PT SMR UTAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK. Laporan keuangan konsolidasian untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2012 dan 2011

Teks penuh

(1)

Laporan keuangan konsolidasian untuk periode

enam bulan yang berakhir pada tanggal

(2)

Halaman

I.

Laporan Posisi keuangan Konsolidasian

1 - 2

II.

Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian

3

III.

Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian

4

IV.

Laporan Arus Kas Konsolidasian

5

(3)

(Dalam Rupiah)

Catatan 2012 2011

(30 Juni) (31 Desember)

ASET

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 2c,2q,2u,4,26,27,28 9.315.968.847 154.532.966.900 Piutang usaha - pihak ketiga 2d,2q,2u,5,26,27,28 4.044.833.200 14.412.342.432 Aset keuangan lancar lainnya 2e,6,25,27,28 598.592.385 6.937.046.345 Persediaan - bersih 2f,7 11.744.649.237 2.956.344.638 Pajak dibayar di muka 13a 189.528.676 412.911.291 Biaya dibayar di muka dan uang muka 2g,8 135.452.736.689 1.446.537.431

JUMLAH ASET LANCAR 161.346.309.034 180.698.149.037

ASET TIDAK LANCAR

Aset keuangan tidak lancar lainnya 45.702.903 853.900 Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan

sebesar Rp. 56.184.337.550 dan Rp. 44.807.595.571

pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 2h,9 93.742.595.341 98.319.637.638 Biaya eksplorasi dan pengembangan tangguhan

setelah dikurangi akumulasi amortisasi sebesar Rp. 209.106.001 dan Rp. 159.897.533 pada

tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 2k,10 93.837.644.107 92.980.647.377 Aset pajak tangguhan - bersih 2r,13d 16.482.096.415 13.026.733.531

JUMLAH ASET TIDAK LANCAR 204.108.038.766 204.327.872.446

(4)

(Dalam Rupiah)

Catatan 2012 2011

(30 Juni) (31 Desember)

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang usaha - pihak ketiga 2u,11,27,28 1.302.194.509 1.982.624.860 Beban akrual 2p,2u,12,27,28 4.447.368.603 4.569.252.175

Utang pajak 2r,13b 824.406.137 979.846.331

Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun:

Utang sewa pembiayaan 2i,2u,15,27,28 11.852.476.952 11.384.461.770 Utang pembiayaan konsumen 2i,2u,14,27,28 4.131.950.079 3.868.850.138 Liabilitas keuangan jangka pendek lainnya 2u - 117.532.000

JUMLAH LIABILITAS JANGKA PENDEK 22.558.396.280 22.902.567.274

LIABILITAS JANGKA PANJANG Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi

bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun

Utang sewa pembiayaan 2i,2u,15,27,28 8.402.447.217 14.352.912.323 Utang pembiayaan konsumen 2i,2u,14,27,28 5.469.377.392 7.474.539.725 Keuntungan tangguhan atas transaksi jual

dan sewa kembali 2h,9 49.276.310 63.355.256 Liabilitas imbalan kerja karyawan 2l,16 2.551.682.245 2.551.682.245 Penyisihan untuk pengelolaan dan reklamasi

lingkungan hidup 2m,17 265.312.014 202.885.234

JUMLAH LIABILITAS JANGKA PANJANG 16.738.095.178 24.645.374.783

JUMLAH LIABILITAS 39.296.491.458 47.547.942.057

EKUITAS

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk

Modal saham - nilai nominal Rp. 100 Modal dasar - 1.500.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh

1.500.000.000 saham 18 150.000.000.000 150.000.000.000 Tambahan modal disetor - bersih 19 238.377.200.967 238.377.200.967

Defisit (33.441.910.972) (22.131.024.534)

Selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas

sepengendali 2b,2o,20 (28.990.531.159) (28.990.531.159) Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada

pemilik entitas induk 325.944.758.836 337.255.645.274

Kepentingan nonpengendali 213.097.506 222.434.152

JUMLAH EKUITAS 326.157.856.342 337.478.079.426

(5)

(Dalam Rupiah)

Catatan 2012 2011

(Enam bulan) (Enam bulan)

PENJUALAN 2p,211 20.215.965.200 14.515.681.966

BEBAN POKOK PENJUALAN 2p,22 (24.642.974.400) (19.747.510.713)

RUGI BRUTO (4.427.009.200) (5.231.828.747)

Pendapatan lainnya 377.233.061 2.221.326.775

Beban usaha

Beban penjualan 2p (157.769.842) (101.676.500) Beban umum dan administrasi 2p,23 (9.440.288.872) (7.787.452.568) Beban eksplorasi 2p - (35.311.000) Beban lainnya 2p (66.928.647) (58.241.888)

RUGI USAHA (13.714.763.499) (10.993.183.927)

Pendapatan bunga 2p 1.253.834.639 54.369.741

Beban bunga 2p (2.314.657.108) (3.971.102.796)

RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN (14.775.585.968) (14.909.916.983) MANFAAT PAJAK PENGHASILAN - BERSIH 2r,13c 3.455.362.884 3.233.061.680

RUGI PERIODE BERJALAN (11.320.223.084) (11.676.855.303)

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN - -JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF

PERIODE BERJALAN (11.320.223.084) (11.676.855.303)

Rugi/jumlah rugi komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:

Pemilik entitas induk (11.310.886.438) (11.642.029.630) Kepentingan nonpengendali (9.336.646) (34.825.673)

(11.320.223.084)

(11.676.855.303)

(6)

(Dalam Rupiah)

Modal saham

Tambahan

Defisit

Selisih nilai

Jumlah

kepentingan

Jumlah

ditempatkan

modal disetor-

transaksi

non-

ekuitas

-dan disetor

bersih

restrukturisasi

pengendali

Bersih

penuh

entitas

sepengendali

Saldo tanggal 31 Desember 2010

100.000.000.000

-

(1.290.243.205)

(28.990.531.159)

69.719.225.636

230.945.325

69.950.170.961

Setoran modal oleh kepentingan non

pengendali pada Entitas Anak

-

-

-

-

-

10.000.000

10.000.000

Total rugi komprehensif periode berjalan

-

-

(11.642.029.630)

-

(11.642.029.630)

(34.825.673)

(11.676.855.303)

Saldo tanggal 30 Juni 2011

100.000.000.000

(12.932.272.835)

(28.990.531.159)

58.077.196.006

206.119.652

58.283.315.658

Saldo tanggal 31 Desember 2011

150.000.000.000

238.377.200.967

(22.131.024.534)

(28.990.531.159)

337.255.645.274

222.434.152

337.478.079.426

Total rugi komprehensif periode berjalan

-

-

(11.310.886.438)

-

(11.310.886.438)

(9.336.646)

(11.320.223.084)

(7)

(Dalam Rupiah)

Catatan 2012 2011

(Enam bulan) (Enam bulan) ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan dari pelanggan 30.583.474.432 10.533.131.160 Pembayaran kepada pemasok (15.536.531.978) (8.920.931.863) Pembayaran beban usaha (6.630.833.098) (4.801.783.889) Pembayaran kepada karyawan (9.789.561.808) (4.759.629.173)

Penerimaan bunga 1.253.834.639 54.369.741

Penerimaan hutang (pembayaran) pajak 67.942.422 16.651.117

Pembayaran bunga (2.425.459.355) (3.971.102.796)

Penerimaan (pembayaran) lain 401.858.978 (681.994.962) Kas bersih yang digunakan untuk

aktivitas operasi (2.075.275.769) (12.531.290.665)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Perolehan aset tetap

Penjualan 2h,9 380.000.000

-Pembelian 2h,9 (7.295.219.670) (2.725.778.077)

Pembayaran uang muka pembelian batu mangan 2g,8 (134.037.500.000) -Pengeluaran biaya eksplorasi dan pengembangan

ditangguhkan 2k,10 (906.699.732) (68.695.001) Kas bersih yang digunakan untuk

aktivitas investasi (141.859.419.402) (2.794.473.078)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Penerimaan dari pihak berelasi 2e,6,25,27,28 6.096.689.448 21.904.662.826 Penerimaan utang bank - 3.800.000.000 Pembayaran utang sewa pembiayaan 2i,2u,15,27,28 (5.482.449.924) (2.677.612.956) Pembayaran utang pembiayaan konsumen 2i,2u,14,27,28 (1.896.542.406) (105.606.473) Pembayaran emisi saham - (3.291.473.091) Setoran modal pemegang saham non pengendali

pada Entitas Anak - 10.000.000 Kas bersih yang diperoleh dari (digunakan untuk) (1.282.302.882) 19.639.970.306 aktivitas pendanaan

Kenaikan (penurunan) bersih kas dan setara kas (145.216.998.053) 4.314.206.562

KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE 154.532.966.900 5.197.699.436

KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 9.315.968.847 9.511.905.998

Aktivitas yang tidak mempengaruhi kas dan setara kas

Perolehan aset tetap melalui pembiayaan konsumen 154.480.014 478.480.000 Perolehan aset tetap melalui sewa pembiayaan - 16.955.324.880

(8)

(Dalam Rupiah)

1. UMUM

a. Pendirian Perusahaan

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan

c. Entitas Anak

Entitas Anak Domisili Jenis Persentase Mulai Beroperasi usaha Kepemilikan

2012 2011

30 Juni 31 Desember Jakarta Tambang 99,91% 2010 322.105.337.561 341.011.145.094

(SMR) Indonesia

PT. Adikarsa Alam Jakarta Dagang 99,90% - 22.220.776.984 22.055.287.669 Resources (AKAR) Indonesia

PT. Transentra Nusantara Jakarta Tambang 99,94% - 16.146.770.105 16.039.832.438

(TN) Indonesia

PT. Soe Makmur Resources (SMR)

PT SMR Utama Tbk (dahulu PT Dwi Satria Jaya) (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan Akta No. 31 oleh Ny. F. Eka Sumarningsih, SH, MH, Notaris di Semarang, Indonesia pada tanggal 11 November 2003 dan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C-28091 HT.01.01.TH.2003 tanggal 21 November 2003.

Anggaran Dasar (AD) Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, diantaranya pada tanggal 10 Desember 2010 sesuai Undang-undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007, sehubungan dengan, antara lain, perubahan nama perseroan dari PT Dwi Satria Jaya menjadi PT SMR Utama, susunan pemegang saham, modal dasar, modal disetor, susunan anggota direksi dan dewan komisaris. Perubahan ini termuat dalam akta Notaris No. 98 oleh Humberg Lie, S.H, S.E., MKn., tanggal 10 Desember 2010. Perubahan terakhir tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-58940.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 17 Desember 2010.

Anggaran Dasar Perusahaan (“AD”) mengalami perubahan terakhir melalui akta notaris No. 163 tanggal 26 Oktober 2011 dari Humberg Lie, S.H., S.E., M.Kn., notaris di Jakarta, sehubungan dengan perubahan pasal 4 ayat 2 AD mengenai pengeluaran saham dalam simpanan Perusahaan melalui penawaran umum perdana saham kepada masyarakat sebanyak-banyaknya 500.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Surat Keputusan No. AHU-0089287.AH.01.09 Tahun 2011 tanggal 3 November 2011.

Berdasarkan pasal 3 AD Perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha Perusahaan adalah perdagangan, jasa, industri, pengangkutan, perbengkelan dan pembangunan. Saat ini, Perusahaan, selain menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk(holding company), tidak aktif terlibat dalam bisnis apapun.

Perusahaan berkedudukan di Wisma SMR, lantai 5, suite 501-502, Jalan Yos Sudarso Kav. 89, Sunter, Jakarta Utara, Indonesia. PT Alam Abadi Resources (“AAR”) adalah entitas induk akhir (ultimate parent) dari Perusahaan dan Entitas-entitas Anak (Catatan1.c) (selanjutnya secara bersama-sama disebut sebagai “Grup”).

Berdasarkan Surat Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“BAPEPAM- LK”) No. S-107/0/BL/2011 tanggal 30 September 2011, Pernyataan Pendaftaran Perusahaan dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham telah dinyatakan efektif. Perusahaan telah mencatatkan seluruh sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Perusahaan melakukan konsolidasi Entitas Anak di bawah ini karena mempunyai kepemilikan di atas 50% atau hak untuk mengendalikan operasi pada Entitas Anak tersebut:

Jumlah Aset Sebelum Konsolidasi

PT. Soe Makmur Resources

Pada tanggal 17 Desember 2010, Perusahaan memperoleh 99,68% kepemilikan saham di SMR melalui penerbitan 94.700.000 saham baru dengan nilai nominal sebesar Rp1.000 per saham.

Pada tanggal 22 November 2011, Perusahaan meningkatkan penyertaan sahamnya di SMR melalui penerbitan 250.000.000 saham baru dengan nilai nominal sebesar Rp1.000 per saham, sehingga penyertaan saham Perusahaan di SMR menjadi 99,91%.

Pada tanggal 30 Juni 2012, SMR memiliki wilayah eksplorasi dan eksploitasi (operasi produksi) berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (“IUP-OP”) No. 39/KEP/HK/2010 tanggal 28 Januari 2010 yang berlaku selama 20 tahun. Luas wilayah Izin Usaha Pertambangan (“WIUP”) SMR adalah sekitar 4.550 hektar yang terletak di Kecamatan Kuatnana dan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari seluruh WIUP SMR seluas 4.550 hektar tersebut, terdapat 3.749,56 hektar yang berada dalam kawasan hutan, dimana SMR telah memperoleh persetujuan prinsip atas Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (“IPPKH”) atas kawasan seluas 695,5 hektar melalui surat Menteri Kehutanan No. S.579/Menhut-VII/2011 tanggal 7 November 2011.

(9)

(Dalam Rupiah)

1. UMUM - LANJUTAN c. Entitas Anak - lanjutan

Nama lokasi Saldo awal Saldo akhir

Tahun berjalan Akumulasi produksi Blok 1 863.657 8.199 35.197 855.458 Blok 2 111.161 1.212 3.589 109.949 Blok 3 & 5 1.116.873 3.524 13.972 1.113.349 Blok 4 125.508 957 3.422 124.551 Blok 7 118.793 101 2.065 118.692 Lain-lain (masing-masing dibawah 100.000 MT) 350.672 870 4.924 349.802

Jumlah 2.686.664 14.864 63.170 2.671.800

Nama lokasi Saldo awal Saldo akhir

Tahun berjalan Akumulasi produksi Blok 1 890.655 4.811 15.802 885.843,52 Blok 2 113.538 - 616 113.538,00 Blok 3 & 5 1.127.321 1.140 7.822 1.126.181,30 Blok 4 127.973 - 563 127.973,00 Blok 7 120.757 438 827 120.319,50 Lain-lain (masing-masing dibawah 100.000 MT) 354.726 1.390 1.429 353.336,00

Jumlah 2.734.970 7.779 27.059 2.727.191

PT. Adikarsa Alam Resources (AKAR)

PT. Transentra Nusantara (TN)

Jumlah cadangan terbukti mangan milik SMR per tanggal 31 Desember 2010 berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh PT LAPI ITB sesuai laporan tanggal 4 Februari 2011 adalah 2.734.970 ton. Jumlah cadangan terbukti pada tanggal 30 Juni 2012 dan 2011 adalah sebagai berikut:

30 Juni 2012

Jumlah produksi (ton)

30 Juni 2011

Jumlah produksi (ton)

Cadangan didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh PT LAPI ITB untuk menilai cadangan dari lokasi di atas berdasarkan laporan tanggal 4 Mei 2011.

Pada tanggal 23 Desember 2010, Perusahaan dan AAR mendirikan AKAR dengan jumlah modal awal yang disetor sebesar Rp2.000.000.000.

Pada tanggal 22 November 2011, Perusahaan meningkatkan penyertaan sahamnya di AKAR melalui penerbitan 20.000 saham baru dengan nilai nominal sebesar Rp1.000.000 per saham, sehingga penyertaan saham Perusahaan di AKAR menjadi 99,90%.

Pada tanggal 28 Januari 2011, Perusahaan dan Dodi Hendra Wijaya, direktur Perusahaan, mendirikan TN dengan jumlah modal awal yang disetor sebesar Rp1.000.000.000.

Pada tanggal 22 November 2011, Perusahaan meningkatkan penyertaan sahamnya di TN melalui penerbitan 150.000 saham baru dengan nilai nominal sebesar Rp100.000 per saham, sehingga penyertaan saham Perusahaan di TN menjadi 99,94%.

(10)

(Dalam Rupiah)

1. UMUM - LANJUTAN

d. Dewan Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan

Komisaris Utama : Djajus Adisaputro

Komisaris : Dwijawanti Widiatmadja, SH Komisaris Independen : Noke Kiroyan

Direktur Utama : J. Wahyoedi Hidayat Direktur : Dodi Hendra Wijaya Direktur : Adi Wibowo Adisaputro Direktur : Djoko Purwanto

Komite Audit

Ketua : Noke Kiroyan

Anggota : Iwan Ahmad Antono

: Prapto Purnomo Sekretaris Perusahaan : Adi Wibowo Adisaputro

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

a. Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasian

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2012 dan 2011 adalah sebagai berikut:

Susunan Komite Audit dan Sekretaris Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2012 adalah sebagai berikut:

Pembentukan komite audit telah dilakukan sesuai dengan peraturan BAPEPAM-LK No. IX.1.5. Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 Grup memiliki 277 karyawan tetap .

Laporan keuangan konsolidasian telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (“SAK”), yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (”PSAK”) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (”ISAK”) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, serta Peraturan dan Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh BAPEPAM-LK. Seperti diungkapkan dalam catatan-catatan terkait di bawah ini, beberapa standar akuntansi yang telah direvisi dan diterbitkan, diterapkan efektif tanggal 1 Januari 2011 secara prospektif atau retrospektif.

Laporan keuangan konsolidasian disusun sesuai dengan PSAK No. 1 (Revisi 2009), “Penyajian Laporan Keuangan”.

PSAK No. 1 (Revisi 2009) mengatur penyajian laporan keuangan, yaitu antara lain, tujuan pelaporan, komponen laporan keuangan, penyajian secara wajar, materialitas dan agregasi, saling hapus, perbedaan antara aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang, informasi komparatif dan konsistensi penyajian, dan memperkenalkan pengungkapan baru, antara lain, sumber estimasi ketidakpastian dan pertimbangan, pengelolaan permodalan, pendapatan komprehensif lain, penyimpangan dari standar akuntansi keuangan, dan pernyataan kepatuhan.

Penerapan PSAK No. 1 (Revisi 2009) tersebut memberikan pengaruh yang signifikan bagi pengungkapan terkait dalam laporan keuangan konsolidasian.

Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian adalah selaras dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian Grup untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010, kecuali untuk penerapan beberapa PSAK yang telah direvisi efektif sejak tanggal 1 Januari 2011 seperti yang telah diungkapkan pada catatan ini.

Laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan asas akrual dengan menggunakan konsep biaya historis, kecuali seperti yang disebutkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang relevan.

Laporan arus kas konsolidasian yang disusun menggunakan metode langsung, menyajikan penerimaan dan pembayaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Efektif 1 Januari 2011, Perusahaan mengadopsi PSAK No. 2 (Revisi 2009), ”Laporan Arus Kas”, yang menggantikan PSAK No. 2 dengan judul yang sama. Penerapan PSAK No. 2 (Revisi 2009) tidak berdampak signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak adalah Rupiah, yang juga merupakan mata uang fungsional Perusahaan dan Entitas Anak.

(11)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN b. Prinsip-prinsip konsolidasi

Sejak tanggal 1 Januari 2011

a. Kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai perjanjian dengan investor lain;

b. Kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; c.

d.

- menghentikan pengakuan aset (termasuk goodwill) dan liabilitas entitas anak; - menghentikan pengakuan jumlah tercatat setiap KNP;

- menghentikan pengakuan akumulasi selisih penjabaran yang dicatat di ekuitas, bila ada; - mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima;

- mengakui setiap sisa investasi pada nilai wajarnya;

-Sebelum tanggal 1 Januari 2011

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan secara retrospektif PSAK 4 (revisi 20009), "laporan Keuangan Konsolidasian dan laporan Keuangan tersendiri", kecuali beberapa hal berikut yang diterapkan secara prospektif: (i) rugi entitas anak yang menyebabkan saldo defisit bagi kepentingan non pengendali ("KNP"); (ii) kehilangan pengendalian pada entitas anak; (iii) perubahan kepemilikan pada entitas anak yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian; (iv) hak suara potensial dalam menentukan keberadaan pengendalian; (v) konsolidasi atas entitas anak yang memiliki pembatasan jangka panjang.

PSAK 4 (revisi 2009) mengatur penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian untuk sekelompok entitas yang berada dalam pengendalian suatu entitas induk, dan akuntansi untuk investasi pada entitas anak, pengendalian bersama entitas, dan entitas asosiasi ketika laporan keuangan tersendiri disajikan sebagai informasi tambahan.

Penerapan PSAK No. 4 (Revisi 2009) tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pelaporan keuangan, termasuk pengungkapan terkait, dalam laporan keuangan konsolidasian.

Laporan keuangan konsolidasian meliputi laporan keuangan Perusahaan dan Entitas Anak seperti yang disebutkan pada Catatan 1.c, yang dimiliki oleh Perusahaan dengan kepemilikan saham lebih dari 50%.

Semua akun dan transaksi antar perusahaan yang material, termasuk keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi, jika ada, dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi Grup sebagai satu kesatuan usaha.

Entitas Anak dikonsolidasi secara penuh sejak tanggal akuisisi, yaitu tanggal Perusahaan memperoleh pengendalian, sampai dengan tanggal entitas induk kehilangan pengendalian. Pengendalian dianggap ada ketika Perusahaan memiliki secara langsung atau tidak langsung melalui Entitas Anak, lebih dari setengah kekuasaan suara suatu entitas. Pengendalian juga ada ketika entitas induk memiliki setengah atau kurang kekuasaan suara suatu entitas jika terdapat:

Kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besar direksi atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui direksi atau organ tersebut; atau

Kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat dewan direksi atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui direksi atau organ tersebut.

Rugi entitas anak yang tidak dimiliki secara penuh diatribusikan pada KNP bahkan jika hal ini mengakibatkan KNP mempunyai saldo defisit.

Jika kehilangan pengendalian atas suatu Entitas Anak, maka Perusahaan:

mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian, dan mereklasifikasi bagian induk atas komponen yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan komprehensif lainnya ke laporan laba rugi, atau mengalihkan secara langsung ke saldo laba.

KNP mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari entitas anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung pada entitas induk, yang masing-masing disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dan dalam ekuitas pada laporan posisi keuangan konsolidasian, terpisah dari bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Bagian pemilikan pemegang saham minoritas pada aset bersih dan laba atau rugi bersih dari Entitas Anak yang dikonsolidasi; sebelumnya diakui sebagai “hak minoritas”.

Kerugian yang menjadi bagian dari pemegang saham minoritas pada suatu Entitas Anak dapat melebihi bagiannya dalam modal disetor Entitas Anak tersebut. Kelebihan tersebut dan kerugian lebih lanjut yang menjadi bagian pemegang saham minoritas dibebankan kepada Perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas, kecuali pemegang saham minoritas memiliki kepentingan jangka panjang lainnya pada Entitas Anak terkait atau terdapat kewajiban yang mengikat pemegang saham minoritas untuk menutupi kerugian tersebut dan pemegang saham minoritas mampu memenuhi kewajibannya. Apabila pada periode selanjutnya Entitas Anak melaporkan laba, maka laba tersebut harus dialokasikan kepada pemegang saham mayoritas, dalam hal ini, Perusahaan, sampai seluruh bagian kerugian pemegang saham minoritas yang sebelumnya dibebankan kepada Perusahaan dapat dipulihkan.

(12)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN c. Kas dan setara kas

d. Cadangan penurunan nilai piutang

e. Transaksi-Transaksi dengan Pihak yang Berelasi

a. b. c. d. e. f. g. f. Persediaan

Penyisihan atas penurunan nilai persediaan ditetapkan untuk menurunkan nilai tercatat persediaan ke nilai realisasi netonya.

g. Biaya dibayar di muka h. Aset tetap

Tahun

Bangunan 20

Kendaraan dan alat berat 4 - 8

Prasarana 4 - 6

Peralatan dan inventaris kantor 4 - 8

Deposito berjangka dengan jangka waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal penempatan yang tidak dibatasi penggunaannya dan tidak digunakan sebagai jaminan atas utang diklasifikasikan sebagai “Setara Kas”.

Cadangan penurunan nilai piutang ditentukan berdasarkan kebijakan yang dijabarkan pada Catatan 2u.

Efektif 1 Januari 2011, Grup menerapkan PSAK No. 7 (Revisi 2010), “Pengungkapan Pihak- pihak Berelasi”, yang menggantikan PSAK No. 7 (Revisi 1994), "Pengungkapan Pihak- Pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa". PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen, dalam laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan tersendiri entitas induk, dan juga diterapkan terhadap laporan keuangan secara individual. Penerapan PSAK No. 7 (Revisi 2010) tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

langsung, atau tidak langsung yang melalui satu atau lebih perantara, suatu pihak (i) mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan Grup; (ii) memiliki kepentingan dalam Grup yang memberikan pengaruh signifikan atas Grup; atau (iii) memiliki pengendalian bersama atas Grup;

suatu pihak adalah entitas asosiasi Grup;

suatu pihak adalah ventura bersama di mana Grup sebagai venturer; suatu pihak adalah anggota dari personil manajemen kunci Grup atau induk;

suatu pihak adalah anggota keluarga dekat dari individu yang diuraikan dalam butir (a) atau (d);

suatu pihak adalah entitas yang dikendalikan, dikendalikan bersama atau dipengaruhi signifikan oleh atau di mana hak suara signifikan dimiliki oleh, langsung maupun tidak langsung, individu seperti diuraikan dalam butir (d) atau (e); atau

suatu pihak adalah suatu program imbalan pasca kerja untuk imbalan kerja dari Grup atau entitas yang terkait dengan Grup. Transaksi ini dilakukan berdasarkan persyaratan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Beberapa persyaratan tersebut mungkin tidak sama dengan persyaratan yang dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak berelasi.

Seluruh transaksi dan saldo dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian.

Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara nilai perolehan atau nilai realisasi neto. Nilai perolehan ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata bergerak. Nilai realisasi neto adalah estimasi harga penjualan dalam kegiatan usaha normal setelah dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.

Biaya dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat dengan menggunakan metode garis lurus.

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai, jika ada. Biaya perolehan aset tetap meliputi: (a) harga pembelian, (b) biaya- biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisinya sekarang, dan (c) estimasi biaya pembongkaran dan pemindahan dan restorasi lokasi aset (jika ada). Setiap bagian dari aset tetap dengan biaya perolehan yang signifikan terhadap total biaya perolehan aset, didepresiasi secara terpisah.

Pada saat pemeliharaan dan perbaikan yang signifikan dilakukan, biaya tersebut diakui ke dalam nilai tercatat (“carrying amount”) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dibebankan langsung pada operasi berjalan.

Penyusutan aset tetap kepemilikan langsung dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat aset sebagai berikut:

(13)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN h. Aset tetap - lanjutan

i. Sewa

Grup sebagai lessee

-Grup sebagai lessor

-Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat yang sama dari aset kepemilikan langsung.

Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aset tetap dalam laporan posisi keuangan konsolidasian. Akumulasi biaya perolehan untuk aset dalam penyelesaian akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat aset tersebut selesai dikerjakan dan siap digunakan sesuai dengan tujuannya.

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.

Pada setiap akhir tahun buku, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan aset tetap ditelaah, dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

Setelah pengakuan awal, aset tetap akan dievaluasi untuk penurunan nilai.

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), "Sewa", penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Menurut PSAK ini, sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.

Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substantial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), dalam sewa pembiayaan, Grup sebagailessee mengakui aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian pada awal masa sewa, sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan biaya keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas sewa. Beban keuangan dialokasikan pada setiap periode selama masa sewa, sehingga menghasilkan tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Beban keuangan dicatat dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian. Rental kontinjen, jika ada, dibebankan pada periode terjadinya. Aset sewaan (disajikan sebagai bagian “Aset Tetap”) disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan dan periode masa sewa, jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa Grup akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa.

Dalam sewa operasi, lessee mengakui pembayaran sewa sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa.

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), dalam sewa pembiayaan, Grup mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di laporan posisi keuangan konsolidasian sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto. Penerimaan piutang sewa diperlakukan sebagai pembayaran pokok dan pendapatan pembiayaan. Pengakuan pendapatan pembiayaan didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih sebagai lessor dalam sewa pembiayaan.

Dalam sewa operasi, Grup mengakui aset untuk sewa operasi di laporan posisi keuangan konsolidasian sesuai sifat aset tersebut. Biaya langsung awal sehubungan proses negosiasi sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui sebagai beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Rental kontinjen, jika ada, diakui sebagai pendapatan pada periode terjadinya. Pendapatan sewa operasi diakui sebagai pendapatan atas dasar garis lurus selama masa sewa.

Laba atau rugi yang terjadi dari suatu transaksi jual dan sewa kembali (sale-and-leaseback) yang merupakan sewa pembiayaan, ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa.

Laba atau rugi yang terjadi dari suatu transaksi jual dan sewa kembali(sale-and-leaseback)yang merupakan sewa operasi dan harga jual sama dengan nilai wajar, harus diakui segera dalam laba rugi. Tetapi, jika harga jual di bawah nilai wajar, maka laba atau rugi harus diakui segera, kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa di masa depan yang lebih rendah dari harga pasar, maka rugi tersebut harus ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Jika harga jual di atas nilai wajar, selisih lebih dari nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset.

(14)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN j. Penurunan nilai aset non keuangan

k. Biaya eksplorasi dan pengembangan ditangguhkan

l. Liabilitas imbalan kerja karyawan

m. Provisi

Efektif 1 Januari 2011, Grup menerapkan secara prospektif PSAK No. 48 (Revisi 2009), “Penurunan Nilai Aset”. Penerapan PSAK No. 48 (Revisi 2009) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

PSAK No. 48 (Revisi 2009) menetapkan prosedur-prosedur yang diterapkan entitas agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya. Suatu aset dicatat melebihi jumlah terpulihkannya jika nilai tercatatnya melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset mengalami penurunan nilai dan PSAK yang direvisi ini mensyaratkan entitas mengakui rugi penurunan nilai. PSAK yang direvisi ini juga menentukan kapan entitas membalik suatu rugi penurunan nilai dan pengungkapan yang diperlukan.

Pada setiap akhir periode pelaporan, Grup menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka jumlah terpulihkan diestimasi untuk aset individual. Jika tidak mungkin untuk mengestimasi jumlah terpulihkan aset individual, maka Grup menentukan nilai terpulihkan dari unit penghasil kas yang mana aset tercakup.

Biaya eksplorasi diakumulasi untuk setiaparea of interest dan ditangguhkan sebagai aset apabila biaya-biaya tersebut diharapkan akan dapat diperoleh kembali melalui eksploitasi atau penjualan, atau apabila kegiatan tersebut belum mencapai tahap yang memungkinkan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut akan dapat menghasilkan cadangan yang secara ekonomis dapat diperoleh, serta kegiatan yang aktif dan signifikan, dalam area of interest terkait masih berlangsung.

Setiap area of interest ditelaah pada setiap akhir periode akuntansi dan apabila diperlukan, penyesuaian dibuat untuk menghapuskan biaya eksplorasi ditangguhkan sepanjang nilainya tidak dapat dipulihkan kembali di masa mendatang.

Biaya pengembangan, sehubungan dengan biaya-biaya untuk mengembangkan area of interest sebelum dimulainya kegiatan operasi dalam area of interest yang bersangkutan, dikapitalisasi dan diamortisasi selama masa produksi yang diharapkan atau berdasarkan estimasi umur tambang atau periode izin usaha pertambangan, yang mana yang lebih pendek. Biaya yang tidak diamortisasi, dihapuskan pada saat SMR menentukan bahwa tidak ada lagi nilai yang dapat diharapkan dariarea of interest yang bersangkutan di masa mendatang.

Biaya eksplorasi dan pengembangan ditangguhkan diamortisasi dengan menggunakan metode unit produksi sejak tanggal dimulainya produksi komersial dari setiap area of interest yang bersangkutan.

Grup mengakui liabilitas imbalan kerja karyawan yang tidak didanai berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003 tanggal 25 Maret 2003 (“UU No. 13”) dan PSAK No. 24 (Revisi 2004), ”Imbalan Kerja”.

Berdasarkan PSAK No. 24 (Revisi 2004), biaya imbalan kerja dihitung berdasarkan UU No. 13 dengan menggunakan metode projected-unit- credit. Keuntungan atau kerugian aktuarial diakui sebagai penghasilan atau beban apabila akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial neto yang belum diakui untuk masing-masing program pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi jumlah 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian aktuarial yang melewati 10% ini diakui selama rata-rata sisa masa kerja karyawan dengan menggunakan metode garis lurus. Selanjutnya, biaya jasa lalu yang timbul akibat pengenalan program imbalan pasti atau perubahan liabilitas imbalan kerja dari program sebelumnya harus diamortisasi sampai imbalan kerja tersebut telah menjadi hak karyawan.

Efektif 1 Januari 2011, Grup menerapkan PSAK No. 57 (Revisi 2009), "Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi". PSAK No. 57 (Revisi 2009) harus diterapkan secara prospektif dan menetapkan kriteria pengakuan dan dasar pengukuran untuk provisi, liabilitas kontinjensi dan aset kontinjensi, dan untuk memastikan bahwa informasi yang memadai diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan untuk memungkinkan pengguna dalam memahami sifat, waktu dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut. Penerapan PSAK No. 57 (Revisi 2009) tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Provisi diakui jika Grup memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) jika, sebagai akibat peristiwa masa lalu, besar kemungkinan penyelesaian liabilitas tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi dan total liabilitas tersebut dapat diestimasi secara andal.

Provisi ditelaah pada setiap tanggal pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika kemungkinan besar tidak terjadi arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi untuk menyelesaikan kewajiban tersebut, maka provisi dibatalkan.

(15)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN m. Provisi - lanjutan

n. Biaya emisi efek ekuitas

o. Transaksi restrukturisasi entitas sepengendali

p. Pengakuan pendapatan dan beban

q. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Restorasi, rehabilitasi dan pengeluaran lingkungan lainnya yang timbul selama tahap produksi dibebankan sebagai bagian dari biaya produksi.

SMR memiliki kewajiban tertentu untuk merestorasi dan merehabilitasi daerah pertambangan serta penarikan aset sesudah produksi selesai. Kewajiban tersebut diakru menggunakan metode unit produksi sepanjang umur tambang sehingga akrual tersebut akan cukup untuk memenuhi kewajiban tersebut ketika produksi dari sumber daya selesai. Perubahan dalam estimasi biaya restorasi dan lingkungan yang harus dikeluarkan dicatat secara prospektif selama sisa umur tambang.

Sesuai dengan Peraturan No. VIII.G.7 Lampiran Surat Keputusan BAPEPAM-LK No. Kep-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 mengenai “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan”, biaya yang terjadi sehubungan dengan penerbitan efek ekuitas dan hak memesan efek terlebih dahulu dikurangkan dari tambahan modal disetor yang diperoleh dari penawaran efek tersebut.

Selisih lebih antara biaya perolehan penyertaan saham dan nilai buku entitas yang diperoleh (atau sebaliknya) yang timbul dari transaksi entitas sepengendali, akuisisi dan/atau pengalihan saham antara entitas sepengendali, dicatat sesuai dengan PSAK No. 38 (Revisi 2004), "Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali". Dalam PSAK No. 38 (Revisi 2004), pengalihan aset, kewajiban, saham, dan instrumen kepemilikan lainnya dari entitas sepengendali tidak akan menghasilkan laba atau rugi bagi entitas individual dalam kelompok yang sama.

Karena transaksi restrukturisasi entitas sepengendali tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi pemilikan atas aset, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dipertukarkan, aset atau kewajiban yang dialihkan dicatat pada nilai buku sebagai kombinasi bisnis dengan menggunakan metode penyatuan kepemilikan (pooling-of-interests). Selisih antara nilai pengalihan dengan nilai buku sehubungan dengan restrukturisasi entitas sepengendali dicatat sebagai akun “Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”, dan disajikan pada laporan posisi keuangan konsolidasian.

Saldo akun “Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali” dapat berubah pada saat hilangnya status substansi sepengendalian antara entitas yang pernah bertransaksi; atau pelepasan saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang mendasari terjadinya selisih transaksi restrukturisasi entitas sepengendali ke pihak ketiga. Perubahan saldo tersebut diakui sebagai laba atau rugi pada tahun berjalan.

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Grup menerapkan PSAK No. 23 (Revisi 2010), “Pendapatan”. PSAK revisi ini mengidentifikasi kondisi terpenuhinya kriteria pengakuan pendapatan, sehingga pendapatan dapat diakui, dan mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu, serta memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria mengenai pengakuan pendapatan. Penerapan PSAK revisi ini tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi akan diperoleh oleh Grup dan jumlahnya dapat diukur secara handal. Pendapatan diukur pada nilai wajar pembayaran yang diterima, tidak termasuk diskon, rabat dan pajak pertambahan nilai.

Pendapatan dari penjualan diakui bila risiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan telah dipindahkan kepada pembeli, yang umumnya bersamaan waktunya dengan pengiriman dan penerimaan barang.

Pendapatan diterima dimuka dari pelanggan atas penjualan yang belum diselesaikan diakui dan disajikan sebagai “Pendapatan Diterima Dimuka” dalam laporan posisi keuangan konsolidasian.

Beban diakui pada saat terjadinya dengan menggunakan dasar akrual.

Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada setiap akhir periode pelaporan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan dengan rata-rata kurs jual dan beli yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tanggal terakhir transaksi perbankan untuk tahun yang bersangkutan. Laba atau rugi kurs yang timbul, dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun berjalan.

Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, nilai tukar yang digunakan untuk mengkonversi aset dan liabilitas moneter dalam mata uang selain rupiah (terutama dolar Amerika Serikat) menjadi rupiah adalah masing-masing senilai Rp9.480 dan Rp9.068 terhadap 1 dolar Amerika Serikat.

(16)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN r. Perpajakan

s. Rugi per saham

t. Informasi segmen

u. Instrumen Keuangan

Tidak terdapat dampak signifikan atas penerapan standar akuntansi yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan konsolidasian. Beban pajak tahun berjalan dihitung berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak untuk tahun yang bersangkutan. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer dari aset dan liabilitas antara pelaporan komersial dan pajak pada setiap tanggal laporan. Manfaat pajak masa mendatang, seperti rugi fiskal yang dapat dikompensasi, diakui sepanjang besar kemungkinan manfaat pajak tersebut dapat direalisasikan. Pengaruh pajak untuk suatu tahun dialokasikan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk pengaruh pajak dari transaksi yang langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan dihitung berdasarkan tarif pajak yang akan dikenakan pada tahun saat nilai aset direalisasikan atau nilai liabilitas tersebut diselesaikan, berdasarkan tarif pajak (dan undang-undang pajak) yang berlaku atau berlaku secara substantif pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian. Perubahan nilai tercatat aset dan liabilitas pajak tangguhan yang disebabkan oleh perubahan tarif pajak dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk transaksi-transaksi yang sebelumnya telah langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.

Untuk setiap perusahaan yang dikonsolidasi, pengaruh pajak atas perbedaan temporer dan akumulasi rugi pajak, yang masing-masing dapat berupa aset atau liabilitas, disajikan dalam jumlah bersih untuk masing-masing-masing-masing perusahaan tersebut.

Koreksi terhadap liabilitas perpajakan diakui pada saat surat ketetapan pajak diterima atau, jika mengajukan keberatan, pada saat keputusan atas keberatan tersebut telah ditetapkan.

Berdasarkan PSAK No. 56, “Laba per Saham”, rugi per saham dasar dihitung dengan membagi rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang ditempatkan dan disetor penuh selama periode berjalan, setelah memperhitungkan efek pemecahan saham.

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Grup menerapkan PSAK No. 5 (Revisi 2009), “Segmen Operasi”. PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan atas aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi. Penerapan PSAK yang direvisi tersebut tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Segmen adalah komponen yang dapat dibedakan dari Grup yang terlibat baik dalam menyediakan produk-produk tertentu (segmen usaha), atau dalam menyediakan produk dalam lingkungan ekonomi tertentu (segmen geografis), yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dari segmen lainnya.

Pendapatan, beban, hasil usaha, aset dan liabilitas segmen termasuk item-item yang dapat diatribusikan secara langsung kepada suatu segmen serta hal-hal yang dapat dialokasikan dengan dasar yang memadai untuk segmen tersebut. Segmen ditentukan sebelum saldo dan transaksi antar Grup dieliminasi sebagai bagian dari proses konsolidasi.

Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, Grup mengklasifikasikan pendapatan, beban, hasil usaha, aset dan liabilitasnya ke dalam satu segmen, yaitu segmen pertambangan; sehingga tidak disajikan catatan tersendiri mengenai informasi segmen.

Grup telah menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” yang menggantikan PSAK No. 50, “Akuntansi Investasi Efek Tertentu” dan PSAK No. 55 (Revisi 1999), “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai” yang efektif pada 1 Januari 2010. PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) diterapkan secara prospektif.

PSAK No. 50 (Revisi 2006) mengatur persyaratan tentang penyajian instrumen keuangan dan mengidentifikasi informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan penyajian tersebut berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, dalam aset keuangan, kewajiban keuangan, dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan, dan keadaan di mana aset keuangan dan kewajiban keuangan harus saling hapus. PSAK ini mensyaratkan pengungkapan, antara lain, informasi mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah, waktu dan tingkat kepastian arus kas masa datang yang terkait dengan instrumen keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk instrumen tersebut.

PSAK No. 55 (Revisi 2006) mengatur prinsip- prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dan kontrak pembelian dan penjualan item non keuangan. PSAK ini, antara lain, memberikan definisi dan karakteristik terhadap derivatif, kategori instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penetapan hubungan lindung nilai.

(17)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN u. Instrumen Keuangan - lanjutan

1. Aset Keuangan

Pengakuan awal

Pengukuran setelah pengakuan awal

2. Liabilitas Keuangan

Pengakuan awal

Pengukuran setelah pengakuan awal

3. Saling hapus dari instrumen keuangan

4. Nilai wajar instrumen keuangan

Aset keuangan dalam lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2006) diklasifikasikan dalam empat kategori sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo, atau aset keuangan tersedia untuk dijual. Perusahaan dan Entitas Anak menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada pengakuan awal dan, jika diperbolehkan dan sesuai, mengevaluasi kembali pengklasifikasian aset tersebut pada setiap tanggal pelaporan.

Aset keuangan pada awalnya diakui sebesar nilai wajarnya ditambah, dalam hal investasi yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung. Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan penyerahan aset dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar (perdagangan yang lazim) diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal Perusahaan dan Entitas Anak berkomitmen untuk membeli atau menjual aset tersebut.

Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, aset keuangan Grup mencakup kas dan setara kas, piutang usaha - pihak ketiga, aset keuangan lancar lainnya, dan aset keuangan tidak lancar lainnya (uang jaminan). Grup telah menetapkan bahwa seluruh aset keuangan dikategorikan sebagai pinjaman dan piutang. Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, Grup tidak mempunyai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi, aset keuangan tersedia untuk dijual dan investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo.

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode tingkat bunga efektif. Laba atau rugi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada saat pinjaman dan piutang dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, serta melalui proses amortisasi.

Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2006) diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, utang dan pinjaman atau derivatif yang telah ditetapkan untuk tujuan lindung nilai yang efektif, jika sesuai. Grup menentukan klasifikasi kewajiban keuangan pada saat pengakuan awal.

Saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar dan, dalam hal utang dan pinjaman, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, liabilitas keuangan Grup mencakup utang usaha - pihak ketiga, utang jangka pendek, liabilitas keuangan jangka pendek lainnya, pendapatan diteriam di muka, beban akrual, utang sewa pembiayaan dan utang pembiayaan konsumen. Grup telah menetapkan bahwa seluruh liabilitas keuangan dikategorikan sebagai utang dan pinjaman. Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, Grup tidak mempunyai liabilitas keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi, atau derivatif yang dibentuk sebagai instrumen lindung nilai yang efektif.

Setelah pengakuan awal, utang dan pinjaman selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian jika, dan hanya jika, entitas saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui dan terdapat maksud untuk menyelesaikan secara bersih, atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan.

Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan dengan mengacu pada kuotasi harga penawaran pasar(bid prices) yang berlaku pada penutupan pasar pada akhir periode pelaporan. Untuk instrumen keuangan yang tidak memiliki pasar aktif, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian tersebut meliputi penggunaan transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar(“arm’s-length market transactions”), referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama, analisis arus kas yang didiskonto, atau model penilaian lainnya. Keuntungan atau kerugian diakui sebagai laba rugi ketika liabilitas tersebut dihentikan pengakuannya serta melalui proses amortisasi.

(18)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN u. Instrumen Keuangan - lanjutan

4. Nilai wajar instrumen keuangan -lanjutan

Penyesuaian risiko kredit

5. Biaya Perolehan Diamortisasi dari Instrumen Keuangan

6. Penurunan Nilai dari Aset Keuangan

7. Penghentian pengakuan aset dan liabilitas keuangan

Aset keuangan

Grup menyesuaikan harga di pasar yang lebih menguntungkan untuk mencerminkan adanya perbedaan risiko kredit pihak yang bertransaksi antara instrumen yang diperdagangkan di pasar tersebut dengan instrumen yang dinilai untuk posisi aset keuangan (jika memungkinkan). Dalam penentuan nilai wajar posisi liabilitas keuangan, risiko kredit Grup terkait dengan instrumen keuangan tersebut ikut diperhitungkan.

Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi cadangan penurunan nilai dan pembayaran atau pengurangan pokok. Perhitungan ini mencakup seluruh premi atau diskonto pada saat akuisisi dan mencakup biaya transaksi serta fee yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif.

Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, Grup mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai.

Aset keuangan dicatat sebesar biaya perolehan yang diamortisasi

Untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Grup terlebih dahulu menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual.

Jika Grup menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi, total kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk ekspektasi kerugian kredit di masa mendatang yang belum terjadi). Nilai kini estimasi arus kas masa datang didiskontokan dengan menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Jika pinjaman yang diberikan memiliki suku bunga variabel, maka tingkat diskonto yang digunakan untuk mengukur setiap kerugian penurunan nilai adalah suku bunga efektif terkini.

Nilai tercatat atas aset keuangan dikurangi melalui penggunaan akun cadangan penurunan nilai dan jumlah kerugian yang terjadi diakui sebagai laba rugi. Pendapatan bunga selanjutnya diakui sebesar nilai tercatat yang diturunkan nilainya berdasarkan suku bunga efektif awal dari aset keuangan. Pinjaman yang diberikan dan piutang beserta dengan cadangan terkait dihapuskan jika tidak terdapat kemungkinan yang realistis atas pemulihan di masa mendatang dan seluruh agunan telah terealisasi atau dialihkan kepada Grup.

Jika, pada periode berikutnya, nilai estimasi kerugian penurunan nilai aset keuangan bertambah atau berkurang karena peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui, maka kerugian penurunan nilai yang diakui sebelumnya bertambah atau berkurang dengan menyesuaikan akun cadangan penurunan nilai. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi yang seharusnya jika penurunan nilai tidak diakui pada tanggal pemulihan dilakukan. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Penghentian pengakuan atas suatu aset keuangan (atau, apabila dapat diterapkan untuk bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan sejenis) terjadi bila: (1) hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; atau (2) Grup memindahkan hak untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut atau menanggung kewajiban untuk membayar arus kas yang diterima tersebut tanpa penundaan yang signifikan kepada pihak ketiga melalui suatu kesepakatan penyerahan dan salah satu diantara (a) Grup secara substansial memindahkan seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut, atau (b) Grup secara substansial tidak memindahkan dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut, namun telah memindahkan pengendalian atas aset tersebut. Apabila Grup mentransfer hak untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan atau mengadakan kesepakatan penyerahan dan tidak mentransfer maupun tidak memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan tersebut dan juga tidak mentransfer pengendalian atas aset keuangan tersebut, maka suatu aset keuangan baru diakui oleh Grup sebesar keterlibatannya yang berkelanjutan dengan aset keuangan tersebut.

(19)

(Dalam Rupiah)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI - LANJUTAN u. Instrumen Keuangan - lanjutan

7. Penghentian pengakuan aset dan liabilitas keuangan - lanjutan

Liabilitas keuangan

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas tersebut dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

v. Penerapan Standar Akuntansi Revisi Lain

i. PSAK No. 8 (Revisi 2009), “Peristiwa Setelah Periode Pelaporan”;

iii. PSAK No. 25 (Revisi 2009), “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”.

3. SUMBER KETIDAKPASTIAN DARI ESTIMASI

Pertimbangan

Klasifikasi aset dan liabilitas keuangan

Cadangan atas penurunan nilai piutang usaha

Kapitalisasi biaya eksplorasi dan pengembangan

Keterlibatan berkelanjutan yang berbentuk pemberian jaminan atas aset yang ditransfer diukur sebesar jumlah terendah antara nilai aset yang ditransfer dan nilai maksimal dari pembayaran yang diterima yang mungkin harus dibayar kembali oleh Grup.

Pada saat penghentian pengakuan atas aset keuangan secara keseluruhan, maka selisih antara nilai tercatat dan jumlah dari (i) pembayaran yang diterima, termasuk aset baru yang diperoleh dikurangi dengan liabilitas baru yang ditanggung; dan (ii) keuntungan atau kerugian kumulatif yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas, harus diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Ketika liabilitas keuangan yang ada digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan ketentuan yang berbeda secara substansial, atau terdapat modifikasi secara substansial atas persyaratan dari suatu liabilitas keuangan yang ada, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dicatat sebagai penghapusan liabilitas keuangan awal dan pengakuan liabilitas keuangan baru dan selisih antara nilai tercatat masing-masing liabilitas keuangan tersebut diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Selain standar akuntansi revisi yang telah disebutkan sebelumnya di atas, Grup juga telah menerapkan standar akuntansi revisi dan interpretasi efektif pada tanggal 1 Januari 2011, yang dianggap relevan terhadap laporan keuangan konsolidasian namun tidak menimbulkan pengaruh yang signifikan kecuali bagi pengungkapan terkait:

Penyusunan laporan keuangan konsolidasian Grup mengharuskan manajemen untuk membuat pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari pendapatan, beban, aset dan liabilitas, dan pengungkapan atas liabilitas kontijensi, pada akhir periode pelaporan. Ketidakpastian mengenai asumsi dan estimasi tersebut dapat mengakibatkan penyesuaian material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya.

Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi Grup yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan konsolidasian:

Grup menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset keuangan dan liabilitas keuangan dengan pertimbangan bila definisi yang ditetapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) terpenuhi. Dengan demikian, aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Grup seperti diungkapkan dalam Catatan 2u.

Grup mengevaluasi akun tertentu jika terdapat informasi bahwa pelanggan yang bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya. Dalam hal tersebut, Grup mempertimbangkan, berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas pada, jangka waktu hubungan dengan pelanggan dan status kredit dari pelanggan berdasarkan catatan kredit dari pihak ketiga dan faktor pasar yang telah diketahui, untuk mencatat provisi spesifik atas jumlah piutang pelanggan guna mengurangi jumlah piutang yang diharapkan dapat diterima oleh Grup. Provisi spesifik ini (jika ada) dievaluasi kembali dan disesuaikan jika tambahan informasi yang diterima mempengaruhi jumlah penyisihan untuk piutang.

Seperti diungkapkan dalam Catatan 2k, kebijakan akuntansi Grup untuk biaya eksplorasi dan pengembangan menimbulkan adanya sejumlah biaya yang dikapitalisasi untuk suatuarea of interest yang dipertimbangkan dapat terpulihkan oleh kegiatan eksploitasi di masa depan atau penjualan. Kebijakan ini mengharuskan manajemen untuk membuat pertimbangan berdasarkan asumsi tertentu untuk peristiwa dan keadaan di masa depan, khususnya tentang apakah operasi ekstraksi yang ekonomis dapat dilaksanakan. Pertimbangan tersebut dapat berubah seiring tersedianya informasi baru. Jika setelah dilakukan kapitalisasi biaya berdasarkan kebijakan, tidak tampak adanya kemungkinan pemulihan biaya, biaya yang dikapitalisasi tersebut akan dibebankan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

(20)

(Dalam Rupiah)

3. SUMBER KETIDAKPASTIAN DARI ESTIMASI - LANJUTAN

Sewa

Estimasi dan Asumsi

Nilai wajar dari instrumen keuangan

Penyisihan atas penurunan nilai persediaan

Penyusutan aset tetap

Penentuan estimasi cadangan mangan

-Grup memiliki berbagai perjanjian sewa, baik sebagai lessee ataupun lessor, atas kendaraan, alat berat dan bangunan tertentu. Grup mengevaluasi apakah risiko dan manfaat signifikan dari kepemilikan aset sewaan atau aset yang diperoleh melalui sewa akan dialihkan kepada atau diperoleh oleh Grup sesuai dengan PSAK No. 30 (Revisi 2007), “Sewa”, yang mengharuskan Grup untuk membuat pertimbangan dan estimasi atas pengalihan risiko dan manfaat dari kepemilikan aset sewaan atau aset yang diperoleh melalui sewa. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 2i.

Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun berikutnya diungkapkan di bawah ini. Grup mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan konsolidasian disusun. Asumsi dan situasi mengenai perkembangan masa depan mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi di luar kendali Grup. Perubahan tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat terjadinya.

Ketika nilai wajar dari aset keuangan dan liabilitas keuangan dicatat dalam laporan posisi keuangan konsolidasian tidak dapat diambil dari pasar yang aktif, maka nilai wajarnya ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian termasuk model discounted cash flow. Masukan untuk model tersebut dapat diambil dari pasar yang dapat diobservasi, tetapi apabila hal ini tidak dimungkinkan, sebuah tingkat pertimbangan disyaratkan dalam menetapkan nilai wajar. Pertimbangan tersebut mencakup penggunaan masukan seperti risiko likuiditas, risiko kredit dan volatilitas. Perubahan dalam asumsi mengenai faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi nilai wajar dari instrumen keuangan yang dilaporkan. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 2u.

Penyisihan atas penurunan nilai persediaan diestimasi berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas kepada, kondisi fisik persediaan yang dimiliki, harga jual pasar, estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang akan timbul untuk penjualan. Provisi dievaluasi kembali dan disesuaikan jika terdapat tambahan informasi yang mempengaruhi jumlah yang telah diestimasi. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 2f dan 7.

Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomisnya. Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 4 sampai 20 tahun. Ini adalah umur yang secara umum diharapkan dalam industri di mana Grup menjalankan bisnisnya. Perubahan tingkat pemakaian dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi masa manfaat ekonomis dan nilai sisa aset, dan karenanya biaya penyusutan masa depan mungkin direvisi. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 2h dan 9.

Cadangan merupakan estimasi jumlah mangan yang dapat diekstraksi secara ekonomis dan legal dari WIUP milik SMR. SMR menentukan dan melaporkan cadangan mangan berdasarkan prinsip- prinsip yang terkandung dalam “Standar Nasional Indonesia”. Dalam memperkirakan cadangan mangan diperlukan beberapa asumsi seperti faktor geologi, teknis dan ekonomi, termasuk jumlah, teknik produksi, rasio pengupasan tanah, biaya produksi, biaya transportasi, permintaan komoditas, harga komoditas dan nilai tukar mata uang. Dalam memperkirakan jumlah dan kadar cadangan mangan memerlukan ukuran, bentuk dan kedalaman mangan atau lahan yang ditentukan dengan menganalisa data geologis seperti sampel pengeboran. Proses ini mungkin memerlukan pertimbangan geologis yang kompleks dan sulit dalam menginterpretasikan data.

Karena asumsi-asumsi ekonomi yang digunakan untuk membuat estimasi atas jumlah cadangan mangan berubah dari waktu ke waktu dan karena data geologi tambahan yang dihasilkan selama periode operasi, maka jumlah estimasi cadangan mangan dapat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan cadangan mangan yang dilaporkan dapat mempengaruhi hasil dan posisi keuangan Grup dalam berbagai bentuk, diantaranya:

Penyusutan dan amortisasi yang dibebankan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dapat berubah jika biaya tersebut ditentukan berdasarkan basis unit produksi, atau jika terdapat perubahan masa manfaat ekonomis aset.

Penyisihan untuk pengelolaan dan reklamasi lingkungan hidup dapat berubah karena perubahan estimasi cadangan yang dapat mempengaruhi ekspektasi akan waktu atau biaya kegiatan-kegiatan tersebut.

(21)

(Dalam Rupiah)

3. SUMBER KETIDAKPASTIAN DARI ESTIMASI - LANJUTAN

Imbalan kerja karyawan

Penyisihan untuk pengelolaan dan reklamasi lingkungan hidup

Realisasi dari aset pajak tangguhan

Pajak penghasilan

4. KAS DAN SETARA KAS

Akun ini terdiri dari :

2012 2011 (30 Juni) (31 Desember) Kas

Rupiah 168.194.631 90.945.723

Bank

Dolar Amerika serikat

PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk

(US$. 82.156,70 dan US$ 72.285,86 masing-masing pada tanggal

30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011) 778.845.516 655.488.178

PT. Bank Windu Kentjana International Tbk

(US. 2.459,84 dan US$ 2.459,35 masing-masing pada tanggal

30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011) 23.319.283 22.301.386

Rupiah

PT. Bank Windu Kentjana International Tbk 3.648.006.888 18.275.851.105 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk 3.952.771.062 4.636.753.622 PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 586.361.344 763.262.526 PT. Bank Pan Indonesia Tbk 57.806.640 57.838.556 PT. Bank Central Asia Tbk 97.515.061 27.179.958

PT. Bank Mayapada 1.794.252 1.931.676

PT. Bank NTT 1.354.170 1.414.170

Jumlah dipindahkan 9.315.968.847 24.532.966.900

Penentuan beban imbalan kerja bersih dan liabilitas imbalan kerja Grup bergantung pada pemilihan asumsi yang digunakan oleh aktuaris independen dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain, tingkat diskonto, tingkat kenaikan gaji tahunan, tingkat pengunduran diri karyawan tahunan, tingkat kecacatan, umur pensiun dan tingkat kematian. Hasil aktual yang berbeda dari asumsi yang ditetapkan Grup yang memiliki pengaruh lebih dari 10% liabilitas imbalan pasti, ditangguhkan dan diamortisasi secara garis lurus selama ekspektasi rata-rata sisa masa kerja karyawan. Sementara Grup berkeyakinan bahwa asumsi tersebut adalah wajar dan sesuai, perbedaan signifikan pada hasil aktual atau perubahan signifikan dalam asumsi yang ditetapkan Grup akan dapat mempengaruhi secara material liabilitas imbalan kerja dan beban imbalan kerja bersih. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 2l dan 16.

Kebijakan akuntansi Grup untuk pengakuan nilai penyisihan untuk pengelolaan dan reklamasi lingkungan hidup membutuhkan estimasi dan asumsi yang signifikan, seperti persyaratan hukum dan regulasi yang relevan, besarnya kemungkinan lahan terganggu, serta waktu, cakupan dan biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan pengelolaan dan reklamasi lingkungan hidup. Ketidakpastian ini dapat menimbulkan perbedaan atas biaya aktual di masa mendatang dengan jumlah yang dicadangkan saat ini. Pencadangan yang diakui untuk setiap lokasi ditinjau dan diperbarui secara berkala berdasarkan pada fakta dan keadaan pada saat itu. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 17.

Aset pajak tangguhan diakui atas seluruh rugi fiskal yang belum digunakan sepanjang besar kemungkinannya bahwa penghasilan kena pajak akan tersedia sehingga rugi fiskal tersebut dapat digunakan. Estimasi signifikan oleh manajemen disyaratkan dalam menentukan jumlah aset pajak tangguhan yang dapat diakui, berdasarkan saat penggunaan dan tingkat penghasilan kena pajak dan strategi perencanaan pajak masa depan. Namun tidak terdapat kepastian bahwa Grup dapat menghasilkan penghasilan kena pajak yang cukup untuk memungkinkan penggunaan sebagian atau keseluruhan dari aset pajak tangguhan tersebut. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 2r dan 13.

Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan penyisihan atas pajak penghasilan badan. Terdapat transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirnya adalah tidak pasti dalam kegiatan usaha normal. Grup mengakui liabilitas atas pajak penghasilan badan berdasarkan estimasi apakah akan terdapat tambahan pajak penghasilan badan.

Figur

Tabel berikut menyajikan klasifikasi dan nilai tercatat, yang nilainya sama dengan estimasi nilai wajar dari instrumen keuangan Grup pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut:

Tabel berikut

menyajikan klasifikasi dan nilai tercatat, yang nilainya sama dengan estimasi nilai wajar dari instrumen keuangan Grup pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: p.33

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :