Model Pembelajaran Problem Based Learning

59  56  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM

BASED LEARNING

Penulis Rica Yanuarti

Penyunting Irfana Steviano

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

(2)
(3)

DAFTAR ISI

Pendahuluan

A. Latar Belakang B. Tujuan

C. Ruang Lingkup

D. Cara Penggunaan Modul

Kegiatan Pembelajaran 1 Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

A. Tujuan

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

C. Uraian Materi dan Aktivitas Pembelajaran D. Latihan

E. Rangkuman

F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Kegiatan Pembelajaran 2 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

A. Tujuan

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

C. Uraian Materi dan Aktivitas Pembelajaran D. Latihan

E. Rangkuman

F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Penutup

(4)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menjadi guru di era modern dengan beragam perkembangan teknologi (termasuk teknologi informasi dan komunikasi atau TIK) seperti sekarang ini dapat dikatakan sebagai berkah karena banyak kemudahan yang dapat Anda manfaatkan melalui penggunaan TIK untuk pendidikan. Namun ternyata ada sisi lain yang perlu Anda pikirkan lebih lanjut mengenai keterkaitan TIK dengan pembelajaran. Peserta didik Anda adalah generasi yang lebih akrab dan lebih siap dengan penggunaan TIK, maka Anda sebagai guru dituntut untuk mampu mendampingi peserta didik Anda dalam belajar dengan TIK. Mau tidak mau, Anda harus mengerti perkembangan zaman termasuk TIK, terutama untuk meminimalisir dampak negatif dari arus perkembangan yang ada.

Di dalam era modern pula, terjadi pergeseran-pergeseran paradigma pendidikan yang salah satunya adalah perubahan dari teacher centered learning menjadi student centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik bukan hanya objek pembelajaran tapi harus terlibat secara aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak hanya transfer ilmu dari guru ke peserta didik. Era globalisasi serta perkembangan teknologi TIK telah menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Batasan wilayah, bahasa dan budaya yang semakin tipis, serta akses informasi yang semakin mudah menyebabkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperoleh seseorang menjadi cepat usang. Persaingan yang semakin tajam akibat globalisasi serta kondisi perekonomian yang mengalami banyak kesulitan, terutama di Indonesia, membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif, memiliki jiwa enterpreneur serta kepemimpinan. Pendidikan yang menekankan hanya pada proses transfer ilmu pengetahuan tidak lagi relevan, karena hanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan masa lampau, tanpa dapat mengadaptasinya dengan kebutuhan masa kini dan masa depan.

(5)

jawabannya adalah tidak. Tugas dan peran Anda sebagai guru di dalam proses pembelajaran hanya mengalami pergeseran dan perubahan. Anda adalah fasilitator dalam mengaktivasi belajar peserta didik. Kehadiran TIK untuk pendidikan seharusnya dapat membantu tugas-tugas Anda sebagai guru. Apalagi ditambah dengan tantangan zaman dan permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik berbeda dengan yang dihadapi oleh generasi Anda. Maka salah tugas Anda adalah mempersiapkan peserta didik untuk siap menghadapi tantangan dan memecahkan permasalahan pada masanya.

Sesuai dengan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Secara garis besar permen tersebut berisi 4 kompetensi inti guru yaitu: kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Sebagai guru, Anda harus selalu meningkatkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan pendidikan. Perlu dilakukan penyesuaian antara metode pembelajaran yang dilakukan dengan kebutuhan serta permasalahan yang ada sehingga hasil dari proses pembelajaran tersebut efektif dan memberikan dampak yang positiif. Peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan melalui pelatihan atau bimbingan teknis dengan materi pelatihan yang beragam terkait pembelajaran.

Pelatihan peningkatan kompetensi guru dilakukan secara konvensional melalui pelatihan tatap muka, maupun dengan cara pelatihan dalam jaringan (daring atau online). Materi dalam pelatihan daring untuk guru tidak hanya berisi materi mengenai TIK itu sendiri, tapi tetap beragam termasuk mengenai metode pembelajaran. TIK di dalam pelatihan daring dijadikan sebagai sarana dalam pelatihan sehingga ada dua keuntungan yang diperoleh oleh guru peserta pelatihan yaitu memperoleh materi pelatihan, dan memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan TIK dalam diklat sehingga kompetensi terkait substansi dan kompetensi TIK dapat berekskalasi.

(6)

penanggungjawab TIK untuk pendidikan nasional, maka materi pelatihan tetap terkait dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Di dalam modul ini, Anda akan mempelajari metode pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan unsur pemanfaatan TIK di dalam strategi penerapannya.

B. Tujuan

Modul ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya guru yang sedang mengikuti program Peningkatan Kompetensi TIK Guru secara Online. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda memiliki kompentensi sebagai berikut:

1. Menjelaskan konsep pembelajaran berbasis masalah 2. Merancang strategi pembelajaran berbasis masalah di kelas

C. Ruang Lingkup

Modul ini berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning”. Yang menjadi fokus pembahasan adalah mengenai konsep dan

gambaran umum pembelajaran masa kini yang berpusat pada peserta didik guna menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ruang lingkup materi yang akan dibahas di dalam modul ini dibagi ke dalam 2 (dua) Kegiatan Belajar, yaitu (1) Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah, dan (2) Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan memiliki pemahaman yang sama mengenai prinsip terkait pembelajaran berbasis masalah, aturan dan tatacara dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah.

D. Cara Penggunaan Modul

Pertama, Anda disarankan untuk mempelajari modul ini secara bertahap dan mandiri, yaitu mulailah dari materi pembelajaran yang disajikan pada Kegiatan Belajar-1.

(7)

pembelajaran yang disajikan pada Kegiatan Belajar-2. Kerjakanlah semua soal latihan yang disediakan.

Setelah Anda berhasil menjawab soal-soal latihan yang tersedia di bagian akhir Kegiatan Belajar-2 80% benar, maka barulah Anda dikatakan telah memahami sebagian besar atau keseluruhan materi pembelajaran yang diuraikan pada Kegiatan Belajar-2. Sebagai tindak lanjut dari keberhasilan Anda mengerjakan 80% benar soal-soal latihan, Anda diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal-soal atau Tes Akhir Modul (TAM).

Di dalam modul ini tersedia beberapa soal latihan dan hendaknya semua soal latihan ini Anda kerjakan. Dengan mengerjakan semua soal latihan yang ada diharapkan Anda akan dapat menilai sendiri tingkat penguasaan atau pemahaman Anda terhadap materi yang terdapat di dalam modul ini. Keuntungan lainnya dari mengerjakan semua soal latihan adalah bahwa Anda dapat mengetahui bagian-bagian mana dari materi yang disajikan di dalam modul ini yang masih belum sepenuhnya Anda pahami.

(8)

Kegiatan Pembelajaran-1

Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah

(

Problem Based Learning)

A. Tujuan

Setelah selesai mempelajari materi yang disajikan di dalam kegiatan pembelajaran-1 ini, diharapkan Anda dapat menjelaskan tentang konsep terkait student centered learning dalam pembelajaran berbasis masalah, gambaran umum pembelajaran berbasis masalah, serta prinsip yang terkandung di dalam pembelajaran berbasis masalah.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah Anda mempelajari dalam kegiatan pembelajaran-1 ini diharapkan dapat:

1. menjelaskan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik 2. menjelaskan konsep pembelajaran berbasis masalah

3. mengidentifikasi karakteristik pembelajaran berbasis masalah

C. Uraian Materi

(9)

Gambar 1.1 – Contoh kerja kelompok, pembelajaran mandiri bentuk student centered learning (sumber: www.edutopia.org)

Sebelum Anda mempelajari pembelajaran berbasis masalah untuk kelas Anda, perlu Anda pahami bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu bentuk model pengejawantahan student-centered learning.

Pembelajaran Berpusat Pada Peserta Didik (Student-centered Learning) Dalam pendidikan abad 21 ini disebutkan bahwa dalam pengembangan pendidikan seumur hidup harus berlandaskan pada 4 pilar (UNESCO, 1996):

1. Belajar Mengetahui (learning to know)

(10)

sekedar memperoleh informasi. Peserta didik bukan hanya disiapkan untuk dapat menjawab permasalahan dalam jangka pendek, tetapi untuk mendorong mereka untuk memahami, mengembangkan rasa ingin tahu intelektual, merangsang pikiran kritis serta kemampuan mengambil keputusan secara mandiri, agar dapat menjadi bekal sepanjang hidup. Belajar jenis ini dapat dilakukan melalui kesempatan-kesempatan berdiskusi, melakukan percobaan-percobaan di laboratorium, menghadiri pertemuan ilmiah serta kegiatan ekstrakurikuler atau berorganisasi.

2. Belajar Berbuat (learning to do)

berisi proses memberi kesempatan kepada peserta didik untuk tidak hanya memperoleh ketrampilan kerja, tetapi juga memperoleh kompentensi untuk menghadapi berbagai situasi serta kemampuan bekerja dalam tim, berkomunikasi, serta menangani dan menyelesaikan masalah dan perselisihan. Termasuk didalam pengertian ini adalah kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam bersosialisasi maupun bekerja di luar kurikulum seperti magang kerja, aktivitas pengabdian masyarakat, berorganisasi serta mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah dalam konteks lokal maupun nasional, ataupun dikaitkan dengan program belajar seperti praktek kerja lapangan, kuliah kerja nyata atau melakukan penelitian bersama.

3. Belajar Hidup Bersama (learning to live together)

meliputi upaya mengembangkan pengertian atas diri orang lain dengan cara mengenali diri sendiri serta menghargai ke-saling-tergantung-an, melaksanakan proyek bersama dan belajar mengatasi konflik dengan semangat menghargai nilai pluralitas, saling-mengerti dan perdamaian. Kesempatan untuk menjalin hubungan antara pendidik dan peserta didik, dorongan dan penyediaan waktu yang cukup untuk memberi kesempatan bekerjasama dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya, olahraga, serta keterlibatan dalam organisasi sosial maupun profesi diluar kampus.

4. Belajar menjadi seseorang (learning to life)

(11)

jawab. Dalam hal ini pendidikan tak bisa mengabaikan satu aspek pun dari potensi seseorang seperti ingatan, akal sehat, estetika, kemampuan fisik serta ketrampilan berkomunikasi. Telah banyak diakui bahwa sistem pendidikan formal saat ini cenderung untuk memberi tekanan pada penguasaan ilmu pengetahuan saja yang akhirnya merusak bentuk belajar yang lain. Kini telah tiba saatnya untuk memikirkan bentuk pendidikan secara menyeluruh, yang dapat menggiring terjadinya perubahan–perubahan kebijakan pendidikan di masa akan datang, dalam kaitan dengan isi maupun metode.

Gambar 1.2 – Ilustrasi Globalisasi dan dampaknya (sumber: www.slideshare.net)

(12)

Indonesia, membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif, memiliki jiwa enterpreneur serta kepemimpinan. Pendidikan yang menekankan hanya pada proses transfer ilmu pengetahuan tidak lagi relevan, karena hanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan masa lampau, tanpa dapat mengadaptasinya dengan kebutuhan masa kini dan masa depan. Dapat dikatakan bahwa permasalahan yang dihadapi peserta didik akan lebih kompleks dari permasalahan yang dihadapi generasi sebelumnya. Tantangan lebih besar, namun juga peluang untuk mengatasinya lebih beragam. Karena itulah metode pendidikan perlu mengalami penyesuaian dengan kondisi zaman.

Student-centered learning, yang menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menjanjikan model belajar yang menggali motivasi intrinsik untuk membangun masyarakat yang suka dan selalu belajar. Model belajar ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan masyarakat seperti kreativitas, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim keahlian teknis, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. Belajar dilakukan dalam berbagai cara, yaitu melihat dan mendengar, bekerja sendiri maupun dalam kelompok, memberikan alasan secara logis dan intuitif, serta mengingat, memvisualisasi dan memodelkannya. Proses belajar akan optimal jika pemelajar berperan aktif. Setidaknya ketika peserta didik berpartisipasi dalam diskusi atau ketika mereka menyampaikan materi pada temannya, 70% dari seluruh materi belajar akan diingat.

(13)

dalam hal ini adalah sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mandiri peserta didik.

Dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, beberapa hal yang dikembangkan antara lain:

1. Keterampilan belajar (learning how to learn skill).

2. Keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti berpikir kritis, reflektif, kreatif, analitis dalam menyelesaikan masalah.

3. Keterampilan bekerjasama dalam tim. 4. Keterampilan komunikasi yang efektif.

Beberapa metode pembelajaran dengan pendekatan student-centered ini diantaranya adalah Problem Based Learning, Collaborative Learning, Project Based Learning, dan Cooperative Learning. Semuanya adalah metode belajar aktif. Cara belajar aktif ini memiliki kelebihan diantaranya adalah mahapeserta didik mempelajari materi lebih banyak, memperoleh informasi lebih banyak, kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan, dan memungkinkan peserta didik dari temannya selain dari guru.

Dapat dipahami bahwa student-centered learning adalah suatu model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses belajar. Dalam menerapkan konsep student-centered learning, peserta didik diharapkan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya.

(14)

ketrampilan Learn how to learn seperti problem solving, berpikir kritis dan reflektif serta ketrampilan untuk bekerja dalam tim.

Evaluasi yang dilakukan seharusnya bukanlah merupakan evaluasi standar yang berlaku untuk seluruh peserta didik, tetapi lebih bersifat individu sepanjang proses belajar dilakukan. Pembuatan portfolio bagi peserta didik merupakan salah satu bentuk evaluasi sepanjang proses belajar.

Hal-hal yang Perlu dipersiapkan dalam Student Centered Learning, antara lain:

1. Perubahan Sikap dan Peranan Guru

Dalam konsep

belajar

Instructor-Centered Learning, guru memainkan peranan

utama dalam

(15)

didik untuk menggali persoalan, mencari sumber jawaban, menyatakan pendapat serta membangun pengetahuan sendiri. Dalam perubahan peranan ini, dibutuhkan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi serta keterbukaan dari pendidik untuk dapat menjalin hubungan secara individu, untuk dapat mengerti serta mengikuti perkembangan dari masing-masing peserta didik, disamping tentunya wawasan yang luas dalam mengarahkan peserta didik ke sumber-sumber belajar yang dapat digali. Hati dan ilmu menjadi tuntutan bagi pendidik dalam menerapkan konsep student-centered learning.

2. Perubahan Metode Belajar

(16)

belajar cara untuk belajar, bukan hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan sebagainya.

3. Akses ke Berbagai Sumber Belajar

Untuk menunjang metode belajar yang memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali

permasalahan, serta menggali informasi sebanyak mungkin secara mandiri, akses informasi tidak boleh lagi dibatasi hanya pada guru, buku wajib serta perpustakaan lokal saja. Peserta didik perlu ditunjang dengan akses tanpa batas ke berbagai sumber informasi, antara lain industri, organisasi sosial maupun profesi, media massa, para ahli dalam bidang masing-masing, bahkan dari masyarakat, keluarga maupun sesama peserta didik. Perkembangan TIK bahkan memungkinkan tersedianya akses ke berbagai informasi global ke seluruh dunia, melalui akses ke perpustakaan maya, museum maya, pangkalan-pangkalan data di web, atau bahkan kemungkinan untuk dapat berhubungan langsung dengan para ahli internasional.

4. Penyediaan Infrastruktur Yang Menunjang

Untuk mendukung perubahan serta kebutuhan yang diperlukan dalam menerapkan konsep student-centered learning secara maksimal, perlu adanya infrastruktur yang menunjang. Jaringan kerjasama antar institusi baik pendidikan sumber: http://www.cleveland.ac.uk

(17)

maupun non-pendidikan secara nasional, regional maupun internasional akan sangat mendukung terbukanya kesempatan untuk belajar di luar batasan dinding sekolah atau budaya sehingga lebih memperkaya pengertian akan perbedaan sekaligus menambah wawasan ilmu pengetahuan menjadi lebih tak terbatas. Fasilitas pendamping pendidikan seperti perpustakaan, museum sekolah, laboratorium, pusat komputer maupun layanan administrasi yang memudahkan, responsif, simpatik, serta mengacu pada kepuasan dan kebutuhan peserta didik, akan sangat mendukung terciptanya budaya student-centered learning.

Konsep Problem Based Learning

Dari penjelasan mengenai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) di atas Anda sudah mengetahui bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada aktifitas peserta didik dalam menganalisis masalah, merumuskan masalah, menghasilkan solusi pemecahan masalah tersebut, hingga menyampaikan penyelesaian masalahnya.

(18)

1. Apa yang Dimaksud dengan Problem Based Learning (PBL)?

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada masalah. Istilah berpusat berarti menjadi tema, unit, atau isi sebagai fokus utama belajar. Menurut Resnick dan Gleser dalam Gredler (1991), masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak diketahui sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang seharusnya.

Gambar 1.4 – Konsep pemetaan dalam Problem Based Learning (sumber: http://institute-of-progressive-education-and-learning.org/)

(19)

pembelajaran yang berisi aktifitas belajar peserta didik dengan fokus berupa tantangan memecahkan masalah dan jawaban-jawaban terbuka. Masalah-masalah yang muncul adalah tugas-tugas dan persoalan sesuai konteks dan kondisi sosial. Masalah tersebut harus diselesaikan secara berkelompok. Para peserta didik harus mengacu pada pengetahuan mereka untuk memecahkan masalah. Para peserta didik juga harus mengidentifikasi informasi-informasi yang mereka perlukan, serta harus merumuskan strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah.

PBL adalah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal untuk akuisisi pengetahuan baru. Agar efektif maka perlu penggunaan masalah yang memicu terjadinya belajar melalui pengalaman baru, akuisisi konten baru, dan penguatan pengetahuan yang ada. Peserta didik dapat menyesuaikan kondisi nyata keseharian mereka dengan proyeksi kemungkinan masa depan ideal yang sesuai untuk penyelesaian masalah, sehingga peserta didik terangsang untuk mencari informasi baru dan membuat sintesis dalam konteks skenario masalah. Dalam PBL, peserta didik diberi peran tertentu dalam skenario masalah yang akan meningkatkan rasa keikutsertaan mereka dalam mencari solusi.

Berikut ini adalah ilustrasi sederhana dan akrab terkait PBL dalam keseharian Anda:

1. Ingatkah Anda terakhir kali Anda perlu mengemudi ke tempat Anda belum pernah datangi?

2. Anda akan memulai proses dengan hal-hal yang sudah Anda ketahui, atau dengan pengetahuan yang Anda miliki tentang: dari mana Anda akan mulai mengemudi dan di mana tujuan Anda.

3. Anda kemudian mengidentifikasi apa yang perlu Anda ketahui agar Anda tiba di tujuan secara efektif dan efisien yaitu mengenai: nama jalan dan jalan raya, membedakan

(20)

Berdasarkan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kita dapat mempelajari sesuat yang asing dengan melibatkan pengetahuan awal yang sudah kita miliki. Setiap peserta didik memiliki pengetahuan awalnya sendiri yang dapat dijadikan acuan ketika terlibat di dalam skenario masalah (PBL) di dalam kelas.

Skenario PBL akan dipengaruhi oleh usia peserta didik, karena pengetahuan acuan anak berusia 12 tahun jelas sangat berbeda dari anak yang berusia 17 tahun. Perbedaan karakteristik peserta didik perlu diperhatikan dalam menyusun kerangka skenario PBL karena akan brhubungan dengan penentukan peran peserta didik dalam skenario masalah. Penting untuk diingat dalam menentukan masalah bahwa PBL akan efektif apabila peserta didik merasa terlibat dan dapat mengidentifikasi peran mereka dalam skenario.

2. Landasan Teori Problem Based Learning

Pembelajaran berbasis masalah mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoritisnya. Fokusnya bukan apa yang sedang dikerjakan peserta didik (perilaku peserta didik) tetapi pada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka). Dalam kegiatan pembelajaran ini, guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga peserta didik dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Melatih peserta didik berpikir, memecahkan masalah, dan menjadi pebelajar yang mandiri bukan hal baru dalam pendidikan. Berikut ini adalah beberapa aliran pemikiran abad ke duapuluh yang menjadi landasan pemikiran pembelajaran berbasis masalah:

4. Anda kemudian mengintegrasikan informasi ini dengan pengetahuan yang ada, misalnya jumlah waktu yang biasanya Anda perlukan untuk melakukan perjalanan jarak tertentu dan jenis kondisi jalan yang dapat Anda harapkan. 5. Seringkali, setelah membuat pengalaman menggunakan

(21)

a. Pemikiran John Dewey dan Kelas Demokratisnya (1916).

Menurut pandangan Dewey, sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas seharusnya menjadi laboratorium untuk penyelidikan kehidupan nyata dan pemecahan masalah. Ilmu mendidik Dewey mendorong guru untuk melibatkan peserta didik dalam proyek-proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki tentang masalah-masalah inteletual dan sosial. Dewey dan sejawatnya seperti Kilpatrick (1918), menegaskan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih bermakna dan tidak terlalu abstrak. Pembelajaran bermakna yang terbaik dapat diwujudkan dengan meminta peserta didik berada dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek-proyek pilihan yang sesuai dengan minat mereka sendiri. Pemikiran Dewey ini menjadi filosofi bagi pelaksanaan PBL

b. Pemikiran Jean Piaget (1886-1980)

Menurut Piaget, anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha memahami dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu itu memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. Ketika tumbuh semakin dewasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka, memotivasi mereka untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.

(22)

yang telah dimilikinya dan mengkonstruksikan pengetahuan baru. Keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang konteks sosial dan budaya, sedangkan Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.

Salah satu ide kunci yang berasal dari Vygotsky pada aspek sosial pembelajaran adalah konsepnya tentang zone of proximal development. Menurut Vygotsky, peserta didik memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual adalah menentukan fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial yang oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai oleh indifidu dengan bantuan orang lain, misalnya guru, orang tua, atau teman sebayanya yang lebih maju. Zona yang terletak diantara tingkat perkembangan potensial peserta didik disebutnya sebagai

zone of proximal development

d. Jerome Bruner dan Discovery Learning

(23)

menciptakan berbagai kemungkinan untuk penciptaan dan penemuan peserta didik.

Pembelajaran berbasis masalah juga juga bergantung pada konsep lain dari Bruner, yaitu scaffolding. Brunner mendeskripsikan

scaffolding sebagai suatu proses dimana seorang peserta didik dibantu menuntaskan masalah tertentu melampaui bantuan (scaffolding) dari seorang guru atau orang lain yang mempunyai kemampuan lebih. Konsep scaffolding Bruner mirip dengan konsep

zone of proximal development dari Vygotsky

Aktivitas Pembelajaran

Berdasarkan teori pemikiran di atas, coba Anda jelaskan secara singkat landasan dikembangkannya model PBL:

3. Karakteristik Pembelajaran dalam Problem Based Learning

Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat tiga ciri utama dari pembelajaran berbasis masalah: Pertama, pembelajaran berbasis masalah merupakan aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasinya pembelajaran berbasis masalah adalah sejumlah kegiatan yang harus dilakukan peserta didik. Pembelajaran berbasis masalah tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesakan masalah. Pembelajaran berbasis masalah menempatkan

(24)

masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Ketiga,

pemecahan masalah dilaukan dengan mengunaan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan mengunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas

Ciri-ciri PBL menurut Krajcik et.al, dan Slavin et.al, dalam Supinah dan Ttik Sutanti (Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika di SD, 2010), ciri-ciri khusus dari PBL tersusun dalam lima macam ciri berikut ini: a. Pengajuan pertanyaan atau masalah

Pertanyaan dan masalah yang diajukan pada awal kegiatan pembelajaran adalah yang secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi peserta didik.

b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu

Masalah yang diangkat hendaknya dipilih yang benar-benar nyata sehingga dalam pemecahannya peserta didik dapat meninjaunya dari banyak mata pelajaran.

c. Penyelidikan autentik

Dalam penyelidikan autentik, peserta didik diharuskan untuk menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Metode yang digunakan tergantung pada masalah yang dipelajari.

d. Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya

Peserta didik dituntut untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak. Artefak yang dihasilkan antara lain dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video, program komputer. Peserta didik juga dituntut untuk menjelaskan bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan. Penjelasan antara lain dapat dilakukan dengan presentasi, simulasi, peragaan.

(25)

PBL dicirikan oleh peserta didik yang bekerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.

Gambar 1.5. Pelaksanaan PBL (sumber: www.laney.edu)

Ada beberapa sikap dan kemampuan yang dapat dikembangkan pada peserta didik melalui penerapan PBL dalam pembelajaran, yaitu:

a. kemampuan bekerja dalam tim (teamwork) b. memimpin sebuah kelompok

c. mendengarkan

d. mengingat (recording) e. kooperatif

f. menghargai pendapat rekan dalam tim g. mengkritisi/mengevaluasi literature

h. belajar mandiri menggunakan aneka sumber i. kemampuan presentasi

4. Peran Partisipan dalam Problem Based Learning

(26)

diskusi. Peran guru adalah memfasilitasi proses (termasuk menjaga dinamika kelompok tetap aktif dan sesaui dengan tugas yang diberikan) dan untuk memastikan bahwa kelompok mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai sesuai dengan yang ditetapkan. Guru harus mendorong peserta didik untuk memahami materi yang sesuai dengan pemecahan masalah. Guru dapat melakukan hal ini dengan mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan terbuka dan meminta satu sama lain untuk menjelaskan topik dalam kata-kata mereka sendiri atau dengan menggunakan gambar dan diagram.

Gambar 1.6. Peranan partisipan dalam pelaksanaan PBL (sumber: www.cet.usc.edu)

Peranan Setiap Partisipan dalam PBL

Pencatat Guru Ketua Kelompok

(27)

poin-Peran Guru (Instruktur) dalam PBL

Guru mengidentifikasi sebuah masalah yang kompleks, menarik, dan mengundang pertanyaan terbuka dari peserta didik. Sehingga peserta didik tertarik, mau melakukan penelitian tentang hal tersebut, dan membuat beragam solusi yang masuk akal bagi masalah tersebut. Permasalahan yang disajikan harus terkait dengan konten pembelajaran. Walaupun permasalahan tersebut tidak familiar dengan peserta didik, tapi harus tetap relevan untuk digunakan di masa depan mereka.

Lakukan identifikasi masalah yang sesuai untuk pembelajaran dan populasi peserta didik. Permasalahan harus dapat mengajarkan keahlian baru yang dapat digunakan peserta didik apabila menghadapi masalah mereka yang lebih sulit. Nyatakan masalah dalam format naratif yang berisi rincian latar belakang, namun jangan masukkan terlalu banyak informasi sehingga peserta didik dapat menggunakannya sebagai solusi instan.

Kelompokkan peserta didik dengan pemetaan beragam level kemampuannya supaya berhasil menciptakan dinamika kelompok. Cari cara untuk menyatukan peserta didik dalam sebuah tim kolaboratif. Hal ini dapat dicapai dengan mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan peserta didik. Dan Anda harus selalu siap untuk memberikan dukungan pembelajaran, karena Anda adalah fasilitator, pelatih, dan mentor bagi peserta didik.

Peranan Peserta Didik dalam PBL

Selama pelaksanaan PBL, peserta didik berkolaborasi dalam kelompok kecil untuk mengeksplorasi situasi permasalahan yang diberikan. Sehingga peserta didik dapat mengkaji pengetahuan kemampuan yang mereka miliki dan memutuskan bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kedua hal tersebut. Berikut ini yang perlu dilakukan peserta didik selama PBL:

(28)

b. Catat apa yang anggota tim lain tau tentang masalah tersebut. Lakukan curah pendapat.

c. Kembangkan dan narasikan permasalahan dalam bahasamu sendiri.

d. Buat daftar solusi yang memungkinkan bagi masalah tersebut. Daftar dapat berisi ide, spekulasi dan hipotesis masalah.

e. Buat rencana tindakan dalam bentuk linimasa (timeline).

f. Buat daftar mengenai apa yang kelompokmu ketahui untuk menyelesaikan masalah. Diskusikan sumber-sumber yang memungkinkan digunakan untuk menyelesaikan masalah.

g. Tuliskan laporan hasil pemecahan masalah berisi solusi dilengkapi dengan dokumen pendukung.

h. Presentasikan hasil pemecahan masalahmu, sertai dengan teori dan bukti-buktinya serta bagaimana proses kelompok mencapai solusi tersebut.

i. Kaji ulang dan refeksikan kinerja dan penampilanmu dan kelompokmu.

5. Kelebihan dan Keterbatasan Problem Based Learning

Setiap metode memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Namun tentu dalam pelaksanaannya selalu diupayakan agar kelebihan dan hasil optimal lah yang dicapai, dan meminimalisir timbulnya kesalahan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa PBL utamanya dikembangkan untuk membantu terpicunya proses dalam diri peserta didik sebagai berikut:

a. Mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi.

Menurut Lauren Resnick (dalam Arends, 1997) berfikir tingkat tinggi mempunyai ciri-ciri:

1) non algoritmik yang artinya alur tindakan berfikir tidak sepenuhnya dapat ditetapkan sebelumnya

2) cenderung kompleks, artinya keseluruhan alur berfikir tidak dapat diamati dari satu sudut pandang saja

3) menghasilkan banyak solusi

(29)

5) melibatkan penerapan banyak kriteria, yang kadang-kadang satu dan lainnya bertentangan

6) sering melibatkan ketidakpastian, dalam arti tidak segala sesuatu terkait dengan tugas yang telah diketahui

7) melibatkan pengaturan diri dalam proses berfikir, yang berarti bahwa dalam proses menemukan penyelesaian masalah, tidak diijinkan adanya bantuan orang lain pada setiap tahapan berfikir

8) melibatkan pencarian makna, dalam arti menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur

9) menuntut dilakukannya kerja keras, dalam arti diperlukan pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan. b. Belajar berbagai peran orang dewasa.

Dengan melibatkan peserta didik dalam pengalaman nyata atau simulasi (pemodelan orang dewasa), membantu peserta didik untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar melakukan peran orang dewasa

c. Menjadi pelajar yang otonom dan mandiri

(30)

Sama halnya dengan model pengajaran yang lain, model pembelajaran Problem Based Learning juga memiliki beberapa kekurangan dalam penerapannya. Kelemahan tersebut diantaranya:

a. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba b. Keberhasilan strategi pembelajaran malalui Problem Based

Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan

c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

d. Kadangkala terjadi masalah dalam kelompok berupa: ada anggota kelompok yang pasif, ada anggota kelompok yang mendominasi, muncul konflik interpersonal dalam kelompok.

D. Latihan

Setelah mempelajari materi di Kegiatan Pembelajaran-1 dan memenuhi serangkaian aktivitas belajar, kini Anda harus mengerjakan soal latihan Kegiatan Pembelajaran-1. Gunanya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman Anda mengenai materi yang telah dipelajari.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar.

1. Jelaskan pengaruh teori konstruktivistik terhadap pelaksanaan pembelajaran sekarang ini.

……… ……… ……… ……… 2. Mengapa pelaksanaan problem based learning dapat meningkatkan

kemampuan peserta didik secara kompleks tidak hanya menekankan aspek kognitif saja?

(31)

……… ……… 3. Sebut dan jelaskan hal-hal yang dapat Anda lakukan sebagai fasilitator

dalam pelaksanaan problem based learning untuk meminimalisir kekurangan model problem based learning yang terjadi.

……… ……… ……… ………

E. Rangkuman

Setelah mempelajari uraian materi serta melaksanakan serangkaian aktivitas pembelajaran dan mengerjakan latihan pada kegiatan belajar ini, dapat disimpulkan beberapa hal terkait Problem Based Learning, yaitu:

- Student-centered learning adalah model pembelajaran yang menempatkan pemelajar sebagai fokus proses pemelajaran, berlawanan dengan model teacher-centered. Dalam pergeseran paradigma belajar ini, berbagai persiapan harus dilakukan oleh guru maupun peserta didik. Kedua pihak diharapkan sama-sama aktif dalam mengikuti perkembangan ilmu. Karena guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, maka peran guru dalam hal ini adalah sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mandiri peserta didik.

- Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada masalah. Istilah berpusat berarti menjadi tema, unit, atau isi sebagai fokus utama belajar. Menurut Resnick dan Gleser dalam Gredler (1991), masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak diketahui sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang seharusnya.

(32)

proses belajar peserta didik. Bukan sekedar menekankan pengetahuan kognitif pada peserta didik.

- Terdapat tiga ciri utama dari pembelajaran berbasis masalah: Pertama, pembelajaran berbasis masalah merupakan aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasinya pembelajaran berbasis masalah adalah sejumlah kegiatan yang harus dilakukan peserta didik. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesakan masalah. Pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dilaukan dengan mengunaan pendekatan berpikir secara ilmiah.

- Peranan partisipan dalam pelaksanaan PBL terdiri dibedakan atas peran guru, ketua kelompok, anggota kelompok, dan pencatat.

- Kelebihan pembelajaran model PBL bagi peserta didik antara lain: 1) mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 2) belajar berbagai peran orang dewasa, dan 3) menjadi pelajar yang otonom dan mandiri. - Sedangkan kelemahan dalam PBL diantaranya: 1) ada peserta didik yang

engga mencoba memecahkan masalah, 2) waktu persiapan cukup lama, 3) terjadi permasalahan internal kelompok.

F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu setrategi pembelajaran yang dapat membawa siswa pada pembentukan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan pendekatan ini memberikan peluang bagi siswa untuk melakukan penelitian dengan berbasis masalah nyata dan autentik.

Pembelajaran berbasis masalah dilakukan secara benar sesuai dengan prinsip dan karakteristik pembelajaran, maka ada beberapa dampak tidak langsung yang dapat diperoleh siswa setelah pembelajaran berbasis masalah diimplementasikan dalam proses pembelajaran dikelas, yaitu: 1. Keterampilan melakukan penelitian/penyelidikan sebagai dasar

(33)
(34)

Kegiatan Pembelajaran-2 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

A. Tujuan

Setelah selesai mempelajari materi yang disajikan di dalam kegiatan pembelajaran-2 ini, diharapkan Anda dapat menjelaskan tahapan-tahapn dalam melaksanakan model pembelajaran Problem Based Learning, serta menerapkan strategi yang tepat dalam melaksakan PBL terutama yang diintegrasikan dengan pemanfaatan TIK.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah Anda mempelajari dalam kegiatan pembelajaran-1 ini diharapkan dapat:

1. menjelaskan tahapan-tahapan dalam pelaksanaan PBL

2. menjelaskan proses persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi PBL 3. menerapkan pelaksanaan PBL terintegrasi pemanfaatan TIK

C. Uraian Materi

(35)

Gambar 2.x. Alur Siklus Problem Based Learning (sumber: www.niu.edu/facdev)

Tahapan Dalam Pelaksanaan Problem Based Learning

Menurut Fogarty, dalam Satyasa (2008) proses pembelajaran dengan pendekatan PBL dijalankan dengan 8 langkah, seperti berikut.

1. Menemukan masalah

Peserta didik diberikan masalah yang tidak terdefinisikan secara jelas (ill-defined) yang diangkat dari konteks kehidupan sehari-hari. Pernyataan permasalahan diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan memberikan sedikit fakta-fakta di seputar konteks permasalahan. Pernyataan permasalahan diupayakan memberikan peluang pada peserta didik untuk melakukan penyelidikan. Peserta didik menggunakan kecerdasan inter dan intra-personal untuk saling memahami dan saling berbagi pengetahuan antar anggota kelompok terkait dengan permasalahan yang dikaji.

2. Mendefinisikan masalah

Peserta didik mendefinisikan masalah menggunakan kalimatnya sendiri. Permasalahan dinyatakan dengan parameter yang jelas. Peserta didik membuat beberapa definisi sebagai informasi awal yang perlu disediakan. Pada langkah ini, peserta didik melibatkan kecerdasan intra-personal dan kemampuan awal yang dimiliki dalam memahami dan mendefinisikan masalah.

3. Mengumpulkan fakta-fakta

Peserta didik membuka kembali pengalaman yang sudah diperolehnya dan pengetahuan awal untuk mengumpulkan fakta-fakta. Peserta didik melibatkan kecerdasan majemuk yang dimiliki untuk mencari informasi yang berhubungan dengan permasalahan. Pada tahap ini, peserta didik mengorganisasikan informasi-informasi dengan menggunakan istilah “apa yang diketahui (know)”, “apa yang dibutuhkan (need to

know)”, dan “apa yang dilakukan (need to do)” untuk menganalisis

permasalahan dan fakta-fakta yang berhubungan dengan permasalahan.

(36)

Peserta didik menyusun jawaban-jawaban sementara terhadap permasalahan dengan melibatkan kecerdasan logic-mathematical. Peserta didik juga melibatkan kecerdasan interpersonal yang dimilikinya untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya, membuat hubungan-hubungan, jawaban dugaannya, dan penalaran mereka dengan langkah-langkah yang logis.

5. Menyelidiki

Peserta didik melakukan penyelidikan terhadap data-data dan informasi yang diperolehnya berorientasi pada permasalahan. Peserta didik melibatkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya dalam memahami dan memaknai informasi dan faktafakta yang ditemukannya. Guru membuat struktur belajar yang memungkinkan peserta didik dapat menggunakan berbagai cara untuk mengetahui dan memahami (multiple ways of knowing and understanding) dunia mereka.

6. Menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan

Peserta didik menyempurnakan kembali perumusan masalah dengan merefleksikannya melalui gambaran nyata yang mereka pahami. Peserta didik melibatkan kecerdasan verbal-linguistic memperbaiki pernyataan rumusan masalah sedapat mungkin menggunakan kata yang lebih tepat. Perumusan ulang permasalahan lebih memfokuskan penyelidikan, dan menunjukkan secara jelas fakta-fakta dan informasi yang perlu dicari, serta memberikan tujuan yang jelas dalam menganalisis data.

7. Menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan secara kolaboratif

(37)

8. Menguji solusi permasalahan

Peserta didik menguji alternatif pemecahan yang sesuai dengan permasalahan aktual melalui diskusi secara komprehensif antar anggota kelompok untuk memperoleh hasil pemecahan terbaik. Peserta didik menggunakan kecerdasan majemuk untuk menguji alternatif pemecahan masalah dengan membuat sketsa, menulis, debat, membuat plot untuk mengungkapkan ide-ide yang dimilikinya dalam menguji alternatif pemecahan.

Tahap-tahap atau Langkah-langkah PBL Sebagai model pembelajaran, Arends dalam Wardhani (2006:7) mengemukakan ada lima tahap pembelajaran pada PBL. Lima tahap ini sering dinamai tahap interaktif, yang sering juga sering disebut sintaks dari PBL. Lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap tahapan pembelajaran tergantung pada jangkauan masalah yang diselesaikan. Berikut tahapan yang perlu Anda lakukan apabila menerapkan PBL di kelas:

Tahap Kegiatan Yang Dilakukan Guru

(38)

penjelasan dan pemecahan karya yang sesuai sebagai hasil pelaksanaan tugas, misalnya berupa laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk

Mengapa Anda memilih untuk menerapkan PBL dalam pembelajaran di kelas Anda?

Jawaban Anda biasanya diawali dengan kalimat: karena pembelajaran dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar sudah tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman. Tentu saja hal tersebut benar. Kemudian ditambah lagi dengan penjelasan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman maka guru harus bisa menerapkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif agar kemampuan peserta didik lebih berkembang.

Salah satu katalisator dalam mencapai tujuan belajar yang lebih baik tersebut adalah pemanfaatan TIK. Anda perlu mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran. TIK menjadi bagian dari strategi pembelajaran. Bukankan peran guru sekarang ini menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar? Serta dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada peserta didik untuk mengalami peristiwa belajar (Division of Higher Education UNESCO, 2002).

(39)

saja mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran harus sesuai dengan prinsip berikut ini:

1. Aktif; memungkinkan peserta didik dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.

2. Konstruktif; memungkinkan peserta didik dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.

3. Kolaboratif; memungkinkan peserta didik dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.

4. Antusiastik; memungkinkan peserta didik dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

5. Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana peserta didik memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.

6. Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ” problem-based atau case-problem-based learning

7. Reflektif; memungkinkan peserta didik dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).

8. Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).

(40)

Berdasarkan karakteristik PBL yaitu: 1) pengajuan pertanyaan atau masalah, 2) berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, 3) penyelidikan autentik, 4) menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya, dan 5) kolaborasi, maka pelaksanaan PBL akan lebih menarik dan efektif apabila diintegrasikan dengan TIK.

Langkah-langkah dalam PBL dapat melibatkan TIK saat dilaksanakan. Misalnya untuk pendahuluan di mana guru mengenalkan masalah maka penggunaan TIK akan lebih memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik misalnya melalui tayangan video dibandingkan dengan guru menyampaikan masalah melalui ceramah saja. Kesuksesan PBL tergantung kemampuan guru dalam menghadapkan peserta didik dengan masalah-masalah realistis sehingga peserta didik dapat mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan mandiri (self directed).

Dalam proses pelaksanaan PBL, penggunaan TIK dapat membantu menyajikan masalah-masalah yang lebih rumit dunia nyata. Misalnya melalui program simulasi yang berbasis komputer di mana di dalamnya terdapat program berisi masalah yang sengaja dibuat kompleks dan dibiarkan tidak jelas supaya peserta didik bisa berlatih menyortir informasi yang penting untuk memecahkan masalah dan mengabaikan informasi yang tidak penting. Pengerjaan simulasi ini bisa dilakukan secara berkelompok.

(41)

Contoh yang dipaparkan di atas adalah pemanfaatan TIK sebagai fasilitas dominan dalam PBL. TIK dapat dimanfaatkan dalam beragam cara untuk pelaksanaan PBL. Misalnya untuk memfasilitasi proses pencarian referensi pemecahan masalah, menjadi alat bantu mempermudah komunikasi dengan sesama anggota kelompok, dan sebagainya. TIK dapat digunakan untuk proses belajar mandiri maupun untuk pembelajaran kolaboratif, Selanjutnya pada tahap penyajian hasil pemecahan masalah, TIK dapat memberikan hasil lebih. Contoh paling mudah adalah penggunaan aplikasi presentasi.

Gambar 2.x. Peserta didik mempresentasikan hasil tugas kelompoknya sumber: www.ethicsed.org

Sekarang Anda menjadi lebih memiliki gambaran yang lebih jelas untuk menerapkan PBL di kelas, bukan?

Selanjutnya Anda perlu mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk model pembelajaran PBL yang mengintegrasikan TIK. Pendekatan Anda dalam mengintegrasikan TIK ke dalam RPP ada dua macam, yaitu:

1. Pendekatan Idealis

Langkah penyusunan RPP dengan pendekatan idealis adalah dengan cara:

(42)

b. menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan

c. menentukan aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

2. Pendekatan Pragmatis

Sedangkan langkah penyusunan RPP dengan pendekatan pragmatis adalah dengan cara berikut:

a. mengidentifikasi TIK (seperti buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan.

b. memilih topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK tersebut.

c. merencanakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik pelajaran tersebut.

Sepertinya pendekatan yang tepat untuk menyusun RPP model PBL adalah dengan pendekatan idealis. Karena Anda sudah idak perlu menetapkan strategi pembelajaran. Anda sudah menetapkan akan menggunakan model PBL, jadi pendekatan yang lebih tepat adalah dengan menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran kemudian diikuti dengan aktivitas pembelajaran dan sumber belajar yang sesuai untuk kebutuhan pemecahan massalah. Pengintegrasian TIK dapat dimasukkan dalam kegiatan awal (pembuka), kegiatan inti, hingga kegiatan penutup termasuk untuk penilaian dan evaluasi.

(43)

Persiapan

Perencanaan yang dilakukan guru akan memudahkan pelaksanaan berbagai tahap kegiatan pembelajaran dan pencapaian tujuan yang diinginkan, antara lain sebagai berikut:

a. Menetapkan tujuan pembelajaran

Guru menetapkan tujuan pada saat perencanaan dan tujuan itu dikomunikasikan dengan jelas kepada peserta didik pada tahap berinteraksi.

b. Merancang situasi masalah yang sesuai

Hal penting yang harus dilakukan guru adalah adalah merancang situasi masalah yang sesuai dan merencanakan cara-cara untuk memberi kemudahan bagi peserta didik dalam melaksanakan proses perencanaan penyelesaian masalah. Situasi masalah yang baik memenuhi lima kriteria, yaitu:

1) Masalah harus autentik, artinya masalah harus lebih berakar pada dunia nyata daripada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu

2) Masalah seharusnya tak terdefinisi secara ketat dan dapat menghadapkan peserta didik pada suatu makna misteri atau teka-teki, hal tersebut akan mencegah jawaban sederhana dan dapat menimbulkan adanya alternatif pemecahan yang masing-masing alternatif memiliki kekuatan dan kelemahan.

3) Masalah hendaknya bermakna bagi peserta didik dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual mereka, artinya masalah yang diberikan terjangkau oleh pikiran peserta didik dan modal dasar untuk menyelesaikan masalah sudah dimiliki peserta didik. 4) Masalah hendaknya cukup luas untuk memungkinkan guru

menggarap tujuan pembelajaran mereka dan masih cukup terbatas untuk membuat layaknya pelajaran dalam waktu, tempat dan sumber daya yang terbatas.

(44)

lancar dibandingkan kalau dilaksanakan secara individu, bukan sebaliknya.

c. Mengorganisasi sumberdaya dan rencana logistik

Dalam hal ini tugas guru adalah mengorganisasi sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan peserta didik. Guru bertanggung jawab dalam memasok bahan yang diperlukan dalam kegiatan. Bila bahan yang dibutuhkan tersedia di sekolah maka tugas perencanaan yang utama oleh guru adalah mengumpulkan bahan-bahan tersebut dan menyediakan bahan-bahan tersebut untuk peserta didik. d. Merancang teknik dan prosedur penilaian hasil belajar yang akan

diterapkan

Teknik dan prosedur penilaian yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran ini tidak terlepas dari tujuan pembelajaran dan tuntutan kemampuan dalam penyelesaian masalah yang tercermin pada materi masalah yang akan diselesaikan. Untuk itu, hal yang harus diperhatikan adalah tentang teknik penilaian dalam PBL, teknik penilaian manakah yang relevan untuk diterapkan dalam PBL. Apakah penilaian kinerja peserta didik? Apakah penilaian portofolio? Apakah penilaian potensi belajar? Apakah penilaian afektif atau sikap? Ataukah penilaian usaha kelompok?

Dalam pelaksanaannya, PBL merupakan bagian dari integrasi kurikulum yang menggunakan pendekatan sistem. Sebuah pembelajaran dapat dirancang dengan dengan memasukkan metode pembelajaran termasuk PBL untuk mencapai hasil belajar berupa pengetahuan, keahlian, dan sikap.

PBL akan berhasil apabila Anda menyusun skenario yang baik. Skenario pembelajaran ini harus dapat memandu peserta didik untuk mengarah pada area belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berikut ini panduan dalam menyusun skenario pembelajaran yang dapat dituangkan dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): a. Tujuan pembelajaran harus jelas dan konsisten dengan materi yang

(45)

b. Permasalahan harus sesuai dengan kurikulum dan tingkat pemahaman peserta didik atau sesuai dengan kehidupan keseharian mereka.

c. Skenario harus berisi unsur intrinsic yang menarik bagi peserta didik atau relevan bagi masa depannya

d. Permasalahan harus bersifat terbuka sehingga tersedia beragam alternatif penyelesaian

e. Skenario harus menarik peserta didik untuk berpartisipasi dalam mencari informasi dari beragam sumber belajar

f. Integrasikan pemanfaatan TIK dalam PBL baik untuk bahan apersepsi, maupun untuk digunakan peserta didik dalam mencari referensi pemecahan masalah, atau untuk mempresentasikan hasil dari proses pencarian solusi.

Contoh-contoh materi untuk men-trigger peserta didik dalam skenario PBL: a. Data hasil percobaan

b. Foto-foto c. Video d. Artikel koran

e. Artikel dalam jurnal saintifik f. Kasus nyata atau simulasi

Saat menentukan tujuan pembelajaran dalam PBL, Anda memiliki dua jenis tujuan pembelajaran, yaitu 1) tujuan pengetahuan kognitif terkait materi yang dipelajari, dan 2) tujuan pengembangan keterampilan pemecahan masalah dan belajar mandiri. Kemampuan pemecahan masalah dan pembelajaran mandiri adalah tujuan jangka panjang, dan peserta didik memerlukan pegalaman terus menerus untuk mencapai tujuan tersebut. Mengatakan bahwa peserta didik yang terlibat dalam PBL memerlukan satu masalah untuk dipecahkan adalah seperti mengatakan bahwa atlet memerlukan bola basket jika mereka ingin belajar bagaimana bermain bola

(46)

basket. Akan tetapi, Anda tentu tahu bahwa sekedar memiliki bola basket tidak memastikan atlet menjadi pemain yang andal. Maka demikian juga mendapatkan masalah tidak memastikan peserta didik akan menjadi pemecah masalah yang andal. Lalu masalah bagaimana yang sebaiknya diberikan kepada peserta didik?

Sebelum Anda memilih masalah yang akan diberikan, Anda perlu mengenali karakteristik peserta didik Anda terlebih dulu. Kemudian utamakan untuk memilih masalah yang paling dekat dengan keseharian peserta didik. Pastikan peserta didik Anda memiliki pengetahuan awal yang cukup terkait masalah tersebut.

Selanjutnya rencanakan pula mengenai akses materi. Ketersediaan bahan belajar untuk memecahkan masalah perlu dipersiapkan. Anda perlu mengingat ada berapa kelompok yang Anda bentuk, ketersediaan waktu belajar, dan sebagainya. Setelah mengidentifikasi topik, menentukan tujuan pembelajaran, memilih masalah, dan mengakses materi-materi yang diperlukan, Anda kini siap untuk menerapkan PBL di kelas Anda.

(47)

sumber: Modul Pembelajaran Berbasis Masalah di SD, PPPPTK Matematika Kemdiknas 2010

Seperti yang telah disebtkan di atas, penerapan PBL hadir dalam dua level yaitu: yang pertama peserta didik harus memecahkan satu masalah spesifik dan memahami materi yang terkait, dan kedua peserta didik harus mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan menjadi peserta didik yang mandiri. Untuk membantu peserta didik memenuhi tujuan-tujuan ini, pembelajaran dengan model PBL dilaksanakan dalam empat fase, yaitu:

1. Fase mereview dan menyajikan masalah

Penerapan PBL dimulai saat Anda mereview pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan kemudian menyajikan masalah itu sendiri. Sebagian besar pengalaman peserta didik biasanya berkutat pada masalah yang terdefinisikan dengan jelas ( well-defined), yaitu masalah-masalah dengan satu solusi yang benar dan metode tertentu untuk menemukannya (Mayer & Wittrock, 2006).

Nyaris semua soal cerita yang dijumpai peserta didik di dalam buku matematika mereka sudah didefinisikan dengan jelas. Sedangkan sebagian besar masalah yang kita jumpai di dunia nyata adalah masalah yang tidak terdefinisikan dengan jelas (ill-defined), yaitu masalah-masalah dengan lebih dari satu solusi, tujuan yang bercabang, dan tidak ada strategi pasti untuk mencapai solusi (Mayer & Wittrock, 2006).

Untuk pelaksanaan PBL, akan lebih tepat bila menggunakan masalah yang ill-defined. Pada fase ini Anda juga mulai membentuk kelompok peserta didik.

2. Fase menyusun strategi

Dalam fase ini peserta didik menyusun strategi pemecahan masalah. Anda juga harus siap memberikan bimbingan dengan tetap mempertimbangkan durasi waktu dan strategi pembimbingan sehingga peserta didik lebih kreatif mencari pemecahan masalah.

(48)

bisa mengumpulkan kembali seluruh kelas dan meminta masing-masing kelompok untuk melaporkan strategi mereka agar mendapatkan umpan balik dari teman sekelas.

3. Fase menerapkan strategi

Pada fase ini, peserta didik menerapkan strategi kelompok mereka. Ada kalanya proses tidak berjalan lancar sehingga Anda harus memberikan sokongan (scaffolding), dukungan pembelajaran yang membantu peserta didik menyelesaikan tugas-tugas yang tidak mampu mereka pecahkan sendiri (Puntambekar & Hubscher, 2005). Bentuk sokongan yang paling umum adalah memberikan pertanyaan yang memandu.

4. Fase membahas dan mengevaluasi hasil

Dalam fase ini Anda meminta peserta didik untuk menilai kesahihan solusi mereka. Anda dapat meluruskan kekeliruan pengertian yang mungkin terjadi. Namun Anda bukannya bersikap bahwa satu-satunya pemecahan solusi Anda-lah yang paling benar. Proses setiap individu dan kelompok hingga menemukan solusi pemecahan masalah menjadi poin penting pembelajaran dengan model PBL.

Penilaian dan Evaluasi

Penilaian pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik merupakan bagian yang utuh dengan pembelajaran itu sendiri. Bertolak dari pandangan ini dan mencermati tahapan yang harus dilalui peserta didik dalam belajar dengan model PBL, maka penilaian PBL dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Oleh karenanya, penilaian pembelajaran dilaksanakan secara nyata dan autentik. O’Malley dan Pierce dalam Satyasa (2008), mendefinisikan authentic assesment

sebagai bentuk penilaian di kelas yang mencerminkan proses belajar, hasil belajar, motivasi, dan sikap terhadap kegiatan pembelajaran yang relevan. Lebih lanjut dikemukakan tentang penilaian yang relevan dalam PBL antara lain:

a. Penilaian kinerja peserta didik

(49)

seperti: menulis karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu lagu, atau melukis suatu gambar.

b. Portofolio peserta didik

Portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dengan portfolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan

peer-assessment. Self-assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Peer-assessment adalah penilaian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. Portofolio peserta didik adalah hasil karya peserta didik yang didokumentasi secara sistematis. Hasil karya yang dapat dimasukkan sebagai portofolio peserta didik misalnya adalah contoh artefak, artikel jurnal, refleksi yang mewakili apa yang telah dilakukan peserta didik pada setiap mata pelajaran. Portofolio tidak hanya berfungsi sebagai alat penilaian tetapi juga sebagai alat untuk membantu peserta didik melakukan refleksi diri tentang apa yang telah dan belum berhasil dipelajarinya.

c. Penilaian potensi belajar

(50)

masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi dan kesiapan belajarnya.

d. Penilaian usaha kelompok

Menilai usaha kelompok seperti yang dilakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya.

Contoh pelaksanaan pembelajaran model PBL: Kegiatan Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan ini, guru melaksanakan tahap 1 model

PBL yaitu: mengorientasikan peserta didik pada situasi masalah.

Pada tahap ini yang perlu dilakukan guru adalah sebagai berikut.

a. Guru mengkomunikasikan tujuan belajar, yaitu peserta didik

dapat mendiskusikan masalah dan alternatif pemecahannya dan

hasil belajar yang diharapkan akan dicapai oleh tiap peserta

didik, yaitu peserta didik akan dapat menjumlahkan 2 pecahan

yang berpenyebut sama.

b.Guru menginformasikan cara belajar yang akan ditempuh, yaitu

mendiskusikan masalah dan alternatif pemecahannya dan

presentasi laporan hasil pelaksanaan tugas.

c. Guru mengingatkan hakekat tugas yang harus dilaksanakan oleh

tiap kelompok, yaitu menyajikan situasi masalah prosedur yang

jelas dan melibatkan peserta didik dalam identifikasi masalah.

Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti ini, guru melaksanakan tahap 2, 3, dan 4 model

PBL. Pada tahap 2: Mengorganisasi peserta didik untuk belajar,

yang perlu dilakukan guru adalah sebagai berikut:

a. Peserta didik dan guru membuat kesepakatan tentang

(51)

presentasi laporan.

b. Mengembangkan keterampilan kolaborasi antar peserta didik

dalam kegiatan penyelidikan dengan kegiatan penyelidikan perlu

dilakukan secara bersama. Untuk itu, guru perlu

mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok

belajar yang beranggotakan 4 sampai 5 peserta didik.

c. Peserta didik bekerja dalam kelompok menyelesaikan

permasalahan yang diajukan guru. Guru perlu mengupayakan

agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan

penyelidikan, dan semua penyelidikan akan menghasilkan

penyelesaian masalah umum yang telah dipilih atau ditetapkan

oleh guru dan peserta didik. Jika tugas penyelidikan dirasa sulit

bagi peserta didik, maka tugas guru adalah membantu peserta

didik menghubungkan tugas dan aktivitas penyelidikan.

Pada tahap 3: Membimbing penyelidikan individual maupun

kelompok. yang perlu dilakukan guru adalah sebagai berikut:

a. Teknik penyelidikan dalam rangka memecahkan masalah dapat

dilakukan secara kelompok kecil. Pada intinya kegiatan

penyelidikan mencakup: pengumpulan data apa yang diketahui,

apa yang ditanyakan, dan bagaimana langkah pemecahannya.

b. Guru memberi kesempatan luas kepada peserta didik untuk

berfikir dan bertindak menurut cara masing-masing dan guru

berperan sebagai fasilitator.

c. Guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi dan memfasilitasi

serta membantu peserta didik yang memerlukan bantuan.

Pada tahap 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, hal

yang perlu diperhatikan guru adalah sebagai berikut.

a. Secara kelompok peserta didik mempresentasikan hasil

pelaksanaan tugas atau hasil pekerjaan/penyelesaian masalah

dan alasan atas jawaban permasalahan di depan kelas. Dengan

(52)

mengkomunikasikan tugas presentasi laporan atau hasil kerja

kelompok yang mendapat tugas.

b.Guru memberi penguatan terhadap jawaban peserta didik, yaitu

dengan mengacu pada jawaban peserta didik dan melalui tanya

jawab membahas penyelesaian masalah yang seharusnya.

Berikut ini akan dikemukakan alternatif jawaban peserta didik

dalam kelompok terkait dengan permasalahan yang diajukan

guru.

c. Peserta didik dan guru menyimpulkan garis besar isi hasil

pelaksanaan kegiatan tiap kelompok.

d.Mengacu pada penyelesaian jawaban peserta didik, guru dan

peserta didik membuat penegasan atau kesimpulan cara. Pada

langkah ini, peserta didik dalam kelompok disuruh

mengumpulkan bentuk-bentuk informasi yang mendukung.

Penutup

Pada kegiatan penutup ini, guru melaksanakan tahap 5 model PBL.

Pada tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan

masalah, yang perlu dilakukan guru adalah sebagai berikut:

a. Guru dan peserta didik membuat penegasan atau kesimpulan

cara menentukan hasil.

b. Dengan bimbingan guru, secara kelompok peserta didik

mengkomunikasikan pengalamannya dalam melaksanakan tugas

dan mengevaluasi kinerja masing-masing, sebagai refleksi selama

mengikuti pembelajaran.

c. Peserta didik mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.

D. Latihan

Figur

Gambar 1.1 – Contoh kerja kelompok, pembelajaran mandiri bentuk student

Gambar 1.1

– Contoh kerja kelompok, pembelajaran mandiri bentuk student p.9
Gambar 1.2 – Ilustrasi Globalisasi dan dampaknya (sumber:

Gambar 1.2

– Ilustrasi Globalisasi dan dampaknya (sumber: p.11
Gambar 1.3 – Ilustrasi teamwork dalam Problem Based Learning (sumber:

Gambar 1.3

– Ilustrasi teamwork dalam Problem Based Learning (sumber: p.17
Gambar 1.4 – Konsep pemetaan dalam Problem Based Learning

Gambar 1.4

– Konsep pemetaan dalam Problem Based Learning p.18
Gambar 1.5. Pelaksanaan PBL

Gambar 1.5.

Pelaksanaan PBL p.25
Gambar 1.6. Peranan partisipan dalam pelaksanaan PBL

Gambar 1.6.

Peranan partisipan dalam pelaksanaan PBL p.26
Gambar 2.x. Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran berkelompok

Gambar 2.x.

Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran berkelompok p.40
Gambar 2.x. Peserta didik mempresentasikan hasil tugas kelompoknya

Gambar 2.x.

Peserta didik mempresentasikan hasil tugas kelompoknya p.41

Referensi

Memperbarui...

Outline : Uraian Materi