3)... 88

4.7 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi4)... 92

4.8 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi5)... 96

4.9 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi6)... 100

4.10 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi7)... 103

4.11 AnalisisBerpikirPesertaDidik (Sesi8)... 106

4.12 Hasil Perhitungan Uji Wilcoxon Test Selisih Pre-Test dan Post-Test Kelompok Eksperimen Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011/2012... 111

4.13 Perbedaan Tingkat Kecemasan Akademik Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Peserta Didik Kelompok Intervensi... 111

4.14 Perbedaan Skor Kecemasan Akademik Peserta DidikSebelum dan Sesudah Intervensi melalui Teknik Self Affirmation... 112

4.15 Penurunan Gejala Kecemasan Akademik Peserta Didik Setelah Intervensi Melalui Teknik Self Affirmation... 113

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Penelitian

Masa remaja merupakan masa dimana setiap individu mengalami perubahan

yang drastis baik secara fisik, psikologis, maupun lingkup sosialnya dari anak usia

sekolah menuju persiapan dewasa. Seperti yang diungkapkan Erikson (Kann,

2008: 212), „masa remaja ditandai oleh perubahan yang besar diantaranya

kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis, pencarian

identitas dan membentuk hubungan baru termasuk mengekspresikan perasaan

seksual‟. Hal tersebut senada dengan pendapat Steinberg (Peachmann, et.al.,

2005: 202) „remaja pada usia 15-18 tahun mengalami banyak perubahan secara

kognitif, emosional dan sosial, mereka berpikir lebih kompleks, secara emosional

lebih sensitif dan lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan

teman-temannya‟.

Dalam prosesnya, remaja mengalami tekanan yang diakibatkan dari

perubahan yang drastis tersebut. Pada sebagian besar remaja, mungkin akan

mengalami berbagai hambatan dalam proses perubahannya. Hambatan-hambatan

tersebut akan sangat mengganggu kesehatan fisik dan emosi mereka,

menghancurkan motivasi dan kemampuan menuju sukses di sekolah dan

merusakkan hubungan pribadi mereka.

Hambatan yang banyak dialami remaja ini merupakan manifestasi dari stres,

di antaranya depresi, kecemasan, pola makan tidak teratur, penyalahgunaan obat

sampai penyakit yang berhubungan dengan fisik. Seperti yang diungkapkan Hall

(Taiwo, 2010: 16) „masa ini sebagai periode “badai dan tekanan” atau “storm &

stress” suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat dari

perubahan fisik dan kelenjar‟. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Walker

(5)

Penyebab utama ketegangan dan masalah yang ada pada remaja berasal dari hubungan dengan teman dan keluarga, tekanan dan harapan dari diri mereka sendiri dan orang lain, tekanan di sekolah oleh guru dan pekerjaan rumah, tekanan ekonomi dan tragedi yang ada dalam kehidupan mereka misalnya kematian, perceraian dan penyakit yang dideritanya atau anggota keluarganya.

Sebagai salah satu contoh yang sering dialami remaja adalah tekanan di

sekolah. Peserta didik merasakan kondisi yang kurang nyaman dalam proses

akademik. Ketidaknyamanan tersebut menimbulkan kecemasan sehingga peserta

didik menjadi tidak dapat berkonsentrasi dalam sebagian atau keseluruhan

aktivitas akademik.

Lebih lanjut dijelaskan adanya tuntutan terhadap sejumlah kemampuan

yang harus dimiliki peserta didik, dijelaskan dalam standar kompetensi lulusan

(Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006), lulusan SMA hendaknya:

(1) memiliki kemampuan mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya, (2) menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan dan pekerjaannya, (3) menunjukkan cara berpikir logis, kritis dan inovatif dalam mengambil keputusan, (4) menunjukkan sikap kompetitip untuk mendapatkan hasil yang baik, (5) memiliki kemampuan menganalisis, dan memecahkan masalah kompleks, (6) menghasilkan karya kreatif, baik individu atau kelompok, (7) menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.

Kompleksitas permasalahan serta kehidupan yang penuh dengan tantangan,

tekanan dan persaingan tersebut sangat mungkin dialami dan dirasakan oleh

peserta didik. hal inilah sebagai salah satu yang mendorong munculnya

kecemasan akademik, yaitu suatu kecemasan yang bersifat temporer atau timbul

pada situasi tertentu dan terhadap sesuatu yang spesifik yang hanya terjadi ketika

proses akademik berlangsung (Greenberg 2002: 132).

Kecemasan akademik merupakan reaksi dari diri yang merasa tidak mampu

untuk melakukan berbagai aktivitas dalam bentuk akademik. Intensitas belajar

yang tinggi, rentang waktu belajar formal yang lebih lama dan tugas-tugas sekolah

yang lebih banyak dapat menimbulkan kecemasan akademik pada peserta didik.

(6)

berhubungan dengan tugas-tugas akademik, seperti berdiskusi di kelas, berbicara

di depan kelas, mengerjakan tugas-tugas sekolah dan ketika mengikuti ujian.

Menurut Tobias (Matthews et al., 2000: 272) „peserta didik yang cemas

menunjukkan adanya kesulitan khusus dalam penginstruksian informasi sehingga

kehilangan proses pengaturannya, dan melibatkan memori jangka pendek dan

jangka sedang‟. „Fakta tersebut sesuai dengan penelitian laboratorium dan terapan

yang menunjukkan kecemasan mengurangi keaktifan dalam pengaturan kembali

informasi dalam memori‟ (Naveh-Benjamin et al. (Matthews et al., 2000: 272).

Hal ini senada dengan penelitian Zeidner (Matthews et al., 2000: 272) „kecemasan cenderung mengganggu proses belajar dan prestasi dalam pendidikan, bahkan mengganggu perhatian, working memory, dan retrival’.

Menurut Ottens (1991: 5) peserta didik yang mengalami kecemasan

akademik menunjukkan gejala seperti :

Kekhawatiran yang tidak beralasan, dialog yang maladaptif, pengertian dan keyakinan yang salah, perhatian yang menurun akibat pengganggu eksternal (perilaku peserta didik lain, jam, suara-suara bising), perhatian menurun akibat pengganggu internal (kekhawatiran, melamun, reaksi fisik), otot tegang, berkeringat, jantung berdetak kencang, tangan gemetar, prokrastinasi dan kecermatan yang berlebihan. Apabila kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut, maka peserta didik tidak akan mampu mencapai prestasi akademik yang telah ditargetkan.

Permasalahan kecemasan akademik yang dialami peserta didik memerlukan

sebuah upaya bantuan. Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam

pendidikan memegang peranan penting dalam membantu permasalahan akademik

peserta didik yang dapat menghambat pengembangan potensinya. Upaya

bimbingan dan konseling yang diperlukan bertujuan untuk mengatasi hambatan

dan kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam proses pelaksanaan dan

penyesuaian aktivitas akademik dengan berbagai tuntutannya seperti mengerjakan

PR (pekerjaan rumah), berdiskusi, berbicara di depan kelas, mengikuti pelajaran

(7)

Bimbingan dan konseling yang membantu permasalahan akademik peserta

didik yaitu bimbingan dan konseling akademik. “Bimbingan dan konseling

akademik adalah proses bantuan untuk memfasilitasi peserta didik dalam

mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar, dan memecahkan

masalah-masalah belajar atau akademik” (Yusuf, 2009: 51).

Rancangan layanan bimbingan dan konseling akademik diperlukan dalam

rangka melakukan upaya kuratif terkait masalah akademik peserta didik yaitu

berupa layanan responsif. “Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada

peserta didik yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan

pertolongan dengan segera” (Yusuf, 2009: 81).

Layanan responsif yang tepat bagi permasalahan kecemasan akademik

peserta didik adalah melalui konseling yang berfokus pada aspek kognitif. Hal ini

karena kecemasan akademik berhubungan erat dengan pikiran-pikiran peserta

didik dimana proses berpikir peserta didik sedang tidak logis. Pikiran tersebut

berpengaruh sangat kuat bagi perasaan dan tindakan peserta didik yang

mengalami kecemasan akademik. Hal ini diungkapkan juga oleh Ottens (1991: 1), “Kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan peserta didik

tidak diterima secara baik ketika tugas-tugas akademik diberikan”. Sering kali

hal-hal yang dipikirkan peserta didik nampak sebagai kondisi yang sebenarnya

atau kemungkinan akan terjadi. Peserta didik tidak dapat menentukan respon yang

efektif terhadap kondisi/stimulus yang diterima.

Konseling diberikan kepada peserta didik agar dapat mengelola stimulus

yang datang dan merespon dengan pikiran dan perilaku yang positif dan logis.

Salah satu teknik konseling yang efektif untuk mengatasi kecemasan akademik

adalah teknik self affirmation yang memiliki elaborasi konsep dengan konseling

Modifikasi Perilaku-Kognitif (MPK). Elaborasi ini bisa terlihat dari konsep kedua

teori tersebut. Konsep self affirmation dan MPK sebagai sebuah kemampuan

dalam mengolah perilaku dan pikiran agar tetap dalam kondisi yang diinginkan

dimana orang dapat mengubah cara mereka berpikir untuk merasakan atau

(8)

Modifikasi Perilaku-Kognitif (MPK) adalah pencampuran dari dua model

konseptual manajemen perilaku dan teori kognitif. Perilaku dianggap menjadi

''dipelajari'' dan dengan demikian dapat “dipelajari” semua. Perilaku berfungsi

melayani individu. Mereka bisa berupa hal-hal atau kondisi penguatan yang

berwujud atau tidak berwujud. Teori Kognitif melibatkan pikiran dan perasaan,

dua hal dimana perilaku tidak bisa mengidentifikasi atau mengukur secara

terang-terangan. Teori kognitif akan membahas struktur kognitif dan dialog internal

sebagai alasan untuk berperilaku. Intervensi yang didasarkan pada MPK termasuk

self affirmation dan berpikir sebagai komponen anteseden dan konsekuensi dalam

mengubah perilaku.

Modifikasi Perilaku-Kognitif adalah bentuk intervensi yang menekankan

peran penting dari berpikir dalam cara orang merasakan dan apa yang mereka

lakukan. Seperti yang diungkapkan Salkind (2008: 160), “Modifikasi

Perilaku-Kognitif melibatkan atribusi keyakinan pikiran orang-orang yang secara teoritis

menyebabkan perasaan dan perilaku mereka”.

Manfaat model MPK ini yaitu keyakinan dan pikiran dikonseptualisasikan

sebagai belajar. “Berpikir, merasa, percaya (self affirmation, self narration, skema

diri) sebagai perilaku yang dipelajari dimana orang dapat mengubah cara mereka

berpikir untuk merasakan atau bertindak, terlepas dari situasi” (Salkind, 2008:

160).

Dalam proses intervensinya, self affirmation digunakan sebagai teknik

untuk memberikan berbagai wawasan informasi baru yang membantu peserta

didik yang mengalami kecemasan akademik untuk berpikir lebih logis dan

positif. Pikiran tersebut berpengaruh sangat kuat bagi perasaan dan tindakan

peserta didik yang akhirnya dapat menurunkan kecemasan akademik.

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi fokus kajian dalam

penelitian ini adalah: “Apakah teknik self affirmation efektif dalam mereduksi

kecemasan akademik peserta didik kelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun

(9)

B.Identifikasi dan Rumusan Masalah

Peserta didik SMA dalam aspek kognitifnya sudah memiliki kematangan

dalam proses berpikirnya. Seperti yang diungkapkan Makmun (2000: 35), “peserta didik SMA berada pada tahapan meningkatnya kapasitas intelektual dimana persentase taraf kematangan dan kesempurnaan IQ (Intelegence Quotient)

seseorang mencapai 92% nya sejak usia 13 tahun”. Artinya tingkat kematangan

intelektual pada usia remaja terjadi perubahan signifikan yang ditandai dengan

adanya eksplorasi kematangan intelektual. Tahapan eksplorasi kematangan

intelektual bisa dikembangkan melalui pendidikan yang dimanifestasikan dengan

luasnya wawasan informasi dan kapasitas berfikir. Dengan demikian, masa remaja

merupakan masa yang penuh potensi dalam menentukan keberhasilan akademik.

Potensi yang dimiliki remaja membuat keluarga dan lingkungan menaruh

harapan-harapan yang tinggi terhadap keberhasilan dalam jenjang pendidikan.

Dalam pencapaiannya, peserta didik berusaha mengerjakan dan menuntaskan

berbagai tugas akademiknya, dan berusaha untuk tidak gagal dalam

mengerjakannya, sehingga tugas yang terlalu banyak, tuntutan yang terlalu tinggi,

dan keterbatasan keterampilan coping membuat beberapa peserta didik tidak

mampu beradaptasi yang menyebabkan peserta didik mengalami kecemasan

terutama dalam lingkup akademik.

„Kecemasan akademik tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan diri peserta didik. Kecemasan akademik berdampak pada kecenderungan mengganggu

proses belajar dan prestasi dalam pendidikan, bahkan mengganggu perhatian,

working memory, dan retrival’ (Zeidner, (Matthews et al., 2000: 272)). Menurut

Ross (Sherman, 2006: 5) „berbagai solusi bisa diberikan melalui terapi perilaku,

terapi kognitif, dan instruksi ruang kelas tradisional dalam berbagai teknik seperti

self Affirmation, relaksasi, restrukturisasi kognitif‟.

Upaya mengatasi permasalahan ini, peneliti menggunakan teknik self

affirmation sebagai salah satu treatment dalam mereduksi kecemasan akademik

peserta didik. Hal ini karena prinsip-prinsip dari teori self affirmation

menunjukkan “self affirmation dapat mengurangi berbagai kejadian reaksi

(10)

berfokus pada pikiran dan perilaku. Teknik self affirmation dapat mereduksi

kecemasan akademik dengan cara mengubah cara mereka berpikir untuk

merasakan atau bertindak, terlepas dari situasi.

Penelitian Correll et al. (2004: 2) self affirmation meningkatkan

kemungkinan peserta langsung merasakan perasaan mereka terhadap suatu hal

atau orang lain”. Artinya, setelah individu mengafirmasi nilai-nilai mereka,

mereka menjadi lebih mungkin untuk menjadi percaya, terbuka, dan penuh kasih.

Perasaan-perasaan ini, pada gilirannya, mengurangi kemungkinan reaksi defensif

seperti kecemasan.

C.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk menguji efektivitas teknik self affirmation

dalam mereduksi kecemasan akademik peserta didik Kelas X SMA Labschool

UPI Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

Adapun tujuan khusus dalam penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui gambaran kecemasan akademik peserta didik Kelas X

SMA Labschool UPI Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

2. Untuk mengetahui rancangan intervensi melalui teknik self affirmation dalam

mereduksi kecemasan akademik peserta didik Kelas X SMA Labschool UPI

Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

3. Untuk mengetahui apakah teknik self affirmation efektif dalam mereduksi

kecemasan akademik peserta didik kelas X SMA Labschool UPI Bandung

Tahun Ajaran 2011-2012.

D.Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan tujuan di atas, maka pertanyaan yang diajukan dalam penelitian

ini adalah.

1. Seperti apa gambaran kecemasan akademik peserta didik Kelas X SMA

(11)

2. Seperti apa rancangan intervensi melalui teknik self affirmation dalam

mereduksi kecemasan akademik peserta didik Kelas X SMA Labschool UPI

Bandung Tahun Ajaran 2011-2012.

3. Apakah teknik self affirmation efektif dalam mereduksi kecemasan akademik

peserta didik kelas X SMA Labschool UPI Bandung Tahun Ajaran

2011-2012.

E. Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif,

yaitu metode yang menggunakan analisis statistik untuk mengetahui tingkat

reduksi kecemasan akademik setelah diberikan intervensi melalui self affirmation.

Metode penelitian yang digunakan adalah Pra-Eksperimen dengan desain

one-group pretest-posttest yakni desain eksperimen dengan memberikan pretest

sebelum diberikan intervensi dan posttest setelah diberikan intervensi.

F. Manfaat

1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritis penelitian adalah diharapkan hasil penelitian dapat

bermanfaat bagi perkembangan ilmu bimbingan dan konseling.

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis penelitian dibedakan menjadi dua perspektif, yaitu

perspektif peserta didik dan guru.

a. Bagi peserta didik

Manfaat praktisnya adalah peserta didik memperoleh informasi dan

mampu mengenali gejala kecemasan sehingga tidak berpengaruh pada

performa akademiknya. Peserta didik juga dapat mengetahui cara-cara

meningkatkan self affirmation.

b. Bagi guru

Penelitian tersebut dapat memberi kontribusi bagi guru, yaitu berupa

cara-cara penanganan dan kiat-kiat mereduksi kecemasan akademik serta

(12)

G.Struktur Organisasi Skripsi

BAB I: Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Pertanyaan Penelitian

E. Metode Penelitian

F. Manfaat Penelitian

G. Struktur Organisasi Skripsi

BAB II: Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran, dan Hipotesis Penelitian

BAB III: Metode Penelitian

BAB IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan

(13)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Lab-School UPI Bandung. Alasan

pemilihan lokasi penelitian yakni belum tersedianya suatu layanan bimbingan

konseling khususnya bimbingan yang secara khusus difokuskan untuk mereduksi

kecemasan akademik peserta didik.

Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik Kelas X SMA Lab-School

UPI Bandung tahun ajaran 2011-2012. Jumlah subjek penelitian adalah 134 orang.

Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling,

yaitu “teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu” (Sugiyono, 2010:

124). Pemilihan sampel berdasarkan ciri-ciri populasi yaitu peserta didik yang

mengalami karakteristik kecemasan akademik tinggi. Sebanyak 8 peserta didik

termasuk pada kategori kecemasan akademik tinggi. Upaya layanan yang akan

diberikan untuk mereduksi kecemasan akademik peserta didik yaitu berupa

layanan konseling kelompok.

B.Desain Penelitian

Desain penelitian menggunakan one-group pretest-posttest design yakni

desain eksperimen dengan memberikan pre-test sebelum dan sesudah diberikan

perlakuan atau eksperimen. Desain penelitian digunakan untuk memperoleh

gambaran keefektifan teknik self affirmation dalam menangani kesemasan

akademik peserta didikkelas X SMA Lab-School UPI Bandung tahun angkatan

2011-2012. Desain penelitiannya adalah sebagai berikut.

Keterangan:

O1= nilai Pre test (sebelum dilakukan treatment)

X = eksperiment/tindakan (treatment)

O2 = nilai post test ( setelah dilakukan treatment)

(14)

C.Pendekatan dan Metode Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.

Penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat

positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,

pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat

kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Proses penelitian bersifat deduktif, dimana untuk menjawab rumusan masalah

digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesis. Hipotesis

tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan data lapangan. Untuk

mengumpulkan data digunakan instrumen penelitian. Data yang terkumpul

selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif

atau inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti

atau tidak (Sugiyono, 2010:8).

Metode penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen, yaitu “metode

penelitian eksperimen yang desain dan perlakuannya seperti eksperimen tetapi

tidak ada pengontrol variabel sama sekali” (Sugiyono, 2010:109).

D. Definisi Operasional Variabel

Terdapat dua variabel utama dari tema penelitian yaitu kecemasan akademik

dan teknik self affirmation. Definisi operasional variabel diuraikan sebagai

berikut:

1. Secara konsep, “kecemasan akademik yaitu terganggunya pola pemikiran,

respon fisik dan perilaku sehingga kemungkinan performa yang ditampilkan

peserta didik tidak diterima secara baik ketika tugas-tugas akademis

diberikan” (Ottens, 1991:1). Secara operasional yang dimaksud dengan

kecemasan akademik di dalam penelitian ini adalah skor respon peserta

didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung terhadap aspek (1)

terganggunya pola pikir yang ditandai oleh (a) kekhawatiran yang tidak

(15)

yang salah; (2) terganggunya respon fisik yang ditandai oleh (a) otot tegang;

(b) berkeringat; (c) jantung berdetak cepat; dan (d) tangan gemetar; dan (3)

terganggunya perilaku yang ditandai oleh (a) perhatian menurun akibat

pengganggu eksternal; (b) perhatian menurun akibat pengganggu internal;

(c) prokrastinasi; (d) sikap terburu-buru; dan (e) kecermatan yang

berlebihan.

2. Teknik Self afiirmatian, pada penelitian ini didefinisikan sebagai

langkah-langkah konselor untuk meningkatkan kemampuan peserta didik Kelas X

SMA Lab-School UPI Bandung dalam meningkatkan keyakinan positif

melalui pernyataan positif secara berulang-ulang terhadap tugas-tugas

akademik seperti mengerjakan PR, mengikuti ulangan, tampil di depan

kelas, dan mengikuti pembelajaran yang tidak disenangi yang dipersepsinya

bukanlah sebuah beban.

E. Instrumen Penelitian

1. Penyusunan Instrumen

Instrumenyang digunakan dalam penelitian adalah angket yang

dikembangkan dari karakteristik kecemasan akademik Alan J. Ottens. Butir-butir

pernyataan dalam instrumen merupakan gambaran tentang karakteristik

kecemasan akademik peserta didik. Angket tersebut mempunyai dua pilihan

jawaban, yaitu “Ya” dan “Tidak”. Skordalamsetiap item berkisardari 1-0.Angket

pengungkap karakteristik kecemasan akademik digunakan untuk pre-test dan

post-test.

2. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

Kisi-kisi instrumen untuk mengungkapkan karakteristik kecemasan

akademik dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian. Kisi-kisi

(16)

Tabel3.1

Kisi-kisi Instrumen KecemasanAkademik

No Aspek Indikator Pernyataan

(+) (-) Ʃ

Angket kecemasan akademik dibuat dalam bentuk pernyataan-pernyataan

beserta kemungkinan jawabannya. Item pernyataan tentang intensitas kecemasan

akademik peserta didik dibuat dalam bentuk alternatif respon subjek yaitu “Ya”

dan “Tidak”. Skor dalamsetiap item berkisardari 1-0.Semakin tinggi skor yang

diperoleh responden berarti semakin tinggi kecemasan akademiknya, demikian

juga sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh responden berarti semakin

(17)

F. Proses Pengembangan Intrumen

1. Uji Validitas Rasional

Uji validitas rasional bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan

instrumen dari segi bahasa, konstruk dan isi. Penimbangan atau uji validitas

rasional dilakuakn oleh dua dosen ahli. Uji validitas rasional dilakukan dengan

meminta pendapat dosen ahli untuk memberikan penilaian pada setiap item

dengan kualifikasi Memadai (M) dan Tidak Memadai (TM). Item yang diberikan

nilai M berarti item tersebut bisa digunakan dan item yang diberi nilai TM bisa

memiliki dua kemungkinan yaitu item tersebut tidak bisa digunakan atau masih

bisa digunakan dengan revisi terlebih dahulu.

Hasil penilaian menunjukkan secara konstruk seluruh item pada angket

kecemasan akademik termasuk memadai. Terdapat item-item yang perlu

diperbaiki dari segi bahasa dan isi. Hasil penimbangan dari dua dosen ahli dapat

disimpulkan pada pada dasarnya item-item pernyataan dapat digunakan dengan

beberapa perbaikan redaksi agar mudah dipahami peserta didik.

Langkah berikutnya dilakukan uji keterbacaan terhadap lima orang peserta

didik kelas X SMAN 14 Bandung yang memiliki karakteristik yang hampir sama

dengan sampel penelitian. Uji keterbacaan dimaksudkan untuk melihat

sejauhmana keterbacaan instrumen oleh responden sebelum digunakan untuk

kebutuhan penelitian. Hasil uji keterbacaan item pernyataan pada angket dapat

dipahami oleh ke lima peserta didik tersebut.

2. Uji Validitas Butir Item

“Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan suatu instrumen” (Arikunto, 2003:78). Pengujian validitas butir item yang

dilakukan terhadap seluruh item yang terdapat dalam angket yang mengungkap

karakteristik kecemasan akademik peserta didik. Kegiatan uji validitas butir item

bertujuan untuk mengetahui kevalidan instrumen yang akan digunakan. Semakin

tinggi nilai validasi soal, menunjukkan semakin valid instrumen yang akan

digunakan. Pengujian validitas butir item akan menggunakan rumus korelasi

(18)

Setelah besar koefisien korelasi diketahui, langkah selanjutnya adalah

menguji taraf signifikansi korelasi dengan menggunakan rumus uji signifikansi

korelasi product moment yaitu dengan menggunakan rumus distribusi t-student.

Adapun data yang digunakan untuk mengukur validitas item,

merupakandata hasil penyebaran instrumen. Dengan kata lain, penyebaran

instrumen dilaksanakan sekaligus untuk menguji validitas item (built-in).

Berdasarkan pengolahan data, hasil uji validitas menunjukkan dari 60 butir

itempernyataan dari angket kecemasan akademikpeserta didik56butir item

pernyataan dinyatakan valid. Indeks validitas instrumen bergerak diantara 2,018 –

8,746 pada p > 0.05 (Hasil penghitungan validitas pada lampiran C).

3. Uji Reliabilitas Instrumen

Pengujian reliabilitas dilakukan untuk mengetahui keterandalaninstrumen

atau keajegan instrumen. Suatu alat ukur memiliki reliabilitasbaik jika memiliki

kesamaan data dalam waktu yang berbeda sehinggadapat digunakan berkali-kali.

Untuk menguji reliabilitas, penelitimenggunakan Spearman-Brown.

Harga reliabilitas berkisar antara -1 sampai dengan +1, harga reliabilitas

yang diperoleh berada di antara rentangan tersebut. Dimana makin tinggi harga

reliabilitas instrumen maka semakin kecil kesalahan yang terjadi, dan makin kecil

harga reliabilitas maka semakin tinggi kesalahan yang terjadi.

Kriteria tolak ukur koefisien reliabilitas yaitu:

0,00 – 0,199 : derajat keterandalan sangat rendah 0,20 – 0,399 : derajat keterandalan rendah 0,40 – 0,599 : derajat keterandalan cukup 0,60 – 0,799 : derajat keterandalan tinggi 0,80 – 1,00 : derajat keterandalan sangat tinggi

(Arikunto, 2003: 277)

Hasil uji reliabilitas instrumen kecemasan akademik diperoleh koefisien

reliabilitas sebesar 0,88. Merujuk pada klasifikasi rentang koefisien reliabilitas

(19)

G. Pengumpulan Data Penelitian

1. Penyusunan Proposal

Rancangan kegiatan dalam penelitian dituangkan peneliti dalam bentuk

proposal. Langkah penyusunan proposal penelitian yang dilakukan adalah sebagai

berikut.

a. Menentukan permasalahan yang akan dijadikan tema penelitian dan membuat

peta masalah.

b. Menentukan pendekatan masalah yang meliputi metode penelitian, teknik

pengumpulan data, penentuan sampel dan populasi, teknik pengolahan data,

dan teknik analisis data.

c. Menyusun proposal skripsi dengan sistematika penulisan yang telah

ditentukan.

2. Perizinan Penelitian

Perizinan penelitian diperlukan sebagai legitimasi dari pelaksanaan

penelitian. Proses perizinan penelitian diperoleh dari Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, BAAK UPI, yayasan

Lab-School UPI dan SMA Lab-Lab-School UPI Bandung.

3. Penyusunan dan Pengembangan Alat Pengumpul Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket,

yakni sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk mengungkap

karakteristik kecemasan akademik peserta didik kelas X SMA Lab-SchoolUPI

Bandung. Item pernyataan instrumen dikembangkan dari konstruk karakteristik

kecemasan akademik Alan J. Ottens. Angket pengungkap karakteristik kecemasan

(20)

H. Analisis Data

Pada penelitian dirumuskan tiga pertanyaan penelitian. Secara berurutan,

masing-masing pertanyaan penelitian dijawab dengan cara sebagai berikut.

1. Pertanyaan penelitian mengenai gambaran kecemasan akademik peserta

didikkelas X SMA Lab-School UPI Bandung Tahun Ajaran 2011-2012

dijawab dengan menggunakan persentase jawaban peserta didik tentang

kecemasan akademik yang dilakukan dengan mengkoversi skor mentah

menjadi skor matang dengan menggunakan batas lulus ideal dengan cara

menjumlahkan jawaban setiap peserta didik kemudian mencari rata-rata (μ)

dan standar deviasi (σ) untuk memberikan makna diagnostik terhadap skor.

Langkah ini dilakukan untuk memberikan kategori tinggi, sedang, daan

rendah dengan rumus yang tersaji pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Konversi Skor Mentah Menjadi Matang dengan Batas Lulus Ideal

Kategori Rentang Skor

Tinggi X > (μ + 1,0 σ) Sedang (μ - 1,0 σ) ≤x<(μ + 1,0 σ) Rendah X < (μ - 1,0 σ)

Keterangan:

X = skor subjek

μ = rata-rata baku

σ= deviasi standar baku

Rumusan kategorisasi skala yang digunakan sebagai acuan dalam

pengelompokkan skor kecemasan akademik peserta didik. Tiga kategori

(21)

Tabel 3.3

Interpretasi Skor Kategorisasi Kecemasan Akademik

Katerori Rentang Skor Tinggi X > 37,32 Sedang 37,32≤ X < 16,67 Rendah X < 16,67

2. Pertanyaan kedua mengenai rancangan intervensi melalui teknik self

affirmation dalam mereduksi kecemasan akademik peserta didik. Rancangan

intervensi disusun berdasarkan hasil pretest. Uji kelayakan (judgement)

dilakukan untuk rancangan intervensi.

a. Rancangan intervensi setelah judgement

PROGRAM SELF AFFIRMATION DALAM MEREDUKSI KECEMASAN

AKADEMIK

A. Rasional

„Remaja pada usia 15-18 tahun mengalami banyak perubahan secara kognitif, emosional dan sosial, mereka berpikir lebih kompleks, dan secara

emosional lebih sensitif dan lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan

teman-temannya‟ (Steinberg, (Peachmann, et.al., 2005: 202)). Setiap remaja akan

mengalamai kompleksitas permasalahan.Sebagai salah satu contoh yang sering

dialami remaja adalah tekanan di sekolah. Peserta didik merasakan kondisi yang

kurang nyaman dalam proses akademik. Ketidaknyamanan tersebut menimbulkan

kecemasan sehingga peserta didik menjadi tidak dapat berkonsentrasi dalam

sebagian atau keseluruhan aktivitas akademik.

Kecemasan akademik merupakan reaksi dari diri yang merasa tidak mampu

untuk melakukan berbagai aktivitas dalam bentuk akademik. Intensitas belajar

yang tinggi, rentang waktu belajar formal yang lebih lama dan tugas-tugas sekolah

yang lebih banyak dapat menimbulkan kecemasan akademik pada peserta didik.

Kecemasan yang dialami peserta didik timbul hanya pada kegiatan-kegiatan yang

berhubungan dengan tugas-tugas akademik, seperti berdiskusi di kelas, berbicara

(22)

timbul pada situasi tertentu dan terhadap sesuatu yang spesifik yang hanya terjadi

ketika proses akademik berlangsung” (Greenberg 2002:132).

Hasil penelitian terhadap kelas X SMA Lab-School UPI Bandung

menunjukkan intensitas kecemasan akademik peserta didik sebanyak 5,8%

termasuk kedalam kategori tinggi, 50,9% termasuk ke dalam kategori sedang, dan

43,3 % termasuk ke dalam kategori rendah. Data-data tersebut menegaskan

peserta didik Kelas X SMA Lab-School UPI Bandung tahun ajaran 2011-2012

sebagian besar mengalami kecemasan akademik pada kategori sedang. Hal ini

menunjukkan kecemasan akademik sudah menjadi bumerang yang ada di

kehidupan akademik, yang jika tidak ditangani dengan serius bisa lebih banyak

mengarah ke tinggi. Data yang dipaparkan di atas, diperkuat dengan persentase

kecemasan akademik area terganggunya pola pikir sebanyak 7,4% peserta didik,

terganggunya respon fisik sebanyak 5,8% peserta didik, dan terganggunya

perilaku sebanyak 15,7% peserta didik. Dengan demikian fenomena kecemasan

akademik harus segera ditangani, karena semakin banyak peserta didik yang

mengalami kecemasan akademik, maka proses akademik tidak akan berjalan

produktif dan efektif.

Hal ini senada dengan penelitian Zeidner (Matthews et al., 2000:272)

„kecemasan cenderung mengganggu proses belajar dan prestasi dalam pendidikan, bahkan mengganggu perhatian, working memory, dan retrival’.

Berdasarkan fakta dan gambaran fenomena, diperlukan suatu pemberian

bantuan yang kuratif dalam menangani kecemasan akademik. Bimbingan dan

konseling sebagai bagian integral dalam pendidikan memegang peranan penting

dalam membantu permasalahan akademik peserta didik yang dapat menghambat

pengembangan potensinya. Upaya bimbingan dan konseling yang diperlukan

bertujuan untuk mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik

dalam proses pelaksanaan dan penyesuaian aktivitas akademik dengan berbagai

tuntutannya seperti mengejakan PR (pekerjaan rumah), berdiskusi, berbicara di

(23)

Bimbingan dan konseling yang membantu permasalahan akademik peserta

didik yaitu bimbingan dan konseling akademik. “Bimbingan dan konseling

akademik adalah proses bantuan untuk memfasilitasi peserta didik dalam

mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar, dan memecahkan

masalah-masalah belajar atau akademik” (Yusuf, 2009:51).

Rancangan layanan bimbingan dan konseling akademik diperlukan dalam

rangka melakukan upaya kuratif terkait masalah akademik peserta didik yaitu

berupa layanan responsif. “Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada

peserta didik yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan

pertolongan dengan segera” (Yusuf, 2009:81). Layanan responsif yang tepat bagi

permasalahan kecemasan akademik peserta didik adalah melalui konseling yang

berfokus pada aspek kognitif. Hal ini karena kecemasan akademik berhubungan

erat dengan pikiran-pikiran peserta didik. Pikiran berpengaruh sangat kuat bagi

perasaan dan tindakan peserta didik yang mengalami kecemasan akademik.

Hal ini diungkapkan juga oleh Ottens (1991:1), “kecemasan akademis

mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena

kemungkinan performa yang ditampilkan peserta didik tidak diterima secara baik

ketika tugas-tugas akademis diberikan”. Sering kali hal-hal yang dipikirkan

peserta didik nampak sebagai kondisi yang sebenarnya atau kemungkinan akan

terjadi. Peserta didik tidak dapat menentukan respon yang efektif terhadap

kondisi/stimulus yang diterima.

Konseling diberikan kepada peserta didik agar dapat mengelola stimulus

yang datang dan merespon dengan pikiran dan perilaku yang positif. Salah satu

teknik konseling yang efektif untuk mengatasi kecemasan akademik adalah teknik

self affirmation yang memiliki elaborasi konsep dengan konseling Modifikasi

Kognitif-Perilaku (MKP). Elaborasi ini bisa terlihat dari konsep kedua teori

tersebut. Konsep self affirmation dan MKP sebagai sebuah kemampuan dalam

mengolah perilaku dan pikiran agar tetap dalam kondisi yang diinginkan dimana

orang dapat mengubah cara mereka berpikir untuk merasakan atau bertindak,

(24)

Modifikasi Kognitif-Perilaku (MKP) adalah pencampuran dari dua model

konseptual manajemen perilaku dan teori kognitif. Modifikasi Kognitif-Perilaku

adalah bentuk intervensi yang menekankan peran penting dari berpikir dalam cara

orang merasakan dan apa yang mereka lakukan. “Modifikasi Kognitif-Perilaku

melibatkan atribusi keyakinan pikiran orang-orang yang secara teoritis

menyebabkan perasaan dan perilaku mereka” (Salkind, 2008:160). Manfaat model MKP ini keyakinan dan pikiran dikonseptualisasikan sebagai belajar. “Berpikir,

merasa, percaya (self affirmation, self narration, skema diri) sebagai perilaku

yang dipelajari dimana orang dapat mengubah cara mereka berpikir untuk

merasakan atau bertindak, terlepas dari situasi” (Salkind, 2008:160).

Prinsip-prinsip dari teori self affirmation menunjukkan “self affirmation

dapat mengurangi berbagai kejadian reaksi defensif salah satunya adalah

kecemasan” (Cohen et.al. 2000:5). Self affirmation berfokus pada pikiran dan

perilaku. Penelitian Correll et al. (2004), “self affirmation meningkatkan

kemungkinan peserta langsung merasakan perasaan mereka terhadap suatu hal

atau orang lain”. Artinya, setelah individu mengafirmasi nilai-nilai mereka,

mereka menjadi lebih mungkin untuk menjadi percaya, terbuka, dan penuh kasih.

Perasaan-perasaan ini, pada gilirannya, mengurangi kemungkinan reaksi defensif

seperti kecemasan.

B. Tujuan

Secara umum tujuan dari self affirmation adalah mereduksi kecemasan

akademik peserta didik kelas X SMA Lab-School UPI Bandung. Secara khusus

tujuan intervensi yang merujuk pada indikator kecemasan akademik adalah

mengembangkan keterampilan peserta didik dalam:

1. Mengembangkan berfikir logis mengenai diri dan akademiknya

2. Mengembangkan dialog diri yang lebih positif dan konstruktif

3. Mengembangkan pengertian dan keyakinan yang lebih positif dan konstruktif

4. Mengembangkan sikap yang lebih relax ketika berada dalam situasi-situasi

belajar

(25)

6. Meningkatkan tanggung jawab dalam belajar dan tepat waktu dalam

pengerjaan tugas-tugas sekolah

7. Meningkatkan kosentrasi dan ketepatan dalam bertindak

8. Meningkatkan rasa percaya diri dalam belajar

C. Prosedur Teknik Self Affirmation

Prosedur teknik self affirmation dalam menangani kecemasan akademik

adalah sebagai berikut:

1. Membantu konseli mengidentifikasi perilaku-perilaku dan situasi yang tidak

menyenangkan yang terjadi dengan menanyakan penyebab dan situasi

penyebab kecemasan akademik muncul.

2. Membantu konseli mengidentifikasi respon emosional, mood yang kurang

menyenangkan, atau perilaku masalah yang mengikuti pikiran-pikiran yang

mengganggu.

3. Membantu konseli untuk berhenti berpikir tentang pikiran-pikiran yang

mengganggu atau membantu konseli berpikir lebih rasional atau pikiran yang

diinginkan.

4. Konselor mengajarkan konseli self-affirmation yang spesifik yang dapat

mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan

tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada situasi yang

menimbulkan kecemasan akademik. Langkah-langkahnya sebagai berikut: (1)

Niat: pikirkan tentang apa yang ingin dicoba untuk dirubah dalam hidup. Ini

berarti, melihat produk akhir, perilaku, sikap dan sifat-sifat yang ingin

berkembang dalam rangka sampai ke sana. (2) Membuat pernyataan: setelah

mendapatkan ide dari tujuan yang ingin dicapai, cobalah untuk menaruh ide

tersebut menjadi pernyataan sederhana yang mencerminkan realitas apa yang

ingin diciptakan. Kalimat pernyataan seolah-olah sudah terjadi, bukan ingin

menjadi kenyataan. Sebagai contoh, afirmasi, "Saya merasa lebih damai

setiap hari," akan lebih baik daripada, pernyataan "Saya ingin merasa lebih

damai". Hal ini karena pikiran bawah sadar memprogram hal tersebut sudah

(26)

mencoba untuk menginginkan sesuatu, tetapi mencoba untuk membuatnya

begitu. (3) Pastikan pernyataan yang dibuat positif : saat membuat afirmasi,

pastikan pernyataan tersebut positif. Ini berarti berfikir apa yang ingin dilihat

dan dialami, bukan apa yang tidak ingin dilihat dan dialami. Misalnya,

daripada berfikir, "Aku tidak ingin merasa cemas", atau bahkan, "Saya sudah

berhenti merasa cemas", lebih baik gunakan, "Aku merasa damai".

Kadang-kadang pikiran tidak mendaftar yang negatif, dan hanya mendengar konsep,

"cemas", dimana hal tersebut adalah apa yang coba untuk dihindari. (4)

Membuat Pernyataan-pernyataan tersebut realistis : pikiran bawah sadar bisa

mendapatkan keuntungan dari afirmasi positif yang memperluas perspektif

konseli, tetapi jika konseli mendorong terlalu jauh langkah-langkah 'inner

judge' nya ke dalam dan akhirnya menegasikan afirmasi. Pastikan konseli

membuat afirmasinya realistis, tetapi juga afirmasi penuh harapan dan positif.

Misalnya, afirmasi, "Setiap hari, dalam segala hal, saya menjadi lebih baik

dan bisa”, mungkin merasa seperti terlalu banyak peregangan, dan pikiran

bawah sadar mungkin 'memohon untuk berbeda'. Namun, "Saya belajar dari

kesalahan saya, atau „Saya bersyukur untuk semua yang saya miliki dalam hidup saya‟, mungkin merasa lebih nyata ke pikiran bawah sadar. Cobakan,

dan lihat apa yang terasa tepat.

D. Asumsi Intervensi

Asumsi berikut menjadi acuan pokok dalam merancang program self

affirmation dalam mereduksi kecemasan akademik peserta didik.

1. “Kecemasan akademis terjadi karena informasi tidak tersimpan dalam bentuk

sistematika yang baik, informasi sukar ditemukan dan penggalian tidak

berhasil” (Winkel, 1997:123). Hal ini diakibatkan dari terganggunya mood

atau emosi sebagai hasil dari ketidaktepatan pola berpikir. Ketidaktepatan

pola berfikir ini dipengaruhi oleh minimnya informasi yang didapat, sehingga

(27)

2. Individu merasa bereaksi terhadap realita keadaan, tetapi dia bereaksi

terhadap sudut pandangnya sendiri yang menyimpang pada situasi tersebut.

3. Individu yang mengalami kecemasan akademik berfikir atau membuat sistem

kepercayaan atas anteseden yang terjadi padanya melalui pemrosesan

informasi yang salah, sehingga menimbulkan perasaan cemas yang akhirnya

menghasilkan perilaku tegang dan sulit berkonsentrasi.

4. Self affirmation berposisi sebagai teknik yang berproses mengembangkan

wawasan individu yang mengalami kecemasan akademik, dimana ketika

individu tersebut memiliki wawasan yang tinggi, maka individu tersebut akan

memiliki informasi sebenarnya dan dapat melihat permasalahan dari berbagai

sudut pandang, sehingga kecemasan akademisnya akan menurun.

5. “Para peneliti menggambarkan bagaimana afirmasi diri tidak hanya

mempengaruhi respon kognitif untuk informasi dan peristiwa yang

mengancam individu, tetapi juga adaptasi fisiologis dan perilaku mereka yang

sebenarnya” (Sherman, 2008:6).

E. Sasaran Intervensi

Intervensi dilakukan terhadap 8 orang peserta didik dengan intensitas

kecemasan akademik tinggi dengan ciri peserta didik yang mengalami

kekhawatiran yang tidak beralasan, dialog diri yang maladaptif, pengertian dan

keyakinan yang salah, otot tegang, berkeringat, jantung berdetak cepat, tangan

gemetar, perhatian menurun akibat pengganggu eksternal, perhatian menurun

akibat pengganggu internal, prokrastinasi, sikap terburu-buru, dan kecermatan

yang berlebihan dalam intensitas tinggi. Upaya layanan yang akan diberikan

untuk mereduksi kecemasan akademik peserta didik yaitu berupa layanan

(28)

F. Sesi Intervensi

Program intervensi teknik Self Affirmation dalam menangani kecemasan

akademik peserta didik dilakukan selama 8 sesi. Sesi intervensi yang dirancang

berdasarkan hasil pertimbangan masalah kecemasan akademik dan penyesuaian

penerapan pendekatan terapi Modifikasi Perilaku - Kognitif khususnya teknik Self

Affirmation dalam setting akademik. Pelaksanaan intervensi dilaksanakan 3 kali

dalam seminggu. Penentuan jadwal intervensi berdasarkan kesepakatan antara

konselor dan peserta didik. Gambaran setiap sesi intervensi sebagai berikut.

Sesi 1

Sesi 1 berjudul “Logic Thinking”. Sesi ini bertujuan untuk mengembangkan

berfikir logis. Melalui sesi ini peserta didik diharapkan mampu berfikir logis

mengenai diri dan akademiknya.

Sesi 2

Sesi 2 berjudul “Positive Affirmation”. Sesi ini bertujuan untuk mengembangkan

dialog diri yang lebih positif dan konstruktif. Pada sesi ini pikiran-pikiran

irasional peserta didik yang bisa berdampak pada perasaan cemas dimodifikasi

menjadi pikiran-pikiran yang rasional.

Sesi 3

Sesi 3 berjudul “Positive Meaning and Belief”. Sesi ini bertujuan untuk

mengembangkan pengertian dan keyakinan yang lebih positif dan konstruktif.

Pada sesi ini pengertian dan keyakinan yang salah yang bisa berdampak pada

persepsi negatif terhadap akademik dimodifikasi menjadi pengertian dan

keyakinan yang positif.

Sesi 4

Sesi 4 berjudul “I am Relax”. Sesi ini bertujuan untuk mengembangkan

sikap yang lebih relax ketika berada dalam situasi-situasi belajar. Melalui sesi ini

konseli diharapkan mampu mengurangi sikap gugup yang diperlihatkan melalui

otot tegang, tangan berkeringat dingin dan gemetar, dan jantung berdetak lebih

cepat dari biasanya melalui afirmasi positif sehingga konseli tetap relax dalam

(29)

Sesi 5

Sesi 5 berjudul “Full Attention”. Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan

fokus perhatian diri baik eksternal maupun internal. Melalui sesi ini konseli

diharapkan mampu berkonsentrasi penuh dan memusatkan perhatian dalam setiap

proses akademik berlangsung.

Sesi 6

Sesi 6 berjudul “I am Responsibility”. Sesi ini bertujuan untuk

meningkatkan tanggung jawab dalam belajar dan tepat waktu dalam pengerjaan

tugas-tugas sekolah. Melalui sesi ini konseli diharapkan mampu bertanggung

jawab dan melakukan penentangan terhadap perilaku-perilaku negatif

(penghindaran) terhadap tugas-tugas akademik dan menggantinya dengan melatih

diri untuk dapat mengidentifikasi situasi-situasi yang dianggap membingungkan

dan mengurutkan situasi-situasi tersebut dari yang paling harus segera

diselesaikan atau dari tugas yang paling mudah ke sulit.

Sesi 7

Sesi 7 berjudul “Keep Cool, Calm, and Confident”. Sesi ini bertujuan

meningkatkan kosentrasi dan ketepatan dalam bertindak peserta didik ketika

menghadapi berbagai situasi akademik. Orientasi sesi ini adalah melatih konseli

berpikir dan bersikap positif ketika menghadapi suasana hati yang tidak stabil.

Pikiran-pikiran dan perilaku baru yang positif dapat menghasilkan suasana hati

dan kecenderungan tindakan yang lebih baik.

Sesi 8

Sesi 8 berjudul “I am Belief to Myself”. Sesi ini bertujuan agar peserta didik

memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam belajar. Target sesi ini adalah peserta

didik memiliki kemampuan untuk melakukan afirmasi diri yang positif agar

(30)

G. Indikator Keberhasilan

Evaluasi keberhasilan intervensi kecemasan akademik dilakukan setelah

seluruh program intervensi selesai dilaksanakan melalui pemberian post-test.

Intervensi dikatakan berhasil apabila hasil post-test menunjukkan penurunan skor

kecemasan akademik. Peserta didik yang berhasil mengikuti kegiatan intervensi

adalah peserta didik yang mampu mengubah afirmasi diri yang negatif menjadi

afirmasi diri yang positif dalam setiap sesi intervensi. Sumber utama untuk

evaluasi adalah analisis terhadap statement record yang ditugaskan kepada

konseli. Analisis statement record dijadikan ukuran untuk mengetahui perubahan

afirmasi diri konseli yang menjadi indikator keberhasilan dari setiap sesi

intervensi.

H. Langkah-langkah Implementasi Teknik Self Affirmation dalam Menangani

Kecemasan Akademik

Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan pre-test di kelas X SMA Lab-School UPI Bandung untuk

mengetahui tingkat kecemasan akademik.

2. Penentuan sampel peserta didik yang mengalami kecemasan akademik pada

kategori tinggi.

3. Pelaksanaan intervensi teknik self affirmation dalam menangani kecemasan

akademik selama delapan sesi pertemuan.

4. Pelaksanaan post-test setelah sesi intervensi dilaksanakan.

5. Penyajian laporan tentang pelaksanaan teknik self affirmation dalam

(31)

Berikut adalah hasil peilaian validitas instrumen program yang dilakukan

oleh tiga orang pakar bimbingan dan konseling. Hasil penimbangan rancangan

sebagai berikut:

Tabel 3.4

Rekap Penilaian Instrumen Program Intervensi

Komonen program

Memadai Tidak memadai Saran

untuk

3. Pertanyaan penelitian ketiga mengenai efektivitas teknik self affirmation

dirumuskan ke dalam hipotesis “teknik self affirmation efektif dalam

mereduksikecemasan akademik peserta didik.” Pengujian hipotesis dilakukan

melalui uji statistik Wilcoxon Match Pairs Test. Selain itu dilakukan

perbandingan intensitas kecemasan akademik peserta didik sebelum dan

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh simpulan

sebagaiberikut.

1. Sebagian besar siswa mengalami kecemasan akademik pada kategori sedang.

Artinya gejala kecemasan akademik kadang-kadang dialami siswa.

2. Rancangan intervensi melalui teknik self affirmationyang masuk dalam

rumpun modifikasi perilaku-kognitif (MPK) berdasarkan riset dan teori

diprediksi dapat digunakan untukmereduksi kecemasan akademik yang

berfokus pada penurunan gejala-gejalanya.

3. Teknik self affirmation menunjukkan hasil yang efektif dalam mereduksisemua

gejala kecemasan akademik siswa.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian memberikan direkomendasi hal-hal

sebagaiberikut.

1. Bagi Pihak Sekolah

Hasil penelitian menunjukkan siswa mengalami kecemasan akademik. Pihak

sekolah dapat melakukan pembaharuan terhadap iklim pembelajaran yang

lebih ramah dan kreatif.

2. Bagi Pembimbing

Pembimbing diharapkan mampu menerapkan teknik self

affirmationdalammenangani siswa yang mengalami kecemasan akademik di

sekolah. Agar teknik ini memiliki keajegan dalam stabilitas berpikir positif

siswa, pembimbing membantu siswa melatih keterampilan melakukan afirmasi

diri secara signifikan melalui self help. Selain itu,pembimbingdapat

mengagendakan secara terprogram pemberian layanan bimbinganbelajar

melalui teknik self affirmationdalam mencegah terjadinya kecemasan

(33)

tanggung jawab pembimbing tidak hanya untuk membantu siswa mencapai

akademis tetapi juga untuk mempersiapkan mereka dalam merespon tuntutan

lingkungan dan akademik yang berbeda.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas subjek penelitiantentang

kecemasan akademik. Peneliti dapat mencoba menggabungkan teknik self

affirmation dengan teknik relaksasi, atau menggunakan model terapi

medofikasi perilaku-kognitifyang lain dalam menangani kecemasan akademik

seperti teknik restrukturisasi kognitif, teknik pemecahan masalah, atau teknik

instruksi diri, menggunakan model Cognitive Theraphy (CT), atau model

(34)

DAFTAR PUSTAKA

ABKIN. (2007). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Departemen Pendidikan Nasional.

Agustin, Mubiar. (2009). Model Konseling Kognitif-Perilaku untuk Menangani Kejenuhan Belajar pada Mahasiswa (Disertasi). Bandung: PPS UPI

Arikunto, S. (2003). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Bumi Aksara

Atkinson, Rita.L, et.al.,. (1999). Pengantar Psikologi (Edisi 8-jilid 2). Penrjmh. Nurdjanah T & Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Bhansali & Trivedi. (2008). Is Academic Anxiety Gender Specific: A Comparative Study. Journal Soc. Sci., 17(1): 1-3.

Center for learning & teaching. (2005). Understanding Academic Anxiety. Cornell University.

Cohen, et.al.,. (2000). When beliefs yield to evidence: Reducing biased evaluation by affirming the self. Personality and Social Psychology Bulletin, 26, 1151-1164.

Cohen, et.al.,. (2006). A social-psychological intervention to reduce the racial achievement gap in school. Manuscript under review.

Connecticut Comprehensive School Counseling. (2008). A Guide to Comprehensive School Counseling Program Development. State of Connecticut State Board of Education.

Corell, et.al.,. (2004). An affirmed self and an open mind: Self-affirmation and sensitivity to argument strength. Journal of Experimental Social Psychology, 40, 350-356.

Elliot. (1996). Educational Psychology. Second Edition. Madition: Brown and Benchmark Company.

Greenberg, J.S. (2002). Comprehensive Stress Management. New York: Mc Graw Hill.

(35)

Ilfiandra.(2008). Model Konseling Kelompok Berbasis Pendekatan Kognitif Perilaku Untuk Mengurangi Gejala Prokrastinasi Akademik (Disertasi). Bandung: PPS UPI

Kann, Lisa. (2008). A Dangerous Game: Male Adolescents’Perceptions And Attitudes Towards Sexual Consent (Dissertation). Masters in Community Based-Counselling Psychology in the Faculty of Humanities at the University of the Witwatersrand.

Lantigimo, Tertius. (2009). Metode Affirmasi dan Visualisasi Kreatif: Metode

Bagaimana Menciptakan Keberuntungan dan “Kebetulan”. E-book

“Kekuatan Pikiran”.

Makmun, A. (2000). Psikologi Kependidikan. (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Matthews. et.al., (2000). Human Performance Cognition, Stress and Individual Differences. Philadelphia: Psyhology Press.

Nevid, et.al.,. (2005). Psikologi Abnormal. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Nurihsan, A.Juntika. (2003). Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama.

Nurihsan, A.Juntika & Yusuf, Syamsu. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda Karya.

O'Connor, F. (2007). Frequently Asked Questions about Academic Anxiety. New York: The Rosen Publishing Group.

Oemarjoedi, A.Kasandra. (2004). Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi. Jakarta: Kreatif Media

Ottens, J.Allan. (1991). Coping With Academic Anxiety. New York: Rosen Publishing Group, inc.

Peachmann, et.al., (2005). Impulsive and Self-Consciuous: Adolescents’ Vulnerability to Advertising Promotion. American Marketing Association. Vol. 24 (2) Fall 2005, 202–221.

Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006. Standar Kompetensi Lulusan Untuk

Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Menteri Pendidikan Nasional.

(36)

Safitri, Ema. (2010). Gambaran Kecemasan Akademik Siswa di SMA Negeri Unggul Aceh Timur. Medan. (Tidak Diterbitkan).

Salkind, J.Neil. (2008). Encyclopedia of Educational Psychology. California:

SAGE Publications Ltd.

Santrock, Jhon W. (1996). Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.

Scott, Elizabeth. (2009). How and Why to Use Positive Affirmations as a Stress

Management Tool. About.com Health's Disease and Condition.

Sherman & Cohen. (2006). The Psychology of Self-Defense: Self-Affirmation Theory. Department of Psychology, University of California, Santa Barbara.

Sherman, et. al,. (2008). Psychological Vulnerability and Stress: The Effects of Self-Affirmation on Sympathetic Nervous System Responses to Naturalistic Stressors. Department of Psychology, UCSB, Santa Barbara.

Stapel,Diederik A & van der Linde, Lonneke A.J.G (2011:1). "What drives self-affirmation effects? On the importance of differentiating value self-affirmation and attribute affirmation". Journal of Personality and Social Psychology, Vol 101(1), Jul 2011, 34-45.

Steele, C. M. (1988). The psychology of self-affirmation: Sustaining the integrity of the self. In L. Berkowitz (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 21, pp. 261-302). New York: Academic Press.

Sternberg, J.Robert. (2008). Psikologi Kognitif (Edisi Keempat). Terjmh. Yudi. Jogjakarta: Pustaka Belajar.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2007). Bimbingan dan Konseling dalam Praktek. Bandung: Maestro.

Taiwo, P.Kotila. (2010). Assesment of Parental Attitudes Toward Behavioural Changes In Adolescents. Departement of Home Science and Management. University of Agriculture Abeokuta, Ogunstate.

(37)

Yusuf. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press.

Walker, Joyce. (2002). Teens In Distress Series Adolescent Stress and Depression. University of Minnesota Extension.

Winkel, W.S. (2009). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Wulandari, L Hadiati. (2004). Efektivitas modifikasi Perilaku-Kognitif Untuk Mengurangi Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi. Sumatera Utara. (Tidak Diterbitkan).

Tn. (2011). Achieve Anything Your Heart Desires With Positive Affirmation. tersedia [Online]: http://www.dailypositiveaffirmation.com/ Achieve Anything Your Heart Desires With Positive Affirmation. (11Oktober 2011)

Tn. (2011). How to acquire perfect self affirmation techniques. Tersedia [Online]: http://www.file:///H:/affirmation/How-to-acquire-perfect-self-affirmation-techniques.htm. (17 Januari 2012)

Figur

Tabel 3.2 Konversi Skor Mentah Menjadi Matang dengan Batas Lulus Ideal
Tabel 3 2 Konversi Skor Mentah Menjadi Matang dengan Batas Lulus Ideal . View in document p.20
Tabel 3.3 Interpretasi Skor Kategorisasi Kecemasan Akademik
Tabel 3 3 Interpretasi Skor Kategorisasi Kecemasan Akademik . View in document p.21
Tabel 3.4 Rekap Penilaian Instrumen Program Intervensi
Tabel 3 4 Rekap Penilaian Instrumen Program Intervensi . View in document p.31

Referensi

Memperbarui...