BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kepuasan Kerja. yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang dialami para karyawan

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepuasan Kerja 1. Pengertian Kepuasan Kerja

Menurut Handoko (2001) kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang dialami para karyawan dalam memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya yang tampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi dilingkungan kerjannya.

Menurut Mangkunegara (2001) kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya, penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu pengawasan. Sedangkan perasaan yang berhubungan dengan dirinya, antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan

Menurut Johan (2002) kepuasan kerja dirumuskan sebagai respon umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan karyawan sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Baron dan

(2)

Greenberg (2003) mendefinisikan kepuasan sebagai sikap positif atau negatifاseseorangاterhadapاpekerjaannya.اMenurutاAs’ad (2004) kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan. Kepuasan atau ketidakpuasan seseorang dengan pekerjaan merupakan keadaan yang sifatnya subjektif, yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh karyawan dari pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan, diinginkan dan dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak baginya (Gomes, 2003).

Menurut Hasibuan (2003) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan dan suasana lingkungan kerja yang baik. Kepuasan kerja di luar pekerjaan adalah kepuasan kerja karyawan yang dinikmati di luar pekerjaan dengan besarnya balas jasa yang akan diterima dari hasil kerjanya, agar karyawan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kepuasan kerja kombinasi dalam dan luar adalah kepuasan kerja yang dicerminkan oleh sikap emosional yang seimbang antara balas jasa dengan pelaksanaan pekerjaannya.

(3)

Menurut Siagian (2004) kepuasan kerja merupakan suatu cara pandang seseorang baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif tentang pekerjaannya. Menurut Herzberg (dalam Hasibuan, 2003) ciri perilaku yang puas adalah mereka yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja, mereka lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja, dan malas dalam melaksanakan kewajibannya terhadap pekerjaan.

Menurut Jewell dan Siegall (1998) kepuasan kerja adalah sikap yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja dan merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang bermacam-macam. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut cara karyawan memandang pekerjaannya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah sikap atau perasaan yang nyaman dari melakukan suatu pekerjaan tersebut. Seseorang yang memiliki kepuasan yang tinggi harusnya memiliki motivasi kerja yang tinggi. Kepuasan kerja juga merupakan pemikiran terhadap pekerjaan dimana memiliki sifat positif terhadap pekerjaannya.

(4)

2. Aspek-Aspek Kepuasan Kerja

Menurut Jewell dan Siegall (1998) beberapa aspek dalam mengukur kepuasaan kerja:

a. Aspek psikologis, aspek ini berisi tentang kejiwaan karyawan meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan ketrampilan dalam hal positif.

b. Aspek fisik, dalam aspek ini kondisi memiliki hubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.

c. Aspek sosial, dalam aspek ini memiliki hubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun antar karyawan yang berbeda jenis kerjanya serta hubungan dengan anggota keluarga.

d. Aspek finansial, dalam aspek ini memiliki hubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan, yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi.

Sedangkan menurut Gilmer (1966) berpendapat bahwa ada beberapa aspek kepuasan kerja, yaitu :

a. Keamanan kerja. Aspek ini biasa disebut inti kepuasan kerja karena keadaan yang aman akan akan berpengaruh bagi perasaaan karyawan.

(5)

b. Kesempatan untuk maju dan berkembang. Apabila didalam pekerjaan tidak ada kesempatan untuk maju dan berkembang hanya akan membuat pekerja tidak akan menambah pengetahuan apa-apa.

c. Gaji. Aspek ini sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja, karena pada aspek ini akan berpengaruh terhadap balasan atas apa yang sudah dia kerjakan akan meningkaatkan kepuasan kerja.

d. Kondisi kerja. Kondisi kerja dapat diartikan sebagai lingkungan, seperti ruangan, suhu, dan suara sekitar juga dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang.

e. Komunikasi. Komunikasi sangatlah penting bagi pekerja karena hal ini dapat berpengaruh pada kepuasan kerja seseorang, perasanaan ingin diakui, dan saling membantu. Menciptakan komunikasi yang baik dapat meningkatkan rasa puas pada pekerja.

Robbins (2008) menyebutkan ada 5 aspek yang disebut JDI (Job Descriptive Index) yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja, yaitu : a. Upah, upah menentukan kepuasan kerja yang dimiliki pekerja, karena hal

itu merupakan balasan atas usaha yang sudah dilakukan

b. Pekerjaan, pekerjaan yang sesuai dengan apa yang dia rasa suka akan meningkatkan kepuasan kerja, sedangkan pekerjaan yang tak disukai cenderung akan menambah stres.

c. Promosi, pekerja akan merasa senang dengan mengembangkan diri, dan menambah pengalaman, hal ini diartikan seperti naik jabatan dan bertemu dengan pekerjaan yang baru.

(6)

d. Atasan, hubungan dengan atasan yang terbuka dan saling mendukung akan meningkatkan hubungan yang baik dan meningkatkan kepuasan kerja.

e. Rekan Kerja, rekan kerja sangatlah penting dalam pekerjaan karena manusia tidak bisa kerja dengan sendirian, saling membantu dalam pekerjaan dan pengakuan sesama rekan kerja akan meningkatkan rasa puas dalam pekerjaan.

Dalam penelitian ini menggunakan ke empat aspek milik Jewell dan Siegall (1998), ke empat aspek tersebut adalah hal penting yang harus diperhaatikan dalam kepuasan kerja, baik aspek psikologis, aspek fisik, dan aspek sosial, maupun aspek finansial, ke empat aspek tersebut saling melengkapi

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Robbins (2008) menyebutkan beberapa faktor yang mendorong kepuasan kerja. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1. Ganjaran yang pantas

Banyak karyawan yang menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang adil sesuai dengan pengharapannya. Akan tetapi, yang menghubungkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan, melainkan persepsi keadilan. Promosi memberikan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, tanggung jawab yang lebih banyak dan status sosial yang meningkat.

(7)

2. Pekerjaan yang penuh tantangan

Karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan, kemampuannya dan menawarkan beragam tugas, kebebasan dan betapa baik mereka mengerjakan serta tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan.

3. Rekan sekerja

Dukungan dari rekan sekerja (kelompok kerja) dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi seorang karyawan. Hal ini disebabkan karena karyawan merasa diterima dan dibantu dalam menyelesaikan tugasnya. Rekan sekerja yang ramah dan mendukung merupakan sumber kepuasan karyawan secara individual.

4. Kondisi kerja

Karyawan mengharapkan kondisi kerja yang baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas yang baik. Kebanyakan karyawan lebih menyukai bekerja dekat dengan rumah dan dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern serta peralatan yang memadai.

Dari ke empat faktor di atas, terdapat penelitian yang dilakukan oleh Kartikawati (2016) menyatakan bahwa stress kerja berpengaruh negative dan signifikan terhadap kepuasaan kerja karyawan sebesar 11,8%.

(8)

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan jika stres kerja menjadi salah satu faktor timbulnya kepuasan kerja, dengan begitu stres kerja berhubungan dengan kepuasan kerja.

B. Stres Kerja 1. Pengertian Stres Kerja

Menurut Szilagyi (1990) stres adalah pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis dalam diri seseorang sebagai akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain. Menurut Mangkunegara (2001) stres kerja juga dapat berarti perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres kerja ini tampak dari simptom, antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyendiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, tekanan darah meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan.

Menurut Handoko (2001) stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Hasilnya yaitu pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka yang menyangkut baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Beehr dan Newman (1978) menjelaskan bahwa stres kerja adalah keadaan internal manusia yang menyimpang

(9)

dari fungsi normal yang disebabkan oleh adanya tuntutan fisik, lingkungan dan situasi sosial. Keadaan internal manusia merupakan sikap manusia yang berasal dari dalam diri yang dikendalikan sendiri oleh manusia tersebut. Keadaan internal manusia dapat menyimpang dari fungsi normal yang dapat disebabkan beberapa hal yaitu tuntutan fisik, lingkungan, dan situasi sosial.

Menurut Arep dan Tanjung (2003) stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Orang yang mengalami stres menjadi tegang dan merasakan kekhawatiran kronis sehingga mereka sering menjadi marah-marah, agresif, tidak dapat relaks atau memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif. Menurut Robbins (2003) stres adalah suatu kondisi dinamik yang di dalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints) atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Stres dengan tidak sendirinya harus buruk, walupun stres lazimnya dibahas dalam konteks negatif, stres juga memiliki nilai positif. Stres merupakan suatu peluang bila stres itu menawarkan perolehan yang potensial.

Luthans (2000) mendefinisikan stres sebagai suatu tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa yang terlalu banyak mengadakan tuntutan

(10)

psikologis dan fisik seseorang. Sedangkan menurut Karasek (1979) stres kerja adalah sebagai interaksi yang muncul antara tuntutan psikologi pada suatu pekerjaan dengan kontrol terhadap pekerjaan tersebut dan dukungan sosial ditempat kerja, dimana tuntutan psikologi pada pekerjaan tinggi serta kontrol dan dukungan social ditempat kerja rendah Demikian dapat disimpulkan bahwa stres kerja timbul karena tuntutan lingkungan dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda-beda.

Kesimpulan dari Stres Kerja yang dikemukakan oleh beberapa tokoh adalah Kondisi Individu yang diakibatkan oleh suatu pekerjaan, berdampak pada kondisi kejiwaan dan kondisi fisik individu. Stres kerja juga bisa menjadikan seseorang menjadi termotivasi atau tidak.

2. Aspek-Aspek Stres Kerja

Menurut Beehr dan Newman (1978) ada 3 aspek dalam stres kerja, yaitu Psikologis, Perilaku, Fisik. Berikut penjelasan dari aspek :

a. Psikologis

Gejala psikologis dari stres kerja yaitu kebingungan, kecemasan, ketegangan, marah, kesal, emosi, tertekan, depresi, kurang konsentrasi, kegelisahan, tidak percaya diri.

b. Perilaku

Gejala perilaku dari stres kerja yaitu kurang bersemangat bekerja, menghindari pekerjaan, penurunan produktifitas dalam

(11)

bekerja, memakai obat-obatan, minum-minuman keras, perilaku makan yang tidak normal, peningkatkan agresivitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal.

c. Fisik

Gejala fisik dari stres kerja yaitu mudah lelah, mudah terkena penyakit, siklus tidur tidak teratur, ketegangan otot, keringat berlebihan.

Menurut Karasek (1979) terdapat konsep bi-dimentional dalam model stres kerja yaitu demand (tuntutan) dan control (kendali), selain itu Jhonson akhirnya mendapati bahwa dalam model ini terdapat satu dimensi lagi yang dikira juga berperan dalam stres kerja yaitu social support (dukungan sosial) :

a. Demand (Tuntutan)

Dalam pemaparannya sendiri, Karasek juga menjelaskan bahwa tuntutan dalam stress kerja terbagi menjadi 2 yaitu,Tuntutan secara psikologi dan Tuntutan secara fisik. Tuntutan psikologis yang tinggi dan kebebasan mengambil keputusan yang rendah pada karyawan akan mengakibatkan ketegangan dalam bekerja bagi karyawan itu sendiri. Tuntutan dalam bekerja tidak hanya terjadi secara mental bagi karyawan namun juga secara fisik, efek dari kerusakan psikologis bagi karyawan juga bisa berdampak pada salah satunya kesehatan system kardiovaskuler yang ada pada tubuh karyawan.

(12)

b. Control (Kendali)

Kendali pada pekerjaan karyawan sangat berpengaruh dalam kemampuan karyaawan untuk mempelajari pekerjaannya lebih lanjut, dan membuat karyawan mampu mengeluarkan kemampuan yang ia punya untuk mengatasi tuntutan dalam perkerjaannya. Bagaimana cara berinisiatif dalam apa .

c. Social Support (Dukungan Sosial)

Pada stress kerja juga dikenal dukungan sosial, dimana semakin besar tuntutan yang diterima, dengan kontrol yang diberikan cukup sedikit, maka dukungan sosial yang diterima juga akan sedikit.

Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini menggunakan teori, Beeher dan Newman (1978) yang memiliki tiga aspek yang mempengaruhi stres kerja yaitu aspek psikologis, aspek perilaku, dan aspek fisik. Peneliti akan mengacu pada aspek-aspek diatas dalam pembuatan alat ukur.

C. Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara stres kerja dengan kepuasan kerja pada driver Go-car yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama khususnya di Yogyakarta. Variabel stres kerja ataupun kepuasan kerja memiliki beberapa aspek yang saling berkaitan satu sama lainnya. Menurut Jewell dan Siegall (1998) kepuasan kerja adalah sikap yang

(13)

timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja dan merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang bermacam-macam. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut cara karyawan memandang pekerjaannya. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja menurut Robbins (2008), yaitu faktor ganjaran yang pantas seperti gaji, lalu pekerjaan yang menantang, rekan sekerja, dan kondisi kerja.

Beehr dan Newman (1978) menjelaskan bahwa stres kerja adalah keadaan internal manusia yang menyimpang dari fungsi normal yang disebabkan oleh adanya tuntutan fisik, lingkungan dan situasi sosial. Keadaan internal manusia merupakan sikap manusia yang berasal dari dalam diri yang dikendalikan sendiri oleh manusia tersebut. Keadaan internal manusia dapat menyimpang dari fungsi normal yang dapat disebabkan beberapa hal yaitu tuntutan fisik, lingkungan, dan situasi sosial. Stres kerja menurut Beehr dan Newman (1978) memiliki 3 dimensi yaitu psikologis, perilaku, dan fisik.

Psikologis berkaitan dengan kondisi mental atau jiwa dan respon yang dimiliki pegawai terhadap pekerjaannya. Seseorang yang mengalami stres kerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh kasmarani (2012) yang menyatakan bahwa seseorang yang stres akan mengakibatkan gangguan pada psikologisnya akibat dari pekerjaan dan semacamnya, kepuasan kerja juga memiliki aspek yang sama yaitu psikologis hal ini yang membuat stres kerja dan kepuasan berhubungan, karena kondisi psikologis dilihat dari stres kerja dan kepuasan kerja akan

(14)

berlawanan, Handoko (2001) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang dialami para karyawan dalam memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya yang tampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjaannya.

Perilaku, perilaku yang diakibatkan dari stres kerja pada penelitian yang dilakukan oleh Marchelia (2014) Stres kerja dapat menimbulkan berbagai konsekuensi pada individu pekerja. Baik secara fisiologis, psikologis dan perilaku, gejala yang bisa dilihat dari perilaku pekerja yang mengalami stres kerja adalah seperti absensi, menurunnya prestasi dan produktivitas, menurunnya hubungan interpersonal dengan keluarga, teman, dan mudah gelisah. Hal ini bertentangan dengan kepuasan kerja Menurut Herzberg (1987) ciri perilaku seseorang yang memiliki kepuasan tinggi pada pekerjaannya adalah mereka yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja , mereka lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, tidak terbebani, dan dapat mengatasi masalahnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa stres kerja dan kepuasan kerja memiliki hubungan negatif.

Fisik, stres kerja dapat menimbulkan kondisi fisik yang buruk, seperti penelitian yang dilakukan kasmarani (2012) yang menyatakan bahwa seseorang yang stres akan mengakibatkan gangguan pada psikologisnya maupun fisiologisnya, hal ini dapat menimbulkan turunnya kepuasan kerja pegawai terhadap pekerjaan tersebut. Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa stres

(15)

kerja memiliki hubungan negatif terhadap stres kerja, Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Syah dan Indrawati (2016), semakin rendah strres kerja maka kepuasan kerja akan semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi stres kerja maka kepuasan kerja akan semakin rendah. Artinya, karyawan yang memiliki tingkat stres tinggi akan memiliki kepuasan kerja yang rendah, begitu pula sebaliknya, ciri pekerja yang kurang puas akan merasa malas untuk datang ke tempat kerja dan melaksanakan kewajibannya.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan negatif antara stres kerja dan kepuasan pada pengemudi Go-Car, Semakin rendah Stres Kerja semakin tinggi Kepuasan Kerja. Begitu juga sebaliknya semakin tinggi stres kerja, maka semakin rendah kepuasan kerja.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di