• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Keuangan Publik Dalam Prespekt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan Keuangan Publik Dalam Prespekt"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEBIJAKAN KEUANGAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF

ABU UBAID: ANALISIS KRITIS TERHADAP KEBIJAKAN

SUBSIDI PEMERINTAH INDONESIA

Oleh:

Muhammad Yazid Albustomi (S.1014.246) Mutiara (S.1014.246)

Bidang Lomba : Ekonomi

Disusun dalam Rangka Mengikuti Lomba Kompetisi Pemikirian Kritis Mahasiswa (KPKM) DIKTI 2013

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia

(STEI TAZKIA)

(2)
(3)

iii

Kata Pengatar

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini sesuai target yang telah penulis harapkan sebelumnya. Tak lupa pula, solawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW, pembawa risalah yang hingga kini mampu membawa Islam sebagai Rahmatan lil Alamin serta penuntun ke jalan yang terang benderang.

Tulisan ini adalah hasil pemikiran penulis terkait kritik penulis terhadap kebijakan subsidi di indonesia. gagasan akan hadirnya konsep ini muncul dari ketidak setujuan penulis terhadap kebijakan subsidi pemerintah indonesia yang menurut penulis tidak pro kepada rakyat kecil. Maka dengan adanya penelitin ini, penulis berharap kebijakan pemrintah dapat lebih memihak kepada masyarakat kecil.

Ucapan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh banyak pihak menghantarkan penulis untuk menyampaikannya kepada:

1. Manajemen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, mulai dari Ketua, Wakil Ketua, Ketua Jurusan, Ketua Bidang Kemahasiswaan beserta staff.

2. Bapak Dr. Yulizar Djamaluddin Sanrego, M.Ec selaku dosen pembimbing. 3. Teman-teman di kampus STEI Tazkia serta seluruh kader Ekonom

Robbani, Ekonomi Islam.

4. Serta yang terkhusus penulis sampaikan kepada Ibu tercinta yang telah dengan ikhlas mendoakan agar penulis kelak mampu menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama.

Akhirnya, penulis pun berharap agar karya tulis ini mampu memberi manfaat bagi para pembaca pada umumnya. Dan juga penulis begitu mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan konsep ke depan yang lebih baik bagi pembaca.

Bogor, 12 Juni 2013

(4)

iv

Daftar Isi

Lembar Pengesahan ... ii

Kata Pengatar ... iii

Daftar Isi... iv

Ringkasan Tulisan ... v

Bab I ... 1

Pendahuluan ... 1

1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Rumusan masalah ... 3

1.3. Tujuan penulisan ... 4

1.4. Metode Penelitian ... 4

Bab II ... 5

Tinjauan Pustaka ... 5

2.1. Landasan teori ... 5

2.1.1. Pengertian Subsidi ... 5

2.1.2.Sejarah Abu Ubaid ... 5

2.1.3. Latar Belakang dan corak Pemikiran Abu Ubaid ... 6

2.2. Penelitian Terdahulu ... 7

Bab III ... 8

PEMBAHASAN ... 8

3.1. Konsep Subsidi Dan Alokasinya Di Indonesia ... 8

3.2. Konsep Umum Keuangan Publik Abu Ubaid ... 10

3.3. Penerimaan Negara Dalam Islam Dan Konsep Distribusinya ... 11

3.3.1. Zakat ... 12

3.3.2. Konsep Pertimbangan Kebutuhan Abu ubaid Dalam distribusi Zakat. 13 3.4. Kritik terhadap Subsidi indonesia ... 17

Bab IV ... 18

Penutup ... 18

5.1. Kesimpulan ... 18

5.2. Saran ... 18

(5)

v

Ringkasan Tulisan

Di tahun 2013 ini, pendapatan Negara dalam RAPBN 2013 mencapai Rp. 1.507,7 Trilliun.naik 11 % dari target APBN-P 2012, atau meningkat dua kali lipat dibanding realisasi tahun 2007. Peningkatan pendapatan tersebut akan menambah kemampuan Negara dalam membangun dan memperluas pendanaan untuk tujuan kesejahteraan rakyat, seperti pembangunan infrastuktur, Subsidi Untuk rakyat miskin dan pendanaan untuk kesejahteraan lainnya.Pada tahun 2013, dalam RAPBN 2013 belanja Negara yang diperuntukkan untuk Subsidi guna meringankan beban masyarakat kurang mampu sebesar 316,1 Trilliun.Dari anggaran sebesar itu, alokasi terbesar adalah subisidi dalam bidang energi. Karena hampir 90% dari total anggaran subsidi pemerintah adalah diperuntukkan untuk subsidi di sektor energi, baik BBM dan Listrik.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, subsidi yang sejatinya diperuntukkan untuk masyarakat miskin, malah yang menikmatinya adalah orang-orang kaya. Seperti yang terjadi di dalam subsidi BBM. Hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah, karena apabila subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak tepat sasaran, maka hanya akan membuat sia-sia kebijakan subsidi yang dikeluarkan pemerintah.

Dengan menggunakan pendekatan content analysis paper ini menyimpulkan bahwa dalam rangka memitigasi permasalahan tidak tepat sasaran kebijakan subsidi, konsep pertimbangan kebutuhan dalam pendistribusian zakat dalam kekayaan negara bisa dijadikan sebagai solusi alternatif. Konsep Abu Ubaid – ekonom muslim – dimana dalam mendistribusikan pendapatan Negara yang diperoleh dari zakat menggunakan konsep teori berdasarkan kebutuhan, dapat ditransformasikan kedalam kebijakan subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Mengingat subsidi diambil dari APBN indonesia yang didalamnya terdapat pajak sebagai pedapatan Negara terbesar. yang secara kontekstual ada kesamaan dalam konsep zakat dizaman abu ubaid, yaitu sama-sama menjadi pendapatan Negara.

Dengan konsep ini penulis berharap dapat ditransformasikan kedalam kebijakan subsidi yang ada di indonesia, dengan harapan kebijakan subsidi pemerintah yang akan dkeluarkan itu tidak salah sasaran yang nantinya akan menimbulkan kesia-siaan dalam penyaluran kekayaan Negara.

Secara umum, dari tulisan ini terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu:

(6)

vi

2. Konsep Pertimbangan kebutuhan dalam distribusi zakat yang Di kemukakan oleh Abu Ubaid dapat diaplikasikan dan ditranformasikan di dalam kebijakan subsidi pemerintah Indonesia. Yaitu dengan mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dengan begitu pemerintah dapat mengetahui mana masyarakat yang mampu, masyarakat menegah dan masyarakat miskin. Sehingga penyaluran subsidi yang sejatinya diperuntukkan untuk masyarakat miskin dapat di salurkan dengan tepat.

(7)

1 meningkat dua kali lipat dibanding realisasi tahun 2007.1Peningkatan pendapatan tersebut akan menambah kemampuan Negara dalam membangun dan memperluas pendanaan untuk tujuan kesejahteraan rakyat, seperti pembangunan infrastuktur, Subsidi Untuk rakyat miskin dan pendanaan untuk kesejahteraan lainnya

Gambar 1.Sumber: RAPBN 2013. Kemenkeu.go.id

Namun dengan pendapatan yang besar tersebut , anggaran belanja Negara di tahun 2013 juga mengalami peningkatan, bahkan dua kali lipat dari tahun 2007 dan Pagu APBNP tahun 2012 yaitu berkisar Rp. 1.657,9 Trilliun.Dari besaran belanja Negara tersebut, 1.139 Trilliun di alokasikan untuk Pemerintah pusat

1

Rancanagn Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun 2013. Kemenkeu.Go.Id

(8)

2

kemudian sisanya diperuntukkan kepada daerah.2Dengan pengeluaran sebesar itu, alokasi yang diperuntukkan untuk membantu rakyat miskin masih belum dapat memenuhi target pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada tahun 2013 ini, dalam RAPBN 2013 belanja Negara yang diperuntukkan untuk Subsidi guna meringankan beban masyarakat kurang mampu sebesar 316,1 Trilliun.3Dari anggaran sebesar itu, alokasi terbesar adalah subisidi dalam bidang energi. Karena hampir 90% dari total anggaran subsidi pemerintah adalah diperuntukkan untuk subsidi di sektorenergi, Baik BBM, Gas, dan Listrik.

Gambar 2.Besar subsidi yang dikeluarkan Pemerintah sejak 2007-2013 (dalam

Milyar).Sumber:data Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013)

Dilihat dari sangat besarnya angka subsidi yang dialokasikan di sektor energi, hal ini akan menimbulkan beban yang cukup berat terhadap APBN indonesia. Mengingat konsumsi energi di indonesia, terutama BBM setiap tahun semakin meningkat. Hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah selaku regulator dalam masalah subsidi ini, karena konsumen BBM lebih di dominasi oleh masyarakat menengah ke atas dan kelompok industri, bukan kelompok masyarakat menengah kebawah yang pada dasarnya lebih membutuhkan terhadap subsidi tersebut. Hal ini akan menjadikan subsidi yang dikeluarkan pemerintah

2

Rancanagn Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun 2013. Kemenkeu.Go.Id 3

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

BBM

Listrik

(9)

3

lebih tepat sasaran, yaitu subsidi yang dikeluarkan untuk kesejahteraan rakyat yang kurang mampu.

Fakta yang ada di indonesia adalah bahwasannya subsidi yang dikeluarkan pemerintah mencakup semua kalangan, baik golongan kaya maupun yang miskin. Inilah yang akan menjadikan peruntukan subsidi yang tujuannya untuk kesejahteraan rakyat kurang tepat sasaran. Karena alokasi subsidinya di samaratakan antara masyarakat yang kaya dan yang miskin.Padahal pada dasarnya subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah untuk meringankan beban masyarakat miskin, terutama dalam hal perekonomian.Dengan adanya fakta tersebut munculsebuah pertanyaan, siapa yang menikmati subsidi yang diberikan oleh pemerintah?Apakah semua masyarakat, atau hanya orang-orang tertentu saja yang paling banyak mengkonsumsi energi, terutama BBM.Yang sekarang menjadi sektor paling banyak yang disubsidi oleh pemerintah.

Subsidi diakui dalam tradisiIslam. Para pemikirekonomi Islam di zaman sebelum ekonom-ekonom barat menyatakan pendapat-pendapatnya dalam keuangan publik, sudah banyak tokoh-tokoh ekonommuslim yang membahas tentang keuangan publik, terutama masalah subsidi. Seperti Abu Ubaid, tokoh ekonomi islam sekaligus ulama yang fokus dibidang ekonomi keuangan publik inimembahas tentang pengelolaan kekayaan Negara, baik dalam pengelolaannya hingga pendistribusiannya kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama konsep pertimbangan kebutuhan dalam pendistribusian zakat.Konsep islam yang diusung oleh pemikir-pemikir islam dalam mengatur keuangan publik ini sangat komprehensif, karena konsep yang ditawarkan berlandaskan Al-quran dan Hadits Rasulullah SAW.

1.2. Rumusan masalah

(10)

4

subsidi yang ada di Indonesia saat ini yang menurut penulis masih kurang tepat sasaran

1.3. Tujuan penulisan

Tulisan ini diharapkan bisa mengetengahkan relevansi pandangan Abu Ubaid terhadap penerapan kebijakan subsidi yang ada di Indonesia,khususnyakebijakan subsidi di sektor energi dan bagaimana kebijakan tersebut bisa secara tepat diaplikasikan.

1.4. Metode Penelitian

Tulisan ini menggunakan metode penulisan kualitatif deskriptif dengan pendekatan content analysisyaitu dengan memahami beberapa literatur maupun data yang relevan dengan kebijakan subsidi.(Gubrium et.al., 1992: 1577 dalam Somantri, 2005) Content analysis adalah mengkaji dokumendokumenberupa kategori umum dari makna. Penelitidapat menganalisis aneka ragam dokumen, dari mulaikertas pribadi (surat, laporan psikiatris) hingga sejarah kepentingan manusia.Disini penulis menggali pemikiran-pemikiranulama-ulama terdahulu,

(11)

5

Bab II

Tinjauan Pustaka

2.1. Landasan teori 2.1.1. Pengertian Subsidi

Subsidi adalah uang yang dibayarkan, biasanya oleh pemerintah, untuk mempertahankan harga dibawah yang seharusnya di pasar bebas, atau untuk mempertahankan bisnis yang terancam bangkrut, atau membuat aktifitas yang seharusnya tak berlansung menjadi terwujud.Subsidi dapat merupakan bentuk proteksionisme dengan membuat barang dan jasa domestik secara artificial terlihat kompetitif terhadap produk impor. Dengan mendistorsi pasar, subsidi akan memicu biaya ekonomi tinggi.4

Di dalam kamus besar bahasa indonesia, Subsidi mepunyai arti “bantuan uang dan sebagainya kepada yayasan, perkumpulan (biasanya dari pihak

pemerintah”. Kemudian ada juga istilah subsidi silang dalam kebijakan subsidi pemerintahindonesia.Yaitu subsidi dari pemerintah (atau badan swasta) kepada yang kurang mampu yang berasal dari mereka yang mampu (misal harga bensin naik banyak dengan maksud untuk memberi subsidi kepada pemakai minyak tanah yang umumnya rakyat kurang mampu; ongkos pasien kaya ditinggikan untuk membantu pasien kurang mampu.5

2.1.2.Sejarah Abu Ubaid

Nama lengkap beliau adalah Abu Ubaid Bin Sallam bin Abdullah, gelar beliau adalah Al-imam Al-hafidh Al-Mujtahid Dzu Al-funun, nama panggilan (kunyah) beliau adalah Abu Ubaid, sedangkan nama kebangsaannya adalah Al-harawiy. Abu Ubaid dilahirkan pada tahun 157 H./ 774 M. dikota Hirah Khurrasan. Semenjak dari kecil, Abu ubaid selalu di antarkan oleh orang tuanya untuk menemui ulama-ulama pada masa itu untuk belajar ilmu pengetahuan. Ayahnya berkata pada seorang guru: “ajarilah Al-qasim (Abu Ubaid), karena dia

4

Matthew Bishop, Ekonomi, Panduan Lengkap Dari A Sampai Z. Edisi Indonesia, Pustaka Baca, Jogja. Hal. 302

5

(12)

6

adalah anak yang cerdas”.6

Dilihat dari hal tersebut, abu ubaid memang terlahir sebagai anak yang cerdas dan pandai, tidak mustahil ketika tumbuh dewasa dan menjadi ulama banyak para ulama-ulama pada masanya yang mengakui kehebatan dan kecerdasan abu ubaid dalam ilmu pengetahuan.Ishaq Bin Rahawiyah, salah

satu ulama besar pada masa itu mengatakan: “abu ubaid itu lebih luas ilmunya dari pada kita, dan lebih banyak karyanya, sesungguhnya kita butuh sama abu ubaid, dan abu ubaid tidak butuh kepada kita”. Ungkapan ini menandakan bahwasannya kehebatan abu ubaid dalam ilmu pengetahuan sudah sangat diakui, bahkan bukan hanya masyarakat luas, seorang ulama sekelas Ishaq Bin Rahawiyah pun mengakui terhadap kealiman Abu Ubaid dalam berbagai ilmu pengetahuan.

2.1.3. Latar Belakang dan corak Pemikiran Abu Ubaid

Abu Ubaid Merupakan seorang ahli hadits dan „alim dalam ilmu fiqh yang sangat dikenal pada masa hidupnya.selama menjabat sebagai Qadhi di tarsus beliau sering menangani berbagai kasus pertanahan dan perpajakan serta menyelesaikannya dengan baik.Alih bahasa yang dilakukannya dari bahasa Parsi ke bahasa Arab juga menunjukkan bahwa Abu Ubaid sedikit banyak menguasai bahasa tersebut.7

pemikiran beliau yang sangat terkenal adalah tentang pembahasan beliau mengenai keuangan publik yang ia bukukan dalam karya besarnya yaitu kitab Al-amwal. berbeda dengan pemikiran abu yusuf dalam kitab Al-kharaj, Abu Ubaid di dalam kitab Al-Amwal tidak menyinggung tentang masalah kelemahan sistem pemerintahan serta penanggulangannya.Namun demikian didalam kitab Al-amwal dapat dikatakan lebih kaya daripada kitab Al-kharaj karya Abu Yusuf dalam hal kelengkapan hadits, atsar, dan para pendapat tabi‟in dan tabi‟it tabi‟in.dalam hal ini fokus perhatian Abu Ubaid tampaknya lebih tertuju pada permasalahan yang

6

Abu Anas Sayyid Bin Rajab & Syaikh Abu Ishak Al-Huwaiyni, Kitab AmwaalLil Imam Al-Hafidzh Al-„Adzhim Al-Hafidzh Al-Hujjah Abu Ubaid Al-Qasim Bin Sallam, Almujallidul Awwal. Mesir, Dar Al-Hadiy, Hal.13

7

(13)

7

berkaitan dengan standar etika politik suatu pemerintahan dari pada teknik afisiensi pengelolaannya.8

Dengan beberapa konsep ekonomi publik yang Abu Ubaid kemukakan, beliau berhasil menjadi salah seorang cendekiawan muslim yang sangat dikenal di pertengahan abad ke -3 Hijriyah, yang menetapkan revitalisasi sistem perekonomian yang berlandaskan Al-quran dan Hadits melalui reformasi dasar-dasar kebijakan keuangan dan institusinya.9

2.2. Penelitian Terdahulu

Belum ada penelitian yang benar-benar sepesifik membahas subsidi yang dikaitkan dengan teori dan konsep menurut islam. Kalaupun ada hanya sebatas opini dan artikel lepas yang ditulis oleh para cendekiawan muslim. Penelitian tentang subsidi sendiri di indonesia lebih banyak di dominasi oleh penelitian-penelitian subsidi yang berhubungan dengan sektor energi. Diantaranya adalah:

Sarif dan Kamri (2009). Kegunaan zakat untuk menghasilkan pendapatan adalah salah satu mekasinme dimana zakat kekayaan di distribusikan dengan cara yang membantu penerima untuk menjadikan hasil pendapatan mereka menjadi produktif. Sehingga mereka bisa mandiri dengan tetatap dalam jangka waktu tertentu.

Handoko dan Patriadi (2005)berpendapat bahwasannya :

a. Beban subsidi non-BBM terhadap APBN relatif lebih ringan dibandingkan subsidi BBM,

b. Cukup banyak faktor yang mempengaruhi besaran subsidi non-BBM. Sebagian besar faktor tersebut membutuhkan koordinasi kebijakan antar departemen. Misalkan subsidi pupuk yang dipengaruhi oleh HET, harga gas, kurs dan volume yang penentuannya membutuhkan koordinasi kebijakan antara Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,

c. Secara total beban subsidi non-BBM relatif stabil dari tahun ke tahun walaupun ada beberapa subsidi yang mengalami penurunan, akan tetapi ada juga subsidi

8 Ibid. 9

(14)

8

yang justru mengalami kenaikan. Beban subsidi listrik, bunga kredit program, dan pangan mengalami penurunan pada 2006 sedangkan beban subsidi pupuk dan benih mengalami peningkatan,

d. Subsidi non-BBM masih diperlukan oleh mereka yang memiliki keterbatasan daya beli. Adapun permasalahan utama subsidi non-BBM adalah subsidi yang diberikan pemerintah cenderung kurang daripada yang dibutuhkan.Hal ini dapat dipahami karena alasan keterbatasan kemampuan anggaran yang dimiliki oleh pemerintah.

Handoko dan Susilo (2000). Pengurangan subsidi BBM menyebabkan nilai tambah dan lapangan kerja menurun, kenaikan harga domestik hampir disemua sektor ekonomi. Dampak yang lebih besar dapat dilihat di sektor bahan bakar diikuti oleh sektor transportasi, kemudian sektor manufaktur.

Bab III

PEMBAHASAN

3.1. Konsep Subsidi Dan Alokasinya Di Indonesia

Sebagaimana yang dilakukan oleh berbagai Negara di dunia, selama bertahun-tahun pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan subsidi guna mencapai beberapa target sosial dan ekonomi.Kebijakan subsidi ini cenderung ditujukan untuk menuntaskan masalah kemiskinan, pembangunan insfratuktur, serta pengembangan fasilitas-fasilitas Negara, baik pendidikan, kesehatan dan fasilitas masyarakat lainnya. Namun seiring semakin meningkatnya skebutuhan lain yang harus diurus oleh pmerintah, menentukan alokasi sumber daya keuangan publik menjadi salah satu tugas pemerintah yang sangat penting dan sulit.

(15)

9

seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan beasiswa pendidikan ataupun tidak secara langsung, seperti subsidi yang diperuntukkan kepada sektor energi, baik BBM, Listrik, dan gas atau subsidi yang di peruntukkan untuk pembangunan fasilitas umum seperti gedung sekolah dan jalan umum.Yang jadi sorotan para ekonom sekarang adalah subsidi yang diperuntukkan kepada sektor energi, terutama BBM.Hal ini dikarenakan alokasi subsidi yang semestinya dalam peraturannya dialokasikan kepada masyarakat kurang mampu, dalam aplikasinya tidak sesuai dengan aturan yang ada. Karena konsumen yang menikmati energi diindonesia terutama BBM didominasi oleh orang-orang kaya yang memiliki perusahaan dan kendaraan bermotor.Sedangkan orang miskin hanya menikmatinya sebagian kecil.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 mengalokasikan sebesar Rp202 Triliun, atau US$22 miliar, untuk subdisi bahan bakar dan listrik.Jumlah ini lebih tinggi daripada anggaran untuk pertahanan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan sosial secara keseluruhan. Anggaran yang direncanakan untuk 2013 memperkirakan bahwa anggaran untuk subsidi energi akan membengkak mencapai Rp275 Triliun (US$20 miliar), atau 24 persen dari total pengeluaran yang direncanakan oleh pemerintah pusat.10

Gambar 3: pengeluaran pemerintah pusat dan subsidi 2006-2013 (dalam trilliun rupiah)

2006

Panduan Masyarakat Tentang Subsidi Energy Di Indonesia. Disusun International Institute For

(16)

10

Tabel di atas menunjukkan bahwasannya subsidi di sektor energi sangat besar.Pemerintah selaku pembuat kebijakan sering membenarkan pemberian subsidi terhadap sektor energi dengan alasan bahwasannya hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, dan jaminan keamanan akan pasokan energi.Subsidi memang dapat menjadi kebijakan penting bagi pemerintah untuk mempromosikan kesejahteraan sosial dan mengatasi kegagalan sistem pasar.Akan tetapi subsidiini akan ada beberapa kendala yang berhubungan dengan subsidi energi. Harga yang direkayasa agar menjadi turun akan dapat berdampak buruk terhadap pelestarian energi di indonesia. Padahal subsidi energi di Indonesia lebih banyak dinikmati oleh golongan atas.Bukan hanya disektor energi, subsidi yang tidak tepat sasaran dengan menyamaratakan subsidi antara masyarakat kaya dan miskin akan menimbulkan ketidakseimbangan ekonomi Negara. Karena porsi yang didapatkan yang kaya sama dengan yang miskin, padahal tujuan dasar dari subsidi adalah mensejahterakan masyarakat miskin bukan membantu orang yang kaya.

3.2. Konsep Umum Keuangan Publik Abu Ubaid

Abu Ubaid dalam pemikirannya membagi kekayaan publik menjadi dua kategori11, yaitu:

1. Mal Mutaqawwam, merupakan harta untuk kaum non muslim yang terdiri dari minuman anggur, babi dan lain-lain. Sebagai sumber dari pendapatan publik, pemerintah hanya dapat menerima Mal mutaqawwam sesuai dengan ajaran islam. Oleh sebab itu pembayaran obyek pajaknya, seorang muslim harus menukarkan dengan uang tunai.

2. Mal ghayr mutaqawwam,merupakan harta untuk kaum muslim yang berasal dari harta yang halal. Harta kaum muslimin tidak dianggap sebagai harta publik (amwal) dalam wilayah pemerintahan Islam. Oleh sebab itu, harta jenis ini tidak dipungut pajaknya.

Dilihat dari pembagian kekayaan tersebut, Abu Ubaid mencoba memisahkan antara kekayaan yang dihasilkan oleh orang muslim dan kekayaan yang dihasilkan

11

(17)

11

oleh orang non muslim. Hal ini dilakukan karena didalam islam, halal dan haram sebuah kekayaan menjadi hal yang urgent, guna menjaga kemaslahatan agama Islam terutama dalam konsumsi.

Kemudian Abu Ubaid mengemukakan definisinya sendiri tentang pendapatan publik dalam Islam, yakni “Sunuf al-amwal al-lati yaliha al-a‟immah li al-ra‟iyyah”, sejumlah kekayaan yang dikelola oleh pemerintah untuk kepentingan subjek. Definisi ini dipandang sebagai kontribusi genuine-nya dalam bidang ini, karena tidak ada definisi semacam ini yang pernah dikemukakan oleh ulama sebelumnya yang telah membahas pokok masalah yang sama. Ada empat konsep penting yang ada dalam definisi itu.12 Istilah “amwal” yang menjadi judul dan tema bukunya,yang mengacu kepada kekayaan publik yang dikategorikan menurut tiga klasifikasi, yakni fay, khums, dan zakat.

1. Istilah “a‟immah” yang mengacu kepada otoritas publik yang diberi kepercayaan untuk mengelola (wilayah) kekayaan publik.

2. Konsep “wilayah” yang mengisyaratkan bahwa kekayaan itu tidak dimiliki oleh otoritas, tetapi merupakan kepercayaan demi kepentingan publik.

3. Yang terakhir, istilah “ra‟iyyah” yang mengacu kepada publik umum yang terdiri dari subjek Muslim dan non muslim dalam administrasi Islam, dimana kepada mereka manfaat harta itu didistribusikan.

3.3. Penerimaan Negara Dalam Islam Dan Konsep Distribusinya

Di dalam keuangan Negara, ada perbedaan antara penerimaan Negara dan pendapatan Negara. Penerimaan Negara adalah yang masuk ke kas Negara, yakni segala bentuk setoran yang diterima dan masuk ke rekening kas Negara, sedangkan pendapatan Negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Artinya semua penerimaan Negara yang menjadi hak pemerintah pusat yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kantor/satuan kerja/kementrian Negara/lembaga.13Di dalam Islamsecara umum

12

Adiwarman Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Pt Raja Grafindo Persada, Jakrta, 2004. 13

(18)

12

penerimaankeuangan Negara itu terbagi menjadi Dua, yaitu penerimaan keuangan yang didapat dari zakat dan penerimaan keuangan yang didapat dari non zakat. Di dalam tulisan ini, yang jadi pembahasan utama adalah mengeanai pendapatan yang didapat dari zakat.

3.3.1. Zakat

Penerimaan yang didapat dari zakat dalam penditribusiannya sudah di tentukan di dalam Alquran, yaitu delapan golongan yang disebutkan didalam surah At-Taubah ayat 60:



 



60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana .

Zakat juga merupakan komponen utama dalam sistem keuangan publik dan komponen kebijakan fiskal dalam sistem ekonomi Islam. Zakat merupakan kegiatan yang bersifat wajib bagi individu setiap muslim, serta merupakan salah satu elemen pendapatan Negara yang penstribusiannya di peruntukkan kepada delapan golongan (mustahik)yang disebut di dalam surah Attaubah ayat 60 tersebut, yaitu: fakir, miskin, fisabilillah, ibnu sabil, amil, muallaf, dan hamba sahaya.

(19)

13

Gambar 4 : tabel penyaluran zakat untuk delapan Asnaf

Asnaf Penyaluran Zakat

Fakir Zakat diberikan hingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknyadan terbebas dari kefakiran.

Miskin Zakat boleh diberikan sampai pada batas tertentu sehingga sehingga dia dapat terbebas dari kemiskinannya dan dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan pokonya.

Amil Diserahkan atas kebijakan pemimpin, dalam hal ini pemerintah yang menunjuk amil. Tidak lebih dari 1/8 zakat.

Muallaf Diserahkan hingga dia masuk Islam dengan sempurna, atau sampai orang lain mencintainya sebagai muslim.14

Budak Sejumlah untuk membebaskandirinya dari perbudakan, karena menurut Nabi Muhammad membebaskan orang lain dari pebudakan salah satu perbuatan yang menjauhkan kita dari neraka dan mendekatkan kita kepada surga.15

Gharimin Kepada mereka diberikan sebesar beban hutang yang ditanggung, untuk melunasinya.16

Fisabilillah Boleh memberikan harta zakat atau sebagainya, meskipun dalam keadaan mampu (kaya) untuk kepentingan jihad, sesuai dengan pendapat dan pertimbangan khalifah terhadap para mustahik zakat lainnya.17

Ibnu Sabil Zakat diberikan sebesar jumlah yang dapat memnuhi kebutuhannya meneruskan perjalanan.

Melihat tabel diatas, hal tersebut menunjukkan bahwasannya tidak selamanya delapan golongan tersebut berhak mendapat zakat.Ada saatnya dimana delapan golongan tersebut tidak berhak lagi mendapatkan zakat dari muzakki.Seperti yang di jelaskan tabel di atas.

3.3.2. Konsep Pertimbangan Kebutuhan Abu ubaid Dalam distribusi Zakat.

Abu Ubaid sangat menentang pendapat yang mengatakan bahwa pembagian harta zakat harus dilakukan secara merata. Di antara delapan kelompok penerima zakat dan cenderung menentukan batas tertinggi terhadapbagian perorangan.18Abu Ubaid berpendapat bahwasannya yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, seberapapun besarnya,

14

Imam Abi Al-Fada’ Al-Hafidhz Ibn Katsir Al-Damasyqi. Tafsir Al-Quran Al-Adzhim Juz 2. Dar Al-Fikri. Hal. 860

Hadits Nabi SAW dalam tafsir ibnu katsir. Hal. 861 18

(20)

14

serta bagaimana menyelamatkan orang-orang dari bahaya kelaparan.19 Namun di sisi lain, abu ubaid tidak memberikan hak penerimaan zakat kepada orng-orang yang memilik 40 dirham atau harta lainnya yang setara, disamping baju, pakaian, dan pelayan yang dianggapnya sebgai kebutuhan hidup standar minimum.20

Abu ubaid juga berpendapat bahwa seorang yang memiliki 200 dirham, yakni jumlah minimum yang terkena wajib zakat, maka dikategorikan sebagai orang kaya.Sehingga mengenakan kewajiban zakat kepada orang tersebut. Oleh sebab itu, pendekatan kebutuhan yang dilakukan oleh Abu Ubaid ini mengindikasi adanya kelompok ekonomi yang terkait dengan status zakat, yaitu21:

 Kalangan kaya yang terkena wajib zakat

 Kalangan menengah yang tidak terkena wajib zakat, tetapi juga tidak berhak menerima zakat.

 Kalangan penerima zakat

Pengelompokantersebut dapat dilihat dalam sekema berikut:

Gambar 5.: Skema konsep pertimbangan kebutuhan Abu Ubaid

Berkaitan dengan distribusi kekayaan melalui zakat, secara umum Abu Ubaid mengadopsi prinsip:

19

Siddiqi (1992, 17) dalam Adiwarman Karim.Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Pt Raja Grafindo Persada, Jakrta, 2004. Hlm, 278

20

Abu Ubaid, Kitab al-Amwal,ed. Muhammad Amarah (Beirut: Dar al-Shuruq, 1989). Hal. 662-664

21

(21)

15

هتجاح بسح دحاو لكل

“Bagi Setiap Orang, Adalah Menurut Kebutuhan Individu Masing-Masing22.

Konsep inilah yang dapat digunakan oleh pemerintah Indonesia dalam mengalokasikan dana subsidi yang dikeluarkan kepada masyarakat. Karena dengan konsep tersebut, alokasi distribusi subsidi akan lebih tepat sasaran, yaitu dengan membedakan objek subsidi antara yang membutuhkan dan yang tidak membutuhkan. Yaitu dengan mengelompokkan antara masyarakat miskin, menengah, dan masyarakat yang kaya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengunakan data base dari BPS(Badan Pusat Statistik) mengenai kemiskinan dan taraf hidup masyarakat. Dengan begitu pemerintah dapat menentukan siapa yang lebih berhak menerima Subsidi dari pemerintah.

Berita yang dimuat dalam harian Merdeka edisi 29 Januari 2013, menyatakan bahwasannya mantan kementrian keuangan berharap penerapan kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP mampu mendata secara detil penduduk Indonesia. Hal ini akan membuat pendataan status ekonomi masyarakat dapat terlihat secara nyata dan akurat.Lebih lanjut mantan Menteri keuangan Agus Martowardojo mengatakan penggunaan e-KTP dapat digunakan pemerintah untuk mengubah skema pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM). Nantinya, subsidi akan menjadi subsidi langsung, tidak lagi subsidi harga seperti saat ini yang sudah terbukti tidak efektif.23 Keputusan ini sangatlah baik, mengingat kebijakan subsidi di indonesia belum tepat sasaran, terutama subsidi BBM yang mana masih banyak orang-orang kaya ikut menikmatinya.

Saat ini seperti yang tertera di tabel gambar 3. Negara harus mengeluarkan anggaran untuk subsidi BBM saja sudah mencapai Rp.194 trilliun. Dengan adanya subsidi langsung tersebut, maka dari seluruh total anggaran subsidi sebesar Rp.316 trilliun dapatdihilangkan dan dapat digunakan subsidi langsung yang

22

Adiwarman Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. PT. Raja Grafindo Persada, Jakrta, 2004. Hlm, 279

23

(22)

16

mungkin hanya akan membutuhkan Rp.20 – 40 trilliun. Sisanya dapat digunakan untuk pengembangan sektor lainseperti fasilitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Apabila konsep di atas dapat diwujudkan oleh pemerintah, maka akan sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Abu Ubaid tentang teori pertimbangan kebutuhan untuk distribusi kekayaan negara yang didapat dari zakat. Yaitu dengan cara mengidentifikasi kemampuan ekonomi dan kondisi sosialmasyarakat. Dengan begitu aliran subsidi yang dikeluarkan pemerintah benar-benar tepat sasaran.

Secara umum pengeluaran negara terutama dalam negara yang mengikuti sistem ekonomi Islam, dapat di jelaskan dengan tabel berikut.

Gambar 6: Tabel penerimaan dan pengeluaran Negara islam dan alokasinya*

Penerimaan Pengeluaran

Jenis regulasi

Zakat Memenuhi Kebutuhan dasar

Kharaj Kesejahteraan sosial

Jizyah Pendidikan dan penelitian

Jenis sukarela

Ushur Insfatruktur (fasilitas public)

Infak-sedekah Dakwah dan propaganda islam

Waqaf Pembangunan fasilitas keagamaan islam

Jenis kondisional

Pajak

Kebutuhan masyarakat umum Keuntungan BUMN (fai’)

Lain-lain

*Diolah dari beberapa sumber

(23)

17

3.4. Kritik terhadap Subsidi indonesia

Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa subsidi di Indonesia dalam pengalokasian dan distribusinya kurang tepat sasaran. Seperti yang terjadi di dalam sektor subsidi energi, terutama subsidi BBM. Subsidi yang dikeluarkan pemerintah dengan tujuan membantu masyarakat kurang mampu untuk membeli BBM, yang menikmatinya malah orang-orang yang kaya, orang-orang yang punya mobil dan kendaraan bermotor. Abu Ubaid dalam konsep teori pertimbangan kebutuhan dalam pendistribusian kekayaan negara yang berupa zakat, dapat di terapkan dalam distribusi yang ada di Indonesia. Yaitu dengan cara identifikasi terhadap keadaan dan kemapuan ekonomi masyarakat yang lebih membutuhkan kepada subsidi tersebut. Dengan begitu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah benar-benar pro rakyat.

Konsep tersebut dapat dilihat dalam sekema berikut:

gambar 7: Skema Penyaluran Subsidi Pemerintah Sesuai Dengan Konsep Pertimbangan Kebutuhan Abu Ubaid Dalam Penyaluran Kekayaan Negara

sumber:

- Adiwarman Karim, 2008. Sejarah pemikiran ekonomi Islam - Kitab Al-Amwaal Abu Ubaid

(24)

18

Bab IV

Penutup

5.1. Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting mengenai permasalahan-permasalahan subsidi yang ada di Indonesia. Dalam hal ini kritikan penulis terhadap kebijakan subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dengan menyamaratakan distribusi subsidi seperti yang terjadi di dalam kasus subsidi BBM. Poin-poin tersebut adalah:

1. Pemerintah harus merubah kebijakannya dalam hal pendistribusian pendapatan negara yang berupa subsidi ke masyarakat. Karena subsidi yang diberikan kepada masyarakat selama ini tidak tepat sasaran terutama subsidi di sektor BBM. Sebab mayoritas penikmat subsidi tersebut adalah orang kaya. Sedangkan orang miskin hampir dipastikan tidak pernah merasakan subsidi tersebut.

2. Konsep Pertimbangan kebutuhan dalam distribusi zakat yang Di kemukakan oleh Abu Ubaid dapat diaplikasikan dan ditranformasikan di dalam kebijakan subsidi pemerintah Indonesia. Yaitu dengan mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dengan begitu pemerintah dapat mengetahui mana masyarakat yang mampu, masyarakat menegah dan masyarakat miskin. Sehingga penyaluran subsidi yang sejatinya diperuntukkan untuk masyarakat miskin dapat di salurkan dengan tepat.

5.2. Saran

(25)

19

Daftar Referensi

Rancangan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun 2013. www.kemenkeu.go.id

Matthew Bishop, Ekonomi, Panduan Lengkap Dari A Sampai Z. Edisi Indonesia, Pustaka Baca, Jogja. Hal. 302

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kbbi)

Abu Anas Sayyid Bin Rajab & Syaikh Abu Ishak Huwaiyni, Kitab Al-Amwaa llil Imam Al-Hafidzh Al-„Adzhim Al-Hafidzh Hujjah Abu Ubaid Al-Qasim Bin Sallam, Almujallidul Awwal. Mesir, Dar Al-Hadiy, Hal.13

Adiwarman Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Pt Raja Grafindo Persada, Jakrta, 2004.

Sarif Dan Kamri, 2009. A Theoretical Discussion Of Zakat For Income Generation And Its Fiqh Issues Shariah J ournal, Vol. 17, No. 3 (2009) 457-500

Handoko Dan Patriadi, 2005. EVALUASI KEBIJAKAN SUBSIDI NONBBM.Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Volume 9, Nomor 4 Desember 2005

Handoko Dan Susilo, 2000. Dampak Penurunan Subsidi BBM Terhadap Kinerja Sektoral Dan Regional: Pendekatan Model Keseimbangan Umum Terapan.Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia (Jebi).Volume 15, No.1, 2000

HATI-ITB (Unit Kegiatan Mahasiswa Harmoni Amal Titian Ilmu), 2012. Problematika Kenaikan Harga BBM : Analisis Regulasi, Kritik, dan Solusi Ideologi Islam. Bandung

Gusfahmi, 2009. Rekonstruksi Praktek Zakat dan Pajak Untuk Menanggulangi Kemiskinan. Zakat & Empowering Jurnal Pemikiran dan Gagasan Vol II 2009

(26)

20

Biodata Penulis

Nama : Muhammad Yazid Albustomi

TTL : Pasuruan, 27 Februari 1987

Alamat : Areng-areng Selatan, Jl. Goa Sakera blok 2. Wonorejo, Pasuruan, Jawa Timur

Pendidikan : TK Al-Islamiyah Sambisirah

SDN III Sambisirah,

Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri

Sekolah Tinggi Eonomi Islam (STEI) TAZKIA

Telepon : 087870648233 / 08988487584

Email : [email protected] / [email protected]

Prestasi :

- Juara II lomba Essay Ekonomi Islam dengan judul “Optimalisasi

Perbankan Syariah Untuk Pembiayaan Pertanian Indonesia : Memperkuat

Ketahanan Pangan Nasional” di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

- Finalis Call for Paper UNAIR Surabaya,dalam Acara NIECS 2012 - Juara II Olimpide ekonomi Islam dalam acara SELEB 5th, Jakarta 2013 - 10 Besar Best Paper DINAR (days Islamic economic revival) 2012.

Nama : Mutiara

TTL : Jakarta, 19 Maret 1993.

Alamat : Pengadegan Timur Raya No. 17 Rt 005/ Rw 02. Kel. Pengadegan, Pancoran, Jakarta selatan. 12770

Pendidikan : MI Raudhatul Azhar & MI Annasyatul Hikmiah MTs. Daarussa’adah,

MA, Al-Khairiyah

Sekolah Tinggi Eonomi Islam (STEI) TAZKIA

Telepon :089637410344

Email : [email protected] Prestasi :

- Juara 1 MHQ Tingkat Ponpes Lampung - Juara 1 Kaligrafi SMA Jakarta Selatan.

Gambar

Gambar 1.Sumber: RAPBN 2013. Kemenkeu.go.id
Gambar 2.Besar subsidi yang dikeluarkan Pemerintah sejak 2007-2013 (dalam Milyar).Sumber:data Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013)
Gambar 3: pengeluaran pemerintah pusat dan subsidi 2006-2013 (dalam trilliun rupiah)
Gambar 4 : tabel penyaluran zakat untuk delapan Asnaf
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pada hari ini Sabtu tanggal lima Bulan September tahun dua ribu lima belas bertempat di Balai Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, telah dilaksanakan

Pokja Pengadaan Barang/Jasa ULP Universitas Mataram akan melaksanakan Seleksi Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan jasa konsultansi secara

Pada hari ini Senin tanggal delapan bulan Oktober tahun dua ribu dua belas, kami Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Barang Tim 6 Unit Layanan Pengadaan

secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian, jenis, karakteristik, lingkup usaha jasa wisata; serta hubungan antara berbagai usaha jasa wisata guna

merupakan salah satu jenis ikan kakap yang banyak dicari oleh konsumen. sebagai bahan konsumsi masyarakat yaitu sebagai lauk-pauk harian

Agar paket rekomendasi teknologi yang dihasilkan memiliki kriteria spesifik, dalam arti sesuai secara bio-fisik dan sosial ekonomi petani serta dapat menjawab

2. The simple past tense materials should be completed by the pattern how to write it in both verbal and nominal sentences. The past verbs for both regular and

Pada penelitian sebelumnya mengenai hubungan obesitas dengan penurunan aktivitas fisik dan oksidasi lemak pada anak usia 2 sampai 5 tahun dengan indeks massa