Peluang Investasi Daerah 1
A. Gambaran Wilayah
A.1 Kondisi GeografisSecara geografis Wilayah Kabupaten Lamongan terletak anatara 6º 51’ 54’’ sampai dengan 7º23’6’’ lintang selatan dan antara 112º 4’41’’ sampai dengan 112º 33’12’’ bujur timur. Batas wilayah sebelah utara Laut Jawa, sebelah timur Kabupaten Gresik, sebelah selatan Kabupaten Jombang dan Mojokerto, sebelah barat Kabupaten Bojonegoro dan -Tuban.
A.2 Topografi
Tofografi wilayah Kabupaten Lamongan terdiri dari daratan rendah berada dengan ketinggian 0 – 25 m seluas 50,17 % dari luas Kabupaten Lamongan, daratan ketinggian 25 – 100 m seluas 45,68 % dan sisanya 4,15 % merupakan daratan dengan ketinggian di atas 100 m. Secara garis besar Wilayah Kabupaten Lamongan dibedakan menjadi tiga karakteristik :
1. Bagian Tengah-Selatan, merupakan daratan rendah yang relatif subur, membentang dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sugio, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung, Sarirejo dan Kembangbahu.
Peluang Investasi Daerah 2 2. Bagian Selatan dan Utara, merupakan daerah pegunungan kapur berbatuan, tingkat kesuburan
tanahnya kategori sedang, mulai dari Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran dan Solokuro.
3. Bagian Tengah-Utara, merupakan daratan bonorowo, mulai dari Kecamatan sekaran, Maduran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah,Turi, Karang binamgun dan Glagah.
A.3 Iklim dan Cuaca
Ditinjau dari keadaan iklim dan cuaca, wilayah Kabupaten Lamongan tergolong beriklim tropis. Musim penghujan terjadi antara bulan Nopember sampai dengan April, sedangkan musin kemarau terjadi antara bulan Mei sampai dengan Oktober. Temperatur suhu udara rata rata 20 - 32º C.
A.4 Pembagian wilayah
Wilayah Kabupaten Lamongan dengan luas 1.812,80 km2 atau setara dengan 181. 280 ha.
Tabel A-1 Ibukota Kecamatan dan Jaraknya ke Ibukota Kabupaten
No Kecamatan Ibu Kota Kecamatan Jarak Ke Ibu Kota
Kabupaten (Km) 1 Sukorame Sukorame 51 2 Bluluk Bluluk 41 3 Ngimbang Sendangrejo 39 4 Sambeng Ardirejo 31 5 Mantup Mantup 19 6 Kembangbahu Kembangbahu 14 7 Sugio Sugio 17 8 Kedungpring Kedungpring 29 9 Modo Mojorejo 37 10 Babat Bedahan 27 11 Pucuk Pucuk 17 12 Sukodadi Sukodadi 11 13 Lamongan Lamongan 0 14 Tikung Bakalanpule 8 15 Sarirejo Dermolemahbang 14 16 Deket Deketwetan 4 17 Glagah Glagah 14 18 Karangbinangun Sambopinggir 16 19 Turi Sukoanyar 6 20 Kalitengah Dibee 25 21 Karanggeneng Karanggeneng 24 22 Sekaran Bulutengger 22
Peluang Investasi Daerah 3 23 Maduran Maduran 27 24 Laren Gampangsejati 36 25 Solokuro Payaman 39 26 Paciran Paciran 44 27 Brondong Brondong 50
B. Potensi Wilayah Lamongan
Bagian ini pada dasarnya menggambarkan potensi dan prospek pengembangan sesuai dengan kondisi eksisting serta arah pembangunan terkait yang akan digunakan untuk menyusun kebijakan, strategi pengembangan wilayah Kabupaten Lamongan.
B.1 Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lamongan 2010 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 11.774 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp 6.191 triliun. Pertumbuhan ekonomi lamongan pada tahun 2010 mencapai 6,89%. Struktur ekonomi Lamongan masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor pertanian; perdagangan,hotel, restoran (PHR) serta industry pengolahan.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) terus meningkat dari level Rp 653,12 milyar tahun 2005 menjadi Rp 1,63 triliun pada tahun 2010. Dari sisi penyaluran kredit terjadi peningkatan luar biasa dari Rp 566,69 milyar tahun 2005 menjadi Rp 1,706 triliun tahun 2010.
Tabel B-1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lamongan
LAPANGAN USAHA 2009 2010 2011*
Pertanian 4.748.551,66 5.292.774,75 5.930.122,12
Pertambangan dan penggalian 22.159,65 24.022,51 26.113,25 Industri Pengolahan 514.652,51 592.980,10 682.583,52 Listrik, Gas, dan air bersih 80.923,37 94.464,52 106.270,36 Bangunan/Konstruktsi 297.941,62 320.941,62 342.850,83 Perdagangan, Hotel dan Restoran 3.170.165,48 3.689.881,82 4.305.313,26 Pengangkutan dan Komunikasi 217.410,75 248.672,45 282.636,12 Keuangan,Persewaan & Jasa
Perusahaan
341.878,97 409.909,39 477.166,39
Jasa-jasa 963.896,13 1.100.508,14 1.232.069,63
Nilai Total 10.357.580,14 11.774.155,30 13.385.125,48 *) Nilai tren PDRB(Juta)
Peluang Investasi Daerah 4
B.2 Kependudukan
Berdasarkan hasil registrasi, jumlah penduduk Kabupaten Lamongan tahun 2010 sebanyak 1.499.971 jiwa, terdiri dari 750.167 jiwa laki-laki dan 749.804 jiwa perempuan. Dengan pertumbuhan pendududk sebesar 1.78% hasil pendataan tahun 2011, maka penduduk Lamongan pada tahun 2011 mencapai sekitar 1,526,670 Jiwa. Dilihat dari tingkat kepadatan penduduknya, kepadatan penduduk Kabupaten Lamongan 827 jiwa/km2, tertinggi di Kecamatan Paciran 2.103jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Sambeng 271 jiwa/km2.
Perkembangan penduduk menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dikarenakan mobilitas penduduk tergolong cepat, akibat adanya perkembangan wilayah seperti adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Pasar Agrobis Babat, serta mulai berkembangnya kawasan industri di pantura dan kawasan agropolitan di wilayah selatan Kabupaten Lamongan.
Potensi sumberdaya manusia menurut pekerjaan utama terbesar berada di sektor pertanian sebesar 55,84 %, disektor perdagangan 18,01 %, Industri 9,49 %, sektor jasa sebesar 10,35 % dan sisanya bekerja disektor lain.
B.3 Upah Minimum Kabupaten
Untuk perkembangan Upah Minimum Kabupaten Lamongan selama 5(lima) tahun terakhir dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel B-2 Upah Minimum Kabupaten Lamongan
2008 2009 2010 2011 2012
Rp 650.000 Rp. 760.000 Rp. 875.000 Rp. 900.000 Rp. 950.000
B.4 Infrastruktur
Prasarana wilayah di Kabupaten Lamongan khususnya transportasi dan infrastruktur memiliki hubungan dengan sistem Nasional dan Propinsi yang didukung oleh sistem jalan arteri primer Gresik – Lamongan Tuban lewat Kota Lamongan dan wilayah Pantura, kereta api komuter Surabaya-Lamongan, Pelabuhan ASDP (Paciran), selain itu infrastruktur juga membantu dalam proses pengembangan suatu wilayah.
Peluang Investasi Daerah 5 Jalan Raya
Jalan raya di Kabupaten Lamongan akan mengalami peningkatan fungsi jalan secara nasional karena merupakan bagian dari sistem perkotaan nasional melalui Gerbangkertasusila yaitu adanya Jalan nasional berupa jalan bebas hambatan Gresik – Lamongan – Tuban. Perkembangan Kabupaten Lamongan yang tinggi terutama dibagian utara akan mendorong percepatan realisasi jalan bebas hambatan Gresik – Lamongan – Tuban dan Jalan Lingkar Selatan Pantura.
Peningkatan kegiatan dalam skala besar dan pengembangan perkotaan menjadikan beberapa jalan berpotensi untuk dilakukan peningkatan fungsi jalan seperti Jalan Lingkar Selatan Pantura dan Jalan Lingkar Utara Lamongan serta Jalan Lingkar Babat.
Terdapat terminal yang berdekatan dengan permukiman dan sarana pendidikan yaitu di Kota Lamongan dan Perkotaan Babat serta di Paciran tepatnya di desa Tunggul berupa Terminal Terpadu yang berfungsi untuk mendukung kegiatan di wilayah pantura.
Pengembangan Jalan Lingkar Selatan Pantura dan Jalan Lingkar Utara Lamongan dan Jalan Lingkar Selatan Babat mempunyai keterkaitan dengan kawasan unggulan sehingga dapat mendorong pertumbuhan wilayah. Pengembangan kawasan pelabuhan dan perindustrian - Perkotaan Paciran akan memacu pengembangan jalan antara Surabaya - Gresik - Lamongan – Tuban (Jalur Pantura) sehingga membantu sistem transportasi perwilayaan Gerbangkertasusila.
Kereta Api
Terdapat sistem angkutan kereta api komuter dengan rute Surabaya – Lamongan -Babat. Angkutan kereta api mempunyai potensi cukup besar karena kapasitasnya besar, tidak menimbulkan kemacetan, waktu tempuh yang relatif lebih cepat dan harga yang murah. Adanya perkembangan perkotaan yang besar khususnya Kabupaten Lamongan yang merupakan Sub Sistem dalam perencanaan jaringan transportasi Gerbangkertosusila (GKS) akan mendorong peningkatan penggunaan angkutan kereta api, baik kereta api penumpang maupun kereta api barang.
Angkutan Laut
Di Pantai Utara Lamongan berkembang beberapa prasarana transportasi laut guna meningkatkan pelayanan dalam sistem transportasi laut secara regional dan nasional meliputi Pelabuhan Sedayu Lawas yang merupakan pelabuhan khusus barang, Industri Galangan Kapal dan Pelabuhan ASDP.
Sudah terdapat kegiatan pelabuhan perikanan yang berskala besar yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong yang mendorong berkembangnya perekonomian di Kabupaten Lamongan;
Peluang Investasi Daerah 6 Wilayah pantura yang letaknya berbatasan langsung dengan laut jawa, mendukung pengembangan pelabuhan skala regional dan nasional terutama jalur penyeberangan di Pulau Kalimantan bagian selatan.
Pengembangan kawasan Pelabuhan Brondong dan Pelabuhan Paciran sebagai pelabuhan laut penumpang (ASDP) sangat strategis mengingat letaknya di tepi laut jawa dan terdapat peningkatan infrastruktur khususnya Jalan Arteri, Jalan Lingkar Selatan Pantura dan Jalan bebas hambatan Pantura.
B.5 Kawasan Lindung
Kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya saat ini berupa hutan lindung dan kawasan resapan air (hutan produksi yang luasannya mencapai 33.464,40 Ha dan hutan lindung seluas 252,9 Ha, dengan luas hutan secara keseluruhan yaitu 33.717,3 Ha.
Kawasan perlindungan setempat yang terdapat di Kabupaten Lamongan sebagian besar masih terpelihara. Kawasan ini meliputi kawasan sempadan pantai (di wilayah pesisir utara) dan kawasan sempadan sungai (Sungai Bengawan Solo, Kali Lamong dan anak sungai), kawasan sekitar danau/waduk (Waduk Gondang, Waduk Sumengko, Waduk Tuwiri dan Waduk Prijetan).
B.6 Kawasan Cagar Budaya
Kawasan cagar budaya yang terdapat di Kabupaten Lamongan cukup beragam yakni berupa monumen van Der Wijck, Situs Sunan Drajat, makam Sunan Drajad, makam Sendang Duwur, Makam Joko Tingkir dan makam Nyai Ratu Andongsari, Desa Balun yang perlu dijaga sebagai aset bersejarah.
B.7 Sektor Pertanian
Lamongan adalah salah satu basis pertanian di Jawa Timur dengan produksi utama adalah Padi dan Jagung. Luas area panen Padi 138.302 Hektar dengan produksi 857.638 Ton Gabah Kering Giling (GKG). Lokasi Lahan tersebar di semua kecamatan. Komoditas Jagung memiliki luas area panen 50.846 Hektar dengan produksi 338.115 Ton pipilan kering.
Hortikultura di Kabupaten Lamongan tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Potensi ini cukup besar karena hortikultura di Kabupaten Lamongan selain untuk memenuhi kebutuhan penduduk wilayah
Kabupaten Lamongan sendiri juga untuk kebutuhan daerah lainnya (seperti ke Surabaya dan Jakarta) dan beberapa komoditas telah di eksport.
B.8 Perkebunan
Perkebunan di Kabupaten Lamongan tersebar dengan jenis produksinya antara lain : tembakau, kenaf, tebu, cabe jamu, wijen, jarak pagar, kelapa dan siwalan yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Komoditas unggulan ini sebagian besar untuk diolah dan dieksport. Komoditi perkebunan sudah diolah dari daun
Peluang Investasi Daerah 7 menjadi rajangan, hal ini merupakan peningkatan produksi dengan merubah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi.
B.9 Perikanan
Kabupaten Lamongan memiliki potensi besar disektor perikanan, mulai dari perikanan laut (perikanan Tangkap) hingga perikanan darat (budidaya). Kabupaten Lamongan merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Produksi perikanan tangkap tahun 2010 mencapai 61.431,53 Ton sedangkan perikanan budidaya mencapai 35.167,26 Ton. Potensi ekonomi sektor perikanan didukung oleh 5 (lima) tempat pelelangan Ikan yaitu TPI Brondong, Kranji, Weruh, Lohgung dan Labuhan
B.10 Pertambangan
Kabupaten Lamongan memiliki sumber daya potensial mineral dengan potensi pertambangan berupa minyak dan gas bumi di Desa Balongsari Kecamatan Tikung dan bahan mineral bukan logam dan batuan di Kecamatan Paciran, Brondong, Solokuro , Babat, Ngimbang, Sugio, Mantup dan Sambeng.
Tabel B-3 Potensi Bahan Tambang
Lokasi Potensi Bahan Tambang Luas Lahan (Ha) Luas Ditambang (Ha) Desa Banjarwati
Kecamatan Paciran, Desa Dagan Kecamatan Solokuro Batu Gamping,Dolomit,Pedel urug 756 16,26
Desa Sidokelar & Tlogosadang Kecamatan Paciran Batu Gamping,Dolomit,Pedel urug 144 12,88
Desa Sumber Sari Kecamatan Sambeng.
Pedel urug 51,45 2
Sumber : BPS Kabupaten Lamongan
B.11 Pariwisata
Potensi pariwisata di Kabupaten Lamongan cukup besar baik wisata alam, wisata budaya, maupun minat khusus. Wisata-wisata alam tersebut meliputi Wisata Bahari Lamongan (WBL), Waduk Gondang, Goa Maharani dan Zoo serta sumber mata air Panas Tepanas. Wisata budaya meliputi Monumen Van Der Wijck, Makam Sunan Drajad, Makam Sendang Duwur, Makam Joko Tingkir, Makam Nyai Ratu Andongsari, Desa Balun. Wisata buatan meliputi TPI di wilayah Pantura dan Sudetan Bengawan Solo.
C. Peluang Investasi Industri Perkapalan
Wilayah Indonesia 2/3 nya merupakan perairan, diperlukan sarana dan alat kerja, akomodasi dan sarana transportasi laut untuk mengolah sumber daya alam yang terkandung. Sehingga industri perkapalan
Peluang Investasi Daerah 8 merupakan industri masa depan yang penting untuk ditumbuh kembangkan karena memiliki pangsa pasar yang potensial.
Peluang investasi di sektor galangan kapal di Indonesia makin besar mengingat tingginya tingkat defisit kapasitas untuk kegiatan reparasi armada niaga nasional serta pembangunan kapal baru.
Ada beberapa alasan mengapa industri galangan kapal harus dikembangkan, antara lain nilai ekonomis industri galangan kapal, dimana secara global memiliki nilai yang sangat besar. Industri galangan kapal adalah industri induk dari industri pendukung, dimana industri ini akan menarik industri lain untuk berkembang. Dalam pembangunan sebuah kapal, 50%-70% biaya yang dikeluarkan adalah untuk membeli bahan baku dan peralatan, kondisi ini akan memberikan multiplier-effect yang besar kepada proses industrialisasi dalam suatu negara. Industri galangan merupakan industri padat karya yang mampu menciptakan lapangan kerja cukup besar dan dengan nilai tambah yang cukup tinggi.
C.1 Profil Investasi
Untuk mengamankan pasar dalam negeri guna pengembangan industri perkapalan nasional, beberapa kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah. Pemerintah dalarn rangka memenuhi penyediaan barang dan/ atau jasa guna kepentingan umum dan rneningkatkan daya saing industry pembuatan dan/atau perbaikan kapal didalam negeri, rnernberikan insentif fiskal berupa Bea Masuk Di tanggung Pemerintah atas impor barang dan bahan oleh industri pembuatan dan/ atau perbaikan kapal sesuai dengan ketentuan Menteri Keuangan No 109/PMK.011/2011.
Di sisi lain pemerintah sebenarnya telah memberikan fasilitasi untuk mendorong pengembangan industri perkapalan. Beberapa bentuk dukungan yang sudah diberikan, antara lain pendirian Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional (National Ship Design and Engineering Center (NaSDEC), pembangunan kawasan industri perkapalan terpadu, dan dukungan penggunaan hasil produksi dalam negeri.
Selain itu sebagai Dasar hukum pembuatan industri kapal terdapat Inpres No 5 tahun 2005. Inpres ini menganut asas cabotage tentang angkutan laut domestik harus diangkut oleh kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan Indonesia. Asas ini sudah umum berlaku di negara-negara lain.
C.2 Peluang Pasar Industri Galangan Kapal
INSA (Indonesia National Shipowners Association) mencatat berdasarkan data Kementerian Perhubungan, hingga September 2011, jumlah kapal niaga nasional mencapai 10.884 unit dengan kebutuhan kapasitas reparasi mencapai 17 juta dead weight tonnage (DWT), sedangkan kapasitas yang tersedia untuk reparasi hanya 9,5 juta DWT. Untuk reparasi, terjadi defisit hingga 7,5 juta DWT, sedangkan pembangunan kapal baru setiap tahun rata-rata terjadi penambahan kapal hingga 700—1000 unit, (data Insa).
Peluang Investasi Daerah 9 Tingginya defisit kapasitas galangan untuk reparasi kapal menunjukkan potensi investasi yang besar pada sektor ini.
Di Jatim sudah ada 27 perusahaan perkapalan. Dua industri perkapalan terbesar di Indonesia ada di Surabaya yakni PT PAL Indonesia serta PT Dok dan Perkapalan Surabaya. Tentunya kalau ditambah galangan industri kapal di Lamongan bisa menambah kontribusinya, baik untuk Jatim maupun nasional.
Tak hanya itu, di Jatim juga terdapat beberapa industri yang terkait dengan industri perkapalan yaitu jumlah industri pengguna kapal di Jatim berjumlah 21 perusahaan, yang sebagian besar adalah perusahaan pelayaran. Di Jatim juga ada 39 perusahaan yang bergerak dalam industri perkapalan rakyat.
Tabel C-1 Aktifitas Bongkar Muat Barang
Provinsi Antar Pulau Luar Negeri
Bongkar (Ton) Muat (Ton) Bongkar (Ton) Muat (Ton) Jawa Timur 40.376.366 9.353.511 10.063.474 5.221.893
Tabel C-2 Kunjungan Kapal Pelayaran Dalam Negeri Dan Luar Negeri
Provinsi Unit Gross Ton (GT)
Jawa Timur 33.103 54.409.099
C.3 Kawasan Investasi
Kawasan strategis di Kabupaten Lamongan dibedakan menjadi beberapa yaitu kawasan strategis pertumbuhan ekonomi, kawasan strategis sosial dan budaya, kawasan strategis daya dukung lingkungan hidup dan kawasan strategis pertahanan dan keamanan. Salah satu Kawasan strategis ekonomi adalah kawasan Industri yang dikembangkan pada dua lokasi, yakni di Utara dan Selatan. Untuk lokasi sebelah utara dikembangkan di Kecamatan Paciran dan Brondong sedangkan di sebelah selatan dikembangkan di Kecamatan Ngimbang dan Sambeng. Secara keseluruhan kawasan industri yang tersebar di bagian utara dan selatan Kabupaten Lamongan seluas 6.085 ha atau sebesar 4,05 % dari luas wilayah. Kawasan industri dikembangkan di wilayah utara. Sedangkan di wilayah selatan sebagai pendukung kegiatan agropolitan. Sejumlah fasilitas dan kegiatan investasi yang sudah ada antara lain :
Peluang Investasi Daerah 10 1. Pelabuhan ASDP Paciran
2. Pelabuhan perikanan Nusantara Brondong 3. Wisata Bahari Lamongan
4. Lamongan Integrated shorebase (LIS)
Pengembangan kawasan Lamongan Shorebase (LS), yang secara umum merupakan sebuah konsep terpadu yang memfasilitasi penggunaan sumber daya dan fasilitas eksplorasi-produksi di bidang migas dan kepelabuhan sehingga dapat membantu tercapainya operasi yang efisien melalui pengaturan rantai supplai dan distribusi barang. Pengertian konsep terpadu meliputi penyediaan pelayanan jasa, barang, dan seluruh kegiatan penunjang industri Migas dan kepelabuhan tersedia di LS yang berstandar internasional
5. Perkotaan Babat
C.4 Lahan
Pemerintahan Provinsi Jatim telah mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) industri perkapalan di Kabupaten Lamongan. Saat ini sudah tersedia lahan seluas 200 hektare di kawasan pantai utara Jawa di wilayah Kecamatan Brondong, yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Surabaya.
Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan di antaranya, di lokasi tersebut kini tersedia lahan untuk KEK industri perkapalan seluas 4.000 hektare. Lalu, memiliki pantai yang paling panjang sekitar ± 47 Km dibanding dengan lokasi kawasan industri lainnya dan memiliki perairan pantai dengan
Peluang Investasi Daerah 11 kedalaman 9-12 M pada jarak ± 500 M dari garis pantai, yang berada disepanjang pantai utara Kabupaten Lamongan. Dan lokasinya sangat strategis karena berbatasan dengan pelabuhan rakyat Sedayulawas di sebelah timur dan cukup jauh terpisah dari pemukiman penduduk.
C.5 Infrastruktur
Dekat dengan kegiatan jasa kepelabuhanan, seperti tanjung perak, LIS, Pelra, ASDP dan pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong.
Terdapat jaringan Listrik Tegangan Extra tinggi di Desa Tlogosadang berupa Gardu Induk 150 MW
Floodway Bengawan Solo sepanjang 13 Km dengan tujuan utama sebagai pengendali banjir juga alternative penyediaan air baku untuk pengolahan air bersih.
Tersedianya potensi SDM khususnya tenaga yang memiliki keahlian dalam bidang industry perkapalan dan maritime yang didasarkan pada adanya Perguruan Tinggi ITS Surabaya yang memiliki akses kemaritiman dan teknologi kelautan.
C.6 Besaran Investasi
Besaran investasi yang dikeluarkan untuk membangun sebuah galangan kapal ± 160 Milyar, seperti yang dilakukan oleh PT. Dok Pantai Lamongan yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan dan perbaikkan kapal yang dibangun pada area lahan seluas 30 Ha terletak di kecamatan Paciran. Rincian Besaran investasi galangan meliputi : Harga tanah, bagunan kantor, workshop, dan bangunan aktivitas lainnya.
Material yang dibutuhkan pada Kapal bagunan baru : 1) Raw material :- pelat baja, pelat profil, pipa-pipa
2) Equipment : - main engine, generator, deck machinery, pompa-pompa 3) Consumables : - cat, elektrode, gas
Perincian harga :
Kapasitas Galangan 200.000 DWT
Tanah 20 Ha @ Rp 500 ribu/meter = 100 Miliar
Fasilitas Workshop piping, electrical, cat, structure ( lahan @500 m²/ workshop) = ± 1 miliar Bangunan kantor dan bangunan penunjang = 4 miliar
Fasilitas graving dock 200 m x 36 m (Diesel Hammer 100s, vibro hammer VM2-5000E2, Crawler Crane Mitsubishi 6D – 22T, Excavator Komatsu PC400, dan Dump Truck komatsu CWA 18T. ) = 50 miliar
Fasilitas operasional ( mobil, Crane dll ) = 5 miliar Total investasi anggaran yang dibutuhkan = 160 miliar