KATA PENGANTAR. rahmat-nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya

48 

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan petunjuk dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini.

Karya ilmiah ini disusun berdasarka n hasil penelitian yang telah dilakukan sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hasil Hutan Non Kayu dan Laboratorium Sifat-sifat Kayu dan Analisis Produk Politeknik Pertanian Negeri Samarinda selama 4 bulan, dimulai pada bulan Mei dan berakhir pada Agustus 2008.

Dalam menyelesaikan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak yang telah membantu dan dengan kerendahan hati pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah banyak memberikan bantuan baik berupa materil maupun moril dalam menyelesaikan studi dan penyusunan karya ilmiah ini, kakak dan adikku serta seluruh keluarga yang selalu mendo’akan dan mendorong penulis dalam menyelesaikan studi.

2. Bapak Ir. Wartomo MP. Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

(5)

3. Bapak M. Fikri Hernandi, S.Hut, MP. selaku ketua Jurusan Pengolahan Hasil Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

4. Ibu Firna Novari, S. Hut, MP. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dari persiapan dan selama persiapan sampai penyusunan karya ilmiah.

5. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda khususnya angkatan 2006 yang telah banyak membantu dalam penelitian hingga penyusunan karya ilmiah, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan karya ilmiah ini masih terdapat banyak kekeliruan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, penulis meminta saran dan kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan penyajian laporan karya ilmiah ini selanjutnya. Besar harapan dari penulis semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya sebagai tambahan pengetahuan.

SYAMSUL ARIFIN

(6)

RIWAYAT HIDUP

SYAMSUL ARIFIN, Lahir pada tanggal 28 Februari 1989 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Anak ke-3 (tiga ) dari 5 (lima) bersaudara dari pasangan M. Sahih dan Nur Hayati.

Tahun 1994 memulai pendidikan formal pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 046 Samarinda, Kota Samarinda Propinsi Kalimantan Timur dan lulus tahun 2000 kemudian melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Sabilarrasyad Samarinda Kota Samarinda Propinsi Kalimantan Timur, serta memperoleh ijazah pada tahun 2003 dan pada tahun yang sama melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam Samarinda Kota Samarinda Propinsi Kalimantan Timur dan memperoleh ijazah pada tahun 2006.

Memulai pendidikan di Perguruan Tinggi pada tahun 2006 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan Memilih Jurusan pengolahan Hasil Hutan (PHH).

Kegiatan Akademik yang pernah dilaksanakan adalah Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT WANAJAYA NAGAPUSPA Jalan Pelabuhan Pantoloan No. 128 Kelurahan Baiya KM 21 Kecamatan Palu Utara Kota Palu Sulawesi Tengah. Mulai tanggal 16 Maret - 2 Mei 2009.

(7)

RINGKASAN

SYAMSUL ARIFIN : Sifat Fisik dan Kimia Asap Cair (liquid Smoke) dari Cangkang dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq), di bawah Bimbingan Firna Novari, S. Hut, MP.

Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan dan di laksanakan di Laboratorium Hasil Hutan Non Kayu dan Laboratorium Sifat-sifat Kayu.

Pene litian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia asap cair (Liquid Smoke) yang terdapat pada cangkang dan tandan kosong kelapa sawit (Elaeis

guineensis Jacq), dari penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan

pemikiran atau informasi terhadap komoditas yang baru berkembang di masyarakat. Baik dari cara pembuatan maupun sifat fisik dan kimia yang terdapat didalamnya.

Hasil penelitian diperoleh komponen fisika asap cair yaitu rendemen sebanyak 22,02% untuk cangkang kelapa sawit dan 46,7% untuk tandan kosong kelapa sawit, adapun nilai pH untuk asap cair cangkang kelapa sawit adalah 3 dan pH 4 untuk asap cair tandan kosong kelapa sawit. Sedangkan untuk berat jenis asap cair dari cangkang kelapa sawit 1,0605 dan tandan kosong kelapa sawit 1,001. Sedangkan untuk analisis warna keduanya mempunyai warna yang sama yaitu cokelat kemerahan.

(8)

Adapun untuk analisis asap cair cangkang kelapa sawit menggunakan GC-MS teridentifikasi sebanyak 24 komponen kimia yang didasarkan atas ‘retention time’ (dalam me nit), ‘peak area’ dan konsentrasi yang berbeda. Secara keseluruhan waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi komponen-komponen tersebut adalah 59 menit. Sedangkan untuk analisis asap cair tandan kosong kelapa sawit teridentifikasi sebanyak 46 komponen kimia.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii RIWAYAT HIDUP ... iv RINGKASAN ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 4

C. Hasil Yang Diharapkan ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Risalah Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) ... 5

B. Asap Cair (Liquid Smoke)... 10

III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15

B. Alat dan Bahan ... 15

(10)

D. Prosedur Penelitia n ... 17 E. Pengujian dan Analisis Data ... 21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Proses Karbonisasi Asap Cair dan Rendemen yang dihasilkan ... 24

B. Kualitas Asap Cair dari Cangkang dan Tandan Kosong Kelapa

Sawit ... 25

C. Pembahasan ... 25

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 32 B. Saran ... 33

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tubuh Utama Halaman 1. Standar Kualitas Cuka Kayu Menurut Japan Wood Vinegar

Association 2001 ... 14 2. Pengujian Kualitas Asap Cair dari Cangkang dan Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 25 3. Komponen Kimia Asap Cair dari Cangkang Kelapa Sawit ... 28 4. Komponen Kimia Asap Cair dari Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 30

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Tubuh Utama Halaman

1. Tandan Kosong Sawit ... 9

2. Cangkang Sawit ... 10

3. Persiapan Cangkang Sawit ... 17

4. Pembersihan Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 18

5. Penimbangan Berat Awal Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 19

6. Alat Destilasi Pembuatan Asap Cair ... 20

7. Kromatogram Asap Cair Cangkang Kelapa Sawit ... 27

(13)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahan baku yang banyak digunakan dalam pembuatan arang umumnya adalah limbah kayu baik yang berasal dari industri penggergajian maupun limbah pembalakan. Sampai saat ini, salah satu kebijakan Departemen Kehutanan adalah memanfaatkan kayu seoptimal mungkin (Zero waste) yang berarti semua industri pengolahan kayu baik besar maupun kecil harus mengusahakan tidak menghasilkan limbah kayu. Walaupun pada kenyataannya di lapangan rendemen industri penggergajian kayu masih antara 50 – 60%. Ketersediaan kayu untuk bahan baku arang ini semakin terbatas seiring dengan menurunnya produksi kayu dari hutan alam, sedang kayu yang berasal dari hutan tanaman industri (HTI) lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri kayu pertukangan dan pulp. Menurunnya produksi kayu berdampak pada menurunnya produksi arang. Hal ini dapat dilihat pada data ekspor arang yang cenderung menurun sejak 5 tahun terakhir (BPS 1997- 2001).

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Propinsi Kaltim 2002 bahwa potensi kelapa sawit berjumlah 132.173,50 Ha dan rata-rata produksi 11.019,79 Kg/Ha. Sampai dengan tahun 2007 luas lahan sawit sebesar 266.000 Ha dan program pemerintah tentang sejuta Ha sawit yang diharapkan bisa tercapai tahun 2018 mendatang, hal ini perlu mendapat dukungan yang luas. Namun seiring dengan

(14)

hadirnya pabrik pengolahan sawit, akan timbul permasalahan tersendiri yaitu tentang limbah pasca produksi tersebut (Anonim, 2004).

Perkebunan tanaman kelapa sawit di Indonesia memperlihatkan perkembangan yang pesat, menurut pusat informasi pertanian (2007) sampai dengan tahun 2007 luas areal perkebunan tanaman kelapa sawit Indonesia telah mencapai 5,15 juta hektar dengan produksi CPO 17 juta ton. Sedangkan Kalimantan Timur luas areal perkebunan pada tahun 2007 sekitar 265.654,5 hektar dengan produksi TBS (tandan buah segar) 1.059.629 ton (Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, 2007

dalam Syarifuddin, 2008).

Dalam rangka pemanfaatan jenis limbah tersebut di atas dan mengurangi pencemaran lingkungan serta memanfaatkannya menjadi barang bernilai tambah, maka limbah- limbah tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan briket karena arang dan briket dapat dibuat dari bahan yang mengandung lignoselulosa seperti limbah pertanian, perkebunan, kayu, tulang, dll (Sudradjat, R. 1982).

Industri arang Indonesia saat ini mengutamakan arang sebagai produknya, sedang sisanya sekitar 70 - 80% berupa limbah uap/gas yang dibuang bebas ke udara sebagai polutan.

Peningkatan nilai ekonomis pemanfaatan limbah Cangkang Kelapa Sawit dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi arang aktif dan cuka kayu (Wood

Vinnegar; dikenal juga dengan istilah asap cair, liquid smoke) Dalam dunia industri,

arang aktif sangat diperlukan karena dapat mengabsorbsi bau, warna, gas, dan logam. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap dan penjernih.

(15)

Disamping itu kebutuhan Indonesia akan arang aktif untuk bidang indus tri masih relatif tinggi disebabkan semakin meluasnya pemakaian arang aktif pada sektor industri.

Asap cair atau liquid smoke merupakan komoditas yang relatif baru berkembang, sehingga masyarakat belum banyak mengenalnya.

Pemanfaatan asap cair/cuka kayu umumnya pada sektor pertanian antara lain dapat membuat tanaman menjadi sehat, mereduksi jumlah insektisida dan parasit tanaman; sedangkan pencampurannya dengan nutrisi pupuk dapat membuat tanaman tumbuh lebih baik, sebagai growth promotor dan pupuk alam, dapat menggantikan pupuk kimia, mereduksi bau dari kompos dan pupuk kandang serta menyempurnakan kualitasnya (Anonim 2001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cuka kayu pada konsentrasi rendah dapat dipakai pada budi daya tanaman antara lain jahe, kemanggi, ketimun, buncis dan tanaman padi. Perkembangan pemanfaatan dari cuka TKS atau asap cair TKS sampai saat ini diketahui untuk pengolahan karet remah, RSS (sit asap) dan karet blok skim serta produk-produk baru (Solichin dan Tedjaputra 2004).

(16)

B. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui porses pengolahan cangkang dan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan asap cair.

2. Untuk mengetahui rendemen asap cair yang dihasilkan dari cangkang dan tandan kosong kelapa sawit.

3. Untuk mengetahui komponen-komponen fisika dan kimia yang terkandung dalam asap cair cangkang dan tandan kosong kelapa sawit.

C. Hasil yang Diharapkan

Penelitian ini diharapkan akan memberikan solusi bagi pemanfaatan sumber daya secara maksimal dalam hal ini pemanfaatan limbah yang cukup melimpah dari cangkang kelapa sawit dan tandan kosong kelapa sawit pada pabrik pengolahan

Crude Palm Oil (CPO) sehingga akan memberikan nilai tambah pada proses

pengolahan kelapa sawit dan juga untuk memberikan pengetahuan kepada semua orang terhadap ilmu yang baru berkembang yaitu tentang asap cair.

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Risalah Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)

Berdasarkan sejarahnya, kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) diyakini berasal dari Afrika Barat. Namun ada pula yang menyatakan bahwa tanaman tersebut berasal dari Amerika, yakni dari Brazilia. Zeven menyatakan bahwa tanaman sawit berasal dari daratan tersier, yang merupakan daratan penghubung yang terletak di antara Afrika dan Amerika sehingga tempat asal komoditas kelapa sawit ini tidak lagi di permasalahan orang. Walaupun demikian, kelapa sawit ternyata cocok dikernbangkan diluar daerah aslinya, termasuk di Indonesia. Hingga kini kelapa sawit telah diusahakan dalam bentuk perkebunan dan pabrik kelapa sawit oleh sekitar tujuh negara produsen terbesarnya.

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia pada tahun 1848 dan mulai dibudidayakan secara komersial dalain bentuk perusahaan perkebunan pada tahun 1911. Dalam perkembangannya melalui salah satu produknya, yaitu minyak sawit, kelapa sawit.

(18)

Ekologi Kelapa Sawit

Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari luar maupun faktor dari tanaman kelapa sawit itu sendiri. Faktor-faktor tersebut pada dasamya dapat dibedakan menjadi faktor lingkungan, faktor genetis, dan faktor teknis-agronomis. Dalam menunjang pertumbuhan dan proses produksi kelapa sawit, faktor tersebut saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Untuk mencapai produksi kelapa sawit yang maksimal, diharapkan ketiga faktor tersebut harus selalu ada dalam keadaan optimal.

Menurut Sastrosayono (2005), dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman kelapa sawit di klasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Klas : Monocotiledonae Ordo : Palmales Famili : Palmaceae Genus : Elaeis

Spesies : - Elaeis guineensis

- Elaeis odora (tidak ditanam di Indonesa) - Elaeis melano Cocca (Elaeis oleivera ) Varietas : - Elaeis guineensis dura

- Elaeis guineensis tenera - Elaeis guineensis pisipera

(19)

Dalam istilah internasional “oil palm” diartikan bukan hanya Elaeis guineensis jacq dari Afrika tetapi termasuk juga dua spesies lain dari Amerika Selatan yaitu

elaeis oleivera atau elaeis melono cocca dan elaeis ondora atau barcella ondora

Varietas Tanaman Kelapa Sawit

Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah, dikenal 4 (empat) varietas kelapa sawit, yaitu :

1. Dura

Cangkang cukup tebal antara 2 - 8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis dengan persentase daging buah terhadap buah bervariasi antara 35 - 50 %. Kernel (daging biji) blasanya besar dengan kandungan minyak yang rendah. 2. Pisifera

Cangkang sangat tipis, bahkan hampir tidak ada, tetapi daging buahnya tebal. Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi, sedangkan daging biji sangat tipis. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini. Oleh sebab itu, dalwn persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Penyerbukan silang antara Pisifera dengan Dura akan menghasilkan varietas Tenera.

(20)

3. Tenera

Varietas ini mempunyai sifat-sifat yang berasal dari kedua induknya, yaitu Dura dan Pisifera. Varietas inilah yang banyak ditanam di perkebunan-perkebunan pada saat ini. Cangkang sudah menipis, ketebalannya berkisar antara 0,5 - 4,0 mm, dan terdapat lingkaran serabut disekeliling- nya. Persentase daging buah terhadap buah tinggi, antara 60 - 96 %. Tandan buah yang dihasilkan oleh Tenera lebih banyak dari pada Dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil.

4. Macro Carya

Cangkang sangat tebal sekitar 5 mm, sedang daging buahnya tipis sekali. Tanaman Kelapa sawit terdiri dari berbagai bagian-bagian sebagai berikut : pelepah, tandan kosong (TKS) dan cangkang kelapa sawit. Pelepah hasil penjalangan atau praning, tandang kosong sawit (TKS) adalah tandan berisi biji sawit yang sudah diperas minyak crudetaln (CPO) nya sedangkan cangkang sawit adalah kulit biji sawit yang teksturnya lebih keras, berukuran lebih kurang 1 – 2 cm yang terdapat didalamya daging biji yang disebut juga cernel. Cernel tersebut mengandung minyak sawit.

(21)

Berdasarkan data IPORI 2002 dalam Solichin dan Tedjaputra 2002, diketahui bahwa pada tahun 2002 di Sumatra Utara terdapat 19 pabrik pengolahan CPO yang memiliki kapasitas produksi mencapai 1130 ton/jam, bahkan dalam beberapa tahun kedepan perkembangannya akan semakin pesat. Dari nilai produksi tersebut, 7% merupakan limbah berupa TKS yang berarti setiap jamnya mampu menghasilkan 79 ton limbah TKS. Lima puluh persen limbah yang berasal dari pabrik pengolahan CPO tersebut digunakan sebagai bahan bakar boiler.

Adapun limbah kelapa sawit terdiri dari :

1. Tandan kosong sawit (TKS)

TKS merupakan limbah proses pengepresan menjadi minyak kelapa sawit yaitu minyak yang keluar dari sabuk tiap buah sawit tiap jumlah banyak atau per tandan. Limbah ini tersedia dalam jumlah besar dan tersedia setiap saat selama kegiatan produksi berlangsung dan selama ini digunakan sebagai bahan bakar (Setyamidjaya, 1991).

Gambar 1.

(22)

2. Cangkang Sawit

Cangkang sawit adalah bagian kulit dari biji sawit yang juga merupakan limbah tersedia dengan jumlah besar bertekstur keras dibandingkan dengan bagian tandan kosong sawit maupun pelepahnya seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

B. Asap Cair (Liquid Smoke)

Pengertian umum dari Smoke Liquid atau Liquid Smoke atau lebih dikenal sebagai asap cair merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa-senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dll.

Sedangkan menurut pengertian yang lain adalah asap cair merupakan hasil pendinginan dan pencairan asap dari cangkang kelapa yang dibakar dalam tabung tertutup. Asap yang semula merupakan partikel padat didinginkan kemudian menjadi cair itu disebut dengan nama asap cair atau liquid smoke.

(23)

Menurut Wikipedia bahasa Inggris adalah asap cair terdiri atas pembakaran terkontrol dari potongan - potongan kayu atau serbuk - serbuk gergaji sehingga menghasilkan asap yang mengembun menjadi cairan dan meme rangkap asap yang belum mencair di dalam larutan atau cairan tersebut. bentuk atau zat ini dapat terbentuk melalui banyak metode untuk menghasilkan asap cair dalam cakupan yang luas

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa asap cair adalah has il destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran langsung ataupun tidak langsung dari bahan – bahan yang mengandung karbon.

Cuka kayu atau wood vinegar merupakan komoditas yang relatif baru berkembang, sehingga masyarakat belum banyak mengenalnya. Pemanfaatan cuka kayu umumnya pada sektor pertanian antara lain dapat membuat tanaman menjadi sehat, mereduksi jumlah insektisida dan parasit tanaman; sedangkan pencampurannya dengan nutrisi pupuk dapat membuat tanaman tumbuh lebih baik, sebagai growth promotor dan pupuk alam, dapat menggantikan pupuk kimia, mereduksi bau dari kompos dan pupuk kandang serta menyempurnakan kualitasnya (Anonim 2001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cuka kayu pada konsentrasi rendah dapat dipakai pada budi daya tanaman antara lain jahe, kemanggi, ketimun, buncis dan tanaman padi.

Asap cair perrtama kali dikembangkan pada tahun 1880 oleh sebuah pabrik farmasi di Kansas City yang dikembangkan dengan metode destilasi kering dari bahan kayu. Asap cair adalah asap yang terbentuk melalui proses permbakaran yang

(24)

terkondensasi pada suhu dingin yang terdiri dari fase cairan terdispersi dalam medium gas sebagai pendispersi. Asap terbentuk karena pembakaran yang tidak sempurna yaitu pembakaran dengan jumlah oksigen terbatas yang melibatk an reaksi dekomposisi bahan polimer menjadi komponern organik dengan bobot yang lebih rendah (Darmadji, 2005, Pszczola. 1995).

Girard (1992) menyatakan bahwa komposisi asap cair telah diteliti oleh Pettet dan Lane pada tahun 1940, ditemukan lebih dari 100 senyawa kimia yang terdapat pada asap cair kayu. Beberapa senyawa yang telah diidentifikasi yaitu fenolik 85 macam, karbonil 45, asam 35, furan 11, alkohol dan ester 15, lakton 13 dan hidrokarbon alifatik 21 macam. Menurut Maga (1998) komposisi rata-rata asap cair dari bahan kayu terdiri atas 11-92% air, fenolik 2,8-4,5%, karbonil 2,6-4,6% dan ter 1-17%

Asap cair dapat digunakan sebagai bahan pengawet karena mengandung senyawa anti bakteri, anti fungsi sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan bau pada ikan dan daging, selain itu asap cair juga mengandung asam asetat dan fenol sehingga dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Khusus untuk asam asetat yang biasa digunakan untuk bahan pengawet makanan (menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin berkembang dalam makanan) dan bekerja sebagai pelarut lipid sehingga dapat merusak membran sel begitu juga dengan alkohol yang terdapat dalam asap cair yang dapat mendenaturasi protein dan senyawa fenol yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, denaturasi protein, merusak membrane sel dan menghambat aktivitas enzim (Pelczar, 1988,

(25)

Yatagai, 1988, Cahyadi, 2005). Kerusakan protein dan lipid ini dapat merusak membrane sitoplasme sel sehingga permeabilitas membran tidak bersifat permeabel sehingga kerja enzim permease pada membrane terganggu dan pada ak hirnya penyerapan nutrisi menjadi terhambat. Pada prinsipnya adanya asam asetat, fenol, alkohol dapat menyebabkan perkecambahan spora dan pertumbuhan cendawan

Colletotricum gloeosporoides dan fusarium oxysporum yang biasa menyerang

tanaman terhambat. Selain itu asap cair yang diisolasi dengan pelarut methanol mengandung senyawa butirolakton yang berfungsi sebagai biopestisida (antifeedant) terutama untuk menanggulangi hama larva Spodoptera litura yang biasa menyerang tanaman daun dewa.

Untuk mengevaluasi hasil penelitian asap cair dilakukan dengan menganalisis berat jenis, keasaman, kadar asam organik, kadar tar terlarut, warna, bau dan transparansi mengikuti metode Jepang (Yatagai 2002).

(26)

Tabel 1. Standar Kualitas Cuka Kayu Menurut Japan Wood Vine gar Association 2001).

Parameter Wood vinegar Distilled wood

vinegar pH value 1.5 ~ 3.7 1.5 ~ 3.7 Specific gravity > 1.005 > 1.001 Percentage of organic acid 1 ~ 18 % 1 ~ 18 % Color Yellow

Pale reddish brown Reddish brown

Colorless Pale yellow Pale reddish brown

Transparency Transparent Transparent

Floating matters No floating matters No floating matters

(27)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hasil Hutan Non Kayu serta Laboratorium Sifat-sifat Kayu dan Analisis Produk Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Waktu penelitian dimulai pada bulan Mei dan berakhir pada Agustus 2008 dengan tahapan mulai dari persiapan penelitian, pengambilan bahan baku, pelaksanaan kegiatan penelitian, analisis data dan pelaporan hasil akhir penelitian.

B. Obyek Penelitian

Obyek yang diamati dalam penelitian ini adalah proses pembuatan asap cair sampai pengujian asap cair dari limbah padat kelapa sawit.

C. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkang kelapa sawit dan tandan kosong sawit.

Untuk proses karbonisasi sebelum mendapatkan karbon aktif digunakan alat tungku/kiln portable yang telah dimodifikasi disesuaikan dengan bahan baku yang digunakan. Kiln ini terbuat dari besi, dimana badan kiln berbentuk silindris. Unit pendingin yang digunakan terdiri dari unit pendingin tegak berdiameter 10 cm dibuat

(28)

dari pipa besi tahan karat (stainless steel) yang dihubungkan dengan tabung penampung destilat dan digabung dengan bak pendingin berupa drum 330 liter sebagai mantel. Uap/gas yang mengalir dari tungku masuk ke penampung destilat dan terjadi kondensasi, selanjutnya sisa uap/gas ini masuk ke unit pendingin tegak dan terjadi lagi kondensasi. Cairan kondensat atau destilat tertampung pada penampung tersebut. Untuk mengalirkan air pendingin yang masuk ke mantel drum dan unit pendingin tegak digunakan turen volume 300 liter dan penampung air yang disirkulasikan dengan te naga listrik secara periodik. Untuk pengolahan karbon aktif digunakan retort listrik kapasitas 3 kg, alat aktivator, dan alat-alat pengujian arang aktif.

Untuk pengujian dan analisis komponen kimia asap cair dari cangkang dan tandan kosong kelapa sawit menggunakan seperangkat alat GC-MS (Gas

(29)

D. Prosedur Penelitian a. Persiapan Bahan Baku

Cangkang Kelapa Sawit yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan asap cair adalah limbah dari pembuatan minyak kelapa sawit, berupa partikel berbentuk granular. Berat cangkang yang digunakan ditimbang dan diambil beberapa gram untuk dilakukan pengujian kadar air, kerapatan dan rendemen yang diperoleh. Berikut gambarnya:

(30)

Sedangkan tandan kosong kelapa sawit dibersihkan dulu dari sisa-sisa biji kelapa sawit yang masih menempel kemudian dikering anginkan beberapa saat lalu ditimbang sebelum dibakar, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

(31)

b. Produksi Asap Cair (Wood Vinnegar)

Produksi ini dilakukan dengan menggunakan tungku/kiln. Bahan baku dimasukkan ke dalam tungku dan dibakar secara langsung. Untuk menjadi cuka kayu, proses pembakaran (karbonisasi) dilakukan melalui tiga tahap yaitu: (1) proses awal sekitar 1 ~ 2 jam; (2) proses endotermis meliputi penguapan kadar air, penguraian komponen selulosa, hemiselulosa dan lain-lain; dan (3) proses eksotermis meliputi penguraian lignin dan pemurnian arang. Proses pembakaran umumnya dilakukan selama 24 ~ 25 jam tergantung pada bahan baku yang digunakan, kadar air bahan dan selama itu

(32)

pula produksi cuka kayu diamati. Selama produksi cuka kayu berlangsung, air pendingin disirkulasikan dan dikontrol suhunya agar asap/uap dapat terkondensasi dalam jumlah yang banyak. Proses pemurnian arang dilakukan dengan cara penguapan selama beberapa jam untuk memperoleh kualitas arang yang baik tanpa disertakan proses pendinginan asap/uap, artinya produksi cuka kayu dihentikan. Produksi cuka kayu dapat diketahui dari penimbangan destilat yang dihasilkan.

(33)

E. Pegujian dan Analisis Data

Analisis fisika-kimia asap cair meliputi nilai rendemen, pH, berat jenis dan warna yang dibandingkan dengan kualitas cuka kayu menurut standar Jepang (Yatagai, 2000).

1. Rendemen

Untuk menghitung nilai rendemen, tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

- Timbang berat awal bahan baku (cangkang dan tandan kosong kelapa sawit)

- Timbang hasil asap cair

Data rendemen dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

R = x 100 %

Dimana:

R = Rendemen (%)

Output = Asap Cair yang dihasilkan

Input = Berat bahan baku yang digunakan Output

(34)

2. PH

Untuk mengetahui nilai pH asap cair cangkang dan tandan kosong kelapa sawit, tahapannya adalah sebagai berikut:

- Kertas Indikator Universal pH 1 – 14 di re ndam ke dalam asap cair sesuai jenis masing- masing (cangkang dan tandan kosong kelapa sawit)

- Cocokkan kertas Indikator Universal pH 1 – 14 tadi dengan melihat perubahan warna yang terjadi dengan stándar warna yang ada pada kertas label

3. Berat Jenis (BJ)

Berat Jenis (BJ) dapat diketahui dengan tahapan-tahapan berikut: - Timbang gelas ukur untuk mengetahui beratnya

- Netralkan timbangan

- Masukkan asap cair dalam gelas ukur dengan volume tertentu - Timbang untuk mengetahui berat akhirnya

Data Berat Jenis (BJ) dihit ung menggunakan rumus:

BJ = Berat Volume

(35)

4. Warna

Untuk Pengujian kualitas warna hanya di amati dengan kasat mata.

5. Persentase asam organik

Untuk menganalisa persentase asam organik yang terdapat pada asap cair dari cangkang dan tandan kosong kelapa sawit dapat dilihat dari komponen asam organik yang dihasilkan berdasarkan kromatogram

Sedangkan untuk pengujian dan analisis komponen kimia yang terkandung dalam asap cair dari cangkang dan tandan kosong kelapa sawit dilaksanakan dengan metode GC-MS , dan data komponen kimia dalam persentase akan ditampilkan berdasarkan retention time masing- masing komponen, juga dengan melihat spektrum massa komponen kimia tersebut.

(36)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Proses Karbonisasi Asap Cair dan Rendemen yang dihasilkan

Untuk memproduksi asap cair dari cangkang dan tandan kosong kelapa sawit yaitu melalui proses karbonisasi sesuai dengan prosedur kerja.

Tandan kosong kelapa sawit yang di gunakan sebagai bahan baku dibersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa biji kelapa sawit yang masih menempel, kemudian dikering anginkan selama satu minggu. Setelah dikering anginkan tandan kosong tersebut ditimbang sebanyak 10 kg sebelum dibakar. Selanjutnya tandan kosong dimasukkan kedalam tungku/kiln dan dibakar secara langsung. Selama produksi cuka kayu berlangsung, air pendingin disirkulasikan dan dikontrol. Sekitar ± 30 menit asap cair akan mulai keluar dari kran sirkulasi setetes demi setetes sampai akhirnya pembakaran selesai. Setelah ± 24 jam diamati, tidak ada lagi asap cair yang keluar. Waktu 24 jam tersebut adalah waktu maksimum proses pembakaran untuk menghasilkan asap cair. Dari proses karbonisasi tersebut di dapat asap cair sebanyak 4,4 liter atau setara dengan 46,7%.

Begitu juga dengan proses karbonisasi cangkang kelapa sawit sama halnya dengan proses karbonisasi tandan kosong kelapa sawit, perbedaannya hanya dari

waktu dihasilkannya asap cair karena waktunya relatif lebih lama yaitu sekitar ± 45 menit. Dari proses karbonisasi cangkang kelapa sawit didapat asap cair

(37)

B. Kualitas Asap Cair dari Cangkang dan Tandan Kosong kelapa Sawit

Hasil analisis sifat fisik kimia asap cair dari cangkang kelapa sawit dan tandan kosong kelapa sawit dari penelitian ini disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 2. Pengujian Kualitas Asap cair dari Cangkang dan Tandan Kosong Kelapa Sawit

No. Parammeter Pengujian Cangkang Kelapa Sawit Tandan Kosong 1. 2. 3. 4. pH Berat jenis Warna

Persentase asam organik 3 1,0605 Coklat kemerahan 3,92 % 4 1,001 Coklat kemerahan 18,30 % C. Pembahasan

Hasil asap cair yang berasal dari proses karbonisasi pembakaran tandan kosong lebih banyak bila dibandingkan dengan asap cair dari cangkang kelapa sawit. Hal ini diketahui dari tingginya nilai rendemen asap cair dari tandan kosong yaitu 46,7 %, bila dibandingkan dengan asap cair dari cangkang kelapa sawit yaitu 22,02%. Hal ini dimungkinkan karena proses pembakaran tandan kosong lebih mudah dilakukan bila dibandingkan dengan cangkang kelapa sawit yang relatif memakan waktu lebih lama untuk dapat terbakar. Sehingga asap cair yang dihasilkan dari proses pembuatan tandan kosong relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan asap cair hasil pembakaran cangkang kelapa sawit. Hal ini juga di sebabkan proses

(38)

karbonisasi dari pembakaran tandan kosong berlangsung lebih cepat jika dibandingkan dengan proses kondensasi dari pembakaran cangkang kelapa sawit.

Bila dibandingkan dengan penelitian Nurhayati,T dkk.2005, nilai rendemen asap cair dari cangkang kelapa sawit adalah 24,2 %, sedikit lebih tinggi dari rendemen asap cair cangkang kelapa sawit hasil penelitian ini. Hal ini di karenakan adanya asap yang terbuang sia-sia karena terjadi kebocoran pada alat di karenakan alat yang tidak memadai.

Nilai keasaman (pH) asap cair dari cangkang kelapa sawit adalah 3 lebih rendah bila dibandingkan dengan asap cair dari tandan kosong yang memiliki pH 4. Bila dibandingkan dengan nilai pH asap cair cangkang kelapa sawit hasil penelitian Nurhayati, T dkk. 2005, yaitu 2, nilai pH hasil penelitian ini juga masih lebih tinggi. Akan tetapi masih memenuhi nilai pH standar kualitas cuka kayu Jepang yaitu 1- 3,7, hanya saja nilai pH untuk asap cair tandan kosong tidak memenuhi standar Jepang ini.

Untuk berat jenis asap cair dari cangkang kelapa sawit maupun dari tandan kosong, keduanya sudah memenuhi standar kualitas metode Jepang ini yaitu > 1,005.

Hasil analisis warna dari asap cair baik yang berasal dari tandan kosong maupun cangkang kelapa sawit keduanya berwarna coklat kemerahan, yang juga sudah memenuhi standar Jepang.

Sedangkan komponen kimia asap cair dari cangkang kelapa sawit dan tandan kosong dianalisis dengan seperangkat alat pyrolisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometer) Merek Shimadzu dengan kondisi pengujian diantaranya : suhu

(39)

kolom 50 oC, suhu internal 80 oC dan suhu injector 200 oC dan gas pembawa adalah helium.

Dari hasil analisis asap cair cangkang kelapa sawit (TKS) menggunakan GC -MS teridentifikasi sebanyak 24 komponen kimia yang didasarkan atas ‘retention

time’ (dalam menit), ‘peak area’ dan konsentrasi yang berbeda. Secara keseluruhan

waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi komponen-komponen tersebut adalah 59 menit.

Berikut adalah kromatogram dari asap cair cangkang kelapa sawit dan tandan kosong kelapa sawit :

(40)

Gambar 8. Kromatogram asap cair tandan kosong kelapa sawit

Dari gambar 5, yaitu kromatogram asap cair cangkang kelapa sawit dibuat data dalam bentuk table berikut :

Tabel 3. Komponen Kimia Asap Cair dari Cangkang Kelapa Sawit Peak R. Time Area Konsentrasi (%) Nama Komponen

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 3.884 3.939 4.313 4.563 4.713 4.847 5.080 5.243 6.926 1666924 6630854 1000630 1293155 150391 558594 126550 605006 94249 10.80 42.97 6.48 8.38 0.97 3.62 0.82 3.92 0.61 Nitrogen oxide 2-PROPYNOIC ACID 2-Heptanamine - - - 2,6-Dimethyl-4-pyrone Acetic acid 2,2,4-Trimethyl-2,4-disilapenta

(41)

Lanjutan Tabel 3 3 4 5 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 28.613 28.822 30.184 32.325 32.551 32.825 34.629 35.126 39.909 41.347 42.030 42.384 42.789 45.122 48.064 87944 88360 358022 289447 85314 131776 72071 220245 188192 87380 79566 122869 86574 258507 1149250 0,57 0.57 2.32 1.88 0.55 0.85 0.47 1.43 1.22 0.57 0.52 0.80 0.56 1.68 7.45 - 6-Methylbicyclo 2-Heptadecanone 5H-Cyclopropa (3,4)benz Methyl heptadecyl ketone 5H-Cyclopropa (3,4)benz - Clobetasone 1,2-Benzenedicarboxylic acid - N-tosylphenylalaninal Benzylimine Cyclotrisiloxane, hexamethyl Prosta-5-trien-1-oic acid 2-Aminostearic Acid 2,6,10,14,18,22 Tetracosahexaene Total 15431870 100.0

Komponen utama asap cair dari cangkang kelapa sawit adalah asam propinoat (42,97%), disusul nitrogen oksida (10,80%), Tetracosahexaene (7,45%), 2-Heptanamina (6,48%), asam asetat (3,92%) dan sejumlah kecil komponen lain yang masih mengandung asam. Banyaknya komponen yang mengandung asam memungkinkan penggunaan asap cair dari cangkang kelapa sawit ini sebagai

(42)

penghambat pertumbuhan mikrorganisme. Hal ini didukung oleh pendapat Pelczar 1988, Yatagai 1988, Cahyadi 2005, bahwa asap cair dapat digunakan sebagai bahan pengawet karena mengandung senyawa anti bakteri, anti fungi sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan bau pada ikan dan daging, selain itu asap cair juga mengandung asam asetat dan fenol sehingga dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Khusus asam asetat yang biasa digunakan untuk bahan pengawet makanan (menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin berkembang dalam makanan) dan bekerja sebagai pelarut lipid sehingga dapat merusak membran sel begitu juga dengan alkohol yang terdapat dalam asap cair yang dapat mendenaturasi protein dan senyawa fenol yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, denaturasi protein, merusak membran sel dan menghambat aktivitas enzim.

Selanjutnya dari gambar 6, yaitu kromatogram asap cair dari tandan kosong kelapa sawit dibuat data dalam bentuk tabel berik ut:

Tabel 4. Komponen Kimia Asap Cair dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Peak R. Time Area Konsentrasi (%) Nama Komponen

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 3.827 4.122 4.297 4.413 4.480 5.409 13835033 1853000 514257 183412 533972 9400092 26.94 3.61 1.00 0.36 1.04 18.30 - 1,2-Propanediamine Oxirane Butane Acetic oxide Acetic acid

(43)

Lanjutan Tabel 4 1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 7.479 12.490 12.655 14.357 15.861 15.999 17.966 18.196 23.286 23.597 25.971 26.372 27.812 28.039 28.329 28.455 29.019 29.320 29.763 30.021 30.189 31.338 31.603 32.311 32.541 32.712 9400092 822478 495925 144830 170219 125749 2368767 314504 192348 259014 101791 137906 118610 219760 112517 418568 106778 202501 127044 189630 447296 911287 344045 251292 371804 219651 1.60 0.97 0.28 0.33 0.24 4.61 0.61 0.37 0.50 0.20 0.27 0.23 0.43 0.22 0.82 0.21 0.39 0.25 0.37 0.87 1.77 0.67 0.49 0.72 0.43 0.41 Propanoic acid Furfuryl alcohol - Butyrolactone 3-Methyl-2-cyclopentenone Phenol 5-Valorolactone 1-Phenylpropane 1,2-diol 2,6-Dimethoxyphenol Dimethyl octanol 2-)xa-3- oxohomoadamantane Nonylbenzena 2-Heptadcanon Citronellyl valerate 2-Heptadecanone - 2-Heptadecanone Phospine 9-Borabicyclo

Dimethoxyglycerol docosyl ether 2-Heptadecanone

2-Pentadecanone yclooctene-5-

Carboxaldehyde

(44)

Lanjutan Tabel 4 1 2 3 4 5 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 33.870 34.202 34.388 34.663 37.965 39.674 39,907 40,507 42,620 46,013 46.365 46.447 46.597 48.087 211550 100414 201524 254039 182390 122497 581338 291678 167075 116203 263264 119759 160422 12964135 0.20 0.39 0.49 0.36 0.24 1.13 0.57 0.24 0.33 0.23 0.51 0.23 0.31 25.24 2-Heptadecanone Cyclohexanol 9.19-Cyclolanost-23-ene-3,25-diol

Acetic acid 3-Sopropyl Methyl-5-nitro-2,11-dioxo cycloundecane Octodecane 2,5-Di-tert-butylhydroquinon 1,2-Benzenedicarboxylic acid 1,2-Benzenedicarboxylic acid 1,3,5-Tetraethyl-1-butoxycyclotetrasiloxane Phloroglucinol 4-beta-acetoxy

Gibberellin A6 methyl ester 3-Buthyl cholestane

1,2-Bis (trimethylsilyl)benzene 2,6,10-Tetracosahexaene Total 51356138 100.00

(45)

Dari tabel diatas didapat analisis asap cair hasil proses karbonisasi tandan kosong kelapa sawit, teridentifikasi sebanyak 46 komponen kimia. Komponen utama yang dikandung asap cair dari tandan kosong ini adalah Tetracosahexaene (25,24%), Asam asetat (18,30%), Phenol (4,61%), 1,2-Propanediamine (3,61%) dan sejumlah komponen lain yang mengandung asam dan alkohol.

Adanya asam asetat memungkinkan asap cair dari tandan kosong maupun cangkang kelapa sawit ini digunakan sebagai bahan pengawet makanan (menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin berkmbang dalam makanan)dan bekerja sebagai pelarut lipid sehingga dapat merusak membrane sel, begitu juga dengan alcohol yang dapat mendenaturasi protein dan senyawa phenol yang dapat berfungsi sebagai disinfektan, denaturasi protein, merusak membrane sel dan menghambat aktifitas enzim (Pelezar & Yatagai, 1988, Cahyadi, 2005 dalam Pari G, 2007).

Selain itu secara prinsip adanya asam asetat, phenol, alcohol dapat menyebabkan perkecambahan spora dan pertumbuhan cendawan Colletotricum

gloeosporoides dan Fusarium oxysporum yang biasa menyerang tanaman menjadi

terhambat (Pari, 2007).

Sehingga dengan adanya komponen-komponen tersebut di atas memungkinkan digunakannya asap cair baik dari cangkang maupun tandan kosong kelapa sawit ini sebagai bahan pengawet.

(46)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisisnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Limbah Cangkang Kelapa Sawit dan tandan kosong kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang dan asap cair sebagai pengganti bahan baku kayu.

2. Rendemen asap cair tandan kosong kelapa sawit lebih tinggi dari rendemen asap cair cangkang kelapa sawit.

3. Beberapa sifat dan kualitas asap cair baik dari cangkang kelapa sawit maupun tandan kosong sudah memenuhi kualitas standar Jepang seperti nilai pH, berat jenis maupun warnanya.

4. Komponen kimia utama yang terdapat dalam asap cair baik cangkang kelapa sawit maupun tandan kosong kelapa sawit adalah asam asetat, fenol dan sejumlah alkohol. Sehingga asap cair dari keduanya dapat digunakan sebagi bahan pengawet karena komponen-komponen tersebut bersifat anti bakteri dan anti jamur.

(47)

B. SARAN-SARAN

1. Mengingat potensi sumber daya kelapa sawit cukup besar di Kalimantan Timur terutama setelah digalakkannya perkebunan kelapa sawit, disarankan kepada pihak investor perkebunan dan pemerintah provinsi Kalimantan Timur untuk menjajaki mengembangkan industri arang aktif untuk memanfaa tkan limbah dari pabrik pengolahan kelapa sawit.

2. Disarankan untuk melakukan pengujian langsung asap cair dari cangkang kelapa sawit maupun tandan kosong ini terhadap bahan makanan maupun bahan lain atas sifatnya yang dapat berfungsi sebagai bahan pengawet.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous (1982). Prototipe Alat Pembuatan Arang Aktif dan Asap Cair

Tempurung, Badan Penelitian dan Pengembangan lndustri,

Dept.Perindusutrian RI : 1-7.

Anonim. 2001. Wood Vinegar. Forest Energy Forum No. 9. FAO.

Anwar, R. 2007. Diktat Kelapa Sawit Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Samarinda.

Ibnusantoso, G. 2001. Prospek dan potensi kelapa rakyat dalam meningkatkan ekonomi petani Indonesia. Dirjen Industri Agro dan Hasil Hutan. Dept. Perindag. Disampaikan pada Pekan Perkelapaan Rakyat. 5 Nopember 2001 di Riau.

Pari G, 2007. Penelitian Limbah Sawit Sebagai Produk Karbonisasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor.

Sastrosayono, S. 2004. Budidaya Kelapa Sawit. Agramomedia Pustaka. Jakarta.

Solichin, M; N. Tedjaputra. 2004. Deorub Liquid Smoke as a New Innovation for the Future of Natural Rubber Industry and Others Industry.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :