LAPORAN PRAKTIKUM
KADAR LENGAS TANAH
Oleh:Golongan A/Kelompok 1 B
1. Yanuar Rizky Ramadhan (161510501005) 2. Dika Probo Pangsstu (161510501011) 3. Kizah Musdalifah (161510501012)
LABORATORIUM FISIKA DAN KONSERVASI TANAH PROGRAM STUDI AGROTEKNOLGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
1
BAB 1. PNDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan kumpulan dari benda-benda yang ada di alam tepatnya di permukaan bumi yang tersusun atas horizon-horizon, yang terdiri dari campuran mineral, bahan organik, air, udara, dan berperan sebagai media tumbuh tanaman. Pengolahan tanah pada kandungan air yang tepat dapat meningkatkan volume pori total air tanah atau dapat mendorong proses strukturisasi tanah yang lebih baik. Komponen yang sangat penting dari tanah adalah mineral, yaitu kombinasi unsur-unsur anorganik yang berupa kristal, merupakan salah satu faktor yang menentukan sifat fisik suatu tanah. Jenis mineral yang terdapat didalam tanah sangat berkaitan erat dengan tingkat kesuburan yang ada di dalam tanah. Jenis dan sifat-sifat mineral yang terdapat dalam tanah juga memiliki hubungan yang sanagt erat kaitannya dengan pertumbuhan tanaman. Jenis tanah di belahan dunia ini sangat banyak yang masing-masing tanah tersebut memiliki kadar lengas yang berbeda-beda, dimana perbedaan kandungan tersebut yang menyebabkan perbedaan tingkat kesuburannya pada tiap horizon-horizon yang ada di dalam tanah.
Kadar lengas adalah banyaknya kandungan air tanah yang terdapat didalam pori tanah dan bahan-bahan terlarut di dalamnya. Kadar lengas dapat dihitung pada keadaan tanah lapang, jenuh dan kering. Keberadaan lengas di dalam tanah tidak sama dari atas sampai ke bawah. Keragaman kandungan lengas ini menunjukkan adanya keragaman potensial tubuh tanah. Tanaman sebagian besar memerlukan air berasal dari tanah, kebutuha air tiap-tiap tanaman berbeda-beda. Kadar lengas tanah sangat penting dalam pertanian karena melalui proses pengaturan lengas tanah ini dapat dikontrol pula serapan hara dan pernapasan pada akar-akar tanaman yang selanjutnya berpengaruh pada proses pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Tanah adalah kunci utama ekosistem dimana air mengalami proses run off, infitrasi, drainase dan penyimpanan. Pross-proses yang dialami air di dalam tanah sangat kompleks, pengaruh manusia begitu besar pada proses-proses yang terjadi di dalam tanah.
2
1.2 Tujuan
Mengetahui dan memahami tentang kadar lengas tanah melalui metode kadar lengas kering angin dan kapasitas lapang serta hubungannya dengan sifat fisik tanah.
3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Tanah adalah suatu tubuh alam bebas yang dapat menumbuhkan berbagai tanaman sebagai akibat dari organisme dan iklim yang melakukan pelapukan terhadap bahan induk pada topografi tertengtu dan selama waktu tertentu. Tanah memilikin peranan yang penting dalam kehidupan, dalam setiap wilayah memiliki tanah yang berbeda sesuai dengan keadaan lingkungannya. Tanah memiliki tekstur maupun struktur yang berbeda beda. Keadaan ini mempengaruhi tingkat kesuburan tanah, untuk mengetahui keadaan tanah pada suatu wilayah maka dilakukan pengambilan contoh tanah. Tanah memiliki sifat kimia, sifat biologi dan sifat fisika. Sifat Fisika tanah adalah penerapan konsep dan hukum-hukum fisika pada kontinum tanah-tanaman-atmosfer. Sifat fisik tanah berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat fisik tanah, seperti kerapatan isi dan kekuatan tanah sudah lama dikenal sebagai parameter utama dalam menilai keberhasilan teknik pengolahan tanah (Prasetyo et al., 2014).
Kadar lengas merupakan kandungan air yang terdapat didalam pori tanah. Sebagian besar air yang diperlukan oleh tanaman berasal dari tanah, kebutuha air tiap-tiap tanaman berbeda-beda. Pemahaman terhadap kadar lengas tanah sangat penting dalam pertanian karena melalui proses pengaturan lengas ini dapat dikontrol pula serapan hara dan pernapsan akar-akar tanaman yang selanjutnya berpengaruh pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Tingkat ketersediaan kadar lengas pada suatu tanaman yang berbeda dapat mempengaruhi hasil pertumbuhan yang berbeda-beda, dengan teknik pengukuran kadar lengas tanah diklasifikasikan ke dalam dua cara, yaitu dengan metode kadar lengas kering angin, dan kadar lengas kapasitas lapang (Prasetyo et al., 2016).
Kandungan uap air sangat penting dalam pembentukan tanah, tanah dapat dikatakan terbentuk bila pada tanah tersebut ditemukan lempung, koloid organik, atau garam terlarut yang terakumulasi larut dalam air. Tingkat pergerakan koloid dan kedalaman sebagian ditentukan oleh jumlah dan pola pengendapan yang menimbulkan tindakan pelepasan. Menurunnya kadar lengas tanah dapat menurunkan hasil dan pertumbuhan tanaman (Budisantoso dkk., 2012).
4
Menurut Zotarelli et al. (2013). Tanah memiliki jumlah air yang berbeda-beda tergantung pada tekstur dan strukturnya, batas atas kapasitas menahan air sering kita sebut dengan kapasitas lapang, sedangkan batas bawahnya disebut titik layu permanen atau kering angin. Jumlah air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai gaya (matriks, osmosis, dan kapiler). Gaya ini meningkat sejalan denga peningkatan permukaan jenis zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zaarah tanah. Kadar lengas sedikit berbeda dengan kadar air. Kadar lengas tanah mencakup air dan bahan-baha yang terlarut didalamnya, sedangkan kadar air tanah mengandung pengertian air murni yang ada di dalam tanah, dalam kenyataannya, air yang ada di dalam tanah merupakan suatu larutan, bukan air murni. Menurut tekstur tanah, tanah bisa mengikat air tanah lebih banyak atau lebih sedikit (Aak, 1983).
Keberadaan lengas di dalam tubuh tanah tidak seragam dari atas ke bawah. Keragaman kandungan lengas ini menunjukkan adanya keragaman potensial tubuh tanah, adanya perbedaan energi potensial lengas dalam tubuh tanah akan menunjukkan arah gerakan lengas dalam tubuh tanah yang bergerak dari daerah energi potensial tinggi ke daerah energi potensial rendah. Tanah-tanah sawah di Indonesia sebagian besar merupakan tanah-tanah aluvial, regosol, glumosol dan latosol, sebagian lagi merupakan tanah-tanah andosol dan mediteran. Sebagian besar tanah-tanah tersebut di atas berada pada ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut (Borowik et al., 2016).
Kandungan bahan organik yang terkandung didalam tanah juga mempengaruhi kadar lengas tanah karena bahan organik mempunyai kemampuan untuk menyimpan atau menyekap air, hal ini karena setiap bahan organik memiliki ukuran berupa koloid sehingga mempunyai luas permukaan jenis lebih besar, semakin besar luas permukaan jenisnya maka kemampuannya dalam menyimpan air pun semakin besar. Konsep kerja antara lempung tanah dan bahan organik dalam hal penyimpanan air pada dasarnya hampir sama. Namun, lempung tanah mempunyai kekurangan, yakni apabila lempung tanah terdapat pada kedalaman tertentu akan mampu menghambat grafitasi dan perlokasi (proses aliran air masuk ke dalam tanah).
5
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Sains Tanah acara “Kadar Lengas Tanah” dilakukan pada hari Senin, tanggal 21 Oktober 2017 bertempat di Laboratorium FISIKA DAN KONSERVASI TANAH Universitas Jember pukul 07.00:-08:50 WIB.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
a. Alumunium Foil b. Oven
c. Timbangan analitis d. Eksikator
e. Ring sampel tanah f. Beaker glass 3.2.2 Bahan 1. Tanah lapisan 1 2. Tanah lapisan 2 3. Tanah lapisan 3 4. Tanah lapisan 4 3.3 Pelaksanaan Praktikum
1. Menimbang 10 g dan membentuk seperti amplop alumunium foil a(g) 2. Memasukkan tanah ke alumunium dan ditimbang b(g)
3. Melakukan oven selama 24 jam
6
3.4 Analisis Data
Analisi data dalam penelitian praktikum kali ini adalah menggunakan analisis statistik deskriptif untuk mengetahui kadar lengas tanah
7
BAB. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil Pengamatan Kadar Lengas Tanah
Kelompok Perlakuan Berat (gr) Kadar Lengas (%) A b c 1 Lapisan 4 1,36 14,17 11,42 33,3 % 2 Lapisan 3 1,11 14,70 9,56 60,8 % 3 Lapisan 1 1,05 11,05 10,26 8,6 % 4 Lapisan 2 1,41 11,45 10,52 10,20 % Perhitungan : Kelompok 1 Kelompok 3 % Kl = x 100% % Kl = x 100% = x 100% = x 100% = 33,3% = 8,6% Kelompok 2 Kelompok 4 % KL = x 100 % % Kl = x 100% = x 100% = x 100% = 0,608 x 100% = 10,20% = 60,8%
Data tabel diatas merupakan data hasil pengamatan kadar lengas tanah. Hasil pengamatan tersebut diperoleh kadar lengas tanah pada tiap horizon atau lapisan pada tanah memiliki hasil yang berbeda-beda. Kelompok 1 pada kegiatan praktikum kali ini mengamati lapisan tanah ke 4. Lapisan tanah ke-4 merupakan lapisan terbawah pada profil yang dibuat. Lapisan 4 diketahui memiliki kadar lengas tanah 33,3%. Lapisan 3 merupakan lapisan yang diamati oleh kelompok 2. Lapisan yang diamati tersebut diketahui memiliki kadar lengas tanah 60,8%.
8
Lapisan 1 yang diamati oelh kelompok 3 memiliki kadar lengas yang kecil dari pada kadar lengas yang dimiliki oleh kelompok 1 dan 2. Kadar lengas yang diketahui pada lapisan 1 oleh kelompok 3 yaitu sebesar 8,6%. Kelompok 4 mengamati lapisan 2yang mana diketahui memiliki kadar lengas sebesar 10,20%. Data diatas merupakan data murni yang di dapat dari hasil pengamatan. Data tersebut juga memiliki perhitungan tersendiri untuk dapat mengetahui kadar lengas yang dimiliki oleh setiap lapisan tanah.
4.2 Pembahasan
Praktikum acara kali ini yakni mengetahui dan memahami kadar lengas pada suatu tanah dengan melakukan metode pengujian metode kadar lengas kering angin. Sampel tanah yang digunakan pada acara kadar lengas ini yakni sampel tanah terusik yang diambil dengan sebelumnya melakukan penggalian tanah pada ke dalaman tertentu yakni pada kurang lebih 1m dimana sudah terlihat adanyabatuan yang terdapat pada bawah tanah yang menandakan sudah pas atau berhentinya penggalian tanah. Menggolongkan lapisan tanah dengan digaris pada setiap lapisan menggunakan pisau. Penggolongan tersebut untuk membedakan setiap lapisan tanah agar memudahkan kita untuk mendapatkan sampel tanah sesuai lapisan. Pengambilan sampel tanah tersebut yakni dengan melakukan penyayatan tanah dengan mengambil gumpalan-gumpalan pada tanah menggunakan pisau tanah yang dibawahnya diletakkan wadah atau kertas agar sampel tanah yang diambil tidak jatuh. Sampel tanah yang diperoleh lalu diletakkan dalam plastik dan diberi label.
Hasil tersebut nantinya diangin-anginkan pada kondisi tanpa penyinaran matahari. Tanah yang kering angin tersebut lalu ditumbuk hingga halus, penumbukkan ini membutuhkan waktu yang singkat pada lapisan 1, 2, dan 3 yang membutuhkan waktu yang lebih singkat jika dibandingkan dengan penumbukan yang cukup lama terlebih lagi pada lapisan tanah 4 yang cenderung susah dikarenakan banyaknya tanah yang mengeras serta terdapat pula kerikil-kerikil yang tercampur pada sampel yang diambil sehingga penumbukkan pada lapisan ini membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra. Tanah yang ditumbuk tersebut
9
akan dilakukan proses saring hingga mendapat tekstur tanah yang halus dan proses tersebut dilakukan berulang-ulang ditumbuk lalu disaring hingga dirasa sampel tanah telah mencapai 100 gram.
Sampel tanah tersebut selanjutnya akan diuji dan dihitung kadar lengasnya di lab. Penghitungan tersebut diawali dengan melakukan beberapa tahapan untuk mendapatkan a(g), b(g) dan c(g). Mendapatkan a(g) kita menentukan atau menghitung berat dengan timbangan analitis dari botol timbang ,karena tidak adanya botol timbang maka pada perhitungan kali ini diganti dengan alumunium foil yang dibentuk menyerupai amplop dan dilabeli. Tanah sampel (kering angin) dimasukkan kedalam alumunium tadi lalu dilakukan proses penimbangan untuk nantinya mendapatkan b(g), setelahnya di oven selama 24 jam. Proses oven yang telah dilakukan selama 24 jam di hari berikutnya tanah tersebut diambil lalu di eksikator selama 50 menit setelahnya lalu ditimbang menjadi c(g). Data setiap step telah diperoleh dari a(g), b(g), dan c(g) maka dilakukanlah perumusan:Kadar Lengas = [b – c] / [c - a] x 100 %. Maka didapat pada tanah kelompok 1 yakni pada lapisan 4 ,a(g) 1,36, b(g) 14,17, dan c(g) 11,42 sehingga setelah dilakukan proses perumusan didapat hasil kadar lengas tanah 33,3 %. Kelompok 2 lapisan 3 memiliki nilai kadar lengas 60,8 % dengan masing-masing a(g) 1,11, b(g) 14,70 dan c(g) 9,56 sehingga terlihat perbedaan yang terlihat sangat tinggi keduanya apabila dibandingkan dengan kadar lengas kelompok lain yang 8,6 % pada kelompok 3 dan 10,20 % didapat kelompok 4. Perbedaan kadar lengas tanah yang diperoleh dari perhitungan setiap kelompok terkesan memiliki perbedaan yang sangat jauh ini dikarenakan adanya perbedaan berat sampel tanah yang digunakan oleh beberapa kelompok atau b(g) sehingga akan mendapatkan hasil dari lengas tanah yang berbeda. Pengaturan yang baik terhadap tanah dengan mengatur tingkat kadar lengkasnya jadi supaya tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah mengakibatkan kepuasan yang dihasilkan apabila dilakukan pembudidayaan pada tanah tersebut (Suwarto,2003).
10
BAB. 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Jumlah sampel tanah yang berbeda mengakibatkan perbedaan pada presentase kadar lengas yang didapat sehingga jarak presentasenya sangat jauh.
5.2 Saran
Kami sebelumnya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada asisten laboratorium yang telah mempersiapkan sebaik mungkin pada acara praktikum
DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yokyakarta: Kanisius.
Borowik A, dan J. Wyszkowska. 2016. Soil moisture as a factor affecting the microbiological and biochemical activity of soil. Plant Soil Environ. 62(6): 250-255.
Budisantoso I., dan E. Proklamasiningsih. 2012. Studi Berbagai Lengas Tanah dan Teknologi Sonic Bloom dalam Upaya Meningkatkan Pertumbuhan Serta Hasil Tanaman Kedelai. Pembanguanan Pedesaan. 3(2): 91-99.
Prasetyo A., E. Listyorini, dan W.H. Utomo. 2014. Hubungan Sifat Fisik Tanah, Perakaran dan Hasil Ubi Kayu Tahun Kedua Pada Alfisol Jatikerto Akibat Pemberian Pupuk Organik dan Anorganik. Tanah dan Sumberdaya Lahan. 1(1): 27-37.
Prasetyo A., E. Firmansyah, dan L. Sutiarso. 2016. Perancangan dan Pengujian Unjuk Kerja Sistem Monitoring Kadar Lengas Berbasis Gypsum Block untuk Memantau Dinamika Tanah Polietilen, Polistiren dan Other. Teknologi Technoscientia.8 (2): 100-106.
Suwarto.2003. Pengaruh Kadar Lengas Tanah Terhadap Serapan K dan Ketersediannya di Tanah Vertisol.3(1):24-28.
Zotarelli L., R. Scientist., M.D. Dukes., A. Professor., T.P. Barreto, and V. Scholar. 2013. Interpretation of Soil Moisture Content to Determine Soil Field Capacity and Avoid Over Irrigation in Sandy Soils Using Soil Moisture Measurements. Agricultural and Biological Engineering Department. 2(1): 195-234
LAMPIRAN
Flowchart & Tabel Pengamatan ~ Yanuar Rizky Ramadhan (161510501005)
Flowchart & Tabel Pengamatan Amiril Muchtar D.P (161510501016)
Flowchart
15
LAMPIRAN JURNAL
Prasetyo A., E. Listyorini, dan W.H. Utomo. 2014. Hubungan Sifat Fisik Tanah, Perakaran dan Hasil Ubi Kayu Tahun Kedua Pada Alfisol Jatikerto Akibat Pemberian Pupuk Organik dan Anorganik. Tanah dan Sumberdaya Lahan. 1(1): 27-37.
16
Prasetyo A., E. Firmansyah, dan L. Sutiarso. 2016. Perancangan dan Pengujian Unjuk Kerja Sistem Monitoring Kadar Lengas Berbasis Gypsum Block untuk Memantau Dinamika Tanah Polietilen, Polistiren dan Other. Teknologi Technoscientia.8 (2): 100-106.
17
18
Zotarelli L., R. Scientist., M.D. Dukes., A. Professor., T.P. Barreto, and V. Scholar. 2013. Interpretation of Soil Moisture Content to Determine Soil Field Capacity and Avoid Over Irrigation in Sandy Soils Using Soil Moisture Measurements. Agricultural and Biological Engineering Department. 2(1): 195-234.
19
Borowik A, dan J. Wyszkowska. 2016. Soil moisture as a factor affecting the microbiological and biochemical activity of soil. Plant Soil Environ. 62(6): 250-255.
DOKUMENTASI
Memasukkan contoh tanah ke dalam eksikaor
Mengeksikator contoh tanah selama 15menit
Menimbang contoh tanah yang telah di keluarkan dari oven dan di eksikator