ABSTRAK. Kata Kunci: Ergonomi Total, Penuang, Industri, Respons Fisiologis, Produktivitas. viii

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

viii ABSTRAK

APLIKASI ALAT PENUANG BERBASIS ERGONOMI TOTAL MEMPERBAIKI RESPONS FISIOLOGIS DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PEKERJA INDUSTRI ROTI KUKUS DI DENPASAR

Industri roti kukus memiliki potensi ekonomi yang baik di Bali. Permintaan pasar yang tinggi menuntut industri roti kukus berproduksi maksimal dan mengabaikan aspek kesehatan pekerjanya. Proses kerja yang paling dikeluhkan oleh pekerja adalah proses penuangan adonan karena penggunaan alat yang kurang ergonomis sehingga terjadi gerakan repetitif. Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total dapat dijadikan solusi untuk menghilangkan sebagian besar gerakan repetitif pada proses tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total untuk memperbaiki respon fisiologis dan meningkatkan produktivitas pekerja industri roti kukus.

Penelitian menggunakan rancangan eksperimental cross over. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja industri roti kukus di Kota Denpasar. Sampel yang digunakan adalah simple random sampling sebesar 14 orang. Penelitian dilakukan pada bulan April 2018 di suatu ruang simulasi untuk mengontrol berbagai faktor yang berpotensi menyebabkan bias dalam penelitian ini. Pengukuran variabel beban kerja menggunakan denyut nadi kerja, keluhan muskuloskeletal menggunakan kuesioner Nordic Body Map, kelelahan menggunakan waktu reaksi, dan gaya otot menggunakan timbangan berat badan.

Hasil penelitian didapatkan aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan beban kerja pekerja industri roti kukus di Denpasar sebesar 3,41%, penurunan keluhan muskuloskeletal sebesar 4,54%, penurunan kelelahan sebesar 7,59%, penurunan gaya otot sebesar 84,88%, serta meningkatkan produktivitas pekerja sebesar hingga 121%. Penggunaan alat penuang berbasis ergonomi total juga memberi nilai lebih pada proses lainnya yaitu pada proses pembungkusan, yang dapat mempercepat proses pengerjaan dan produksi yang lebih higienis.

Disimpulkan penggunaan alat penuang adonan berbasis ergonomi total dapat menyebabkan eliminasi sebagian besar gerakan repetitif dan waktu produksi yang lebih singkat sehingga penggunaan energi pada otot dapat berkurang sehingga memperbaiki respons fisiologis yang terjadi serta meningkatkan produktivitas pekerja. Pada akhirnya intervensi ini dapat meningkatkan keuntungan industri. Kata Kunci: Ergonomi Total, Penuang, Industri, Respons Fisiologis, Produktivitas

(2)

ix ABSTRACT

POURING TOOLS BASED ON TOTAL ERGONOMC APPROACH IMPROVE PHYSIOLOGICAL RESPONSES AND INCREASE WORKER

PRODUCTIVITY ON STEAM CAKE INDUSTRY IN DENPASAR Steam cake industry has economic potential in Bali. High market demand requires the industry to produce maximum steamed cake and ignore the health aspects of its workers. The working process most complained by the workers is the dough pouring process which is caused by using unergonomic tools resulting in repetitive movement. A total ergonomic-based pouring tools can be used as a solution to eliminate some repetitive movements. The purpose of this study is to apply the total ergonomic-based pouring tools so as can improve physiological responses and increase the productivity of the steamed cake workers.

The study used an experimental cross-over design. Population of this study is all steamed cake industry workers in Denpasar City. The sample used is a simple random sampling of 14 people. The study was conducted in April 2018 in a simulation room to control factors that could potentially cause biases in this study. Measurement of workload was using pulse, musculoskeletal complaint using Nordic Body Map questionnaire, fatigue using reaction time, and muscle force using weight scales.

The result of this research is that the application of total ergonomic-based pouring tools can improve physiological responses by decrease workload 3.41%, decrease musculoskeletal complain 4.54%, decrease fatigue 7.59%, decrease muscle force 84.88%, and increase productivity by up to 121%. The use of total ergonomic based pouring tools also gives more value to other processes, ie in the packaging process, which can accelerate the process of production and improve product hygiene.

It can be concluded that the use of total ergonomic-based pouring tools can lead to the eliminating most repetitive movements and shorter production time so that the use of energy in the muscle can be reduced so as to improve the physiological responses and increase worker productivity. For the outcome, this intervention can increase industry profits.

Keywords: Total Ergonomic, Pouring Tools, Industry, Physiology Responses, Productivity

(3)

x DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iv

PENETAPAN PANITIA UJIAN DISERTASI ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR RUMUS... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 11 1.3 Tujuan Penelitian ... 12 1.3.1 Tujuan Umum ... 12 1.3.2 Tujuan Khusus ... 12 1.4 Manfaat Penelitian ... 13 1.4.1 Manfaat akademik ... 13 1.4.2 Manfaat praktis ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

2.1 Industri Roti Kukus di Bali ... 15

2.2 Respons Fisiologis ... 19

2.2.1 Beban kerja (workload) ... 19

2.2.2 Kelelahan kerja ... 24

2.2.3 Keluhan muskuloskeletal... 30

2.2.4 Gaya Otot... 34

2.3 Produktivitas ... 36

2.3.1 Produktivitas kerja ... 36

(4)

xi

2.3.3 Ergonomi dan aspek ekonomi ... 39

2.4 Konsep Ergonomi ... 40

2.5 Antropometri dalam Desain Fasilitas Stasiun Kerja ... 43

2.6 Sikap Kerja ... 46

2.7 Faktor Lingkungan Kerja Fisik ... 50

2.8 Kesehatan ... 52

2.9 Pendekatan Ergonomi Total (SHIP & TTG) ... 55

2.9.1 Pendekatan SHIP ... 55

2.9.2 Pemanfaatan TTG ... 57

2.10 Alat Penuang Berbasis Ergonomi Total... 58

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 68

3.1 Kerangka Berpikir... 68

3.2 Konsep Penelitian ... 72

3.3 Hipotesis Penelitian ... 73

BAB IV METODE PENELITIAN ... 74

4.1 Rancangan Penelitian ... 74

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 75

4.3 Penentuan Sumber Data ... 75

4.3.1 Populasi target dan terjangkau... 75

4.3.2 Kriteria eligibilitas ... 75

4.3.3 Besar sampel penelitian ... 76

4.3.4 Teknik pemilihan sampel penelitian ... 77

4.4 Variabel Penelitian ... 78

4.4.1 Identifikasi dan klasifikasi variabel ... 78

4.4.2 Definisi operasional variabel ... 78

4.5 Instrumen Penelitian ... 82

4.6 Prosedur Penelitian ... 84

4.6.1 Tahapan persiapan penelitian ... 84

4.6.2 Protokol penelitian... 85

4.6.3 Alur Penelitian ... 87

4.7 Pengolahan dan Analisis Data ... 89

(5)

xii

4.7.2 Analisis efek periode ... 90

4.7.3 Analisis efek sisa ... 90

4.7.4 Analisis efek perlakuan ... 90

4.8 Analisis Biaya dan Manfaat ... 93

BAB V HASIL PENELITIAN... 94

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian ... 94

5.2 Kondisi Lingkungan ... 95

5.3 Beban Kerja ... 96

5.3.1 Analisis Efek Periode Beban Kerja ... 96

5.3.2 Analisis Efek Sisa Beban Kerja ... 97

5.3.3 Analisis Efek Perlakuan pada Beban Kerja ... 97

5.3.4 Penggunaan Energi Selama Bekerja ... 100

5.4 Keluhan Muskuloskeletal ... 101

5.4.1 Analisis Efek Periode Keluhan Muskuloskeletal ... 101

5.4.2 Analisis Efek Sisa Keluhan Muskuloskeletal ... 102

5.4.3 Analisis Efek Perlakuan pada Keluhan Muskuloskeletal ... 102

5.5 Kelelahan ... 104

5.5.1 Analisis Efek Periode Kelelahan ... 104

5.5.2 Analisis Efek Sisa Kelelahan... 105

5.5.3 Analisis Efek Perlakuan pada Kelelahan ... 106

5.6 Gaya Otot ... 107

5.6.1 Analisis Efek Periode Gaya Otot ... 107

5.6.2 Efek Perlakuan pada Gaya Otot ... 108

5.6.3 Selisih Gaya Otot Per Segmen ... 109

5.6.4 Impuls (Energi Otot)... 110

5.7 Produksi ... 112

5.7.1 Jumlah Produksi ... 112

5.7.2 Waktu Produksi ... 114

5.8 Produktivitas ... 114

5.8.1 Analisis Efek Periode Produktivitas ... 115

5.8.2 Analisis Efek Perlakuan Produktivitas ... 116

5.8.3 Pemasaran ... 116

BAB VI PEMBAHASAN ... 118

(6)

xiii 6.2 Kondisi Lingkungan ... 120 6.3 Beban Kerja ... 121 6.4 Keluhan Muskuloskeletal ... 125 6.5 Kelelahan ... 128 6.6 Gaya Otot ... 131 6.7 Produksi ... 135 6.8 Produktivitas ... 139 6.8.1 Produktivitas Pekerja ... 139

6.8.2 Analisis Biaya dan Manfaat... 141

6.9 Pemanfaatan Alat Penuang Berbasis Ergonomi Total oleh Pekerja . 144 6.10 Kelemahan Penelitian ... 145

6.11 Kebaruan Penelitian (Novelty) ... 146

6.11.1 Alat Cetak ... 146

6.11.2 Alat Pengarah ... 149

6.11.3 Analisis Biomekanika Melalui Gaya dan Impuls Otot ... 150

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 151

7.1 Simpulan ... 151

7.2 Saran ... 152

DAFTAR PUSTAKA ... 153

(7)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kecepatan Proses Menuang Adonan... 17

Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja... 20

Tabel 2.3 Penggolongan Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi ... 24

Tabel 2.4 Kecepatan Menuang Adonan ... 65

Tabel 4.1 Perhitungan Jumlah Sampel ... 77

Tabel 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian ... 94

Tabel 5.2 Kondisi Lingkungan Fisik ... 95

Tabel 5.3 Hasil Analisis Efek Periode Beban Kerja ... 96

Tabel 5.4 Hasil Analisis Efek Sisa Beban Kerja ... 97

Tabel 5.5 Hasil Analisis Efek Perlakuan pada Beban Kerja ... 98

Tabel 5.6 Hasil Analisis Denyut Nadi Kerja Tiap Segmen Kegiatan ... 99

Tabel 5.7 Hasil Analisis Total Denyut Nadi Kedua Perlakuan ... 100

Tabel 5.8 Hasil Analisis Efek Periode Keluhan Muskuloskeletal ... 101

Tabel 5.9 Hasil Analisis Efek Sisa Keluhan Muskuloskeletal ... 102

Tabel 5.10 Hasil Analisis Efek Perlakuan pada Keluhan Muskuloskeletal ... 103

Tabel 5.11 Skor Keluhan Muskuloskeletal per Segmen Terbanyak ... 104

Tabel 5.12 Hasil Analisis Efek Periode Kelelahan ... 105

Tabel 5.13 Hasil Analisis Efek Sisa Kelelahan ... 105

Tabel 5.14 Hasil Analisis Efek Perlakuan pada Kelelahan ... 106

Tabel 5.15 Hasil Analisis Efek Periode Gaya otot ... 108

Tabel 5.16 Hasil Analisis Efek Perlakuan pada Gaya Otot ... 108

Tabel 5.17 Hasil Analisis Selisih Gaya Otot Tiap Segmen Kegiatan ... 109

Tabel 5.18 Hasil Analisis Selisih Impuls ... 111

Tabel 5.19 Hasil Analisis Efek Perlakuan pada Kualitas Produksi Roti Kukus . 113 Tabel 5.20 Hasil Analisis Waktu Produksi ... 114

Tabel 5.21 Hasil Analisis Efek Periode Produktivitas ... 115

(8)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Roti kukus ... 15

Gambar 2.2 Pengukuran Antropometri ... 45

Gambar 2.3 Berbagai sikap kerja pada industri roti kukus ... 49

Gambar 2.4 Desain Cetakan ... 61

Gambar 2.5 Desain alat cetak... 62

Gambar 2.6 Desain alat pengarah adonan ... 62

Gambar 2.7 Desain alat penyangga ... 63

Gambar 2.8 Susunan alat penuang berbasis ergonomi total saat digunakan... 64

Gambar 2.9 Grafik kecepatan menuang adonan dengan alat baru dan alat lama . 66 Gambar 3.1 Konsep Penelitian ... 72

Gambar 4.1 Bagan Rancangan Penelitian ... 74

Gambar 4.2 Bagan Alur Penelitian ... 89

Gambar 6.1 Desain Cetakan ... 147

Gambar 6.2 Desain Alat Cetak... 147

(9)

xvi

DAFTAR RUMUS

Rumus 2.1 Produktivitas ... 37 Rumus 4.1 Jumlah Sampel Minimal ... 76

(10)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Desain alat penuang berbasis ergonomi total ... 161

Lampiran 2 Ethical Clearance ... 163

Lampiran 3 Sertifikat Good Clinical Practice ... 164

Lampiran 4 Formulir Persetujuan Menjadi Sampel ... 165

Lampiran 5 Kuesioner Nordic Body Map ... 166

Lampiran 6 Alat Ukur ... 167

Lampiran 7 Hasil Uji Statistik... 168

(11)

xviii

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

a : Konstanta (0,05) atau Zα = 1,960.

b : Konstanta (0,10) atau Zβ = -1,645.

m1 : Rerata skor dari variabel yang akan diteliti/ rerata pengukuran.

m2 : Estimasi peningkatan atau penurunan rerata skor dari variabel yang

akan diteliti setelah intervensi ergonomi < : Lebih kecil

= : Sama dengan

> : Lebih besar Adp : Adaptasi

APD : Alat Pelindung Diri ATP : Adenosin Trifosfat CO2 : Karbon Dioksida

CVL : Cardiovascular Load dBA : desibel

dpm : denyut nadi per menit

ENASE : Efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien

g : gram

IMT : Indeks Massa Tubuh

kg : kilogram

KTP : Kartu Tanda Penduduk mdtk : milidetik

N : Newton

n : Jumlah sampel untuk tiap perlakuan. NBM-Q : Nordic Body Map Questionnaire

O1 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, denyut nadi istirahat, dan kelelahan sebelum bekerja pada Periode I kelompok I

O2 : Oksigen

O2 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, nadi kerja, kelelahan, dan produktivitas pekerja setelah bekerja pada Periode I kelompok I

O3 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, denyut nadi istirahat, dan kelelahan sebelum bekerja pada Periode I kelompok II O4 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, nadi kerja,

kelelahan, dan produktivitas pekerja setelah bekerja pada Periode I kelompok II

O5 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, denyut nadi istirahat, dan kelelahan sebelum bekerja pada Periode II kelompok I

(12)

xix

O6 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, nadi kerja, kelelahan, dan produktivitas pekerja setelah bekerja pada Periode II kelompok I

O7 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, denyut nadi istirahat, dan kelelahan sebelum bekerja pada Periode II kelompok II O8 : Pendataan pekerja terhadap keluhan muskuloskeletal, nadi kerja,

kelelahan, dan produktivitas pekerja setelah bekerja pada Periode II kelompok II

p : signifikansi

P : Populasi

P1 : Penggunaan alat penuang adonan lama

P2 : Penggunaan alat penuang berbasis ergonomi total

Ra : Random Alokasi

Rp : Rupiah

Rs : Random Sampling

S : Subjek

SB : Simpang Baku

SHIP : Sistemik, Holistik, Interdisipliner, Partisipatori

th : Tahun

TTG : Teknologi Tepat Guna WHO : World Health Organization

WO : Washing Out

σ : Standar deviasi (simpang baku)

(13)

1 1 BAB I BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tuntutan hidup masyarakat perkotaan akhir-akhir ini semakin tinggi sehingga berimbas pada meningkatnya kesibukan dalam berkarir. Di samping itu masyarakat juga dituntut tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan adat yang ikut menyita waktu serta tenaga khususnya masyarakat di Bali. Sebagian besar masyarakat di Bali khususnya masyarakat di Kota Denpasar menyiasati keadaan ini dengan mengandalkan industri penyedia sarana upakara adat seperti industri pembuat canang, banten, serta kue untuk persembahan. Kue untuk persembahan yang umum digunakan yaitu jaje uli, jaje begina, dodol, roti kukus, dan lain sebagainya.

Peningkatan jumlah penduduk Denpasar yang cukup pesat berpotensi diikuti oleh peningkatan kebutuhan roti kukus sebagai sarana upakara maupun konsumsi sehari-hari. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, laju pertumbuhan penduduk di Denpasar pada tahun 2015 sebesar 1,97% per tahun yang merupakan terbesar ke dua setelah Kabupaten Badung (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2015). Angka pertumbuhan penduduk Denpasar berada di atas laju pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1,40% per tahun (Badan Pusat Statistik, 2015).

Peningkatan kebutuhan roti kukus terjadi terutama pada saat hari-hari suci agama Hindu di Bali seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Pagerwesi, dan lain sebagainya. Permintaan roti kukus pada satu pedagang roti kukus di Pasar Badung pada saat Purnama berkisar antara 400 hingga 600 bungkus sehari dan jumlah permintaan roti kukus semakin meningkat saat hari suci yang lebih besar.

(14)

2

Pada rangkaian hari raya Galungan, permintaan roti kukus bahkan melebihi kemampuan produksi para produsennya. Saat hari raya Galungan, satu pedagang kue di Pasar Badung mampu menjual 2000 hingga 4000 roti kukus tiap harinya selama rangkaian hari raya Galungan yang berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dengan perhitungan harga roti kukus Rp.1.250,00 per bungkus maka pada satu pedagang kue akan terjadi perputaran uang sebesar Rp.500.000,00 hingga Rp.750.000,00 pada hari Purnama dan Rp.2.500.000,00 hingga Rp.5.000.000,00 per hari saat hari raya Galungan. Jumlah pedagang kue tetap di Pasar Badung berjumlah 6 pedagang sehingga total jumlah perputaran uang di Pasar Badung yang dihasilkan oleh roti kukus sendiri cukup besar, mencapai Rp.30.000.000,00 saat hari raya Galungan, di luar pedagang musiman yang berdagang hanya saat hari-hari tertentu. Perhitungan perputaran uang yang cukup besar ini merupakan hasil dari penjualan roti kukus saja, di luar penjualan kue-kue yang lainnya (Dinata et al., 2015).

Besarnya kebutuhan roti kukus di Denpasar menjadikan industri ini sebagai industri potensial. Industri roti kukus di Denpasar kebanyakan masih berskala industri rumah tangga di mana jumlah pekerjanya kurang dari empat orang. Industri ini belum memiliki modal yang besar dan dikelola dengan sederhana. Pengelolaannya belum mempertimbangkan kajian ergonomi seperti aspek task, organisasi, lingkungan, sehingga potensi terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan pekerja masih besar (Dinata et al., 2015). Aktivitas fisik yang dilakukan di stasiun kerja dengan peralatan yang tidak memenuhi kaidah-kaidah ergonomi

(15)

3

dapat menimbulkan cedera atau keluhan pada otot dan persendian sehingga mempengaruhi kesehatan pekerja. (Boschman et al., 2015).

Wawancara terhadap salah satu produsen roti kukus di Denpasar didapatkan data bahwa saat hari raya Galungan mereka hanya mampu memproduksi maksimal sekitar 5000 bungkus roti kukus dalam waktu satu hari dengan lama kerja kurang lebih selama 20 jam. Jumlah produksi tersebut ternyata belum dapat memenuhi jumlah permintaan pasar. Keterbatasan tenaga kerja serta sarana produksi yang masih sederhana menjadi alasan produsen tidak mampu memenuhi daya serap pasar. Keterbatasan tenaga kerja diikuti oleh permintaan akan roti kukus yang tinggi membuat pekerja terpaksa bekerja lebih dari 8 jam yang menjadi beban bagi pekerja. Masalah yang timbul pada industri ini dapat disebabkan karena dalam proses kerjanya belum mempertimbangkan aspek ergonomi.

Observasi pada proses kerja secara umum industri roti kukus tersebut didapatkan banyak masalah ergonomi seperti sikap mengangkat alat-alat dan adonan dengan membungkuk, gerakan repetitif saat menuang adonan dan proses pembungkusan, paparan panas dari kompor saat proses mengukus, tidak adanya petunjuk keamanan kerja, dan lainnya. Secara lebih spesifik, terdapat empat proses kerja pada industri roti kukus tersebut yaitu proses 1) mengadon, 2) menuang adonan, 3) mengukus, dan 4) membungkus. Industri roti kukus masih dikelola dengan sederhana dan belum memiliki prosedur yang baik sehingga potensi masalah kesehatan yang dapat timbul akan semakin besar.

Pada proses mengadon, pekerja mencampur bahan-bahan dan mengaduknya dengan mesin pengaduk (mixer). Bahan yang digunakan pada proses ini berupa

(16)

4

telur ayam, tepung terigu, pengembang kue, pewarna makanan, serta gula. Sikap kerja membungkuk saat mengambil bahan-bahan pada proses ini dapat menimbulkan masalah kesehatan berupa keluhan muskuloskeletal dan kelelahan pekerjanya. Pengangkutan adonan ke stasiun kerja proses penuangan adonan juga dapat menimbulkan masalah karena pekerja belum dibekali dengan pengetahuan proses angkat angkut yang ergonomis. Pekerja masih melakukan sikap kerja membungkuk saat mengambil adonan yang dapat mencapai 30 kg dan memindahkannya secara manual ke tempat penuangan. Dalam suatu industri, keluhan pada sistem muskuloskeletal dapat disebabkan karena beban berlebihan, gerakan tertentu yang berulang-ulang, sikap tubuh ketika duduk, berdiri dan melakukan aktivitas, dan tekanan kerja (Hamaoui et al., 2016).

Proses penuangan adonan dilakukan dengan sikap kerja berdiri statis dalam waktu yang cukup lama, sekitar 1 jam untuk 10 kg adonan. Hal ini menimbulkan pembebanan yang besar pada otot-otot penyangga tubuh dan tulang belakang. Proses ini dimulai dari menyiapkan alat cetak, mengisi alat cetak dengan kertas roti kukus, lalu menuangkan adonan ke alat cetak satu per satu. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan berulang-ulang dengan cepat selama durasi kerja proses penuangan adonan. Gerakan repetitif tersebut dapat menimbulkan masalah keluhan muskuloskeletal bagi pekerja terutama pada otot-otot ekstremitas atas. Hal ini terbukti dari banyaknya keluhan yang timbul pada proses penuangan adonan dibanding dengan proses lainnya. Pekerja kerap melakukan istirahat curian akibat keluhan muskuloskeletal yang timbul sehingga dapat menurunkan produktivitasnya.

(17)

5

Pekerja sebagian besar mengeluhkan proses penuangan adonan sebagai pekerjaan yang paling berat dan membosankan. Gerakan dan sikap kerja yang tidak fisiologis berupa gerakan repetitif serta sikap kerja yang statis menjadi penyebabnya. Gerakan repetitif yang dilakukan berupa meletakkan cetakan roti kukus ke dalam loyang satu per satu sebanyak 16-20 buah, meletakkan kertas roti ke dalam masing-masing cetakan, serta menuangkan adonan sedikit demi sedikit ke dalam cetakan yang dapat berlangsung 1-2 kali penuangan untuk satu cetakan. Total gerakan repetitif yang terjadi pada proses penuangan adonan ini hingga 72 gerakan per loyang. Untuk 10 kg adonan (rata-rata produksi saat hari suci purnama) biasanya pekerja akan menuang 12-15 loyang sehingga gerakan repetitif yang terjadi berjumlah hingga 1080 gerakan repetitif untuk sekali produksi. Jumlah gerakan repetitif ini tentu akan semakin besar jika jumlah produksi meningkat terutama saat hari raya galungan.

Gerakan repetitif yang terus dilakukan melalui serangkaian mekanisme fisiologis dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal selama proses penuangan adonan. Pengukuran terhadap 5 orang pekerja didapatkan keluhan muskuloskeletal diperoleh rerata skor 52,4 dengan simpang baku 4,62. Keluhan muskuloskeletal paling banyak dirasakan di daerah lengan kanan, bahu kanan, serta leher. Bahkan nyeri otot yang timbul telah mencapai batas toleransi pekerja sehingga timbul istirahat curian (Dinata et al., 2015). Rasa nyeri yang timbul akibat gerakan repetitif ini juga dapat menimbulkan refleks-refleks yang menyertai nyeri sehingga gerakan-gerakan yang dilakukan menjadi lebih lambat dan juga terjadi kesalahan-kesalahan dalam melakukan gerakan tertentu. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas

(18)

6

pekerja ditinjau dari semakin lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan dan timbulnya kesalahan-kesalahan dalam bekerja sehingga menyebabkan adonan tumpah dan terbuang.

Gerakan repetitif dalam mengambil adonan yang berada relatif jauh dari garis gravitasi tubuh menyebabkan pembebanan pada tungkai kanan menjadi lebih besar karena menopang torsi yang dibentuk dari beban adonan dan jarak adonan dari garis gravitasi tubuh. Pembebanan akibat aspek biomekanika yang kurang fisiologis ini dalam jangka panjang dapat menjadi potensi timbulnya penyakit akibat kerja.

Pengukuran pada proses penuangan adonan terhadap 5 orang sampel diperoleh rerata denyut nadi kerja sebesar 105,60 denyut per menit dengan simpang baku 6,07. Hal ini menunjukkan bahwa proses menuang adonan termasuk beban kerja sedang. Energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas akan lebih tinggi jika pekerja bersikap kerja tidak fisiologis (Manuaba, 1988; Takahashi, 2002)

Gerakan repetitif yang dilakukan tergolong tidak efisien jika ditinjau dari studi gerak dan waktu karena hanya memindahkan sedikit demi sedikit adonan ke dalam cetakan. Gerakan ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan jika pekerja menuang sejumlah adonan dengan satu kali gerakan menuang. Gerakan repetitif yang tidak efisien juga akan menyebabkan pekerja mengeluarkan energi yang lebih besar.

Jumlah energi yang dibutuhkan saat bekerja tentu mempengaruhi produktivitas pekerja. Semakin besar energi yang dikeluarkan untuk suatu pekerjaan, maka akan semakin rendah produktivitas pekerja tersebut. Gerakan

(19)

7

repetitif yang terjadi selama proses penuangan adonan di samping membutuhkan energi yang lebih besar, juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Gerakan repetitif juga menimbulkan masalah kesehatan berupa keluhan muskuloskeletal yang semakin memperlambat kerja dan juga menimbulkan istirahat curian. Secara keseluruhan, gerakan repetitif merupakan gerakan yang tidak efisien sehingga dapat menyebabkan produktivitas pekerja tidak optimal. Pengukuran jumlah penuangan adonan roti kukus pada pekerja diperoleh rerata 258 roti kukus dalam waktu 49 menit. Efisiensi proses penuangan adonan masih bisa ditingkatkan dengan meminimalkan gerakan repetitif yang terjadi.

Potensi penurunan kesehatan dan produktivitas berdampak tidak baik terhadap kehidupan pekerja. Keluhan otot yang terjadi kadang membutuhkan penanganan medis. Biaya berobat bertambah sehingga menambah pengeluaran pekerja. Bersamaan dengan itu, produktivitas pekerja juga semakin rendah akibat gerakan repetitif yang menyebabkan pendapatannya berpotensi menurun sehingga semakin memperburuk keadaan pekerja maupun keluarganya. Besar serta luasnya dampak yang dapat ditimbulkan akibat proses kerja penuang adonan yang belum ergonomis, membutuhkan perhatian dan dilakukan perbaikan dengan segera.

Proses selanjutnya setelah penuangan adonan adalah proses mengukus. Pada proses ini, pekerja terpapar panas dari kompor dan uap air. Tidak jarang pekerja mengalami luka bakar akibat tidak sengaja bersentuhan dengan panci yang panas saat kegiatan memasukkan adonan siap kukus ke dalam panci maupun saat mengeluarkan roti kukus yang sudah matang. Stasiun kerja yang tidak sesuai

(20)

8

antropometri pekerja dapat menimbulkan sikap kerja yang tidak alamiah sehingga berpotensi menimbulkan penyakit akibat kerja (Manuaba, 2006).

Roti kukus yang telah matang setelah melalui proses pengukusan kemudian akan melalui proses pembungkusan. Roti kukus harus didinginkan terlebih dahulu sekitar 30 menit. Sikap kerja saat proses ini dilakukan dengan duduk di lantai. Proses membungkus juga cukup memakan waktu sehingga dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal akibat sikap kerja statis. Proses kerja yang masih sederhana dan belum terlalu memikirkan kebersihan menjadi masalah ergonomi tersendiri. Pekerja secara langsung memegang roti kukus yang sudah matang menggunakan tangan tanpa dilengkapi alat pelindung diri (APD) dan pengetahuan mengenai bekerja dengan higienis. Walaupun tidak secara langsung menyebabkan bahaya bagi pekerja, namun hal tersebut dapat membahayakan konsumen yang mengonsumsi roti yang tercemar. Roti kukus yang sudah dibungkus siap untuk dipasarkan.

Proses penuangan adonan adalah yang paling dikeluhkan oleh pekerja diantara keempat proses dalam produksi roti kukus. Masalah ergonomi berupa gerakan repetitif menjadi masalah utama pada proses tersebut sehingga menjadi urgen untuk dipecahkan. Perbaikan yang dilakukan berupa penggunaan alat yang lebih ergonomis sehingga gerakan repetitif dapat diminimalkan.

Solusi untuk masalah ini adalah dengan penggunaan alat penuang yang dirancang sedemikian rupa sehingga gerakan repetitif penuangan adonan dapat diganti dengan proses penuangan adonan hanya dalam sekali gerakan. Dengan sekali penuangan, seluruh cetakan roti kukus dapat terisi adonan. Hal ini juga

(21)

9

diharapkan dapat meniadakan gerakan tidak efisien pada gerakan repetitif sehingga proses kerja menjadi lebih cepat.

Pelibatan pekerja terhadap solusi yang diinginkan merupakan pendekatan partisipatori yang menjadi bagian dari pendekatan ergonomi total. Selanjutnya dilakukan pendesainan alat penuang adonan yang mampu meminimalkan gerakan repetitif dengan konsep TTG (teknologi tepat guna). Pendesainan alat penuang ini melibatkan berbagai disiplin ilmu. Disiplin ilmu yang terlibat antara lain dari ilmu teknik, ilmu kesehatan, ilmu ergonomi, ilmu ekonomi, ilmu lingkungan, serta ilmu sosial budaya. Pengkajian dari berbagai disiplin ilmu tersebut bertujuan agar alat yang dibuat memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan dapat digunakan dengan baik, tidak menggunakan bahan-bahan yang dapat mencemari adonan sehingga tidak berdampak buruk pada kesehatan konsumennya, ukuran alat mempertimbangkan antropometri pekerja sehingga tidak berdampak buruk terhadap kesehatan pekerja, mudah dan murah dalam pembuatan serta pemeliharaannya sehingga tidak banyak membebani industri dan dapat memberikan nilai ekonomi yang baik, tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, serta tidak ada penolakan dari unsur sosial budaya (Adiatmika, 2010).

Perancangan alat penuang yang baru juga mempertimbangkan secara sistemik dan holistik bahwa proses penuangan adonan merupakan bagian dari suatu sistem proses produksi. Dengan berpikir holistik dan sistemik bahwa proses penuangan adonan merupakan bagian dari suatu sistem, maka perbaikan yang dilakukan tidak akan mengganggu proses lainnya, bahkan dapat memberi nilai lebih pada proses-proses lainnya.

(22)

10

Alat penuang yang baru ini berupa cetakan roti kukus yang menempel permanen pada loyang serta alat tuang yang dirancang khusus sehingga adonan dapat tertuang ke cetakan dengan satu hingga dua kali penuangan. Alat penuang baru ini dinamakan sebagai alat penuang berbasis ergonomi total. Penggunaan cetakan roti kukus yang menempel permanen pada loyang dapat mengeliminasi gerakan repetitif yang terjadi saat menggunakan alat lama di mana pekerja harus meletakkan satu per satu alat cetak pada loyang. Penggunaan alat penuang adonan yang baru juga dapat mengeliminasi gerakan repetitif yang terjadi pada proses penuangan adonan sistem lama.

Eliminasi gerakan repetitif yang terjadi pada aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total akan mengurangi efek-efek yang tidak diharapkan dari gerakan repetitif tersebut di antaranya penggunaan energi dalam kontraksi otot dapat diturunkan, glikolisis anaerob dapat diminimalkan sehingga asam laktat tidak banyak menumpuk pada jaringan, serta waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi penuangan adonan dapat dipersingkat. Melalui mekanisme tersebut diharapkan aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total dapat menurunkan beban kerja, kelelahan, keluhan muskuloskeletal, serta produktivitas pekerja dapat menjadi lebih baik. Selain manfaatnya bagi tubuh pekerja, penggunaan alat penuang berbasis ergonomi total juga perlu dianalisis biaya dan manfaatnya sehingga memberi manfaat juga pada keberlangsungan industri roti kukus itu sendiri.

(23)

11

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

1) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan beban kerja pekerja industri roti kukus di Denpasar?

2) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan keluhan muskuloskeletal pekerja industri roti kukus di Denpasar?

3) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan kelelahan pekerja industri roti kukus di Denpasar?

4) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan gaya otot pekerja industri roti kukus di Denpasar?

5) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat meningkatkan produktivitas pekerja industri roti kukus di Denpasar ditinjau melalui output dan input?

6) Apakah aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan dapat meningkatkan produktivitas pekerja industri roti kukus di Denpasar ditinjau melalui analisis biaya dan manfaat?

(24)

12

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi dari aplikasi ergonomi total pada industri roti kukus berskala industri rumah tangga. 1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian, setelah aplikasi ergonomi total pada proses penuangan adonan adalah untuk membuktikan hal-hal sebagai berikut dan kontribusinya untuk masyarakat.

1) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan beban kerja pekerja industri roti kukus di Denpasar.

2) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan keluhan muskuloskeletal pekerja industri roti kukus di Denpasar.

3) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan kelelahan pekerja industri roti kukus di Denpasar.

4) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk memperbaiki respons fisiologis berupa penurunan gaya otot pekerja industri roti kukus di Denpasar.

5) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk meningkatkan produktivitas pekerja industri roti kukus di Denpasar ditinjau melalui output dan input.

(25)

13

6) Aplikasi alat penuang berbasis ergonomi total pada proses penuangan adonan untuk meningkatkan produktivitas pekerja industri roti kukus di Denpasar melalui analisis biaya dan manfaat.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat praktis dan manfaat akademik sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat akademik

Manfaat akademik yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Bisa dijadikan acuan bagi pengembangan penelitian lebih lanjut khususnya aplikasi ergonomi total pada semua proses produksi di industri roti kukus sehingga semakin memperkuat ilmu ergonomi.

2) Bisa dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan khususnya dalam bidang ergonomi pada industri rumah tangga.

3) Menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan khususnya bagi para akademisi dalam bidang ergonomi berupa alat penuang berbasis ergonomi total yang diterapkan pada industri roti kukus.

1.4.2 Manfaat praktis

Manfaat praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Dengan diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan aplikasi ergonomi total, dapat dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan kualitas pekerja (penurunan keluhan muskuloskeletal, penurunan kelelahan,

(26)

14

penurunan beban kerja), dan peningkatan produktivitas kerja sehingga tercipta kondisi kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien.

2) Dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam upaya pengendalian faktor-faktor risiko di tempat kerja.

3) Dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk menyampaikan saran kepada para pekerja terkait dalam upaya penanggulangan kondisi kerja yang tidak ergonomis.

4) Dapat memberikan kontribusi hasil penelitian berupa alat penuang berbasis ergonomi total dalam peningkatan kualitas dan produktivitas pekerja di industri roti kukus sebagai salah satu industri potensial.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :