PERILAKU ASERTIF PARA SISWA PUTRA DAN SISWA PUTRI KELAS XI DI SMA SANTO MIKAEL SLEMAN TAHUN AJARAN 20072008 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

89  Download (0)

Full text

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh:

ALBERTUS CAHYO BINAR WIDODO 031114026

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

PERILAKU ASERTIF PARA SISWA PUTRA DAN SISWA PUTRI KELAS XI DI SMA SANTO MIKAEL SLEMAN

TAHUN AJARAN 2007/2008

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh:

ALBERTUS CAHYO BINAR WIDODO 031114026

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2008

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

AKU. Sekiranya kamu mengenal AKU, pasti kamu juga mengenal BapaKU. Sekarang ini kamu mengenal DIA dan kamu telah melihat

DIA.” ( YOH 14: 6-7 )

“Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulutNYA datang pengetahuan dan kepandaian.”

( AMSAL 2: 6 )

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika ALLAH di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”

( ROMA 8: 31 )

“Sebab segala sesuatu adalah dari DIA, dan oleh DIA, dan kepada DIA; Bagi DIA-lah kemuliaan sampai selama-lamanya”

( ROMA 11: 36 )

:

! " # $ % % &

$

$ ' %(%(

' ' &

(8)

ABSTRAK

PERILAKU ASERTIF PARA SISWA PUTRA DAN SISWA PUTRI KELAS XI DI SMA SANTO MIKAEL SLEMAN

TAHUN AJARAN 2007/2008

Albertus Cahyo Binar Widodo Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Masalah pertama yang akan diteliti adalah bagaimanakah tingkat perilaku asertif para siswa putra kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008? Masalah kedua adalah bagaimanakah tingkat perilaku asertif para siswa putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008?

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Populasi penelitian adalah para siswa kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 yang berjumlah 62 siswa dan populasi yang berhasil digali datanya berjumlah 55 siswa yang terdiri atas 31 siswa putra dan 24 siswa putri. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner perilaku asertif yang disusun oleh peneliti. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif dengan Mean.

Hasil penelitian ini adalah: (1) Jumlah siswa putra kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 yang memiliki tingkat perilaku asertif rendah lebih banyak daripada jumlah para siswa putra yang memiliki tingkat perilaku asertif tinggi; (2) Semua siswa putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 memiliki tingkat perilaku asertif tinggi.

(9)

OF ACADEMIC YEAR 2007/2008

Albertus Cahyo Binar Widodo Sanata Dharma University

Yogyakarta 2008

The first problem researched was level of assertive behavior’s of eleventh grade of male students in Santo Mikael Senior High School Sleman of Academic Year 2007/2008. The second problem was the level of assertive behavior’s of eleventh grade of female students in Santo Mikael Senior High School Sleman of Academic Year 2007/2008.

This was a descriptive research using survey method. The research population was the eleventh grade students in Santo Mikael Senior High School Sleman of Academic Year 2007/2008. The population of this research was 55 students. The real populations of the researched were 55 students of 62 students, consisted of 31 male students and 24 female students. The research instrument was an assertive behavior questionnaire developed by researcher himself. The data were analyzed by descriptive statistic (Mean).

Results of this research were: (1) There were more male students of 23 who had lower assertive behavior than high assertive behavior; (2) All female students had high assertive behavior.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH BAPA di SURGA, TUHAN JESUS KRISTUS, dan ROH KUDUS atas segala bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis menyadari

bahwa penyusunan skripsi ini membutuhkan bantuan dari banyak pihak sehingga

dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih kepada:

1. Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Drs. Puji Purnomo, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Dr. M. M. Sri Hastuti, M.Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Bapak Fajar Santoadi, S.Pd., selaku Dosen Pembimbing yang telah

mendampingi dan memberikan masukan serta saran yang positif dan

membangun selama penulisan skripsi.

5. Drs. Wens Tanlain, M.Pd yang telah memberikan bantuan dan saran dalam

penulisan skripsi.

6. Drs. Y.B. Adimasana, M.A. Terima kasih atas saran dan dukungannya.

7. A. Setyandari, S.Pd., Psi., M.A. Terima kasih atas bantuannya.

8. Mas Moko selaku staf sekretariat Prodi BK yang telah banyak membantu, dan

memberikan informasi bagi penulis.

(11)

St. Mikael Sleman.

10. Ibu Siti Hartini, B.A, selaku koordinator bimbingan dan konseling SMA St.

Mikael Sleman atas segala bantuan dan dukungannya.

11. Siswa-siswi kelas XI SMA St. Mikael Sleman, terima kasih atas bantuan dan

kerjasama yang baik sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. 12. Bapak dan Ibu guru beserta segenap karyawan / karyawati SMA Santo Mikael

Sleman atas kerjasamanya.

13. Untuk (†) Ayah tercinta di sisi Bapa di Surga, yang selalu menyertai aku

dalam doa. REST IN PEACE.

14. Kepada keluargaku yang terkasih Ibuku, kakakku Titi, istriku tercinta

Elin Widodo, mbak Narti, mbak Shinta, dek Artha, dek Nenty, abangku

Manahan Butar Butar dan keluargaku Ambarawa, yang selalu setia

mendukungku dan memberiku motivasi. Terima kasih banyak dan Tuhan

Jesus memberkati selalu. I LOVE YOU ALL SO MUCH!!!

15. Keluarga besar Underground United, UNDERGOD SOCIETY (Bison, Denis,

Anang, Andreas, Catur, Mita, Nando, Yogi, Dimas, Vito, Christy, Ayu, etc),

JOGJAKARTA CORPSE GRINDER, BLOODLAMB “Bandung” (bang

Winner, abbah Gibson, bang Ocep, bang Aan, bang Erwin, bang Binsar, mr.

Brake, mr. Wahyu, brotha Nadi, n others), SHAKA Studio Crew, SWA Studio

Crew, STIQMA “Oriental ThrashMetal” Band, tempatku berkreasi dan berkarya bersama mr. Herihell Inc., mr. Johan, yang mengerti, mendukung

(12)

dan memberikan waktu untuk aku dalam menyelesaikan skripsi ini. Kang

Bison “Black Metal” n mbakyu Hana, for your pray and rituals. Matur

Nuwun. Gusti JESUS Blez u all.

16. Untuk motorku, The Supre, yang selalu mengantarku kemanapun, dimanapun,

dan kapanpun aku pergi. Thanks a lot, my friend.

17. Untuk para dedengkot BK Agus Setyawan ’99, Chimenk ’99, Baba ’99,

Gandhi ’99, Bernardus Wahyu ’00, Tunggul Crabb ‘01. Makasih untuk

bantuan dan sharing-sharingnya. Gusti Jesus memberkati.

18. Untuk temen-temenku Arjuna n Sari, Mandus, mba’ Surmi, Tutus, Wicha,

Andang, Alel, Angga, Vera, Acha, Ria, Sepri, Pikal, Anton, Yunar, Wawan “Ribut” rental dan teman-teman dekatku yang telah bersedia untuk sharing.

Terima kasih teman-teman. Keep fighting ya guys... Jah Bless u all !!!

19. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Terima kasih. Tuhan Jesus memberkati.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya

membangun demi kesempurnaan dalam penyusunan skripsi yang akan datang.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Penulis

(13)
(14)

d. Menyatakan Pesan “Aku” atau I-Messages ... 11

6. Hambatan Yang Dialami Dalam Berperilaku Asertif ... 18

B. Perilaku Agresif ... 18

C. Perilaku Non-Asertif ... 20

D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Asertif ... 22

1. Jenis Kelamin ... 22

2. Pola Pengasuhan Orang Tua Dalam Keluarga ... 23

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 25

B. Instrumen Pengumpul Data ... 25

1. Kuesioner ... 25

2. Pemberian Skor – skor Kuesioner ... 26

3. Reliabilitas dan Validitas Kuesioner ... 27

C. Populasi Penelitian ... 31

D. Pelaksanaan Pengumpulan Data ... 31

E. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 33

1. Tingkat perilaku asertif para siswa putra kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 ... 34

2. Tingkat perilaku asertif para siswa putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 ... 34

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 34

(15)

DAFTAR PUSTAKA . ... 43 LAMPIRAN ... 45

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Kisi-Kisi Kuesioner Perilaku Asertif ... 26 Tabel III.2 Kualifikasi Koefisien Korelasi Suatu Alat Ukur... 29 Tabel IV.I Perilaku Asertif Para Siswa Putra dan Siswa Putri

Kelas XI SMA MIKAEL Sleman Tahun Ajaran 2007/2008... 35

(17)

Tabel Skor Mean ... 62

Kuesioner Penelitian ... 63

Surat Keterangan Penelitian ... 71

Surat Ijin Uji Coba Penelitian ... 72

Surat Ijin Penelitian ... 73

(18)

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Selama Praktek Lapangan Bimbingan dan Konseling I (PLBK I) di

SMA Santo Mikael Sleman, peneliti mengamati bahwa terdapat kelompok

siswa yang anggotanya terdiri dari berbagai macam latar belakang budaya, sosial-ekonomi, dan agama. Pengelompokan tersebut terbentuk secara sadar

oleh masing-masing anggota kelompok. Secara umum bila siswa berada di

dalam kelompok yang terdiri dari latar belakang yang sama, siswa tersebut

akan merasa aman dan diterima oleh kelompok tersebut.

Perilaku memilih teman yang berasal dari latar belakang yang sama

dan enggan bergaul dengan teman yang berasal dari latar belakang yang

berbeda akan menjadi suatu hambatan dalam menjalin hubungan persahabatan

dengan siswa yang berasal dari latar belakang lain. Hal ini akan membuka

peluang munculnya prasangka yang buruk terhadap kelompok lain. Masalah,

konflik atau pertentangan akan muncul dalam kelompok dan antar kelompok

tersebut sehingga suasana dalam kelompok akan menjadi tidak aman bagi

anggota yang berada di dalamnya.

(19)

Persahabatan dapat diwujudkan bila terdapat sikap terbuka satu sama

lain dan kejujuran di antara anggota kelompok tersebut. Sikap saling

mengasihi dan saling terbuka ini dapat dilakukan bila ada kesediaan dari

masing-masing anggota untuk saling mengungkapkan perasaannya.

Sebaliknya, bila anggota bersikap tertutup dan tidak jujur maka persahabatan

akan hancur dan sikap ini merugikan. Alangkah baiknya bila anggota

kelompok saling mengatakan apa yang dirasakan sehingga kelompok tersebut

tidak hidup dalam kepura-puraan selama menjalin hubungan. Hal ini untuk

menghindari hubungan yang semu di dalam persahabatan.

Persahabatan sejati dapat terwujud bila di dalamnya terdapat sikap saling terbuka dan jujur satu sama lain. Kenyataannya adalah masih ada siswa

yang mengalami kesulitan dalam menyatakan perasaannya secara terbuka.

Mereka berpandangan bahwa mengungkapkan perasaan tidak enak kepada

siswa lain akan membuat hubungan persahabatan menjadi tidak baik. Ada

anggapan bahwa diam tidak mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dan

menampilkan perilaku agresi akan membuat hubungan menjadi tetap aman,

baik, dan tidak terganggu. Pertanyaan yang timbul berkaitan dengan perilaku

asertif para siswa adalah: Sejauh manakah perilaku asertif para siswa putra

kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2007/2008? Sejauh

manakah perilaku asertif para siswa putri kelas XI di SMA Santo Mikael

Sleman tahun ajaran 2007/2008? Penelitian ini terpusat pada para siswa putra

(20)

transisi atau peralihan dalam mencari jati diri termasuk dalam hal berperilaku

asertif terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang akan diteliti adalah:

1. Bagaimanakah tingkat perilaku asertif para siswa putra kelas XI di SMA

Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2007/2008?

2. Bagaimanakah tingkat perilaku asertif para siswa putri kelas XI di SMA

Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2007/2008?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang tingkat perilaku

asertif para siswa putra dan siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael Sleman

tahun ajaran 2007/2008.

D. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian dapat digunakan oleh guru pembimbing sebagai bahan

pertimbangan dalam menyusun program bimbingan pribadi sosial kelas

XI SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2007/2008.

2. Hasil penelitian dapat digunakan oleh guru BK untuk membantu para

siswa putra dan siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael Sleman tahun

(21)

memberikan informasi pada saat memberikan bimbingan pribadi-sosial

dengan topik layanan bimbingan perilaku asertif.

E. Definisi Operasional

Perilaku Asertif Para Siswa Putra dan Siswa Putri Kelas XI SMA Santo

Mikael Sleman tahun ajaran 2007/2008

Kemampuan para siswa putra dan siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael

Sleman tahun ajaran 2007/2008 dalam memberikan informasi, memberikan

opini atau sudut pandang, menyatakan kebutuhan dan perasaan, memberikan

(22)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab kajian pustaka ini memuat landasan teori yang berkaitan dengan

masalah dalam penelitian ini, yaitu perilaku asertif, agresif, dan non-asertif para

siswa putra dan siswa putri.

A. Perilaku Asertif

1. Pengertian Perilaku Asertif Siswa

Perilaku asertif siswa adalah kemampuan siswa dalam mengungkapkan pendapat, gagasan, pikiran, maupun perasaannya dengan

jujur dan terbuka, tanpa ada keraguan dalam menjelaskan kepada siswa

lain; tidak berbelit-belit dalam mengungkapkan pendapat kepada siswa

lain, langsung membicarakan pokok persoalan sehingga siswa lain yang

mendengarkan mengalami juga persoalan yang dibicarakan; tidak

memutar-balikkan persoalan yang sebenarnya; tidak menutup-nutupi

masalah yang hendak disampaikan kepada siswa lain.

Lloyd (1991: 1) mendefinisikan perilaku asertif sebagai suatu

gaya atau bentuk wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur, dan

penuh respek pada saat berinteraksi dengan orang lain. Asertivitas

diperlukan agar hubungan menjadi sehat. Perilaku asertif adalah perilaku

yang disyaratkan untuk hasil “Sama-Sama Menang” (Win-Win Solution)

(23)

dalam negoisasi, pemecahan konflik, kehidupan keluarga, dan transaksi

bisnis yang normal.

Cawood (1997) menjelaskan bahwa perilaku asertif adalah suatu

ungkapan atau ekspresi yang langsung, jujur, dan pada tempatnya dari

pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak anda tanpa kecemasan yang

tidak beralasan. Langsung berarti perilaku yang ditampilkan tidak

berputar-putar. Pesan yang disampaikan kepada orang lain jelas dan tidak

bersifat menghakimi. Mereka tidak berputar-putar dalam menyampaikan

sesuatu, serta tidak memanipulasi orang lain dalam menyampaikan pesan.

Perilaku yang jujur berarti perilaku yang laras. Semua isyarat yang terlihat seperti kata-kata yang diucapkan, gerak-gerik tubuh, dan perasaan

individu semuanya mengatakan hal yang sama. Perilaku pada tempatnya

berarti perilaku yang muncul dengan memperhitungkan hak-hak dan

perasaan orang lain maupun diri sendiri sesuai, suasana, waktu dan

tempat.

Menurut Adams dan Lenz (1995: 28), berperilaku asertif berarti

mengerti apa yang anda perlukan dan inginkan, dan dapat menjelaskannya

pada orang lain, bekerja dengan cara sendiri sambil tetap menunjukkan

hormat kepada orang lain. Lebih lanjut Adams dan Lenz menjelaskan

bahwa dalam berperilaku asertif individu membutuhkan kejujuran dan

(24)

2. Ciri-ciri Perilaku Asertif

Ciri-ciri orang yang memiliki perilaku asertif menurut Adams dan

Lenz (1995) ada enam ciri yaitu: (1) Orang yang asertif dapat bergaul

dengan jujur dan langsung menyatakan perasaan, kebutuhan-kebutuhan,

ide dan mempertahankan hak-haknya dengan cara yang tidak melanggar

hak dan kebutuhan orang lain. (2) Orang yang asertif tampak apa adanya,

terbuka, otentik, dan langsung dalam menyampaikan pikiran dan

perasaannya. (3) Orang yang asertif mampu bertindak demi kepentingan

diri sendiri dan mengambil inisiatif demi memenuhi kebutuhannya. (4)

Orang yang asertif berani untuk meminta informasi dan bantuan dari orang lain jika membutuhkan. (5) Bila mengalami konflik dengan orang

lain, orang yang asertif bersedia mencari penyelesaian yang memuaskan

kedua belah pihak, karena orang yang asertif memerlukan dan

menginginkan kerja sama dengan orang lain untuk memenuhi

kebutuhannya, orang yang asertif bersedia untuk bekerja sama dengan

orang lain dan berusaha membantu memenuhi kebutuhan orang tersebut.

(6) Orang yang bersikap asertif kecemasannya akan berkurang dan

semakin merasakan suatu kepuasan, meningkatkan harga diri dan

kepercayaan diri, sehingga kebutuhan yang penting akan semakin dapat

terpenuhi. Perilaku seperti ini membuat orang lain akan bereaksi lebih

positif sehingga hubungan akan menjadi lebih memuaskan.

(25)

3. Tujuan Perilaku Asertif

Perilaku asertif bertujuan untuk membina suatu hubungan atau

interaksi sosial yang baik dengan orang lain, tanpa ada pikiran dan

perasaan yang buruk terhadap orang lain pada saat melakukan percakapan

atau pembicaraan. Ada dua tujuan utama dari berperilaku asertif menurut

Cawood (1997), yaitu:

a. Perilaku asertif digunakan dengan tujuan supaya dialog tetap terbuka

dan berjalan hingga mencapai suatu tujuan yang masuk akal dan

dapat diwujudkan, membiarkan informasi baru dan pikiran-pikiran

serta perasaan-perasaan yang jujur mengalir secara timbal balik. Diharapkan dengan sikap ini tidak ada maksud dari pihak lain untuk

mengintimidasi, untuk mengesampingkan, untuk memaksa, atau

untuk mendapatkan apa yang diinginkan atau sebaliknya

menge-sampingkan hak-haknya.

b. Membangun sikap saling menghormati individu akan

mengembangkan harga diri orang lain dan diri sendiri. Perilaku asertif

individu diharapkan dapat membina dan meningkatkan perasaan

hormat terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga dari

membangun sikap saling menghormati tersebut dapat membuat suatu

keputusan dan tindakan yang inovatif berdasarkan informasi yang

(26)

4. Unsur-unsur Perilaku Asertif

Peneliti merumuskan delapan unsur yang membentuk perilaku

asertif yang dapat dilatih berdasarkan teori yang dikemukakan oleh

Cawood (1997), Lloyd (1991), dan Adams dan Lenz (1995). Unsur-unsur

perilaku asertif yang dimaksud yaitu: a. Memberikan Informasi.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam memberikan informasi: 1) Bersikap lugas: memberikan informasi seperti apa adanya dengan

tidak menambah atau mengurangi isi pesan yang disampaikan

dan pengungkapannya menggunakan kalimat yang jelas dan mudah, supaya dapat ditangkap oleh lawan bicara. Hal ini

dilakukan agar lawan bicara mengambil kesimpulan sendiri

dengan bertanggung jawab tentang informasi yang diterima.

2) Memberikan informasi secara deskriptif: informasi yang

diberikan mencakup semua isi secara lengkap dan detail. Hal ini

dilakukan untuk menghindari penafsiran yang salah dari lawan

bicara bila informasi yang di berikan tidak lengkap dan bersifat

umum.

3) Mengemukakan pendapat secara jujur dan terbuka. Orang yang

asertif menghindari pengaruh kesan memaksa atau mengancam

lawan bicara karena dapat menghambat penyelesaian suatu

masalah yang dihadapi.

(27)

4) Memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menggunakan

pikiran dan perasaannya dalam menyelesaikan suatu masalah dan

mampu menganalisis setiap situasi yang dihadapi dengan harapan

dapat mengambil kesimpulan sendiri.

b. Memberikan Opini atau Sudut Pandang.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam memberikan opini atau

sudut pandang:

1) Mempertahankan opini dari sudut pandang diri sendiri, dengan

memberikan opini atau sudut pandang yang berasal dari

pemikirannya sendiri.

2) Memiliki pemahaman yang jelas mengenai pandangan pendapat

diri sendiri dan mampu menjelaskan pandangan tersebut apa

adanya.

3) Mengutamakan kata “aku” dalam memberikan opini, pikiran,

atau wawasan sehingga menjadi lebih personal.

4) Menghindari kata “maaf” dalam menyampaikan pendapat atau

sudut pandang.

5) Menghindari memberikan informasi yang berbelit-belit.

Hendaknya informasi diberikan secara langsung dan jelas supaya

(28)

c. Menyatakan Kebutuhan atau Harapan.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam menyatakan kebutuhan

atau harapan:

1) Mengetahui secara jelas dan usahakan fokus pada apa yang

diinginkan saat ini.

2) Mengeksplisitkan asumsi-asumsi yang dimiliki secara jelas dan

tegas sehingga orang lain tidak salah menafsirkan kebutuhan atau

harapannya.

3) Mengundang reaksi orang lain dengan berhenti sejenak setelah

menyatakan kebutuhan dengan jelas dan ringkas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah orang lain sudah mendengar

dan menerima permintaan atau harapan yang disampaikan.

4) Menyampaikan kebutuhan dengan bahasa yang tegas dan mantap

tanpa mengesampingkan diri atau harapan sendiri. Hindari

pemakaian bahasa seperti berikut: “Aku tahu kamu barangkali

belum...”.

d. Menyatakan Pesan “Aku” atau I-Messages.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam menyatakan “pesan aku”

atau “I- Messages”:

1) Mengenali dan mengakui perasaan diri sendiri yang muncul saat

ini.

2) Mengakui perasaan dengan menggunakan “pesan aku” atau “I-

Messages”.

(29)

3) Menjabarkan atau menguraikan perasaan terhadap orang lain

secara jujur.

4) Tidak mengorbankan diri sebagai martir dan menghargai diri

sendiri.

e. Memberikan Keputusan Ya atau Tidak.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam memberikan keputusan ya

atau tidak:

1) Bersikap tegas dalam menentukan tujuan atau kebutuhan yang

ingin dicapai pada situasi saat ini. Tidak bersikap mendua atau

hanya ikut-ikutan saja tanpa memiliki prinsip yang jelas terhadap suatu masalah.

2) Menggunakan bahasa yang jelas dan tegas jika ingin atau

bermaksud mengatakan “Tidak”, tidak perlu menggunakan

perkataan yang bertele-tele.

3) Mempertahankan keputusan yang telah dibuat dan

mempertahankan pendapatnya.

4) Menggunakan bahasa yang halus jika menolak suatu permintaan.

Orang bisa menyampaikan perasaannya terhadap permintaan dan

memberikan informasi terhadap pertanyaan yang sifatnya minta

ijin. Misalnya: “Bolehkah saya pulang lebih awal?”. Terhadap

pertanyaan tersebut jika orang hendak menolak maka orang

(30)

informasi terhadap pertanyaan di atas untuk menolak dengan

menjawab: “Laporannya akan di ambil setengah jam lagi”.

f. Menyampaikan Kritik atau Pujian.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam menyampaikan kritik atau

pujian:

1) Memberikan krtikan atau pujian secara jelas.

2) Menjelaskan konsekuensi yang dapat terjadi dari perilaku pada

orang-orang yang relevan.

3) Mengambil saat yang tepat dalam menyampaikan kritikan atau

pujian kepada orang lain sehingga pujian atau kritikan tersebut dapat diterima dengan baik.

4) Memberikan pujian atau kritikan secara obyektif dan sesuai

dengan keadaan orang yang diberikan kritikan atau pujian.

5) Pujian yang diberikan sebaiknya jujur dan tulus, bukan untuk

menyelubungi rencana-rencana yang tidak bisa ditangani sendiri

secara langsung. Pujian diberikan karena layak untuk dipuji.

Pujian merupakan ekspresi kesenangan atau keinginan atau

kekaguman yang langsung dan selaras yang diberikan pada waktu

dan tempat yang tepat. g. Merefleksi Kembali Isi Pesan.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam merefleksi kembali isi

pesan:

(31)

1) Mendengarkan dengan seksama pesan atau pertanyaan yang

diungkapkan dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan evaluasi

atau kesimpulan terhadap sesuatu yang didengar.

2) Merefleksikan atau memantulkan kembali isi pernyataan atau

pertanyaan dengan kata-kata sendiri atau menggunakan bahasa

tubuh yang menggambarkan penerimaan sehingga ada kesan

bahwa pernyataan atau pertanyaan yang diungkapkan orang lain

sungguh-sungguh didengarkan.

3) Merefleksikan kembali perasaan yang terlibat. Mereka mengakui

perasaan orang lain dengan membiarkan perasaan orang tersebut muncul tanpa menilai hal tersebut boleh atau tidak boleh. Mereka

mengakui perasaan orang lain berarti memahami perasaan orang

lain dan membiarkan orang yang bersangkutan merasakannya.

h. Menerima Kritik dan Pujian.

Berikut ini adalah cara orang asertif dalam menerima kritik dan

pujian:

1) Menyelidiki terlebih dahulu kritik yang disampaikan orang lain

dengan tetap bersikap tenang. Kritikan yang positif merupakan

kritikan yang bersifat membangun, bukan menjatuhkan.

2) Mencari alternatif dan saran-saran yang diperlukan untuk

membuka wawasan.

3) Mengakui kesalahan sendiri secara jelas dan tidak membuat

(32)

membuat kesalahan asalkan bersedia untuk bertanggung jawab

atas konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan.

4) Mengabaikan kritik. Bila kritik yang disampaikan tidak relevan

dan bersikap memusuhi, orang yang asertif tidak menelusuri lagi

untuk mendapatkan informasi yang lebih baik.

5) Meresapkan pujian yang diterima, mengakui dan menghargai

pujian itu dengan jujur.

6) Tidak tergesa-gesa dalam membalas suatu pujian setelah

menerima pujian.

5. Manfaat Perilaku Asertif.

Perilaku asertif memiliki banyak manfaatnya bagi individu,

terutama dalam hal membangun interaksi sosial, supaya dapat menghargai,

menerima dan menghormati kehadiran orang lain. Menurut Cawood

(1997: 26) perilaku asertif sangat banyak manfaatnya khususnya dalam

menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, sehingga kehadiran

seseorang sungguh-sungguh dihargai dan diakui sebagai pribadi. Hasil

yang tampak bila orang berperilaku asertif adalah sebagai berikut:

a. Bila orang bersikap asertif, maka orang tersebut akan berurusan

dengan pikiran yang nyata, perasaan nyata, dan kebutuhan nyata

untuk memecahkan masalah yang nyata. Orang tersebut akan terpusat

pada masalah masa kini, proses masa kini dan tidak terkekang oleh berbagai kekhawatiran masa lampau atau masa mendatang.

(33)

b. Rasa percaya diri akan meningkat. Orang menjadi lebih kreatif dan

lebih terbuka terhadap usaha mengambil resiko dari

tindakan-tindakan yang dipilih, karena pilihan yang diambil merupakan

penegasan akan hak, pikiran, dan perasaan seseorang dalam

meningkatkan penghargaan diri dan rasa percaya diri.

c. Hubungan diperkaya oleh perilaku asertif. Keterampilan dalam

berperilaku asertif dapat membangun sikap saling mempercayai dan

saling menghormati orang lain. Kepercayaan didasarkan antara lain

pada pengalaman bekerja bersama dan pada kemampuan mengelola

konflik, sehingga memunculkan keberanian dan kompetensi untuk mengawali kegiatan-kegiatan dan untuk mengatasi berbagai kesulitan

bersama orang lain.

Sedangkan manfaat perilaku asertif menurut Adams dan Lenz

(1995) antara lain:

a. Orang akan mampu memahami diri sendiri sepenuhnya. Orang dapat

mengenal dirinya dengan baik bila mengungkapkan diri kepada orang

lain.

b. Orang asertif menyadari kebutuhan masa kini dan berusaha untuk

mendapatkannya dengan berani mengungkapkan pendapat dan

kebutuhannya secara jujur, sehingga orang yang asertif akan selalu

hidup dalam kekinian. Mereka tidak hidup di masa lampau dan masa

(34)

c. Orang asertif memenuhi kebutuhan pokok pada saat bantuan dan

kerja sama dengan orang lain diperlukan. Mereka berani untuk

menyatakan kebutuhan dan keinginan yang diperlukan kepada orang

lain, sehingga orang lain mengetahui kebutuhan dan keinginan yang

diperlukan.

d. Orang asertif memiliki pribadi yang lebih menarik dengan berani

untuk mengungkapkan diri secara jujur, apa adanya, tanpa topeng dan

kepura-puraan, mencerminkan keadaan diri yang sesungguhnya. e. Perilaku asertif menambah rasa harga diri. Harga diri dan

kepercayaan diri akan semakin bertambah bila berani bersikap terbuka dan jujur terhadap orang lain, karena pengungkapan diri

menjadi lebih mudah setiap kali berhasil melakukannya.

f. Orang asertif mampu mengungkapkan diri secara timbal balik.

Mereka memiliki kesediaan untuk mengungkapkan diri dapat

membuka jalan bagi orang lain untuk mengungkapkan dirinya.

Kesalahpahaman yang terjadi dapat dijernihkan dan dapat dicegah.

Frustasi dan kebencian dapat berkurang, sehingga hubungan

persahabatan akan menjadi lebih dalam dan kaya. Aktivitas dapat

diperluas. Semakin orang terbuka dan mengenal diri sendiri, maka

orang lebih bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhannya dan

hidupnya.

g. Perilaku asertif dapat mencegah terjadinya keretakan hubungan.

(35)

rusaknya suatu hubungan, dan menjadi faktor utama dalam banyak

kasus perceraian.

6. Hambatan yang Dialami dalam Berperilaku Asertif

Orang cenderung memenuhi permintaan orang lain, karena orang

sulit untuk mengatakan “Tidak” kepada orang lain. Hal ini sering sekali

terjadi supaya hubungan dapat terus terjalin dengan orang lain. Adams dan

Lenz (1995) menyebutkan beberapa alasan orang tidak dapat menjawab

atau mengatakan “Tidak” terhadap pernyataan orang lain. Beberapa alasan

orang sulit mengatakan “Tidak” kepada orang lain antara lain:

a. Tidak menyangka akan tawaran mendadak yang diajukan oleh orang

lain.

b. Ingin menyenangkan orang lain yang membutuhkan persetujuan atau

dukungan.

c. Perasaan takut bila pernyataannya menyinggung perasaan orang lain.

d. Perasaan takut kehilangan teman dan hukuman yang diterima. e. Perasaan bersalah.

f. Keinginan untuk membela otoritas.

g. Harapan adanya timbal balik dari orang lain.

h. Kompromi dengan harapan masyarakat.

i. Ingin mengidentifikasi diri sendiri dengan orang lain.

j. Terbebani perasaan kewajiban atau tugas yang harus dijalankan.

(36)

l. Ada suatu kebutuhan akan kekuatan untuk melakukan sesuatu.

Perilaku asertif individu perlu ditingkatkan supaya dapat

berkomunikasi dengan orang lain dan dapat bereaksi secara tepat terhadap

situasi yang sedang dihadapi. Individu mampu untuk bereaksi secara tepat

terhadap situasi yang dihadapi bila individu tersebut bersedia untuk

menjadi asertif.

B. Perilaku Agresif

Cawood (1997: 36) menulis bahwa perilaku agresif berarti hanya

memberikan pandangan-pandangan dan harapan-harapan anda sendiri pada tiap orang tanpa menerima sama sekali, tanpa memperhitungkan hak,

kebutuhan, perasaan, atau opini mereka. Sedangkan Adams dan Lenz (1995:

27) menjelaskan bahwa perilaku agresif berarti memenuhi keperluan sendiri

tetapi bertindak demikian dengan mengorbankan orang lain; bersikap tidak

peka (tidak acuh) atau berlawanan sama sekali dengan perasaan, ide, dan

kebutuhan orang lain. Lloyd (1991) mendefinisikan perilaku agresif sebagai

tindakan yang melanggar hak orang lain, menempatkan keinginan dan

kebutuhan pribadi di atas orang lain.

Perilaku agresif memiliki kaitan yang erat dengan kekuatan fisik

seseorang dalam menyerang orang lain. Bentuk serangan dari perilaku agresif

selain berupa perbuatan (kontak fisik) juga dapat berupa perkataan atau

ungkapan kalimat yang tajam dan dapat menyinggung perasaan orang lain (perilaku agresif verbal). Bagian dari perilaku agresif non-verbal dapat berupa

(37)

gerak tubuh, mimik wajah, dan volume suara. Seorang siswi yang membenci

temannya, memiliki kecenderungan untuk mencibirkan bibirnya setiap kali

ketemu dan membuang muka bila berpapasan dengan temannya tanpa

mengucapkan sepatah kata pun. Temannya yang mendapat perlakuan seperti

itu akan merasa tersinggung dan tertekan dengan perilaku siswi tersebut

merupakan contoh perilaku agresif. Perilaku agresif yang tampak seperti

contoh di atas termasuk cara untuk memenuhi kebutuhan mengungkapkan

perasaan marah dengan membuat orang lain menjadi tersinggung dan tertekan.

Usaha mengurangi agresivitas dapat dilakukan dengan menggunakan

salah satu cara yaitu dengan mengungkapkan perasaan melalui proses yang dikenal dengan istilah katarsis yaitu pelepasan energi yang berlebihan akibat

emosi.

Agresivitas dapat diungkapkan secara langsung dan tidak langsung.

Pengungkapan perilaku agresif secara langsung artinya dalam

mengekspresikan perasaan atau pikirannya disampaikan secara langsung

kepada orang lain atau benda yang menyebabkan frustasi. Pengungkapan

perilaku agresif secara tidak langsung artinya dalam mengekspresikan

perasaan atau pikirannya disalurkan secara tidak langsung kepada orang lain

atau benda yang menyebabkan frustasi. Contohnya: siswa yang marah kepada

temannya, melampiaskan amarahnya dengan menuliskan perasaan marahnya

(38)

C. Perilaku Non-Asertif

Menurut Adams dan Lenz (1995: 25) perilaku non-asertif berarti tidak

menyatakan perasaan, pikiran, kebutuhan, keinginan, pendapat anda kepada

orang lain kurang bertindak demi diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan

penting anda. Dengan tidak menjadi asertif maka orang akan membiarkan

keinginan dan kebutuhan serta hak orang lain menjadi lebih penting daripada

keinginan, kebutuhan dan haknya sendiri. Cawood (1997) menerangkan

perilaku non-asertif sebagai perilaku yang pasif, yaitu perilaku yang hanya

bisa menerima (menerima pandangan-pandangan dan harapan-harapan setiap

orang) tanpa memberikan pendapatnya sendiri (tidak menegaskan opini-opini, kebutuhan-kebutuhan, dan hak-hak diri sendiri).

Perilaku non-asertif dapat dilihat bila seseorang selalu berusaha

menghindari konflik, bahkan mendiamkan orang lain yang menyebabkan

konflik dengan perasaan benci, takut, marah, rasa tidak puas dan bahkan

dendam yang berkepanjangan bila diperlukan. Kecenderungan perilaku

non-asertif adalah memenangkan harapan orang lain dan menjunjung tinggi

pandangan serta kebutuhan orang lain dan menekan kebutuhan serta

pandangannya sendiri.

Orang yang memiliki perilaku non-asertif cenderung kurang

menghargai dirinya sendiri. Kurang menghargai diri sendiri merupakan salah

satu ciri yang negatif dari perilaku non-asertif. Perilaku yang ideal adalah

perilaku asertif, yaitu perilaku yang mendorong hubungan yang jujur dan terbuka.

(39)

Menurut Adams dan Lenz (1995), ciri-ciri perilaku non-asertif ada

empat, antara lain:

1. Orang yang berperilaku non-asertif cenderung untuk menghindari konflik.

2. Orang yang berperilaku non-asertif lebih mengutamakan reaksi daripada

melakukan aksi.

3. Orang yang berperilaku non-asertif menggunakan lebih banyak waktu dan

energi untuk menanggapi yang dikatakan dan dilakukan orang lain

daripada mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dan bertindak atas

kemauan sendiri.

4. Orang yang berperilaku non-asertif sering menangguhkan kebutuhannya

daripada kebutuhan orang lain, mereka lebih mendahulukan kebutuhan

orang lain daripada kebutuhannya sendiri.

Ciri-ciri perilaku non-asertif menurut Cawood (1997: 31) yaitu:

1. Orang cenderung untuk bersikap manis (berpura-pura). Sikap manis yang

ditunjukkan ini bukanlah sikap manis yang sebenarnya yang

mengekspresikan perasaannya, melainkan sikap pura-pura yang

disebabkan tidak berani untuk mengungkapkan opini, ide, kebutuhan, dan

haknya kepada orang lain.

2. Orang non-asertif merasa bertanggung jawab atas perasaan-perasaan

orang lain yang tersinggung, kecewa, atau marah.

3. Perilaku non-asertif dapat menghalangi tindakan nyata dan kemajuan

(40)

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Asertif

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku

asertif yaitu jenis kelamin dan pola pengasuhan orang tua dalam keluarga.

1. Jenis Kelamin

Menurut Adams dan Lenz (1995) kaum pria sering tidak bebas

dalam mengungkapkan pikiran dan kebutuhannya. Hal ini disebabkan pria

tidak ingin menunjukkan kelemahannya akibatnya anak-anak lelaki sering

menggunakan kekerasan (agresif) daripada anak perempuan dalam

menangani permasalahan. Pria lebih agresif daripada wanita (Sears, dkk;

1985: 212).

Pendapat di atas menunjukkan bahwa kaum pria lebih

menunjukkan perilaku agresif daripada kaum perempuan. Hal tersebut

dapat diartikan bahwa kaum perempuan lebih asertif daripada kaum pria.

2. Pola Pengasuhan Orang Tua dalam Keluarga

Menurut Hurlock (1992) terdapat tiga pola pengasuhan orang tua

terhadap anak, yaitu otoriter, demokratis, dan permisif. a. Otoriter

Anak diharapkan patuh terhadap perintah orang tua tanpa

menjelaskan alasan yang tepat. Apabila anak tidak mengikuti perintah

orang tua (disengaja atau tidak), maka anak akan diberi hukuman

fisik.

(41)

b. Demokratis

Orang tua ini menjelaskan bahwa mereka telah membuat

peraturan beserta alasannya. Apabila anak bertingkah laku tidak

sesuai dengan yang diharapkan orang tua, maka orang tua masih

memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan

alasannya, sebelum orang tua memberikan hukuman. c. Permisif

Orang tua kurang terlibat dalam menetapkan aturan dan

membimbing anak. Orang tua jarang bahkan tidak pernah memberi

hukuman kepada anak dengan harapan anak dapat mengambil pelajaran dari pengalamannya.

Pola pengasuhan yang dapat membentuk siswa berperilaku asertif

adalah pola pengasuhan demokratis, sedangkan pola pengasuhan yang

tidak membentuk perilaku asertif siswa adalah pola pengasuhan otoriter

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan jenis penelitian, instrumen pengumpul data, populasi

penelitian, pelaksanaan dalam pengumpulan data, dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan menggunakan

metode survei, yang bertujuan menggambarkan suatu gejala pada saat

penelitian dilakukan (Furchan, 2005: 447). Survei dapat digunakan bukan saja untuk melukiskan kondisi yang ada, melainkan juga membandingkan

kondisi-kondisi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya atau untuk

menilai keefektifan program (Furchan, 2005: 457). Penelitian ini

dimaksudkan untuk menggambarkan perilaku asertif para siswa putra dan

putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008.

B. Instrumen Pengumpul Data 1. Kuesioner

Alat pengumpul data yang digunakan oleh peneliti adalah

kuesioner perilaku asertif yang disusun oleh peneliti. Kuesioner ini

mengukur perilaku asertif yang terdiri dari memberikan informasi,

memberikan opini atau sudut pandang, menyatakan kebutuhan dan perasaan, memberikan keputusan ya atau tidak, memberikan pertanyaan,

(43)

menyatakan “pesan aku”, memberikan kritik dan pujian, menerima kritik

dan pujian.

Kuesioner perilaku asertif dikembangkan dari teori yang tersaji

dalam bab II. Kisi-kisi kuesioner perilaku asertif digambarkan pada tabel

berikut ini:

Tabel III.1 Kisi-Kisi Kuesioner Perilaku Asertif No Aspek Perilaku Asertif No Item

Favourable

a. Kuesioner perilaku asertif dengan item pernyataan positif: skor untuk

(44)

jawaban jarang memiliki skor 2, dan jawaban tidak pernah memiliki

skor 1.

b. Kuesioner perilaku asertif dengan item pernyataan negatif: skor untuk

jawaban selalu memiliki skor 1, jawaban sering memiliki skor 2,

jawaban jarang memiliki skor 3, dan jawaban tidak pernah memiliki

skor 4.

c. Kuesioner item pernyataan pilihan ganda: skor untuk jawaban A

memiliki skor 4, jawaban B memiliki skor 3, jawaban C memiliki

skor 2, dan jawaban D memiliki skor 1. 3. Reliabilitas dan Validitas Kuesioner

a. Reliabilitas Kuesioner

Reliabilitas kuesioner adalah derajat keajegan alat tersebut

dalam mengukur apa saja yang diukurnya (Furchan, 2005: 310).

Pendekatan yang digunakan untuk memeriksa reliabilitas kuesioner

adalah teknik belah dua gasal-genap (Split Half Method). Teknik

belah dua membagi instrumen menjadi dua bagian yaitu bagian

pertama berupa item-item yang bernomor gasal, dan bagian kedua

berupa item-item yang bernomor genap. Koefisien korelasi skor item

(45)

Keterangan rumus:

XY

r = korelasi skor-skor belahan gasal dan genap

N = jumlah subyek

X = skor item belahan gasal

Y = skor item belahan genap

XY = hasil perkalian antara skor X dan skor Y

Hasil penghitungan korelasi skor gasal-genap adalah:

(

)( )

{

132509245 131125401

}{

132233530 130873600

}

130999440

Koefisien reliabilitas kuesioner perilaku asertif para siswa putra dan

putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008

menggunakan rumus Spearman-Brown:

(46)

Keterangan rumus:

Hasil penghitungan reliabilitas kuesioner perilaku asertif para siswa

putra dan putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran

2007/2008 adalah:

Tabel III.2 Kualifikasi Koefisien Korelasi Suatu Alat Ukur Koefisien Korelasi Kualifikasi Sumber: Masidjo, 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah.

Yogyakarta: Kanisius. Hal 209

Hasil penghitungan reliabilitas yang diperoleh rtt =0.97. Reliabilitas

(47)

Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 dalam penelitian ini

termasuk sangat tinggi.

b. Validitas Kuesioner

Validitas suatu alat pengukur adalah derajat ketepatan dan

ketelitian alat tersebut dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.

Validitas menunjukan sejauh mana alat pengukur mampu mengukur

apa yang seharusnya diukur (Furchan, 2005 : 293). Validitas yang

digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity)

sebab item-item pernyataan dari kuesioner perilaku asertif

mencerminkan isi yang dikehendaki dan tujuan yang terdapat di

dalam wilayah isi. Pengesahan validitas isi didasarkan pada pertimbangan dari para ahli (expert judgement). Peneliti meminta

pendapat dan mengkonsultasikan kuesioner perilaku asertif kepada

dosen pembimbing untuk memeriksa setiap butir item pernyataan

kuesioner perilaku asertif tersebut, supaya setiap item pernyataan

yang dibuat tepat dengan rumusan masalah, definisi operasional,

konsep aspek dan sub-aspek, sesuai dengan tujuan penelitian perilaku

asertif para siswa putra dan putri di SMA Santo Mikael Sleman

Tahun Ajaran 2007/2008.

C. Populasi Penelitian

(48)

penelitian ini yaitu para siswa kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun

Ajaran 2007/2008 terdiri dari dua kelas yaitu kelas XI IA dan XI IS, dengan

jumlah siswa 62 siswa, yang terdiri atas 31 orang siswa putra dan 31 orang

siswa putri. Ada tujuh siswa yang tidak masuk, sehingga populasi penelitian

berjumlah 55 siswa.

D. Pelaksanaan Pengumpulan Data

Peneliti menghubungi pihak sekolah SMA Santo Mikael Sleman

sebelum melaksanakan pengumpulan data pada hari Kamis jam 09.00 WIB,

tanggal 28 Februari 2008.

Peneliti menemui oleh Ibu Siti Hartini, B.A., selaku Koordinator Bimbingan dan Konseling, untuk meminta ijin melakukan pengumpulan

data, dan pada hari Kamis jam 09.00 WIB, tanggal 28 Februari 2008,

peneliti menyerahkan surat ijin penelitian kepada pihak sekolah serta

membuat kesepakatan mengenai hari dan jam yang akan digunakan oleh

peneliti untuk pengumpulan data.

Pada akhirnya peneliti dapat melakukan pengumpulan data pada hari

Senin, tanggal 03 Maret 2008 pukul 09.15-10.00 WIB di kelas XI IS 2 dan

pada hari Kamis, tanggal 07 Maret 2008 pukul 09.30-10.10 WIB di kelas XI

IS 1, dan pada pukul 10.15-11.00 WIB di kelas XI IA.

(49)

E. Teknik Analisis Data

Mean berarti angka rata-rata. Ukuran kecenderungan memusat yang

paling banyak dipakai adalah mean, yang terkenal dengan rata atau

rata-rata hitung (Furchan, 2005: 158). Penentuan kategori rendah dan kategori

tinggi berdasarkan Mean, dikarenakan Mean mempunyai stabilitas yang

terbesar (Hadi, 2004: 59). Penghitungan mean adalah “Jumlah nilai-nilai

dibagi dengan jumlah individu” (Hadi, 2004: 40). Skor > Mean termasuk

kategori tinggi. Skor < Mean termasuk kategori rendah. Penghitungan Mean

menggunakan rumus:

Hasil dari penghitungan Mean adalah:

55

perilaku asertif dan siswa yang memperoleh skor < 416 termasuk rendah

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini memuat hasil penelitian mengenai tingkat perilaku asertif siswa

putra, tingkat perilaku asertif siswa putri dan pembahasan hasil penelitian.

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini merupakan jawaban atas rumusan masalah

penelitian. Rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana

tingkat perilaku asertif para siswa putra kelas XI di SMA Santo Mikael

Sleman Tahun Ajaran 2007/2008, dan (2) bagaimana tingkat perilaku asertif para siswa putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran

2007/2008.

Ada dua kategori tingkat perilaku asertif para siswa putra dan siswa

putri kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman yaitu kategori rendah (R) dan

kategori tinggi (T). Penentuan kategori rendah dan kategori tinggi

berdasarkan Mean. Siswa yang memperoleh skor > Mean termasuk kategori

tinggi (T) sedangkan siswa yang memperoleh skor < Mean termasuk kategori

rendah (R).

(51)

Hasil penghitungan data disajikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel IV.I Perilaku Asertif Para Siswa Putra dan Siswa Putri Kelas XI SMA MIKAEL Sleman Tahun Ajaran 2007/2008

Perilaku Asertif Total

Jenis Kelamin

R % T % %

Putra 23 74.19 8 25.81 31 100

Putri 0 100 24 100 24 100

Total 23 41.81 32 58.18 55 100

Sumber: Data Penelitian, Maret 2008

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan:

1. Tingkat perilaku asertif mayoritas para siswa putra kelas XI SMA Santo

Mikael tahun ajaran 2007/2008 rendah (23 siswa; 74,19%). Siswa putra

yang memiliki tingkat perilaku asertif tinggi hanya sebanyak 8 siswa

(25,81%).

2. Tingkat perilaku asertif semua siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael

tahun ajaran 2007/2008 tinggi (24 siswa; 100%).

B. Pembahasan

Hasil dari penelitian ini adalah siswa putra yang memiliki perilaku

asertif yang rendah lebih banyak daripada jumlah siswa putra yang memiliki

perilaku asertif yang tinggi, sedangkan semua siswa putri memiliki tingkat

perilaku asertif tinggi.

Tingginya perilaku asertif siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael

(52)

1. Bersikap Lugas Dalam Memberikan Informasi

Siswa putri sudah dapat bersikap lugas dalam memberikan informasi atau

mengungkapkan pendapat kepada guru dan teman-temannya di sekolah

dengan tidak menambah atau mengurangi isi pesan yang disampaikan,

dan informasi tersebut diungkapkan dengan menggunakan kalimat yang

jelas dan mudah, sehingga informasi tersebut dapat ditangkap oleh orang

lain dengan baik. Informasi yang diberikan oleh siswa putri mencakup

semua isi secara lengkap dan jelas, sehingga orang lain dapat mengerti

maksud dari informasi yang disampaikan. 2. Memberikan Opini atau Sudut Pandang

Siswa putri sudah dapat memberikan opini atau sudut pandang kepada guru atau teman-temannya di sekolah secara langsung disertai

pemahaman yang jelas dan menghindari memberikan informasi yang

berbelit-belit kepada orang lain, sehingga proses komunikasi dapat

berjalan dengan lancar.

3. Menyatakan Kebutuhan atau Harapan

Siswa putri sudah mengetahui keinginan atau kebutuhan untuk

memperoleh informasi secara jelas sehingga informasi yang diperoleh

tidak menimbulkan salah penafsiran. Siswa menyampaikan keinginan

atau kebutuhannya dengan bahasa yang tegas dan mantap tanpa

mengesampingkan diri atau harapan sendiri.

(53)

4. Menyatakan Pesan “Aku” I-Messages

Siswa putri sudah dapat mengakui dan mengutarakan perasaan yang

dialami kepada guru dan teman-temannya secara jujur dengan

menggunakan “I-Message” atau “pesan aku”.

5. Memberikan Keputusan Ya atau Tidak

Siswa putri sudah berani memberikan dan mempertahankan keputusan

“YA” atau “TIDAK” secara tegas dan tidak berbelit-belit dalam

memberikan keputusan kepada guru dan teman-temannya. 6. Menyampaikan Kritik atau Pujian

Siswa putri sudah dapat memberikan kritikan dan pujian kepada guru

maupun teman-temannya secara jelas, jujur, tulus, dan objektif, sesuai dengan keadaan orang yang diberikan kritikan atau pujian agar tidak

menimbulkan sikap permusuhan.

7. Merefleksi Kembali Isi Pesan

Siswa putri sudah dapat mendengarkan dengan seksama pesan yang

diungkapkan dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan kesimpulan.

Siswa memberikan pertanyaan dengan kata-kata sendiri dan mengakui

perasaan yang dialami. 8. Menerima Kritik dan Pujian

Siswa putri sudah dapat menyelidiki kritikan yang ditujukan kepada

dirinya agar tidak menimbulkan kesalah-pahaman dengan orang lain.

(54)

kritikan tersebut memang benar dan bermaksud baik untuk mengingatkan

agar tidak mengulangi kesalahan kembali. Pujian yang diterima dari guru

atau teman-temannya direspon dengan baik dan mengakui bahwa pujian

tersebut tulus dan jujur.

Siswa putri SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007 / 2008

lebih asertif daripada siswa putra. Perilaku asertif siwa putri SMA Santo

Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007 / 2008 yang tinggi tersebut dapat

diduga berhubungan dengan lingkungan keluarga yang baik dan

kepercayaan diri yang tinggi.

Keluarga yang memberikan kesempatan kepada anggota

keluarganya untuk menyatakan perasaan, kebutuhan-kebutuhan, ide, dan pendapatnya secara terbuka, bebas, tanpa rasa takut, cemas, maupun

terpaksa, membantu individu tersebut menghargai ungkapan pikiran dan

perasaan orang lain. Keluarga yang saling menghargai keberadaan setiap

anggota keluarganya, dapat mempengaruhi setiap anggota keluarga untuk

menghargai keberadaan orang lain ketika berada di luar rumah. Perilaku

asertif tersebut dapat memberikan dampak positif pada individu tersebut,

yaitu mengurangi perasaan malu, cemas, dan takut, mampu menghargai

dirinya sendiri, lebih percaya diri, kepuasan diri, serta membuat hubungan

dengan orang lain akan lebih memuaskan.

Siswa putri SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007 / 2008

yang memiliki kepercayaan diri sudah dapat menghargai dirinya sendiri, memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan,

(55)

kebutuhan, ide, dan pendapatnya kepada orang lain secara jujur, langsung,

terbuka, dan lugas. Siswa memiliki keberanian dikarenakan siswa

memiliki kepercayaan bahwa orang lain bersedia memenuhi

kebutuhannya. Kepercayaan diri juga mempengaruhi hubungannya ketika

bergaul dengan orang lain.

Sebagian besar siswa putra kelas XI SMA Santo Mikael Tahun Ajaran

2007/2008 masih memiliki perilaku asertif rendah. Perilaku asertif para siswa

putra kelas XI SMA Santo Mikael Tahun Ajaran 2007/2008 yang rendah

tersebut nampak dalam beberapa hal berikut ini: (1) Siswa putra kurang

paham terhadap dirinya sendiri. (2) Siswa tidak berani mengungkapkan

pikiran dan perasaannya terhadap guru atau teman-temannya karena takut menyinggung guru atau teman-temannya. (3) Siswa mengalami kesulitan

dalam bekerja sama dengan teman-temannya di dalam kelas dan di luar kelas

dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah karena merasa terbebani oleh tugas

yang harus dikerjakan. (4) Siswa tidak berani menolak tawaran atau ajakan

orang lain. Siswa kesulitan berkata “Tidak”, karena ingin menyenangkan

orang lain dan mendapat teman. (5) Siswa tidak bersedia mendengarkan

pendapat, informasi, gagasan, atau ide dari orang lain karena takut salah

paham.

Para siswa putra kelas XI SMA Santo Mikael Tahun Ajaran

2007/2008 yang masih memiliki perilaku asertif rendah, perlu mendapatkan

(56)

1. Meningkatkan Pemahaman Diri Siswa

Siswa menemukan kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam

dirinya sehingga siswa dapat mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang

dimiliki. Siswa memiliki wawasan tentang dirinya sendiri sehingga dapat

menerima atau memberikan kritik dan pujian dengan terbuka tanpa

perasaan cemas atau bersalah.

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa

Siswa diajak untuk lebih aktif dalam mengikuti setiap kegiatan

belajar di dalam kelas. Guru pembimbing memberikan kesempatan

kepada siswa untuk bertanya menggunakan kalimat yang mudah

dimengerti, atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru menggunakan kalimat yang tidak berbelit-belit. Guru memberikan tugas

kepada siswa sebagai pemimpin atau ketua kelompok dalam diskusi

kelompok agar siswa berlatih untuk membuat keputusan dan konsisten

dengan keputusan yang dibuatnya. Siswa menjadi pembicara dalam suatu

pertemuan atau rapat kegiatan sekolah agar siswa berlatih memberikan

penjelasan atau informasi dengan kata-kata yang tegas, singkat dan

langsung pada pokok permasalahan. Siswa berlatih menggunakan

kata-kata “Saya...” atau I-Messages ketika memberikan informasi, menerima

pendapat orang lain, mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap

guru atau teman-temannya atau ketika menolak pendapat atau gagasan

orang lain dengan ekspresi dan bahasa yang tegas.

(57)

3. Berani Menjadi Diri Sendiri

Siswa berlatih untuk menjadi diri sendiri dengan menerima

keadaan dirinya sendiri dan berusaha mengoptimalkan

kelebihan-kelebihan atau potensi yang ada di dalam dirinya. Keberanian untuk

mengungkapkan ide-ide atau pendapat secara jujur dan terbuka terhadap

orang lain akan menambah harga diri dan kepercayaan diri. Dengan

mengenal diri sendiri secara utuh, maka siswa dapat lebih bertanggung

jawab pada dirinya sendiri dan dapat bekerja sama dengan

teman-temannya di dalam kelas ataupun di luar kelas dalam mengerjakan

tugas-tugas sekolah.

4. Belajar Berkata “Tidak”

Siswa berlatih membuat keputusan secara tegas, bertanggung

jawab dan berterus terang tentang keputusan yang diambilnya sehingga

tidak menyinggung perasaan orang lain. Ketika menerima atau menolak

permintaan orang lain, siswa menggunakan kalimat yang tegas dan tidak

berbelit-belit.

5. Menjadi Pendengar Aktif

Siswa berlatih menerima atau menanggapi pendapat, informasi,

gagasan, atau ide dari orang lain dengan mendengarkan secara

sungguh-sungguh. Pesan yang disampaikan kemudian diuraikan kembali oleh

siswa dan memahami isi pesan tersebut agar tidak terjadi salah

(58)

BAB V PENUTUP

Bab ini memuat kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran dalam

meningkatkan perilaku asertif para siswa putra dan putri kelas XI di SMA

SANTO MIKAEL SLEMAN Tahun Ajaran 2007/2008.

A. Kesimpulan

Peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa semua siswa putri kelas XI

SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 memiliki perilaku asertif

tinggi, sedangkan sebagian besar siswa putra kelas XI SMA Santo Mikael

Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 memiliki perilaku asertif rendah.

B. Saran

Manfaat penelitian ini dapat dirasakan oleh para siswa yang memiliki

perilaku asertif tinggi adalah para siswa putri. Kemampuan tersebut harus

dipertahankan dengan terus melatih dan mempraktekkan perilaku asertif

dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil penelitian ini akan disampaikan kepada para siswa putra dan

siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008,

sehingga para siswa putra dan siswa putri kelas XI SMA Santo Mikael

Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 dapat mengenal diri dan memperbaiki diri

dalam berperilaku asertif. Para siswa putra kelas XI di SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 yang masih memiliki perilaku asertif rendah

(59)

perlu berlatih dan mempraktekkan setiap aspek perilaku asertif setiap hari,

supaya para siswa putra yang perilaku asertifnya rendah memiliki perilaku

asertif tinggi.

Bantuan dapat diberikan oleh pihak sekolah melalui pelayanan

bimbingan konseling pribadi - sosial sesuai dengan masalah perilaku asertif

siswa. Tujuan dari bimbingan perilaku asertif adalah supaya para siswa

berperilaku asertif dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan

lingkungan masyarakat, sehingga persoalan yang terkait dengan perilaku

asertif rendah dapat diselesaikan siswa tanpa merugikan pihak lain. Salah satu

wujud perilaku asertif adalah siswa dapat membuat keputusan secara

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Adams, Linda. (1995). Jadilah Diri Anda Sendiri. Jakarta: Gramedia.

Cawood, Diana. (1997). Manajer Yang Asertif. Jakarta: Gramedia.

Furchan, Arief. (2005). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Garret, Henri. (1967). Statistics In Psychology And Education. London, Longmans, Geen and Co.

Guilford, JP and B. Fruchter. (1965). Fundamental Statistics in Psychology and Education. New York, Mc Graw-Hill, Inc.

Hadi, Sutrisno.(1960). Statistika. Yogyakarta: Andi Offset.

Hurlock, E. B. (1992) . Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Lloyd, Sam. (1990). Mengembangkan Perilaku Asertif Yang Positif. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Masidjo, Ignasius. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Patterson, C.H. (1962). Counseling And Guidance In Schools. New York, Harper and Row, Inc.

Sears, dkk. (1985). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Winkel, W.S. (1991). Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)

KUESIONER PERILAKU ASERTIF Kata pengantar,

Pada kesempatan ini, saya memohon kesediaan anda untuk menjawab pernyataan-pernyataan dalam kuesioner ini. Maksud dari kuesioner ini adalah untuk mengetahui tentang perilaku asertif anda sebagai siswa. Informasi yang anda berikan dengan menjawab kuesioner ini, akan diolah dan hasilnya akan digunakan untuk mengembangkan kegiatan bimbingan dan konseling yang akan membantu pengembangan diri anda.

Kuesioner ini bersifat rahasia, dan jawaban anda tidak akan mempengaruhi nilai rapor anda. Oleh karena itu, saya mengharapkan anda menjawabnya secara jujur, sesuai dengan pengalaman anda sendiri.

Atas bantuan anda, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Petunjuk:

a. Isilah identitas diri terlebih dahulu dengan jelas.

b. Bacalah masing-masing pernyataan berikut dengan teliti. Kemudian tentukanlah seberapa sering anda melakukan hal-hal pada setiap butir item pernyataan ini. Alternatif jawabannya adalah sebagai berikut:

SLL : Selalu

d. Periksa kembali jawaban anda, dan pastikan semua pernyataan sudah anda isi.

(80)

Nama

Sekolah : ________________________________ No. Soal : ____________________ Kelas / Jur : ________________________________ Tgl. Pengisian : ____________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan

SLL : SELALU JRG : JARANG

SRG : SERING TP : TIDAK PERNAH

ALTERNATIF JAWABAN

NO PERNYATAAN

SLL SRG JRG TP

1 Saya menyampaikan informasi kepada guru apa adanya secara tegas, jelas, dan singkat

2 Saya tidak menyatakan pendapat saya dengan jujur kepada teman 3 Saya berani mengungkapkan keinginan saya kepada orang lain 4 Saya kurang tegas dibandingkan banyak orang di sekitar saya 5 Saya menyampaikan alasan yang jelas ketika memberikan pujian 6 Saya bertanya terlebih dahulu keberatan atau tidak sebelum saya

meminta bantuan orang lain

7 Saya menerima dengan tulus pujian yang diberikan kepada saya 8 Saya tidak menyampaikan informasi kepada teman apa adanya

secara tegas, jelas, dan singkat

9 Saya tidak menyatakan pendapat saya dengan jujur kepada guru 10 Saya mengambil alih tugas orang lain karena saya membutuhkan

tugas tersebut selesai hari ini juga

11 Saya mengambil keputusan ya atau tidak bila semua fakta sudah saya gabungkan terlebih dahulu

12 Saya menyampaikan alasan yang jelas ketika memberikan kritikan 13 Sebelum menerima atau menolak suatu tugas yang belum saya

pahami, saya akan menanyakan tugas itu terlebih dahulu 14 Saya tidak menerima pujian secara langsung

15 Saya berani mengingatkan teman supaya mengembalikan barang yang dipinjam

16 Saya memberikan jawaban dengan jelas bila pertanyaan yang diajukan tidak berbelit-belit

17

Saya malu menukar barang rusak yang baru saja saya beli dari toko, dan berpikir lebih baik saya menerima barang tersebut daripada membuat keributan

18 Saya menjawab YA bila saya setuju dan TIDAK bila saya tidak setuju

19 Saya menyatakan contoh hal yang saya puji dengan jelas sehingga orang lain paham bahwa pujian yang saya berikan memang pantas

Figure

Tabel Olah Data Penelitian .........................................................................

Tabel Olah

Data Penelitian ......................................................................... p.17
Tabel III.1

Tabel III.1

p.43
Tabel III.2 Kualifikasi Koefisien Korelasi Suatu Alat Ukur Koefisien Korelasi Kualifikasi

Tabel III.2

Kualifikasi Koefisien Korelasi Suatu Alat Ukur Koefisien Korelasi Kualifikasi p.46
Tabel IV.I Perilaku Asertif Para Siswa Putra dan Siswa Putri Kelas XI SMA MIKAEL Sleman Tahun Ajaran 2007/2008

Tabel IV.I

Perilaku Asertif Para Siswa Putra dan Siswa Putri Kelas XI SMA MIKAEL Sleman Tahun Ajaran 2007/2008 p.51

References