KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Oleh: Muhammad Rozali

A. Latar Belakang

Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antara satu individu dengan individu yang lain dengan baik, adanya komunikasi maka terjadilah hubungan interaksi sosial dalam kehidupan, sebagaimana kita ketahui bahwa manusia adalah makluk sosial, di antara satu dengan yang lain saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.

Dalam setiap hubungan dengan sesama tentu terjadi proses komunikasi, itu semua tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan pada makalah ini, untuk tercapainya proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita. Dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi itu tidak selamanya lancar, hal itu terjadi dikarenakan kurangnya memperhatikan unsur-unsur yang semestinya ada dalam proses komunikasi.

(2)

Disinilah pentingnya kemampuan berkomunikasi bagi seorang pemimpin, khususnya dalam usaha untuk mempengaruhi prilaku orang lain.

Dari uraian-uraian diatas sangat jelas kita dapatkan bahwa komunikasi adalah suatu alat bantu atau suatu sistim yang menghubungkan kehidupan satu individu dengan individu yang lebih banyak lagi, begitu juga dalam suatu komunitas besar, manajemennya akan berjalan dengan lancar kalau komunikasi dalam komunitas itu baik.

A. Pengertian Komunikasi Organisasi

Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, secara etimologi berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana. Ada juga yang mengartikan bahwa, organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas.1 Robert Bonnington dalam buku Modern

Business; A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengkoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.2

Dalam prose interaksi antara individu yang satu dengan yang lainya terjadi komunikasi dalam rangka penyampaian informasi. Oteng Sutisna mengemukakan bahwa: “Komunikasi

1 Everet M. Rogers, Communication in Organization (New York: The Free Press, 1976),

h. 125.

2 Robert L. Bonnington, dkk, Modern Business: A Systems Approach (Minneapolis:

(3)

ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjeleasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu organisasi”.3

Berdasarkan dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa dalam setiap hubungan antara orang-orang atau kelompok-kelompok akan terjadinya komunikasi dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan, baik itu dalam bentuk informasi atau berita maupun yang sifatnya berkaitan dengan pribadi dalam mengutarakan perasaan pribadi, gagasan, dan ide kepada orang lain. Selanjutnya menurut Aristoteles yang dikutif oleh Marsetio Donosepoetro, ia mengartikan Rhetoric dengan komunikasi, yang artinya sebagai segala usaha dan kemampuan seseorang untuk persuasi”.4

Dari uraian tersebut, maka jelaslah bahwa komunikasi merupakan sebagain usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan tidak terlepas dari kemampuan yang dimilikinya untuk berkomunikasi terhadap orang lain di dalam menyampaikan tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, bahwa komunikasi dalam setiap bentuknya adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang yang menjadi lawan bicara atau lawan untuk berkomunikasi.

Jadi bisa dikatakan bahwa komunikasi organisasi adalah proses penciptaan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk

3 Oteng Stuisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional

(Bandung: Angkasa, 1983), h. 190.

4 Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir

(4)

mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Pengertian tersebut mengandung konsep-konsep sebagai berikut:

1. Proses, adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang

menciptakan dan saling menukar informasi di antara anggotanya. Karena gejala menciptakan dan menukar informasi ini berjalan terus menerus dan tidak ada hentinya, maka dikatakan sebagai suatu proses.

2. Pesan, adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si

penerima.5 Pesan juga bisa berbentuk susunan simbol yang penuh arti tentang orang, obyek, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang lain. Dalam komunikasi organisasi kita mempelajari ciptaan dan pertukaran pesan dalam seluruh organisasi. Pesan dalam organisasi dapat dilihat menurut beberapa klasifikasi yang berhubungan dengan bahasa, penerima yang dimaksud, metode difusi dan arus tujuan dari pesan. Pengklasifikasian pesan menutut bahasa dapat dibedakan pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal dalam organisasi misalnya; surat, memo, pidato, dan percakapan. Sedangkan pesan nonverbal dalam organisasi terutama sekali yang tidak diucapkan atau ditulis seperti; bahasa gerak tubuh, sentuhan, nada suara, ekspresi wajah, dll.

3. Jaringan, organisasi terdiri dari satu seri orang yang tiap-tiapnya menduduki posisi atau peranan tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang-orang ini sesamanya terjadi melewati suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi. Suatu jaringan

(5)

komunikasi ini mungkin mencakup hanya dua orang, beberapa orang atau keseluruhan organisasi. Hakikat dan luas dari jaringan ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain; hubungan peranan, arah dan arus pesan, hakikat seri dari arus pesan, dan isi dari pesan.

4. Keadaan Saling Tergantung, konsep kunci komunikasi organisasi keempat adalah keadaan yang saling tergantung satu bagian dengan bagian lainnya. Hal ini telah menajadi sifat dari suatu organisai yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh kepada bagian lainnya dan mungkin juga kepada seluruh sistem organisasi. Implikasinya, bila pimpinan membuat suatu keputusan dia harus memperhitungkan implikasi keputusan itu terhadap organisasinya secara menyeluruh.

(6)

hubungan yang kompleks. Jadi dalam organisasi terjadi hubungan yang sifatnya individual, kelompok, dan hubnganorganisasi.

6. Lingkungan, yang dimaksud lingkungan adalah semua totalitas secara dan faktor sosial yang diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem. Yang termasuk lingkungan internal adalah personal/anggota, tujuan, produk, dll. Sedangkan lingkungan eksternal adalah; langganan, saingan, teknologi, dll. Komunikasi organisasi terutama bekenaan dengan transaksi yang terjadi dalam lingkungan internal organisasi yang terdiri dari dan kulturnya, dan antar organisasi dengan lingkungan ekternalnya. Yang dimaksud dengan kultur organisasi adalah pola kepercayaan dan harapan dari anggota organisasi yang menghasilkan norma-norma yang membentuk tingkah laku individu dan kelompok dalam organisasi. Organisasi sebagai suatu sistem terbuka harus berinteraksi dengan lingkungan eksternal seperti; teknologi, ekonomi, undang-undang, dan faktor sosial. Karena faktor lingkungan berubah-ubah, maka organisasi memerlukan informasi baru. Informasi ini harus dapat mengatasi perubahan dalam lingkungan dengan menciptakan dan pertukaran pesan baik secara internal dalam unit-unit yang relevan maupun terhadap kepentingan umum secara eksternal.

(7)

anggotanya, kalau informasi tersebut didapatkan maka tidak masalah, tetapi kalau informaasi itu tidak didapatkan maka terjadi ketidakpastian. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, melakukan suatu penelitian pengembangan organisasi dan mengahapi tugas-tugas yang kompleks dengan integrasi yang tinggi. Ketidak pastian dalam suatu organisasi juga disebabkan oleh terjadinya banyak informasi yang diterima dari pada sesungguhnya diperlukan untuk menghadapi lingkungan mereka. Jadi ketidakpastian dapat disebabkan oleh terlalu sedikit informasi yang didapatkan dan juga karena terlalu banyak yang diterima.6

B. Komunikasi Organisasi Pendidikan

Komunikasi dalam dunia pendidikan sangat kompleks karena terdapat berbagai unsur misalnya ada pimpinan, tenaga pengajar, karyawan, dan murid yang semuanya saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Komunikasi tenaga pengajar dengan siswa sangat penting dalam dunia pendidikan dan biasanya komunikasi yang terjadi tidak hanya di dalam kelas saja tetapi banyak terjadi juga di luar kelas. Komunikasi yang baik antara tenaga pengajar dengan mahasiswa atau staf TU dan pimpinan yang lebih tinggi, serta stakeholders yang ada pada lingkungan, dapat meningkatkan kepuasan semua pihak dan selanjutnya diduga akan dapat memperbaiki mutu lulusan dan selanjutnya produktivitas akan meningkat.

6 Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan (Malang: Bumi Aksara,

(8)

Adanya pengaruh dari iklim komunikasi organisasi dan kepuasan komunikasi organisasi terhadap kualitas pelayanan pendidikan, memberikan penjelasan bahwa komunikasi organisasi merupakan hal yang perlu dibenahi oleh suatu instansi dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna jasanya. Perlunya pembenahan yang tepat mengenai komunikasi organisasi, mengingat dalam komunikasi dapat tercipta suatu interaksi yang sesuai antara anggota dengan anggota lain dalam organisasi dan anggota organisasi dengan pihak luar, dalam hal inilah mereka yang sering berinteraksi dengan organisasi.

Selain dapat menciptakan suatu interaksi yang sesuai dalam sisi internal maupun eksternal, yang paling penting dari komunikasi organisasi yang efektif adalah dapat menciptakan suatu aliran informasi yang jelas baik pada hubungan internal maupun organisasi dengan pihak eksternal, dan di sisi lain komunikasi organisasi yang baik dapat menjadi alat kontrol organisasi itu sendiri dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna jasanya.7

Adanya pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap kualitas pelayanan bidang pendidikan adalah logis. Bila diuraikan pengertian dari iklim komunikasi organisasi itu sendiri yaitu merupakan gabungan dari persepsi-persepsi suatu evaluasi makro mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respons pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik-konflik antar personal, dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut.8

7 Robbin S.P, Organizational Behavior, 10 th ed (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 2003), h. 4. 8 Wayne P.R. dan Don F, Komunikasi Organisasi; Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan

(9)

C. Efektivitas Komunikasi Organisasi Pendidikan

Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses sosial untuk mentransmisikan atau menyampaikan perasaan atau informasi, baik yang berupa ide-ide atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang lain. Agar komunikasi berjalan efektif, komunikator hendaknya mampu mengatur aliran pemberitaan ke tiga arah, yakni ke bawah, ke atas, ke samping atau mendatar. Bagi setiap orang atau kelompok dalam organisasi hendaknya mungkin untuk berkomunikasi dengan setiap orang atau kelompok lain, dan untuk menerima respon sikap, itu diminta oleh komuniktor.

Menurut Marsetio Donosepoetro mengemukakan bahwa dalam proses komunikasi ada beberapa ketentuan, antara lain:

1. Karena komunikasi mempunyai suatu maksud, maka suatu

messege atau stimulus selalu ditujukan kepada

sekumpulan orang tertentu, ini disebut penerima yang terntetu.

2. Komunikator berkeinginan menimbulkan suatu respon kepada penerima yang sesuai dengan maksud yang dibawakan oleh messege atau stimulus tertentu.

3. Suatu komunikasi dinyatakan berhasil jika respon yang timbul pada penerima, sesuai dengan maksud komunikasi.9 Dalam melaksanakan suatu program pendidikan aktivitas menyebarkan, menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud ke seluruh struktur organisasi sangat penting. Proses komunikasi dalam menyampaikan suatu tujuan lebih dari pada sekedar menyalurkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dan maksud-maksud secara lisan atau tertulis. Komunikasi secara lisan pada umumnya lebih mendatangkan hasil dan pengertian yang jelas dari pada secara tertulis. Demikian pula komunikasi

(10)

secara informal dan secara formal mendatangkan hasil yang berbeda pengaruh dan kejelasannya.

Terjadinya proses komunikasi dalam organisasi atau lembaga itu bisa terjadi secara formal maupun secara informal, sebagaimana menurut Oteng Sutisna bahwa “Komunikasi formal terjadi, dalam memilih informasi untuk keperluan pelaporan, penyimpangan bisa dengan mudah menyelinap. Selanjutnya biasanya orang ingin mendengar laporan-laporan yang menyenangkan. Akibatnya ialah sering pemindahan informasi yang diperindah atau dibiaskan”.10

Dalam struktur komunikasi harus adanya suatu jaminan informasi dan pikiran-pikiran akan mengalir bebas ke semua arah yang diperlukan, baik itu ke bawah, ke atas, dan ke samping. Satu saluran komunikasi formal tertentu atau lebih ke dan dari setiap personal atau anggota adalah perlu. Saluran-saluran itu hendaknya perlu dipahami oleh setiap anggota. Garis-garis komunikasi hendaknya dibuat sependek dan selangsung mungkin. Hendaknya mungkin bagi semua anggota untuk bertindak sebagai sumber komunikasi maupun sebagai penerima.

Selanjutnya menurut Maman Ukas bahwa “Komunikasi informal adalah komunikasi yang tidak resmi dan terjadinya pada saat organisasi saling bertukar pikiran, saran ide, atau informasi secara pribadi”.11 Komunikasi informal ini tentunya dengan cara melakukan pendekatan secara kekeluargaan atau hubungan sosial tidak secara formal. Menurut Oteng Sutisna bahwa “Sistem komunikasi informal menyalurkan informasi dan pikiran-pikiran penting yang tak terpikirkan orang untuk disalurkan secara

10 Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan..., h. 195.

11 Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi (Bandung: Ossa Promo,

(11)

formal, memupuk ikatan dan persahabatan yang membantu bagi hubungan-hubungan insani yang baik.”12

Jika komunikator menaruh perhatian kepada saluran-saluran komunikasi informal, ia akan mengetahui kepentingan dan perhatian personil serta sikap mereka terhadap organisasi dan masalah-masalahnya, lagi pula komunikasi informal itu membawa kepada putusan-putusan yang dibuat di antara orang-orang pada tahap organisasi yang sama.

Dalam kegitan suatu organisasi atau lembaga khusunya dalam hal pengelolaan pendidikan tentunya tidak terlepas dengan komunikasi. Oleh sebab itu suatu manajemen pendidikan akan berhasil apabilla terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, sehingga terjadi pemahaman tentang informasi atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat.

Berdasarkan hal tersebut, bahwa tujuan dari suatu organisasi atau instansi tentunya dapat tercapai secara optimal apabila proses komunikasinya lancar tanpa adanya suatu hambatan, walaupun ada hambatan, maka komunikator dan komunikan harus dengan cermat segera mengatasi permasalahan yang menyebabkan terjadi suatu hambatan, sehingga proses komunikasi dapat berlangsung.

Dalam prosesnya komunikasi itu terbagai dalam dua macam komunikasi, yaitu komunikasi aktif dan komunikasi pasif. Komunikasi aktif merupakan suatu proses komunikasi yang

(12)

berlangsung dengan aktif antara komunikator dengan komunikan, di manan antara keduanya sama-sama aktif berkomunikasi, sehingga terjadi timbal balik di antara keduanya. Sedangkan komunikasi pasif terjadi di mana komunikator menyampaikan informasi atau ide terhadap khalayaknya atau komunikan sebagai penerima informasi, akan tetapi komunikan tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan respon atau timbal balik dari proses komunikasi.

Sementara itu menurut Berry, Zeithaml dan Parasuraman bahwa yang menjadi potensi terjadinya kegagalan peningkatan pelayanan publik salah satu diantaranya adalah lemahnya pengkomunikasian standar (Poorly communicated service standard).13 Dengan demikian bila iklim komunikasi organisasi tidak tercipta dengan baik, maka komunikasi organisasi menjadi tidak efektif dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas pelayanan.

D. Kesimpulan

Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjeleasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu

Komunikasi merupakan suatu yang sangat pokok yang dalam prosesnya ada tujuan komunikasi, yaitu:

1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha.

(13)

2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan. 3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan

sumber daya lainnya seperti efektif dan efisien.

4. Memilih, mengembangkan dan menilai anggota organisasi. 5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan

suatu iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi.

Di samping tujuan tersebut, unsur-unsur komunikasi meliputi; harus ada suatu sumber, harus ada suatu maksud atau tujuan, adanya suatu berita atau informasi, harus ada suatu saluran atau media komunikasi, dan harus ada penerima berita. Sesuai dengan tujuannya bahwa terjadinya komunikasi mempunyai beberapa fungsi, antara lain: fungsi informasi, fungsi komando, fungsi mempengaruhi dan penyaluran, dan fungsi integrasi.

Proses komunikasi dalam organisasi atau lembaga itu bisa terjadi secara formal maupun secara informal. Satu saluran komunikasi formal tertentu atau lebih dari setiap personal atau anggota adalah perlu. Saluran-saluran itu hendaknya perlu dipahami oleh setiap anggota. Garis-garis komunikasi hendaknya dibuat sependek dan selangsung mungkin. Hendaknya semua anggota bertindak sebagai sumber komunikasi maupun sebagai penerima.

(14)

dengan komunikan, dan terjadi pemahaman tentang informasi atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Selanjutnya bahwa dalam proses komunikasi terbagai dalam dua macam, yang meliputi komunikasi aktif dan komunikasi pasif.

DAFTAR PUSTAKA

Everet M. Rogers, Communication in Organization, New York: The Free

Press, 1976.

Robert L. Bonnington, dkk, Modern Business: A Systems Approach,

Minneapolis: Houghton Mifflin, 1973.

Oteng Stuisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek

Profesional, Bandung: Angkasa, 1983.

Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan

Berpikir, Surabaya: 1982.

Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

Lovelock C.H, ServicesMarketing, USA: Prentice – Hall International, 1992.

Robbin S.P, Organizational Behavior, 10 th ed, New Jersey:

Prentice-Hall Inc,

2003.

Wayne P.R. dan Don F, Komunikasi Organisasi; Strategi

Meningkatkan Kinerja

(15)

Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi, Bandung: Ossa

Promo, 1999.

Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...