• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISPA DI DESA DANASARI KEC bojong

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ISPA DI DESA DANASARI KEC bojong"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ISPA DI DESA DANASARI KEC. BOJONG KAB.TEGAL

Mata Kuliah : Program Pengembangan Pendidikan Kesehatan Masyarakat

OLEH : HETI MURNINGSIH

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TEGAL

2014/2015

BAB I PENDAHULUAN

(2)

Saat ini Indonesia memiliki beban ganda dalam masalah kesehatan. Dimana, penyebab kematian telah bergeser dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular, sementara penyakit menular masih tetap tinggi. Beberapa contoh penyakit menular yang sering terjadi adalah ISPA dan diare. Salah satu kelompok resiko tinggi untuk terkena masalah kesehatan adalah anak –anak (Media Indonesia, 2009).

Dukuh Kebagusan adalah sebuah Dukuh yang terletak di Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Beberapa masalah kualitas hidup (quality of life) berdasarkan data dari Puskesmas dan Bidan Desa Danasari adalah tingkat pendapatan yang kurang disebabkan karena mata pencaharian warga adalah buruh tani, kemudian masalah keterjangkauan sarana kesehatan, transportasi, masalah kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah, kesejahteraan yang kurang .

Masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh masyarakat di Dukuh Kebagusan adalah masalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan arthritis. Dan yang paling banyak terjadi adalah kejadian ISPA. Masalah ISPA ini menjadi maslah nomor satu dari 10 besar penyakit yang ada di Desa Danasari berdasarkan data Puskesmas Bojong tahun 2009.

Bayi dan balita merupakan kelompok usia yang kekebalan tubuhnya masih belum sempurna, sehingga masih rentan terhadap berbagai bentuk infeksi (Suhandayani,2007). Kejadian infeksi paling sering terjadi pada balita umur 6-12 bulan hal ini menunjukan semakain muda usia anak makin sering dan rentan mendapat serangan infeksi seperti ISPA (Prabu,2009).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari (Sinaga, 2009). ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama serta merupakan salah satu penyebab kematian anak terutama di Negara berkembang. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kejadian dan kematian karena penyakit ISPA terutama pada balita. World health Organization (WHO) pada tahun 2009 memperkirakan insiden ISPA pada balita usia sampai 5 tahun di Negara berkembang adalah 29% per tahun dan 5 juta kejadian ISPA baru setiap tahunnya (WHO,2009).

Penyakit ISPA di indonesia selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita, di Indonesia menurut hasil Riskesdas 2008 prevalensi ISPA adalah 25,5% dengan prevalensi tertinggi pada balita yaitu lebih dari 35%. Analisis lanjutan memakai data dari Riskesdas 2008 yang sudah terkumpul (data sekunder), dari jumlah balita 88,579 yang dianalisis, didapatkan presentase balita yang menderita ISPA di Indonesia sebesar 42,18% ( Supraptini, 2009).

Khusus di Jawa Tengah, Penyakit ISPA juga merupakan masalah kesehatan utama masyarakat. Pada tahun 2002 kejadian ISPA peneumonia pada balita di Jawa Tengah mencapai 19,03% angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2003 yaitu 21,16% dan pada tahun 2004 menjadi 50,06% (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2005).

Prevalensi ISPA di Kabupaten Tegal pada tahun 2007 adalah 29,5%. Target ISPA peneumonia tertangani adalah 100%, tetapi pada tahun 2005 cakupan balita dengan ISPA peneumonia yang tertangani baru mencapai 28,34%, dan pada tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 16,31% pada tahun 2007 cakupannya mengalami sedikit kenaikan dari tahun 2006 menjadi 20,60% (Profil Kesehatan Kabupaten Tegal, 2007).

(3)

Setiap balita mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunya. Penyakit ISPA mencakup penyakit saluran nafas bagian atas (ISPaA) dan sluran pernafasan bagian bawah(ISPbA). ISPA menyebabkan kematian anak dan menyebabkan kecacatan hingga dewasa misalnya otitis media yang merupakan penyebab ketulian. Sedangkan hampir seluruh kematian kerena ISPA pada anak kecil, disebabkan oleh Infeksi Saluran Pernafasan Bawah Akut (ISPbA). Sebagai kelompok penyakit, ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke playanan kesehatan. Kunjungan penderita ISPA berobat ke Puskesmas sebesar 40-60%, sedangkan yang berkunjung berobat di berbagai rawat jalan dan rawat inap RS sebesar 15% (Nindya dan Lilis, 2005).

Menurut H.L Blum (19810 derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu linkungan, prilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor tersebut dalam mempengaruhi kesehatan tidak berdiri sendiri, namun masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan selain langsung mempengaruhi kesehatan juga mempengaruhi perilaku. Faktor prilaku disini juga mempengaruhi faktor-faktor lainya. Melihat keempat faktor pokok yang mempengaruhi kesehatan masyarakat tersebut, maka dalam rangka memelihara dan meningkatkan keshatan masyarakat, hendaknya intervensi juga diarahkan kepada empat faktor tersebut. Dengan kata lain, kegiatan dan upaya kesehatan masyarakat juga dikelompokkan menjadi empat, yakni intervensi terhadap factor lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan, dan herediter (Notoatmodjo, 2005).

Dalam kegitan ini, intervensi yang dilakukan lebih mengarah kepada perilaku, karena prilaku kesehatan yang ada di masyarakat merupakan segala aktifitas atau kegiatan seseorang yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Maka untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal adalah merupakan prilaku individu atau masyarakat kepada hal-hal yang positif secara terencana (Notoatmodjo, 2005).

Untuk merubah perilaku dibutuhkan adanya promosi kesehatan yang dilakukan dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang terdapat dimasyarakat. Promosi kesehatan merupakan salah satu cara dalam upaya peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud drajat keshatan yang stinggi-tingginya di masyarakat tersebut (Taisir, 2009). Kegitan ini dilakukan pendekatan teori dengan menggunakan kerangka kerja Precede, dimana kerangka kerja tersebut meliputi 6 fase yang akan dilalui dalam proses perncanaan Pendidikan Kesehatn Masyarakat (PKM) dalam rangka siklus pemecahan masalah keshatan masyarakat, yaitu : 1. Diagnosa Sosial, 2. Diagnosis epidemiologi, 3. Diagnosis perilaku, 4. Diagnosa Pendidikan, 5. Penetapan strategi pendidikan, 6. Diagnosa administratif.

Menurut hasil survei, dari data di Puskesmas Bojong tahun 2009 penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) selalu menjadi urutan teratas dari 10 besar penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas tersebut. Oleh sebab itu peran orang tua dan petugas kesehatan menjadi sangat penting dalam mengatasi permasalahan kesehatan anak balita tersebut.

B. Tujuan.

(4)

a.Mahasiswa mampu melakukan diagnosa masalah kesehatan di masyarakat berdasarkan pengkajian data yang ada di Dukuh Kebagusan, Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal.

b. Melakukan kegiatan intervensi sesuai dengan permasalahan kesehatan yang ada. 2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu mengumpulkan data primer dan data sekunder.

b. Mahasiswa mampu menentukan masalah kualitas hidup yang dirasakan oleh masyarakat di Dukuh Kebagusan.

c. Mahasiswa mampu menentukan masalah yang ada di masyarakat Dukuh Kebagusan.

d. Mahasiswa mampu menentukan penyebab masalah kesehatan masyarakat yang tarjadi di Dukuh Kebagusan.

e. Mahasiswa mampu menentukan penyebab timubulnya perilaku sebagai penyebab masalah kesehatan masyarakat di Dukuh Kebagusan.

f. Mahasiswa mampu menentukan alternatif pemecahan masalah kesehatan masyarakat serta strateginya.

g. Mahasiswa mampu menentukan intervensi masalah kesehatan masyarakat di Dukuh Kebagusan.

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

(5)

Dukuh Kebagusan adalah bagian dari wilayah Desa Danasari. Batas-batas wilyah Dukuh Kebagusan sebagai berikut :

a. Batas Utara : Desa Cikura b. Batas Selatan : Desa Gunungjati c. Batas Timur : Desa Kalijambu d. Batas Barat : Dukuh Diwung

Dukuh Kebagusan mempunyai 1 RW dan 8 RT 2. Karakteristik Penduduk Kebagusan

a. Usia : Sebagian besar usia responden di Dukuh Kebagusan Desa Danasari berusia produktif (20-35 tahun) yaitu 39 orang dengan presentase 67,2%.

b. Tingkat Pendidikan : Sebagian besar tingakat pendidikan responden di Dukuh Kebagusan Desa Danasari adalah tamat SMP yaitu 24 orang dengan presentasi 41,4%.

c. Agama : Mayoritas responden di Dukuh Kebagusan Desa Danasari beragama Islam yaitu 54 orang dengan presentase 93,1%.

d. Mata Pencaharian :

1) Mata Pencaharian Responden : Sebagian responden di Dukuh Kebagusan Desa Danasari adalah ibu rumah tangga (IRT) yaitu 27 orang dengan presentase 46,6%. 2) Mata Pencaharian KK : Mayoritas KK dari responden di Dukuh Kebagusan Desa

Danasari bekerja sebagai buruh yaitu 37 orang dengan presentase 63,7%.

B. Diagnosa Sosial.

Diagnosa sosial adalah proses mengetahui penyebab orang berpresepsi untuk kebutuhan atau kualitas hidup, aspirasi mereka pada common good, melalui partisipasi secara luas dan tindakan-tindakan mencari informasi yang dibentuk untuk meluaskan pemahan komuniti. Penentuan kualitas hidup sasaran populasi dilakukan dengan strategi identifikasi masalah dengan data masyarakat dengan klarifikasi.

Data yang diperoleh dari Puskesmas serta Bidan di Desa Danasari didapatkan masalah ssosial sebagai berikut :

1. Pendidikan : Dari data yang diperoleh, didapatkan tingkat pendidikan rendah pada Desa Danasari sebanyak 26,59% tamat SD dan di Dukuh Kebagusan 41,4% tamat SMP dari 58 responden.

2. Kesejahteraan : Dapat dilihat dari jenis pekerjaan kepala keluarga dari 58 responden di Dukuh Kebagusan sebanyak 63,7% sebagai buruh, petani sebanyak 17,2% , wiraswasta sebanyak 17,2% dan PNS sebanyak 1,7%.

3. Pengangguran : Dari hasil diskusi dengan pegawai kelurahan total dari seluruh pengangguran di Desa Danasari sebanyak 320 orang dan di Dususn Kebagusan sebanyak 65 orang (20,31%).

Penentuan prioritas masalah dalam diagnosa sosial ditentukan dengan mempertimbangkan variabel-variabel sebagai berikut :

(6)

Pengangguran 7,33 5,50 8,17 21,00 III Range : 1-10

Berdasarkan tabel di atas maka prioritas masalah target populasi adalah masalah kesejahteraan sebesar 22,66%.

C. Diagnosa Epidemiologi.

Diagnosa epidemiologi adalah suatu kegiatan untuk mengidentifikasi masalh atau kasus kesehatan masyarakat. Dimana merupakan proses dengan melakukan pengamatan dan atau pengukuran epidemiologi. Dari data yang telah didapatkan diagnosa epidemiologi yang dilakukan oleh kelompok.

Dari prioritas masalah pada diagnosa sosial kemudian ditelusuri masalah kesehatan yang menjadi penyebab masalah kualitas hidup yang telah ditentukan yang disebut diagnosa epidemiologi. Dari data yang didapatkan terdapat beberapa masalah yang kemudian dibedakan dalam dua kelompok yaitu faktor kesehatan dan faktor non kesehatan yang mempengaruhi terjadinya masalah, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

1. Faktor-faktor kesehatan : a. ISPA

b. Diare c. Artritis

d. Kepadatan Keluarga

e. Keterjangkauan sarana kesehatan f. Sanitasi Lingkungan

2. Faktor-faktor non-kesehatan : a. Pendapatan

b. Jenis pekerjaan c. Transportasi d. Tingkat pendidikan

D. Diagnosa Perilaku.

Diagnosa perilaku adalah identifikasi secara sistematis praktek kesehatan yang mempunyai hubungan kausal dengan masalah kesehatan atau masalah yang ditemukan didalam diagnosa epidemiologi.

(7)

Umur

Imunisasi

Kepadatan Hunian Rumah

Ventilasi

Keberadaan Anggota Keluarga Yang

Merokok

Keberadaan Anggota Keluarga Menderita

Berdasarkan faktor yang menyebabkan ISPA diatas ditentukan faktor perilaku dan non perilaku seperti tabel berikut :

Tabel Faktor Perilaku dan Non Perilaku Dalam Diagnosa Perilaku

Faktor Perilaku Faktor Non Perilaku

1. Kebiasaan Merokok 2. Pemberian Imunisasi

1. Umur

(8)

3. Kebiasaan Membuka Ventilasi 4. Penggunaan Bahan Bakar 5. Pemberian ASI Eksklusif 6. Kosumsi Makanan

7. Perilaku Membersihkan Rumah

3. Status Ekonomi 4. Paparan Lingkungan

Langkah ketiga adalah memilih faktor perilaku mana yang lebih kearah preventif untuk terjadinya masalah kesehatan yang diprioritaskan. Dari faktor perilaku yang lebih kearah preventif ditentukan konsumsi makanan yang selanjutnya dianalisa dalam hal importance dan chandeability.

Konsumsi makanan dapat diartikan sebagai berikut : 1. Cara pengolahan makanan

2. Pemilihan menu 3. Budaya

4. Sosek / ketersediaan 5. Jumlah anggota keluarga 6. Pemilihan bahan makanan

Penentuan prioritas masalah, perlu diperhatikan beberapa hal berikut : 1. Masalah yang berkaitan dengan preventif lebih diutamakan

2. Masalah importan yaitu keterkaitan dari perilaku tersebut dengan masalah tingginya frkuensi perilaku di masyarakat

3. Masalah changeability yaitu sulit tidaknya perilaku tersebut diubah

E. Diagnosa Pendidikan

Diagnosa pendidikan adalah suatu tahap untuk mencari faktor penyebab timbulnya perilaku yang sudah dipilih sebagai prioritas.

a. Identifikasi faktor penyebab timbulnya perilaku

Dalam mengidentifikasi faktor penyebab timbulnya perilaku terdapat tiga kelompok faktor yang dapat mempengaruhi perilaku adalah sebagai berikut :

a) Faktor predisposing ialah faktor mempermudah dan mendasari untuk terjadinya perilaku tertentu

b) Faktor enabling ialah faktor yang memungkinkan untuk terjadinya perilaku tertentu c) Faktor reinforcing ialah faktor memperkuat untuk terjadinya faktor tertentu

b. Penentuan faktor paling dominan yang dapat mempengaruhi atau berperan dan perlu dibenahi dahulu, fase ini disebut priority among categorietes. Penentuan faktor prioritas tersebut dilakukan oleh setiap anggota kelompok yang menberikan kriteria sebagai faktor penentu sebesar apa peran dari faktor tersebut dalam proses ini dilakukan Brain Storming dalam kelompok.

(9)

perlu dianalisa dengan melihat keterkaitan dari factor ersebut dengan perilaku yang diharapkan bias berubah menjadi lebih baik (importance), selain itu juga harus diperhatikan sulit tidaknya factor tersebut untuk ditingkatkan (change ability). cara pengolahan makanan secara tepat dan sesuai pedoman gizi seimbang

Where : Dukuh Sedadan Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal

When : akhir bulan juli 2010

How much : 60% ibu-ibu sudah meningkat pengetahuan dan kesadaran tentang cara pengolahan makanan secara tepat sesuai dengan gizi seimbang

Objective Goal :

Merupakan phase dimana metode-metode yang akan digunakan dipilih. Pemilihan metode ini sangatlah tergantung pada objective goal yang telah dibuat pada phase IV. Dibawah ini adalah berbagai macam metode pendidikan yang digunakan dalam proses pendidikan kesehatan masyarakat:

1. Ceramah dan Tanya jawab (ibu-ibu yang mempunyai balita)

2. Pemutaran film (ibu-ibu yang mempunyai balita)

3. Demonstrasi :

a) ibu-ibu yang mempunyai balita

b) Balita

G. Diagnosa Administrtif

Untuk dapt mencapai strategi pendidikan yang telah ditentukan tersebut diatas perlu dilakukan tahap-tahap analisa sebagai berikut :

a. Within program analysis

(10)

Kebagusan. Intervensi tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa STIKES Ngudi Waluyo Ungaran dan pendanaan berasal dari iuran mahasiswa.

b. Within organizational analysis

Kegiatan bisa dilakukan kerjasama lintas program yang ada namun dalam kegiatan PKM ini tidak dilakukan.

c. Inter organizational analysis

Kegiatan PKM perlu mengadakan kerjasama dengan sektor lain.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.

Dari data di Dukuh Kebagusan Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal dapat ditarik sebagai kesimpulan sebagai berikut :

1. Masalah sosial yang dirasakan masyarakat di Dukuh Kebagusan adalah : a. Tingkat pendidikan

(11)

c. Tingkat pengangguran

d. Keterjangkauan sarana kesehatan e. Keterjangkauan transportasi

f. Masalah kesehatan (diare, ISPA, sumber air bersih)

Dari diagnosa soaial yang di lakukan di dapatkan prioritas masalah target populasi adalah kesejahteraaan.

2. Masalah kesehatan yang di dapatkan di Dukuh Kebagusan adalah : a. Penyakit ISPA

Berdasarkan pertimbangan dengan menggunakan 6 variabel pada diagnosa epidemiologi diperoleh prioritas utama masalah kesehatan masyarakat yang terdapat di Dukuh Kebagusan Kabupaten Tegal adalah penyait ISPA.

3. Berdasarkan diagnosa perilaku yang dilakukan kelompok telah didapatkan prioritas perilaku yang menyebabkan masalah kesehatan yaitu cara pengolahan makanan, dan pemilihan menu.

4. Berdasarkan diagnosa pendidikan yang di lakukan kelompok telah didapatkan faktor utama (Priority Among Kategories) yang mendasari perilaku tersebut terjadi yaitu faktor predisposing dan yang menjadi faktor prioritas dari faktor predisposing (Priority Within Categories) adalah menyebabkan masalah kesehatan yaitu pengetahuan tentang pentingnya cara pengolahan makanan yang benar sesuai dengan gizi seimbang.

5. Alternatif pemecahan masalah yang digunakan adalah pendidikan masyarakat dengan penyuluhan, demonstrasi, pemutaran film, modifikasi perilaku.

6. Penentuan intervensi masalah kesehatan masyarakat di Dukuh Kebagusan dilakukan dengan strategi pendidikan sebagai berikut :

a. Penyuluhan tentang ISPA

b. Penyuluhan tentang cara pengolahan makanan c. Pemutaran film berjudul “Cara Pengolahan Makanan”

d. Demonstrasi penatalaksanaan cara pengolahan makanan secara tepat sesuai dengan gizi seimbang.

e. Pengukuran perkembangan dan pertumbuhan balita dengan Denver II

B. Saran.

Dari kesimpulan tersebut saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :

1. Masyarakat khususnya ibu-ibu di Dukuh Kebagusan Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal dapat lebih memperhatikan status gizi balita, ibu-ibu dapat menyiapkan makanan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja, mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mencuci sayur.

(12)

3. Ibu di harapkan tetap memperhatikan pemilihan bahan makanan.

BAB V

ANALISA EPIDEMIOLOGI

A. Enam Pertimbangan Diagnosa Epidemiologi

Dari masalah yang terangkum dalam laporan diatas, kami menemukan masalah yang sering muncul pada masyarakat adalah tentang penyakit ISPA di Dukuh Kebagusan Desa Danasari Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal.

(13)

Penentuan prioritas masalah kesehatan dalam diagnosa epidemiologi dilakukan dalam kelompok kerja dengan mempertimbangkan enam (6) pertimbangan epidemiologi sebagai berikut :

1. Hal yang mempunyai dampak terbesar pada kematian, kesakitan, kecacatan, lama hari kehilangan kerja, biaya rehabilitasi, dan lain-lain (makin besar dampak, skor makin tinggi). 2. Mengenai siapa saja kelompok beresiko. Apakah mengenai pada anak-anak, ibu-ibu (makin

besar resiko, skor makin tinggi).

3. Masalah kesehatan yang paling rentan untuk diintervensi (makin rendah cara mengatasinya, skor makin tinggi).

4. Masalah yang belum pernah disentuh atau diintervensi (apabila belumpernah, skor makin tinggi).

5. Masalah yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam meningkatkan status kesehatan (makin mempunyai daya ungkit, skor makin tinggi).

6. Masalah yang timbul apakah merupakan prioritas daerah atau nasional (bila merupakan masalah prioritas daerah atau nasional, skormakin tinggi).

Sehingga menghasilkan tabel analisa epidemiologi sebagai berikut :

Tabel Prioritas Masalah Diagnosa Epidemiologi Masyarakat Dukuh Kebagusan Desa Danasari Kecamatan Bojong.

No. Masalah Kesehatan

(14)

1 2 3 4 5 6

1

ISPA 8,16 8,33 6,66 5,83 6,5 4,83 40,31 I

2

Diare 7 8,16 6,66 4,83 5,5 5 37,15 VI

3

Artritis 7,33 7,5 6 7,33 6 5,83 39,99 II

4 Kepadatan

Keluarga 8,33 7,5 6,5 6,33 7,16 4 39,82 III

5 Sanitasi

Lingkungan 7,66 6,83 6 5,16 6,83 5,66 38,14 IV

6 Sarana

Kesehatan 7,5 6,33 5,83 6,6 7 4,38 37,65 V

Gambar

Tabel Faktor Perilaku dan Non Perilaku Dalam Diagnosa Perilaku

Referensi

Dokumen terkait

dari segi kualitas hidup maupun kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri. Pembangunan pertanian di masa yang akan datang tidak hanya dihadapkan.. untuk memecahkan masalah-masalah

Program Kesehatan yang diberikan kepada keluarga bapak I Wayan Mulih. adalah mengenai masalah program perbaikan kualitas hidup, mengingat

Berdasarkan masalah keperawatan serta hubungannya dengan penyebab fungsi keperawatan keluarga yang lebih spesifik penulis dalam hal ini mengangkat diagnosa “gangguan

Seringkali penyebab masalah yang terjadi jumlahnya banyak dan tidak semua dapat diatasi, untuk itu perlu dilakukan prioritas penyebab masalah yang akan ditangani sehingga

Kebersihan dan kesehatan lingkungan merupakan modal dasar yang penting untuk pembangunan manusaia, karena kualitas lingkungan akan berdampak terhadap kualitas hidup

(1)) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan sejauh mana keluarga mengetahui fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, faktor

Melakukan wawancara terhadap pemberi pelayanan kesehatan yang mengisi diagnosa di rekam medis untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebab yang tidak tepat dalam diagnosa

Berikut adalah hasil identifikasi masalah dengan USG yang ditampilkan dalam urutan prioritas masalah dari USG seperti terlihat pada Tabel 2: Tabel 2 Sebaran masalah kesehatan pada