IDENTIFIKASI DAN INTERVENSI DINI ANAK DOWN SYNDROME
Konsep Dasar Intelektual Disabilities (Down Syndrome)
Terminologi hambatan mental-intelektual (tunagrahita) secara lazim memiliki beberapa istilah seperti anak berkelainan hambatan mental-intelektual, terbelakang mental, lemah ingatan, feebleminded, retardasi mental, cacat mental. Apapun terminology atau sebutan untuk mereka, pada hakekatnya semua makna dari istilah tersebut sama, yakni menunjuk kepada seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal. Batasan tentang seseorang dikagorikan memiliki hambatan mental-intelektual atau tunagrahita, yaitu jika ia memiliki tingkat kecerdasan secara signifikan rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya. Tingkat kecerdasan yang rendah tersebut merujuk pula pada kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial yang dimanifestasikan selama periode perkembangan (Pawlyn dan Carnaby, 2009:4).
Definisi dan asumsi otoritatif saat ini, yang berasal dari AAIDD (sebelumnya
dikenal sebagai AAMR) menggantikan istilah mental retardation menjadi intellectual
disability atau hambatan intelektual. Istilah ID lebih disukai karena istilah tersebut (a) mencerminkan konsep perubahan hambatan dengan lebih baik, (b) selaras
dengan praktik profesional saat ini yang berfokus pada perilaku fungsional dan
faktor kontekstual, (c) memberikan dasar logis untuk memahami penyediaan
dukungan karena berbasis pada kerangka sosial-ekologi, (d) tidak menyinggung
orang-orang dengan hambatan intelektual, (e) lebih sesuai dengan terminologi
internasional. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prabhala (2007).
key professional organization in this fi eld, the American Association on Mental Retardation,changed its name to the American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD). It also changed the title of one of its key journals; now the names refer to the basic condition as “intellectual and developmental disabilities” rather than “mental retardation,” thus trying to eliminate the negative connotationsthat had been attached to the previous term
Meskipun istilah atau nama telah berubah dari waktu ke waktu (lihat, misalnya,
berbasis Amerika Serikat yang digunakan selama 50 tahun terakhir atau lebih
menunjukkan bahwa tiga elemen penting dari ID adalah keterbatasan dalam fungsi
intelektual, keterbatasan perilaku dalam menyesuaikan tuntutan lingkungan, dan
bermula pada usia dini tidak berubah secara substansial (Schalock, Luckasson, &
Shogren, 2007). Ringkasan analisis ini disajikan pada Tabel 1.1 (sejarah definisi)
dan Tabel 1.2 (kriteria usia awal).
Tabel 1.1
Definisi Historis Retardasi Mental sebagaimana Dirumuskan oleh Amerikan
Association on Mental Retardation (AAMR) dan American Psychiatric Association
(APA)
Amerikan Association on Mental Retardation
1959 (Heber): Retardasi mental merujuk pada keadaan dengan fungsi
intelektual umum secara signifikan berada di bawah rata-rata yang
terjadi selama periode perkembangan dan dikaitkan dengan gangguan
dalam satu atau lebih aspek berikut: (1) kematangan, (2) pembelajaran,
dan (3) penyesuaian sosial. (Hal. 3)
1961 (Heber): Retardasi mental merujuk pada keadaan dengan fungsi
intelektual umum secara signifikan berada di bawah rata-rata yang
terjadi selama periode perkembangan dan dikaitkan dengan gangguan
dalam kematangan, pembelajaran, dan penyesuaian sosial. (Hal. 3)
1973 (Grossman): Retardasi mental merujuk pada keadaan dengan fungsi
intelektual umum secara signifikan berada di bawah rata-rata yang
terjadi bersamaan dengan defisit dalam perilaku adaptif, dan
ditunjukkan selama periode perkembangan. (Hal. 1)
1992 (Luckasson, dkk.): Keterbelakangan mental mengacu pada
keterbatasan substansial dalam fungsi. Hal ini ditandai dengan fungsi
intelektual secara signifikan berada di bawah rata-rata, yang ada
bersamaan dengan keterbatasan yang terkait dalam dua atau lebih
bidang keterampilan adaptif berikut: komunikasi, perawatan diri, hidup
di rumah, keterampilan sosial, penggunaan masyarakat, mengarahkan
diri, kesehatan dan keamanan, fungsi akademik, waktu luang, dan
bekerja. Retardasi mental terjadi sebelum usia 18 tahun. (Hal. 1)
2002 (Luckasson, dkk.): Retardasi mental adalah ketidakmampuan yang
ditandai dengan hambatan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif
yang ditunjukkan dalam kemampuan konseptual, sosial, dan adaptif
praktis. Ketidakmampuan ini terjadi sebelum usia 18 tahun. (Hal. 1)
American Psychiatric Association (Diagnoctic and Statistical
Manuals)
1968 (DSM-II): Retardasi mental mengacu pada fungsi intelektual umum
subnormal yang bermula pada masa perkembangan dan dikaitkan
dengan penurunan baik dalam pembelajaran dan penyesuaian sosial
maupaun kematangan. (Kelainan ini dikelompokkan dalam "sindrom
otak kronis dengan defisiensi mental" dan "defisiensi mental" pada
DSM-I ([American Psychiatric Association, 1952, hal. 14] .)
1980 (DSM-III): Fitur dasarnya adalah: (1) fungsi intelektual secara
signifikan di bawah rata-rata, (2) mengakibatkan, atau terkait dengan,
defisit atau gangguan pada perilaku adaptif, (3) dan terjadinya
permulaan sebelum usia 18 tahun. (Hal. 36)
1987 (DSM-III-R): Fitur dasar gangguan ini adalah: (1) fungsi intelektual
secara signifikan di bawah rata-rata, disertai dengan (2) defisit atau
gangguan dalam fungsi adaptif, dan (3) terjadinya sebelum usia 18
Tabel 1.2
Kriteria Usia Awal
1994 (DSM-IV): Fitur dasar retardasi mental adalah fungsi intelektual
secara signifikan di bawah rata-rata (Kriteria A) yang disertai dengan
hambatan dalam fungsi adaptif dalam sekurangnya dua dari area
kemampuan berikut: komunikasi, perawatan diri, hidup di rumah,
keterampilan sosial/interpersonal, penggunaan sumber daya
masyarakat, mengarahkan diri, fungsi akademik, bekerja,
memanfaatkan waktu luang, kesehatan, dan keamanan (Kriteria B).
Terjadi sebelum usia 18 tahun (Kriteria C). Retardasi mental memiliki
banyak etilogi yang berbeda dan bisa dilihat sebagai sebuah
kesimpulan dari berbagai proses patologis yang mempengaruhi fungsi
sistem saraf pusat. (Hal. 39)
2000 (DSM-TR): Sama dengan 1994. (Hal. 41)
Tredgold (1908): Keadaan hambatan mental sejak lahir, atau sejak usia
dini, karena perkembangan otak yang tidak sempurna.
Tredgold (1937): Keadaan tidak sempurnanya perkembangan mental.
Doll (1941): Keadaan ketidakmampuan sosial, diperoleh pada saat
dewasa, atau kemungkinan diperoleh ketika dewasa, disebabkan oleh
pertumbuhan yang tertahan sejak usia awal.
Heber (1959, 1961): ... yang mana terjadi selama periode development
(misalnya, mulai lahir sampai usia 16 tahun).
Grossman (1973): ... terjadi selama periode perkembangan (usia
maksimal 18 tahun).
Grossman (1983): ... terjadi selama periode perkembangan (periode
waktu mulai masa pembuahan sampai usia 18 tahun).
Luckasson, dkk. (1992): Retardasi mental terjadi sebelum usia 18 tahun.
Rendahnya kapabilitas mental-intelektual pada anak tunagrahita akan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk menjalankan fungsi-fungsi sosialnya. Hendeschee memberikan batasan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang tidak cukup daya pikirnya, tidak dapat hidup dengan kekuatan sendiri di tempat sederhana dalam masyarakat. Jika ia dapat hidup hanyalah dalam keadaan yang sangat baik (Efendi, 2008). Selain itu, potensi yang dimiliki untuk berkembang pun hanya dalam taraf kecepatan yang lebih rendah (daripada anak-anak normal) dan dalam mencapainya sangat membutuhkan dukungan khusus (Pawlyn dan Carnaby, 2009:4). Uraian tersebut memberikan implikasi bahwa ketergantungan anak dengan hambatan mental-intelektual atau tunagrahita terhadap orang lain pada dasarnya tetap ada, meskipun untuk masing-masing jenjang anak tunagrahita kualitasnya berbeda, tergantung pada berat-ringannya ketunagrahitaan yang diderita. Edgar Doll berpendapat seseorang dikatakan tunagrahita jika : (1) secara sosial tidak cakap, (2) secara mental dibawah normal, (3) kecerdasannya terhambat sejak lahir atau pada usia muda, (4) kematangannya terhambat (Kirk,1970; Efendi, 2008). Sedangkan The American Assocation on Mental Deficiency (AAMD). seseorang dikategorikan tunagrahita bila kecerdasannya secara umum dibawah rata-rata dan mengalami kesulitan penyesuaian sosial dalam setiap fase perkembangannya (Hallahan dan Kauffman, 1986).
Dalam prspektif yang lain, istilah tunagrahita yang biasa disebut dengan retardasi mental dicirikan dengan keterbatasan inteligensi dan kemampuan beradaptasi secara signifikan, yang terjadi sebelum usia 18 tahun (American Association on Mental Retardation sekarang AAIDD tahun 2002 dalam Kirk et.al., 2009). Kemampuan beradaptasi yang dimaksud meliputi kemampuan berkomunikasi (communication), merawat diri (self-care), kehidupan di rumah (homeliving), sosial (social), pengarahan diri (self-direction), kesehatan dan keamanan (health and safety), akademik (functional academic, memanfaatkan waktu luang (leisure), dan bekerja (work). Apabila individu mengalami keterbatasan dalam dua atau lebih dari kemampuan beradaptasi tersebut, maka ia dikatakan sebagai tunagrahita (Luckasson et al.,1992,p.5 dalam Emerson, 2001:2).
Seorang psikolog dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita mengarah kepada aspek indeks mental-intelegensinya, indikasinya dapat dlihat pada tabel berikut:
Tabel 5.1. Kategori Tunagrahita
Sumber: ICD-10 (The Tenth Revision of the International Classification of Diseases) dalam Pawlyn dan Carnaby (2009:4).
Mild Intellectual Disability. Kelompok ini dahulu disebut dengan istilah educable. Kelompok ini bermasalah dengan penggunaan bahasa dan mengalami kesulitan dalam berbicara yang akan membatasi kemandiriannya ketika dewasa. Prevalensinya mencapai 85% diantara seluruh populasi yang diklasifikasikan sebagai intellectual disability. Di awal bulan-bulan kehidupannya, anak dengan mild intellectual disability tidak dapat dibedakan dari anak-anak normal, namun mereka akan diketahui pada tahun-tahun sebelum masuk sekolah atau awal masuk sekolah (0-5 tahun) ketika kemampuan komunikasi dan sosial mulai berkembang. Perolehan kemampuan akademik setingkat kelas 5 atau 6 sekolah dasar dicapai di akhir masa remaja. Selama masa dewasa, mereka mengembangkan kemampuan sosial dan vokasional sebatas untuk bekerja dan hidup secara mandiri serta membutuhkan sedikit bantuan eksternal. Kesulitan belajar yang dimiliki menjadi fakta dalam hal-hal yang berkaitan dengan tugas akademik. Ketidakmatangan emosi menyebabkan kesulitan untuk bermasyarakat. Kesulitan tersebut juga termasuk dalam hal pernikahan, membesarkan anak, atau melakukan kebiasaan (adat-istiadat) tertentu. Namun tetap saja, sebagian besar dari masalah perilaku, emosi, dan sosial, kebutuhan akan penanganan psikologi dan perilaku, serta dukungan yang dibutuhkan oleh anak dengan mild intellectual disability sama dengan mereka yang memiliki kecerdasan normal (Harris, 2006).
Moderate Intellectual Disability. Beberapa individu dari kelompok ini mungkin memiliki kemampuan “visuospatial” lebih baik daripada kemampuan berbahasa. Mereka dengan derajat hambatan kognitif tertentu dapat menjadi komunikatif dan interaktif secara
ICD code Level of cognitive impairment IQ
F70 Mild 50-69
F71 Moderate 35-49
F72 Severe 20-34
sosial melalui bantuan. Perkembangan bahasa bermacam-macam bergantung pada rentang IQ. Mereka yang tidak pernah belajar bahasa masih memahami instruksi sederhana atau belajar untuk menggunakan bahasa isyarat atau alat berbahasa lainnya sebagai kompensatoris akibat kesulitan berkomunikasi. Mereka memiliki keterbatasan dalam pencapaian keterampilan merawat diri dan kemampuan motorik. Kemajuan di sekolah terbatas, dengan hanya kemampuan dasar yang dapat dikuasai meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Sebagai orang dewasa, individu dengan moderate intellectual disability masih dapat berpartisipasi dalam pekerjaan berjenis praktik dan sederhana yang terstruktur, namun secara umum membutuhkan pengawasan yang konsisten dari orang lain. Kehidupan yang sepenuhnya mandiri jarang dicapai di masa dewasa. Prevalensi kelompok ini adalah 10% dari seluruh populasi individu dengan intellectual disability. Istilah mampu latih (trainable) dahulu digunakan untuk menyebut kelompok moderate intellectual disability namun penggunaan istilah tersebut seharusnya dihindari karena beberapa individu dari kelompok ini dapat menjadi lebih berguna melalui program pendidikan (Harris, 2006).
Severe Intellectual Disability. Sebagian besar jumlah individu dari kelompok ini mengalami hambatan motorik dan kekurangan-kekurangan tertentu yang saling berhubungan. Selama tahun-tahun sebelum masuk sekolah, perkembangan motorik yang lemah dan kekurangan pada kemampuan bicara komunikatif mulai diketahui. Selama usia sekolah, bahasa verbal mungkin muncul dan keterampilan merawat diri di sekolah dasar mulai diajarkan. Di masa dewasa, pengawasan dibutuhkan untuk membantunya mencapai prestasi. Prevalensi kelompok ini sebesar 3%-4% dari seluruh populasi yang diidentifikasikan sebagai intellectual disability (Harris, 2006).
keadaan yang terstruktur. Prevalensi kelompok ini diantara 1%-2% dari seluruh populasi intellectual disability (Harris, 2006:55).
James dan Watson menemukan bahwa gen berpengaruh terhadap protein yang berperan pada sistem organ dan menentukan perilaku seseorang (Tartaglia, Hansen, & Hagerman, 2007). Kelainan pada gen menyebabkan fungsi-fungsi dalam tubuh terganggu yang pada akhirnya berakibat pada masalah perilaku. Berikut ini adalah kelainan genetik yang menjadi faktor terjadinya ketunagrahitaan. Down syndrome terjadi di setiap 600-900 kelahiran dan menghasilkan genotip yang membentuk tiga kopi kromosom ke-21. Genotip ini beperan terhadap terjadinya moderate retardation atau IDD (Intellectual Development Disability).
Perkembangan Anak Intelektual Disabilities (Down Syndrome)
Sebuah model multidimensional tentang fungsi manusia pertama kali diperkenalkan oleh AAIDD (dulunya AAMR) pada tahun 1992 (dalam Luckasson, dkk., 1992) dan selanjutnya diperbaharui pada tahun 2002 (dalam Luckasson, dkk., 2002). Pembaharuan lebih lanjut disajikan dalam bagan 2.1. Sebagaimana ditunjukkan dalam bagan tersebut, kerangka konseptual tentang fungsi manusia memiliki dua komponen utama: (1) lima dimensi (kemampuan intelektual, perilaku adaptif, kesehatan, partisipasi, dan konteks) serta (2) sebuah penggambaran peran yang mendukung fungsi manusia.
I. Kemampuan intelektual
Perilaku Adaptif
III. Kesehatan
Dukungan Fungsi Manusia
IV. Partisipasi
Bagan 2.1. Kerangka konseptual tentang fungsi manusia.
Kerangka fungsi manusia ini menggambarkan bahwa manifestasi ID melibatkan hubungan timbal balik yang dinamis antara kemampuan intelektual, perilaku adaptif, kesehatan, partisipasi, konteks, dan dukungan individual.
1. DIMENSI I: KEMAMPUAN INTELEKTUAL
Kecerdasan adalah kemampuan mental yang umum. Berkaitan dengan
pemikiran, perencanaan, pemecahan masalah, berpikir abstrak,
pemahaman ide kompleks, belajar dengan cepat, dan belajar dari
pengalaman (Gottfredson, 1997). Sebagaimana tercermin dalam definisi
tersebut, kecerdasan tidak hanya meliputi mempelajari buku, keterampilan
akademik yang sempit, atau pandai mengerjakan tes. Sebaliknya,
kecerdasan mencerminkan kapasitas yang lebih luas dan dalam untuk
memahami dan mengerti lingkungan sekitar, melogika sesuatu, atau
mencari tahu apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, konsep
kecerdasan mewakili usaha untuk mencari tahu, mengatur, dan menjelaskan
fakta bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda untuk
memahami ide kompleks, beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan
mereka, untuk belajar dari pengalaman, untuk terlibat dalam berbagai
macam pemikiran, dan untuk mengatasi rintangan dengan berpikir dan
berkomunikasi (Neisser, dkk., 1996). Pemahaman tentang kecerdasan
pertama kali diangkat dalam terminologi dan klasifikasi buku AAMR/AAIDD
oleh Grossman pada tahun 1983. Pemahaman tersebut juga selaras dengan
definisi ICF tentang fungsi intelektual sebagai fungsi mental umum yang
diperlukan untuk memahami dan mengintegrasikan secara konstruktif
berbagai fungsi mental, ter masuk semua fungsi kognitif dan
perkembangannya seumur hidup (World Health Organization, 2001, bagian
b 117). Diskusi lebih dalam tentang fungsi intelektual dan asesmennya
disajikan dalam bab 4.
2. DIMENSI II: PERILAKU ADAPTIF
Perilaku adaptif adalah gabungan keterampilan konseptual, sosial dan
sehari-hari mereka. Konsep perilaku adaptif (sebagaimana ditunjukkan
dalam keterampilan konseptual, sosial, dan adaptif praktis) adalah
kelanjutan dari sorotan historis terhadap perilaku adaptif dalam diagnosa
retardasi mental/ID. Konsep keterampilan adaptif menyiratkan sebuah
susunan kompetensi dan batasan pada tiga poin utama: (a) asesmen
perilaku adaptif didasarkan pada unjuk kerja individu yang has dalam
rutinitas sehari-hari dan perubahan keadaan, bukan didasarkan pada unjuk
kerja maksimal; (b) hambatan keterampilan adaptif berdampingan dengan
kekuatan di area perilaku adaptif lain; dan (c) kekuatan dan hambatan
individu dalam keterampilan adaptif harus didokumentasikan dalam konteks
usia sebaya individu tersebut dan kebutuhan dukungan personalnya dalam
lingkungan masyarakat biasa. Diskusi lebih dalam tentang perilaku adaptif
dan asesmennya disajikan dalam bab 5.
3. DIMENSI III: KESEHATAN
The Wold Health Organization (1999) mendefinisikan health atau kesehatan sebagai keadaan fisik, mental, dan sosial yang lengkap. Kesehatan adalah
komponen terpadu fungsi individu karena kesehatan sesorang bisa
mempengaruhi keberfungsiannya baik secara laingsung maupun tidak
langsung dalam satu atau keseluruhan dimensi fungsi manusia. Masalah
kesehatan adalah gangguan, penyakit, atau cidera dan diklasifikasikan
dalam International Statistical Classification f Disease and Related Health Problem-ICD-10 (World Health Organization, 1999).
Efek kesehatan dan kesehatan mental pada fungsi individu dengan ID
berkisar dari sangat memudahkahkan sampai sangat menghambat.
Beberapa individu menikmati kesehatan yang baik tanpa hambatan
signifikan dalam beraktifitas, yang membuat mereka bisa berpartisipasi
seutuhnya dalah kegatan di masyarakat seperti bekerja, rekreasi, dan
memanfaatkan waktu luang. Sebaliknya, beberapa individu memiliki
bermacam hambatan kesehatan signifikan, seperti epilepsi atau cerebral
palsy, yang sangat menghambat fungsi tubuh dalam mobilisasi dan makan
serta sangat membatasi aktifitas personal dan pasrtisipasi sosial. Demikian
dengan hambatan mental. Sebagian besar individu dengan ID ada di antara
yang keadaan tersebut. Diskusi lebih dalam tentang kesehatan mental dan
fisik serta dukungan terkait disajikan dalam bab 11.
4. DIMENSI IV: PARTISIPASI
Partisipasi, merupakan unjuk kerja seseorang dalam aktifitas nyata di
domain kehidupan sosial dan terkait dengan keberfungsian individu dalam
masyarakat. Partisipasi dalam aktifitas sehari-hari penting bagi
pembelajaran individu dan merupakan ciri utama dari prespektif
pengembagan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan manusia
(Bronfenbrenner, 1999; Dunts, Bruder, Trivette, & Hamby, 2006).
Partsipasi merujuk pada peran dan interaksi dalam aktifitas kehidupan di
rumah, bekerja, pendidikan, waktu luang, spiritual, dan budaya. Partisipasi
juga berisi peran sosial yang sesuai untuk kelompok usia tertentu
berdasarkan norma yang ada di masyarakat. Partisipasi tercermin melalui
pengamatan terhadap keterlibatan dan tingkat keterlibatan dalam aktivitas
sehari-hari.
Dalam asesmen tentang tingkat pasrtisipasi seseorang, kekuatan
individu dan hambatannya dalam setiap area perilaku adaptif dapat
dievaluasi menggunakan observasi langsung terhadap aktifitas sehari-hari
berikut ini.
• Partisipasi dalam kegiatan, event, dan organisasi
• Interaksi dengan teman, keluarga, sebaya, dan tetangga
• Peran sosial di rumah, sekolah, komunitas, pekerjaan, waktu luang, dan
rekreasi.
5. DIMENSI V: KONTEKS
Konteks menggambarkan kondisi yang saling terkait di mana seseorang
menjalani kehidupan sehari-harinya. Konteks, seperti yang digunakan dalam
buku ini (lihat bagan 13.2), mewakili perspektif ekologis yang melibatkan
setidaknya tiga tingkatan yang berbeda (Bronfenbrenner, 1979), yaitu: (a)
setting sosial meliputi orang itu sendiri, keluarga, dan /atau penasehat)
(mikrosistem); (b) lingkungan sekitar, komunitas, atau organisasi yang
(mesosistem); dan (c) keseluruhan polabudaya, masyarakat, populasi yang
lebih besar, negara, atau pengaruh sosiopolitik (makrosistem). Berbagai
lingkungan ini penting bagi orang-orang dengan ID karena mereka sering
menentukan apa yang sedang dilakukan orang tersebut, di mana dia
melakukannya, kapan orang tersebut melakukannya, dan dengan siapa.
Faktor kontekstual meliputi faktor lingkungan dan faktor pribadi yang
mewakili latar belakang kehidupan individu (lihat Guscia, Ekberg, Harries, &
Kirby, 2006; Organisasi Kesehatan Dunia, 2001, hal 10). Faktor tersebut
mungkin memiliki dampak pada individu dan karenanya perlu
dipertimbangkan dalam mengevaluasi fungsi manusia.
• Faktor lingkungan membentuk lingkungan fisik, sosial, dan sikap
berdasarkan di mana seseorang tinggal dan menjalani kehidupanya.
Faktor lingkungan berinteraksi dengan faktor personal sehingga
mempengaruhi fungsi manusia. Misalnya, sikap karyawan yang positif dan
mudah bergaul akan memberikan kontribusi terhadap perilaku adaptif
seperti bekerja. Di sisi lain, penghalang seperti bangunan yang tidak
accesssible atau perilaku negatif akan menghalangi fungsi manusia.
• Faktor pribadi adalah karakteristik seseorang, seperti jenis kelamin, ras,
usia, motivasi, gaya hidup, kebiasaan, asuhan, cara mengatasi masalah,
latar belakang sosial, tingkat pendidikan, kejadian masa lalu dan masa
kini, watak, dan aset psikologis individu. Semua atau salah satu dari
karakteristik ini mungkin berperan sebagai penyebab hambatan. Faktor
tersebut adalah bagian dari seseorang yang bukan termasuk dalam
kondisi kesehatan ataupun mental.
Asesmen faktor kontekstual memerlukan sebuah fokus pada pendidikan,
kehidupan, pekerjaan, rekreasi, keamanan, kenyamanan material,
keamanan finansial, aktivitas kewarganegaraan, dan kehidupan spiritual
seseorang. Dalam asesmen faktor kontekstual, kekuatan dan keterbatasan
seseorang dapat dibuat berdasarkan pengamatan atau wawancara pada
area berikut ini.
• Faktor lingkungan langsung (mikrosistem) meliputi keluarga, penasehat,
• Faktor komunitas dan lingkungan dekat (mesosistem) meliputi komunitas,
rumah, layanan perumahan, daerah sekitar, organisasi pendukung.
• Faktor masyarakat (mikrosistem) meliputi budaya, negara, kecenderungan
sosiopolitik.
Konsep Dasar Intervensi Dini
Intervensi berasal dari bahasa inggris “intetvension” yang berarti suatu penanganan, layanan, atau tindakan “campu tangan”. Fallen dan Umansky dalam Sunardi&Sunaryo (2007) menegaskan bahwa intervensi merujuk pada layanan tambahan atau modifikasi, strategi, teknik, atau bahan yang diperlukan untuk merubah perkembangan yang terhambat. Sedangkan istilah dini berarti awal, yaitu usia awal atau seawal mungkin. Berdasarkan pengertian tersebut, Intervensi dini dapat diartikan dengan makna ; (1) penanganan atau tindakan campur tangan yang dilakukan kepada anak pada usia dini atau pada tahap perkembangan awal, yaitu pada anak usia 0-5 tahun, balita, atau usia pra sekolah, dan (2) penanganan atau tindakan campur tangan atau sesegera mungkin setelah diketahui adanya permasalahan atau sebelum sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi.
Adapun Greco, V dan Leonard. D dalam Sunardi&Sunaryo (2007) dengan tegas menyatakan intervensi dini merupakan program yang dengan sengaja didesain untuk mengoptimalkan pengalaman belajar anak selama periode perkembangan paling krusial, yaitu pada awal perkembangan. Pentingnya perkembangan awal terhadap perkembangan selanjutnya dengan menekankan bahwa periode yang sangat potensial baik dalam area perkembangan fisik, perseptual, bahasa, kognitif dan afektif bagi anak adalah pada usia 5 atau enam tahun.awal perkembangan anak juga sangat penting untuk anak-anak berkelainan, diasumsikan bahwa lebih awal mereka diidentifikasi dan mendapatkan pendidikan, akan lebih besar kesempatan untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh negatif dari kondisi yang dialaminya.
Individu yang teridentifikasi yang memiliki kemampuan kecerdasan dibawah rata-rata normal atau tunagrahita, secara faktual akan menunjukkan kecenderungan rendah pada fungsi umum kecerdasannya, Salah satu penemuan yang mendukung hal tersebut adalah penemuan Weisz (1999) yang berujung pada kesimpulan bahwa perkembangan kognitif anak tunagrahita rendah. Penemuan ini juga mendukung isu lain yang disebut sebagai “ketidakberdayaan belajar” (learned helplessness) pada anak tunagrahita (Kirk et.al., 2009), sehingga banyak hal menurut persepsi orang normal dianggap wajar terjadi akibat dari suatu proses tertentu, namun tidak demikian halnya menurut persepsi anak yang mempunyai kecerdasan sangat rendah. Bahkan untuk hal-hal yang dianggap wajar oleh orang normal, barangkali dianggap sesuatu yang sangat mengherankan oleh anak tunagrahita. Semua itu terjadi karena keterbatasan fungsi kognitif anak tunagrahita.
Beberapa peneliti mengatakan, melalui latihan bisa mengoptimalkan IQ penderita Sindrom down sampai 90. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa anak-anak penderita Sindrom down yang diberi latihan dini akan meningkat inteligensinya 20% lebih tinggi dibandingkan dengan pada saat mereka mulai mengikuti sekolah fomal. Untuk merangsang perkembangan, IQ, terapi stimulasi diberikan dengan melatih gerakan-gerakan motorik anak sejak dini. Latihan dapat dilakukan sendiri oleh anak atau dibantu oleh ahli fisioterapis. Latihan stimulasi motorik fase dasar, misalnya latihan tengkurap sejak usia 2 bulan, berguling, duduk, hingga berdiri. Latihan motorik kemudian dilanjutkan dengan melatih menggenggam sendok dan garpu, atau benda-benda fungsional lainnya. Contoh lain adalah membantu anak belajar memakai baju, menyisir dan sebagainya.
Secara garis besar, Prasedio (Efendi, 2008) menegasjan intervensi down syndrome dapat dilakukakn melalui terapi permainan yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita bukan sembarang permainan, tetapi permainan yang memiliki muatan antara lain: (1) setiap permainan hendaknya memiliki nilai terapi yang berbeda, (2) sosok permainan yang diberikan tidak terlalu sukar untuk dicerna anak tunagrahita Beberapa nilai yang penting dari bermain bagi perkembangan anak tunagrahita, antara lain:
1. Pengembangan fungsi fisik.
2. Pengembangan sensomotorik.
Maksud bermain yang pengembangan sensomotorik artinya dalam bermain tersebut melatih pendrian (sensoris) seperti ketajaman penglihatan, pendengaran, perabaan atau penciuman, di samping melatih otot dan kemampuan gerak, seperti tangan, kaki, jari-jari, leher dan gerak tubuh lainnya. Karena itu bertambahnya koordinasi aspek sensoris dan aspek motoris dalam bermain, semakin baik bagi perkembangan anak tunagrahita.
3. Pengembangan daya khayal.
Maksudnya lewat bermain yang dilakukan, anak tunagrahita diberikan kesempatan untuk mampu menghayati makna kebebasan sebagai sarana yang diperlukan untuk pengembangan daya khayal dan kreasinya.
4. Pembinaan pribadi.
Dalam bermain anak sebenarnya juga berlatih memperkuat kemauan, memusatkan perhatian, mengembangkan keuletan, ketekunan, percaya diri, dan lainnya. Semua itu dapat membantu anak tunagrahita membina kepribadiannya.
5. Pengembangan scsialisasi.
Ada unsur yang menarik dari kegiatan bermain dilihat dari pengembangan sosialisasi, yaitu anak harus berbesar hati menunggu giliran, rela menerima kekalahan, setia dan jujur.
6. Pengembangan intelektual.
Lewat bermain anak tunagrahita belajar mencerna sesuatu, misalnya peraturan dan skor yang diperoleh dalam permainan. Misalnya dalam setiap langkah yang dilakukan dalam permainan, ada kesempatan bagi anak tunagrahita untuk mengaktualisasi
kemampuannya melalui ucapan lewat apa yang dilihat dan didengar tentang permainan yang dilakukan. Cara ini secara tidak langsung sebenarnya juga sebagai bagian dari pengembangan intelektual anak tunagrahita.
Program Pendidikan
Kompetensi Indikator
• Mengenal alat makan dan minum • Menggunakan alat makan dan minum • Makan menggunakan tangan
• Makan menggunakan alat (sendok, dan garpu)
• Makan makanan berkuah • Makan makanan kemasan
• Minum menggunakan gelas atau cangkir • Minum menggunakan sedotan
• Minum minuman dalam kemasan • Makan di restoran atau resepsi
• Melakukan tatacara makan dan minum dengan sopan
➢ Mampu membersihkan dan menjaga kesehatan badan dengan cara yang benar
• Memelihara kebersihan tangan dan kaki • Menggunakan toilet
• Memelihara kebersihan telinga dan hidung • Menggunakan pembalut wanita (untuk
➢ Mampu merias diri dengan • Mengenal binatang buas dan jinak
• Menghindarkan diri dari benda-benda berbahaya (tajam,runcing,licin,panas) • Menghindarkan diri dari binatang berbahaya • Menghindarkan diri dari bencana alam • M e n j a g a k e s e l a m a t a n d a r i d a l a m
penggunaan ruangan, naik turun tangga atau eskalator, menggunakan lift
➢ Mampu mengobati luka dengan cara yang benar
• Mengobati luka dari benda-benda berbahaya • Mengobati luka dari binatang berbahaya
• Berkomunikasi secara verbal atau lisan (tatap muka)
• Berkomunikasi secara audio-visual (dengan media)
• Melakukan orientasi dan adaptasi dengan lingkungan
• Melakukan kerjasama di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
E. Keterampilan Kerja
➢Mampu melaksanakan kesibukan, dan
keterampilan sederhana dalam kehidupan sehari-hari
• Mengenal alat masak • Membuat minuman dingin • Membuat minuman panas • Memasak masakan sederhana • Merapikan tempat tidur
• Menjaga kebersihan sekolah dan rumah • Menjaga kebersihan pakaian
• Menjaga kerapihan pakaian
• Memelihara pakaian (memasang kancing, dll)
• Memelihara kebersihan perabot rumah tangga
• Menghemat penggunaan energi (listrik, air bersih)
➢ Mampu mengenal uang dengan baik
• Mengenal nilai uang
• Mengenal fungsi uang
➢ Mampu berbelanja dengan cara yang benar
• Membelanjakan uang sesuai dengan harga
barang
➢ Menggunakan Waktu Luang
dengan baik
• Menggunakan waktu istirahat
• Menggunakan waktu libur
• Berpartisipasi dalam pekerjaan di rumah