Makna perayaan ekaristi bagi anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. - USD Repository

122  10 

Teks penuh

(1)

MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik

Oleh :

Veronika Sigalingging NIM: 141124004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

Skripsi ini kupersembahkan kepada

“Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan membimbingku, serta kepada Bunda maria yang mulia yang menghantarkan doa-doaku kepada Bapa” “Anggota Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta”

“Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik dan memberikan pengalaman terindah didalam hidupku”

Kedua Orang tuaku

“Abner Sigalingging dan Ibu Theresia Sinaga” Kakak dan adikku

“Saut, Lusiana, Yohannes, Gunawan, Alfonsius”

(5)

v MOTTO

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul MAKNA PERAYAAN EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA KOTABARU, YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis sejauh mana para misdinar yang aktif sebagai pelayan altar memaknai perayaan Ekaristi.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen utama, dikatakan utama karena Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Kristus. Dalam Ekaristi umat bersatu sebagai Gereja yang nyata. Melalui Ekaristi orang yang mengimani Kristus semakin penuh bersatu dengan tubuh dan darah Kristus sebagai sumber keselamatan dan puncak seluruh hidup Kristiani. Fokus penelitian adalah Makna Ekaristi yang secara primer meliputi pengalaman keterlibatan remaja menjadi misdinar dalam perayaan Ekaristi. Misdinar dapat memaknai perayaan Ekaristi untuk memperkuat iman remaja dalam setiap keterlibatan. Sedangkan secara sekunder, meliputi sikap yang tercermin dalam perbuatan hidup sehari-hari baik dilingkungan Gereja dan masyarakat.

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomologis. Peneliti memilih informan menurut kriteria tertentu yang telah diterapkan yaitu informan yang benar-benar aktif dalam setiap setiap tugas atau pertemuan misdinar dan sudah memiliki banyak pengalaman, informan yang dipilih pun bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini. Penulis menggunakan metode Triangulasi sumber data, untuk mencapai validitas data penulis memeriksa kembali informasi dari responden dengan mewawancara orang tua dan pendamping. Informasi-informasi tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif dengan cara reduksi data, penyajian data, verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman misdinar mengenai arti perayaan Ekaristi sebatas hafalan yakni sebagai kesempatan untuk berdoa dan bersyukur sedangkan makna Ekaristi bagi misdinar mendapat pelajaran baru mengenai Injil melalui homili dan tempat untuk berdoa meminta berkat Tuhan atas kehidupan sehari-hari. Dalam hidup sehari-hari anggota misdinar juga sering mengalami kesulitan, mereka belum melibatkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup, yang mereka lakukan selalu berdoa dan intropeksi diri. Sebagai misdinar bertanggung jawab dalam menjalankan tugas yang sudah dibagi dan berlatih terus untuk mempersiapkan tugas yang akan datang sehingga pada saat perayaan Ekaristi dapat berjalan dengan lancar.

(9)

ix ABSTRACT

The title of this study is THE MEANING OF EKARISTIES FOR ACOLYTES IN THE SANTO ANTONIUS PADUA KOTA BARU PARISH, YOGYAKARTA. This title was chosen based on the writer's curiosity to the extent to which the acolytes who were active as altar servants interpreted the celebration of the Eucharist.

The Sacrament of the Eucharist is the main sacrament,it said to be primary because the Eucharist is the source and culmination of the entire Christians life. In the celebration of the Eucharist the faith of the whole Church is revealed in the salvation of God that occurs in Christ In the Eucharist the people unite as the real Church. Through the Eucharist the person who believes in Christ is more fully united with the body and blood of Christ as the source of salvation and the peak of the whole Christian life. The focus of the research is the Eucharistic Meaning which primarily includes experiences of adolescent involvement into acolyte in the celebration of the Eucharist. Acolytes can interpret the celebration of the Eucharist to strengthen the faith of adolescents in every engagement. While secondary, includes attitudes that are reflected in the actions of daily living both within the Church and society.

The method used in this research is phenomenological qualitative. Researcher chooses informants according to certain criteria that have been applied, namely informants who are truly active in each task or meeting, and have had a lot of experience, the selected informants are also willing to be involved in this research. The author uses the triangulation method of data sources, to achieve the validity of the data the author re-checks information from respondents by interviewing parents and companions. The information is then analyzed qualitatively by means of data reduction, data presentation, verification.

The results of the research show that the understanding of meaning of the celebration of the Eucharist is limited to memorization, namely as an opportunity to pray and be grateful while the Eucharistic meanings for acolytes receive new lessons about the gospel through homilies and places to pray for God's blessings on daily life. In the daily life of the acolyte members, they often experience difficulties, they have not involved the Eucharist as the source and peak of life, which they do always pray and self-reflections. As an acolyte, it is responsible for carrying out the tasks that have been shared and continues to practice preparing for the upcoming task so that when the Eucharistic celebration can run smoothly.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena kasih karunia dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul MAKNA EKARISTI BAGI ANGGOTA MISDINAR DI PAROKI SANTO

ANTONIUS PADUA KOTABARU YOGYAKARTA ini terselesikan dengan baik.

Skripsi ini ditulis dengan maksud memberikan sumbayangn pemikiran mengenai makna Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. Selain itu skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Santa Dharma Yogyakarta.

Tersusunnya Skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Dr. B. Agus. Rukiyanto, SJ selaku Kaprodi Pendikkat Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penulis selama menjalankan proses perkuliahan di kampus.

2. F.X. Dapiyanta SFK, M. Pd selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji I bersedia meluangkan waktu dan penuh kesabaran, ketulusan dan kesetiaan mendampingi dan membimbing penulis hingga akhir penulisan skripsi.

(11)

xi

4. M. Ariya Seta, S,Pd., Mag.Theol. selaku dosen III yang telah meluangkan waktu dalam mendampingi penulis pada saat ujian berlangsung

5. Segenap Dosen prodi Pendikkat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama proses belajar hingga selesainya skripsi ini.

6. Segenap Staf Sekretariat, Perpustakan Prodi Pendikkat, Perpustakan Kolsani, dan segenap karyawan bagian lain yang telah memberi dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi.

7. Romo Macarius Maharsono Proboho Sj, Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk menjalankan penelitian di Paroki.

8. Para Orang tua anggota Misdinar yang telah meluangkan waktu untuk dapat diwawancara dan membantu penulis dalam menjalankan penelitian di Paroki. 9. Anggota Misdinar Paroki Santo Antonius Padua Kota Baru, Yogyakarta yang

telah meluangkan waktu memberikan jawaban dalam penelitian wawancara. 10. Bapak Abner Sigalingging dan Ibu Theresia Rosula Sinaga, selaku orang tua

penulis yang selalu setia mendampingi, memberi kasih sayang dan mendukung penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar.

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. ii

HALAMAN PENGESAHAN………. iii

3. Tujuh Sakramen Dalam Gereja………... 15

4. Sakramen Ekaristi……….. 17

5. Menghayati Sakramen Ekaristi………... 20

6. Liturgi Sakramen Ekaristi………... 22

7. Struktur Perayaan Ekaristi……….. 22

B. Perkembangan Iman dan Moral Anak Usia Misdinar ……….. 25

1. Kepercayaan Mitis-Harfiah……… 25

2. Kepercayaan Sintetis-Konvensional………... 26

3. Kepercayaan Individuatif-Reflektif ……… 27

(14)

xiv

1. Sejarah Misdinar………. 29

2. Bentuk-Bentuk Kegiatan Misdinar……….. 30

a. Tugas Dalam Perayaan Ekaristi………. 30

b. Latihan Misdinar………... 31

c. Pertemuan Rutin……… 31

3. Spiritualitas Misdinar……….. 32

a. Melayani Dengan Penuh Cinta……… 32

b. Melayani Tanpa Pamrih……….. 32

c. Mewaspadai Virus Misdinar……….. 33

D. Makna Perayaan Ekaristi Bagi Misdinar……… 35

E. Penelitian Yang Relevan……… 43

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data……… 48

1. Teknik Pengumpulan Data………. 48

2. Instrumen pengumpulan Data ……… 48

a. Pedoman Wawancara……… 48

G. Teknik Keabsahan Data……… 50

H. Teknik Analisis Data………. 51

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………. 53

A. Hasil Penelitian ……… 53

1. Profil Responden………. 53

2. Hasil Wawancara………. 55 a. Pemahaman Anggota Misdinar Kotabaru Mengenai Perayaan

Ekaristi………..

56

(15)

xv

60

c. Pelaksanaan Tugas Sebagai Misdinar……… 67

3. Pembahasan Hasil Penelitian……….. 70

a. Pemahaman Ekaristi Bagi Anggota Misdinar……….. 71

1. Pemahaman Arti Ekaristi Bagi Anggota Misdinar………… 71

2. Makna Perayaan Ekaristi Bagi Anggota Misdinar………… 71

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

A. SINGKATAN DOKUMEN GEREJA

KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici)

SC : Sacrosantum Concilium, Konsili Suci, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Liturgi kudus, 8 Desember 1965

LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964

PO :Presbyterorum Ordinis, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang pelayanan dan kehidupan Imam, 7 Desember 1965

RS : Rademptionis Sacramentum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Sakramen penebusan.

B. Singkatan lain

PUMR : Pedoman Umum Misale Romawi (Institutio Generalis Missalis Romawi) buku liturgi 14 Juli 1570

TPE : Tata Perayaan Ekaristi

DSA : Doa Syukur Agung

KWI : Konferensi Waligereja Indonesia

St : Santo

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

A. Latar Belakang Masalah

Sejak awal Gereja tekun merenungkan, merefleksikan, dan menggali kekayaan makna Ekaristi bagi hidup panggilan melayani dan perutusan di dunia ini. Dalam Perayaan Ekaristi, berlangsunglah perjumpaan antara Allah dan umat beriman melalui Yesus Kristus dalam ikatan Roh Kudus yang merupakan penghayatan iman dalam hidup kita (Martasudjita, 2005:9). Perayaan Ekaristi adalah ungkapan pujian syukur umat atas berkat yang dirasakan di dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi dipandang juga sebagai sumber dan puncak hidup Gereja yang membawa perubahan bagi umat dan mengingat karya penyelamatan Allah. Umat bersama-sama mengenang peristiwa penebusan-Nya dan bersatu dalam tubuh Kristus. Dengan dipersatukannya kita dengan Kristus, kita akan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya dan makna Sakramen Ekaristi akan diubah menjadi serupa dengan Dia. Kesatuan sebagai Gereja merupakan kebersamaan yang melibatkan lebih dari satu orang. Saat Perayaan Ekaristi, Kristus hadir dan merayakan bersama seluruh umat di dalamnya sehingga menjadi satu persatuan di dalam iman kita.

(18)

persatuan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Ekaristi adalah Gereja dalam bentuk Sakramen yang merupakan perayaan umat di mana menandakan kehadiran dalam umat yang sungguh-sungguh dihayati dalam iman. Di dalam Sakramen Ekaristi, Gereja merayakan dan mengenangkan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, dalam penyelamatan umat manusia. Gereja mengajarkan kepada kita bagaimana memaknai perjamuan Ekaristi setiap kali kita merayakannya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para murid sebelum ia memasuki misteri sengsara dan wafatnya. Inilah yang terus dirayakan Gereja sampai saat ini. Ekaristi dikatakan sebagai sumber dan puncak hidup umat beriman. Dalam sakramen Tuhan hadir dan berkarya secara nyata, maka dikatakan Ekaristi sebagai puncak misteri keselamatan (Hadisumarta, 2003:2).

Di dalam (KHK) § 1247 dinyatakan bahwa pada hari minggu dan pada hari pesta wajib lain, umat beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam

Ekaristi; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan

urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau

merintangi kegembiraan khusus hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi

jiwa dan raga.

(19)

(PUMR 28), keduanya berhubungan erat. Dalam Liturgi Sabda, dipaparkan karya keselamatan Allah yang disyukuri dalam Liturgi Ekaristi. Perutusan merupakan konsekuwensi dari seluruh perayaan. Setelah mendengarkan firman Tuhan, kita dipanggil untuk mewartakan melalui hidup sehari-hari.

Dalam Perayaan Ekaristi diperlukan pelayan tertahbis dan umat. Di antara umat beriman dipilih para petugas perayaan Ekaristi yang ambil bagian antara lain lektor, misdinar, prodiakon, koor, petugas musik, serta keterlibatan umat. Umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi perlu secara sadar dan aktif. Sadar berarti tahu apa yang diperbuat sedangkan aktif berarti terlibat yang sepenuhnya dan seutuhnya. Sadar dan aktif itu mencakup pemahaman akan seluruh misteri yang dirayakan dan sekaligus keterlibatan yang penuh, utuh, dan aktif sejak persiapan, pelaksanaan, hingga sesudah perayaan, yakni dengan ikut memaknai Perayaan Ekaristi. Partisipasi aktif dari umat dalam Perayaan Ekaristi sulit untuk dinilai.

(20)

menemukan makna Ekaristi, terlebih perayaan Ekaristi merupakan suatu yang sakral dan suci bagi umat Katolik.

Kesan saya pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi ada beberapa umat seharusnya sadar dan aktif dalam berpartisipasi mengikuti tata perayaan Ekaristi tetapi ada beberapa umat belum terlibat secara penuh pada saat berdiri memilih duduk. Umat hanya fokus pada diri sendiri tidak pada Perayaan Ekaristi yang sedang berlangsung. Perayaan Ekaristi tidak hanya terbatas pada ritual kesalehan, karena akan cenderung mengarah pada sikap kaku, tertutup dan beku, sehingga Perayaan Ekaristi menjadi kering dan mati. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Ekaristi merupakan perayaan yang hidup dan ungkapan kasih yang tergambar nyata dalam pengorbanan diri Yesus. Ekaristi juga menumbuhkan sikap dalam diri umat sikap saling berbagi satu sama lain. Sebab dalam semangat saling berbagi umat beriman secara personal maupun melayani Tuhan.

(21)

esensi dari Perayaan Ekaristi itu sendiri, yaitu berkumpul sebagai komunitas beriman dan mengenang peristiwa penyelamatan Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus.

Misdinar dalam menjalankan perannya perlu memahami dengan baik mengenai sakramen, memiliki spiritualitas seperti St. Tarsisius yang karena keberaniannya berkorban membela hosti kudus. Spiritualitas ini menunjukkan betapa bermaknanya hosti bagi umat Kristiani, dan tata cara Ekaristi. Pemahaman ini sangat diperlukan karena Perayaan Ekaristi itu sendiri penuh dengan simbol, ada berbagai warna pakaian, tata gerak, dan berbagai peralatan misa. Spiritualitas Santo Tarsisius membantu misdinar memahami dalam tugas pelayananya pada Perayaan Ekaristi. Selain itu anggota misdinar juga harus mampu menjalin kerja sama atau komunikasi yang baik terhadap romo dan teman satu kelompok. Terjalinnya hubungan komunikasi yang baik antara teman kelompok sangat membantu berjalannya tugas sebagai misdinar dengan lancar.

(22)

bertugas, berbicara dengan rekan sesama Misdinar pada saat bertugas dalam Perayaan Ekaristi, pandangan mata liar, keterlambatan dan sebagainya. Hal ini bisa mengganggu konsentrasi umat yang sedang berlangsung mengikuti Perayaan Ekaristi. Dengan mengalami berbagai hambatan Misdinar belum bisa dan memaknai perayaan Ekaristi.

Misdinar bisa mengalami perjumpaan dengan Allah dalam Perayaan Ekaristi. Namun untuk mengalami hal itu, misdinar mesti tinggal bersama Yesus, bekerja bersama Yesus, dan bekerja seperti Yesus. Jika ketiga prasyarat tersebut kita penuhi, niscaya kita akan mengalami perjumpaan dengan Allah (Gabriel 1997:9). Tinggal dan bekerja seperti Yesus dimaksud bahwa sebagai anak Misdinar yang belum mengetahui banyak mengenai Ekaristi anak-anak diajak untuk mengikuti Yesus yang tulus dalam melayani orang lain tanpa harus diberi imbalan. Bekerja bersama Yesus dimaksud bahwa setiap tugas pelayanan yang kita lakukan selalu menghadirkan Yesus hadir dalam doa untuk melancarkan segala tugas yang kita lakukan. Bekerja seperti Yesus berarti memiliki semangat tugas pelayanan sebagai misdinar, segala tantangan Ia hadapi tidak menjadi halangan untuk melayani sesama. Tidak jarang misdinar sekedar melaksanakan tugas akibatnya malas dan hanya rutinitas.

Untuk masuk menjadi anggota Misdinar berusia 9-16 tahun, jenjang pendidikan dari kelas IV SD sampai dengan kelas III SMA. Pada usia tersebut mereka berada pada tahap remaja, di mana pola pikir anggota misdinar tersebut masih sangat sederhana dan membutuhkan pendampingan.

(23)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi perlu sadar dan aktif. Sadar berarti paham apa yang dilakukan sedangkan aktif terlibat sepenuhnya dan seutuhnya.

2. Partisipasi umat pada saat bernyanyi dan menyahut terlihat diam, umat tersebut sadar tapi tidak sepenuhnya terlibat.

3. Pada saat bertugas anak-anak lebih fokus pada urutan tugas perayaan Ekaristi yang akan dilakukan selanjutnya sehingga misdinar tidak sepenuhnya memaknai perayaan Ekaristi.

C. Pembatasan Masalah

Sehubungan dengan keterbatasan penulisan dan sumber pustaka yang ada, dan judul penelitian, maka pembatasan masalah terfokus pada makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penulisan ini, dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana anggota misdinar menjalankan tugasnya di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta?

2. Bagaimana anggota misdinar memahami sakramen Ekaristi?

(24)

E. Tujuan Penulisan

Skripsi ini ditulis dengan tujuan memberi pemahaman lebih mendalam terkait makna perayaan Ekaristi bagi anggota misdinar di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, dengan demikian tujuan penulisan ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Mengetahui anggota misdinar menjalankan tugasnya di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta.

2. Mengetahui misdinar memahami sakramen Ekaristi di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta.

3. Mengetahui anggota Misdinar dalam memaknai perayaan Ekaristi di paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta.

4. Mengetahui Misdinar menghayati perayaan Ekaristi.

F. Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan mampu memberikan manfaat berbagai pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sakramen Ekaristi bagi misdinar, umat Gereja untuk semakin memahami dan memaknai perayaan Ekaristi

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis

(25)

2) Membagikan pengetahuan yang didapatkan selama kuliah terkait makna Ekaristi untuk membuka wawasan misdinar gereja Santo Antonius Kotabaru.

b. Bagi anggota Misdinar

1) Memberi pemahaman tentang Ekaristi dan makna perayaan Ekaristi.

2) Mengetahui makna Perayaan Ekaristi sebagai pelayan Altar dan Mengetahui sejarah Misdinar sehingga semakin mampu untuk mengenal.

c. Pastor Paroki

1) Mendorong Mesdinar untuk tetap aktif dalam pelayanan Altar.

2) Membantu Misdinar yang pasif untuk kembali menjadi pelayan altar. d. Orang tua

Membantu orang tua ikut mengawasi putra-putrinya pada waktu latihan maupun dalam pergaulan sehari-hari digereja serta ikut memberikan dorongan padanya.

G. Sistematika Penulisan

(26)

BAB III: menjelaskan metodologi penelitian yang meliputi jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, pertanyaan penelitian, pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, pedoman wawancara, teknik keabsahan data, dan teknik analisis data.

BAB IV: menguraikan tentang hasil penelitian yang terdiri dari uji persyaratan analisis, deskripsi data hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, refleksi kateketik, dan keterbatasan penelitian

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Di dalam kajian pustaka ini penulis akan membahas tentang perayaan Ekaristi dan makna perayaan Ekaristi bagi Misdinar. Pada pembahasan ini akan dibahas lebih mendalam tentang perayaan Ekaristi mengenai Gereja sebagai sakramen, tujuh sakramen dalam Gereja, sakramen Ekaristi, menghayati sakramen mahakudus, liturgi sakramen Ekaristi, struktur perayaan Ekaristi. Pembahasan tentang Misdinar mengenai perkembangan iman dan moral anak usia Misdinar, Misdinar, sejarah Misdinar, bentuk kegiatan Misdinar, spiritualitas Misdinar, makna Ekaristi bagi Misdinar.

A. Perayaan Sakramen Ekaristi

1. Sakramen

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996:400) mendefinisikan pengertian sakramen sebagai berikut: “sakramen sebagai konkret duniawi yang menandai, menampakkan dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan”. Sakramen itu sungguh-sungguh nyata yang datang dari Allah sendiri yang mampu menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan yang datang melalui sakramen-sakramen bisa dirasakan dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari.

(28)

Di dalam SC 59 menyatakan pengertian sakramen sebagai berikut: “Sakramen dimaksud sebagai tanda untuk mendidik”. Sakramen memberi tanda dengan memperoleh rahmat secara nyata. Melalui rahmat Allah secara nyata, membuahkan hasil nyata, yaitu untuk menyembah Allah secara benar, dan mengamalkan cinta kasih, menjadi salah satu tanda mendidik iman. Maka dari itu umat kristiani dapat memahami arti lambang-lambang Sakramen, yang kita terima untuk memupuk hidup iman kristiani.

KGK 1118 menyatakan bahwa “Sakramen merupakan kekuatan-kekuatan yang datang dari Tubuh Kristus yang tetap hidup dan menghidupkan”. Kekuatan -kekuatan yang kita terima melalui sakramen, memberikan kehidupan baru melalui rahmat Allah. Rahmat yang kita rasakan yakni persaudaraan, kasih sesama yang saling menghidupkan suatu kesatuan didalam diri Allah. Bagi umat yang menerimanya dengan sikap batin yang terbuka akan menghasilkan buah yang baik.

Kata sakramen dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Latin, “Sacramentum berakar pada kata sacr, sacer yang berarti: kudus, suci, lingkungan orang kudus atau bidang yang suci. Bahasa latin sacrare berarti menyucikan, menguduskan”. Kata sacramentum menunjuk tindakan penyucian ataupun menguduskan. Kata

(29)

masa kini maupun masa yang akan datang (eskatologis). Atau rencana penyelamat-Nya dalam sejarah manusia. Perjanjian Baru memahami mysterion sebagai rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus (Martasudjita 2003:61).

Berdasarkan pengertiaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sakramen adalah sebuah peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Sakramen itu sungguh-sungguh nyata yang datang dari Allah sendiri yang mampu menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan yang datang melalui sakramen-sakramen bisa kita rasakan dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari. Sakramen yang telah kita terima bukan sekedar tanda tetapi tanda yang menyangkut hubungan langsung dengan Allah sebagai tanda yang mendatangkan rahmat. Melalui rahmat Allah secara nyata, membuahkan hasil nyata untuk menyembah Allah secara benar dan mengamalkan cinta kasih, menjadi salah satu tanda kekuatan-kekuatan yang kita terima melalui sakramen. Rahmat yang kita rasakan yakni persaudaraan, kasih sesama yang saling menghidupkan suatu kesatuan di dalam diri Allah. Bagi umat yang menerimanya dengan sikap batin yang terbuka akan menghasilkan buah yang baik.

2. Gereja sebagai Sakramen

Menurut Martasudjita (2003: 102-103) menyatakan bahwa Gereja sebagai Sakramen keselamatan Allah sungguh-sungguh suatu ajaran yang harus kita syukuri. Dengan sebutan sebagai sakramen, Gereja bukan lagi institusi penyelamatan itu sendiri yakni seolah-olah Gereja sendiri adalah lembaga penyelamatan Allah.

(30)

yang mestinya mengakui dengan rendah hati bahwa yang terpenting dan yang menjadi penyelamat adalah Yesus Kristus dan bukan diri sendiri”. Gereja hanyalah sakramen keselamatan Allah dan bukan lembaga keselamatan itu sendiri. Kerajaan Allah dan karya keselamatan Allah jauh lebih luas daripada Gereja. Gereja hanya menampakkan saja yakni menandakan dan menghadirkan keselamatan itu bagi dunia. Menurut Kasper dalam Martasudjita (2003: 104-105) menafsirkan mengenai sakramen Gereja dalam dokumen Vatikan II, yang terbagi menjadi 4 poin. Pertama, peristilaan Gereja sebagai sakramen keselamatan harus dimengerti dalam keseluruhan eklesiologi Vatikan II. Istilah tersebut bukan satu-satunya yang dikatakan Vatikan II

mengenai Gereja. Ada banyak sebutan lain: “umat Allah, kandang, tanaman dan ladang Allah, bangunan Allah, keluarga Allah, mempelai Kristus, dan tubuh Kristus”. Adanya banyak sebutan untuk Gereja ini menunjuk pemahaman Konsili bahwa Gereja pertama-tama merupakan misteri. Istilah Gereja sebagai sakramen tidak tepat. Kedua, pemahaman Gereja sebagai sakramen Keselamatan perlu diletakan dalam Kristologis yang jelas, menunjuk bahwa “Gereja itu bagaikan sakramen dalam

(31)

sifat dari sakramentalitas Gereja. Keempat, pernyataan Vatikan II mengenai Gereja sebagai sakramen sebenarnya di satu pihak menunjuk bahwa sebutan sakramen

“menunjuk pada realitas Gereja yang kompleks yang membuat kesatuan tegangan antara kelihatan dan tidak kelihatan yang manusiawi dan Ilahi dan yang untuk misteri itu orang hanya bisa memahami dalam iman”. Gereja disebut sakramen, itu berarti bahwa apa yang tampak dalam Gereja menjadi simbol real, yakni tanda yang efektif dan menghadirkan keselamatan Allah yang terlaksana di dalam Kristus bagi dunia.

Menurut Madya Utomo (2017:3-4) karya keselamatan Allah itu dinyatakan dalam Yesus Kristus, maka Yesus Kristus dapat disebut sebagai sakramen pokok. Sebagai sakramen keselamatan Bapa, Kristus dapat disebut sebagai “simbol representatif karya keselamatan Allah”. Representatif yaitu simbol yang menunjuk dan menghadirkan realitas melalui tanda dan simbol. Seluruh hidup Yesus menampilkan karya keselamatan Allah. Maka Ia menjadi sakramen Allah, tanda dari keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia. Kehadiran Kristus di dunia menghadirkan karya keselamatan Allah diteruskan oleh Gereja. Dengan hidup dan karya-Nya, Gereja menghadirkan karya Kristus sendiri di dunia ini melalui sakramen Kristus yang menjadi tanda dan sarana yang menghasilkan keselamatan Allah.

3. Tujuh Sakramen dalam Gereja

Gereja sebagai sakramen terwujud dalam tujuh sakramen Gereja. yaitu Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Perkawinan, Sakramen Tahbisan, Sakramen pengurapan orang sakit.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996:420) mendefinisikan pengertian Sakramen Baptis sebagai berikut:

(32)

Yesus dan Menjadi anggota Gereja, berarti menjadi pengikut Kristus dan mampu terlibat dalam pelayanan Gereja.

Menurut Martasudjita (2003:266) “sakramen Ekaristi merupakan sakramen utama, dikatakan utama karena Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup

Kristiani”. Seluruh misteri kehidupan bersama dengan Allah dan manusia yang mengalami kepenuhannya dengan Kristus. Secara lebih mendalam sakramen Ekaristi akan dibahas pada no 4.

Martasudjita (2003:245) menjelaskan bahwa sakramen krisma adalah

“penerimaan karunia Roh Kudus dengan pengurapan minyak. Maka itu berarti bahwa umat yang beroleh bagian atau ambil bagian dalam pengurapan roh Allah pada diri Kristus”. Pengurapan Roh Kudus atas diri orang-orang Kristiani lebih merupakan suatu gambaran bahwa Roh Kudus ini benar-benar berkarya dalam diri mereka, sebagaimana Kristus terurapi. Penguatan dihubungkan dengan karunia Roh Kudus yang memberi kekuatan untuk bertumbuh sebagai orang Kristiani dan memampukan orang beriman ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:430) mendefinisikan pengertian sakramen tobat sebagai berikut:

Sakramen Tobat adalah mengakui segala dosa melalui sakramen tobat, tidak hanya dosanya diampuni, tetapi Ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja. Di mana kita memperoleh belas kasihan Allah berupa pengampunan atas dosa yang diakui dan disesali. Tetapi bisa terjadi kejahatan yang besar terkena hukuman Gereja yaitu ekskomunikasi.orang tersebut tetap menjadi anggota Gereja namun dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi dan tugas gereja lainya.

(33)

pelayanan, dan pengudusan”. Sedangkan tahbisan lebih menekankan aspek peristiwa penuh rahmat yang mengubah dan menguduskan seseorang menjadi pemimpin gereja.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:435-436) mendefinisikan pengertian Sakramen Perkawinan sebagai berikut: “sakramen perkawinan pada dasarnya juga menyangkut keanggotaan Gereja dalam arti Sakramen perkawinan adalah syarat dapat mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi”.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI, 1996: 414) menyatakan bahwa

“sakramen Pengurapan orang sakit adalah orang yang menerima sakramen perminyakan dan doa khusus ketika orang sungguh-sungguh menghadapi musuh yang

terakhir ialah “maut”. Melalui perminyakan suci dan doa para imam dan seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan. Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus, dengan mengoleskan minyak suci dan doa. Sakramen ini mengharapkan penyembuhan ataupun kekuatan untuk menghadapi maut.

4. Sakramen Ekaristi

Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996:401-403) Sakramen Ekaristi adalah “sakramen utama”. Ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang menyebut Ekaristi sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani.

(34)

Menurut Martasudjita (2005:292) ajaran mengenai Ekaristi ada di dalam berbagai dokumen Gereja, terutama konsititusi Lumen gentium, sacrosanctum concillium dan dekret presbyterorum ordinis. Secara singkat dan padat, Vatikan II merumuskan ajarannya mengenai Ekaristi SC 4:

Pada perjamuan terakhir, pada malam ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian ia mengabdikan kurban salib untuk selamanya dan mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, perjamuan paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa penuh rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemulian yang akan datang.

Meskipun Vatikan II tidak memberikan dogma baru mengenai Ekaristi tetapi Konsili ini mengajarkan Ekaristi secara baru. Mengenai sakramen dan Ekaristi dalam konteks aspek Antropologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan sifat manusiawi atau kemanusiaan manusia. Dalam setiap sakramen ada Materi (Tanda / Perbuatan) dan Forma (kata) yang dapat dipahami (atau diindera) manusia. aspek Kristologis; Adalah aspek yang bersumber pada Kristus sebagai asal dari semua sakramen, karena Kristus adalah Sakramen Dasar. Aspek Eklesiologis; Adalah aspek yang berhubungan dengan Gereja sebagai pelaksana sakramen berdasarkan perintah Kristus dan sebagai jemaat. Gereja adalah sakramen keselamatan karena Gereja adalah tanda persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja menghadirkan Kristus, Kristus menghadirkan Allah. Konsili Vatikan II tetap menyampaikan berbagai ajaran tentang Ekaristi yang tersebar diberbagai dokumen.

(35)

puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi dipahami sebagai “sumber dan puncak,

karena melalui Ekaristi tampaklah pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Ekaristi yang paling mendasar, karena dalam Ekaristi persatuan dengan Kristus dan

tentu saja juga dengan seluruh umat, ditampilkan dalam tanda”.

Perayaan Ekaristi dibagi menjadi dua bagian yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Ekaristi ada dua unsur pokok; perayaan Syukur dan perjamuan. Ungkapan syukur laksanakan dalam bentuk perjamuan. Ekaristi sendiri berarti syukur. Karena kebaikan Allah yang telah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi berarti syukur, berarti mengenangkan peristiwa yang kita alami. Dalam upacara ataupun tradisi dalam masyarakat, selalu membuat syukuran melalui berkat yang diterima dari Tuhan. Melalui perayaan syukur ini orang-orang menjadikan ini tanda persekutuan dan persaudaraan sekaligus ikut merasakan berkat Allah yang melimpah bagi hidup kita.

Menurut Madya Utomo (2017:23-25) “Ekaristi juga berbentuk perjamuan, sudah menjadi kebiasaan Gereja Perdana untuk berkumpul dan mengadakan

(36)

tidak hanya terjadi pada masa lampau tetapi keselamatan kita rasakan hingga saat ini. Berkat dan rahmat keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia dalam perayaan Ekaristi kita terima dengan menyambut komuni, tubuh darah Kristus sendiri. Dengan menyambut komuni persatuan dengan penyerahan diri Kristus menjadi nyata.

Dalam Ekaristi, kehadiran Kristus terjadi secara “sacramental, artinya dalam tanda yang konkrit. Dalam hal ini Gereja mengajarkan mengenai kehadiran Kristus secara real dalam rupa roti dan anggur” (Madya Utomo 2017:23-25) Kehadiran Kristus dalam Ekaristi memang kehadiran yang sungguh nyata, dan bukan hanya tanda dan simbol. Sungguh, nyata dalam arti tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus. Kehadiran Kristus terjadi selama perayaan, komuni, dan saat roti dan anggur disantap. Tetapi dengan jelas Gereja Katolik mengajarkan bahwa “kehadiran Tuhan dalam Ekaristi bukan hanya selama perayaan atau bila disantap”. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi tetap ada dan tidak dibatasi pada saat perayaan saja.

5. Menghayati Sakramen Ekaristi

Yang pokok dalam penghayatan sakramen mahakudus yaitu sumber puncak seluruh hidup Kristiani. Dalam perayaan seluruh umat dapat bersatu di dalam Gereja secara nyata. Melalui Ekaristi orang yang mengimani Kristus semakin penuh bersatu dengan tubuh dan darah Kristus sebagai sumber keselamatan dan puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi dipahami sebagai “sumber dan puncak, karena melalui Ekaristi tampaklah pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Ekaristi yang paling mendasar, karena dalam Ekaristi persatuan dengan Kristus dan tentu saja juga

dengan seluruh umat, ditampilkan dalam tanda”. Konferensi Waligereja (KWI 1996:

413-414) mengatakan bahwa “Komuni berarti ikut serta secara sacramental melalui

(37)

Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. “Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi dalam iman dengan Kristus. Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja’. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang karena iman hadir dalam seluruh umat.

Kesimpulan mengenai Ekaristi sesuai dengan ajaran konsili vatikan II yang menyebut Ekaristi sumber puncak seluruh hidup Kristiani. (Martasudjita 2005: 29)

“kata dari Ekaristi mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah

(38)

suatu pertemuan pribadi, dalam iman dengan Kristus. Bersatunya jemaat dalam Kristus menjadi wujud dan membentuk satu tubuh dalam Kristus.

6. Liturgi Sakramen Ekaristi

Dalam sejarah perkembangan Gereja, Liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas, yakni “untuk menyebut berbagai macam karya

pelayanan” (Martasudjita, 2011: 15). Dengan demikian, Liturgi sebagai kultus (upacara) manusia untuk menyembah Allah sebagai karya penyelamatan Allah pada umatnya. Yang terlibat dalam Liturgi adalah “Kepala, dan anggota Mistik Kristus” (SC 7) itu berarti, subjek atau pelaku Liturgi adalah Yesus Kristus dan Gereja. Maka Liturgi selalu merupakan tindakan Kristus dan Gereja. Sehingga di dalam Liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai

“Mempelai-Nya dan Tubuh-Nya sendiri. Yang dimaksud dengan Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus (Martasudjita, 2011:22)”. Dalam pembaharuan dan pengembangan Liturgi suci keikutsertaan segenap umat secara penuh dan aktif itu perlu sangat diharapkan.

7. Struktur Perayaan Ekaristi

(39)

Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Tuhan Yesus Kristus dan seluruh karya penebusan-Nya secara sacramental dalam persekutuan umat Dari pengertian dasar Ekaristi sebagai perayaan kehadiran Tuhan ini, kita bisa memahami makna perbagian dari perayaan Ekaristi.

Menurut Suharyo (2011:15) menjelaskan ritus pembuka memiliki tujuan untuk “mempersatukan umat yang berhimpun dan menyiapkan mereka supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan sebaik-baiknya”. Mempersatukan dan mempersiapkan umat agar mereka dapat mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Bagian- bagian dalam Ritus Pembuka biasanya ada perarakan masuk, penghormatan altar, pendupaan, tanda salib, salam, pengantar, tobat, kyrie (Tuhan kasihanilah) Gloria (kemuliaan) dan doa pembuka (Martasudjita 2005:118).

Martasudjita (2005:133) menjelaskan Liturgi Sabda, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi Ekaristi dalam keseluruhan Ekaristi. Liturgi sabda dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi sabda Allah. Pewartaan Allah dilaksanakan dalam pembacaan Kitab suci dan Homili yang memperdalam sabda Allah. Tanggapan umat atas sabda Allah melalui mazmur tanggapan dan bait pengantar injil serta syahadat dan doa umat kepada Allah.

Liturgi Ekaristi yaitu pusat seluruh perayaan Ekaristi. Sebab dalam Liturgi Ekaristi doa syukur Agung yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi (PUMR 30 dan 78). Doa Syukur Agung terdiri dari dua bagian: “Puji-syukur dan

(40)

sampaikan melalui permohonan, tanda kepercayaan akan kebaikan Allah. Dengan selalu mengandalkan Tuhan didalam hidup ini meenandakan bahwa kita selalu mengimani dan percaya pada Allah. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI 1996: 406).

Melalui doa Syukur Agung, umat dapat menyampaikan “ucapan puji syukur kepada Allah Bapa atas seluruh karya penyelamatan-Nya melalui Yesus Kritus yang wafat dan bangkit kepada-Nya dipersembahkan roti dan anggur yang menjadi tubuh dan darah Kritus dan doa-doa permohonan”. Komuni merupakan kesatuan bagian Liturgi Ekaristi. Kesatuan umat beriman dengan Tuhan sudah terjadi dari awal hingga akhir perayaan Ekaristi, hanya saja kesatuan dan persatuan kita dengan Kristus terjadi secara singkat dan istimewa dalam bentuk tanda menyantap tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Menyambut tubuh Kristus kita juga berpartisipasi dalam seluruh karya penebusan Kristus yang dikenangkan atau dihadirkan dalam doa syukur Agung (Martasudjita, 2005:143).

Ritus penutup, mengakhiri seluruh rangkaian perayaan Ekaristi dan mengantar umat untuk kembali menjalankan kehidupannya sehari-hari dan menjalankan utusannya di dunia melalui berkat dan pengutusan yang kita terima dari Allah melalui tangan imam. Inti dari ritus penutup ini adalah berkat dan pengutusan, sebelumnya di sampaikan pengumuman serta perarakan keluar. Berkat mengungkapkan bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyertai umatnya, dengan menerima berkat kita dianugrahi kesatuan hidup dengan persatuan Allah Tritunggal. Berkat memungkinkan kita untuk melaksanakan tugas perutusan. Pengutusan mengharapkan kita untuk melaksanakan apa yang telah kita rayakan dalam misa kudus dalam hidup sehari-hari. Dalam teks TPE 2005 pengutusan diawali dengan

(41)

“syukur kepada Allah” kemudian disampaikan pengutusan itu; “Marilah pergi! Kita diutus”dan umat menjawab amin” (Martasudjita, 2005:212).

B. Perkembangan Iman dan Moral anak usia Misdinar

Keterlibatan anak remaja pada saat melayani di Gereja membantu Perkembangan iman di dalam diri seorang anak remaja secara perlahan-lahan. Untuk mencapai pada tindakan tersebut maka remaja perlu didampingi dalam perkembangan iman mereka. Perkembangan Iman anak saling berhubungan antara pemikiran, hati, dan tindakan yang menjadi teladan untuk remaja sebagai penerus Gereja. Sebagai pelayan Gereja Tahap perkembangan kepercayaan anak memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga dengan bertumbuh kembangnya anak semakin mampu untuk mendalami iman kepercayaannya. Usia Anak remaja yang ikut terlibat khususnya sebagai pelayan Altar sekitar 9-18 Tahun.

1. Kepercayaan Mitis-Harfiah

Menurut Fowler (1995:117) tahap perkembangan Mitis-Harfiah usia 6-12 tahun. Menjelaskan Mitis-Harfiah menjadi salah satu cara anak untuk memahami kepercayaan dengan mudah. Mitis atau yang disebut mitos adalah kisah suci yang menceritakan berbagai kisah mengenai kehidupan atau kepercayaan pada zaman sebelumnya. Mitos juga erat dikatakan kaitannya dengan ritual kepercayaan.

(42)

(Fowler, 1995:131) ada beberapa Ciri-ciri Mitis-Harfiah anak- anak memahami dan mengartikan dunia pengalamannya melalui cerita, simbol religius, gambaran, tradisi, upacara, musik dan tokoh-tokoh berani yang menjadi sarana anak memahami cerita secara konkrit. Anak memahami cerita mitis secara harfiah, artinya mitos belum dimengerti sebagai salah satu bahasa simbolik melainkan ditanggap menurut arti kata-kata.

Pada tahap perkembangan iman seorang anak harus diseimbangi dengan perkembangan moral yang sudah dibina sejak awal. Penalaran moral pada diri anak hingga remaja memiliki tahap yang berbeda. Yang pertama tingkat prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kholberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan nilai-nilai moral karena penalaran moral dikendalikan oleh imbalan dan hukuman. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman. Pada tingkat pertaman ada dua tahap di antaranya: tahap I orientasi hukuman dan ketaatan, tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka lebih untuk taat. Tahap II individualism dan tujuan, pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat Karena itu yang terbaik bagi mereka. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah (Kohlberg 1995:80).

2. Kepercayaan Sintetis-Konvensional

(43)

dalam arti istilah ini bisa tercapai bila ada beberapa orang atau kelompok secara umum sepakat sehingga dapat terjadi persepakatan (Fowler 1995:136). Ciri-ciri tahap sintetis konvensional yaitu a)Remaja mampu memahami simboi menurut artinya

yang mengandung banyak dimensi. b)Gambaran religius dan keyakinan religius disahkan oleh konvensi dan konsesus umum (Fowler, 1995:144). c)Gambaran mengenai kesatuan dengan Allah yang transenden dicapai melalui simbol. d)Allah menjadi tokoh yang mewakili dan melambangkan segala harapan sah, remaja. . (Fowler, 1995: 157)

Perkembangan moral pada tahap konvensional merupakan suatu tingkat penggabungan didalam diri remaja untuk menaati aturan-aturan baik dari dalam (keluarga) maupun luar (masyarakat) tertentu, tetapi mereka tidak menaati aturan dari dalam dan luar. Penalaran konvensional memiliki dua tahap, yang pertama norma-norma interpersonal, dimana seseorang mengharagi kebenaran, kepedulian, dan kesetiaaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik kedua, moralitas sistem sosial; dimana suatu pertimbangan itu didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan dan kewajiban. Semua orang harus mematuhi peraturan yang sudah ada. Perbuatan yang benar adalah mengikuti sebuah peraturan yang sudah ditetapkan sehingga orang dapat merasakan rasa hormat dengan menaati peraturan (Kohlber 1995: 81).

3. Kepercayaan Individuatif-Reflektif

Menurut Fowler (1995:160) Kepercayaan Individuatif-Reflektif pada usia 18 tahun ini orang dewasa tidak bergantung terhadap orang lain dan mampu mandiri,

sehingga kesadaran diri untuk refleksi dapat dilakukan lebih mendalam.” Dalam

(44)

kritis, mengenai keyakinan kepercayaan, simbol-simbol dan cerita mitis. Perkembangan iman orang dewasa dapat dilakukan melalui ritual dan simbolik, Ritual juga mempunyai langkah-langkah yang memiliki makna dan arti sehingga dapat direfleksikan dan dipahami. Sehingga perkembangan iman orang muda dewasa terus berkembang. Dari tahapan Individuatif-reflektif memiliki ciri bahwa orang muda dewasa dapat mengembangkan kepercayaannya melalui ritual, simbol dan gambaran dogmatis secara lebih mendalam melalui refleksi secara pribadi.

Menurut Kohlberg (1995:82) “Perkembangan moral pada tahap pasca konvensional dicirikan oleh dorongan utama menuju prinsip-prinsip yang mandiri.” Dimana pada tahap ini kesadaran akan sebuah peraturan dan hukum yang harus ditaati. Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan kode yang dapat diterapkan. Kedua, prinsip-prinsip etis yang dipilih dari hati nurani yang berlaku untuk umat manusia, jika seseorang menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati walaupun keputusan itu melibatkan resiko pribadi.

C. Misdinar

Misdinar adalah sekolompok remaja Katolik yang berjiwa penuh pengabdian, tanpa pamrih, menyediakan dirinya dengan rela untuk melayani dalam gereja ibadat atau kebaktian liturgis, khususnya dalam perayaan Ekaristi (Gabriel, 1997:11).

(45)

supaya tidak banyak mengalami kesulitan saat bertugas (Menurut Gabriel 1997:17). Harus berpantang dari segala makanan dan minuman (hanya boleh minum air) minimal satu jam sebelum menyambut Komuni (bukan satu jam sebelum Misa dimulai (KHK 1983, Kanon 919).

Tugas Misdinar ialah mendampingi pemimpin liturgi dalam perayaan liturgi,

agar kebutuhan imam terpenuhi, dan dalam arti tertentu “mewakili” umat di sekitar Altar, selain itu Misdinar dapat menambah perayaan khususnya pada hari raya dan kesempatan khusus (Gabriel, 1997:59).

1. Sejarah Misdinar

Sejarah Misdinar terkait erat dengan sejarah perayaan Ekaristi dan pelayanan para akolit. Dalam hal ini ada keterkaitan antara Misdinar, akolit dan perayaan Ekaristi (Gabriel 1997: 11).

Pada zaman gereja purba Misa Kudus senantiasa dirayakan untuk mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Demikian juga ketika gereja mengalami penganiayaan oleh pemerintah Romawi, secara sembunyi-sembunyi para pengikut Kristus tetap setia merayakan Misa Kudus. Sampai abad ketiga yang boleh mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus hanya para uskup Kemudian Tuhan dan darah Kristus itu dibawa oleh para Akolit ini pertama kali dikenal di Roma pada pertengahan abad III. Biasanya mereka juga bertugas membawa lilin. Sedangkan menurut surat-surat St. Cyprianus, para Akolit di Afrika bertugas sebagai pengantar surat dan persembahan (calon Imam). Makan dalam merayakan Ekaristi dibantu oleh para remaja Katolik yang disebut pelayan misa.

(46)

(1962-1965), tugas Misdinar tidak hanya melayani Imam, tetapi juga menjawab doa-doa imam saat konsekrasi “Prefasi umat”. Setelah Konsili Vatikan II Gereja memperbaharui liturgi dan mengajak seluruh berpartisipasi aktif didalam liturgi. Misdinar juga mempunyai pelindung yakni Santo Tarsisius yang diperingati setiap 15 Agustus Tarsisius yang hidup sekitar tahun 250 Masehi adalah seorang Misdinar. Dia adalah Misdinar seorang paus!. Pada masa Gereja masih masa penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. (RS 47) mempertahankan kebiasaan yang luhur sangatlah dianjurkan, pelayanan altar oleh anak laki-laki dan pemuda biasanya disebut ajuda atau pelayanan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara para akolit namun berjalannya waktu para perempuan diberi izin untuk melayani altar, sesuai kebijakan diosesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

2. Bentuk-bentuk Kegiatan Misdinar

Kelompok misdinar merupakan salah satu kelompok kategorial anak yang ada dalam Paroki. Dalam perkembangannya, kelompok misdinar dalam setiap Paroki memiliki kegiatan masing-masing. Kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok misdinar tidak jauh dari kegiatan yang dapat meningkatkan kecintaan terhadap Gereja. Kegiatan tersebut meliputi melaksanakan tugas dalam Perayaan Ekaristi, latihan misdinar, dan pertemuan rutin anggota kelompok.

a. Tugas dalam perayaan Ekaristi

(47)

buku (Gabriel, 1997: 22). Selama perayaan berlangsung, misdinar bertugas melayani imam seperti membawa piala dan sibori ke altar, membawa ampul berisi air anggur ke imam, menolong imam mencuci tangan, dan membantu imam membersihkan bejana-bejana suci (Waskito, 1984: 22). Ketika perayaan Ekaristi selesai, para misdinar masih memiliki tugas membantu koster kembali untuk meringkas buku dan perlengkapan Misa (Gabriel, 1997: 22).

b. Latihan misdinar

Latihan misdinar biasanya dilakukan menjelang hari-hari besar seperti perayaan Natal dan Pekan Suci (Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah, Minggu Paskah). Dalam pelaksanaannya, Misa meriah yang telah disebut di atas memiliki perbedaan dengan hari Minggu biasa. Setiap perayaan memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Alat-alat liturgi yang dibutuhkan biasanya dalam setiap perayaan berbeda, dan jumlahnya lebih banyak. Oleh karena itu, butuh persiapan yang matang bagi para misdinar untuk mengetahui fungsi alat-alat liturgi serta kapan alat tersebut digunakan.

Dalam khotbahnya pada bulan April 1980, Paus Yohanes Paulus II berpesan sebagaimana dikutip oleh Waskito (1984:11) bahwa dalam melaksanakan tugas melayani itu dibutuhkan persiapan yang baik supaya pada waktu hari pelaksanaan dapat bertugas dengan baik, khidmad, dan lancar karena liturgi menghubungkan kita dengan Kristus yang amat kudus.

c. Pertemuan rutin

(48)

pertemuan rutin pada umumnya adalah pembagian jadwal untuk tugas, doa bersama, dan memperdalam pengetahuan tentang liturgi Gereja. Dalam prakteknya, pertemuan misdinar tidak hanya terpaku pada pembagian tugas semata, namun juga dapat dikemas dengan acara yang menarik seperti rujakan, rekreasi bersama, fun bike, diskusi, perkemahan, rekoleksi ataupun olahraga. Bahkan tidak menutup kemungkinan para misdinar mengadakan anjangsana misdinar ke Paroki lain atau mengunjungi seminari. Hal ini dilakukan untuk semakin menanamkan tali persaudaraan antar anggota, dan menciptakan iklim yang menyenangkan dalam komunitas tersebut. Dalam hal ini, pengurus meminta pertimbangan kepada pendamping ataupun pastur Paroki (Gabriel, 1997: 24).

1. Spiritualitas Misdinar

Spiritualitas berasal dari kata Spirit yang berarti roh, jiwa semangat. Dengan demikian spiritualitas Misdinar dapat diartikan sebagai semangat yang mesti menjiwai pelayanan para Misdinar. Sebagai pelayan Misa, hendaknya kita mengembangkan semangat / jiwa pengabdian tanpa pamrih. Adapun yang dimaksud dengan semangat pengabdian tanpa pamrih adalah. Gabriel (2001:78)

a. Melayani dengan penuh cinta

Melayani bukanlah tugas yang hina, melainkan tugas yang luhur dan mulia. Apalagi Tuhan sendiri yang kita layani dalam perayaan Ekaristi. Karenanya, semangat ini juga menyiratkan rasa syukur atas kesempatan boleh melayani Tuhan dan sesama.

b. Melayani tanpa pamrih

(49)

bertugas, asalkan ditraktir atau diajak piknik. Menjadi Misdinar agar nilai agamanya bagus atau pelayanannya di altar disalahgunakan sebagai ajang bermain dan cari perhatian dan sebagainya.

c. Mewaspadai virus misdinar

Dalam kaitannya dengan spiritualitas misdinar, perlu diketahui pula mengenai virus yang mengincar para misdinar. Virus adalah kepanjangan dari pikiran rusak. Adapun yang termasuk virus misdinar adalah malas, terlebih bila tidak ditugaskan pada misa-misa favorit, mengharap imbalan, sombong lantaran bisa menjadi anaknya romo, dengki atau iri terhadap kelebihan rekan-rekannya atau kelompok lain, ikut-ikutan atau tidak punya pendirian, nakal dan nekad, selalu mencari alasan untuk berdalih, ramai atau kurang bisa bisa menjaga keheningan di gereja dan di sakristi (Gabriel, 2001: 94).

3. Nilai-nilai yang didapatkan dengan menjadi anggota Misdinar

Tugas pelayanan itu hendaknya juga dilandasi oleh semangat cinta kerena tugas Misdinar itu suatu tugas yang mulia. Sebab Tuhan sendrilah yang mereka layani dalam perayaan Ekaristi.

Menurut Gabriel Nilai-nilai yang Misdinar dapatkan menjadi anggota Altar adalah:

1. Rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Hal ini berarti tidak meremehkan atau melemparkan tugas yang diberikan, tetapi dengan senang hati menerima dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya demi kemuliaan Tuhan. 2. Disiplin; kita dilatih berdisiplin waktu karena misa senantiasa dimulai tepat pada

(50)

3. Kerendahan hati untuk menjadi seorang pelayan dituntut sikap rendah hati. Artinya menyadari bahwa bukan dirinya yang terpenting, melainkan yang dilayaninya. Namun untuk sampai pada kerendahan hati diperlukan perjuangan yang tiada henti, Sebab bahaya kesombongan rohani senantiasa menyerang seorang misdinar.

4. Kesederhanaan; belajar dari baju misdinar yang di pakai untuk bertugas. Diharapkan kesederhanan penampilan lahiriah ini pada akhirnya menjadi sikap hidup sehari-hari.

5. Mau bekerjasama; sikap ini dilatih dengan melaksanakan tugas masing-masing dalam satu tim pelayan Misa maupun dalam organisasi Misdinar.

6. Latihan kepemimpinan dan berorganisasi; dari pengalaman beroganisasi ini kita ketahui bagaimana cara memimpin dan mempersatukan para anggota, serta seni dalam berhubungan dengan orang banyak.

7. Menambah teman; artinya bersama-sama dengan teman seiman, sekelompok dan sebaya ini kita bisa saling bertukar pengalaman.

8. Bertambahnya wawasan keimanan membantu penghayatan iman. Melalui kegiatan Misdinar wawasan keimanan kita diperluas seperti mengenal alat-alat liturgy, sikap-sikap liturgi, seluk-beluk misa Kudus dan berbagi kegiatan rohani. Bertambahnya wawasan keimanan kita turut meningkatkan penghayatan iman kita.

(51)

D. Makna perayaan Ekaristi bagi Misdinar

Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, yaitu liturgi sabda dan liturgi Ekaristi, dan kedua bagian pokok ini, diapit oleh ritus pembuka sebagai bagian yang mempersiapkan dan ritus penutup sebagai bagian penutup (Martasudjita, 2005:116). Dalam perayaan Ekaristi ada banyak petugas palayan untuk melancarakan perayan yang diarayakan terutama salah satunya yaitu misdinar. Anak yang terlibat sebagai tugas misdinar yaitu usia 9-18 tahun. Berdasarkan tahap-tahap kepercayaan: Mitis-harfiah, usia (6-12) tahun, sintetis-Konvensional, usia (13-17) tahun,

individuatif-reflektif, usia (18 ke atas), anak hingga dewasa memiliki pemahaman berbeda –beda untuk memaknai perayaan Ekaristi.

Tahap pertama Mitis-harfiah, anak lebih memahami perayaan Ekaristi melalui simbol yang ada di dalam setiap bagian perayaan Ekaristi. Ritus Pembuka bertujuan untuk mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan mereka agar dapat mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus pembuka diawali dengan perarakan masuk yang diiringi dengan lagu pembuka. Para petugas yang berjalan menuju altar juga membawa berbagai hal simbol yang akan digunakan dalam perayaan Ekaristi, seperti misdinar: membawa salib, dan lilin. Lektor: membawa kitab suci, pemazmur: buku mazmur, dan urutan paling terakhir prodiakon dan Imam (Martasudjita, 2005:119). Lalu sesampainya dialtar, salib dipajang di dekat altar, lilin di atasnya altar dan kitab suci diletakan diatas altar. Untuk memulai perayaan Ekaristi diawali dengan membuat tanda kemengaan (+) sebagai simbol sebagai pengikut Kristus dan tanda keselamatan (Martasudjita, 2005:122) salam, pengantar, tobat, kyrie, Gloria, doa pembuka (Martasudjita. Pada tahap mitis-harfiah usia 6-12 tahun. Anak-anak dapat memaknai simbol lilin: sebagai penerang dan salib:

(52)

selama misa berlangsung. Anak-anak memaknai ritus pembuka sebagai persiapan diri untuk menyambut kehadiran Tuhan yang diiringi dengan lagu-lagu pujian. Nyanyi pembuka ini bertujuan untuk membuka Misa, membina kesatuan umat melalui tobat dan doa-doa (Martasudjita, 2005:116).

Liturgi sabda terbagi menjadi beberapa bagian seperti bacaan pertama, mazmur tanggapan, bacaan II, bait injil / Alleluya, Injil, aklamasi, homili, syahadat, doa umat. Pewartaan sabda Allah dilaksanakan dalam pembacaan kitab suci dan homili yang memperdalam sabda Allah, patut untuk anak-anak dengarkan. Anak mitis-harfiah, dapat memakni bacaan kitab suci sebagai Allah yang hadir sendiri menyampaikan firman-Nya ditengah Gereja karena bacaan Injil merupakan puncak liturgi sabda. “Pembacaan injil menunjuk realitas iman bahwa Yesus Kristus sendiri tetap hadir ditengah Gereja dan terus mewartakan Injil-Nya kepada segala makhluk” (Martsudjita 2005:137).

Setelah selesai mendengarkan liturgi sabda, sekarang dilanjutkan Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi “kehadiran Tuhan dan karya penebusan-Nya bagi Gereja

secara Sakramental, yaitu dalam rupa roti dan angur” (Martasudjita, 2005:117). Persiapan liturgi Ekaristi dapat dilakukan menghantarkan persembahan ke depan altar, terutama roti dan anggur, itulah bahan yang sama yang digunakan oleh Kristus. Secara mitis-harfiah anak memandang bahwa roti dan anggur dipandang sebagai sebuah simbol yang akan dibagi-bagikan kepada seluruh umat khusus orang yang sudah menerima sakramen komuni pertama. Pada kisah kitab suci yang tertulis Markus 14:22-25, mengenai perjamuan malam terkhir yang diadakan bersama

murid-murid Yesus. Liturgi Ekaristi menjadi “Pusat seluruh perayaan Ekaristi, sebab dalam

(53)

Ekaristi”. Roti dan anggur yang berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, dapat

disantap pada saat penerimaan komuni. Namun pada anak-anak yang belum bisa menerima tubuh dan darah Kristus dapat menerima berkat langsung kepada romo. Ini menjadi simbol bahwa Allah memberikan berkat melalui tangan para imam kepada anak-anak.

Ritus penutup, “menyampaikan berkat Tuhan kepada seluruh umat beriman

sebagai kekuatan-bekal dalam menjalankan perutusan Gereja ditengah dunia” (Martasudjita, 2005: 118). Anak-anak memaknainya dengan cara Imam mengangkat tangan keatas beserta ucapan doa berkat kepada semua orang. Para pelayan dan Imam juga turun meninggalkan altar diiringi lagu penutup.

Sintetis-konvensional usia 13-17 tahun, pada tahap ini usia remaja yang semakin dewasa dapat memaknai simbol perayaan Ekaristi yang mengandung banyak arti dimensi. Ritus pembuka, yang diawali dengan perarakan dan diiringi lagu pembuka dengan bertujuan untuk membuka misa dan menghantar masuk kemisteri iman sesuai dengan masa liturgi atau pesta yang dirayakan dan mengiringi para imam beserta pelayan yang lainnya. Perarakan juga terkadang dilakukan dengan Penghormatan atau pendupaan, yang dilakukan pada saat hari-hari raya besar dan

khusus.“Mencium altar ini menjadi lambang untuk memberi salam dan penghormatan

kepada Kristus Sang Imam Agung dan Sang Tuan Rumah perayaan Ekaristi”.

(54)

pembukaan yang sudah disahkan oleh TPE 2005. Remaja memaknai ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ritus pembuka dan remaja memaknainya bahwa kita manusia diberi kesempatan untuk mengakui dosa dan kesalahan sehingga kesiapan batin kita untuk menerima tubuh dan darah Kristus dari hati dan pikiran sudah bersih kembali.

Liturgi sabda, pewartaan Sabda Allah, renungan dan tanggapan umat beriman atas sabda Allah itu. Bacaan I & II dan mazmur tanggapan, membuat suatu dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi Sabda Allah itu (Martasudjita, 2005:133) pewartaan sabda Allah dilakukan dalam pembacaan kitab suci dan homili yang memperdalam sabda Allah. Syahadat singkat merupakan ungkapan tanggapan umat terhadap sabda Allah yang telah didengarkan melalui bacaan-bacaan dan homili. Bagi remaja syahadat singkat ini kita mengakui iman kepercayaan yang digunakan dalam perayaan liturgi pembaptisan.

(55)

2011: 66). Doa syukur Agung dimulai dengan dialog prefasi dan doa/ nyanyian, tiga kali kudus untuk masuk ke dalam Doa Syukur Agung. Didalamnya terkenang perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya sebelum Ia wafat dikayu salib. Kita mengenangkan peristiwa itu dan mengingatkan Bapa akan pengorbanan

Yesus yang mendamaikan manusia dengan diriNya. “Yesus adalah damai sejahtera

kita. Perjamuan malam itu menjelaskan dan memberi arti kepada kematian Yesus” (Suharyo, 2011: 68) kematian dan sengsara Yesus, sulit untuk dilupakan karena pada saat itu Allah memurnikan dan menyembuhkan serta mengembangkan persaudaraan sejati.“Ekaristi mengajarkan kita untuk menghadapi dengan tabah kenangan

-kenangan yang menyakitkan”.

Disini remaja dapat memaknai bahwa segala persoalan yang kita hadapi didalam hidup ini harus penuh perjuangan dan pengorbanan yang murni sehingga Allah akan memberi jalan yang terbaik. Sengsara dan wafat yesus memberi kita makna kepada pengalaman hidup kita sekarang. Puncak dari perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung yang dilanjutkan dengan penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam komuni. Komunio berarti persekutuan kasih. Sebagai persiapan menyambut tubuh darah Kristus kita melakukan salam damai. Ini mengungkapkan simbolis kesadaraan kita sebagai anggota komunitas dan akan kasih Bapa yang mengikat kita satu sama lain. Menyambut tubuh dan darah Kristus adalah harapan semua orang, melalui roti kita menjadi satu tubuh Kristus bersama saudara-saudari seimannya kita (Gal 3:26-29) kita tidak akan mencintai bapa atau mengalami cintanya kalau tidak ada kasih yang tulus terhadap sesama.

(56)

Ekaristi berarti siap diutus untuk memberikan kesaksian tentang hidup kepada

orang-orang yang ada disekitar kita. Demikianlah, “perutusan untuk membagikan hidup Kristus mendorong kita lagi-lagi untuk berhimpun sebagai persekutuan, membaharui iman, menyalakan harapan, memurnikan kasih dan melanjutkan kesaksian hidup dan

pelayanan yang nyata” (Suharyo 2011:101).

Tahap Individuatif-reflektif usia 18 ke atas. Pada tahap ini ritus pembuka orang dewasa memaknainya sebagai perayaan Ekaristi yang mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah tri tunggal memanggil kita, mengundang kita untuk menjadi

persekutuan yang satu. “Kita datang merayakan Ekaristi sebagai tanggapan kita

terhadap undangan Allah Bapa, Putra dan Roh kudus” (Suharyo, 2011:16). Undangan

tersebut ditujukan kepada semua orang tanpa memandang status perbedaan. Pengakuan dosa yang kita lakukan bukan hanya kepada Allah saja melainkan kepada sesama kita. Kita mengakui bahwa kita adalah bagian dari umat manusia yang

berdosa. “Dalam pengakuan diri sebagai orang-orang berdosa, kita menempatkan diri

kita sebagai makhluk ciptaan Allah”.

(57)

Keyakinan yang ada dibalik doa umat ialah bahwa Allah adalah Dia yang selalu mendengarkan.

Liturgi Ekaristi adalah puncak seluruh perayan Ekaristi. Dimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus atau disebut dengan Transubtansiasi. Perubahan roti dan anggur ini didalamnya dikenang perjamuan

malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya, sebelum Ia wafat dikayu salib. Kita mengenang peristiwa itu dan mengingatkan Bapa akan pengorbanan Yesus yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Yang kita kenangkan pada malam ketika Ia dikhianati, ia mengambil roti dan mengubahnya. “Kenangan itu mempunyai daya

memurnikan dan menyembuhkan serta mengembangkan persaudaraan yang sejati”.

Karena dalam kenangan akan peristiwa yang seperti apapun gelapnya, kita melihat karya Allah yang mengubah malam kelam penghianatan menjadi perdamaian (Suharyo,2011: 69).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...