• Tidak ada hasil yang ditemukan

20130718 dis fins forum freedom masa dep

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "20130718 dis fins forum freedom masa dep"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

http://goo.gl/uPn9B @freedominst

Seri Diskusi Publik Freedom Institute lainnya: http://goo.gl/C27hV

FORUM FREEDOM

“Masa Depan Islamisme di Dunia Islam”

Islamisme dan Demokrasi di Mesir

Zuhairi Misrawi

Kamis, 18 Juli 2013

Pukul 19.00

21.00 WIB

Wisma Proklamasi

(2)

1

Ismlamisme dan Demokrasi di Mesir

1

Zuhairi Misrawi

2

Demokrasi di Mesir ibarat kolam tanpa ikan dan air. Ikan-ikan di kolam tersebut mati, karena tidak ada air yang memungkinkannya hidup dan beranak-pinak”.3 Itulah perumpamaan yang dipopulerkan Muhammad Husein Haikal perihal rapuhnya wacana dan tatanan demokrasi di negeri Piramid tersebut.

Secara eksplisit, ada partai politik dan pemilu parlemen berlangsung secara reguler, khususnya pada rezim Hosni Mubarak. Tetapi, harus diakui semua itu hanya pada tataran elektoral, bukan pada tataran substansial. Selama kurang lebih 30 tahun tidak ada pergantian kekuasaan, yang menyebabkan demokrasi elektoral hanya menjadi stampel kekuasaan. Karenanya, Abd al-Fattah Madhi menyebut pemilu hanya sebagai ajang yang sebenarnya tidak mempunyai muatan demokratis dan abesennya kaum demokrat.4

Terlepas dari problem tersebut, dalam delapan dekade terakhir, demokrasi menjadi diskursus yang ramai diperbincangkan sebagai sebuah alternatif, terutama dalam rangka keluar dari determinasi sistem politik sentralistik yang bertentangan seratus persen dengan demokrasi. Di satu pihak muncul kekhawatiran jika harus kembali ke masa lalu dengan menghidupkan sistem khilafah, karena hanya akan memperkuat sentralisme. Tetapi di pihak lain, berpijak di atas sistem demokrasi masih menimbulkan tanda-tanya, bahkan kecurigaan yang amat mendalam, karena demokrasi identik dengan Barat yang saat itu merupakan sosok kolonialis.

Bahkan, dalam perjalanannya, praktek demokrasi menimbulkan kekhawatiran yang jauh lebih serius dari sekadar kehendak untuk melampaui ideologi kedaulatan Tuhan (hakimiyyat Allah) dan ketertundukan terhadap Barat, tetapi juga munculnya rezim otoriter yang berjubah demokrasi. Hakikatnya, demokrasi tak mungkin menghalalkan otoritarianisme, tapi realitasnya

otoritarianisme merupakan “anak kandung” demokrasi. Dengan jubah demokrasi, Hosni Mubarak dapat mempertahankan kekuasaannya selama kurang lebih 30 tahun.

1

Disampaikan dalam Diskusi tentang “Islamisme Pasca-Morsi” pada tanggal 18 Juli 2013 di Freedom Institute.

2

Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah di Middle East Institute

3

Lihat wawancara Muhammad Husein Haikal di Harian Mishr al-Youm pada tanggal 28 Januari 2011.

4

(3)

2

Atas dasar itu, Alfred Stepan memberikan catatan kritis terhadap demokrasi di Arab secara umum dan Mesir secara khusus sebagai an exceptionalism.5 Intinya, demokrasi tidak bisa tumbuh subur di dunia Arab, bukan hanya semata-mata karena mereka mengharamkan demokrasi, tetapi yang jauh lebih mengkhawatirkan yaitu praktek pemilu yang tidak jujur dan bersih, serta suksesi kepemimpinan yang tidak berjalan secara demokratis.6 Di samping itu, Freedom House juga memberikan catatan kritis demokrasi di dunia Arab, karena alam demokrasi telah mengabaikan dua elemen penting dalam demokrasi, yaitu hak-hak politik dan kebebasan sipil.7

Kini, Mesir sedang memasuki zaman demokrasi baru. Revolusi yang berlangsung pada tanggal 25 Januari 2011 merupakan puncak kemarahan rakyat Mesir terhadap otoritarianisme, yang berhasil melengserkan rezim Hosni Mubarak. Absennya demokrasi harus dibayar dengan harga yang cukup mahal, yaitu revolusi yang meniscayakan rancang-bangun kembali demokrasi dari titik nol.

Fakta tersebut semakin menguatkan tesis para pemerhati pengalaman demokrasi di dunia Islam, bahwa relasi Islam dan demokrasi dalam prakteknya cenderung bersifat kontradiktif.8 Tesis tersebut bisa dimaklumi, karena pengalaman demokrasi di Mesir merupakan salah satu pengalaman buruk, yang semakin mengukuhkan adanya problem serius dalam praktek demokrasi di dunia Islam.

5Alfred Stepan and Graeme B. Robertson, “Arab, Not Muslim, Exceptionalism”

, Journal of Democracy, 15 (October 2004): 5. Menurut para pemantau pemilu dari Uni Eropa, pemilu yang digelar Indonesia pada tahun 2004 dan pemilu yang digelar di Bangladesh pada tahun 2001 dapat dikatagorikan demokratis. Sementara pemilu yang digelar di dunia Arab pada umumnya tanpa pemantauan. Menurut catatan Uni Eropa hanya pemilu di Yaman pada tahun 2003 dan pemilu di Aljazair pada tahun 2004, yang memperkenankan pemantau asing. Sedangkan pemilu yang digelar di Mesir dan beberapa negara Arab lainnya tidak memperkenankan adanya pemantau asing.

6

Sejak masa Presiden Anwar Sadat, terutama pasca-referendum 1980, seseorang dapat menjadi Presiden seumur hidup jika terpilih dalam pemilu. Tidak hanya itu saja, dalam beberapa kali pemilu Presiden, Hosni Mubarak kerapkali menjadi calon tunggal tanpa penantang. Rakyat Mesir ditawarkan dua pilihan, yaitu “memilih” dan “tidak

memilih” Hosni Mubarak.

7Iliya Harik, “Democracy,

Arab Exceptionalism, and Social Science”, Middle East Journal, 4 (Autumn, 2006), 666.

8

Ephraim Yuchman-Ya‘ar and Yasmin Alkaray, “Political Attitudes in the Muslim World,” Journal of Democracy, 21 (July 2010): 1. Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order

(New York: Simon and Schuster, 1996), 217, menyatakan bahwa yang problem bagi Barat bukan hanya fundamentalisme Islam, tetapi Islam itu sendiri. Sementara Azzam Tamimi, “Islam and Democracy from Tahtawi to

Ghannouchi,” Theory, Culture and Society 24 (Mach 2007): 39-58, menyatakan bahwa demokrasi menekankan pentingnya pemilihan yang bebas, akuntabilitas, transparansi, penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia, tapi semua nilai positif tersebut dilarang oleh dunia Islam. Y Choueiri, “The Political Discourse of

(4)

3

Meskipun demikian, demokrasi di Mesir masih mempunyai secercah harapan. Faktanya, revolusi tidak melahirkan mimpi kembali kepada masa lalu, melainkan justru mendesak agar demokrasi dipraktekkan secara jujur dan adil. Secara ekplisit, rakyat Mesir mempunyai optimisme yang membuncah, bahwa demokrasi merupakan solusi untuk mewujudkan pemerintahan yang adil dan berdaulat, yang mercerminkan kehendak rakyat. Tulisan ini akan menjelaskan problem-problem sentral serta masa depan demokrasi di Mesir, terutama pasca-revolusi. Apa saja tantangan serius yang dihadapi Mesir dalam membangun demokrasi? Bagaimana rakyat Mesir mencoba keluar dari tantangan tersebut, sehingga memungkinkan mereka dapat menikmati buah manis dari demokrasi?

Islamisme dan Demokrasi

Salah satu problem dalam implementasi demokrasi liberal di dunia Islam, khususnya Timur-Tengah dan Afrik Utara, yaitu menguatnya kelompok Islamis. Bahkan, musim semi

politik yang berhembus di dunia Arab, bukanlah “musim semi Arab” (Arabs Spring), melainkan

“musim semi kaum Islamis” (Islamists Spring).

Di satu sisi, fenomena tersebut menimbulkan sebuah harapan tentang transformasi demokrasi, yang akan melahirkan sebuah perubahan besar tentang pemaknaan dan penghayatan terhadap demokrasi. Tetapi, di sisi lain dikhawatirkan dapat menimbulkan munculnya arus balik tentang lahirnya demokrasi versi kaum Islamis. Yaitu, ketika demokrasi hanya dibajak secara prosedural, tetapi substansinya dikosongkan dari nilai-nilai universal yang inheren di dalam paradigma demokrasi liberal.

Kekhawatiran tersebut beralasan, karena kaum Islamis bukanlah entitas yang baru dalam pengalaman demokrasi di dunia Islam, khususnya di Timur-Tengah dan Afrika Utara. Mereka mempunyai pengalaman dalam berbagai sistem pemerintahan, baik demokrasi, sosialisme, monarki, komunisme dan otoritarianisme. Mereka relatif bisa bertahan dalam situasi apapun, karena mempunyai ideologi dan komunitas yang mapan.9

Menurut Jon Armajani, setidaknya ada empat hal yang dijadikan pijakan oleh kalangan Islamis: Pertama, prinsip-prinsip keislaman harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik secara personal maupun kolektif. Kedua, Islam adalah agama yang menekankan pentingnya keyakinan, sedangkan keyakinan agama lain mengandung kesalahan atau keabasahan yang terbatas. Ketiga, hukum-hukum tradisional Islam harus mengatur masalah relasi seksual. Keempat, budaya Barat dan sekular hanya mempromosikan budaya konsumerisme dan hidup bebas yang bertentangan dengan Islam.10

Pandangan kalangan Islamis tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar, selain karena peran-peran kultural yang dilakukan dalam gerakan mereka, mereka mempunyai konsern dalam ranah politik. Kalangan Islamis mempunyai pemikiran politik yang bersifat distingtif,

9

Carrie Rosefsky Wickham, Mobilizing Islam: Religion, Activism, and Political Chang in Egypt (New York: Columbia University Press, 2002).

10

(5)

4

yaitu paradigma Islam sebagai agama dan negara (al-Islam Din wa al-Dawlah).11 Paradigma ini mempunyai pengaruh besar dalam rangka lahirnya sebuah paradigma politik yang bernuansa keislaman.

Secara historis harus diakui, bahwa paradigma Islam sebagai agama dan negara hakikatnya merupakan diskursus yang relatif modern. Sejumlah tokoh muslim yang mempopulerkan paradigma tersebut, antara lain: Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787), Jamaluddin al-Afghani (1838), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Rashid Rid}a (1865)-1935), Hasan al-Banna (1906-1949), Sayyid Qutb (1906-1966), Sayyid Abu al-A’la al -Mawdudi (1903-1979).

Tokoh-tokoh tersebut telah melahirkan inspirasi untuk membentuk negara yang berdasarkan Syariat. Secara spesifik, ideologi yang dibangun sebagai berikut:

1. Syariat harus mengatur seluruh aspek dari kehidupan di negara-negara Muslim.

2. Setiap pemerintahan harus mampu mewujudkan seorang muslim yang paripurna, yaitu muslim yang patuh menjalan rukun Islam dan mempunyai keyakinan yang sesuai dengan rukun Iman.

3. Pemerintahan dapat dicapai melalui mekanisme demokratis atau melalui sistem monarki yang dipimpin oleh seorang amir yang dianggap sebagai bayang-bayang Tuhan di muka bumi.

4. Pemerintahan yang berdasarkan Islam tersebut harus memberikan dukungan finansial dan politik terhadap sekolah dan perguruan tinggi Islam, serta membumihanguskan keberadaan sistem pendidikan lainnya.

5. Pemerintahan harus mewajibkan kepada lembaga pendidikan untuk mengajarkan al-Quran, hadis, syariat, bahasa Arab dan sejarah Islam. Di samping itu, juga mengajarkan matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial.

6. Pemerintahan harus menjamin terjaganya basis moral dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam hal pakaian, pergaulan, minuman, kebudayaan, sistem ekonomi, dan lain-lain.12

Beberapa pandangan yang melekat pada diri kalangan Islamis tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan, terkait dengan kompatibalitas antara Islamisme dan demokrasi. Demokrasi liberal menganut prinsip kesetaraan dengan menjadikan kewarganegaraan sebagai landasannya. Faktanya, Timur-Tengah dan Afrika Utara sebagai basis tumbuhnya agama-agama semitis, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam, telah membuktikan bahwa mereka yang tinggal di kawasan ini tidak mempunyai latarbelakang agama yang bersifat monolitik.

Di Mesir, selain umat Islam sebagai kelompok mayoritas, juga terdapat kelompok minoritas, seperti Kristen Koptik, Protestan, Katolik, Bahai dan Yahudi. Lalu pertanyaannya,

11

John L. Esposito and John O. Voll, Islam and Democracy (New York: Oxford University Press, 1996), 4. Lihat juga, Arthur Godschmidt, A Concise History of the Middle East (BoulderL Westview Press, 1988).

12

(6)

5

bagaimana mungkin Syariat Islam dijadikan sebagai landasan konstitusional dalam sebuah negara yang menganggap dirinya demokratis? Apakah praktek tersebut dapat dianggap telah menjalankan demokrasi liberal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dicermati untuk melihat, apakah Islamisme mempunyai intensi terhadap demokrasi liberal atau mereka hanya menjadikan demokrasi untuk mencapai cita-cita politik mereka, yaitu Islam sebagai agama dan negara?

Arab Saudi merupakan sebuah pemandangan yang menarik dalam mencermati salah satu potret Islamisme, yang secara eksplisit tidak kompatibel dengan demokrasi. Arab Saudi merupakan salah satu contoh di mana Syariat Islam menjadi konstitusi, yang mandatnya diberikan kepada Raja dan lembaga fatwa keagamaan untuk memaksakan kepada setiap warganya. Arab Saudi merupakan negara yang menerapkan hukum Islam secara penuh dan menolak konvensi hak asasi manusia.

Berbeda dengan Arab Saudi, Mesir relatif mengalami transformasi yang menarik perihal upaya untuk mempertemukan antara Islamisme dan demokrasi. Pasca-tumbangnya rezim Hosni Mubarak, Ikhwanul Muslimin tumbuh sebagai kekuatan yang hendak memberikan warna lain terhadap demokrasi. Ikhwanul Muslimin merumuskan sebuah paradigma baru, yaitu negara modern dengan menjadikan Islam sebagai rujukannya (dawlah madaniyyah bi

al-marja’iyyah al-Islamiyyah).13 Harus diakui, bahwa paradigma politik ini telah mengalami

metamorfosa dari paradigma politik yang dikembangkan oleh Hasan al-Banna sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin.

Menurut Muhammad Badi’, Pimpinan Tertinggi Ikhwanul Muslimin, bahwa paradigma negara demokratis dengan Islam sebagai rujukan utamanya merupakan implementasi dari ayat al-Quran dalam surat al-An’am ayat 162-163, yang berbunyi, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan kematianku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan atas dasar itu aku diperintahkan dan aku adalah pemuka umat Islam.” Sedangkan hal-hal terperinci dalam kehidupan harus mengacu pada kepentingan umum yang ditentukan oleh umat dan ahl al-hall wa al-‘aqd, yang merepresentasikan umat untuk

melaksanakan perintah Allah, sesuai dengan prinsip, “hendaklah kalian memecahkan segala urusan dengan cara musyawarah” (QS. al-Syura: 38).14

Secara eksplisit, pandangan tersebut hendak menggabungkan antara dimensi “sakral” yang bersumber dari agama dengan dimensi “profan” yang bersumber dari musyawarah.

Paradigma ini dianggap dapat mengakomodasi prinsip Syariat sekaligus memberikan ruang kepada rakyat untuk menentukan kebijakan yang mencerminkan kemaslahatan umum.

Esam el-Eryan secara khusus menegaskan, “Islam adalah sistem yang paripurna yang meliputi seluruh fenomena kehidupan secara umum. Islam adalah agama dan bangsa, pemerintahan dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih-sayang dan keadlan, kebudayaan dan undang-undang, ilmu dan hukum, materi dan harta, usaha dan kaya, jihad dan dakwah, tentara

13

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

-‘Arabi, 2011), 4.

14

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

(7)

6

dan pemikiran, sebagaimana di dalamnya terkandung akidah yang benar dan ibadah yang

sahih.”15

Berkaitan dengan Syariat, el-Eryan menegaskan, “Syariat Islam adalah Syariat yang paripurna, yang di dalamnya mengatur prinsip-prinsip hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya, manusia dengan keluarganya, manusia dengan masyarakatnya, manusia

dan lingkungannya yang lebih besar, serta manusia dengan lingkungannya yang lebih luas.”16

Sebagai konsekuensi dari pandangan tersebut, maka Ikhwanul Muslimin merumuskan konsepsi “Negara Islam”, yaitu “Negara yang modern”.17 Setidaknya ada beberapa modus yang hendak diformulasikan dengan konsepsi tersebut: Pertama, negara konsensus-konstitusional. Hal ini mengacu pada pengalaman sejarah Nabi Muhammad yang telah merumuskun konsensus yang merupakan konsensus antara pemimpin dan umat. Kedua, negara yang menjamin kesetaraan dalam payung kewarganegaraan. Perbedaan agama dan keyakinan harus melebur dalam semangat kebangsaan. Ketiga, negara representatif-parlementer, yang meniscayakan adanya perwakilan rakyat yang tujuannya menyusun kebijakan dan melakukan kontrol terhadap eksekutif. Keempat, negara pluralisme, yang melindungi keanekaragaman kelompok, baik muslim maupun non-muslim. Kelima, negara yang menjamin pergantian kekuasaa. Keenam, negara yang menganut pembagian kekuasaan, baik legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun militer agar melakukan tugas sesuai fungsinya masing-masing. Ketujuh, negara hukum yang mengutamakan keamanan dan ketertiban umum.18

Jika melihat penjelasan ini, maka secara substansial dapat dipahami bahwa Ikhwanul Muslimin hakikatnya telah menerima sistem demokrasi liberal dengan menjadikan Islam dan Syariat sebagai sumber utama. Tapi pertanyaannya, bagaimana hal tersebut bisa diwujudkan di tengah polarisasi pandangan keislaman dan realitas sosial-politik yang tidak monolitik. Mesir bukan hanya terdiri dari satu kelompok agama saja, melainkan juga terdapat kelompok dari agama selain Islam. Mereduksi sistem pemerintahan yang hanya menganut pada satu sumber agama hakikatnya telah melakukan tindakan diskriminatif. Hal tersebut berpotensi pada hilang hak-hak sipil kalangan non-muslim.

Di samping itu, Ikhwanul Muslimin tidak secara eksplisit menggunakan istilah

demokrasi. Mereka hanya menggunakan istilah “Negara-Modern” (al-dawlah al-madaniyyah), karenanya dapat dipahami, bahwa Ikhwanul Muslimin masih mempunyai keengganan untuk menggunakan istilah demokrasi. Bahkan, dalam sebuah kampanye pemilu Presiden, Ikhwanul Muslimin secara eksplisit berjanji akan menerapkan hukum Islam sesuai al-Quran dan Sunnah.

Slogan “Islam sebagai sebuah solusi” (al-Islam huwa al-Hall) senantiasa mengemuka.

15

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

-‘Arabi, 2011), 15.

16

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

-‘Arabi, 2011), 17.

17

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

-‘Arabi, 2011), 32.

18

Esham al-Eryan, Al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-‘I’lam al

(8)

7

Dengan demikian, Islamisme dan demokrasi merupakan dua entitas yang masih berseberangan. Adanya sikap adaptif terhadap demokrasi sebagaimana ditunjukkan Ikhwanul Muslimin pasca-revolusi dapat dipahami sebagai upaya untuk merespons aspirasi publik yang menghendaki demokratisasi. Tetapi, harus diakui, Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok yang mempunyai ide-ide Islamisme, sebagaimana Arab Saudi masih mempunyai sejumlah keberatan untuk menggunakan istilah demokrasi. Mereka terlibat dalam pemilu sebagai bentuk akseptabilitas terhadap demokrasi elektoral. Tetapi, saat berkaitan dengan demokrasi liberal yang menjamin kesetaraan dalam kewarganegaraan, maka di sinilah letak problematisnya, karena kelompok Islamis hanya menjadi Islam sebagai satu-satunya sumber perundang-undangan, meskipun mereka membuka pintu konsultasi (syura).

Pengalaman Demokrasi

Pengalaman berdemokrasi di Mesir bukanlah sebuah proses yang terjadi dalam satu malam. Muhammad Ali, yang memerintah Mesir dari tahun 1805-1923, mempunyai peran penting dalam lahirnya demokrasi. Selain melalukan modernisasi dalam bidang ekonomi dan sosial, Muhammad Ali telah merintis Dewan Permusyawaratan, yang memberikan ruang bagi konsensus. Di samping itu, juga dibentuk kementerian yang mencerminkan pemerintahan eksekutif, sehingga kekuasaan tidak dimonopoli layaknya seorang raja. Di samping itu, harus diakui, dukungan publik yang begitu luas terhadap Muhammad Ali, telah memungkinkan pemerintahan berjalan dengan baik. Modernisasi yang diusung oleh Muhammad Ali dalam bidang pendidikan dan ekonomi merupakan pilar yang sangat penting bagi lahirnya kesadaran berdemokrasi pada era modern.19

Meskipun demikian harus diakui, bahwa Muhammad Ali tidak bisa dianggap sebagai pemimpin yang menerapkan demokrasi, karena ia bukanlah pemimpin yang dipilih melalui

pemilu. Ia pemimpin yang dipilih melalui “baiat” dari kalangan bangsawan dan pemuka agama.

Tetapi, perannya dalam melakukan modernisasi merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa, karena dapat mengantarkan Mesir pada tumbuhnya kesadaran demokrasi pada masa-masa selanjutnya.

Di samping itu, pengalaman demokrasi di Mesir pada masa awal juga ditandai dengan semangat revolusi melawan kolonialisme. Munculnya revolusi ‘Urabi pada tahun 1919, yang berhasil mengakhiri kolonialisme Inggris di Mesir merupakan babak baru dalam wajah demokrasi. Pada tahun 1923 ditandai dengan lahirnya sebuah konstitusi yang merupakan fondasi dalam demokrasi. Dalam konstitusi tersebut ditegaskan tentang perlunya dibentuk sebuah

19Tsana Fu’ad Abdulla

h, Mustaqbal al-Dimuqrathiyyah fi Mishr (Beirut: Markaz Dirasat Wihdah

(9)

8

parlemen yang mempunyai kewenangan untuk membentuk perundang-undangan dan melakukan pengawasan terhadap eksekutif.20

Pada masa ini ditandai dengan munculnya partai politik. Salah satu partai politik yang sangat menonjol pada masa itu adalah Partai Wafd. Partai ini memiliki peran penting dalam melakukan kontrol terhadap raja, sehingga kekuasaan eksekutif dipegang oleh raja tidak bersifat absolut.21

Pada masa selanjutnya, pengalaman demokrasi ditandai dengan tumbuhnya nasionalisme yang dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser. Nasionalisme tersebut tumbuh di tengah revolusi yang dipimpin oleh Nasser, dalam kapasitasnya sebagai tentara pembebasan (al-dubbat} al-ahrar). Sejak saat ini harus diakui, bahwa militer akan menjadi salah satu elemen penting dalam jatuh-bangunnya demokrasi di Negeri Piramid ini.

Gamal Abdul Nasser merupakan harapan sekaligus tantangan bagi demokrasi. Di satu sisi, dia telah berhasil membangkitkan nasionalisme Arab yang dapat dijadikan sebagai modal bagi demokrasi. Tetapi, di sisi lain dengan kekuasaannya yang bersifat absolut, dia telah memberangus kebebasan berpendapat dan berserikat, yang ditandai dengan pembubaran partai politik dan interdependensi lembaga yudikatif.22 Posisi Nasser semakin terjepit, saat kalah dalam perang melawan Israel pada tahun 1967.

Anwar Sadat adalah sosok penting dalam membuka kembali ruang demokrasi di Mesir. Ia melanjutkan pemerintahan Nasser sejak tahun 1971-1981. Dalam masa pemerintahannya, Sadat menegakkan kembali konstitusi dan melepaskan para tahanan politik dari Ikhwanul Muslimin yang diopresi oleh Nasser. Bahkan Sadat ditengarai telah berkoalisi dengan Ikhwanul

Muslimin dan kelompok Islamis lainnya, serta menggunakan idiom “jihad” dalam perang

melawan Israel.23 Namun, pada akhirnya sikap politik Sadat harus menuai tuah, karena kalangan Islamis memukul balik Sadat saat menandatangi perdamaian dengan Israel di Camp David. Bahkan Sadat akhirnya tewas di tangan para Islamis, yang semula dirangkulnya sebagai bagian untuk menghidupkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Salah satu legasi Sadat yang sangat penting dalam bangunan demokrasi di Mesir, yaitu perihal lahirnya konsitusi yang semakin mengukuhkan demokrasi. Di dalam konstitusi yang ditanda-tangani Sadat pada tahun 1980 dinyatakan, “Republik Arab Mesir adalah negara yang

20

Ahmad Faris ‘Abd al-Mun’im, Al-Sulthah al-Siyasiyyah fi Mishr wa Qadhiyyah al-Dimuqrathiyyah (1805-1987) (Kairo: Al-Haiah al-Mis}riyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1997), 43.

21

Thariq al-Bishri, Al-Harakah al-Siyasiyyah fi Mishr 1945-1953 (Kairo: Dar al-Shuruq, Cetakan II, 2002), 83.

22

Menurut John L. Esposito and John O. Voll, Islam and Democracy (Ney Work: Oxford University Press, 1996), bahwa naiknya Gama Abdul Nasser ke tampuk kekuasaan didukung oleh Ikhwanul Muslimin. Tetapi, dalam perjalanannya Nasser justru membubarkan Ikhwanul Muslimin, salah satunya karena ada perbedaan ideologi di antara keduanya. Nasser menjunjung tinggi sosialisme dan nasionalisme Arab, sementara Ikhwanul Muslimin konsisten dengan Islamisme.

23

(10)

9

menerapkan pemerintahan demokratis berdasarkan prinsip kewarganegaraan, dan rakyat Mesir adalah bagian dari umat Arab yang berperan dalam membangun persatuan yang bersifat

komprehensif”.24 Di dalam pasal 3 disebutkan, “kedaulatan berada di tangan rakyat, dan sumber

kekuasaan. Rakyat menjalankan kekuasaan dan mengontrolnya, serta menjamin persatuan

nasional”.25

Bahkan, di dalam konstitusi Mesir dinyatakan, larangan untuk membentuk partai politik berdasarkan agama, suku, dan ras tertentu.26

Konstitusi ini harus diakui merupakan pilar demokrasi yang sangat penting, karena istilah demokrasi untuk pertama kalinya masuk dalam konstitusi. Demokrasi yang termaktub dalam konstitusi tersebut secara eksplisit hendak membangun demokrasi liberal, yaitu demokrasi yang menjamin hak sipil, pluralisme, dan hak asasi-manusi, di bawah payung prinsip kewarganegaraan.27

Meskipun demikian, konstitusi yang menjamin demokrasi liberal tersebut tidak

sepenuhnya disebut “liberal”, karena secara eksplisit juga memberikan ruang bagi lahirnya “demokrasi yang tidak liberal”, yaitu perihal Islam sebagai agama negara dan Syariat Islam

sebagai sumber utama perundang-undangan.28 Menurut Ali Mabruk, langkah tersebut diambil oleh Sadat, sebagai langkah kompromi politik dengan kalangan Islamis untuk mempertahankan kekuasaannya. Di satu sisi, ia menerima usulan kalangan Islamis untuk menjadikan Islam sebagai agama negara dan Syariat sebagai sumber perundang-undangan, tetapi di sisi lain sebagai kompensasinya Sadat mendapat menjadi Presiden seumur hidup.29

Sadat tewas dalam sebuah insiden yang upacara kenegaraan di kalangan Islamis. Hosni Mubarak melanjutkan kekuasaan Sadat pada tahun 1981. Sejak naik ke tampuk kekuasaannya, Mubarak melanjutkan demokrasi yang diwarisi oleh Anwar Sadat. Pada pemilu 1984, Mubarak melaksanakan pemilu untuk pertama kalinya. Ikhwanul Muslim berkoalisi dengan Partai Wafd, dan mendapatkan 65% dari kursi parlemen, serta menjadi oposisi yang sangat kuat terhadap rezim Mubarak. Pada tahun 1987, Ikhwanul Muslimin membuat aliansi Islam dengan Partai

24

Lihat www.masr.gov.eg

25

Lihat www.masr.gov.eg

26

Lihat www.masr.gov.eg

27Istilah “Demokrasi Liberal” dikenal oleh

Larry Diamond, Developing Democracy: Toward Consolidation

(Baltimore: John Hopkins University Press, 1999), 1-19. Lihat juga, Robert Dahl, Polyarchy: Participation and Opposition (New Haven, CT: Yale University Press, 1991) dan David Beetham, “Liberal Democracy and the Limits

of Democratization”, in Prospects for Democracy: North, South, East, West, edited by David Held (Cambridge: Polity Press, 1993): 55.

28

Lihat www.masr.gov.eg

29

(11)

10

Buruh dan Partai Liberal. Mereka memenangkan 17% dari suara.30 Mubarak menjadikan Partai Nasional Demokratis (NDP) sebagai kendaraan politik untuk mempertahankan kekuasaanya.

Pada masa ini, demokrasi sudah diterima sebagai sistem terbaik dalam membangun pemerintahan yang berdasarkan pemilihan umum. Harapannya, kedaulatan rakyat dapat diwakili melalui parlemen dan keseimbangan di antara lembaga-lembaga politik, seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif. Tetapi, dalam perjalanannya, lembaga eksekutif atau Presiden mempunyai kekuasaan absolute, sehingga mengendalikan dan mengontrol pemerintahan secara total. Hukum berada di tangan rezim di tangah penguasa. Kalangan oposisi diredam, bahkan dipenjara.

Problem demokrasi muncul, karena Mubarak masih bersikukuh untuk mempertahankan kekuasaannya dengan mencederai demokrasi. Pemilu dilaksanakan secara reguler, tetapi kualitasnya sangat rendah, karena NDP menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk memenangkan pemilu dengan segala cara. Sementara itu, kalangan oposisi dipersempit ruang geraknya, bahkan Ikhwanul Muslimin diperlakukan secara diskriminatif, karena dianggap sebagai kelompok ekstremis yang mengganggu stabilitas politik.

Langkah represif tersebut memberikan persepsi yang buruk bagi demokrasi, khususnya bagi sebagian kelompok Islamis. Mereka tidak jarang mengaitkan demokrasi dengan kepentingan politik Barat. Apalagi demokrasi merupakan salah satu proyek politik luar negeri Amerika Serikat di negara-negara Timur-Tengah, termasuk Mesir. Di samping itu, demokrasi identik dengan politik otoriter Mubarak, yang tidak memberikan ruang yang sama terhadap pihak oposisi, khususnya kalangan Islamis. Bahkan, ada yang berpandangan antara Mubarak dengan kalangan Islamis saling mempengaruhi bagi keberlangsungan visi politik mereka masing-masing, yang otoriter di satu sisi dan ekstrem di sisi lain. 31

Akhirnya, rezim Mubarak menemukan ajalnya. Angin revolusi yang berhembung kencang di Negeri Kinanah ini telah menghempaskan rezim Mubarak yang dikenal bertangan besi itu. Meskipun demikian, harus diakui, bahwa angin revolusi yang menggulingkan rezim Mubarak memberikan harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi, karena di dalam konstitusi baru Mesir yang disahkan pasca-referendum 30 Maret 2011 ditanyakan dua hal penting sebagai fundamen untuk meningkatkan kualitas demokrasi: Pertama, mendorong tumbuhnya masyarakat

sipil. Di dalam pasal 4 disebutkan, “Setiap warga negara mempunyai hak untuk membentuk perkumpulan, yayasan, pergerakan, dan partai, sesuai dengan perundang-perundangan. Dilarang membentuk perkumpulan yang kegiatannya melanggar undang-undang, underground,

militeristik. Di samping itu, juga dilarang membuat kegiatan atau partai politik berdasarkan

agama tertentu atau perbedaan ras dan suku.”32

30

John L. Esposito and John O. Voll, Islam and Democracy (Ney Work: Oxford University Press, 1996), 180

31

Mohammed Zahid, The Muslim Brotherhood and Egypt’s Succession Crisis: The Politics of Liberasation

and Reform in The Middle East (New York: I.B.Tauris, 2010), 16

32

(12)

11

Kedua, membatasi masa jabatan kekuasaan untuk dua kali periode. Di dalam pasal 29

ditegaskan, “masa jabatan Presiden adalah empat tahun yang dimulai sejak diumumkan dalam

hasil pemilu, dan tidak boleh mengikuti pemilihan Presiden lagi kecuali hanya satu pemilu lagi”. Di samping itu, keterlibatan sejumlah kelompok Islamis yang selama ini ditekan oleh rezim Mubarak pasca-revolusi akan mendinamisasi demokrasi di satu sisi dan peran mereka di parlemen di sisi lain. Sebab, demokrasi tidak hanya memberi ruang terhadap mereka, tetapi juga mendesak mereka agar membuat kebijakan sesuai dengan konstitusi yang menekankan pentingnya prinsip kewarganegaraan. Tantangannya pasca-revolusi, bahwa Mesir belum memiliki konstitusi baru. Pertanyaannya, akankah konstitusi yang akan dibentuk pasca-revolusi akan semakin dekat dengan demokrasi liberal atau masih sama dengan konstitusi yang disahkan pada masa Sadat?

Pada akhirnya, menurut Saad Eddin Ibrahim, demokrasi di Mesir ditentukan oleh tiga aktor penting: Pertama, negara atau pemerintah. Sejauh ini pemerintah menjadi masalah dalam akselerasi demokrasi liberal. Kedua, kelompok Islamis (Islamis activists) yang kerapkali mempunyai ideologi yang bertentangan dengan demokrasi. Ketiga, aktivis demokrasi (democracy advocatesi), yaitu kelompok masyarakat sipil yang memperjuangkan hak asasi manusia dan pluralisme.33

Perdebatan Wacana Demokrasi

Mesir merupakan titik-temu di antara berbagai pilar peradaban, yaitu Fir’aun, Arab, Yunani, Afrika, dan Kristen Koptik.34 Sebagai lokus titik-temu berbagai peradaban, maka perdebatan mengenai demokrasi merupakan salah satu pemandangan yang menarik, sebagaimana tercermin dari dialektika antara kelompok Islamis dan sekuler.

Hal tersebut ditandai dengan suburnya pemikiran politik. Tradisi perdebatan intelektual sangat menonjol. Setidaknya ada dua kubu yang menonjol, yaitu kubu sekuler dan dan kubu

Islamis. Kubu sekuler diwakili oleh Rafa’a Tahtawi, Taha Husein dan Ali Abdu al-Raziq. Sedangkan kubu Islamis diwakili oleh Hasan al-Banna, Rashid Rid}a dan Sayyid Qut}b.

Perdebatan tentang demokrasi dalam kaitannya dengan Islam bermula sejak tahun 1925, ketika Ali Abdul Raziq menerbitkan buku, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan Prinsip-Prinsip Pemerintahan). Abdul Raziq adalah seorang ulama lulusan al-Azhar, yang menjabat sebagai hakim di pengadilan agama.35 Di dalam karyanya, Ali Abdul Raziq menyatakan,

“pemerintahan dalam negara Islam bisa dengan berbagai sistem: absolute atau terbuka, monarki

33

Saad Eddin Ibrahim, Egypt, Islam, and Democracy: Critical Essays (Kairo: The American University in Cairo Press, 2002), 267-268.

34

Lihat Milad Hanna, al-A’midah al-Sab’ah li al-Syakhsyiyyah al-Mishriyyah (Kairo: Nahdhah Mishr, 1996).

35

Muhammad Salim al-‘Awwa, fi al-Nizam al-Siyasi li al-Dawlah al-Islamiyyah (Kairo: Dar el-Shuruq, 2006), 113. Karya Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-H}ukm dilarang dari beredar, karena besarnya resistensi dari para ulama Azhar, dan dicetak ulang pada tahun 1966 di Beirut dan pada tahun 1971 oleh Majalah

(13)

12

atau republik, atau otoriter, konstitusional, demokratis, sosialis, dan bolshevik”.36

Pandangan ini membuktikan, bahwa pemerintahan ala khilafah sudah tidak relevan lagi, karena Dinasti Ottoman sudah berakhir sejak tahun 1923. Turki memilih sekularisme sebagai salah satu sistem pemerintahan pasca-jatuhnya sistem khilafah. Raziq secara implisit ingin mempopulerkan pemikiran politik sekuler ala Mustafa Kemal Attaturk.

Secara khusus, Raziq menyebut Muhammad Saw. sebagai utusan Tuhan yang misinya adalah pencerahan keagamaan yang berperan membangun solidaritas keagamaan, bukan

solidaritas politik. Ia mengutarakan, “Muhammad adalah utusan Allah Swt. untuk melaksanakan

dakwah keagamaan, tidak ada pesan untuk menjadi raja atau pesan untuk mendirikan sebuah

negara.”37 Ia menambahkan, “Islam adalah kesatuan agama, yang mana Nabi diutus untuk

mengajak pada persatuan, dan ia berhasil melaksanakannya sebelum wafat. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, ia berjuang menggunakan lisan dan kekuatan, sehingga meraih

kemenangan atas pertolongan Allah Swt.”38

Maka dari itu, Muhammad Saw. ditunjuk sebagai pemimpin bagi umatnya, bukan sebagai

raja. Raziq menyatakan, “Kerasulan Nabi memang meniscayakan dia sebagai pemimpin bagi

umatnya, akan tetapi hal tersebut bukan berarti ia sebagai raja atau pemimpin atas rakyat. Maka

janganlah dicampuradukkan antara kepemimpinan risalah dengan kepemimpinan politik.”39

Ia

menambahkan, “Dengan demikian, kepemimpinan Nabi atas orang-orang mukmin merupakan kepemimpinan kerasulan, tidak ada kaitnya dengan pemerintahan.”40

Pandangan Raziq tersebut dianggap mewakili pandangan sekularistik, karena secara eksplisit meletakkan Muhammad Saw. bukan sebagai pemimpin politik, melaikan sebagai pemimpin keagamaan. Pada masanya, bahkan hingga saat ini, pandangan ini ditentang oleh mayoritas ulama dan intelektual Muslim di Mesir dan berbagai dunia Islam lainnya.

Pemikiran sekularistik ala Raziq, harus diakui mempunyai basis yang kuat hingga saat ini. Faruq al-Qadhi secara eksplisit menegaskan, bahwa sekularisme merupakan solusi atas persoalan demokratisasi di Mesir saat ini.41 Sementara itu, Anwar ‘Abd al-Malik menggunakan istilah yang lebih halus, bahwa kebangsaa sebagai solusi untuk membangun demokrasi.42

Sebagai sebuah diskursus, sekularisme mendapatkan respons yang keras dari para pengkritiknya sejak awal gagasan Raziq dilontarkan. Para pengkritik Abdul Raziq berpandangan, bahwa Islam adalah agama dan negara. Selain sebagai akidah, Islam juga sebagai sistem yang

36

Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Beirut: Maktabah al-Hayat, 1966), 82.

37

Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Beirut: Maktabah al-Hayat, 1966), 83.

38

Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Beirut: Maktabah al-Hayat, 1966), 136.

39

Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Beirut: Maktabah al-Hayat, 1966), 141.

40

Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Beirut: Maktabah al-Hayat, 1966),142.

41

Faruq al-Qadhi, Al-‘Ilmaniyyah hiya al-Hall: min Ajli al-Muwathanah al-Haqqah wa al-Silm al-Ijtima’i

(Kairo: Dar al-‘Ayn, 2010).

42

(14)

13

mengatur kehidupan. Karena itu, setiap Muslim di Mesir wajib menerapkan Syariat sejak awal berhasil menaklukkan Dinasti Bizantium.43 Para pengkritik Abdul Raziq memandang sistem khilafah jatuh karena faktor eksternal, dan untuk memulihkannya kembali harus menghidupkan

nalar “khilafah”, yang dalam pandangan Ikhwanul Muslimin dikenal dengan “Pan-Islamisme”.44 Hasan al-Banna dan para aktivis Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928, merupakan salah satu kritikus garda depan terhadap demokrasi. Ahmad Syukri, salah seorang aktivis Ikhwanul Muslimin terkemuka dalam majalah “al-Ikwan”, yang terbit pada tanggal 12 September 1942

dengan judul, “Khuthuwat Nafi’ah, menegaskan bahwa demokrasi merupakan sistem yang secara sepintas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada rakyat. Namun, jika dicermati dengan baik, kebebasan tersebut bersifat semu, karena kebebasan hanya digunakan oleh segelintir orang untuk memapankan kekuasaanya dan meredam kekuatan oposisi. Kekayaan negara hanya dinikmati oleh parlemen, eksekutif, polisi, dan tentara dengan mengatasnamakan konstitusi. Sedangkan barangsiapa yang hendak mengkritisi praktek demokrasi seperti itu, akan berakhir di hukuman gantung. Bahkan, demokrasi yang dipraktekkan di Amerika dan Perancis sebenarnya tidak merepresentasikan kehendak rakyat, melainkan justru berada di bawah kepentingan para pebisnis kaum Yahudi.45

Ikhwanul Muslimin berpandangan, bahwa untuk mewujudkan pemerintahan yang adil hendaknya rakyat Mesir tidak merujuk kepada demokrasi, melainkan merujuk kepada Syariat Islam sebagai sumber utama. Demokrasi, menurut Ikhwanul Muslimin, pada hakikatnya

merupakan salah satu bentuk “imperialisme sistemik” terhadap dunia Islam, karena demokrasi

dalam prakteknya hanya mengamini kepentingan Barat di Mesir.

Pada masa kontemporer, muncul sejumlah pemikir yang secara eksplisit menolak pandangan sekularistik ala Ikhwanul Muslimin tersebut. Di antaranya, Muhammad ‘Imarah yang secara eksplisit menyampaikan empat pandangan kritis terhadap pemikiran Ali Abd al-Raziq: Pertama, pandangan Raziq muncul dalam konteks pertarungan antara kubu Dustur dan Wafd. Pikiran Raziq digunakan oleh Wafd untuk merangkul kubu Dustur agar melakukan oposisi

terhadap mereka yang hendak mendukung ideologi “khilafah”. Kedua, pandangan sekular

muncul, karena Raja Fuad sudah tidak memungkinkan lagi untuk menjadi “khalifah”, sehingga

ideologi “khalifah” harus diakhiri dengan menggunakan teori evolusi Darwin. Ketiga, Raziq telah merevisi pandangannya, dan Al-Azhar telah mengembalikan posisinya sebagai guru besar. Keempat, Raziq telah memberikan dampak negatif terhadap keilmuan yang telah dilahirkan, terutama karya-karya yang lahir pada masa sebelumnya.46

43

Fathi al-Marshafi, Dirasat Tathbiq al-Syari’ah al-Islamiyyah fi Mishr (Beirut: Dar al-Fikr al-‘Arabi>, tanpa tahun), 11

44

Ladan Boroumand dan Roya Boroumand, Terror, Islam, and Democracy, Journal of Democracy, Volume 12, 2, April 2002, 2

45

Lihat Hamadah Mahmud Isma’il, Hasan al-Banna wa Jama’at al-Ikhwan Muslimin bayn Din wa al-Siyasah 1928-1949 (Kairo: Dar al-Shorouk, 2010), 152.

46

(15)

14

Sebagai anti-tesa terhadap pikiran Raziq, Muh}ammad ‘Imarah semakin mengukuhkan

ideologi “Islam sebagai solusi”, karena menurut dia hanya ideologi Islam yang mampu menjawab persoalan dunia. Salah satu alasannya, karena Islam bersumber dari Tuhan dan berorientasi pada kemanusiaan.47

Perdebatan tentang sekularisme dan Islamisme di Mesir hingga saat ini tidak pernah selesai. Kedua kubu mempunyai basis sosial yang kuat di dalam realitas sosial-politik dan sosial keagamaan. Namun, jika mau jujur, sejak rezim Anwar Sadat pada tahun 1981 hingga sekarang ini, konstitusi Mesir lebih dekat dengan pandangan kubu Islamis, yang menjadikan agama sebagai dasar negara. Dalam pasal 2 konstitusi Mesir dinyatakan, “Islam adalah agama negara, bahasa Arab adalah bahasa resmi, dan prinsip-prinsip Syariat Islam sebagai sumber utama bagi perundang-perundangan.”48Secara politis, konstitusi ini dapat meredam militansi dan ideologi kalangan Islamis yang menghendaki tegaknya pandangan kaum Islamis dalam relasi agama dan negara. Tapi realitasnya, hingga sekarang ini Mesir tidak mempunyai hukum pidana dan perdata yang identik dengan Syariat Islam.

Satu hal yang menggembirakan, bahwa secara umum wacana demokrasi sudah diterima dengan baik. Setidak ada dua pemikir yang mulai membentangkan jalan kepada demokrasi, yaitu Fahmi Huwaydi dan Yusuf al-Qaradhawi. Huwaydi menegaskan, bahwa Islam dan demokrasi merupakan sesuatu yang bersifat taken for granted (al-ma’lum bi al-dlarurah). Umat Islam tidak mungkin hidup tanpa ajaran Islam, sebagaimana ia juga tidak bisa hidup tanpa demokrasi. Tanpa Islam, umat Islam akan kehilangan ruh, sedangkan tanpa demokrasi, umat Islam akan mengalami kegagalan.49

Sedangkan al-Qaradhawi menyatakan, pada hakikatnya, demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Ia menganalogikan demokrasi dengan imam shalat. Seseorang dapat diangkat menjadi imam shalat jika para makmum menghedaki dan rela menjadi imam.50 Pandangan yang lain dari al-Qaradhawi perihal pentingnya demokrasi, yaitu Islam sangat menentang otoritarianisme, yang membuktikan Islam telah membentangkan jalan menuju demokrasi. Otoritarianisme dalam sejarah kemanusiaan telah menjadi penyebab maraknya ketidakadilan dan korupsi. Karena itu, demokrasi menjadi sistem terbaik untuk menentang otorianisme.51

47Muhammad ‘Ima

rah, Hall al-Islam huwa al-Hall: Kayfa wa Limadha? (Kairo: Dar al-Shuruq, Cetakan II, 1998).

48

Lihat www.masr.gov.eg

49

Fahmi Huwaydi, Al-Islam wa al-Dimugrathiyyah (Kairo: Markaz Al-Ahram li al-Tarjamah wa al-Nashr, 1993), 5

50

Yusuf al-Qaradhawi, Min Fiqh al-Dawlah fi al-Islam: Makanatuha Ma’alimuha Thabi’atuha Mawqifuha min al-Dimuqrathiyyah wa al-Ta’addudiyyah wa al-Mar’ah wa Ghayr al-Muslimin (Kairo: Dar el Shuruq, Cetakan 3, 2001), 132. Al-Qaradhawi mengutip sebuah hadis untuk menegaskan kompatabilitas antara Islam dan demokrasi,

yaitu “Tiga golongan yang shalatnya tidak akan meninggikan derajatnya sejengkal di atas rambutnya, yaitu orang yang mengimami shalat, tetapi para makmum membencinya...”

51

(16)

15

Akseptabilitas para pemikir muslim terhadap demokrasi ini merupakan modal yang sangat penting bagi akselerasi demokrasi liberal di Mesir. Meskipun harus diakui, tantangannya juga tidak kecil, karena para ulama umumnya masih menentas sekularisme. Padahal, dalam demokrasi liberal, sekularisme menjadi sebuah paham yang niscaya dalam rangka mewujudkan demokrasi yang bersifat substantif.

Determinasi Militer

Militer merupakan salah satu elemen penting dalam jatuh-bangun demokrasi di Mesir. Kegagalan demokrasi harus diakui tidak bisa dilepaskan dari intervensi militer dalam ranah politik praktis. Setelah jatuh dari anasir Dinasti Ottoman, pada tahun 1952 Gamal Abdul Nasser mengambilalih kekuasaan melalui kudeta militer.52

Sejak berkuasa, Nasser membubarkan parlemen, memecat seluruh elemen sipil dalam politik, dan membubarkan lembaga peradilan. Ia berhasil membuat rezim militer yang otoriter, yang didukung sepenuhnya oleh konstitusi pada masa itu. Sejak saat itu, Nasser berhasil memapankan kekuasaannya dan menerapkan politik represif terhadap kekuatan oposisi dan masyarakat sipil, khususnya Ikhwanul Muslimin. Mereka ditangkap, termasuk pimpinan mereka, Hasan al-Banna yang berakhir pada kematiannya, sedangkan organisasinya dilarang.

Di satu sisi, Nasser berhasil menanamkan ideologi sosialisme Arab dan membangun aliansi politik dengan Uni Sovyet, sebagai bentuk perlawanan terhadap Barat. Pada masa Nasser, ide-ide sosialisme dan sekularisme tumbuh subur sebagai anti-tesa terhadap islamisme. Tetapi, harus diakui, harga yang harus dibayar mahal dari kebijakan tersebut yaitu matinya demokrasi. Budaya demokrasi yang meniscayakan penyemaian keragaman pandangan dan sikap politik digantikan oleh “politik sentralistik”, yang dikendalikan sepenuhnya oleh Gamal Abdul Nasser.

Petaka politik sentralistik yang diterapkan Nasser pada akhirnya ibarat senjata makan tuan. Kekalahan perang melawan Israel 1967, telah melumpuhkan cengkramannya dalam politik. Bersamaan dengan itu, Mesir menghadapi krisis ekonomi yang cukup serius, karena besarnya belanja di bidang militer. Sepanjang tahun 1975 dan 1977 meluas revolusi yang menuntut mundurnya Nasser.53 Maka, saat Nasser kalah melawan Israel dijadikan momentum untuk menggulingkan kekuasaan. Anwar Sadat melanjutkan kekuasaan Nasser.

Anwar Sadat tidak berhasil mempertahankan kekuasaanya, karena tewas di tangan kalangan Islamis, yang kecewa dengan kebijakannya berdamai dengan Israel pada tahun 1979. Determinasi militer semakin kokoh, saat Mubarak menggantikan Anwar Sadat.

Hosni Mubarak melanjutkan kebijakan pendahulunya, Gamal Abdul Nasser dan Anwar Sadat. Di satu sisi, dia memperkuat barisan militer di dalam ranah politik, tetapi juga melanjutkan perdamaian dengan Israel. Kebijakan yang dilanjutkan oleh Mubarak dari

3, 2001), 134-135. Pandangan ini juga pernah dikemukan oleh Abdurrahman al-Kawakibi dalam Thabai‘ al-Istibdad

wa Mashari‘ al-Isti‘bad (Damaskus: Al-Awail, 2003), 27.

52Ellis Goldberg, “Mubarakism Without Mubarak,” Foreign Affairs,

11 (February 2011), 111

53Ellis Goldberg, “Mubarakism Without Mubarak,” Foreign Affairs,

(17)

16

pendahulunya, yaitu “darurat militer”, sehingga ia mempunyai kekuasaan absolut untuk

membungkam oposisi, baik dari kubu sosialis maupun islamis.

Kekuasaan militer Mubarak semakin kokoh, saat ia menggunakan partai politik, khususnya Partai Nasional Demokrat (NDP) sebagai basis dukungan massa. Di samping itu, ia memperkuat kelas menengah, khususnya di kalangan pebisnis. Di sinilah, determinasi militer yang dilakukan Mubarak mempunyai wajah lain: demokrasi dan tumbuhnya kelas menengah.

Meskipun demikian, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa demokrasi akhirnya mati di tengah kuatnya ambisi kekuasaan kalangan militer dan keluarga Mubarak. Kebebasan politik dibungkam dan korupsi merajalela, yang menyebabkan besarnya angka buta-huruf dan pengangguran, yang menyebabkan lahirnya revolusi. Ironisnya, saat revolusi bergelayut, justru Mubarak ditinggalkan oleh kalangan militer, yang selama ini menjadi penyokong dan kekuatan utamanya dalam politik. Dalam hiruk-pikuk revolusi, kalangan militer justru berpihak kepada rakyat daripada Mubarak.

Kini, rakyat Mesir sedang dihadapkan pada kekhawatiran serupa, perihal naiknya militer ke tampuk kekuasaan. Militer yang sejatinya meangkhiri kekuasaannya pada akhir Juni 2012, tapi justru memperpanjang dominasi politiknya dengan cara membubarkan parlemen melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan, bahwa pemilu parlemen inkonstitusional karena calon independen juga diisi oleh kandidat dari partai politik, khususnya dari kubu Ikhwanul Muslimin. Muncul kekhawatiran, bahwa militer akan melakukan kudeta, sebagaimana dilakukan Nasser. Jika itu terjadi, maka militer merupakan tantangan serius dalam membangun demokrasi di Mesir pasca-revolusi. Di sinilah pentingnya menjauhkan militer dari politik praktis dan mengembalikan mereka ke barak, terutama dalam rangka melindungi negara dari ancaman negara lain.

Jatuhnya Morsi melalui mekanisme kudeta militer dengan mandat penuh dari rakyat menimbukan kekhawatiran baru, akankah militer masih mempunyai intensi yang kuat bagi demokratisasi di Mesir. Memberikan tampuk kepemimpinan kepada Adli Manshour, Dewan Tinggi Mahkamah Konstitusi dan menggelar Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif merupakan momentum yang dapat membuktikan apakah militer mempunyai komitmen yang kuat terhadap demokrasi. Tentu saja, komitmen tersebut sedang disorot dengan serius oleh rakyat Mesir perihal komitmen militer dalam demokratisasi.

Masa Depan Demokrasi

Pasca-tumbangnya rezim Hosni Mubarak, situasinya berubah total. Secara perlahan, demokrasi tumbuh dengan baik. Pemilu parlemen dan pemilu Presiden berlangsung dengan lancar, meskipun terdapat sejumlah kekurangan. Satu hal yang perlu dipotret, yaitu fenomena naiknya kaum islamis sebagai pemain utama dalam panggung politik.

(18)

17

mengalahkan para kandidat lain, baik dari kubu nasionalis, kubu rezim Mubarak, maupun kubu independen.

Di samping kemenangan kubu Islamis tersebut, satu hal yang menarik dicermati di sini, yaitu sikap kaum islamis terhadap demokrasi. Kaum islamis, baik Ikhwanul Muslimin maupun kaum Salafi, terlibat dalam pergulatan paradigmatik yang cukup intens dalam memaknai demokrasi. Secara eksplisit, Ikhwanul Muslimin mendukung sepenuhnya konsep negara demokratis, yang menjamin kebhinekaan. Muhammad Badi, pimpinan tertinggi (mursyid ‘am) Ikhwanul Muslimin, menegaskan pihaknya berupaya membangun negara demokratis yang dilandaskan pada prinsip-prinsip kewarganegaraan, penegakan hukum, kebebasan, persamaan, pluralisme, pergantian kekuasaan secara damai melalui pemilu, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.54

Sikap teranyar Ikhwanul Muslimin terhadap demokrasi merupakan sebuah kemajuan dan perubahan yang sangat luar biasa. Pasalnya, Ikhwanul Muslimin selama ini dikenal sebagai kelompok yang menolak demokrasi, bahkan demokrasi dianggap sebagai barang haram.55 Pada tahun 1994, Ikhwanul Muslimin telah mengeluarkan sebuah keputusan penting tentang musyawarah dalam Islam dan multipartai dalam masyarakat Muslim (Mujaz ‘an al-Syura fi al-Islam wa Ta’addud al-Ahzab fi Mujtama’ al-Muslim).56 Pada saat itu, Ikhwanul Muslimin terlihat masih alergi menggunakan istilah demokrasi. Tetapi, angin revolusi yang berhembus kencang di dunia Arab, terutama di Mesir, telah mengubah sikap Ikhwanul Muslimin terhadap demokrasi.

Bahkan, Ikhwanul Muslimin pasca-revolusi cenderung merepresentasikan “kelompok

moderat”, karena membangun dialog intensif dengan kalangan Kristen Koptik. Saat Partai

Kebebasan dan Keadilan didirikan, mereka melibatkan kalangan Kristen Koptik.57 Ikhwanul Muslimin juga hadir dalam perayaaan Natal dan beberapa kali bersilaturahmi kepada pimpinan Kristen Koptik. Di samping itu, Ikhwanul Muslimin juga mendorong kalangan perempuan terlibat dalam pesta demokrasi dan mempunyai para legislator di Parlemen dari kalangan perempuan.

Maka dari itu, cara pandang Ikhwanul Muslimin terhadap demokrasi hampir bisa dipastikan bersifat moderat. Muhammad Badi secara eksplisit menegaskan, bahwa pihaknya

54

Lihat tulisan Muhammad Badi, Mis}r...bayn al-Ams wa al-Yawm, Harian Umum Ahra>m, 13 Februari 2012, 18.

55

Tokoh yang paling keras menentang demokrasi, yaitu Sayyid Qutb, yang berpandangan bahwa demokrasi adalah haram. Salah satu alasannya, karena demokrasi adalah ideologi Barat atau ideologi kaum Jahiliah. Lihat, Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Thariq, (Kairo: Dar al-Shorouk, 1968).

56

Lihat tulisan al-Sayyid Yasin, al-‘Aql al-Islami bayn al-Infitah wa al-Inghilaq, Harian Ahram, 16 Februari 2012, 12.

57

(19)

18

akan mengedepankan dimensi akhlak dalam agama, bukan dimensi hukum. Karena dimensi akhlak merupakan elan penting bagi kemajuan sebuah bangsa.58

Meskipun demikian, Ikhawanul Muslimin masih mempunyai masalah serius dalam membangun negara demokratis yang menjamin kesetaraan bagi setiap warga negara. Hal tersebut terkait dengan basis paradigmatik mereka dalam memaknai demokrasi. Ikhwanul Muslimin masih menggunakan Islam sebagai sumber rujukan utama, yang dikenal dengan dawlah

madaniyyah bi marja’iyyah Islamiyyah.59 Yang menjadi persoalan di sini, karena konotasi Islam

yang dalam kacamata Ikhwanul Muslimin yaitu Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb. Sementara itu, harus diakui bahwa pemikiran kedua tokoh utama Ikhwanul Muslimin sudah tidak relevan lagi dengan konteks sosial-politik Mesir, khususnya pasca-revolusi, yang menyuarakan pentingnya demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia.60

Berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, kaum Salafi sebagai pemenang kedua pemilu pasca-revolusi, mempunyai pandangan yang lebih puritan. Mereka mempunyai agenda yang lebih tegas untuk menegakkan Syariat Islam dengan perspektif salafisme. Faktanya, kalangan Salafi secara tegas mempunyai agenda untuk menegakkan hukum pidana Islam sebagai

konsekuensi dari diktum “Syariat Islam sebagai sumber utama perundang-undangan”. Kaum Salafi dalam panggung sejarah diidentikkan dengan kaum Wahabi, yang mempunyai paham

“kembali kepada al-Quran dan Sunnah”. Di samping itu, mereka juga mempunyai doktrin loyalitas (al-wala’) dan disasosiasi (al-bara’), yang mempunyai pandangan ekstrem terhadap kalangan non-Muslim.61 Hingga saat ini, kaum Salafi masih belum mau berhubungan dengan kalangan Kristen Koptik. Bahkan, saat Paus Sanouda wafat, mereka tidak mengucapkan belasungkawa dan tidak pernah mengucapkan selamat Natal kepada mereka.

Atas dasar itu, pertarungan di antara kubu Ikhwanul Muslimin dan kaum Salafi dalam perebutan identitas Syariat akan semakin mengemuka, karena cara pandang mereka terhadap demokrasi dan kalangan non-Muslim berbeda seratus persen. Meskipun kaum Salafi

58

Lihat Muhammad Badi, al-Nahdhah al-Akhlaqiyyah..Bidayat al-Taqaddum, Harian al-Ahram, 4 Maret, 2012, 18.

59

Esham al-Eryan, al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah (Kairo: Markaz al-I’lam

al-‘Arabi, 2011). Lihat juga, Muhammad Mahmud Manshur, al-Dawlah al-Islamiyyah Madaniyyah, (Kairo:

Muassasah Iqra’, 2011) dan Mahmud Ghazlan, Ru’yatuna fî Qadhaya Siyasiyyah Mu’ashirah, (Kairo: Dar al-Tawzi’ wa al-Nashr, 2001).

60

Menurut Wahid Abd al-Majid dalam al-Ikhwan al-Muslimun: Bayna al-Tarikh wa al-Mustaqbal, Kayfa Kanat al-Jama’ah wa Kayfa Takunu (Kairo: al-Ahram li al-Nashr wa al-Tarjamah wa al-Tawzi’, 2010), 179-190, preferensi Islam di dalam internal Ikhwanul Muslimin bisa menjadi problem serius bagi demokrasi, karena peran para elite dalam menentukan kebijakan, sehingga menghilangkan ide-ide segar yang muncul dari kubu reformis dan kalangan muda.

61

(20)

19

berpartisipasi dalam pemilu, tetapi mereka hingga saat ini mereka tidak menyampaikan sikap terhadap demokrasi, baik menerima maupun menentang. Di samping itu, mereka masih mempunyai pandangan disasosiatif dan diskriminatif terhadap kalangan Kristen Koptik.

Di satu sisi, fenomena tersebut akan membentangkan jalan bagi pencerahan dan pendewasaan cara pandang kalangan muslim terhadap demokrasi dan diskursus Syariat Islam, tetapi di sisi lain akan menjadi ancaman serius bagi demokrasi, karena masing-masing kelompok akan menggunakan Syariat Islam sebagai perebutan politik, khususnya dalam ranah demokrasi.

Di sini, peran al-Azhar sebagai lembaga keagamaan yang moderat memainkan peran penting agar diskursus keagamaan tidak digunakan sebagai perebutan identitas politik kaum islamis. Jika problem ini tidak bisa dipecahkan di masa yang akan datang, maka demokrasi yang diamanatkan oleh revolusi akan menghadapi tantangan serius, yang menyebabkan demokrasi hanya berlangsung pada ranah elektoral, sementara jauh dari esensi demokrasi liberal. Jika itu yang terjadi, sebagaimana diungkapkan oleh Fareed Zakaria, Mesir sebenarnya sedang menuju sebuah zaman demokrasi yang tidak liberal (illiberal democracy).62

Jatuhnya Morsi dapat menggambarkan, bahwa demokrasi yang tidak liberal telah mendapatkan perlawanan serius dari rakyat Mesir. Tanda-tangan petisi pembangkangan ( al-tamarrud) oleh kurang lebih 22 juta orang terhadap “Ikhwanisasi Mesir” sebagai lonceng peringatan, bahwa Ikhwanul Muslimin atau kelompok manapun yang berkuasa harus menjalankan esensi demokrasi, perihal kebebasan (al-hurriyyah), kemakmuran (al-‘isy), kemanusiaan (al-karamah al-insaniyyah), dan keadilan sosial (al-‘adalah al-ijtima’iyyah). Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kebersamaan dalam konteks kebangsaan dan kewarganegaraan, yang dapat merefleksikan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan/kelompok.

Kesimpulan

Demokrasi bukanlah sistem yang mapan dalam rentang waktu yang cepat, melainkan membutuhkan masa yang panjang, bahkan penuh lika-liku. Pengalaman demokrasi di Mesir membuktikan, bahwa modernisasi, pengembangan ekonomi, pembentukan konstitusi, pemilihan umum, dan pemikiran progresif merupakan proses yang mesti dilalui untuk mewujudkan demokrasi.

Setidaknya ada tiga tantangan penting dalam membangun demokrasi: Pertama, sistem dan pemimpin yang otoriter. Dalam hal ini dapat dinyatakan, bahwa demokrasi membutuhkan nomokrasi, sehingga kekuasaan tidak mudah disalahgunakan oleh pemimpin. Sejak pemerintahan Muhammad Ali hingga tumbangnya rezim Hosni Mubarak sudah terbukti, bahwa politisasi konstitusi telah menyebabkan pemerintahan terjerumus dalam otoritarianisme. Akibatnya, seorang pemimpin bisa berkuasa hingga 30 tahun dengan mengatasnamakan konstitusi.

Kedua, intervensi militer dalam politik praktis. Sejak masa modern, Mesir dipimpin oleh militer. Hal ini membuktikan, bahwa militer menjadi tantangan serius dalam membangun

62Fareed Zakaria, “The Rise of Illiberal Democracy”,Foreign Affairs,

(21)

20

demokrasi. Di antaranya, kebijakan “darurat militer” yang kerap digunakan oleh militer untuk

mengukuhkan kekuasaanya menjadikan demokrasi kehilangan ruhnya. Karena itu, militer harus kembali ke barak, terutama dalam rangka memperkuat pertahanan dan melindungi negara dari ancaman musuh.

Ketiga, kuatnya kalangan Islamis. Kelompok ini dapat menjadi tantangan demokrasi, karena mereka mempunyai intensi untuk mengusung ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi liberal. Demokrasi pada hakikatnya bukan sekadar berlangsungnya pemilu yang jujur dan bersih, sebagaimana dianut dalam demokrasi elektoral, melainkan jauh dari itu sebagai jalan untuk mewujudkan kesetaraan di bawah payung prinsip kewarganegaraan.

Daftar Pustaka

Abd al-Malik, Anwar. Al-Wathaniyyah hiya al-Hall. Kairo: Maktabah al-Shuruq al-Dawliyyah, 2006.

Abd al-Majid, Wahid. Al-Ikhwan al-Muslimun: Bayna al-Tarikh wa al-Mustaqbal, Kayfa Kanat

al-Jama’ah wa Kayfa Takunu. Kairo: al-Ahram li al-Nashr wa al-Tarjamah wa al-Tawzi’,

2010.

‘Abd al-Mun’im, Ahmad Faris. Al-Sulthah Siyasiyyah fi Mishr wa Qadhiyyah al-Dimuqrathiyyah (1805-1987). Kairo: Al-Haiah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1997.

Abdullah, Tsana Fu’ad. Mustaqbal al-Dimuqrathiyyah fi Mishr. Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-‘Arabiyyah, 2005.

Abd al-Raziq, Ali. al-Islam wa Ushul al-Hukm. Beirut. Maktabah al-Hayat, 1966.

Abou el-Fadl,Khaled. The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists, New York: HarperCollins Publishers, 2005.

Al-Bishri, Thariq. Al-Harakah al-Siyasiyyah fi Mishr 1945-1953. Kairo: Dar al-Shuruq, Cetakan II, 2002.

Al-Eryan, Esham. al-Ikhwan al-Muslimun wa al-Dawlah al-Madaniyyah. Kairo: Markaz al-I’lam al-‘Arabi, 2011.

Al-Marshafi, Fathi. Dirasat Tathbiq al-Syari’ah al-Islamiyyah fi Mishr. Beirut: Dar Fikr

al-‘Arabi, tanpa tahun.

Al-Qadhi, Faruq. Al-‘Ilmaniyyah hiya al-Hall: min Ajli al-Muwathanah al-Haqqah wa al-Silm

al-Ijtima’i. Kairo: Dar al-‘Ayn, 2010.

(22)

21

Beetham, David. “Liberal Democracy and the Limits of Democratization”, in Prospects for Democracy: North, South, East, West, edited by David Held. Cambridge: Polity Press, 1993.

Dahl, Robert. Polyarchy: Participation and Opposition. New Haven, CT: Yale University Press, 1991.

Diamond, Larry. Developing Democracy: Toward Consolidation. Baltimore: John Hopkins University Press, 1999.

Esposito, John L. and John O. Voll, Islam and Democracy. New Work: Oxford University Press, 1996.

Ghazlan, Mahmūd Ru’yatuna fî Qadhaya Siyasiyyah Mu’ashirah. Kairo: Dar al-Tawzi’ wa al -Nashr, 2001.

Goldberg, Ellis. “Mubarakism Without Mubarak,” Foreign Affairs, 11, February 2011.

Hanna, Milad. al-A’midah al-Sab‘ah li al-Syakhsyiyyah al-Mishriyyah. Kairo: Nahdhat Mishr, 1996.

Harik, Iliya. “Democracy, Arab Exceptionalism, and Social Science”, Middle East Journal, 4, Autumn, 2006.

Huwaydi, Fahmi. Al-Islam wa al-Dimograthiyyah. Kairo: Markaz Al-Ahram li al-Tarjamah wa al-Nashr, 1993.

Saad Eddin Ibrahim, Egypt, Islam, and Democracy: Critical Essays (Kairo: The American University in Cairo Press, 2002), 267-268.

‘Imarah, Muhammad. al-Islam wa Ushul al-Hukm li ‘Ali Abdul Raziq: Dirasat wa Watsaiq.

Beirut: Al-Muassasah al-‘Arabiyyah li al-Dirasat wa al-Nasyr, 2000.

‘Imarah, Muhammad. Hall al-Islam huwa al-Hall: Kayfa wa Limadha? Kairo: Dar al-Shuruq, Cetakan II, 1998.

Madhi, Abd al-Fattah. “Intikhabat 2005 al-Riasiyyah fi Mishr: Intikhabat bi la Dimuqrathiyyah wa la Dimuqrathiyyin”, in Al-Intikhabat al-Dimuqrathiyyah wa Waqi’ al-Intikhabat fi al-Aqthar al-’Arabiyyah. Beirut: Markaz al-Dirasat al-Wihdah al-’Arabiyyah, 2009.

Mahmud Isma’il, Hamadah. Hasan al-Banna wa Jama’at al-Ikhwan al-Muslimin bayn al-Din wa al-Siyasah 1928-1949. Kairo: Dar al-Shorouk, 2010.

Mahmūd Manshūr, Muhammad. Al-Dawlah al-Islamiyyah Madaniyyah. Kairo: Muassasah Iqra’,

2011.

Moussalli, Ahmad. Wahhabism, Salafism, and Islamism: Who is the Enemy, Conflit Forum, Beirut, Januari, 2009.

(23)

22

Salim al-‘Awwa, Muhammad. Fi al-Nizam al-Siyasi li al-Dawlah al-Islamiyyah. Kairo: Da>r el-Shuruq, 2006.

Smith, Graeme, A Short History of Secularism. New York: I.B.Tauris, 2008.

Stepan, Alfred and Graeme B. Robertson. “Arab, Not Muslim, Exceptionalism.” Journal of Democracy, 15, October, 2004.

Stepan, Alfred and Graeme B. Robertson dalam artikel lain, “An "Arab" More Than "Muslim" Electoral Gap. Journal of Democracy, 14, July, 2003.

Yuchman-Ya‘ar, Ephraim and Yasmin Alkaray. “Political Attitudes in the Muslim World.”

Journal of Democracy, 21, July 2010.

Zahid, Mohammed. The Muslim Brotherhood and Egypt’s Succession Crisis: The Politics of Liberasation and Reform in The Middle East. New York: I.B.Tauris, 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 (Berita Daerah Kabupaten Grobogan Tahun 2020 Nomor 7) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan

Analisis data menggunakan metode Taguchi dilakukan untuk mengetahui kontribusi dari parameter spindle speed , feed rate dan depth of cut berdasarkan eksperimen yang

1) Surat dari Presiden R.I. 5etya Novanto, Ak kepada Saudara DR. Ade Komarudin, M.H. , Nomor Anggota A-262 Untuk surat tersebut dapat diproses sesuai dengan Peraturan

Nilai saksama aset gadai janji dan aset sewa beli/aset gadai janji Islam dan aset sewa beli Islam diperolehi dengan menggunakan nilai kini aliran tunai masa depan yang

Tujuan dari disusunnya analisis SWOT adalah untuk mengkaji sekolah secara keseluruhan, baik itu dari faktor internal, maupun eksternal sekolah sebagai dasar untuk menentukan

kemampuan akademik adalah suatu kecakapan yang berhubungan dengan akademis (pendidikan) siswa terhadap suatu materi pelajaran yang sudah dipelajari dan dapat

Dari hasil pemotongan citra, kemudian dilakukan proses grayscale dan histogram untuk mendapatkan nilai piksel pada udang sehat dan udang sakit yang ditunjukkan dalam Tabel 1

Dari hasil pengamatan diperoleh kondisi kelas yang akan diteliti sebelum diberi tindakan dengan model pembelajaran Project Based Learning, yaitu keaktifan belajar siswa