TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk Cair
Pupuk organik cair dapat diklasifikasikan atas pupuk kandang cair, biogas,
pupuk cair dari limbah organik, pupuk cair dari limbah kotoran ayam. Pupuk
organik cair dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, membantu
meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas tanaman seperti protein
kasar ( Novizan, 2001).
Pupuk organik cair memberikan beberapa keuntungan, misalnya dapat
disiramkan atau disemprotkan ke daerah akar dan keseluruh bagian tanaman.
Sehingga proses penyiraman atau penyemprotan dapat menjaga kelembaban
tanah. Penggunaan pupuk organik cair dalam pemupukan jelas lebih merata,
dimana tidak akan terjadi penumpukan konsentrasi pupuk pada satu tempat. Hal
ini disebabkan karena pupuk organik cair 100 persen akan larut, sehingga secara
cepat dapat mengatasi defisiensi hara dan tidak bermasalah dalam pencucian hara
dan juga mampu menyediakan hara bagi tanaman secara cepat (Musnamar, 2005).
Pupuk organik bisa memacu dan meningkatkan populasi mikroba dalam
tanah, jauh lebih besar dari pada hanya memberikan pupuk kimia. Pupuk organik
juga mampu membenahi struktur dan kesuburan tanah. Pupuk organik mampu
mencegah terjadinya erosi tanah. Sebab kandungan nitrogen dan kandungan unsur
hara yang dilepaskan oleh bahan organik pelan-pelan akan mengalami proses
mineralisasi. Jika diberikan secara berkesinambungan, dapat membantu
membangun kesuburan tanah. Pupuk organik mengandung unsur hara nitrogen
(N), phosphor (P), dan kalium (K) yang rendah, tetapi mengandung hara mikro
bioaktivator untuk pengayaan unsur hara dalam tanah. Pupuk organik bisa berasal
dari kotoran-kotoran ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan limbah-
limbah pertanian seperti dedaunan, jerami, batang jagung, sekam padi. Jadi, biaya
pembuatan relatif murah, bahkan tersedia di pedesaan dalam jumlah cukup. Pada
dasarnya, pembuatan pupuk organik cair juga dimaksudkan untuk pengayaan
unsur hara dalam pupuk tersebut (Sarief, 1986).
Pupuk organik memiliki kelebihan dibanding dengan pupuk anorganik,
diantaranya adalah a) Berfungsi sebagai granulator sehingga dapat memperbaiki
struktur tanah, b) Daya serap tanah terhadap air dapat meningkat dengan
pemberian pupuk organik karena dapat mengikat air lebih banyak dan lebih lama,
c) Pupuk organik dapt menigkatkan kondisi kehidupan di dalam tanah, d) Unsur
hara di dalam pupuk organik merupakan sumber makanan bagi tanaman, e) Pupuk
organik merupakan sumber unsur hara N, P, dan K (Sutejo, 2002).
Manure Ayam
Anonimus, 1978 menjelaskan, manure merupakan bahan yang terdiri dari
bahan pakan tidak tercerna, bakteri usus, getah pencernaan, cairan empedu,
jaringan lapisan usus yang aus dan zat-zat mineral berasal dari metabolisme
tubuh. Sebagian dari zat-zat yang tidak dapat diserap dan tidak tercerna dari usus
halus berkumpul didalam usus buntu. Di bagian ini terjadi sedikit penyerapan.
Berkontraksinya usus buntu untuk mendorong isinya keluar ke dalam usus besar,
berlangsung lebih kurang sehari. Bahan yang tidak tercerna dikeluarkan dari usus
besar kedalam kloaka, dari sini keluar tubuh sebagai manure. Cairan antara feses
dan urine yang dikeluarkan unggas disebut manure. Seekor ayam menghasilkan
Produk samping usaha peternakan ayam adalah manure ayam. Manure
ayam terdiri dari sisa-sisa pakan dan serat selulosa yang sulit tercerna, namun
mengandung protein, karbohidrat, lemak dan senyawa organik lainnya. Protein
pada kotoran ayam merupakan sumber nitrogen bentuk organik dan anorganik.
Penumpukan unsur nitrogen dan sulfide yang terkandung dalam manure ayam
terjadi dalam proses anaerob. Dekomposisi oleh mikroorganisme terbentuk gas
ammonia, nitrat dan nitrit serta gas sulfide, dan gas-gas inilah yang menyebabkan
timbulnya bau (Stevenson, 1994).
Dalam dunia pupuk kandang dikenal dengan istilah pupuk panas dan
pupuk dingin, pupuk panas adalah pupuk yang proses penguraiannya oleh jasad
renik tanah berlangsung cepat sehingga terbentuk panas, pupuk panas ini mudah
menguap karena bahan organik tidak terurai secara sempurna dan banyak berubah
menjadi gas, yang tergolong pupuk panas adalah manure ayam, sehingga pupuk
kandang memerlukan proses penguraian. Kualitas pupuk kandang ditentukan oleh
C/N rasio yang ideal sehingga mikroorganisme dapat menyelesaikan proses
penguraian dengan baik. Pupuk panas baik digunakan pada tanah seperti tanah
liat. Pupuk dingin adalah pupuk kandang yang penguraiannya berjalan secara
perlahan sehingga tidak terbentuk panas sapi dan kerbau (Kartadisastra, 2001).
Manure ayam mempunyai kadar unsur hara dan bahan organik yang tinggi
serta kadar air yang rendah. Setiap ekor ayam kurang lebih menghasilkan ekskreta
per hari sebesar 6,6% dari bobot hidup. Manure ayam yang biasanya digunakan
untuk pemupukan hijauan terkandung unsur-unsur nutrisi baik mikro maupun
makro yaitu terdiri dari : N (1,72%), P (1,82%), K (2,18%), Ca (9,23%), Mg
Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak baik
ternak ruminansia ataupun ternak unggas. Sebenarnya, keunggulan pupuk
kandang tidak terletak pada kandungan unsur hara karena sesungguhnya pupuk
kandang memiliki kandungan hara yang rendah. Kelebihannya adalah pupuk
kandang dapat meningkatkan humus, memperbaiki struktur tanah, dan
meningkatkan kehidupan mikroorganisme pengurai yang berguna sebagai
dekomposer (Widodo et al., 2007.).
Penggunaan pupuk alam sebagai sumber hara tanaman adalah bahwa
tingkat aplikasi biasanya didasarkan pada kebutunan N tanaman tersebut. Karena
beberapa pupuk alam mempunyai cukup banyak P sebagaimana N yang
terkandung dalam pupuk alam tersebut, sehingga dapat menambah kandungan P
tanah. Sebagai contoh manure ternak ayam broiler dapat mengandung kira-kira
25 kg N dan P dan kira-kira 20 kg K per ton (Setiawan, 2012).
Tabel 1 . Kandungan zat hara beberapa kotoran ternak padat dan cair Nama
Pupuk panas adalah pupuk yang proses penguraiannya oleh jasad renik
tanah berlangsung cepat sehingga terbentuk panas, pupuk panas ini mudah
menguap karena bahan organik tidak terurai secara sempurna dan banyak berubah
menjadi gas. Yang tergolong pupuk panas adalah msanure ayam, sehingga pupuk
Menurut Harada et al., (1993), kualitas yang harus dipenuhi dalam
penggunaan pupuk organik limbah peternakan terdiri dari tiga aspek, yaitu
(a) kenyamanan dalam penanganan, yang meliputi; kelembaban isinya memadai,
baunya tidak menjijikan dan aman bagi kesehatan, (b) keamanan bagi tumbuhan
dan tanah, yang meliputi: bahan organik mudah terdekomposisi, imbangan C/N
lebih rendah dari pada C/N tanah, tidak mengandung elemen berbahaya dan tidak
mengandung tumbuhan patogen, (c) keefektifan dalam menumbuhkan tanaman,
meliputi : kandungan nutrien yang tinggi, efektif dalam memperbaiki sifat fisik
dan kimia tanah serta meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah. Kualitas pupuk
organik harus memenuhi standar mutu atau persyaratan teknis minimal pupuk
organik. Persyaratan teknis minimal pupuk organik dapat dilihat pada tabel 2
dibawah.
Tabel 3. Persyaratan teknis minimal pupuk organik
No. Parameter Satuan Kandungan
Padat Cair
Aktivator adalah bahan khusus yang menunjang aktivitas mikroorganisme
dalam proses pembusukan bahan organik. Aktivator biasa mengandung
mikroorganisme pengurai, dan mengandung bahan makanan atau hormon yang
menunjang kelangsungan hidup mikroorganisme pengurai. Dengan penambahan
aktivator, akan semakin banyak jumlah dan jenis mikroorganisme yang bekerja
efektif dalam memfermentasikan dan menguraikan bahan organik. Secara global
terdapat beberapa golongan mikroorganisme dalam bioaktivator, yaitu bakteri
fotosintetik, Lactobacillus sp, Ptomycetes sp, Ragi (yeast), dan Actinomycetes
(Wididana dan Higa, 1993).
Bakteri fotosintetik merupakan bakteri bebas yang dapat sintesis senyawa
nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Metabolir yang diproduksi dapat
diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk
perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan. Lactobacillus sp.
bakteri ini memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian dan karbohidrat lain
yang bekerja sama dengan bakteri sintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan
bahan sterilisasi kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan
menguraikan bahan organik dengan cepat. Strepcomycetes sp., Strepcomycetes sp.
mampu memproduksi enzim streptomisin bersifat racun terhadap hama dan
penyakit yang merugikan. Ragi (yeast) Ragi memproduksi substansi yang berguna
bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi
berguna untuk pembelahan sel dan pembelahan akar. Ragi ini juga ukuran dalam
perkembangan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain, seperti
acninomycetes dan bakteri asam. Acninomycetes merupakan organisme peralihan
antara bakteri dan jamur. Organisme tersebut mengambil asam amino dan zat
yang diproduksi bakteri fotosintesis dan mengubahnya menjadi antibiotik.
Tujuannya untuk mengendalikan patogen serta menekan jamur dan bakteri
berbahaya dengan cara menghancurkan khitin, yaitu zat esensial untuk
Ada beberapa cara untuk mempercepat proses dekomposisi yaitu secara
fisik, biologi dan kimia. perlakuan fisik dengan pembalikan dan penyiraman air
pada tumpukan kompos dapat mempercepat pengomposan. perlakuan kimia
dengan pemberian nitrogen pada bahan kompos dapat mempercepat pengomposan
(Barrow, 1992).
MOD (Micro-Organisme Decomposer)
MOD (Micro-organisme Decomposer) mikroba pengurai atau di kenal
juga dengan nama mikroba dekomposer, yaitu sejenis mikroba yang bertindak
terlebih dalam sistem pengomposan, terlebih dalam mengurai atau memecah
material organik. Dalam sistem pembuatan kompos peran mikroba dekomposer
sangatlah utama, terlebih untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan
organik yang bakal dikompos. Selolose adalah penyusun paling utama dinding sel
tanaman, yang ada berbentuk terikat dengan polisakarida lain, seperti
hemiselulose, pektin, serta lignin (BBPPTP, 2015).
MOD (Micro-organisme Decomposer), di dalamnya terkandung 7 bakteri
pembusuk dan 1 bakteri hidup di dalam air. Kandungan MOD terdiri dari bakteri
Azotobacter, Bacillus, Nitrosomonas, Nitrobacter, Pseudomonas, Cytophaga,
Sporocytophaga, Microcococcus, Actinomycetes, dan Streptomyces. Kandungan
MOD 71 juga terdiri dari jamur Trichoderma sp, Aspergillus, Gliocladium, dan
Penicilium (BBPPTP, 2015).
MOD (Micro Organism Decomposer) merupakan bioaktivator yang
mengandung isolat asli alam Indonesia. Kultur campuran dari berbagai
mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. MOD ini
Trichoderma spp., Aspergillus niger dan Metarhizium anisopliae. Bahan organik
yang dicampurkan kedalam tanah dapat difermentasikan oleh Lactobacillus sp,
dan mikro organisme yang menghasilkan asam laktat. Hasilnya seperti alkohol,
asam amino, asam laktat, dan material organik lainnya dapat langsung diserap
akar tanaman untuk proses metabolismenya (Mercedes, 2008).
Selain berfungsi dalam proses fermentasi dan dekomposisi bahan organik,
MOD juga bermanfaat dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah,
menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, menyehatkan tanaman,
meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi
(Suprat et, al., 2011).
Fermentasi
Fermentasi didefinisikan sebagai pemecahan karbohidrat dan asam amino
secara anaerob yaitu tanpa memerlukan oksigen. Senyawa yang dapat dipecah
dalam proses fermentasi terutama adalah karbohidrat, sedangkan asam amino
dapat difermentasikan oleh beberapa janis bakteri tertentu (Adams, 2000).
Fermentasi merupakan proses biokimia yang menyebabkan perubahan
sifat bahan pangan sebagai akibat dari pemecahan kandungan bahan tersebut.
Fermentasi adalah proses metabolisme dengan bantuan dari enzim mikrobia (jasad
renik) untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa, dan reaksi kimia lainnya,
sehingga terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan
menghasilkan produk tertantu. (Hardjo et al., 1989).
Selama proses fermentasi, bermacam–macam perubahan komposisi kimia.
Kandungan asam amino, karbohidrat, pH, aroma serta perubahan nilai gizi yang
mengalami perubahan akibat aktivitas dan perkembangbiakan mikroorganisme
selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi pemecahan substrat oleh
enzim– enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa
dan hemiselulosa menjadi gula sederhana (Adams, 2000).
Prinsip Dasar Fermentasi Pupuk Cair Secara Anaerob
Gambar 1. Tempat Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi Manure Ayam
Cara pembuatan pupuk cair fermentasi secara anaerob ini tidak jauh
berbeda dengan pembuatan biogas atau pembuatan septic tank. Hasil
pengomposan anaerob berupa CH4, H2S, H2, CO2, asam asetat, asam butirat, asam
laktat, etanol, methanol dan hasil sampingan berupa lumpur cair inilah yang kita
namakan sebagai pupuk cair. Fermentasi secara anaerob yaitu proses fermentasi
yang berlangsung tanpa adanya udara atau oksigen. Oleh karena itu pada
pelaksanaannya dibutuhkan tempat khusus yang tertutup rapat. (Sarief, 1986).
Pengendalian pH dan suhu harus dilakukan karena pada pembuatan pupuk
cair secara anaerob berlangsung dengan dibantu oleh bakteri pembentuk gas
metan yang sangat rentan oleh kondisi pH dan suhu. Bakteri metan akan
keracunan serta berhenti beraktivitas pada pH kurang dari 6,2 dan suhu berkisar
berkisar 36-370C mungkin dapat ditiadakan karena suhu ideal dapat tercipta
dengan mengatur desain bak fermentasi (Hardjo, 1989).
Jalannya pengomposan secara anerob memakan waktu yaitu 2 minggu,
sehingga semua bahan organik dapat terurai. Pada pengomposan anaerob, patogen
dapat terbunuh dengan sendirinya karena gas metan yang dihasil dari proses
fermentasi dapat meracuni mikroorganisme yang merugikan karena lingkungan
yang tidak menguntungkan (tanpa udara) (Sutejo, 2002).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pukan ayam yang dilarutkan dalam
air mengandung kadar hara yang cukup tinggi. Kotoran ayam yang masih baru
dimasukkan ke karung goni, dibenamkan dalam air dalam sebuah tong bervolume
130 l. Untuk kotoran ayam 10 kg, kadar nitrogen yang terlarut mencapai
maksimum dalam waktu 1 minggu, sedangkan bila berat kotoran ayam
ditingkatkan menjadi 17,5 dan 25 kg proses pelarutan nitrogen memakan waktu 3
minggu dengan kadar nitrogen yang terlarut lebih rendah. Semakin tinggi
konsentrasi kotoran ayam yang dilarutkan maka kadar N semakin rendah
(Matarirano, 1994).
Mekanisme Pupuk Akar
Akar merupakan organ non fotosintetik pada tanaman. Proses penyerapan
hara dari permukaan akar ke dalam tanaman merupakan mekanisme yang
kompleks menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004). Masuknya ion ke dalam
akar terjadi melalui 3 macam mekanisme yaitu pertukaran ion, difusi, dan melalui
kegiatan carrier atau senyawa–senyawa metabolik pengikat ion. Mekanisme
pertukaran ion merupakan mekanisme yang pasif. Suyamto (2010) menyatakan
permukaan akar dan koloid tanah. Difusi merupakan mekanisme transpor aktif
dan merupakan transpor masuknya ion ke dalam outer space/free space (ruang
luar dari akar) yaitu pada dinding epidermis dan sel korteks dari akar dan dalam
film air yang melapisi rongga interseluler terjadinya proses difusi dikarenakan
akibat perbedaan konsentrasi antara permukaan air dan larutan tanah. Mekanisme
yang ketiga yaitu kegiatan carrier merupakan transport aktif yang terjadi dalam
inner space. Transport ini sifatnya selektif dalam absorbs ion dengan demikian
melalui mekanisme ini, tanaman sebenarnya memiliki kemampuan untuk memilih
unsur yang dibutuhkan dan yang berbahaya dapat disaring untuk tidak masuk ke
dalam tanaman.
Proses Mekanisme Penyerapan Unsur Hara
Tanaman dapat menyerap unsur hara melalui akar atau melalui daun.
Unsur C dan O diambil tanaman dari udara sebagai CO2 melaui stomata daun
dalam proses fotosintesis. Unsur H diambil dari air tanah (H2O) oleh akar
tanaman. Dalam jumlah sedikit air juga diserap tanaman melalui daun. Penelitian
dengan unsur radioaktif menunjukkan bahwa hanya unsur H dari air yang
digunakan tanaman, sedang oksigen dalam air tersebut dibebaskan sebagai gas
Gambar 2. Siklus Nitrogen
Proses perombakan protein menghasil Asam amino yang akan mengalami
amonifikasi menjadi gas amoniak, gas amoniak ini akan bereaksi dengan air dan
berubah menjadi amonium (NH4+) yang mudah tersedia untuk bakteri dan
tanaman. Apabila kondisi menguntungkan dalam hal ini pada lingkungan terdapat
bakteri nitrosomonas dan nitrobakter dengan kondisi suhu yang memungkinkan
bakteri tersebut tumbuh, maka dapat terjadi proses nitrifikasi
(Hardjowigeno, 1993).
Nitrifikasi ini melewati dua tahap, yaitu nitrifikasi yang mengubah
ammonium (NH4+) menjadi nitrit (NO2-) oleh bakteri nitrosomonas. Kemudian
nitrifikasi yang mengubah nitrit menjadi nitrat (NO3-) oleh bakteri nitrobakter
yang merupakan bentuk yang tersedia bagi tanaman yang juga menguntungkan
Unsur Hara Yang Dibutuhkan Dalam Tanaman
Menurut Siregar (1981), unsur hara yang mempunyai peranan penting
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman yaitu N, P, dan K. Kandungan N
pada pupuk urea (CO(NH2)2) sebanyak 46 %. Urea dapat langsung dimanfaatkan
tanaman, tetapi umumnya di dalam tanah akan diubah menjadi ammonium dan
nitrat melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi oleh bakteri tanah (Leiwakabessy
dan Sutandi, 2004). Suyamto (2010) menambahkan, tanaman menyerap amonium
5-20 kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrat. Peranan unsur N dalam tanaman
yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai bahan dasar protein dan
pembentukan klorofil karena itu N mempunyai fungsi membuat bagian-bagian
tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butir-butir hijau dan yang
terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat pertumbuhan tanaman yang
dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah anakan, menambah ukuran
daun dan menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang
bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam tanah)
(Dobermann and Fairhust, 2000).
Unsur hara kalium (K) kegunaan utamanya untuk membantu pembentukan
protein dan karbohidrat. Pemberian unsur ini akan memperkuat tanaman sehingga
daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. Selain itu kalium juga membuat
tanaman tahan terhadap kekeringan dan penyakit (Donahue et al., 1997).
Seng atau Zinc (Zn) hampir mirip dengan Mn dan Mg, Zn berperan dalam
aktivator enzim pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis.
kekurangan Seng mengakibatkan pertumbuhan lambat, jarak antar buku pendek,
kerontokan. Sulfur (S) berfungsi untuk pembentukan asam amino dan
pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman, berperan
dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur.
(Donahue et al., 1997).
Kekurangan nitrogen akan menimbulkan gejala pertumbuhan
lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun
tua cepat menguning dan mati. Klorosis di daun tua dan semakin parah akan
terjadi juga pada daun muda. Unsur N pada tanaman padi diperlukan dalam
jumlah banyak pada awal dan pertengahan fase anakan untuk memaksimalkan
jumlah malai (bunga) (Suyamto, 2010).
Selain N, tanaman juga membutuhkan unsur P dan K dalam jumlah
banyak.[ Menurut Dobermann and Fairhust (2000) peranan utama unsur fosfor
dalam tanaman untuk pembentukan karbohidrat dan efisiensi mekanisme aktivitas
kloroplas serta dalam aktivitas metabolisme. Fosfor berguna untuk merangsang
pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman, mempercepat pemasakan sehingga
mempercepat masa panen, memperbesar pembentukan anakan dan mendukung
pembentukan bunga dan biji.
Tanaman mengambil besi dalam bentuk Fe2+, Fe3+. Peranan Fe dalam
tanaman yaitu mempertahankan klorofil dalam daun, merupakan bagian penting
dari hemaglobin, sebagai protein ferredoxin dalam metabolisme seperti fiksasi N2,
fotosintesis, dan transfer elektron dalam khloroplas tanaman. Mangan berperan
dalam proses reduksi dan oksidasi, meningkatkan penyerapan cahaya, sintesis
untuk mencegah perubahan dalam klorofil dan berperan penting dalam
mengoksidasi enzim (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
Nitrogen sangat berguna untuk merangsang pertumbuhan daun sedangkan
fosfor dan kalium berfungsi untuk merangsang pembuahan. Dengan kata lain,
nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan vegetative sedangkan kalium dan fosfor
Sangat diperlukan untuk pertumbuhan generatif (Parnata, 2004).
HIJAUAN
Moringa Oleifera
Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman
dalam bentuk daun–daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah
bangsa rumput (graminae), leguminosa dan hijauan dari tumbuh – tumbuhan lain
seperti daun nangka, aur, daun waru, dan lain sebagainya. Kelompok makanan
hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan
ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu hijauan segar dan hijauan kering.
- Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar,
leguminosa segar dan silase.
- Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja
dikeringkan (hay) ataupun jerami kering.
- Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan penting, sebab hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan.
- Khususnya di Indonesia, bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar.
Legume merupakan jenis hijauan yang bijinya berkeping dua. Pada
umumnya legume mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan
graminae. Pemanfaatan legume sebagai hijauan pakan tidak boleh diremehkan
karena ia mampu menyuplai kebutuhan protein ternak. Selain itu, tanaman legum
juga banyak memeiliki manfaat lain diantaranya a) sebagai penyubur tanah, b)
sebagai penyuplai nitrogen bagi rumput, dan c) sebagai tanaman vegetasi
pencegah erosi ( Hasan et al., 2007 )
Deskripsi Tanaman Moringa oleifera
Gambar 3. Legume Pohon Moringa oleifera
Pohon Moringa oleifera dapat ditemukan tumbuh secara alami pada
ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut. Dapat tumbuh dengan baik di
lereng bukit, tetapi lebih sering ditemukan tumbuh di padang rumput atau di
daerah aliran sungai. Moringa oleifera merupakan pohon yang dapat tumbuh
dengan cepat. Moringa oleifera ditemukan dapat tumbuh 6-7 m dalam satu tahun
di daerah yang curah hujannya kurang dari 400 mm. Sebagai tanaman
non-budidaya, Kelor dikenal dengan ketahanannya terhadap kekeringan dan
Kelor (Moringa oleifera) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang
(perenial) dengan tinggi 7-12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna
putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang
tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk,
bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal
(imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda, setelah dewasa
hijau tua bentuk helai daun bulat telur, panjang 1-2 cm, lebar 1-2 cm, tipis lemas,
ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip
(pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun
(axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar
aroma khas. Buah Moringa oleifera berbentuk panjang bersegi tiga, panjang
20-60 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat
berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12-18 bulan. Akar tunggang
berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji)
maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi
sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar
di halaman rumah atau lading (Anwar et al., 2007).
Klasifikasi Moringa oleifera
Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh), Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji), Divisi:
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Kelas: Magnoliopsida, (berkeping
dua/dikotil), Sub Kelas: Dilleniidae, Ordo: Capparales, Famili: Moringaceae,
Syarat Tumbuh
Tanaman Kelor (Moringa oleifera) tidak hanya dapat tumbuh dan
berkembang di India dan Indonesia saja, tetapi juga di berbagai kawasan tropis
lainnya di dunia. Moringa oleifera dapat berkembang biak dengan baik pada
daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut.
Karena tanaman Moringa oleifera merupakan leguminosa, maka bagus ditanam
secara tumpang sari dengan tanaman lain karena dapat menambah unsur nitrogen
dan lahan (Anonimous, 2007).
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang
Bedagai dengan jenis tanah ultisol. Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik
bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa pada kedalaman
1,8 m dari permukaan tanah kurang dari 35%. Ultisol hanya ditemukan di daerah-
daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 80C. Tanah ini umumnya
berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyak ditemukan di daerah
dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian yang terluas dari
lahan kering di Indonesia. Terdapat tersebar di Daerah Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, dan Irian Jaya. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi
sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah,
Sehingga diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan.
Salah satu sifat yang menguntungkan untuk membudidayakan pohon
Moringa oleifera yang sudah diketahui sejak lama, yaitu minimnya penggunaan
pupuk dan jarang diserang hama (oleh serangga) ataupun penyakit (oleh mikroba).
Sehingga biaya untuk pemupukan dan pengontrolan hama dan penyakit relatif
lama berkecimpung, diketahui bahwa pemupukan yang baik adalah berasal dari
pupuk organik, khususnya berasal dari kacang-kacangan (misal kacang hijau,
kacang kedelai ataupun kacang panjang) yang ditanamkan sekitar pohon
Moringa oleifera (Winarno, 2003).
Secara umum, parameter lingkungan yang dibutuhkan tanaman
Moringa oleifera untuk tumbuh dengan baik adalah :
Iklim : Tropis atau sub-Tropis
Ketinggian : 0 - 2000 meter dpl
Suhu : 25 – 35 °C
Curah Hujan : 250 mm – 2000 mm per tahun.
Type tanah : berpasir atau lempung berpasir
PH Tanah : 5 – 9
Irigasi yang baik diperlukan jika curah hujan kurang dari 800 mm
(Fuglie, 2001).
Moringa oleifera sangat mudah ditanam baik dengan menggunakan stek
maupun biji. Penanaman dengan stek merupakan praktek yang paling umum
dilakukan sesuai dengan fungsinya sebagai batas tanah, pagar hidup ataupun
batang perambat. Perbanyakan dengan stek cenderung memberikan produksi
biomas yang lebih banyak karena tanaman cenderung menghasilkan banyak
cabang yang rimbun sedangkan perbanyakan dengan biji menyebabkan tanaman
cenderung tumbuh keatas dengan batang utama dan percabangan yang sedikit
(Hausteen, 2005).
Perbanyakan dengan batang membutuhkan batang stek dengan tinggi
Penanaman dengan batang stek yang pendek dapat dilakukan pada pekarangan
rumah, namun untuk kebun diperlukan batang yang tinggi untuk melindungi
tanaman dari ternak. Batang stek yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman
yang sehat dan berumur lebih dari enam bulan. Semakin besar lingkaran batang
stek semakin besar peluangnya untuk hidup (Fahey, 2005).
Kandungan Nutrisi Moringa oleifera
Leguminosa Moringa oleifera kerana tingkat kemampuan memproduksi
hijauan yang cukup tinggi. Kemampuan produksi biomassa mencapai 4,2 – 8,3
ton bahan kering/ha pada interval pemotongan 40 hari. Kandungan protein daun
berkisar 19,3 –26,4% (Makkar dan Becker, 1996). Sehingga Moringa oleifera
dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama untuk ternak
ruminansia. Apalagi kandungan nutrisi kelor tidak kalah dengan jenis tanaman
hijauan legume pohon yang banyak digunakan sebagai pakan ternak seperti
Gamal (Glircidia sepium), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Turi (Sesbania
grandiflora). Selain itu beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kelor
mempunyai kandungan asam amino yang lengkap, vitamin yang lengkap dan
dengan kandungan mineral yang tinggi (Agustina, 2004).
Tabel 4. Kandungan nutrisi tepung moringa oleifera berdasarkan (% BK)
Komposisi Kandungan
Protein kasar (%) 26,61
Lemak kasar (%) 7,48
Serat kasar (%) 8,98
Abu (%) 10,13
Energi metabolis (Kkal/kg) 1318,20
Moringa oleifera mempunyai kandungan asam amino yang lengkap,
mengandung 18 asam amino yang terdiri dari semua (delapan) asam amino
esensial dan 10 asam amino nonesensial, yaitu : Isoleusin, Leusin, Lisin,
Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin (esensial). Alanin, Arginine,
asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine
(nonesensial). Mengandung 36 anti-inflamasi alami yang terdiri dari : Vitamin A,
Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol,
Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6,
Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile,
Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine,
Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan,
Tyrosine, Zeatin, Zinc. (Guevara et al., 1999).
Pemupukan
Penggunaan pupuk organik biasanya ditujukan untuk memperbaiki sifat
fisik, dan biologi tanah. Walaupun kandungan unsur hara dalam pupuk organik
relatif lebih kecil dibanding pupuk anorganik namun bila sifat fisik menjadi baik
maka sifat kimia tanah pun akan berubah (Sutejo, 1995),.
Tujuan pemupukan ialah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil. Oleh
karena itu, pupuk diberikan pada saat tanaman membutuhkan pupuk agar
diperoleh keuntungan yang maksimal (Moenandir, 2004).
Pemupukan dengan pupuk organik hendaknya dilakukan bersamaan pada
saat pengolahan tanah itu dikerjakan, yakni satu minggu sebelum tanaman
ditanam. Pupuk organik sangat bermanfaat dalam perbaikan tekstur tanah, dan
unsur P, sedang rumput tropis lebih peka terhadap pemupukan unsur N. Untuk
bisa memperoleh pemupukan yang optimal perlu diketahui unsur hara dalam
tanah, keasaman, tekstur tanah, sifat tanah (Prihmatoro, 2004).
Pupuk Organik
Pupuk organik dapat menambah kandungan bahan organik tanah dan
memperbaiki sifat fisik maupun biologi tanah. Terhadap tanah, bahan organik
dapat meningkatkaan kemantapan agregat, infiltrasi, daya menahan air,
meningkatkan jumlah pori makro dan mikro serta merupakan sumber energi bagi
kegiatan biologis tanah (Sarief, 1986). Lebih lanjut, pengaruh pupuk tersebut akan
lebih berhasil bagi tanaman apabila memperhatikan dosis, macam, dan waktu
pemberian (Hardjo, 1989).
Tiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan unsur hara yang berrbeda.
Tanaman keras (tahunan) lebih banyak mengambil unsur hara yang berbeda.
Tanaman keras lebih banyak mengambil unsur hara dibanding tanaman semusim
(legum maupun rumputan). Tanaman legum dapat memfiksasi N melalui
simbiosis dengan bakteri Rhizobium, sedangkan rerumputan menyerap N dari
dalam tanah. Unsur utama yang dibutuhkan tanaman adalah N, P, dan K.
Tanaman yang kekurangan tiga unsur ini akan mengalami gejala defisiensi yang