Kontribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria di Desa Temunih Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan Contribution of forest worker to malaria incident in Temunih Villages of Kusan Hulu Subdistrict, Tanah Bumbu District

Teks penuh

(1)

JHECDs, 2 (2), 2016, hal. 42-51

42

Penelitian

Kontribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria di Desa

Temunih Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi

Kalimantan Selatan

Contribution of forest worker to malaria incident in Temunih

Villages of Kusan Hulu Subdistrict, Tanah Bumbu District - South

Kalimantan

Nita Rahayu*, Syarif Hidayat, Sri Sulasmi, Yuniarti Suryatinah

Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kementerian Kesehatan RI

Kawasan Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan *Korespondensi: nita.rahayu79@yaho.co.id

DOI: 10.22435/jhecds.v2i2.5708.42-51

Tanggal masuk 13 November 2016, Revisi pertama 01 Februari 2016, Revisi terakhir 01 Februari 2016, Diterima 07 Februari 2017, Terbit daring 23 Maret 2017

Abstract. Malaria remain as health problem in Indonesia and therefore sustainable prevention program from Tanah Bumbu Government was still undergoing in Kusan Hulu subdistrict (Temunih village) which are remote and malaria endemic area. People in those village are Dayak and Banjar. This research aimed to identify the contribution of forest worker to malaria incident and correlation between KAP (knowledge, attitude, and practice) of the village’s people to malaria. This was an analitic research done using cross sectional design. Our respondents were 107 local people ranged from 0 to 100 years old. Result from interview suggested that knowledge was related to malaria incident, less educated respondentswere 0,1 times higher risk to be infected by malaria compared to good educated respondent. Neither good attitude nor good practice can pledge the people to be avoided from malaria. Infection of malaria in Temunih village caused by environment condition such as unused mine hole and house construction which allow mosquitoes entering the house. Forest worker were 0,9 times higher risk for malaria infection compared to those who were not working in the forest. Forest worker were contributed to 14% of malaria incident in the sampling area, while those who are not were contributed as much as 3,7%. We suggested local health official to increase malaria surveilance and for the people in endemic area should use impregnated bed-net, repellant and consume prophylaxis drug. Additionally, adjusting house contruction can also help to minimize mosquito bite.

Keywords: contribution, knowledge, attitude, practice, malaria

Abstrak. Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan upaya pencegahan masih terus diupayakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Tanah Bumbu antara lain di Kecamatan Kusan Hulu Desa Temunih yang merupakan daerah terpencil dan endemis malaria. Masyarakat desa tersebut adalah suku Dayak dan Banjar. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konstribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria dan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kejadian malaria di Desa Temunih terhadap malaria. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain cross sectional. Sampel yang diambil adalah 107 responden yang bersedia ikut serta tanpa paksaan. Hasil wawancara terhadap seluruh responden didapatkan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap kejadian malaria, responden dengan pengetahuan yang kurang memiliki risiko 0,1 kali terkena malaria dibanding dengan responden yang berpengetahuan baik. Sikap dan perilaku yang baik tidak menjamin seseorang untuk terhindar dari malaria. Penularan malaria di Desa Temunih dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan berupa bekas galian tambang dan konstruksi rumah yang memungkinkan nyamuk masuk ke dalam rumah. Pekerja hutan mempunyai risiko untuk terkena malaria sebesar 0,9 kali dibandingkan dengan bukan pekerja hutan. Pekerja hutan berkonstribusi terhadap kejadian malaria sebesar 14%, sedangkan bukan pekerja hutan ikut berkonstribusi sebesar 3,7% di Desa Temunih wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Disarankan kepada dinas kesehatan setempat untuk meningkatkan surveilans malaria dan bagi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria hendaknya memakai kelambu berinsektisida pada saat tidur malam hari, memakai repellant dan mengkonsumsi obat propilaksis, serta memperbaiki kontruksi tempat tinggal guna meminimalisir penularan gigitan nyamuk.

Kata kunci: Konstribusi, Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Malaria

DOI : 10.22435/jhecds.v2i2.5708.42-51

Cara sitasi : RahayuN, HidayatS, SulasmiS, Suryatinah Y. Kontribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria di Desa Temunih Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. J.Health.Epidemiol. Commun.Dis. 2016;2(2): 42-51.

(2)

43

Pendahuluan

Malaria adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Malaria menjadi salah satu penyakit utama yang mengancam kesehatan masyarakat, dengan jumlah kasus akut di seluruh dunia lebih dari 300 juta penderita dan menyebabkan kematian lebih dari satu juta jiwa setiap tahun. Milyaran dolar habis setiap tahun akibat produktivitas yang rendah karena malaria. Penyakit ini menghabiskan biaya sekitar 40% dari anggaran belanja kesehatan masyarakat. Malaria mudah menyebar pada sejumlah penduduk, terutama yang bertempat tinggal di daerah persawahan, perkebunan, hutan maupun pantai.

Kabupaten Tanah Bumbu merupakan salah satu wilayah endemis malaria di Kalimantan Selatan dengan API (Annual Parasite Incident) yang masih cukup tinggi 13‰ (tahun 2012), 5,9‰ (tahun 2013), dan 6,8‰ (tahun 2014). Kasus malaria tersebar pada beberapa wilayah kecamatan antara lain Kecamatan Kusan Hulu.2 Pada tahun 2013, Kecamatan Kusan Hulu menjadi salah satu kantung malaria dengan angka kejadian malaria yang tinggi, terutama Desa Temunih dengan nilai API 26‰. Masyarakat Desa Temunih mayoritas adalah penduduk asli yaitu suku Dayak dan Banjar.

Desa Temunih merupakan desa yang terletak di daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 300m dpl. Sebagian besar masyarakatnya beraktivitas di hutan dan menggantungkan ekonomi dari hasil hutan sehingga sangat berisiko terkena gigitan vektor malaria. Survei Entomologi oleh Tim Peneliti Balai litbang P2B2 Tanah Bumbu Tahun 2014 didapatkan tempat perindukan nyamuk vektor malaria. Konstruksi bangunan rumah di Desa Temunih memungkinkan terjadinya kasus malaria. Masyarakat juga tidak dapat menghindari kebiasaan keluar malam dan tinggal di daerah hutan, sehingga risiko terkena malaria akan selalu ada. Potensi penularan setempat diperlihatkan dengan besarnya jumlah responden perempuan yang terkena malaria dibandingkan dengan responden laki-laki. Hal ini berkaitan dengan terjadinya kasus malaria di Desa Temunih dilihat dari karakteristik lingkungan fisik yang merupakan penularan setempat (indigenous), karena di lokasi tersebut terdapat kasus malaria pada bayi berumur 11 bulan dan balita berumur 18 bulan serta ibu hamil tri-mester 1 di lokasi/camp RT 1.

Keberhasilan pengendalian malaria dipengaruhi oleh ketepatan tindakan pengendalian yang dilakukan dan ketepatan sasaran yang dituju. Dengan perkataan lain, prioritas pengendalian malaria harus disesuaikan dengan besar tidaknya pengaruh suatu faktor risiko. Salah satu faktor risiko yang berperan dalam kasus malaria adalah faktor penderita, baik penderita sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Faktor risiko tersebut bisa berbeda antar individu, antar kelompok masyarakat dalam suatu daerah maupun antar daerah. Sehingga pada penelitian ini akan dibahas aspek masyarakat khususnya pengetahuan, sikap dan perilaku sebagai pelengkap faktor-faktor yang memicu kejadian malaria di Desa Temunih.

Pengetahuan adalah pemahaman intelektual dengan fakta, kebenaran, dan prinsip yang diperoleh melalui penglihatan, pengalaman seseorang terkait dengan malaria. Menumbuhkan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian malaria perlu memperhatikan keadaan dan karakteristik yang ada pada masyarakat yang bersangkutan. Ada beberapa hal yang kurang memberikan dukungan terhadap keberhasilan program pengendalian malaria antara lain karena persepsi yang keliru, yaitu bahwa malaria adalah penyakit yang biasa sehingga kalau anggota keluarga atau anggota masyarakat menderita malaria tidak segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat, dan masih percaya kepada takhayul.1

(3)

44 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui konstribusi pekerja hutan terhadap kejadian malaria dan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kejadian malaria di Desa Temunih di wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan desain potong lintang (cross sectional). Data penelitian diambil pada bulan Agustus-Oktober tahun 2014. Populasi target adalah seluruh masyarakat yang ada di daerah endemis malaria di wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu. Sampel penelitian adalah masyarakat di Desa Temunih yang memiliki data lengkap yaitu berhasil diwawancarai dan bersedia diambil darahnya untuk diperiksa parasit malaria. Kriteria inklusi adalah masyarakat dengan diagnosis malaria tanpa komplikasi, berumur 0-100 tahun, bersedia berpartisipasi tanpa dipaksa. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Pengetahuan, sikap dan perilaku responden tentang malaria, sedangkan variabel terikat adalah kejadian malaria. Metode analisis data menggunakan analisis univariat yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat. Besar sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan rumus:3

𝑛 =𝑍21−∝/2𝑃(1 − 𝑃)𝑑2 dimana:

n : besar sampel Z : galat baku

P : proporsi populasi yang diduga

 : tingkat kesalahan d : deviasi

Tingkat kepercayaan yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 95% sehingga α = 0,05 dan Z bernilai 1,96, sedangkan P karena tidak diketahui proporsi sesungguhnya maka dipilih sebesar 0,5 yang akan selalu memberikan observasi yang cukup. Presisi (d) dalam rencana penelitian ini ditentukan sebesar 10%. Berdasarkan rumus di atas didapatkan besar sampel minimal adalah 97 orang. Sedangkan untuk penelitian ini responden yang bersedia terlibat sebanyak 107 responden.

Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan metode wawancara terstruktur tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap malaria. Pengolahan data hasil wawancara kuesioner dari lapangan harus dilakukan editing dan coding, untuk jawaban kuesioner kode tingkat pengetahuan adalah benar = 2, dan pengetahuan salah = 1, kode perilaku juga sama dengan tingkat pengetahuan, perilaku baik = 2, perilaku kurang baik = 1, selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan distribusi menggunakan persentasi tingkat pengetahuan dan perilaku, menggunakan rumus P= F/n x 100%, selanjutnya dimasukkan kedalam kriteria objektif yaitu: pengetahuan dan perilaku baik apabila 56-100% dari semua jawaban dengan benar, dan pengetahuan dan perilaku kurang baik jika < 56% semua jawaban dengan benar, sehingga pengkodean untuk tingkat pengetahuan dan perilaku kurang baik = 1, tingkat pengetahuan dan perilaku baik = 2, sedangkan untuk kode sikap, menentukan skor sikap ditentukan dengan menghitung mean (nilai rata-rata) yaitu cara interpretasinya adalah apabila jawaban respoden lebih besar atau sama dengan nilai rata-rata jawaban, maka sikap responden dinyatakan mendukung. Sikap dinyatakan tidak mendukung apabila jawaban responden kurang dari nilai rata-rata jawaban. Kemudian data dientri dengan menggunakan program statistik. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggambarkan distribusi tiap variabel melalui tabel. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.2 Uji Chi-square dengan derajat kepercayaan 95%. Bila p value < 0,05 berarti hasil perhitungan statistik bermakna (signifikan), dan bila nilai p > 0,05 berarti hasil perhitungan statistik tidak bermakna.

Penelitian ini sudah disetujui oleh Komisi Etik Badan Litbangkes RI, dengan Surat No. LB.02.01/5.2/KE.394/2014.

Hasil

(4)

45 Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Sosio Demografi

Karakteristik

Jumlah sampel

(n)

(%)

Jenis kelamin

Laki-laki 53 49,5

Perempuan 54 50,5

Umur responden

0 – 10 2 1,9

11-20 38 35,5

21-30 28 26,2

31-40 23 21,5

41-50 9 8,4

≥ 51 7 6,5

Agama

Islam 55 51,4

Kaharingan 52 48,6

Pekerjaan responden

Pekerja hutana 83 77,6

Bukan pekerja hutanb 24 22,4

Lama tinggal

1-25 tahun 85 79,4

26-50 tahun 18 16,8

51-75 tahun 2 1,9

76-100 tahun 2 1,9

a pencari kayu, berkebun, penambang emas, penambang

batubara, pencari kayu dan emas, petani karet

b swasta/dagang dan tidak bekerja

Sebagian besar responden menyatakan pernah mendengar tentang malaria (responden setempat lebih mengenal dengan istilah wisa), namun tidak ada satupun yang tahu bahwa malaria disebabkan oleh parasit. Mereka tidak mengetahui bahaya malaria sebesar 58,9%, namun tahu bahwa malaria dapat menyebabkan kematian. Mereka beranggapan bahwa malaria penyakit dari hutan (alam) sehingga siapapun dapat terkena malaria. Sebanyak 60,7% menyatakan tidak tahu bahwa malaria dapat menular. Hasil lebih lengkap dapat dilihat dalam Tabel 2.

Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria dapat dikatakan kurang. Walaupun persentase masyarakat yang pernah mendengar tentang malaria cukup tinggi sebanyak 78,5% tetapi tidak satupun responden tahu bahwa malaria disebabkan oleh parasit.

Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Malaria

Karakteristik

Jumlah Sampel

(n)

(%)

Mendengar tentang malaria

Pernah 84 78,5

Tidak pernah 23 21,5

Penyebab malaria

Tidak tahu 101 94,4

Cacing 5 4,7

Virus 1 0,9

Guna-guna - -

Malaria menyerang pada

Anak-anak 39 36,4

Orang dewasa 12 11,2

Orang lansia 5 4,7

Semua umur 51 47,7

Mengetahui gejala penyakit malaria

Ya 45 42,1

Tidak 62 57,9

Mengetahui gejala malaria

Demam berkeringat 49 45,8

Muntah 1 0,9

Tidak tahu 57 53,3

Bahaya malaria

Kematian 44 41,1

Tidak tahu 63 58,9

Penularan malaria

Tahu 42 39,3

Tidak tahu 65 60,7

Cara seorang tertular malaria

Gigitan nyamuk 12 11,2

(5)

46

Karakteristik

Jumlah Sampel

(n)

(%)

Bersentuhan dengan penderita 6 5,6

Tidak tahu 65 60,7

Proses penularan penyakit malaria

Nyamuk menggigit orang sehat menjadi sakit 34 31,8 Nyamuk menggigit orang sakit, menggigit orang

sehat, orang sehat menjadi sakit

5 4,7

Tidak tahu 68 63,6

Nyamuk yg menularkan malaria

Hanya nyamuk tertentu 2 1,9

Semua jenis nyamuk 38 35,5

Tidak tahu 67 62,6

Bagaimana mengetahui seseorang terkena malaria

Pemeriksaan darah 39 36,4

Pemeriksaan mata dan lidah 1 0,9

Lainnya 2 1,9

Tidak tahu 65 60,7

Cara mencegah tertular

Memakai kelambu 58 54,2

Tidak tahu 49 45,8

Cara mencegah malaria

Orang yg mengalami gejala penyakit segera periksa ke Puskesmas

42 39,3

Menghindari gigitan nyamuk 6 5,6

Segera melapor ke Puskesmas 3 2,8

Tidak tahu 56 52,3

Siapa bertanggung jawab usaha pemberantasan malaria

Pemerintah 57 53,3

Petugas Puskesmas 1 0,9

LSM 1 0,9

Kepala desa 4 3,7

Tidak tahu 44 41,1

Kebutuhan masyarakat dalam pencegahan malaria

Penyuluhan 48 44,9

Pemberian obat 22 20,6

Pemeriksaan darah 1 0,9

Lainnya 1 0,9

Tidak tahu 35 32,7

Sikap masyarakat terhadap penyakit malaria sudah baik ditandai dengan tingginya persentase masyarakat yang setuju untuk melakukan upaya-upaya pencegahan penularan malaria. Masyarakat setuju malaria adalah penyakit yang berbahaya sejumlah sebesar 89,7%. Mereka setuju untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk sebesar

(6)

47

Tabel 3. Sikap Responden terhadap Malaria

Karakteristik

Jumlah Sampel

(n)

(%)

Penyakit malaria berbahaya

Setuju 96 89,7

Tidak setuju 11 10,3

Menghindarkan diri dari gigitan nyamuk untuk mencegah malaria

Setuju 87 81,3

Tidak setuju 20 18,7

Memakan obat untuk mencegah malaria walaupun tidak sakit

Setuju 91 85

Tidak setuju 16 15

Penderita malaria diambil darah untuk diperiksa

Setuju 93 86,9

Tidak setuju 14 13,1

Bersedia diambil darahnya walaupun tidak sakit

Setuju 97 90,7

Tidak setuju 10 9,3

Anggota keluarga ikut merawat penderita

Setuju 97 90,7

Tidak setuju 10 9,3

Penyakit malaria dapat diberantas

Setuju 97 90,7

Tidak setuju 10 9,3

Hasil wawancara tentang perilaku masyarakat terhadap malaria diketahui bahwa sebagian besar (88,8%) masyarakat tidak pernah mendapatkan penyuluhan tentang malaria yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Namun perilaku masyarakat dalam hal pencegahan malaria sudah dikatakan baik. Hal ini terbukti dengan tingginya angka yang menggunakan kelambu pada saat tidur di rumah sebanyak 91,8%, namun tidak ketika mereka di

hutan. Kebiasaan keluar malam juga masih tinggi, sebesar 83,2% dengan alasan mengobrol. Sebagian besar responden menyatakan tidak pernah minum obat pencegah malaria, namun mereka mempersiapkan obat malaria dengan membeli obat di warung, obat yang sering mereka konsumsi adalah antara lain antalgin, suldok, bodrex. Pertanyaan secara rinci dapat dilihat dalam Tabel 4.

Tabel 4. Perilaku Responden terhadap Malaria

Karakteristik

Jumlah Sampel

(n)

(%)

Penyuluhan tentang malaria

Pernah 9 8,4

Tidak pernah 95 88,8

Tidak tahu 3 2,8

Apa yang dilakukan bila mengalami demam

Diobati sendiri 87 81,3

Lapor ke puskesmas 12 11,2

Ke dukun 6 5,6

Dibiarkan sembuh sendiri 2 1,9

Bila diobati sendiri apa jenis obat yang dipakai

Ramuan tradisional 18 16,8

Jamu 7 6,5

Lainnya (tablet, kapsul, pil) 82 76,6

Dari mana obat diperoleh

Warung 103 96,3

Toko obat 4 3,7

Sering keluar malam

Ya 27 25,2

Kadang-kadang 70 65,4

Pernah 9 8,4

Tidak pernah 1 0,9

Kegiatan yang dilakukan bila keluar malam

(7)

48

Karakteristik

Jumlah Sampel

(n)

(%)

Menjaga kebun 11 10,3

Ronda 5 4,7

Buang air besar/kecil 2 1,9

Yang dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk

Memakai kelambu 100 93,5

Memakai obat nyamuk 7 6,5

Pernah diambil darah untuk malaria

Pernah 96 89,7

Tidak pernah 11 10,3

Bersedia diambil darahnya bila dikatakan mengalami malaria

Ya 102 95,3

Tidak 5 4,7

Bersedia diambil darah untuk diperiksa walaupun belum menujukkan gejala malaria

Ya 106 99,1

Tidak 1 0,9

Pernah minum obat pencegah malaria

Pernah 17 15,1

Tidak pernah 90 84,1

Berdasarkan Tabel 5, variabel pengetahuan berhubungan dengan kejadian malaria (p < 0,05), sedangkan untuk kategori sikap dan perilaku didapatkan nilai p > 0,05 yang berarti secara statistik variabel sikap dan perilaku berhubungan dengan kejadian malaria.

Berdasarkan Tabel 6, variabel pekerjaan dengan kategori pekerja hutan didapatkan nilai p > 0,05 sehingga secara statistik variabel pekerjaan tidak ada hubungannya dengan kejadian malaria. Namun

berdasarkan besar risiko para pekerja hutan mempunyai risiko untuk terkena malaria sebesar 0,9 kali dibandingkan dengan bukan pekerja hutan, dan pekerja hutan ikut berkonstribusi sebesar 14%, sedangkan bukan pekerja hutan berkonstribusi sebesar 3,7% terhadap kejadian malaria di Desa Temunih wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.

Tabel 5. Hubungan dan Besar Risiko Variabel Independen Terhadap Kejadian Malaria

Kategori Kejadian Malaria (n) P OR Cl 95%

Negatif Positif

Pengetahuan

Kurang Baik 53 (49,5) 17 (15,9)

0,015 0,178 0,039-0,820

Baik 35(32,7) 2(1,9)

Sikap

Tidak mendukung 7(6,5) 3(2,8)

0,287 0,461 0,108-1,975

Mendukung 81(75,7) 16(15)

Perilaku

Kurang Baik 22(20,6) 6(5,6)

0,554 0,722 0,245-2,129

Baik 66(61,7) 13(12,1)

Tabel 6. Hubungan dan Besar Risiko Variabel Pekerjaan Terhadap Kejadian Malaria

Kategori (Pekerjaan) Kejadian Malaria (n)

p OR Cl 95%

Negatif (%)

Positif (%)

Pekerja Hutana 68

(63,6)

15 (14)

0,874 0,907 0,270-3,042

Bukan Pekerja Hutanb 20

(18,7)

4 (3,7)

(8)

49

Pembahasan

Pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria masih kurang hal ini dapat ditandai dengan persentase yang cukup tinggi bahwa responden tidak mengetahui penyebab, cara penularan dan pencegahan malaria. Sebagian besar sikap dan perilaku responden terhadap malaria sudah bisa dikatakan baik ini dapat dilihat dari bersedianya responden untuk diambil darahnya walaupun tidak sakit.4 Hal ini sejalan dengan pengetahuan responden yang cukup mengenal malaria lebih sedikit terkena malaria dibandingkan dengan responden dengan pengetahuan rendah.5

Responden dengan pengetahuan malaria yang kurang mempunyai risiko terkena malaria 8 kali lebih besar dibanding dengan responden yang berpengetahuan baik. Hasil penelitian Suprayoga dan Suharjo menyebutkan bahwa masyarakat yang berpengetahuan rendah kemungkinan risiko tertular malaria 3 kali dibandingkan dengan masyarakat yang berpengetahuan baik.2,5 Hasil penelitian yang dilakukan Sukisno dkk, menunjukkan pengetahuan mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian malaria dengan risiko 3,05 kali lebih besar terkena malaria pada orang yang berpengetahuan rendah dibandingkan dengan orang yang berpengetahuan tinggi.6,7

Sikap dan perilaku responden yang dijumpai pada penelitian ini menggambarkan bahwa dalam penanganan malaria responden cukup mendukung, dapat dilihat dari setuju untuk meminum obat malaria walaupun tidak sakit sebesar 132 (90,4%) dan bersedia diambil darahnya walaupun tidak sakit sebesar 134 (91,8%) akan tetapi masih ada perilaku responden yang negatif misalnya responden masih keluar malam hari hanya untuk mengobrol di warung sebesar 128 responden (87,7%), sehingga variabel sikap dan perilaku tidak berpengaruh signifikan terhadap angka kejadian malaria. Hal ini dikarenakan penularan yang terjadi di Desa Temunih merupakan penularan setempat yang dipengaruhi oleh adanya lubang bekas galian dan konstruksi rumah responden yang berpotensi penularan malaria cukup besar karena rumah responden sebagian besar berdinding kayu dengan atap tanpa plafon. Hal ini sejalan dengan penelitian malaria di Desa Panusupan diketahui bahwa rumah dengan dinding papan menimbulkan potensi nyamuk untuk masuk rumah sangat besar, begitu juga dengan adanya lubang angin tidak tertutup kain kasa dan rumah tanpa plafon.8

Terjadinya kasus malaria di Desa Temunih dilihat dari karakteristik lingkungan fisik adalah merupakan penularan setempat (indigenous), karena di lokasi tersebut terdapat kasus malaria pada bayi berumur 11 bulan dan balita berumur 18 bulan serta ibu hamil tri-mester 1 di lokasi/camp RT 1. Hasil wawancarai kepada ibu dari bayi dan balita tersebut, mereka tidak pernah pergi kemana–mana atau ikut ke hutan untuk mencari kayu dan mereka hanya tetap tinggal di camp untuk menjaga anaknya.

Prevalensi kasus malaria pada perempuan umur 21-30 tahun adalah 60% lebih dominan dari pada laki-laki, hal ini disebabkan perempuan memiliki daya tahan tubuh lebih rentan dibandingkan dengan laki-laki ditambah lagi tempat tinggal mereka tidak permanen, hanya berupa pondok kecil/camp, sehingga sangat rentan untuk terkena gigitan nyamuk pada saat menjelang sore dan malam hari. Menurut Molineaux dan Gramiccia (1980) bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki. Namun di Desa Temunih tidak demikian, hal ini dikarenakan pengaruh etnis dan geografis yang berbeda.

Perbedaan distribusi menurut umur dan jenis kelamin sebenarnya berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Hal ini sejalan dengan penelitian Radati yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dan kejadian malaria dan dinyatakan bahwa umur merupakan confounding factor kejadian malaria yang pada dasarnya setiap orang dapat terkena malaria.9 Sesuai dengan penelitian Sir Oktofina, responden yang menderita lebih banyak pada kelompok umur dewasa.10 Hal ini disebabkan kelompok umur ini merupakan kelompok umur produktif yang pada usia tersebut memungkinkan untuk bekerja dan bepergian keluar rumah sehingga lebih berpeluang untuk kontak dengan vektor penyakit malaria.

Berdasarkan jenis kelamin, anak perempuan daya tahan tubuh lebih kuat dibandingkan dengan anak laki-laki, namun di Desa Temunih berbeda karena perempuan umur 21-30 tahun lebih dominan terinfeksi malaria, karena daya imunitas tubuh mereka belum sempurna terhadap malaria.11

(9)

50 tinggi dibandingkan dengan orang yang di sekitar rumahnya tidak terdapat tempat peristirahatan nyamuk. Orang yang di sekitar terdapat tempat peristirahatan nyamuk mempunyai risiko untuk menderita malaria 4,8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang di sekitar rumahnya tidak terdapat tempat peristirahatan nyamuk dengan mengendalikan faktor sosial ekonomi.12

Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa hutan merupakan lingkungan yang baik untuk penularan malaria di Kalimantan Tengah dan Selatan. Menambang di hutan, di Kalimantan Tengah berisiko terkena malaria 5 kali dibandingkan dengan tidak menambang. Sedangkan di Kalimantan Selatan menebang kayu di hutan berisiko terserang malaria 7 kali dibandingkan dengan yang tidak menebang kayu di hutan.11 Beberapa jenis pekerjaan merupakan faktor risiko dan memberi peluang untuk kontak dengan nyamuk. Misalnya petani, berkebun, nelayan, dan penambang emas. Tingkat mobilitas penduduk dari segi pekerjaan maupun pendatang dari daerah endemis mempengaruhi penularan malaria impor di suatu daerah.12 Risiko kejadian malaria adalah 0,048 kali lebih besar pada orang yang bekerja dibandingkan dengan orang tidak bekerja, hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat Kecamatan Arongan Lambalek bekerja sebagai petani dan penambang emas. Penambangan ini dilakukan di area Gunung Ujeun Kecamatan Woyla dan pekerjanya sebagian besar merupakan penduduk Kecamatan Arongan Lambalek. Pekerja-pekerja tersebut sering menginap di tempat kerja tanpa memperhatikan kebersihan tempat tinggal dan tanpa melindungi diri dari malaria sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan kasus setelah pekerja tersebut kembali ke Kecamatan Arongan Lambalek. Bekerja sebagai petani juga harus berada di hutan sampai sore sehingga akan memberikan kontribusi positif terhadap transmisi penularan malaria.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan yang berisiko (pekerja hutan dan berladang) berhubungan secara signifikan dengan terjadinya malaria di Kecamatan Jaro. Kelompok pekerja di kebun dan hutan lebih berisiko terkena malaria 7,34 kali dibandingkan dengan kelompok responden yang bekerja lainnya.9 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara

pekerjaan dengan kejadian malaria (nilai p= 0,001; OR = 3,4).2

Berdasarkan persamaan yang diperoleh, pekerjaan berkontribusi negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak yang bekerja di luar tanpa ada usaha perlindungan diri maka semakin tinggi angka kejadian malaria.11 Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan penambang emas yang merupakan tempat potensial perindukan nyamuk malaria. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan kebiasaan keluar malam merupakan faktor risiko penularan malaria di Kabupaten Bengkulu Selatan dengan OR sebesar 2,774. 9 Hal ini berarti bahwa penduduk yang memiliki kebiasaan keluar malam mempunyai risiko untuk terkena malaria 2,774 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang tidak memiliki kebiasaan keluar malam. Masyarakat Bengkulu Selatan sering keluar malam karena pekerjaannya yang sebagian besar berkebun dan petani dan pekerja hutan.9 Sesuai penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan responden beraktivitas di luar rumah pada malam hari. 13

Beberapa faktor risiko di atas sebenarnya dapat dikurangi dengan penyuluhan karena secara umum permasalahannya adalah terbukanya peluang terhadap gigitan nyamuk. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidak memakai kelambu saat tidur malam hari dengan kejadian malaria.13 Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan secara praktis setiap hari adalah dengan mengurangi kebiasaan keluar rumah pada malam hari, tidur menggunakan kelambu dan memperbaiki kontruksi rumah agar nyamuk tidak leluasa masuk ke dalam rumah seperti lubang pada atap atau dinding papan.

Kesimpulan dan Saran

(10)

51 Pada saat tidur malam hari hendaknya selalu memakai kelambu berinsektisida yang telah dibagikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu, memakai repellent, mengkonsumsi obat propilaksis jika pergi ke tempat endemis malaria, memperbaiki kontruksi tempat tinggal guna meminimalisir penularan gigitan nyamuk dan peningkatan surveilans malaria pada pemangku kepentingan terkait khususnya bidang Kesehatan.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kami ucapkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu atas saran dan masukannya, jajaran bidang P2M Dinkes Kab. Tanah Bumbu yang telah membantu dalam pengumpulan data. Kepala Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu beserta staf Laboratorium entomologi dan parasitologi yang membantu pelaksanaan kegiatan. Kepala Puskesmas Teluk Kepayang dan staf yang telah membantu peneliti dalam mengumpulkan data.

Daftar Pustaka

1. Ningsi, Anastasia H, Nurjana M. Aspek sosial budaya masyarakat berkaitan dengan kejadian malaria di Desa Sidoan Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Suplemen Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Media Litbang. 2010; XX. 2. Suprayogi A. Hubungan lingkungan dan perilaku pada pekerja yang menginap di hutan dengan kejadian malaria pada golongan umur 15-50 tahun di kecamatan mandor kabupaten landak tahun 2006. Abstrak 2006.

3. Notoatmodjo S. Metodologi penelitian kesehatan. Edisi Revisi, Jakarta: Rineka Cipta; 2012.

4. Andriyani D, Heriyanto B, Trapsilowati W. Faktor risiko dan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat pada kejadian luar biasa malaria di Kab. Purbalingga. Bul Penelit Kesehatan. 2013; 41. 5. Suharjo. Pengetahuan, sikap, dan perilaku

masyarakat tentang malaria di daerah endemis Kalimantan Selatan. Media Litbang. 2015; 23–32. 6. SukiswoSS, Rinidar, Sugito. Analisis Risiko

Karakteristik, Sosial Ekonomi, Perilaku dan Kondisi Lingkungan Rumah terhadap Kejadian Malaria. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2014; 9(2). 7. Falah.W, Meiliasari.F. Hubungan factor pekerjaan

dan lingkungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong. Jurnal An-Nadaa, vol 1 No.1, 2014, hal 21-25.

8. Notobroto HB dan Hidajah AC. Faktor resiko penularan malaria di daerah berbatasan. Jurnal Penelitian Medika Eksata. 2009; 8(2):143-51. 9. Radiati A. Pengaruh Infeksi malaria terhadap status

gizi di Kabupaten Kapuas. Buletin penelitian Sistem Kesehatan Nasional. 2002; 7:151-165.

10. Sri.Oktofina, et al. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2014.Jurnal Ekologi Kesehatan; 14(4), 2015; 334-341.

11. Ompusunggu, S. Malaria hutan di Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Indonesia tahun 2013. Jurnal ekologi kesehatan Vol.14 No.2, 2015: 145-156.

12. Kunoli FJ, Dahlan NA. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada puskesmas Mapane Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso tahun 2011. Promotif Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1).

Figur

tabel. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square
tabel. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square p.3
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Sosio Demografi

Tabel 1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Sosio Demografi p.4
Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Malaria

Tabel 2.

Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Malaria p.4
Tabel 3. Sikap Responden terhadap Malaria

Tabel 3.

Sikap Responden terhadap Malaria p.6
Tabel 4. Perilaku Responden terhadap Malaria

Tabel 4.

Perilaku Responden terhadap Malaria p.6
Tabel 6. Hubungan dan Besar Risiko Variabel Pekerjaan Terhadap Kejadian Malaria Kejadian Malaria (n)

Tabel 6.

Hubungan dan Besar Risiko Variabel Pekerjaan Terhadap Kejadian Malaria Kejadian Malaria (n) p.7
Tabel 5. Hubungan dan Besar Risiko Variabel Independen Terhadap Kejadian Malaria

Tabel 5.

Hubungan dan Besar Risiko Variabel Independen Terhadap Kejadian Malaria p.7

Referensi

Memperbarui...