• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS. Gambar 5.1. Pola Pengembangan Kemitraan Diklat Kepelautan Pemerintah dan Diklat Kepelautan Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISIS. Gambar 5.1. Pola Pengembangan Kemitraan Diklat Kepelautan Pemerintah dan Diklat Kepelautan Masyarakat"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V ANALISIS

Pada Bab V ini disampaikan analisis dengan mengacu ruang lingkup studi. Adapun model kemitraan diklat kelautan pemerintah dan diklat masyarakat dalam analisis ini berdasarkan pola sebagaimana gambar 5.1. berikut.

Gambar 5.1. Pola Pengembangan Kemitraan Diklat Kepelautan Pemerintah dan Diklat Kepelautan Masyarakat

Pengembangan kemitraan diklat kepelautan tidak lepas dari lembaga pemangku kepentingan, yang terdiri dari : (1) Pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perhubungan), (2) Pemerintah Daerah, (3) Negara lain, (4) Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), (5) Persusahaan Terkait, (6) Perusahaan Lepas. Perusahaan terkait adalah

(2)

perusahaan-perusahaan yang terkait langsung dengan industri pelayaran, antara lain : perusahaan pelayaran, perusahaan bongkar muat, perusahaan ekspor-impor, galangan kapal, termasuk di sini adalah INSA. Kemudian Perusahaan Lepas adalah perusahaan umum yang tidak terkait dengan industri pelayaran secara langsung. Negara lain atau asing merupakan mitra yang dapat mengembangkan Diklat Kepelautan Indonesia menuju World Class University (WCU), dan sebagian dari Diklat Pemerintah sudah melaksanakan. Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) merupakan wadah pelaut yang selama ini berdasarkan survey lapangan belum dimanfaatkan secara optimal dari out put Diklat Kepelautan, karena berbagai permasalahan yang belum terselesaikan sehingga perlu adanya sinergi antara pemerintah KPI dan Diklat Kepelautan.

Hubungan kemitraan dengan masing-masing pemangku kepentingan perlu dipayungi dengan dasar hukum yang jelas sampai tingkat operasional teknis.

A. DASAR HUKUM DARI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional

Bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengamanatkan pemerintah berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, berdasarkan kemerdekaan dan keadilan sosial. Kemudian pengusahaan dan penyelenggaraan pendidikan nasional dalam satu sistem yang yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan (Pembukaan UU No. 20 Tahun 2003).

Butir-butir penting di sini adalah : (1) Kewajiban pemerintah (2) Mencerdaskan kehidupan (3) Keadilan (4) Iman dan taqwa serta akhlak mulia (5) Sistim yang terintegrasi (6) mutu / relevansi / efisiensi manajemen. Butir butir tersebut merupakan nilai yang ideal bagi pendidikan di Indonesia. Selanjutnya karena masih merupakan nilai ideal maka penjabarannya dengan peraturan yang lebih operasional /

(3)

atau lebih rendah, misalnya dengan paraturan pemerintah, keputusan menteri, keputusan dirjen dan seterusnya.

Pada Ketentuan Umum, pasal 1 disebutkan bahwa :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Ayat 1). Butir penting di sini adalah pengembangan potensi positif peserta didik agar berkecerdasan spiritual dan berketrampilan teknis. Pada jaman sekarang seseorang dapat berhasil dalam pendidikan manakala dapat mengembangkan kecerdasannya yang meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional serta kecerdasan spititual.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. (Ayat 2). Amanat pada ayat ini adalah bahwa penyelenggaraan pendidikan harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, walaupun kini tengah dihadapkan pada perubahan / nilai global yang kadang-kadang “kelihatan lebih baik” namun belum teruji sesuai kebudayaan nasional.

Pada ayat (3) menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Artinya sumua komponen / pemangku kepentingan penyelenggaraan pendidikan sebagai mana gambar 5.1 pola kemitraan harus peduli. Tidak bisa saling melepaskan, lempar tanggung jawab dan menghindarkan ego sektoral.

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Ayat 4, 7 dan 9). Artinya seluruh anggota masyarakat mempunyai hak sama dalam memperoleh pendidikan sesuai minatnya.

Kemudian pada ayat (6) menyebutkan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Hal penting yang diatur pada ayat ini adalah bahwa pendidik apakah guru, dosen atau instruktur harus

(4)

memenuhi kualifikasi tertentu. Misalnya seorang dosen di perguruan tinggi minimal harus berijasah S2.

Amanat penting pada ayat-ayat yang selanjutnya antara lain bahwa pendidikan digolongkan menjadi pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Kemudian penyelenggaraan pendidikan juga harus memenuhi syarat standar nasional pendidikan, antara lain melalui standar kurikulum dan satandar evaluasi. Bukti bahwa pendidikan tersebut telah memenuhi standar kualitas dilihat dari akreditasinya. Selanjutnya untuk menjamin mutu pendidikan nasional maka Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional di-backup dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi

Sebetulnya regulasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatur semua jenjang pendidikan, dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai (PAUD) sampai Pendidikan Tinggi (PT). Namun karena dalam latar belakang masalah disebutkan bahwa Indonesia kekurangan tenaga pelaut tingkat perwira, sementara pelaut tingkat perwira diselenggarakan oleh Diklat Kepelautan tingkat PT maka relevan kiranya regulasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dikaji adalah setingkat PT. Pada Ketentuan Umum, pasal 1 disebutkan bahwa :

Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia (Ayat 2). Amanat penting pasal ini adalah : (1) Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah (2) Diselenggarakan oleh perguruan tinggi (3) Berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Jadi semua jenjang pendidikan dan semua bidang setelah pendidikan menengah termasuk ke dalam kategori ini. Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi (Ayat 6), baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat.

Pembedakan jenjang pendidikan menengah dengan jenjang pendidikan sebelumnya adalah pendidikan tinggi mempunyai kewajiban yang disebut Tridharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari kegiatan

(5)

pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (ayat 9 sd. 11).

Unsur penting dalam perguruan tinggi adalah dosen, yaitu pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ayat 14). Dari fungsi utama perguruan tinggi yang diemban oleh dosen, berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata dosen Diklat Kepelautan dominan dalam kegiatan pendidikan saja. Sementara kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat belum seimbang. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Diklat Kepelautan yang diselenggarakan oleh masyarakat saja, namun juga terjadi pada Diklat Kepelautan yang diselenggarakan pemerintah. Kiranya ini bisa disinyalir sebagai fenomena nasional di PT.

Karena kewajiban PT adalah Tridharma Perguruan Tinggi, hal penting terkait dengan mutu adalah standar nasional PT, satuan standar yang meliputi standar nasional pendidikan, ditambah dengan standar penelitian, dan standar pengabdian kepada masyarakat (Ayat 18). Selanjutnya pada pasal 2 disebutkan bahwa PT berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika (4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara). Sedangkan asasnya (Pasal 3) adalah : a. kebenaran ilmiah; b. penalaran; c. kejujuran; d. keadilan; e. manfaat; f. kebajikan; g. tanggung jawab; h. kebhinnekaan; i. keterjangkauan.

Pada pasal 4 disebutkan bahwa PT berfungsi :

a. Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa;

b. Mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma;

(6)

c. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora.

Dalam penggolongan jenis, PT dibedakan menjadi :

a. Pendidikan akademik, yang merupakan PT program sarjana dan/atau program pascasarjana yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan cabang ilmu pengetahuan dan teknologi (pasal 15);

b. Pendidikan vokasi, yang merupakan PT program diploma yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan (pasal 16);

c. Pendidikan profesi merupakan PT setelah program sarjana yang menyiapkan Mahasiswa dalam pekerjaan yang memerlukan persyaratan keahlian khusus (pasal 17).

Relevansi yang baru UU No 12 tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi ini dengan Diklat Kepelautan adalah tentang Kerangka Kualifikasi Nasional (KKN) sebagaimana diatur dalam pasal 29 sebagai berikut :

a. KKN merupakan penjenjangan capaian pembelajaran yang menyetarakan luaran bidang pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan diberbagai sektor.

b. KKN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan pokok dalam penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan pendidikan profesi.

c. Penetapan kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.

Bahwa KKN ini penting ketika dihadapkan pada permasalah kualifikasi dosen yang harus memenuhi persyaratan Kementerian Perhubungan (Dirjen. Perhubungan Laut) dengan Persyaratan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti). Menurut kualifikasi Dirjen Perhubungan Laut, dosen Diklat Kepelautan harus berijasah profesi (ANT / ATT), sementara kualifikasi Dirjen Dikti mensyaratkan minimal berijasah akademik S2.

Berdasarkan data yang diperoleh, umumnya Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat kesulitan dalam pengadaan dosen yang memenuhi kualifikasi kedua institusi tersebut. Umumnya hanya mempunyai dosen “umum” berijasah S2 namum bukan pelaut. Di Diklat Kepelautan pemerintah-pun sebetulnya terjadi inkonsistensi

(7)

atau tidak linier. Dosen pelaut (kualifikasi Dirjen Perhubungan Laut terpenuhi) namun S2-nya tidak sebidang. Hal ini karena di Indonesia belum ada Diklat Kepelautan jurusan mesin atau jurusan nautika yang setara S2.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Pengaturan tentang Standardisasi Nasional Pendidikan (SNP) adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013, pasal 1 ayat (1) disebutkan: “Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kata kunci pada pasal ini adalah kriteria minimal, artinya jika sistim pendididkan suatu lembaga pendididkan telah memenuhi kriteria minimal tertentu dapat dikatakan lembaga pendidikan itu telah memenuhi standar nasional. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa lingkup SNP meliputi: Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Kelulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian Pendidikan. Cakupan dalam lingkup standar minimal tersebut telah diuraikan pada (Pasal 1 ayat (5 s.d 12) meliputi :

a. Standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

b. Standar isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

c. Standar proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

(8)

d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria mengenai pendidikan prajabatan dan kelayakan maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.

e. Standar sarana dan prasarana adalah kriteria mengenai ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

f. Standar pengelolaan adalah kriteria mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. g. Standar pembiayaan adalah kriteria mengenai komponen dan

besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.

h. Standar penilaian pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

Cakupan standar pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, pada esensinya sama, jumlah standar juga 8 (delapan), hanya dengan redaksi yang sedikit berbeda. Itu beberapa perbedaan yang relevan sebagai refensi di sini.

Jika memperhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional, bahwa salah satu komponen standar adalah standar proses. Proses dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan demikian penting, tidak hanya dilihat dari output-nya saja. Unsur penting yang harus diperhatikan dalam proses adalah input, proses belajar-mengajar serta output. Kesemua berjalan terus-menerus dan konsisten.

Orientasi standardisasi adalah mutu, pada lembaga pendidikan untuk mengukur proses – input – output perlu penilaian, yaitu proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

(9)

kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. Kemudian pada akhir kegiatan belajar harus dilaksanakan ujian, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.

Penjaminan mutu secara internal lembaga pendidikan dengan dibentuk lembaga penjaminan mutu internal, yang tugasnya mengevaluasi/audit internal seluruh kegiatan yang telah dibakukan. Kemudian penjaminan mutu ekaternal perlu diakreditasi oleh lembaga independen, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP, yang tugasnya mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.

Asesor lembaga pendidikan formal adalah Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), untuk lembaga pendidikan non formal disebut Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN-PNF) dan untuk Perguruan Tinggi disebut Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, BAN-PT. Sistim mutu pada lembaga pendidikan adalah merupakan siklus, sebagaimana dapat dilihat pada bab sebelumnya pada gambar 2.1.

dan seterusnya

Gambar 5.2. Siklus Penjaminan Mutu Lembaga Pendidikan

(10)

Dari gambar 5.2. dapat diterangkan bahwa penjaminan mutu internal dibuktikan dengan audit internal, yang kemudian dilanjutkan dengan permohonan audit eksternal (akreditasi) kepada lembaga BSNP.

B. DASAR HUKUM DARI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

PERHUBUNGAN

Tenaga pelaut (seterusnya disebut pelaut) adalah merupakan produk dari Diklat Kepelautan. Area kerja pelaut pada dasarnya tidak bisa dibatasi oleh batas geografis negara, artinya pelaut bisa berlayar ke laut manapun sesusai kualifikasi ijasah pelaut dan tonase kapal. Oleh karenanya logis jika pelaut diautur dengan peraturan internasional, yaitu International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers disingkat STCW. Regulasi ini dinaungi oleh International Maritime Organization (IMO), suatu lembaga di bawah Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Atas dasar itulah sebelum menginventarisis regulasi nasional dari Kementerian Perhubungan maka perlu dikaji regulasi yang lebih tinggi tersebut lebih dahulu, STCW.

1. International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW).

STCW pertama kali diterbitkan pada tahun sehingga dikenal dengan nama STCW 1978. Ratifikasi di Indonesia berdasarkan Keppres No. 60 Tahun 1986. Regulasi ini mengalami berkali-kali amandemen. Pertama, tahun 1991 tentang Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS). Kemudian tahun 1994, tentang Special Training Requirement for Personal on Tankers.

Amademen berikutnya pada tahun 1995, sehingga dikenal dengan nama STCW 1995, menyangkut perubahan Annex STCW 1978, berisi 14 resolusi. Terakhir diamandemen tahun 2010 di Manila Filipina, yang merupakan hasil Diplomatic Conference IMO, sehingga terkenal dengan istilah STCW Amandemen Manila, berisi 17 resolusi.

Materi-materi yang diatur dalam Amandemen Manila antara lain : (1) Standar medis pelaut, (2) Jam kerja dan jam istirahat, (3) Pencegahan penyalahgunaan alkohol, (3) Diklat Dasar Keselamatan (4) Pengenalan Keamanan, (5) Ketrampilan Khusus Navigation Watch Rating dan Able Seaferers Engine Rating bagi pelaut tingkat rating, (6) Diklat Khusus yang bekerja di kapal tanker, dan resolusi seterusnya. Catatan penting dalam resolusi ini adalah bahwa kapal wajib menerima cadet.

(11)

Pemberlakuan STCW Amandemen Manila tersebut tidak seketika, tetapi melalui proses transisi. Walaupun amademennya terjadi pada tahun 2010 namun pemberlakuannya mulai 1 Januari 2012. Bagi siswa/taruna/calon pelaut yang memulai Diklat pada atau sesudah tanggal 1 Juli 2013 wajib menggunakan kurikulum dan silabus sesuai Amandemen Manila ini. Para pelaut pemegang sertifikat kompetensi dan sertifikat ketrampilan yang diterbitkan sesuai dengan ketentuan STCW Amandemen 1995 diberikan batas waktu sampai tanggal 31 Desember 2016 untuk memenuhi ketentuan Amandemen Manila. Sertifikat kompetensi dan sertifikat ketrampilan yang diterbitkan berdasarkan STCW Amandemen 1995 hanya dapat dikukuhkan (endorced) atau digunakan dengan validitas tidak lebih dari 31 Dsember 2016. Pemilik serifikat-sertifikat tersebut wajib megikuti Diklat Pemutakhiran untuk mendapatkan pengukuhan tidak melewati tanggal 1 Januari 2017.

Standar Diklat Kepelautan yang disyaratkan STCW meliputi: (1) Eksistensi institusi, (2) Standar Peralatan, (3) Standar kurikulum, (4) Standar jadwal, alokasi waktu, (5) Standar instruktur, dan (6) Standar pelatihan.

Kemudian standar lulusannya meliputi 7 (tujuh) fungsi kompetensi pelaut meliputi: (1) Navigation (navigasi), (2) Cargo handling and Stowage (penanganan muatan), (3) Controlling the operation of the ship and care for persons on board (pengawasan operasi kapal dan pengawakannya), (4) Marine Engineering (permesinan kapal), (5) Electric, Electronic and Control Engineering (sistim kontrol listrik dan elektronik), (6) Maintenance and repair (perawatan kapal dan perbaikan), dan (7) Radio Communications (komunikasi radio). Selanjutnya untuk tingkatan tanggung jawab di kapal di bagi dalam 3 (tiga) level yang meliputi: (1) Management level, (2) Operational level, dan (3) Support level.

Pemberlakuan secara gradual ini memberi kesempatan kepada Diklat Kepelautan Indonesia dan pelaut-pelautnya untuk menyesuaikan dengan tuntutan regulasi tersebut. Proses Diklat Kepelautan yang bermutu sesuai standar STCW adalah sesuai dengan Gambar 2.2 Proses Diklat Kepelautan pada Bab II di depan.

Diklat Kepelautan dalam melaksanakan input-proses-output secara konsisten patuh sesuai peraturan yang berlaku, sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Nomor: SK.2162/HK.208/XI/Diklat-2010 tentang

(12)

Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan, yang akan diperbarui lagi pada tahun 2013 ini dengan Pedoman Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Kompetensi Kepelautan sesuai dengan STCW Amandemen 2010 Manila. Proses Diklat Kepelautan dapat digambarkan dalam flowchart Gambar 5.3. berikut.

Gambar 5.3. Flowchart Proses Diklat Kepelautan (Sumber : Hasil olahan Konsultan, 2013)

(13)

Dari flowchart dapat dijelaskan untuk input calon peserta Diklat Diploma III Program Studi Teknika dan Nautika harus memenuhi persyaratan sebagai berikut. Pertama, Program Studi Teknika harus memenuhis syarat-syarat sebagai berikut :

1. Usia maksimum 23 tahun; 2. Pria atau wanita;

3. Belum menikah dan sanggup tidak menikah selama masa pendidikan yang dibuktikan dengan surat keterangan;

4. Tinggi badan minimal Pria 160 Cm dan Wanita 155 Cm; 5. Berijazah :

a. SMA/MA IPA;

b. SMK Jurusan Mesin, Listrik, Elektonika dan Mekatronika; c. Diklat Pelaut –IV (DP-IV) Pembentukan dan ATT-IV; d. SMK Pelayaran dan ATT-IV.

6. Akte kelahiran/ surat kenal lahir;

7. KTP atau tanda bukti diri lainnya yang sah; 8. Lulus seleksi penerimaan calon Taruna;

Sedangkan untuk Prodi Nautika ada perbedaan persyaratan pada Ijazah yaitu :

a. SMA/MA IPA

b. Diklat Pelaut –IV (DP-IV) Pembentukan dan ANT-IV c. SMK Pelayaran dan ANT-IV.

Seleksi penerimaan calon peserta Diklat Prodi Teknika dan Nautika melalui tahapan test yang meliputi :

1. Seleksi administrasi; 2. Test potensi akademik; 3. Test fisik dan kesamaptaan; 4. Test kesehatan;

5. Psikotest atau attitude test; 6. Test bakat;

7. Test wawancara.

Untuk menentukan kelulusan calon peserta Diklat melalui pantukhir dengan mempertimbangkan seleksi yang telah dilaksanakan dan jumlah penerimaan calon sesuai kreteria kelulusan, dan memperhatikan rasio (dosen, sarpras) sesuai ketentuan yang berlaku.

(14)

Masa registrasi calon taruna yang lulus seleksi melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan, dan selanjutnya mempersiapkan proses pembelajaran dengan mengisi kartu rencana studi (KRS), dan memperoleh kalender akademik, jadwal kuliah. Untuk memperlancar proses pembelajaran dengan merencanakan hal-hal yang terkait dengan silabus, jadwal pembelajaran teori/praktik, bahan ajar (materi diklat), metode pembelajaran, dan sumber bahan ajar. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan memperhatikan :

1. Jumlah peserta diklat maksimal 30 orang per kelas untuk pembelajaran yang bersifat teori;

2. Beban mengajar maksimal sesuai system standar mutu kepelautan Indonesia, 8 jam per hari dan 40 jam per minggu (5 hari pembelajaran efektif);

3. Rasio maksimal buku teks pelajaran setiap peserta didik;

4. Rasio maksimal jumlah peserta didik untuk setiap pendidik adalah 1:20;

5. Proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kemampuan kemandirian dalam melakukan kajian mata kuliah;

6. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta member ruang yang cukup untuk berprakarsa, kreatif sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk mendukung proses pembelajaran yang baik diperlukan sarana prasarana minimal: (a) lahan, (b) ruang pendaftaran, (c) ruang kelas, (d) ruang pimpinan, (e) ruang pendidik, (f) ruang pengelola diklat, (g) ruang perpustakaan, (h) ruang laboratorium, (i) ruang simulator, (j) ruang bengkel kerja, (k) ruang unit produksi, (l) ruang kantin, (m) lapangan olah raga/apel, (n) tempat beribadah, (o) taman/ tempat parkir, (p) garasi kendaraan. Lembaga Diklat juga harus menyediakan tenaga pendidik, tenaga kependidikan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Proses penilaian hasil belajar peserta diklat mealui 3 tahapan meliputi: penilaian diagnostic, penilaian formatif, dan penilaian sumatif. Penilaian hasil belajar diklat bertujuan untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan dan untuk menentukan kelulusan peserta diklat dari lembaga diklat kepelautan. Atas prestasi pembelajaran yang telah menyelesaikan satuan program diklat kepelautan diberikan

(15)

sertifikat pendidikan dan pelatihan (SPPK) sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian kompetensi kepelautan yang diselenggarakan oleh pelaksana ujian keahlian pelaut (PUKP) di bawah pengawasan dewan penguji keahlian pelaut (DPKP). Ada satu kegiatan pembelajaran Praktek Laut (Prala) yang wajib dilaksanakan taruna setelah lulus ujian Pra Prala di PUKP dengan berlayar selama 1 tahun (12 bulan), setelah turun membuat laporan dan selanjutnya melaksanakan ujian Pasca Prala.

Proses Yudisium dan wisuda :

Yudisium merupakan proses akademik yang menyangkutkelulusan peserta diklat dari seluruh proses kegiatan akademik, sekaligus sebagai proses penilaian akhir dari seluruh mata kuliah/ pelajaran yang telah diikuti dan penetapan transkrip akademik, serta memutuskan lulus atau tidaknya peserta diklat dalam mengikuti program diklat selama jangka waktu tertentu, yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagai hasil rapat siding yudisium.

Wisuda merupakan proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik sesudah peserta diklat dinytakan lulus dalam siding yudisium sebagai tanda pengukuhan atas selesainya program studi melalui prosesi pelantikan pimpinan lembaga pendidikan dan diselenggarakan oleh lembaga Diklat yang bersangkutan.

Ujian keahlian pelaut merupakan ujian kompetensi untuk mendapatkan sertifikat keahlian pelaut bagi peserta diklat dengan metode ujian tulis dan ujian komprehensif oleh PUKP dan diawasi DPKP setelah dinyatakan lulus program Diplomanya. Sedangkan untuk pengawasan proses pembelajaran dilakukan dengan kegiatan pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh tim audit mutu internal dengan berbagai metode terhadap berlangsungnya proses pembelajaran yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar. Hasil temuan ketidaksesuaian dalam audit mutu internal dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan perbaikan-perbaikan agar lembaga diklat tetap memenuhi standar dan mutu meningkat.

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

Walaupun tidak dikeluarkan oleh Kementrian Perhubungan, regulasi ini banyak mengatur tentang perhubungan, terutama perhubungan laut.

Tenaga pelaut adalah awak kapal, yang diartikan sebagai orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal oleh pemilk atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai dengan jabatannya

(16)

yang tercantum dalam buku sijil (Pasal 1 ayat (40)). Awak kapal ini terdiri dari nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK). Nakhoda diartikan sebagai serang dari awak kapal yang menjadi pimpinan tertinggi di kapal dan mempunyai wewenang dan tanggungjawab tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian pada ayat (41), ABK adalah awak kapal selain nakhoda, tentunya jumlahnya lebih dari satu orang.

Untuk mewujudkan keselamatan pelayaran, maka setiap kapal wajib diawaki oleh awak kapal yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi sesuai ketenuan nasional dan internasional. Nakhoda wajib memenuhi persyaratan pendidikan, pelatihan, kemampuan dan ketrampilan serta kesehatan prima. Itulah mengapa nakhoda berwenang memberi tindakan disiplin atas pelanggaran yang dilaksanakan oleh ABK, serta ABK wajib mentaati perintah nakhoda secara tepat.

3. SKB 3 Menteri

Implementasi STCW 1995 Regulation I/8 tentang Quality Standard System di Indonesia adalah dengan diterbitkannya surat keputusan bersama, yaitu Menteri Perhubungan, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi No : KM 41 Tahun 2003, No : S/U/KB/2003, No : KEP.208 A/MEN/2003 Tentang Sistem Standar Mutu Kepelautan Indonesia (popular dengan sebutan SKB 3 Menteri). Regulasi ini mengatur tentang kualitas penyelenggaraan Diklat Kepelautan di Indonesia, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat, sampai sekarang masih berlaku.

Bahwa untuk mewujudkan tenaga pelaut profesional perlu diselenggarakan Diklat Kepelautan yang sesuai dengan perkembangan ilmu da teknologi. Orang bekerja di laut (kapal) memerlukan standar mutu tertentu, dalam hal ini kualifikasi ketenagakerjaan, kualifikasi pendidikan serta kualifikasi kepelautan. Oleh karena itu regulasi yang mengaturnya terdiri dari 3 Kementerian, yaitu Menteri Perhubungan, Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Penyeleggaraan Diklat Kepelautan pada sekolah menengah kejuruan pelayaran dan PT yang menyelenggarakan program studi nautika dan teknika pelayaran niaga berpedoman pada Sistim Standar Mutu Kepelautan Indonesia (Pasal 1). Selanjutnya pada Pasal 2 diamanatkan bahwa pengawasan pelaksanaan Sistim Standar Mutu Kepelautan Indonesia dilakukan oleh Komite Nasional Pengawasan Mutu Kepelautan Indonesia yang merupakan lembaga non struktural

(17)

yang dibentuk dengan Keputusan Menteri Perhubungan. Tugas komite ini merumuskan petunjuk pelaksanaan dan sekaligus melakukan akreditasi ke semua Diklat Kepelautan sesuai standar mutu yang diumuskannya.

Elemen standar mutu Diklat Kepelautan untuk Nautika yang dinilai terdiri atas 6 elemen, yaitu :

1) Organization and staff resources (OS); 2) Infra provsions teaching facilties (ITF); 3) Navigation (ED 1);

4) Cargo handling and Stowage (ED 2);

5) Controlling the operation of the ship and care for persons on board (ED 3);

6) Equipment (EQ) yang terkait dengan ke 3 ED.

Sedangkan elemen standar mutu Diklat Kepelautan untuk Teknika yang dinilai terdiri atas 7 elemen, yaitu :

1) Organization and staff resources (OS); 2) Infra provsions teaching facilties (ITF); 3) Merine Engineering (ED 1);

4) Electric, electronic and control system (ED 2); 5) Maintenance and repair (ED 3);

6) Controlling the operation of the ship and care for prsonal on board (ED 4);

7) Equipment (EQ) yang terkait dengan ke 3 ED.

Masih dalam rangka penjaminan mutu, internal Diklat Kepelautan wajib membentuk lembaga penjaminan mutu internal yang berpedoman pada input-proses-output (IPO).

Dilihat dari elemen standar mutu keseluruhan, Diklat Kepelautan minimal harus mempunyai 19 unsur yaitu meliputi: (1) mission statement, (2) strategi diklat (education and training strategies), (3) struktur organisasi (organization), (4) persyaratan tenaga pengajar (instructor requirement), (5) persyaratan pengembangan program (development program requirements), (6) beban tenaga pengajar (instructors teaching load), (7) persyaratan akademik (faculty requirements), (8) perbandingan tenaga pengajar dan siswa (instructor

(18)

student ratio), (9) kurikulum (curriculum), (10) dokumentasi administrasi (administrative documentation), (11) students admission, selection, and retention, (12) sistem pengujian (school tests and examination system), (13) pelatihan kapal dan pengenalan lapangan, (14) feedback from students and industry), (15) program litbang (research and development program), (16) sistem manajemen mutu (quality management system), (17) campus/public spaces/offices/class room and laboratories, (18) peralatan pengajaran (general teaching means), (19) fasilitas perpustakaan dan internet. Cakupan materi audit mutu pada dasarnya terdiri dari unsur OS, ITF, EQ dan ED, yang kesemuanya berpedoman IPO.

Kemudian ujian keahlian pelaut adalah ujian kompetensi untuk mendapatkan sertifikat keahlian pelaut bagi peserta didik dengan metode ujian tulis dan ujian komprehensif (ayat 10). Sertifikat keahlian pelaut adalah bukti pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan sebagai pelaut (ayat 15), dan sertifikat ketrampilan khusus pelaut adalah bukti pengakuan kecakapan dan ketrampilan untuk melakukan tugas dan fungsi khusus di kapal (ayat 17).

Selanjutnya yang disebut pelaut adalah setiap orang yang mempunyai kualifikasi keahlian dan / atau kecakapan / ketrampilan sebagai awak kapal (ayat 19). Artinya bahwa kualifikasi sebagai pelaut hanya bisa ditempuh melalui lembaga diklat kepelautan, apakah diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat, apakah melalui jalur formal maupun non formal.

Penjenjangan diklat keahlian pelaut terdiri dari Program Pendidikan Kejuruan Pelayaran disenggarakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelayaran dan Program Pendidikan Diploma I, II, III, IV (PT) Pelayaran yang disenggarakan oleh Akademi, Politeknik dan Sekolah Tinggi.

Adapun pembagian bidang keahlian, untuk setingkat SMK Pelayaran terdiri dari keahlian Nautika untuk mendapatkan sertifikat keahlian pelaut ANT-IV serta keahlian teknika untuk mendapatkan sertifikat keahlian pelaut ATT-IV.

Untuk keahlian setingkat PT, diatur sebagai berikut : 1) Keahlian nautika meliputi :

a) Program Diploma IV, untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut ANT-III dan setelah 2 tahun masa layar berhak mengikuti ujian ANT-II;

(19)

b) Program Diploma III, untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut ANT-III.

2) Keahlian teknika meliputi :

a) Program Diploma IV, untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut ATT-III dan setelah 2 tahun masa layar berhak mengikuti ujian ATT-II;

b) Program Diploma III, untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut ATT-III;

c) Keahlian elektro pelayaran meliputi : Diploma I sampai Diploma III Pelayaran.

Penjenjangan diklat keahlian pelaut terdiri dari : Diklat Pelaut Tingkat Dasar (DP-D), Diklat Pelaut Tingkat Menengah (DP-M), Diklat Pelaut Tingkat Tinggi (DP-T). DP-D dan DP-M hanya menyelenggarakan untuk keahlian nautika dan teknika. Bedanya untuk DP-M untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut tingkat V, baik keahlian teknika mupun nautika. Sedangkan DP-T adalah diklat untuk memperoleh serifikat keahlian pelaut ANT -III sampai ANT-I (keahlian nautika) serta memperoleh serifikat keahlian pelaut ATT -III sampai ATT-I (keahlian Teknika).

Dari data lapangan diperoleh hasil bahwa kebanyakan Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat lemah dalam keempat unsur itu. Paling lemah adalah dalam unsur OS dan EQ.

4. Peraturan Menteri Perhubungan

Setelah regulasi SKB 3 Menteri di atas kemudian diterbitkan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM. 70 tahun 2013 tentang Pendidikan dan Pelatihan Sertifikasi serta Dinas Jaga Pelaut, yang ditetapkan pada tanggal 2 September 2013, sebagai pengganti Keputusan menteri Perhubungan No. KM 43 Tahun 2008 tentang Pendidikan dan Pelatihan, Ujian Keahlian, serta Sertifikasi Kepelautan.

Ketentuan umum yang termuat dalam Peraturan Menteri No. PM 70 tahun 2013 pada pasal 1 ayat (1) s.d (13) disebutkan dengan jelas bahwa :

1) Kepelautan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pengawakan, pendidikan, pensertifikatan, kewenangan serta hak dan kewajiban pelaut;

(20)

dengan Diklat Kepelautan adalah diklat kepelautan untuk mencapai tingkat keahlian dan keterampilan tertentu sesuai dengan jenjang dan jenis kompetensi untuk pengawakan kapal niaga;

3) Program Pendidikan dan Pelatihan Keahlian Pelaut adalah program diklat dalam berbagai jalur, jenjang, dan jenis untuk meningkatkan keahlian guna mendapatkan sertifikat keahlian pelaut;

4) Program Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Pelaut adalah program diklat untuk mendapatkan kecakapan dan keterampilan untuk melakukan tugas dan/atau fungsi tertentu di kapal;

5) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan adalah lembaga diklat yang dikelola oleh pemerintah atau masyarakat dalam menyelenggarakan program diklat keahlian dan/atau keterampilan pelaut yang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; 6) Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki

oleh sesorang berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilakuyang harus dihayati dan dikuasai untuk melaksanakan tugas keprofesionalanya;

7) Sertifikat Keahlian Pelaut adalah sertifikat yang diterbitkan dan dikukuhkan untuk nahkoda, perwira, operator radio GMDSS, sesuai dengan pada Chapter II, III atau IV Konvensi STCW 1978 beserta amandemennya dan pemilik sah sertifikat untuk melaksanakan tugas sesuai kapasitasnya dan melaksanakan fungsi sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang tertera pada sertifikat; 8) Sertifikat pengukukuhan adalah sertifikat yang menyatakan

kewenangan jabatan kepada pemilik sertifikat keahlian pelaut untuk melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan tingkat tanggungjawabnya;

9) Sertifikat keterampilan adalah sertifikat selain dari sertifikat keahlian dan pengukuhan yang diterbitkan untuk pelaut yang menyatakan telah memenuhi persyaratan pelatihan, kompetensi, dan masa layar;

10) Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energy lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah;

(21)

11) Pelaut adalah setiap orang yang mempunyai kualifikasi keahlian atau keterampilan sebagai awak kapal;

12) Awak kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas diatas kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil;

13) Pengesahan (Approval) adalah pengakuan program diklat, simulator, laboratorium, bengkel kerja, pengalaman di kapal latih, masa layar, buku catatan pelatihan (training record book), dan rumah sakit serta bentuk pengakuan lainnya terkait peraturan ini yang diterbitkan oleh Direktur Jeneral.

Selanjutnya ketentuan yang terkait dengan penyelengaraan Diklat dan Pengujian pada PM 70 tahun 2013 adalah terdapat pada pasal 8 yang terdiri dari 12 ayat :

1) Penyelenggaraan pendidikan diklat kepelautan beserta pedoman penyelenggaraanya ditetapkan oleh Kepala Badan berpedoman pada Standar Pendidikan Nasional dan ketentuan yang diatur dalam seksi A-I/6 Koda STCW;

2) Setiap program diklat kepelautan yang diselenggarakan oleh lembaga diklat wajib mendapat pengesahan (approval) dari Direktur Jenderal berdasarkan hasil audit yang dilakukan oleh TIM;

3) Approval sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat diterbitkan setelah memenuhi persyaratan sebagai berikut: (a) standar sarana dan prasarana, (b) standar pendidikan dan tenaga kependidikan, (c) standar pengelolaan, (d) standar pembiayaan, (e) standar kompetensi kelulusan, (f) standar isi, (g) standar proses, dan (h) standar penilaian pendidikan;

4) Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan; 5) Tim audit sebagimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh

Direktur Jenderal dengan anggota terdiri dari pejabat dan staf Direktorat Jenderal dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan;

6) Penyelenggaraan Diklat kepelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (a) diklat keahlian pelaut diselenggarakan melalui jalur formal dan non formal, (b) diklat keterampilan khusus diselenggarakan melalui jalur non formal;

(22)

7) Diklat kepelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah daerah, BUMN, BUMD atau masyarakat sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku;

8) Diklat keahlian pelaut yang kurikulumnya mengacu kepada konvensi Internasional STCW 1978 dan amandemenya melalui jalur non formal dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku;

9) Diklat keahlian pelaut yang kurikulumnya tidak mengacu kepada konvensi internasional STCW 1978 dan amandemennya melalui jalur non formal untuk ukuran kapal GT 35atau lebih dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan dan BUMN dengan memenuhi ketentuan yang berlaku;

10) Penyelenggaraan diklat kepelautan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus memenuhi Sistem Standar Mutu Kepelautan Indonesia yang mengacu kepada standar nasional pendidikan dan konvensi internasional STCW 1978 beserta amandemennya; 11) Untuk memenuhi Standar Mutu Kepelautan Indonesia dilakukan

evaluasi secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun;

12) Kurikulum dan silabus diklat kepelautan ditetapkan oleh Kepala Badan dengan mengacu pada persyaratan nasional dan konvensi internasional STCW 1978 dan amandemennya.

Lebih lanjut dalam pasal 9 mengatur proses pembatalan approval pada penyelenggaraan diklat kepelautan, yang terdiri dari dua ayat : 1) Pembatalan approval program diklat kepada setiap lembaga diklat

kepelautan yang melaksanakan diklat tidak sesuai dengan Sistem Standar Mutu Kepelautan Indonesia setelah dilakukan audit khusus;

2) Pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah melalui proses: (a) peringatan 3 kali dengan tenggang waktu masing-masing paling lama 30 hari kerja, (b) pembatalan dilaksanakan setelah peringatan ketiga dan hasil audit membuktikan penyelenggaraan tidak melakukan perbaikkan secara signifikan, (c) program diklat yang approval-nya telah dibatalkan peserta didiknya untuk menyelesaikan pendidikannya dapat dipindahkan ke lembaga diklat kepelautan yang telah

(23)

mendapatkan pengesahan atas seizin Direktur Jenderal, (d) program diklat yang approvalnya telah dibatalkan lembaga diklat tidak diperkenankan menerima peserta didik baru.

Terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 70 tahun 2013 yang mengacu pada Konvensi Internasional STCW 2010 amandemen Manila ini memperlihatkan bahwa proses penyelenggaraan diklat kepelautan khususnya yang diselenggarakan oleh masyarakat semakin sulit dalam memenuhi pasal 8 dan pasal 9 tersebut di atas. Dalam pasal 9 menunjukkan bahwa diklat kepelautan yang tidak dapat approval hanya diberikan tenggang waktu relative singkat (3 bulan) untuk memenuhi persyaratan nasional dan konvensi internasional STCW 1978 dan amandemennya dan punishment jelas lembaga diklat kepelautan tidak diperbolehkan menerima peserta didik baru. Melihat kenyataan ini diharapkan melalui studi pengembangan kemitraan ini mampu memberikan solusi khususnya kepada diklat kepelautan yang diselenggarakan masyarakat yang belum mampu memenuhi persyaratan dapat melakukan kerjasama dengan lembaga diklat kepelautan yang telah mendapat approval.

Kerjasama/ kemitraan ini untuk memjebatani agar diklat kepelautan di Indonesia tetap berjalan dan mampu menghasilkan pelaut sesuai dengan kebutuhan nasional maupun internasional.

C. KELEMAHAN DAN PERMASALAHAN DIKLAT KEPELAUTAN MASYARAKAT

Penyelenggaraan Diklat Kepelautan memang tergolong berat dibanding lembaga pendidikan umum. Berdasarkan hasil observasi bahwa Diklat Pemerintah lebih memadai jika ditinjau dari segi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia. Hal ini karena Diklat tersebut didanai melalui anggaran pemerintah. Mulai prasarana-sarana berupa gedung serta "isi" yang sangat mahal dibiayai pemeintah. Sumberdaya manusia (SDM) lebih mapan dalam arti jumlah dan kualitas, baik tenaga akademik maupun tenaga pendukungnya juga dibiayai sebagai pegawai negeri. Walaupun untuk mencetak tenaga akademik dibutuhkan persyaratan berat (Kementerian Perhubungan sebagai kepanjangan tangan IMO dan Kemendikbud), serta rumit, namun karena semuanya dibiayai pemerintah maka tetap saja tidak terlalu berat. Sarana praktek (laboratorium) termasuk kapal latih yang nilainya sangat mahal juga dibiayai pemerintah.

(24)

kurikulum yang sama, baik yang diselenggarakan oleh Diklat Kepelautan Pemerintah maupun masyarakat. Namun karena pelaksanaan ini harus didukung dengan dosen dan peralatan praktek yang memenuhi kualifikasi, maka keberatan ditemukan pada Dtklat Kepelautan Masyarakat.

Penyelenggaraan Diklat Kepelautan memang tergolong berat dibandingkan dengan lembaga pendidikan umum.

Berdasarkan hasil observasi terlihat bahwa Diklat Kepelautan yang diselenggarakan pemerintah lebih memadai dibandingkan dengan Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat, baik ditinjau dari segi infrastruktur maupun dari segi ketersediaan sumberdaya manusia (SDM). Lebih memadainya Diklat Kepelautan yang diselenggarakan pemerintah dikarenakan dibiayai oleh anggaran negara.

Prasarana – sarana berupa gedung serta “isi” yang sangat mahal dibiayai pemerintah. SDM yang lebih mapan dalam arti kuantitas dan kualitas, baik tenaga akademik maupun tenaga pendukungnya, juga dibiayai oleh pemerintah melalui sistim gaji / upah pegawai negeri sipil.

Sarana / peralatan praktek (laboratorium) termasuk kapal latih yang harganya sangat mahal juga dibiayai pemerintah.

Walaupun untuk mencetak tenaga akademik , dibutuhkan persyaratan yang berat serta rumit (via ketentuan Kementerian Perhubungan sebagai kepanjangan tangan IMO dan Kemendikbud), namun karena semuanya dibiayai pemerintah , maka tetap saja tidak terlalu berat.

Pelaksanaan PBM Diklat Kepelautan (baik pemerintah maupun masyarakat) berpedoman pada acuan kurikulum yang sama. Namun karena pelaksanaan PBM tersebut harus didukun oleh dosen dan fasilitas atau peralatan praktek yang memenuhi kualifikasi, maka bagi Diklat Kepelautan yang diselenggarakan oleh masyarakat dirasakan sangat berat.

Telah memadainya persyaratan prasarana –sarana Diklat Kepelautan pemerintah mempunyai daya tarik yang tinggi bagi calon taruna. Artinya dalam setiap periode penerimaan calon taruna, rasio pendaftar dengan yang diterima adalah besar. Lihat misalnya di STIP Jakarta dan PIP Semarang. Rasionya bisa 400%. Banyaknya pendaftar mempunyai dampak dalam kebebasan memilih raw material yang lebih berkualitas, baik dari kualitas akademik, kualitas fisik, maupun psikologis. Jika raw material berkualitas baik dan proses PBM sesuai standar, maka hasilnyapun juga akan baik.

(25)

standar minimal baru 20 % (Diklat yang telah diapproval), yang 80 % tentunya masih banyak kekurangan dalam proses penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Dari sisi input, Diklat Kepelautan masyarakat yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai persyaratan akan berdampak pada rendahnya daya tarik untuk mendafar. Hanya sedikit Diklat Kepelautan masyarakat yang mempunyai rasio tinggi, itupun tidak setinggi rasio Diklat Kepelautan Pemerintah. Misalnya AMNI Semarang dan AMI Veteran Makassar, rasionya hanya 200 % lebih.

Mayoritas Diklat Kepelautan masyarakat mempunyai rasio pendaftar yang rendah. Redahnya rasio pendaftar ini berdampak kebebasan memilih raw material berkualitas menjadi terbatas, bahkan kurang sekali. Jika raw material berkualitas rendah, diproses dengan PBM yang tidak standar, hal tersebut tentu menjadikan output yang rendah pula. Penyelenggaraan Diklat Kepelautan khususnya yang diselenggarakan masyarakat tergolong berat dalam memenuhi persyaratan, baik regulasi nasional (Kemendikbud dan BAN-PT / BAN-Sekolah) maupun regulasi internasional (IMO) melalui STCW 1978 dan amandemen-amandennya. Implementasi persyaratan dari kedua regulasi tersebut belum terintegrasi sehingga masih terdapat perbedaan-perbedaan baik persyaratan untuk dosen/ instruktur, laboratorium, persyaratan calon taruna, dan sebagainya. Dengan demikian penyelenggara Diklat Kepelautan harus berusaha mengakomodir kedua regulasi tersebut dengan memenuhi persyaratan yang berbeda-beda untuk dapat mempertahankan eksistensinya.

Unsur penyelenggaraan Diklat Kepelautan sesuai persayaratan IMO adalah meliputi OS, ITF, ED dan EQ. Keempat unsur ini secara periodik harus diaudit, baik internal maupun eksternal (Kemenhub) dalam rangka penjaminan mutu. Dokumentasi, bukti fisik dan improvisasi positif selalu dituntut dalam penyelenggaraan Diklat Kepelautan. Unsur EQ, yang tergolong paling berat hampir ditemukan di semua Diklat Kepelautan masyarakat. Kemudian unsur OS dan ITF menempati kesulitan diurutan kedua. Bahkan di beberapa Diklat Kepelautan masyarakat, dokumentasi yang dianggap bagian paling mudah dipenuhinya-pun tidak dapat ditemukan. Dosen "umum" paling banyak di temui di Diklat Kepelautan masyarakat, artinya kualifikasi Kemenhub tidak terpenuhi.

(26)

D. MODEL KEMETRAAN KEMENDIKBUD – KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

Berdasarkan data lapangan diperoleh hasil bahwa umumnya Diklat Kepelautan terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat mengalami keterbatasan dalam semua standar mutu yang meliputi OS, ITF, ED dan EQ. Bahkan salah satu sampel, SMK Putra Samudera di Sorong, Papua Barat saat konsultan mengambil data hanya diperoleh gambar gedung dengan halaman becek tanpa ada kegiatan proses belajar –mengajar selama 2 pekan. Jelas unsur-unsur standar mutu OS, ITF, ED dan EQ tidak ada. Sebagian besar Diklat Kepelautan masyarakat umumnya lemah dalam dosen dan perlengkapan (OS dan EQ). Terlebih dalam fasilitas praktek / laboratorium apalagi kapal latih. Hal ini mengingat kemampuan yayasan pengelolanya banyak yang kurang kuat dalam pendanaan untuk pengadaan fasilitas tersebut. Perlu diketahui bahwa persyaratan fasilitas Diklat Kepelautan memerlukan anggaran sangat besar namun cepat ketinggalan jaman karena tuntutan perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Kemitraan yang dikembangkan adalah :

1. Membentuk pusat-pusat pelatihan (growth center)

Growth center bisa digunakan oleh banyak Diklat Kepelautan masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh yang diselenggarakan di Semarang. Growth center ini milik Kemendikbud. Tujuan semula institusi ini merupakan praktek bagi Diklat Kepelautan yang tersebar di Jawa Tengah dan DIY. Memang sempat berjalan beberapa saat. Namun sejak tahun 2012 institusi ini mengalami perubahan bentuk menjadi Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin), yang fungsinya menjadi PT Kemaritiman. Perubahan bentuk ini menjadikan fungsi tempat praktek menjadi bias. Karena ini sudah terlanjur maka sebaiknya ke depan jangan sampai terulang.

Usulan kota lokasi pendirian growth center dengan pertimbangan bahwa di kota – kota tersebut merupakan sentra Diklat Kepelautan yang dikelola masyarakat namun sarana pelatihan belum memadai. Kota – kota tersebut meliputi :

1. Sibolga, untuk mengakomodir tempat praktek Diklat Kepelautan yang ada di wilayah Sumatra Utara;

2. Batam, Kepulauan Riau; 3. Jakarta;

(27)

4. Pelabuhan Ratu, Jawa Barat; 5. Banyuwangi, Jawa Timur; 6. Pontianak, Kalimantan Barat; 7. Banjarmasin, Kalimantan Selatan; 8. Bitung, Sulawesi Utara;

9. Kendari, Sulawesi Tenggara; 10. Ternate, Maluku Utara; 11. Ambon, Maluku; 12. Jayapura, Papua; 13. Merauke, Papua; 14. Singaraja, Bali;

15. Mataram, Nusa Tenggara Barat

Wilayah Jawa Tengah, DIY dan sebagian Jawa Barat dapat menggunakan growth center di Semarang yang sudah ada, yang sekarang berganti nama Polimarin.

Growth center adalah fasilitas praktek yang bisa digunakan Diklat Kepelautan dan juga bisa digunakan oleh sekolah umum, terutama mesin – mesin yang biasa digunakan praktek siswa atau mahasiswa jurusan Teknik Mesin.

Rekomendasi sebaran growth center tersebut berdasarkan jumlah / sebaran Diklat Kepelautan yang ada di wilayah - wilayah itu. Berdirinya growth center selain dapat menolong Diklat Kepelautan masyarakat juga bisa digunakan oleh SMK Jurusan Teknik Mesin dan PT Jurusan Teknik Mesin, mengingat sebagian alat bersifat umum (multi purpose).

Mengingat keterbatasan anggaran dari Kemenhub maka penganggaran sebaiknya dibebankan pada Kemendikbud. Status institusi ini jangan diubah lagi sebagaimana di Semarang.

Keberadaan growth center diperlukan payung hukum yang kuat dengan peraturan setingkat menteri. Kemudian agar bisa beroperasi juga diperlukan perturan yang lebih operatif setingkat Dirjen. Tidak kalah pentingnya adalah anggaran pembiayaan rutin juga harus disediakan. Sedangkan bagi pemakainya baik Diklat Kepelautan maupun sekolah umum dikenakan biaya, namun tetap harus ada

(28)

subsidi Kemendikbud (pemerintah berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat UUD 1945).

Tentang anggaran pendirian growth center diusulkan ke Kemendikbud, mengingat anggaran Kemenhub sudah sangat terbatas. Kedua kementerian ini sebaiknya duduk bersama agar tidak terjadi “lempar tanggungjawab”. Anggaran melalui Kemendikbud ini akan didasarkan dengan undang – undang. Usulan pendirian growth center diajukan oleh asosiasi Diklat Kepelautan yang ada di wilayah sekitar kota calon pendirian growth center, dengan rekomendasi oleh Dinas Pendidikan dan Kopertis Wilayah setempat.

Contoh kerjasama antara Diklat Pemerintah dan Diklat masyarakat dapat mengacu pada kerjasama yang sudah dilakukan antara PIP Semarang dengan Akademi Maritim Yogyakarta sebagaimana lampiran. Kerjasama itu meliputi Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) tentang Kerjasama Teknis Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan serta Nota Kesepakatan (Memorandum of Agreement) tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan bagi Taruna.

2. Bantuan Staf Pengajar / Dosen

Dalam penyelenggaraan Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat selain kesulitan dalam perlengkapan juga kesulitan dalam pengadaan staf pengajar. Perlu diketahui bahwa syarat sebagai pengajar pada Diklat Kepelautan tergolong berat. Hal ini dikarenakan harus memenuhi persyaratan / kualifikasi dari 2 instansi, yaitu dari Kemenhub dan dari Kemendikbud.

Kemenhub mensyaratkan bahwa pengajar harus berijasah profesi (ANT atau ATT). Untuk pengajar di SMK Pelayaran minimal harus berijasah ANT-III / ATT- III. Sedangkan untuk PT, misalnya akademi pelayaran tertentu yang menyelenggarakan program D-III minimal harus berijasah ANT-II / ATT- II. Sementara Kemendikbud mensyaratkan staf pengajar harus berlatar belakang relevan / linier dan berijasah S2.

Syarat ini dirasakan memberatkan oleh mereka, pelaut sulit diajak untuk menempuh pendidikan S2 karena memilih berlayar daripada menjadi pengajar. Akibatnya banyak mata pelajaran yang diampu oleh pengajar yang berlatar belakang umum (bukan pelaut) namun sudah berijasah S2. Sementara pelajaran kepelautan memerlukan pengalaman seorang pelaut yang benar-benar pernah berlayar dan berijasah profesi sebagai pelaut.

(29)

Solusi yang dapat direkomendasikan adalah segera menyusun regulasi yang mempermudah syarat sebagai pengajar Diklat Kepelautan sehingga mereka terbantu untuk memenuhi persyaratan dari kedua institusi dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dengan regulasi ini maka pelaut dengan ijasah jenjang tertentu (Kemenhub) dapat disetarakan dengan ijasah akademik tertentu (Kemendikbud). Misalnya pemegang ijasah ANT- I / ATT – I setara dengan ijasah S2, pemegang ijasah ANT- II / ATT – II setara dengan ijasah S1 dan seterusnya.

Solusi lain adalah pengajar personal Kemenhub (pegawai negeri) yang telah memenuhi kedua kualifikasi “dipekerjakan” mengajar di Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat dengan gaji sebagai pegawai negeri. Praktek ini seperti yang sudah berjalan di lingkungan Kemendikbud, di mana Kopertis mempunyai dosen yang dipekerjakan kepada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan gaji sebagai pegawai negeri. Solusi ini tentu harus melibatkan Kementerian Aparatur Negara (Kemenpan), karena sebagai pegawai negeri selain harus tunduk pada Kemenhub juga harus tunduk pada Kemenpan sebagaimana aparatur negara pada umumnya. Agar personal yang diperbantukan itu lebih “kerasan” maka sepantasnya PTS juga memberikan stimulan sebatas kemampuan yayasan penyelenggaranya.

3. Menyusun Perangkat Evaluasi Tunggal

Sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya bahwa Diklat Kepelautan harus “tunduk” pada dua institusi, Kemenhub dan Kemendikbud. Kedua institusi ini berkepentingan terhadap pemantauan mutu diklat. Dari sini kelihatan ada “ego sektoral” yang bertentangan dengan asas efisiensi manajemen pendidikan sebagaima amanat dalam pembukaan UU. No. 12/ 2012 tentang Sisdiknas. Kemenhub memantau melalui approval, sementara Kemendikbud memantau melalui akrteditasi. Keduanya mempunyai persyaratan beda, namun esensinya adalah sama.

Solusi kemitraan yang bisa dikembangkan adalah menyusun perangkat evaluasi tunggal dengan menghilangkan “ego sektoral” untuk menaikkan efisiensi manajemen pendidikan nasional. Kemenhub harus mendekat ke Kemendikbud dan Kemendikbud juga harus mendekat ke Kemenhub agar dicapai titik temu.

Payung hukum yang diperlukan adalah dengan menyusun Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Menteri Perhubungan. Dengan perangkat hukum ini maka Diklat Kepelautan merasa lebih pasti dalam mengemban mutu diklatnya.

(30)

E. MODEL KEMITRAAN PEMERINTAH PUSAT – PEMERINTAH DAERAH

Perlu diketahui bahwa tidak semua kebijakan / regulasi di tingkat pusat bisa diterjemahan secara linier di tingkat daerah. Penyelenggaraan Diklat Kepelautan Pemerintah walaupun lokasinya berada di daerah tertentu namun kewenangan sepenuhnya berada di pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak bisa ikut berpartisipasi dan tidak menikmati langsung karena tidak dilibatkan dalam penyusunan kebijakan terkait Diklat Kepelautan Pemerintah tersebut.

Sebetulnya ada “ego superioritas” di tingkat pemerintah pusat dan juga ada “ketidakpedulian” di tingkat pemerintah daerah.

Dapat dicontohkan di sini, adalah eksistensi BP2IP Sorong, Papua Barat. Institusi ini jelas milik pusat (Kemenhub) yang berada di Sorong. Di tingkat pusat “ego superioritas” dapat dipersepsikan positif sebagai upaya dalam memajukan pendidikan maritim di Indonesia Timur pada umumnya dan Papua pada khususnya.

BP2IP Sorong menyediakan fasilitas berupa asrama dan angkutan diberikan gratis. Namun minat putra-putri daerah setempat untuk masuk diklat masih rendah. Peserta didik sebagian besar justru berasal dari daerah lain, misalnya dari Sulawesi, Buton dan dari Jawa.

Ini fenomena yang tidak sehat dalam mengembangkan pendidikan kepelautan. Disinyalir pemerintah daerah setempat kurang tanggap atau “ketidakpedulian” terhadap pendidikan kepelauta. Pemerintah daerah seharusnya bisa mensosialisasikan secara kontinyu tentang pentingnya pendidikan kepelautan, karena Indonesia merupakan negara bahari, terlebih di Indonesia Bagian Timur.

Solusinya, pemerintah daerah melalui tingkatan pemerintahan yang lebih rendah dengan tidak bosan-bosannya mengajak, menarik, mendorong putra daerah untuk “cinta bahari”, sehingga minat sekolah/mengikuti pendidikan pada Diklat Kepelautan dapat meningkat.

Salah satu contoh yang baik adalah SMK Pelayaran di Samarinda, Kalimantan Timur. Sekolah ini sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah daerah setempat, termasuk fasilitas dan guru-gurunya. Artinya niat baik pemerintah pusat disambut baik oleh pemerintah daerah. Namun ini hanya satu-satunya di Indonesia, sehingga perlu dikembangkan di daerah-daerah lain.

(31)

Informasi dan publikasi yang lebih “mengakar” agar minat pemuda meningkat mencintai kepelautan, kiranya bisa ditempuh pemerintah pusat (Kemenhub dan Kemendikbud) melalui publikasi di televisi seperti halnya Kemendikbud mengangkat minat pemuda masuk SMK melalui slogan “SMK Bisa” yang ternyata efektif.

Hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan Diklat Kepelautan sudah diatur dalam bentuk Undang – Undang Pelayaran No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Pasal 262 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran sebagaimana diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

Selanjutnya pada Pasal 263 ayat (1) mengamanatkan bahwa pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran merupakan tanggung jawab pemerintah, pembinaannya dilakukan oleh menteri dan menteri yang bertanggung jawab di bidang pendidikan nasional sesuai dengan kewenangannya. Pada ayat (2) pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah mengarahkan, membimbing, mengawasi, dan membantu penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian pada ayat (3) masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan pelayaran.

Pasal 265 menyebutkan bahwa pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Namun ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran tersebut belum dituangkan dalam peraturan yang lebih operasional. Solusinya adalah dengan membuat payung hukum yang bisa menguatkan kemitraan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Bentuknya adalah Surat Keputusan Bersama antara Menteri Perhubungan dengan Menteri Dalam Negeri atau dengan Keputusan Presiden. Payung hukum tersebut memuat tanggungjawab pembentukan, pelaporan dan anggaran pembiayaannya. Dengan model kemitraan ini maka kuantitas dan kualitas pelaut di Indonesia bisa ditingkatkan.

(32)

F. MODEL KEMITRAAN PERUSAHAAN TERKAIT PERUSAHAAN LEPAS

Penyelenggaraan Diklat Kepelautan tidak bisa lepas dari tanggungjawab masyarakat, termasuk dunia bisnis yang melingkupinya. Data lapangan menunjukkan bahwa Diklat Kepelautan yang diselenggarakan masyarakat kesulitan dalam pembiayaan operasinya terlebih dalam penyediaan tempat praktek bagi tarunanya.

Pada UU Nomor 17 / 2008 pasal 266 mengamanatkan kepada perusahaan terutama perusahaan terkait industri pelayaran sebagai berikut :

Perusahaan angkutan di perairan wajib menyediakan fasilitas praktik berlayar di kapal untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang angkutan perairan (ayat 1). Perusahaan angkutan di perairan, Badan Usaha Pelabuhan, dan instansi terkait wajib menyediakan fasilitas praktik di pelabuhan atau di lokasi kegiatannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pelayaran (ayat 2). Dalam hal ini maka PT. Pelindo, perusahaan ekspor-impor, perusahaan depo peti kemas dan perusahaan penunjang industri maritim lainnya juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab sosialnya kepada Diklat Kepelautan.

Perusahaan angkutan di perairan, organisasi, dan badan usaha yang mendapatkan manfaat atas jasa profesi pelaut wajib memberikan kontribusi untuk menunjang tersedianya tenaga pelaut yang andal (ayat 3). Selanjutnya kontribusinya (ayat 4) berupa : memberikan beasiswa pendidikan, membangun lembaga pendidikan sesuai dengan standar internasional, melakukan kerja sama dengan lembaga pendidikan yang ada, dan/atau mengadakan perangkat simulator, buku pelajaran, dan terbitan maritim yang mutakhir. Perusahaan pelayaran / INSA bisa memberikan bantuan berupa pinjaman untuk biaya studi, kemudian setelah selesai dan telah bekerja, pengembalian dilaksanakan dengan mengangsur melalui pemotongan gaji, atau dapat pula dengan cara memberikan bea siswa untuk kemudian dipekerjakan pada perusahaan yang bersangkutan.

Regulasi ini sudah sangat jelas mengatur peran perusahaan terkait dalam kiprah penyelenggaraan Diklat Kepelautan. Kesulitannya karena belum ada aturan yang dapat mengoperasikan undang–undang tersebut, sehingga solusinya adalah menyusun peraturan lebih rendah yang dapat dioperasikan secara teknis. Dengan aturan tersebut maka kemitraan perusahaan terkait dengan Diklat Kepelautan dapat direalisir.

Sedangkan bagi perusahaan umum yang tidak terkait dengan Diklat Kepelautan dapat merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia

(33)

Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Tanggungjawab sosial perusahaan dapat ditelusuri pada pasal 74 sebagai berikut :

Ayat (1) menyebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan / atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ayat (2) mengamanatkan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Kemudian ayat (3) memberi ketentuan bahwa perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Mengenai tanggungjawab sosial ini ayat (4) memberikan upaya tindak lanjut dengan peraturan pemerintah.

Lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2012 tentang Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas, pasal 2 menegaskan bahwa setiap perseroan selaku subjek hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Kemudian pasal 3 ayat (1 sd.2), disebutkan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 menjadi kewajiban bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam berdasarkan undang-undang. Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan baik di dalam maupun di luar lingkungan.

Di Indonesia sebenarnya banyak perusahaan besar dan mampu, namun kepedulian pada Diklat Kepelautan perlu ditumbuhkan dengan peran aktif diklat tersebut. Pada pasal 5 ayat (1) mengamanatkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, dalam menyusun dan menetapkan rencana kegiatan dan anggaran sebagaimana dimaksud dalam harus memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

Dengan undang-undang dan peraturan pemerintah ini kiranya jelas bahwa peningkatan kualitas tenaga pelaut yang dididik melalui Diklat Kepelautan dapat ditingkatkan melalui peranserta perusahaan-perusahaan umum. Misalnya Pertamina, perusahaan perbankan, Perusahaan Gas Negara, Aneka Tambang dan perusahaan lainnya. Sebab bagi perusahaan yang tidak melaksanakan tanggungjawab ini dikenai sanksi sebagaimana pasal 7, perseroan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 yang tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Gambar

Gambar 5.2. Siklus Penjaminan Mutu Lembaga Pendidikan
Gambar 5.3. Flowchart Proses Diklat Kepelautan  (Sumber : Hasil olahan Konsultan, 2013)
Gambar 5.4. Time Line KKNI Strata Pendidikan
Gambar 5.5.  Akuntabilitas Penyelenggaraan Pendidikan Melalui  Penyetaraan Jenis dan Strata Pendidikan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Ahli isi menyatakan bahwa isi video “English Kuy!” episode 1: “Greeting and Hospitality” sesuai dengan tujuan pembelajaran, pengiriman materi baik, presentasi materi sangat baik,

Alhamdulillah segala Puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah Nya sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah

McNeil Strokes : perjanjian Lump Sum dimana pengguna jasa dan penyedia jasa sepakat pada suatu jumlah pasti yang harus dibayar oleh pengguna jasa kepada

3 CV Putro Sido Biso Kantor/Lokasi Kegiatan: Jln Raya Margasar Jatibarang Desa Karangdawa RT 01/01 Kec Margasari Kab Tegal Jawa Tengah Tel/Fax.0283) 465083 Industri Pembakaran

Kajian yang dijalankan ini telah menggunakan pendekatan sikap dalam menentukan tahap, potensi dan bakat (kebolehan) keusahawanan dalam kalangan usahawan belia Bumiputera

Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan semua tahap proses keperawatan harus dievaluasi. Hasil asuhan keperawatan dengan sesuai dengan tujuan yang telah di

Hitunglah volume benda putar yang terjadi jika daerah yang dibatasi oleh dua kurva diputar sejauh 360  mengelilingi sumbu koordinat yang

This conclusion can be used for solving the drawback of the convergence of Newton method since for most non convex function, Newton method will fail to obtain the closest solution