Sikap Bahasa Komunitas Tuli di Indonesia terhadap Penggunaan Bahasa Isyarat dan Bahasa Lisan
Adhika Irlang Suwiryo, M.A. ([email protected]) Arief Wicaksono ([email protected])
Phieter Angdika ([email protected])
Triaswarin Sutanarihesti, M.Hum. ([email protected]) Innova Safitri S.P. ([email protected])
Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LRBI) Departemen Linguistik FIB UI
Abstrak
Penggunaan bahasa isyarat semakin marak terlihat dan dipraktikkan dalam kegiatan berbahasa dan berkomunikasi. Peningkatan frekuensi penggunaan bahasa isyarat ini tidak hanya terlihat dalam kegiatan berbahasa-berkomunikasi di kalangan komunitas Tuli saja, tetapi juga di kalangan masyarakat dengar yang ‘bersentuhan’ dengan penutur jati isyarat (native signer). Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat, baik Tuli maupun dengar, meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi mengenai sikap komunitas Tuli terhadap bahasa isyarat dan bahasa lisan. Data penelitian ini diperoleh dari informan Tuli yang berdomisili di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Bekasi, Depok, Pekanbaru, Padang, Lombok, dan Makassar. Berkaitan dengan hal tersebut, cara pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner didampingi oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan sikap para informan Tuli bahwa bahasa isyarat penting. Meskipun demikian, bahasa lisan tetap digunakan informan Tuli karena keterbatasan kemampuan lingkungan dalam berbahasa isyarat. Berkaitan dengan ranah lainnya, seperti pekerjaan dan pendidikan, sebagian besar dari informan menyatakan bahasa lisan, khususnya bahasa Indonesia, penting.
Kata kunci: sikap bahasa, bahasa isyarat, bahasa lisan, komunitas Tuli
A. Pendahuluan
Pada umumnya, bahasa digunakan untuk berkomunikasi dan penyampaian komunikasi. Karena kemajemukan masyarakat yang ada, khususnya di Indonesia, bahasa yang muncul pun bervariasi. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa lokal yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Ratusan bahasa tersebut cenderung digunakan oleh masyarakat dengar1. Di antara masyarakat dengar, terdapat sebuah komunitas yang menggunakan moda komunikasi yang berbeda, yaitu bahasa isyarat. Bahasa isyarat tersebut digunakan komunitas Tuli 2 untuk berkomunikasi, berbagi informasi, memperoleh pengetahuan, dan memenuhi fungsi bahasa isyarat sebagai bahasa dalam komunitas tersebut.
Di dalam masyarakat umum, komunitas Tuli merupakan komunitas pengguna bahasa ganda atau bilingualitas. Penggunaan bahasa ganda tersebut karena mereka hidup di tengah-tengah masyarakat umum yang menggunakan bahasa lisan. Di lain pihak, mereka menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa utama. Situasi tersebut memunculkan sikap terhadap bahasa-bahasa yang mereka gunakan. Adanya sikap yang beragam terhadap bahasa-bahasa tersebut dilatarbelakangi beberapa faktor, seperti masyarakat dan lingkungan. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat sikap komunitas Tuli terhadap kemunculan bahasa dalam keseharian mereka.
1
Masyarakat dengar adalah orang-orang yang dapat mendengar atau secara umum dianggap berpendengaran normal. Frasa asyarakat de gar erupaka pada a dari frase dala bahasa I ggris hearing society.
2
Sebuah sikap dapat diperoleh dari pergaulan yang kita jalani dengan orang-orang di sekeliling kita, baik melalui perilaku yang terlihat maupun yang disampaikan melalui komunikasi verbal (Dawes dalam Suhardi, 1996: 15). Selain itu, sebuah sikap juga mengandung unsur dimensi waktu. Sikap yang ditampilkan memiliki tingkat kesesuaian yang berbeda untuk periode waktu yang berbeda (Dawes dalam Suhardi, 1996: 15). Tidak hanya itu saja. Meyerhoff (2006: 70—73) menjelaskan bahwa sikap bahasa yang digunakan seseorang dalam berkomunikasi dengan individu lainnya memengaruhi gaya pertuturannya. Gaya pertuturan seorang individu yang bergeser merepresentasikan mitra tutur sebagai bagian dari kelompok tertentu secara keseluruhan. Penyesuaian gaya pertuturan tersebut dapat ditelusuri melalui teori-teori sosial psikologis yaitu teori identitas sosial (Social Identity Theory) dan teori akomodasi komunikasi (Communication Accomodation Theory). Teori identitas sosial melihat bahasa sebagai salah satu penanda bagi individu di kelompoknya sendiri atau ketika berhadapan dengan individu dari kelompok lain sebagai identifikasi identitasnya melalui pengukuran dan pemertahanan ciri khas. Teori ini disampaikan oleh Henri Tajfel (1978) dalam memahami proses sosial dan psikologis yang mendasari konflik di antara anggota kelompok etnis dan agama yang berbeda. Dalam teori tersebut, Henri Tajfel menggambarkan teori identitas sosial dari pengalamannya sendiri pada masa Perang Dunia II. Sebagai seorang Polandia dengan ras Slavia dan beragama Yahudi, dia menyembunyikan identitas aslinya dan memilih untuk beridentitas sebagai orang Prancis. Hal tersebut dilakukan untuk menyelamatkan dirinya dari kebijakan genosida Pemerintah Jerman pada saat itu.
Pada dasarnya, identitas yang dapat dipisahkan berupa identitas yang berhubungan dengan individu dan berhubungan dengan kelompok. Kita cenderung mengidentifikasi seseorang atau kelompok tertentu dalam interaksi pada waktu, tempat, dan konteks yang berbeda. Pada tahap tertentu, identifikasi terhadap seseorang atau kelompok tertentu tersebut menempatkan mereka sebagai bagian yang paling menonjol dalam suatu interaksi. Akibat identifikasi terhadap individu atau kelompok tersebut, memengaruhi aspek diri kita dari segi kepribadian, suasana hati yang menyebabkan berbagai penyesuaian dalam berinteraksi, salah satunya penyesuaian pertuturan. Penyesuaian pertuturan tersebut tidak berlaku kepada satu individu atau satu kelompok saja, melainkan juga berlaku kepada individu atau kelompok lain yang kita anggap memiliki identitas tertentu yang khas.
Teori kedua adalah teori komunikasi akomodasi. Teori yang disampaikan oleh Howard Giles (1973) ini berfokus pada strategi yang digunakan penutur dalam berkomunikasi untuk membangun, atau mempertahankan hubungan melalui pertuturan. Pada awalnya, teori ini berfokus pada pada perilaku bertutur, tetapi akhirnya berkembang pada langkah selanjutnya, yaitu perilaku komunikasi nonverbal. Dasar teori komunikasi tersebut adalah penyesuaian diri. Penyesuaian diri dilakukan berupa penyesuaian perilaku berdasarkan interaksi yang memengaruhi perilaku berkomunikasi, salah satunya speech styles (gaya berbicara) sebagai sistem yang bersifat dinamis. Perilaku penyesuaian tersebut menghasilkan anggapan positif atas diri sendiri atau individu lain sebagai bagian dari suatu kelompok. Anggapan positif tersebut muncul ketika pelaku dalam proses komunikasi saling berbagi kesamaan. Sebaliknya jika terdapat kelompok luar yang ‘kontras’ dengan kita atau kelompok dalam proses komunikasi dapat memunculkan penurunan nilai (downgrading). Dalam teori komunikasi akomodasi, terdapat dua strategi yang digunakan dalam proses penyesuaian, konvergensi dan divergensi. Konvergensi melibatkan pembicara untuk menyesuaikan caranya berbicara sehingga mendekati norma bicara mitra tutur dan menonjolkan kesamaan antara mitra tutur. Dengan strategi tersebut, mitra tutur memiliki dan menunjukkan rasa percaya terhadap penutur. Di sisi lain, divergensi menonjolkan perbedaan dalam proses komunikasi antarpenutur. Perbedaan yang muncul tersebut justru menjadi sebuah akomodasi untuk mencapai kesepakatan dalam proses komunikasi.
DKI Jakarta DI Yogyakarta Daerah Lainnya Total
20 informan 24 informan 6 informan 50 informan
Tabel 1. Jumlah Informan Tuli
Kelima puluh informan yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari 29 laki-laki dan 21 perempuan. Mereka berasal dari latar belakang usia yang berbeda, yaitu dari usia 17—70 tahun. Selain itu, mereka memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Latar belakang pendidikan yang berbeda ini bisa memberikan gambaran awal tentang penggunaan bahasa oleh informan dalam proses belajar di sekolah. Latar belakang pendidikan para informan Tuli ini dibagi ke dalam tiga kelompok tipe sekolah, yaitu sekolah luar biasa (SLB), sekolah umum, dan gabungan keduanya3. Sejumlah informan mengikuti pendidikan di kedua tipe sekolah, yaitu sekolah luar biasa dan sekolah umum. Kategori universitas dan/atau akademi dimasukkan ke dalam sekolah umum. Berikut adalah informasi tentang latar belakang pendidikan informan.
Sekolah Luar Biasa (SLB)
Sekolah Umum SLB dan Sekolah Umum
23 informan 4 informan 23 informan
Tabel 2. Latar Belakang Pendidikan Informan
Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 23 informan memperoleh pendidikan hanya di sekolah luar biasa, sebanyak 4 informan mengenyam pendidikan di sekolah umum, dan sebanyak 23 informan memperoleh pendidikan di sekolah luar biasa yang dilanjutkan dengan masuk ke sekolah umum. Dari 4 informan yang mengikuti pelajaran di sekolah umum tersebut, 3 di antaranya dari DKI Jakarta dan 1 informan dari Padang. Dari 23 informan yang mendapatkan pendidikan di SLB dan sekolah umum, terdapat 12 informan yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat universitas dan/atau akademi.
Pada awalnya, penelitian ini merupakan penelitian penjajakan atau eksploratif. Singarimbun dalam Metode Penelitian Survai (1987: 3) menjelaskan penelitian penjajakan dilakukan karena sifatnya yang masih terbuka. Dalam hal ini, peneliti masih belum memiliki hipotesis. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan informan Tuli mengangap pentingnya penggunaan bahasa isyarat. Meskipun demikian, pemakaian bahasa lisan terlihat karena lingkungan yang tidak sepenuhnya mendukung mereka untuk berbahasa isyarat.
Setelah hasil penelitian tersebut dipresentasikan4, penelitian dilanjutkan dengan melibatkan variabel-variabel penelitian yang lebih dalam, seperti latar belakang pendidikan dan frekuensi pertemuan dengan komunitas Tuli/penggunaan bahasa isyarat. Pada fase lanjutan ini, penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research). Peneliti bermaksud melihat gejala sikap bahasa komunitas Tuli di Indonesia terhadap pemakaian bahasa isyarat dan bahasa lisan serta pemakaian bahasa Indonesia dalam ranah berbahasa yang berbeda, seperti pekerjaan dan pendidikan. Penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan sikap berbahasa komunitas Tuli yang telah terpajankan pada lebih dari satu bahasa. Pengambilan data sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu kuesioner dengan pendampingan oleh tim peneliti. Pendampingan pengisian kuesioner ini bertujuan untuk meminimalisasi kekeliruan dan kesalahpahaman dalam pengisian kuesioner ini. Dengan demikian, target penelitian dapat tercapai.
B. Sikap Bahasa Komunitas Tuli
Dalam penelitian ini, kelima puluh informan terbagi ke dalam empat kategori usia ketulian, yaitu sejak lahir, usia 0—2 tahun, usia 3—6 tahun, dan usia di atas 6 tahun. Selain melihat pembagian informan
3
Di SLB dan sekolah umum, bahasa pengantar yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah bahasa lisan, yaitu bahasa Indonesia.
4
berdasarkan usia ketulian, peneliti juga melihat kaitan usia ketulian dengan usia pemerolehan bahasa isyarat. Informasi tersebut diperlihatkan dalam tabel di bawah ini.
No. Usia Ketulian
Usia Pemerolehan Bahasa Isyarat Tidak
menjawab 0—2 tahun 3—6 tahun > 6 tahun
1. Sejak lahir 1 4 4 14
2. 0—2 tahun 1 2 4 7
3. 3—6 tahun 0 0 0 6
4. > 6 tahun 0 0 0 7
Total 2 6 8 34
Tabel 3. Kategori Usia Ketulian dan Pemerolehan Bahasa Isyarat
Berdasarkan tabel di atas, dapat dikatakan bahwa lebih dari setengah informan Tuli memperoleh bahasa isyarat setelah usia 6 tahun. Bahkan, informan yang telah mengalami ketulian sejak lahir pun lebih banyak yang memperoleh bahasa isyarat setelah berusia 6 tahun. Karena semua informan adalah Deaf children of hearing parents (anak Tuli dari orang tua dengar), tidak mengherankan jika bahasa isyarat tidak menjadi prioritas pertama untuk digunakan sebagai moda komunikasi dengan anggota keluarga. Anak Tuli mulai terpajankan untuk menggunakan bahasa isyarat biasanya ketika mereka mulai mengikuti kegiatan belajar di sekolah luar biasa (SLB) (Bonvillian dan Folven, 1993: 229). Berdasarkan kenyataan bahwa situasi keluarga informan Tuli didominasi oleh orang dengar (hearing people), keterpajanan bahasa (language exposure) yang dialami oleh informan Tuli tersebut adalah bahasa lain selain bahasa isyarat, seperti bahasa lisan.
Keterpajanan bahasa lisan atas diri informan Tuli ini menyebabkan informan Tuli mengalami proses pembelajaran bahasa lisan. Mereka diajarkan untuk berbicara. Selain itu, sisa pendengaran yang mereka miliki dilatih agar setidaknya dapat menangkap input melalui indera pendengaran mereka. Karena mereka tidak mendapatkan input dan balikan yang sama seperti anak dengar, hasil pembelajaran bahasa lisan ini pun tidak sepenuhnya maksimal seperti anak dengar.
Meskipun mereka mengalami keterpajanan terhadap bahasa lisan, mereka tetap menggunakan bahasa isyarat dalam kegiatan berkomunikasi mereka. Praktik berbahasa isyarat lebih sering muncul ketika ada kontak dengan sesama Tuli. Melalui penelitian ini, data menunjukkan frekuensi penggunaan bahasa isyarat yang diidentifikasikan melalui frekuensi komunikasi dengan sesama Tuli. Berikut informasi frekuensi komunikasi dengan Tuli yang disajikan pada tabel di bawah ini.
Frekuensi Komunikasi dengan Tuli
Setiap Hari Sering Jarang/Sedikit Tidak Pernah Tidak Jawab
19 informan 7 informan 20 informan 0 4 informan
Tabel 4. Frekuensi Komunikasi dengan Tuli
Seperti yang dijelaskan di atas, para informan Tuli dalam penelitian ini berasal dari keluarga yang anggotanya didominasi oleh orang dengar (hearing people). Dengan demikian, asumsi dari penelitian ini adalah informan Tuli tidak sepenuhnya menggunakan bahasa isyarat dalam komunikasi. Hal ini terlihat dari Tabel 4 di atas yang menunjukkan jumlah yang tinggi untuk informan yang Jarang/Sedikit bertemu dengan sesama Tuli (20 informan). Meskipun demikian, perbedaan jumlah ini tidak signifikan dengan jumlah informan yang bersosialisasi dengan sesama Tuli Setiap Hari (19 informan). Selain kedua kategori tersebut, terdapat 7 informan yang menyatakan Sering bertemu dengan komunikasi Tuli dan 4 orang tidak menjawab. Frekuensi komunikasi menunjukkan frekuensi penggunaan bahasa isyarat oleh informan Tuli.
No. Pernyataan Y T TJ
1. Bisa berbahasa isyarat alami (Bahasa Isyarat Indonesia/BISINDO) itu penting. 94% 4% 2%
2. Orang tua menggunakan bahasa isyarat itu penting 68% 32% 0%
3. Anak-anak Tuli dan dengar perlu menguasai bahasa isyarat. 88% 12% 0%
Berdasarkan data nomor 1—3, secara keseluruhan informan Tuli menunjukkan kuantitas penggunaan bahasa isyarat dalam berkomunikasi dengan keluarga secara signifikan. Meskipun lebih banyak informan Tuli yang mengaku jarang atau sedikit menggunakan bahasa isyarat, bukan berarti mereka tidak menganggap bahasa isyarat penting untuk digunakan dalam berkomunikasi. Berdasarkan hasil kuesioner, sebagian besar informan (94%) menyatakan bahwa bisa berbahasa isyarat alami (Bahasa Isyarat Indonesia/BISINDO) penting. Dengan anggapan tersebut, mereka juga berpendapat bahwa orang tua juga perlu mempelajari bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan anak-anak Tuli mereka (68%). Bahasa isyarat dapat menjadi jembatan komunikasi yang baik sehingga mereka dapat saling mengerti kebutuhan masing-masing. Kebutuhan komunikasi yang tercukupi ini dapat berpengaruh baik bagi perkembangan mental anak Tuli (Lam: 2013)5. Sebanyak 88% dari lima puluh informan penelitian ini menyatakan setuju bahwa bahasa isyarat perlu dikuasai tidak hanya oleh anak Tuli saja melainkan juga anak dengar. Penguasaan bahasa isyarat oleh anak Tuli dan dengar berdampak pada keberlangsungan komunikasi yang baik di antara mereka. Hal ini tentu dapat meminimalisasi kesenjangan di antara mereka.
Selain itu, informan Tuli beranggapan bahwa orang tua dari anak-anak Tuli perlu menggunakan bahasa isyarat ketika berkomunikasi dengan mereka. Penggunaan bahasa isyarat ini dianggap sebagai suatu cara yang efektif agar perkembangan otak dan mental anak Tuli tumbuh secara maksimal. Orang tua yang memiliki anak Tuli dapat lebih memahami anaknya dengan baik karena bahasa isyarat bisa menjembatani komunikasi mereka.
Pada praktiknya, jawaban informan pada angket tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara singkat, didapatkan informasi bahwa penggunaan bahasa lisan juga sering muncul dalam komunikasi antara informan Tuli dengan anggota keluarganya yang notabene adalah orang dengar (hearing person). Batasan anggota keluarga yang dilihat dalam penelitian ini adalah ayah dan ibu. Penggunaan bahasa lisan dengan orangtua ini didasari pada kenyataan bahwa mereka orang dengar dan tidak memahami bahasa isyarat. Ketidakpahaman terhadap bahasa isyarat ini karena miskonsepsi terhadap bahasa isyarat masih tinggi. Orang dengar kebanyakan menganggap bahwa bahasa isyarat tidak dapat mendukung anak Tuli untuk berbagai aspek, seperti pemerolehan pengetahuan.
Diagram 1. Penggunaan Bahasa Lisan di Keluarga (dalam %)
Diagram 1 menunjukkan adanya 2 (dua) bahasa lisan yang digunakan oleh informan ketika berkomunikasi dengan orangtua, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dari kedua bahasa lisan yang digunakan, bahasa Indonesia lebih dominan daripada bahasa Jawa. Kemunculan bahasa Indonesia tersebar di ketiga kelompok daerah, sedangkan kemunculan bahasa Jawa hanya ada di kelompok daerah DI Yogyakarta.
Berkaitan dengan ranah pekerjaan dan pendidikan, bahasa Indonesia formal dianggap signifikan oleh informan Tuli. Hal tersebut dilandasi oleh faktor bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam segala aspek di bidang pendidikan dan pekerjaan. Oleh karena itu, muncullah konsepsi di kalangan informan Tuli bahwa
5
kesuksesan dalam pendidikan dan pekerjaan didukung dengan kemampuan bahasa Indonesia formal yang baik.
No. Pernyataan Y T TJ
4. Komunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan orang dengar (yang tidak bisa berbahasa isyarat) itu sopan.
66% 32% 2%
5. Harus pintar berbahasa Indonesia formal itu penting. 86% 12% 2%
6. Kalau mau sukses bekerja, Anda harus menggunakan bahasa Indonesia formal. 84% 14% 2% 7. Kalau mau belajar di sekolah umum, Anda harus menggunakan bahasa Indonesia
formal.
62% 34% 4%
Keterangan:
Y = Ya (Setuju); T = Tidak (Tidak Setuju); TJ (Tidak Jawab)
Tabel 5b. Sikap Bahasa Informan Tuli
Seperti yang terlihat dalam Tabel 2 di atas, secara umum informan Tuli dari ketiga kelompok daerah menyatakan setuju dengan pentingnya mampu berbahasa Indonesia (nomor 5). Selain itu, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar dijadikan acuan atas kesuksesan dalam bekerja dan kegiatan belajar (nomor 6 dan 7). Berkaitan dengan poin nomor 7, informan dari kelompok daerah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menyatakan setuju bahwa penguasaan bahasa Indonesia formal diperlukan sebagai bentuk akses informasi dan pengetahuan serta kelancaran berkomunikasi di sekolah umum. Berbeda dengan kedua kelompok daerah tersebut, informan dari kelompok Daerah Lain tidak setuju dengan pernyataan bahwa penguasaan bahasa Indonesia penting untuk memperoleh pendidikan di sekolah umum. Sebanyak 4 dari 6 informan dari kelompok daerah ini menganggap bahasa Indonesia bukan menjadi satu-satunya pilihan untuk mengakses pendidikan. Pandangan dari enam informan dari kelompok Daerah Lain memang tidak valid jika dipandang dari segi perbandingan kuantitas. Namun, temuan tersebut menunjukkan gejala sikap bahasa Tuli terhadap penggunaan bahasa Indonesia di dunia pendidikan, khususnya di sekolah umum.
C. Kesimpulan
Dari hasil penelitian deskriptif ini, dapat dilihat sikap bahasa komunitas Tuli yang diwakili oleh informan dari tiga kelompok daerah, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Daerah Lainnya (Bekasi, Depok, Pekanbaru, Padang, Lombok, dan Makassar). Pada dasarnya, informan Tuli memandang bahasa isyarat sebagai sebuah cara untuk berkomunikasi yang efektif. Meskipun demikian, kendala komunikasi dengan bahasa isyarat terjadi karena keterbatasan lingkungan untuk memproduksi dan memahami bahasa tersebut. Selain itu, sebagian besar dari informan Tuli tersebut beranggapan bahwa bahasa Indonesia memiliki peranan yang penting dalam dunia pekerjaan dan pendidikan.
D. Daftar Pustaka
Bonvillian, John D. dan Raymon J. Folven. 1993. Sign Language Acquisition: Developmental Aspects In Psycological perspectives on deafness dalam Mark Marschark dan M. Diane Clark (ed.). Hillssdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum.
Lam, Scholastica. 2013. Language Acquisition of Deaf Children. Tayangan disajikan dalam kuliah Topics in Langauge Acquistion of Deaf Children, The Chinese University of Hong Kong, Hong Kong, 23 Februari 2013.
Meyerhoff, Miriam. 2006. Introducing Sociolinguistics. New York: Routledge.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1987. Metode Penelitian Survai. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.