Kajian One Health: Perilaku Makan dan Preferensi Pakan Monyet Ekor
Panjang (
Macaca fascicularis
) di Hamparan Sampah Pasar Ciampea
Bogor sebagai Potensi Penyebaran Zoonosis
The Study of One Health: Feeding Behavior and Food Preference of Long-Tailed
Macaque (Macaca fascicularis) at Ciampea Market’s Garbage Plain Bogor,
as a Potential of Zoonotic Spreading
Putra ARA1*, Lelana RPA1, Darusman HS1,2,
1Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor 2Pusat Studi Satwa Primata-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Institut Pertanian Bogor
*Korespondensi: [email protected]
Abstract. Wildlife exploration to other food resources due to climate and habitat changes makes it possible
to increase human-animal conflict as well as zoonotic threats. This situation was observed with the descend of three groups of long-tailed macaque (Macaca fascicularis) from the Gunung Kapur forest to the Ciampea Market area in Bogor, especially at the garbage plain. This aim of the research was to identify the feeding
behavior and food preference during food search at the garbage plain of Ciampea Market, in conjunction with zoonotic spreading. The behavior assessment was done by using the ad-libitum technique to list the type of eating behavior, continued by all-occurrence technique for to quantify the number of each type of
feeding behavior as well as identify animal food preference. The result showed that within 15 minutes of
roaming the garbage plain, approximately 39 items of food were preferred by three groups of macaques. Almost all of the food was taken directly from the garbage floor (99%) and only a little (1%) was grabbed from other macaques. Most food was masticated calmly in the garbage area (74.3%), while 22.3% was masticated in a rush, and 3.3% was saved in their cheek pouch. Based on the original category, the food
consisted of 67% natural food, such as bananas, corn, oranges, snake fruit, and 11% was anthropogenic
food, such as noodle, fritter, cake, and 22% was unidentified food. Based on the exposure category, the
food consisted of covered (69%) food, such as bananas, corn, oranges, snake fruit, and uncovered food
(31%), such as potatoes, fritter, noodles, cassava, carrots, and cucumber. Macaque preferential food could be
driven by the palatability factor as well as the learning behavior factor. The evidence of getting food directly
from the garbage floor, masticating calmly, and consuming uncovered food and anthropogenic food could be potential sources, of zoonotic spreading. This finding should be considered as a one-health challenge.
Key words:feeding behavior, feed preference, garbage plain, Macaca fascicularis, one health
Pendahuluan
Aktivitas satwa liar mencari sumber pakan lain di luar habitat aslinya yang diduga sebagai akibat perubahan habitat (habitat change) dan iklim (climate change), dapat memicu
peningkatan konflik manusia-hewan (human-wildlife conflicts) maupun ancaman zoonosis
(Wolfe et al. 2005). Situasi ini telah diamati dengan peristiwa turunnya tiga kelompok
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari hutan Gunung Kapur Ciampea ke area Pasar Ciampea Kabupaten Bogor. Mereka menyasar hamparan sampah sebagai sumber pakan. Peristiwa ini gencar diberitakan melalui media masa dan media elektronik pada tanggal 8 September 2015. Dalam perkembangannya,
monyet ekor panjang tersebut juga mencuri
barang dagangan yang dapat dimakan, sehingga menimbulkan keresahan para pemilik kios di Pasar Ciampea Bogor. Kruse et al. (2004)
menyatakan bahwa keberadaan satwa liar di luar habitatnya menimbulkan keresahan
masyarakat. Satwa liar juga berperan sebagai
inang alami (reservoir) penyakit yang menular baik ke manusia (zoonosis) maupun ke hewan domestik. Hasil penelitian Nakayima et al. (2014) menyebutkan bahwa satwa primata yang hidup bebas memiliki peluang lebih besar menyebarkan zoonosis maupun menjadi sumber konflik manusia hewan, sehingga perlu kajian yang bersifat kesehatan semesta (one
health). One health merupakan konsep yang dikembangkan sekitar tahun 1990 dalam rangka mengatasi kesehatan secara utuh dan menyeluruh dengan menyatukan organisasi pemerintah dan
swasta yang bekerja dalam bidang kesehatan
manusia, dan hewan, konservasi satwa liar,
serta konservasi lingkungan (Zinsstag et al. 2011). Keilmuan kedokteran hewan sangat dekat dengan implementasi konsep one health,
masalah penyakit hewan yang menular ke manusia atau sebaliknya, maupun karena predisposisi kesehatan lingkungan yang buruk. Untuk mengetahui tingkat ancaman penyebaran
zoonosis maupun konflik manusia-hewan, berbagai kajian one health dapat dilakukan pada
monyet ekor panjang di Pasar Ciampea Bogor.
Salah satunya dengan mengamati perilaku makan dan preferensi pakan yang disukai ketika berada di hamparan sampah, serta besarnya kompleksitas permasalahan yang berkaitan dengan konsep one health. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat diperoleh informasi sebagai bahan pertimbangan untuk menangani
potensi konflik masyarakat.
Materi dan Metode
Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2016. Pengamatan lapang dilakukan di hamparan sampah Pasar Ciampea, Kabupaten Bogor. Pengolahan dan analisis data dilakukan di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain satu buah unit kamera digital, satu unit teropong monokuler, satu
unit jam, dan satu unit laptop. Hewan yang diamati monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang turun dari hutan Gunung Kapur ke hamparan sampah Pasar Ciampea. Melalui pengamatan awal, dapat dilihat bahwa monyet terdiri dari tiga kelompok. Untuk memudahkan pengamatan, kelompok ini diberi nama kelompok A, B, dan C berdasarkan ciri
khas pada individu masing-masing kelompok.
Kelompok A memiliki ciri khas seekor monyet betina dewasa dengan pangkal ekor besar seperti bengkak. Kelompok B memiliki ciri
khas seekor monyet jantan dengan ekor pendek,
dan kelompok C memiliki ciri khas alpha male
dengan bibir sumbing, dan rata-rata anggota kelompok sekitar 30 ekor termasuk anakannya.
Prosedur penelitian
Penelitian didahului dengan habituasi,
agar monyet ekor panjang beradaptasi terhadap
kehadiran pengamat/peneliti. Kegiatan
selanjutnya mengamati ketiga kelompok
monyet yang turun di hamparan sampah Pasar Ciampea dengan metode pengamatan ad-libitum
dan all-occurrence. Kegiatan selanjutnya mengidentifikasi jenis pakan.
Habituasi
Sebelum melakukan pengamatan perilaku, terlebih dahulu dilakukan habituasi, pembiasaan
monyet ekor panjang terhadap kehadiran pengamat
untuk mencegah perubahan perilaku, karena dampak metode penelitian yang dilakukan selama pengamatan (Engelhardt et al. 2004). Habituasi
diperlukan guna mencegah terjadinya bias saat pengamatan perilaku. Identifikasi kelompok
monyet dilakukan selama proses habituasi, untuk
mengetahui jumlah kelompok yang datang ke hamparan sampah Pasar Ciampea. Identifikasi
dilakukan berdasarkan ciri khas yang terdapat pada salah satu anggota kelompok.
Metode pengamatan ad-libitum
Pengamatan perilaku dimulai dengan menggunakan metode ad-libitum. Selama pengamatan dengan metode ad-libitum, perilaku
makan yang dilakukan monyet ekor panjang
dicatat dan dilakukan selama empat hari. Hasil akhir metode ini berupa daftar perilaku makan
yang muncul selama monyet ekor panjang berada
di hamparan sampah Pasar Ciampea. Metode pengamatan all-occurrence
Setelah dilakukan metode ad-libitum,
pengamatan dilanjutkan dengan all-occurrence. Setiap aktivitas makan yang muncul diamati kemudian dihitung frekuensi aktivitas yang muncul. Pengamatan dilakukan sebanyak 4 kali
pada masing-masing kelompok selama 15 menit.
Data yang didapatkan berupa frekuensi pada setiap aktivitas yang diamati.
Identifikasi pakan
Identifikasi pakan bertujuan untuk mengetahui
preferensi pakan yang dikonsumsi monyet ekor
panjang. Metode ini dilakukan dengan mengamati secara langsung jenis pakan yang dimakan dengan
atau tanpa bantuan teropong monokuler kemudian dicatat frekuensinya. Pengamatan dilakukan
sebanyak 4 kali pada masing-masing kelompok
selama 15 menit. Metode ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan metode all-occurrence.
Analisis data
Hasil pengamatan perilaku makan dan preferensi pakan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel. Analisis preferensi pakan dikaitkan dengan kategori alami atau buatan manusia, maupun dengan kategori kemudahan kontak dengan kontaminan. Dengan demikian tergambar potensi pakan dan perilaku pakan terhadap penyebaran zoonosis.
Hasil dan Pembahasan Perilaku makan
Hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis kemudian selanjutnya diinterpretasi (Tabel 1).
Perilaku mengambil pakan ada dua pola, yaitu mengambil langsung pakan dari hamparan sampah menggunakan kedua tangan (98,7%)
dan merebut dari monyet lainnya (1,3%).
Pengambilan pakan tersebut dilakukan dengan mendatangi dan membaui, kemudian mengunyah (mastikasi) pakan. Perilaku mastikasi ini terdiri dari tiga pola, yaitu dilakukan dengan tenang
(74,3%), tergesa-gesa (22,3%), atau menyimpan pakan dalam kantung pipi (cheek pouch) (3,3%). Sebagai pembahasan dapat dijelaskan bahwa
etiologi monyet mendatangi hamparan sampah
Pasar Ciampea Bogor, karena jumlah dan pola
ketersediaan sumber pakan di habitat aslinya berubah dan/atau berkurang akibat perubahan iklim atau perubahan habitat. Sumber pakan yang terus tersedia di hamparan sampah,
karena petugas kebersihan bekerja tidak tuntas
menyebabkan monyet secara rutin mendatangi hamparan sampah meski kedatangannya tidak berpola. Dengan demikian, keberadaan monyet di hamparan sampah selain karena mendapat alternatif sumber pakan baru yang terus tersedia,
juga karena adanya proses perilaku belajar
(learning behavior).
Umumnya pada lingkungan yang terbatas, perilaku monyet untuk mendapatkan pakan cenderung berkompetisi dan bersifat agonistik. Perilaku monyet pada hamparan sampah Pasar
Ciampea, meskipun menunjukkan perilaku
agonistik, tetapi tidak mencapai tahap agresif. Melimpahnya ketersediaan pakan di hamparan sampah menyebabkan kegiatan kompetisi mencari pakan, sehingga monyet tidak perlu melakukan tindakan agresif terhadap monyet lain untuk mendapatkan pakan demi memenuhi kebutuhan energinya. Selain itu, dengan banyaknya pakan yang tersedia di hamparan sampah, monyet dengan hierarki sosial yang
rendah tidak perlu menunggu monyet dengan hierarki yang lebih tinggi selesai makan untuk mendapatkan pakan yang diinginkan. Perilaku yang disebutkan Saputra et al. (2014), bahwa monyet bersifat agresif terhadap monyet dengan hierarki lebih rendah yang hendak mengambil
pakan terlebih dahulu jarang terjadi pada
monyet di hamparan sampah Pasar Ciampea. Perilaku mastikasi atau mengunyah umumnya dilakukan dengan tenang dan hanya
sedikit yang gesa. Perilaku
tergesa-gesa ini dicirikan dengan gerakan celingukan, pandangan gelisah, dan menghindar bila ada monyet hierarki lebih tinggi lewat atau didekati manusia. Perilaku menyimpan pakan di cheek pouch paling sedikit, dan sebagian besar dilakukan monyet juvenile atau
kanak-kanak. Tindakan menyimpan pakan pada
cheek pouch diduga karena monyet merasa terancam dan khawatir apabila pakan yang ada pada genggaman direbut monyet lain yang memiliki hierarki lebih tinggi darinya (Putra
et al. 2000). Sumber pakan yang melimpah di hamparan sampah memungkinkan monyet untuk lebih tenang dalam mengunyah pakan dan mengeksplorasi hamparan sampah dengan bebas tanpa perlu khawatir diserang monyet lainnya. Nasution (2012) menyebutkan bahwa pakan memiliki pengaruh terhadap perilaku hewan.
Hasil pengamatan tersebut hanya menjelaskan
persentase perilaku makan kelompok secara
keseluruhan, namun tidak menjelaskan secara
detail persentase perilaku makan berdasarkan hierarki kelompok. Metode all-occurrence
hanya mengamati perilaku spesifik kelompok saja, sehingga untuk dapat memperoleh data
hierarki monyet yang mendominasi perilaku
makan dengan tenang, tergesa-gesa, atau
menyimpan pakan di cheek pouch diperlukan
Aktivitas mendapatkan pakan secara langsung dan mengunyah pakan dengan tenang,
menunjukkan monyet sudah mulai terbiasa
dengan kehadiran manusia yang berada di sekitar hamparan sampah, seperti petugas sampah maupun masyarakat yang hendak
membuang sampah. Hal tersebut menunjukkan
kemampuan daya adaptasi monyet yang tinggi, sehingga dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan di luar habitatnya (Vasquez dan
Simberloff 2002). Daya adaptasi yang tinggi
tersebut perlu diperhatikan, karena semakin tinggi interaksi antara manusia dengan satwa liar, maka resiko penyebaran zoonosis atau penyakit dari manusia ke hewan atau sebaliknya
semakin besar (Wolfe et al. 2005). Peristiwa monyet yang turun untuk mendapatkan pakan di hamparan sampah, memungkinkan tingginya interaksi antara monyet dengan manusia. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa
monyet dapat menjadi host terhadap berbagai penyakit zoonosis, seperti tularemia
(Matz-Rensing et al. 2007), tuberkulosis (McMurray 2000), dan hepatitis (Dupinay et al. 2013).
Penelitian Karim et al. (2014) menunjukkan
bahwa monyet positif terinfeksi Enterocytozoon bieneusi dan berpotensi menular pada manusia.
Beberapa studi telah menjelaskan bahwa
tingginya kontak antara manusia dengan monyet dapat meningkatkan risiko penyebaran zoonosis
baik virus, bakteri, maupun parasit. Jones-Engel
et al. (2006) menyebutkan bahwa manusia yang kontak dengan monyet di Swoyambhu, Kathmandu Nepal rentan terpapar virus asal primata seperti Cercopithecine herpesvirus
Monyet mengonsumsi 39 jenis pakan yang dibagi menjadi tiga kelompok besar
berdasarkan keasliannya, yaitu pakan alami, pakan antropogenik, dan pakan yang tidak
dapat diidentifikasi. Pakan alami seperti pisang, jagung, jeruk dan salak masih menjadi pilihan
utama monyet saat mencari makan di hamparan sampah, ketimbang pakan antropogenik seperti gorengan, mi, maupun kue. Pakan yang
tidak dapat diidentifikasi, sebab keterbatasan pengamat dalam mengamati jenis pakan,
maupun monyet mengambil pakan dari plastik yang bentuk pakannya sulit untuk diamati. Jenis pakan yang dikonsumsi monyet dapat diamati
pada Tabel 3. Faktor palatabilitas dapat menjadi alasan monyet ekor panjang mengonsumsi berbagai jenis pakan di hamparan sampah Pasar
Ciampea (Wiseman dan Cole 1990).
1 (CHV-1), simian virus 40 (SV40), simian retrovirus (SRV), simian T-cell lymphotropic virus (STLV), simian immunodeficiency
virus (SIV), dan simian foamy virus (SFV). Lanedegraaf et al. (2014) menyebutkan bahwa masyarakat Padangtegal Bali berpotensi tertular parasit gastrointestinal dari monyet ekor
panjang.
Preferensi Pakan
Hasil pengamatan jumlah dan persentase jenis pakan yang dikonsumsi monyet ekor panjang di hamparan sampah berdasarkan keaslian pakan disajikan pada Tabel 2.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa
meskipun berada di tempat yang bukan merupakan habitat alaminya, monyet tetap mencari dan memilih pakan alami seperti
buah-buahan, daun-daunan, maupun umbi
(Yeager 1996, Cowlishlaw dan Dunbar 2000, Supriatna dan Wahyono 2000). Persentase di
atas menunjukkan bahwa komposisi pakan
hamparan sampah mendekati komposisi pakan di habitat alami monyet. Hal ini berbeda dengan monyet di Telaga Warna Bogor, pakan antropogenik lebih banyak dikonsumsi dibandingkan dengan pakan alami (Nugraheni
2016). Konsumsi pakan antropogenik, karena monyet mampu untuk beradaptasi dengan pakan di sekitarnya, termasuk pakan yang berada di hamparan sampah (Hadi et al.2007). Meskipun memiliki persentase rendah, keberadaan pakan antropogenik, serta akibat kemampuan adaptasi monyet yang tinggi perlu diperhatikan, karena
pakan antropogenik berpotensi menjadi media
penyebaran zoonosis. Penelitian Suld et al. (2014)
menunjukkan bahwa anjing rakun (Nyctereutes procyonoides) yang mengonsumsi pakan
antropogenik, membawa agen-agen zoonosis, seperti tungau, rabies, trichinelosis, maupun
alveolar echinococcocis. Potensi serupa dapat
terjadi pada monyet yang mengonsumsi pakan
antropogenik di hamparan sampah, sehingga
diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai
akibat mengkonsumsi pakan antropogenik yang dilakukan monyet di hamparan sampah.
Jenis pakan yang dikonsumsi berdasarkan risiko keterpaparan terhadap kontaminan yang ada di hamparan sampah dapat dilihat pada Tabel 4.
Sebanyak 69% monyet mengonsumsi
pakan tertutup seperti pisang, jagung, jeruk, dan salak, sedangkan 31% monyet mengonsumsi
pakan terbuka seperti gorengan, kentang, dan singkong. Tingginya konsumsi pakan tertutup, karena sebagian besar pakan yang banyak
dipilih monyet seperti pisang, jagung, jeruk, dan
salak, merupakan pakan yang perlu usaha lebih untuk dapat dikonsumsi, dan termasuk dalam kategori pakan tertutup yang masih menyerupai pakan alami.
Pakan terbuka berpotensi membawa agen zoonosis lebih besar dibandingkan pakan tertutup, karena pakan terbuka lebih mudah terpapar mikroorganisme infeksius. Monyet yang mengonsumsi pakan tertutup, harus membuka kulit atau kemasan pakan tersebut sebelum dikonsumsi. Kondisi pakan di hamparan sampah yang penuh dengan parasit seperti lalat, protozoa, dan cacing (Graczyk
et al. 2001), maupun mikroorganisme lainnya seperti kapang dan bakteri (Hagemeyer et al. 2013) juga dapat berpotensi menginfeksi
monyet ketika mengonsumsi pakan tersebut, ketika melakukan perawatan diri (grooming),
atau menghirup udara di sekitar sampah dan dapat menularkan agen penyakit ke masyarakat setempat.
Simpulan dan Saran
Pola perilaku monyet ekor panjang
mengambil pakan sendiri, mengunyah pakan dengan tenang, mengonsumsi pakan
antropogenik dan pakan terbuka berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis. Perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
perilaku makan dengan metode focal animal sampling untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, serta penelitian terhadap kondisi habitat
asli dan daya jelajah monyet ekor panjang, yang
turun ke hamparan sampah di Pasar Ciampea. Perlu dilakukan analisis mikroorganisme
maupun ektoparasit serta penelitian terkait dampak pakan di hamparan sampah terhadap
status kesehatan monyet ekor panjang dan
potensi risiko penularan penyakit dari monyet
ekor panjang pada masyarakat Ciampea.
Daftar Pustaka
Cowlishaw G, Dunbar R. 2000. Primate Conservation Biology. Chicago (US): Chicago University Press.
Crockett CM, Wilson CL. 1980. The ecological separation of Macaca nemestrina and Macaca fascicularis
in Sumatra. Di dalam: Lindburg DE, editor. The Macaque: Studies in ecology, behaviour and evolution. New York (US): Van Nostrand Reindhold.
Dupinay T, Gheit T, Roques P, Cova L, Chevallier-Queyron P, Tasashu S, Le Grand R, Simon F, Cordier G, Wakrim L, Benjelloun S, Trepo C, Chemin I.
2013. Discovery of naturally occurring
transmissible chronic hepatitis B virus infection among Macaca fascicularis
from Mauritius Island. Hepatology 58(5):
1610-1620.
Engelhardt A, Pfeifer JB, Heistermann M, Niemitz C, Van Hoff JARAM, Hodges JK. 2004. Assessment of female
reproductive status by male long-tailed
macaques (Macaca fascicularis), under natural conditions. Anim Behav 67(5):
Graczyk TK, Knight R, Gilman RH, Cranfield MR. 2001. The role of non-biting flies in
the epidemiology of human infectious diseases. Microbes and Infection 3: 231-235.
Hadi I, Suryobroto B, Farajallah DP. 2007. Food preference of semiprovisioned macaques based on feeding duration and foraging party size. Hayati 14: 13-17
Hagemeyer O, Bunger J, Van Kampen V, Raulf-Heimsoth M, Drath C, Merget R, Bruning T, Broding HC.
2013. Occupational allergic respiratory
diseases ingarbage workers: relevance of molds and actinomycetes. Neurobiol Respiration 788: 313-320.
Jones-Engel L, Engel GA, Heidrich J, Chalise M, Poudel N, Viscidi R, Barry PA, Allan JS, Grant R, Kyes RC. 2006. Temple monkeys and health implication of commensalism, Kathmandu, Nepal.
Emerg Infect Dis 12(6): 900-906.
Karim MR, Wang R, Dong H, Zhang L, Li J, Zhang S, Rume FI, Qi M, Jian F, Sun M, Yang G, Zou F, Ning C, Xiao L. 2014. Genetic polymorphism and zoonotic potential of Enterocytozoon bieneusi from nonhuman primates in China. Appl Environ Microbiol 1893-1898.
Kruse H, Kirkemo AM, Handeland K. 2004. Wildlife as source of zoonotic infections.
Emerg Infect Dis 10(12): 2067-2072
Lanedegraaf KE, Putra Arta IGA, Wandia IN, Rompis A, Hollocher H. 2014. Human behavior and opportunities for parasite transmission in communities surrounding
long-tailed macaque populations in Bali,
Indonesia. Am J Primatol 76: 159-167.
Matz-Rensing K, Floto A, Schrod A, Becker T, Finke EJ, Seibold E, Splettstoesser WD, Kaup FJ. 2007. Epizootic of tularemia in an outdoor housed group of cynomolgus monkeys (Macaca fascicularis). Vet Pathol 44: 327-334.
McMurray DN. 2000. A nonhuman primate model for preclinical testing of new tuberculosis vaccines. Clin Infect Dis 30: 210-212.
Nakayima J, Hayashida K, Nakao R, Ishii A, Ogawa H, Nakamura I, Moonga L, Hang’ombe BM, Mweene AS, Thomas Y, Orba Y, Sawa H. 2014. Detection and characterization of zoonotic pathogens of
free-ranging non-human primates from Zambia. Parasites & Vector 2-14 (490): 1-7.
Nasution SP. 2012. Kecernaan pakan dan
perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada kondisi aklimasi temperature dan kelembaban [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Nugraheni LS. 2016. Food Preference of Long
Tailed Macaques in Telaga Warna Bogor, West Java [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Putra Arta IGA, Fuentes A, Suaryana KG, Rompis ALT. 2000. Perilaku
Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Wenara Wana, Pedangtegal, Ubud, Bali. Di dalam:
Konservasi Satwa Primata: Tinjauan
Ekologi, Sosial Ekonomi, dan Medis dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Prosiding Seminar Primatologi Indonesia, 2000 Sept 7; Yogyakarta, Indonesia. Universitas
Gadjah Mada (UGM).
Saputra KGW, Watiniasih NL, Ginantra IK.
2014. Aktivitas harian kera ekor panjang
(Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Sangeh, Kabupaten Badung, Bali.
J. Biol 18(1): 14-18.
Suld K, Valdmann H, Laurimaa L, Soe E, Davison J, Saarma U. 2014. An invasive vector of zoonotic disease sustained by anthropogenic resources: the raccoon dog in Northern Europe. Plos one 9(5): 1-9
Supriatna J, Wahyono HE. 2000. Primata Indonesia: Panduan Lapangan. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia
Vasquez DP, Simberloff D. 2002. Ecological specialization and suspectibility to
disturbance: conjectures and refutations.
Am Nat 159: 606-623.
Wiseman J, Cole PJA. 1990. Feedstuff
Evaluation. Cambridge (UK): Cambridge University Press.
Wolfe ND, Daszak P, Kilpatrick AM, Burke DS. 2005. Bushmeat hunting, deforestation, and prediction of zoonoses emergence. Emerg Infect Dis 11(12):
1822-1827.
Yeager CP. 1996. Feeding ecology of
long-tailed macaques (Macaca fascicularis) in Kalimantan Tengah, Indonesia: Int J Primatol.17(1): 51-56.
Zinsstag J, Schelling E, Waltner-Toews D, Tanner M. 2011. From “one medicine” to “one health” and systemic approaches
to health and well-being. Prev Vet Med