DAMPAK PELATIHAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT
IT-based learning media is a tool that can facilitate the teacher in the learning process, but many teachers are still not able to use the media, the study aims to determine the extent of the impact of training in the use of IT-based learning media to motivate teachers to perform their duties. This study used quantitative descriptive method, data was collected using questionnaire, interview and observation. The samples used were all class teachers in primary schools Jombor amounting to 6 people and subject teachers of Islamic religion. Data analysis techniques in this study using a comparative descriptive analysis techniques. Acquisition of data in quantitative form, is described in a narrative form. Furthermore, the comparison of data before following teacher training in the use of IT-based learning media and after teacher training to the percentage increase. The results showed that training in the use of IT-based learning media increase motivation of teachers in teaching and improve student learning outcomes.
Keywords: training, instructional media, motivated teachers
Abstrak
Media pembelajaran berbasis IT merupakan alat yang dapat mempermudah guru dalam proses pembelajaran, namun banyak guru yang masih belum mampu menggunakan media tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak pelatihan penggunaan media pembelajaran berbasis IT terhadap motivasi guru dalam melakukan tugasnya. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kuantitatif , Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode questioner, wawancara, dan observasi. Sampel yang digunakan adalah semua guru kelas di SD Negeri Jombor yang berjumlah 6 orang dan guru mata pelajaran Agama Islam. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Perolehan data dalam bentuk kuantitatif, dideskripsikan dalam bentuk naratif. Selanjutnya dilakukan komparasi data sebelum guru mengikti pelatihan penggunaan media pembelajaran berbasis IT dan setelah guru mengikuti pelatihan untuk melihat persentase peningkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan penggunaan media pembelajaran berbasis IT meningkatkan motivasi guru dalam mengajar dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Kata Kunci: pelatihan, media pembelajaran, motivasi guru
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
workshop. Apalagi sejak diberlakukakannya Pemenegpan dan RB no 16 Tahun 2009 Tentang Penilaian Kinerja Guru serta Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 1 tahu 2013 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2011 tentang Penilian Prestasi Pegawai Negeri Sipil, maka guru harus benar-benar meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tupoksinya, bahkan ia harus mampu menjadi inspirator bagi murid-muridnya.
Untuk menjadi inspirator seorang guru hendaknya mampu memilih cara/metode dan media pembelajaran yang menarik, menyenangkan, namun sekaligus mampu menimbulkan kreatifitas siswa. Segala upaya perlu ditempuh agar materi pembelajaran dapat diterima oleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Wright (1987) dalam Suparlan ( Menjadi Guru Efektif :2005,33) menyatakan bahwa guru memiliki 2 peran utama yaitu the management role dan the instructional role yang antara lain tugas utamanya adalah 1)memiliki pengetahuan, terampil, dan profesional, 2)memiliki sikap inovatif, kreatif, dan memahami perbedaan individualitas di kalangan siswa.3)menghargai dan peduli terhadap lingkungan dan memahami perkembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan modern.
Hasil PKG SD Negeri Jombor khususnya Kompetensi 14 tentang penggunaan media berbasis IT ternyata rata-rata nilainya 0,4. Dari 6 guru kelas dan 2 guru mapel hanya ada 2 orang yang menggunakan media berbasis IT ketika mengajar, itu saja nilainya hanya 1, karena guru belum menggunakan media secara efektif. maka perlu diadakan pelatihan penggunaan IT.
Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga dengan pekembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi, yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual, dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi lainnya yang salah satu diantaranya melalui jaringan internet.Salah satu bidang yang mendapat dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyedian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004).
sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran. Apabila guru mampu menggunakan IT, maka Guru akan dapat menyertakan informasi yang tepat dan mutakhir di dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, mampu menyusun materi, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang berisi informasi yang tepat, mutakhir, dan yang membantu peserta didik untuk memahami konsep materi pembelajaran. Agar dapat melakukan kegiatan tersebut di atas maka diperlukan pelatihan yang berkelanjutan, ketekunan, dan sarana prasarana berbasis IT yang memadahi.
Permasalahan yang hendak dipecahkan dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana pelatihan pengguanaan media pembelajaran berbasis IT dapat meningkatkan motivasi guru dalam pembelajaran dan 2) Bagaimana cara penggunaan media berbasis IT dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka tujuan penelitian ini adalah 1) Agar pelatihan penggunaan media berbasis IT dapat meningkatkan motivasi guru dalam mengajar serta 2) agar penggunaan media pembelajaran berbasis IT dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. KAJIAN PUSTAKA
Model-model Pelatihan berdasar pada Proses dan Materi Latihan (Subject Matter Analysis/SMA).
Ada beberapa model latihan yang dikembangkan para ahli yang disesuaikan dengan pendekatan, strategi serta materi latihan, Model-model pelatihan tersebut sebenarnya sudah lama dikembangkan, namun sampai saat ini model-model tersebut masih tetap dipergunakan namun demikian proses dan langkah-langkahnya disesuaikan dengan perkembangan kemampuan sasaran pelatihan, masalah-masalah yang perlu dipecahkan, kebutuhan kurikulum dan metodelogi pelatihan itu sendiri. Pelatihan-pelatihan tersebut diantaranya adalah :
1. Model latihan keterampilan kerja (Skill training for the job)
Model latihan ini dikembangkan oleh Louis Genci (1966). Model ini mencakup empat langkah yang harus ditempuh dalam penyelenggaraan pelatihan. Langkah pertama, mengkaji alasan dan menetapkan program latihan. Kegiatan lainnya mencakup identifikasi kebutuhan, penentuan tujuan latihan, analisis isi latihan, dan pengorganisasian program latihan. Kedua, merancang tahapan pelaksanaan latihan. Kegiatannya mencakup penentuan pertemuan-pertemuan formal dan informal selama latihan ( training sessions ), dan pemahaman terhadap masalah-masalah pada peserta latihan. Ketiga, memilih sajian yang efektif. Kegiatannya mencakup pemilihan dan penentuan jenis-jenis sajian, pengkondisian lingkungan termasuk di dalamnya penggunaan sarana belajar dan alat bantu, dan penentuan media komunikasi. Keempat, melaksanakan dan menilai hasil latihan. Kegiatannya meliputi transformasi pengetahuan dan keterampilan dan nilai berdasarkan program latihan, serta evaluasi tentang perubahan tingkah laku peserta setelah mengikuti program latihan.
Otto dan Glaser (1970 ) dalam bukunya yang berjudul “ The Management of Training: A Handbook for Training and Development Personnel”. Model ini terdiri atas lima langkah. Pertama, menganalisis masalah latihan. Kedua, merumuskan dan mengembangkan tujuantujuan latihan. Ketiga, memilih bahan latihan, media belajar, metode dan teknik latihan. Keempat, menyusun kurikulum dan unit, mata latihan, dan topik latihan. Kelima, menilai hasil latihan.
3. Model Rancang Bangunan Latihan dan Evaluasi (Training Design and Evaluation Model)
Parker mengembangkan sebagaimana dimuat Craig dalam buku “Training and Development Handbook: A Guide to Human Resource Development”(1976: 19-2). Model ini terdiri atas tujuh tahapan kegiatan. Ketujuh tahapan kegiatan itu adalah menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan, mengembangkan tujuan-tujuan latihan, merancang kurikulum latihan, merancang dan memilih latihan, merancang pendekatan evaluasi latihan, melaksanakan program latihan, dan mengukur hasil latihan. Tahapan-tahapan tersebut merupakan kegiatan berangkai dan berurutan.
4. Model empat langkah
Crone dan Hunter (1980), dalam buku “From the Field-Tested Participatory Activities for Trainers”, memaparkan model pelaksanaan latihan yang terdiri atas empat langkah (Model empat langkah). Langkah pertama adalah mempersiapkan kelompok belajar. Ke dalam langkah ini termasuk upaya menggali harapan warga belajar terhadap program latihan, pembinaan keakraban dan kerjasama di antara mereka, pembagian sub-sub kelompok. Langkah kedua ialah mengidentifikasi kebutuhan belajar dan analisis tujuan latihan. Kegiatannya mencakup pengumpulan informasi tentang kebutuhan belajar para warga belajar dari para warga belajar, dan dari masyarakat dan lembaga terkait dengan tugas atau aktivitas warga belajar. Analisis tujuan latihan didasarkan atas kebutuhan belajar tersebut. Langkah ketiga adalah memilih dan mengembangkan metode serta bahan belajar. Kegiatan ini mencakup analisis model tingkah laku yang sedang dan akan ditampilkan oleh warga belajar, menentukan bahan belajar dan tahapan pembelajaran, serta memilih teknikteknik pembelajaran. Langkah Keempat yaitu menilai pelaksanaan dan hasil latihan. Termasuk ke dalam kegiatan ini adalah menentukan strategi evaluasi terhadap proses dan perolehan latihan. Langkah-langkah tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
5. Model Tujuh Langkah (The Seven-step Model)
pendekatan evaluasi latihan. Keenam, melaksanakan program latihan. Ketujuh, melakukan pengukuran hasil latihan. Langkah-langkah hendaknya dilakukan secara berurutan. Namun, hasil langkah ketujuh, yaitu pengukuran hasil latihan, dapat digunakan sebagai masukan bagi langkah kedua, yaitu untuk mengembangkan tujuan-tujuan latihan atau langkah pertama, yaitu untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan latihan.
6. Model latihan Sembilan Langkah
Model latihan lainnya dikembangkan oleh Centre for International Education (CIE) University of Massachusetts. Urutan langkah model ini adalah sebagai berikut: (1) Mengidentifikasi kebutuhan, sumber-sumber, dan kemungkinan hambatan, (2) Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus latihan, (3) Menyusun dan mengembangkan alat penilaian awal (pre-test) dan alat penilaian akhir (post-test) peserta latihan, (4) Menyusun urutan kegiatan latihan dan mengembangkan bahan belajar, (5) Melatih para pelatih dan staf program latihan, (6) Melakukan penilaian awal terhadap peserta latihan, (7) Melaksanakan program latihan, (8) Melakukan penilaian akhir terhadap peserta latihan, (9) Melakukan penilaian program latihan dan memberikan umpan balik.
Umpan balik dari hasil evaluasi program dapat digunakan untuk kesembilan langkah tersebut di atas. Model Sembilan Langkah tersebut pernah diterapkan dalam beberapa program latihan di Indonesia.
7. Model Latihan Partisipatif (Participatory Training Model).
Model pelatihan ini sebenarnya merupakan pembaharuan (inovasi) dari model-model yang telah diuraikan terdahulu. Model pembelajaran partisipatif sebenarnya menekankan pada proses pembelajaran, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan dibangun atas dasar partisipasi aktif (keikut sertaan) peserta pelatihan dalam semua aspek kegiatan pelatihan, mulai dari kegiatan merencanakan, melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan pembelajaran dalam pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya lebih ditekankan pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta. Intensitas hubungan yang harus dibangun dalam model pelatihan ini seperti digambarkan sebagai berikut :
adalah tinggi : Peranan ini ditampilkan dalam membantu peserta dengan menyajikan informasi mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan dengan melakukan motivasi dan bimbingan kepada peserta. Intensitas kegiatan pelatih (sumber) makin lama makin menurun sehingga perannya lebih diarahkan untuk memantau dan memberikan umpan balik terhadap kegiatan pelatihan dan sebaliknya kegiatan peserta pada awal kegiatan rendah, kegiatan awal ini digunakan hanya untuk menerima bahan pelatihan, informasi, petunjuk, bahan-bahan, langkahlangkah kegiatan dll. Kemudian partisipasi warga makin lama makin menaik tinggi dan aktif membangun suasana pelatihan yang lebih bermakna.
Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media ialah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Menurut Sanjaya (2006) menyatakan bahwa media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, akan tetapi meliputi seseorang sebagai sumber belajar yang dikondisikan untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap seseorang serta menambah ketrampilan.
Menurut pendapat dari Sardiman (2007) media adalah komponen komunikasi yang berfungsi sebagai perantara/pembawa pesan dari pengirim ke penerima. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat menarik perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Hal ini juga didukung oleh pendapat Uno (2008) menyatakan bahwa media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber (guru) ke peserta didik (siswa) yang bertujuan menarik mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Media selain digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran dan dapat dimanfaatkan untuk memberikan penguatan maupun memotivasi di dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Arsyad (2011) media merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan isi suatu materi pelajaran yang disampaikan oleh guru yang berguna untuk memotivasi belajar siswa. Dari beberapa definisi tentang media pembelajaran diatas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan segala komponen dalam lingkungan belajar siswa yang dipergunakan oleh pengajar agar pembelajaran berlangsung lebih efektif. Sehingga pesan atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman dan sebagainya pada saat proses penyampaian informasi dari guru ke peserta didik dapat berjalan lancar.
atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, ide, pengalaman dan sebagainya pada saat proses penyampaian informasi dari guru ke peserta didik dapat berjalan lancar.
Jenis–Jenis Media Pembelajaran
Jenis teknologi yang digunakan dalam pengajaran terdiri dari media audiovisual (film, filmstrip, televisi, dan kaset video) dan komputer ( Hamalik : 2008) Media komputer adalah salah satu media interaktif yang memiliki peran utama untuk memproses informasi secara cermat, cepat dan dengan hasil yang akurat. Sebagai sebuah media pembelajaran komputer dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Selain itu, komputer sendiri dapat berfungsi sebagai salah satu sumber informasi, dengan demikian dapat menjadi sumber belajar bagi seorang siswa beberapa bagian utama dalam pembelajaran yang menggunakan media komputer.
Stand alone adalah pola penyajian Microsoft Office Power Point yang dirancang khusus untuk pembelajaran individual yang bersifat interaktif. Setiap siswa dapat mempelajari materi pelajaran secara individual. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga penggunaan Microsoft Office Power Point dengan pola penyajian stand alone diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa hal ini sesuai pendapat Daryanto (2006:31)
Menurut Jelita (2010) microsoft Power Point adalah suatu software yang akan membantu dalam menyusun sebuah presentasi yang efektif, professional, dan juga mudah. Media powerpoint bisa membantu sebuah gagasan menjadi lebih menarik dan jelas tujuannya jika dipresentasikan karena media powerpoint akan membantu dalam pembuatan slide, outline presentasi, presentasi elektronika, menampilkan slide yang dinamis, termasuk clipart yang menarik, yang semuanya itu mudah ditampilkan di layar monitor komputer. Power Point adalah alat bantu presentasi, biasanya digunakan untuk menjelaskan suatu hal yang dirangkum dan dikemas dalam slide Power Point. Sehingga pembaca dapat lebih mudah memahami penjelasan kita melalui visualisasi yang terangkum di dalam slide.
Power Point merupakan program untuk membantu mempresentasikan dan menampilkan presentasi dalam bentuk tulisan, gambar, grafik, objek, clipart, movie, suara, atau video yang dimainkan pada saat presentasi (Purnomo, 2010).
Kelebihan dan Kekurangan Media Power Point menurutSanaky (2009)
pembelajaran di sekolah, power point memiliki kelebihan tersendiri bagi para siswa, antara lain: (1) Praktis, dapat dipergunakan untuk semua ukuran kelas, (2) Memberikan kemungkinan tatap muka dan mengamati respons siswa, (3) Memiliki variasi teknik penyajian yang menarik dan tidak membosankan, (4) Dapat menyajikan berbagai kombinasi clipart, picture, warna, animasi dan suara sehingga membuat siswa lebih tertarik, (4) Dapat dipergunakan berulang-ulang.
Di samping adanya kelebihan, power point juga memiliki kelemahan, antar lain: (1) Pengadaannya mahal dan tidak semua sekolah dapat memiliki, (2) Tidak semua materi dapat disajikan dengan menggunakan powerpoint, (3) Membutuhkan keterampilan khusus untuk menuangkan pesan atau ide-ide yang baik pada desain program komputer microsoft powerpoint sehingga mudah dicerna oleh penerima pesan, (4) Memerlukan persiapan yang matang, bila menggunakan teknik-teknik penyajian (animasi) yang kompleks.
Walaupun demikian, power point adalah media pembelajaran yang sederhana yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran di sekolah guna meningkatkan prestasi, minat dan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti ingin membuat pelatihan partisipatif yang akan diikuti oleh para guru SD negeri Jombor 1 dengan menggunakan model pembejaran Power Point.
Lingkungan sebagai Media
Banyak potensi di suatu daerah atau di sekitar sekolah yang dapat dimanfaatkan sebagai media dan sumber pembelajaran. Lingkungan merupakan media dan sumber belajar yang dapat dipergunakan untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa di sekolah.
Manfaat Media Pembelajaran
Arsyad (2011) mengungkapkan, penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar memiliki beberapa manfaat sebagai berikut: 1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, 2) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya: (a) Objek yang terlalu besar, bisa digantikan dengan gambar atau model, (b) Objek yang kecil, dapat dibantu dengan penggunan proyektor atau gambar, (c) Kejadian atau peristiwa dimasa lalu dapat ditampilkan lagi lewat rekaman film atau video.
tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya.
Motivasi Kerja Guru
Motivasi kerja adalah dorongan dari dalam dan dari luar diri seseorang yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia mau melakukan sesuatu dengan penuh tanggung jawab (Husaini Usman dan Uno ). Demikian juga Motivasi untuk melaksanakan tugas sebagai guru utamanya adalah muncul dari dalam diri sendiri, tetapi motivasi ini bisa juga muncul karena adanya dorongan dari luar
Menurut Uno (2008) motivasi dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor internal meliputi tanggung jawab, melaksanakan tugas dengan target yang jelas, memiliki tujuan, ada umpan balik, berusaha untuk mengungguli orang lain, dan prestasi; sedangkan faktor eksternal meliputi usaha untuk memenuhi kebutuhan, memperoleh penghargaan, memperoleh insentif, serta memperoleh perhatian dari teman dan atasan. Faktor ektern ini berkaitan erat dengan kepuasan kerja.
Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk, 2002:146). Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6), motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia, yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan.
Kedudukan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja, Motivasi kerja merupakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi kerja erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang. Pada dasarnya motivasi kerja seseorang itu berbeda-beda. Ada motivasi kerjanya tinggi dan ada motivasi kerjanya rendah, bila motivasi kerjanya tinggi maka akan berpengaruh pada kinerja yang tinggi dan sebaliknya jika motivasinya rendah maka akan menyebabkan kinerja yang dimiliki seseorang tersebut rendah. Jika guru mempunyai motivasi kerja tinggi maka ia akan bekerja dengan keras, tekun, senang hati, dan dengan dedikasi tinggi sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Peneliti menentukan beberapa variabel dari objek yang diteliti, dan membuat instrumen untuk mengukurnya (Sugiyono, 2007:17).. Penelitian ini dilaksanakan di SD Jombor dari bulan Februari - Maret 2017. Subjek penelitian yang adalah seluruh guru kelas SD Negeri Jombor dan guru mata pelajaran Agama.
sesudah menggunakan media. Adapun insrumen angket yang berhubungan dengan motivasi mencakup 14 item pernyataan.. Setiap instrumen penilaian terdapat 4 kualifikasi penilaian yaitu 1, 2, 3, dan 4. Perhitungan nilai akhir menggunakan rumus N
¿skor yang diperoleh
skor maksimal x100 . Acuan penilaian didasarkan pada kriteria berikut ini: rentang
skor 91-100 termasuk dalam kategori Baik Sekali; 76-90 termasuk dalam kategori Baik; 61-75 termasuk dalam kategori Cukup; 51-60 termasuk dalam kategori Kurang; dan ≤ 50 termasuk dalam kategori Sangat Kurang. Demikian juga pengumpulan nilai sebelum guru menggunakan media dan setelah menggunakan media dibandingkan
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Perolehan data nilai motivasi guru dan nilai rata-rata siswa dalam bentuk kuantitatif, dideskripsikan dalam bentuk naratif. Selanjutnya dilakukan komparasi data pada sebelum ada pelatihan dan sesudah mengikuti pelatihan. untuk melihat ada tidaknya peningkatan motivasi guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis IT dalam PBM. Hasil komparasi skor motivasi guru dibandingkan dengan kriteria keberhasilan penelitian berikut ini: 1) persentase peningkatan motivasi guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis IT adalah sebesar 5 %; 2) persentase peningkatan rata-rata nilai siswa yang diampu guru dalam melaksanakan PBM adalah sebesar 5 %.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri Jombor Kecamatan Tuntang dengan menggunakan dua macam pembelajaran yaitu pembelajaran pengembangan dan pembelajaran konvensional. Pembelajaran pengembangan adalah pembelajaran yang menggunakan Power Point sedangkan pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang tidak menggunakan Power Point. Hasil penelitian itu adalah pembelajaran dengan menggunakan program Power Point lebih baik daripada pembelajaran tanpa menggunakan program PowerPoint baik dari gaya belajar juga dari prestasi siswa. Selain hasil penelitian tersebut Microsoft Power Point juga memiliki beberapa kunggulan yang membuatnya pantas digunakan sebagai media belajar. Beberapa kelebihan tersebut antara lain : (1) Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi, baik animasi teks maupun animasi gambar atau foto. (2) Lebih merangsang peserta didik untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan ajar yang tersaji. (3) Pesan informasi secaravisual mudah dipahami peserta didik. (4) Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan. (5) Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-uang. (6) Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD / Disket / Flashdisk), sehingga praktis untuk di bawa kemana-mana.
pembelajaran berbasis IT (pembelajaran konvensional) dan nilai siswa setelah guru menggunakan media berbasis IT pada pembelajaran (pembelajaran pengembangan). Dari hasil perhitungan melalui angket menunjukan bahwa aspek-motivasi guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis IT sangat tinggi yaitu rata – rata 84, sedangkan nilai ulangan siswa ada kenaikan sebesar 5%.
Hasil peneltian yang menunjukkan adanya peningkatan motivasi guru dalam menggunakn media pembelajaran berbasis IT dan adanya peningkatan hasil belajar siswa dpat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Komparasi Skor motivasi guru dan hasil belajar siswa
Nama
Sebelum pelatihan Setelah Pelatihan Motivasi
Guru Nilai Siswa MotivasiGuru Nilai Siswa
WK / Kls 4 78,57 70 87,36 74
M / Kls 5 62,5 64 76,79 70
ST /Kls 1 78,57 76 83,93 78
SR / Kl 6 60,71 70 80,36 72
AM / Kls 3 83,73 75 85,71 78
INN / kls 2 85,71 72 91,07 80
MT /Agama 60,71 69 76,79 72
Rerata 72,96 70,86 83,16 74,86
Selisih Rerata 10,2 4,0
Peningkatan (%) 10,2% 4%
Indikator Keberhasilan (%) 5% 5%
Berdasarkan tabel 1 di atas diperoleh dua temuan. Temuan pertama, nampak bahwa sebelum ada pelatihan, skor motivasi guru dalam penggunaan media berbasis IT bergerak antara 62-85, dengan rerata sebesar 72,96, berada pada rentang skor 61-75 termasuk dalam kategori cukup. Hal ini dikarenakan guru hanya menggunakan media yang sangat sederhana, bahkan pada RPP ada beberpa guru yang tidak menggunakan media pembelajaran. Kemudian nilai salah satu mata pelajaran yang dipilih secara acak bergerak antara 64-73 dengan rerata sebesar 70,86, berada pada rentang skor 65-76 artinya masih berada pada kategori cukup. Setelah guru mengikuti pelatihan penggunaan media berbasis IT, skor motivasi guru dalam penggunaan media berbasis IT bergerak antara 76,79-91,07, dengan rerata sebesar 83,16, berada pada rentang skor 76-90 termasuk dalam kategori baik, sedang nilai siswa berada pada rentang skor 72-80 dengan rerata 74,86, artinya berada pada kategori baik.
Maharani dan Luthpi Saepuloh (2016) bahwa penggunaan media elektronik atau media berbasis IT dapat meningkatkan prestasi siswa.
Untuk itu sebagai guru di era globalisasi ini sangat perlu menggunakan media belajar yang interaktif dan menarik, supaya : (1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka), (2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, (3) Penggunaan media
pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar dan
memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya, PENUTUP
Berdasarkan hasil Pelatihan Penggunaan media pembelajaran berbasis IT mampu 1)meningkatkan motivasi dan merubah mindside guru dari proses pembelajaran
konvensional menjadi pembelajaran yang lebih interaktif. Guru menjadi lebih sadar bahwa perkembangan teknologi mampu membantu memperingan tugasnya. 2) Penggunaan media pembelajaran membuat siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran sehingga prestasinya meningkat. Dalam hal ini peneliti memberikan saran guru hendaknya selalu menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan berusaha menciptakan suasana
pembelajaran yang kreatif ,inovatif, dan menyenangkan , sehingga siswa akan merasa senang dan termotivasi untuk belajar dan mengikuti pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA
Akhmad sudrajat. 2008 . media Pembelajaran. //www. psbpsma. org/content/blog/ blog.uny.ac.id
F Alawiyah – 2014. Kesiapan Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan
Isma Nastiti Maharani, Luthpi Saepuloh. 2016. Pelatihan Membuat Media Pembelajaran Berbasis It Bagi Guru-Guru Smp Daarul Faalah Cisaat Kabupaten Sukabumi. Jurnal Surya. (2): 113-117
Mustofa Kamil. 2013. Model-Model Pelatihan. jurnal academia.edu. UniversitasPendidikan Indonesia (UPI)
M.Ali. 2009. Perkembanagan Media Pembelajaran Interaktif. Jurnal Edukasi Elektro
Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru. 2010. Kementrian Pendidikan Nasioanal Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.www.bermutuprofesi.org..eraturanP.org
Permendikbud RI Nomor 62 Tahun 2013 Tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Dalam Rangka Penataan Dan Pemerataan Guru
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru
Peraturan Kepala BKN No. 1 Tahun 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Peerintah No.46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja pegawai Negeri Sipil
SB Sjukur. 2013. Pengaruh Model Blended Learning terhadap Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Undang Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
W Saputra, BE Purnama .2011. Pengembangan Multi Media Pembelajaran Interaktif Untuk Mata Kuliah Organisasi Komputer. Jurnal Engineering dan …,