PROPOSAL PENGARUH EARNING PER SHARE EPS

23 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) DAN DIVIDEN PER SHARE (DPS) TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTURING DI

INDONESIA

Diajukan oleh:

Sri Rahmad Santoso NPM : 41183402130053

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM “45” (UNISMA) BEKASI Jl. Cut Meutia no. 83 Kota Bekasi. Telp. (021) 8801027

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham Pada perusahaan Manufaktur di Indonesia” tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih atas segala bentuk bantuan, bimbingan dan saran kepada:

1. Ibu Isti Pujihastuti, S.E., M..E. selaku dosen pembimbing metodologi penelitian yang telah memberikan pengarahan dalam pembuatan proposal ini.

2. Ibu Rianti Setyawasih, Ir., M.E. selaku dosen pembimbing manajemen keuangan yang telah memberikan bekal ilmu sehingga penulis dapat menerapkanya diproposal ini. 3. Seluruh Staf dan Dosen pengajar di fakultas Ekonomi Universitas Islam “45” Bekasi atas

pengajaran yang terbaik sehingga banyak memberikan masukan dan inspirasi bagi penulis.

4. Ibu dan Bapak serta keluarga tercinta yang tidak pernah putus memberikan doa dan motivasi sehingga penulis dapat berhasil menyelesaikan proposal ini.

5. Semua sahabat dan seluruh keluarga besar Universitas Islam “45” Bekasi yang telah memberikan dorongan dan doanya.

Akhirnya, penulis berharap proposal ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Wassalamu’alaikum wr. Wb

Bekasi, 22 Desember 2015

Penulis,

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

BAB 1 PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian...2

1.2.1.Rumusan Masalah...2

1.2.2.Tujuan Penelitian...2

1.2.3. Manfaat Penelitian...2

1.3. Ruang Lingkup Penelitian...2

1.4. Kerangka Pemikiran...3

1.4.1.Hubungan antara Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham...4

1.5. Hipotesis...5

1.5.1.Hipotesis Pertama (Ha1)...5

1.5.2.Hipotesis Kedua (Ha2)...6

1.5.3.Hipotesis Ketiga (Ha3)...6

BAB II METODE PENELITIAN...7

2.1. Populasi dan Sampel Penelitian...7

2.2. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data...7

2.3. Variabel Penelitian dan Pengukuranya...8

2.4. Variabel Penelitian...8

2.4.1.Variabel Harga Saham...8

2.4.2.Variabel Earning Per Share...9

2.4.3.Variabel Dividen Per Share (DPS)...10

2.5. Metode Analisis Data...11

2.5.1.Statistik Deskriptif...11

2.5.2.Uji Hipotesis...13

2.2. Jadwal Kegiatan Penelitian...15

2.3. Sistematika Pelaporan...16

(4)
(5)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas tersebut (Barlian, dkk, 2004:76). Laporan keuangan terdiri dari: neraca, laporan laba/rugi, laporan arus kas, laporan perubahan modal dan catatan atas laporan keuangan.

Informasi yang terdapat pada laporan keuangan sangat berguna bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan diperusahaan tersebut, contohnya:

 Pihak intern atau manajemen perusahaan menggunakan laporan keuangan sebagai dasar pengukuran kinerja perusahaan.

 Pihak Ekstern (Investor) menggunakan laporan keuangan sebagai bahan pertimbangan untuk berinvestasi di pasar modal. Pasar modal merupakan wahana dan tempat bertemunya pihak yang memerlukan dana (borrower) dengan pihak yang memiliki kelebihan dana (lender).

Harga saham merupakan cerminan nilai dari suatu perusahaan. Jika perusahaan memiliki kinerja dan prestasi yang baik, maka saham perusahaan tersebut akan diminati oleh banyak investor. Kinerja dan prestasi perusahaan yang dapat terlihat dari laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan (Emiten) pada bursa efek Indonesia dalam periode tertentu.

Beberapa investor biasanya menganalisa laporan keuangan emiten sebelum melakukan investasi. Data yang biasanya digunakan sebagai analisa adalah laporan laba/rugi suatu perusahaan, dengan alasan laba/rugi dipandang sebagai indikator kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen. Namun demikian laporan laba/rugi belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen kepada investor, ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan emiten dalam membagikan dividen kepada investornya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perusahaan (emiten) dalam membagikan dividen kepada investornya adalah ketersediaan kas dalam perusahaan. Laporan arus kas perusahaan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap diantaranya terdapat informasi mengenai jumlah kas yang tersedia dalam perusahaan dan menyajikan arus kas masuk serta arus kas keluar perusahaan pada suatu periode tertentu. Oleh karena itu laporan arus kas berperan penting dalam melengkapi indikator kemampuan perusahaan membagikan dividen kepada investor.

(6)

1.2. Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.2.1. Rumusan Masalah

 Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur di Indonesia?

 Apakah Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) secara bersama-sama mempengaruhi harga saham pada perusahaan manufaktur di Indonesia?

1.2.2. Tujuan Penelitian

 Mengetahui apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham Pada perusahaan Manufaktur di Indonesia.

 Mengetahui apakah Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) secara bersama-sama mempengaruhi harga saham pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan juga mengetahui besarnya pengaruh tersebut.

1.2.3. Manfaat Penelitian

Bagi Investor

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi saham dengan menilai Earning Per Share dan Dividen Per Share.

Bagi Pengelola Pasar Modal

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sejauh mana Earning Per Share dan Dividen Per Share mempengaruhi harga saham sehinggan dapat dijadikan acuan untuk mendorong perusahaan dalam menyajikan informasi yang berkualitas bagi semua pihak baik intern perusahaan maupun pihak ekstern.

Bagi Akademis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman bagi penelitian di masa yang akan datang yang tertarik dengan pembahasan tentang pengaruh Earning Per Share dan Dividen Per Share Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur di Indonesia.

1.3. Ruang Lingkup Penelitian

Terdapat banyak fakor yang mempengaruhi harga saham, dalam penelitian ini penulis membatasi faktor tersebut dengan variabel (X1) Earning Per Share dan Variabel (X2) Dividen

(7)

1.4. Kerangka Pemikiran

Laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kinerja keuangan suatu perusahaan. Dalam menganalisis suatu laporan keuangan diperlukan alat ukur dan salah satu alat ukur yang digunakan adalah rasio keuangan.

Rasio keuangan digunakan investor untuk menganalisis kondisi suatu perusahaan. Sebenarnya analisis ini didasarkan pada hubungan antar-pos dalam laporan keuangan perusahaan yang akan mencerminkan keadaan keuangan serta hasil dari kegiatan operasional perusahaan. Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan (BPFE Yogyakarta, 2001:331), rasio keuangan dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas perusahaan dalam melaksanakan kegiatan operasinya maka investor perlu mempertimbangkan rasio profitabilitas yang mencakup informasi keuntungan perlembar saham dan pembagian dividen perlembar.

Faktor-faktor yang biasanya menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan pemberian deviden adalah keuntungan perusahaan, prospek pertumbuhan usaha, likuiditas perusahaan, aspek hukum dan keadaan pasar.

Menurut Taufik Hidayat (2010:89): “Secara teoritis, pembagian deviden akan menurunkan harga saham sebesar nilai deviden yang dibayarkan tapi faktanya, pembagian deviden terkadang tidak selalu diikuti dengan penurunan harga saham, malah bias menaikan harga saham, pembagian deviden bias ditangkap pasar sebagai pertanda bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja dan prospek yang bagus sehingga layak untuk terus diburu. Oleh karena itu kenaikan pembagian deviden merupakan kabar baik yang imbasnya akan menaikan ekspektasi mereka mengani pendapatan perusahaan”.

Pengertian harga saham menurut (H.M Jogiyanto 2003:8), adalah harga saham yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dipasar modal”.

(8)

Gambar 1.4.A. Alur Pemikiran

1.4.1. Hubungan antara Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham

Tjiptono dan Hendy (2001) menyatakan semakin tinggi nilai Earning Per Share (EPS) akan menggembirakan para pemegang saham karena adanya kemungkinan besar laba yang disediakan untuk dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividenpun besar. Dengan meningkatnya laba maka harga saham menjadi naik, begitu pula sebaliknya dengan menurunya laba perusahaan maka harga saham akan turun hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang positif antara earning per share (EPS) dengan harga saham.

Dividen yang dibagikan pada para pemegang saham akan mempengaruhi harga saham apabila dengan pembagian tersebut para pemodal mengubah pengharapan mereka terhadap prospek dan resiko perusahaan, sehingga para pemodal dapat menaikan dan menurunkan harga saham. Salah satunya yang dapat mempengaruhi harga saham adalah dividen per share. Dividen per share yaitu perbandingan antara jumlah seluruh dividen yang dibagikan antara pada satu tahun buku dengan total semua saham yang diterbitkan (Ang, 1997;621). Apabila dividen per share yang diterima naik tentu saja hal ini akan sangat mempengaruhi harga saham di pasar modal, karena naiknya dividen per share kemungkinan besar akan menarik investor untuk membeli saham perusahaan tersebut (Sunariyah, 2006 :7).

(9)

Berdasarkan alur pemikiran dan adanya hubungan antara earning per share (EPS) dan dividen per share terhadap harga saham maka kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.4.B. Kerangka Pemikiran

1.5. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka hipotesis penelitian sebagai berikut:

1.5.1. Hipotesis Pertama (Ha1)

Earning per share (EPS) merupakan cerminan keuntungan yang diterima oleh pemegang saham tiap lembar saham pada periode tertentu. Dengan meningkatnya EPS menandakan perusahaan memiliki laba yang cukup tinggi sehingga harga sahampun ikut naik karena seiring dengan banyaknya permintaan investor di pasar modal hal, sehingga dapat diduga bila EPS berpengaruh positif terhadap harga saham.

(10)

1.5.2. Hipotesis Kedua (Ha2)

Dividen per share (DPS) merupakan pembagian keuntungan perlembar saham kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Dengan meningkatnya DPS yang dibagikan kepada pemegang saham maka minat investor untuk membeli saham meningkat, sehingga mempengaruhi kenaikan harga saham di pasar modal. Hal ini dapat diduga bila DPS berpengaruh positif terhadap harga saham.

Ha2 > 0, artinya DPS berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham

1.5.3. Hipotesis Ketiga (Ha3)

Diduga Earning per share dan dividen per share bersama-sama mempengaruhi harga saham di pasar modal. Jika Earning per share dan dividen per share meningkat maka harga saham juga mengalami peningkatan dengan kata lain diduga EPS dan DPS secara bersama-sama berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.

(11)

BAB II METODE PENELITIAN

Penelitian ini didesain untuk melihat seberapa besar pengaruh earning per share dan dividen per share terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini bersifat cross sectional yang mengambil sampel waktu dan kejadian pada waktu tertentu, kemudian diolah menggunakan metode kuantitatif.

2.1. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang aktif dan yang telah go public selama periode 2014-2015. Populasi dari penelitian ini diambil dari data Indonesia stock change (idx) tahun 2015 yang berjumlah 135 perusahaan.

Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dimana pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

1. Perusahaan yang masih aktif dan termasuk perusahaan yang sudah go public serta terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2015.

2. Perusahaan bergerak dibidang manufaktur.

3. Data laporan keuangan perusahaan tersedia berturut-turut selama periode penelitian. 4. Perusahaan melakukan pembagian dividen secara berturut-turut selama periode

penelitian.

5. Perusahaan tidak delisted atau tidak tutup operasi selama periode penelitian. 6. Perusahaan memberikan informasi data harga saham selama periode penelitian.

2.2. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan manufaktur go public yang telah dipublikasikan oleh Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2014-2015.

(12)

2.3. Variabel Penelitian dan Pengukuranya

Penelitian ini menerapkan model hubungan fungsional antara variabel independen dengan variabel dependen yang diestimasikan menggunakan model regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = a + b

1

X

1

+ b

2

X

2

+ e

Keterangan:

Y = Harga saham (variabel dependen)

X1 = Earning Per Share (variabel independen)

X2 = Dividen Per Share (variabel independen)

a, b1, dan b2 = Koefisien regresi linier berganda dimana;

a = Konstanta/ nilai Y, apabila X1 dan X2 =0

b1 = Besarnya kenaikan/ penurunan Y, jika X1 naik atau turun sebesar satu

satuan

b2 =Besarnya kenaikan/ penurunan Y, jika X2 naik atau turun sebesar satu

satuan

+ atau - = Mencerminkan hubungan antara Y dengan X1 dan Y dengan X2

2.4. Variabel Penelitian 2.4.1. Variabel Harga Saham 2.4.1.1. Definisi Konseptual

(13)

Dalam praktik perdagangan saham, harga saham dibedakan berdasarkan cara pengalihan dan manfaat yang diperoleh bagi pemegang saham. Menurut Rusdin (2006), harga saham terbagi atas tiga jenis yaitu:

Par Value (Nilai Nominal)

Nilai nominal adalah harga/nilai yang tercantum pada saham yang bersangkutan yang berfungsi untuk tujuan akuntansi. Nilai nominal suatu saham harus ada dan dicantumkan pada surat berharga saham dalam mata uang rupiah, bukan dalam bentuk mata uang asing.

Base Price (Harga Dasar)

Harga dasar suatu saham erat kaitannya dengan harga pasar suatu suatu saham. Pada prinsip harga dasar saham ditentukan dari harga perdana saat saham tersebut diterbitkan, harga dasar ini akan berubah señalan dengan dilakukannya berbagai tindakan emiten yang berhubungan dengan saham, antara lain: Right issue, Stock split, waran, dan lain-lain. Harga dasar dipergunakan didalam perhitungan indeks harga saham.

Market Price (Harga Pasar)

Harga pasar merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena harga pasar

merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung. Apabila pasar suatu efek sudah tutup maka harga pasar saham adalah harga penutupannya (closing price). Jadi harga pasar inilah yang menyatakan naik-turunnya suatu saham.

2.4.1.2. Definisi Oprasional

Harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga pasar (market price) yang terfokus pada harga penutupan (closing price) pada saham yang diamati secara tahunan. Data penutupan saham tahunan diperoleh dari IDX Statistik selama periode pengamatan.

2.4.2. Variabel Earning Per Share 2.4.2.1. Definisi Konseptual

Variabel Earning Per Share (EPS) dalam penelitian ini sebagai variabel independen. Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk semua pemegang saham perusahaan. EPS merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan(return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar saham (Tjiptono dan Hendry, 2001 : 139).

(14)

besar, karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan (Lukman Syamsudin, 1992 : 66). Secara singkat dapat peneliti simpulkan bahwa semakin tinggi nilai EPS tentu saja akan menyenangkan pemegang saham, karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham.

2.4.2.2. Definisi Operasional

Earning Per Share merupakan pendapatan dari per lembar saham yang terjadi dari rasio antara jumlah laba bersih setelah pajak dengan jumlah saham yang beredar. Besarnya Earning Per Share (EPS) suatu perusahaan dapat diketahui dari informasi yang ada pada laporan keuangan perusahaan atau dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan rugi laba perusahaan. Earning per share (EPS) dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

EPS= Laba bersih setelah pajak

Jumlah saham yang beredar

2.4.3. Variabel Dividen Per Share (DPS) 2.4.3.1. Pengertian Konseptual

Variabel Dividen Per Share (DPS) dalam penelitian ini sebagai variabel independen. Dividen Per Share (DPS) adalah besarnya jumlah pendapatan per lembar saham yang akan didistribusikan ke pemegang saham biasa (Madichah, 2005).

2.4.3.2. Pengertian Operasional

Dividen Per Share diperoleh dari persentase dari laba bersih suatu badan usaha kepada pemegang saham pada tiap tahunya (Naibaho, 2009). Dividen Per Share (DPS) dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

DPS= Jumlah dividen yang dibayark an

(15)

2.5. Metode Analisis Data

Penelitian ini diolah dengan menggunakan metode analisis data sebagai berikut:

2.5.1. Statistik Deskriptif

Menjelaskan dan menggambarkan variabel-variabel berdasarkan data yang dikumpulkan pada periode tertentu kemudian dianalisis menggunakan rata-rata (mean) dan standar deviasi, statistic deskriptif adalah bagian dari statistik yang mempelajari pengumpulan dan penyajian data sehingga mudah dipahami. Statistik deskriptif berkaitan dengan metode mengorganisir, menyimpulkan dan mempresentasikan data dalam suatu cara yang normatif yang berguna untuk menjelaskan secara rinci variabel-variabel penelitian.

2.5.1.1. Uji Asumsi Klasik

Pengujian ini digunakan untuk mendapatkan model penelitian yang valid dan dapat digunakan untuk menentukan estimasi. Setiap persamaan regresi harus memenuhi asumsi klasik sebagai berikut:

a. Data harus berdistribusi dengan normal maka dari itu harus diuji dengan uji normalisasi.

b. Tidak adanya multikolinieritas antara variabel independen.

c. Tidak adanya auto kolerasi antara variabel-variabel yang akan diteliti.

d. memenuhi asumsi homoskedastisitas agar menjadi persamaan regresi yang BLUE (Best LinierUnbias Estimators).

2.5.1.2. Uji Normalitas Data

Uji ini bertujuan untuk menguji variabel dependen dengan variabel independen untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah data tiap variabel yang diuji memiliki distribusi yang normal. Uji normalisasi data dalam penelitian ini menggunakan analisis One-Sample Kolmogorov-Smirnov (uji K-S) dengan bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 19, Santoso (2004:45). Kriteria keputusan hasil uji K-S adalah:

 Jika nilai asymp. Sig. (2-tailed) ≤ 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal

 Jika nilai asymp. Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 berarti data berdistribusi normal

2.5.1.3. Uji Multikolinieritas

(16)

a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi empiris sangat tinggi

b. Menganalisis matrik kolerasi variabel-variabel independen

c. Jika antara variabel independen ada kolerasi yang cukup tinggi maka menunjukan adanya multikolinieritas antar variabel independen.

Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas yaitu dengan cara melihat VIF (Variance Inflation Factor) dan nilai toleransi. (Priyatno, 2008) Kriteria keputusan uji multikolinieritas adalah:

 Jika tolerance < 0,10 dan VIF > 10 berarti adanya multikolinieritas

 Jika tolerance > 0,10 dan VIF < 10 berarti tidak terjadi multikolinieritas

2.5.1.4. Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier pada variabel dependen ada kolerasi antara kesalahan pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan adanya problem autokorelasi. Model regresi yang baik yaitu apabila variabel dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat menggunakan statistik Durbin-Watson (D.W). (Priyatno, 2008) Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:

 Bila D.W terletak antara batas atas (upper bound) dan 4-du (du < D.W < 4-du), maka koefisien kolerasi sama dengan nol, berarti tidak adanya autokorelasi.

 Bila D.W lebih rendah dari batas bawah atau lower bound (0 < D.W < dl), maka koefisien korelasi lebih besar dari pada nol, berarti ada autokorelasi positif.

 Bila D.W lebih besar dari pada 4-dl (4-dl <D.W < 4), maka koefisien autokorelasi lebih kecil dari pada nol, berarti adanya autokorelasi negatif.

 Bila D.W terletak diantara batas atas dan bawah (dl < D.W < du) atau D.W terletak diantara 4-du dan 4-dl (4-du < D.W < 4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan atau tidak ada keputusan karena berada pada daerah yang tidak meyakinkan.

Untuk mempermudah pemahaman maka perhatikanlah tabel berikut:

Kriteria Ho Keputusan

0 < DW < dl Ditolak Ada autokorelasi positif dl < DW < du Tidak ada keputusan Tidak ada keputusan 4-dl < DW < 4 Ditolak Ada autokorelasi negatif 4-du < DW < 4-dl Tidak ada keputusan Tidak ada keputusan

du < DW < 4-du Diterima Tidak ada autokorelasi

(17)

dl = Batas Bawah Ho = Tidak ada autokorelasi (r = 0)

du = Batas Atas Ha = Ada autokorelasi (r ≠ 0)

DW = Durbin-Watson

2.5.1.5. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi tidak terjadi kesamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainya. Jika varian dari residual pengamatan ke pengamatan lain tetap disebut homoskedastisitas dan jika varian dari residual berubah maka disebut heteroskedastisitas (Priyatno, 2008). Model regresi yang baik yaitu apabila tidak adanya heteroskedastisitas.

Dalam penelitian ini, uji heteroskedastisitas dengan menggunakan Uji Gletset (Widyaningdyah, 2001), dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

 Jika signifikan < 0.05, maka adanya heteroskedastisitas

 Jika signifikan > 0.05, maka tidak ada heteroskedastisitas

2.5.2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan untuk menjawab hipotesis yang ada, maka akan diteliti tingkat signifikansi variabel-variabel yang terkait secara koefisien determinasinya, simultan (uji F), dan secara individual (uji T).

2.5.2.1. Uji Ketepatan Perkiraan (Goodness of Test atau R2)

Uji ini digunakan untuk mengetahui tingkat ketepatan yang paling baik dalam analisis regresi yang dinyatakan dengan koefisien determinasi majemuk (R2). Koefisien ini menunjukan

seberapa besar variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variabel dependen, dengan asumsi jika R2 = 0 maka variabel independen tidak berpengaruh

terhadap variabel independen dan jika R2 = 1 maka variabel independen dinyatakan 100% yang

berarti berpengaruh sempurna terhadap variabel dependen. Dalam model ini variabel independen yang paling baik yaitu variabel yang memiliki R2 yang mendekati 1 atau sama dengan 1.

2.5.2.2. Uji Pengaruh Simultan (Uji F)

(18)

Tingkat signifikan yang digunakan 5%, dan diolah menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 19.

Secara operasional Uji F dapat diformulasikan sebagai berikut:

FHitung=

(

R2

K

)

(

1−R2

n−K

)

Dimana:

FHitung = Nilai F hasil observasi

R = Koefisien kolerasi

K = Jumlah variabel bebas

n = Jumlah data yang diobservasi (sample)

Adapun kriteria keputusan hasil Uji F sebagai berikut:

 Apabila nilai sig. (probability value) < 0.05 maka Ha diterima, berarti semua variabel independen secara simultan berpengaruh atau mampu menjelaskan secara signifikan terhadap harga saham.

 Apabila nilai sig. (probability value) > 0.05 maka Ha ditolak, berarti semua variabel independen secara simultan tidak berpengaruh atau tidak mampu menjelaskan secara signifikan terhadap harga saham.

2.5.2.3. Uji Pengaruh Parsial (Uji T)

Uji T digunakan untuk mengetahui seberapa jauh signifikansi masing-masing variabel EPS dan DPS terhadap Harga Saham secara terpisah dengan diuji pada tingkat signifikan sebesar 5%.

Secara operasional Uji T dapat diformulasikan sebagai berikut:

(19)

Dimana:

THitung = Nilai T hasil observasi

ᵝ = Koefisien Regresi

SE ᵝ = Standar eror koefisien ᵝ

Adapun kriteria keputusan hasil uji T sebagai berikut:

 Apabila nilai sig. (probability value) < 0.05 maka Ha diterima, berarti variabel independen secara individu berpengaruh atau mampu menjelaskan secara signifikan terhadap harga saham.

 Apabila nilai sig. (probability value) > 0.05 maka Ha ditolak, berarti variabel independen secara individu tidak berpengaruh atau tidak mampu menjelaskan secara signifikan terhadap harga saham.

2.2. Jadwal Kegiatan Penelitian

No Kegiatan

Tahun / Bulan

2015 2016

11 12 1 2 3 4

1 Penyusunan Proposal

2 Pengajuan Proposal

3 Penyusunan Tintauan Pustaka

4 Pengumpulan Data

5 Pengolahan Data, Analisis dan Evaluasi

6 Penyusunan Laporan dan Presentasi

2.3. Sistematika Pelaporan

(20)

1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3. Ruang Lingkup Masalah

1.4. Sistematika Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Pasar Modal

2.2. Saham

2.2.1 Pengertian Saham

2.2.2 Jenis-jenis Saham

2.2.3. Nilai Saham

2.2.4. Model Evaluasi Saham

2.2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

2.3. Laba

2.3.1. Pengertian Laba

2.3.2. Earning Per Share (EPS)

2.4. Dividen

2.4.1. Pengertian Dividen

2.4.2. Bentuk Kebijakan Dividen

2.4.3. Landasan Teori Kebijakan Dividen

2.4.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

2.4.5. Dividen Per Share (DPS)

2.5. Tinjauan Penelitian Sebelumnya

(21)

2.7.1. Hubungan Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) dengan Harga Saham

BAB III METODE PENELITIAN 3.1.

Model Penelitian

3.2. Objek Penelitian

3.3. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

3.4. Variabel Penelitian

3.4.1. Variabel Harga Saham

3.4.2. Variabel Earning Per Share (EPS)

3.4.3. Variabel Dividen Per Share (DPS)

3.5. Metode Analisis Data

3.5.1. Analisis Deskriptif

3.5.2. Uji Asumsi Klasik

3.5.3. Uji Normalitas Data

3.5.4. Uji Multikolinieritas

3.5.5. Uji Autokorelasi

3.5.6. Uji Heteroskedastisitas

3.6. Uji Hipotesis

3.6.1. Uji Ketepatan Perkiraan (R2)

3.6.2. Analisis Regresi Linier Berganda

3.6.3. Uji Pengaruh Simultan (Uji F)

(22)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.

Hasil Penelitian

4.2. Statistik Deskriptif

4.2.1. Uji Asumsi Klasik

4.2.2. Uji Normalitas Data

4.2.3. Uji Multikolinieritas

4.2.4. Uji Autokorelasi

4.2.5. Uji Heteroskedastisitas

4.3. Uji Hipotesis

4.3.1. Uji Ketepatan Perkiraan (R2)

4.3.2. Analisis Regresi Linier Berganda

4.3.3. Uji Pengaruh Simultan (Uji F)

4.3.4. Uji Pengaruh Parsial (Uji T)

4.4. Pembahasan

4.4.1. Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham

4.4.2. Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham

4.4.3. Pengaruh Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1.

Simpulan

5.2. Keterbatasan Penelitian

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Cahyati, Karina. 2006. Analisis factor-faktor yang mempengaruhi DPS pada perusahaanmanufacturing yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Universitas Islam Indonesia Yogjakarta.

Cahyutu, Mauly. 2006. Analisis rasio keuangan dan pengaruhnya terhadap retrun saham pada industry farmasi yang terdapat di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Universitas Islam Indonesia Yogjakarta.

Danapriatna, Nana. 2014. Aplikasi Komputer Pengelolahan Ststistika Dengan SPSS. Universitas Islam “45” Bekasi.

Hasan, M. Iqbal.2001. Pokok-pokok MateriStatistik 2 (Statistik Inferensi). Jakarta

Madichah. 2005. Pengaruh Earning Per Share, Dividen Per Share dan Financial Leverage Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Universitas Negeri Semarang.

Priyatno, Dwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS. Yogyakarta: Mediakom.

Pujihastuti, Isti. 2015. Metode Penelitian Untuk Kalangan Sendiri. Universitas Islam “45” Bekasi.

Santoso, Singgih. 2002. Buku Latihan SPSS Statistik Multivariat. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Figur

Gambar 1.4.A. Alur Pemikiran
Gambar 1 4 A Alur Pemikiran. View in document p.8
Gambar 1.4.B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1 4 B Kerangka Pemikiran. View in document p.9

Referensi

Memperbarui...