BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Faktor resiko terjadinya diare adalah faktor faktor yang memungkinkan

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Resiko Terjadinya Diare

Faktor resiko terjadinya diare adalah faktor – faktor yang memungkinkan terjadinya diare.

2.1.1 Sanitasi Lingkungan

Sanitasi dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan diare, antara lain :

2.1.1.1 Penyediaan Air Bersih

Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit, terutama penyakit perut. Seperti yang telah kita ketahui bahwa penyakit perut adalah penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia (Totok, 2010). Penyediaan air bersih, selain kuantitas, kualitasnya pun harus memenuhi standar yang berlaku. Untuk ini perusahaan air minum, selalu memeriksa kualitas airnya sebelum didistribusikan kepada pelanggan. Karena air baku belum tentu memenuhi standar, maka seringkali dilakukan pengolahan air untuk memenuhi standar air minum (Soemirat, 2009).

(2)

Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat – syarat kesehatan dan dapat diminum. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak lebih dahulu. (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990). (Sarudji, 2006). Air minum pun bukan merupakan air murni. Meskipun bahan-bahan tersuspensi dan bakteri mungkin telah dihilangkan dari air tersebut, tetapi air minum mungkin masih mengandung komponen-komponen terlarut. Bahkan air murni sebenarnya tidak enak untuk diminum karena beberapa bahan yang terlarut memberikan rasa yang spesifik terhadap air minum (Fardiaz, 1992).

Air minum harus memenuhi syarat-syarat antara lain (Sutrisno, 2010): a. Syarat Fisik :

- Air tidak boleh berwarna - Air tidak boleh berasa - Air tidak boleh berbau b. Syarat Kimia :

Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan.

c. Syarat Bakteriologik :

Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri patogen sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri-bakteri golongan Coli melebihi batas-batas yang telah ditentukannya yaitu 1Coli/100 ml.air.Bakteri golongan Coli ini berasal dari usus besar dan tanah. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air antara lain : bakteri typhsum, Vibrio colerae, bakteri dysentriae,

(3)

Entamoeba hystolotica, bakteri enteritis. Air yang mengadung golongan Coli telah berkontaminasi dengan kotoran manusia. Oleh sebab itu dalam pemeriksaan bakteriologik, tidak langsung diperiksa apakah air itu mengandung bakteri patogen, tetapi diperiksa dengan indikator bakteri golongan Coli.

2.1.1.2 Penyediaan Jamban

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya. Jenis-jenis jamban yang digunakan (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :

1. Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.

2. Jamban tangki septik/ leher angsa adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/ dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapan.

Cara memilih jenis jamban adalah (Proverawati dan Rahmawati, 2012) : 1. Jenis cemplung digunakan uuntuk daerah yang sulit air

2. Jamban tangki digunakan untuk : a. daerah yang cukup air

(4)

c. daerah pasang surut

Syarat jamban sehat yaitu (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :

1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter)

2. Tidak berbau

3. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus 4. Tidak mencemari tanah sekitarnya

5. Mudah dibersihkan dan aman digunakan 6. Dilengkapi dinding dan atap pelindung 7. Penerangan dan ventilasi yang cukup 8. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai 9. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih

Peran kader dalam membina masyarakat untuk memiliki dan menggunakan jamban sehat, yaitu :

1. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki serta menggunakan jamban dirumahnya

2. Melaporkan kepada pemerintah kelurahan tentang jumlah rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat

3. Bersama pemerintah kelurahan dan tokoh masyarakat setempat berupaya untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki jamban

4. Mengadakan arisan warga untuk membangun jamban secara bergilir

5. Menggalang dunia usaha setempat untuk memberikan bantuan dalam penyediaan jamban sehat

(5)

6. Memanfaatkan setiap kesempatan di kelurahan untuk memberi penyuluhan tentang pentingnya memiliki dan menggunakan jamban sehat

7. Meminta bantuan petugas puskesmas setempat untuk memberikan bimbingan tekniss tentang cara-cara membuat jamban sehat yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerah setempat

2.1.1.3 Pengelolaan Sampah

Sampah adalah setiap bahan yang untuk sementara tidak dapat dipergunakan lagi dan harus dibuang atau dimusnahkan. (Dainur,1992).

a. Jenis Sampah

Jenis sampah di bagi menjadi 3, yaitu(Dainur,1992): 1. Menurut asalnya:

a. Sampah buangan rumah tangga; termasuk sampah bisa bahan makanan, sampah sisa makanan, sisa pembungkus makanan dan pembungkus perabotan rumah tangga, sampah bisa perabotan rumah tangga, sampah sisa tumbuhan kebun, dan sebagainya.

b. Sampah buangan pasar dan tempat-tempat umum (warung, toko, dan sebagainya); termasuk sisa makanan, sampah pembungkus makanan dan pembungkus lainnya, sampah sisa bangunan, sampah taman dan sebagainya. c. Sampah buangan jalanan; termasuk diantaranya sampah berupa debu jalan,

sampah sisa tumbuhan taman, sampah pembungkus bahan makanan dan bahan lainnya, sampah sisa makanan, sampah berupa kotoran serta bangkai hewan.

(6)

d. Sampah industri (tidak dibicarakan pada bagian ini); termasuk diantaranya air limbah industri, debu industri, sisa bahan baku dan bahan jadi, dan sebagainya.

2. Menurut jenisnya:

a. Sampah organik; termasuk diantaranya sisa bahan makanan serta sisa makanan, sisa pembungkus dan sebagainya. Keseluruhan dikenal juga sebagai sampah dapur/sampah buangan rumah tangga, dan juga sampah pasar serta sampah industri bahan makanan.

b. Sampah anorganik; termasuk diantaranya berbagai jenis sisa gelas, logam, plastik dan sebagainya. Biasanya jenis ini terbagi atas sampah yang dapat dihancurkan, dan yang tak dapat dihancurkan oleh mikroorganisme. Pada umumnya sampah yang tak dapat dihancurkan oleh mikroorganisme termasuk sampah anorganik, misalnya sisa-sisa mobil bekas, gelas dan sebagainya. 3. Menurut fisiknya:

a. Sampah kering, yaitu sampah yang dapat dimusnahkan dengan dibakar, diantaranya kertas, sisa makanan, sisa tanaman yang dapat dikeringkan.

b. Sampah basah, yaitu sampah yang karena sifat fisiknya sukar dikeringkan untuk dibakar.

b. Pemusnahan dan Pengolahan Sampah

Pemusnahan sampah dilakukan melalui berbagai cara, antara lain (Notoadmodjo, 2007):

1. Ditanam (landfill), yaitu pemusnahan sampah denngan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.

(7)

2. Dibakar (inceneration), yaitu memusnahkan sampah dengan membakar di dalam incenerator

3. Dijadikan pupuk (composting), yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk, khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan, dan sampah lainnya yang dapat membusuk.

2.1.1.4 Sarana Pembuangan Air Limbah

Air limbah adalah sisa air yang berasal dari rumah tangga, industri dan tempat-tempat umum lainnya yang umumnya mengandung bahan-bahan yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Air limbah terbagi atas beberapa jenis, antara lain (Notoadmodjo, 2007):

1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water) Kategori ini termasuk air bekas mandi, bekas cuci pakaian, maupun perabot dan bahan makanan, dan lain-lain. Air ini sering disebut sullage atau gray water. Air ini tentunya mengandung banyak sabun atau detergen dan mikroorganisme. Selain itu, ada lagi air limbah yang mengandung excreta, yakni tinja dan urine manusia. Walaupun excreta mengandung zat padat, tetapi tetap dikelompokkan sebagai air limbah. Dibandingkan dengan air bekas cuci, excreta ini jauh lebih berbahaya karena mengandung banyak kuman patogen. Excreta ini merupakan cara transport utama bagi penyakit bawaan air, terutama bahaya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sering juga kekurangan gizi (Soemirat,2009).

2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya

(8)

sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai masing-masing industri. Oleh karena itu, pengolahan jenis air limbah ini akan lebih rumit agar tidak menimbulkan polusi lingkungan

3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yang berasal dari daerah: perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan lainnya. Umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.

Agar limbah tidak mencemari lingkungan, dilakukan pengelolaan terhadap air limbah. Pengolahan air limbah diatur dalam PP No. 82 Tahun 2001 pasal 31 tentang pengendalian pencemaran air yang mengatur tentang pengolahan air limbah yang memenuhi kesehatan, yaitu :

a. Jarak bidang resapan tangki septic tank dengan sumber air minum harus berjarak >10m untuk jenis tanah liat dan >15m untuk tanah berpasir.

b. Kepadatan 100 orang/ha dengan menggunakan sanitasi setempat memberikan dampak kontaminasi bakteri coli cukup besar terhadap tanah dan air tanah. Jadi bagi pengguna sanitasi individual pada kawasan dengan kepadatan tersebut, penerapan anaerobic filter sebagai pengganti bidang resapan dan effluennya dapat dibuang ke saluran terbuka, atau secara komunitas menggunakan sistem off site sanitasi.

c. Air limbah dari toilet tidak boleh langsung dibuang ke perairan terbuka tanpa pengeraman (digesting) lebih dari 10 hari terlebih dahulu, dan lumpurnya harus ada pengeraman 3 minggu untuk digunakan di permukaan tanah (sebagai pupuk).

(9)

d. Hasil pengolahan limbah cair harus dibebaskan dari bakteri coli dengan proses maturasi atau menggunakan desinfektan. Dengan demikian setiap IPAL harus dilengkapi salah satu dari kedua jenis sarana tersebut; sebaiknya alat-alat saniter (WC, urinoir, kitchen zink, wash-basin) menggunakan water trap (leher angsa) untuk mencegah bau dan serangga keluar dari pipa buangan ke peralatan tersebut. Penggunaan pipa pembuang udara (vent) pada sistem plumbing harus mencapai ceiling (plafon) teratas.

2.1.2 Personal Higiene

Personal higiene adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya (Potter dan Perry, 2005). Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan, hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.

2.1.2.1 Memelihara dan memotong kuku tangan dan kuku kaki

Kuku sering kali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Kuku bersih mempunyai fungsi dan peran yang penting dalam kehidupan kita. Kuku yang kotor dapat menjadi sarang berbagai kuman penyakit yang dapat ditularkan ke bagian-bagian tubuh yang lain.

(10)

Tujuan merawat dan memotong kuku, yaitu: 1. Menjaga kebersihan tangan dan kaki

2. Mencegah timbulnya infeksi 3. Mencegah kaki berbau tidak sedap 2.1.2.2 Mencuci tangan menggunakan sabun

Kedua tangan kita sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Makan dan minum sangat membutuhkan kerja dari tangan. Cuci tangan dapat berfungsi untuk menghilangkan mikroorganisme yang menempel di tangan. Cuci tangan harus dilakukan dengan menggunakan air bersih dan sabun.

Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut (Proverawati dan Rahmawati, 2012) :

1. Cuci tangan dengan air yang mengalir dan gunakan sabun. 2. Gosok tangan setidaknya selama 15-20 detik

3. Bersihkan bagian pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku

4. Basuh tangan sampai bersih dengan air yang mengalir 5. Keringkan dengan handuk bersih

6. Gunakan tisu sebagai penghalang mematikan keran air. Peran kader dalam membina perilaku cuci tangan yaitu :

1. Memanfaatkan setiap kesempatan di kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku cuci tangan, misalnya penyuluhan kelompok di posyandu, arisan, pengajian, pertemuan kelompok, dan kunjungan rumah

(11)

2. Mengadakan gerakan cuci tangan bersama untuk menarik perhatian masyarakat.

2.2 Diare

2.2.1 Pengertian Diare

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan volume, keenceran dan frekuensi dengan atau tanpa lendir darah, yaitu pada anak lebih dari 3 kali/hari dan pada neonatus lebih dari 4 kali/hari (Alimul, 2009). Diare dapat menyebabkan kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare akut disebabkan oleh kehilangan banyak cairan dan garam dari dalam tubuh. Kehilangan ini dinamai dehidrasi. Dehidrasi timbul bila pengeluaran cairan dan garam lebih besar daripada masukan. Lebih banyak tinja cair dikeluarkan, lebih banyak cairan garam yang hilang. Dehidrasi dapat diperburuk oleh muntah, yang sering menyertai diare. Dehidrasi timbul lebih cepat pada bayi dan anak kecil, iklim panas, dan bila seseorang menderita demam. Diare menjadi lebih serius pada orang yang kurang gizi.

Diare dapat menyebabkan kurang gizi dan memperburuk keadaan kurang gizi yang telah ada, karena selama diare:

- Zat gizi hilang dari tubuh - Orang bisa tidak lapar

- Ibu mungkin tidak memberi makan pada anak yang menderita diare. Beberapa ibu mungkin menunda pemberian makanan bayinya selama beberapa hari, walaupun diare telah membaik.

(12)

Untuk mengurangi kekurangan gizi segera setelah anak yang menderita diare dapat makan, berikanlah makanan (Adrianto, 1995).

2.2.2 Pembagian Diare

Diare dibedakan menjadi dua, yaitu (Suharyono, 2008) : a. Diare akut

Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya, dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. Perubahan yang terjadi pada diare akut adalah kehilangan cairan, hipoglikemia, perubahan keseimbangan asam basa, gangguan sekresi, dan gangguan gizi.

b. Diare kronik

Diare kronik atau diare berulang adalah suatu keadaan meningkatnya frekuensi buang air besar yang dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan baik secara terus menerus atau berulang, dapat berupa gejala fungsional akibat suatu penyakit berat. Diare kronik dapat di sebabkan karena infeksi dan juga dapat ditimbulkan oleh adanya alergi protein, enteropati sensitive gluten, defisiensi imun dan penyakit hati.

2.2.3 Etiologi Diare

Diare disebabkan oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi, faktor-faktor tersebut antara lain (Widoyono, 2008) :

(13)

1. Faktor Infeksi

a. Infeksi enteral ; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut (Wijoyo, 2013) :

- Diare karena virus

Diare karena virus yang disebabkan, antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus ini melekat pada sel-sel mukosa usus. Akibatnya sel mukosa usus menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air maupun elektrolit meningkat. Gejala yang ditimbulkan akibat infeksi rotavirus, adalah muntah, demam, mual, dan diare cair akut.

- Diare karena bakteri infasif

Diare karena bakteri infasif memiliki tingkat kejadian yang cukup sering, tetapi akan berkurang dengan sendirinya seiring dengan peningkatan sanitasi lingkungan di masyarakat. Diare ini bersifat self-limiting dalam waktu kurang lebih lima hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel yang rusak diganti dengan sel-sel mukosa yang baru.

- Diare karena parasit

Diare karena parasit disebabkan oleh protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Glardia lamblia. Diare karena infeksi parasit ini bercirikan mencret cairan yang berkala dan bertahan lama lebih dari satu minggu. Gejalanya berupa nyeri pada perut, rasa letih umum, deman dan muntah-muntah.

(14)

2. Faktor Malabsorpsi

Faktor malabsoprsi meliputi malabsorpsi lemak, malabsorpsi karbohidrat, dan malabsorpsi protein.

3. Faktor Makanan

Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya diare. Contoh alergi terhadap makanan yaitu alergi terhadap laktosa, makanan yang mengandung lemak tinggi dan makanan terlalu pedas atau terlalu banyak serat dan kasar.

2.2.4 Epidemiologi Diare

Diare paling sering menyerang anak-anak, terutama usia antara 6 bulan sampai 2 tahun. Penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di Indonesia, biasanya balita menderita diare lebih dari sekali dalam setahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian pada balita. (Depkes RI, 2011). Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur dengan insidensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin insidensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia. Di Indonesia penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak disebabkan oleh diare (31,4%) dan

(15)

pneumonia (23,8%). Demikian pula penyebab kematian anak balita (usia 12-59 bulan), terbanyak adalah diare (25,2%) dan pneumonia (15,5%).

2.2.5 Gejala Diare

Gejala yang ditimbulkan akibat diare adalah (Depkes RI, 1994) :

1. Diare tanpa dehidrasi: mata normal dan air mata ada, keadaan umum baik dan sadar, tidak merasa haus, mulut dan lidah basah.

2. Diare dengan dehidrasi ringan: mencret 3 kali sehari atau lebih, kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sedikit, nafsu makan kurang, aktivitas menurun, mata cekung, mulut dan lidah kering, gelisah dan mengantuk, nadi lebih cepat dari normal, dan ubun-ubun cekung.

3. Diare dengan dehidrasi berat: mencretnya terus menerus, muntah lebih sering, terasa sangat haus, tidak kencing, tidak ada nafsu makan, mata sangat cekung, mulut sangat kering, nafas sangat cepat dan dalam, nadi sangat cepat, lemah dan tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung.

2.2.6 Patofisiologi Diare

Patofisiologi diare dapat dibagi dalam tiga macam kelainan pokok, yaitu : a. Kelainan gerakan transmukosal air dan elektrolit

Gangguan reabsorpsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat menyebabkan diare, contohnya pada kejadian infeksi.

b. Kelainan cepat laju bolus makanan di dalam lumen usus

Suatu proses absorpsi dapat berlangsung sempurna dan normal apabila bolus makanan tercampur baik dengan enzim-enzim saluran pencernaan dan berada

(16)

keadaan yang cukup tercerna. Selain itu, waktu sentuhan yang adekuat antara khim dan permukaan mukosa usus halus diperlukan untuk absorpsi normal. c. Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus

Dalam beberapa keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi kapasitas pencernaan dan absorpsinya akan menimbulkan diare. Adanya malabsorpsi dari karbohidrat, lemak, dan protein akan menimbulkan kenaikan daya tekanan osmotik intraluminal sehingga akan dapat menimbulkan gangguan absorpsi air.

2.2.7 Faktor-Faktor Resiko Diare

Faktor-faktor resiko diare adalah faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya diare. Faktor-faktor resiko diare antara lain :

1. Host a. Umur

Sebagian besar diare terjadi pada anak-anak, terutama usia antara 6 bulan sampai 2 tahun. Diare juga umum terjadi pada bayi bawah 6 bulan yang minum susu sapi atau susu formula (Depkes RI, 1995).

Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur dengan insidensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%.4 Kejadian diare biasanya tinggi pada kelompok umur muda dan tua (balita dan manula), rendah pada kelompok umur remaja dan produktif (RISKESDAS, 2007).

(17)

b . Jenis kelamin

Diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada anak yang lebih besar. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 insidensi diare menurut jenis kelamin hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan.

c. Status Imunisasi

Berdasarkan laporan Ditjen PPM dan PLP tahun 2005 bahwa diare sering timbul menyertai campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu, anak harus segera diberi imunisasi campak setelah berumur 9 bulan.

d. ASI eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian air susu ibu saja kepada bayi baru lahir sampai bayi mencapai usia 6 bulan. Pemberian ASI penuh akan memberikan perlindungan diare 4 kali dari pada bayi dengan ASI disertai susu botol. Bayi dengan susu botol saja akan mempunyai risiko diare lebih berat dan bahkan 30 kali lebih banyak daripada dengan ASI penuh.

e. Status Gizi

Serangan diare lebih lama dan lebih sering terjadi pada anak dengan malnutrisi. Semakin sering dan semakin berat diare yang diderita, maka semakin buruk keadaan gizi anak. Diare dapat terjadi pada keadaan kekurangan gizi, seperti pada kwashiorkor, terutama karena gangguan pencernaan dan penyerapan makanan di usus (Suharyono, 1986).

(18)

2. Agent

a. Diare karena virus

Diare karena virus disebabkan oleh Rotavirus dan Adenovirus. Virus ini melekat pada sel-sel mukosa usus, akibatnya sel mukosa usus menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air maupun elektrolit meningkat.

b. Diare karena bakteri

Diare karena bakteri invasif memiliki tingkat kejadian yang cukup sering tetapi akan berkurang dengan sendirinya dengan peningkatan sanitasi lingkungan di masyarakat. Bakteri pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu kedalam mukosa, terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin. Mukosa usus yang telah dirusak mengakibatkan mencret berdarah dan berlendir. Penyebab pembentukan enterotoksin ialah bakteri E.coli, Shigella sp, Salmonella sp, dan Campylobacter sp. c. Diare karena parasit

Diare karena parasit disebabkan oleh protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia. Diare karena infeksi parasit biasanya bercirikan mencret cairan yang berkala dan bertahan lebih dari satu minggu.

3. Lingkungan

a. Sanitasi lingkungan

Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah. Status kesehatan suatu lingkungan yang buruk dapat memungkinkan timbulnya diare.

(19)

b. Personal higiene

Personal higiene sendiri dapat diartikan sebagai cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka secara fisik dan psikisnya. Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan, hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum. Memelihara dan memotong kuku dapat. Kebiasaan penduduk yang tidak mau mencuci tangan menggunakan sabun sebelum melakukan aktifitasnya, serta perilaku lainnya yang tidak mencerminkan pola hidup sehat dapat memungkinkan timbulnya diare.

c. Penyediaan air bersih

Penyediaan air bersih adalah upaya ketersediaan air bersih yang merupakan milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak lebih dahulu, air minum sendiri diartikan sebagai air yang kualitasnya memenuhi syarat – syarat kesehatan dan dapat diminum. Air yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan dapat memungkinkan terjadinya diare.

2.2.8. Mekanisme Diare

a. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi apabila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar.

(20)

b. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah yang besar. Bila tinja dihinggapi binatang kemudian binatang hinggap dimakanan, makanan itu dapat menularkan diare kepada orang yang memakannya.

c. Kontaminasi dari alat-alat rumah tangga yang tidak terjaga kebersihannya, mencuci alat-alat rumah tangga tanpa menggunakan sabun.

2.2.9 Pencegahan Diare

2.2.9.1 Pencegahan Primer (Primary Prevention)

Pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama ini dilakukan pada masa prepatogenesis dengan tujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap diare. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam pencegahan primer yaitu (Erlan, 1999):

A. Pemberian ASI

Ibu sebaiknya hanya memberikan air susu ibu untuk bayi mereka selama 4-6 bulan pertama, dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai 2 tahun atau lebih, sambil memberikan makanan tambahan. Di negara-negara berkembang, bayi yang mendapat ASI mempunyai angka kesakitan dan kematian yang secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan susu formula.

B. Pemberian Makanan Pendamping ASI

Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang

(21)

menyebabkan kematian. Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang baik meliputi perhatian kapan, apa dan bagaimana makanan pendamping ASI diberikan.

Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik yaitu :

1. Memperkenalkan makanan lunak, ketika anak sudah berumur 6 bulan tetapi masih meneruskan pemberian ASI. Menambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. Memberikan makanan lebih sering (4 kali sehari) setelah anak berumur 1 tahun , memberikan semua makanan yang dimasak dengan baik 4-6 kali sehari dan meneruskan pemberian ASI bila mungkin.

2. Menambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk energi. Menambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang– kacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya. 3. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta

menyuapi anak dengan sendok yang bersih.

4. Memasak atau merebus makanan dengan benar, menyimpan sisa makanan pada tempat yang dingin dan memanaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak.

C. Menggunakan Air Bersih Yang Cukup

Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai risiko menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih. Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan diare yaitu dengan

(22)

menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah.

Hal-hal yang harus diperhatikan, antara lain : 1. Ambil air dari sumber air yang bersih

2. Simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus untuk mengambil air

3. Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak-anak 4. Minum air yang sudah matang (dimasak sampai mendidih)

5. Cuci semua peralatan masak dan peralatan makan dengan air yang bersih dan cukup

D. Mencuci Tangan

Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare.

E. Menggunakan Jamban

Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan risiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban.

(23)

Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

1. Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga.

2. Bersihkan jamban secara teratur.

3. Gunakan alas kaki bila akan buang air besar. F. Membuang Tinja Bayi Yang Benar

Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya. Tinja bayi harus dibuang secara benar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain : 1. Kumpulkan segera tinja bayi dan buang di jamban

2. Bantu anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah di jangkau olehnya. 3. Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang tinja seperti di dalam

lubang atau di kebun kemudian ditimbun.

4. Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangan dengan sabun. G. Pemberian Imunisasi Campak

Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu berilah imunisasi campak segera setelah bayi berumur 9 bulan.

(24)

2.2.9.2 Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)

Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dan pengobatan yang tepat. Pada pencegahan sekunder, sasarannya adalah mereka yang terkena penyakit diare. Upaya yang dilakukan adalah (Erlan, 1999) :

a. Segera setelah diare, berikan penderita lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi. Gunakan cairan yang dianjurkan, seperti larutan oralit, makanan yang cair (sup, air tajin) dan kalau tidak ada berikan air matang.

b. Jika anak berusia kurang dari 6 bulan dan belum makan makanan padat lebih baik diberi oralit dan air matang daripada makanan cair.

c. Beri makanan sedikitnya 6 kali sehari untuk mencegah kurang gizi. Teruskan pemberian ASI bagi anak yang masih menyusui dan bila anak tidak mendapat ASI berikan susu yang biasa diberikan.

d. Segera bawa anak kepada petugas kesehatan bila tidak membaik dalam 3 hari atau menderita hal berikut yaitu buang air besar cair lebih sering, muntah berulang-ulang, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, dengan atau tinja berdarah.

e. Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka berikan pengobatan sesuai indikasi, dengan tetap mengutamakan rehidrasi. 2.2.9.3 Pencegahan Tertier (Tertiary Prevention)

Sasaran pencegahan tertier adalah penderita penyakit diare dengan maksud jangan sampai bertambah berat penyakitnya atau terjadi komplikasi. Bahaya yang

(25)

dapat diakibatkan oleh diare adalah kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare disebabkan oleh dehidrasi, yaitu kehilangan banyak cairan dan garam dari tubuh.

Diare dapat mengakibatkan kurang gizi dan memperburuk keadaan gizi yang telah ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena selama diare biasanya penderita susah makan dan tidak merasa lapar sehingga masukan zat gizi berkurang atau tidak ada sama sekali. Upaya yang dilakukan adalah (Erlan, 1999):

a. Pengobatan dan perawatan diare dilakukan sesuai dengan derajat dehidrasi. Penilaian derajat dehidrasi dilakukan oleh petugas kesehatan dengan menggunakan tabel penilaian derajat dehidrasi. Bagi penderita diare dengan dehidrasi berat segera diberikan cairan intarvena dengan Ringer Laktat. b. Berikan makanan secukupnya selama serangan diare untuk memberikan gizi

pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan.

c. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama dua minggu untuk membantu pemulihan penderita.

2.2.10 Pengobatan Diare

Pengobatan diare dapat dilakukan dengan 2 terapi, yaitu (Wijoyo,2013): a. Terapi Nonfarmakologi

1. Terapi Rehidrasi Oral

Bahaya utama diare terletak pada dehidrasi, maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila terjadi dehidrasi. Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan cairan yang memadai oral atau parental. Cairan rehidrasi yang dipakai oleh

(26)

masyarakat ialah air kelapa, air susu ibu, air teh encer, air taji, air perasaan buah, dan larutan gula dan garam. Pemakaian cairan ini di titikberatkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi, bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi oralit. 2. Oralit

Larutan oralit yang lama tidak dapat menghentikan diare. Hal ini disebabkan formula oralit lama dikembangkan dari kejadian outbreak diare di Asia Selatan terutama karena bakteri, menyebabkan berkurangnya lebih banyak elektrolit tubuh terutama natrium, pada diare yang lebih banyak dijumpai belakangan ini dengan tingkat sanitasi yang baik adalah diare karena virus. Karenanya, para ahli mengembangkan formula baru dengan tingkat osmolaritas yang lebih rendah.

b. Terapi Farmakologi

Selain menggunakan cara pengobatan nonfarmakologi, pengobatan diare menggunakan obat-obatan seperti loperamida, defenoksilat, kaolin, karbon adsorben, attapulgite, dioctahedral smectite, pemberian zink dan antimikroba sangat diperlukan.

(27)

2.3 Kerangka Konsep Karakteristik Responden 1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Umur 4. Jenis Kelamin 5. Pengetahuan 6. Sikap

Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan 1. Ketersediaan Air Bersih 2. Ketersediaan Jamban 3. Ketersediaan Pengolahan Sampah 4. Ketersediaan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Personal Higiene

1. Memelihara dan memotong kuku tangan dan kuku kaki 2. Mencuci tangan

menggunakan sabun

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :