Analisis Sosiologis Kehidupan Sosial Tokoh Utama Watanabe Dalam Novel Norwegian Wood Karya Haruki Murakami

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL DAN SOSIOLOGI SASTRA

2.1 Konsep Novel

2.1.1 Definisi Novel

Abraham dalam Nurgiyantoro (1995:9) mengungkapkan bahwa novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella yang secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.

Novel adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita, Aminuddin (2006:66).

Diantara genre utama karya sastr ,yaitu puisi,prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang ditemukan, diantaranya :

A) novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang paling luas

B) bahasa cenderung merupakan bahasa sehari-hari,bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa novel merupakan sosiologis yang responsif sebab peka terhadap fluktuasi sosiohistoris.

(2)

yang tidak dapat dilihat, tidak dapat dipegang, tidak dapat didengar, melainkan dirasakan oleh batin yang semua itu diperoleh secara tersirat dari gambaran tokohnya, dari peristiwanya, dari tempat yang dilukiskan atau waktu yang disebutkan.

Fielding dalam Atmaja (1986:44) mengatakan novel merupakan modifikasi dunia modern paling logis, dan merupakan kelanjutan dari dunia epik. Pernyataan ini tidak saja terbukti kebenarannya namun relevan untuk situasi kini, suatu masa dimana novelis tidak lagi menampilkan tokoh-tokoh hero di dalam karya sastra mereka, tetapi lebih banyak menampilkan segi-segi sosial dan psikologis dipermasalahan masyarakat biasa.

Menurut Johnson dalam Faruk (2003:45-46) novel mempresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai kehidupan sosial. Ruang lingkup novel sangat meyakinkan untuk melukiskansesuatu lewat kejadian atau peristiwa yang dijalin oleh pengarang atau melalui tokoh-tokohnya. Kenyataan dunia seakan-akan terekam dalam novel, berarti ia seakan keadaan hidup yang sebenarnya. Dunia novel adalah pengalaman pengarang yang sudah melewati perenungan kreasi dan imajinasi sehingga dunia novel itu tidak harus terikat oleh dunia sebenarnya.

Sketsa kehidupan yang tergambar dalam novel akan memberi pengalaman baru bagi pembacanya karena apa yang terjadi pada karya sastra tidak sama persis dengan apa yang ada dalam karya sastra. Dengan demikian novel menceritakan segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang melewati segala sisi kehidupannya.

2.1.2 Resensi Novel “Norwegian Wood” Karya Haruki Murakami

A. Tema

(3)

Sementara itu, Fananie (2001:84) tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi terciptanya suatu karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra sangat beragam. Tema dapat berupa persoalan moral, etika, agama, budaya, teknologi dan tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan.

Tema suatu cerita hanya dapat diketahui atau ditafsirkan setelah kita membaca cerita serta menganalisis. Hal itu dapat dilakukan dengan mengetahui alur cerita serta penokohan dan dialog-dialognya, hal ini sangat penting karena ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain dalam sebuah cerita. Dialog biasanya mendukung penokohan/perwatakan sedangkan tokoh-tokoh yang tampil dalam cerita tersebut berfungi untuk mendukung alur dan untuk mengetahui bagimananya jalan cerita tersebut, dari alur inilah kita dapat menafsirkan tema cerita novel tersebut. Berdasarkan pengertian tema diatas, maka tema dalam novel “Norwegian Wood”karya Haruki Murakami ini adalah bagaimana seorang anak yang berjuang keras untuk melewati proses hidupnya.

B. Alur (Plot)

Alur atau plot adalah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu persatu dan saling berkaitan satu sama lain menurut hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita. Peristiwa yang satu akan mengakibatkan timbulnya peristiwa yang lain, peristiwa yang lain tersebut akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai peristiwa tersebut berakhir, Aminuddin (2000:83)

(4)

1. Perkenalan, pada bagian ini pengarang menggambarkan situasi dan memperkenalkan tokoh-tokohnya.

2. Pertikaian, pada bagian ini pengarang mulai menampilkan pertikaian yang dialami sang tokoh.

3. Perumitan, pada bagian ini pertikaian semakin menghebat 4. Klimaks, pada bagian ini puncak perumitan mulai muncul 5. Peleraian, disini persoalan demi persoalan mulai terpecahkan

Menurut susunanya alur terbagi dalam dua jenis, yaitu alur maju dan alur mundur. Alur maju adalah alur yang susunannya mulai dari peristiwa pertama,kedua,ketiga dan seterusnya sampai akhir cerita itu berakhir. Alur mundur adalah alur yang susunannya dimulai dari peristiwa terakhir, kemudian kembali pada peristiwa awal kemudian akhirnya kembali pada peristiwa akhir tadi.

Berdasarkan uraian cerita tersebut, alur dalam novel “Norwegian Wood” karya Haruki Murakami adalah alur campuran. Jalianan peristiwanya tidak lurus, tetapi diselingi dengan alur lain, sebagai contoh adanya flashback sebagai selingan cerita.

Bagian Awal

Pada bagian awal diceritakan bahwa Watanabe mempunyai seorang teman baik bernama Kizuki. Kizuki mempunyai seorang pacar yang bernama Naoko. Tak lama kemudian Kizuki meninggal dan akhirnya Watanabe dekat dengan Naoko, seperti cuplikan dibawah ini ;

“Aku pertama kali bertemu dengan Naoko pada musim semi ketika kelas 2 SMA. Diapun

(5)

dan Naoko adalah pacarnya, Kizuki dan dia merupakan teman kecil, dan rumah mereka pun

tidak lebih dari jarak 200 meter”

(Norwegian Wood hal. 388)

Ketika itu Kizuki meninggal dunia diakibatkan karena bunuh diri. Tak ada seorang pun yang tahu dengan jelas apa penyebab dia membunuh dirinya sendiri. Entah mungkin karena tekanan yang dialaminya. Tak seorang pun yang tahu.

“Kematian yang menangkap Kizuki dimalam bulan Mei ketika ia berusia 17 tahun itu, secara

bersamaan menangkapku pula “ (Norwegian Wood hal.46)

Setelah Kizuki meninggal, Watanabe pun mulai dekat dengan Naoko. Tetapi hubungan itu bukanlah hubungan layaknya kekasih. Mereka dekat tetapi mereka tetap dalam alurnya masinhg-masing. Sehingga lambat laut mereka saling membutuhkan meskipun dengan cara yang tidak biasa.

Bagian Tengah

Pada alur bagian tengah ini Watanabe mengalami kesulitan dalam memilih cintanya. Dia mencintai Naoko dengan setulus hsatinya dengan berbagai kesulitan yang dihadapinya, tapi dia juga mencintai Midori dengan segala rasa berbeda yang dirasakannya. Naoko menjalani perawatan untuk gangguan mentalnya. Watanabe tetap menjaganya, merawatnya dan juga menyayanginya dengan setulus hatinya. Dengan hadirnya Midori membuat hari-hari Watanabe lebih seru dan menyenangkan. Akan tetapi, kehadiran Midori yang ia rasakan sangat bertolak-belakang dengan perasaannya yang tenang terhadap Naoko, sehingga itu membuat dia bimbang. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut ;

“Sampai saat ini aku mencintai Naoko, dan sekarangpun masih mencintainya. Tetapi sesuatu

(6)

kekuatanmu dan rasanya aku akan terus terbawa hanyut oleh kekuatan itu. Cinta yang

kurasakan terhadap Naoko sangat lembut dan tenang sedangkan dengan Midori sangatlah

berbeda. Cinta itu seperti hidup, berdiri, berjalan dan bernafas.”

(Norwegian Wood hal.503)

Bagian Akhir

Pada bagian akhir, Naoko akhirnya memilih untuk bunuh diri. Separuh hidup Watanabe terasa kosong karenanya, hampa. Dia lalu memutuskan mengasingkan diri sejenak. Kemudian Watanabe memilih untuk mengakui pada dirinya sendiri tentang rasa cintanya kepada Midori dan mengatakannya.

“Aku menelepon Midori. Aku ingin berbicara denganmu. Banyak sekali yang ingin

kusampaikan padamu. Banyak sekali yang harus kubicarakan denganmu. Didunia ini tidak

ada yang kucari selain kamu. Aku ingin bertemu denganmu dan berbicara denganmu. Aku

ingin memulai segala sesuatu dari awal denganmu, itu yang kukatakan.”

(Norwegian Wood hal.549)

C. Latar (Setting)

Latar atau setting adalah penggambaran situasi,tempat,dan waktu serta suasana terjadinya peristiwa, Aminuddin (2000:94). Latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tempat,hubungan, waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro,1995:216)

(7)

Latar tempat dalam novel “Norwegian Wood” ini berpindah-pindah dan bersifat sementara. Satu tempat tidak pernah dikarakterkan dengan waktu yang lama

Watanabe sendiri tinggal di sebuah asrama ketika dirinya diterima di perguruan tinggi. Dia menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa dan menjalani interaksi dengan beberapa teman dilingkunganya tersebut.

“Pertama kali masuk ke asrama ini, karena merasa heran aku sengaja bangun pukul enam untuk menyaksikan upacara yang patriotik itu “.

(Norwegian Wood hal 20)

Salah satu teman Watanabe yang tinggal sekamar dengannya adalah Kopasgat. Watanabe sering menceritakan kejadian-kejadian dirinya dengan kopasgat kepada Naoko, karena Naoko menyukai cerita-cerita Watanabe tentangnya.

Ada sebuah hutan pinus yang dimana Watanabe dan Naoko sering menghabiskan waktu berjalan bersama-sama.

Seperti dalam kutipan ;

“Aku dan Naoko menyusuri jalanan di hutan pinus itu perlahan sambil menunduk seolah-oleh ada sesuatu yang sedang dicari”.

(Norwegian Wood hal 122)

Salah satu kota yang dijadikan latar tempat dalam novel ini adalah kota Shinjuku. Tempat dimana Naoko menjalani rehabilitasinya.

“Di shinjuku aku sarapan ala kadarnya, lalu mampir ke telepon umum, coba menelepon

(8)

(Norwegian Wood hal 16

Latar Waktu

Latar waktu yang terbagi ke dalam novel “Norwegian Wood” ini merupakan gabungan alur atau alur waktu. Kejadian pada novel ini berlangsung selama 2 tahun.

Berikut kutipan tentang latar waktu dalam novel “Norwegian Wood” - Oktober

“Punggung gunung yang berselimut debu selama musim panas terbilas bersih

oleh hujan lembut yang berlangsung beberapa hari, kini menunjukkan birunya

yang cemerlang, angin oktober menggoyang pucuk-pucuknya ilalang kesana

kemari, awan tipis membentang beranak dilangit biru yang seolah membeku”

(Norwegian Wood hal. 3) - Minggu kedua September

“Minggu kedua September, aku sampai pada kesimpulan bahwa pendidikan pada

universitas itu sama sekali tidak bermakna”

(Norwegian Wood hal.99) - Minggu siang pertengahan bulan Mei

“Aku dan Naoko turun dari trem di stasiun Yotsuya, lalu berjalan diatas tanggul rel kereta api. Minggu siang pertengahan bulan Mei”

(Norwegian Wood hal.30)

D. Penokohan ( Perwatakan)

(9)

dengan watak atau kepribadian tokoh yang ditampilkan. Kedua hal ini memiliki hubungan yang sangat erat karena penampilan dan penggambaran sang tokoh harus mendukung watak tokoh tersebut , Aminuddin (2000 : 79 ).

Sedangkan tokoh dalam cerita menurut Abram dalam Nurgiyantoro adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan, Nurgiyantoro (2002:165). Melalui tokoh cerita, penulis juga dapat menyampaikan pesan, amanat, moral atau sesuatu yang memang ingin disampaikan oleh pembaca, Nugiyantoro (2002 :167).

Penokohan dalam novel “Norwegian Wood” adalah sebagai berikut

1. Watanabe Toru

Watanabe Toru adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi yang mempunyai kehidupan yang kompleks. Sifatnya yang menonjol adalah tenang dan bijaksana serta mencintai tulus.

Karakter :

Watanabe adalah seorang pria yang puitis, dimana dia dapat menyampaikan apa yanga da di kepala dan dihatinya dengan kata-kata yang tepat.

“Aku bukan orang pintar, untuk memahami sesuatu aku perlu waktu, tetapi kalau

cukup waktu aku akan dapat memahamimu dengan baik, sehingga dapat mengerti

dirimu lebih daripada siapapun didunia ini”

(Norwegian Wood hal 12)

Pembawaannya pun bersifat tenang, dalam artian tidak tergesa-gesa dalam bertindak dan mengambil keputusan. Seperti dalam kutipan ;

(10)

(Norwegian Wood hal 10)

Diapun seorang yang bijak, memandang segala sesuatunya dengan cermat, setelah melalui pertimbangan dari berbagai sisi. Seperti dalam kutipan ;

“Kehidupan kita ini secara bersamaan menumbuhkan kematian. Tetapi itu hanya sebagai kebenaran yang harus kita pelajari.”

(Norwegian Wood hal 512) 2. Naoko

naoko adalah seorang wanita yang dikasihi oleh Watanabe. Sifatnya yang rapuh, tidak percaya diri dan rumit membuat Watanabe ingin selalu menjaganya.

Karakter :

Perasaan tertekan biasanya muncul karena orang yang bersangkutan merasa terpojokkan, terkucilkan ataupun merasa tak ada seorang pun yang dapat mengerti dirinya. Begitu pula halnya yang dirasakan oleh Naoko.

Seperti dalam kutipan berikut :

“Surat yang kukirim padamu bulan Juli kutulis dengan perasaan sangat tertekan.

(terus terang saja aku tidak ingat tentang apa yang kutulis, tentu sangat buruk

yah!)”

(Norwegian Wood hal 164)

(11)

“Karena mustahil seseorang dapat melindungi yang lain untuk selamanya. Misalnya

begini, kalau aku menikah denganmu. Kau bekerja di suatu perusahaan. Lantas

selama kau bekerja siapa yang akan menjagaku? Ketika kau sedang pergi tugas luar,

siapa yang akan melindungiku? Apa aku harus terus menempal padamu sampai aku

mati? Itu tidak adil. Kau pun tidak bisa mengatakan itu suatu hubungan. Benar kan?

Lalu suatu saat kau bosan denganku, apakah gerangan hidupku ini? Aku tidak mau

seperti itu jadi masalahku tidak akan terpecahkan.

( Norwegian Wood hal 10 )

Sebagai salah satu karakternya yang lain, pesimis adalah yang paling dominan. Dia tidak merasa bahwa kehidupan berpihak padanya, bahwa apa-apa yang diterimanya adalah merupakan hal yang patut dia dapatkan.

Seperti dalam kutipan berikut :

“Sejak dulu aku hanya hidup seperti ini, sekarang pun begitu. Sekali saja longgar

tidak bisa kembali seperti semula. Aku tercerai-berai, bertebaran entah kemana.

Kenapa kau tak mengerti? Tanpa memahaminya, mengapa kau mengatakan kau

mengetahui kesulitanku?”

(Norwegian Wood hal 11)

c. Midori Kobayashi

Midori Kobayashi adalah teman satu kampus yang disukai Watanabe. Sifatnya yang periang, ramah, juga berbeda dari orang lain membuat Watanabe merasa berbeda dan lebih hidup.

(12)

Cara pandang Midori yang berbeda dari orang lain serta penyikapan masalah yang berbeda pula, membuat Watanabe berfikir dan menarik kesimpulan bahwa kepribadian Midori memang unik dan tidak biasa.

“unik, orisinil, kepribadianmu sangat tercermin disitu, jawabnya dengan hati-

hati.”

(Norwegian Wood hal 144)

Midori selalu ceria dan senyumpun tak pernah lepas dari bibirnya. Dia wanita yang enerjik, hidup ,dan penuh warna sehingga siapapun yang melihatnya akan merasa nyaman dan segar ketika berada di dekatnya.

Seperti dalam cuplikan berikut ;

“Tetapi gadis yang sekarang duduk dihadapanku seperti binatang kecil yang baru saja muncul di dunia untuk menyambut musim semi, dan dari tubuhnya memancar

sinar kehidupan yang menyegarkan. Matanya berbinar-binar seperti bentuk

kehidupan yang lain yang mandiri, kadang-kadang ia tertawa, marah, kesal, pasrah.

Sudah lama aku tidak melihat ekspresi yang hidup seperti ini, karena itu sejenak aku

terkagum kagum memandangi wajahnya. “

(Norwegian Wood hal 96)

E. Amanat

(13)

Adapun amanat yang terkandung dalam novel “Norwegian Wood” adalah

1. orang-orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik. Mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dalam setiap hal yang hadir dihidupnya.

2. Kualitas hubungan cinta tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita mampu menumpuk rasa senang dan bahagia bersama saja, namun juga bagaimana kita bisa saling merawat satu sama lain ketika muncul masa-masa sulit, konflik dan stress. 3. Persahabatan dan cinta yang mengalir dari hati tidak bisa dibekukan oleh

kesengsaraan dan waktu.

4. Hidup tidaklah mudah bagi siapapun. Tapi kita harus mempunyai kegigihan dan percaya pada diri sendiri. Kita harus percaya kita diberi suatu bakat dan bagaimanapun pengorbanannya, kita harus terus melangkah maju.

F . Sudut Pandang

Sudut pamdang adalah kedudukan atau posisi pengarang dalam cerita novel tersebut. Dengan kata lain, posisi pengarang menempatkan dirinya dalam cerita tersebut, apakah ia ikut terlibat langsung atau hanya sebagai pengamat yang berdiri diluar cerita, Aminuddin (2000:90)

Terdapat beberapa jenis sudut pandang (pusat pengisahan) yaitu :

1. Pengarang sebagai tokoh utama. Sering juga posisi yang demikian disebut sudut pandang orang pertama aktif. Disini pengarang menuturkan dirinya sendiri.

(14)

3. Pengarang hanya sebagai pengamat yang berada diluar cerita. Di sini pengarang menceritakan orang lain dalam segala hal.

Dalam hal ini, sudut pandang pengarang Haruki Murakam i dalam novelnya “Norwegian Wood” hanya sebagai seorang pengarang yang menceritakn orang lain dalam segala hal.

Pengarang Haruki Murakami hanya sebagai pengamat yang berada diluar cerita.

2.2 Studi Sosiologi Sastra

Agar dapat menganalisis dan mengapresiasikan karya sastra dengan baik, dipemempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan oleh beberapa penulis. Sastra dan sosiologi memiliki persamaan yaitu mengambil manusia dan kehidupannya sebagai objeknya. Sosiologi sastra merupakan kehidupan sosial dan menunjukkan cara manusia mengahayati masyarakat dan perasaannya.

Welleck dan Warren dalam Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas (Darmono,1979:3) mengklasifikasikan sosiologi sastra sebagai berikut ;

1. Sosiologi pengarang yaitu yang mempermasalahkan tentang status sosial, sosiologi politik dan lain-lain yang menyangkut pengarang.

2. Sosiologi karya sastra yaitu yang mempermasalahkan tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan serta amanat yang hendak disampaikan.

3. Sosiologi sastra yaitu yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosial terhadap masyarakat.

(15)

1. Telaah terhadap karya sastra dilihat sebagai dokumen sosio budaya yang mencerminkan suatu jaman.

2. Penelitian mengenai penghasilan dan pemasaran karya sastra terutama kedudukan sosial seorang penulis

3. Penelitian mengenai penerimaan masyarakat terhadap suatu karya sastra atau karya dari penulis tertentu.

4. Pengaruh sosiologi budaya terhadap penciptaan karya sastra

Menurut Sapardi Djoko ada dua kecenderungan dalam telaah sosiologi terhadap sastra. Pertama pendekatan yang berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses ekonomi-sosial belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor-faktor di luar sastra untuk menceritakan sastra. Sastra hanya berharga dalam hubungannya dengan faktor-faktor diluar sastra itu sendiri. Kedua, pendekatan yang mengutamakan, teks sastra sebagai penelaan. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks sastra untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian dipergunakan untuk lebih dalam lagi gejala sosial diluar sastra.

Sapardi Djoko juga mengatakan jika karya sastra dinilai sebagai cerminan masyarakat, maka pandangan sosial masyarakat harus diperhitungkan. Dengan mengetahui latar sosial pengarang maka terjadilah persamaan-persamaan dengan apa yang diungkapkan di dalam karyanya dan juga agar tidak terjebak dalam subjektivitas yang sangat keras dalam mengungkapkan persepsinya, sebab sastra adalah persepsi seorang pengarang terhadap realitas sosial yang dihadapinya.

2.3 Kehidupan Sosial

(16)

Secara teoritis setidaknya ada dua syarat agar terjadinya interaksi sosial, yaitu terjadi kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan,tetapi juga bergantung kepada adanya tanggapan terhadapan tindakan tersebut. Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pada sesuatu atau perilaku orang lain.

Dalam komunikasi sering kali muncul berbagai macam penafsiran terhadap makna sesuatu atau tingkah laku orang lain yang mana itu semua ditentukan oleh perbedaan konteks sosialnya. Dalam hubungan interaksi komunikasi hubungan pula, baik-buruknya suatu hubungan antar individu adalah bergantung daripada bagaimana kualitas kontak sosial dan komunikasi mereka. Interaksi yang dikatakkan baik itu seperti sering melakukan kontak sosial baik langsung ataupun tidak; serta disertai dengan komunikasi yang lancar antar kedua belah pihak. Tentu hubungan interaksi antar kedua pelaku yang kurang baik, adalah kurangnya terjadi kontak sosial baik langsung maupun tidak;serta kurang lancarnya hubungan antar kedua individu.

Komunikasi melalui isyarat-isyarat sederhana adalah bentuk paling elementer dan yang paling pokok dalam komunikasi. Tetapi, pada masyarakat manusia, isyarat komunikasi yang dipakai tidaklah terbatas pada bentuk komunikasi ini. Hal ini disebabkan karena manusia mampu menjadi objek untuk dirinya sendiri (dan juga sebagai subjek yang bertindak ) dan melihat tindakan-tindakannya seperti orang lain dapat melihatnya.

(17)

Agar interaksi sosial dapat berjalan tertib dan teratur dan agar anggota masyarakat bisa berjalan dengan fungsi normal, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menilai secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang ornag lain. Pertanyaan umum yangs sering muncul adalah : apakah perilaku tindakan kita sudah cukup pantas dihadapan X ataupun Y? Kalau kita biasa berbicara bebas dengan teman kita sendiri, misalnya apakah hal itu juga pantas kita bicarakan dengan orang tua?

Seseorang atau kelompok yang telah mampu berempati dan menilai diri sendiri sesuai dengan pandangan orang lain disebut sebagai diri (the self). Diri dibentuk dan diubah melalui interaksi dengan orang lain. Seseorang tidak dilahirkan dengan karakteristik serta kepribadian yang telah jadi, melainkan ia akan dibentuk oleh lingkungannya melalui simbol-simbol dan sosialisasi. Kemampuan untuk menyesuaikan diri perilaku seseorang sebagai tanggapan terhadap situasi-situasi sosial tertentu sebagai pengambilan peranan (Narwoko Suryanto 2007 ;22)

Dalam diri terdapat dua komponen, yakni I dan Me. Perilaku yang diperbuat dengan memperhitungkan kemungkinan reaksi atau sikap-sikap orang lain mencerminkan apa yang disamakan dengan me. Sedangkan I adalah perwujudan dari identitas pribadi dari orang per-orang yang khas.

(18)

Begitu pula kaitannya dengan peran sosial didalam hubungan interaksi kehidupan di masyarakat.

2.3.2 Perilaku Menyimpang Kehidupan sosial

Fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan masyarakat sangat menarik untuk dibicarakan. Menurut Narwoko dan Suryanto (2007 :98) mengungkapkan bahwa sumbangan sosiologi sendiri cukup signifikan dalam memetakan berbagai bentuk perilaku, reaksi, masyarakat yang ditimbulkannya. Kajian tentang perilaku menyimpang dipelajari oleh sosiologi karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai yang telah ditegakkan di masyarakat. Selain itu melalui teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang dikembangkannya, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang.

Definisi tentang perilaku menyimpang menurut Narwoko dan Suryanto ada empat yakni ;

1. Statistikal.

Definisi secara statistikal ini adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan.

2. Absolut dan mutlak

(19)

menyimpang absolut ini biasanya terjadi dalam komunitas di pedesaan atau masyarakat yang masih teguh memegang adat-istiadat.

3. Reaktif

Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis adalah bila berkenaan dengan reaksi masyarakat atau agen kontrol sosial terhadap tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Artinya apabila ada reaksi dari masyarakat atau agen kontrol sosial dan kemudian mereka memberi cap atau tanda terhadap si perilaku, maka perilaku itu dianggap telah menyimpang. Demikian pula si pelaku dianggap telah menyimpang.biasanya kaum reaktivis tidaklah mengecap penyimpangan sosial berdasarkan pengertian biologis yang dimana merupakan dari keturunan orang tua ataupun genetika.

4. Normatif

Sudut pandang ini didasarkan atas asumsi bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial. Norma dalam hal ini adalah suatu standar tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dipikirkan, dikatakan atau dilakukan oleh warga masyarakat pada suatu keadaan tertentu. Pelanggaran-pelanggaran terhadap norma seringkali diberi sanksi-sanksi oleh penonton sosialnya. Yang dimana norma pada konsepnya sebagai suatu evaluasi atau penilaian dari tingkah laku yang dianggap baik atau seharusnya tidak terjadi. Secara keseluruhan definisi normatif dari perilaku menyimpang adalah tindakan atau perilaku menyimpang dari norma-norma dimana tindakan-tindakan tersebut tidak di setujui atau mendapatkan celah serta sanksi negatif dari masyarakat.

(20)

1. Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang ada, contoh tindakan nonconform itu, misalnya memakai sandal butut ke kampus atau ke tempat-tempat formal, membolos atau meninggalkan jam pelajaran kemudian menitip tanda tangan ke teman, merokok di area larangan merokok, membuang sampah pada temoat yang tidak semestinya, dan sebagainya.

2. Tindakan yang anti sosial atau asosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau tindakan umum. Bentuk tindakan asosial itu antara lain ; menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, keinganan untuk bunuh diri, minum minuman keras, menggunakan narkotika atau obat-obatan berbahaya, terlibat di dunia prostitusi atau pelacuran, penyimpangan seksual (homo seksual dan lesbianisme) dan sebagainya.

3. Tindakan tindakan kriminal yang nyata melanggar aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa keselamatan orang lain. Tindakan kriminal itu misalnya, pencurian, pembunuhan, korupsi, perampokan dan berbagai bentuk tindak kejahatan lainnya, baik yang tercatat dikepolisian maupun yang tidak karena tidak dilaporkan oleh masyarakat, tetapi nyatanya mengancam keselamatan masyarakat.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...