• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Manajemen Mutu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sejarah Perkembangan Manajemen Mutu"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS SISTEM MANAJEMEN MUTU

PERKEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN MUTU

Oleh:

Rizka Titi Harjanti

M0312064

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

Hal 2 dari 14

A. Sejarah Perkembangan Manajemen Mutu

Proses perkembangan menuju era mutu merupakan proses yang cukup panjang dengan melewati berbagai pengalaman dan pendekatan metode yang bermacam-macam. Perkembangan mutu yang terjadi tidak lepas dari awal perubahan era menuju era industri di mana mulai dipergunakannya mesin-mesin untuk membantu proses produksi. Secara garis besar perkembangan atau evolusi mutu adalah sebagai berikut:

 Era Tanpa Mutu

 Era Inpeksi

 Era Pengendalian Mutu

 Era Jaminan Mutu

 Era Manajemen Mutu Terpadu

 Era Sistem Manajemen Mutu (ISO)

A. Era Tanpa Mutu

Merupakan era di mana persaingan belum terjadi oleh karena produsen atau pemberi pelayanan belum banyak, sehingga pelanggan pun belum diberi kesempatan untuk memilih. Hal ini terjadi pula pada organisasi pemberi pelayanan publik. Pada lembaga pelayanan publik yang dikelola oleh pemerintah, masyarakat sebagai pelanggan tidak diberikan hak untuk menuntut mutu pelayanan yang lebih baik atau yang diharapkan. Keadaan ini menyebabkan mutu pelayanan organisasi publik belum menjadi penilaian. Pengguna hanya mengutamakan yang penting ada dan dapat dipergunakan saja.

B. Era Inspeksi

Era ini dimulai oleh perusahaan – perusahaan yang memproduksi barang. Hal ini terjadi karena mulai adanya persaingan antar-produsen. Dengan demikian setiap perusahaan mulai melakukan pengawasan terhadap produknya. Pada era ini juga mulai dilakukan pemilahan mutu barang yang dilakukan melalui inspeksi. Namun mutu produk hanya pada atribut yang melekat pada produk. Oleh karena itu, mutu hanya dipandang produk yang rusak, cacat atau hanya pada penyimpangan dari atribut yang seharusnya melekat pada produk tersebut. Era ini menekankan pada deteksi masalah, keseragaman produk serta pengukuran dengan alat ukur yang dilakukan oleh yang berfungsi menginspeksi. Fokus perusahaan terhadap mutu belum besar dan terbatas pada produk akhir yaitu dilihat yang cacat atau rusak yang dibuang sedang yang baik yang dilepas ke konsumen.

(3)

Hal 3 dari 14 Era inspeksi ditandai dengan perhatian yang rendah dari pihak manajemen terhadap mutu produk. Tanggung jawab terhadap mutu produk didelegasikan pada departemen inspeksi yang bertugas hanya pada pendeteksian dan penyisihan produk yang tidak memenuhi syarat kualitas dari produk yang baik. Pada era ini belum ada perhatian terhadap kualitas proses dan sistem untuk merealisasikan produk tersebut. C. Era Pengendalian Mutu

Era Pengendalian Mutu dimulai sekitar tahun 1930-an. Era ini disebut juga era

statistical control, yang lebih menekankan pada pengendalian, keseragaman produk

dan pengurangan aktivitas inspeksi serta dilakukan Departemen Teknis dan Departemen Inspeksi. Pada era ini pula diperkenalkan pandangan baru terhadap konsep Walter A Shewart, .Menurut pandangan ini mutu produk merupakan serangkaian karakteristik yang melekat pada produk yang dapat diukur secara kuantitatif.

Di era statistical quality control atau jaman pengendalian mutu, manajemen telah mulai memperhatikan pentingnya pendeteksian yaitu dengan cara departemen inspeksi sudah mulai dilengkapi dengan alat dan metode statistik dalam mendeteksi penyimpangan yang terjadi dalam atribut produk yang dihasilkan dari proses produksi. Terdapat perubahan dalam penanganan mutu produk yaitu hasil deteksi yang secara statistikal dari penyimpangan mulai dipergunakan oleh departemen produksi untuk memperbaiki proses dan sistem produksi.

D. Era Jaminan Mutu (Quality Assurance)

Era jaminan mutu ini dimulai pada sekitar tahun 1960-an yang menekankan pada koordinasi, pemecahan masalah secara proaktif.. Pada era ini mulai dikenal adanya konsep total Quality Control (TQC) yang diperekenalkan oleh Armand F pada tahun 1950.

Jaminan mutu merupakan seluruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu barang atau jasa dapat memenuhi persyaratan mutu. Jaminan mutu merupakan bagian dari manajemen mutu yang difokuskan pada peningkatan kemampuan untuk memenuhi persyaratan mutu.

Oleh karena itu, jaminan mutu dilaksanakan secara berkesinambungan sistematis, objektif, dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab, masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dan selanjutnya menetapkan serta melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan

(4)

Hal 4 dari 14 yang tersedia, menilai hasil yang dicapai, dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan. (Azwar, 200).

Sejak era inilah peran manajemen mulai diperhitungkan untuk terlibat dalam penentuan dan penanganan mutu produk. Selain itu dalam era jaminan mutu ini pula mulai diterapkan bukan hanya pada industri manufaktur, tetapi juga pada industri jasa.

Di Indonesia era ini berkembang ditandai dengan dibentuknya Gugus Kendali Mutu (GKM) di masing - masing bagian atau divisi pada setiap organisasi. Kegiatan GKM ini diprakarsai oleh Departemen Perindustrian dan Departemen Tenaga Kerja, kemudian diikuti oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Lainnya. Pada era ini GKM digalakkan bukan hanya secara parsial, tetapi lebih bersifat nasional. Hal ini terlihat dengan dilakukannya konvensi GKM tingkat kabupaten, tingkat provinsi dan tingkat nasional.

Menyimak konsep era Statistical Control ini dapat diterapkan tidak hanya pada parusahaan manufaktur, maka sejak era ini pula Manajemen Mutu mulai diterapkan pada organisasi non barang atau organisasi jasa, seperti pada Rumah Sakit, Puskesmas dan organisasi jasa lainnya.

E. Era Management Mutu Terpadu atau Total Quality Management

Total Quality Management (TQM) dimulai pada tahun 1980 – an, era ini

menekankan pada manajemen stratejik. TQM merupakan suatu sistem yang berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkesinambungan kepuasan pelanggan pada titik penekanan biaya agar sama dengan biaya yang sesungguhnya untuk menghasilkan dan memberikan pelayanan. TQM juga sebuah upaya untuk mencapai keunggulan kompetitif serta mengutamakan kebutuhan pasar dan konsumen yang dilakukan oleh setiap orang dalam organisasi dengan leadership yang kuat dari pimpinan.

Management mutu terpadu atau Total Quality Management disebut pula

Continuous Quality Improvement (CQI). Total Quality yang berarti komitmen dan

pendekatan yang digunakan secara terus-menerus untuk meningkatkan setiap proses pada setiap bagian organisasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memenuhi bahkan melampui harapan dan outcome dari customer.

Tujuan dari diterapkan TQM perlu adanya perubahan budaya serta komitmen dari seluruh jajaran mulai pimpinan puncak sampai level terbawah. Agar TQM dapat berkelanjutan maka organisasi harus didukung oleh budaya yang mendukung yang menekankan pada kerja kelompok, pemberdayaan dan partisipasi karyawan,

(5)

Hal 5 dari 14 peningkatan terus menerus fokus pada pelanggan serta kepemimpinan yang tepat. Prinsip TQM secara keseluruhan proses produk maka titik beratnya pada penanganan kualitas pada seluruh aspek organisasi.

F. Era Sistem Manajemen Mutu

Era ini dimulai pada sekitar tahun 1943 yaitu pada masa perang dunia II, di mana sekutu mulai mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan peledak. Hal ini terkait dengan mutu bahan peledak untuk keperluan militer terutama oleh pasukan Inggris. Berdasarkan keadaan tersebut pihak militer Inggris mengembangkan serangkaian standar yang secara umum dapat menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam menyediakan produk bermutu tinggi serta konsisten bagi kepentingan bahan militer.

Pada akhir tahun 1960, disusun standar sistem mutu AQAP (Allied Quality

Assurance Publicators) yaitu pengembangan standar yang sudah ada sebagai sistem

kendali dengan tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan pemasok dalam pemenuhan persyaratan.

Pada tahun 1979 anggota ISO untuk Inggris yaitu British Standard Institute, menyerahkan proposal kepada ISO agar dibentuk suatu komite teknis baru untuk menyiapkan standar internasional yang berkaitan dengan teknik dan praktik penjaminan mutu, maka dibentuklah komite teknis baru dengan nomor ISO/TC 176. Sebagai hasil kerja ISO/TC 176, pada tahun 1987 dipublikasikan seri standar ISO 9000 yaitu sistem manajemen mutu yang merangkum sebagian besar standar sebelumnya di samping peningkatan dan penjelasan standar baru.

(6)

Hal 6 dari 14

B. Sejarah Kronologis Perkembangan Total Quality Management

Tahun Perkembangan Karakteristik

Istilah

1920 Quality Control mulai di Amerika Serikat, terbatas untuk

produksi dan pabrik QC

1924 Control Chart diperkenalkan oleh W. A. Shewhart

1940

Quality Control menggunakan metode-metode statistic, mulai diterapkan di Amerika Serikat dengan Dr. J. M. Juran

sebagai pelopor

SQC

1950

Jepang mulai menerapkan Total Quality Control. Diperkenalkan Statistik QC oleh Dr. W.E. Deming

Tokoh-tokoh TQC lainnya, tercatat: Dr. A.V. Feigenbaum (1951) dan Dr. J.M. Juran (1954)

TQC

1960 Jepang mulai menerapkan Quality Control Circle QCC

1968 – 1986

Penerapan QC mulai meluas ke bidang-bidang lain, yaitu industry non manufaktur (konstruksi dan lain-lain), serta industry jasa, terutama setelah diperkenalkannya system manajemen dengan pengendalianyang terpadu (TQC), yang

menitikberatkan pelaksanaan proses PDCA (Plan, Do, Check, Action) pada tahun 1978. Disamping itu, penerapan

QCC mulai merambah dunia Internasional dan salah satu Negara yang mengadopsi konsep ini adalah Indonesia (1980), melalui perusahaan swasta nasional yang berpartner

dengan perusahaan Jepang, yakni PT. United Tractors dan Astra Group.

TQC

1979

Motorola memperkenalkan Metode Six Sigma, suatu pendekatan dalam Total Quality Management yang bertujuan menurunkan tingkat cacat, sehingga level mutu

(Yield) bisa mencapai: 99,99966 (lebih popular dengan istilah 6 Sigma = 3,4 DPMO – Deffect per Million Opportunity). Konsep/Metodologi ini sedemikian popular setelah Jeck Welch dari GE (General Elektrik) USA sejak 1995 mengumumkan sukses penerapan 6 Sigma dengan

keuntungan lebih dari $ 600 juta pada tahun 1998.

(7)

Hal 7 dari 14 1985

Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (PMMI) berdiri atas prakarsa Menteri Tenaga Kerja Repubilk Indonesia – Laksamana TNI (Purn.) Sudomo. Organisasi ini diharapkan

menjadi “Prime Mover” Quality Movement di Indonesia. (diluar institusi pemerintah)

GKM & TQC

1986

Menteri Perindustrian membentuk LPMT (Lembaga Pengendalian Mutu Terpadu) yang secara khusus menjadi

lembaga TQM sector industri.

1987

ISO-9000 Standar Manajemen Mutu Internasional mulai diperkenalkan di dunia oleh Badan ISO (International Organization for Standarization). ISO-9000 ini sangat menyita perhatian dunia industry karena melalui Sertifikat

ISO-9000, perusahaan penerimanya seolah-olah memiliki “Passport“ Mutu Internasional untuk bisa merambah keseluruhan pelosok karena diakui memiliki Standar Mutu

Internasional.

ISO 9000

1989

Di Amerika Serikat mulai didirikan The Center of Quality Management, diprakarsai oleh 7 perusahaan besar Boston,

yang bertujuan mengakselerasikan penerapan TQM di masing-masing perusahaan.

Dalam perkembangannya, melalui pengalaman penerapan TQM, perusahaan-perusahaan anggota organisasi ini diperkenalkan buku

dengan judul “A New American TQM”

Di Indonesia, sejumlah menteri menyatakan tahun 1989 sebagai tahun kebangkitan Mutu dengan ditanda tanganinya Pernyataan Bersama,

seiring dengan pergantian pengurus PMMI yang kemudian dijabat SUDOMO selaku Chairman.

TQM

1991

Presiden Republik Indonesia Soeharto mencanangkan Bulan Mutu, Standarisasi dan Produktivitas Nasional. PMMI resmi ditunjuk sebagai Badan Penyelenggara Bulan Mutu hingga

saat ini dengan menamakan Kegiatannya dengan KMI (Konvensi Mutu Indonesia) atau IQC (Indonesian Quality

Convention).

Bersamaan dengan ini, PMMI menjadi tuan rumah penyelenggara ICQCC-Bali (International Convention on Quality Control Circle),

Konvensi Tingkat

(8)

Hal 8 dari 14 1992

Indonesia resmi mengadopsi ISO-9000 sebagai Standar Nasional dengan nama SNI-19-9000. Diawali dengan berangkatnya 6 orang Tim-PMMI “Round The World” ke

Negara Eropa (Belanda, Belgia, Jerman dan Swiss) mengunjungi kantor pusat ISO di Geneve-Swiss. Dan ke Amerika Serikat dengan mengunjungi kantor pusat ASQ (American Society for Quality) dan berakhir di Jepang (JUSE). Misi Tim ini untuk melihat seberapa jauh Negara

lain menyambut ISO-9000, dan strategi masing-masing Negara dalam mensosialisasikannya hasil TIM 6

bersama-sama beberapa orang lain departemen perindustrian dan DSN adalah terjemahan ISO-9000 kedalam bahasa Indonesia yang kemudian sebagai cikal bakal SNI-19-9000.

ISO-9000 & SNI-19-9000

1995

Januari, Prof. Shoji Shiba dari Jepang memberikan 6 hari Seminar TQM atas prakarsa dan pembiayaan Laksamana

TNI (Purn.) Sudomo. Pesertanya 35 orang, 5 orang diantaranya Pengurus PMMI yang kemudian mengembangkan dan menyebarluaskan konsep-konsep Shiba di Indonesia, antara lain 4 Revolutions in Management

Thinking dan WV-Model Problem Solving Approach.

1996

JUSE (Japanese Union for Scientist and Engineers), Organisasi yang selama ini mengembangkan system manjemen mutu di Jepang, telah memutuskan untuk

merubah istilah TQC menjadi TQM.

TQM

1997

Indonesia mengenal PDCA-TULTA (Tujuh Langkah dan Tujuh Alat Pengendalian Mutu). Pendekatan Quality Problem Solving yang dikembangkan berdasarkan “Gaya”

dan “Kebiasaan” pekerja di Indonesia.

2000

TULTA memperoleh pengakuan hokum atas HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) semacam Patent.

Penerapan PDCA TULTA ini meluas, hingga saat ini ratusan perusahaan penerap TQM/QCC sudah mengadopsinya

sebagai “Problem Solving”.

TULTA

(9)

Hal 9 dari 14 Seminar Eksekutif pada KMI-2000 di Malang. Secara

perlahan namun pasti, Six Sigma ini mulai dipakai sebagai salah satu Metoda Problem Solving untuk meningkatkan

Mutu secara Proaktif.

2001

Di Indonesia mulai dirancang National Quality Award – melalui pendekatan ISO-9000 Excellence Award. Salah satu

penerimanya adalah Phillips Ralin-Surabaya yang juga penerima: European Quality Award (tahun 2002).

2002

10 negara praktisi mutu di Asia – memprakarsai pendirian “ASIA NETWORK FOR QUALITY” (ANQ) dengan tujuan

menggalang Negara se-Asia dalam mengembangkan pendekatan Quality-Management berbasis “ASIA-VIEW”.

Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (PMMI) mewakili Indonesia. Berikut ini organisasi-organisasi pendiri ANQ sebagai berikut:

1. China Association for Quality (CAQ) 2. Chinese Society for Quality (Chinese Taipei)

3. Hongkong Society for Quality (HKSQ) 4. Indian Society for Quality (ISQ)

5. Indonesian Quality Management Association (IQMA) Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (PMMI)

6. Iranian Society for Quality (ISQ) 7. Japanese Society for Quality Control (JSQC) 8. Korean Society for Quality Management (KSQM) 9. The Standards and Quality Association of Thailand (SQA) 10. Director for Standards and Quality, Vietnam (STAMEC)

ANQ

2003

JUSE (Japanese Union for Scientist and Engineers) memperkenalkan e-QCC yakni pengembangan trasisional –

QCC melalui pemanfaatan Internet atau Intranet dalam memutar PDCA-Cycle. Terutama media ini ditunjukkan kepada kelompok-kelompok: Sales, Marketing, R&D yang cenderung sulit bertemu, karena ditunjuk kegiatan Indonesia

memperkenalkan e-QCC pada KMI 2003-Batam.

e-QCC

2004

Indonesia memperluas forum Society-Networking Quality Improvement Team dengan menggagas Forum Gugus Mutu

dan Sistem Saran yang digelar dalam Konvensi Mutu Indonesia. Oleh sebab itu, di Indonesia paling tidak sudah

TM2 Tim Manajemen

(10)

Hal 10 dari 14 dikenal 3 tipe pendekatan :

1. QCC – dengan PDCA TULTA

2. FGM (Forum Gugus Mutu) dengan PDCA Non-Tulta 3. PSS (Perbaikan melalui Sistem Saran) dengan PDCA

Individual

Untuk Level Manajemen menengah dikenal Quality Improvement Team dengan nama “TM2” (Tim Manajemen Mutu) – yang sudah dipatenkan oleh PMMI. Dan tahun 2004

resmi dipromosikan ke Hongkong melalui program kerjasama HKPC (Hongkong Productivity Center)

2012

Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (PMMI) resmi meluncurkan SQM (Sudomo Quality Medal) pada IQC 2012

(11)

Hal 11 dari 14

C. Perkembangan Sistem Mutu Laboratorium

1. ISO Guide 25 : 1978

Menekankan edisi pertama sistem mutu laboratorium mulai diterapkan. 2. ISO/IEC Guide 25 : 1982

Penyempurnaan edisi pertama, sejak diterapkan standar ini perkembangan sistem mutu laboratorium berkembang pesat. Seiring dengan semakin banyaknya penerapan ISO/ IEC Guide 25: 1982, ada kebutuhan untuk memberlakukan pendekatan sistem mutu di pabrik, industri, maupun jasa pelayanan. Situasi tersebut mendorong perlunya disusun pedoman dan standar baru yang disempurnakan dalam bidang jaminan mutu. Perkembangan antara sistem manajemen mutu di industri dan di laboratorium dalam waktu yang relatif bersamaan tersebut mendorong terbentuknya Standar Sistem Manajemn Mutu Laboratorium.pada tahun 1988, ILAC mengadakan pertemuan dan meminta ISO untuk merevisi lebih lanjut ISO/IEC Guide 25: 1982 dengan mempertimbangkan perubahan dan perkembangan keadaan. IEC menyetujui revisi tersebut pada Oktober 1990 dan kemudian disusul oleh ISO pada Desember 1990. Edisi ketiga ini diterbitkan sebagai ISO/IEC Guide 25: 1990 tentang General

Requirements for the Competence of Testingand Calibration Laboratories.

3. ISO/IEC Guide 25 : 1990

Penyempurnaan edisi sebelumnya, lebih difokuskan pada kegiatan laboratorium yang memperhatikan persyaratan kemampuan laboratorium yang tercantum dalam OECD tentang GLP serta ISO seri 9000: 1987 tentang sistem manajemen mutu. ISO/IEC Guide 25: 1990 mengadop filosofi dari elemen sistem manajemen mutu, namun tetap mempertahankan spesifikasi kriteria teknis yang ada pada ISO Guide 25: 1978. Dalam pedoman ISO/IEC Guide 25: 1990 dinyatakan bahwa laboratorium yang memenuhi persyaratan standar ISO 9002: 1987 jika laboratorium tersebut menghasilkan data pengujian dan/ atau kalibrasi. Ketentuan tersebut juga berlaku pada laboratorium penelitian dan pengembangan dengan menambahkan elemen sistem manajemen mutu yang disyaratkan pada ISO 9001: 1987.

4. ISO/IEC Guide 17025 : 2000

Penyempurnaan edisi sebelumnya, berisi tentang semua persyaratan yang harus dipenuhi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi yang ingin menerapkan sistem mutu, berkemampuan secara teknis dan dapat menghasilkan data yang valid.

(12)

Hal 12 dari 14

D. Sistem Manajemen Mutu Laboratorium

Semakin pesatnya perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi pada akhir 1970-an membawa dampak yang sangat besar terhadap tatanan hidup manusia. Perubahan yang sangat cepat tersebut membawa dampak di segala bidang dan di segala tatanan hidup manusia dan mengakibatkan interaksi antar manusia tak mengenal batas karenan begitu pesatnya perkembangan industri teknologi informasi dan komunikasi. Hal tersebut akhirnya menimbulkan persaingan yang sangat ketat di pasar dalam negeri maupun pasar internasional.

Meningkatnya persaingan ini akhirnya membawa pengaruh terhadap penetapan standard mutu bagi barang dan jasa. Salah satunya standar mutu laboratorium (ISO 17025:2005). Tuntutan informasi teknis dari setiap produk yang akan diperdagangkan menuntut sebuah laboratorium yang melakukan pengujian agar untuk meningkatkan kompetensi dan kepercayaan terhadap hasil uji yang absah dan valid.

Contoh Sertifikat ISO 17025:2005

Audit dan sertifikasi ISO 17025:2005 pada dasarnya sama dengan ISO 9001:2000 tetapi pada ISO 9001:2000 tidak mengevaluasi kemampuan teknis laboratorium dalam menghasilkan data hasil uji atau kalibrasi yang absah dan dapat dipercaya. Untuk meyakinkan bahwa laboratorium tersebut mempunyai kemampuan teknis dalam menghasilkan data yang akurat dan handal, laboratorium harus menerapkan sistem manajemen mutu laboratorium (ISO 17025:2005). Fokus dari sistem ini adalah dengan memperhatikan persyaratan kemampuan laboratorium dalam OECD (Organization for Economic Cooperation Development) dan GLP (Good Laboratorium Practice) serta ISO 9001:2000 sebagai jaminan mutunya.

(13)

Hal 13 dari 14 Faktor teknis yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Sumber daya manusia yang mempunyai kualifikasi dan pengalaman. 2. Kalibrasi dan perawatan peralatan laboratorium yang tepat.

3. Sistem jaminan mutu yang sesuai.

4. Teknik pengambilan contoh uji dan metode pengujian yang telah divalidasi. 5. Mampu telusur pengukuran dan system kalibrasi ke standard nasional /

internasional.

6. Sistem dokumentasi dan pelaporan data hasil pengujian. 7. Sarana dan lingkungan kerja pengujian.

Keuntungan dari penerapan sistem manajemen mutu ISO 17025:2005 adalah : 1. Meningkatkan kemampuan dan kepercayaan pada laboratorium kalibrasi dan

laboratorium pengujian melalui penerapan persyaratan yang berlaku.

2. Memudahkan penghapusan hambatan non-pajak perdagangan melalui penerimaan hasil kalibrasi dan hasil uji antar negara.

3. Memudahkan kerjasama antar laboratorium dan antar instansi dalam tukar menukar informasi, pengalaman dan harmonisasi standard dan prosedurnya.

(14)

Hal 14 dari 14 DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Sistem Manajemen Mutu Laboratorium”. http://www.azamku.com/sistem-manajemen-mutu-laboratorium/#. Diakses tanggal 10 September 2013.

Hadi, Anwar. 2000. Pemahaman dan Penerapan ISO/IEC 17025: 2005. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hadi, Syamsi. “Sejarah Perkembangan Sistem Mutu”.

http://syamsisite.blogspot.com/2010/11/sejarah-perkembangan-manajemen-mutu.html. Diakses tanggal 8 September 2013.

Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia. “Sejarah Kronologis Perkembangan Total Quality

Management”.

Referensi

Dokumen terkait

jaminan mutu dan keamanan pangan produk-produk perikanan, mulai dari. proses produksi, pengolahan

Penelitian yang akan dilakukan dirancang untuk meneliti pengaruh sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik, yakni supervisi, konsultasi, dan inspeksi terhadap pekerjaan

Dari hasil analisis yang dilakukan pada produk pupuk organik petroganik adalah adanya pengendalian mutu mulai dari bahan baku sampai pada produk pupuk jadi,

Setelah megikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan definisi mutu menurut Deming, Taguchi, mengolah data dan melakukan statistical proces control, mengetahui

Oleh Karena Itu Dalam Suatu Perusahaan Harus Terdapat Departemen Quality Control Dimana Departemen Tersebut Bertugas Untuk Mengendalikan Mutu Produk Mulai Dari Sortasi

Posisi mata kuliah ini Statistik I Statistik I Statistik II Statistik II Pengendalian dan Penjaminan Mutu Pengendalian dan Penjaminan Mutu Perancangan Perancangan Statistik

Fungsi dari form inspeksi ini adalah sebagai alat pengukur dan alat kontrol dalam pencapaian mutu serta pengendalian mutu pekerjaan, sedangkan kuesioner yang diisi oleh para pelaku

Dokumen ini membahas pentingnya pengendalian mutu dalam proyek konstruksi melalui penerapan sistem kendali mutu yang sistematis dan standarisasi prosedur untuk mencapai hasil yang