Kedudukan Hukum KPK id. docx

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Nama

: Putra Pala Huseino

NIM

: 02011281621170

HUKUM KONSTITUSI

Kedudukan Hukum KPK

Setelah berdiri sejak tahun 2002, kondisi KPK semakin memprihatinkan. Selain KPK, dalam tata negara Indonesia, telah lahir banyak komisi atau dapat juga disebut Lembaga Non Struktural (LNS). Lembaga Non Struktural juga terdiri dari berbagai macam, yaitu ada yang dibentuk karena berdasarkan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden atau juga Keputusan Presiden.1 Sedangkan dari KPK sendiri dibentuk berdasarkan

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).

Meskipun telah berdiri lebih dari 10 tahun, banyak masih mempertanyakan kepastian hukum dari LNS seperti KPK, seperti mempertanyakan hal-hal berikut ini, apakah KPK termasuk dalam sistem pemerintahan eksekutif atau yudikatif?; apakah KPK lembaga ad hoc atau bukan? Dan apakah KPK efektif memberantas korupsi?

Mengenai pertanyaan apakah KPK termasuk lembaga eksekutif atau yudikatif, hal ini sebelumnya pernah dibahas oleh Akademis Universitas Gadjah Mada bernama Oce Madril. Menurutnya, sistem ketatanegaraan Indonesia semakin berkembang dengan baik. Indonesia tidak hanya fokus pada trias politica yang dicetuskan oleh Montesque. Karena Indonesia, telah banyak mendirikan komisi-komisi negara yang membantu menjalankan fungsi kekuasaan negara. Sedangkan mengenai pembentukan KPK, MK berpendapat LNS ini penting secara konstitusional. MK menjelaskan KPK termasuk lembaga yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24 ayat (3) UUD 1945.2 Sehingga dapat disimpulkan pendapat KPK merupakan lembaga eksekutif itu tidak

benar.

Kemudian mengenai apakah KPK lembaga ad hoc telah dijawab oleh pimpinan KPK periode 2003-2007, Erry Riyana Hardjapamekas. Yang dimaksud ad hoc disini adalah dibentuk dengan tujuan tertentu. Menurutnya, KPK haruslah dimaknai sebagai lembaga

1 https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Nonstruktural

(2)

permanen. Bagi Erry, hal ini juga sejalan dengan Strategi Nasional dan Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi (2010-2025) yang meliputi upaya memperkuat kelembagaan lembaga antikorupsi, membangun KPK perwakilan di daerah, mengangkat penyidik KPK, memperkuat koordinasi dan supervisi kasus korupsi, memperkuat Pengadilan Tipikor, dan reformasi birokrasi. Jadi, gagasan KPK sebagai lembaga yang bersifat sementara adalah kontraproduktif, tidak memiliki dasar hukum, dan juga tidak berdasar argumentasi yang memadai.3

Selanjutnya mengenai efektivitas KPK, terdapat banyak perbedaan pendapat dari berbagai pihak. Namun faktanya, sampai detikini belum ada penyidikan tersangka korupsi ang dihentikan, hal ini sesuai dengan ketentuan aturan yang berlaku. Sehingga, belum pernah ada perkara yang ditangani KPK divonis bebas oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Menurut DPR, efektvitas KPK semakin melemah, hal ini salah satunya dapat dilihat dari Hak Angket DPR terhadap KPK.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam teori Trias Politica yang dikembangkan oleh Montesquieu termasuk dalam kekuasaan legislatif dimana dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Sebagai lembaga legislatif, dalam menjalankan fungsinya dalam rangka pengawasan, DPR memiliki hak istimewa yakni hak angket sebagaimana diatur dalam Pasal 20A ayat (2) UUD NRI 1945. Hak tersebut merupakan suatu hak konstitusial yang diberikan kepada DPR dalam rangka menjalankan sistem pemerintahan yang bersifat check and balances.

Namun, penggunaan hak angket ini seringkali dipandang sebagai suatu belenggu konstitusi dalam proses penegakan hukum saat ini. Salah satunya adalah hak angket yang baru saja disetujui oleh DPR yang dikhawatirkan digunakan sebagai sarana untuk mempengaruhi dan mengintervensi bahkan cenderung melemahkan peran KPK sebagai lembaga independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.4

Telah jelas, secara konstitusional KPK merupakan lembaga negara independen, yang memiliki fungsi kekuasaan kehakiman, yang dapat melakukan tindakan penyelidikan, penyidikan dan juga penuntutan serta tindakan supervisi terhadap Tindak Pidana Korupsi.

(3)

Sehingga dapat disimpulkan juga secara kontruksi teoritis, KPK diluar dari kekuasaan trias politica, sebagai Komisi negara yang independen.

Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).

2. Pasal 24 ayat (3) UUD 1945. 3. Pasal 20A ayat (2) UUD NRI 1945.

Daftar Pustaka

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Nonstruktural

2. Kusuma Edward Febriyantri– detikNews, “Yusril Sebut KPK Bagian Eksekutif, Akademisi UGM: Itu Teori Klasik”, 13 Juli 2017

3. Humas KPK, “Gagasan KPK Lembaga Ad Hoc Kontraprodukti”, 8 Agustus 2012

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...