• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGADILAN TINGGI MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGADILAN TINGGI MEDAN"

Copied!
216
0
0

Teks penuh

(1)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

P U T U S A N NOMOR 79/PDT/2017/PT MDN

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Tinggi Medan yang memeriksa dan mengadili

perkara-perkara perdata pada Pengadilan tingkat banding telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara:

1. Pemerintah Republik Indonesia cq Menteri Lingkungan Hidup dan

Kehutanan RI, beralamat di Gedung Manggala Wanabhakti, di Jl.Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Dalam Perkara ini diwakili oleh Para Penerima Kuasanya yaitu 1. Krisna Rya, S.H.,M.H, 2. Supardi.,S.H., 3. Bambang Wiyono, S.H.,M.H., 4. Drs.Afrodian Lutoifi, S.H.,M.Hum., 5.Yudi Ariyanto, S.H.,MT., 6. Mariana Tuty Sirait, S.H., 7. Hatoni. S.H., M. Zaenuri, S.H., 8. Francisca Budyanti, S.H.,M.H. kesemuanya adalah Pegawai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang beralamat di Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lt. 3, Jalan Gatot Soebroto, Senayan Jakarta Pusat, berdasarkan Surat dari Kepala Biro Hukum Krisna Rya, S.H.,M.H. NIP: 19590730 1990031 1 001 menugaskan M. Zaenuri, S.H. Jabatan Staff Biro Hukum untuk menghadiri sidang hari Rabu tanggal 3 Februari 2016 dan Surat Kuasa Khusus tanggal 12 Pebruari 2016 yang telah terdaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Nomor: 40/2016 SK tanggal 24 Februari 2016, Selanjutnya disebut Pembanding I, semula Tergugat I.

2. Jaksa Agung Republik Indonesia, cq Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi

Sumatera Utara, beralamat di Jalan Jenderal Abdul Haris Nasution No.1 C Medan 20146. Dalam hal ini diwakili oleh Para Penerima Kuasanya yaitu: 1. I Made Astiti Ardjana, S.H., 2. Ali Rahim, S.H.,M.H., 3. Rali Dayan Pasaribu, S.H., 4. Siti Holija Harahap, S.H., 5. Masmur Bangun, S.H., 6. Anisah Hikmiyati, S.H.,M.H., 7. Dewi Rovita, S.H., 8. Oki Yudhatama, S.H., 9. Ali Asron Harahap, S.H.,M.H., 10. Sartono Siregar, S.H., 11. M. Zul Syafran HSB, S.H., kesemuanya adalah Jaksa Pengacara Negara Pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang beralamat di Jalan A.H. Nasution No. 1 C Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 30 Desember

2015 yang terdaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri

Padangsidimpuan Nomor: 09/2016 SK tanggal 19 Januari 2016, Selanjutnya disebut Pembanding II, semula Tergugat II.

(2)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

M E L A W A N:

1. Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu disingkat “PARSUB”, yang

berkedudukan di Jalan Sakti Lubis, Gg. Bengkel No.12 Medan. Dalam Perkara ini diwakili oleh Kuasa Hukumnya, Marihot Siahaan, S.H.,M.H. dan Nurdin Siregar, S.H.,M.H., Para Advokat dan Pengacara pada Kantor Marihot Siahaan & Rekan beralamat di Jalan Prapanca Raya No.28-29 Kelurahan Pulo, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 13 November 2015 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Nomor: 154/2015 SK tanggal 24 November 2015, selanjutnya disebut sebagai Terbanding, semula Penggugat.

2. Pemerintah Republik Indonesia cq Gubernur Kepala Daerah Provinsi

Sumatera Utara cq Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, beralamat di Jalan Sisingamangaraja Km 5.5 No 14 Marindal Medan 20147. Dalam Perkara ini diwakili oleh Para Penerima Kuasanya yaitu: 1. Sharial, S.H. Jabatan Kepala Seksi Pelestarian Hutan pada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, 2. Zainuddi, SP Jabatan Kasubbag Umum pada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, 3. Marolop H. O. Gultom, S.H. Jabatan Kepala Seksi Jasa, 4. Amin Helmi Rambe, S.P Jabatan Kepala Seksi Bimbingan Teknis dan Evaluasi pada UPT. PPHH Wilayah IV Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, beralamat di Jalan Sisingamangaraja Km 5.5 No 14 Marindal Medan 20147, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 28 Desember 2015 yang terdaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Nomor: 166/2015 SK tanggal 30 Desember 2015, Selanjutnya disebut Turut Terbanding I, semula Tergugat III.

3. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional

Republik Indonesia cq. Kepala Kantor Wilayah Pertanahan Propinsi Sumatra Utara cq. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tapanuli Selatan, beralamat di Jalan Wilem Iskandar No.8 Padang Sidempuan. Dalam Perkara ini diwakili oleh Para penerima Kuasanya yaitu 1. Maslan Pulungan, S.H. Jabatan: Kasi Sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Tapanuli Selatan, 2. Zainuddin Manurung.,S.H. Jabatan Plt. Kepala Sub Seksi Perkara pada Kantor Pertanahaan Kabupaten Tapanuli Selatan berlamat di Jalan Wiliem Iskandar No. 8 Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan Surat Tugas Nomor: 37/PDT.G/2015/PN.Psp tanggal 02 Desember 2015 dari Purnama

(3)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Saboli, S.H.,M.H. Jabatan selaku Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tapanuli Selatan berkedudukan di Jalan Willem Iskandar No. 8 Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan Surat Tugas Nomor 37/Pdt.G/2015/ PN.Psp tanggal 2 Desember 2015 yang ditandatangani Purnama Saboli, S.H.,M.H. Jabatan Selaku Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Selanjutnya disebut Turut Terbanding II, semula Turut Tergugat.

Pengadilan Tinggi Tersebut Telah membaca:

1. Penetapan Ketua Pengadilan Tinggi Medan NOMOR 79/PDT/2017/PT MDN tanggal 4 April 2017 tentang Penunjukan Majelis Hakim untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut ditingkat banding.

2. Telah membaca berkas perkara dan surart-surat yang bersangkutan serta turunan resmi putusan Pengadilan Negeri Padangsidempuan Nomor 37/PDT.G/2015/PN.Psp tanggal 22 September 2016.

TENTANG DUDUK PERKARA

Menimbang, bahwa Terbanding semula Penggugat dengan surat

gugatannya tanggal 24 November 2015 yang diterima dan terdaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tanggal 24 November 2015 dalam Register Perkara Nomor: 37/Pdt.G/2015/PN-Psp, setelah Penggugat melakukan perbaikan gugatan pada tanggal 10 Februari 2016, sehingga gugatatan tersebut pada pokoknya adalah sebagai berikut:

1. Bahwa Gugatan ini diajukan di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

2. Bahwa Penggugat adalah badan hukum Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu disebut “PARSUB” yang didirikan masyarakat adat (yang menjadi petani kelapa sawit) setempat untuk tujuan melakukan kegiatan mengelola kebun-kebun (pembudidayaan) kelapa sawit kepunyaan masyarakat yang telah ada di areal padang lawas (bukan kawasan hutan) berdasarkan hak tradisional yang turun-temurun yang seluruhnya seluas ± 24.000 Ha didalamnya termasuk jalan rawa basah, sekolah, rumah ibadah, klinik, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lingkungan hidup lainnya yang sebagian dari lahan tersebut sudah ada yang bersertifikat Hak Milik.

(4)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Dengan demikian lahan yang ditanami kelapa sawit kurang lebih seluas

18.000 Ha pada posisi koordinat Bujur Timur (BT) 1000000’-100015’ dan

Lintang Utara (LU) 000 45 - 010 15’. Dengan batas-batas: Sebelah Utara:

Dengan Sungai Garingging, Sebelah Selatan: dengan Sungai Mahato, Sebelah Timur: Propinsi Riau, Sebelah Barat: Areal PT. Rapala.

Bahwa Badan Hukum Koperasi Parsub berdasarkan Surat Keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan menengah Republik Indonesia Nomor: 311/BH/KWK.2/X/1998 tertanggal 20 Oktober 1998. Adapun susunan Pengurus Koperasi Parsub No. 16 tanggal 7 September 2013 oleh Notaris Junita Ritonga.,SH di Medan adalah sebagai berikut:

 Ketua : RS Safaruddin Siregar

 Ketua I : H. Rapotan Siregar.,SH.,MAP

 Ketua II : Drs. H. Guntur Hasibuan.,MAP

 Sekretaris : Iskandar Alamsyah Hasibuan.,SE

 Sekretaris I : Marasamin Ritonga.,SH.,MH

 Sekretaris II : Sutan Ahmad Sayuti Hasibuan.,ST

 Bendahara : H.Pandidikan Hasibuan.,SH.,ASN

3. Bahwa Penggugat pernah membuat perjanjian kerja sama yang dituangkan dalam akta Notaris Setiawati,S.H No.139 tanggal 16 September 2003. yang isinya tentang perjanjian kerjasama pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit dengan PT.TORUS GANDA sebagai pendamping dalam hal Pembinaan teknik management dan modal/pendanaan. Lahan yang diperjanjikan adalah meliputi lahan seluas 24.000 ha yang terletak di 5 (lima) desa, yaitu 1) Desa Aek Raru, 2)Desa Paran Padang, 3)Desa Janji Matogu, 4)Desa Mandasip, dan 5) Desa Langkimat.

4. Bahwa dalam perjanjian disebutkan secara jelas tentang adanya Surat Dukungan Rekomendasi untuk Perolehan Legalitas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat didalam 5 desa tersebut sebagai lokasi perkebunan kelapa sawit dari Kakanwil Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Sumatera Utara No.2541/Kwl-6.3/1999 tanggal 27 Juli 1999 yang ditujuhkan kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI.

Bahwa Surat Dukungan Rekomendasi tersebut sebagai respon dari surat Kepala Pusat Pemolaan Areal Hutan dan Kebun Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan No 521/VIII/POLA-PSH/99 tanggal 28 Mei 1999 yang

(5)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

berkaitan dengan surat Permohonan Koperasi Parsub yang intinya Kakanwil Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Sumatera Utara menyatakan:

- Hasil telaahan kami atas peta lampiran permohonan, ternyata luas areal

yang dimohon seluas ± 24.000 Ha adalah Kawasan Hutan Register 40 Padang Lawas yang berdasarkan peta penunjukan Kawasan Hutan

Propinsi Sumatera Utara SK Menteri Pertanian nomor

923/Kpts/Um./12/l982 tanggal 27 Desember 1982/peta TGHK dan berdasarkan peta Paduserasi TGHK-RTRWP adalah sebagai berikut: a. Berdasarkan peta penunjukan/peta TGHK areal yang dimohon seluas

+ 24.000 Ha berada dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). b. Berdasarkan peta Paduserasi TGHK-RTRWP areal yang dimohon

seluas ± 24.000 Ha berada dalam Kawasan Hutan Budidaya Hutan dengan fungsi Hutan Produksi (HP).

- Berdasarkan peruntukannya areal yang dimohon seluas ± 24.000 Ha

terdiri dari:

a. Seluas ± 1.070 Ha berada dalam areal HPHTI PT. Sumatera Riang Lestari (“PT.SRL”) bekerja sama dengan PT. Inhutani IV.

b. Seluas ± 22.930 Ha berada dalam areal HPHTI PT. Inhutani IV diantaranya:

b.1 Seluas ± 3.000 Ha saling tumpang tindih dengan permohonan HPHTP PT.Barumun Raya Padang Langkat sesuai pertimbangan teknis kami No. 2465/Kwl-6.3/1999 tanggal 21 Juli 1999 dan belum ada persetujuan dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan, b.2.Seluas ± 9.000 Ha saling tumpang tindih dengan permohonan PT.

Agro Mitra Karya Sejahtera belum ada persetujuan dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

- Areal yang dimohon KOPERASI PARSUB berada dalam Kawasan Hutan

Register 40 Padang Lawas yang saat ini sedang dalam sengketa sesuai surat Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara No.778/Wagub-II/99 tanggal 22 Mei 1999 dinyatakan stanfast sampai dengan penyelesaian hukum.

(6)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

- Bupati KDH Tingkat II Tapanuli Selatan melalui surat No.522.13/5495

tanggal 30 Juni 1999 kepada Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara perihal pelaksanaan surat Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara No.778/Wagub-II/1999 tanggal 22 Mei 1999 tersebut butir 4 diatas, diantaranya melaporkan bahwa sebagian besar masyarakat terwakili sebanyak 28 desa dari 31 desa yang ada dalam bekas Luhat Ujung Batu dan Simangambat menerima kehadiran KOPERASI PARSUB untuk mengolah lahan dimaksud menjadi perkebunan.

- Berkenaan dengan hal tersebut diatas, apabila Bapak Menteri berkenan

mempertimbangkan permohonan KOPERASI PARSUB kiranya dapat kami sarankan sebagai berikut:

a. Permohonan KOPERASI PARSUB masih perlu dilengkapi dengan rekomendasi Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara maupun arahan lahan dari Bupati KDH Tingkat II Tapanuli Selatan.

b. Permohonan KOPERASI PARSUB perlu terlebih dahulu mendapat konfirmasi/persetujuan dari PT. Inhutani IV dan PT. Sumatera Riang Lestari yang merupakan pemegang hak yang masih ada saat ini dan telah ada keputusan atas permohonan yang terdahulu seperti tersebut butir 3.b.l dan 3.b.2 diatas.

c. Apabila PT. Inhutani IV dan PT. Sumatera Riang Lestari bersedia dan tidak ada pertimbangan lain, disarankan kepada KOPERASI PARSUB dapat diberikan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Perkebunan (HPHTP).

d. Dimohon kiranya Bapak Menteri berkenan segera menetapkan kebijaksanaan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Perkebunan (HPHTP) dalam suatu Surat Keputusan.

Bahwa dalam kenyataan luas wilayah ke 5 (lima) Desa tersebut hanyalah 6.862 ha atau 68.26 kilometer persegi (Vide Data palutakab.bps.go.id website resmi milik Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Lawas Utara tahun 2013) dan Koperasi Parsub mengerjakan pengelolaan perkebunan kelapa sawit sudah lebih dulu dari pada dibuatnya perjanjian di lokasi yang berbeda, yaitu di Luhat Ujung Batu dan Luhat Simangambat (letaknya sangat jauh dari Barumun Tengah). Untuk tegasnya, lokasi yang disebutkan dalam perjanjian sebagaimana direkomendasikan diatas, sampai saat ini belum pernah dikerjakan

(7)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Penggugat dan Lokasi lahan yang dimohon Penggugat seluas 24.000 Ha tersebut adalah lokasi lahan yang terdiri dari:

- Lahan Seluas ± 1.070 Ha yang sedang dikerjasamakan antara

PT.Sumatera Riang Lestari dengan PT. Inhutani.

- Seluas ± 22.930 Ha berada dalam areal HPHTI PT. Inhutani IV.

Dengan demikian Menteri LHK/Tergugat I (dahulu Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI) jelas jelas mengetahui bahwa areal di Lima Desa tersebut telah digunakan oleh perusahaan tersebut diatas dan oleh karena itu Penggugat tidak pernah melaksanakan isi dari perjanjian dimaksud diatas. Penggugat melakukan kegiatan Pengelolaan di lokasi lain yang letaknya berada jauh dari lokasi yang disebutkan dalam Dakwaan JPU.

5. Bahwa pada awalnya Penggugat dalam melaksanakan kegiatannya lancar dan kemudian kegiatan tersebut terganggu/tidak berjalan sebagaimana mestinya karena adanya Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan Para Tergugat baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sebagaimana akan diuraikan dibawah.

6. Bahwa Penggugat sangat mempunyai kepentingan hukum langsung dalam mengajukan gugatan ini karena lahan kebun kelapa sawit seluas 24.000 Ha yang dikelola Penggugat di Luhat Ujung Batu (bukan di Kecamatan Barumun Tengah) secara keliru telah dinyatakan dirampas berdasarkan dakwaan dan tuntutan JPU yang kemudian dikabulkan oleh putusan Pidana No.481/PID.B/ 2006/PN.JKT.PST tanggal 28 Juni 2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.194/Pid /2006/PT.DKI, 11 Oktober 2006 jo Putusan

No.2642K/PID/2006 tanggal 12 Februari 2007 jo Putusan

No.39PK/PID.SUS/2007, tanggal 16 Juni 2008.

Bahwa daerah kegiatan Penggugat dalam mengelola perkebunan Kelapa Sawit yang disebutkan baik dalam Dakwaan JPU maupun Putusan adalah di Kecamatan Barumun tengah seluas 24.000 Ha (padahal luas wilayah 5 desa tersebut hanya 6.682 Ha), sedangkan dalam melakukan kegiatannya Penggugat tidak pernah menyentuh lahan yang disebutkan dalam perjanjian tersebut diatas termasuk juga areal yang di SK Menteri Pertanian No.23/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982. Kenyataannya yang dikelola Penggugat adalah didaerah Ujung Batu dengan lahan seluas 24.000

(8)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Ha (letaknya sangat jauh dari Ujung Batu, yaitu di Kecamatan Barumun Tengah). Sehingga apa yang disebut oleh JPU dalam Dakwaan maupun Putusan Pidana No. 2642K/PID/2006 tanggal 12 Februari 2007 jo Putusan nomor 39PK/PID.SUS/2007, tanggal 16 Juni 2008 tentang objek perkara adalah Error in objecto.

7. Bahwa dalam dakwaan JPU tersebut yang pada intinya adalah mengkriminalisasi DL.Sitorus (Pendamping Penggugat) menyebutkan bahwa DL.Sitorus telah menduduki kawasan hutan Negara tetap tanpa ijin Menteri Kehutanan, yang menurutnya didasarkan pada:

1. Gouvernement Besluit (GB) No.50 Tahun 1924 tanggal 25 Juni 1924 yang direkayasa melalui terjemahan yang tidak benar.

2. Surat Keputusan Menteri Kehutanan (sic. Menteri Pertanian) nomor 923/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukkan Areal Hutan di Wilayah Propinsi Dati I Sumatera Utara seluas 3.780.132.02 Ha, (yang tidak berlaku lagi karena diganti dengan SK. Tergugat II Nomor 44 Tahun 2005 yang yang juga tidak berlaku karena dinyatakan oleh Mahkamah Agung Tidak Sah).

Bahwa JPU dalam dakwaannya tersebut, telah dengan sengaja dan secara keliru menyatakan lokasi perkebunan yang terletak di Kecamatan Barumun Tengah sebagai Kawasan Hutan yang seolah-olah benar disebutkan dalam GB No.50 tahun 1924, tetapi surat aslinya tidak pernah diperlihatkan oleh JPU selama persidangan perkara Pidana tersebut diatas, sehingga kemudian dengan Surat Keputusan Tergugat I Nomor 44 Tahun 2005 dijadikan dasar untuk menyatakan lokasi GB 50/1924 sebagai kawasan hutan yang selanjutnya disebut-sebut register 40, padahal dalam kenyataannya hal tersebut tidak benar karena GB No.50 Tahun 1924 dalam bahasa aslinya tidak pernah menyatakan lokasi tersebut sebagai kawasan hutan produksi melainkan menyebut perkampungan, penggembalaan ternak penduduk kampung, dan lahan-lahan untuk dipertimbangkan sebagai rencana bagi pembangunan hutan yang baru. Bahkan sampai saat terakhir dalam putusan Peninjauan Kembali (PK), GB No.50 yang dijadikan dasar hukum untuk menjatuhkan pidana dan merampas perkebunan kelapa sawit yang dikelola Penggugat sesungguhnya sudah di rekayasa dengan merubah GB No.50 melalui terjemahan kedalam Bahasa Indonesia, yang secara umum dan menyeluruh menyimpang dari fakta-fakta hukum yang

(9)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

sebenarnya, terlebih lagi jikalau GB No.50 tersebut tidak tercatat dalam daftar Staatsblaad Tahun 1924 yang harus menjadi dasar keberlakuan atau kekuatan mengikat.

Lagipula dokumen tersebut tidak pernah dicocokan dengan dokumen asli untuk dapat diterima sebagai alat bukti yang sah (Vide Halaman 30, 31 Putusan No. 434/PDT/2011/PT.MDN, Halaman 2 Putusan nomor 134K/TUN/2007), dan Staatsblad Hindia Belanda Tahun 1924 juga tidak menyebut adanya Gouvernement Besluit (GB) No.50 tersebut sebagaimana terlihat dari daftar isi Staatsblad tahun 1924.

8. Munculnya amar Putusan Perampasan barang bukti berupa lahan perkebunan berawal dari dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum yang menyangkut Tipikor yang didasarkan pada adanya kerugian Negara yang timbul tetapi dalam putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tidak terbukti dakwaan tipikor maupun kerugian Negara sehingga terdakwa hanya dinyatakan bersalah tentang menduduki lahan perkebunan secara tidak sah dan tanpa ijin sehingga oleh karenanya amar putusan perampasan lahan perkebunan dan bangunan diatasnya menjadi milik Negara kehilangan landasan hukum sama sekali.

9. Bahwa dakwaan JPU tersebut diatas menyebutkan seolah-olah PT.Torus Ganda dan Penggugat menduduki secara tidak sah Hutan Negara tetap seluas 24.000 ha yang disebutkan terletak di 5 (lima) desa, yaitu 1)Desa Aek Raru, 2)Desa Paran Padang, 3)Desa Janji Matogu, 4)Desa Mandasip, dan 5)Desa Langkimat, padahal kenyataannya luas lima desa tersebut hanya 6.826 Hektar atau 68.26 kilometer persegi (Vide Data palutakab.bps.go.id website resmi milik Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Lawas Utara tahun 2013).

Dengan demikian luas yang didakwakan JPU dengan fakta lahan perkebunan yang dikelola Koperasi Parsub telah menunjukkan kekeliruan nyata sehingga tidak dapat dijadikan dasar dakwaan dan tuntutan JPU untuk menyita 24.000 Ha lahan yang justru berada di lokasi lain.

10. Bahwa dari fakta fakta yang disebutkan diatas nyata-nyata JPU jelas telah keliru dalam menentukan luas lokasi (locus) dari objek sengketa dan objek barang bukti dalam perkara pidana karena lokasi perkebunan yang dikelola Penggugat (dengan pendampingnya PT.TORUS GANDA) bukan yang

(10)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

dimaksud dalam Dakwaan JPU, sehingga tidak ada alasan menurut hukum untuk merampas lahan perkebunan sawit yang dikelola Penggugat dengan pendampingan PT.TORUS GANDA yang luasnya + 24.000 ha karena baik Tergugat I maupun Tergugat II dan Tergugat III tidak pernah melakukan pemeriksaan setempat (plaatselijkonderzoek) dan tidak pernah mampu menentukan batas-batasnya sesuai koordinat geographis sebagaimana mestinya.

11. Bahwa terlepas dari kelalaian JPU yang tidak melakukan pemeriksaan setempat dan tidak pernah mampu menentukan batas batas dengan cara sebagaimana mestinya yang disebutkan diatas, ternyata kegiatan dalam lokasi yang disebutkan dalam dakwaan JPU yang dikelola Penggugat tanpa ijin dari Menteri Kehutanan, padahal, hal tersebut tidak benar, justru sebaliknya Parsub tidak pernah mengelola lokasi dimaksud karena memperhatikan surat rekomendasi dari Kakanwil Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Sumatera Utara nomor 2541/Kwl-6.3/1999, 27 Juli 1999 sebagaimana tersebuat diatas.

12. Bahwa selain daripada itu lokasi yang dikelola Penggugat berdasarkan hak-hak tradisionalnya dalam masyarakat hukum adat yang diperoleh dari Marga Hasibuan yang menjadi anggota Koperasi Parsub yang diakui dan dilindungi pada jaman penjajahan sampai sekarang dan saat ini sebagian besar sudah memperoleh SHM. Dan setelah kemerdekaan sampai saat ini hak-hak tradisional dimaksud diatas jelas-jelas diakui dan diatur konstitusi Negara RI sebagaimana termuat dalam Pasal 18B ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi:

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang”.

13. Bahwa perlindungan dan pengakuan konstitusi atas hak-hak traditional tersebut telah jelas-jelas ditegaskan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.35/PUU-X/2012, tanggal 16 Mei 2013 yang intinya menyatakan:

“bahwa hutan adat yang dimiliki oleh masyarakat tidak termasuk hutan Negara”

hal mana juga merupakan ketentuan yang dianut oleh UU No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan khususnya Pasal 15 dan Putusan MK

(11)

No.45/PUU-PENGADILAN TINGGI MEDAN

IX/2011, tanggal 9 Februari 2012 tentang pemahaman dan pemaknaan penetapan Kawasan Hutan harus melalui empat tahapan, yaitu:

“Penunjukan, Penata Batasan, Pemetaan dan Pengukuhan/Penetapan, tanpa mana Penunjukkan hutan tanpa proses tahapan tersebut adalah praktek dari pada pemerintahan otoriter dan bukan merupakan praktek dari pemerintahan yang demokratis”.

14. Bahwa selain itu di lokasi Penggugat yang disebut-sebut oleh JPU berada di 5 (lima) desa sebagai locus delicti perbuatan pidana yang didakwakan kepada DL. Sitorus pada kenyataannya terdapat sebanyak 43 badan usaha diantaranya termasuk BUMN, PMA, yang mengelola perkebunan Kelapa Sawit tanpa dipermasalahkan sebagai perkara pidana oleh Kejaksaan Agung RI cq. Kejaksaan Tinggi Propinsi Sumatera Utara, Pemerintah ataupun Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, yaitu antara lain:

1)PT.Hexa Setia Sawita, 1.1176ha, 2)PT.Sumber Sawit Makmur, 2.072ha, 3)PT.Damai Nusa Sekawan, 2.384ha, 3)PT.Agro Mitra Karya Sejahtera,

21.543.23ha, 4)PT.First Mujur Plantation dan Industri, 15.000ha

5)PT.Wonorejo Perdana, 15.000.00ha. 6)PT.Austindo/PT.Eka Pendawa Sakti, 11.238ha, 7)PT.Barumun Raya Padang Langkat, 2.372.97ha, 8)PT.Sinar Tika Portibi Jaya Plantation, 1.679.12ha, 9)PT.Mazuma Agro Indonesia (MAI), 12.266.43ha, 10)PT.Karya Agung Sawita (KAS), seluas

14.374.86ha, 11)PT.Perkebunan Nusantara II, seluas 4.000ha,

12)PT.Sibuah Raya, seluas 1.750.00ha, 13)PT.Perkebunan Nusantara IV, 1.294.20 ha, 14)PT.Toga Saudara Makmur, 192.55ha, dll, sebagaimana disebutkan dalam laporan hasil audit Tim Interdep Mei 2005.

Anehnya lahan KUD Serbaguna yang dinyatakan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup berada di dalam kawasan hutan Register 40 yang kemudian dipergunakan oleh JPU mendakwa DL. Sitorus menduduki kawasan hutan tanpa ijin Menteri LHK, ternyata oleh Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.434/PDT/2011/PT.MDN (yang sudah berkekuatan hukum tetap), dinyatakan tidak dalam kawasan hutan Register 40 dan kepemilikan lahan tersebut adalah milik 624 anggota KUD Serbaguna berdasarkan pada Sertifikat Hak Milik sebanyak 624 SHM.

(12)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

15. Bahwa Lahan yang dikelola Penggugat (bukan di Barumun Tengah) tersebut telah ikut dituntut oleh Tergugat II dan dinyatakan dirampas untuk Negara dan telah diputus dengan Putusan No.2642K/Pid/2006, ternyata benar-benar keliru, perampasan mana dilaksanakan dengan menyerahkan lahan tersebut kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumut (Vide Berita Acara penyerahan rampasan tanggal 26 Agustus 2009), padahal fakta dan hukum menunjukkan lahan tersebut adalah merupakan lahan milik masyarakat Adat Marga Hasibuan dan sebagian sudah bersertifikat Hak Milik, dan yang diatasnya Negara pernah menerbitkan izin HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada 5 Perusahaan secara tidak sah (secara sepihak tanpa melibatkan/mendapat persetujuan masyarakat yang berhak) dan kemudian setelah lokasi dibabat dan gundul, lokasi ditinggal demikian saja.

Bahwa berdasarkan HPH yang pernah dikeluarkan sebagaimana dimaksud diatas, lahan dibabat, tanpa ada tanggungjawab reboisasi, akibatnya tanah tersebut menjadi lahan kritis sehingga kemudian masyarakat Luhat Ujung Batu (sebagai pihak yang berhak atas lahan/tanah-tanah adat tersebut yang sebagian besar juga sudah bersertifikat hak milik), berusaha untuk memanfaatkan tanah-tanah tersebut dengan berencana akan menanam tumbuhan yang dinilai produktif dan mempunyai nilai ekonomis yaitu pohon kelapa sawit. Karena lahan itu adalah satu-satunya sebagai sumber kehidupan masyarakat adat tersebut.

16. Bahwa perampasan dan penyerahan Lahan Kebun Kelapa Sawit tersebut diatas, dikarenakan DL. Sitorus/Dirut PT. Torusganda (Pendamping) telah dikriminalisasi dengan mempersalahkannya seolah-olah DL. Sitorus secara melawan hukum mengelola kawasan hutan seluas 24.000 Ha (dalam rangka kerjasama dengan Koperasi Parsub) dengan menggunakan alasan alasan yang dibuat-buat, antara lain:

 GB No.50, Tanggal 25 Juni 1924.

 Berita Acara Penyerahan Tanah Kawasan Hutan Padang Lawas dari

Masyarakat kepada Gubernur Sumut, Tanggal 20 Mei 1981 Seluas 12,000Ha, Tanggal 26 Mei 1981 seluas 10,000ha tanggal 06 Juni 1981 seluas 8.000 ha. (yang semuanya tidak pernah ada aslinya).

 Keputusan Menteri Kehutanan (sic Menteri Pertanian) nomor

923/Kpts/Um/12/1902, tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukan areal hutan di wilayah Propinsl Dati I Sumut Tata Guna Hutan

(13)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Kesepakatan (TGHK) telah dikeluarkan seolah-olah didasari GB 50 tersebut diatas.

 Peraturan Daerah Propinsi Sumut No.7 Tahun 2003 tentang

RencanaTataRuang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Sumut tahun 2003 – 2018.

 Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan No.14 Tahun 1998

tentang RTRW Kab.Dati II Tapanuli Selatan.

Bahwa areal tersebut diatas seolah-olah dilarang untuk diduduki tanpa ijin dari Menteri Kehutanan Rl sesuai ketentuan pasal 6 ayat (1) Peraturan Pemerintah (PP) No.28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (padahal kawasan tersebut bukanlah kawasan hutan sesuai dengan putusan MK dan Putusan Pengadilan Tinggi tersebut diatas, dan terlebih-lebih hukum adat tentang hak-hak tradisional masyarakat adat).

17. Bahwa ternyata lahan yang dirampas dalam eksekusi (26 Agustus 2009) yang dilakukan oleh Tergugat II dan diserahkan kepada Tergugat III dalam hal ini Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara telah dinyatakan bukan Kawasan hutan berdasarkan sebagaimana disebut dalam Putusan sebagai berikut:

 Putusan PK PTUN No.06.PK/TUN/2008 Tanggal 05 Mei 2008.

 Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.434/PDT/ PT.MDN/2012, tanggal 4

Juni 2012. (sudah berkekuatan Hukum Tetap. Tidak ada Kasasi).

Dengan demikian baik Penggugat maupun DL. Sitorus selaku Direktur PT.TORUSGANDA tidak pernah melakukan kegiatan di daerah terlarang secara bertentangan dengan hukum yang berlaku in casu hukum adat tentang perlindungan hak-hak tradisional. Hal ini dikuatkan dengan adanya Putusan Perdata Pengadilan Tinggi Medan nomor 434/PDT/2012/PT.MDN, tanggal 4 Juni 2012 (sudah inkracht) yang intinya mengatakan tidak ada kawasan hutan di areal yang dijadikan kebun-kebun Kelapa Sawit

masyarakat anggota PARSUB yang dikelola PARSUB dengan

pendampingan PT. TORUS GANDA.

18. Bahwa Berdasarkan Putusan-Putusan Pengadilan terkait dengan kasus yang sama dengan kasus Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit (KPKS) Bukit Harapan, Tergugat I telah diperintahkan untuk menyerahkan lahan Kebun

(14)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Sawit seluas + 23.000 Ha yang dikelolanya, dan membatalkan semua pernyataan ataupun surat-surat keputusannya tentang Kawasan Hutan yang dikelola KPKS Bukit Harapan yang kasusnya sama dengan Penggugat, akan tetapi Tergugat I tidak mau menyerahkan dan membuat pembatalan surat pernyataan/keputusannya sesuai dengan perintah Pengadilan (PK TUN) dan hal tersebut telah secara tidak langsung mengakibatkan timbulnya kerugian bagi Penggugat.

19. Bahwa masyarakat Luhat Ujung Batu dan Simangambat yang sebagian juga sebagai anggota PARSUB adalah sebagai pihak yang berhak secara sah atas lahan yang dipermasalahkan, padahal masyarakat tesebut adalah generasi ketujuh Marga Hasibuan yang hidup di Desa Tanah Adat Ulayat Padang Lawas seluas + 178.000 ha sebagaimana juga yang diketahui dan diakui pemerintah Belanda/Kolonial atas adanya hak ulayat masyarakat hukum adat dimaksud (vide UUD 1945 sebelum perubahan). Bahwa Para Penggugat hidup secara turun temurun dan selalu memanfaatkan sumber daya alam di lokasi tersebut sebagai sumber penghidupan.

20. Bahwa berkaitan dengan yang dikemukakan diatas, berdasarkan ketentuan pasal 12 Ayat (1) UU No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (LN.Tahun 1960 No.104), yang menyatakan:

“Segala Usaha bersama dalam lapangan agraria di dasarkan atas kepentingan bersama dalam rangka kepentingan nasional, dalam bentuk koperasi atau bentuk-bentuk gotong royong lainnya”.

Dengan demikian DL. Sitorus secara bersama-sama dengan PARSUB telah melaksanakan amanah yang diatur dalam pasal 12 ayat (1) UUPA tersebut.

21. Bahwa berkaitan dengan apa yang dikemukakan diatas, menurut ketentuan Pasal 15 UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dikatakan sebagai berikut:

“Bahwa penunjukan kawasan hutan adalah salah-satu tahap dalam proses pengukuhan kawasan hutan, dan ketentuan demikian harus memperhati-kan kemungkinan adanya hak-hak perseorangan atau ulayat pada kawasan hutan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan sehingga jika demikian terjadi, maka penataan batas dan pemetaan batas kawasan hutan harus mengeluarkannya dari kawasan hutan agar

(15)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

tidak merugikan bagi masyarakat yang berkepentingan dengan kawasan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan”.

Oleh karena hal yang demikian, maka pada saat penataan batas dan pemetaan batas kawasan hutan Pemerintah/ Menteri Kehutanan seyogianya terlebih dahulu harus mengeluarkan semua tanah yang menjadi Hak ulayat masyarakat adat setempat (anggota Parsub) dari areal kawasan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan, tetapi dalam kenyataannya hal demikian tidak dilakukan. Dengan demikian terbukti Para Tergugat telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum yaitu telah melanggar Pasal 15 UU No.41 Tahun 1999 tersebut diatas dan Putusan M.K.No.45/PUU–IX/2011, 21 Februari 2012.

22. Bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas, Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.434/PDT/PT.MDN, tanggal 4 Juni 2012, di mana yang menjadi Tergugat adalah Menteri Kehutanan RI dan bukti yang diajukan Menteri Kehutanan sebagai T–1, adalah Gouvernement Besluit (G.B) No.50, 25 Juni 1924, yang diterjemahkan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia oleh Siti Warian Prawirasastra yang hanya dalam bentuk fotocopy yang tidak pernah ada aslinya.

23. Bahwa kemudian ternyata di ketahui, asli GB No.50 tidak pernah ada lampiran petanya yang dapat menunjukkan posisi koordinat lokasi secara

pasti dan di dalam persidangan dan putusan Pidana No.

481/PID.B/2006/PN.JKT.PST tanggal 28 Juni 2006 terungkap bahwa JPU tidak mampu menunjukkan GB No.50 yang asli (hanya foto copy).

Dengan demikian GB No.50 tidak dapat di pakai sebagai dasar hukum penunjukkan kawasan hutan.

24. Bahwa pada Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.434/PDT/PT.MDN tersebut diatas, dalam pertimbangannya Majelis Hakim Tinggi Medan menyatakan, bahwa selanjutnya surat lampiran peta kawasan hutan Padang Lawas Reg.40 yang berskala 1:100.000 Gouvernement Besluit 25 Juni 1924 No.50 (padahal dalam kenyataan GB No.50 Tahun 1924 tidak memiliki lampiran peta) dan Surat Gubernur Sumatra Utara 5 Nopember 1977 No.26081/3, tidak memuat keterangan apa-apa, tetapi hanya tertulis sebagai berikut:

(16)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

- Jalan.

- Batas Areal Perladangan.

- Batas kawasan yang telah diusulkan.

- Areal Pemasukan baru.

25. Bahwa dalam pertimbangan selanjutnya Majelis Hakim menyatakan sebagai berikut:

“Menimbang bahwa lampiran peta kawasan hutan Padang Lawas Reg.40 GB No50 tanggal 25 Juni 1924 dan Surat GUBSU No.5/1077 No.26081/3

tersebut aslinya berbahasa Belanda, dan dirobah dan ditambah dengan

Bahasa Indonesia dan direkayasa menjadi. batas kawasan yang telah diusulkan areal Pemasukan baru ”.

26. Bahwa pada halaman 31 alinea I, pertimbangan Majelis Hakim Tinggi Medan mengemukakan sebagai berikut:

"Menimbang bahwa lampiran peta kawasan hutan Padang Lawas adalah foto copy yang telah terjadi perubahan secara umum dan menyeluruh Padang Lawas menjadi kawasan hutan register 40 dan tidak menyebut nama Desa Parsombaan, Kecamatan Barumun, tidak sesuai dengan daftar yang ditetapkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Batavia tanggal 25 Juni 1924 (No.50) tidak ada Desa Parsombaan, Kecamatan Barumun dalam daftar Kawasan Hutan dan Peta Kawasan Hutan Padang Lawas, Kawasan Hutan Register 40 karena foto copy yang tidak ada aslinya oleh karena itu harus ditolak”. Dengan demikian, jelas-jelas dan secara nyata terbukti bahwa telah terjadi

diskriminasi, kriminalisasi terhadap diri DL.Sitorus karena pada

kenyataannya terdapat banyak perusahaan dilokasi tersebut diatas yang melakukan kegiatan pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit tetapi justru tidak dituntut dan tidak diajukan kedepan sidang Pengadilan. Oleh karenanya kriminalisasi, diskriminasi yang dilakukan terhadap diri DL.Sitorus adalah Jelas-jelas bertentangan dengan konstitusi, karena UUD 1945 secara tegas mengamanatkan dalam pasal 27 ayat (1) yang bunyinya sebagai berikut:

(17)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

“Segala warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”

Kemudian dalam pasal 28I ayat (2) UUD 1945 mengamanatkan:

“Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”

Dan juga jelas-jelas terbukti secara nyata bahwa perkebunan Kelapa sawit yang dikelola Penggugat tersebut adalah bukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud JPU.

27. Bahwa jika perkara ini dihubungkan dengan Putusan M.K. No.45/PUU– IX/2011, 21 Februari 2012, yang Pemohonnya adalah Ir.H.Muhammad Mawardi,MM,dkk. yang amar Putusannya sebagai berikut:

 Mengabulkan Permohonan Para Pemohon untuk seluruhnya.

 Frasa di tunjuk dan atau pasal 1 angka 3 UU No.41 Tahun 1999 tentang

Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan UU No.19 Tahun 2004 tentang Penetapan PERPU UU No.1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi UU Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No.86, TLNRI No.4412 bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945.

 Frasa “ditunjuk dan atau“ dalam pasal 1 angka 3 UU nomor 41 Tahun

1999 tentang Kehutanan sebagaiman telah diubah dengan UU No.19 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi UU (LNRI Tahun 2004 No.86 TLNRI No.4412) tidak mempunyai kekuatan Hukum mengikat.

 Memerintahkan Pemuatan putusan ini dalam Berita Negara RI

sebagaimana mestinya.

28. Bahwa dalam hal ini putusan Mahkamah Konstitusi (“MK”) harus berlaku surut, tentang hak yang diakui sebelum jaman kemerdekaan tetap keberadaanya, oleh karena itu MK yang mempunyai wewenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final, untuk menguji UU terhadap UUD RI Tahun 1945, maka Putusan MK harus dihormati yang merupakan pengawasan terhadap UU yang bertentangan dengan UUD 1945, oleh karena itu Putusan MK harus diikuti, dengan

(18)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

demikian Hak Ulayat sebagaimana dalam Pasal 3 UUPA No.5/1960 menyatakan:

“Dengan mengingat ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan UU dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi“.

29. Bahwa berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas terbukti bahwa Penggugat adalah sebagai Pihak yang berhak secara sah mengelola dan membudidayakan perkebunan Kelapa Sawit diatas tanah seluas + 24.000 ha tersebut yang terletak di Desa Luhat Ujung Batu dan Simangambat (dahulu Kec.Barumun Tengah).

30. Bahwa terbukti pula Tergugat I telah menghalangi Penggugat mengelola dan membudidayakan perkebunan Kelapa Sawit dilahan tersebut, maka perbuatan Tergugat I adalah merupakan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata.

31. Bahwa karena dalam perkara TUN yang telah diputus sampai tingkat Peninjauan Kembali, (Vide Putusan MA No.06.PK/TUN/2008, 05 Mei 2008), yang amarnya intinya menyatakan batalnya Surat Keputusan Tergugat I S.419/Menhut-II/2014, Putusan Pengadilan Tinggi Medan yang sudah inkracht No.434/PDT/2011/ PT.MDN, 04 Juni 2012 yang intinya menyatakan perkebunan Kelapa Sawit yang terletak di Padang Lawas tidak termasuk dalam Kawasan Hutan. Hal ini jelas-jelas diketahui Tergugat I. Oleh karena itu Tergugat I tidak ada hak untuk melarang/ mengancam siapa saja untuk membeli hasil kebun kelapa sawit dari kebun yang di kelola Penggugat, sebagaimana surat Tergugat I No.S.13/Menlhk-Setjen/RHS/ 2015, tanggal 25 Juni 2015.

32. Bahwa apa yang diamanatkan dalam pasal 27 ayat (1) dan pasal 28I ayat (2) UUD 1945 adalah kewajiban untuk memperlakukan semua Warga Negara Indonesia sama kedudukannya dimuka hukum oleh karena itu tidak boleh ada perbedaan/diskriminasi perlakuan antara warga Negara yang satu dengan yang lain dalam penegakan hukum, sehingga tidak tepat jika DL. Sitorus didudukkan Jaksa Penuntut Umum sebagai Terdakwa, dalam Perkara Pidana (Putusan Kasasi No.2642K/Pid/2006, tanggal 12 Februari

(19)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

2007), sedangkan dilain pihak Perusahaan yang lain dibiarkan begitu saja. Dengan demikian Terbukti perbuatan Tergugat II dalam hal ini Kejaksaan Tinggi Medan-Sumut, melakukan Perbuatan Melawan Hukum dengan membuat Berita Acara tertanggal 26 Agustus 2009, tentang Penyerahan Barang Rampasan berupa:

- Perkebunan Kelapa Sawit dikawasan Padang Lawas seluas + 23.000 ha

yang dikuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT.TOR GANDA beserta bangunan yang ada diatasnya.

- Perkebunan Kelapa Sawit dikawasan hutan Padang Lawas seluas +

24.000 ha yang dikuasai oleh Koperasi PARSUB dan PT. TORUS GANDA beserta seluruh bangunan yang ada diatasnya.

33. Bahwa kemudian juga Tergugat I telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum yaitu pada tanggal 21 April 2015 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI telah membuat Suratnya No.S.174/Menlhk-II/2015, perihal, Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatra Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan, Bupati Padang Lawas Utara, dan Bupati Tapanuli Selatan, dan kemudian tanggal 25 Juni 2015 Tergugat I (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI), membuat Surat lagi melalui suratnya No.S.13/Menlhk-Setjen/RHS/2015, yang ditujukan kepada Ketua Umum GAPKI, intinya melarang dan mengancam kepada pihak yang melakukan transaksi dengan Parsub dan KPKS Bukit Harapan, dalam suratnya yang terdiri dari III poin, lengkapnya dikutip berbunyi sebagai berikut:

I. Bahwa Areal Perkebunan seluas 47.000 Hektar beserta seluruh bangunan di atasnya di Kawasan Register 40 Padang Lawas Provinsi Sumatra Utara, saat ini dikuasai secara illegal oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda serta Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda. Berdasarkan Putusan MA Nomor 2642K/Pid/2006 merupakan hak Negara.

II. Bahwa segala kegiatan atau transaksi berkaitan dengan perkebunan dan seluruh bangunan di atasnya di Kawasan Register 40 Padang Lawas yang saat ini dikuasai secara illegal oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda serta Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda yang dilakukan tanpa melalui Negara merupakan kegiatan melawan hukum Negara Republik Indonesia, dan dapat dipidana.

(20)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

III. Bahwa Pemerintah mengalihkan manajemen perkebunan sawit beserta seluruh bangunan diatasnya di dalam Kawasan Register 40 Padang Lawas, Provinsi Sumatra Utara sebagaimana dimaksud Negara, dalam hal ini kepada BUMN RI.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut, dikatakan lebih lanjut bahwa Tergugat I meminta dukungan Ketua Umum GAPKI untuk memberitahukan kepada anggota GAPKI agar tidak melakukan transaksi dengan KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda serta Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda. Dalam hal terjadi transaksi, Tergugat I mengancam akan mengenakan pidana dan memproses secara hukum.

34. Bahwa sebagaimana dikemukakan diatas Perkebunan Kelapa Sawit yang dikelola Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda sebagai pendamping di areal Padang Lawas (bukan kawasan hutan) berdasarkan hak tradisional yang turun temurun yang seluruhnya 24.000 Ha dan sebagian dari lahan tersebut sudah bersertifikat Hak Milik, sehingga Putusan Pidana No.481/PID.B/2006/ PN.JKT.PST Jo Putusan No.2642K/PID/2006 yang inti amarnya bahwa Terdakwa DL.Sitorus dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan dan menggunakan kawasan hutan secara tidak sah yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut. Dan merampas barang bukti berupa perkebunan Kelapa Sawit 47.000 Ha yang di kuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. TORGANDA beserta seluruh bangunan yang ada diatasnya dan Koperasi Parsub dan PT. TORUS GANDA, padahal putusan pidana tersebut telah terkoreksi melalui putusan:

- Putusan PK Pengadilan TUN No.06PK/TUN/2008, tanggal 05 Mei 2008.

- Putusan Pengadilan Tinggi. Medan No.434/PDT/PT.MDN/ 2012, tanggal

4 Juni 2012 (sudah berkekuatan hukum tetap.

Bahwa akibat surat Tergugat I tersebut telah mengakibatkan tersendatnya pendistribusian dan penjualan hasil kelapa sawit Penggugat yang dikelola diluar lokasi yang didakwakan JPU dan dalam amar putusan, sehingga menimbulkan kerugian kepada Penggugat, dan dengan demikian Perbuatan Tergugat I adalah merupakan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata.

(21)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

35. Bahwa akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat I,

dengan mengeluarkan surat No.S.174/ Menlhk-II/2015 dan

No.S.13/Menlhk-Setjen/ RHS/2015 Penggugat telah mengalami kerugian materiil sampai saat ini, dengan perhitungan sebagai berikut:

- Kerugian berupa hasil produksi yang dilarang dijual, yaitu 1 (satu)

bulan = Rp 5.000.000 (Lima Juta rupiah) per hektar.

- Bahwa disamping kerugian materiil yang diderita Penggugat, juga

mengalami kerugian immaterill, selaku badan hukum Koperasi PARSUB, bersama anggotanya, akibat perbuatan Tergugat I,II, dan III telah mengganggu ketenangan/kedamaian, dan kepastian berusaha bagi penggugat dalam mengelola dan mengerjakan Kebun Kelapa Sawit di area Padang Lawas tersebut, bahkan banyak anggota koperasi stress, sakit, dan tertekan, yang jika dihitung secara adil dengan uang, maka kerugian yang diderita Penggugat adalah sebesar Rp 1.000.000.000.000,-(satu triliun rupiah).

36. Bahwa karena yang melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap Penggugat adalah Tergugat I, II, III mohon agar Majelis Hakim dalam Perkara ini, menghukum Tergugat I, II, III secara tanggung renteng membayar ganti-rugi materill kepada Penggugat secara tunai dan sekaligus sebesar Rp5.000.000 (lima juta rupiah) per hektar dalam satu bulan, terhitung sejak tanggal 21 April 2015 sampai gugatan ini didaftarkan (selama 7 bulan), sehingga seluruhnya berjumlah 24.000 ha x 7 x Rp 5.000.000 = Rp 840.000.000.000 (delapan ratus empat puluh miliar rupiah).

37. Bahwa Kerugian immateril sebagaimana dikemukakan diatas yang diderita Penggugat sebesar Rp1.000.000.000.000,-(satu triliun rupiah) mohon Majelis Hakim yang mengadili perkara ini menghukum Tergugat I, II, III membayarnya kepada Penggugat secara Tunai, sekaligus dan seketika. 38. Bahwa karena Penggugat mengelola perkebunan kelapa sawit diluar lokasi

yang dimaksud dalam putusan Pidana tersebuat diatas melainkan diatas dan atas hak-hak tradisional masyarakat adat yang diakui oleh konstitusi, yang paralel dengan Putusan TUN nomor 06.PK/TUN/2008, tanggal 05 Mei 2008 Jo Pasal 116 ayat (2) UU No.51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan TUN jo Pasal 97 ayat (9) huruf a UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan TUN. Maka penggugat mohon agar majelis Hakim yang mengadili perkara ini menyatakan sah menurut hukum

(22)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Penggugat mengelola dan membudidayakan perkebunan kelapa sawit tersebut, termasuk untuk menjual dan menerima hasil penjualannya.

39. Bahwa karena Penggugat mengelola perkebunan kelapa sawit adalah dengan cara yang tidak melawan hukum maka Penggugat memohon Majelis Hakim untuk terlebih dahulu.

a. Menyatakan dan menetapkan bahwa sebelum perkara ini memperoleh putusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, surat yang dikeluarkan Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan RI No. S.174/MenLhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 Perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Tapanuli Selatan kepada Penggugat dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015, tanggal 25 Juni 2015, yang ditujukan kepada Ketua Umum GAPKI yang berkaitan dengan pengelolaan dan pembudidayaan perkebunan kelapa sawit yang dikelola Penggugat berdasarkan hak tradisional masyarakat adat secara turun temurun dan hak pemilikan berdasarkan Sertifikat Hak Milik (SHM) berada dalam status quo.

b. Pernyataan bahwa Penggugat berhak untuk meneruskan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dan menjual/ menerima hasil dari kebun kelapa sawit dimaksud tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga termasuk dari Para Tergugat, terhitung sejak dibacakan Putusan Provisi atau setidak-tidaknya dalam waktu 14 hari setelah adanya pembacaan putusan Provisi ini bila Tergugat I tidak melaksanakannya secara sukarela, maka Pengadilan berdasarkan Putusan ini telah memberikan hak secara serta merta kepada Penggugat untuk meneruskan kembali mengelola dan menguasai lahan perkebunan kelapa sawit dimaksud sehingga tidak diperlukan acara penyerahan dari Tergugat I, serta menjual hasil pengelolaannya serta menerima hasil penjualannya sebagai pihak yang berhak.

40. Bahwa karena tindakan Tergugat II membuat Berita Acara Eksekusi dalam hal ini Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara, tanggal 26 Agustus 2009 secara sewenang-wenang dengan hanya membuat berita acara diantara Tergugat II cq Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dengan Tergugat I cq Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tanpa melakukan pengukuran dilapangan dan tidak membuat batas-batas yang pasti menurut

(23)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

hukum serta tanpa kehadiran pihak-pihak terkait maka berita acara eksekusi tersebut mohon Majelis Hakim menyatakan Berita Acara Eksekusi tersebut tidak sah, dan tidak berharga.

41. Bahwa Tergugat III, dalam hal ini selaku Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Utara, selaku pejabat yang berwenang untuk mengetahui kawasan hutan dan yang bukan kawasan hutan di Provinsi Sumatra Utara wajib mengetahui bahwa areal Perkebunan Kelapa Sawit yang dikelola Penggugat seluas 24.000 ha, bukan di kawasan hutan akan tetapi di areal Padang Lawas berdasarkan hak tradisional yang turun temurun yang diakui Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 jo Pasal 3 UUPA Tahun 1960, akan tetapi Tergugat III telah ikut menandatangani Berita Acara Penyerahan Barang Rampasan dan menerima penyerahan yang dilakukan oleh Tergugat II, tanggal 26 Agustus 2009, sehingga dengan demikian perbuatan Tergugat III adalah merupakan Perbuatan Melawan Hukum.

42. Bahwa ada kekhawatiran yang sangat beralasan para tergugat akan memaksakan eksekusi secara tidak berdasar sehingga untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan agar gugatan perkara ini tidak menjadi sia-sia penggugat memohon dengan sangat kepada bapak Ketua Pengadilan Negeri untuk terlebih dahulu meletakan sita milik atas objek sengketa berupa kebun kelapa sawit yang dikelola oleh Penggugat.

Bahwa untuk menentukan letak yang pasti dari Objek sengketa yang Penggugat mohon untuk disita bersama ini dimohon kepada Bapak Pengadilan Negeri agar menentukan sita atas lokasi objek sengketa dengan menggunakan instrument Global Positioning System (GPS) sehingga diperolah koordinat geografis secara spasial dengan akurat dan yang dapat menghindarkan masalah kesalahan penentuan objek perkara (error in

objecto) seperti yang dialami dalam putusan Pidana

No.481/PID.B/2006/PN.JKT.PST tanggal 28 Juni 2006 jo Putusan PT.

Jakarta No.194/Pid/2006/PT.DKI, 11 Oktober 2006 jo Putusan

No.2642K/PID/ 2006 tanggal 12 Februari 2007 jo Putusan

No.39PK/PID.SUS/2007, tanggal 16 Juni 2008.

43. Bahwa agar putusan dalam perkara ini dilaksanakan oleh Tergugat I, II, III mohon yang mulia Majelis Hakim perkara ini menghukum, memerintahkan Tergugat I,II, III untuk bertanggung jawab secara bersama sama untuk membayar uang paksa (dwangsom) Rp100.000.000 (seratus juta rupiah)

(24)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

setiap hari, apabila Tergugat I, II, III tidak melaksanakan putusan ini, terhitung sejak putusan ini berkekuatan hukum yang pasti.

44. Bahwa karena sifat perkara ini sangat exepsionil dan sangat penting mengingat kepentingan yang sangat pokok sebagai sumber nafkah anggota Koperasi Parsub (Penggugat) dan demi kemanusiaan, mohon Majelis Hakim perkara ini agar putusan dapat dilaksanakan lebih dahulu, walaupun ada banding maupun kasasi (uitvoerbaar bij voorraad).

45. Bahwa Turut Tergugat ditarik sebagai pihak dalam perkara ini, mengingat objek perkara ini adalah langsung berhubungan dengan kewenangan turut Tergugat selaku organ Pemerintah yang telah mengeluarkan ribuan Sertifikat Hak Milik dan puluhan Hak Guna Usaha di Areal Padang Lawas yang diklaim sebagai Kawasan Hutan oleh para Tergugat, termasuk sebagian dari sertifikat yang diterbitkan Turut Tergugat diatas lahan yang dikelola Penggugat dan telah dirampas Tergugat II dan diserahkan kepada Tergugat III secara semena-mena. Dengan demikian mohon Majelis hakim perkara ini menyatakan turut Tergugat tunduk dan mentaati putusan dalam perkara ini.

Berdasarkan hal-hal yang Penggugat kemukakan diatas mohon Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini kiranya berkenan memutuskan sebagai berikut:

DALAM PROVISI.

1. Menyatakan dan menetapkan bahwa sebelum perkara ini memperoleh putusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, surat yang dikeluarkan Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan RI No. S.174/MenLhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 Perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Tapanuli Selatan kepada Penggugat dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015, tanggal 25 Juni, yang ditujukan kepada Ketua Umum GAPKI yang berkaitan dengan pengelolaan dan pembudidayaan perkebunan kelapa sawit yang dikelola Penggugat berdasarkan hak tradisional masyarakat adat secara turun temurun dan hak pemilikan berdasarkan Sertifikat Hak Milik (SHM) berada dalam status quo. 2. Menyatakan Pernyataan bahwa Penggugat berhak untuk meneruskan

pengelolaan perkebunan kelapa sawit dan menjual/ menerima hasil dari kebun kelapa sawit dimaksud tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga termasuk dari Para Tergugat, terhitung sejak dibacakan Putusan

(25)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Provisi atau setidak-tidaknya dalam waktu 14 hari setelah adanya pembacaan putusan Provisi ini bila Tergugat I tidak melaksanakannya secara sukarela, maka Pengadilan berdasarkan Putusan ini telah memberikan hak secara serta merta kepada Penggugat untuk meneruskan kembali mengelola dan menguasai lahan perkebunan kelapa sawit dimaksud sehingga tidak diperlukan acara penyerahan dari Tergugat I, serta menjual hasil pengelolaannya serta menerima hasil penjualannya sebagai pihak yang berhak.

3. Menghukum Tergugat I, II, III, dan Turut Tergugat untuk tidak menghalangi Penggugat untuk mengelola dan membudidayakan Perkebunan Kelapa Sawit yang dikelola Penggugat berdasarkan hak tradisional masyarakat adat secara turun temurun dan hak kepemilikan berdasarkan SHM.

Sejak putusan Provisi dibacakan atau setidak-tidaknya dalam waktu 14 hari setelah adanya pembacaan putusan Provisi ini bila Tergugat I, II, III lalai atau tidak melaksanakannya secara sukarela, maka Pengadilan berdasarkan Putusan ini telah memberikan hak secara serta merta kepada Penggugat untuk meneruskan kembali mengelola dan menguasai perkebunan kelapa sawit (PKS) dimaksud sehingga tidak diperlukan acara penyerahan dari Tergugat I atau Tergugat II ataupun Tergugat III serta menjual hasil pengelolaannya serta menerima hasil penjualannya sebagai pihak yang berhak.

DALAM POKOK PERKARA:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Para Penggugat seluruhnya.

2. Menyatakan Perbuatan Para Tergugat merupakan perbuatan melawan hukum (Onrechtmatige Daad).

3. Menyatakan sah dan berharga sita yang diletakan diatas objek sengket. 4. Menyatakan sah dan berharga putusan provisi tentang:

a. Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.

No.S.174/MenLhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan, Bupati Padang Lawas Utara, dan Bupati Tapanuli Selatan, kepada Penggugat, dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015, tanggal 25 Juni 2015, yang ditujukan kepada Ketua Umum GAPKI sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap.

(26)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

b. Pernyataan bahwa Penggugat berhak untuk meneruskan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dan menjual/menerima hasil dari kebun kelapa sawit dimaksud tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga termasuk dari para Tergugat, terhitung sejak dibacakan putusan Provisi atau setidak-tidaknya dalam waktu 14 hari setelah adanya pembacaan putusan Provisi ini bila Tergugat I tidak melaksanakannya secara sukarela, maka Pengadilan berdasarkan Putusan ini telah memberikan hak secara serta merta kepada Penggugat untuk meneruskan kembali mengelola dan menguasai lahan perkebunan kelapa sawit dimaksud sehingga tidak diperlukan acara penyerahan dari Tergugat I, serta menjual hasil pengelolaannya serta menerima hasil penjualannya sebagai pihak yang berhak.

c. Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.

No.S.174/MenLhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan, Bupati Padang Lawas Utara, dan Bupati Tapanuli Selatan, kepada Penggugat, dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015, tanggal 25 Juni 2015, yang ditujukan kepada Ketua Umum GAPKI sebagai tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat (buiten effect).

5. Menyatakan Gouvernement Besluit (G.B) No.50 tanggal 25 Juni 1924 yang tidak pernah ada aslinya dan tidak terdaftar dalam staatsblad Hindia Belanda tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk penetapan kawasan hutan di Padang Lawas karena tidak ada informasi koordinat geographis dan data spasial (peta lokasi).

6. Menyatakan bahwa Penggugat mengelola Perkebunan Kelapa Sawit di areal Padang Lawas berdasarkan hak-hak tradisonil yang turun temurun seluruhnya 24.000 ha, yang sebagian lahan tersebut sudah bersertifikat Hak Milik yang diakui oleh Pasal 18B Ayat (2) UUD 1945 jo Pasal 3 UUPA Tahun 1960 adalah sah menurut hukum.

7. Menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan Penggugat bukan di lokasi yang disebutkan dalam Dakwaan maupun Putusan Pidana No.2642K/PID/2006 tanggal 12 Februari 2007 jo Putusan No.39PK/PID.SUS/2007, Tanggal 16 Juni 2008 yaitu di 5 (lima) desa di Kecamatan Barumun Tengah.

8. Menyatakan bahwa amar putusan Pidana nomor 481/PID.B/2006/PN.JKT. PST Jo Putusan nomor 2642K/PID/2006 yang bunyinya “merampas barang

(27)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

bukti” berupa Perkebunan Kelapa Sawit di kawasan hutan Padang Lawas seluas ± 23.000 ha yang dikuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT.Torganda beserta seluruh bangunan yang ada diatasnya, dan Perkebunan Kelapa Sawit dikawasan hutan Padang Lawas seluas ± 24.000 ha yang dikuasai oleh Koperasi PARSUB dan PT.Torus Ganda beserta seluruh bangunan yang ada diatasnya, dirampas untuk Negara, adalah amar putusan yang tidak sah dan batal demi hukum.

9. Menyatakan Perkebunan Kelapa Sawit dikawasan hutan Padang Lawas seluas ± 24.000 ha beserta seluruh bangunan yang ada diatasnya, adalah hak Penggugat yang sah.

10. Menyatakan Berita Acara Eksekusi yang dilakukan Tergugat II tanggal 26 Agustus 2009 yang diserahkan kepada Tergugat III tidak sah dan tidak berharga karena bertentangan dengan hukum.

11. Menyatakan sah menurut hukum, Penggugat mengelola dan

membudidayakan Perkebunan Kelapa Sawit yang menjadi haknya termasuk untuk menjual hasil perkebunan dan menerima hasil penjualannya sesuai dengan putusan Peninjauan Kembali Peradilan TUN No.06.PK/TUN/2008, tanggal 05 Mei 2008 Jo Pasal 116 ayat (2) UU Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan TUN jo Pasal 97 ayat (9) huruf a UU No.5 Tahun 1986 tentang Peradilan TUN. 12. Menghukum Tergugat I, II, III dan turut Tergugat untuk tidak menghalangi

Penggugat mengelola dan membudidayakan Perkebunan Kelapa Sawit berdasarkan hak tradisional masyarakat adat secara turun temurun dan hak kepemilikan berdasarkan Sertifikat Hak Milik (SHM).

13. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng membayar ganti-rugi materiil kepada Penggugat sebesar Rp840.000.000.000,-(delapan ratus empat puluh miliar rupiah) secara tunai dan ganti-rugi immaterill sebesar Rp1.000.000.000.000,-(satu triliun rupiah).

14. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng membayar uang paksa (dwangsom) Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah) setiap hari, akibat keterlambatan/ lalai melaksanakan atau mematuhi putusan ini, terhitung sejak putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap.

15. Menyatakan Putusan dalam perkara ini dapat dilaksanakan lebih dahulu walaupun ada banding maupun kasasi (uitvoerbaar bij voorraad).

16. Menyatakan turut Tergugat tunduk dan taat terhadap putusan ini.

17. Menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini.

(28)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Apabila yang mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aequo Et Bono).

Menimbang, bahwa terhadap surat gugatan Penggugat tersebut, Tergugat I sekarang Pembanding I, telah mengajukan jawaban, yang Majelis Hakim terima pada sidang tanggal 24 Februari 2016, yang pada pokoknya adalah sebagai berikut:

1. DALAM EKSEPSI

1. Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tidak Berwenang untuk Memeriksa dan Mengadili Perkara a quo (Kompetensi Absolut).

Penggugat dalam Petitum memori gugatnya pada angka 4 huruf (a) halaman 24 mengajukan permohonan kepada majelis hakim a quo untuk menyatakan tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat (buiten effect) Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan dan Bupati Tapanuli Selatan kepada KPKS bukit Harapan, PT. Torganda, Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu (Parsub) serta PT. Torus Ganda dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015 perihal pemberitahuan putusan MA Nomor: 2642 K/Pid/2006 tentang Register 40 Padang Lawas yang ditujukan kepada ketua GAPKI

Terhadap petitum Penggugat tersebut, Tergugat I tanggapi sebagai berikut:

a. Berdasarkan ketentuan Pasal 53 Ayat (1) Undang-Undang Nomor: 5 Tahun 1986 jo. Undang-undang Nomor: 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara diatur bahwa: “Seseorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitas”

(29)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

b. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Angka 9 Undang-undang Nomor: 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Undang-undang Nomor: 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara diatur bahwa: “Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluaekan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi

tindakan hukumTata Usaha Negara berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual dan final, yang menimbulakan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata”.

c. Bahwa Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 perihal Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan dan Bupati Tapanuli Selatan kepada KPKS bukit Harapan, PT. Torganda, Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu (Parsub) serta PT. Torus Ganda dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015 perihal pemberitahuan putusan MA Nomor: 2642 K/Pid/2006 tentang Register 40 Padang Lawas merupakan penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara dalam hal ini Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Tergugat I), yang bersifat: Konkret, karena keputusan tersebut berisi Penghentian Pelayanan oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Padang Lawas Selatan

dan Bupati Tapanuli Selatan kepada koperasi Parsadaan

Simangambat Ujung Batu (Parsub).

Individual, karena Keputusan TUN tersebut ditujukan kepada pihak tertentu dhi. Ketua GAPKI.

Final, karena Keputusan tersebut sudah memiliki akibat hukum untuk dilaksanakan, yaitu GAPKI berhak untuk tidak menerima hasil perkebunan yang berasal dari pihak lain harus menghormati Keputusan tersebut (erga omnes).

Berdasarkan uraian tersebut diatas, karena Petitum Penggugat berisi permohonan kepada Majelis Hakim untuk menyatakan tidak sah Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan RI No. S.174/Menlhk-II/2015 tanggal 21 April 2015 dan Surat Menteri Lingkungan Hidup dan

(30)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

Kehutanan No. S.13/Menlhk-Set.Jen/RHS/2015 tanggal 25 Juni 2015 yang merupakan Keputusan Tata Usaha Negara, maka yang berwenang untuk memutuskan dan mengadili adalah badan peradilan Tata Usaha Negara, sehingga Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo (kompetensi absolute)

Dengan demikian cukup beralasan bagi majelis Hakim a quo untuk menjatuhkan putusan sela dengan menyatakan gugatan tidak dapat diterima (niet onvantkelijke verklaard)

2. Penggugat Tidak Mempunyai Kekuatan Hukum

Dalil Penggugat angka 6 halaman 5 s/d 6 yang intinya menyatakan bahwa Penggugat sangant mempunyai kepentingan hukum langsung dalam gugatan ini adalah dalil yang tidak beralasan hukum, dengan alasan:

a. Azas dasar dalam hukum acara Perdata adalah azas point d’interet point d’action, yang berarti bahwa barangsiapa yang mempunyai kepentingan dapat mengajukan gugatan.

b. Dalam perkara a aquo, Penggugat mendalilkan mengenai putusan tanggal 28 Juni 2006 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor: 194/Pid/2006/PT.DKI tanggal 11 Oktober 2006 jo. Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007 jo. Putusan Mahkamah Nomor: 39 PK/Pid.Susu/2007 tanggal 26 Juni 2008.

c. Bahwa dalam putusan tersebut huruf b di atas, yang telah berkekuatan hukum tetap (Inkracht van gewijsde), Darianus Lunguk Sitorus dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan dan menduduki kawasan hutan secara tidak sah yang dilakukan secara bersama-sama dan dalam bentuk sebagai perbuatan berlanjut.

d. Selanjutnya dalam putusan tersebut dinyatakan barang bukti yang disita berupa:

- Perkebunan kelapa sawit di kawasna hutan Padang Lawas seluas + 23.000 hektar yang dikuasai oleh KPKS Bukit Harapan dan PT. Torganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.

(31)

PENGADILAN TINGGI MEDAN

- Perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan Padangf Lawas seluas + 24.000 hektar yang dikuasai oleh Koperasi Parsub dan PT. Torus Ganda beserta seluruh bangunan yang ada di atasnya.

Dirampas untuk Negara dalam hal ini Departemen Keuangan.

e. Bahwa terhadap perkebunan sebagaimana butir d di atas, telah dilakukan eksekusi administrasi oleh Kejaksaan Tinggi Medan sesuai Berita Acara tanggal 26 Agustus 2009.

f. Bahwa meskipun sudah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde), Penggugat secara melawan hukum masih menguasai objek perkara dimaksud, yang sebenarnya di rampas dan di kelola oleh Negara.

Dengan demikian, maka Penggugat tidak mempunyai kepentingan hukum untuk mengajukan gugatan a quo, sehingga cukup alasan bagi Majelis Hakim a quo untuk menjatuhkan Putusan sela dengan menyatakan gugatan tidak dapat diterima (Niet ontankelijke verklaard). II. DALAM POKOK PERKARA.

1. Segala uraian yang terdapat dalam pokok perkara ini merupakan satu kesatuan dengan eksepsi yang telah di sampaikan di atas.

2. Bahwa tanah sengketa a quo merupakan adalah Kawasan Hutan

Register 40 Padang Lawas berdasarkan:

1) Government Besluit (GB) Nomor: 50/1924 tanggal 25 Juni 1924.

2) Berita Acara Penyerahan tanah Kawasan Hutan Padang Lawas dari

masyarakat kepada Gubernur

- Tertanggal 20 Mei 2981 seluas 12.000 Ha. - Tertanggal 26 Mei 1981 seluas 10.000 Ha. - Tertanggal 6 Juni 1981 seluas 8.000 Ha.

3) Keputusan Manteri Pertanian Nomor: 923/Kpts/Um/12/1982 tanggal

27 Desember 1982 tentang Penunjukan areal hutan di Wilayah Provinsi Dati I sumatera Utara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk mengetahui seberapa jauh aspek wujud fisik yang paling tepat, yaitu masih memberikan impresi positif terhadap

E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu menggunakan internet (teknologi

Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan sistem administrasi terpadu kecamatan PATEN pada kantor kecamatan Lumbis Induk Kabupaten Nunukan

13) Bahwa dengan demikian telah terbukti secara jelas dan nyata-nyata bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak tidak cermat dalam meneliti bukti- bukti yang terkait dengan

Agar dalam penyusunan laporan akhir ini menjadi lebih terarah dan tidak menyimpang dari tujuan pembahasan, maka penulis membatasi pokok permasalahan yang akan

5 Kenyataan manakah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar I Kesalahan yang mendapat balasan azab di akhirat II Kesalahan yang dikenakan hukuman tertentu di dunia III

Simpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah paparan bising intermittent kronik dapat mempengaruhi kadar CD8 + pada tikus putih

Artikel ini merupakan bagian dari Penelitian Tindakan Kelas. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan guru dalam mengenalkan kosakata bahasa Inggris