• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ekologi dan Evolusi Famili Rotali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Ekologi dan Evolusi Famili Rotali"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Nama Foraminifera berasal dari istilah Latin yaitu “foramen” yang berarti rongga, dan “ferre” yang berarti menghasilkan. Pada umumnya, Foraminifera mensekresi materi mineral sehingga menghasilkan test (cangkang) berongga (Albani, 1979). Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang.

Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter. Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi.

(2)

DASAR TEORI

A. Foraminifera Benthonik

Benthonik adalah organisme yang hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang atau karang yang sudah mati. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi pola penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan benthik. Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik serta jenis makanan bentos. Material penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous, khitin, gampingan. Foraminifera benthonik sangat baik digunakan untuk indikator paleoecology dan bathymetri, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekologi dari foraminifera.

Keberadaan hewan benthik pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar (Allard and Moreau, 1987; APHA, 1992). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985).

1. Cara Hidup Foraminifera Benthonik

Cara hidup dari foraminifera benthonik ada dua yaitu bentonik vagil dan benthonik sesil.

Benthonik Vagil : Foraminifera hidup dengan cara bergerak di atas substrat atau permukaan dasar laut menggunakan alat gerak yaitu

pseudopodia. Contoh : Cassidulina, Ammobacculites.

Benthonik Sesil : Foraminifera hidup dengan cara menambat pada substrat atau dasar laut. Contoh : Miniacina.

2. Macam-Macam Foraminifera Benthonik

Berdasarkan ukurannya foraminifera benthonik dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Foraminifera Benthonik Besar

Istilah foraminifera besar diberikan untuk golongan foraminifera benthonik yang memiliki ukuran relative besar, jumlah kamar relative banyak, dan struktur dalam kompleks. Umumnya foram besar banyak dijumpai pada batuan karbonat khususnya batugamping terumbu dan

(3)

biasanya berasosiasi dengan algae yang menghasilkan CaCO3 untuk test foram itu sendiri.

2. Formanifera Benthonik Kecil

Jenis foraminifera ini relatif kecil, hampir sama dengan foraminifera planktonik. Hanya saja foraminifera ini cara hidupnya menempel atau merayap pada dasar laut. Cirinya bentuk test cenderung pipih dan memanjang, susunan kamar umumnya planispiral, komposisi testnya aglutin & arenaceous.

B. Taksonomi Foraminifera Benthonik Kecil Kingdom : Protista

Filum : Protozoa Subfilum : Sarcodina

Superklas : Rhizopoda

Klas : Foraminifera Ordo : Foraminiferida

Subordo : Rotaliina

Superfamili : Rotaliacea

Famili : Rotaliidae

(4)

PEMBAHASAN Famili Rotaliidae

Bentuk test secara umum famili ini adalah trochoid dengan seluruh kamar dapat teramati pada bagian dorsal, kecuali pada genus yang involute, hanya kamar terakhir yang dapat diamati pada ventral. Dinding test tersusun oleh gampingan, ada juga beberapa dinding test yang tersusun oleh arenaceous terutama pada genus yang tua atau primitif. Aperture dapat diamati pada bagian ventral.

(5)

Gambar 1. Peta sebaran dan keterdapatan anggota dari famili Rotaliidae di bumi

1. Genus Rotalia (Lamarck, 1804)

Merupakan genus yang memiliki suture menebal pada bagian dorsal, bagian ventral suturenya tertekan ke dalam, komposisi dinding test gampingan berpori, aperture interiormarginal pada bagian ventral membuka dari umbilikus kearah pinggiran (extra umbilical). Muncul pada Kapur – Eosen.

Gambar 2. Salah satu spesies dari genus Rotalia

2. Genus Spirillina (Ehrenberg, 1843)

Merupakan genus yang memiliki bentuk test trochoid, seluruh kamar dapat teramati secara dorsal, komposisi dinding test gampingan,

(6)

aperture membulat sampai seperti bulan sabit dan dapat diamati pada bagian ventral. Muncul pada Pliosen – Pleistosen.

Gambar 3. Salah satu spesies dari genus Spirellina

3. Genus Discorbis (Lamarck, 1804)

Merupakan genus yang memiliki susunan kamar trochospiral, cembung ganda dengan sisi umbilikus yang rata, komposisi dinding test calcareous, tipis dan permukaannya halus, suture tertekan dan melengkung hampir radial, aperture interiormarginal umbilical. Muncul pada Eosen – Holosen (sekarang).

Gambar 4. Salah satu spesies dari genus Discorbis

4. Genus Gyroidina (d’Orbigny, 1826)

Merupakan genus involute dengan ukuran test kecil, bentuk test trochospiral, suture sedikit tertekan, komposisi dinding test calcareous dengan pori-pori yang kecil, aperture interiormarginal umbilikus, memanjang hampir ke pinggiran dan berada dekat dengan umbilikus (extra umbilical). Muncul pada Pliosen – Pleistosen.

(7)

Gambar 5. Salah satu spesies dari genus Gyroidina

5. Genus Valvulineria (Cushman, 1926)

Merupakan genus yang memiliki bentuk test bulat, komposisi dinding test calcareous, susunan kamar trochospiral melingkar, dengan sisi umbilikus tertekan, aperture interiormarginal umbilical. Muncul pada Paleosen – Holosen (sekarang).

(8)

KESIMPULAN

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Pandita, Hita. 2009. Petunjuk Praktikum Mikropaleontologi Umum. Yogyakarta: STTNAS Yogyakarta.

Nuruhwati, Isni., dkk. 2012. Kelimpahan Foraminifera Bentik Resen pada Sedimen Permukaan di Perairan Teluk Jakarta. Jurnal Akuatika Vol. III No. 1(11-18).

Encyclopedia of Life. 2012. Rotaliidae. Dari http://eol.org/pages/4936/overview, (diakses 22 Mei 2014).

Forambarcoding. 2010. Rotaliidae. Dari http://forambarcoding.unige.ch/families/ 13-rotaliidae, (diakses 20 Mei 2014).

Geological Survey of Iran. 2012. Family Rotaliidae Ehrenberg, 1839. Dari

http://www.gsi.ir/General/Lang_en/Page_48/SubOrderId_2311/SuperFami lyId_2981/FamilyId_2996/Action_FamilyView/WebsiteId_13/ROTALIID AE.html, (diakses 21 Mei 2014).

GBIF. 2012. Rotaliidae Ehrenberg, 1839. Dari http://www.gbif.org/species/ 109518161, (diakses 22 Mei 2014).

(10)

Gambar

Gambar 2. Salah satu spesies dari genus Rotalia
Gambar 3. Salah satu spesies dari genus Spirellina
Gambar 5. Salah satu spesies dari genus Gyroidina

Referensi

Dokumen terkait

Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi terjadi karena patahan lempeng di dasar laut bergerak ke atas atau turun ke bawah (vertikal) secara tiba- tiba. Akibatnya, air di

Karang batu yang hidup di bawah permukaan air memerlukan air laut yang bersih dari kotoran - kotoran, oleh karena benda - benda yang terdapat di dalam air.. dapat menghalangi

Karang batu yang hidup di bawah permukaan air memerlukan air laut yang bersih dari kotoran - kotoran, oleh karena benda - benda yang terdapat di dalam air.. dapat menghalangi

Beberapa spesies fauna liar yang hidup menyebar di Pulau Bangka diantaranya biawak air (Varanus salvator), rusa sambar (Cervus unicolor) dan babi hutan (Sus scrofa)

Filum Porifera  atau hewan berpori, yaitu hewan air yang hidup di laut dengan bentuk tubuh seperti tumbuhan atau tabung berpori yang melekat pada suatu dasar laut dan dapat