• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

i OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BUAH KAKAO

MENJADI PAKAN KAYA PROTEIN SEL TUNGGAL DENGAN FERMENTASI, PENAMBAHAN PERMEN SAPI® DAN DEFAUNASI

(Dessy Widhya, Ramaiyulis, Mutia Elida dan Musdar Effidjinis. 2009) Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Abstrak

Penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat suplementasi Permen Sapi® pada beberapa metode fermentasi kulit buah kakao terhadap kualitas Pakan Kaya Protein Sel Tunggal (PKPST). Penelitian ini menggunakan dua faktor yaitu Jenis Inokulan dan tingkat suplementasi Permen Sapi®. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi

penggunaan inokulan dan supelementasi Permen Sapi® memberikan pengaruh

berbeda sangat nyata (P<0,05). Perlakuan terbaik didapat dari penggunaan kapang Rhizopus oligosporus dengan penambahan suplemen Permen Sapi® 15% yang dapat menghasilkan kandungan gizi PKPST dengan protein 15,96%, serat kasar 15,38% dan BETN 36,55%, pH 5,93 dengan nilai palatabilitas 1,33.

(2)

1

I.

PENDAHULUAN

Rendahnya produktivitas usaha peternakan sapi potong di masyarakat

umumnya disebabkan rendahnya mutu ransum yang diberikan. Sapi hanya diberi

hijauan tanpa diiringi dengan pemberian konsentrat sehingga unsur gizi yang

banyak didapatkan ternak hanyalah serat kasar saja sedangkan protein, lemak dan

mineral sedikit atau defisien.

Kendala yang sering dihadapi oleh peternak berkenaan dengan hal ini

adalah keterbatasan dalam biaya karena harga konsentrat yang mahal. Untuk

mengatasi permasalahan tersebut salah satu cara yang dapat dilakukan adalah

dengan menggunakan konsentrat yang berasal dari bahan pakan alternatif yang

mempunyai nilai gizi tinggi, harga relatif murah, mudah didapat dan aman

dikonsumsi ternak. Salah satu bahan makanan alternatif yang dapat digunakan

adalah limbah kulit buah kakao

Penggunaan kulit buah kakao sebagai bahan pakan konsentrat menghadapi

suatu kendala berupa nilai gizi yang rendah, mengandung serat kasar yang tinggi,

cepat rusak atau busuk dan tidak tahan lama untuk disimpan serta adanya zat

pembatas berupa Theobromida serta asam fitat yang dapat mengakibatkan diare

pada ternak. Kandungan asam fitat yang tinggi juga dapat menurunkan kemampuan

usus ruminansia (sapi, kambing, kerbau) dalam menyerap zat-zat makanan.

Untuk meningkatkan nilai manfaat dari kulit buah kakao dapat dilakukan

pengolahan dengan memfermentasikan kulit buah kakao tersebut, menambahkan

bahan pakan suplement berupa Permen Sapi® dan menjadikannya tepung.

Fermentasi menggunakan bakteri dan kapang merupakan alternatif pengolahan

bahan pakan karena mampu merombak komponen yang sulit dicerna menjadi lebih

tersedia dan meningkatkan palabilitas pakan.

Dari hasil penelitian Guntoro dan Ray tahun 2005 diketahui bahwa

kandungan kulit buah kakao yang belum difermentasi adalah protein kasar 7,17%,

serat kasar 22,42%, lemak 2,02%, Ca 0,12%, P 0,05% dan BETN 32,1%.

Sedangkan setelah difermentasi adalah protein kasar 16,46%, serat kasar 14,15%,

lemak 2,08%, Ca 0,11%, P 0,08% dan BETN 36,7%.

(3)

2 kakao fermentasi bagi produksi ternak sapi perlu ditambahkan bahan pakan

suplemen yang kaya energi dan protein berupa Permen Sapi®.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat

suplementasi Permen Sapi® pada beberapa metode fermentasi kulit buah kakao

terhadap kualitas Pakan Kaya Protein Sel Tunggal (PKPST) yang dihasilkan. Hasil

penelitian ini akan memberikan informasi tingkat suplementasi Permen Sapi® dan

metode fermentasi yang tepat untuk menghasilkan PKPST yang terbaik.

II.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilakukan dengan dua faktor perlakuan yaitu Faktor F : Jenis

Inokulan yang digunakan terdiri dari F1 = bakteri rumen, F2 = bakteri

Streptococcus sp., F3 = kapang Rhizophus oligosporus, F4 = kapang Aspergilus

Niger serta faktor S yaitu tingkat suplementasi Permen Sapi ® terdiri dari S1 = 0%,

S2 = 10%, S3 = 15% dan S4 = 20%. Penelitian ini disusun menggunakan

Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 4 x 4. Parameter yang diamati terdiri

dari komposisi gizi, pH dan Palatabilitas.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Komposisi Gizi PKPST

Hasil fermentasi kulit buah kakao yang dijadikan pakan kaya protein sel

tunggal (PKPST) dengan berbagai kombinasi perlakuan ditampilkan pada Tabel 1.

Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa kombinasi perlakuan suplementasi

pada berbagai metode fermentasi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata

(P<0,01) terhadap kandungan protein, kandungan serat kasar dan Bahan Ekstrak

Tanpa Nitrogen (BETN) serta menunjukan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05)

(4)

3 Tabel 1. Komposisi Gizi PKPST Kulit Buah Kakao Fermentasi

Perlakuan

Ket : huruf yang berbeda pada lajur yang sama menunjukan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01).

Pada Gambar 1 menunjukan bahwa perbandingan kandungan protein, serat

kasar dan BETN pada berbagai kombinasi perlakuan.

(5)

4 Pengaruh kombinasi perlakuan terhadap kandungan protein hasil fermentasi

kulit buah kakao menunjukan hasil berbeda sangat nyata terhadap kandungan

protein. Kandungan protein tertinggi terjadi pada kombinasi perlakuan F3S3 dan

F3S2 yaitu 15,96% dan 14,54%. Kedua perlakuan menunjukan berbeda tidak nyata

berdasarkan hasil pengujian DMRT dan berbeda sangat nyata dengan kombinasi

perlakuan lainnya. Kombinasi perlakuan ini adalah Fermentasi dengan inokulum

kapang Rhizopus oligosporus dengan suplementasi Permen Sapi® sebanyak 10%

dan 15%.

Gambar 2. Kandungan Protein PKPST dari Berbagai Kombinasi Perlakuan

Pengolahan kulit buah coklat segar menjadi produk fermentasi mampu

meningkatkan kualitasnya. Kulit buah coklat segar hanya mengandung protein

7,17%, dan setelah difermentasi terjadi peningkatan kualitas gizi karena adanya

peningkatan protein, kandungan protein setelah fermentasi yang tertinggi bisa

mencapai 15,96% dan yang terendah 7,28%. Hasil terbaik dihasilkan dari

kombinasi F3S2 dan F3S3 yaitu dengan penggunaan inokulum kapang Rhizopus

oligosporus dan tingkat suplementasi 10% dan 15%. Hasil terbaik ini dapat

dijadikan sebagai salah satu metode pengolahan kulit buah kakao melalui

fermentasi untuk mendapatkan Kulit Buah Kakao Fermentasi yang dapat dijadikan

Pakan Kaya Protein Sel Tunggal (PKPST).

Tujuan fermentasi sesungguhnya adalah untuk meningkatkan kualitas

zat-zat makanan substrat dengan jalam memperbanyak jumlah mikroba. Oleh

(6)

5 mikroba harus terdapat dalam substrat. Interaksi jenis inokulum dan Suplementasi

Permen Sapi® memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap

kandungan protein PKPST. Suplemen ini mengandung senyawa essensial untuk

pertumbuhan mikraba secara umum antara lain ready ability carbohidrate (RAC),

asam amino, NH3, mineral makro dan mikro sehingga dengan penambahan

suplemen ke dalam substrat mampu mendukung tumbuh dan berkembangnya

mikroba inokulan pada tingkat yang optimal (Ramaiyulis, 2000).

Menurut Suliantari dan Winiati (1990) kapang Rhizopus oligosporus

bermanfaat digunakan untuk meningkatkan bahan pakan yang kandungan

proteinnya kurang baik. Kapang ini mempunyai aktivitas proteolitik yang tinggi

dan dapat membebaskan amonia setelah fermentasi berlangsung selama 48-72 jam.

Kemudian kapang ini dapat mensintesa proteinnya sendiri dengan menggunakan

sumber-sumber organik dan anorganik. Nitrogen organik merupakan sumber

nitrogen yang terbaik dengan komponen amonium dan jalinan nitrat.

Kapang Rhizopus oligosporus dapat menghasilkan enzim protease dan

lipase yang sangat aktif, dan juga diperoleh enzim hidrolitik lain seperti amilase

dan pektinase. Keefektifan enzim-enzim yang dihasilkannya pada fase

pertumbuhan menghasilkan peningkatan kadar asam amino essensial yang tinggi.

Kandungan protein PKPST yang terendah adalah pada Perlakuan F2S1 dan

F1S1 yaitu hampir menyamai kandungan protein kulit kakao segar yaitu 7,49 dan

7,28. Perlakuan ini adalah penggunaan inokulum bakteri Streptococcus lactis dan

bakteri rumen dengan tingkat supelementasi 0 %. Hal ini menunjukan bahwa

kedua jenis bakteri ini membutuhkan supelemen untuk penyediaan nutrisi yang

dibutuhkannya sehingga dapat tumbuh dan bekerja merombak bahan substrat yaitu

kulit buah kakao.

Terjadinya peningkatan protein pada hasil fermentasi merupakan hasil

kerja dari mikroba yang melakukan perombakan kimia bahan dasar menjadi

molekul-molekul sederhana dan sekaligus massa mikroba itu sendiri menjadi

penyumbang terbesar akan peningkatan protein bahan dasar kulit buah kakao.

Kapang memiliki kandungan nitrogen 5-8% dengan perkalian dengan N= 6,25

maka protein kasar kapang bernilai sekitar 31-50%, sedangkan bakteri

(7)

6 Kandungan karbohidrat yang menjadi parameter untuk perlakuan

fermentasi ini adalah serat kasar dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN).

Perlakuan suplementasi Permen Sapi dan jenis inokulan memberikan pengaruh

berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan serat kasar, namun tidak

signifikan pada interaksi. Penggunaan inokulan bakteri pada perlakuan fermentasi

ini cenderung dapat menurunkan kandungan serat kasar dan sebaliknya

penggunaan kapang sebagai inokulan justru akan meningkatkan kandungan serat

kasar. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan jumlah meselium dan

sporangium jamur yang mengikat materi substrat PKPST dimana bahan ini

mengandung chitin yaitu senyawa yang berfungsi identik dengan selulosa pada sel

tumbuhan.

Gambar 3. Kandungan Serat Kasar PKPST pada setiap Perlakuan

Penggunaan PKPST untuk pakan ternak sapi atau ternak ruminansia pada

umumnya, peningkatan jumlah serat kasar menjadi lebih menguntungkan karena

golongan ternak ini membutuhkan serat kasar yang tinggi. Oleh karena itu

perlakuan F3S3 menjadi pilihan terbaik karena kandungan protein yang tinggi dan

kandungan serat kasarnya juga tinggi.

Demikian juga dengan golongan karbohidrat Bahan Ekstrak Tanpa

Nitrogen (BETN), yaitu golongan karbohidrat yang mengandung pati, sukrosa, dan

(8)

7 Kapang Rhizopus oligosporus dapat membuat jaringan-jaringan berwarna putih

menyerupai kapas yang tersusun dari benang-benang halus sekali. Kapang ini

mampu mengeluarkan enzim yang bersifat biokatalisator antara lain amylase,

protease, lipase dan memproduksi asam laktat yang menyebabkan produk hasil

fermentasi lebih mudah dicerna.

Gambar 4. Kandungan BETN PKPST pada setiap Perlakuan

Secara umum karbohidrat adalah material esensial untuk fermentasi

disamping zat organik lainnya seperti sterol, alkohol, ester, dan protein atau asam

amino serta bahan organik lainnya untuk bahan fermentasi. Kapang berperan

sebagai perombak struktur polimerik bahan dasar yang kompleks, dapat berupa

perombakan selulosa, lignoselulosa, pati, protein, dan lemak. Enzim ekstraselular

yang dihasilkan oleh kapang akan menghidrolisis struktur polimerik bahan dasar

menjadi struktur monomerik yang memiliki molekul lebih kecil, seperti gugus

glukosa, maltosa, laktosa dan lain-lain yang pada akhirnya akan diserap oleh sel-sel

mikroba. (Fardiaz, 1989).

3.2.pH dan Palatabilitas PKPST

Tingkat keasaman dan palatabilitas PKPST yang dihasilkan dari berbagai

(9)

8 Tabel 2. Nilai pH dan Palatabilitas PKPST dengan beberapa Jenis Inokulum.

Perlakuan pH Jenis Inokulum Palatbilitas

F1S1 5,31 d Bakteri rumen 0,58

F1S2 5,20 d Bakteri rumen 0,58

F1S3 4,40 e Bakteri rumen 0,58

F1S4 4,69 e Bakteri rumen 0,58

F2S1 5,57 c Bakteri Streptococcus lactis 1,00 F2S2 5,25 d Bakteri Streptococcus lactis 1,00 F2S3 5,20 d Bakteri Streptococcus lactis 1,00 F2S4 5,42 c Bakteri Streptococcus lactis 1,00 F3S1 6,40 a Kapang Rhizphus oligosporus 1,33 F3S2 6,19 a Kapang Rhizphus oligosporus 1,33 F3S3 5,93 b Kapang Rhizphus oligosporus 1,33 F3S4 6,03 b Kapang Rhizphus oligosporus 1,33

F4S1 4,91 e Kapang Aspergilus niger 0,42

F4S2 5,28 d Kapang Aspergilus niger 0,42

F4S3 5,48 c Kapang Aspergilus niger 0,42

F4S4 5,61 c Kapang Aspergilus niger 0,42

Palatabilitas : dihitung dengan skor 0 = ketika disuguhkan sapi tidak tertarik; 1 = ketika disuguhkan sapi hanya mencium-cium saja; 2 = ketika disuguhkan sapi memakannya.

Tingkat keasaman produk fermentasi hasil kombinasi perlakukan

menunjukan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01). Tingkat keasaman terendah

mencapai pH 4,40 dan 4,69 merupakan produk dari perlakuan F1S3 dan F1S4 yaitu

perlakuan dengan bakteri rumen dengan tingkat suplementasi 15% dan 20%.

Bakteri rumen biasanya memang melakukan fermentasi dan menghasilkan asam

formiat, asetat, propoionat dan butirat di dalam rumen yang menyebabkan kondisi

produk fermentasi menjadi asam.

Dampak utama dari tingkat keasaman produk fermentasi adalah

pengaruhnya terhadap palatabilitas (tingkat kesukaan ternak). Hasil pengujian

statistik ternyata pH PKPST berkorelasi positif terhadap nilai palatabilitas atau

tingkat kesukaan ternak dengan koefisien korelasi R2 = 0,86. Pada tingkat

keasaman tinggi (pH rendah) pada perlakuan F1 dengan penggunaan inokulan

bakteri rumen menyebabkan nilai palatabilitas rendah. Sebaliknya pada keasaman

(10)

9 inokulum kapang Rhizopus oligosporus yang menjadi pilihan terbaik pada

perlakuan fermentasi tetap menunjukan hasil yang menguntungkan dengan pH 6

dan nilai palabilitas 1,33.

Gambar 5. Hubungan pH PKPST dengan Palatabilitas

Miselium kapang Rhizopus oligosporus pada proses fermentasi, selain

berperan sebagai pengikat butir-butir partikel bahan, enzim ekstraselular yang

dihasilkannya mengakibatkan terbentuknya suatu senyawa monomerik yang

meransang jenis bakteri menghasilkan aroma. Disamping itu Pertumbuhan kapang

Rhizopus oligosporus sangat dominan dan tidak memberikan kesempatan kepada

mikroba lainnya untuk tumbuh secara layak. Oleh karena itu cemaran mikroba

pembusuk dapat ditekan sehingga bau dan aroma PKPST yang dihasilkan pada

perlakuan F3S3 cukup baik, bau khas tempe sehingga mempunyai nilai

palatabilitas yang tinggi atau disukai oleh ternak.

Keuntungan lain pemilihan jenis inokulum kapang Rhizopus oligosporus

adalah kapang ini tidak menghasilkan racun aflatoksin bahkan bersifat

menghambat pembentukan aflatoksin oleh Aspergillus flavus dan bakteri yang

terdapat dalam substrat. Rhizopus oligosporus dapat merusak racun aflatoksin

(11)

10

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa

Pengolahan kulit buah kakao menjadi pakan kaya protein sel tunggal (PKPST)

dapat dilakukan dengan melakukan fermentasi menggunakan kapang Rhizopus

oligosporus dengan penambahan suplemen Permen Sapi ® 15%. Kandungan gizi

PKPST yang dihasilkan adalah protein 15,96, serat kasar 15,38 dan BETN 36,55,

pH 5,93 dengan nilai palatabilitas 1,33.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada DP2M DIKTI dan P3M

Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh yang telah menfasilitasi pelaksanaan

kegiatan serta teknisi dan pihak lain yang telah ikut membantu pelaksanaan

penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alexopouleous, C.J. 1982. Introductory Mycology. John Wiley & Sosns, Inc., New York, London, Sydney.

Fardiaz, S. 1989. Sifat-sifat beberapa jenis kapang “Mikrobiologi Pangan”. PAU Pangan dan Gizi IPB. Bogor.

Guntoro, Suprio. 2008. Membuat Pakan Ternak dari Limbah Perkebunan. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta

Ikhwani. 1998. Pengaruh Pemakaian Kulit Buah Kakao (Theobromida cacao L.) dalam Ransum Sebagai Pengganti Jagung Terhadap Daya Cerna Zat-zat Makanan pada Ternak Sapi Brahman Cross. Skripsi Faterna Unand. Padang Medwia, R.D., D.W. Grant. 1984. Germination of Rhizopus oligosporus

sporangiospores. Applied And Environmental Microbiology 43:1067-1071. Mardiass. 1995. Pengaruh Pemakaian Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Daya Cerna Zat-zat Makanan pada Ternak Kambing Kacang. Skripsi Fakultas Peternakan Unand. Padang.

Mitchell, D.A. , H.W. Doelle, anda P.F. Greenfield. 1999. Agar plat growth of Rhizopus oligosporus and Aspergillus oryzae to determine their suitability for Aflatoxin. Applied Micobiol. Biotechnol. 28:598-602.

Miteneli, D.A., H.W. Doeile. 1988. Agar Plate Growth or Rhizopus oligosporus and Aspergilus oryzae to determine Their Suitability for Solid-state Fermentation. Applied Microbiol. Biotechnol. 20:598-603.

Ramaiyulis. 2000. Memasyarakatkan Pemberian Pemen Jilat Sapi Potong pada Peternakan Tradisional. Jurnal P&PT. II-1:67-69.

Ramaiyulis dan D. Widhya 2002. Pemberian Permen Sapi Perah untuk Meningkatkan Produksi Air Susu Sapi Perah. Jurnal P&PT. IV-1:21-29 Suliantari, P.R., Winiati. 1990. Teknologi Fermentasi Umbi-umbian dan

Gambar

Tabel 1. Komposisi Gizi PKPST Kulit Buah Kakao Fermentasi
Gambar 2. Kandungan Protein PKPST dari Berbagai Kombinasi Perlakuan
Gambar 3. Kandungan Serat Kasar PKPST pada setiap Perlakuan
Gambar 4. Kandungan BETN PKPST pada setiap Perlakuan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Adapun perlakuan yang dicobakan sebagai berikut : R 1 = 0% Fermentasi tepung kulit buah kakao dalam konsentrat + hijauan jagung ad-libitum, R 2 = 10% fermentasi tepung kulit buah

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kompos kulit buah kakao dengan kotoran sapi memberikan pengaruh terhadap jumlah tunas yang terbaik

Namun tingkat kecerahan pada herbal kulit buah naga ini cenderung mengalami penurunan karena peningkatan suhu dan lama pengeringan kulit buah naga diduga

Dilakukan pembuatan kerupuk merah dengan menggunakan ekstrak kulit buah naga yang mengandung Betasianin sebagai pewarna alami. Ekstrak kulit buah naga ditambahkan

Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pengaruh Waktu Fermentasi Dan Komposisi Limbah Kulit Buah Aren ( Arenga Pinnata ) Dengan Starter Kotoran Sapi

Adapun perlakuan yang dicobakan sebagai berikut : R 1 = 0% Fermentasi tepung kulit buah kakao dalam konsentrat + hijauan jagung ad-libitum, R 2 = 10% fermentasi tepung kulit buah

Dari hasil penelitian pembuatan etanol dengan proses fermentasi larutan sari kulit buah nanas diperoleh konsentrasi ragi yang optimum tercapai pada 0,015 g/mL dengan yield etanol yang

Ekstraksi dan karakterisasi pektin pada kulit buah kakao berdasarkan perbedaan tingkat kematangan