• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drs. Salman, M.Si., Apt Dr. Febriyenti, M.Si., Apt Deni Noviza, M.Si., Apt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Drs. Salman, M.Si., Apt Dr. Febriyenti, M.Si., Apt Deni Noviza, M.Si., Apt"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Drs. Salman, M.Si., Apt Dr. Febriyenti, M.Si., Apt Deni Noviza, M.Si., Apt

(2)
(3)

Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang

diberikan melalui rektal, vagina atau uretra (FI IV)

Suppositoria terdiri dari

zat aktif (obat)

(4)

 Sebagai pelindung jaringan setempat

 Sebagai pembawa zat berkhasiat yang bersifat

lokal atau sistemik

Suppositoria umumnya meleleh, melunak dan melarut pada suhu tubuh.

(5)

Supositoria berasal dari bahasa latin

“supponere” yang berasal dari kata “sub” dan “ponere” yang artinya ditempatkan di bawah. Supositoria pertama kali ditemukan oleh

hipocrates pada abad ke-17.

Pada tahun 1852 A.B. Taylor menemukan basis lemak coklat, kemudian pada tahun 1913 oleh B. Solomon menggunakan 3 jenis basis

supositoria yaitu oleum cocao, campuran lemak, lilin dengan ol. Cacao, campuran gelatin dan gliserin.

(6)

 Dapat menghindari bau dan rasa obat yang

tidak enak

 Dapat digunakan untuk bahan-bahan obat

yang inactive secara oral

 Dapat diberikan pada pasien yang tidak bisa

menelan obat, seperti : bayi, anak-anak, lansia, pasien yang tidak sadarkan diri.

(7)

1. Efek lokal : Pada pengobatan :  Hemorrhoids  Gatal-gatal  Infeksi  Anestesi lokal  Anti septik  Adstringen  Emolient

(8)

2. Efek sistemik

 Antimual dan muntah  Anti asma

 Analgesik  Hormon  Sedatif

(9)

1. Rektal suppositoria

 Yaitu suppositoria yang digunakan melalui

dubur/anus, bentuknya seperti torpedo.

 Bobot suppositoria kalau menggunakan ol.

Cacao

Dewasa : 3 g Anak-anak : 2 g

 Sering digunakan pada pengobatan

ambeien/wasir (efek Lokal) dan untuk serangan asma (efek sistemik).

(10)

2.Vagina suppositoria

 Yaitu suppositoria yang disisipkan ke dalam

vagina, bentuknya bulat melonjong dan lebih dikenal dengan ovula.

 Bobotnya bila menggunakan basis ol. Cacao :

5 g

 Sering digunakan untuk infeksi vagina,

(11)

3. Uretra suppositoria

 Yaitu suppositoria yang

digunakan/dimasukkan ke dalama daerah uretra.

 Bentuk : basilla / seperti batang panjang  Untuk wanita : diameter : 5 mm,

panjang : 50 mm bobotnya : 2 g

 Untuk pria : diameter : 5 mm,

panjang : 125 mm bobotnya : 4 g

(12)

Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;

Telah mencapai kesetimbangan kristalisasi,

dimana sebagian besar komponen mencair pada temperatur rectal 360 C , tetapi basis dengan

kisaran leleh yang lebih tinggi dapat digunakan

untuk campuran eutektikum, penambahan minyak-minyak, balsam-balsam, serta suppositoria yang digunakan pada iklim tropis.

Secara keseluruhan basis tidak toksik dan tidak mengiritasi pada jaringan yang peka dan jaringan yang meradang.

(13)

Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;

Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat.

Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta stabil.

Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendinginan, sehingga dapat dilepaskan dari cetakan tanpa

menggunakan pelumas cetakan Basis suppositoria tersebut tidak merangsang

(14)

Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;

Basis suppositoria tersebut bersifat membasahi dan mengemulsi.

“Angka air “ yang tinggi maksudnya

jumlah air yang bias masuk kedalam basis tinggi.

Basis suppositoria tersebut stabil pada

penyimpanan, maksudnya warna, bau, dan pola penglepasan obat tidak berubah.

Suppositoria dapat dibuat dengan

mencetak dengan tangan, mesin, kompressi atau ekstrusi.

(15)

Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;

Jika basis tersebut berlemak, basis

suppositoria memiliki persyaratan tambahan sebagai berikut :

“Angka asam” dibawah 0,2.

“Angka penyabunan” berkisar dari 200-245

“Angka iod” kurang dari 7.

Interval antara titik leleh dan titik memadat kecil

(16)

Basis suppositoria berdasarkan sifat fisikanya dibagi kedalam 3 kelompok yaitu :

Basis berminyak atau berlemak

Basis yang paling sering digunakan adalah lemak coklat karena basis ini tidak toksik, lunak, tidak reaktif dan meleleh pada suhu tubuh. Akan tetapi lemak coklat memiliki kelamahan yaitu mudah tengik, meleleh pada udara panas, menjadi cair bila dicampur dengan obat-obat

tertentu dan pemanasan yang lama, trisomerasi dengan titik leleh yang lebih rendah.

Selain lemak coklat basis yang lain yaitu asam-asam lemak yang dihidrogenasi dengan minyak nabati dan gliserin yang digabungkan dengan asam-asam lemak yang mempunyai berat molekul tinggi contohnya gliseril monostearat.

(17)

Yang perlu diperhatikan pada penggunaan ol. Cacao :

Agar ol. Cacao tidak mudah meleleh maka pada pembuatan suppositoria dapat

ditambahkan unguentum simplek 5 % atau cera flava 6%

(18)

Basis suppositoria berdasarkan sifat fisikanya dibagi kedalam 3 kelompok yaitu :

Basis larut dalam air atau bercampur dengan air Basis memiliki supositoria yang sering digunakan yaitu suppositoria gliserin yang berfungsi sebagai basis sekaligus bahan aktif, ada dua macam formula suppositoria yang terkenal yaitu :

Suppositoria yang digunakan untuk katartik yaitu : Gliserin 91 g

Natrium stearat 9 g Air murni 5 g

Formula ini merupakan formula resmi menurut USP XX, sedangkan formula lainnya yang tidak resmi yaitu :

Obat dalam air murni 10 g Gelatin 20 g Gliserin 70 g

(19)

Basis suppositoria berdasarkan sifat fisikanya dibagi kedalam 3 kelompok yaitu :

Basis yang merupakan campuran basis yang berlemak dan yang bercampur dengan air Basis ini umumnya berbentuk emulsi dengan tipe minyak dalam air, contohnya yaitu Polioksil 40 steara. Bahan ini menyerupai lilin, putih, kecokloat-coklatan, padat dan larut dalam air.

(20)

Tiga metode yang digunakan dalam

pembuatan suppositoria adalah

mencetak dengan tangan/cara

gulung,,

mencetak tuang dan

kompressi pada suatu pres tablet

regular

(21)

Mencetak dengan tangan

Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahn-bahan aktif

dengan menggunakan lumpang dan mortar, sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan

(22)

Mencetak tuang

Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya

diatas penangas air atau penangas uap untuk

menghindari pemanasan setempat yang

berlabihan, kemudian bahan-bahan aktif

diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya.

Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam

yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi

krom atau nikel

(23)
(24)

Mesin Pencetak otomatis

Sama proses diatas tetapi menggunakan

mesin secara otomatis melakukan

(25)

Pada metode cetak tuang, maka sebelum proses pencetakan maka harus dilakukan kalibrasi dari cetakan.

Cara mengkalibrasi cetakan :

buat basis suppositoria, masukkan ke dalam cetakan, biarkan dingin kemudian keluarkan hasil cetakan. Timbang berat satu

(26)

 Jumlah basis yang diganti oleh bahan aktif

dalam formulasi suppositoria dapat dihitung, dengan menggunakan factor pengganti

dimana f dapat dihitung dengan persamaan berikut :

1

)

)(

(

)

(

100

X

G

G

E

F

Keterangan : E = bobot basis suppositoria murni

(27)

Contoh perhitungan :

Berat suppositoria yang akan dibuat adalah 3 gr yang mengandung aminofillin 0,5 g akan dibuat sebanyak 12 buah, hitunglah lemak coklat yang dibutuhkan.

Jawaban :

Diperlukan : 12 x 0,5 g = 6 g aminofillin Berat suppositoria 12 x 3 g = 36 g.

Nilai tukar aminofilin adalah : 6 g x 0,86 = 5,16 g

Jadi lemak coklat yang diperlukan adalah: 36 g – 5,16 g = 30,84 g

(28)

1. Mempersiapkan alat cetak 2. Mempersiapkan basis

3. Mempersiapkan zat aktif

4. Pencampuran dan pengisian kedalam alat

cetak

(29)

1. Penampilan

2. Keseragaman bobot 3. Penentuan jarak leleh 4. Uji waktu melunak

5. Waktu hancur

6. Penetapan kadar 7. Uji disolusi

(30)

Rektal suppositoria harus berbentuk torpedo, permukaannya mulus, dan apabila dipotong memanjang maka campuran dari basis dan bahan obatnya homogen (tidak ada bercak-bercak)

(31)

Alat cetak yang baik harus memiliki variasi

volume antar ruang cetak tidak lebih dari 2% Variasi bobot antar suppositoria tidak boleh

lebih dari 5%

Farmakope Jerman dan rusia : ± 5% dari bobot rata-ratanya

(32)

Ada 2 jenis uji jarak leleh :

1. Uji kisaran leleh MAKRO : suatu ukuran

waktu yang diperlukan suppositoria untuk melelh sempurna bila dicelupkan dalam

penangas air dengan temperatur tetap (37 C)

2. Uji kisaran leleh MIKRO : suatu kisaran leleh

yang diukur dalam pipa kapiler (hanya untuk basis lemak)

ALAT YANG DIGUNAKAN : ALAT DESINTEGRASI TABLET USP

(33)

Adalah waktu yang dibutuhkan suppositoria untuk mencair dalam alat yang disesuaikan dengan

kondisi in vivo.

Suatu pipa selopan (membran semi permeable) diikat pada kedua ujung kondensor dengan

masing-masing ujungnya terbuka. Air suhu 37 C dialirkan melalui kondensor sehingga separuh bagian bawah pipa kempis dan bagian atad

membuka. Bila temperatur air dibuat 37 C maka suppositoria akan meleleh dan bergerak turun sampai batas tertentu, dan waktu yang

dibutuhkan suppositoria untuk bergerak turun dinamakan waktu melunak/waktu melelh

(34)
(35)

Sesuai dengan monografi masing-masing zat aktif

(36)

Sama dengan uji disolusi masing-masing monografi zat aktif hanya dengan sedikit modifikasi.

(37)
(38)

1. Cara pemakaian

2. Cara penyimpanan 3. Kapan digunakan

(39)
(40)

Referensi

Dokumen terkait

4.4.1.4 Perbandingan Kuat Tarik Belah Rerata Beton Normal dan Beton Polimer Termodifikasi Alami Amylum Serta Bahan Tambah Madu Pada Umur 28 Hari

Peneliti menyarankan, untuk penelitian selanjutnya, hendaknya menurunkan dimensi penelitian (sub variabel) untuk diteliti lebih dalam, sehingga penelitian yang dilakukan

BERORIENTASI MODEL PAKEM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR Penelitian Hibah Bersaing Lanjutan 52 25036506 I WAYAN REDHANA. Pengembangan Buku Ajar IPA SMP Berbasis

kelompok IV mendiskusikan dan merumuskan tentang hikmah bagi penduduk yang hidup di lingkungan geografis dan geologis Kepulauan Indonesia yang rentan terjadinya gempa,

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelasaikan pembuatan karya ilmiah dalam bentuk

Seni ukir tradisional Baturaja ini mempunyai desain khas yang unik yang berbeda dengan seni ukir daerah lain, yaitu adanya pengaruh seni ukir palembang namun

Hubungan antara juragang dan personilnya dalam aktivitas pelayaran sangant nampak dimana juragang tidak akan bekerja sendiri tanpa adanya personil (ABK) yang bekerja

tersebut harus di pindahkan oleh Operator PDPT PTS Asal di menu homebase Extern di Forlap.dikti.go.id, upload SK pemberhentian dr yys dan Sk Lolos butuh dari