• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geopolitik masyarakat Lembah Sorik Marapi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kondisi Geopolitik masyarakat Lembah Sorik Marapi"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Kondisi Geopolitik masyarakat Lembah Sorik Marapi

2.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Kecamatan Lembah Sorik Marapi, adalah salah satu dari 23 Kecamatan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal. Dimana Kabupaten Mandailing Natal sendiri merupakan Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan, dimana Kabupaten ini disyakan pada tanggal 23 November 1998, dengan payung hukumnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1998 tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dengan beribukota di Panyabungan, dengan jumlah daerah administrasi pada awalnya sejumlah 8 kecamatan.15

Selanjutnya Kecamatan Lembah Sorik Marapi atau di singkat dengan LSM, secara administrasi menjadi kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, setelah disahkan pada tahun 2002, dimana Kecamatan Lembah Sorik Marapi merupakan Kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Kota Nopan, dengan Luas wilayah 3.472,75 Ha, dibagi kedalam 9 Desa/Kelurahan, yakni 1 Kelurahan dan 8 Desa. Kecamatan ini terletak di lereng Gunung Sorik Marapi. Relief arealnya wilayahnya bergelombang, dengan udara yang sejuk disaat menginjakkan kaki di kawasan ini

Adapun kelurahan dan Desa yang ada di kecamatan Lembah Sorik Marapi adalah sebagai berikut:

Tabel 1

No Desa/Kelurahan Luas (Ha) Rasio Terhadap Total

1 Pasar Maga 326,19 9,41

15

Sumber: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LP3M) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA tentang Kajian Akademik Pemekaran Provinsi Sumatera Utara Dalam Rangka Pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara, 2009, hal 43

(2)

2 Purba Baru 427,19 12,30

3 Sian Tona 219,01 6,31

4 Purba Lamo 279,12 8,04

5 Bangun Purba 264,36 7,61

6 Aek Marian Maga 277,32 7,99

7 Maga Dolok 339,99 9,79

8 Maga Lombang 1.181,13 34,01

9 Pangkat 157,50 4,54

Jumlah 3.472,57 100,00

Sumber Data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka

2.1.1 Batas Administrasi Kecamatan Lembah Sorik Marapi

Sebelah utara berbatas dengan Kec Panyabungan Utara, dan Kec.Panyabungan Selatan

Sebelah Selatan berbatas dengan Kec. Tambangan , Kec Puncak Sorik Marapi Sebelah Barat berbatas dengan Kec.Panyabungan Selatan

Sebelah Timur berbatas dengan Kec. Tambangan

Sumber Data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka

2.2 Keadaan Demografi

Penduduk Kecamatan Lembah Sorik Marapi berjumlah 17.748 jiwa. Untuk lebih memperjelas komposisi penduduk Kecamatan Lembah Sorik Merapi terdiri Laki-laki berjumlah 8917 jiwa dan perempuan 8831 jiwa, selanjutnya dapat dilihat berdasarkan komposisi penduduk dalam setiap desa, umur, pekerjaan, etnis , agama, dan pendidikan

(3)

Jumlah Penduduk berdasarkan rasio kepadatan penduduk dalam setiap desa/Kelurahan di Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Tabel 2

No. Desa/ Kelurahan Luas (Ha) Jumlah

Penduduk Kepadatan Penduduk 1 Pasar Maga 326,94 1500 459 2 Purba Baru 427,19 9.966 2.333 3 Sian Tona 219,01 609 278 4 Purba Lamo 279,12 346 124 5 Bangun Purba 264,36 1.459 552

6 Aek Marian Maga 277,33 1.117 403

7 Maga Dolok 339,99 556 164

8 Maga Lombang 1.181,13 1680 142

9 Pangkat 157,50 515 327

Jumlah 3.472,57 17.748 511

Sumber : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka.

Jumlah penduduk beradasrkan rasio laki-laki dan perempuan di masing-masing desa/ kelurahan di Kecamatan Lembah Sorik Marapi

Tabel 3

No Desa/Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Pasar Maga 728 772 1.500

2. Purba Baru 5.165 4.801 9.966

3. Sian Tona 301 308 609

4. Purba Lamo 158 188 346

5 Bangun Purba 693 766 1.459

6. Aek Marian Maga 528 589 1.117

7. Maga Dolok 273 283 556

8. Maga Lombang 810 870 1.680

9. Pangkat 261 254 515

Jumlah 8.917 8.831 17.748

Sumber Data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka 2.2.2 Umur

Tabel 4

(4)

1. 0-4 589 607 1.196 2. 5-9 627 701 1.328 3. 10-14 1.633 1.497 3.130 4. 15-19 2.854 2.412 5.266 5. 20-24 859 791 1003 6. 25-29 544 548 1092 7. 30-34 464 443 907 8. 35-39 371 493 864 9. 40-44 437 368 805 10. 45-49 321 264 585 11. 50-54 217 271 488 12. 55-59 154 192 396 13. 60-64 144 118 262 14. 65-69 71 89 160 15. 70+ 53 70 123 Jumlah 8917 8831 17.748

Sumber data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka 2.2.3 Pekerjaan

Tabel 5

No Pekerjaan Jumlah Persentase(%)

1. Pelajar 9.526 53,7 2. Petani 5.430 30,6 3. Pedagang 839 5,3 4 Pekerja Bangunan 234 1,4 4. Sopir 87 0,5 5. Guru 109 0,7 6. Tenaga Medis 43 0,26 7. PNS 123 0,77 8. Ahli Agama 110 0,68 Jumlah 15.980 89,96

Sumber data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka

Dari jenis pekerjaan yang ada di atas penulis memperoleh beberapa catatan dari pemaparan Camat Lembah Sorik Marapi, tentang komposisi pekerjaan dan aktivitas penduduk Lembah Sorik Marapi.

1. Ada selisih 1.247 jumlah masyarakat penduduk, dengan jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan. Angka 1.247 merupakan jumlah anak-anak di bawah 5 tahun, yang tentunya tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu bentuk pekerjaan

(5)

2. Adapun ahli agama yang berjumlah 110 itu terdiri dari, 10 orang Ulama, 9 orang Mubaliq, 40 orang Khatib, 45 Imam, dan 6 orang Wali Nikah.

3. Tenaga Medis yang berjumlah 43 itu terdiri dari, 2 orang Dokter, 15 orang Bidan, 10 orang Mantri, 16 orang perawat

4. Jumlah pekerja di bidang pertanian sebesar 8340 ( 47,4% ), pada dasarnya jumlah ini masih di bagi lagi ke dalam, 37% orang yang bekerja serabutan atau sejumlah 3086 orang16

2.2.4 Etnis

Keberadaan umat beragama dan suku, adalah salah satu ciri khas kebudayaan Indonesia, dengan nilai-nilai kultural yang menjadi warna di dalamnya, pemahaman primordialisme atau disebut juga sebagai identitas politik aliran, sangat besar pengaruhnya di dalam tindakan koleftif masyarakat atau individu, khususnya bagi masyarakat pedesaan.

Dimana pemahaman tentang identistas kesukuan, dan simbolis kedaerahan masih sangat mengakar dan dipertahankan, hal ini tentunya berlaku juga terhadap masyarakat Mandailing yang masih sangat dipengaruhi nilai-nilai kultural yang dipertahankan secara turun-temurun.

Selanjutnya masyarakat Lembah Sorik Marapi, yang notabene tinggal dalam suasana pedesaan, pada dasarnya adalah masyarakat yang masih memiliki hubungan keluarga dekat satu dengan yang lainnya, dimana dalam etnis Mandailing nilai-nilai kekerabatan masih sangat dihormati, sehingga menjadikan tingkat solidaritas masyarakat di setiap kampung begitu menjadi begitu tinggi.

Adapun kondisi Etnisitas dan Agama di Kecamatan Lembah Sorik Marapi dapat digambarkan sbb:

Penduduk Lembah Sorik Marapi pada dasarnya adalah Suku Mandailing, yang mendiami keseluruhan wilyah kecamatan Sorik Marapi (hampir 93%), selebihnya ada 3% merupakan Etnis Jawa, 2 % merupakan Etnis Melayu, dan hampir 2% adalah Etnis Minangkabau.

16

Hasil wawancara penulis dengan Camat Lembah Sorik Marapi Bapak Khairul Anwar, AP , Kantor Camat Lembah Sorik Marapi Kelurahan Pasar Maga, 25 April 2011 jam 10:00 wib, saat ditanyakan kondisi penduduk Kecamatan Lembah Sorik Marapi

(6)

Masyarakat diluar Etnis Mandailing ( jawa,melayu, dan minang) sudah sangat membaur dengan kebiasaan Adat di dalam Masyarakat Mandailing, dan sudah menggunakan bahasa daerah Mandailing dalam kehidupan sehari-hari nya.

Adapun orang-orang di luar suku Mandailing yang mendiami wilayah Kecamatan Lembah Sorik Marapi adalah perantauan, atau mereka para santri yang sedang belajat di dua pesantren yang ada di wilayah Kecamatan Lembah Sorik Marapi, yakni Pondok Pesantren Musthafawiyah di Desa Purba Baru, dan Pondok Pesantren Royhanul Jannah di Kelurahan Pasar Maga 17

2.2.5 Agama

Dalam konteks keagamaan, masyarakat Lembah Sorik Marapi 100% beragama Islam, dengan bermazhab Syafii (Ahlul Sunnah Wal Jamaah). Sehingga, warna Islam tradisional begitu melekat di dalam jiwa masyarakatnya, dimana figur seorang Tuan Syech (pemimpin Agama Islam) menjad begitu dihormati masyarakat, sehingga apa yang menjadi fatwa dari ulama, adalah pedoman hidup bagi masyarakat.

Keberadaan Islam di Lembah Sorik Marapi khususnya, dan di Mandailing Natal secara umum dimulai dari ekspansi tentara Paderi ketanah Batak, dan ini di catat didalam buku Tuaku Rao.

Dimana dijelaskan bahwa ada peristiwa peperangan antara masyarakat batak dengan tentara padri (adanya ekspansi pasukan paderi ke tanah Batak) dimana dalam bukunya tersebut ia menuliskan ada riwayat zaman bonjol di tanah batak, dimana telah terjadinya suatu malapetaka besar sepanjang perjalanan sejarah tanah batak.

Ada puluhan ribu rumah habis dibakar, ribuan orang terbunuh di ujung pedang ataupun menjadi kuli paksa. Tetapi hal yang begitu berbeda terjadi di tanah batak selatan, dimana zaman bonjol ini menghapuskan kegelapan masyarakat terhadap pemahaman keagamaan, dimana masyarakat yang dahulunya adalah masyarakat Paganisme (penyembah

17

Merupakan kesimpulan Penulis dari hasil wawancara penulis denganBapak Herman Nasution, Tokoh Masyarakat Lembah Sorik Marapi, di kelurahan Pasar Maga, tgl 18 April 2011 : Jam 17.00 Serta jawaban wawancara, dengan Camat Lembah Sorik Marapi saat ditayakan, Bagaimana Kultur Masyarakat Mandailing, dan orientasi politik masyarakatnya, serta Bagaimana konsep kekerabatan dalam masyarakat Mandailing,

(7)

berhala) dengan penguasaan tetara padri di zaman bonjol ini, mampu menanamkan agama Islam di daerah tapanuli bagian selatan sekarang.

Sedangkan di tanah batak utara, zaman bonjol hanyalah di ingat sebagai pembawa malapetaka besar karena gagal menanamkan agama islam. Peristiwa ekspansi tentara padri di tanah batak selatan terjadi antara 1816-1833 dan di tanah toba berkisar antara tahun 1818-1820.18

Perubahanpun banyak terjadi pasca masuknya Islam di tengah masyarakat dimana sebelumnya ajaran Animisme dan Dinamisme, yang ada dalam masyarakat seperti ritual menangisi mayat sampai satu minggu, bahkan sampai seseorang di bayar untuk menangisi mayat tersebut, begitu datangnya Islam maka tradisi ini di ubah sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan menyegerakan mayat untuk dikuburkan, selain itu masyarakat pun datang untuk mendoakan si mayit dan berbondong-bondong ke pemakaman

Selanjutnya Islam dalam penyebarannya di tengah masyarakat Lembah Sorik Marapi khususnya , ataupun masyarakat Mandailing secara umum dimotori oleh para tuan guru di masing-masing Kampung, seperti Tuan Syech Musthafa Husyen pendiri pondok Pesantren Musthafawiyah, atau Tuan Syech Junaid Tolaq, pendiri pondok pesantren di Kampung Lamo, dan beberapa guru besar Islam lainnya di tanah Mandailing yang memberikan pemahaman Tauhid kepada Masyarakat.

Dalam perkembangannya selanjutnya, pesantren Musthafawiyah memainkan peran yang begitu besar dalam proses pembelajaran, dan pemahaman agama terhadap masyarakat Mandailing sebagai pesantren pertama yang berdiri di tanah Mandailing ataupun biasa juga di sebut sebagai “tano gordang sambilan” sejak tahun 1912 oleh Syech Musthafa

Husyen.

Pada awalnya Syech Mushafa Husyein, adalah seorang guru agama yang memberikan padangan tetang Nilai-nilai ketauhidan di tengah-tengah masyarakat, beliau adalah seorang tokoh yang memiliki andil besar di dalam meretas kepercayaan “Anisme dan Dinamisme” masyarakat Mandailing, selanjutnya mendirikan Pondok Pesantren Musthafawiyah di desa Purba Baru.

18

(8)

Secara harfiah, kata Musthafawiyah nama pondok pesantren yang didirikan oleh Tuan Syech Musthafa Husein, bisa diartikan sebagai “Pengikut Mustafa“, yang mana pada proses selanjutnya Mustafawiyah menjadi media sosialisasi perkembangan Islam, dan sarana pendidikan kepada masyarakat Mandailing, hingga sekarang ini para lulusannya telah menjadi ustad ataupun pemuka agama di setiap kampung di Mandailing Natal.

Hingga sekarang ini, di era pimpinan Ustad Bakrie, jumlah santri pondok pesantren Musthafawiyah adalah 7200, yang bukan hanya berasal dari daerah Mandailing Natal, melainkan dari Sumatera-jawa.

Jumlah Santri Mustafawiyah pernah yang menyetuh angka 12.000 orang, tetapi mengalami penurunan saat ini, dikarenakan memang sudah berkembangnya pesatnya pendirian pondok pesantren di setiap kecamatan bahkan kampung-kampung di Mandailing Natal. Seperti Pesantren Royhanul Jannah di Pasar Maga yang berjarak 6 km dari Mustafawiyah. Selanjutnya pendidikan pondok pesantren di Mandailing Natal menjadi salah satu pilihan pendidikan bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Hal ini muncul karena dukungan luas dari masyarakat Mandailing Natal, yang dikenal religius dalam setiap tindakan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, dan banyaknya orang tua murid, yang menitipkan anaknya bersekolah di pesantren, dengan harapan, mendapatkan anak yang sholeh, selamat dunia akhirat disamping ada faktor biaya pendidikan yang dirasa lebih murah, apabila bersekolah di pondok pesantren.19

Kebiasaan masyarakat Mandailing dalam konteks ke Islam dapat dilihat dari nilai-nilai keislaman ini tercermin dalam norma-norma sosial masyarakat Mandailing yang disebut dengan “Siriaon” (Kebahagiaan) ataupun sering di identikkan dengan pesta pernikahan, dan Siluluton (kemalangan) yang di identikkan dengan kematiaan seseorang.

Dimana dalam kebiasaan, masyarakat berkumpul bersama dan mengatur segala kebutuhan acara sejak dari awal hingga selesainya, acara itu dengan menjunjung tinggi kebersamaan dan bermusyawarah (Martahi), sehingga nilai-nilai kekeluargaan terasa begitu kental, tanpa memperhitungkan nilai materi dan disinilah terlihat pembagiaan kerja dalam 19

Merupakan Kesimpulan hasil wawancara penulis , dengan pengasuh pondok pesantren Mushatafawiyah Ustad Ardawili Nasution, Saat ditayakan Bagaimana pandanganya tentang nilai ke islaman, yang tertanam di dadalam pemahaman masyarakat Mandailing, serta Bagaimana proses pendidikan pesantren di tengah masyarakat, serta kesimpulan hasil wawancara penulis, dengan pimpinan pesantren Royhanul Jannah, Tuan Royhan di Kelurahan Pasar Maga, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, tanggal 21 April 2011. Jam 13.00. Saat ditanyakan tentang Bagaimana Sejarah Islam di tengah Masyarakat Mandailing, dan Bagaimana peran pesantren dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat.

(9)

konteks Dalihan Natolu. Artinya adat istiadat berbaur dalam nilai keagamaan dalam konteks sosial kemasyarakatan.

2.2.6 Pendidikan

Tingkat pendidikan adalah suatu indikator, untuk melihat apakah dari suatu daerah itu memiliki potensi SDM yang tinggi ataukah sebaliknya memiliki sumber daya manusia yang sangat rendah. Karena keberhasilan pembangunan di suatu daerah dapat dilihat dari SDM, selain itu tingkat rasionalitas sseseorang dalam memberikan pilihan politik, juga ditentukan dengan tingkat pendidikan yang dimilikinya.

Apabila dilihat dari tingkat pendidikan masyarakatnya maka data-data tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 6

No Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase (%) 1 Belum Sekolah (usia

0-5 tahun)

1351 I455 2806 15,8

2 Tidak tamat SD 67 98 165 0,9

3 Sekolah SD 1182 985 2167 12,2

4 Tidak pernah Sekolah 17 21 38 0,2

5 Tamat SD 48 29 77 0,4

6 Sekolah SMP/Sederajat 2123 1944 4067 23

7 Tidak tamat SMP 434 481 915 5,18

8 Tamatan SMP/Sederajat 568 1117 1585 9

9 Sekolah SMA/Sederajat 963 855 1818 10,2

10 Tidak tamat SMA 327 329 656 3,7

11 Tamatan SMA 1133 957 2090 11,8 12 Mahasiswa 275 246 521 2,9 13 Tamatan D-3 142 215 357 2 14 Sarjana/tamatan perguruan tinggi 287 199 486 2,7 Jumlah 8917 8831 17748 100

Sumber Data : Kecamatan Lembah Sorik Marapi dalam Angka

(10)

Sarana dan prasarana di satu daerah dapat dikategorikan sebagai tolak ukur kemajuan suatu daerah, karena dengan sarana dan prasarana yang memadai maka perkembangan masyarakat dapat terjadi, baik pola pikir, pemahaman keagamaan, perekonomian, serta nilai-nilai sosial budaya.

2.3.1 Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan menjadi salah satu perasyarat mutlak bagi kemajuan masyarakat di setiap daerah. Pola pikir dan kemampuan masyarakat dalam beraktualisasi dengan lingkungan sekitarnya, serta kemapuan dalam menghadapi tantangan zaman tentunya sangat di pengaruhi oleh adanya lembaga pendidikan yang baik, ditengah masyarakat.

Adapun sarana pendidikan yang ada di setiap desa/kelurahan Kecamatan Lembah Sorik Marapi adalah sebagai berikut :

Tabel 7

No Desa/Kelurahan SD SMP SMA/

Sederajat

Pondok Pesantrten

1 Pasar Maga 1 1 - Royhanul Jannbah

2 Purba Baru 1 - - Mustafawiyah

3 Sian Tona 2 - - -

4 Purba Lamo 1 - - -

5 Bagun Purba 1 - - -

6 Aek Marian Maga 2 - SMK

Pertanian - 7 Maga Dolok 1 - - - 8 Maga Lombang 2 - - - 9 Pangkat 1 - - - Jumlah 11 1 1 2

Sumber Data :Cabdis Pendidikan Kecamatan Lembah Sorik Marapi

(11)

Sarana Peribadahan, menjadi alat mendekatkan mayarakat kepada nilai-nilai luhur keagamaan, yang mengajarkan kebaikan sehingga memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Adapun Sarana Peribadahan yang terdapat di Kecamatan Lembah Sorik Marapi adalah:

Tabel 8

No. Desa/Kelurahan Sarana Ibadah Jumlah

Mesjid Surau Gereja Kuil Vihara

1. Pasar Maga 2 8 - - - 10 2. Purba Baru 2 12 - - - 14 3. Sian Tona 1 3 - - - 4 4. Purba Lamo 1 4 - - - 5 5. Bangun Purba 2 5 - - - 7 6. Aek Marian MG 2 5 - - - 7 7. Maga Dolok 1 5 - - - 6 8. Maga Lombang 2 10 - - - 12 9. Pangkat 1 3 - - - 4 Jumlah 14 55 - - - 69

Sarana dan prasarana lainnya

1. PUSKESMAS terdapat di kelurahan Pasar Maga 2. POSYANDU terdapat di setiap desa dan kelurahan 3. Pemancar Televisi TVRI, di kelurahan Pasar Maga 4. Irigasi

- Aek Roburan di desa Maga Lombang - Paya Bulan di kelurahan Pasar Maga

Sumber data : Kecamatan Lembah Sork Marapi dalam Angka

2.4. Organisasi Sosial Masyarakat

Keberadaan organisasi sosial masyarakat, memberikan gambaran bagaimana masyarakat berintraksi dalam sebuah wadah organisasi sosial masyarakat, yang didalamnya

(12)

terdapat ruang dialog yang terbuka antar masyarakat, yang menjadi wadah dalam membicarakan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Adapun organisasi sosial yang terdapat dikecamatan Lembah Sorik Marapi adalah :

1. Badan Permusyawaratan Desa yang terdapat di setiap desa/kelurahan di kecamatan Lembah Sorik Marapi. Dimana anggota BPD ini berjumlah 45 orang yang bertujuan untuk menggalang aspirasi masyarakat di tingkat desa hingga kecamatan. Keanggotaan BPD ini langsung dipilih melalui permusyawaratan desa.

2. Koperasi Unit Desa (KUD), dimana KUD ini berfungsi sebagai penyalur benih padi dan pupuk bagi petani yang menjadi mayoritas pekerjaan masyarakat di kecamatan Lembah Sorik Marapi. KUD ini dipimpin oleh seorang ketua, satu orang sekretaris dan tiga orang anggota. KUD di kecamatan Lembah Sorik Marapi ada dibeberapa desa dan kelurahan yakni desa Purba Lamo, Sian Tona dan kelurahan Pasar Maga.

3. Serikat Tolong-Menolong (STM), sebagai organisasi yang membantu apabila terjadi kemalangan di tengah-tengah masyarakat. Adapun STM di kecamatan Lembah Sorik Marapi, berjumlah 12. Pada dasarnya di setiap desa terdapat satu STM kecuali kelurahan Pasar Maga yang terdapat dua STM dan di desa Maga Lombang juga terdapat dua STM.

4. Majelis Taklim (pengajian mingguan) bagi kaum bapak dan ibu di setiap desa dan kelurahan di kecamatan Lembah Sorik Marapi, ada Sembilan Majlis Taklim, sesuai dengan jumlah desa dan kelurahan yang ada di kecamatan Lembah Sorik Marapi.

5. Organisasi Naposo Nauli Bulung (NNB) yakni organisasi kepemudaan di setiap desa dan kelurahan, dimana organisasi ini berperan aktif dalam setiap hajatan yang terjadi di setiap desa dan kelurahan seperti pemasangan gapura pada perayaan HUT RI, menjadi pelaksanaan di setiap perayaan hari-hari besar keagamaan, berperan dalam membantu suksesnya acara pernikahan, serta membantu prosesi pemakaman (menggali kubur). Ini adalah bentuk nilai kekeluargaan yang masih terdapat di masyarakat Lembah Sorik Marapi.20

20

Hasil wawancara penulis dengan camat Lembah Sorik Marapi, saat ditanyakan Bagaimana organisasi sosial yang ada di masyarakat, dan pelaksanannya di tengah masyarakat

(13)

2.5 Organisasi politik

Organisasi politik di tingkat kecamatan tentu saja berperan sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat desa. Ini juga menunjukan proses komunikasi politik, pengkaderan, sosialisasi politik suatu partai politik sampai di tingkat masyarakat akar rumput (grass roots). Ini menunjukkan bagaimana pola pemenangan setiap partai politik dalam membangun mesin politik, dengan demikian terbukalah keran bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Adapun kepengurusan partai di kecamatan Lembah Sorik Marapi adalah :

1. Pengurus partai Golongan Karya kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Pengurus desa partai Golkar ada di setiap desa/kelurahan yang di sebut dengan Pengurus Desa (PD).

2. Pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pengurus PPP di tingkat kecamatan di sebut DPC

Nama-nama Lurah/Kepala desa di Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Tabel 9

No. Desa/Kelurahan Lurah/Kepala Desa

1. Pasar Maga Mhd. Nasir Nasution

2. Purba Baru Abdul Hakim Lbs

3. Sian Tona Kaslim

4. Purba Lamo Masir Batubara

5. Bangun Purba Abd. Wahid Batubara

6. Aek Marian MG M. Ali Rofi’i

7. Maga Dolok Mhd. Nurdin

8. Maga Lombang Topotan Nasution

9. Pangkat Salimun

(14)

Silsilah Nama Camat yang memimpin Kecamatan Lembah Sorik Marapi, dan periodeisasinya

Tabel 10

No. Nama Periode

1. Drs. Lis Mulyadi Nst 2002-2004

2. Zulfan Hsb, SH 2004-2004

3. H.M. Yunan Batubara, S.Sos 2004-2006

4. Faizal 2006-2008

5. Drs. Alwinur Lubis 2008-2011

6. Khairul Anwar, A.P 2011-sekarang

Sumber Data: Badan Pusat Statistik Kab. Mandailing Natal Kec. Lembah Sorik Marapi Dalam Angka 2009

2.6 Sejarah Masyarakat Mandailing

Masyarakat kecamatan Lembah Sorik Marapi, yang menjadi daerah studi kasus penulis dalam melakukan penelitiannya ,adalah bagian dari etnis Mandailing, maka dengan kondisi masyarakat seperti ini penulis ingin melihat sejarah keberadaan masyarakat Mandailing dan identitas sosial yang ada didalamnya, sebagai bentuk dari pendekatan etnografi dari penulisan skripsi ini.

Mandailing adalah komunitas masyarakat yang telah ada sejak zaman dahulu ,ada berbagai fakta yang membuktikan hal itu. Dimana Empu Prapanca sejarawan Majapahit yang menulis buku Negarakertagama, dalam buku itu beliau menulis secara gamblang bahwa keberadaan mandailing sebagai bagian yang penting di Nusantara.

Maka hal itu menunjukkan bahwa mandailing telah lama dikenal di Negara luar. Menurut prof. Pigeud nama-nama wilayah Pane, Mandahilin dan Lwas di dalam negarakertagama (pada stanza I syair ke XIII) masing-masing adalah pane, mandailing dan padang lawas.21

(15)

Prof. Muhammad Yamin didalam bukunya naskah persiapan UUD 1945, menyebutkan bahwa seluruh wilayah yang disebutkan oleh Empu Prapanca didalam buku negarakertagama adalah wilayah nusantara/Indonesia. Kutipan-kutipan diatas telah memperlihatkan bahwa Mandailing sudah dikenal di Nusantara sejak berabad-abad lalu sebelum kurun negarakertagama ada, karena daerah-daerah lama yang penting dan sudah mapan yang mungkin dicatat oleh Empu Prapanca.

Kabupaten Mandailing Natal yang di diami mayoritas etnis Mandailing adalah daerah yang menjadi penyangga antara dua komunitas yang berbeda sistem kekerabatannya, yaitu batak toba di Tapanuli Utara yang menganut sistem patrilineal (garis keturunan laki-laki), dan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal (garis keturunan perempuan) di Sumatera Barat.

Sebagai penyangga dua kebudayaan yang ada orang Mandailing mengalami proses akulturasi budaya dari kedua komunitas ini. Melalui kontak budaya yang intensif itu mereka dapat memperkaya budi pekerti mereka, antara lain berupa kepribadian yang menonjolkan kelugasan dan ketegaran dari utara dan kecerdikan dari selatan.22

Selanjutnya, ada satu identitas masyarakat yang tidak terlepas dari adat istiadat masyarakat Mandailing sejak zaman dulu, bernama Markoum Marsisolkot. Markoum artinya berkaum kerabat dengan orang yang berlain marga, sedangkan Marsisolkot artinya mendekatkan yang sudah dekat atau kasih mengasihi diantara satu klan atau marga.

2.7 Kebudayaan Masyarakat Mandailing

Secara harfiahnya, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem ,tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat dengan proses pemahaman, dengan demikian dapat dipahami bahwa keseluruhan tindakan manusia adalah kebudayaan karna

21 Mhd. Arbain Lubis, Sejarah Marga-marga Asli di Mandailing. DEPDIKBUD Prov. SUMUT. Medan. 1992.

Hal 11- 27

22

Basyral Hamidy Harahap. Madina yang Madani. Penerbit PEMDA kab. Madina, Panyabungan. 2004: Hal 124-151

(16)

hanya sedikit tindakan manusia yang dilakukan tanpa proses pemahaman , seperti tidakan yang berasal dari rasa naluriah, atau refleks. 23

Talcott Parsson, dalam teori tindakan (theory of action), memberi pandangan bahwa kebudayaan adalah satu sistem dari ide-ide dan konsep-konsep sebagai satu tindakan dari aktivitas manusia yang berpola, maka dirumuskan kedalam 3 hal yakni:

1. Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, serta norma-norma peraturan

2. Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat

3. Wujud Kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia.

Pada tahap yang paling tinggi, kebudayaan dihayati sebagai sistem kognitif berupa suatu kerangka pengetahuan dan keyakinan yang memberikan pedoman bagi orientasi orang yang hidup dalam budaya itu. Demikian kata Ignes Kleden (Kleden ,1986), yang selanjutnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah pengetahuan kognitif, yang menentukan persepsi dan defenisi yang diberikan oleh penganut kebudayaan tersebut terhadap realitas.

Selanjutnya kebudayaan merupakan sumber pertama untuk pandangan hidup, yang memungkinkan seseorang berperilaku dalam kehidupannya sesuai dengan persepsi yang dimilikinya, dan memahami kebudayaan itu sebagai suatu nilai yang beraturan dan bermakna (kosmologi).

Maka dalam konteks ini, masyarakat Mandailing sebagai objek kajian peneliti memiliki cara pandang yang berasal dari nilai-nilai luhur yang sudah ada dan berkembang sejak awal mula sejarah berdirinya masyarakat Mandailing, sebagai suatu identitas masyarakat yang berbudaya hingga kondisi kekinian.

Budaya masyarakat Mandailing itu tercermin dari satu kesatuan nilai yang berasal dari filosofi Dalian Na Tolu, yang merupakan simbolis kebudayaan yang tercermin dalam kebiasaan adat-istiadat yang berasal dari hubungan kompleks di dalam interaksi masyarakat, dengan kedekatan hubungan kekerabatan yang di milikinya, atau disebut dengan

Markoum Marsisolkot.

23

Basyarah Hamidi harahap,Hotman M. Siahaan, Orientasi Nilai-nilai Budaya Batak, Jakarta, Sanggar Willem Iskandar, 1987: hal 97

(17)

Nilai dasar Dalian Natolu, adalah keseimbangan, kepatuhan, motivasi hidup, cara pandang yang menentukan sikap dan perilaku seorang individu, serta kondisi yang menempatkan kesetaraan bagi setiap individu dalam satu komunitas masyarakat ( masyarakat komunal ), yang tidak melihat konteks material atau ekonomi menjadi alat stratifikasi sosial.

Refleksi dari konsepsi Dalian Natolu , dapat di lihat dari tekstur bangunan rumah adat Mandailing, beserta ukiran-ukiran yang ada di dalamnya. Bila diperhatikan hiasan-hiasan rumah adat dari daerah Mandailing, maka pada bagian atasnya akan terukir 13 macam lambang dalam figura segi tiga sama sisi yang disebut dengan Bindu Matogu. Semua lambang-lambang tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri, sebagai figura yang melingkari semua lambang-lambang tersebut adalah melambangkan adat-istiadat Markoum

Marsisolkot.

Maksudnya terdiri dari 3 kelompok yang berlainan marga rangkul-merangkul dan harus bersatu padu menjadi satu. Ketiga komponen kelompok yang berlainan marga itu disebut sebagai, Mora, Kahanggi, dan Anak Boru, dengan nama lainnya Dalian Na Tolu.

Maka konsepsi adat-istiadat Markoum Marsisolkot ini , diterjemahkan dalam konsepsi nilai Dalihan Natolu”. Dalihan artinya batu tungku sedangkan Natolu artinya yang tiga. Maksud dari pemahaman ini adalah persaudaraan itu diumpamakan seperti tungku yang memiliki tiga kaki yang saling melengkapi , dan apabila salah satu diantaranya tidak ada maka tungku itu tidak akan berdiri dengan baik atau ketiga komponen ini harus saling melengkapi. 24

Dengan memahami konsepsi ini dalam realitas kehidupan masyarakat Mandailing maka pemahaman Dalian Natolu dapat dikatakan adalah penyangga kehidupan keseluruhan tatanan kebudayaan masyarakat Mandailing.

Disaat Dalian Natolu, adalah satu nilai yang diadopsi dalam pemahaman masyarakat Mandailing maka ini adalah satu sistem,maka secara fungsional nilai ini harus mampu beradaptasi, mencapai tujuan memelihara pola dan mempertahankan kesatuannya, hal ini harus dimiliki tentunya untuk mencapai satu keseimbangan.

Maka keseimbangan dalam konsepsi nilai ini dapat dilihat dalam satu untaian kata yang pengaplikasian nilai Dalian na tolu, yakni “Hormat Mar Mora, Domu Mar

24

(18)

Kahanggi, Elek Maranak Boru”, yang diartikan hormat kepada kelompok Mora, erat

bersaudara, santun kepada barisan Anak Boru. Adapun pengertian dari Mora, Kahanggi, Anak Boru adalah:

1. MORA

Yang dikatakan komponen Mora adalah, dari kelompok tempat pengambilan anak gadis (tulang) dalam perkawinan atau orang tua serta saudara-saudara dari pihak istri selain itu, sebutan Mora juga diberikan kepada saudara laki-laki satu marga bagi seorang perempuan.

2. KAHANGGI

Yang dikatakan komponen Kahanggi yaitu kita sendiri dengan saudara-saudara, kita baik yang sekandung maupun tidak, atau kelompok yang memiliki marga yang sama, ataupun disebut juga dengan Dongan Sabutuha . Kahanggi dalam adat Mandailing, adalah ahli waris selain anak bagi setiap orang Mandailing.

3. ANAK BORU

Yang dikatakan komponen Anak Boru, yaitu tempat pemberian anak-anak gadis (Babere) bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Anak Boru juga berlaku kepada saudara perempuan dalam satu marga.

Secara lebih luas seorang Mora dianggap sebagai figur yang mengisyaratkan fungsi sebagai pengayom, bagi anak borunya, Kahanggi/Dongan Sabutuha mengisyaratkan kebersamaan untuk menanggung susah dan senang, ringan sama di jingjing, berat sama dipikul, sedangkan Anak Boru mengisyaratkan untuk melakukan segala pengorbanan kepada

Mora .25

Perumpamaan nilai sikap ini dapat tercermin di dalam satu untai kata dalam Bahasa Mandailing yang dapat ditauladani yakni istilah , “Ditoru tangan Mangido”, yang artinya

25

(19)

dibawah tangan meminta, dan Toruk Ni Roha ,yang artinya merendah diri. Ini menjadi sikap yang menjadi norma hidup masyarakat , serta cara pandang untuk mencapai tujuan hidup sebagai bangsa yang berbudaya

2.8 Pemerintahan Adat Mandailing

Dalam pemerintahan adat yang dipahami dalam budaya Mandailing, adalah menempatkan Raja adat, sebagai pemimpin masyarakat, seorang yang dihormati ditengah masyarakat bersama dengan keluarga dan keturunanya , yang kemudian disebut Parbagas

Godang.

Walaupun demikian, Raja dalam hal ini bukanlah Raja dalam pemahaman biasa, yakni seorang Raja yang hidup di dalam istana yang megah, atau dalam kekuasaan politik pada umumnya. Tetapi merupakan sesorang pemimpin bagi masyarakatnya, dengan sosok dan karakter yang berwibawa baik, layaknya sosok pengayom dengan kharisma yang dimilikinya, sehingga menjadi panutan bagi masyarakat.

Dimana dalam kesehariannya Raja Adat yang diartikan sebagai simbol kebesaran dan penghormatan terhadap adat, maka oleh sebab itu Raja beserta keturunannya menjadi orang yang diutamakan di dalam setiap pesta adat, ataupun proses interaksi di dalam masyarakat

Keberadaan Raja yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat, dengan kekuasaan dan wewenang yang dimilikinya, sering diumpamakan di dalam gagasan budaya yang berbunyi sebagai berikut: “baris-baris ni raja di rura pangaloan, molo marsuru raja

ikkon oloan, molo so nioloon tubu hamagoan, ia nioloon dapat pangomoan”. Istilah tersebut

dapat diartikan bahwa perintah Raja harus ditaati, karena apabila tidak akan datang bencana, dan apabila ditaati akan memperoleh keuntungan.

Kemudian seorang Raja dianggap adalah seorang pribadi yang memiliki keunggulan dibanding dengan masyarakatnya pada umumnya. Sebagaimana dapat dideskripsikan sebagai “Sahala Harajaon, Sahala Hasangapon, Habolonan, Hamoraon,

Partamueon, Habisuhon, Partahi-tahi parhata-hata, Hagabeon, Hadatuon”. Di dalam

pengertiannya, seorang Raja yang memiliki Sahala Raja adalah seorang yang memiliki, kehormatan, kebesaran, kekayaan, keramahan, kecerdikan, diplomasi (kemampuan

(20)

berbicara), kejayaan, kekuatan mistis yang mengandung kesaktian, maka dapat disimpulkan dalam pandangan ini bahwa seorang Raja adalah pribadi yang terpilih.

Kondisi pemerintahan adat oleh seorang Raja, tentu saja tidak lagi seperti kondisi zaman sebelum kemerdekaan di tanah Mandailing, dimana Raja secara legitimasi mampu menentukan arah kebijakan terhadap masyarakat, tetapi sudah mengalami pergeseran nilai, walaupun jejaknya masih saja ada hingga saat ini.

Penghormatan terhadap Raja pada dasarnya merupakan suatu etika dalam masyarakat adat, hal ini tentu saja masih terjadi karena pada dasarnya budaya yang berasal dari leluhur sesungguhnya tidak dapat diubah.

Maka di dalam konteks ini, dapat dipahami bahwa keberadaan konsep pemerintahan adat, merupakan representasi konsep pemerintahan yang oleh Marx Webber disebut biroraksi patrimonial, yaitu kondisi birokrasi pemerintahan yang tidak didasarkan pada organisasi legal-rasional serta impersonal, melainkan suatu tradisional yang dilandasi pada unsur-unsur tradisional dan Nepotisme.

Selanjutnya ikatan keturunan dalam satu Marga, yang mendiami satu wilayah atau dalam istilah Mandailing disebut “Huta”, menjadi hal yang teramat penting dalam keberlangsungan pemerintahan adat, karena konsep Huta sebagai satu wilayah kerajaan adat, merupakan bentuk pengorganisasian seluruh totalitas kehidupan bermasyarakat, yang mengatur sumber daya ekonomis, sosial dan politik, sebagai kesatuan masyarakat yang ada mendiami suatu wilayah tertentu.

Walaupun secara administrasi pemerintahan saat ini, ada seorang Kepala Desa yang menjadi pemimpin legal formal masyarakat desa, tetapi kepemimpinan Kerajaan adat merupakan hal yang terpisah dari kewenangan birokrasi yang ada. Karena merupakan simbolis kekuasaan adat-istiadat26

Dalam masyarakat Mandailing sendiri, ada tiga besar klan marga yang terbesar di tanah Mandailing yakni Nasution, Lubis dan Rangkuti. Walaupun masih ada lima marga lainnya yang berasal dari tanah Mandailing yakni Parinduri, Batubara, Matondang, Daulay dan Pulungan.

26

(21)

Dimana dalam kekuasaan adat Mandailing, terdapat dua daerah besar, yang membedakan Mandailing. Yakni Mandailing Godang yang dipimpin oleh Raja bermarga Nasution, dan Mandailing Julu, dipimpin oleh Raja bermarga Lubis.

Daerah penelitian penulis sendiri masuk kedalam wilayah kerajaan Sorik Marapi, yang diambil dari nama gunung aktif yang ada di daerah itu. Dimana wilayahnya meliputi 17

Luat atau kampung, yang pada kondisi saat ini secara administrasi pemerintahan, wilayahnya

meliputi di dua kecamatan, yakni Kec. Lembah Sorik Marapi, dan Kec Puncak Sorik Marapi. Secara lebih rinci daerah yang menjadi pusat kerajaan di tanah Mandailing (yang memiliki bagas godang), bersama marga yang menjadi Raja di daerah tersebut adalah sebagai berikut:

Onderafdeling Mandailing (Kotanopan)

1. Panyabungan Tonga Nasution

2. Gunung Tua Nasution

3. Pidoli Dolok Nasution

4. Panyabungan Julu Nasution

5. Huta Siantar Nasution

6. Gunung Baringin Nasution

7. Maga Nasution

8. Tambangan Lubis

9. Kota Nopan Lubis

10. Manambin Lubis

11. Tamiang Lubis

12. Ulu Pungkut Lubis

13. Pakantan Dolok Lubis

14. Pakantan Lombang Lubis27

Kemudian dalam kesehariannya, keberadaan keturunan Raja menjadi sangat berpengaruh di tengah masyarakat hingga saat ini, juga disebabkan karena mereka adalah pemilik mayoritas lahan perkebunan, dan persawahan di setiap desa. Maka secara tidak 27

(22)

langsung menjadikan masyarakat masih memiliki ketergantungan kepada keturunan raja. Walaupun lama-kelamaan hal ini mengalami pergeseran nilai, yang tentu saja di pengaruhi oleh budaya asing yang masuk ke dalam masyarakat mandailing.28

Pengaruh besar yang dimiliki oleh seorang figur Raja Adat di tengah masyarakat, juga diamini oleh Camat Lembah Sorik Marapi (yang bernama Khairul Anwar A.P). Beliau mengatakan bahwa nilai-nilai adat istiadat masih begitu kental ada di tengah masyarakat Lembah Sorik Marapi, dan seorang Raja Adat masih mendapatkan hati ditengah masyarakat. Sehingga peran Raja Adat serta para Hatobangon cerdik pandai sangat besar di saat melakukan pembinaan masyarakat, karena suara mereka masih didengar oleh masyarakat, dan saran dan pandangan merekalah yang digunakan , apabila terjadi permasalahan ditengah-tengah masyarakat 29

Termasuk di antaranya , mengatasi permasalahan klasik yang terjadi dalam setiap hajatan politik, baik Pemilu ataupun Pemilihan Kepala Daerah yang banyak mengundang permasalahan di tengah masyarakat, karena begitu tingginya tingkat kepentingan yang ada, tidak jarang masyarakat kecil mendapatkan imbas dari kondisi politik ini, karena banyaknya kepentingan para elit, sehingga terkadang mengkondisikan kekuatan massa untuk memperoleh apa yang diinginkannya menjadi legal untuk dilakukan.

Melihat kondisi masyarakat Mandailing yang masih memegang teguh prinsip-prinsip adat istiadat, maka dalam bab selanjutnya Penulis akan melihat bagaimana Partai Golkar melakukan pendekatkan kepada masyarakat dari sisi primordial, serta sejauh mana Golkar mampu melihat fenomena ketokohan adat untuk mendulang suara dalam Pemilu 2009 sebagai bentuk dari Strategi Politiknya partai Golkar dalam Pemilu 2009 di Kabupaten Mandailing Natal, khususnya di Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

28

Merupakan Hasil kesimpulan wawancara penulis , dengan tokoh Adat Lembah Sorik Marapi, Ali Sutan Pardomuan Nasution SE, Desa Maga Lombang 23 April 2011, Jam 20.00 , saat ditanyakan “ Sejauh mana neksistensi Raja Adat dapat bertahan serta pengaruhnya dtengah masyarakat”

29

Hasil wawancara penulis dengan Camat Lembah Sorik Marapi, saat ditanyakan bagaimana peran tokoh masyarakat baik alim ulama, maupun tokoh adat mempengaruhi pandangan masyarakat.

Gambar

Tabel 2  No.  Desa/ Kelurahan  Luas (Ha)  Jumlah
Tabel 7  No   Desa/Kelurahan  SD  SMP  SMA/

Referensi

Dokumen terkait

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : “ PERAN KECAMATAN DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH ( Studi Tentang Peran Kecamatan dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Keberadaan Industri terhadap Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat (Studi di Kawasan Industri Desa Lagadar Kecamatan

PERILAKU PEMILIH MASYARAKAT ETNIS BATAK TOBA PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF 2009.. Studi Kasus: Desa Pagar Jati, Kecamatan Lubukpakam, Kabupaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk interaksi masyarakat multikultural dengan studi kasus pada beberapa etnis di Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia. Metode

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk interaksi masyarakat multikultural dengan studi kasus pada beberapa etnis di Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia.. Metode

Dengan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti Perilaku Politik Masyarakat Dalam Pemilu Kepala Daerah (Studi Deskriptif Masyarakat Kecamatan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Nagari Air Dingin Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, yaitu pertama Persepsi masyarakat tentang perkawinan

Tabel 4.25 Matriks Analsis Swot Strategi Dan Kebijakan Untuk Menanggulangi Dampak Perkembangan Pariwisata Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Studi Kasus : Pantai Gedo