Saya Beragama Maka Saya Bahagia Kaitan R

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Spiritualitas pada Kepribadian dan

Subjective-Well Being

Esai Pengganti Ujian Akhir Semester Psikologi Lintas Budaya Lanjut

Christ Billy Aryanto

1406591775

Magister Ilmu Psikologi

Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia

Depok

(2)

Pendahuluan

Indonesia adalah negara dengan agama yang beragam. Meskipun berbeda, tetapi warga Indonesia tetap bisa hidup berdampingan dan harmonis dalam keberagaman. Menurut Suryadharma Ali, menteri Agama pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009 - 2014, Indonesia merupakan negara yang memiliki toleransi antarumat beragama yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya (Asril, 2013). Meskipun berbeda-beda agama, tetapi warga Indonesia tetap percaya bahwa Tuhan adalah Esa, bahkan sudah dituturkan dalam sila pertama Pancasila.

Indonesia mengenal 6 agama yang diakui yang sudah dipelajari dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sejak kecil, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Terlepas dari Indonesia, agama yang dianut oleh dunia sangatlah beragam dengan Kristen dan Islam dikatakan sebagai dua agama terbesar di dunia di mana dua pertiga populasi dari dunia merupakan penganut dari salah satu dari kedua agama tersebut (Green, 2015). Banyak agama yang dianut oleh warga di dunia yang mungkin tidak banyak diketahui oleh warga Indonesia, seperti Baha’i, Jainisme, Judaisme, Shinto, Sikh, Tao, Neopagan, dan lain-lain (Robinson, 2015). Berdasarkan data dari Ontario Consultants on Religious Tolerance, sampai saat ini terdapat 40 agama dan kepercayaan yang telah terorganisir (Robinson, 2015).

Keberagaman dari agama ini telah menarik para ahli di bidang psikologi untuk melakukan penelitian terkait dengan agama dan kaitannya dengan manusia baik secara kognitif, emosi, bahkan kesehatan jiwa. Studi mengenai agama dilakukan karena agama dianggap penting oleh banyak orang dan banyak tingkah laku yang manusia lakukan dilakukan atas nama agama (Hood, Peter, & Spilka, 2009). Beberapa tingkah laku manusia yang didasarkan pada agama yang diberikan oleh Hood, Peter, dan Spilka (2009) adalah saat seorang ibu melahirkan, sang bayi kemudian harus dibaptiskan atau disunat karena merupakan anjuran dalam agama. Contoh lainnya adalah dalam pernikahan orang akan melakukan pernikahan dengan pasangan yang memiliki kepercayaan yang sama dan kemudian menginterpretasikan perannya sebagai suami atau istri sesuai dengan ajaran agama. Agama juga membantu seseorang untuk menghadapi kematiannya dengan gambaran bahwa setelah meninggal seseorang yang baik akan mendapatkan kehidupan yang baik, bahkan terdapat kepercayaan lainnya yang percaya bahwa setelah meninggal akan bangkit kembali.

(3)

memahami Islam sebagai sebuah cara pandang ilmu pengetahuan lalu mengembangkannya dengan model dan metode yang dirumuskan baik melalui adopsi dari metode berpikir Filsafat Yunani maupun yang dibangun secara mandiri (Ramadhansyah, n. d). Geertz (1968) menyatakan bahwa penyebab dari hal ini adalah karena dua negara yang berbeda memiliki dua budaya yang berbeda juga. Dari sini dapat dilihat bahwa Psikologi Lintas Budaya dapat berperan dalam hal ini karena Psikologi Lintas Budaya mempelajari secara kritis dan membandingkan pengaruh budaya pada aspek psikologis manusia (Shiraev & Levy, 2010). Perlu diingat bahwa aspek penting dalam psikologi lintas budaya adalah membandingkan dan apa yang ditelitinya adalah keberagaman psikologis dan apa alasan dibalik keberagaman tersebut.

Agama dapat mengarahkan seseorang untuk melakukan suatu tingkah laku tertentu, sehingga dapat dikatakan bahwa agama dapat berkaitan juga dengan kepribadian. Kepribadian juga merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kebahagiaan (Diener, 2009). Esai ini akan membahas lebih dalam terkait religiusitas, spiritualitas, dan kaitannya terhadap kepribadian dan kebahagiaan.

Tinjauan Pustaka

Sebelum melangkah lebih jauh untuk pembahasan mengenai religiusitas dan spiritualitas, perlu diketahui dahulu hal fundamental yang memunculkan adanya religiusitas dan spiritualitas yaitu agama. Agama sendiri merupakan suatu hal penting yang membentuk religiusitas seseorang. Definisi apapun dari agama sendiri menurut Yinger (1967, dalam Hood, Hill & Spilka, 2009) hanya dapat memuaskan dari pembuat defnisi saja dan belum tentu bisa memuaskan untuk semua orang. Robinson (2015) juga menegaskan bahwa banyak orang memiliki definisi yang disukainya secara pribadi sesuai dengan apa mereka yang mereka tahu untuk menjadi definisi yang tepat tanpa mempedulikan apa pendapat orang lain. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada definisi yang mendekati konsensus. Secara tradisional, istilah agama merujuk pada segala aspek yang berhubungan pada hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa (Nelson, 2009). Masih terdapat perdebatan mengenai apakah religiusitas dan spiritualitas merupakan suatu hal yang equivocal atau unequivocal (Rio & White, 2012).

Equivocal maksudnya adalah religiusitas dan spiritualitas adalah suatu hal yang tidak pasti dan masih dapat dipertanyakan, sedangkan unequivocal adalah religiusitas dan spiritualitas merupakan suatu hal yang pasti dan tidak perlu diragukan lagi (Rio & White, 2012).

(4)

seseorang dalam menghayati agamanya. Pertama adalah orientasi beragama yang ekstrinsik, di mana seseorang menganut agama untuk dirinya sendiri dan sebatas konform dengan apa yang ada di lingkungannya. Seseorang dengan orientasi religius ekstrinsik digambarkan mengikuti suatu agama tertentu sebagai usahanya untuk berpartisipasi dalam suatu kelompok yang memiliki kekuatan (Genia & Shaw, 1991, dalam Maltby, Lewis, & Day, 1999). Kedua adalah orientasi beragama yang intrinsik, di mana seseorang menganut agama dapat memberikan orang tersebut pemahaman dan kerangka berpikir untuk memahami hidupnya. Seseorang dengan orientasi beragama intrinsik digambarkan sebagai orang yang hidup dalam kepercayaan agamanya dan agama memengaruhi segala aspek dalam kehidupannya (Allport, 1966, dalam Maltby, Lewis, & Day, 1999). Allport dan Ross (1967, dalam Herek, 1987)

menyimpulkan bahwa individu dengan orientasi beragama ekstrinsik akan ‘menggunakan’

agama untuk kepentingannya pribadi dan individu dengan orientasi beragama intrinsik

‘hidup’ dalam agama untuk menjawab pertanyaannya akan hidup.

Awalnya perbedaan intrinsik dan ekstrinsik dilihat sebagai sebuah dimensi yang

bipolar, namun akhirnya muncul empat tipologi berdasarkan orientasi beragama intrinsik dan ekstrinsik dari cara pandang dualistik yang menganggap kedua hal tersebut continuum. Tipologi pertama adalah intrinsic, yaitu memiliki orientasi beragama yang tinggi pada intrinsik tetapi rendah pada ekstrinsik. Kedua adalah extrinsic, yaitu memiliki orientasi beragama yang tinggi pada ekstrinsik tetapi rendah pada intrinsik. Ketiga adalah non-religious, yaitu memiliki orientasi beragama yang rendah baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Keempat adalah indiscriminately pro-religious, yaitu memiliki orientasi beragama yang tinggi baik secara intrinsik maupun secara ekstrinsik (Herek, 1987).

(5)

Spiritualitas mengacu pada fenomena yang mengacu pada hal-hal ‘non-material’ yang berkaitan pada iman, kepercayaan, dan harapan yang berbeda dari hal-hal ‘material’ yang berkaitan pada kepemilikan, akumulasi dari hak milik, dan kompetisi (Shiraev & Levy, 2010, p. 304). Dalam konteks psikologi, spiritualitas menekankan pada pikiran dibandingkan raga (matter), being dibandingkan having, dan usaha mental dibandingkan kegiatan fisik. Individu mengembangkan sebuah kepercayaan yang kuat dalam kehadirannya ruh atau spiritual essence yang mengisi semua yang ada dalam dunia, termasuk manusia. Ruh ini ada sebelum, setelah, dan melebihi hadirnya suatu materi (Shiraev & Levy, 2010, p.304). Banyak peneliti psikologi lintas budaya berusaha memahami spiritualitas dari suatu budaya terlebih dahulu sebagai sumber informasi dan sumber penalaran dari orang-orang yang hidup dalam budaya yang tradisional (Shiraev & Levy, 2010, p.304).

Religiusitas dikatakan memiliki korelasi dengan kebahagiaan seseorang (Bixter, 2014; Lun & Bond, 2013; Stavrova, Fetchenhauer, & Schlosser, 2013) atau dalam psikologi positif dikenal konsep bernama subjective well-being untuk menjelaskan kebahagiaan (Veenhoven, 2004). Membahas kebahagiaan tidak akan lepas juga dari kepribadian orang yang berbahagia, sebab kepribadian merupakan salah satu faktor dari tinggi atau rendahnya subjective well-being (Diener, 2009). Telah ditemukan bahwa seseorang yang extrovert cenderung memiliki

subjective-well being yang lebih tinggi, karena biasanya orang yang extrovert akan cenderung mencari sensasi dan ramah terhadap orang lain (Diener, 2009). Kepribadian seseorang juga ternyata dapat terbentuk dari kepercayaannya terhadap agama, kepribadian itu sendiri ditentukan melalui Five Factor Model of personality (Gebauer, Bleidorn, Gosling, Rentfrow, Lamb, & Potter, 2014; Yeo, 2014). Penelitian kepribadian biasanya menggunakan Five Factor Model dikarenakan telah konsisten di banyak budaya (McCrae & Allik, 2002, dalam Church, Alvarez, Mai, French, Katigbak, & Ortiz, 2011).

Penelitian Lintas Budaya Terkait Kepribadian dan Kebahagiaan

Pertama akan dibahas terlebih dahulu terkait religiusitas dan spiritualitas dan kaitannya dengan kepribadian antar budaya, setelah itu akan dibahas religiusitas dan spiritualitas dan kaitannya dengan subjective well-being antar budaya. Salah satu penelitian terbaru terkait religiusitas dan kepribadian adalah penelitian dari Gebauer dan kawan-kawan (2014). Penelitiannya adalah variasi lintas budaya dari kepribadian berdasarkan Big Five atau

(6)

1.057.342 partisipan berasal dari 50 negara bagian di Amerika Serikat, 20.885 partisipan berasal dari 15 negara federal Jerman, dan 544.512 partisipan berasal dari daerah urban Inggris.

Satu studi dengan cara cross-sectional self report yang dilakukan oleh Gebauer dan kawan-kawan (2014) dipecah menjadi 4 studi yang berbeda dan dibagi menjadi studi 1a sampai studi 1d. Setiap studi dilakukan pengukuran Big Five Personality dengan Big Five Inventory, personal religiosity yang diukur dengan sebuah item yang sudah valid, dan

sociocultural religiosity yang dilihat dari rerata respons partisipan terhadap personal religiosity di suatu negara. Semua pengukuran tersebut diadministrasikan secara online

melalui Gosling-Potter Internet Personality Project. Sampel yang diambil pada studi 1a – 1b dan 1c – 1d memiliki karakteristik yang sedikit berbeda di mana sampel pada studi 1a – 1b merupakan sampel yang lebih religius dibandingkan sampel pada studi 1c – 1d yang lebih sekuler.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa pada sampel yang lebih religius memiliki agreeableness dan conscientiousness yang lebih tinggi dibandingkan sampel yang lebih sekuler. Openness pada partisipan yang lebih religius memiliki korelasi yang negatif dibandingkan dengan partisipan yang lebih sekuler. Extraversion dan neuroticism dikatakan tidak memiliki kaitan dengan religiusitas, meskipun secara statistik menunjukkan bahwa hasilnya signifikan. Hal ini diduga karena sampel yang diambil sangat banyak sehingga secara statistik menunjukkan signifikan (Gebauer, et al., 2014). Pada sampel Indonesia, penelitian dilakukan pada 2.856 partisipan dengan mean usia 24,21 tahun dan standar deviasi 7,8. Tingkat religiusitas negara (berdasarkan sociocultural religiosity) mendapat 3,19 poin dan merupakan negara dengan tingkat religiusitas negara tertinggi ke 5 dari 66 negara setelah Pakistan, Filipina, Mesir, dan Saudi Arabia. Hubungan antara religiusitas dan kepribadian menunjukkan agreeableness 0,18, conscientiousness 0,18, openness 0,3, extraversion 0,3, dan neuroticism -,01. Hasil di Indonesia berarti sesuai dan konsisten dengan penghitungan berdasarkan keseluruhan negara atau hasil secara omnibus karena korelasi agreeableness dan

conscientiousness dan tidak pada openness, extraversion, dan neuroticism (Gebauer, et al., 2014).

(7)

seseorang terhadap aktivitas-aktivitas prososial dan bagaimana seseorang memperbolehkan iman mereka percayai untuk membimbing tidnakan yang dilakukannya. Hal ini juga tentang bagaimana seseorang memandang penderitaan yang dialaminya dalam hidup dan cara menanggapi kebutuhan akan orang lain. Dimensi vertikal mengacu pada hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan dan menekankan pada bagaimana seseprang memelihara hubungannya dengan Tuhan. Dimensi total didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang mewujudkan prioritas, komitmen, dan perspektif karakteristik yang dinamis dan mengubah hidup beriman (Yeo, 2014). Penelitian yang dilakukan Yeo (2014) tidak membedakan apa itu

religiosity dan spirituality karena berdasarkan penelitiannya Islam tidak secara jelas membedakan antara spiritualitas dan agama dan cenderung melihat praktek religiusitas yang dilakukan sebagai suatu perjalanan spiritual yang akan membawa umatnya menuju keselamatan.

Hasil penelitian dari Yeo (2014) menggunakan multiple regression dengan menjabarkan satu persatu pengaruh dari kepribadian berdasarkan Five Factor Model terhadap

faith maturity vertikal, faith maturity horizontal, dan faith maturity total. Pada dimensi vertikal, ditemukan pengaruh positif yang signifikan pada extraversion dan agreeableness

dengan peningkatan 1 unit pada extraversion dan agreeableness akan meningkatkan masing-masing 0,26 unit dan 0,34 unit pada faith maturity vertikal. Pada dimensi horizontal, ditemukan pengaruh negatif yang signifikan pada openness terhadap faith maturity horizontal dan pengaruh positif signifikan pada agreeableness terhadap faith maturity horizontal. Hasil penghitungan menunjukkan kenaikan 1 unit pada openness akan menurunkan 0,18 unit pada

faith maturity horizontal dan kenaikan 1 unit pada agreeableness akan menaikkan 0,09 unit pada faith maturity horizontal. Pada dimensi faith maturity total, ditemukan pengaruh positif pada agreeableness di mana peningkatan 1 unit pada agreeableness akan meningkatkan 0,43 unit pada faith maturity total.

Meskipun hasil-hasil penelitian yang menggunakan Five Factor Model tampaknya konsisten pada berbagai budaya yang berbeda, tetapi perlu diperhatikan bahwa budaya yang berbeda juga dapat memengaruhi kepribadian seseorang secara berbeda juga. Penelitian-penelitian lintas budaya yang menggunakan Five factor model khususnya yang diukur menggukan Revised NEO Personality Inventory (NEO-PI-R, Costa & McCrae, 1992, dalam Church, et al., 2011) menurut Church dan kawan-kawan (2011) perlu dikaji lebih dalam lagi apakah benar-benar semua orang di budaya yang berbeda dapat dibagikan menjadi 5 trait

(8)

untuk menguji sub-dimensi dari 5 dimensi kepribadian dalam five factor model. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan apakah benar bahwa five factor model dapat digeneralisir secara universal ke negara dan budaya yang berbeda dan hasilnya ditemukan bahwa tiap budaya memiliki kecenderungan kepribadian yang berbeda-beda jika dilihat dari sub-dimensi masing-masing five factor model (Church, et al., 2011). Meskipun hasil penelitian tersebut belum bisa digeneralisir ke dunia karena hanya dilakukan di 3 negara dan penelitian-penelitian menggunakan differential item functioning memang belum banyak dilakukan, sehingga sampai sekarang five factor model masih valid dan reliabel untuk melakukan penelitian terkait kepribadian antar budaya.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya ditemukan bahwa individu dengan kepribadian extrovert cenderung memiliki subjective well-being yang lebih tinggi (Diener, 2009). Bila dikaitkan dengan religiusitas, ditemukan extraversion tidak memiliki korelasi dengan religiusitas (Gebauer, et al., 2014). Tetapi apakah hal ini serta merta menunjukkan bahwa seseorang yang religius memiliki subjective well-being yang rendah? Penelitian terkait dengan religiusitas dan subjective well-being atau kebahagiaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satunya adalah penelitian Bixter (2014) yang meneliti terkait kebahagiaan dan religiusitas di 53 negara.

Bixter melakukan penelitian dengan mengukur kebahagiaan dan religiusitas dengan alat ukur yang dikembangkan oleh general social survey (GSS, 2012, dalam Bixter, 2014). Berdasarkan penghitungan regresi, ditemukan hasil bahwa religiusitas memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan di mana peningkatan 1 unit pada religiusitas akan meningkatkan kebahagiaan sebanyak 0,19 unit.

Lun dan Bond (2013) melakukan juga penelitian untuk meneliti hubungan antara agama dan spiritualitas terhadap subjective well-being di budaya yang berbeda-beda. Penelitian dilakukan pada 42 negara termasuk Indonesia. Pengukuran terhadap variabel-variabel dilakukan dengan mengukur kepuasan terhadap hidup, kebahagiaan, kepercayaan terhadap otoritas agama, nilai terhadap Tuhan atau terhadap tuhan-tuhan, nilai agama, praktek spiritual, praktek agama secara sosial, dan identitas agama. Masing-masing dari negara juga dicari tahu Human Development Index (HDI), Social Hostilities Index (SHI), dan dukungan untuk sosialiasi agama di mana Human Development Index digunakan untuk mengetahui angka harapan hidup, tingkat pendidikan, dan jumlah pendapatan dari masing-masing negara (U.N Development Programme, 2010, dalam Lun & Bond, 2013), Social Hostilities Index

(9)

2013), dan dukungan sosialisasi agama untuk melihat tingkat dukungan yang lebih tinggi dianggap sebagai menunjukkan tingkat dukungan dalam beragama dalam konteks sosial, jika tingkat dukungan semakin tinggi maka dukungan sosial normatif untuk sosialisasi agama dalam konteks budaya nasional juga semakin tinggi (Lun & Bond, 2013). Di Indonesia sendiri, sampel yang diambil sebanyak 1.671 orang dengan mean usia 36 dan standar deviasi 13,75. Human Development Index menunjukkan angka 0,61, Social Hostilities Index

menunjukkan angka 7,8, dan dukungan terhadap sosialisasi agama sebesar 92,3%. Hal yang menarik adalah adalah dukungan terhadap sosialisasi agama di Indonesia mencapai angka 92,3% dan merupakan angka yang paling tinggi diantara 41 negara lainnya. Ini menunjukkan toleransi beragama yang ada di Indonesia dan dukungan sosial normatif untuk sosialisasi agama yang tinggi di Indonesia.

Penelitian tersebut kemudian melakukan dua analisis statistik di mana masing-masing variabel dikorelasikan dengan variabel lainnya, yaitu menggunakan zero-order correlation

dan hierarchical linear modeling. Hasil yang akan dipaparkan akan berfokus pada pada hasil dari zero-order correlation karena menunjukkan hubungan variabel dalam lingkup individu.

Zero-order correlation digunakan untuk mengetahui korelasi antar variabel pada level individu dan hierarchical lineral modeling untuk level individu sampai level negara. Berdasarkan hasil zero-order correlation, ditemukan bahwa kepuasan terhadap hidup berkorelasi negatif dengan religiusitas dan spiritualitas, tetapi perlu diingat bahwa effect size

dari korelasi tersebut mendekati angka nol (Lun & Bond, 2013). Pada variabel kebahagiaan, ditemukan hasil yang sama dengan kepuasan terhadap hidup di mana ditemukan korelasi negatif antara kebahagiaan dengan religiusitas dan spiritualitas meskipun tidak signifikan (Lun & Bond, 2013). Ditemukan hasil yang sama dengan temuan sebelumnya dimana terdapat hubungan yang tidak kuat antara afek yang positif dan pengukuran religiusitas (Diener, et al., 2011, dalam Lun & Bond, 2013).

(10)

dengan norma sosial menerima ataupun tidak menerima sama-sama bahagia (Stavrova, et al., 2013).

Penelitian Yeo (2014) yang secara spesifik meneliti warga Islam di Jakarta juga menemukan adanya korelasi antara religiusitas, spiritualitas, dan kebahagiaan. Hasil yang ditemukan adalah bahwa faith maturity dan religiusitas secara signifikan dapat meningkatkan kepuasan terhadap hidup individu serta subjective well-being individu. Meskipun belum bisa digeneralisir ke Indonesia, tetapi hal ini menunjukkan warga Muslim di Jakarta yang memiliki kepercayaan terhadap agamanya memiliki kepuasan hidup dan kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak memiliki kepercayaan.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang telah dijabarkan, dapat diketahui kaitan antara religiusitas, spiritualitas, kepribadian berdasarkan Five Factor Model, dan

subjective well-being atau kebahagiaan. Orang yang lebih religius memiliki kepribadian

agreeableness dan conscientiousness yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak religius dan trait kepribadian openness memiliki korelasi yang negatif dengan religiusitas (Gebauer, et al., 2014). Yeo (2014) memiliki arah korelasi yang berbeda sehingga menghasilkan temuan yang berbeda di mana peneliti mencari tahun kaitan kepribadian dan religiusitas dan spiritualitas dengan kepribadian sebagai variabel bebas. Hasilnya ditemukan bahwa secara umum trait kepribadian agreeableness yang paling memiliki pengaruh terhadap

faith maturity baik faith maturity vertikal, horizontal, maupun total.

Temuan terkait dengan subjectve well-being sebelumnya menyatakan bahwa

extraversion merupakan kepribadian yang memiliki pengaruh terhadap subjective well-being

(11)

Penelitian-penelitian yang telah dijabarkan tersebut tidak ada yang melakukan pembahasan mengenai orientasi dari beragama apakah intrinsik, ekstrinsik, atau quest (Herek, 1987; Maltby, Lewis, dan Day, 1999). Sehingga tidak diketahui apakah partisipan-partisipan dalam penelitian tersebut mendalami agama dan kepercayaan untuk kepentingan dirinya sendiri, mencari jawaban atas pertanyaan akan hidup, atau memang secara terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan agama yang muncul.

Aplikasi dalam Konteks Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia di mana berdasarkan penelitian dari Pew Research Center (DeSilver, 2013) ditemukan bahwa 87,2% atau sekitar 209.000.000 warga Indonesia merupakan penganut agama Islam. Meskipun begitu, Indonesia tidak tergolong sebagai negara Islam karena beragamnya agama yang ada di Indonesia. Seperti yang sudah disampaikan di awal bahwa Indonesia mengenal 6 agama yang dianut warga negaranya, tetapi penuturan dari Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia, menyatakan bahwa negara Indonesia tak pernah menyebutkan secara resmi bahwa ada enam agama di Indonesia (Lestari, 2014). Lukman Hakim Saiffuddin menambahkan bahwa terdapat jaminan untuk seluruh agama dan kepercayaan di Indonesia untuk dapat dilindungi konstitusi dan kebebasannya dalam beribadah dapat terjamin (Lestari, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa toleransi beragama di Indonesia begitu tinggi.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lun dan Bond (2013) bahwa dukungan terhadap sosialisasi agama di Indonesia mencapai angka 92,3%. Ini berarti bahwa dukungan sosial normatif dalam beragama, terlepas dari agama apa yang dianut, tinggi di Indonesia. Ini kemudian berkaitan dengan penelitian yang dijalankan oleh Stavrova dan kawan-kawan (2013) terkait penerimaan sosial serta pengaruhnya terhadap religiusitas dan kebahagiaan. Hasil yang ditemukan adalah negara yang norma sosialnya menerima orang-orang religius dinyatakan memiliki kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan yang norma sosialnya belum menerima (Stavrova, et al., 2013). Indonesia adalah negara yang memiliki norma sosial yang suportif terhadap beragama, apakah hal ini berarti bahwa warga Indonesia berbahagia?

Penelitian telah dilakukan oleh Ipsos (2014), sebuah perusahaan market research, terkait dengan global happiness yang melakukan penelitian pada 24 negara di dunia dengan kurang lebih 1000 partisipan di setiap negara yang diadministrasikan kuesionernya secara

(12)

norma sosial yang suportif terhadap seseorang yang beragama ternyata memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan. Tetapi masih perlu ditinjau lebih lanjut dahulu karena banyak faktor yang memengaruhi kebahagiaan atau khususnya subjective well-being seseorang seperti kepuasan hidup secara subjektif, pendapatan dan tingkah laku (Diener, 2009).

Menjawab pertanyaan mengenai apakah benar religiusitas yang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebahagiaan di Indonesia, hal ini dapat diketahui dengan meninjau kembali penelitian dari Yeo (2014) mengenai religiusitas, kepribadian, dan kebahagiaan dari Muslim yang hidup di Indonesia. Meskipun Yeo (2014) mengklaim bahwa lingkup penelitiannya adalah Indonesia, pada kenyataannya penelitian yang dilakukan hanya pada warga Jakarta dengan sampel hanya 251 partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas dan spiritualitas, yang dilihat dari tingkat faith maturity dan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, memiliki korelasi yang positif dengan kepuasan hidup dan

subjective well-being. Hasil statistik juga meunjukkan bahwa faith maturity total, faith maturity vertikal, faith maturity horizontal, serta keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan partisipan yang menjadi sampel penelitian juga tinggi (Yeo, 2014). Hal ini membuktikan bahwa warga Muslim Jakarta memang memiliki religiusitas dan spiritualitas yang baik dan berdampak pada kepuasan terhadap hidup dan subjective well-being. Hubungan tersebut semakin diperkuat dengan adanya dukungan sosial normatif terhadap orang-orang yang melakukan kegiatan keagamaan.

Kesimpulan

Berdasarkan dengan penelitian dari Yeo (2014) ditemukan bahwa kepribadian yang paling menonjol dari warga Muslim di Jakarta adalah agreeableness. Hal ini wajar terjadi khususnya bila partisipan berasal dari suku Jawa, sayang penelitian tersebut tidak mencantumkan latar belakang apa dari partisipan yang menjadi partisipan penelitiannya karena suku di Jakarta sangat beragam. Populasi Muslim terbesar di Indonesia yang paling besar adalah di pulau Jawa dan individu dengan suku Jawa memiliki satu trait yang cukup

menonjol yaitu budaya ‘nun inggih’ atau budaya untuk menurut khususnya kepada figur

otoritas. Hal ini tercermin dari penelitian dari Yeo (2014) yang memang menunjukkan

agreeableness merupakan trait kepribadian yang paling menonjol.

(13)

subjective well-being (Diener, 2009), bahkan terdapat penelitian sebelumnya yang menyatakan terdapat hubungan yang lemah antara afek positif dan religiusitas (Diener, et al., 2011, dalam Lund & Bond, 2013). Kepribadian warga Jakarta yang cenderung agreeableness

tampak tidak memiliki pengaruh terhadap subjective well-being seperti penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa trait kepribadian extrovert yang paling memiliki pengaruh terhadap

(14)

Daftar Pustaka

Asril, S. (2013, Juli 17). Menteri Agama: Konflik Antaragama Wajar, yang Tak Wajar

"Tukang Kompor”. Kompas.com. Diunduh dari

http://nasional.kompas.com/read/2013/07/17/0856544/Menteri.Agama.Konflik.Antara

gama.Wajar.yang.Tak.Wajar.Tukang.Kompor. Pada tanggal 1 Juni 2015.

Bixter, M. T. (2015). Happiness, political orientation, and religiosity. Personality and Individual Differences, 72, 7 – 11.

Church, A. T., Alvarez, J. M., Mai, N. T. Q., French, B. F., Katigbak, M. S., & Ortiz, F. A. (2011). Are cross-cultural comparisons of personality profiles meaningful? Differential item and facet functioning in the revised NEO personality inventory.

Journal of Personality and Social Psychology. Advance online publication. doi: 10.1037/a0025290.

DeSilver, D. (2013, Juni 7). World’s Muslim population more widespread than you might think. Pew Research Center. Diunduh dari http://www.pewresearch.org/fact-tank/2013/06/07/worlds-muslim-population-more-widespread-than-you-might-think/

pada tanggal 2 Juni 2015.

Diener, E. (2009). Subjective well-being. In Diener, E. (Eds.), The science of well-being: The collected works of ed diener. (pp 11-58). Springer Science+Bussiness Media.

Gebauer, J. E., Bleidorn, W., Gosling, S. D., Rentfrow, P. J., Lamb, M. E., & Potter, J. (2014). Cross-cultural variations in big five relationships with religiosity: A sociocultural motives perspective. Journal of Personality and Social Psychology,

107(6), 1064 – 1091.

Geertz, C. (1968). Islam observed: Religious development in morocco and indonesia.

Chicago: The University of Chicago Press.

Green, E. (2015, April 2). Islam Could Become the World's Largest Religion After 2070. The

Atlantic. Diunduh dari

http://www.theatlantic.com/international/archive/2015/04/islam-could-become-the-worlds-largest-religion-after-2070/389210/ pada tanggal 1 Juni 2015.

Herek, G. M. (1987). Religious orientation and prejudice: A comparison of racial and sexual attitudes. Personality and Social Psychology Bulletin, 13(1), 34 – 44.

Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2009). The psychology of religion: An empirical approach (4th ed.). New York: The Guilford Press.

(15)

Lestari, S. (2014, September 18). Menag: negara tak pernah 'resmikan' enam agama. BBC

Indonesia. Diunduh dari

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/09/140918_agama_minoritas

pada tanggal 2 Juni 2015.

Lun, V. M., Bond, M. H. (2013). Examining the relation of religion and spirituality to subjective well-being across national cultures. Psychology of Religion and Spirituality, 5(4), 304 – 315.

Maltby, J., Lewis, C. A., & Day, L. (1999). Religious orientation and psychological well-being: The role of the frequency of personal prayer. British Journal of Health Psychology, 4, 363 – 378.

Nelson, J. M. (2009). Psychology, religion, and spirituality. New York: Springer Science + Business Media.

Ramadhansyah, F. (n.d.) Studi islam di timur tengah (Sebuah pengantar model kajian islam

bagi ilmuan arab). Diunduh dari

https://www.academia.edu/6434347/Studi_Islam_di_Timur_Tengah pada tanggal 1 Juni 2015.

Rio, C. M. D., & White, L. J. (2012). Separating spirituality from religiosity: A hylomorphic attitudinal perspective. Psychology of Religions and Spirituality, 4(2), 123 – 142. Robinson, B. A. (2015). Ontario consultant on religious tolerance. Diunduh dari

http://www.religioustolerance.org/ pada tanggal 1 Juni 2015.

Shiraev, E. B., & Levy, D. A. (2010). Cross-cultural psychology: Critical thinking and contemporary applications (4th ed.). Boston: Pearson Education, Inc.

Stavrova, O., Fetchenhauer, D., & Schlosser, T. (2013). Why are religious people happy? The effect of the social norm of religiosity across countries. Social Science Research, 42, 90 – 105.

Veenhoven, R. (2004). Happiness as a public policy aim: The greatest happiness principle. In Linley, P. A., & Joseph, S. (Eds.), Positive psychology in practice. (pp 658-678). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :