• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paduan Termoplastik Elastomer (Polipropilena-Karet Sir 10 Dan Epdm) Dengan Bahan Pengisi Pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Material Peredam Suara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Paduan Termoplastik Elastomer (Polipropilena-Karet Sir 10 Dan Epdm) Dengan Bahan Pengisi Pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Material Peredam Suara"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Karet merupakan polimer alam yang dipakai secara luas di dunia industri karena

memiliki sifat-sifat unik seperti kemampuan meregang dan kembali kekeadaan

semula dengan cepat. Karet alam sebagian besar ada dalam bentuk

cis-1,4-poliisoprena yang berasal dari tumbuhan Havea braziliensis. Karet pada wujud

aslinya mempunyai kelemahan-kelemahan diantaranya cepat teroksidasi atau usang,

tidak tahan terhadap minyak, mulur dan kekuatan rendah.

Polipropilena (polimer yang dapat melunak berkali-kali apabila diberi panas

dan dapat menjadi kaku atau keras setelah didinginkan) merupakan salah satu polimer

yang sangat luas digunakan dalam industry food packaging, moulding dan serat

sintetis. Kelebihan polimer ini memiliki kekuatan dan kekakuan yang tinggi. Melihat

kelebihan propilena tersebut, tentunya akan lebih memberi manfaat apabila diolah

menjadi produk lain tanpa menurunkan kualitas dari polipropilena, seperti sifat-sifat

mekaniknya.

Sementara itu percampuran poliolefin dengan karet alam tidak dapat

dihasilkan campuran yang kompatibel, yang disebabkan oleh fasa karet alam yang

tidak mudah terdistribusi kedalam matrik poliolefin karena adanya perbedaan

viskositas kedua polimer tersebut yang cukup besar pada suhu leleh poliolefin,

sehingga interaksi molekular antara poliolefin dengan karet alam relatif kurang besar

(Naskar dkk, 2004; Bahruddin dkk, 2007; Bahruddin dkk, 2009).

Percampuran plastik (termoplastik) dengan karet (elastomer) dapat

(2)

agent) yang disebut dengan termoplastik elastomer (TPE) yang mempunyai sifat dan

fungsi yang mirip dengan karet vulkanisasi pada suhu ambient, dan dapat dilelehkan

pada suhu tinggi seperti termoplastik (Naskar dkk, 2004; Nakason dkk, 2006;

Halimatuddahliana dkk, 2006; Halimatuddahliana dkk, 2007). Sifat-sifat ini dapat

menjembatani perbedaan antara sifat karet (elastomer) dengan sifat plastik

(termoplastik), yang bermanfaat sebagai alternatip penggunaan karet alam dalam

berbagai aplikasi seperti industri otomotif, elektronik dan konstruksi bangunan.

Beberapa jenis plastik yang banyak digunakan untuk membuat TPE antara lain:

Polietilen (PE), Polivinilchlorida (PVC) dan Polipropilena (PP)(Ismail dkk, 2002;

Nakason dkk, 2006; Awang dkk, 2008; Sae-Oui dkk, 2010; Siregar, 2010). TPE yang

dibuat dari pencampuran elastomer dengan termoplastik mempunyai keunggulan

yaitu sifat yang diinginkan dapat ditentukan dengan memilih komponen elastomer

dan termoplastik pada perbandingan campuran yang sesuai, penelitian-penelitian

tentang pembuatan TPE ini sangat berkembang pesat pada saat ini.

Beberapa peneliti sudah mengembangkan metode-metode percampuran untuk

dapat meningkatkan sifat mekanik campuran karet alam (elastomer) dengan plastik

(termoplastik) yang umumnya menggunakan sulfur sebagai curative agent ( zat

pemvulkanisasi), selain peroksida, resin fenolik maupun uretan dengan tehnik

pengolahan secara internal mixer dan extrusi maupun radiasi untuk memperoleh

material baru dengan tingkat kekuatan yang diinginkan ( Nakason dkk, 2006; Awang

dkk, 2008; Sae-Oui dkk, 2010). Beberapa peneliti juga mengembangkan penggunaan

dicumil peroksida (DKP) sebagai curative agent untuk memvulkanisasi karet (

Nakason dkk, 2006; Nakason dkk, 2008; Naskar dkk, 2004; Masykuri dkk, 2005;

Nakason dkk, 2006; Halimatuddahliana, 2007; Halimatuddahliana dkk, 2008;

Thitithammawong dkk, 2007; Awang dkk, 2008; Siregar, 2010).

Untuk meningkatkan sifat mekanik campuran termoplasik elastomer dan

(3)

sering ditambahkan zat pengserasi (pengkompatibel) atau zat pengikat silang seperti

propilena-etilena akrilik asid (PPEAA) (Ismail dkk, 2001) , HVA-2 atau NNi

-m-phenylenebismelamide (Muhammad N.H dkk, 2003; Halimatuddahliana, 2007;

Awang dkk, 2008), divinil benzene (DVB) (Siregar, 2010).

Selain pemilihan teknik pengolahan polimer, juga dikembangkan pemilihan

bahan pengisi yang sesuai dan teknik penambahan bahan pengisi untuk meningkatkan

sifat mekanik dari termoplastik elastomer yang dibuat (Seok Oh dkk, 2003; Nakason

dkk, 2006 ; Bahruddin dkk, 2007; Bahruddin dkk, 2009; Wulandari dkk, 2007;

Sae-Oui dkk, 2010 ).

Untuk meningkatkan sifat mekanik poliblend sering ditambahkan bahan

pengisi seperti hitam karbon, clay dan lain-lain. Wirjosentono (1997), menggunakan

serbuk tandan kosong sawit, pelepah dan batang sawit sebagai bahan pengisi

termoplastik polipropilen sampai kadar 30%. Serat kelapa sawit, abu sekam padi,

serat jut, serbuk kayu karet, abu sekam padi putih dan partikel-partikel sisa karet telah

digunakan sebagai bahan pengisi didalam elastomer, plastik dan termoplastik

elastomer (Ismail dkk, 1999; Ismail dkk, 1997; Siregar, 1999; Ismail dkk, 2003;

Siriwardena dkk, 2003). Pemakaian berbagai bahan pengisi ini menunjukkan

peningkatan modulus tensil dan kekerasan, dan penurunan kekuatan tarik dengan

penambahan bahan pengisi.

Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti (Seriwardena dkk,

2001: Ismail dkk, 2003; dan Siregar, 1999) memperoleh bahwa bahan pengisi serat

alami tidak serasi dengan bahan polimer. Hal ini di sebabkan oleh perbedaan

kepolaran bahan-bahan tersebut dimana bahan polimer merupakan bahan yang

bersifat hidrofobik sedangkan pengisi serat alami bersifat hidrofilik. Oleh karena itu

beberapa langkah telah diambil dalam mengatasi masalah ini antaranya ialah dengan

menggunakan agen pengserasi, melakukan modifikasi bahan pengisi dengan bahan

(4)

Yuhsin (2008) meniliti pengaruh bahan pengisi organoclay dalam campuran

EPDM / polipropilena menggunakan octylphenol-formaldehide dan stannous chloride

dehydrat sebagai zat pemvulkanisasi yang memperoleh bahwa organoclay dapat

meningkatkan kekuatan dan derajat elongasi dari termoplastik vulkanisasi dan

menurunkan stabilitas termal oleh dekomposisi zat pengembang dalam organoclay.

Satapathy (2010) memblending termoplastik elastomer polietilen bekas

dengan karet alam bekas menggunakan bahan pengisi fly ash dan bahan pengcoupling

Silane (Si-69) yang memperoleh peningkatan kekuatan lentur dan regangan sampai

50% berat bahan pengisi.

Sementara itu untuk mengurangi kerusakan serat sellulosa selama pengolahan

bahan polimer dan agar memperoleh kompatibilitas yang baik, pendispersi poli(vinil

asetat-Latex) telah digunakan untuk mendispersikan serat sellulosa dalam matriks

termoplastik. (Klason dkk,1988).

Ruksakulpiwat (2009) meneliti pencampuran polipropilena/karet alam dan

polipropilene/EPDM dengan Sulpur, ZnO sebagai pemvulkanisasi, dan bahan pengisi

rumput vetiver dengan pendispersi asam stearat memperoleh peningkatan kekuatan

impak dan elongasi dengan penambahan karet alam sampai 20%, sedangkan dengan

penambahan EPDM hanya sampai 10%.

Dengan semakin majunya teknologi, perkembangan peralatan yang digunakan manusia akan terus semakin meningkat. Baik peralatan tersebut berupa

sarana informasi, transportasi. telekomunikasi, produksi, konstruksi dan sarana

hiburan. Sebahagian besar peralatan tersebut membutuhkan kekuatan bahan tertentu

untuk tujuan keperluan yang tertentu, misalnya alat-alat mounting, bearing.

Sebahagian lagi peralatan tersebut dapat menghasilkan suara-suara yang tidak

diinginkan sehingga menimbulkan kebisingan. Untuk mengatasi hal tersebut

dikembangkanlah berbagai jenis bahan peredam suara. Jenis bahan peredam suara

(5)

ketiga bahan tersebut bahan berporilah yang sering digunakan, khususnya untuk

ruang-ruang sempit seperti ruang musik dan film (home theater) di perumahan dan

perkantoran, kerena ringan dan murah. Material yang telah lama digunakan adalah

dari glass wool dan rock wool tetapi harganya sangat mahal. Nama dagang panel

acoustic peredam suara adalah Acourate mat resin yaitu suatu bahan visco elastic

polimer yang mampu mengisolasi bunyi dengan cara menyerap energy suara yang

merambat pada lantai, dinding, plafond dan pilar yang harganya berkisar Rp

250000/m2 , maka berbagai bahan pengganti material tersebut mulai dibuat. Salah

satunya dengan menciptakan material peredam suara dari komposit berpengisi serat

alam, karena serat alam merupakan bahan berpori dan mengandung banyak

lignoselulosa (McMulan, 2002), mempunyai densitas rendah, mudah terurai,

kekakuan tinggi dan harganya murah, dan berlimpah terdapat di alam (Uma, 2010).

Khuriati (2006) telah mencampurkan berbagai perekat dengan bahan pengisi

sabuk kelapa untuk penyerapan bunyi yang sesuai dengan standar ISO 11654. Hal

yang sama dilakukan Hosaini (2010) dengan mencampurkan lateks dengan bahan

pengisi serat kelapa dan bahan additive untuk meningkatkan penyerapan suara.

Han-Seung Yang (2004) juga melakukan penelitian tentang penggunaan jerami dan ban

bekas sebagai bahan pengisi dengan poliuretan sebagai adhesive untuk campuran

bahan bangunan, yang dapat meningkatkan penyerapan bunyi. Christina (2007) juga

memanfaatkan rongga-rongga jerami padi sebagai bahan baku pembuatan panel

akustik. Sezgin (2009) juga memanfaatkan limbah serat daun teh dari pabrik

pengolahan sebagai bahan pengisi untuk peradam suara. Sementara Youneung (2003)

menggunakan berbagai ukuran pertikel serat polyester daur ulang sebagai bahan

peredam suara. Aries (2007) mengkarakteristik dasar tentang koefisien absorbsi

bunyi material akustik dari sampah organik dan anorganik dimana semakin tinggi

kandungan materialnya semakin besar koefisien absorbsinya.

Dari uraian diatas, dikembangkanlah teknik pencampuran antara

(6)

dikumil peroksida (DKP) sebagai inisiator dan divinyl benzene (DVB) sebagai

coupling agent (zat penghubung) diharapkan dapat menghasilkan kompatibilitas

campuran yang baik sehingga dapat menghasilkan material baru yang dapat

dipergunakan untuk bahan peralatan otomotip, elektronika dan konstruksi bangunan.

Disamping itu, dengan pemanfaatan serat pulp tandan kosong sawit (PTKS) sebagai

bahan pengisi dalam matrik poliblen, pencampuran dengan menggunakan asam

stearat sebagai pendispersi diharapkan dapat lebih meningkatkan sifat-sifat mekanik

material baru sekaligus dapat berguna sebagai material peredam suara (panel

acustik).

1.2. Perumusan Masalah

Bahan poliblend dapat dibuat dengan mencampurkan dua atau lebih bahan polimer

sampai didapatkan campuran33homogen, baik dengan cara melarutkannya atau dalam

mesin pengolah (internal mixer). Dalam hal ini poliblen polipropilena (PP) dengan

karet alam SIR 10 atau karet sintetis EPDM tidak dapat membentuk campuran yang

homogen, karena perbedaan viskositas kedua polimer tersebut cukup besar pada suhu

leleh PP oleh karena itu dengan adanya DKP sebagai inisiator pada PP dan karet

alam SIR 10 atau karet sintetis EPDM, diharapkan dapat berreaksi dengan DVB

melalui gugus vinyl tak jenuh sehingga membentuk jaringan polimer atau crosslink

diantara karet alam dan PP yang di harapkan dapat meningkatkan kompatibilitas

bahan komponen poliblen tersebut. Kemudian dengan penambahan bahan pengisi

serat PTKS yang bersifat polar dengan adanya bahan pengkompatibel asam stearat

diharapkan diperoleh bahan material baru dengan sifat-sifat mekanik yang lebih

(7)

Maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah campuran antara karet alam SIR 10 atau karet sintetis EPDM,

dengan PP, DKP sebagai inisiator dan DVB sebagai zat pengkoupling

dapat membentuk ikatan silang antara PP dengan karet alam SIR 10 atau

dengan karet sintetis EPDM sehingga diperoleh bahan material

termoplastik elastomer baru dengan sifat-sifat mekanik yang tinggi dan

dengan kompatibilitas yang baik.

2. Apakah ada peningkatan sifat mekanik antara pencampuran karet alam

SIR 10 atau karet sintetis EPDM dengan PP , DKP sebagai inisiator dan

DVB sebagai zat pengkoupling dengan penambahan bahan pengisi PTKS

sehingga diperoleh material baru lebih kompatibel.

3. Apakah ada interaksi kimia atau fisika antara pencampuran karet alam SIR

10 atau karet sintetis EPDM dengan PP , DKP sebagai inisiator dan DVB

sebagai zat pengkoupling dengan penambahan bahan pengisi PTKS

dengan menggunakan asam stearat sehingga diperoleh material baru

dengan sifat-sifat mekanik yang jauh lebih baik dan lebih kompatibel.

4. Bagaimanakah hubungan antara berat bahan pengisi terhadap sifat

mekanis dari poliblend dan koefisien penyerapan bunyinya.

1.3. Tujuan Penilitian

Dengan adanya permasalahan diatas maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menyelidiki derajat kompatibilitas campuran antara karet alam SIR 10

dengan PP menggunakan inisiator DKP dan DVB sebagai zat

pengcoupling sehingga diperoleh material baru yang bersifat termoplastik

elastomer yang lebih baik dan lebih kompatibel .

2. Menyelidiki interaksi kimia atau fisika antara bahan pengisi serat tandan

(8)

pendispersi dengan campuran PP dengan karet alam SIR 10 atau karet

sintetis EPDM, dan inisiator DKP dengan adanya DVB sebagai bahan

pengkoupling.

3. Menyelidiki teknik pencampuran antara bahan pengisi PTKS dengan

campuran PP dengan inisiator DKP dan DVB sebagai coupling agent.

4. Menyelidiki hubungan berat bahan pengisi PTKS dalam matrik

termoplastik elastomer dengan koefisien penyerapan bunyi.

1.4. Manfaat Penelitian.

Adanya penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :

1. Pengembangan teknik pencampuran karet alam SIR 10 atau karet sintetis

EPDM dengan PP , DKP sebagai inisiator dan DVB sebagai zat

pengcoupling diharapkan bermanfaat sebagai bahan material termoplastik

elastomer baru yang dapat dipergunakan dalam bidang otomotif,

konstruksi bangunan dan bahan elektronik yang tidak mudah pecah.

2. Pemanfaatan PTKS sebagai bahan pengisi dalam matrik termoplastik

elastomer untuk memperoleh material termoplastik elastomer baru yang

mempunyai nilai tambah dalam bidang konstruksi bangunan, otomotip

dan elektronik khususnya sebagai material peredam suara ( peredam

bunyi).

1.5. Lokasi Penelitian.

Pencampuran PP dengan karet alam SIR 10 atau dengan karet sintetis EPDM

menggunakan inisiator DKP , DVB sebagai coupling agent dan pendispersi asam

stearat dengan bahan pengisi PTKS dilakukan dengan internal mixer dilaboratorium

Polimer FMIPA-USU, uji tarik, uji impak, dilakukan dilaboratorim Penelitian

(9)

DSC/TGA dan FT-IR Laboratorium Kimia Terpadu FMIPA USU Medan ,Koefisien

penyerapan suara (bunyi) dilakukan di Laboratorium Elektronika Fakultas Teknik

USU Medan.

1.6. Metodologi Penelitian.

Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium (Riserch Laboratory) dengan

perlakuan pencampuran 50 gram Polipropilena (PP) / 50 gram Karet alam SIR 10

atau dengan karet sintetis EPDM, dan variasi konsentrasi DKP 0 – 3 phr (tanpa

penambahan DKP adalah sebagai CONTROL) didalam internal mixer pada suhu

170oC selama 30 menit . Sementara sifat mekanis yang diukur adalah kekuatan tarik .

Penelitian ini adalah penelitian faktorial dengan 3 variasi konsentrasi dan 4 sifat

mekanis (desain Faktorial 3 x 4). Replikasi dilakukan tiga kali untuk setiap perlakuan

masing-masing sampel.

Pengambilan data dari film tersebut meliputi :

1. Tahap I

Pada tahap ini pencampuran 50 gram PP dengan 50 gram Karet alam SIR 10

dilakukan secara internal mixer pada suhu 170oC selama 30 minit dengan variasi

konsentrasi DKP 1 – 3 phr untuk mendapatkan pengaruh konsentrasi DKP pada

vulkanisasi karet, dan dikarakterisasi dengan uji kuat tarik. CONTROL

Hal yang sama dilakukan juga untuk pencampuran 50 gram Polipropilena / 50 gram

Karet sintetis EPDM.

2. Tahap II.

Pada tahap ini 50 gram Polipropilena diinternal mixer pada 1700C sampai meleleh,

kemudian ditambah 50 gram Karet alam SIR 10 ke dalam internal mixer sampai

homogen, kemudian ditambah DKP dengan konsentrasi optimum yang diperoleh pada

(10)

DVB masing-masing 1 sampai 4 phr . Karakterisasi dilakukan dengan uji tarik,

impak, DSC/TGA, FT-IR, dan SEM, Koefisien penyerapan bunyi.

Hal yang sama dilakukan untuk pencampuran 50 gram PP / 50 gram Karet sintetis

EPDM.

3. Tahap III.

Pada tahap ini 50 gram Polipropilena diinternal mixer pada 1700C sampai meleleh,

kemudian ditambah 50 gram Karet alam SIR 10 ke dalam internal mixer sampai

bercampur homogen, kemudian ditambah DKP dan DVB dengan konsentrasi

optimum yang diperoleh pada percobaan Tahap II sebelumnya, kemudian ditambah

PTKS dengan variasi berat 10 gram, 20 gram, 30 gram, 40 gram dan diinternal mixer

sampai homogen. Karakterisasi dilakukan dengan uji tarik, uji impak, Daya serap air,

Persentase ikat silang, DSC/TGA, FT-IR, dan SEM, Koefisien penyerapan bunyi.

Hal yang sama dilakukan untuk pencampuran 50 gram PP / 50 gram Karet sintetis

EPDM.

4. Tahap IV.

Pada tahap ini 50 gram Polipropilena diinternal mixer pada 1700C sampai meleleh,

kemudian ditambah 50 gram Karet alam SIR 10 ke dalam internal mixer sampai

bercampur homogen, kemudian ditambah DKP dan DVB dengan konsentrasi

optimum yang diperoleh pada percobaan Tahap II sebelumnya, kemudian ditambah

PTKS dengan variasi berat 10 gram, 20 gram, 30 gram, 40 gram dan Asam stearat

sebanyak 6 gram.dan diinternal mixer sampai homogen. Karakterisasi dilakukan

dengan uji tarik, uji impak, Daya serap air, Persentase ikat silang, DSC/TGA, FT-IR,

dan SEM, Koefisien penyerapan bunyi.

Hal yang sama dilakukan untuk pencampuran 50 gram PP / 50 gram Karet sintetis

(11)

Variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Tahap I Variable bebas :

- Variasi konsentrasi DKP 1, 2, dan 3 phr

Variable tetap :

- Waktu pencampuran 30 menit

- Suhu pencampuran 1700 C

- Konsentrasi PP dan Karet alam masing-masing 50 gram.

Variable terikat ;

- Uji kuat tarik

2. Tahap II Variabel bebas :

- Variasi konsentrasi DVB masing-masing 1. 2, dan 3 phr, 4 phr.

Variable tetap :

- Konsentrasi DKP.

- Waktu pencampuran 30 menit.

- Suhu pencampuran 170o C .

- Konsentrasi PP dan Karet alam masing-masing 50 gram.

Variable terikat :

- Karakterisasinya dengan uji tarik, uji impak, DSC/TGA, FT-IR, dan SEM,

Koefisien penyerapan bunyi.

3. Tahap III. Variable bebas :

- Berat PTKS masing-masing 10, 20, 30, dan 40 gram.

Variabel tetap:

- Konsentrasi DKP, dan DVB

- Waktu pencampuran 30 menit

- Suhu pencampuran 170o C.

(12)

- Ukuran partikel PTKS 80 mesh.

Variable terikat.

- Karakterisasinya dengan uji tarik, uji impak, Daya serap air, Persentase

ikat silang, DSC/TGA, FT-IR, dan SEM, Koefisien penyerapan bunyi.

5. Tahap IV Variable bebas

- Berat PTKS masing-masing 10, 20, 30, dan 40 gram.

Variabel tetap

- Waktu pencampuran 30 menit

- Suhu pencampuran 170o C.

- Berat Polipropilena dan Karet alam masing-masing 50 gram

- Ukuran partikel PTKS 80 mesh.

- Berat Asam stearat 6 gram.

Variable terikat.

Karakterisasinya dengan uji tarik, uji impak, Daya serap air, Persentase ikat silang,

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian dicetak menjadi specimen dengan alat pres kompresor pada suhu 175 o C sesuai dengan ASTM D638Spesimen dikarakterisasi dengan uji kekuatan tarik, uji koefisien serap

Campuran atau paduan dua atau lebih polimer telah menjadi fenomena penting pada tahun – tahun terakhir untuk mendapatkan suatu bahan dengan sifat – sifat tertentu seperti

Komposit adalah bahan padat yang dihasilkan melalui kombinasi dari dua atau lebih bahan yang berlainan dengan sifat – sifat yang lebih baik dan tidak dapat diperoleh dari

Karakterisasi meliputi uji kekuatan tarik, analisa permukaan dengan SEM, analisa termal dengan DTA dan uji koefesien serap bunyi. 1.4

Serat alam merupakan yang paling banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan diantaranya harganya murah, mudah terurai, sumber yang dapat diperbaharui, tidak beracun,

Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin melakukan penambahan asam stearat sebagai agen pengkompatibel pada campuran PP/EPDM dan tandan kosong kelapa sawit sebagai pengisi

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan filler ATKKS dan CB dapat disimpulkan bahwa sifat mekanik hasil campuran maksimum terhadap kekuatan tarik berada