PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE
TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR IPS
SISWA KELAS V SD DI GUGUS VII KECAMATAN SUKASADA
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Ni Luh Harumini
1, Dewa Nyoman Sudana
2, I Dewa Kade Tastra
31, 2
Jurusan PGSD,
3Jurusan TP, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Permasalahan dalam penelitian ini adalah kurangnya motivasi siswa dalam belajar dan rendahnya nilai siswa dalam mata pelajaran IPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar IPS antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru. Rancangan penelitian yang digunakan adalah post test only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD di Gugus VII Kecamatan Sukasada tahun pelajaran 2016/2017. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Sebanyak 45 siswa kelas V SD di Gugus VII Kecamatan Sukasada dipilih sebagai sampel. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan tes pilihan ganda. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan uji Manova (Multivariate Analysis of Varians). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru (F hitung sebesar 143,323 ;sig = < 0,05); 2) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap hasil belajar IPS antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair
Share dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada
guru (F hitung sebesar 11,227, df;sig = < 0,05); 3) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS secara bersama–sama antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru (F hitung =75.438;sig = < 0,05). Berdasarkan temuan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
Think Pair Share berpengaruh positif terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS
siswa.
Kata kunci: model pembelajaran Think Pair Share, motivasi belajar, hasil belajar IPS
Abstract
The problems of this research were the lack of students’ motivation in learning and the students’ low score in social science. This research was intended to know the difference of learning motivation and social science’s result between 5th grade students taught by Think Pair Share learning model and 5th grade students taught by teacher-centered learning. Research design used in this research was post test only control group design. The population of this research was the 5th grade elementary school students in cluster 7 of Sukasada district academic year 2016/2017. The sample was taken by using simple
random sampling technique. 45 5th grade elementary schools students in cluster 7 of
and multiple choices test. The data collected was analyzed by Manova (Multivariate
Analysis of Variants) test. The result of the study showed that there was a significant
difference toward learning motivation between 5th grade students taught by Think Pair Share learning model and the 5th grade students taught by teacher-centered leaning (Farithematic is 143,332 ;sig = < 0,05). It was also found that there was a significant
difference in social science learning result between 5th grade students taught by Think
Pair Share learning model and the 5th grade students taught by teacher-centered leaning
(F arithematic = 11,227 df;sig = < 0,05). Furthermore, it was found that there was a significant
difference toward learning motivation and social science learning result concurrently between 5th grade students taught by Think Pair Share learning model and the 5th grade students taught by teacher-centered leaning (F arithematic =75.438;sig = < 0,05). Based on
these findings, it can be concluded that Think Pair Share learning model issued positive effects toward learning motivation and social science learning result.
Kewords: Think Pair Share learning model, learning motivation, social science learning
result
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang sedang berkembang saat ini. Perkembangan tersebut menuntut peningkatan mutu di berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek yang merupakan kunci penting dalam perkembangan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Hal ini tidak bisa dipungkiri, mengingat pendidikan merupakan penyokong terbesar untuk aspek lainnya, seperti teknologi, pemerintahan, ekonomi, dan aspek-aspek lain yang sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.
Guna mendukung perkembangan bangsa Indonesia khususnya di bidang pendidikan, peremerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu program pemerintah adalah wajib belajar 12 tahun yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2015. Dalam program ini, pemerintah mewajibkan seluruh warga Indonesia untuk menerima pendidikan minimal 12 tahun, dan bagi warga yang tidak mampu secara financial, akan dibantu oleh pemerintah melalui pemberian beasiswa. Pemerintah Indonesia membagi 12 tahun wajib belajar tersebut menjadi tiga jenjang meliputi, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari ketiga jenjang tersebut, jenjang sekolah dasar diprogramkan paling lama yaitu 6 tahun. Hal ini dilaksanakan karena Sekolah Dasar merupakan jenjang yang paling penting dalam perkembangan pendidikan.
Pendidikan di jenjang sekolah dasar merupakan jenjang yang paling penting, karena sekolah dasar merupakan jenjang pertama bagi siswa untuk mulai belajar secara formal. Sekolah dasar merupakan tempat pengenalan berbagai ilmu pengetahuan dasar, yang nantinya akan dikembangkan di sekolah menengah (SMP dan SMA). Untuk itu, pendidikan di sekolah dasar harus dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga ketika siswa mulai memasuki jenjang sekolah menengah, siswa mampu mengikuti pelajaran secara optimal. Untuk mengoptimalkan pembelajaran di sekolah dasar, para guru dituntut untuk menyiapkan siswa dengan baik melalui pemebelajaran yang efektif dan efisien. Tuntutan ini merupakan tantangan terbesar bagi para guru, karena di sekolah dasar siswa mempelajari berbagai mata pelajaran.
Salah satu mata pelajaran yang dipelajari di sekolah dasar adalah ilmu pengetahuan social (IPS). Lesmawan (2010) menyatakan pembelajaran IPS
lebih menekankan pada aspek
“pendidikan” daripada “transfer konsep”. Dalam proses pembelajaran IPS, guru diharapkan lebih menekankan dalam aspek pendidikannya sehingga siswa bisa memahami konsep pembelajaran IPS
yang diajarkan, dan bisa
menggunakannnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti, dalam pembelajaran IPS siswa diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral dan
keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Pembelajaran IPS
dapat membantu siswa dalam
melaksanakan sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar hendaknya menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dalam proses pembelajaran diupayakan mengaitkan bahan pelajaran IPS dengan pelajaran-pelajaran lain. Disamping itu perlu digunakan kejadian yang aktual untuk mendukung atau memperkuat pembelajaran IPS yang sudah ada. Hal ini dikarenakan siswa sekolah dasar masih berada dalam fase oprasional konkret. Siswa dikatakan berada dalam fase oprasional konket karena siswa lebih mudah memahami pelajaran yang bersifat abtrak jika dikonkretkan. Dengan demikian diperlukan kepekaan dan kreativitas guru dalam
mengemas dan menerapkan
pembelajaran semenarik mungkin, yang mampu mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal siswa, guna mencapai hasil belajar yang maksimal.
Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, guru juga harus memperhatikan motivasi siswa dalam belajar. Tinggi rendahnya motivasi siswa dalam belajar akan mempengaruhi hasil belajar mereka. Seperti yang diuraikan Ryan and Deci (2000) dalam Saed dan Zyngier (2012),bahwa motivasi merupakan sesuatu yang membuat seseorang melakukan sesuatu. Jika seseorang memiliki motivasi yang tinggi, mereka akan tertarik untuk melakukan sesuatu. Begitu juga dalam pembelajaran, jika siswa memiliki motivasi yang tinggi maka mereka akan lebih bersemangat untuk belajar.
Berdasarkan kenyataan di lapangan ketika dilakukan wawancara dengan guru di Gugus VII Kecamatan Sukasada, diperoleh informasi bahwa dalam mengikuti pelajaran IPS, siswa kurang memiliki motivasi dalam belajar. Hal ini menyebabkan siswa cenderung tidak memperhatikan guru ketika menyampaikan materi, sehingga siswa kurang memahami apa yang disampaikan oleh guru. Hal tersebut tentunya
berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa.
Pada saat dilanjutkan kegiatan obeservasi dengan guru yang melakukan kegiatan pembelajaran IPS di kelas V SD, ternyata pada proses pembelajaran guru
cenderung menggunakan metode
mengajar ceramah tanpa menggunakan media. Hal tersebut menyebabkan pembelajaran menjadi abstrak dan tidak menarik, sehingga siswa tidak memiliki
motivasi dalam memperhatikan
pembelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran tidak terlihat interaksi antar siswa, seperti kegiatan diskusi. Guru hanya menyampaikan materi kepada siswa dengan menuliskannya di papan tulis, kemudian siswa mencatat tulisan yang ada di papan tulis tersebut.
Metode belajar yang digunakan oleh guru di Gugus VII Kecamatan Sukasada ini dirasakan kurang efisien untuk peserta didik, mengingat siswa sekolah dasar lebih mudah memahami pelajaran yang bersifat konkret, dan siswa sulit memahami materi yang bersifat hafalan. Dengan penerapan metode ceramah yang secara terus–menerus akan membuat siswa cepat merasa bosan dan jenuh dalam pembelajaran. Hal ini tidak sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPS, yang lebih menekankan pendidikan daripada transfer konsep. Pembelajaran yang tidak divariasikan, takutnya tidak akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar, sehingga hasil belajar siswa akan mengalamai masalah.
Untuk melengkapi hasil wawancara dan observasi, maka dilakukan studi pencatatan dokumen tentang nilai-nilai hasil belajar siswa khususnya tentang jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas KKM dan di bawah KKM. Berdasarkan hasil pencatatan dokumen, dinyatakan bahwa dari 133 siswa kelas V SD yang ada di Gugus V Kecamatan Sukasada, hanya 63 siswa yang mampu mencapai KKM, dengan persentase ketuntasan siswa hanya memenuhi KKM 47%, sedangkan masih terdapat 70 siswa atau 53% yang masih belum tuntas atau berada di bawah KKM. Hal ini menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas V SD di Gugus
VII Kecamatan Sukasada, belum memenuhi harapan atau belum mencapai kriteria ketuntasan minimal secara keseluruhan.
Untuk mendapatkan hasil belajar di atas KKM, diperlukan usaha guru untuk menemukan cara belajar yang lebih efektif, lebih menyenangkan dan lebih melibatkan siswa dalam pembelajaran, agar siswa mampu memahami pelajaran tersebut secara lebih maksimal. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Usman (2015) menjelaskan bahwa Think Pair Share merupakan sebuah strategi pembelajaran, yang dikembangkan oleh Lyman, untuk meningkatkan partisipasi siswa di dalam kelas. Ia juga menjelaskan bahwa Think
Pair Share merupakan model
pembelajaran yang didesain dalam meyiapkan siswa untuk memikirkan sebuah topik dengan membiarkan siswa membangun ide mereka secara individu, kemudian membagi ide tersebut dengan siswa lain di kelas. Model pembelajaran Think Pair Share ini sangat mudah untuk diterapakan.
Dalam penerapan model
pembelajaran ini, siswa diberikan kesempatan untuk berpikir secara individu, kemudian mendiskusikan dengan satu siswa dalam satu kelompok, dan menyampaikan gagasan mereka kepada seluruh siswa dalam kelas melalui diskusi kelas. Dengan memberikan siswa waktu untuk mengembangkan ide mereka, kemampuan berpikir siswa akan semakin meningkat. Selain itu, pengaplikasian Think Pair Share di dalam kelas juga akan membangun rasa percaya diri siswa karena setelah mereka memiliki ide tentang suatu topik, mereka harus mendiskusikannya dengan teman kelompok dan dengan seluruh siswa di dalam kelas. Selanjutnya guru menyimpulkan hasil diskusi di akhir pembelajaran.
Pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran ini tentunya sangat cocok untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan inti dari pembelajaran IPS adalah membangun hubungan sosial antar individu. Penerapan model pembelajaran think pair share
sangat memupuk kerjasama antar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ini juga akan menumbuhkan aktivitas siswa, karena siswa terlibat langsung dalam pembelajaran. Dengan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran, maka akan menumbuhkan motivasi dalam belajar. Pada saat motivasi siswa tumbuh, maka hasil belajar siswa juga cenderung meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, TPS memberikan peluang dalam mengatasi permasalahan pendidikan IPS yang selama ini belum terpecahkan. Untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh model pembelajaran Think Pair Share terhadap motivasi belajar dan hasil belajar maka dirancang sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share Terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar siswa kelas V SD di Gugus VII Kecamatan Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017”.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017, 2) Untuk mengetahui perbedaan secara siginifikan terhadap hasil belajar IPS antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017, dan 3) Untuk mengetahui perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS secara bersama–sama antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Gugus VII Kecamatan Sukasada, dalam rentang waktu semester II (Genap) pada
tahun pelajaran 2016/2017. Mengingat tidak semua variabel dan kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat (full randomize), maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen semu (quasi
eksperimental). Penelitian ini
menggunakan rancangan “Non Equivalent Posttest Only Control Group Design. Rancangan ini dipilih karena tidak memungkinkan mengubah kelas desain yang ada.
Variabel dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas pada penelitian ini adalah model pembelajaran Think Pair Share (X1) yang dilaksanakan pada kelompok eksperimen dan pembelajaran yang berpusat pada guru (X2) yang dilaksanakan pada kelompok kontrol. Sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah motivasi belajar (Y1) dan hasil belajar IPS (Y2).
Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di Gugus VII Kecamatan Sukasada. Jumlah SD keseluruhannya sebanyak 6 SD dengan jumlah seluruh siswa adalah 133 siswa. Sebelum dilakukan pengambilan sampel, maka populasi diuji kesetaraanya terlebih dahulu menggunakan uji ANAVA Satu Jalur. Dari hasil analisis, diperoleh hasil f hitung sebesar 1,966. Jika dibandingkan dengan f tabel didapatkan nilai 2,180 maka f hitung < f tabel maka H0 diterima atau dapat disimpulkan bahwa sekolah-sekolah dalam populasi memiliki kesetaraan satu sama lainnya.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling. Sampel yang digunakan, yaitu siswa kelas V SD N 3 Selat yang berjumlah 21 siswa dan kelas V SD N 5 Selat yang berjumlah 24 siswa. Melalui proses pengambilan sampel tersebut ditetapkan satu kelas sebagai kelas eksperimen yaitu SD N 3 Selat, yang diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan satu kelas sebagai kelas kontrol yaitu SD N 5 Selat, yang diberikan perlakuan berupa pembelajaran yang berpusat pada guru.
Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan beberapa metode
pengumpulan data yang disesuaikan dengan tuntutan data dari masing-masing rumusan permasalahan. Berkaitan dengan permasalahan yang dikaji pada penelitian ini maka ada dua jenis data yang diperlukan, yakni data motivasi belajar dan data hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data motivasi belajar yaitu dengan memberikan angket kuesioner setelah diberlakukannya model pembelajaran think pair share dan pembelajaran yang berpusat pada guru, pada sampel penelitian. Kuesioner mengikuti skala Likert yang terdiri dari lima pilihan jawaban yang telah disediakan, yaitu (5) sangat setuju, (4) setuju, (3) kurang setuju, (2) tidak setuju, (1) sangat tidak setuju. Data tentang hasil belajar IPS didapatkan dengan memberikan tes pilihan ganda setelah diberlakukannya model pembelajaran think pair share dan pembelajaran yang berpusat pada guru pada sampel penelitian pada sampel penelitian.
Penelitian ini menggunakan instrumen sesuai dengan jenis dan sifat data yang dicari. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan tes pilihan ganda. Kuesioner, kemudian diuji secara teoretik dan empirik. Secara teoretik kuesioner tersebut diuji melalui uji pakar, selanjutnya untuk uji empirik dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Berdasarkan uji teoretik dan empirik, dari 35 butir pernyataan yang diujikan diperoleh 30 butir pernyataan valid dan reliabel. Tes yang sudah valid dan reliabel tersebut selanjutnya akan dijadikan posttes. Tes hasil belajar IPS juga diuji secara teoretik dan empirik. Secara teoretik tes hasil belajar IPS tersebut diuji melalui uji pakar, selanjutnya untuk uji empirik dilakukan dengan uji validitas, uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran dan uji daya pembeda. Berdasarkan uji teoretik dan empirik, dari 40 butir soal, 30 soal dinyatakan layak digunakan untuk posstes.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial, yang artinya bahwa data dianalisis dengan menghitung nilai rata-rata, modus,
median, standar deviasi, varian, skor maksimum, dan skor minimum. Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk grafik histogram. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah Multivariat Analisis of Variance (Manova). Sebelum melakukan uji hipotesis, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlu dibuktikan. Persyaratan yang dimaksud yaitu: (1) data yang dianalisis harus berdistribusi normal, (2) mengetahui data yang dianalisis bersifat homogen atau tidak dan 3) tidak adanya korelasi antara variabel yang diukur.
Ketiga prasyarat tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu, maka untuk memenuhi hal tersebut dilakukanlah uji prasyarat analisis dengan melakukan uji normalitas, uji homogenitas dan uji korelasi antar variabel terikat. Uji normalitas menggunakan SPSS 17.00 for windows uji statistik kolmogorov-smirnov pada signifikansi 0,05. Pengujian homogenitas varians dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Levene’s Test of Equality of Error Variance dengan bantuan SPSS melalui uji Box’s M. Uji korelasi antar variabel terikat dilakukan dengan formula statistik Produk Momen oleh Pearson (Pearson’s Product Moment) dimana analisisnya dilakukan dengan bantuan SPSS 17.00. Apabila nilai signifikansi (sig.) pada hasil analisis menunjukan nilai diatas 0,05 (sig.>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antar variabel
terikat atau uji MANOVA layak untuk dilakukan.
Pengujian ketiga hipotesis dilakukan dengan Multivariat Analisis of Variance (Manova). Hipotesis 1 dan 2 dilakukan dengan uji F varian melalui analisis Manova dengan menggunakan Test of Between Subject Effects dengan kriteria pengujian taraf signifikansi F = 5 %, yang dibantu dengan SPSS 17.00 for
windows . Sedangkan hipotesis 3
dilakukan dengan uji F melalui keputusan yang diambil dengan analisis Pillae Trace, Wilk Lambda, Hotelling’s Trace, Roy’s Largest Root, dengan kriteria pengujian taraf signifikansi F = 5 %.. Jika angka signifikansi F hitung kurang dari 0,05 maka hipotesis nol ditolak dan Ha diterima.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi (1) motivasi belajar yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS), (2) hasil belajar IPS yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share
(TPS), (3) motivasi belajar yang
dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru, dan (4) hasil belajar IPS yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru.
Adapun hasil analisis data dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini.
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar IPS Variabel Statistik A1 A2 Y1 Y2 Y1 Y2 Jumlah Responden 21 21 24 24 Mean 135,05 24,14 119,71 22,21 Median 135 24 122,65 22 Modus 134 23 123 22 Standar Deviasi 3,612 2,032 3,828 1,841 Varians 13,048 4,129 14,650 3,389 Skor Minimum 129 21 115 18 Skor Maksimum 141 28 129 26 Jumlah 2836 507 2921 533
Keterangan:
A1Y1 :skor motivasi belajar dari kelas eksperimen
A2Y1 :skor motivasi belajar dari kelas kontrol
A1Y2 :skor hasil belajar dari kelas eksperimen
A2Y2 : skor hasil belajar dari kelas kontrol
Dari tabel 1. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata motivasi belajar kelas eksperimen lebih yaitu 135,05 lebih besar dari nilai rata-rata kelas kontrol yaitu 119,71. Begitu pula nilai rata-rata hasil belajar IPS pada kelas eksperimen yaitu 24,14 lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar IPS pada kelas kontrol yaitu 22,21.
Sebelum dilakukan uji hipotesis, data skor motivasi belajar dan data skor hasil belajar IPS, dilakukan uji prasyarat yakni uji normalitas, uji homogenitas, dan uji korelasi antar variabel terikat. Uji normalitas, uji homogenitas, dan uji korelasi antar variabel terikat menggunakan bantuan SPSS 17.0 For Windows, dengan hasil data skor motivasi belajar dan data skor hasil belajar IPS berdistribusi normal, berasal dari varians yang sama (homogen), dan tidak adanya korelasi antar variabel terikat.
Berdasarkan uji prasyarat analisis data, diperoleh bahwa data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal, homogen dan tidak ada korelasi antar variabel terikat. Setelah diperoleh hasil dari uji prasyarat analisis data, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian.
Dari hasil pengolahan data dengan analisis statistik program SPSS 17.0 for Windows dapat dideskripsikan sebagai berikut: Pertama, nilai F hitung sebesar 143,323, df = 1, dan sig = < 0,05. Ini berarti signifikasi < 0,05. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis
alternatif (Ha) diterima. Jadi berdasarkan
hasil analisis hipotesis pertama adalah terdapat perbedaan secara signifikan terhadap motivasi belajar antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran TPS dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran
yang berpusat pada guru di Gugus VII Kecamatan Sukasada.
Melihat data hasil penelitian tersebut, secara teoritis dapat dikatakan bahwa model pembelajaran TPS lebih baik dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan model pembelajaran ini merupakan salah satu model pembelajaran yang mampu memupuk kerjasama siswa dan interaksi antar siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ini akan menarik perhatian siswa untuk belajar khususnya dalam belajar IPS. Tentunya, karena di dalam pembelajaran ini siswa terlibat secara langsung, akan menambah motivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran TPS juga
memberikan rangsangan berpikir untuk siswa. Selain itu, pembelajaran dengan
menggunakan model ini dapat
memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpatisipasi dalam kelas. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat dari Huda (2011) yang menyatakan bahwa
pembelajaran dengan model
pembelajaran TPS memberikan
kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Dengan ciri anak yang kompetitif, maka siswa akan berusaha sebaik mungkin untuk tampil baik di depan siswa yang lainnya.
Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rudianto (2013) yang menunjukkan terdapat perbedaan terhadap motivasi belajar antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditunjukkan bahwa motivasi belajar yang dibelajarkan dengan model pembelajaran TPS lebih baik daripada yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil analisis data dan hasil penelitian yang relevan, terbukti bahwa
terdapat pengaruh positif penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap motivasi belajar siswa.
Kedua, hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 11,227, df = 1, dan sig = < 0,05. Ini berarti signifikasi < 0,05. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis
alternatif (Ha) diterima. Jadi berdasarkan
hasil analisis hipotesis kedua adalah terdapat perbedaan secara signifikan terhadap hasil belajar IPS antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran TPS dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Kecamatan Sukasada.
Melihat data hasil penelitian tersebut, secara teoritis dapat dikatakan bahwa model pembelajaran TPS lebih baik dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPS dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan, penerapan model pembelajaran TPS siswa dilatih untuk membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran dengan menggunakan model ini menyediakan siswa waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa, sehingga siswa lebih memahami konsep topik pelajaran selama diskusi. Selain itu, dalam penerapan model pembelajaran TPS dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat dari Shoimin (2014) yang menyatakan bahwa think pair share adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu sama lain. Pembelajaran dengan menggunakan model ini akan membuat pembelajaran yang bermakna untuk siswa. Siswa juga akan lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru, karena dalam proses pembelajaran, siswalah yang lebih mendominasi. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar akan lebih lama diingat oleh siswa.
Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Firmanto (2015) yang menunjukkan terdapat perbedaan terhadap hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditunjukkan bahwa hasil belajar IPS yang dibelajarkan dengan model pembelajaran TPS lebih baik daripada yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil analisis data dan hasil penelitian yang relevan, terbukti bahwa terdapat pengaruh positif penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar IPS siswa.
Ketiga, hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai nilai F hitung Pillae Trace (F hitung =75.438), Wilk Lambda (F hitung =75.438), Hotelling’s Trace (F hitung =75.438), Roy’s Largest Root (F hitung =75.438), seluruhnya memiliki signifikasi < 0,05, sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis
alternatif (Ha) diterima. Dengan demikian,
berdasarkan analisis hipotesis ketiga adalah terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS secara bersama-sama antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada.
Melihat data hasil penelitian tersebut, secara teoritis dapat dikatakan bahwa model pembelajaran TPS lebih baik dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar IPS dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terwujud karena model pembelajaran TPS menekankan pentingnya interaksi sosial antar siswa, terjadinya kerjasama untuk memecahkan masalah sehingga timbulnya pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Setiap siswa disiapkan untuk kegiatan kolaboratif, bekerja dengan pasangan, mengumpulkan gagasan, dan berbagi pemikiran atau solusi mereka dengan seluruh rekan. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Dian (2013)
yang menyatakan bahwa penggunaan model kooperatif tipe Think Pair Share melatih siswa untuk bekerjasama dengan temannya dalam menyelesaikan masalah yang telah diberikan. Selain itu, model pembelajaran ini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi lisan siswa karena mereka memiliki waktu yang cukup untuk mendiskusikan ide-ide mereka satu sama lain
Disamping itu, pembelajaran menggunakan model ini memiliki unsur kompetisi. Unsur kompetisinya, adalah pada saat diadakan evalusi untuk menilai keberhasilan pembelajaran setiap individu dalam kelompok tersebut akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh nilai yang tinggi, baik untuk diri sendiri ataupun untuk meningkatkan peringkat kelompoknya. Disini terlihat jelas bahwa model pembelajaran ini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi.
Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mudjrimin (2013) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaann yang signifikan motivasi berprestasi dan hasil belajar IPS siswa secara simultan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran
TPS dan model pembelajaran
konvensional.
Berdasarkan hasil analisis data dan hasil penelitian yang relevan, terbukti bahwa terdapat pengaruh Think Pair Share (TPS) terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa secara bersama-sama. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
Think Pair Share (TPS) yang
diimplementasikan oleh guru akan sangat mempengaruhi motivasi belajar dan hasil belajar IPS, dan dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa.
PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.1) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar antara siswa kelas V yang
dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017. Skor rata-rata motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) lebih tinggi daripada skor rata-rata motivasi belajar yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru. 2) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap hasil belajar IPS antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017. Skor rata-rata hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) lebih tinggi daripada skor rata-rata hasil belajar IPS yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru. 3) terdapat perbedaan secara siginifikan terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS secara bersama–sama antara siswa kelas V yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan siswa kelas V yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017. Skor rata-rata motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) lebih tinggi dari skor rata-rata motivasi belajar dan hasil belajar IPS yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang berpusat pada guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran Think Pair Share (TPS) lebih baik dari pembelajaran yang berpusat pada guru terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa kelas V SD di Gugus VII Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut: Disarankan kepada siswa agar dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS), sehingga dapat ditingkatkan dan dilanjutkan proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran ini untuk mengubah motivasi belajar dan hasil belajar kearah yang lebih baik. Disarankan kepada guru agar menerapkan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dalam proses pembelajaran. Saran ini diajukan karena hasil penelitian yang ditemukan, bahwa terdapat pengaruh implementasi model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPS siswa. Disarankan kepada kepala sekolah agar memotivasi guru-guru untuk menerapkan model pembelajaran Think Pair Share (TPS), karena dapat meningkatkan sumber daya manusia di sekolah melalui peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Disarankan kepada peneliti lain untuk lebih mengembangkan penelitian ini dan menggunakan variabel selain motivasi belajar dan hasil belajar, sehingga diketahui model pembelajaran Think Pair Share ini memang lebih baik daripada pembelajaran yang berpusat pada guru.
DAFTAR RUJUKAN
Firmanto, Dedi. 2015. Pengaruh Model Kooperatif Learning Tipe Think Pair Share Terhadap Hasil Belajar IPS
SD. Tersedia pada:
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.p hp/ESE/article/download/2789/1885. Diakses, 3 Januari 2017.
Huda, Miftahul. 2011. Cooperative
Learning. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Lesmawan, Wayan. 2010. Menelisik
Pendidikan IPS. Singaraja:
Mediakom Indonesia Press Bali. Mudjrimin. 2013. “Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe ThinkPair Share Terhadap Motivasi Berprestasi Dan Hasil Belajar IPS Kelompok siswa kelas V Sdn Gugus 02 Kopang”. Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha ;Vol. 3; 2013.
Rudianto. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas Belajar dan
Prestasi Belajar Siswa Kelas X
Sman 6 Kota Malang Tahun
Pelajaran 2012-2013 Pada Materi Reaksi Redoks. Tersedia pada: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.p hp/ESE/article/download/2789/1885. Diakses, 3 Januari 2017.
Saeed, Sitwat & David Zyngier. “How Motivation Influences Student Engagement: A Qualitative Case Study”. Journal of Education and Learning; Vol. 1, No. 2; 2012.
Tersedia pada:
http://files.assessment-as- learning.webnode.com/200000016-6deb66ee45/motivation.pdf.
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model
Pembelajaran Inovatif dalam
Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Rus Media.
Usman. 2015. “Using The Think-Pair-Share Strategy To Improve Students’ Speaking Ability At Stain Ternate”. Journal of Education and Practice. Vol.6, No.10, 2015. Tersedia pada: http://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1081 679.pdf
Wahyuni, Dian. 2013. Penggunaan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share Dalam Peningkatan Pembelajaran Matematika Siswa Kelas V SD. Tersedia
pada:http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/in dex.php/ESE/article/download/2776/ 1885. Diakses, 5 Januari 2017.