Sikap Pemerintah terhadap Perusaahan asing
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi masih belum kaya akan sumber daya manusia. Akibat dari keadaan tersebut maka Indonesia kekurangan tenaga ahli untuk mengolah sumber daya alam yang dimilikinya. Keadaan tersebut juga mengakibatkan banyaknya perusahaan asing di Indonesia. Mereka datang ke Indonesia dengan mendirikan perusahaan dan menjadikan sumber daya alam yang kita miliki sebagai bahan baku. Berikut adalah keuntungan dan kerugian dengan banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia
Keuntungan
a. Mengurangi pengangguran
Dengan adanya perusahaan asing di Indonesia maka pengangguran dapat dikurangi, karena akan bertambahnya kesempatan kerja bagi para pencari kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan rakyat
Adanya perusahaan asing di Indonesia dapat menambah kesejahteraan rakyat, karena kita tidak perlu mendatangkan barang dari luar negeri, karena barang – barang tersebut diproduksi di Indonesia.
c. Meningkatkan pendapatan negara
Negara akan mendapatkan sumber penghasilan dari pajak yang dibayarkan oleh perusahaan asing tersebut.
d. Penerapan teknologi
Mereka yang bekerja di perusahaan asing dapat menerapkan keahlian teknologinya karena akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu di tempat ia bekerja.
Kerugian
a. Tercemarnya lingkungan
b. Perubahan fungsi lahan
Adanya perusahaan asing di Indonesia dapat menimbulkan perubahan fungsi lahan. Misalnya yang seharusnya untuk lahan pertanian tetapi fungsinya akan beralih menjadi pabrik tempat perusahaan asing itu berdiri.
c. Rakyat tidak menikmati hasil alam dengan sepenuhnya.
Karena yang berdiri adalah perusahaan asing maka kekayaan alam yang seharusnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, maka tidak sepenuhnya di nikmati oleh rakyat, karena harus berbagi dengan yang punya modal.
Daftar pustaka
http://asagenerasiku.blogspot.co.id/2012/10/keuntungan-dan-kerugian-adanya.html
http://www.jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/2007/25TAHUN2007UU.htm
http://avifharyana.com/regulasi/uu-no-7-tahun-2014-tentang-perdagangan/
http://harianhaluan.com/news/detail/47464/edukasi-anti-terorisme
http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.co.id/2013/05/sistem-hukum-indonesia.html
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2007
TENTANG
PENANAMAN MODAL
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEBIJAKAN DASAR PENANAMAN MODAL Pasal 4
(1)Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk: a. mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi
penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional; dan b. mempercepat peningkatan penanaman modal.
(2)Dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah:
a. memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional; b. menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha
bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.
(3)Kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diwujudkan dalam bentuk Rencana Umum Penanaman Modal.
oposisi
Secara emperis harus dipahami, bahwa kekuasaan eksekutif itu cenderung berpotensi menjadi birokratis dan tanpa pengawalan sebuah kekuatan oposisi akan cenderung menjadi stagnan. Dalam konteks ini harus dipahami, demokrasi sejati selalu bertumpu atas konsensus dan disensus. Seperti yang ditegaskan oleh filsuf Slovenia Slavoj Zizek dalam sebuah tesisnya mengenai asas logika perbedaan minimal yang senantiasa menghadirkan sudut pandang baru pada setiap fase kehidupan. Menurut Zizek dalam tradisi demokrasi modern, pembatasan kuasa negara perlu dimanifestasikan dalam sebuah sistem yang memungkinkan kekuatan oposisi berperan untuk memantau kualitas bekerjanya eksekusi kebijakan.
Justru rakyat melalui wakilnya di parlemen harus melaksanakan kontrol kritis terhadap kuasa eksekutif yang memiliki mandat yang sebangun dengan fungsi berbeda dengan kuasa legislatif yang masing-masing mendapat otoritas dari amanah rakyat. Hadirnya oposisi sebagai kuasa “negativitas” dalam sistem parlemen merepresentasi realitas dari apa yang oleh filsuf poluitik Argentina Ernesto Laclau katakan bahwa masyarakat tak dapat dan tak mungkin dibentuk secara total, ia selalu retak, berubah, dan mengalami disintegrasi.
Dalam pandangan Zizek, keretakan struktur dalam realitas sosiopolitik adalah sesuatu yang tak terhindarkan, bahkan dalam suatu masyarakat yang diatur oleh rezim totaliter sekalipun. Dalam posisi ini subjek-subjek secara politik selalu harus diposisikan sebagai pergerakan antara yang simbolik terhadap yang riil.
Oleh karena itu, kehadiran oposisi dalam sistem demokrasi adalah upaya subjek untuk
mengaktualisasikan makna demokrasi hakiki yang salah satunya ditandai oleh sebuah relasi yang bergerak antara konsensus dan disensus, checks and balances serta harmoni dan disharmoni. Terlepas dari hal itu sebuah kuasa akan menjadi totaliter dan absolut.
Tak satu undang-undang pun mengharamkan oposisi, karena disadari bahwa salah satu komponen negara demokrasi yang membedakannya dengan negara non-demokrasi adalah eksisnya unsur oposisi. Alasannya sangat logis, karena oposisi dapat menjadi kekuatan pengontrol dan penyeimbang jalan pelaksanaan pemerintahan dalam suatu negara, sehingga pemerintahan dan negara dapat dicegah untuk tidak terjerumus ke dalam keadaan abuse of power.
Oleh sebab itu, oposisi adalah salah satu elemen penting untuk membangun negara demokrasi yang kuat. Dari sudut pandang penting mekanisme checks and balances, oposisi semestinya tidak perlu dicemaskan dan kemudian menjadi takut untuk menerima kehadirannya.
Justru, adanya kekuatan oposisi dapat menjaga pelaksanaan negara demokrasi berjalan dengan baik dan demokratis. Beroposisi politik berarti melakukan kegiatan pengawasan atas kekuasaan politik yang bisa keliru dan bisa benar. Ketika kekuasaan menjalani kekeliruan, oposisi berfungsi mengabarkan kepada publik kekeliruan itu sambil membangun penentangan dan perlawanan atasnya.
Sebaliknya, ketika kekuasaan menjalankan fungsinya secara benar, maka oposisi
menggarisbawahinya sambil membangun kesadaran dan aksi publik untuk meminta kelanjutan dan konsistensi dari praktik kebenaran itu.
Penutup
Maka, sama mulianya dan terhormatnya dengan kuasa yang memerintah, kuasa oposisi juga mengabdi pada mandat rakyat untuk mencegah kekuasaan berkembang menjadi tirani dan mencederai rakyat, sang pemilik sejati kekuasaan dalam negara demokrasi.
kekuatan “penyeimbang”, untuk memastikan roda pemerintahan berjalan di atas jalurnya yang benar.
Uu perdagangan
Setelah selama 80 tahun Indonesia menggunakan peraturan penyelenggaraan
perdagangan Bedfrijfsreglementerings Ordonnantie (BO) tahun 1934 yang merupakan hukum warisan kolonial Belanda, pada bulan Februari 2014 Indonesia secara resmi telah mempunyai undang-uang yang mengatur perdagangan. Definisi perdagangan adalah tatanan kegiatan yang terkait dengan transakasi barang dan/ atau jasa di dalam negeri dan melampaui batas wilayah negara dengan tujuan pengalihan hak atas barang dan/atau jasa untuk memperoleh imbalan atau kompensasi. Undang-Undang No.7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dibuat dengan
mengedepankan kepentingan nasional dan ditujukan untuk melindungi pasar domestik dan produk dalam negeri, membuat regulasi perdagangan dalam negeri dan memberikan
perlindungan terhadap konsumen. Semangat pemerintah dalam menyusun undang-undang ini adalah:
1. Bahwa produk-produk yang diperdagangkan di dalam negeri semaksimal mungkin juga diproduksi di dalam negeri.
2. Menopang ketahanan ekonomi nasional melalui ketahanan pangan dan ketahanan energi, serta menjaga keseimbangan kepentingan produsen di hulu maupun kepentingan
konsumen di hilir semaksimal mungkin
3. Bahwa kerangka perlindungan konsumen perlu ditegakkan melalui kewajiban penggunaan label berbahasa Indonesia untuk barang-barang yang diperdagangkan di dalam negeri dan ketentuan pemenuhan SNI.
4. Bahwa pelaku usaha di seluruh penjuru tanah air terutama pelakuk KUMKM dapat bekerja lebih efisien dan berkembang lebih maju.
5. Menjadi dasar dan payung hukum bagi ketertiban dan tumbuh kembangnya pelaku usaha yang bergerak dalam sistem perdagangan melalui elektronik (e-commerce).
6. Kedaulatan rakyat dilindungi dengan dilibatkannya DPR dalam ratifikasi perjanjian kerjasama perdagangan internasional.
7. Bahwa pembentukan Komite Perdagangan Nasional diperlukan untuk membantu pemerintah dalam percepatan pencapaian pelaksanaan kebijakan perdagangan.
Undang-Undang No.7 Tahun 2014 tentang Perdagangan mengatur sektor perdagangan secara menyeluruh yang meliputi Perdagangan Dalam Negeri; Perdagangan Luar Negeri; Perdagangan Perbatasan; Standardisasi; Perdagangan Melalui Sistem Elektronik; Perlindungan dan
Pengawasan; Penyidikan; dan JasaYang Dapat Diperdagangkan. Karena sifatnya yang menyeluruh, dengan terbitnya UU ini maka ketentuan dalam BO Tahun 1934 serta Undang-Undang lain yang bersifat parsial seperti Undang-Undang-Undang-Undang tentang Barang (UU No. 10 Tahun 1961), Undang-Undang tentang Perdagangan Barang-Barang dalam Pengawasan (UU No. 8 Prp Tahun 1962), dan Undang-Undang tentang Pergudangan (UU No. 11 Tahun 1965) tidak berlaku lagi.
Selanjutnya UU Perdagangan ini mengamanatkan dijabarkannya pedoman teknis pelaksanaan pasal-pasal kedalam 9 peraturan pemerintah, 14 peraturan presiden, dan 20 peraturan menteri yang diperinci sebagai berikut:
A. Peraturan Pemerintah
1. Peraturan Pemerintah mengenai sanksi administratif terhadap pemilik gudang yang tidak melakukan pendaftaran gudang (pasal 15);
2. Kewajiban dan pengenaan sanksi terhadap penyedia jasa yang tidak memiliki tenaga teknis yang kompeten (pasal 20);
3. Cara pembayaran dan cara penyerahan barang dalam kegiatan ekspor dan impor (pasal 40);
4. Perdagangan perbatasan (pasal 56);
5. Tata cara penetapan dan pemberlakuan standardisasi barang dan/atau standardisasi jasa (pasal 64);
6. Transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (pasal 66);
7. Tindakan pengamanan perdagangan, tindakan anti dumping, dan tindakan imbalan (pasal 22);
8. Tata cara peninjauan kembali dan pembatalan perjanjian perdagangan internasional (pasal 85);
9. Sistem informasi perdagangan (pasal 92). B. Peraturan Presiden
1. Pembangunan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas pengelolaan pasar rakyat (pasal 13);
2. Pengaturan perizinan, tata ruang, zonasi pasar rakyat, pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan perkulakan (pasal 14);
4. Pengendalian barang kebutuhan pokok dan barang penting (pasal 25); 5. Penyimpanan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting (pasal 29);
6. Barang yang diperdagangkan yang terkait dengan keamanan, keselamatan, kesehatan dan lingkungan hidup ();
7. Pendaftaran barang serta Penghentian kegiatan perdagangan barang dan Penarikan barang. (pasal 34);
8. Barang dan/atau jasa yang dilarang atau dibatasi perdagangannya (pasal 35);
9. Pemberdayaan koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor perdagangan (pasal 73);
10. Pelaksanaan kampanye pencitraan Indonesia dalam rangka promosi dagang untuk memperkenalkan barang dan/atau jasa di dalam dan di luar negeri (pasal 79);
11. Pembentukan tim perunding yang bertugas mempersiapkan dal melakukan perundingan (pasal 86);
12. Tata cara pemberian preferensi kepada negara kurang berkembang (pasal 87); 13. Komite Perdagangan Nasional (pasal 97);
14. Perdagangan barang dalam pengawasan pemerintah (pasal 101). C. Peraturan Menteri
1. Penggunaan atau kelengkapan label berbahasa Indonesia (pasal 6); 2. Distribusi Barang (pasal 11);
3. Tata cara pendaftaran gudang (pasal 14);
4. Pencatatan administrasi barang dalam gudang (pasal 17); 5. Peningkatan penggunaan produk dalam negeri (pasal 22); 6. Perdagangan antar pulau (pasal 23);
9. Tata cara pengenaan sanksi administratif terhadap eksportir yang tidak bertanggung jawab terhadap barang yang diekspor (pasal 43);
10. Pengenal sebagai importir (pasal 45)
11. Tatacara pengenaan sanksi administratif terhadap importir yang tidak bertanggung jawab terhadap barang yang diimpor (pasal 46)
12. Penetapan barang yang diimpor dalam keadaan tidak baru (pasal 47) 13. Perizinan ekspor dan Impor (pasal 49)
14. Barang yang dilarang untuk diekspor maupun diimpor (pasal 51) 15. Barang yang dibatasi untuk diekspor maupun diimpor (pasal 52);
16. Pengenaan sanksi administratif untuk eksportir dan importir yang mengekspor maupun mengimpor barang yang tidak sesuai dengan ketentuan pembatasan barang (pasal 52). 17. Pelaksanaan pembinaan terhadap pelaku usaha dalam rangka pengembangan ekspor. 18. Standar penyelenggaraan dan keikutsertaan dalam pameran dagang.
19. Tata cara penyelenggaraan kemudahan, dan keikutsertaan dalam promosi dagang dalam rangka kegiatan pencitraan Indonesia.
20. Pelaksanaan pengawasan kegiatan perdagangan dan pengawasan terhadap barang yang ditetapkan senagai barang dalam pengawasan.
Edukasi Anti Terorisme
Sesuai dengan amanah pembukaan UUD 1945, bahwa pemerintah berkewajiban melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, juga berkewajiban untuk ‘’mencerdaskan kehidupan bangsa..’’ dan seterusnya. Berdasarkan hal inilah pemerintah dituntut untuk mampu menjalankan kebijakannya dalam memberantas aksi terorisme.
Dalam Buku 2 Bab 3 KUHP diatur tentang Kejahatan-kejahatan terhadap Negara Sahabat dan Terhadap Kepala Negara Sahabat serta Wakilnya. Semisal, dalam Pasal 139a disebutkan bahwa makar dengan maksud melepaskan wilayah atau daerah lain dari suatu negara sahabat untuk seluruhnya atau sebagian dari kekuasaan pemerintah yang berkuasa di situ, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Pasal ini dapat digunakan bagi WNI yang behubungan dengan ISIS mengingat ISIS memerangi pemerintahan yang sah di Iraq dan Syria. Dua negara ini merupakan negara sahabat dari
Indonesia. Untuk upaya mencabut status WNI dari warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS atau kelempok teroris tertentu, agaknya pemerintah Indonesia sulit merealisasi-kannya karena terbentur dengan aturan Pasal 23 Undang-Undang No. 12 Tahun 2006. Di dalam Pasal 23 Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 status WNI dapat hilang karena secara sukarela masuk dinas asing dan menyatakan sumpah dan janji setia pada negara asing tersebut.
Karena aksi terorisme merupakan suatu perbuatan yang di kategorikan sebagai ‘’extra ordinary crime’’ yang dapat merenggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa dan bertentangan dengan HAM (Pasal 28I UUD 1945) maka, untuk menjamin keberlangsungan hak untuk hidup terhadap warga negara, pemerintah dirasa perlu melibatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan pendeteksian terorisme. Hal inilah yang seringkali terlupakan dalam upaya pen-cegahan terorisme di Indonesia.
Berkaca dari China, yang berhasil mempenetrasikan institusi-institusi akar rumput hingga di komunitas, bahkan keluarga dan memanfaatkan mereka untuk mencegah dan menanggulangi terorisme. Salah satu strategi yang dapat dijadikan adalah memberikan sosialisasi berupa edukasi pemahaman tentang terorisme berupa upaya pencegahan, penanggulangan dan sanksi hukum yang dijatuhkan.
Sistem edukasi ini harus dilakukan sedini mungkin ‘’cegah-tangkal ’’ yang berlapis dengan ujung tombak institusi-institusi pemerintahan di tongkat komunitas (RT/RW,dusun, dan kampung). Selain itu dalam mencegah open reqrutmen kader anggota terorisme, terutama yang menyasar kaum muda-mudi generasi harapan bangsa, maka di perlukan suatu upaya perlindungan dengan memberikan pendidikan karakter ataupun kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan seperti gerakan ‘’ maghrib ke surau ’’ yang di lakukan oleh Pemerintah kota Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, strategi yang dapat dijalankan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam
pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah dengan menggalakan ‘’Siskamswakara’’ (Sistem Keamanan Swadaya Masyarakat) di seluruh wilayah Indonesia dengan kebijakan-kebi-jakan sebagai berikut :
Upaya-upaya yang dilakukan secara preventif dengan menerapkan sistem edukasi secara dini dianggap lebih mampu untuk memproteksi aksi terorisme dan mencegah beredarnya paham radi-kalisme agama di kalangan masyarakat. Upaya edukasi perlu di dorong untuk diterapkan karena mampu memperbaiki mental dan pola pikir masyarakat bahwa setiap aksi terorisme yang mengatas namakan dan membawa kepentingan agama merupakan suatu kekeliruan dan
pemahaman yang salah. Karena edukasi merupakan langkah pertama pencegahan terorisme dan berperan penting dalam mencedaskan kehidupan bangsa. ***
Dalam hukum positif ( ius constitutum ) yang berlaku di Indonesia, literatur
perundang-undangan yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana terorisme dikategorikan sebagai ketentuan khusus ( lex specialis ). Ketentuan tindak pidana terorisme ini berada diluar Kitab Un-dang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Karena KUHP tidak mencantumkan tindak pidana terorisme, sementara serangkaian aksi teror bom menghantui publik, maka untuk mengisi
kekosongan hukum ‘’vacum of law’’ tersebut, maka pemerintah Indonesia mengeluarkan Perppu No. 1 Tahun 2002 yang kemudian telah disahkan menjadi Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemeberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Terorisme menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003, terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan undang-undang ini. Sedangkan yang dimaksud dengan unsur-unsur terorisme dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara dengan membahayakan kedaulatan bangsa dan negara yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan teror dan rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atas hak untuk hidup atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau kerusakan pada objek vital yang strategis. Ancaman pidana yang terdapat dalam Undang-Undang ini pada Pasal 6 ancaman pidananya paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun penjara. Sedangkan pada Pasal 7 di pidana penjara seumur hidup.
Sedangkan dalam perspektif agama islam, pembahasan tentang terorisme penulis mengutip firman Allah dalam Al-Quran yang berbunyi sebagai berikut:
‘’Barangsiapa yang membunuh seorang manusia,bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.(QS Al-Maidah :32)
pemimpin kaum muslimin (kebijakan imam), bagi yang masih memiliki orang tua harus seizin orang tuanya. Kekerasan terorisme tidak boleh di sangkut pautkan dengan nilai-nilai agama. Aksi terorisme yang mengkaitkan dan membawa ajaran agama adalah suatu penamaan yang batil.
Sistem Hukum di Indonesia
Sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan beberapa sistem hukum. Sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan dari hukum agama, hukum adat, dan hukum negara eropa terutama Belanda sebagai Bangsa yang pernah menjajah Indonesia. Belanda berada di Indonesia sekitar 3,5 abad lamanya. Maka tidak heran apabila banyak peradaban mereka yang diwariskan termasuk sistem hukum. Bangsa Indonesia sebelumnya juga merupakan bangsa yang telah memiliki budaya atau adat yang sangat kaya. Bukti peninggalan atau fakta sejarah mengatakan bahwa di Indonesia dahulu banyak berdiri kerajaan-kerajaan hindu-budha seperti Sriwijaya, Kutai, Majapahit, dan lain-lain. Zaman kerajaan-kerajaan meninggalkan warisan-warisan budaya yang hingga saat ini masih terasa. Salah satunya adalah peraturan-peraturan adat yang hidup dan bertahan hingga kini. Nilai-nilai hukum adat merupakan salah satu sumber hukum di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar maka tidak heran apabila bangsa Indonesia juga menggunakan hukum agama terutama Islam sebagai pedoman dalam kehidupan dan juga menjadi sumber hukum Indonesia.
Sejarah Hukum di Indonesia
Periode Kolonialisme
Periode kolonialisme dibedakan menjadi tiga era, yaitu: Era VOC, Liberal Belanda dan Politik etis hingga pendudukan Jepang.
a. Era VOC
Pada era penjajahan VOC, sistem hukum yang digunakan bertujuan untuk:
1. Keperluan ekspolitasi ekonomi untuk membantu krisis ekonomi di negera Belanda; 2. Pendisiplinan rakyat asli Indonesia dengan sistem yang otoriter
3. Perlindungan untuk orang-orang VOC, serta keluarga, dan para imigran Eropa.
Hukum Belanda diterapkan terhadap bangsa Belanda atau Eropa. Sedangkan untuk rakyat pribumi, yang berlaku ialah hukum-hukum yang dibuat oleh tiap-tiap komunitas secara mandiri. Tata politik &
b. Era Liberal Belanda
Tahun 1854 di Hindia-Belanda dikeluarkan Regeringsreglement (kemudian dinamakan RR 1854) atau Peraturan mengenai Tata Pemerintahan (di Hindia-Belanda) yang tujuannya adalah melindungi kepentingan usaha-usaha swasta di tanah jajahan & untuk yang pertama kalinya mencantumkan perlindungan hukum untuk rakyat pribumi dari pemerintahan jajahan yang sewenang-wenang. Hal ini bisa dilihat dalam (Regeringsreglement) RR 1854 yang mengatur soal pembatasan terhadap eksekutif (paling utama Residen) & kepolisian, dan juga jaminan soal proses peradilan yg bebas.
Otokratisme administrasi kolonial masih tetap terjadi pada era ini, meskipun tidak lagi sekejam dahulu. Pembaharuan hukum yang didasari oleh politik liberalisasi ekonomi ini ternyata tidak dapat
meningkatkan kesejahteraan rakyat pribumi, sebab eksploitasi masih terus terjadi.
c. Era Politik Etis Sampai Kolonialisme Jepang
Politik Etis diterapkan di awal abad ke-20. Kebijakan-kebijakan awal politik etis yang berkaitan langsung dengan pembaharuan hukum antara lain:
1. Pendidikan bagi rakyat pribumi, termasuk juga pendidikan lanjutan hukum; 2. Pendirian Volksraad, yaitu lembaga perwakilan untuk kaum pribumi; 3. Manajemen organisasi pemerintahan, yang utama dari sisi efisiensi; 4. Manajemen lembaga peradilan, yang utama dalam hal profesionalitas;
5. Pembentukan peraturan perundang-undangan yg berorientasi pada kepastian hukum.
Sampai saat hancurnya kolonialisme Belanda, pembaruan hukum di Hindia Belanda meninggalkan warisan: i) Pluralisme/dualisme hukum privat dan pluralisme/dualisme lembaga-lembaga peradilan; ii) Pengelompokan rakyat ke menjadi tiga golongan; Eropa dan yang disamakan, Timur Asing, Tionghoa & Non-Tionghoa, & Pribumi.
Masa penjajahan Jepang tidak banyak terjadi pembaruan hukum di semua peraturan
perundang-undangan yang tidak berlawanan dengan peraturan militer Jepang, tetap berlaku sambil menghapus hak-hak istimewa orang-orang Belanda & Eropa lainnya. Sedikit perubahan perundang-undangan yang dilakukan: i) Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang awalnya hanya berlaku untuk golongan Eropa & yang setara, diberlakukan juga untuk kaum Cina; ii) Beberapa peraturan militer diselipkan dalam
Era Revolusi Fisik Sampai Demokrasi Liberal a. Era Revolusi Fisik
i) Melanjutkan unfikasi badan-badan peradilan dengan melaksanakan penyederhanaan;
ii) Mengurangi serta membatasi peranan badan pengadilan adat & swapraja, terkecuali badan-badan pengadilan agama yg bahkan diperkuat dengan pembentukan Mahkamah Islam Tinggi.
b. Era Demokrasi Liberal
Undang-undang Dasar Sementara 1950 yang sudah mengakui HAM. Namun pada era ini pembaharuan hukum & tata peradilan tidak banyak terjadi, yang terjadi adalah dilema untuk mempertahankan hukum & peradilan adat atau mengkodifikasi dan mengunifikasinya menjadi hukum nasional yang peka terhadap perkembangan ekonomi dan tata hubungan internasional. Selajutnya yang terjadi hanyalah unifikasi peradilan dengan menghapuskan seluruh badan-badan & mekanisme pengadilan atau penyelesaian sengketa di luar pengadilan negara, yang ditetapkan melalui UU No. 9/1950 tentang Mahkamah Agung dan UU Darurat No. 1/1951 tentang Susunan & Kekuasaan Pengadilan.
Era Demokrasi Terpimpin Sampai Orde Baru a. Era Demokrasi Terpimpin
Perkembangan dan dinamika hukum di era ini
i) Menghapuskan doktrin pemisahan kekuasaan & mendudukan MA & badan-badan pengadilan di bawah lembaga eksekutif;
ii) Mengubah lambang hukum "dewi keadilan" menjadi "pohon beringin" yang berarti pengayoman; iii) Memberikan kesempatan kepada eksekutif untuk ikut campur tangan secara langsung atas proses peradilan sesuai UU No.19/1964 & UU No.13/1965;
iv) Menyatakan bahwa peraturan hukum perdata pada masa pendudukan tidak berlaku kecuali hanya sebagai rujukan, maka dari itu hakim harus mengembangkan putusan-putusan yang lebih situasional & kontekstual.
b. Era Orde Baru
melancarkan: i) Pelemahan lembaga hukum di bawah kekuasaan eksekutif; ii) Pengendalian sistem pendidikan & pembatasan pemikiran kritis, termasuk dalam pemikiran hukum; Kesimpulannya, pada era orba tidak terjadi perkembangan positif hukum Nasional.
Periode Pasca Orde Baru (1998 – Sekarang)
Semenjak kekuasaan eksekutif beralih ke Presiden Habibie sampai dengan sekarang, sudah dilakukan 4 kali amandemen UUD RI 1945. Beberapa pembaruan formal yang terjadi antara lain: 1) Pembaruan sistem politik & ketetanegaraan; 2) Pembaruan sistem hukum & HAM; dan 3) Pembaruan sistem ekonomi.
Ciri-ciri Sistem Hukum
terdapat perintah dan larangan
terdapat sanksi tegas bagi yang melanggar
perintah dan larangan harus ditaati untuk seluruh masyarakat
Tiap-tiap orang harus bertindak demikian untuk menjaga ketertiban dalam bermasyarakat. Oleh karena itu, hukum meliputi berbagai peraturan yang menentukan dan mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain yang dapat disebut juga kaedah hukum yakni peraturan-peraturan kemasyarakatan.
Kaedah Hukum
Sumber-sumber yang menjadi kaedah hukum atau peraturan kemasyarakatan:
1. Norma Agama merupakan peraturan hidup yang berisi perintah dan larangan yang bersumber dari Yang Maha Kuasa. Contoh: jangan membunuh, hormati orang tua, berdoa, dll
2. Norma Kesusilaan merupakan peraturan yang bersumber dari hati sanubari. contohnya: melihat orang yang sedang kesulitan maka hendaknya kita tolong.
3. Norma Kesopanan merupakan peraturan yang hidup di masyarakat tertentu. contohnya: menyapa orang yang lebih tua dengan bahasa yang lebih tinggi atau baik.
4. Norma Hukum merupakan peraturan yang dibuat oleh penguasa yang berisi perintah dan larangan yang bersifat mengikat: contohnya: ttiap indakan pidana ada hukumannya.
Unsur-unsur Hukum
1. Peraturan yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat 2. Peraturan yang ditetapkan oleh instansi resmi negara
3. Peraturan yang bersifat memaksa 4. Peraturan yang memiliki sanksi tegas. Sifat Hukum
Agar peraturan hidup kemasyarakatan agar benar-benar dipatuhi dan di taati
sehingga menjadi kaidah hukum, peraturan hidup kemasyarakata itu harus memiliki sifat mengatur dan memaksa. Bersifat memaksa agar orang menaati tata tertib dalam masyarakaty serta memberikan sanksi yang tegas (berupa hukuman) terhadap siapa yang tidak mau patuh menaatinya.
Tujuan Hukum
Hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum harus pula bersendikan pada keadilan, yaitu asas-asas keadilan dari masyarakat itu. Sementara itu, para ahli hukum memberikan tujuan hukum menurut sudut
pandangnya masing-masing.
1. Prof. Subekti, S.H. hukum itu mengabdi pada tujuan Negara yang dalam pokoknya ialah mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyatnya.
2. Prof. MR. dr. L.J. Van Apeldoorn, tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai.
3. Geny, hukum bertujuan semata-mata untuk mencapai keadilan, dan sebagai unsur daripada keadilan disebutkannya “kepentingan daya guna dan
kemanfaatan”.
4. Jeremy Betham (teori utilitas), hukum bertujuan untuk mewujudkan semata-mata apa yang berfaedah bagi orang.
5. Prof. Mr. J. Van Kan, hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak dapat diganggu.
Berdasarkan pada beberapa tujuan hukum yang dikemukakan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan hukum itu memiliki dua hal, yaitu :
1. untuk mewujudkan keadilan
1. menjamin adanya kepastian hukum.
2. Menjamin keadilan, kebenaran, ketentraman dan perdamaian.
3. Menjaga jangan sampai terjadi perbuatan main hakim sendiri dalam pergaulan masyarakat.
Sumber Hukum
Sumber hukum ialah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan-kekutatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang jika dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata. Sumber hukum dapat ditinjau dari segi :
1. Sumber hukum material, sumber hukum yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, misalnya ekonomi, sejarah, sosiologi, dan filsafat. Seorang ahli kemasyarakatan (sosiolog) akan menyatakan bahwa yang menjadi sumber hukum adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Demikian sudut pandang yang lainnya pun seterusnya akan bergantung pada pandangannya masing-masing bila kita telusuri lebih jauh.
2. Sumber hukum formal, membagi sumber hukum menjadi :
Undang-undang (statue), yaitu suatu peraturan Negara yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat diadakan dan dipelihara oleh penguasa Negara.
a) Dalam arti material adalah setiap peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang dilihat dari isinya mengikat secara umum seperti yang diatur dalam TAP MPRS No. XX/MPRS/1966.
b) Dalam arti formal adalah keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang karena bentuknya dan dilibatkan dalam pembuatannya disebut sebagai undang-undang
Kebiasaan (custom/adat), perbuatan manusia yang tetap dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama kemudian diterima dan diakui oleh masyarakat. Apabila ada tindakan atau perbuatan yang berlawanan dengan kebiasaan tersebut, hal ini dirasakan sebagai pelanggaran.
Keputusan Hakim (Jurisprudensi); adalah keputusan hakim terdahulu yang dijadikan dasar keputusan oleh hakim-hakim lain dalam memutuskan perkara yang sama.
Traktat (treaty); atau perjanjian yang mengikat warga Negara dari Negara yang bersangkutan. Traktat juga merupakan perjanjian formal antara dua Negara atau lebih. Perjanjian ini khusus menyangkut bidang ekonomi dan politik.
Hubungan antara hak-hak manusia dan lingkungan untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1972 di Konfrensi Stockholm tentang lingkungan dan manusia (The Human Environment). Pertemuan Rio de Janeiro (Earth Summit) tahun 1992 yang telah berhasil menyusun aturan normative untuk hak-hak manusia dan lingkungan yang diatur dalam Deklarasi Rio. Tahun 1994 PBB mengeluarkan Reportur Khusus untuk Hak Asasi Manusia dan Lingkungan untuk Sub Komisi Pencegahan Diskriminasi Kaum Minoritas yang mengeluarkan analisis yang luar biasa dan mendalam mengenai pentingnya hubungan antara Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup. Pemahaman Hak Asasi Manusia (HAM), sebagaimana hak sipil politi, hak ekonomi, social dan budaya, hak atas pembangunan serta Hak Atas Lingkungan merupakan hak universal yang melekat pada manusia dan menjadi kewajiban masyarakat serta Negara untuk ditegakkan dan dipenuhi sepanjang masa. Sementara dalam African Charter on Human and Peoples Rights merupakan instrument yang pertama dalam kawasan regional mengadopsi hak-hak tersebut, pasal 21 ayat (1) African Charter menyatakan “Semua rakyat dapat secara bebas mengatur segala kekayaan dan sumberdaya mereka. Hak ini dilaksanakan atas kepentingan ekslusif bangsa. Tidak dibenarkan suatu bangsa merampas uapaya penghidupan sendiri”. Juga dalam Resolusi PBB 1803 (XVII) 14 Desember 1962 bahwa kedaulatan atas sumberdaya alam merupakan hak rakyat untuk dengan bebas mengatur kekayaan sumberdaya alam mereka, juga dalam Resolusi PBB 3281 (XXIX) 12 Desember 1974 yang mana salah satu tujuannya adalah guna menciptakan kondisi perlindungan, pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Sementara dalam Agenda 21 KTT Bumi Rio De Janeiro 1992 yang pada intinya juga telah meletakkan paradigma pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) sebagai ideology pembangunan. Hak atas lingkungan sebagai HAM, baru mendapat pengakuan dalam bentuk kesimpulan oleh Sidang Komisi Tinggi HAM pada bulan April 2001, bahwa “Setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup”.
Dalam Konstitusi Negara Kita, pada Amandemen ke-2 UUD 1945, pasal 28H ayat (1) menyatakan: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatam”. Secara tegas juga tercantum dalam Pasal 5 dan 8 UU No.23/1997, tentang pengelolaan lingkungan hidup, bahwa: “Setiap orang mempunyai hak yang sama atas
lingkungan hidup yang baik dan sehat”, demikian juga dalam UU No.39/1999 tentang HAM, pasal 3 menyebutkan “Masyarakart berhak atas lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat”. Secara umum uraian tersebut memperlihatkan betapa penting komponen lingkungan hidup dalam menunjang dan memenuhi hak hidup manusia sebagaimana hak atas lingkungan berkaitan dengan pencapaian kualitas hidup manusia. Masih ada begitu banyak kebijakan yang juga secara langsung berhubungan dengan lingkungan seperti UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU No.27 Tahun 2007 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, UU No.10 Tahun 2009 tentang Pariwisata. Tapi ternyata, kebijakan tersebut tidak mampu mengendalikan pengrusakan lingkungan. Salah satu sebabnya adalah pelaksana dari kebijakan tersebut justru tidak menjadikannya sebagai landasan dalam pelaksanaan pembangunan.
Palu, mulai dari pesisir pantai tanjung karang sampai pesisir pantai lero. Kita akan melihat kerusakan lingkungan dan menghilangkan fungsi kawasan sebagai tempat wisata.
Pendirian bangunan permanen dipesisir pantai tanjung karang yang tidak didahuli dengan analisis dampak lingkungan serta izin mendirikan bangunan (walaupun setelah bangunan berdiri tiba-tiba pemda donggala mengeluarkan IMB), tambang galian C yang debunya sangat
mengganggu pengendara sepeda motor, pembuangan limbah kelaut dan masih banyak lagi aktifitas yang merusak lingkungan.
Pendirian bangunan di pantai tanjung karang secara nyata telah melanggar UU 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung serta UU No.27 Tahun 2007 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, UU No.10 Tahun 2009 tentang Pariwisata. Tetapi ternyata Pejabat Pemda Donggala seakan ada sesuatu yang membutakan mata & pikirannya akan hal ini, sehingga secara tiba-tiba izin mendirikan bangunan dikeluarkan setelah bangunan berdiri dan mendapat protes dari warga tanjung karang karena telah menghilangkan fungsi dari kawasan pesisir pantainya sebagai tempat wisata.
Pemerintah daerah tidak peduli dengan lingkungan yang berkelanjutan, kebijakan sektoral yang isinya jelas-jelas hanya untuk kepentingan Pendapatan Daerah (PAD), padahal kalau kita lebih cermat dan lebih menghargai “ilmu pengetahuan” maka apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan mengeluarkan sebanyak-banyaknya izin pengelolaan pertambangan dan pendirian bangunan di wilayah sempadan pantai adalah merupakan “legitimasi” percepatan proses
penghancuran lingkungan hidup melalui kebijakan daerah dalam bentuk Perda dan izin mendirikan bangunan/ restoran disekitar pesisir teluk palu. Pejabat di pemerintahan daerahan, tidak jeli atau memang pura-pura tidak tahu, proses penghancuran lingkungan dengan slogan demi PAD, Perusahaan galian C, pendirian bangunan di pantai tanjung karang, pembangunan rumah makan/ restoran, aktifitas penimbunan laut.
Pemerintah Propinsi, Kab. Donggala dan Kota palu, apabila tidak menyusun konsep pengelolaan teluk palu yang lestari dengan berasaskan bahwa lingkungan hidup merupakan hak asasi manusia yang harus terpenuhi, maka dapat diprediksi bahwa 20 tahun akan datang teluk palu akan
menjadi keranjang sampah dari industi, rumah tangga dan juga tambang galian C, dan ini akan dapat menjadi bom waktu yang siap meledak 20 tahun akan datang.