TINJAUAN PUSTAKA P. castaneae Hubner (Lepidoptera: Cossidae) Biologi
Telur - telur yang masih baru berwarna putih kotor. Warna tersebut selang beberapa hari berubah menjadi coklat muda. Satu atau dua hari menjelang penetasan warnanya menjadi kelabu. Telur berbentuk oval dengan panjang 1,8 mm dan lebar 0,8 mm.
Gambar 1. Telur P. castaneae
Kelompok telur terdiri dari satu baris atau lebih (Gambar 1). Telur - telur diletakkan pada pucuk yang mati (puser) atau pada daun tua dan kering yang masih melekat pada batang. Tepi daun digulung dan direkatkan. Tergantung dari letak telur dalam barisan, yaitu berada di sisi atau ujung, maka 1 cm baris terdiri dari 9 - 12 butir telur. Stadia telur 9 - 10 hari (Wirioatmodjo, 1980). Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 282-367 butir telur per betina (PTPN II, 2009).
larva mencapai 70 hari. Menjelang berkepompong ulat membuat lubang keluar pada batang yang ditutupi dengan selaput tipis (Prasasya, 2009).
Gambar 2. Larva P. castaneae instar 8
Larva jantan dapat mencapai 3,5 cm dan larva betina mencapai 5,5 cm (Gambar 2). Sebelum menjadi pupa, larva melewati fase pra pupa selama 2-3 hari.
Larva berbentuk cruciform dengan 3 tungkai sejati dan 4 tungkai palsu (Pramono, 2005).
Gambar 3. Pupa P. castaneae
Ngengat berwarna kecoklatan dan memiliki proboscis. Pada ujung tulang sayap terdapat noktah berwarna ungu kehitaman. Rata - rata panjang tubuh ngengat betina 3,02 cm dan ngengat jantan 2,77 cm. Ngengat keluar pada sore hari. Setelah keluar dari kepompong, ngengat betina berdiam selama beberapa waktu untuk mengeringkan dan mengembangkan sayap Masa penerbangan terjadi antara pukul 18.00 - 20.00. (BPTTD, 1979).
(a) (b)
Gambar 4. Imago jantan P. castaneae (a) dan imago betina P. castaneae (b) Lebar sayap imago (ngengat) sekitar 27-50 mm, betina memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan jantan. Sayap berwarna buffish-abu dengan bercak gelap. Betina memiliki abdomen yang panjang, yang membentang jauh melampaui ujung sayap saat fase istirahat (Gambar 4b). Ngengat mulai berterbangan sekitar bulan Mei-Juli (Diyasti, 2013).
Gejala Serangan
PBR menyerang tanaman tua maupun tanaman muda. Serangan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian pucuk. Kematian pada tanaman tua dapat pula terjadi, terutama bila terdapat populasi hama tinggi. Pada tanaman yang telah berumur lebih dari tiga bulan, kerusakan terjadi pada ruas - ruas. Bila gerekan ruas cukup parah, batangnya mudah patah. Gejala ditandai dengan adanya lubang - lubang gerek, yang mudah dilihat dari luar. Tingkat kerusakan biasanya ditentukan berdasarkan persen rusak ruas (dengan tanda ruas rusak dari luar) terhadap jumlah ruas (BPTTD, 1979). Setiap persen kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini dapat mengakibatkan penurunan kristal gula antara 0,7 - 1,27% (Deptan, 1994). Pada serangan berat, bagian dalam batang tebu hancur dimakan oleh larva PBR (Diyasti, 2013).
Pengendalian
Agar penyebaran hama PBR tidak semakin meluas, perlu dilakukan eradikasi tanaman dengan memanen tebu lebih awal yaitu sekitar umur 7-8 bulan. Tindakan ini dilakukan untuk memutus siklus hidup hama dan tidak terjadi kehilangan hasil yang lebih besar, karena tebu yang terserang masih dapat digiling meskipun kualitas rendemennya turun (Diyasti, 2013).
Pengendalian bisa juga dilakukan secara hayati dengan melepas musuh alami hama PBR yaitu parasitoid telur Tumidiclava sp. (Hymenoptera) dan Trichogramma sp. (Wang et al., 2014) serta parasitoid larva S. inferens
(Diptera). Selain itu, penggunaan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana dan Metarrhizium anisopliae juga cukup efektif dalam mengendalikan
hama PBR (Diyasti, 2013).
Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami berupa parasitoid
larva S. inferens telah diuji pada skala laboratorium untuk mengendalikan P. castaneae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa turunan dari perkawinan yang
berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap terbentuknya imago lalat.
Turunan terbaik berasal dari perkawinan imago jantan dari lapangan dan imago
betina dari laboratorium dengan persentase lalat yang terbentuk sebesar 59,17%.
Hasil pengamatan persentase ulat yang terparasit menunjukkan bahwa daya
parasitasi S. inferens dari turunan berbeda tidak berbeda nyata terhadap larva
P. castaneae dengan persentase parasitasi tertinggi diperoleh pada perlakuan R1
(perkawinan sepasang imago jantan dan betina di laboratorium) sebesar 63,33%
dan terendah perlakuan R2 (imago jantan dan betina dari hasil perkawinan R1)
sebesar 47,50% (Khairiyah, 2008).
Pakan Buatan
Pakan buatan merupakan salah satu alternatif untuk perbanyakan larva PBR di laboratorium. Larva PBR yang merupakan hama penting pada tanaman tebu dipelihara, selanjutnya di inokulasikan kembali dengan parasitoid agar diperoleh parasitoid yang baik. Larva juga dipelihara untuk keperluan penelitian, penelitian membutuhkan larva yang sehat pada tahap perkembangan yang tepat dan jumlah yang memadai (Tende et al., 2011).
Panchal dan Kachole (2013) telah meneliti siklus hidup dari hama Chilo partellus dalam pakan buatan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah
pertumbuhan dan perkembangan dari larva C. partellus meningkat secara signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bhavani (2013) yang menyatakan bahwa C. infuscatellus berkembang dengan baik pada pakan buatan dan memiliki hasil yang relatif sama dengan pakan alaminya.
bawah suhu tinggi dan tekanan dapat menyebabkan munculnya bahan kimia yang tidak diinginkan dan perubahan fisik pada produk ekstrusi (Kim et al., 2014).
Berikut ini adalah kompososi pakan buatan yang dikeluarkan oleh P3GI (2014) untuk hama C. sacchariphagus dan C. auricilius.
Tabel 1. Komposisi pakan buatan untuk C. sacchariphagus dan C. auricilius
Bahan Berat
C. sacchariphagus Bojer C. auricilius Dudgeon
Serbuk pucuk tebu 20 g 30 g
Tepung kacang hijau 175 g 30 g
Vitamin C 2.6 g 1.3 g
Formalin 40% 0.3ml 0.3 ml
Yeast (ragi roti) 25 g 13 g
Nipagin 1.6g 1,6 g
Sorbic acid 0.8 g 0.4 g
Sukrose 20 g -
Agar powder 10.2 g 5.1 g
Air untuk agar 350 ml 350 ml
Air untuk blender 120 ml -
Banlate - 0.025 g
Tauge Kacang Hijau - 18 g
Menurut Chen et al. (2014) berbagai macam formulasi pakan telah dikembangkan baik untuk larva maupun imago, terutama untuk efisiensi biaya dan pasokan bahan. Namun, hanya empat larva dan dua formulasi pakan untuk imago yang telah diterapkan di enam pabrik produksi massal lalat steril di Amerika Serikat, Meksiko dan Panama. Di sini, mereka meninjau secara singkat sejarah penelitian pakan screwworm dan pengembangannya, serta memperkenalkan formulasi pakan yang digunakan dalam pemeliharaan massal dan memaparkan kelebihan dan kekurangannya dari segi aplikasi pada tanaman.
Viedma et al. (1985) menemukan komposisi pakan buatan yang sesuai untuk beberapa ordo serangga, termasuk famili Cossidae yang terdiri dari :
Tabel 2. Komposisi pakan buatan untuk beberapa ordo serangga
Bahan Berat
Sintetis Semi sintetis
Air destilata 25 cc 200 cc
Agar 3,5 g 10 g
Selulosa 2 g 1.3 g
Glukosa 1,5 g 0.3 ml
Yeast (ragi roti) 3 g 44 g
Vitamin bebas kasein 1,2 g -
Saccharose 2,5 g -
Asam askorbat 0,4 g -
Asam benzoat 0,1 g 1 g
Campuran garam 1 g -
Larutan Vitamin 2 cc -
Nipagin 1 g 1 g
Spesific component - 10 g
Kecambah gandum - 44 g
Maize semola / tepung jagung - 22 g
Nonci (2004); Wang et al. (2005) dan Kojima et al. (2010) melakukan pembiakan massal terhadap O. furnacalis untuk menguji keefektifan musuh alaminya seperti parasitoid Trichogramma ostriniae, T. dendrolini, predator Proreus sp., Euborellia sp., Lycosa sp., Chrysopa sp., dan Orius tristicolor dan