Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository

204 

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW I

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh: Christina Inggriani

NIM: 101134149

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

Halaman Persembahan

Skripsi ini ku persembahkan kepada :

Tuhan Yesus Kristus

Bunda Maria

Para dosen PGSD Universitas Sanata Dharma

Dosen pembimbing payung

Jigsaw

Kedua Orang Tuaku, Bapak Hari Suprayitno & Ibu Menik

Rukmiyati

Kakakku Roberttus Bellarmino, Flaurentina Sulistyaningrum,

Nicolaus Bellarmino, dan Agnes Yeni.

Kekasihku Ruru Tri Baskoro

(5)

v

Motto

Pemenang adalah orang yang pernah jatuh namun sanggup untuk

bangkit kembali dan belajar dari kesalahan masa lalu.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut

bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 11 Juni 2014 Penulis

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangandi bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Christina Inggriani Nomor Mahasiswa : 10 1134 149

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SEKOLAH

DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE JIGSAW I

Beserta perangkat (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 11 Juni 2014

Yang menyatakan

(8)

viii

ABSTRAK

Inggriani, Christina. (2014). Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I: Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum diketahuinya perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I pada materi mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental tipe nonequivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Tegalrejo 2 Yogyakarta yang berjumlah 62 siswa, dan sampel penelitian ini adalah siswa kelas IV A yang berjumlah 31 untuk kelompok eksperimen dan sampel penelitian kelas IV B yang berjumlah 31 untuk kelompok kontrol. Instrumen penelitian menggunakan soal pilihan ganda sebanyak 20 soal yang valid dan reliabel. Pengujian validitas instrumen menggunakan korelasi point bisserial dengan signifikansi 0,05 dan r tabel 0,361. Pengujian reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach yang menghasilkan nilai koefisiensi 0,909 yang masuk dalam kategori sangat tinggi. Teknik pengumpulan data menggunkan soal pretest dan posttest yang diberikan kepada siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis data menggunakan bantuan program IBM 20 SPSS Statistics for Windows dengan independent sample t-test.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol. Hal ini terlihat dari hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.0001 atau < 0.05. Temuan penelitian ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana dan mengapa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar siswa.

(9)

ix

ABSTRACT

Inggriani, Christina. (2014).The Differences of IPS (Social Science) Learning Achievement in 4th grade Primary School to the Application of Jigsaw type I Cooperative Learning Model. Minithesis. Yogyakarta: Primary School Teacher Education Program, Sanata Dharma University.

The background in this study was not yet known the differences of IPS achievement 4th grade primary school to the application of Jigsaw type I cooperative learning model. The purpose of this research is to identify the difference of IPS learning achievement in 4th grade Primary School to the application of Jigsaw type I cooperative learning model on the material economic activities related to the natural resources and other regional potentials .

The type of this research is quasi experimental with non-equivalent control group design. The research population are the 4th grade students of Tegalrejo 2 Yogyakarta Elementery School, they were 62 students. The samples of experiment class were 4th grade students in IVA class with 31 students, while samples of control class were 4th grade students in IVB with 31 students too. The researcher used 20 items multiple choices test as instruments which valid and reliable. Validity test techniques used Point Biserial Correlation with signification level 0.05 and r score table is 0.361. Reliability test formula used in this research was Alpha Cronbach with reliability coefficient 0.909 (included in high qualification). The data collecting technique was conducted using pretest and postest questions was given to students of experiment and control groups. Data analysis was conducted using SPSS 20 for Windows with Independent sample t-test.

The results showns that there is a difference of students learning achievement of 4th grade in application of cooperative learning models type jigsaw I in experimental group and conventional learning models in control group. It could be seen from the hypothesis the result that shows the significance in 0.001 or < 0.05. The finding enrich the understanding about how and why cooperatife learning type jigsaw I gives contribution towards students learning achievment.

Keywords: IPS (Social Sciences) learning achievement, Jigsaw type I

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha atas berkat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I ”.

Skripsi ini disusun dengan tujuan memenuhi salah satu syarat memperolah gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakulktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Dalam penyusunan skripsi ini penulis memperoleh bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara moriil maupun materiil. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada kepada:

1. Rohandi, Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J, S.S., B. ST., M. A., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. Catur Rismiati, S. Pd., M.A., Ed. D., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Drs. Y. B. Adimassana, M. A., selaku Dosen Pembimbing I yang bersedia meluangkan waktu, memberikan bantuan, dukungan, arahan, dorongan dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Rusmawan, S. Pd., M. Pd., Selaku dosen pembimbing II yang bersedia meluangkan waktu, memberikan arahan, dorongan dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Drs. Sukawit, M.A., selaku kepala SD Negeri Tegalrejo 2 Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan penelitian ini.

(11)

xi

8. Mugi Rahayu, S.Pd., selaku guru kelas IVB yang berkenan memberikan memberikan masukan serta bantuan waktu yang bermanfaat bagi penulis dalam melaksanakan penelitian ini.

9. Siswa dan siswi kelas IVA dan IVB SD Negeri Tegalrejo 2 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang telah bersedia menjadi subyek penelitian. 10. Seluruh dosen Prodi PGSD yang telah memberikan dukungan dan

bimbingan serta bantuannya selama penulis kuliah.

11. Pak Hermoyo, Bu Tri, Mas Andi, Bang Ipin (Sekretariat PGSD), atas kerjasamanya dalam melayani selama kuliah dan pembuatan surat ijin penelitian serta keperluan peneliti yang lainnya.

12. Kedua orang tuaku Bapak Agustinus Hari Suprayitno dan Ibu Stanelia Menik Rukmiyati yang telah memberikan kasih sayang serta dukungan secara moriil maupun materiil.

13. Kakakku Roberttus Bellarmino, Florentina Sulistyaningrum, Nicolaus Bellarmino, dan Agnes Yeni yang selalu memberi dukungan, bantuan dan semangat setiap saat.

14. Ruru Tri Baskoro sahabat sekaligus kekasihku yang selalu mendukung, membantuku serta memberikan cinta kasih.

15. Sahabat-sahabatku kelas A PGSD USD angkatan 2010 yang selalu mendukungku.

16. Teman-teman Payung Jigsaw : Lala, Fajar, Arma, Novem, Iren, Dina, Oca, Novi, Septi kita telah berjuang bersama.

17. Teman-teman seperjuangan PPL SDN Tegalrejo 2 Yogyakarta : Apri, Zega, Zulfan, Nopem, Fajar, Tama, Siska yang selalu memberikan keceriaan disaat penelitian berlangsung.

18. Sahabatku Veronica Daristi Muktiningtyas yang selalu menemaniku bermain dikala bingung menyelesaikan skripsi ini.

19. Diyah Septiningtyas dan Seni Nurahmawati, sahabat kecilku yang selalu menghiburku.

(12)

xii

21. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantuku selama penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Yogyakarta, 11 Juni 2014

Penulis

(13)

xiii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR GAMBAR ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 6

1.3 Rumusan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

(14)

xiv

1.5.2 Manfaat Praktis ... 7

1.5.2.1 Bagi Sekolah ... 7

1.5.2.2 Bagi Guru ... 7

1.5.2.3 Bagi Siswa ... 7

1.5.2.4 Bagi Peneliti ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

2.1 Kajian Pustaka ... 8

2.1.1 Belajar ... 8

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ... 18

2.1.3 Ilmu Pengetahuan Sosial ... 33

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan ... 38

2.3 Kerangka Berfikir ... 45

2.4 Hipotesis Penelitian ... 46

BAB III METODE PENELITIAN... 47

3.1 Jenis Penelitian... 47

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 48

3.2.1 Tempat Penelitian ... 48

3.2.2 Waktu Penelitian ... 49

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 49

3.3.1 Populasi Penelitian ... 49

3.3.2 Sampel penelitian ... 49

3.4 Variabel Penelitian ... 50

(15)

xv

3.6 Instrumen Penelitian ... 51

3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 52

3.7.1 Validitas Instrumen ... 52

3.7.2 Reliabilitas Instrumen ... 56

3.8 Teknik Pengumpulan Data ... 57

3.9 Teknik Analisis Data... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 63

4.1 Hasil Penelitian ... 63

4.1.1 Deskripsi Pelaksanaan ... 62

4.1.2 Deskripsi Data ... 65

4.1.3 Analisis Data Penelitian ... 67

4.1.3.1 Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I ... 67

4.2 Rangkuman Hasil Penelitian ... 76

4.3 Pembahasan ... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 80

5.1 Kesimpulan ... 80

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 81

5.2 Saran ... 81

5.2.1 Bagi Guru ... 81

5.2.2 Bagi Peneliti Lain ... 81

DAFTAR REFERENSI ... 83

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Waktu Pengambilan Data ... 49

Tabel 3.2 Kisi – Kisi Pengumpulan Data ... 52

Tabel 3.3 Soal Valid ... 54

Tabel 3.4 Penentuan Validitas Item ... 54

Tabel 3.5 Uji Reliabilitas ... 56

Tabel 3.6 Hasil Pengujian Reliabilitas ... 57

Tabel 3.7 Pengumpulan Data Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 58

Tabel 3.8 Kriteria nilai effect size ... 62

Tabel 4.1 Deskripsi Data Prestasi Belajar ... 66

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen ... 68

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol ... 69

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol ... 70

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol ... 70

Tabel 4.6 Skor Homogenitas Pretest ... 72

Tabel 4.7 Hasil Uji Beda Pretest... 73

Tabel 4.8 Perbandingan Skor Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Variabel Prestasi Belajar ... 75

Tabel 4.9 Uji Normalitas ... 77

Tabel 4.10 Rangkuman Homogenitas Pretest ... 77

Tabel 4.11 Skor Pretest dan Posttest ... 77

Tabel 4.12 Rangkuman Perbandingan Skor Pretest ... 77

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I ... 36

Gambar 2.2 Literatur Map dari Penelitian yang Terdahulu ... 45

Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 49

Gambar 3.2 Variabel Penelitian ... 52

Gambar 4.1 Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen ... 67

Gambar 4.2 Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen ... 68

Gambar 4.3 Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol ... 69

Gambar 4.4 Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol ... 70

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 87

Lampiran 2. Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian ... 88

Lampiran 3. Silabus ... 89

Lampiran 4. RPP dan Materi ... 96

Lampiran 5. Nilai r product - moment ... 158

Lampiran 6. Instrumen Penelitian ... 159

Lampiran 7. Deskripsi Data ... 163

Lampiran 8.Hasil Analisis Deskriptif ... 167

Lampiran 9. Hasil Uji Normalitas ... 168

Lampiran 9. Hasil Uji Homogenitas ... 168

Lampiran 10. Hasil Uji Pengaruh Perlakuan (Independent t-test) ... 169

Lampiran 11. Foto – Foto Saat Pembelajaran Berlangsung ... 170

Lampiran 12. Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran ... 176

Lampiran 13. Validitas Instrumen Oleh Guru... 178

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Bab I peneliti akan membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, serta manfaat dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

1.1Latar Belakang

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:390) diartikan sebagai penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan di mata pelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Arikunto (2001:35) mengemukakan bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar itu dilihat dari nilai yang di dapat. Jika nilai yang diperoleh tinggi maka prestasi belajarnya tinggi begitu juga sebaliknya jika nilainya rendah berarti prestasi belajarnya juga rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar menurut Syah (2002:132-139), yaitu faktor pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar merupakan segala cara atau strategi yang digunakan oleh siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu.

(20)

Model pembelajaran menurut Isjoni (2008:146) adalah strategi yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar siswa, kemampuan berfikir kritis siswa, keterampilan sosial siswa, dan pencapaian hasil pembelajaran siswa yang lebih optimal. Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan adalah model pembelajaran pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif menurut Suprijono (2009:54) adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk – bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Namun tidak semua kerja kelompok termasuk dalam pembelajaran kooperatif, sebab terdapat lima unsur didalam pembelajaran kooperatif. Kelima unsur tersebut menurut Lie (2010:31) adalah saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, serta evaluasi proses kelompok.

(21)

bagian. Setelah guru membagikan bahan pelajaran, siswa dibagi dalam kelompok ( kelompok asal ) dimana setiap kelompok berisi empat orang. Bahan pengajaran pertama diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua, dan seterusnya. Setelah semua siswa memperoleh bahan pembelajaran, siswa diminta untuk membaca/ mengerjakan bagian mereka masing – masing. Setelah siswa selesai membaca/ mengerjakan bahan pembelajaran siswa diminta untuk berpindah berkumpul dengan teman – teman yang memiliki bahan pembelajaran yang sejenis ( kelompok ahli ). Setelah siswa selesai membahas topik yang sama didalam kelompok ahli, siswa diminta untuk kembali kedalam kelompok asal untuk saling berbagi mengenai bahan – bahan pelajaran yang didapatkannya di dalam kelompok ahli. Setelah masing – masing anggota menjelaskan apa yang didapatnya guru dapat menguji siswa secara individu untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran hari itu. (Lie,2010:69).

Lie (2010:69) berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I dapat digunakan dalam berbagai materi, keterampilan berbahasa, dan mata pelajaran. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I cocok untuk semua kelas / tingkatan. Salah satu mata pelajaran yang dapat dilaksanakan menggunakan model pembelalajaran kooperatif tipe jigsaw I adalah IPS.

(22)

serta dapat mengatasi masalah yang terjadi sehari – hari baik yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat. Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang sering dianggap sulit oleh siswa karena didalamnya terdapat materi yang sangat banyak untuk dihafalkan. Pendidikan IPS harus memperhatikan kebutuhan anak, sebab menurut Piaget pada masa sekolah dasar, perkembangan kemampuan intelektual siswa berada pada tahap operasional konkrit, dimana pada tahap operasional konkrit siswa harus belajar dari hal – hal yang bersifat konkrit dan berasal dari hal – hal yang ada disekitarnya, sedangkan IPS merupakan mata pelajaran yang abstrak yang terdiri dari berbagai konsep seperti waktu, perubahan, akulturasi, demokrasi, permintaan, dan kelangkaan (Susanto,2013:152).

Susanto (2013:153) mengemukakan bahwa model pembelajaran yang dipakai oleh guru merupakan salah satu pendukung terjadinya proses pembelajaran sesuai dengan ranah yang ingin dikembangkan, sebab dalam pembelajaran IPS dikembangkan tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Model pembelajaran yang digunakan guru harus memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang berdampak pada prestasi belajar siswa.

(23)

pengetahuannya. Siswa terlihat kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Banyak siswa yang mengantuk dan tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru. Ketika guru memberikan tugas pun, siswa kurang antusias dalam mengerjakannya dan seperti kurang mempedulikan hasil yang diperoleh. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa minat belajar siswa masih rendah sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa pula.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I sebagai model pembelajaran inovatif mampu memberikan sumbangan bagi ketercapaian prestasi belajar siswa, hal itu terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Bagus Wacika (2013) yang berjudul pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS pada siswa

kelas V di SD N 4 Panjer.” Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh model

(24)

siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional setelah sikap sosial dikendalikan. Ketiga, terdapat kontribusi sikap sosial terhadap hasil belajar IPS siswa baik yang mengikuti model pembelajaran kooperatif jigsaw I maupun model pembelajaran konvensional.

Oleh karena itu peneliti sangat tertarik dengan permasalahan di atas, dan memilih judul “Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I”. Dalam hal ini peneliti memilih kelas IV sebagai objek penelitian sebab materi pelajaran IPS di kelas IV cukup banyak dan bersifat hafalan. Selain itu materi di kelas IV berisi konsep – konsep yang abstrak, sehingga dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I dapat membantu siswa untuk lebih mudah menerima materi pembelajaran.

1.2Batasan Masalah

Peneliti membatasi permasalahan pada upaya mencari tahu perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar pada ranah kognitif atas penerapan model pembelajaran koopetarif tipe jigsaw I pada materi mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

1.3Rumusan Masalah

(25)

1.4Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I.

1.5Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah :

1.5.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I terhadap prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran IPS.

1.5.2 Manfaat praktis

1.5.2.1Bagi Sekolah

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sekolah untuk menambah kualitas proses belajar mengajar.

1.5.2.2Bagi Guru

Memberikan wacana bagi guru untuk menggunakan model pembelajaran tipe jigsaw I sesuai dengan materi yang disampaikan.

1.5.2.3Bagi Siswa

Mempermudah siswa memahami materi IPS tentang mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I.

1.5.2.4Bagi Peneliti

(26)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab II peneliti akan membahas landasan teori yang berisi kajian pustaka, kajian penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung terhadap penelitian yang akan dibahas. Kajian penelitian yang relevan memuat beberapa hasil penelitian terdahulu yang sesuai dengan topik penelitian. Selanjutnya dirumuskan kerangka berpikir dan hipotesis yang menjadi dugaan / jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian.

2.1Kajian Pustaka

2.1.1 Belajar

2.1.1.1 Pengertian Belajar

(27)

aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang bersigat relatif konstan

Slameto (2010), Usman (2002), Siregar (2011), dan Djamarah (2011) memiliki persamaan pendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku pada individu karena adanya interaksi dengan lingkungannya. Namun Usman (2002) dan Djamarah (2011) juga berpendapat bahwa belajar merupakan interaksi antar individu dengan individu. Djamarah (2011) menekankan bahwa perubahan tingkah laku dalam belajar tidak hanya menyangkut masalah kognitif saja, melainkan juga menyangkut aspek afektif dan psikomotor.

Belajar menurut Suyono (2011:9) adalah aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Sedangkan belajar menurut Hamalik (2007:27-28) adalah sebuah proses kegiatan yang mementingkan sebuah proses daripada suatu hasil. Belajar bukan hanya mengingat melainkan juga mengalami.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.

2.1.1.2 Ciri – Ciri Belajar

(28)

akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang – kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misal: seorang anak menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya juga bertambah.

Ciri belajar yang kedua adalah perubahan dalam belajar bersifat fungsional. Perubahan ini berlangsung terus menerus dan akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya: jika anak sudah bisa membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca.

Ciri belajar yang ketiga adalah perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Dalam belajar, perubahan – perubahan yang terjadi akan memperoleh sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya. Semakin banyak usaha belajar yang dilakukan semakin banyak perubahan yang diperoleh. Misalnya: perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya.

Ciri belajar yang keempat adalah perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. Perubahan yang terjadi bersifat menetap atau permanen. Ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah setelah belajar akan bersifat menetap. Misal: kecakapan anak dalam bermain biola, ketika anak sudah menguasai, kecakapannya untuk bermain biola tidak akan hilang, melainkan akan terus dimilikinya bahkan akan terus berkembang.

(29)

disadari. Misal: seorang yang sedang belajar mengetik, sebelum belajar ia telah menetapkan tujuannya untuk apa ia belajar mengetik.

Ciri belajar yang keenam adalah perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan seluruh tingkah lakunya. Misal : ketika anak belajar naik sepeda, perubahan yang paling ampak adalah ketika anak bisa menaiki sepeda tersebut.

Winataputra (2008:1.8-1.9) mengemukakan terdapat tiga ciri – ciri belajar. Ciri belajar yang pertama adalah belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek kognitifnya saja melainkan pada aspek afektif serta aspek psikomotor.

Ciri belajar yang kedua adalah perubahan harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan yang terjadi setiap harinya. Interaksi yang terjadi berupa interaksi fisik dan interaksi psikis. Interaksi fisik merupakan hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat, sedangkan interaksi psikis merupakan hubungan batin yang terjadi dalam masyarakat.

Ciri belajar yang ketiga adalah perubahan tersebut relatif menetap. Dalam hal ini belajar menghasilkan beberapa perubahan pada diri seseorang dalam waktu yang cukup lama dan cukup permanen. Sehingga perubahan yang terjadi tidak mudah hilang darinya.

(30)

berpendapat bahwa perubahan yang terjadi bersifat menetap atau permanen, ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah setelah belajar akan bersifat menetap sedangkan Winataputra (2008) menambahkan bahwa perubahan yang terjadi tidak akan dengan mudah hilang dari dalam diri. Selain itu Djamarah (2011) dan Winataputra (2008) juga berpendapat bahwa dalam belajar terjadilah perubahan tingkah laku, dari yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa. Djamarah (2011) berpendapat bahwa perubahan tingkah laku terjadi melalui proses pembelajaran, dan menambahkan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya pada aspek kognitif saja, melainkan aspek afektif dan juga aspek psikomotor.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ciri – ciri belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri seseorang secara sadar, bersifat fungsional, positif, bukan bersifat sementara, bertujuan, mencakup seluruh aspek tingkah laku, dan buah dari pengalaman.

2.1.1.3 Prinsip – Prinsip Belajar

(31)

Slameto (2010:27-28) mengemukakan empat prinsip belajar. Prinsip yang pertama adalah berdasarkan prasayarat yang diperlukan untuk belajar. Siswa harus diusahakan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar agar menimbulkan minat dan motivasi siswa yang kuat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam belajar siswa perlu berinteraksi dengan lingkungannya agar siswa dapat tertantang dengan lingkungan dimana ia belajar sehingga dapat mengembangkan kemampuannya.

Prinsip belajar yang kedua adalah sesuai hakikat belajar. Proses belajar bersifat berhubungan antara proses organisasi, adaptasi, eksplorasi, dan discovery, maka proses belajar harus berjalan tahap demi tahap sehingga menimbulkan respon yang diharapkan menurut perkembangannya.

Prinsip belajar yang ketiga adalah sesuai materi / bahan yang harus dipelajari. Materi yang digunakan oleh siswa dalam belajar haruslah memiliki struktur dan penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah untuk menangkap pengertiannya dan dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan tujuan yang harus dicapainya.

Prinsip belajar yang keempat adalah syarat keberhasilan belajar. Terdapat beberapa syarat dalam keberhasilan belajar, syarat yang pertaman adalah sarana belajar yang cukup. Jika sarana belajar cukup, maka siswa dapat belajar dengan tenang. Syarat yang kedua adalah repitisi. Repetisi merupakan pengulangan berkali – berkali agar keterampilan siswa semakin mendalam.

(32)

merupakan bentuk pengalaman, belajar berdasarkan prasayarat, belajar sesuai hakikat belajar, materi / bahan belajar yang harus dipelajari harus sesuai.

2.1.1.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Slameto (2010:54-72) menggolongkan faktor – faktor yang mempengaruhi belajar menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Sedangkan menurut Syah (2002:132-139) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi belajar siswa. Faktor – faktor tersebut dibedakan menjadi tiga macam, yaitu faktor internal ( faktor dari dalam diri siswa ), faktor eksternal ( faktor dari luar siswa ) serta faktor pendekatan belajar.

Terdapat beberapa faktor dalam faktor intern menurut Slameto (2010:54-72), yaitu faktor jasmaniah, psikologis, dan kelelahan. Sedangkan Syah (2002:132-139) mengemukakan bahawa terdapat dua aspek yang terdapat dalam faktor intern yaitu fisiologis aspek dan aspek psikologis.

Terdapat dua faktor yang tergolong dalam faktor jasmaniah yang mempengaruhi belajar, yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh. Sedangkan tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan. Faktor yang termasuk dalam faktor kelelahan ialah kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. (Slameto,2010:54-72)

(33)

pembelajaran. Faktor – faktor rohaniah yang dipandang esensial dalam mempengaruhi pembelajaran adalah tingkat keccerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, serta motivasi siswa.

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar menurut Slameto (2010:54-72) dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu faktor keluarga, sekola, serta masyarakat. Sedangkan Syah (2002:132-139) berpendapat bahawa faktor ekternal yang berpengaruh dalam belajar ialah faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Faktor lingkungan sosial meliputi lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar siswa ialah orang tua dan keluarga siswa sendiri. Sedangkan faktor lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah, rumah tempat tinggal siswa, alat – alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.

Faktor yang ketiga menurut Syah (2002:132-139), yaitu faktor pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar merupakan segala cara atau strategi yang digunakan oleh siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu.

2.1.1.5 Prestasi Belajar

2.1.1.5.1 Pengertian Prestasi Belajar

(34)

yang berkembang melalui mata pelajaran tertentu, yang ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru.

Sutratinah Tirtonegoro dalam Rika Nanda (2009:34) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar. Sedangkan Nasution dalam Rika Nanda (2009:34) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Arikunto (2001:35) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa ataupun hasil yang dicapai siswa setelah siswa tersebut mengikuti kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa berupa nilai berupa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh setelah mengikuti aktivitas belajar tertentu. Arikunto (2001:35) juga mengemukakan bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar itu dilihat dari hasil evaluasi yang didapat atau bisa juga dikatakan dari nilai yang di dapat. Jika nilai yang diperoleh tinggi maka prestasi belajarnya tinggi begitu juga sebaliknya jika nilainya rendah berarti prestasi belajarnya juga rendah.

Berdasarkan definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa nilai dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu.

2.1.1.5.2 Indikator Prestasi Belajar

(35)

berdimensi cipta, rasa, maupun karsa. Terdapat enam kemampuan dalam ranah kognitif yaitu pengamatan, ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, dan sintesis. Setiap jenis terdiri dari bebrapa indikator yang berbeda – beda sesuai dengan tingkatannya. Tingkatan dimulai dari jenis yang paling rendah yaitu dari pengamatan menuju tingkatan brikutnya dan yang paling tinggi yaitu tingkatan sintesis dimana siswa membuat panduan baru dan utuh. Terdapat beberapa cara mengevaluasi dalam ranah kognitif yaitu tes lisan, tes tertulis, observasi serta pemberian tugas.

Ranah afektif mencakup lima hal, yaitu penerimaan,sambutan, apresiasi, internalisasi, karakterisasi. Sama halnya dengan ranah kognitif, dalam ranah afektif setiap jenis memiliki indikator yang berbeda – beda sesuai dengan apa yang akan diukur. Terdapat beberapa cara mengevaluasi dalam ranah afektik yaitu tes skala sikap, pemberian tugas, observasi, serta tes tertulis.

Ranah psikomotor mencakup dua hal, yaitu keterampilan bergerak dan bertindak serta kecakapan ekspresi verbal dan non- verbal. Dalam ranag psikomotor juga terdapat indikator dalam setiap jenisnya tergantung dengan apa yang akan diukur. Cara mengevaluasi dalam ranah psikomotor dengan menggunakan observasi, tes tindakan, serta tes lisan.

(36)

akan dinilai. Cara mengevaluasi dalam setiap ranah juga berbeda – beda sesuai dengan indikator yang ada.

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif

2.1.2.1 Definisi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif menurut Sugiyanto (2009:37) adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Daryanto (2012:241-242) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru, dimana anggota kelompok memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, ras, budaya, serta suku yang berbeda.

Rusman (2011:202) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran dengan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok – kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Proses pembelajaran yang berlangsung tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Pembelajaran dengan rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.

(37)

pembelajaran yang dilaksanakan dengan berkelompok secara kolaboratif untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

2.1.2.2 Unsur – Unsur Pembelajaran Kooperatif

Lie (2010:32-34) mengemukakan bahwa terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu:

Unsur pertama adalah saling ketergantungan yang bersifat positif. Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Dalam belajar koopertif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang ikut andil dalam kelompok. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa agar siswa dapat mencapai tujuan.

Unsur yang kedua ialah tanggung jawab perseorangan. Tanggung jawab perseorangan dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam mempersiapkan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing – masing siswa melaksanakan tanggung jawabnya agar tugas selanjutnya dapat dilaksanakan dalam kelompok, dan siswa tidak dapat hanya sekerdar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya. Sehingga setiap siswa

akan melakukan yang terbaik untuk kelompoknya.

(38)

kelebihan, serta mengisi kekurangan sehingga antar anggota kelompok dapat saling bertukar pendapat.

Unsur keempat adalah komunikasi antaranggota. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlulah membekali mereka dengan kemampuan berkomunikasi sebab tidak semua siswa memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Keberhasilan kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka dalam mengutarakan pendapat mereka. Belajar kooperatif akan meningkatkan komunikasi antar anggota. Hal tersebut akan terjadi jika seorang siswa akan membantu siswa lain demi kesuksesan kelompok. Saling memberikan bantuan merupakan hal alamiah sebab kegagalan seorang teman dalam kelompok mempengaruhi kesuksesan kelompok. Interaksi yang terjadi adalah dalam hal tukar – menukar ide mengenai masalah yang sedang dipeajari bersama.

Unsur kelima evaluasi proses kelompok. Pengajar perlu mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya siswa dapat bekerja sama dengan lebih efektif.

Rusman (2011:206-208) mengemukakan bahwa terdapat empat unsur - unsur pembelajaran koopratif. Unsur yang pertama ialah pembelajaran secara tim. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu utuk mencapai tujuan pembelajaran.

(39)

pelaksanaan menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan langkah – langkah pembelajaran yang telah ditentukan. Sedangkan fungsi kedua manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Fungsi ketiga menajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentu tes maupun non tes.

Unsur yang ketiga ialah kemauan untuk bekerja sama. Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerjasama dalam kelompok perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerjasama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

Unsur yang keempat adalah keterampilan bekerja sama. Kemampuan bekerjasama dipraktikan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

(40)

2.1.2.3 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan pembelajaran kooperatif menurut Rusman (2011:210) adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki didalam masyarakat dimana sebagian besar antar masyarakat memiliki ketergantuan antar satu sama lain dimana masyarakat semakin beragam. Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi aja, namun juga mempelajari keterampilan – keterampilan khusus yang berfungsi untuk melancarkan hubungan, kerja, dan tugas.

Trianto (2009:57-60) berpendapat bahawa tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit, serta membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis.

Tujuan pembelajaran menurut Majid (2013:175) adalah meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik. Model kooperatif ini memiliki keunggulan dalam membantu siswa untuk memahami konsep – konsep yang sulit. Agar siswa dapat menerima teman- temannya yang mempunyai berbbagai perbdeaan latar belakang. Mengembangkan keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, amu menjelaskan ide/ pendapat, dan bekerja dakam kelompok.

(41)

2.1.2.4 Macam – Macam Model Pembelajaran Kooperatif

Dalam Metode Student Team Learning (Pembelajaran Tim Siswa) PTS, Slavin (2005:10–17) menekankan penggunaan tujuan – tujuan tim dan sukses tim, yang hanya akan dapat dicapai apabila semua anggota tim bisa belajar mengenai pokok bahasan yang yang telah diajarkan. Oleh sebab itu, dalam metode PTS tugas – tugas yang diberikan pada siswa bukan melakukan sesuatu sebagai sebuah tim, tetapi belajar sesuatu sebagai sebuah tim.

Tiga konsep penting bagi semua metode PTS – penghargaan bagi tim, tanggung jawab individu, dan kesempatan sukses yang sama. Tim akan mendapatkan penghargaan – penghargaan jika mereka berhasil melampaui kriteria tertentu yang telah ditetapkan. Penghargaan tim dan tanggung jawab individual sangat penting untuk meningkatkan prestasi kemampuan dasar.

Terapat lima macam pembelajaran dalam metode PTS telah dikembangkan oleh Slavin (2005:11), yaitu Student Team – Achievement Division (STAD), Teams Games – Tournament (TGT), Jigsaw I, Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dan Team Accelerated Instruction (TAI).

(42)

Skor kuis para siswa dibandingkan dengan rata – rata pencapaian mereka sebelumnya, dan kepada masing – masing kelompok akan diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya. Poin ini kemudian dijumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yang berhasil memenuhi kriteria tertentu untuk mendapatkan sertifikat atau penghargaan lainnya.

TGT menurut Slavin (2005:12) merupakan metode ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti STAD, namun menggantikan kuis dengan turnamen mingguan. Siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan point bagi timnya. TGT memiliki banyak kesamaan dinamika dengan STAD tetapi menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan.

Teman dalam satu tim saling membantu dalam mempersiapkan permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah – masalah satu sama lain namun ketika bermain didalam game, teman yang lainnya tidak boleh membantu. Sama seperti STAD, tim dengan tingkat kinerja tertinggi mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lainnya.

(43)
(44)

semuanya sudah benar, siswa dan guru dapat bersama –sama menyimpulkan semua informasi yang diperolehnya.

CIRC menurut Slavin (2005:12) merupakan program komperhensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada kelas sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi. Guru menggunakan bahan bacaan yang berisi soal dan cerita. Para siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif, termasuk membacakan cerita satu sama lain, membuat prediksi akhir mengenai bagaimana akhir dari sebuah cerita naratif, saling merangkum cerita satu sama lain, menulis tanggapan terhadap cerita, dan melatih kosa kata. Para siswa di dalam tim juga belajar menguasai gagasan utama dan kemampuan komperhensif lainnya. Para murid tidak mengerjakan kuis sampai teman satu timnya menyatakan bahwa mereka sudah siap.

Penghargaan untuk tim dan sertifikat akan diberikan pada tim berdasarkan kinerja rata – rata dari semua anggota tim dalam semua kegiatan membaca dan menulis. Kontribusinya siswa pada timnya didasarkan pada skor kuisnya dan membuat karangan tertulis secara independen.

(45)

Secara umum, anggota kelompok bekerja pada unit pelajaran yang berbeda. Teman satu tim saling memeriksa hasil kerja masing – masing menggunakan lembar jawaban dan saling membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah. Unit test yang terakhir akan dilakukan tanpa bantuan teman satu tim, setiap minggu guru menjumlahkan angka dari tiap unit yang telah diselesaikan semua anggota tim. Penghargaan tim yang berhasil melampaui kriteria skor yang didasarkan pada angka tes terakhir yang telah dilakukan, dengan poin ekstra untuk lembar jawaban yang sempurna dan pekerjaan rumah yang diselesaikan.

Selain beberapa tipe dalam model pembelajaran kooperatif diatas, Trianto (2009:67-85) menambahkan beberapa tipe dalam model pembelajaran kooperatif yaitu Investigasi Kelompok (Group Investigation), dan Pendekatan Struktural yang terdiri dari Think Pair Share (TPS) serta Numbered Head Together (NHT).

Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Pendekatan dengan metode ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit dari pada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Dalam investigasi kelompok, kelas adalah sebuah tempat kreatifitas kooperatif di mana guru dan murid membangun proses pembelajaran yang didasarkan pada perencanaan mutual dari berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing siswa. Kelompok dijadikan sebagai sarana sosial dalam proses pembelajaran. Rencana kelompok adalah satu cara untuk mendorong keterlibatan maksimal para siswa.

(46)

atau minat dalam suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih, dan mempresentasikannya didepan kelas. Berdasarkan hal di atas bahwa investigasi kelompok berpusat pada siswa dan tugas-tugas yang dikerjakan merupakan pilihan dari siswa itu sendiri melalui berdasarkan pemilihan berbagai topik mengenai materi atau pokok bahasan yang akan dipelajari.

Pendekatan struktural menekankan pada penggunaan metode pembelajaran yang dirancang untuk memperngaruhi pola pikir siswa. Terdapat dua macam model pembelajaran kooperatif tipe struktural, yaitu Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT).

TPS merupakan model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Model Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran dimana diskusi dilaksanakan dalam kelas secara keseluruhan dimana siswa memiliki waktu yang lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan membantu satu sama lain. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS diawali dengan proses berfikir dimana siswa berfikir terlebih dahulu untuk masalah yang telah disajikan oleh guru, kemudian siswa diminta untuk berpasangan dan berdiskusi mengenai apa yang telah difikirkan secara mandiri dan yang terakhir siswa diminta untuk saling berbagi kepada seluruh kelas setelah tercapai kesepakatan dengan pasangan.

(47)

penguatan pemahaman pembelajaran dan mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

2.1.2.5 Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I

2.1.2.5.1 Definisi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I

Kevin dalam Paul Eggen (2012:137) berpendapat bahwa jigsaw I adalah strategi pembelajaran dimana siswa individu menjadi pakar tentang sub bagian satu topik dan mengajarkan subbagian itu kepada orang lain. Sedangkan Paul Eggen (2012:138) mengemukakan bahwa jigsaw I adalah suatu kegiatan pembelajaran dimana siswa menjadi pakar mengenai satu bagian tertentu dari tugas belajar dan menggunakan keahlian mereka untuk mengajari siswa lain.

Slavin (2008:245-246) berpendapat bahwa jigsaw I merupakan metode pembelajaran yang fleksibel dimana siswa belajar dalam tim, dimana setiap siswa dalam tim membaca bagian – bagian yang berbeda. Sedangkan Isjoni (2012:77) mengungkapkan bahwa jigsaw I merupakan metode pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I adalah metode pembelajaran yang mendorong siswa aktif dimana siswa belajar dalam tim dan menjadi pakar mengenai satu bagian tertentu dari tugas belajar dan menggunakan keahlian mereka untuk mengajari siswa lain.

2.1.2.5.2 Ciri – Ciri Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I

(48)

sistematis. Bangunan pengetahuan sistematis merupakan satu topik yang mengkombinasikan fakta, konsep, generalisai, dan hubungan diantara semua itu. Sedangkan ciri yang kedua jigsaw I mencakup satu elemen bernama spesialisasi tugas. Dalam hal ini menuntut siswa berbeda memainkan peranan khusus untuk mencapai tujuan satu kegiatan belajar.

2.1.2.5.3 Kelebihan Jigsaw I

Kevin dalam Paul Eggen (2012:137) berpendapat bahwa kelebihan jigsaw I terletak pada kekuatan jigsaw I yang menekankan pada interaksi siswa – siswi yang didorongnya. Sedangkan Paul Eggen (2012:138) berpendapat bahwa jigsaw I dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi – materi yang telah tertulis sebelumnya, seperti buku teks siswa. Selain itu jigsaw I dapat digunakan untuk mendukung strategi – strategi lain, misalnya jigsaw I dapat digunakan untuk mendukung informasi – informasi latar belakang tentang isu – isu kontoversial di dalam ilmu sosial.

Lie (2010:69) berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I dapat digunakan dalam berbagai materi, keterampilan berbahasa, dan mata pelajaran. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I cocok untuk semua kelas / tingkatan.

(49)

2.1.2.5.4 Langkah – Langkah Jigsaw I

Terdapat beberapa langkah dalam merancang kegiatan jigsaw I menurut Paul Eggen (2012:138-143)

Gambar 2.1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I

Langkah pertama dalam merancang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I menurut Paul Eggen (2012:138-140) adalah menentukan tujuan belajar. Menentukan tujuan belajar merupakan hal yang mendasar dalam pembelajaran, sebab dengan menentukan tujuan pembelajaran, guru menjadi mengerti apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran agar apa yang telah menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Langkah kedua yaitu menyiapkan panduan belajar. Ketika siswa menjadi “pakar atau ahli” tentang suatu topik, siswa memerlukan dukungan dalam bentuk

panduan belajar yag membantu siswa mencari informasi. Buku teks dan internet merupakan sumber yang memungkinkan untuk digunakan oleh siswa.

Langkah selanjutnya membentuk tim siswa. Tim yang ada harus diatur sedemikian rupa, dimana siswa dalam satu tim harus bersifat heterogren. Dimana tim mencakup anak laki – laki dan anak perempuan, anak bermotivasi tiggi dan rendah, siswa dengan dan tanpa kesulitan belajar, dan anggota – anggota dari minioritas kultural. Dalam hal ini gurulah yang seharusnya membentuk tim, agar

(50)

tidak mengundang masalah dan perselisihan antar siswa. Ketika berkelompok, penting bagi siswa untuk membangun rapor.

Langkah selanjutnya adalah medukung presentasi pakar. “Pakar” adalah

siswa yang akan melakukan presentasi di depan teman sekelas mereka. Namun guru juga harus membantu siswa dalam menjelaskan, sebab mungkin terdapat siswa yang tidak begitu bisa menjelaskna kepada teman sebaya mereka.

Langkah – langkah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I menurut Trianto (2009:73-74) yaitu: langkah pertama kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Kemudian materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi – bagi dalam beberapa sub bab dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu sub bab dari materi yang dipelajarinya.

(51)

2.1.3 IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)

2.1.3.1 Hakekat IPS

Trianto (2010:171-172) mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan sosial merupakan intergrasi dari berbagai cabang ilmu – ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan. Sedangkan Numan Sumantri dalam Supardi (2011:182) berpendapat bahwa IPS merupakan suatu penyederhanaan disiplin ilmu – ilmu sosial, psikologi, filsafat, ideologi negara dan agama yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.

IPS merupakan kumpulan dari berbagai disipilin ilmu yang digabung menjadi satu sehingga memudahkan guru dalam menyampaikannya. Selain itu juga dapat mempersingkat waktu guru dalam menjelaskannya sebab antar satu bidang ilmu memiliki kemiripan sehingga sekali menjelaskan dapat mencakup berbagai bidang ilmu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pemerintah (2006:203) menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan sosial adalah bahan kajian yang merupakan penyerdehanaan adaptasi, seleksi dan modifikasi dari konsep – konsep dan keterampilan disiplin ilmu sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi, yang diorganisaikan secara ilmiah dan psikologi untuk tujuan pembelajaran. Dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu tujuan pembelajaran yang telah direncanakan akan lebih mudah untuk dicapai.

(52)

integrasi dari berbagai disipilin ilmu yang menjadi satu. IPS merupakan pengembangan potensi kewarganegaraan yang dikoordinasi dalam beberapa disiplin ilmu seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, psikologi, agama, sosiologi. Sedangkan Sumaatmadja memiliki sedikit perbedaan mengenai hakekat ilmu pengetahuan sosial.

Sumaatmadja (2005:22) ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan proses pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial. Pelajaran IPS bukan merupakan pengajaran yang terlepas - lepas yang satu terisolasi dari yang lain. Pengajaran IPS merupakan sistem pengajaran yang membahas, menyoroti, menelaah mengkaji gejala atau masalah sosial dari berbagai aspek kehidupan sosial dalam membahas gejala atau masalah soial. Pengajaran IPS merupakan pengajaran tim tentang pengetahuan sosial.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa IPS merupakan integrasi dari ilmu – ilmu sosial dengan kewarganegaraan yang dibahas secara sistematis dalam berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, hukum, agama, arkeologi. Pengajaran IPS merupakan sistem pengajaran yang membahas, menyoroti, menelaah mengkaji gejala atau masalah sosial dari berbagai aspek kehidupan sosial dalam membahas gejala atau masalah soial.

2.1.3.2 Tujuan Pembelajaran IPS

(53)

terjadi dalam kehidupan sehari – hari. Tujuan pengajaran IPS menurut Fenton dalam Hidayati (2002:21) yaitu untuk mempersiapkan anak didik menjadi warga negara yang baik, mengajar anak didik agar mempunyai kemampuan berfikir dan dapat melanjutkan kebudayaan bangsanya. Sedangkan Hidayati (2002:22) menjelasakan tujuan utama IPS adalah untuk memperkaya dan mengembangkan kehidupan anak didik dengan mengembangkan kemampuan dalam lingkungannya dan melatih anak didik untuk menempatkan dirinya dalam masyarakat yang demokratis, serta menjadikan negaranya sebagai tempat hidup yang lebih baik.

Trianto (2010), Fenton (2002), Hidayati (2002) memiliki kesamaan pendapat bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah mengajar anak didik untuk mengembangkan kemampuannya untuk berjiwa demokratis menjadikan negaranya sebagai tempat hidup ynag baik.

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas tentang tujuan pembelajaran IPS sekolah dasar, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS yang diterapkan dalam penelitian ini supaya siswa dapat memproleh pengetahuan, ketrampilan, sikap dan kepekaan untuk menghadapi hidup beserta tantangannya. Disamping itu siswa sebagai anggota masyarakat perlu mengenal masyarakat dan lingkungannya.

(54)

mengembangkan daya kreatif dan inovatif siswa serta memberi bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

2.1.3.3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Penelitian ini menggunakan Standar Kompetensi 2, mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi. Dengan Kompetensi dasar 2. 1, mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

2.1.3.4 Materi Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV semester genap dengan menggunakan Standar Kompetensi 2 dan Kompetensi Dasar 1 yaitu mengenal aktitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya. Adapun materi dari kompetensi dasar tersebut adalah sumber daya alam yang berpotensi di daerah tempat tinggal, persebaran sumber daya alam, manfaat sumber daya alam di lingkungan setempat, kegiatan ekonomi yang terjadi di lingkungan sekitar, pengaruh keadaan alam terhadap kegiatan ekonomi.

2.1.4 Pembelajaran IPS Menggunakan Model Pembelajaran Kooperaif

Tipe Jigsaw I

(55)

dapat membantu siswa mempermudah memahami berbagai materi dalam mata pelajaran IPS.

Isjoni (2008:147) mengungkapkan bahwa sebab – sebab kurang meminati dan termotivasi dalam delajar IPS karena guru menggajar secara monoton dengan menggunakan model pembelajaran konvensional, siswa hanya diminta untuk mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru. Isjoni (2008:158) berpendapat bahwa model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan sejak dulu telah digunakan oleh guru sebagai alat komunikasi lisan dalam proses belajar belajar. Dengan menggunakan model pembelajaran konvensional banyak masalah yang ditimbulkan ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung. Sebagai akibat dari proses pembelajaran yang seperti ini siswa tampak kurang bersemangat mengikuti pelajaran dan seringkali merasa bosan sebab mereka tidak dirangsang untuk terlibat secara aktivitas dengan berbagai metode yang semestinya dilakukan oleh guru, dimana siswa dapat aktif melibatkan diri dalam proses pembelajaran.

(56)

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan belajar yang terbuka dan demokratis. Dalam hal ini siswa bukan sebagai objek pembelajaran namun berperan sebagai tutor bagi rekan sebayanya. Dengan belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I siswa lebih termotivasi untuk belajar sebab dalam belajar siswa dibantu oleh rekan sebayanya. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif akan meningkatkan kemampuan akademik, kemampuan berfikir kritis, membentukan hubungan persahabatan, menerima berbagai informasi, belajar menggunakan sopan santun, meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, serta membantu siswa dengan menghargai pokok piiran orang lain.

2.2Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilaukan oleh Sumaryati, dkk. (2013) dengan judul

“Peningkatan Prestasi Belajar Mata Kuliah Dasar – Dasar Akuntansi Melalui

Penerapan Model Jigsaw”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian

tindakan kelas, dimana peneliti ingin melihat apakah dengan menggunakan

model pembelajaran jigsaw prestasi mahasiswa menjadi meningkat. Penelitian ini

dilaksanakan di Prodi Pendidikan Ekonomi, Universitas Sebelas Maret. Dari

penelitian yang dilakukan, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa dengan

menggunakan model jigsaw, prestasi belajar siswa menjadi meningkat. Hal

tersebut dapat dilihat dari hasil yang diperoleh peneliti dimana dengan

menggunakan metode kooperatf tipe jigsaw keaktifan serta hasil belajar

mahasiswa menjadi meningkat dimana kedua aspek tersebut mempengaruhi

prestasi belajar mahasiswa. Selain itu penulis juga menyarankan kepada dosen

(57)

dapat menerapkannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Ni Wayan Piasih Ariyanti, dkk. (2013) dengan judul “ Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap kemampuan Berfikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas IV SD Cipta Dharma Denpasar”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar IPS antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Cipta Dharma Denpasar. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas IV SD Cipta Dharma Denpasar, dengan jumlah 178 orang yang tersebar dalam lima kelas pararel. Karena semua kelas memiliki kemampuan awal yang relatif sama maka pemilihan sampel bisa dilakukan dengan teknik multistage random sampling. Data dikumpulkan dengan tes dan dianalisis dengan anava dan manova. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Cipta Dharma Denpasar.

(58)

efektif seperti yang diinginkan oleh semua guru. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 2 kali siklus, dimana dalam setaip siklus hasil belajar siswa meningakat. Selain itu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw semangat siswa untuk aktif belajar IPS juga meningkat sehingga pembelajaran dapat berjalan sangat efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tipe jigsaw dapat berpengaruh positif terhadap aktivitas belajar siswa, dimana secara berangsur – angsur terjadi peningkatan aktivitas siswa. Selain itu dengan pembelajaran tipe jigsaw ini siswa menjadi lebih termotivasi unuk kreatif, berani, bertanggungjawab, saling menghargai satu sama lain serta bersemangat dalam kegiatan belajar mengajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Desak Nyoman Purwati, dkk. (2013) dengan judul “ Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Ditinjau dari Motivasi Belajar Pada Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SD Saraswati Tabanan.” Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh

(59)

dengan motivasi tinggi namun sebaliknya motivasi rendah lebih sesuai menggunakan model konvensional.

Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Bagus Wacika, dkk. (2013) dengan judul “ Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar IPS Ditinjau Dari Sikap Sosial Dalam Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas V Di SD N 4 Panjer.” Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh model pembelajaran kooperatif jigsaw terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SDN 4 Panjer. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen. Sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel total instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar IPS dan kuesioner sikap sosial. Analisis data menggunakan anakova. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga yaitu model pembelajaran kooperatif jigsaw sebagai variabel bebas, sikap sosial sebagai variabel moderator dan hasil belajar IPS sebagai variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : pertama, terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran koperatif dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Kedua, terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif jigsaw lebih tinggi dari siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional setelah sikap sosial dikendalikan. Ketiga, terdapat kontribusi sikap sosial terhadap hasil belajar IPS siswa baik yang mengikuti model pembelajaran kooperatif jigsaw maupun model pembelajaran konvensional.

(60)

Figur

Gambar 2.1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I  ..................................................
Gambar 2 1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I . View in document p.17
Gambar 2.1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I
Gambar 2 1 Rancangan Kegiatan Jigsaw I . View in document p.49
Gambar 2.2 Literatur Map
Gambar 2 2 Literatur Map . View in document p.62
Gambar 3.1 Desain Penelitian (Sugiyono,2011:118)
Gambar 3 1 Desain Penelitian Sugiyono 2011 118 . View in document p.66
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
Tabel 3 1 Waktu Penelitian . View in document p.67
Gambar 3.2 Variabel Penelitian
Gambar 3 2 Variabel Penelitian . View in document p.68
Tabel 3.2 Kisi – Kisi Pengumpulan Data
Tabel 3 2 Kisi Kisi Pengumpulan Data . View in document p.69
Tabel 3.4 Penentuan Validitas Item
Tabel 3 4 Penentuan Validitas Item . View in document p.72
Tabel 3.3 Soal Valid
Tabel 3 3 Soal Valid . View in document p.72
Tabel 3.5 Reliabilitas ( Masidjo,1995:209)
Tabel 3 5 Reliabilitas Masidjo 1995 209 . View in document p.74
Tabel 3.7 Pengumpulan Data Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Tabel 3 7 Pengumpulan Data Kelompok Eksperimen dan Kontrol . View in document p.75
Tabel 3.8 Kriteria nilai effect size (Field, 2009:57)
Tabel 3 8 Kriteria nilai effect size Field 2009 57 . View in document p.80
Tabel 4.1 Data Prestasi Belajar
Tabel 4 1 Data Prestasi Belajar . View in document p.84
Tabel  4.2 Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen
Tabel 4 2 Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen . View in document p.86
Tabel  4.3 Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen
Tabel 4 3 Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen . View in document p.87
Gambar 4.3 Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol
Gambar 4 3 Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol . View in document p.88
Gambar 4.4 Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol
Gambar 4 4 Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol . View in document p.89
Tabel 4.6 Skor Homogenitas Pretest Prestasi Belajar
Tabel 4 6 Skor Homogenitas Pretest Prestasi Belajar . View in document p.90
Tabel 4.7. Hasil Uji Beda Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Tabel 4 7 Hasil Uji Beda Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol . View in document p.91
Gambar 4.5 Perbandingan skor pretest dan posttest kelompok eksperimen dan
Gambar 4 5 Perbandingan skor pretest dan posttest kelompok eksperimen dan . View in document p.93
Tabel 4.9 Uji Normalitas
Tabel 4 9 Uji Normalitas . View in document p.95
Tabel 4.13 Perbandingan Skor Posttest
Tabel 4 13 Perbandingan Skor Posttest . View in document p.96
gambar sumber daya
gambar sumber daya . View in document p.108
gambar Pengetahuan
Pengetahuan . View in document p.111
gambar sumber daya
gambar sumber daya . View in document p.112
gambar ilustrasi mata pencaharian masyarakat sebelum kegiatan
gambar ilustrasi mata pencaharian masyarakat sebelum kegiatan . View in document p.165

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (204 Halaman)