UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR ROLL DEPAN DENGAN MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN

58 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR ROLL DEPAN

DENGAN MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN

PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN

SKRIPSI

Oleh :

SUYADI

X4711229

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Suyadi

NIM : X4711229

Jurusan / Program Studi : Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan /

Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “UPAYA PENINGKATAN HASIL

BELAJAR ROLL DEPAN DENGAN MODIFIKASI MEDIA

PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN”

ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang

dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar

pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,

saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, Juli 2012

Yang membuat pernyataan,

(3)

commit to user

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR ROLL DEPAN

DENGAN MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN

PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN

Oleh :

SUYADI

X4711229

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan

Rekreasi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(4)

commit to user

iv

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, Juli 2012

Pembimbing I,

Drs. Mulyono, MM.

NIP 19510809 197611 1 001

Pembimbing II,

(5)

commit to user

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Selasa

Tanggal : 31 Juli 2012

Tim Penguji Skripsi :

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sunardi, M.Kes. __________________

Sekretaris : Sri Santoso Sabarini, S.Pd., M.Or. __________________

Anggota I : Drs. Mulyono, MM. __________________

Anggota II : Drs. Sarjoko Lelono, M.Kes. __________________

Disahkan oleh :

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

An. Dekan

Pembantu Dekan I,

(6)

commit to user

vi ABSTRAK

Suyadi. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR ROLL DEPAN DENGAN MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan modifikasi media pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan dan hasil belajar roll depan pada siswa Kelas IV SD Negeri 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tahun pelajaran 2011/2012.

Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas IV SD Negeri 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 36 siswa terdiri dari 12 siswa putra dan 24 siswa putri. Data hasil belajar roll depan diperoleh melalui tes unjuk kerja, lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data kegiatan siswa di dalam mengikuti proses pembelajaran roll depan melalui penerapan modifikasi media pembelajaran.

Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan pada kemampuan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran roll depan meningkat dari 47% pada kondisi awal (pra siklus) menjadi 69% pada akhir siklus I dan meningkat menjadi 89% pada akhir siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penerapan modifikasi media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar roll depan pada siswa Kelas IV SD Negeri 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tahun pelajaran 2011/2012.

(7)

commit to user

MOTTO

# Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain (Hadits) #

# Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan

(8)

commit to user

viii

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk :

v “Sekolah Dasar Negeri 1 Krandegan”

Tempat aku mengabdi yang telah membuat aku menjadi manusia yang berarti.

v “Istri dan anak-anakku tersayang”

Terima kasih karena senantiasa mendukung dan memberi semangat dalam setiap

langkah-langkahku serta menjadikan sumber inspirasi dan motivasiku..

(9)

commit to user

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyanyang, yang

memberi ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas kehendak-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “UPAYA PENINGKATAN HASIL

BELAJAR ROLL DEPAN DENGAN MODIFIKASI MEDIA

PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KRANDEGAN”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk

mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan

Rekreasi, Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa

terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan

dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta;

2. Prof. Dr.rer.nat. H. Sajidan, M.Si., Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta;

3. Drs. Mulyono, MM., Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta;

4. Waluyo, S.Pd., M.Or., Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan

Rekreasi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan danIlmu

Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta;

5. Drs. Mulyono, MM., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan

pengarahan dalam menyusun PTK;

6. Drs. Sarjoko Lelono, M.Kes., selaku pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam menyusun PTK;

7. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

yang secara tulus memberikan ilmu dan masukan-masukan kepada penulis;

(10)

commit to user

x

9. Kepala UPT Dindikpora Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara;

10. Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten

Banjarnegara yang telah memberikan izin dan tempat penelitian sekaligus sebagai

guru pamong dalam pelaksanaan penelitian;

11. Siswa kelas IV SDN 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten

Banjarnegara yang telah bersedia menjadi subjek penelitian;

12. Rekan-rekan guru SDN 1 Krandegan dan teman sejawat sebagai observator yang

telah memberikan kontribusi dan membantu dalam melakukan penelitian;

13. Rekan-rekan mahasiswa program PPKHB S.1 Penjaskesrek angkatan 2011 yang

telah membantu dalam penelitian dan penulisan skripsi ini;

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu

terlaksananya penelitian dan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena

keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surakarta, 25 Juli 2012

(11)

commit to user

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 5

1. Model Pembelajaran Inkuiri ... 5

2. Senam Lantai ... 11

3. Hasil Belajar Siswa ... 18

(12)

commit to user

xii BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 22

B. Subjek Penelitian ... 22

C. Sumber Data ... 22

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 23

E. Analisis Data ... 23

F. Prosedur Penelitian ... 23

G. Indikator Keberhasilan ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus) ... 28

B. Hasil Penelitian ... 29

1. Hasil Penelitian Siklus I ... 29

2. Hasil Penelitian Siklus II ... 35

C. Pembahasan ... 40

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 43

B. Implikasi ... 43

C. Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

(13)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1. Alur Kerangka Berpikir ... 21

3.1. Diagram Daur Penelitian Tindakan Kelas ... 24

3.2. Bagan Alur Proses Perbaikan Pembelajaran ... 24

4.1. Grafik Ketuntasan Belajar pada Pra Siklus ... 29

4.2. Grafik Ketuntasan Belajar pada Siklus I ... 34

4.3. Grafik Ketuntasan Belajar pada Siklus II ... 39

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus) ... 28

4.2. Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus I ... 33

4.3. Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus II ... 39

4.4. Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari Studi Pra Siklus, Siklus I,

(15)

commit to user

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I Pertemuan 1 ... 45

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I Pertemuan 2 ... 56

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II Pertemuan 1 ... 67

4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II Pertemuan 2 ... 78

5. Data Prestasi Siswa pada Siklus I ... 90

6. Data Prestasi Siswa pada Siklus II ... 92

7. Data Hasil Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan 1 ... 94

8. Data Hasil Observasi Pembelajaran Siklus I Pertemuan 2 ... 96

9. Data Hasil Observasi Pembelajaran Siklus II Pertemuan 1 ... 98

10. Data Hasil Observasi Pembelajaran Siklus II Pertemuan 2 ... 100

11. Surat KeteranganMelaksanakan Penelitian ... 102

12. Dokumentasi Kegiatan ... 103

13. Dokumentasi Siklus I ... 104

(16)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani di sekolah merupakan bagian dari pendidikan pada

umumnya, pendidikan jasmani membentuk atau membangun manusia seutuhnya dari

segi lahir maupun batin. Segi lahir atau jasmani ini meliputi pertumbuhan fisik,

perkembangan fisik, kesehatan dan rehabilitasi. Pertumbuhan dan perkembangan fisik

akan lebih cepat melalui pembelajaran pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani

membentuk siswa mempunyai gaya hidup berolahraga sehingga menjadi perilaku

hidup sehat, sedangkan rehabilitasi dalam hal ini maksudnya perbaikan sikap tubuh,

misalnya: sikap jalan yang kurang baik, sikap duduk yang salah dan lain-lain. Hal ini

dalam pendidikan jasmani dapat dibenahi sebelum menjadi sikap yang permanen.

Segi batin atau rohani yang dapat dibentuk melalui pendidikan jasmani meliputi

kejujuran, disiplin, percaya diri dan menghilangkan egoisme. Segi batin atau rohani

ini terbentuk melalui aktivitas pendidikan jasmani yang sifatnya bermain dan bukan

permainan.

Pendidikan jasmani disekolah terbagi menjadi beberapa cabang olahraga

yaitu: cabang olahraga bola besar, cabang olahraga bola kecil, cabang olahraga

atletik, cabang olahraga senam. Pembelajaran yang ada unsur permainannya seperti

pada cabang olahraga bola besar di sekolah, siswa sangat antusias dalam

mengikutinya. Hal ini merupakan modal utama atau syarat utama yang paling penting

dalam pembelajaran, dengan antusias atau rasa senang tujuan pembelajaran akan

mudah tercapai. Keadaan yang sebaliknya, siswa kurang suka dalam mengikuti

pembelajaran maka tujuan dari pembelajaran sulit tercapai. Ketidaksukaan ini

menyebabkan siswa malas dalam beraktivitas. Cabang olahraga senam lantai yaitu:

roll depan, roll belakang, meroda, hand stand, kop stand, lompat harimau, salto

(17)

commit to user

2

Materi pembelajaran senam lantai untuk tingkat sekolah dasar kelas IV

mempelajari roll depan. Senam lantai di tiap kejuaraan baik ditingkat daerah maupun

nasional sudah dipertandingkan, adanya kejuaraan yang bertaraf nasional atau

kejurnas diberbagai kota dapat menjadi pemicu pada cabang olahraga senam

khususnya senam lantai supaya tidak dipandang sebelah mata. Roll depan merupakan

cabang pembelajaran senam lantai yang pada umumnya pembelajaran senam lantai

oleh siswa kurang diminati. Hal ini kurangnya antusias siswa dalam mengikuti

pembelajaran senam lantai. Kurangnya antusias siswa dapat disebabkan oleh

beberapa faktor, salah satunya penyajian materi yang kurang variatif, sehingga

menyebabkan siswa malas mengikutinya.

Pembelajaran senam lantai hanya diperkenalkan sebagian kecil atau sekilas,

pembelajaran hanya berorientasi pada pembelajaran teknik, setelah itu pembelajaran

dilanjutkan kegiatan yang lain misalnya kegiatan sepak bola atau kasti. Keadaan ini

sering terjadi bilamana pembelajaran teknik sudah selesai, sehingga orientasi siswa

tidak kepada materi pembelajaran senam lantai, tetapi pada bermain sepak bola dan

kasti akibatnya kurang baik bagi cabang senam, pembelajaran senam lantai terkesan

tidak tuntas.

Peneliti mengamati pada saat pembelajaran senam lantai khususnya roll

depan atau roll belakang baik pada siswa putra dan putritidak antusias mengikutinya.

Keadaan semacam ini menjadikan masalah agar bagaimana caranya pembelajaran

senam lantai atau roll depan dapat meningkat. Karena tujuan pembelajaranpun pasti

belum tercapai. Setelah melakukan pengamatan hal ini disebabkan oleh pembelajaran

yang monoton atau pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran teknik, tidak

adanya unsur bermain dalam penyajian materi pembelajaran. Sejalan dengan hal

tersebut, peneliti mencoba pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Pendekatan

inkuiri dapat berbentuk bermacam-macam permainan berguling, ini dikarenakan

teknik yang utama pada teknik roll depan adalah teknik berguling. Pendekatan

(18)

commit to user

3

depan, sehingga siswa lebih siap dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran dan

dengan kata lain tujuan pembelajaranpun akan mudah tercapai.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mengambil judul “Upaya

Peningkatan Hasil Belajar Roll Depan dengan Modifikasi Media Pembelajaran pada Siswa Kelas IV SD Negeri I Krandegan”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah dengan modifikasi media pembelajaran senam dapat meningkatkan

motivasi belajar siswa pada materi pembelajaran roll depan?

2. Bagaimanakah dengan modifikasi media pembelajaran senam dapat meningkatkan

hasil belajar siswa pada materi pembelajaran roll depan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

senam lantai, khususnya sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran roll depan.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya penelitian yang telah ada

dibidang olahraga, khususnya roll depan. Selain itu, juga sebagai penambah

wawasan dalam ilmu keolahragaan.

2. Secara Praktis

Penelitian ini dijadikan sebagai informasi kepada pihak-pihak yang

berkepentingan dalam usaha meningkatkan pembelajaran senam lantai dengan

memodifikasi media pembelajaran. Pihak-pihak tersebut khususnya bagi guru

(19)

commit to user

4

Bagi guru sebagai bahan pembelajaran supaya lebih baik dalam

mengajar. Sedangkan bagi siswa sebagai pengetahuan agar lebih antusias dalam

(20)

commit to user

5 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Model Pembelajaran Inkuiri

Sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk

menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di

sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil

manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera

penglihatan, pendengaran, pengecapan dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa

keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan

otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna

(meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Didasari hal inilah suatu

strategi pembelajaran yang dikenal dengan inkuiri dikembangkan.

Menurut Sanjaya (2008: 180) inkuiri berasal dari kata to inquire yang

berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan,

mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa

pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk

membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait

dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari

pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk

membangun kemampuan itu.

Selanjutnya Sanjaya (2008;196) menyatakan bahwa ada beberapa hal

yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri

menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan

menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek

belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai

penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan

(21)

commit to user

6

aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri

dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap

percaya diri (self belief). Artinya dalam pendekatan inkuiri menempatkan guru

bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator

belajar siswa. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya

jawab antara guru dan siswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan

teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan

dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan

kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam

pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan

tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti

langkah-langkah sebagai berikut:

a. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana

atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap

orientasi ini adalah:

1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat

dicapai oleh siswa

2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa

untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah

inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan

merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan

3) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan

dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

b. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada

suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah

(22)

commit to user

7

dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk

mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat

penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut

siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya

mengembangkan mental melalui proses berpikir.

c. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang

dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah

satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan

menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan

berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan

jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan

jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

d. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang

dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran

inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting

dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya

memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga

membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi

berpikirnya.

e. Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap

diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan

pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan

kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan

bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data

(23)

commit to user

8

f. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan

yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai

kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa

data mana yang relevan.

Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri

adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai

pendidikan jasmani dan akan lebih tertarik terhadap pembelajaran senam lantai

jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi

yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan

pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep

senam lantai dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa.

Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses

berpikir ilmiah tersebut.

Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan

keterlibatan aktif siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap

anak terhadap pelajaran matematika, khususnya kemampuan pemahaman dan

komunikasi matematis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri

merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar

berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa

lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan

masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan

guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai pembimbing

dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan

kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang

akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan

sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan

pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa

(24)

commit to user

9

Dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas, guru mempunyai peranan

sebagai konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapat

membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga tahap: (1)

Tahap problem solving atau tugas; (2) Tahap pengelolaan kelompok; (3) Tahap

pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai instruktur

harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan intervensi

dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.

Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya

intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh

guru kepada siswanya. Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:

a. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)

Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana

guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan

awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif

dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.

Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang

berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini

siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru

hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan

ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan

baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu

menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan

memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru

banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya,

bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses

inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa

pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat

(25)

commit to user

10

pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama

berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi

siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk

dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.

b. Inkuiri Bebas (free inquiry approach)

Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah

berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan

inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang

ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk

diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri,

merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.

Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau

bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan

metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan

masalah open endeddan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari

satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi

jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan

solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah

yang diselidiki.

Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa

kelemahan, antara lain: 1) waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu

relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan dalam

kurikulum, 2) karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri

permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa

di luar konteks yang ada dalam kurikulum, 3) ada kemungkinan setiap

kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan

membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh

siswa, 4) karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual

(26)

commit to user

11

memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu,

sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

c. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)

Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua

pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan

pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan

dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan

kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat

memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun

siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya

untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang

diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.

Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi

bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan

harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun,

apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka

bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan

contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau

melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

2. Senam Lantai

a. Pengertian Senam Lantai

Senam lantai (flour exercise) adalah satu bagian dari rumpun

senam. Sesuai istilahnya gerakan-gerakan senam dilakukan di atas lantai

yang beralaskan matras atau permadani. selain itu senam lantai juga disebut

dengan istilah senam bebas karena pada waktu melakukan gerakan tidak

membawa atau menggunakan alat. Unsur-unsur gerakannya terdiri dari

(27)

commit to user

12

kaki untuk mempertahankan sikap seimbang pada waktu melompat kedepan

atau kebelakang.

Senam lantai dibagi menjadi dua kategori, yaitu senam lantai yang

menggunakan alat dan tanpa menggunakan alat.

1) Rangkaian Senam lantai dengan Alat

a) Guling depan diatas peti lompat.

b) Lompat Jongkok diatas peti lompat.

2) Rangkaian Senam Lantai Tanpa Alat

a) Berguling Ke Depan (Forward Roll)

Cara melakukannya sebagai berikut:

(1) Sikap permulaan jongkok,kedua tangan menumpu pada matras

selebarbahu.

(2) Kedua kaki diluruskan, siku tangan ditekuk, kepala dilipat

sampai dagumenyentuh dada.

(3) Mengguling ke depan dengan mendaratkan tengkuk terlebih

dahulu dankedua kaki dilipat rapat pada dada.

(4) Kedua tangan melemaskan tumpuan dari matras, pegang mata

kaki danberusaha bangun.

(5) Kembali berusaha bangun.

b) Kayang

Kayang adalah posisi kaki bertumpu dengan empat titik

dalam keadaanterbalikdengan meregang dan mengangkat perut dan

panggul. Nilai dari pada gerakan kayangyaitu dengan menempatkan

kaki lebih tinggi memberikan tekanan pada bahu dansedikit pada

pinggang. Manfaat dari gerakan kayang adalah untuk

meningkatkankelentukan bahu, bukan kelentukan pinggang.

Cara melakukan gerakan kayang sebagai berikut:

(1) Sikap permulaan berdiri, keduan tangan menumpu pada

(28)

commit to user

(4) Posisi badan melengkung bagai busur.

c) Sikap Lilin

Sikap lilin merupakan sikap tidur terlentang kemudian

kedua kaki diangkat keras diatas (rapat) bersama-sama, pinggang

ditopang kedua tangan dan pundak tetapmenempel pada lantai.

Dalam melakukan sikap lilin, kekuatan otot perut berfungsiuntuk

kedua tangan menopang pinggang.

Cara melakukan gerakan sikap lilin sebagai berikut:

(1) Tidur terlentang, kedua tangan di saping badan, pandangan

keatas.

(2) Angkat kedua kaki lurus ke atas dan rapat.

(3) Yang menjadi landasan adalah seluruh pundak dibantu

keduatangan menopang pada pinggang.

(4) Pertahankan sikap ini beberapa saat.

d) Guling Lenting

(1) Latihan rangkaian berakan berguling.

Cara melakukannya sebagai berikut:

(a) Sikap permulaan berbaring menelantang atau duduk

telumpar

(b) Mengguling ke belakang, tungkai keras, kaki dekat kepala,

lenganbengkok, tangan menumpu di samping kepala, ibu

jari dekat dengan telinga.

(c) Mengguling ke depan disertai dengan lecutan tungkai ke

atas depan, tanganmenolak badan melayang dan

(29)

commit to user

14

(d) Mendarat dengan kaki rapat, dorong panggul ke depan,

badan membusurdengan keras ke atas.

(2) Lenting kepala/dahi

Cara melakukannya sebagai berikut:

(a) Membungkuk bertumpu pada dahi dan membentuk segi

tiga samasisi, punggung tegak lurus, tungkai rapat dan

lurus, jari-jari kaki bertumpu dilantai.

(b) Mengguling ke belakang disertai lecutan tungkai serentak

tanganmenolak sekuat-kuat kepala pasif, badan melayang

dan membusur.

(c) Mendarat dengan kaki rapat, badan membusur lengan ke

atas.

e) Berguling Ke Depan Dilanjutkan Lenting Tengkuk/Kepala

Sebelum latihan rangkaian gerakan berguling ke depan

lenting tengkuk/kepala, akan dibahas dulu bagaimana melakukan

guling depan yang betul.

Cara melakukan gerakan guling depan sebagai berikut:

(1) Sikap permulaan jongkok tangan menumpu pada matras selebar

bahu.

(2) Luruskan kedua kaki, siku tangan di tekuk, kepala dilipat

sampai dagudengan menyentuh dada.

(3) Mengguling ke depan dengan mendaratkan kuduk terlebih

dahulu dankedua kaki dilipat rapat pada dada.

(4) Kedua tangan melepaskan tumpuan dari matras, pegang mata

kaki danberusaha bangun.

(5) Kembali berusaha jongkok.

f) Berdiri Tangan (Hands Stand)

(30)

commit to user

15

Cara melakukannya sebagai berikut:

(a) Sikap permulaan berdiri tegak, salah satu kaki sedikit ke

depan.

(b) Bungkukkan badan, tangan menumpu pada matras selebar

bahulengan keras, pandangan sedikit ke depan, pantat

didorong setinggi-tingginya,tungkai depan bengkok sedang

tungkai belakang lurus.

(c) Ayunkan tungkai belakang ke atas, kencangkan otot perut.

(d) Kedua tungkai rapat dan lurus merupakan satu garis

dengan badandan lengan, pandangan diantara tumpuan

tangan, badan dijulurkan ke atas.

(e) Perhatikan keseimbangan.

(2) Berdiri Tangan Dengan Sikap Kaki Dibuka

Cara melakukannya sebagai berikut:

(a) Sikap permulaan berdiri tegak, salah satu kaki sedikit ke

depan.

(b) Bungkukan badan, tangan menumpu pada matras selebar

bahulurus, pandangan sedikit lurus ke depan, pantat

didorong setinggi-tingginya,tungkai ke depan bengkok,

sedang tungkai belakang lurus.

(c) Ayunkan tungkai belakang ke atas, diikuti tungkai yang

lain.

(d) Kedua tungkai rapat dan lurus merupakan satu garis

denganlengan, setelah itu kaki di buka ke samping kiri dan

kanan, pertahankan sikapini beberapa saat, selanjutnya

kaki dirapat kembali lalu dibuka ke depan dan kebelakang

(31)

commit to user

16

g) Lenting Tangan (Hand Spring)

Gerakan lenting tangan bukanlah suatu hal yang mudah,

maka untuk dapat melakukangerakan tersebut perlu latihan secara

bertahap, yaitu :

(1) Latihan melecutkan kedua kaki dilanjutkan dengan sikap

kayang. Bentuk latihanini dilakukan dari sikap tidur telentang.

(2) Latihan melecutkan kedua kaki dilanjutkan dengan sikap

berdiri.

(3) Setelah menguasai latihan di atas, maka dilanjutkan dengan

gerakan lencutankedua kaki dari sikap handstand, kemudian

mendarat dengan kaki pada matras danlangsung berdiri.

(4) Latihan lenting tangan

(a) Dengan melakukan awalan beberapa langkah.

(b) Letakkan kedua telapak tangan di atas matras.

(c) Kemudian diikuti dengan lecutan kedua kaki ke atas depan.

(d) Lecutan tersebut dibantu dengan gerakan pinggul,

pinggang, dan tolakankedua tangan.

(e) Dan kedua kaki mendarat pada matras secara bersamaan

dan kembali padasikap berdiri kedua tangan lurus ke atas.

h) Gerakan Meroda (Radschlag)

Meroda adalah suatu gerakan ke samping dengan bertumpu

atas kedua tangan dan kakiterbuka lebar. Meroda dapat dilakukan

dengan gerakan ke kiri dan ke kanan. Gerakanini kelihatannya

mudah untuk dilakukan, tetapi gerakan ini memerlukan koordinasi

gerakan yang tinggi. Tanpa adanya koordinasi yang baik maka

gerakan ini sukardilakukan.

(32)

commit to user

17

(1) Mula-mula berdiri tegak menyamping, kedua kaki

dibukasedikit lebar, kedua tangan lurus ke depan atas serong ke

samping (serupa huruf v)dan pandangan ke depan.

(2) Kemudian jatuhkan badan ke samping kiri, letakkan

telapaktangan ke samping kiri, kemudian kaki kanan terangkat

lurus ke atas.disusuldengan meletakkan telapak tangan ke

kanan di samping tangan kiri.

(3) Saat kaki kanan diayunkan, maka kaki kiri ditolak pada

lantai,sehingga kedua kaki terbuka dan serong ke samping.

(4) Kemudian letakkan kaki kanan ke samping tangan

kanan,tangan kiri terangkat ke disusul dengan meletakkan Kaki

kiri disamping kakikanan.

(5) Badan terangkat, kedualengan lurus ke atas ke posisi semula.

i) Berguling Ke Belakang (Back Roll)

Guling ke belakang adalah menggulingkan badan ke

belakang dimana posisi badantetap harus membulat, yaitu kaki

dilipat, lutut tetap melekat di dada, kepaladitundukkan sampai dagu

melekat di dada.

Cara melakukannya:

(1) Sikap permulaan dalam posisi jongkok, kedua tangan didepan

dan kaki sedikit rapat.

(2) Kepala ditundikkan kemudian kaki menolak ke belakang.

(3) Pada saat panggul mengenai matras, kedua tangan segeradilipat

kesamping telinga dan telapak tangan menghadap ke bagian

atas untuk siapmenolak.

(4) Kaki segera diayunkan ke belakang melewati kepala, dengan

dibantu kedua tangan menolak kuat dan kedua kaki dilipat

sampai ujung kaki dapat mendarat di atas matras, ke sikap

(33)

commit to user

18

3. Hasil Belajar Siswa

Abdurrahman dalam Jihad dan Haris (2009: 14) mengemukakan hasil

belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui kegiatan

pembelajaran. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang

berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative

menetap.

Menurut Hamalik (2008: 54) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,

nilai-nilai, pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas. Sedangkan

menurut Juliah dalam Jihad dan Haris (2009: 15) hasil belajar adalah segala

sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai suatu akibat dari kegiatan belajar

mengajar yang dilakukannya.

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak di bidang kognitif

(penguasaan intelektual), bidang afektif (sikap), dan bidang psikomotor

(kemampuan atau keterampilan bertindak) setelah melalui proses kegiatan belajar

mengajar (Sudjana, 2009: 49).

Menurut Horward Kingsley dalam Sudjana (2005: 45) hasil belajar

terbagi dari tiga macam, yakni:

a. Keterampilan dan kebiasaan

b. Pengetahuan dan pengertian

c. Sikap dan cita-cita

Dari masing-masing golongan tersebut dapat diisi dengan bahan yang

ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Sedangkan Gagne mengemukakan lima

kategori tipe hasil belajar, yakni:

a. Informasi verbal (verbal Informatiaon)

b. Keterampilan intelektual (intelektual skill)

c. Strategi kognitif (cognitive strategy)

d. Sikap (attitude)

e. Keterampilan motoris (motor skill)

(34)

commit to user

19

Dalam sistem Pendidikan Nasional hasil belajar menggunakan

klasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloom yang secara garis besar

membaginya menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah

afektif (affective domain), dan ranah psikomotoris (psychomotor domain). Ranah

kognitif meliputi hasil belajar intelaktual yang terdiri dari enam aspek yaitu

pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ke enam

tingkatan ini bersifat hierarki, artinya yang satu lebih tinggi dari yang lainnya dan

urutannya harus benar atau tidak boleh menempatkan evaluasi sebelum sintesis

dan sintesis sebelum analisis, demikian seterusnya. Ranah afektif meliputi sikap

yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian,

organisasi, menghargai dan internalisasi. Ranah psikomotor berkaitan dengan

keterampilan atau kemampuan bertindak.

Dari uraian di atas maka bahwa hasil belajar pada hakikatnya adalah

hasil perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam

pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris. Jadi,

dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pencapaian bentuk perubahan

perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris

akibat proses kegiatan belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang

merupakan tindak lanjut sekaligus cara untuk mengukur tingkat penguasaan

siswa. Selain mengukur hasil belajar, penilaian dapat juga ditujukan kepada

proses pembelajaran, yaitu untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterlibatan

siswa dalam proses pembelajaran. Semakin baik proses pembelajaran dan

keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka seharusnya hasil

belajar yang diperoleh siswa akan semakin tinggi sesuai dengan tujuan yang telah

dirumuskan sebelumnya.

Oleh karena itu, kemajuan prestasi belajar siswa tidak hanya diukur dari

(35)

commit to user

20

demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di

sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Untuk mengetahui indikator hasil belajar terlebih dahulu harus

ditetapkan apa yang menjadi kriteria keberhasilan pengajaran, baru kemudian

ditetapkan alat untuk menaikkan keberhasilan belajar secara tepat. Mengingat

pengajaran merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah

dirumuskan, maka disini dapat ditentukan dua kriteria yang bersifat umum.

Menurut Sudjana dalam Jihad dan Haris (2009: 20) kedua kriteria tersebut

adalah:

a. Kriteria ditinjau dari sudut prosesnya

Kriteria dari sudut prosesnya menekankan kepada pengajaran

sebagai suatu proses yang merupakan interaksi dinamis sehingga siswa

sebagai subjek mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri.

Semakin baik proses pembelajaran dan keaktifan siswa dalam

mengikuti proses pembelajaran, maka seharusnya hasil belajar yang

diperoleh siswa akan semakin tinggi sesuai dengan tujuan yang telah

dirumuskan sebelumnya.

b. Kriteria ditinjau dari hasilnya

Di samping tinjauan dari segi proses, keberhasilan pengajaran dapat

dilihat dari segi hasil yang didapatkan oleh siswa setelah melalui

pengalaman belajarnya. Hasil pembelajaran dapat dilihat dari sejauhmana

tingkat kemampuan anak dalam memahami materi, disamping itu adanya

perubahan perilaku dan sikap siswa yang lebih baik.

B. Kerangka Berfikir

Proses pembelajaran Pedidikan Jasmani di SD Negeri 1 Krandegan,

(36)

commit to user

21

tergantung oleh beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain dari guru, lingkungan,

fasilitas dan metode mengajar. Dalam penelitian ini menggunakan media

pembelajaran bidang miring.

Media bidang miring dapat menjadi media pembelajaran yang memudahkan

siswa untuk melakukan gerakan khususnya roll depan dan sekaligus tidak

membahayakan.

Secara sederhana, kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan

sebagai berikut :

.

B.

Gambar 2.1 Alur Kerangka Berpikir Guru kurang kreatif dan

inoovatif dalam proses pembelajaran

pendidikan jasmani

a. Siswa kurang tertarik dan cepat bosan dengan pembelajaran pendidikan jasmani.

b. Tingkat kesegaran jasmani rendah.

Kondisi Akhir Melalui modifikasi media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar roll depan

Siklus II: Upaya perbaikan Siklus I sehingga meningkatkan hasil belajar roll depan siswa melalui modifikasi media pembelajaran. Kondisi awal

(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 22

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SD Negeri 1

Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara dengan

pertimbangan lebih dekat dan peneliti bertugas sehari-hari pada SD Negeri 1

Krandegan sebagai guru Penjasorkes.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 (dua) siklus 4 x pertemuan

dengan waktu pelaksanaan sebagai berikut :

Siklus I Pertemuan 1 : Sabtu, 19 Mei 2012

Pertemuan 2 : Sabtu, 26 Mei 2012

Siklus II Pertemuan 1 : Sabtu, 9 Juni 2012

Pertemuan 2 : Sabtu, 16 Juni 2012

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas

IVSD Negeri 1 Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tahun

pelajaran 2011/2012yang berjumlah 36anak, terdiri dari 12 anak laki-laki dan 24

anak perempuan.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa Kelas IV dan guru Penjasorkes

yang melaksanakan pembelajaran. Sedangkan teman sejawat bertugas sebagai

observer untuk mengamati proses pembelajaran. Data yang diperoleh dari siswa yaitu

data tentang hasil belajar siswa, yang meliputi aspek afektif (pengamatan sikap),

aspek kognitif (pemahaman konsep/pengetahuan siswa tentang roll depan), dan

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Sedangkan data dari guru adalah data tentang keterampilan guru dalam

melaksanakan pembelajaran melalui modifikasi media pembelajaran roll depan.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data diperoleh/dikumpulkan melalui tes dan observasi. Tes berupa evaluasi

akhir siklus meliputi penilaian sikap, pengetahuan, dan unjuk kerja roll depan.

Observasi meliputi pengamatan siswa, guru, sarana prasarana dan media/alat bantu

dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Setelah data terkumpul, selanjutnya

data-data tersebut diolah dengan menggunakan statistik sederhana. Sedangkan alat

pengumpulan data adalah lembar penilaian afektif, kognitif, dan psikomotorik (unjuk

kerja), serta lembar pengamatan kegiatan pembelajaran.

Teknik pengolahan data dilakukan dari hasil evaluasi dan hasil pengamatan

tersebut diperoleh nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata, dan ketuntasan belajar

sesuai dengan KKM. Kemudian dari pengolahan data tersebut dianalisis untuk

mengetahui keberhasilan individu maupun keberhasilan penelitian tindakan kelas.

E. Analisis Data

Setelah pengumpulan dan pengolahan data, langkah selanjutnya adalah

analisis data. Data yang telah diolah kemudian dianalisis dengan deskriptif

komparatif, yaitu dengan membandingkan hasil dengan indikator kinerja dan

membandingkan hasil antarsiklus.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan

kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian reflektif yang

dilaksanakan secara siklus (berdaur).Penelitian tindakan kelas terdiri atas rangkaian

empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang

ada pada setiap siklus yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan

(acting), melakukan pengamatan (observing), dan melakukan refleksi (reflecting).

(39)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar 3.1. Diagram Daur Penelitian Tindakan Kelas

Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian

ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan

ulang, pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi. Adapun daur untuk

masing-masing siklus adalah sebagai berikut:

Gambar 3.2. Bagan Alur Proses Perbaikan Pembelajaran

Pada tahap perencanaan disusun rancangan tindakan yang menjelaskan apa,

mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut akan

dilakukan. Peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian Perencanaan

Refleksi Pelaksanaan

Pengamatan

Pelaksanaan

Simpulan Permasalahan Perencanaan

Pelaksanaan

Pengamatan Refleksi SIKLUS I

Perencanaan

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

khusus untuk diamati, kemudian membuat instrumen pengamatan untuk merekam

fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Dalam tahap tindakan, rancangan

strategi dan skenario pembelajaran akan diterapkan. Untuk tahap pengamatan atau

observasi sebenarnya berjalan simultan dengan pelaksanaan tindakan, dengan kata

lain pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya

berlangsung dalam waktu yang sama. Kemudian berdasarkan data yang terkumpul

dilakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan untuk mengkaji secara

menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, setelah itu dilakukan evaluasi guna

menyempurnakan tindakan berikutnya.

1. Tahap Perencanaan

Rencana yang disusun untuk penelitian ini diawali dengan kegiatan

studi awal, refleksi awal, mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang

timbul, menarik kesimpulan dan mempersiapkan skenario pembelajaran dan

instrumen-instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang akan digunakan

dalam penelitian antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar

evaluasi kognitif, lembar penilaian afektif (sikap), lembar penilaian

psikomotorik (unjuk kerja), dan lembar observasi siswa, guru, dan pelaksanaan

pembelajaran.

Dalam tahap perencanaan ini juga peneliti berkoordinasi dengan teman

sejawat yang menjadi observer dalam menentukan waktu pelaksanaan, dan

menyusun skenario pembelajaran.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

a. Rancangan Siklus I

Siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dan tiap pertemuan

dilakukan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Dalam tiap pertemuan

pembelajaran dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu kegiatan awal berupa

pendahuluan dengan menyiapkan dan mengkondisikan siswa, memberikan

motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran, selanjutnya melakukan

(41)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

permainan menjalankan perintah, dan lain-lain yang sesuai dan berorientasi

pada kegiatan roll depan.

Rancangan pelaksanaan kegiatan inti pada pertemuan pertama dan

kedua hampir sama, yakni: guru menjelaskan materi pembelajaran yang akan

dilakukan, dan mempraktikkan teknik-teknik dasar gerakan roll depan yang

benar mulai dari sikap awal, gerakan tumpuan, gerakan mengangkat pinggul,

gerakan memasukkan kepala di antara dua tangan hingga menempel dada,

menolakkan kaki sampai tubuh berguling, gerakan akhir kembali ke sikap

awal dengan menggunakan modifikasi alat bantu spon pengganjal matras agar

menjadi bidang miring dan kandi untuk awalan. Selanjutnya dilakukan

evaluasi dalam tiga aspek, afektif, kognitif, dan psikomotor dengan lembar

penilaian yang telah disiapkan.

Dalam kegiatan akhir, siswa dibariskan untuk mendengarkan

penjelasan dari guru tentang kesalahan-kesalahan gerakan yang dilakukan

oleh siswa, dan guru memberikan pujian pada siswa. Pendinginan dilakukan

dengan bernyanyi, misalnya: Naik Kereta Api. Setelah pendinginan selesai,

guru mengecek kelengkapan siswa, menutup pembelajaran dan membubarkan

barisan.

b. Rancangan Siklus II

Siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dengan alokasi

waktu 2 x 35 menit.Pelaksanaan pembelajaran tiap pertemuan sama dengan

siklus I terdiri dari kegiatan awal (pendahuluan dan pemanasan), kegiatan

inti, dan penutup (pendinginan). Dalam pelaksanaan siklus II mengacu pada

refleksi atas pembelajaran siklus I sehingga rencana pembelajarannya

diperbaiki dari kelebihan dan kekurangannya pada siklus I. Begitu juga

modifikasi alat bantu pembelajarannya lebih divariasi lagi dengan model yang

berbeda dari siklus I.

3. Tahap Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh teman sejawat sebagai observer. Observer

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

mencatat hal-hal yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan

pengamatan menggunakan lembar observasi/lembar pengamatan yang telah

disiapkan.

4. Tahap Refleksi

Refleksi dilakukan dengan diskusi antara guru dan observer. Dari hasil

analisis hasil evaluasi dan pengamatan kemudian disimpulkan untuk acuan bagi

rencana tindakan selanjutnya. Bila tindakan pada siklus II telah memenuhi

indikator kinerja yang ditetapkan dan telah tercapai keberhasilan perbaikan

pembelajaran, maka penelitian tindakan kelas berakhir pada siklus II.

G. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan ditentukan jika 80% dari jumlah siswa telah tuntas

(43)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 28

A. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)

Hasil pembelajaran pada pra siklus penelitian diukur dari observasi dan tes

unjuk kerja roll depan. Observasi dan tes unjuk kerja digunakan untuk mengetahui

dan mengukur seberapa besar kemampuan siswa dalam melakukan roll depan

sebelum diberikan tindakan berupa penerapan pendekatan modifikasi media

pembelajaran.

Di bawah ini merupakan hasil observasi pada indikator sebelum diberi

tindakan berupa penerapan pendekatan modifikasi media pembelajaran dalam

kegiatan belajar mengajar (pra siklus), dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1 Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)

Aspek yang

Dari tabel 4.1 tersebut diketahui hanya ada 17 siswa dari 36 siswa yang sudah

mampu melakukan roll depan dengan baik atau memperoleh nilai 65 ke atas.

Hasil belajar siswa diketahui ketuntasannya hanya 47% (17 siswa) sedangkan 53%

(19 siswa) belum tuntas, dengan perolehan nilai tertinggi 72, nilai terendah 58, dan

nilai rata-rata kelas 65. Hasil ketuntasan belajar pada pra siklus juga dapat

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar pada Pra Siklus

Dari kondisi pra siklus menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

melakukan roll depan masih rendah. Untuk itu dilakukan upaya perbaikan

pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai secara

maksimal. Peneliti menerapkan modifikasi media pembelajaran dalam dua siklus

penelitian dengan rincian hasil penelitian akan dijelaskan di bawah ini.

B. Hasil Penelitian

1. Hasil Penelitian Siklus I

a. Pertemuan 1

1) Tahap Perencanaan Tindakan (Planning)

Berdasarkan identifikasi masalah pada pra siklus, peneliti

dengan dibantu observer melakukan perencanaan tindakan sebagai

berikut:

a) Membuat rencana pembelajaran dengan mengacu pada tindakan yang

diterapkan pada PTK, yaitu pendekatan modifikasi media

pembelajaran roll depan.

b) Menyiapkan media yang diperlukan untuk membantu pengajaran.

c) Menyusun lembar latihan evaluasi pertemuan 1.

d) Menyusun lembar pengamatan pembelajaran.

2) Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Peneliti melaksanakan pembelajaran pada pertemuan 1 sesuai

dengan RPP yang telah dibuat, dengan hasil kegiatan sebagai berikut:

(45)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti

pembelajaran. Setelah berbaris rapi dan tertib, kemudian berdoa

memulai kegiatan, lalu guru mengecek kehadiran siswa dengan

absensi. Selanjutnya siswa melaksanakan pemanasan dalam bentuk

streching dan permainan “Lempar Bola”.

b) Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti guru memberikan penjelasan tentang

materi roll depan secara singkat dan memperagakan gerakan yang

akan dilakukan. Siswa melakukan gerak jasmani yang mengarah pada

gerakan berguling atau roll depan, setiap kelompok terdiri dari lima

anak, masing-masing berdiri di tepi matras melakukan gerakan

membungkukkan badan dengan kepala di belakang alat bantu

(kardus). Setelah itu siswa melakukan gerakan meletakkan kedua

tangan pada matras dekat kedua kaki dengan posisi badan

membungkuk/membusur dilakukan secara bergantian pada setiap

kelompok yang terdiri dari lima anak. Latihan ini dilakukan

berulang-ulang sampai siswa benar-benar memahami koordinasi sikap badan

saat melakukan roll depan dengan benar. Setelah itu dilakukan latihan

evaluasi afektif, kognitif, dan psikomotorik dengan unjuk kerja roll

depan pada matras secara individu untuk mengetahui hasil

pembelajaran pertemuan pertama.

c) Kegiatan Penutup

Siswa dibariskan menjadi empat bersap untuk bersama-sama

membuat kesimpulan tentang guling atau roll depan yang telah

dilakukan. Setelah itu guru melakukan penilaian atau refleksi guling

atau roll depan yang telah dilakukan secara terprogram serta memberi

umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran kemudian

merencanakan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi atau

memberikan tugas secara kelompok maupun individual. Setelah

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user gerakannya.

3) Tahap Pengamatan Tindakan (Observing)

Bersamaan dengan pembelajaran berlangsung, observer

melakukan tugasnya mengamati kegiatan pembelajaran secara

keseluruhan, meliputi aktivitas siswa, keterampilan guru melaksanakan

pembelajaran, dan penggunaan media serta sarana-prasarana

pembelajaran. Hasil pengamatan dapat disimpulkan sebagai berikut:

a) Saat memulai pembelajaran, siswa terlihat tertib berbaris dengan rapi

dan siap mengikuti kegiatan selanjutnya dengan semangat.

b) Dalam pemanasan, siswa sudah tampak antusias karen permainan ini

menyenangkan bagi siswa.

c) Dalam melakukan latihan teknik dasar roll depan, siswa tampak

semangat meskipun terlihat gerakan yang dilakukan masih kaku.

d) Guru tampak membimbing siswa yang membutuhkan tetapi kurang

memberi peringatan pada siswa yang tidak serius.

e) Ruangan yang digunakan untuk roll depan masih kurang memadai,

karena dilakukan di teras kelas, belum ada ruangan tersendiri.

f) Media dan alat bantu yang digunakan juga masih kurang memenuhi

untuk jumlah siswa.

4) Tahap Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replanning)

Dari refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan observer,

ditemukan kegagalan dan keberhasilan pada siklus I pertemuan 1, dan

upaya perbaikan untuk pertemuan selanjutnya, sebagai berikut:

a) Keberhasilan guru/siswa

Pendekatan modifikasi media pembelajaran yang digunakan

dapat mempermudah siswa melakukan gerakan-gerakan teknik dasar

roll depan dan keberanian anak melakukan roll depan meningkat.

b) Kendala yang dihadapi guru/siswa

Siswa masih belum menunjukkan kesungguhan dalam

(47)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user pembelajaran.

c) Rencana Perbaikan

Berdasarkan pengamatan dan kendala-kendala dalam

pembelajaran, maka perlu adanya perbaikan-perbaikan pada

pertemuan berikutnya, antara lain:

(1) Peneliti harus lebih memperhatikan siswa karena masih ada siswa

tidak serius dalam mengikuti pembelajaran.

(2) Media pembelajaran perlu dibuat lebih variatif agar siswa

termotivasi dan berani melakukan roll depan.

(3) Agar siswa tidak salah dalam melakukan gerakan-gerakan teknik

dasar roll depan, maka peneliti perlu memberikan contoh gerakan

dan penjelasan pada siswa.

(4) Peneliti perlu mengoptimalkan penggunaan media dan

mengkondisikan lapangan agar lebih memadai untuk roll depan.

b. Pertemuan ke-2

1) Tahap Perencanaan Tindakan (Planning)

Berdasarkan hasil refleksi pada pertemuan ke-1, maka peneliti dan

observer melakukan perencanaan tindakan sebagai berikut:

a) Membuat RPP dengan mengacu pada pertemuan ke-1.

b) Menyiapkan media dan alat bantu pembelajaran.

c) Menyiapkan lembar evaluasi akhir siklus I.

d) Menyiapkan lembar pengamatan pembelajaran.

2) Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Peneliti melaksanakan pembelajaran dengan mengacu pada RPP yang

telah direncanakan, dengan hasil kegiatan sebagai berikut:

a) Kegiatan Pendahuluan

Siswa dibariskan untuk berdoa bersama, absensi, dan

melaksanakan pemanasan, yaitu stratching yang menitikberatkan pada

otot-otot yang berhubungan dengan materi roll depan, dilanjutkan

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh gerakan

yang harus siswa lakukan untuk latihan inti. Siswa melakukan gerakan

berguling atau roll depan dengan memasukkan dagu ke dada kemudian

menempatkan tengkuk pada matras, dilakukan secara berpasangan satu

anak berdiri di belakang memegang botol plastik yang dapat dilihat,

secara perlahan bola tersebut dinaikan keatas sampai batas pandangan

atau membungkuk semaksimal mungkin yang mengarah ke guling depan.

Siswa melakukan guling atau roll depan dengan posisi jatuh lurus baik

dan benar, mendarat dengan sikap jongkok kemudian diakhiri berdiri

tegak. Latihan ini dilakukan secara bergantian dan berulang-ulang.

Selesai latihan gerakan-gerakan tersebut, siswa melaksanakan evaluasi

akhir siklus I secara individu meliputi penilaian afektif, kognitif, dan

psikomotorik.

c) Kegiatan Penutup

Pada kegiatan penutup siswa dikumpulkan berbaris dua bersap

sambil duduk memperhatikan guru mengoreksi gerakan-gerakan yang

masih salah dan memberi apresiasi kepada semua siswa. Setelah

mengecek siswa, dilakukan pendinginan.

Dari pelaksanaan evalusi siklus I diperoleh hasil/prestasi siswa

dalam pembelajaran roll depan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2 Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus I

(49)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

dibandingkan dengan hasil belajar pada pra siklus, semua siswa mengalami

kenaikan pada perolehan nilainya. Hasil penelitian siklus I menunjukkan 25

anak (69%) tuntas belajar dan 11 anak (31%) belum tuntas belajar, dengan

perolehan nilai tertinggi 76, nilai terendah 60 dan nilai rata-rata kelas 67.

Dari data pada tabel 4.2 dapat digambarkan dalam bentuk grafik

batang sebagai berikut:

Gambar 4.2 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I

3) Tahap Pengamatan Tindakan (Observing)

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer terhadap

pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan, dapat disimpulkan sebagai

berikut:

a) Siswa sudah tampak semangat saat memulai pembelajaran dan melakukan

pemanasan dengan antusias.

b) Siswa terlihat serius dalam mengikuti pembelajaran dengan bimbingan

guru dalam melakukan gerakan.

c) Peneliti terlihat aktif membimbing siswa yang belum bisa melakukan

gerakan dengan baik.

d) Penggunaan media dan sarana prasarana masih belum optimal, karena

terbatasnya media dan sarana yang ada.

4) Tahap Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replanning)

Adapun keberhasilan dan kendala-kendala yang dihadapi pada siklus I

pertemuan ke-2 ini, sebagai berikut:

Figur

Gambar
Gambar . View in document p.13
Tabel
Tabel . View in document p.14
Gambar 2.1 Alur Kerangka Berpikir
Gambar 2 1 Alur Kerangka Berpikir . View in document p.36
Gambar 3.1. Diagram Daur Penelitian Tindakan Kelas
Gambar 3 1 Diagram Daur Penelitian Tindakan Kelas . View in document p.39
Gambar 3.2. Bagan Alur Proses Perbaikan Pembelajaran
Gambar 3 2 Bagan Alur Proses Perbaikan Pembelajaran . View in document p.39
Tabel 4.1  Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)
Tabel 4 1 Deskripsi Kondisi Awal Pra Siklus . View in document p.43
Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar pada Pra Siklus
Gambar 4 1 Grafik Ketuntasan Belajar pada Pra Siklus . View in document p.44
Tabel 4.2  Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus I
Tabel 4 2 Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus I . View in document p.48
Gambar 4.2 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I
Gambar 4 2 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I . View in document p.49
Tabel 4.3  Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus II
Tabel 4 3 Hasil Belajar Roll Depan pada Siklus II . View in document p.54
Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus II
Gambar 4 3 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus II . View in document p.54
Tabel 4.4 Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari  Studi Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
Tabel 4 4 Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari Studi Pra Siklus Siklus I dan Siklus II . View in document p.56
Gambar 4.4 Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar dari
Gambar 4 4 Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar dari . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...