PANCASILA SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA

10  105  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sebagai alat pemersatu Pancasila sudah semestinya mengandung persatuan, kesatuan didalam diri pribadinya sendiri serta mempunyai dasar yang mengandung persatuan, kesatuan yang kokoh dan kekal. “Pancasila sebenarnya bukan lahir secara mendadak pada tahun 1945 namun melalui proses yang panjang, dimatangkan oleh sejarah perjungan Bangsa kita sendiri, melihat pengalaman-pengalaman bangsa-bangsa lain, diilhami oleh ide-ide besar dunia, dengan tetap berakar pada kepribadian Bangsa kita sendiri,” demikian yang diungkapkan oleh Presiden Soeharto pada peringatan Hari Ulang Tahun Parkindo 1969 (lihat Krissantono 1976 : 10).

Pancasila yang berasal dari kebudayaan kita telah ada sejak dulu dan menjadi dasar pandangan hidup bangsa Indonesia. Pandangan hidup yang mengaku senasib, setanah air dan sepenanggungan inilah yang mendasari tekad bersama dalam mewujudkan pesatuan dan kesatuan bangsa. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai asal mula pancasila yang menjadi pandangan hidup dalam meningkatkan persatuan bangsa Indonesia.

Dewasa ini pancasila masih menjadi landasan dan pondasi yang di sebut-sebut sebagai alat pemersatu bangsa, di sisi lain masih banyak orang mengabaikan perananannya. Namun akhir-akhir ini muncul kesadaran baru tentang pancasila di gelorakan lagi,yang sudah beberapa lama seperti di lupakan. Pancasila merupakan simbol dan dasar negara republik indonesia yang tidak di miliki oleh negara lain, sudah sejak 7 abad lamanya nenek moyang kita berpancasila tanpa nama yaitu bhineka tunggal ika yang artinya walau berbeda-beda namun tetap satu jua.

(2)

1.2 Fokus Permasalahan

 Apa saja fungsi Pancasila?

 Mengapa Pancasila dijadikan sarana pemersatu bangsa?

 Bagaimana pengaruh Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa?

 Bagaimanakah pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dasar persatuan bangsa Indonesia?

 Bagaimanakah tindakan yang terdapat dalam sila-sila pancasila dalam mewujudkan persatuan?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:

1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila. 2. Untuk menambah pengetahuan tentang Pancasila.

3. Untuk mengetahui pengaruh Pancasila sebagai alat pemersatu Bangsa.

4. Untuk mengetahui sejauh mana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

5. Untuk menjelaskan pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar yang menjadi pemersatu bangsa.

1.4 Ruang Lingkup

(3)

BAB II

Pembahasan

Pancasila sebagai dasar pemerintahan di Indonesia, memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang telah dijelaskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber dari keseluruhan hukum di Indonesia. Namun pada kenyataanya kebijakan hukum di era reformasi pasca amandemen UUD 1945 belum mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila yang menumbuhkan rasa kepercayaan yang tingi terhadap berbagai perbedaan pandangan, suku, agama, ras,dan budaya yang disertai kejujuran yang tinggi, saling menghargai dan menghormati, non diskriminatif dan persamaan hak di depan hukum.

Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk dan multikultur terdiri atas berbagai agama, suku, bangsa, adat istiadat, dan bahasa daerah, menempati wilayah dan kepulauan yang sedemikian luas maka tiddak mungkin berhasil disatukan tanpa tali pengikat yang jelas. Tali pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang dianggap ideal, yang dipahami, dipercaya dan bahkan diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan luhur. Pancasila dianggap sebagai alat pemersatu karena berisi cita-cita dan gambaran tentang nilai-nilai ideal yang akan diwujudkan bangsa ini.

Indonesia dengan agama yang beragam, tentunya memerlukan tali pengikat tersebut untuk melahirkan semangat persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Memang, setiap agama pasti memiliki ajaran tentang gambaran kehidupan ideal, yang masing-masing berbeda. Perbedaan itu tidak akan mungkin dapat disamakan. Apalagi, perbaedaaan itu sudah melewati dan memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, masing-masing pemeluk agama melalui para tokoh atau pemuka agamanya, sudah berjanji akan membangun Negara kesatuan berdasarkan Pancasila.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa agama akan bisa mempersatukan bangsa. Dengan alasan bahwa masing-masing agama selalu mengajarkan tentang persatuan, kebersamaan, dan tolong menolong, sebagai dasar hidup bersama dan bermasyarakat. Akan tetapi, pada kenyataanya tidak sedikit konflik terjadi antara pemeluk agama yang berbeda. Kini orang merasakan perbedaan menjadi halangan untuk bersatu. Maka, di sini lah peran Pancasila dengan sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, merangkum dan sekaligus menyatukan pemeluk agama yang berbeda-beda itu. Para pemeluk agama yang berbeda-beda dari berbagai aspek itu disatukan oleh cita-cita dan kesamaan ideologi bangsa yang tak lain adalah Pancasila.

(4)

Itulah mengapa Pancasila, sejarah dan filsafatnya harus tetap diperkelanlan dan

Sila ketiga Pancasila, yakni Sila Persatuan Indonesia. Artinya, bahwa Pancasila sangat menekankan dan menjunjung tinggi persatuan bangsa. Hal ini berarti, bahwa Pancasila juga menjadi alat pemersatu bangsa. Disebutnya sila Persatuan Indonesia sekaligus juga menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia memiliki perbedaanperbedaan.

Apakah itu perbedaan bahasa (daerah), suku bangsa, budaya, golongan kepentingan, politik, bahkan juga agama. Artinya, bahwa para pemimpin bangsa, terutama mereka yang terlibat dalam penyusunan dasar negara, sangat mengerti dan sekaligus juga

sangat menghormati perbedaan yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Mereka juga menyadari bahwa perbedaan sangat potensial menimbulkan perpecahan bangsa, dan oleh sebab itu mereka juga sangat menyadari pentingnya persatuan bagi bangsa

Indonesia. Pencantuman Sila Persatuan bagi bangsa Indonesia selain menyadari pentingnya persatuan bagi kelangsungan hidup bangsa, juga menunjukkan adanya pemahaman bahwa perbedaan itu suatu realita yang tidak mungkin dihilangkan oleh manusia. Perbedaan sesungguhnya adalah suatu hikmah yang harus disukuri, dan bukan sesuatu yang harus diingkari. Apalagi harus dihilangkan dari muka bumi ini.

Perbedaan adalah juga kodrati yang ada di mana-mana, di negara manapun juga dan di bangsa manapun juga. Menyikapi realita semacam ini, jalan keluarnya tidak dapat tidak adalah menjadikan perbedaan yang ada sebagai suatu kekayaan yang justru

harus dijunjung tinggi dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi, golongan maupun daerah. Dalam wacana nasional maka barometer yang harus dijunjung tinggi adalah kepentingan nasional, dan bukan kepentingan yang lebih kecil, lebih rendah, ataupun yang lebih sempit. Dengan kesadaran semacam ini, maka terlihat jelas bahwa persatuan bangsa sesungguhnya nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua umat manusia. Karena pada hakekatnya, perpecahan atau pertikaian justru akan menghancurkan umat manusia itu sendiri.

Seloka Bhineka tunggal Ika memang sangat tepat untuk direnungkan kembali esensi dan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Karena pada hakekatnya semua bangsa, semua manusia memerlukan persatuan dan kerjasama di antara umat manusia.

Kerjsama butuh persatuan, dan persatuan butuh perdamaian. Oleh sebab itu perpecahan sebagai lawan dari persatuan mutlak perlu dihindari dan disingkirkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari penjelasan ini, kita semakin tahu dan sadar, bahwa Sila Persatuan Indonesia sangat tepat dicantumkan dalam dasar negara, mengingat kebenaran dan kebutuhan yang dihadapi oleh seluruh umat manusia.

(5)

konflik tersebut berpedoman kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta langkah-langkah apa yang harus dilaksanakan.

Telah kita ketahui bersama bahwa negara indonesia terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama, adat istiadat, dan banyak lagi, hal itu akan bisa berdampak pada konflik apabila kita tidak memiliki jiwa kesatuan dan persatuan. Untuk itu di dalam menumbuhkan nilai persatuan dan kesatuan maka salah satu langkah pemecahan adalah perlu dihidupkan kembali penataran pedoman penghayatan pengamalan pancasila (P4) kepada setiap lapisan masyarakat. Karena dengan penataran tersebut secara tidak langsung masyarakat akan memahami tentang dasar falsafah kita dan bagaimana pengaplikasiannya sehingga akan mengurangi konflik-konflik yang terjadi di Negara kita, seperti halnya kalau kita simak Sila-Sila yang ada pada Pancasila, Sila-Sila pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang mengandung nilai saling menghormati antar sesama penganut agama dan tidak memperuncing perbedaan cara-cara pendekatan diri kepada Tuhan. Pada Sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab) terkandung nilai-nilai kemanusiaan antara lain : Pengakuan terhadap adanya martabat manusia; Perlakuan yang adil terhadap martabat manusia; Pengertian manusia yang beradab memiliki daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan. Sehingga tumbuh nilai saling menyayangi dan mengasihi antar sesama serta menghormati nilai-nilai hidup setiap orang. Dengan memahami nilai-nilai ini maka tidak akan terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia seperti pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan lain-lain. Pada Sila ketiga (Persatuan Indonesia) terkandung nilai-nilai sebagai berikut: Persatuan bangsa Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia; Bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia dan memiliki satu tekad yang sama dalam pencapaian cita-cita; Pengakuan terhadap “Ke-Bhineka Tunggal Ika-an” suku Bangsa (etis) dan kebudayaan Bangsa (Berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah dalam pembinaan kesatuan Bangsa. Sedangkan pada Sila keempat (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan) terkandung nilai-nilai: Kedaulatan negara adalah ditangan rakyat; Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang ditempuh melalui jalan musyawarah dengan dilandasi akal sehat; Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempnyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama; Musyawarah untuk mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat. Pada Sila kelima pada Pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) terkandung nilai-nilai: Perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial atau kemasyarakan meliputi seluruh rakyat Indonesia dengan tidak memandang Suku, Agama, Ras dan golongan; Keadilan dalam kehidupan sosial terutama meliputi bidang-bidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan dan Pertahanan/keamanan nasional; Cita-cita masyarakat adil dan makmur material dan spiritual yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia; Keseimbangan antara hak dan kewajiban menghormati hak orang lain.

(6)

Tanpa memiliki suatu pandangan hidup, bangsa Indonesia akan merasa terombang ambing dalam mengahadapi suatu persoalan masyarakat itu sendiri maupun persoalan besar umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

Pandangan hidup bangsa haruslah berakar pada pandangan hidup masyarakat dengan kata lain bahwa pandangan hidup masyarakat dengan kata lain bahwa pandangan hidup bangsa harus berakar dari nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat yang menjadi unsur lapisan masyarakat itu.

Setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah di Indonesia pastilah mempunyai ciri kebudayaan dan pandangan hidup masyarakat yang perlu dilindungi, dihormati, serta dimajukan oleh negara.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa memperoleh dukungan dari rakyat Indonesia karena sila-sila serta nilai-nilai yang secara keseluruhan merupakan intisari dari nilai-nilai budaya masyarakat yang majemuk. Pancasila memberikan corak yang khas dalam kebudayaan masyarakat, oleh karena itu,tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan merupakan ciri khas yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Realisasi pelaksanaan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, sehingga tertanam nilai-nilai Pancasila dalam rangka mencegah terjadinya konflik antar suku, agama, dan daerah serta menghindari adanya keinginan pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia maka perlu dilakukan secara berangsur-angsur kepada lapisan masyarakat tentang pemahaman lebih mendalam mengenai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 , sehingga timbul jiwa persatuan dan kesatuan.

Oleh karena itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia mencantumkan semboyan Bhineka Tunggal Ika pada lambang Negara, Persatuan dan Kesatuan tidak boleh mematikan keanekaragaman dan kemajemukan sebagaimana kemajemukan tidak boleh menajdi faktor pemecah belah, tetapi harus menjadi sumber daya yang kaya untuk memajukan kesatuan dan persatuan itu.

`Pancasila adalah asas persatuan, kesatuan, damai, kerjasama,hidup bersama dari bangsa Indonesia yang warga-warganya sebagai manusia mempunyai bawaan kesamaan dan perbedaan.

Unsur-unsur yang terkandung didalam pancasila itu merupakan ciri-ciri khas dari pada kita bangsa Indonesia,oleh karena itu dengan sendirinya juga segala keadaan didalam kehidupan kenegaraan kita perwujudannya didasarkan pada filsafat pancasila. Rakyat, bangsa, masyarakat, adat istiadat, kebudayaan, kesusilaan, agama/kepercayaan dan daerah, semuanya itu termasuk dalam sifat dan keadaan batin atau bawaan daripada negara dan bangsa kita. Dasar filsafat Negara kita tersusun atas lima hal, yang masing-masing merupakan suatu sila,suatu asas peradaban,dan suatu asas keadaban.

(7)

konsepsinya pada hakekatnya bukan mengenai politik, akan tetapi suatu asas pandangan dunia, suatu asas pandangan hidup, buah hasil perenungan jiwa yang dalam, buah hasil penelaahan cipta yang teratur dan seksama diatas basis pengetahuan dan pengalaman hidup yang luas. (lihat Notonogoro hal.3). Berbicara mengenai pancasila seharusnya kita mendudukkan diri sebagai sesama warga bangsa, sesama saudara, dimana kita telah mempunyai sejarah yang sama,dan setelah proklamasi kemerdekaan, kita mempunyai satu tekad untuk menyusun hidup bersama dalam Negara, yang bersatu, merdeka, adil dan makmur.( Pembukaan UUD 1945). Dengan mengakui memiliki pandangan hidup dan sejarah yang sama, itulah yang menjadi dasar persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang hidup bersama memiliki tekad bersama dalam mencapai tujuan bangsa yang dicita-cita kan.

(8)

BAB III

Penutup

A. Kesimpulan

Sebagai pemersatu bangsa, Pancasila mutlak diperlukan oleh seluruh generasi bangsa. Sekalipun bangsa Indonesia yang sekarang sudah bersatu, tidak berarti Pancasila tidak diperlukan lagi. Karena yang disebut bangsa Indonesia bukan hanya yang sekarang ini ada, tetapi juga yang nanti akan ada. Selama masih terjadi proses regenerasi, selama itu pula Pancasila sebagai pemersatu Bangsa masih tetap kita perlukan. Itu berarti, selama masih ada bangsa Indonesia, selama itu pula masih kita perlukan alat pemersatu bangsa. Ini berarti, bahwa selama masih ada bangsa Indonesia, maka Pancasila sebagai dasar negara masih tetap kita butuhkan. Ini sekaligus membuktikan kebenaran Pancasila, baik selaku dasar Negara, maupun sebagai kepentingan lain. Sehingga Pancasila menunjukkan memiliki banyak fungsi atau multy function.

B. Saran

(9)

Daftar Pustaka

Bahan Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. 1990. Jakarta: BP-7

Pusat.

Darmodihardjo, Dardji. 1997. Orientasi Pancasila. Malang: Universitas Brawijaya.

---, et.al 1981. Santiaji Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.

Moedjanto, G. 1989. Pancasila: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia.

Notonagoro. 1974. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: Pantjuran Tudjuh.

Oesman, Oetojo dan Alfian (Ed). 1991. Pancasila sebagai Ideologi: Dalam Berbagai Bidang

Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara. Jakarta: BP-7 Pusat.

Panitia Lima, 1997. Uraian Pancasila. Jakarta: Mutiara.

Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ketetapan MPR No II/MPR/1978). 1990.

Jakarta: BP-7 Pusat.

Pranarka, A.M.W. 1985 Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila. Jakarta: CSIS.

Soekarno.t.th. Lahirnya Pancasila. Jakarta: Deppen.

Sunoto, 1982. Mengenal Filsafat Pancasila. Seri pertama, kedua, ketiga, keempat. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi UII.

Undang-undang Dasar 1945. 1990. Jakarta: BP-7 Pusat.

Wahyono, Padmo. 1984. Bahan-bahan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Jakarta: Aksara Baru.

YAmin, Muhammad. 1971. Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945. Jakarta: Siguntang.

Bakry MS, Noor. 1994. Pancasila Yuridis Kenegaraan Ed.revisi, Liberty : Yogyakarta. Rusmarsini, dkk, kewarganegaraan untuk kelas 2 SMP CV. Media Karya Putra, Kartosura

Undang-Undang Dasar tahun 1945

(10)

http://ebuddy921.blogspot.co.id/2014/01/pancasila-sebagai-alat-pemersatu-bangsa.html/ 19.09.2015/09.28/

http://www.scribd.com/doc/216780904/Pancasila-Sebagai-Alat-Pemersatu-Bangsa#scribd/ 19.09.2015/09.28

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...