BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian. Beras mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan petani,

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Penelitian

Beras mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan petani, baik sebagai produsen maupun konsumen, terutama di negeri penanam padi (Huggan 1995). Beras merupakan bahan makanan pokok untuk lebih dari 2,4 miliar orang di Asia dan ratusan juta orang di Afrika dan Arnerika Latin (Heinrichs 1994, Lampe 1995). Pada pertengahan abad mendatang penduduk dunia konsumen beras diperkirakan akan bertambah hingga 4.6 milyar (Lampe 1995). Populasi konsumen beras bertambah kira-kira 2 % setiap tahunnya, sedangkan pertambahan produksi hanya bertambah 1.2 O h

(Khush 1995).

Di Indonesia beras merupakan bahan makanan pokok penting yang berperan strategis karena sebagian besar penduduk menganggap beras menentukan status sosial dalarn organisasi masyarakat. Kebutuhan beras terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, untuk mencukupi kebutuhan dalarn negeri maka dalam beberapa tahun terakhir ini telah dilakukan impor lebih kurang 2 juta ton setiap tahun ( B P S 1998).

Dalam usaha meningkatkan produksi padi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, hama dan penyakit rnerupakan faktor penting yang membatasi produksi. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengendalikan hama terutarna hama wereng coklat seperti penggunaan insektisida yang pada akhirnya menyebabkan berbagai dampak yang merugikan lingkungan. Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah konsep pengendalian yang paling

(2)

tepat untuk diterapkan dalam upaya pengendalian hama dan penyakit tanaman padi, yang disesuaikan dengan kondisi ljngkungan dan sosial budaya setempat (Oka 1995).

Hama dan penyakit dapat dipandang sebagai resultante gangguan ekologis yang mencerminkan ,gejala kerapuhan suatu ekosistem. Kerapuhan ini muncul karena adanya pengenceran musuh alami, sebagai akibat sempitnya ragam musuh alami atau rendahnya populasi musuh alami. OIeh karena itu, salah satu pendekatan dalam PHT adalah upaya memaksimumkan keefektifan peran musuh alami. PHT merupakan upaya penghimpunan sumberdaya dari dalam agroekosistem, baik untuk memberdayakan musuh alami maupun cara bercocok tanam yang mampu menangkal dan mengekang perkembangan hama dan penyakit (Rauf 1994, 1996, Rauf

et

a/.

1994, Triwidodo & Rauf 1994). Bertarnbahnya pemahaman ekosistem dan interaksi keragaman hayati pada tiga jenjang trofik yaitu padi, hama dan musuh alami adalah dasar prognostik untuk mengantisipasi meledaknya hama (Andow 1991, Hossain 1995).

Ekosistem padi sawah terdiri dari berbagai kelompok komunitas yang sating berinteraksi. Komunitas artropoda urnurnnya terdiri dar/ banyak kelompok populasi yang mempunyai peranan penting dalam ekosistern itu. Serangga dan laba-laba merupakan kelompok artropoda yang rnendominasi ekosistem padi sawah. Berdasarkan peranannya dalarn ekosistem padi maka artropoda tersebut dapat dibedakan dalam ernpat kelompok

guild

yaitu pemakan tumbuhan, predator, parasitoid dan artropoda lainnya termasuk pemakan bahan organik mati dan pengunjung sementara (Cheng 1995, Hung & Lan 1995, Settle et

at.

1996).

(3)

Laba-laba secara umum telah dikenal sebagai predator terhadap banyak jenis serangga. Riechert & Lockley (1984) menyatakan bahwa laba- laba adalah agens pengendalian hayati yang potensial bagi banyak jenis serangga hama. Banyak jenis laba-laba yang sudah diketahui sebagai predator umum yang dapat memangsa berbagai jenis dan stadia serangga hama yang perlu dipertimbangkan dalam pengendalian hama. Dicko (1998) melaporkan bahwa laba-laba adalah predator serangga hama yang paling tinggi populasinya pada tanaman sorgum dan kacang tanah di Burkinafaso, Afrika. Nyffeler & Benz (1 988) menyatakan laba-laba serigala, Pardosa spp. (Lycosidae), adalah predator umum terhadap artropoda kecil yang bertubuh lunak pada tanaman gandum. Sterling, Dean & Abd. El-salam (1992) menyatakan bahwa laba-laba merupakan predator penting terhadap wereng kapas Pseudatomoscelis seriatus (Reuter) di Texas Timur. Nyffeler, Dean & Sterling (1 987) menyebut Oxyopes salticus (Hentz.) sebagai predator umurn hama maupun bukan hama pada tanaman kapas sepert~ wereng, kutudaun, jenis-jenis Diptera, kepik Geocoris, larva Chrysopa serta laba-laba lainnya. Jackson & Pollard (1996) menyebut beberapa genus penting laba-laba pelompat (farnili Salticidae) seperti Phidippus audax (Hentz). Myrmarachne spp. dan Portia spp. sebagai predator urnum dalam ekosistem pertanian.

Hasil penelitian tentang spesies-spesies laba-laba yang terdapat pada ekosistem padi di beberapa negeri terutama di Asia, telah dilaporkan antara lain dari Filipina (Barrion 1980, Heong, Aquino & Barrion 1991), Korea (Okurna, Lee & Hokyo 1972), dan China (Cheng 1995). Di Indonesia sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian secara intensif tentang fauna laba-laba pada tanaman padi. Suwei yang pernah dilakukan hanya terbatas

(4)

pada beberapa areal persawahan di Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah (Barrion & Litsinger 1995).

Laba-laba adalah kelompok artropoda yang melimpah pada

pertanaman padi dan rnemangsa berbagai spesies serangga hama

(Barrion 1980, IRRl 1977, 1978). Laba-laba dapat dikonservasi dan

diaugmentasi untuk rnengendalikan populasi banyak jenis serangga hama tanaman (Kamal, Odud & Begum 1990). Pardosa pseudoannulafa Boes. & Str. adalah salah satu spesies yang sangat potensial untuk pengendalian berbagai spesies serangga harna pada pertanaman padi. Rubia, Almazan &

Heong (1990) menyatakan bahwa

P.

pseudoannulafa mernangsa berbagai

jenis serangga seperti wereng hijau, wereng cokelat, penggerek batang padi kuning, jenis-jenis Collernbola dan Diptera serta serangga predator seperti Cyrtorhinus ljvjdipennis Reuter. Kumar, Singh & Pandey (1 996) rnelaporkan

bahwa P. pseudoannulata berperan penting terhadap dinamika populasi

hama putih palsu, Cnaphalocrosis medinalis Guen.

Kehadiran laba-laba pada suatu ekosistern pertanian dapat terjadi karena laba-laba tersebut rnernencar secara pasif melafui udara dalam jarak dekat sampai jauh dari habitat sekitarnya dengan cara melayang dan pergerakan secara aktif seperti berjalan di atas permukaan tanah (Bishop & Riechert 1990)

Laba-iaba dikenal sebagai predator urnum terhadap berbagai serangga pada ekosistern alami dan pertanian. Sepert~ halnya dengan mahluk lainnya, laba-laba dalam pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik fisik maupun biotik dan sifat individu (Berryman 1981). Daerah persawahan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya

(5)

lingkungannya sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penting seperti ketersediaan air terutama pada musim kemarau dan letak persawahan khususnya dari aspek jarak dari saluran irigasi. Oleh karena faktor-faktor tersebut maka petani melakukan beberapa pola tanarn yang berbeda seperti padi - padi - padi, padi - padi - kedelai, dan padi - padi - bera. Keragaman lingkungan sekitar persawahan dan pengelolaan sawah yang berbeda diduga turut rnempengaruhi keberadaan dan keragaman artropoda seperti laba-laba yang hidup dan berkembang pada ekosistem tersebut.

Keragaman ekosistem diduga turut berperan menentukan keragaman spesies dan dominansi spesies laba-laba tertentu. Hal tersebut mungkin dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan peranan laba-laba sebagai agens pengendalian hama. Dalam rangka mengoptirnalkan peranan laba- laba sebagai agens pengendalian hayati terhadap beragam spesies hama pada pertanaman padi dan penyempurnaan sistem pengendalian hayati pada tanaman padi, diperlukan banyak informasi biologi dan ekologi laba- laba. Untuk itu penelitian diarahkan pada berbagai aspek ekologi yang diharapkan dapat dimodifikasi sedemikian rupa untuk memaksimalkan peran laba-laba terutama yang potensial sebagai agens pengendalian hayati terhadap serangga harna pada pertanarnan padi. Penetitian terdiri dari studi kornunitas dan keragaman spesies laba-laba pada beberapa ekosistem padi, kolonisasi pertanaman padi oleh laba-laba, perkembangan populasi laba- laba serigala,

P.

pseudoannulata,

dan pemangsaan laba-laba tersebut terhadap serangga hama di pertanaman padi. Pengetahuan tersebut merupakan informasi penting yang menunjang konservasi laba-laba yang

(6)

selama ini diabaikan, dan akan sangat bermanfaat untuk upaya pengendalian secara hayati hama tanaman padi dalam program PHT.

Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan urituk mernahami sejauh mana faktor ekologi mempengaruhi peran laba-laba terutama

P.

pseudoannulata sebagai predator terhadap serangga hama di pertanarnan padi.

Adapun tujuan khusus berdasarkan pada topik-topik penelitian adalah : (1) rnemahami struktur komunitas laba-laba pada empat tipe ekosistem pertanarnan padi yaitu pola tanam yaitu padi - padi

-

padi dengan pengelolaan teknis, padi

-

padi - padi dengan pengelolaan tradisional, padi

-

padi

-

kedelai dan padi - padj - bera.

(2) memahami cara invasi, sumber dan proses kolonisasi laba-laba di pertanaman padi.

(3) memahami perkernbangan populasi laba-laba serigala, P.

pseudoannulafa di persemaian dan pertanarnan padi.

(4) memahami jenis mangsa, ruang jelajah, perilaku dan potensi pemangsaan oleh laba-laba P. pseudoannulafa terhadap serangga harna.

(7)

Manfaat Penelitian

Penelitian tentang komunitas laba-laba pada ekosistern padi akan memberikan informasi tentang struktur komunitas dan keragaman spesies laba-laba di pertanaman padi. Keanekaragaman lingkungan fisik dan biotik yang berbeda pada empat tipe ekosistem padi yang disebutkan di Tujuan Penelitian akan berpengaruh terhadap perikehidupan laba-laba. Dengan informasi yang lebih rinci tentang pengaruh faktor-faktor tersebut, diharapkan faktor-faktor itu dapat dimodifikasi untuk mengoptimalkan peran laba-laba sebagai pengendali hama padi. Pemahaman tentang kolonisasi laba-laba di pertanaman padi memberikan informasi cara invasi laba-laba pemburu dan pembuat jaring baik yang terpencar melalui udara maupun aktif berjalan di atas permukaan tanah, sumber dan proses kolonisasi laba-laba di pertanaman padi. Pemahaman perkembangan populasi dapat mernber~kan informasi tentang hubungan perkembangan populasi P. pseudoannulata

dengan perkembangan populasi hama wereng dan pertumbuhan tanarnan padi. Data pemangsaan oleh P. pseudoannulata memberikan informasi kemampuan pemangsaan terhadap serangga terutama serangga hama yang dimangsa dalam kondisi lapang. Informasi-inforrnasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dalam rangka penyempurnaan teknik pengendalian hama tanaman padi secara terpadu.

(8)

Daftar Pustaka

Andow, D. A. 1991. Vegetational diversity and arthropod population

response. Annu. Rev. Entomol. 36 : 561 - 586.

Barrion, A. T. 1980. The spider fauna of Philippine dryland and wetland rice agroecosystems. Faculty of the Graduate School, University of the Philippine at Los Banos:Thesis. 580 p.

Barrion, A. T. & J. A. Litsinger. 1995. Riceiand spider of South and Southeast Asia. lnternational Rice Research Institute. Manila. CAB

International. 716 p.

Berryman, A. 1981. Population systems : A general introduction. Plenum

Press. New York. 222p.

Biro Pusat Statistik (BPS). ?998. Buletin Ringkas BPS. Jakarta.

Bishop, L. & S. E. Riechert. 1990. Spider colonization of agroecosystern : Mode and source. Environ. Entomol. 19 (16) : 1738

- 1745.

Cheng, J. 1995. Arthropod community structures in rice ecosystem of

China. Paper presented at the Workshop on Sustainable IPM in

Tropical Rice, Bogor. Indonesia. 5

- 7 December 1995. 15 p.

Dicko, I. 0. 1998. Indigenous knowledge of pest and beneficial arthropods fauna on sorghum and groundnut in Burkinafaso. lnternational Arachis Newsletter. 18 : 24 - 27.

Heinrichs, E. A. 1994. Rice. in E. A. Heinrichs (ed). Biology and

management of rice insect. Publishing for One World Wiley Eastern

Limited, New Age International Limited. pp ? - 12.

Heong, K. L., G. B. Aquino & A. T. Barrion. 1991. Arthropod community structures of rice ecosystems in the Philippines. Bull. Entomol. Res. 81 : 407- 41 6.

Hossain, M. 1995. Rice research for food security and sustainable

agricultural development in Asia : Achievements and future challenges. Geo-Journal 35 (3) : 286 - 298.

Huggan, R. D. 1995. Co-evolution of rice and human. Geo-Journal 35 (3) : 262 - 265.

(9)

Hung. N. Q & L. P. Lan. 1995. Progress study on the arthropod community of rice ecosystem in the Mekong Delta, Vietnam. Paper presented at the Workshop on Sustainable IPM in Tropical Rice, Bogor, Indonesia. 5 - 7 December 1995. 29 p.

International Rice Research Institute. 1978. Annual Report

for

1977. Los Banos, Philippines. 548 p.

International Rice Research Institute. 1979. Annual Report for 1978. Los Banos, Philippines. 478 p.

Jackson, R. R. & S.

D.

Pollard. 1996. Predatory of jumping spiders. Annu. Rev. Entomol. 41 : 795 - 308.

Karnal, N. Q., A. Odud & A. Begum. 1990. The spider fauna in and around the Bangladesh Rice Research Institute farm and their role as predator of rice insect pest. Philipp. Entomol. 8(2) : 771 -777.

Khush, G. S. 1995. Modern varieties - their real contribution to food supply and equity. Geo-Journal 35 (3) : 275 - 284.

Kumar,

P.,

R. Singh & S. K. Pandey. 1996. Population dynamics of leaf folder, Cnaphalocrosis medinalis Guen., in relation to stage of the crop, weather factors and predatory spiders. J. Entomol. Res. 20 (3) : 205 - 21 0.

Lampe, K. 1995. Rice research : Food for 4 billion people. Geo-Journal 35

(3) : 253

- 259.

Nyffeler, M., D. A. Dean & W. L. Sterling. ?987. Evaluation of the importance of the striped lynx spider. Oxyopes salticus (Araneae, Oxyopidae) as a predator in Texas Cotton. Environ. Entomol. 16(5) : 1114- 1123.

Nyffeler. M. & G. Benz. 1988. Feeding ecology and predatory importance of wolf spiders (Pardosa spp.) (Araneae, Lycosidae) in winter wheat fields. J. Appl. Entomol. 106 : 123 - 134.

Oka. I. N. 1995. Pengendalian hama terpadu dan implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 255 h.

(10)

Okuma, C.. M. H. Lee & N. Hokyo. 1978. Fauna of spiders in a paddy fields in Suweon, Korea. Esakia 11 : 8f -

88.

Rauf, A. 1994. Pengendalian hama terpadu : Back to basic. Makalah disampaikan dalam Seminar Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman, Bogor, 3 Desember 1994.

Rauf, A. 1996. Analisis ekosistem dalam pengendatian hama terpadu. Materi Pelatihan Peramalan Hama dan Penyakit Tanaman Padi dan Palawija Tingkat Nasional. Jatisari 2 - 19 Januari 1996.

Rauf, A., T. Marse & N. K. Hutagalung. 1994. Pengendalian hama terpadu : Kasus sekolah lapang di Jawa Barat. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pengembangan Keterkaitan Kelembagaan Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Agribisnis, Bogor. 20 September 1994.

Riechert, S. E. & T. Lockley. 1984. Spiders as biological control agents. Annu. Rev. Entomol. 29 : 299 - 320.

Rubia, E. G., L. P. Almazan & K. L. Heong. 1990. Predation of yellow stem borer (YSB) moths by wolf spider. IRRN. 15

(5).

Settle, W. H., H. Ariawan, E. T. Astuti, W. Cahyana, A. L. Hakim. D. Hindayana, A. S. Lestari, Sartanto & Pajarningsih. 1996. Managing tropical rice pests through conservation of generalist natural enemies and alternative prey. Ecology 77 (7) : 1975

- 1988.

Sterling, W. L., A. Dean & N. M. Abd. El-Salam. 1992. Economic benefits of spiders (Araneae) and insect (Hemiptera : Miridae) predators of cotton fleahoppers. J. Econ. Entomot. 85

( 7 )

52 - 57.

Triwidodo, H. & A. Rauf. 1996. Pengendalian hama terpadu : Back to basics. Makalah disampaikan pada Seminar lkatan Sosiologi Indonesia Cabang Bogor dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor, 9 Mei 1996.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :