• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Gambaran Umum Wilayah Administrasi dan Kependudukan 4.1.1. Batas Administrasi Wilayah Penelitian

Secara Administrasi, Kapet Bima terdiri dari 2 (dua) kabupaten dan 1 (satu) kota, yakni Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima. Kabupaten Bima terdiri dari 14 kecamatan dan 150 desa. Kota Bima terdiri dari 3 (tiga) kecamatan dan 25 kelurahan. Sedangkan Kabupaten Dompu terdiri dari 8 (delapan) kecamatan, 9 (sembilan) kelurahan dan 57 desa. Adapun gambaran tentang Sebaran Kecamatan, Kelurahan dan Desa Per Kabupaten/Kota di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6 Sebaran Kecamatan, Kelurahan dan Desa Per Kabupaten/Kota di Kapet Bima.

Kabupaten/Kota Kecamatan Kelurahan Desa

Kabupaten Bima 14 - 150

Kota Bima 3 25 -

Kabupaten Dompu 8 9 57

Kapet Bima 25 36 207

Sumber : BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Adapun batas-batas wilayah Kapet Bima adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Laut Flores

Sebelah Selatan : Samudra Hindia Sebelah Timur : Selat Sape

Sebelah Barat : Kabupaten Sumbawa

Wilayah Kapet Bima berupa daratan dan perairan/lautan. Luas wilayah daratan Kapet Bima 6.921,45 Km2 terdiri dari Kabupaten Bima 4.374,65 Km2, Kabupaten Dompu 2.324,55 Km2 dan Kota Bima 222,25 Km2, sedangkan luas lautnya adalah 12,180.96 Km2 yang terdiri dari Kabupaten Bima 9,785.00 Km2, Kota Bima 142.96 Km2 dan Kabupaten Dompu 2,253.00 Km2. Adapun gambaran luas wilayah Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 7.

(2)

Tabel 7 Luas Wilayah Kapet Bima Kabupaten/Kota Luas Wilayah Jumlah (Km2) (%) Darat (Km2) (%) Laut (Km2) (%) Kab. Bima 4,374.65 63.20 9,785.00 80.33 14,159.65 74.12 Kota Bima 222.25 3.21 142.96 1.17 365.21 1.91 Kab. Dompu 2,324.55 33.58 2,253.00 18.50 4,577.55 23.96 Kapet Bima 6,921.45 100.00 12,180.96 100.00 19,102.41 100.00 Sumber : BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 7 di atas menjelaskan bahwa Kabupaten Bima memiliki luas wilayah yang paling besar yaitu 74.12 %, kemudian Kabupaten Dompu 23.96 % dan yang paling kecil luas wilayah adalah Kota Bima 1.91 %. Selain berupa daratan yakni dengan luas 36.23 % juga yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan perairan dan lautan yang mencapai 63.77 % dari total luas wilayah, sehingga keberadaan laut dan sumber daya yang terkandung didalamnya memiliki potensi yang besar dan pengaruh yang strategis dan signifikan dalam pengembangan wilayah di Kapet Bima.

4.1.2. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk Kapet Bima Tahun 2004 adalah sebanyak 735,084 jiwa, yang terdiri dari 419,302 jiwa penduduk Kabupaten Bima, 116,425 jiwa penduduk Kota Bima dan 199,357 jiwa penduduk Kabupaten Dompu. Dengan Luas 6,922.45 Km2, Kapet Bima memiliki kepadatan penduduk rata-rata 106 jiwa/Km2. Tingkat kepadatan penduduk antar wilayah di Kapet Bima sangat beragam, baik antar kabupaten maupun antar kecamatan.

Jumlah dan kepadatan penduduk perkecamatan di Kabupaten Dompu juga sangat bervariasi, Kecamatan Dompu dan Woja memiliki jumlah penduduk paling banyak yakni masing-masing 22.57 % dan 23.67 % dari total penduduk Kabupaten Dompu sedangkan yang paling sedikit penduduknya adalah kecamatan Kilo (5.42 %) dan Pajo (5.97 %). Tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi adalah Kecamatan Dompu (201 jiwa) dan Woja (157 jiwa) sedangkan kepadatan yang paling rendah adalah Pekat (30 jiwa) dan Kilo (46 jiwa). Adapun gambaran

(3)

tentang jumlah dan kepadatan penduduk perkecamatan di Kabupaten Dompu dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Perkecamatan di Kabupaten Dompu

No. Kecamatan Luas Jumlah Penduduk Kepadatan (Km2) (Jiwa) (%) (Jiwa/ Km2) 1 Huu 186.50 15,011 7.53 80 2 Pajo 135.32 11,892 5.97 88 3 Dompu 223.37 44,988 22.57 201 4 Woja 301.16 47,197 23.67 157 5 Kilo 235.00 10,811 5.42 46 6 Kempo 191.67 17,612 8.83 92 7 Manggelewa 176.46 25,480 12.78 144 8 Pekat 875.17 26,366 13.23 30 Jumlah 2,324.65 199,357 100.00 86

Sumber : BPS Kabupaten Dompu, 2004

Tabel 9 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Perkecamatan di Kabupaten Bima

No. Kecamatan Luas Jumlah Penduduk Kepadatan

(Km2) (Jiwa) (%) (Jiwa/ Km2) 1 Monta 451.00 43,773 10.44 97 2 Bolo 101.41 40,563 9.67 400 2 Mada Pangga 189.09 27,074 6.46 143 3 Woha 75.25 39,217 9.35 521 4 Belo 153.30 49,589 11.83 323 5 Langgudu 283.18 20,282 4.84 72 6 Wawo 225.27 27,980 6.67 124 7 Sape 244.53 48,957 11.68 200 8 Lambu 374.12 30,846 7.36 82 9 Wera 392.00 27,084 6.46 69 10 Ambalawi 255.50 17,475 4.17 68 11 Donggo 406.00 28,999 6.92 71 12 Sanggar 720.00 11,296 2.69 16 13 Tambora 505.00 6,167 1.47 12 Jumlah 4,375.65 419,302 100.00 96 Sumber : BPS Bima, 2004

Pada Tabel 9 tentang jumlah dan kepadatan penduduk perkecamatan di Kabupaten Bima terlihat bahwa yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Belo (11.83 %), Sape (11.68 %), Monta (10.44 %), Bolo (9.67 %) dan

(4)

Woha (9.35 %), sedangkan jumlah penduduk yang relatif sedikit adalah Kecamatan Tambora (1.47 %), Sanggar (2.69 %), Ambalawi (4.17 %) dan Langgudu (4.84 %).

Berdasarkan Kepadatan Penduduk, Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan paling tinggi adalah Woha (521 jiwa), Bolo (400 jiwa), Belo (323 jiwa) dan Sape (200 jiwa), sedangkan tingkat kepadatan paling rendah adalah Kecamatan Tambora (12 jiwa), Sanggar (16 jiwa), Ambalawi (68 jiwa) dan Wera (69 jiwa).

Secara umum seluruh kecamatan di Kota Bima memiliki tingkat kepadatan penduduk yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan kecamatan di Kabupaten Bima atau Kabupaten Dompu yakni dengan rata-rata 524 jiwa, namun yang paling menyolok adalah tingkat kepadatan di Kecamatan Rasanae Barat yakni 1,050 jiwa sedangkan Rasanae Timur dan Asakota masing-masing memiliki tingkat kepadatan penduduk 433 jiwa dan 361 jiwa. Hal ini dapat dimengerti mengingat Kecamatan Rasanae Barat merupakan daerah pusat perdagangan sekaligus sebagai pusat wilayah di Kapet Bima. Adapun gambaran tentang jumlah dan kepadatan penduduk perkecamatan di Kota Bima dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Perkecamatan di Kota Bima

No. Kecamatan Luas Jumlah Penduduk Kepadatan

(Km2) (Jiwa) (%) (Jiwa/ Km2) 1 Rasanae Barat 40.10 42,088 36.15 1,050 2 Rasanae Timur 118.87 51,491 44.23 433 3 Asakota 63.28 22,846 19.62 361 Jumlah 222.25 116,425 100.00 524 Sumber : BPS Bima, 2004

Berdasarkan uraian di atas, terdapat fenomena bahwa daerah-daerah yang secara relatif berada disekitar titik tengah wilayah atau yang dilewati jalur jalan negara terdapat adanya kecenderungan pemusatan pemukiman penduduk sedangkan daerah-daerah pinggir (hinterland) memiliki jumlah dan tingkat kepadatan penduduk yang relatif rendah.

Tingkat pertumbuhan penduduk akan sangat menentukan perkembangan wilayah. Penduduk akan cenderung bergerak menuju kepada wilayah yang memiliki tingkat fasilitas hidup dan usaha yang relatif lengkap serta relatif

(5)

menyediakan lapangan pekerjaan dan peluang usaha yang lebih besar, namun disisi lain tingkat kepadatan penduduk akan mempengaruhi tingkat kemampuan pelayanan suatu fasilitas/infrastruktur wilayah. Jika tingkat kepadatan penduduk makin meningkat, sementara kapasitas suatu fasilitas/infrastruktur tetap atau tidak berubah, maka ketika melewati titik optimalnya, kualitas atau kemampuan pelayanan fasilitas/infrastruktur wilayah tersebut cenderung akan semakin menurun.

4.2. Gambaran Umum Perekonomian Wilayah 4.2.1. Struktur Perekonomian Wilayah

Struktur ekonomi yang terbentuk disuatu daerah ditentukan oleh peranan masing-masing sektor dalam menciptakan nilai tambah. Struktur ekonomi tersebut menggambarkan potensi dan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari masing-masing sektor. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan faktor-faktor produksi lainnya dalam menciptakan nilai tambah. PDRB merupakan jumlah dari nilai tambah yang diciptakan dari seluruh aktivitas perekonomian di suatu wilayah.

Tabel 11 menggambarkan kontribusi sektor-sektor terhadap PDRB Kapet Bima atas dasar harga konstan’93 tahun 1996-2000. dari tabel tersebut menjelaskan bahwa dari tahun 1996 sampai tahun 2000, perolehan PDRB di Kapet Bima ternyata masih didominasi oleh sektor pertanian, kemudian diikuti oleh sektor perdagangan hotel restoran dan sektor jasa-jasa, namun kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Bima dan Kota Bima mengalami penurunan (45.87 % pada tahun 1996 dan 41.97 % tahun 2000) sedangkan sektor lain seperti perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh terus berkembangnya Kota Bima sebagai daerah perdagangan dan jasa serta sebagai pusat pelayan bagi daerah-daerah sekitarnya.

Di Kabupaten Dompu, kontribusi sektor pertanian sangat dominan terhadap total PDRB dan mengalami peningkatan dari 43.43 % pada tahun 1996 meningkat menjadi 46.55 % pada tahun 2000, sedangkan sektor-sektor lain

(6)

cenderung mengalami penurunan seperti sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Keadaan ini menjelaskan adanya pertumbuhan daerah hinterland di Kabupaten Dompu, dimana struktur perekonomian daerah-daerah tersebut didominasi oleh sektor pertanian.

Tabel 11 Kontribusi Sektor-Sektor Terhadap PDRB Kapet Bima Atas Harga Dasar Harga Konstan’93 Tahun 1996-2000

No S e k t o r 1996 1997 1998 1999 2000

Kabupaten Bima dan Kota Bima

1 Pertanian 45.87 44.50 42,26 42,07 41,97

2 Pertambangan dan Energi 2.28 2.45 2,39 2,40 2,50

3 Industri Pengolahan 3.91 3.94 4,30 4,34 4,37

4 Listrik, Gas, Air Bersih 0.31 0.34 0,42 0,43 0,46

5 Bangunan 6.71 7.17 6,52 6,46 6,64

6 Perdagangan, Hotel, Restoran 15.74 16.11 16,60 16,43 16,42 7 Pengangkutan dan Komunikasi 7.35 8.01 9,75 10,34 10,65 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

2.00 2.21 1,32 1,34 1,35

9 Jasa-Jasa 15.78 15.28 16,45 16,18 15,64

Kabupaten Dompu

1 Pertanian 43.43 43.53 43.15 45,61 46,55

2 Pertambangan dan Energi 2.71 2.69 2.46 2,40 2,32 3 Industri Pengolahan 3.73 3.67 4.04 3,92 3,83 4 Listrik, Gas, Air Bersih 0.29 0.28 0.33 0,34 0,36

5 Bangunan 8.11 8.00 7.55 7,17 6,95

6 Perdagangan,Hotel,Restoran 16.23 16.98 15.98 15,29 15,56 7 Pengangkutan dan Komunikasi 4.24 6.01 6.93 7,05 6,94 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

3.16 3.21 2.78 2,48 2,42

9 Jasa-Jasa 16.09 16.63 16.77 15,75 15,06

Sumber : Bima dan Dompu Dalam Angka tahun 2001.

Tabel 12 menjelaskan nilai PDRB Kapet Bima Tahun 2003 sedangkan tabel 13 menjelaskan pembentukan struktur ekonomi di Kapet Bima yang masih didominasi oleh sektor pertanian yakni 46.31 % terhadap nilai total PDRB sebesar Rp.1.21 trilyun. Diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16.03 % dan sektor jasa-jasa dengan kontribusi sebesar 14.82 %. Sedangkan total nilai PDRB Kapet Bima adalah Rp.2.61 trilyun. Keadaan ini tidak berbeda jauh dengan peranan masing-masing sektor ekonomi sebelum dibentuknya Kapet Bima (sebelum tahun 1999), artinya belum ada perubahan struktur (transformasi) ekonomi daerah yang siginifikan sejak dibentuknya Kapet Bima.

(7)

Tabel 12 PDRB Kapet Bima Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 Di Kapet Bima

No. Lapangan Usaha (Rp.000)

1 Pertanian 1,209,849,960

2 Pertambangan dan Penggalian 59,235,026

3 Industri Pengolahan 79,691,000

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9,076,542

5 Bangunan 182,882,966

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 418,847,269 7 Pengangkutan dan Komunikasi 226,700,057 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 38,853,721

9 Jasa-Jasa 387,281,925

Total PDRB 2,612,418,466

Sumber : BPS Propinsi NTB, 2004a

Tabel 13 Distribusi Persentase PDRB Kapet Bima Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003

No. Lapangan Usaha Kab. Dompu Kab. Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Pertanian 47.06 52.00 25.39 46.31 2 Pertambangan dan Penggalian 2.04 3.05 0.12 2.27 3 Industri Pengolahan 3.31 2.78 3.38 3.05 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.27 0.22 0.94 0.35 5 Bangunan 7.80 6.58 6.67 7.00 6 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 17.96 14.57 16.78 16.03 7 Pengangkutan dan

Komunikasi 6.91 8.09 14.57 8.68 8 Keu, Persewaan dan Jasa

Perushn 2.15 1.02 1.61 1.49 9 Jasa-Jasa 12.50 11.69 30.53 14.82 Total PDRB 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : BPS Propinsi NTB, 2004a

Peranan tiga sektor yakni pertanian, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa cukup tinggi terhadap struktur ekonomi di tiga kabupaten/kota di Kapet Bima. Meskipun demikian masing-masing daerah ini memiliki karakteristik masing-masing. Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima memiliki struktur ekonomi yang hampir sama yakni sektor pertanian (primer) memberikan kontribusi paling tinggi (masing-masing sebesar 47.06 % dan 52.00 %), disusul perdagangan, hotel dan restoran (tersier) kemudian yang ketiga adalah jasa-jasa

(8)

(tersier). Sedangkan sektor yang memberikan kontribusi tinggi terhadap struktur ekonomi Kota Bima adalah jasa-jasa, kontribusi sektor tersier ini sebesar 30.53 %, kemudian sektor pertanian (primer) dan perdagangan, hotel dan restoran (tersier), namun untuk kegiatan sektor sekunder seperti industri pengolahan, aktivitas dan nilai tambah di semua daerah di Kapet Bima cukup rendah yakni hanya sekitar tiga persen dari total kegiatan ekonomi.

4.2.2. Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tabel 14 menunjukkan bahwa pada tahun 1996 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima dan Kota Bima adalah sebesar 7.52 %. Pertumbuhan paling tinggi adalah pada sektor-sektor tersier, seperti sektor listrik gas dan air bersih, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, pengangkutan dan komunikasi, perdagangan, hotel dan restoran, namun pada tahun 1997 sampai tahun 1998, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bima dan Kota Bima mengalami kemerosotan, yakni minus 2.44 %. Demikian juga halnya dengan keadaan ekonomi Kabupaten Dompu. Pada tahun 1996 pertumbuhan ekonomi mencapai 7.83 % dan pada tahun 1998 penurunan mencapai 1.08 %.

Kemerosotan ekonomi bukan hanya dialami oleh Kapet Bima. PDRB Propinsi Nusa Tenggara Barat terus tumbuh dan berkembang dengan rata-rata laju pertumbuhan 7.17 %, namun mengalami penurunan sebesar 5.26 % pada tahun 1997 sedangkan pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi minus 3.07 %. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1998 menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena Indonesia dilanda krisis moneter yang berlanjut kepada krisis ekonomi. Terjadinya krisis ekonomi juga berdampak pada aktivitas sektor-sektor produksi.

Pada tahun 1999, yakni setelah Kapet Bima terbentuk. Pertumbuhan ekonomi di daerah ini mulai membaik kembali. Ekonomi Kabupaten Bima dan Kota Bima mengalami pertumbuhan sebesar 3.01 % dan pertumbuhan paling tinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yakni sebesar 9.28 %. Sedangkan di Kabupaten Dompu, secara umum pertumbuhannya mencapai

(9)

7.34 %, keadaan ini karena didukung oleh pertumbuhan sektor pertanian sebagai sektor dominan di daerah itu yakni mencapai 13.47 %. Sedangkan pertumbuhan ekonomi rata-rata di Kapet Bima tahun 2000-2003 adalah sebesar 4.45 % pertahun di atas pertumbuhan ekonomi propinsi NTB yakni 3.64 % pertahun. Hal ini ditunjukkan pada tabel 15.

Tabel 14 Laju Pertumbuhan PDRB Kapet Bima Atas Dasar Harga Konstan’93 menurut Lapangan Usaha tahun 1996-1999 (persen)

No S e k t o r 1996 1997 1998 1999

Kabupaten Bima 7,52 4,56 -2,44 3,01

1 Pertanian 5,75 5,42 -3,17 2,54

2 Pertambangan dan Energi 8,90 10,57 -6,96 3,57 3 Industri Pengolahan 9,37 8,28 1,55 3,95 4 Listrik, Gas, Air Bersih 14,61 14,51 3,46 6,00

5 Bangunan 11,00 9,76 -12,11 2,01

6 Perdagangan, Hotel,Restoran 10,51 9,45 -1,55 2,01 7 Pengangkutan dan Komunikasi 12.10 11,73 9,30 9,28 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

13,55 13,18 -42,26 4,76

9 Jasa-Jasa 4,13 3,33 1,74 1,36

Kabupaten Dompu 7,83 5,34 1,08 7,34

1 Pertanian 6,45 4,41 3,71 13,47

2 Pertambangan dan Energi 6,34 7,03 -12,91 4,60 3 Industri Pengolahan 10,45 5,85 0,95 4,13 4 Listrik, Gas, Air Bersih 10,90 8,85 -1,02 9,06

5 Bangunan 9,02 4,30 -7,89 1,94

6 Perdagangan,Hotel,Restoran 11,59 7,83 2,35 2,67 7 Pengangkutan dan Komunikasi 11,54 4,96 3,82 9,13 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

13,84 6,85 15,92 -4,34

9 Jasa-Jasa 4,50 5,32 2,48 0,80

Sumber : Bima dan Dompu Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 15 menggambarkan bahwa sektor yang memiliki laju pertumbuhan paling tinggi di Kabupaten Dompu adalah pengangkutan dan komunikasi yakni sebesar 8.65 %, Kabupaten Bima dan Kota Bima adalah keuangan, persewaaan dan jasa perusahaan masing-masing sebesar 7.52 % dan 7.80 %. Sedangkan sektor yang memiliki laju pertumbuhan paling rendah di Kabupaten Dompu, Bima, dan Kota Bima adalah sektor jasa-jasa dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 2.43 %, 2.16 %, dan 1.76 %.

(10)

Tabel 15 Laju Pertumbuhan Rata-Rata PDRB Kapet Bima Pertahun Atas Dasar Harga Konstan 1993 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2003 (Persen)

No. Lapangan Usaha

Kab. Dompu Kab. Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Pert, Peternakan, Kehutanan

dan Perikanan 3.86 4.34 3.87 4.15

2 Pertambangan dan Penggalian 5.52 5.51 6.21 5.52 3 Industri Pengolahan 4.62 4.34 5.54 4.65 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 5.29 6.52 5.11 5.66

5 Bangunan 5.59 5.02 5.20 5.22

6 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 7.53 4.54 5.90 5.63

7 Pengangkutan dan

Komunikasi 8.65 4.91 6.32 6.09

8 Keuangan, Persewaan dan

Jasa Perusahaan 6.62 7.52 7.80 7.16

9 Jasa-Jasa 2.43 2.16 1.76 2.12

Total PDRB 4.82 4.29 4.34 4.45

Sumber : BPS Propinsi NTB, 2004a

Laju pertumbuhan perekonomian Kapet Bima ikut memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Laju pertumbuhan PDRB Kapet Bima pada tahun 2001 adalah 4.51 % sedangkan Propinsi NTB adalah sebesar 3.07 %, dan pada tahun 2003 laju pertumbuhan PDRB Kapet naik menjadi 5.34 % sehingga dapat mendorong laju pertumbuhan PDRB Propinsi NTB mencapai 4.33 % pada tahun 2003.

Kapet Bima memiliki posisi penting dalam mendorong pertumbuhan wilayah di Propinsi NTB yakni sebagai pusat pertumbuhan dan prime mover bagi wilayah lainnya khususnya bagian timur Propinsi NTB (Pulau Sumbawa). Aktivitas perdagangan sangat tinggi, yang didukung oleh kegiatan pengangkutan yang cukup memadai, dinamika dan interaksi Kapet Bima dengan daerah lain di Indonesia baik kawasan timur maupun Kawasan Indonesia Barat berlangsung cukup baik. Kapet Bima memberikan kontribusi PDRB sebesar 22 % pada tahun 2000, dan pada tahun 2003 memberikan kontribusi sebesar 25 % dari total PDRB NTB.

(11)

4.3. Kondisi Fisik Wilayah 4.3.1. Topografi

Kemiringan lahan di Wilayah Kapet Bima terbagi dalam 3 kategori yaitu : < 15 % sebesar 32.20 %, kemiringan 15 – 40 % sebesar 35.56 % dan di atas 40 % adalah 32.24 %. Secara rinci Persentase Luas Lahan Berdasarkan Kemiringan untuk masing-masing wilayah disajikan pada tabel 16.

Tabel 16 Persentase Luas Lahan Berdasarkan Kemiringan di Wilayah Kapet Bima

Kabupaten/Kota Tingkat Kemiringan < 15o 15-40o > 40 o Kab. Bima 31.91 32.52 35.57 Kota Bima 50.03 37.82 12.15 Kab. Dompu 31.03 41.06 27.90 Kapet Bima 32.20 35.56 32.24

Sumber : BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 16 di atas menunjukkan bahwa dengan nilai kemiringan yang beragam tersebut mengindikasikan bahwa Kapet Bima memiliki karakteristik sebagai wilayah yang berbukit, sehingga menjadi suatu tantangan dalam mobilitas sumber daya dan pengembangan wilayah. Sedangkan luas Kapet Bima berdasarkan ketinggian tempat secara rinci disajikan pada tabel 17 berikut.

Tabel 17 Luas Kapet Bima Berdasarkan Ketinggian Tempat Tiap Kabupaten (Satuan Ha) No. Kabupaten / Kota Ketinggian Tempat (mdpl) Jumlah 0 – 100 100 – 500 500 – 1000 >1000

1 Bima & Kota 117.41 205.75 89.35 47.19 459.69

2 Dompu 56.78 123.02 38.56 14.10 232.46

Total 174.19 328.77 127.90 61.28 692.15

(12)

Daerah-daerah dengan ketinggian 10-1000 mdpl memiliki potensi sebagai Kawasan Budidaya, sedangkan daerah dengan ketinggian di atas 1000 mdpl dapat dipertahankan sebagai Kawasan lindung yakni 61.28 Ha.

4.3.2. Iklim

Menurut Schmith dan Ferguson, Iklim di wilayah Kapet Bima termasuk iklim tipe D, E dan F, dengan suhu udara di wilayah relatif tinggi yaitu 30-32 0C pada siang hari.

Tabel 18 Keadaan Iklim Di Wilayah Kapet Bima

No. Uraian Satuan Nilai

1 Suhu Udara 07.00 oC 25.10 13.00 oC 31.90 18.00 oC 26.80 Rata-Rata oC 27.20 Min oC 20.10 Max oC 36.20 2 Curah Hujan mm 83.90 3 Radiasi Matahari % 75.20

4 Keadaan Lembab Nisbi

07.00 (RH %) 86.00

13.00 (RH %) 57.00

18.00 (RH %) 79.00

Rata-Rata (RH %) 77.00

Sumber : BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 18 memberikan gambaran bahwa rata-rata suhu udara adalah 27.20 0C, dengan kisaran 20.10 0C sampai dengan 36.20 0C sedangkan rata-rata curah hujan di Kapet Bima adalah rata-rata 83.9 mm/bulan dengan 13 hari hujan perbulan.

4.3.3. Hidrologi

Kabupaten Bima dan Kota Bima dialiri sungai besar dan kecil sebanyak 26 buah dengan panjang 5-95 Km dan sudah dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. Di Kabupaten Dompu terdapat 18 buah sungai dengan sungai Baka dan sungai Laju merupakan sungai besar yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan pertanian (BP Kapet Bima 2004).

(13)

Daerah Kabupaten Bima dan Kota Bima memiliki drainase cukup baik, yakni dengan luas lahan yang tidak tergenang 1.085 ha atau (91,7 %) sedangkan areal tergenang terus menerus seluas 98 ha (8,3 %) dan lokasinya tersebar. Sedangkan daerah Kabupaten Dompu seluas 98,65% (229.312 ha) tidak tergenang air dan yang tergenang secara periodik hanya seluas 1.35 % atau 3.019 ha (BP Kapet Bima 2004).

4.3.4. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Pulau Sumbawa skala 1 : 250.000, Kabupaten Bima dan Kota Bima tersusun atas kelompok batuan endapan permukaan (seperti krikil, pasir, lempung dan andesit, batuan gunung api muda dan tua, batuan endapan dan batuan terobosan). Tingkat erosi tanah di Kabupaten Bima dan Kota Bima relatif tinggi yaitu sebesar 91,34% (418.89 ha).

Kabupaten Dompu tersusun dari batuan hasil gunung api lebih tua, tua, muda, batuan endapan permukaan, lempeng tufan dan terumbu karang. Sedangkan tanah yang peka erosi di Kabupaten Dompu sebesar 62,10% (114.34 Ha).

4.3.5. Tanah

Jenis tanah di wilayah Kapet Bima pada umumnya terdiri dari jenis aluvial, Komplek Regusol, Litosol dan Komplek Mediteran. Sedangkan tekstur tanah dikelompokkan atas tekstur kasar (pasir lempung berdebu, dan pasir berdebu), tekstur sedang (lempung berdebu dan lempung liat berpasir) dan tekstur halus (liat, liat berlempung, liat berpasir dan lempung liat berpasir). Tekstur sedang memiliki daerah penyebaran yang paling luas yaitu mencapai 77,81 %, tekstur halus hanya 0,93 % dan sisanya tekstur kasar seluas 21,26% (BP Kapet Bima 2004).

4.4. Pola Penggunaan Lahan

Pola penggunaan lahan di wilayah Kapet Bima cukup beragam, namun penggunaan untuk hutan adalah yang paling dominan, yakni meliputi Hutan Rakyat 54.39 Ha (7.86 %) dan Hutan Negara 386,25 Ha (55.80 %). Pada tabel 19 dijelaskan bahwa sawah beririgasi hanya 36,823 Ha (5.32 %) sedangkan sisanya

(14)

berupa lahan kering, baik untuk jenis penggunaan padang rumput (3.59 %), perkebunan (1.93 %), tegalan (7.08 %), ladang (1.34 %) maupun yang belum diusahakan (3.63 %). Dari Tabel 19 dapat diketahui bahwa ketersediaan lahan kering yang cukup besar di Kapet Bima (38.40 % atau seluas 94.68 % jika termasuk hutan negara) menjadi permasalahan dalam pengembangan usaha tani lahan basah, namun menjadi keunggulan komparatif tersendiri untuk pengembangan agrobisnis dan agroindustri yang berbasis komoditi lahan kering (palawija, peternakan, perkebunan dan kehutanan serta kegiatan industri).

Tabel 19 Jenis Penggunaan Lahan Di Wilayah Kapet Bima

Jenis Penggunaan Lahan Luas

(Ha) (%)

Tanah Sementara Tidak Diusahakan 25,083 3.62

Kolam/empang/rawa 68 0.01 Hutan Rakyat 54,389 7.85 Hutan Negara 386,242 55.80 Padang Rumput 24,902 3.60 Perkebunan 13,331 1.92 Perumahan 6,377 0.92

Sawah irigasi 1 x panen 16,297 2.35

Sawah irigasi 2 x panen 20,526 2.96

Sawah tadah hujan 6,601 0.95

Tambak 3,054 0.44

Tegalan 48,984 7.07

Ladang/huma 9,238 1.33

Lainnya 77,053 11.13

Total 692,145 100,00

Sumber : BP Kapet Bima, 2004

4.5. Potensi Pengembangan Wilayah

Kapet Bima memiliki ragam sumber daya, baik ketersediaan sumber daya alamnya seperti potensi pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan kehutanan, perikanan dan peternakan, serta potensi tambang dan galian. Selain itu juga didukung potensi sumber daya manusia, sosial dan budaya, serta

(15)

infrastruktur yang meliputi infrastruktur industri perdagangan, utilitas wilayah, serta perhubungan.

4.5.1. Komoditi Pertanian

Sebagai daerah yang memiliki karakteristik agraris, maka aktivitas pertanian dalam arti umum masih memberikan kontribusi besar dalam perekonomian Kapet Bima. Usaha tani tersebut meliputi subsektor padi dan palawija (7 komoditas), sayuran (15 komoditas), buah-buahan (16 komoditas), perkebunan (15 komoditas), peternakan (13 komoditas) dan perikanan (56 komoditas).

Tabel 20 Komoditas Pertanian Dominan di Kapet Bima

No. Komoditi Kapet Bima % Kapet Thdp NTB

A. Padi & Palawija Ha Ton Ha Ton

1. Padi 88,872.00 369,538.00 27.26 25.19 2. Kacang Tanah 14,945.00 18,198.00 36.43 36.97 3. Kacang Kedelai 36,952.00 44,172.00 48.84 48.28

B. Sayur-Sayuran Ha Ton Ha Ton

1. Bawang Merah 6,859.00 62,441.00 71.73 80.84

C. Buah-buahan Pohon Ton Pohon Ton

1. Sirsak/srikaya 290,715.00 30,593.00 71.13 88.00 2. Pepaya 120,599.00 4,343.00 54.28 45.49 3. Nangka 93,122.00 40,366.00 19.36 35.19

D. Perkebunan Ha Ton Ha Ton

1. Kopi 2,897.40 1,464.13 23.24 32.50 2. Jambu Mete 17,427.50 4,827.41 31.88 38.77 3. Asam 1,467.90 2,001.53 49.64 56.84 4. Kemiri 2,178.50 1,258.07 68.13 79.00 5. Wijen 1,056.10 381.03 86.77 50.24 6. Jarak 1,821.81 669.89 85.32 88.40 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

(16)

Dari tabel 20 diketahui bahwa terdapat beberapa komoditi dominan yang diusahakan di Kapet Bima dengan nilai produksi > 300 ton atau pengusahaan > 1,000 Ha serta memberikan kontribusi yang tinggi terhadap nilai produksi pertanian di Propinsi Nusa Tenggara Barat (>25 %) . Adapun komoditi dominan yang dimaksud adalah :

- Padi dan palawija : padi, kacang tanah dan kacang kedelai - Sayur-sayuran : Bawang Merah

- Buah-buahan : Sirsak/srikaya, papaya dan nangka

- Perkebunan : Kopi, jambu mete, asam, kemiri, wijen dan jarak

Diantara komoditas dominan tersebut, yang memberikan kontribusi yang paling tinggi terhadap produksi pertanian di Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah:

- Padi dan palawija : Kacang Kedelai (48,28 %) - Sayur-Sayuran : Bawang Merah (80.84 %) - Buah-buahan : Sirsak/srikaya (88.00 %) - Perkebunan : Jarak (88.40 %)

Pada Subsektor peternakan, komoditas dominan yang diusahakan di Kapet Bima dengan nilai pengusahaan > 10,000 ekor dan tingkat kontribusi > 20 % terhadap produksi atau nilai populasi ternak di Propinsi Nusa Tenggara Barat dapat dilihat pada tabel 21.

Tabel 21 Komoditas Peternakan Dominan Di Kapet Bima

No. Jenis Ternak Kapet Bima (Ekor) % Kapet Thdp NTB 1 Kuda 16,777 22.07 2 Sapi 105,442 24.75 3 Kerbau 44,443 28.35 4 Kambing 69,242 23.06

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Dari tabel 20 di atas terlihat bahwa terdapat 4 jenis ternak yang merupakan komoditas dominan yakni : kuda, sapi, kerbau dan kambing. Komoditi dominan yang memiliki jumlah populasi paling banyak adalah jenis ternak sapi (105,442 ekor) sedangkan yang memberikan kontribusi yang paling besar

(17)

terhadap nilai produksi atau populasi ternak di Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah kerbau (28.35 %).

Salah satu aktivitas usaha yang paling dominan di Kapet Bima adalah di subsektor perikanan. Kegiatan itu meliputi perikanan laut yakni berupa usaha penangkapan, budidaya mutiara dan kerapu, sedangkan pada usaha perikanan darat adalah kegiatan budidaya air payau.

Tabel 22 Usaha Perikanan Dominan Di Kapet Bima

No. Komoditi Produksi (Ton) % Kapet Thdp NTB

1. Ikan Laut Tangkapan 29,453.00 35.00 2. Biji Mutiara 0.50 42.00 3. Kerapu 62.20 32.00 4. Budidaya Air Payau 5,359.30 53.00

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Dari tabel 22 menjelaskan bahwa beberapa kegiatan yang memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai produksi usaha perikanan di Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah budidaya mutiara (42 %) untuk usaha perikanan laut, dan budidaya air payau (53 %) untuk usaha perikanan darat.

Sumber daya perikanan laut di Kapet Bima terdiri dari 56 jenis komoditi, namun yang memiliki produksi > 50 ton dan memberikan kontribusi > 30 % terhadap produksi Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah 26 komoditas. Adapun komoditi perikanan laut dominan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 23.

Dari 26 komoditas perikanan laut dominan di atas, maka yang memiliki produksi tertinggi adalah peperek (2,246.20 ton), kembung (2,418.40 ton), Sunglir (2,932.20 ton), teri (2,963.40), Lemuru (3,978.10 ton) dan Layang (4,270.30). Sedangkan yang memberikan kontribusi terhadap produksi perikanan laut Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah komoditi Beloso (89.31 %), udang dogol (89.54 %), rajungan kepiting (85.45 %), rumput laut (89.47 %), dan ikan sunglir (89.98 %).

Potensi berbagai komoditas pertanian di atas cukup tinggi dan diusahakan oleh sebagian besar masyarakat di Kapet Bima, namun pengelolaannya masih

(18)

sederhana dan bersifat tradisional padahal di sisi lain kegiatan perikanan ini dapat mendorong perkembangan hotel dan restoran, kepariwisataan, serta industri pengolahan ikan. Disamping itu komoditi udang, kepiting dan rumput laut adalah komoditi yang memiliki keunggulan komparatif serta bernilai jual tinggi untuk kegiatan eksport.

Tabel 23 Komoditi Perikanan Laut Dominan Di Kapet Bima

No. Jenis Komoditi Kapet Bima (Ton) % Kapet Thdp NTB 1. Udang Lainnya 52.70 32.55 2. Udang Putih 63.20 52.89 3. Kepiting 90.10 56.95 4. Udang Windu 105.30 64.88 5. Beloso 117.00 89.31 6. Udang Dogol 117.30 89.54 7. Rajungan Kepiting 143.30 85.45 8. Sotong 146.30 50.92 9. Belanak 171.20 34.59 10. Gulamah 175.90 50.00 11. Cumi-Cumi 179.30 32.75 12. Tuna 193.70 35.36 13. Rumput Laut 219.20 89.47 14. Ikan Terbang 264.40 53.79 15. Kurisi 343.50 34.45 16. Merah Bambangan 365.70 39.92 17. Cakalang 712.40 28.01 18. Layur 808.20 63.73 19. Selar 1,099.50 45.54 20. Tembang 1,851.20 40.46 21. Peperek 2,246.20 42.50 22. Kembung 2,418.40 50.24 23. Sunglir 2,932.20 83.98 24. Teri 2,963.40 51.66 25. Lemuru 3,978.10 59.47 26. Layang 4,270.30 72.91

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

(19)

4.5.2. Pertambangan dan Galian

Potensi bahan galian di Kapet Bima cukup beragam, yang terdiri dari empat komoditi bahan galian B yakni belerang, emas, pasir besi dan perak, serta enam komoditi bahan galian golongan C. Adapun sebaran potensi bahan galian golongan B dan C dapat dilihat pada tabel 24 dan tabel 25.

Tabel 24 Potensi Bahan Galian Golongan B di Kapet Bima (Ton)

No. Jenis Galian Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Belerang 183.90 - - 183.90 2 Emas - 0.39 - 0.39 3 Pasir Besi 2,745,400.00 17,218.83 - 2,762,618.83 4 Perak - 3.90 - 3.90 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Dari tabel 24 terlihat bahwa pasir besi memiliki nilai ketersediaan yang sangat besar yakni 2,76 juta ton yang tersebar di dua kabupaten, yakni Kabupaten Bima sebanyak 17,21 ribu ton dan yang terbanyak di Kabupaten Dompu sebanyak 2.75 juta ton.

Tabel 25 Potensi Bahan Galian Golongan C (m3)

No. Jenis Galian Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Batu Bangunan 9,605,177.71 49,555,888.03 2,148,094.00 61,309,159.74 2 Pasir - 1,000.00 - 1,000.00 3 Sirtu Pasir & Kerikil 1,065,953.00 132,198.00 68,000.00 1,266,151.00 4 Batu Kapur 2,074.00 3,671,511.98 - 3,673,585.98 5 Tanah Liat 858,782.33 3,977,364.50 4,645,000.00 9,481,146.83 6 Marmer - 62,270,163.00 95,999,500.00 158,269,663.00 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Potensi bahan galian golongan C tersebar hampir merata di tiga Kabupaten/Kota yang ada di Kapet Bima, dan yang paling besar ketersediaannya adalah marmer sebanyak 156.27 juta m3, dengan rincian 62.27 juta m3 di

(20)

Kabupaten Bima dan 96 juta m3 di Kota Bima. Potensi bahan galian golongan B di Kapet Bima pada umumnya pengelolaannya masih berstatus eksploratif. Sedangkan bahan galian golongan C pada umumnya sudah diusahakan dan dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah, baik untuk berbagai macam penggunaan terutama untuk perumahan dan bangunan lainnya.

4.5.3. Panorama Alam dan Potensi Pariwisata

Kapet Bima merupakan salah satu daerah transit wisata yang belum dioptimalkan potensinya. Terdapat banyak panorama alam dan objek wisata yang tersebar diseluruh wilayah yang meliputi wisata alam, wisata budaya, wisata pantai, dan laut.

Tabel 26 Sebaran Objek Wisata dan Panorama Alam di Kapet Bima

No. Nama Jenis Obyek Wisata Lokasi

1 Pulau Nisa sura Wisata Alam / Bahari Langgudu

2 Pantai Wane Wisata Alam / Bahari Monta

3 Pantai Lere Wisata Alam / Bahari Monta

4 Pantai Mrada Wisata Alam / Bahari Monta

5 Pantai Papa Wisata Alam / Bahari Lambu

6 Pantai Lambu Wisata Alam / Bahari Lambu

7 Pantai Nisa Nae Wisata Alam / Bahari Sape

8 Pantai Lamere Wisata Alam / Bahari Sape

9 Pantai Kelapa Wisata Alam / Bahari Sape

10 Pantai So See Wisata Alam / Bahari Sape

11 Pantai Matamboko Wisata Alam / Bahari Sape 12 Taman Laut Bajo Pulo Wisata Alam / Bahari Sape 13 Taman Laut Torowamba Wisata Alam / Bahari Sape

14 Gua Anak Fari Wisata Alam/laut Sape

15 Pesanggrahan Sape Wisata budaya Sape

16 Dam Sumi (Dimu Woro) Wisata alam Lambu

17 Taman Rekreasi (Oi Wobo) Wisata alam Wawo

18 Lengge Maria Wisata budaya Wawo

(21)

No. Nama Jenis Obyek Wisata Lokasi

20 Pesanggrahan Wawo Wisata budaya Wawo

21 Rumah Adat Mbawa Wisata budaya Donggo

23 Wadu Pa’a Situs budaya Donggo

24 Pesanggrahan Donggo Situs Budaya Donggo

25 Karombo Wera Wisata budaya Wera

26 Pulau Sangiang Situs budaya Wera

27 Pantai Oi Fanda Wisata Alam/laut Wera

28 Pantai Nangaraba Wisata Alam / Bahari Wera

29 Pulau Ular Wisata Alam / Bahari Wera

30 Mada Oi Pangga Wisata alam Madapangga

31 Air terjun Sori Panihi Wisata alam Tambora

32 Mata air Tampuro Wisata alam Sanggar

32 Mata air Tampuro Wisata alam Sanggar

33 Puncak gunung Tambora Wisata alam Tambora

34 Kebun kopi Wisata alam Tambora

35 Pantai Lawata Wisata Alam / Bahari Teluk Bima

36 Pantai Ule Wisata Alam / Bahari Asakota

37 Pantai Kolo Wisata Alam / Bahari Asakota 38 Pulau Kambing Wisata Alam / Bahari Teluk Bima

39 Benteng Asakota. Wisata Budaya Asakota

40 Istana Kesultanan Bima Wisata Budaya Rasanae Barat 41 Bukit dantraha (komplek makam

kesultanan Bima) Wisata Budaya Rasanae Barat 42 Pantai Labuhan Kananga Wisata Alam / Bahari Tambora

43 Pantai Hu'u Wisata Alam / Bahari Hu’u

44 Pantai Lakey di Teluk Cempi Wisata Bahari/Surfing Hu’u

45 Pantai Riwo Wisata Alam / Bahari Woja

46 Pantai Hodo Wisata Tirta/Bahari Kempo

47 Pantai Ria Wisata alam/bahari Woja

48 Pulau Satonda dan Sekitarnya Wisata alam/bahari Pekat/Tambora 49 Gili Nae (Nisa Panihi) Wisata alam/bahari Kempo

50 Gili Bajo Wisata alam/bahari Kempo

51 Gili Macangkir Wisata alam/bahari Kempo

52 Gili Torobero Wisata alam/bahari Kempo

53 Gili Sapeno Wisata alam/bahari Kempo

54 Gili Saroko Wisata alam/bahari Kempo

(22)

Dari tabel 26 diketahui bahwa di Kapet Bima teridentifikasi sedikitnya 54 obyek wisata dan panorama alam yang memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing dan tersebar hampir merata diseluruh wilayah Kapet Bima, mulai dari ujung timur Kecamatan Sape dan Lambu sampai ujung barat wilayah Kapet Bima yakni Kecamatan Tambora dan Pekat, namun obyek wisata dan panorama alam tersebut umumnya belum dikelola dengan baik dan professional sebagai suatu potensi ekologi, ekonomi dan sosial wilayah yang bernilai tinggi.

4.5.4. Sumber Daya Hayati

Kapet Bima memiliki karakteristik wilayah yang relatif beragam. Wilayahnya berbukit-bukit namun juga merupakan daerah pesisir yang dikelilingi lautan, sedangkan dibeberapa tempat terdapat hutan belukar serta hamparan rumput dan ilalang. Di dalam wilayah tersebut terdapat kekayaan sumber daya hayati.

Sumber daya hayati yang cukup terkenal dari Kapet Bima adalah madu merah dan madu kristal. Madu memiliki kalori tinggi dan kaya khasiatnya sebagai suplemen energi dan obat berbagai penyakit. Sumber penghasil madu di wilayah Kapet Bima ada di beberapa tempat, namun yang terkenal adalah di Kawasan Gunung Tambora (2.851 mdpl), tepatnya di Desa Piong Kecamatan Sanggar. Di sekitar gunung yang pernah meletus Tahun 1815 itu terdapat kawasan hutan seluas 122,600 Ha, tumbuh pepohonan sebagai sumber nektar madu dan koloni lebah madu berkembang biak.

Madu kristal (madu putih) yang juga merupakan madu hutan liar (tidak dibudidayakan) mengandung 100 kali serbuk sari dibandingkan madu merah, terdapat di lereng Gunung Tambora pada ketinggian 900-2000 mdpl, terkonsentrasi di areal seluas 15,000 Ha. Di lokasi tersebut tumbuh “taride bura” (tumbuhan liar berbunga putih) atau Moschosma Polystachlyum yang diduga sebagai nektar sehingga menjadi sebab mengkristalnya madu tersebut, namun anggapan tersebut diragukan oleh para peneliti LIPI.

Menurut Soenarto Adisoemarto dan Anita Hanna Atmowidjojo (Peneliti LIPI yang menjelajah kawasan Tambora 16 September-1 Oktober 1986) bahwa kristalisasi madu tersebut masih dianggap misteri dan langka karena jenis

(23)

tumbuhan yang termasuk suku labitae tersebut ada juga di daerah lain, seperti di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB, NTT dan daerah lainnya, namun madu kristal itu tidak ada di daerah-daerah lain selain di Lereng Gunung Tambora (Hamzah, 2004).

Selain madu, masih banyak sumber daya hayati yang terdapat di Kapet Bima diantaranya adalah sebagai berikut (Hamzah, 2004) :

- Susu kuda liar, dapat menyembuhkan kanker, tumor dan liver.

- Jamblang (duwe), dapat membantu memperbaiki gangguan pencernaan dan menurunlan kadar glukosa darah

- Delima (talima), dapat membantu menghentikan pendarahan dan anti virus. - Mahkota dewa, dapat membantu menghilangkan gatal dan anti kanker.

- Patah Tulang (bake tula), dapat membantu menyembuhkan rematik dan nyeri saraf.

- Sesuru, dapat berfungsi sebagai anti radang dan sesak napas. - Tapak liman, dapat berfungsi sebagai antibiotik dan penawar racun - Tasbeh, dapat membantu menyembuhkan demam dan hipertensi.

4.5.5. Sumber Daya Manusia, Sosial dan Budaya

a. Komposisi Penduduk, Pendidikan dan Lapangan Usaha

Pesatnya pertumbuhan dan kepadatan penduduk jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta lapangan pekerjaan yang cukup, malah menjadi suatu permasalahan besar dalam pengembangan suatu wilayah, baik aspek sosial ekonomi dan politik. Berbagai permasalahan yang dapat ditimbulkannya antara lain rendahnya tingkat produktifitas dan pendapatan baik secara total maupun perkapita, tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, kriminalitas dan beban sosial lainnya dapat menjadi semakin besar.

Jumlah penduduk di wilayah Kapet Bima pada tahun 2001 adalah 694.362 jiwa dengan rincian di Kabupaten Bima 396.626 jiwa, di Kabupaten Dompu 184.846 jiwa dan Kota Bima 112.890 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk tahun 1990-2000 rata-rata 1,78 % pertahun dimana Kabupaten/Kota Bima tumbuh 1,24 % per tahun, Kabupaten Dompu banyak menerima transmigran tumbuhnya 2,31 %pertahun.

(24)

Penyebaran penduduk tidak merata dan konsentrasinya relatif tinggi pada kecamatan-kecamatan yang berada dilintasan jalan negara yaitu Kecamatan Woja, Dompu, Bolo, Woha, Belo, RasanaE Barat, RasanaE Timur, Wawo Utara dan Sape. Kepadatan penduduk Kapet Bima rata-rata 100,32 jiwa/Km2 dengan kepadatan di Kabupaten Bima 90,66 jiwa/Km2, Kabupaten Dompu 79,51 jiwa/ Km2 dan Kota Bima 507,94 jiwa/ Km2.

Kepadatan penduduk terendah di Kabupaten Bima yaitu 7 jiwa/Km2 berada di Kecamatan Tambora yang merupakan Kecamatan terluas kedua setelah Kecamatan Sanggar yaitu 505,00 Km2. Kondisi yang relatif sama di Kabupaten Dompu terdapat di Kecamatan Pekat yaitu kepadatan 27 jiwa/Km2 dengan luas 875,17 Km2 (kecamatan terluas). Penduduk terpadat di Kabupaten Bima yaitu sebesar 510 jiwa/Km2 terdapat di Kecamatan Woha dengan luas 75,25 Km2 dan untuk Kabupaten Dompu terdapat di Kecamatan Dompu dengan kepadatan 166 jiwa/Km2 dengan luas wilayahnya 223,27 Km2 . Sementara itu kepadatan penduduk di Kota Bima, memiliki kepadatan penduduk diatas rata-rata kepadatan penduduk Kapet Bima yakni terbanyak di Kecamatan Rasanae Barat sebesar 603 jiwa/Km2 (luas 103,38 Km2) dan terjarang 425 jiwa/Km2 (luas 118,87 Km2) di Kecamatan Rasanae Timur .

Struktur umur penduduk Kapet Bima di Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima relatif sama. Diawal pembentukan Kapet Bima, penduduk usia 0 – 14 Tahun rata-rata terbanyak 54,70 %, usia produktif 15 – 64 Tahun sebesar 41,55% dan usia di atas 65 Tahun sebesar 3,75%, namun berdasarkan Data Susenas NTB, struktur umur penduduk Kapet Bima mengalami perubahan. Pada tahun 2004 diketahui bahwa persentase penduduk menurut kelompok umur didominasi oleh kelompok usia produktif (penduduk berumur 15-64 tahun) yakni 59.21 %, namun angka ini berada dibawah rata-rata NTB yakni 62.58 %. Keadaan ini menggambarkan keberhasilan program kependudukan (keluarga berencana) yang didukung oleh tingkat kesadaran dan pendidikan serta kesejahteraan masyarakatnya yang semakin baik.

(25)

Tabel 27 Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kapet Bima Kelompok

Umur Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima NTB

0-14 37.56 37.06 30.97 36.20 33.20

15-64 58.98 57.89 64.13 59.21 62.58

65+ 3.46 5.05 4.89 4.59 4.22

Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Sumber : Susenas NTB, 2004

Tabel 27 menggambarkan komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur. Kelompok umur 0-14 tahun di Kapet Bima yakni sebesar 36.20 %. Pada kelompok umur ini Kota Bima memiliki persentase paling rendah yakni 30.97 % dan memiliki persentase paling tinggi pada kelompok umur 15-64 tahun yakni 54.13 %. Untuk kelompok umur 65+ tahun, Kabupaten Dompu memiliki persentase paling rendah, yakni 3.46 % dan angka ini berada dibawah rata-rata Kapet Bima sebesar 4.59 %.

Tabel 28 Persentase Penduduk Berumur 5-24 Tahun Menurut Partisipasi Sekolah Di Kapet Bima

Partisipasi Sekolah Kabupate n Dompu Kabupate n Bima Kota Bima Kapet Bima NTB Tdk/Belum Pernah Sekolah 8.38 10.42 5.65 9.11 10.57 Masih Sekolah 65.15 62.05 67.03 63.68 57.41 Tidak Sekolah Lagi 26.47 27.54 27.42 27.23 32.02 Total 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas NTB, 2004

Tabel 28 menggambarkan tingkat partisipasi sekolah di Kapet Bima. Penduduk berumur 5-24 tahun yang tidak/belum pernah sekolah adalah sebanyak 9.11 %, sementara di Kota Bima jauh lebih rendah lagi yakni 5.65 %. Yang masih sekolah 63.68 %, sementara di Kota Bima lebih tinggi lagi yakni 67.03 % demikian juga Kabupaten Dompu yakni 65.15 %. Sedangkan penduduk yang tidak sekolah lagi adalah sebanyak 27.23 %. Tingkat partisipasi sekolah di Kapet Bima lebih baik jika dibandingkan angka partisipasi sekolah Propinsi NTB.

(26)

Penduduk Propinsi NTB berumur 5-24 tahun, yang tidak/belum pernah sekolah adalah sebanyak 10.57 %, yang masih sekolah 57.41 %, Sedangkan penduduk yang tidak sekolah lagi adalah sebanyak 32.02 %.

Tabel 29 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Di Tamatkan Di Kapet Bima

Tk. Pendidikan Dompu Bima Kota

Bima Kapet Bima NTB Tdk/Blm Pernah Sklh 12.68 13.98 11.55 12.74 19.82 Tdk/Blm Tamat SD 27.82 29.71 17.79 25.11 25.36 SD 22.43 26.29 20.69 23.14 26.36 SMP 16.35 13.06 18.27 15.89 13.55 SMU 16.74 15.07 26.03 19.28 12.23 Diploma 1.69 0.98 2.65 1.77 1.11 PT 2.29 0.91 3.02 2.07 1.57 Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas NTB, 2004

Tabel 29 menggambar struktur penduduk berdasarkan tingkat pendidikan penduduk berumur 10 tahun ke atas. Tingkat pendidikan adalah salah satu indikator yang digunakan dalam mengukur kualitas manusia di suatu wilayah. Secara umum penduduk yang mencapai tingkat pendidikan SMP keatas baru mencapai 39.02 %. Angka ini di atas rata-rata NTB yang baru mencapai 28.46 %. Angka ini juga berkorelasi dengan terus tumbuhnya sekolah dan perguruan tinggi di Kapet Bima khususnya di Kota Bima. Output dari sekolah dan perguruan tinggi ini akan menghasilkan penduduk yang memiliki tingkat intelektual dan skill yang relatif lebih tinggi pula, jika didukung oleh fasilitas, kurikulum dan kultur akademik yang baik.

Karakteristik Kapet Bima sebagai daerah agraris sangat mempengaruhi aktivitas usaha kehidupan masyarakatnya, hal ini diketahui dari tabel 30 yang menginformasikan bahwa sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat di Kapet Bima yakni sebanyak 53.51 %. Sedangkan aktivitas masyarakat di sektor industri masih sangat minim yakni baru 4.95 %, keadaan ini masih lebih rendah jika dibandingkan daerah lain di NTB yakni dengan rata-rata 10.40 %, namun jika dibandingkan dengan data di awal pembentukan Kapet Bima, pada tahun 1998 jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 71.47 %, sedangkan sektor industri sebanyak 5.22 %

(27)

dan perdagangan adalah sebanyak 10.23 %. Sedangkan jasa adalah sebesar 7.31 %. Fenomena ini menjelaskan adanya transformasi ekonomi di Kapet Bima yang ditunjukkan dengan perubahan struktur tenaga kerja dari sektor pertanian (primer) ke sektor sekunder dan tersier.

Tabel 30 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama di Kapet Bima

Lapangan Usaha Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima NTB Pertanian 63.83 71.83 24.86 53.51 50.92 Industri 2.21 3.03 9.60 4.95 10.40 Perdagangan 12.84 1.14 23.91 15.96 15.62 Jasa 11.66 6.06 26.61 14.78 10.87 Lainnya 9.46 7.94 15.02 10.81 12.19 Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas NTB, 2004

Di sektor perdagangan dan jasa, persentase penduduk Kapet Bima yang bekerja adalah 30.74 %, dan khusus Kota Bima malah mencapai 50.52 %, jauh lebih tinggi dari wilayah lain di NTB yakni dengan rata-rata 26.49 %. Dari struktur penduduk di atas diketahui bahwa Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima memiliki kecenderung penduduknya bekerja di sektor pertanian yang didukung oleh aktivitas penduduk di Kota Bima dominan bekerja di sektor industri, perdagangan dan jasa.

Kegiatan industri, perdagangan dan jasa jika memiliki keterkaitan sektoral dengan aktivitas pertanian maka akan dapat memberikan nilai tambah (value

added) terhadap produk-produk pertanian, sehingga pada akhirnya nilai tambah

tersebut secara signifikan akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dalam Kapet Bima.

b. Kearifan Nilai Budaya Dalam Pembangunan Wilayah

Koentjaraningrat (1992) mengemukakan bahwa konsep budaya dan kebudayaan itu sangat luas, meliputi seluruh pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak bersifat naluri, tetapi yang dicetuskan oleh manusia setelah

(28)

melalui proses belajar yang melahirkan unsur-unsur universal sebagai isi dari semua kebudayaan di dunia. Secara garis besarnya dapat dibagi dalam tujuh unsur, yaitu : (1) sistem religi dan upacara keagamaan; (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan; (3) sistem pengetahuan; (4) bahasa; (5) kesenian; (6) sistem mata pencaharian dan kebutuhan hidup; (7) sistem teknologi dan peralatan. Selanjutnya ketujuh unsur universal ini dapat di rangkum ke dalam tiga wujud, yakni : (1) keseluruhan ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan; (2) keseluruhan aktivitas tingkah laku manusia sosial yang berpola; (3) keseluruhan hasil karya manusia. Gambar 3 merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Kapet Bima berupa pakaian tradisional yang bahannya memanfaatkan sumber daya lokal dan selaras dengan nilai religi Islam yang dianut masyarakat setempat.

Nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat dapat diaktualisasikan sebagai spirit dan bagian dari suatu komponen sumber daya dalam pembangunan daerah dan wilayah. Menurut Syamsudin (1999), Manusia menciptakan dan membutuhkan budaya bagi kesejahteraan hidupnya dan mereka memiliki potensi untuk dapat melaksanakannya, karena hanya masyarakat manusia sajalah yang mampu meracang dan memiliki pranata (institusi) budaya dan merealisasikannya dengan memperhatikan banyak hal termasuk situasi dan kondisi yang dihadapi.

(29)

Berikut ini beberapa potensi nilai budaya masyarakat yang dapat menjadi determinan dalam pengembangan wilayah Kapet Bima, antara lain sebagai berikut :

1). Kriteria Pemimpin : “Nggusu Waru” (Oktagonal/Delapan Sisi)

Terdapat delapan kriteria kepemimpinan yang hendaknya ada dalam diri setiap masyarakat Bima. Menurut Mochtar (1999) delapan kriteria kepemimpinan ini telah disampaikan dalam bentuk suatu nasehat luhur baik untuk kalangan atas (bangsawan) maupun kepada masyarakat awam yang disampaikan oleh para ulama, inang pengasuh, dan orang-orang tua, tersirat dalam pelaksanaan adat dan peringatan hari besar islam maupun pada saat upacara perkawinan dan khitanan.

Adapun kriteria kepemimpinan nggusu waru tersebut adalah sebagai berikut :

- Ma to’a di ruma labo rasul (yang taat kepada Allah dan Rasul) - Ma loa ra bade (yang cerdas dan berpengetahuan luas)

- Ma ntiri nggahi ra kalampa (yang jujur dalam berbicara dan berbuat) - Ma poda nggahi ra paresa (yang menegakkan kebenaran)

- Ma mbani ra disa (yang gagah berani)

- Ma tenggo ra wale (yang kuat dan gigih berjuang)

- Ma bisa ra guna (yang sakti/berwibawa/berkharismatik dan berdaya guna untuk negerinya)

- Londo dou taho (dari keturunan/lingkungan baik)

2). Jiwa Kepemimpinan : “Katohompara Wekiku Sura Dou Mori Na Labo

dana” (Tidak Peduli Untuk Diriku, Asalkan Untuk Rakyat dan Negara)

Menurut Tajib (1999) kalimat itu disebut epilogi yang diucapkan sejak Bima mengenal sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Calon raja atau setiap pemimpin sebelum dilantik mengucapkan kalimat epilogi itu sebagai tanggapan atas usulan, peringatan dan bahkan ancaman yang disampaikan pejabat atau komponen kerajaan dan disaksikan oleh rakyat umum, dengan naskah lengkapnya sebagai berikut :

Karentaku ba reraku di dou ma labo dana, Indokapo ra’a saciri ma kamorina weki, Saraka nu’u mancuri kantuwu.

(30)

Na su’u sawaleku ra kalampa sara, Ba dei ru’u taho ra ncihi kai dana ro rasa, Katohompara wekiku sura dou mori na labo dana

Aku ikrarkan dengan lidahku kepadamu rakyat dan negeri, Adapun darah setetes menghidupkan diriku,

Sampai kepada anak cucu.

Mereka akan mematuhi dan menjunjung tinggi ketentuan pemerintah, Demi kebaikan dan kemaslahatan negeri,

Tidak peduli untukku asalkan untuk orang banyak.

3). Prinsip Pengambilan Keputusan : “Nggahi Ra Sama Kai” (Kata/Keputusan Yang Disepakati Bersama)

Sumber dari prinsip musyawarah adalah adat lama sejak zaman ncuhi (sebelum zaman kerajaan) yang dikenal sebagai ungkapan tua “nggahi ra sama

kai” atau kata/keputusan yang telah disepakati bersama.

Untuk mencapai kesepakatan bersama ini ada suatu pedoman falsafah kepemimpinan, yang umpamanya seorang pemimpin itu laksana duduk di atas sehelai tikar selembar lampit, merentang tali sipat yang tegak lurus, menaruh jangkar yang tepat bundar dan dacin yang tepat berimbang, untuk menuju kesamaan pemikiran dan satunya kehendak demi kebaikan bersama (Maryam 1999).

4). Prinsip Kerja : “Nggahi Rawi Pahu” (Satunya Kata dan Perbuatan Untuk Mewujudkan Kenyataan)

Menurut Tajib (1999) kalimat itu adalah petunjuk awal pelaksanaan epilogi, untuk konsekuen terhadap apa yang diniat dan direncanakan sehingga harus diimplementasikan dalam suatu aksi sampai berwujud suatu hasil. Sedangkan Maryam (1999) menyatakan rumusan “nggahi rawi pahu” merupakan kebenaran ucapan yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku sebagaimana peribahasa Bima “Ka Sabuaku Nggahi Ma Labo Rawi” (satukan kata dan perbuatan) adalah prinsip yang sampai sekarang dianggap oleh orang

(31)

Bima/Dompu sebagai pertanda sifat orang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

5). Nilai Pengendalian : “Maja Labo Dahu” (Malu dan Takut)

Maja labo dahu ialah budaya malu dan takut kepada Tuhan dan kepada

orang banyak bila melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai luhur dan peraturan yang berlaku.

Maryam (1999) menyatakan Maja labo dahu berfungsi pula sebagai alat kontrol baik vertikal maupun horizontal terhadap pelaksanaan epilogi, serta mengandung pula makna :

- Malu dan takut (taqwa) kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya.

- Patuh kepada semua ketentuan yang berlaku dan norma yang ada dalam masyarakat

- Mengerjakan yang baik, meninggalkan yang batil - Rendah hati, tidak sombong dan takabur

- Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah - Sabar dan pantang mundur

4.5.6. Ketersediaan Infrastruktur dan Kelembagaan Usaha a. Infrastruktur Pendidikan, Kesehatan dan Keagamaan

Untuk mendukung kualitas kehidupan masyarakat maka dibutuhkan ketersediaan infrastruktur sosial. Infrastruktur penting dibidang sosial adalah pendidikan, kesehatan dan kegiatan keagamaan.

Di Kapet Bima Keberadaan Sekolah tersedia mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai tingkat perguruan tinggi, selain sekolah umum juga tersedia sekolah menengah kejuaraan yakni sejumlah 13 unit sedangkan Madrasah Aliyah sejumlah 27 unit dan pondok pesantrennya sejumlah 33 unit yang tersebar di tiga daerah administratif Kapet Bima. Adapun gambaran Jumlah Sekolah Pada Berbagai Tingkat Pendidikan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 31

(32)

Tabel 31 Jumlah Sekolah Pada Berbagai Tingkat Pendidikan di Kapet Bima (Unit)

No. Tingkat Sekolah Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima

1 TK 58 141 46 245 2 SD 203 388 79 670 3 M.Ibtidaiyah 28 45 7 80 4 SLTP 26 44 13 83 5 M. Tsanawiyah 22 24 6 52 6 SMU 16 27 17 60 7 M. Aliyah 10 12 5 27 8 SMK 3 5 5 13 9 Pondok Pesantren 3 23 7 33 10 PT 1 1 7 9

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 32 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Sekolah di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)

No. Tingkat Sekolah Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima

1 TK 3,437 2,974 2,531 3,000 2 SD 982 1,081 1,474 1,097 3 M.Ibtidaiyah 7,120 9,318 16,632 9,189 4 SLTP 7,668 9,530 8,956 8,856 5 M. Tsanawiyah 9,062 17,471 19,404 14,136 6 SMU 12,460 15,530 6,849 12,251 7 M. Aliyah 19,936 34,942 23,285 27,225 8 SMK 66,452 83,860 23,285 56,545 9 Pondok Pesantren 66,452 18,231 16,632 22,275 10 PT 199,357 419,302 16,632 81,676

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 32 menggambarkan perbandingan ketersediaan sekolah dengan jumlah penduduk. Jumlah SD di Kapet Bima adalah sebanyak 670 unit atau dengan ratio 1,097 jiwa penduduk per unit. Jumlah SLTP adalah sebanyak 83 unit atau dengan ratio 8,856 jiwa penduduk per unit. Jumlah SMU adalah sebanyak 60 unit atau dengan ratio 12,251 jiwa penduduk per unit. Sedangkan Jumlah Perguruan Tinggi adalah sebanyak 9 unit atau dengan ratio 81,675 jiwa penduduk per unit.

(33)

Keberadaan Sekolah Dasar di Kapet Bima tersedia di seluruh desa/kelurahan, sekolah setingkat SLTP dan SMU pada umumnya tersedia di tingkat kecamatan, namun masih terdapat kesenjangan ratio antara Kota Bima dengan Kabupaten Bima dan Dompu, sehingga di Kabupaten Dompu dan khususnya di Kabupaten Bima perlu dibangun lagi sekolah setingkat SLTP dan SMU agar peluang masyarakat untuk memperoleh pendidikan lebih besar. sedangkan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi hanya ada di tingkat kabupaten atau pada beberapa kecamatan saja. Berbagai perguruan tinggi tersebut memberikan pilihan program studi yang dibutuhkan masyarakat masih terbatas.

Fasilitas peribadatan di Kapet Bima meliputi 693 unit masjid, 382 unit langgar dan 235 unit mushalla yang tersebar di tiga kabupaten/kota. gereja terdapat 10 unit yang juga tersebar di tiga kabupaten/kota, sedangkan pura berjumlah 9 unit yang hanya tersedia di Kabupaten Dompu dan Kota Bima. gambaran tentang jumlah tempat peribadatan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 33.

Tabel 33 Jumlah Tempat Peribadatan Di Kapet Bima (Unit)

No. Uraian Kab Dompu Kab Bima Kota Bima Kapet Bima

1 Masjid 228 349 116 693 2 Langgar 55 261 66 382 3 Mushalla 54 106 75 235 4 Pura 7 - 2 9 5 Gereja 5 2 3 10 Jumlah 349 718 262 1329

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Kegiatan peribadatan merupakan kegiatan rutin dan dilakukan setiap saat oleh pemeluknya, sehingga fasilitas peribadatan harus cukup tersedia khususnya bagi umat muslim sebagai masyarakat mayoritas di Kapet Bima, karena tempat peribadatan merupakan ruang yang digunakan untuk melaksanakan ritual hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai salah satu sentral dalam berinteraksi dengan sesama. Pada tabel 34 terlihat bahwa bahwa setiap unit masjid

(34)

digunakan oleh paling tidak 1,061 jiwa penduduk sedangkan langgar dan mushalla adalah masing-masing sebanyak 1,924 dan 3,128 jiwa penduduk.

Tabel 34 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Tempat Peribadatan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)

No. Uraian Kab Dompu Kab Bima Kota Bima Kapet Bima

1 Masjid 874 1,201 1,004 1,061 2 Langgar 3,625 1,607 1,764 1,924 3 Mushalla 3,692 3,956 1,552 3,128 4 Pura 28,480 - 58,213 81,676 5 Gereja 39,871 209,651 38,808 73,508 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Keberadaan berbagai jenis fasilitas kesehatan di Kapet Bima relatif tersedia namun masih terbatas, tercatat baru 2 (dua) rumah sakit umum yang ada di 3 (tiga) Kabupaten/Kota di Kapet Bima, artinya setiap rumah sakit melayani 367,542 jiwa penduduk. Ketersediaan apotik baru 11 buah sedangkan Kapet Bima terdiri dari 25 kecamatan dengan jarak di antaranya cukup berjauhan, sedangkan Puskesmas hanya tersedia 32 unit dengan ratio pelayanan setiap unit 22,971 jiwa penduduk yang dibantu oleh Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 127 unit atau dengan ratio pelayanan terhadap 5,788 jiwa penduduk. Pada umumnya Puskesmas Pembantu tersedia di tiap desa/kelurahan. Adapun gambaran tentang jumlah fasilitas kesehatan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 35 sedangkan ratio pelayanan setiap unit fasilitas kesehatan terhadap jumlah penduduk pada tabel 36.

Ketersediaan fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai ilustrasi, dengan keberadaan fasilitas kesehatan di Kabupaten Dompu selama 5 (lima) tahun terakhir (2000-2004), angka harapan hidup terus meningkat. Pada tahun 1999 angka harapan hidup penduduk adalah 57.9 tahun meningkat menjadi 59.5 tahun pada tahun 2004,

(35)

sedangkan Infant Mortality Rate (IMR) atau angka kematian bayi (AKB) pada Tahun 1999 sebanyak 80 kasus per 1000 kelahiran hidup kemudian menurun menjadi 71 kasus per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2004 (Bappeda Dompu, 2006).

Tabel 35 Jumlah Fasilitas Kesehatan Di Kapet Bima

No. Unit Kesehatan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima

1 Rumah Sakit Umum 1 - 1 2

2 Rumah Sakit Lainnya - 1 1 2

3 Puskesmas 9 18 5 32

4 Pustu 44 70 13 127

5 Apotik 1 1 9 11

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Tabel 36 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Fasilitas Kesehatan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)

No. Unit Kesehatan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Rumah Sakit Umum 199,357 - 116,425 367,542 2 Rumah Sakit Lainnya - 419,302 116,425 367,542 3 Puskesmas 22,151 23,295 23,285 22,971 4 Puskesmas Pembantu 4,531 5,990 8,956 5,788 5 Apotik 199,357 419,302 12,936 66,826 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

b. Infrastruktur dan Aktivitas Industri, Perdagangan dan Koperasi

Lebih dari 26 % penduduk di Kapet Bima bekerja di Sektor industri dan perdagangan serta lebih dari 10 % sudah mulai bekerja di sektor jasa. sektor ini sangat strategis dalam menggerakkan ekonomi riil wilayah baik untuk menarik sisi produksinya (supply) maupun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyakat lainnya (demand).

Tabel 37 Jumlah Sarana Perdagangan Di Kapet Bima

No. Jenis Sarana 2003 2004 Perub. (%)

1 Pasar Umum 28 28 0.00 2 Pasar Desa 2 5 150.00 3 Toko 1,174 1,419 21.00 4 Kios/Warung 1,248 1,383 11.00

(36)

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Seiring dengan pertumbuhan penduduk maka akan semakin meningkat pula kebutuhan hidup dan usaha masyarakat sehingga sangat dibutuhkan ketersediaan sarana perdagangan yang memadai. Dari tabel 37 di atas terlihat bahwa pada tahun 2004 sarana perdagangan di Kapet Bima mengalami peningkatan kecuali pasar umum.

Tabel 38 Perbandingan Jumlah Penduduk Terhadap Ketersediaan Sarana Perdagangan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)

No. Jenis Sarana Jumlah Sarana

(Unit) Jiwa/Unit

1 Pasar Umum 28 24,503

2 Pasar Desa 5 147,017

3 Toko 1,419 518

4 Kios/Warung 1,383 532

Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Pada tabel 38 terlihat bahwa rasio pelayanan setiap pasar umum yakni 24,503 jiwa penduduk, sedangkan Jumlah pasar desa meningkat 150 % yakni dari 2 unit menjadi 5 unit namun beban pelayanan setiap unit masih tinggi yakni sebanyak 147,017 jiwa penduduk, sehingga ketersediaan pasar desa perlu ditingkatkan, karena seharusnya merupakan fasilitas perdagangan terdekat dengan masyarakat desa, sehingga segala kebutuhan hidup dan usaha masyarakat tersedia dan dengan mudah untuk mendapatkannya. Kios/ warung mengalami peningkatan sebesar 11 %, sedangkan toko jumlahnya meningkat 21 % dari sebelum 1,174 unit pada tahun 2003 menjadi 1,419 unit pada tahun 2004. fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas perdagangan, khususnya pada ekonomi skala kecil atau menengah.

Jumlah perusahaan industri di Kapet Bima sebanyak 5,874 buah yang terdiri dari 4,549 buah perusahaan industri non formal dan 1,325 buah perusahaan formal. sedangkan dari total serapan tenaga kerja sebanyak 16,383 orang, pada

(37)

industri formal adalah 7,660 orang sedangkan industri non formal adalah 8,723 orang.

Nilai investasi yang diserap industri formal adalah 21.6 milyar rupiah, jauh lebih besar dari pada industri non formal yakni hanya 3.9 milyar rupiah, namun rasio nilai produksi terhadap investasi masih lebih unggul industri non formal yakni 2.83 dibandingkan industri formal adalah sebesar 1.46. Adapun gambaran tentang jumlah perusahaan, tenaga kerja dan nilai investasi dirinci menurut kelompok industri di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 39.

Tabel 39 Jumlah Perusahaan, Tenaga Kerja dan Nilai Investasi Dirinci Menurut Kelompok Industri Di Kapet Bima

No Uraian Satuan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima Industri Formal

1 Perusahaan Buah 296 755 274 1,325 2 Tenaga Kerja Orang 1,880 4,455 1,325 7,660 3 Investasi (Rp.Juta) 4,423 12,849 4,385 21,657 4 Produksi (Rp.Juta) 9,924 15,484 6,250 31,658

Industri Non Formal

1 Perusahaan Buah 1,287 3,142 120 4,549 2 Tenaga Kerja Orang 2,847 5,626 250 8,723 3 Investasi (Rp.Juta) 777 2,119 990 3,886 4 Produksi (Rp.Juta) 3,363 4,815 2,815 10,993 Jumlah

1 Perusahaan Buah 1,583 3,897 394 5,874 2 Tenaga Kerja Orang 4,727 10,081 1,575 16,383 3 Investasi (Rp.Juta) 5,200 14,968 5,375 25,543 4 Produksi (Rp.Juta) 13,287 20,299 9,065 42,651 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Terdapat 21 jenis kegiatan industri dominan yang nilai produksinya > Rp.300 juta, yang terdiri 13 jenis usaha dari industri hasil pertanian dan kehutanan (IKAHH) dan 8 jenis usaha dari industri logam, mesin dan Kimia (ILMEA). Jenis usaha yang memiliki nilai produksi paling tinggi adalah industri genteng (Rp.5.32 milyar), penjahitan/konveksi (Rp.4.19 milyar) dan furniture

(38)

dan kayu (Rp.3.32 milyar) sedangkan nilai produksi industri kacang mete (Rp.0.35 milyar), vulkasnisir (Rp.0.40 milyar) dan Industri tahu (Rp.0.41 milyar).

Kegiatan industri di Kapet Bima di dominasi oleh industri berbasis pertanian, namun limpahan sumber daya pertanian belum diolah secara optimal, hasil pertanian selain untuk konsumsi rumah tangga dan masyarakat sekitar juga dijual keluar daerah, namun komoditi pertanian yang diperdagangkan masih dalam bentuk produk mentah dan sedikit yang dalam bentuk produk olahan setengah jadi. Adapun gambaran tentang jenis industri dominan dan nilai produksi di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 40.

Tabel 40 Beberapa Jenis Industri Dominan dan Nilai Produksi Di Kapet Bima

No. Uraian Kapet Bima (Rp.000,-)

Formal Non Formal Jumlah I. Bidang IKAHH

1 Es Batu 1,001,724 - 1,001,724 2 Pengeringan Cumi 1,600,000 - 1,600,000 3 Pengasinan Ikan - 776,454 776,454 4 Foto Copy 409,625 48,540 458,165 5 Furniture dan Kayu 2,910,945 406,286 3,317,231 6 Garam Rakyat 265,000 817,000 1,082,000 7 Barang Dari Semen 1,163,356 - 1,163,356 8 Batu Bata 556,648 525,275 1,081,923 9 Genteng 4,915,810 409,090 5,324,900 10 Penggilingan Daging 514,642 - 673,315 11 Kacang Mete 190,800 - 355,225 12 Tahu 252,879 - 406,530 13 Pengolahan Susu Kuda 1,285,635 30,545 1,316,180 II. Bidang ILMEA

1 Penjahitan/Konveksi 1,477,060 153,296 4,190,356 2 Pertenunan 1,328,303 1,131,250 2,884,553 3 Reparasi Kendr. Roda 2&4 1,557,200 - 2,669,200 4 Pengelasan 402,900 1,125 616,025 5 Air Isi Ulang 1,840,000 872,540 2,712,540 6 Vulkanisir 401,455 - 401,455 7 Tukang Kaleng - 964,628 964,628 8 Tukang Emas dan Perak 1,061,605 - 1,616,705 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Produk-produk perikanan/kelautan seperti rumput laut oleh masyarakat setempat sudah mulai diolah dalam bentuk dodol, namun dengan volume usaha yang masih sangat kecil. Kemudian jenis usaha perikanan bandeng (perikanan air

(39)

payau) sudah mulai diproduksi dalam bentuk presto. pengolahan ikan laut baru dilakukan pengasinan dan pengeringan. sedangkan komoditi ternak dijual keluar daerah masih dalam keadaan hidup demikian juga komoditi kedelai atau bawang pada umumnya dijual dalam bentuk glondongan sementara industri pengolahan tahu atau tempe sangat terbatas. Kegiatan pengolahan pascapanen atau kegiatan agroindustri di Kapet Bima relatif masih kurang sementara potensi sumber daya cukup besar, sehingga peluang pengembangan agroindustri masih sangat besar dan dibutuhkan suatu strategi kebijakan yang dapat menggarap sumber daya wilayah secara optimal khususnya pada berbagai aktivitas ekonomi masyarakat sehingga tercipta multiplier effect pembangunan yang lebih luas.

Sebagai lembaga usaha ekonomi kerakyatan, secara umum kinerja koperasi semakin membaik. Jika pada tahun 2002 jumlah koperasi 409 unit maka pada tahun 2004 terdapat 441 unit. Di sisi lain terdapat juga koperasi yang tidak aktif yang sampai 2004 sebanyak 117 unit. Adapun gambaran tentang keragaan koperasi di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 41.

Tabel 41 Keragaan Koperasi di Kapet Bima

No. Uraian Satuan 2002 2004 Perub. (%)

1 Jumlah Koperasi Unit 409 441 3.85 2 Jumlah Anggota Orang 57,009 94,038 32.22 3 Pelaksanaan Rat Unit 215 240 5.68 4 Koperasi Aktif Unit 299 324 4.10 5 Koperasi Tdk Aktif Unit 110 117 3.18 6 Pengurus Orang 1,404 1,482 2.77 7 Pengawas Orang 1,145 1,142 0.01 8 Manajer Orang 76 77 0.66 9 Karyawan Orang 736 791 3.67 10 Modal Sendiri Rp.000 31,505,736 48,180,888 23.92 11 Modal Luar Rp.000 26,299,184 30,007,558 6.83 12 Volume Usaha Rp.000 97,973,963 116,085,180 9.60 13 SHU Rp.000 4,326,764 5,507,781 20.90 14 Asset Rp.000 57,804,920 78,188,446 16.40 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004

Gambar

Tabel 7   Luas Wilayah Kapet Bima  Kabupaten/Kota                         Luas Wilayah                              Jumlah          (Km 2 )           (%)             Darat      (Km 2 )         (%)                  Laut        (Km2 )            (%)  Kab
Gambar 3  Salah Satu Bentuk Pakaian Tradisional di Kapet Bima
Gambar 5  Keadaan Topografi Wilayah di Kapet Bima

Referensi

Dokumen terkait

Penulis: Chann Piseth Puisi untuk Alumni Oleh: Saridin Tua Sinaga Juara 1 Lomba Penulisan Artikel tentang Pengalaman di Indonesia Staf Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya dalam

Cara pengelasan ini paling banyak digunakan dimana nyala api diarahkan ke kiri dengan membentuk sudut 60° dan kawat las 30° terhadap benda kerja sedangkan sudut

Tidak adanya hubungan antara keberadaan hewan peliharaan dengan kejadian leptospirosis dalam penelitian ini bisa dikarenakan sebagian besar responden baik pada

Tujuan dari penelitian dalam skripsi ini adalah mengkaji eksternalitas negatif yang timbul dari aktivitas penambangan batuan gamping, mengkaji peluang kesediaan masyarakat

Setelah ukuran utama didapat, sesuai daya muat yang direncanakan dengan mengambil perbandingan- perbandingan dari kapal pembanding, maka tahapan selanjutnya adalah

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan program

Interaksi mereka terwujud dalam dua bentuk relasi kuasa agraria, yaitu: relasi teknis yaitu antara aktor utama (komunitas petani kopi rakyat dan Perhutani) dengan

(4) Hasil uji determinasi (R2) sebesar 0,834 arti dari koefisien ini adalah bahwa pengaruh yang diberikan oleh kombinasi variabel lingkungan belajar dan perhatian orang tua