BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang sama yaitu keanekaragaman hayati, diantaranya 3 RPP dari MGMP

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analisis konten dengan data berupa dokumen RPP. Penelitian ini mengambil sampel 16 RPP dengan kompetensi dasar yang sama yaitu keanekaragaman hayati, diantaranya 3 RPP dari MGMP Kabupaten Kulon Progo, 6 RPP dari MGMP Kabupaten Bantul, dan 7 RPP dari MGMP Kabupaten Sleman. RPP yang diambil merupakan RPP buatan guru yang digunakan untuk pembelajaran biologi kelas X di sekolah SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Sleman.

Karakteristik guru Biologi pembuat RPP kelas X di SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Sleman diperoleh peneliti dengan menyebar angket yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai data diri guru. Melalui angket tersebut peneliti mendapat data mengenai masa mengajar guru sebagai variabel penganggu dalam penelitian ini dan data diri lainnya seperti status kepegawaian, pendidikan terakhir beserta program studinya, dan keikutsertaan guru dalam penelitian, serta tingkat pelatihan sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap proses guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil data angket identitas guru tersebut dapat dilihat dalam Tabel 13 berikut ini.

(2)

Table 1. Karakteristik Guru yang Membuat RPP No Guru Masa Mengajar (tahun) Status Kepegawaian Pendidikan terakhir Program studi Keikutsertaan dalam Pelatihan Jenis Pelatihan Tingkat Penelitian 1 SMA N 1 Wates 17 PNS S1 Biologi Diklat MGMP Lokal Regional nasional 2 SMA N 2 Wates 9 PNS S2 Teknik Mesin Diklat Workshop MGMP Lokal 3 SMA N 1 Sentolo 30 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat Seminar MGMP Regional Nasional 4 SMA N 1 Bantul 13 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat Seminar Workshop MGMP Lokal Nasional 5 SMA N 2 Bantul 31 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat Seminar Workshop MGMP Lokal Nasional 6 SMA N 3 Bantul 15 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat MGMP Lokal Nasional 7 SMA N 1 Pajangan 26 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat MGMP Lokal Regional Nasional 8 SMA N 1 Sanden 17 PNS S1 Pendidikan Biologi MGMP Lokal 9 SMA N 1 Sedayu 4 PNS S2 Biologi Diklat Seminar MGMP Regional Nasional 10 SMA N 1 Depok 28 PNS S1 Biologi Diklat Workshop MGMP Lokal Regional Nasional 11 SMA N 1 Godean 2 PNS S1 Biologi Diklat MGMP Lokal 12 SMA N 1 Minggir 29 PNS S1 Pendidikan BIologi Diklat Workshop MGMP Lokal Regional 13 SMA N 1 Mlati 20 PNS Sarjana Muda Pendidikan Biologi Diklat MGMP Lokal Regional Nasional 14 SMA N 2 Sleman 25 PNS S1 Pendidikan Biologi MGMP Lokal 15 SMA N 1 Seyegan 23 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat Seminar MGMP Lokal Regional Nasional 16 SMA N 1 Kalasan 38 PNS S1 Pendidikan Biologi Diklat Seminar MGMP Lokal Regional

(3)

RPP yang telah diperoleh dari sekolah kemudian dianalisis oleh para panelis. Panelis dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan. RPP dianalisis menggunakan instrumen analisis dokumen RPP penelitian ragam proses kognitif untuk kompetensi keanekaragaman hayati pada RPP Kurikulum 2013 yang telah di validitas muka (Face Validity) oleh Ahli (Expert Judgemen) yaitu Dosen Pembimbing. Selain data analisis dokumen RPP terdapat juga data hasil wawancara sebagai data pendukung. Wawancara ini digunakan sebagai teknik pengumpulan untuk mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam.

Kompetensi dasar ranah kognitif pada materi keanekaragaman hayati menurut permendikbud yaitu “Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman

hayati di Indonesia beserta ancaman dan pelestariannya”. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kompetensi pada KD yaitu pada level C4 (menganalisis). Kata kerja dalam kompetensi dasar tersebut menunjukkan tahap berpikir berada pada kompetensi dasar C4, maka tahap berpikir guru hanya membuat indikator C4 yang paling tepat. Akan tetapi, guru dapat juga membuat indikator di bawahnya yaitu C1, C2, dan C3 untuk setiap materi pokok. Hal ini karena untuk mencapai kemampuan menganalisis pada indikator yang dimaksud, dapat dijembatani dengan mengembangkan indikator sebelum level tersebut, misalnya kemampuan mengingat/memahami/menerapkan.

Analisis terhadap RPP meliputi analisis ketepatan dilihat dari korelasi dan konteks materi dan juga analisis ketepatan dilihat dari level kompetensi yang dikembangkan guru. Proses yang dilakukan untuk mengetahui hal tersebut meliputi dua tahapan yaitu melakukan telaah RPP dengan menggunakan lembar

(4)

penelaahan dan pedoman penelaahan dokumen RPP (Lampiran 5 & 6) yang dilakukan oleh lima panelis. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data indikator pencapaian kompetensi pada setiap ragam proses kognitif yang diperoleh dari hasil analisis dokumen RPP Biologi SMA untuk kompetensi keanekaragaman hayati. Hasil tersebut merupakan indikator yang dianggap tepat oleh panelis sebagai indikator untuk kompetensi keanekaragaman hayati. Hasil analisis ini disajikan dalam Lampiran 10 yang menunjukkan bahwa seluruh indikator yang dirumuskan guru dalam RPP telah tepat dilihat dari konteks dan level proses kognitifnya. Setelah diketahui bahwa seluruhnya tepat maka selanjutnya adalah melakukan telaah RPP dengan melihat kesesuainnya dengan kompetensi dasar yang harus dicapai. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa persentase dari setiap kategori dilihat dari macam MGMP, lama mengajar guru dan kefavoritan sekolah.

Jika hasil analisis KD dan hasil analisis indikator berada pada posisi C1, C2, C3, C4 maka dapat dikatakan bahwa indikator yang disusun merupakan penjabaran dari KD. Maka dari itu diperlukan suatu kategori untuk mengelompokkan ragam proses kognitif yang dikembangkan oleh guru dalam RPP. Terdapat dua kategori utama yaitu kategori mengembangkan C4 dan tanpa mengembangkan C4. Kategori mengembangkan C4 berarti tepat karena KD menganalisis secara logika guru harus membuat indikator menganalisis. Kategori ini terbagi lagi menjadi tiga kategori konsentrasi yaitu kategori C4 dan C3; kategori C4, C3, dan C2; kategori C4, C3, C2, dan C1. Berikut adalah rincian kategorinya:

(5)

a. RPP yang mengembangkan indikator dengan level proses kognitif menganalisis (C4). Kategori ini kemudian dikonsentrasikan kembali dan dirumuskan menjadi:

1) RPP yang mengembangkan indikator dengan level proses kognitif menganalisis (C4) dan mengaplikasikan (C3).

2) RPP yang mengembangkan indikator dengan level proses kognitif menganalisis (C4), mengaplikasikan (C3), dan memahami (C2).

3) RPP yang mengembangkan indikator dengan level proses kognitif menganalisis (C4), mengaplikasikan (C3), dan memahami (C2), mengingat (C1).

b. RPP yang tidak mengembangkan indikator dengan level proses kognitif menganalisis (C4).

Dari kategori-kategori tersebut pada setiap kategorinya mempunyai makna yang berbeda-beda. Makna yang utamanya adalah untuk menentukan kesesuaian suatu RPP dengaan kompetensi yang harus dicapai, dalam hal ini adalah kompetensi dasar materi keanekaragaman hayati yaitu sampai pada level proses kognitif menganalisis. Makna dari setiap kategori ini dijelaskan dalam tabel 14 berikut.

(6)

Tabel 2. Kategori dan Makna dari Setiap Kategori

Kategori Makna

RPP yang mengembangkan

indikator dengan level proses kognitif C4.

RPP dengan pengembangan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4).

RPP yang mengembangkan

indikator dengan level proses kognitif C4,C3/C4,C2

RPP dengan pengembangan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4) dan kompetensi dibawahnya.

RPP yang mengembangkan

indikator dengan level proses kognitif C4,C3,C2

RPP dengan pengembangan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4) dan kompetensi dibawahnya

RPP yang mengembangkan

indikator dengan level proses kognitif C4,C3, C2,C1.

RPP dengan pengembangan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4) namun tidak baik karena terlalu diturunkan sampai C1 atau terlalu drastis.

RPP yang tidak mengembangkan indikator dengan level proses kognitif C4.

RPP dengan pengembangan ragam proses kognitif yang tidak tepat dengan kompetensi dasar karena tidak mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4).

1. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati

Hasil analisis indikator oleh panelis kemudian dikelompokkan dalam setiap kategori berikut ini pada Tabel 15.

Tabel 3. Hasil Kategorisasi RPP Biologi SMA Negeri dari MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, MGMP Sleman pada Materi Keanekaragaman Hayati

No. Kategori Jumlah RPP Persentase (%)

1 C4 - 0

2 C4, C3/C4, C2 1 6.3

3 C4, C3, C2 - 0

4 C4, C3, C2, C1 6 37.5

5 Tanpa C4 9 56.2

Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa modus yang paling tinggi adalah kategori tanpa C4. Dari 16 RPP ada 9 atau 56.2% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai

(7)

kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Artinya, RPP yang termasuk dalam kategori ini merumuskan indikator dengan ragam proses kognitif yang tidak tepat dengan kompetensi dasar dan guru menurunkan level kompetensi. RPP yang memuat indikator kategori C4, C3,C2, sekaligus C1 sebanyak 6 RPP atau 37.5%. Artinya, RPP yang termasuk dalam kategori ini merumuskan indikator dengan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4) namun tidak baik karena terlalu diturunkan sampai C1 atau terlalu drastis. RPP yang memuat indikator kategori C4, C2 sebanyak 1 RPP atau 6.3%. Artinya, RPP yang termasuk dalam kategori ini merumuskan indikator dengan ragam proses kognitif yang tepat dengan kompetensi dasar karena telah mengembangkan proses kognitif sampai pada level menganalisis (C4) dan satu kompetensi dibawahnya namun tidak drastis. Sementara itu, tidak ada RPP yang memuat indikator kategori C4, C3, C2 serta kategori C4 atau 0%, padahal kategori ini bermakna tepat dengan kompetensi dasar. Hal ini menunjukkan bahwa secara garis besar perumusan indikator dalam RPP tidak sesuai dengan KD yang dituju yaitu sampai pada tahap menganalisis karena modus yang tertinggi adalah kategori tanpa C4 yang memiliki makna bahwa pengembangan ragam proses kognitif yang tidak tepat dengan kompetensi dasar.

2. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Macam MGMP

Dari Tabel 15 kemudian diuraikan kembali berdasarkan veriabel macam MGMP, lama mengajar guru dan kefavoritan sekolah dalam Tabel 16, Tabel 17

(8)

dan Tabel 18 berikut ini. Pada Tabel 16 berikut ini merupakan kategorisasi RPP Biologi ditinjau berdasarkan macam MGMP.

Tabel 4. Hasil Kategorisasi RPP Biologi SMA Negeri dari MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, MGMP Sleman pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Macam MGMP

No. Kategori

Macam MGMP Kulon

Progo Bantul Sleman

% % % 1 C4 - 0 - 0 - 0 2 C4, C3/C4, C2 1 33.3 - 0 - 0 3 C4, C3, C2 - 0 - 0 - 0 4 C4, C3, C2, C1 1 33.3 2 33.3 3 42.9 5 Tanpa C4 1 33.3 4 66.7 4 57.1

Berdasarkan Tabel 16 yang berkaitan dengan variabel macam MGMP dapat diketahui bahwa ternyata dari ketiga MGMP pada kategori C4 tidak terdapat RPP yang mengembangkan proses kognitif yang tepat dengan KD. Pada MGMP Kulon Progo menunjukkan bahwa dari 3 RPP ada 1 RPP atau 33.3% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Pada MGMP Bantul menunjukkan bahwa dari 6 RPP ada 4 RPP atau 66.7% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Pada MGMP Sleman menunjukkan bahwa dari 7 RPP ada 4 RPP atau 57.1% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Dari hasil tersebut diketahui bahwa dari ketiga MGMP, MGMP Bantul merupakan MGMP yang paling tidak mememenuhi harapan KD karena memiliki persentase kategori tanpa C4 yang paling besar. Sedangkan MGMP Kulon Progo merupakan

(9)

MGMP yang paling dekat memenuhi harapan KD karena persentase kategori tanpa C4 paling kecil.

1. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Lama Mengajar Guru

Pada tabel 17 berikut ini merupakan kategorisasi RPP Biologi ditinjau berdasarkan lama mengajar guru sebagai variabel pengganggu dalam penelitian ini.

Tabel 5. Hasil Kategorisasi RPP Biologi SMA Negeri dari MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, MGMP Sleman pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Lama Mengajar Guru

No. Kategori

Lama Mengajar Guru

<20 Tahun ≥20 Tahun % % 1 C4 - 0 - 0 2 C4, C3/C4, C2 - 0 1 11,1 3 C4, C3, C2 - 0 - 4 C4, C3, C2, C1 4 57.1 2 22.2 5 Tanpa C4 3 42.9 6 66.7

Berdasarkan Tabel 17 yang berkaitan dengan variabel lama mengajar guru dapat diketahui bahwa pada kategori C4 tidak terdapat RPP yang mengembangkan proses kognitif yang tepat dengan KD, serta dari kedua kategori lama mengajar tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Pada lama mengajar <20 tahun menunjukkan bahwa dari 7 RPP ada 3 RPP atau 42.9% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Sedangkan lama mengajar ≥20 tahun menunjukkan bahwa dari 9 RPP ada 6 RPP atau 66.9% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Hal ini menunjukkan bahwa kategori

(10)

guru senior yang mengajar ≥20 tahun justru lebih banyak merumuskan indikator tanpa C4 sehingga tidak mencapai KD dibandingkan guru junior.

2. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Kefavoritan Sekolah

Pada tabel 18 berikut ini merupakan kategorisasi RPP Biologi ditinjau berdasarkan kefavoritan sekolah sebagai variabel pengganggu dalam penelitian ini.

Tabel 6. Hasil Kategorisasi RPP Biologi SMA Negeri dari MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, MGMP Sleman pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Kefavoritan Sekolah

No. Kategori

Kefavoritan

Sekolah Favorit Sekolah Tidak

Favorit % % 1 C4 - 0 - 0 2 C4, C3/C4, C2 - 0 1 14.3 3 C4, C3, C2 - 0 - 0 4 C4, C3, C2, C1 4 44.4 2 28.6 5 Tanpa C4 5 55.6 4 57.1

Berdasarkan Tabel 18 yang berkaitan dengan variabel kefavoritan sekolah dapat diketahui bahwa pada kategori C4 tidak terdapat RPP yang mengembangkan proses kognitif yang tepat dengan KD, serta dari kedua kategori kefavoritan sekolah tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Pada sekolah favorit menunjukkan bahwa dari 9 RPP ada 5 RPP atau 55.6% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Sedangkan sekolah tidak favorit menunjukkan bahwa dari 7 RPP ada 4 RPP atau 57.1% sama sekali tidak mencantumkan indikator pencapaian kompetensi menganalisis sebagai kemampuan yang ditargetkan dalam KD. Hal ini menunjukkan bahwa kategori

(11)

sekolah tidak favorit lebih banyak merumuskan indikator tanpa C4 sehingga tidak mencapai KD dibandingkan sekolah favorit.

B. Pembahasan

1. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 15 diketahui bahwa ragam proses kognitif dalam indikator RPP Biologi materi keanekaragaman hayati menunjukkan hasil bahwa secara garis besar atau 56.2% perumusan indikator dalam RPP tidak sesuai dengan KD yang dituju yaitu tidak sampai pada tahap menganalisis karena modus yang tertinggi adalah kategori tanpa C4 yang memiliki makna bahwa pengembangan ragam proses kognitif tidak tepat dengan kompetensi dasar. Sedangkan RPP yang telah sesuai merumuskan indikator sesuai KD sampai pada tahap C4 adalah pada kategori C4, C2 sebanyak 6.3% dan kategori C4, C3, C2, C1 sebanyak 37.5%. Kategori C4, C2 sebenarnya tepat karena telah mencapai KD dengan merumuskan C4 dan indikator dibawahnya, namun level C2 menunjukkan bahwa level kompetensinya terlalu diturunkan. Kategori C4, C3, C2, C1 sebenarnya tepat karena telah mencapai KD dengan merumuskan C4 dan indikator dibawahnya, namun perumusan sampai level C1 menunjukkan bahwa level kompetensinya terlalu diturunkan secara drastis sehingga menjadi tidak baik rumusannya.

Dalam penelitian ini RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP A1, RPP B2, RPP B3, RPP B4, RPP B6, RPP D1, RPP D4, RPP D5, dan RPP D6 yang disusun oleh guru SMA N 1 Wates, SMA N 2 Bantul, SMA N

(12)

3 Bantul, SMA N 1 Pajangan, SMA N 1 Sedayu, SMA N 1 Depok, SMA N 1 Mlati, SMA N 2 Sleman, SMA N 1 Seyegan. Keseluruhan guru tersebut sudah berstatus PNS yang aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat, seminar, dan MGMP. Dari karakteristik yang demikian ini seharusnya guru telah memahami bagaimana pengembangan indikator berdasarkan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik karena telah berstatus PNS serta aktif dalam diklat dan MGMP sehingga banyak melakukan tukar pengalaman dan saling belajar dalam merumuskan indikator yang tepat.

Menurut Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Padang, apabila tingkat kompetensi pada KD sampai pada level C2 (memahami) maka indikator yang dikembangkan harus mencapai kompetensi C2. Berdasarkan penjelasan tersebut maka kemampuan menganalisis menjadi kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai peserta didik dalam materi keanekaragaman hayati ini. Secara logika seharusnya guru hanya membuat indikator menganalisis sebagai indikator yang paling tepat, namun dapat membuat indikator dibawahnya asalkan tidak terlalu turun drastis. Hasil tersebut dapat menjadi gambaran empiris bahwa guru menurunkan ragam proses kognitif dari KD yang seharusnya dicapai, khususnya pada sampel penelitian. Kemungkinan yang mendasari hal ini adalah guru khawatir peserta didik tidak mampu menguasai indikator menganalisis. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara terhadap guru, bahwa dalam mengembangkan proses kognitif sampai C4 sangat susah sekali untuk mencapainya karena melihat faktor kemampuan peserta didik. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang tersurat dalam

(13)

Permendikbud Nomor 69 tahun 2013 bahwa guru dituntut untuk mengembangkan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan peserta didik secara optimal bukan malah menurunkan level kompetensi yang seharusnya dicapai oleh peserta didik.

2. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Macam MGMP

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 16 diketahui bahwa ragam proses kognitif yang dirumuskan dalam indikator RPP Biologi materi keanekaragaman hayati berbeda antar ketiga MGMP yaitu MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, dan MGMP Sleman. Hasil ini menunjukkan bahwa antar MGMP tidak bekerja secara bersama-sama. Dalam Depdiknas (2008:1-2) juga disebutkan bahwa MGMP merupakan organisasi nonstructural yang bersifat mandiri dan berasaskan kekeluargaan. Artinya, MGMP bersifat otonom pada setiap daerah kabupaten dan berdiri sendiri.

Salah satu kegiatan atau program kerja dalam MGMP menurut Isjoni (2006:119) adalah penyusunan rencana pembelajaran. Menurut hasil wawancara yang dilakukan terhadap sampel guru dari tiap MGMP menunjukkan bahwa materi yang dibahas dalam kegiatan MGMP sangatlah banyak dan salah satunya yang dianggap penting adalah penyusunan RPP. Salah seorang guru dari MGMP Kulon Progo menyatakan bahwa penyusunan RPP menjadi materi yang seharusnya diutamakan dalam MGMP. Sampel guru dari ketiga MGMP yaitu Kulon Progo, Bantul dan Sleman serempak menyatakan bahwa penyusunan RPP dilakukan secara bersama-sama dalam MGMP kemudian guru dari tiap sekolah hanya tinggal melakukan revisi atau penyesuaian dengan kondisi sekolah

(14)

masing-masing seperti sarana prasarana dan kondisi kemampuan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa dari ketiga MGMP kabupaten penyusunan RPP dilakukan MGMP.

RPP erat kaitannya dengan perumusan indikator pencapaian kompetensi, sehingga kemungkinan terdapat perbedaan rumusan indikator dalam MGMP yang berbeda. Dari penjelasan ini tentunya terdapat kaitan MGMP dengan rumusan indikator yang disusun oleh guru. Hal ini sesuai dengan fakta yang terdapat di lapangan. Dari ketiga MGMP yaitu MGMP Kulon Progo, MGMP Bantul, dan MGMP Sleman diketahui bahwa rumusan indikator pencapaian kompetensinya sangat bervariasi atau terdapat perbedaan.

Dari hasil yang berbeda antar MGMP tersebut diketahui bahwa MGMP Bantul merupakan MGMP yang paling tidak mememenuhi harapan KD karena memiliki persentase kategori tanpa C4 yang paling besar. Sedangkan MGMP Kulon Progo merupakan MGMP yang paling dekat memenuhi harapan KD karena persentase kategori tanpa C4 paling kecil. MGMP Sleman diposisi tengah yang juga memiliki persentase yang cukup besar karena lebih dari setengahnya. Hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengapa guru di MGMP Bantul paling banyak tidak merumuskan indikator sampai tahap menganalisis atau kompetensi minimal pada KD.

Pada MGMP Kulon Progo, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP A1 yang disusun oleh guru SMA N 1 Wates. Guru SMA N 1 Wates tidak memiliki latar belakang pendidikan dibidang kependidikan serta lama mengajar yang masih tergolong guru junior yang belum memiliki banyak

(15)

pengalaman, sehingga sedikit wajar jika masih terdapat kekurangan dalam merumuskannya dan tidak mencapai C4, namun hal itu tidak dapat menjadi alasan karena guru ini termasuk sebagai guru yang aktif dalam kegiatan diklat dan MGMP sehingga dapat saling tukar pikiran dan pengalaman sehingga dapat merumuskan indikator yang lebih baik dan mencapai KD.

Pada MGMP Bantul, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP B2, RPP B3, RPP B4 dan RPP B6 yang disusun oleh guru di SMA N 2 Bantul, SMA N 3 Bantul, SMA N 1 Pajagan, SMA N 1 Sedayu. Keempat guru ini sudah berstatus PNS yang aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat, seminar, dan MGMP. Keempatnya bahkan memiliki latar belakang kependidikan dalam pendidikan yang pernah ditempuhnya. Dua diantaranya yaitu guru SMA N 2 Bantul dan SMA N 1 Pajangan justru merupakan guru senior dibandingkan guru lainnya. Dari karakteristik yang demikian ini seharusnya guru telah memahami bagaimana pengembangan indikator berdasarkan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik karena telah berstatus PNS, memiliki latar belakang dibidang kependidikan, aktif dalam diklat dan MGMP sehingga banyak melakukan tukar pengalaman dan saling belajar dalam merumuskan indikator yang tepat.

Pada MGMP Sleman, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP D1, RPP D4, RPP D5 dan RPP D6 yang disusun oleh guru SMA N 1 Depok, SMA N 1 Mlati, SMA N 2 Sleman, dan SMA N 1 Seyegan. Keempat guru ini semuanya telah mengajar selama ≥20 tahun atau kategori guru senior serta aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat dan MGMP, sehingga seharusnya

(16)

telah banyak memperoleh pengalaman mengajar serta melakukan tukar pengalaman dan saling belajar dalam merumuskan indikator yang tepat.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap salah satu guru di MGMP Sleman diketahui bahwa alasan perumusan indikator tidak mencapai harapan pada KD adalah kesulitan menentukan strateginya seperti apa, media yang harus dipersiapkan seperti apa kadang tidak tersedia di sekolah. Kendala lainnya adalah karena kekurangan waktu dalam pelaksanaannya jika harus mengembangkan sampai kompetensi yang tinggi karena biasanya sulit dalam mengatur peserta didik sehingga waktu yang tersedia semakin berkurang. Sama halnya dengan guru dari MGMP Bantul dan MGMP Kulon Progo kendalanya adalah tuntutan materi pada kompetensi dasar yang sangat luas tidak dibarengi dengan jatah waktu yang ada sehingga sulit untuk mengembangkan kompetensi sampai tahap menganalisis. Berdasarkan hal tersebut memang wajar bahwa dalam setiap MGMP selalu ditemukan RPP yang tidak merumuskan proses kognitif level menganalisis dalam indikatornya dengan alasan waktu yang tidak mencukupi. Sebenarnya kendala-kendala yang disampaikan oleh guru dalam wawancara tersebut dapat diatasi dengan MGMP. Menurut Saondi (2010:80), hakikat MGMP berfungsi sebagai wadah atau sarana komunikasi, konsultasi, dan tukar pengalaman sehingga dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kemampuan guru dalam hal menyusun perangkat pemebelajaran. Hal ini juga disetujui oleh guru dalam wawancara yang menyebutkan bahwa solusi untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan berdiskusi dan bekerja sama dalam MGMP. Selain itu untuk mengatasi kendala waktu tersebut guru dapat saja hanya merumuskan indikator C4 saja justru lebih

(17)

tepat dan dapat mencapai kompetensi, sehingga waktu tidak terbuang untuk mencapai indikator dibawahnya yang justru berakibat indikator yang penting tidak tercapai. Dari penjelasan ini seharusnya tidak ada lagi guru yang dalam perumusan indikator belum mencapai kompetensi minimal yang harus dicapai karena dapat dilakukan tukar pikiran terhadap bagaimana rumusan perangkat pembelajaran yang baik dan sesuai dengan kompetensi.

3. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Lama Mengajar Guru

Muhammad Zen (2010: 53) mengatakan bahwa semakin bertambah masa kerjanya diharapkan guru semakin banyak pengalaman. Pengalaman ini erat kaitannya dengan peningkatan profesionalisme pekerjaan. Guru yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan harus lebih profesional dibandingkan guru yang beberapa tahun mengabdi. Hal ini memberikan penjelasan bahwa guru yang memiliki lama mengajar di atas 20 tahun diasumsikan memiliki pengalaman yang lebih banyak, sehingga berpengaruh terhadap perumusan rencana pembelajaran atau RPP.

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 17 diketahui bahwa ragam proses kognitif yang dirumuskan dalam indikator RPP Biologi materi keanekaragaman hayati kategori guru senior yang mengajar ≥20 tahun justru lebih banyak merumuskan indikator tanpa C4 sehingga tidak mencapai KD dibandingkan guru junior.

Semakin bertambahnya lama mengajar, maka intensitas mengkaji kekurangan pembelajaran yang dilakukan juga sepantasnya akan meningkat,

(18)

sehingga akan mengupayakan perbaikan yang terus disesuaikan dengan zaman. Selain itu juga guru dengan masa mengajar yang lebih lama akan lebih mengembangkan potensi peserta didik lebih maksimal sehingga lebih mengembangkan kemampuan berpikir sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa guru dengan lama mengajar < 20 tahun lebih baik dalam merumuskan ragam proses kognitif dalam indikator terbukti dari persentase kategori tanpa C4 yang lebih kecil, sedangkan lama mengajar ≥20 tahun tidak sesuai dengan harapan dalam merumuskan ragam proses kognitif dalam indikator terhadap kompetensi. Hal ini kurang sesuai dengan asumsi awal peneliti yaitu guru dengan lama mengajar yang semakin lama seharusnya memiliki kompetensi mengajar yang lebih baik sehingga dalam proses perumusan indikator pembelajaran juga lebih baik karena adanya asumsi bahwa guru yang telah lama mengajar maka lebih banyak memiliki pengalaman dalam pengembaangan diri sehingga lebih profesional.

Pada kategori lama mengajar <20 tahun, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP A1, RPP B3, dan RPP B6 yang disusun oleh guru SMA N 1 Wates, SMA N 3 Bantul, dan SMA N 1 Sedayu. Jika dilihat dari segi karakteristik guru yang lainnya ketiga guru ini memiliki karakteristik yang hampir sama yaitu sama-sama telah berstatus PNS, aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat dan MGMP. Guru SMA N 1 Wates tidak memiliki latar belakang pendidikan dibidang kependidikan sehingga memungkinkan tidak tercapainya kompetensi dalam rumusan indikatornya, sedangkan kedua guru lainnya memiliki latar belakang pendidikan dibidang kependidikan bahkan pendidikan terakhirnya

(19)

S2. Seharusnya ketiganya dapat memperoleh pengalaman mengajar serta melakukan tukar pengalaman dan saling belajar dalam merumuskan indikator yang tepat karena telah aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat dan MGMP, sehingga hal-hal lain tersebut dapat teratasi.

Pada kategori lama mengajar ≥20 tahun, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP B2, RPP B4, RPP D1, RPP D4, RPP D5, dan RPP D6 yang disusun oleh guru SMA N 2 Bantul, SMA N 1 Pajangan, SMA N 1 Depok, SMA N 1 Mlati, SMA N 2 Sleman, SMA N 1 Seyegan. Jika dilihat dari segi karakteristik guru yang lainnya ketiga guru ini memiliki karakteristik yang hampir sama yaitu sama-sama telah berstatus PNS, aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat dan MGMP. Lima diantaranya juga merupakan guru yang memiliki latar belakang pendidikan dibidang pendidikan, sehingga seharusnya dengan pengalamannya selama pendidikan ditambah lagi dengan keaktifannya dalam kegiatan pelatihan maka dalam merumuskan indikator dapat tepat sesuai dengan pencapaian kompetensinya.

Terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan hasil pengukuran menunjukkan demikian. Guru dengan lama mengajar kurang dari 20 tahun bisa dikatakan sebagai guru fresh-graduate sehingga dimungkinkan guru tersebut telah diajarkan mengenai proses penyusunan RPP terutama perumusan indikator pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Selain itu dimungkinkan pula guru memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih baru dan luas terkait ilmu sains khususnya Biologi. Jika guru tersebut telah memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dan didukung dengan kemampuan menyusun indikator sesuai

(20)

kompetensi dasar dan dimensi proses kognitif, maka dimungkinkan guru tersebut dapat mengembangkan RPP dengan indikator proses kognitif yang lebih baik dan mencapai kompetensi.

Berdasarkan hasil wawancara, guru-guru yang memiliki lama mengajar <20 tahun dalam proses penyusunan RPP dilakukan dengan tetap melakukan penyesuaian secara mandiri terhadap RPP yang telah disusun dalam MGMP dengan memperhatikan aturan permendikbud dan taksonomi dari Anderson dan Krathwohl. Selain itu juga memperhatikan kompetensi dasar yang ingin dicapai, ranah apa saja yang harus dikembangkan baru selanjutnya merumuskan indikator. Menurut Uhar Suharsaputra (2011: 181) bahwa guru perlu terus mengembangkan kemampuan dalam mendalami ilmu melalui kajian, observasi, dan diskusi dengan rekan kerja serta siapa pun yang konsen pada peningkatan kemampuan ilmiah, sehingga pelaksanaan peran dan tugas sebagai pendidik dan pengajar dapat meningkat dan bermutu. Hal tersebut berarti, lama mengajar saja tidak menjadi jaminan akan memberikan pengaruh berbanding lurus terhadap level proses kognitif yang dikembangkan dalam RPP agar sesuai dengan kompetensinya jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas yang dimiliki.

4. Ragam Proses Kognitif dalam Indikator RPP Biologi SMA pada Materi Keanekaragaman Hayati Ditinjau Berdasarkan Kefavoritan Sekolah

Kefavoritan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengkategorisaian sekolah menjadi sekolah favorit dan sekolah tidak favorit. Pengelompokan kefavoritan sekolah juga dapat diliat berdasarkan nilai Ujian Nasional (UN) masuk calon peserta didik baru. Sekolah dengan peserta didik yang memiliki nilai UN SMP terendah diatas rata-rata digolongkan sebagai sekolah favorit karena

(21)

diminati oleh peserta didik yang memiliki nilai tinggi, sedangkan sekolah yang nilai UN SMP terendah dibawah rata-rata termasuk dalam sekolah tidak favorit karena sekolah tersebut kurang diminati oleh peserta didik yang memiliki nilai tinggi.

Peserta didik yang memiliki nilai UN SMP yang tinggi secara umum dapat dikatakan bahwa peserta didik tersebut memiliki potensi yang tinggi. Potensi peserta didik yang tinggi di sekolah favorit tentunya menuntut guru untuk merencanakan pembelajaran, mengelola pembelajaran dengan baik sehingga potensi peserta didik data dieksplor secara maksimal. Begitu juga dengan guru yang mengajar di sekolah tidak favorit, guru diharapkan memiliki solusi atau cara sebagai upaya untuk meningkatkan potensi peserta didik.

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 18 diketahui bahwa fakta di lapangan menunjukkan kategori sekolah tidak favorit lebih banyak merumuskan indikator tanpa C4 atau tidak mencapai KD dibandingkan sekolah favorit meskipun angka hasilnya tidak signifikan. Dengan kata lain guru sekolah favorit mengembangkan ragam proses kognitif yang tidak tepat dengan kompetensi dasar lebih sedikit dibandingkan guru disekolah tidak favorit. Jika dilihat dari hasil wawancara dengan guru di sekolah favorit menyatakan bahwa memang memodifikasi RPP dari MGMP karena sekolah yang bersangkutan merupakan sekolah favorit dan sekolah rujukan yang ditunjuk oleh pemerintah sehingga guru menyusun RPP dengan kompetensi sesuai tuntutan kurikulum dalam permendikbud. Sedangkan guru sekolah tidak favorit menyatakan bahwa memang memodifikasi RPP sesuai dengan potensi peserta didik karena memperhatikan

(22)

kondisi anak, jika sekolah lain yang favorit anak-anaknya cukup mampu maka sekolah tersebut berbeda dan sengaja menurunkan kompetensinya. Guru lain juga menyatakan bahwa memang sebagai sekolah yang termasuk tidak favorit untuk mencapai level proses kognitif yang tinggi susah sekali dan berbeda dengan sekolah favorit yang mungkin tidak masalah dengan hal tersebut.

Pada kategori sekolah favorit, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP A1, RPP B2, RPP B3, RPP D1, dan RPP D4 yang disusun oleh guru SMA N 1 Wates, SMA N 2 Bantul, SMA N 3 Bantul, SMA N 1 Depok, dan SMA N 1 Mlati. Jika dilihat dari segi karakteristik guru seluruh guru ini sudah berstatus PNS yang aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat, seminar, dan MGMP. Tiga diantaranya bahkan memiliki latar belakang kependidikan dalam pendidikkan yang pernah ditempuhnya. Sehingga seharusnya dengan status kepegawaian ditambah lagi dengan keaktifannya dalam kegiatan pelatihan maka dalam merumuskan indikator dapat tepat sesuai dengan pencapaian kompetensinya agar mampu memenuhi salah satu ciri guru sekolah favorit yaitu guru-gurunya tangguh dan profesional

Pada kategori sekolah tidak favorit, RPP yang tidak mencapai C4 adalah RPP dengan kode RPP B4, RPP B6, RPP D5, dan RPP D6 yang disusun oleh guru SMA N 1 Pajangan, SMA N 1 Sedayu, SMA N 2 Sleman, SMA N 1 Seyegan. Jika dilihat dari segi karakteristik guru seluruh guru ini sudah berstatus PNS yang aktif dalam kegiatan pelatihan seperti diklat, seminar, dan MGMP. Tiga diantaranya juga merupakan guru senior yang secara teori memiliki pengalaman mengajar yang lebih banyak. Sehingga seharusnya dengan status kepegawaian

(23)

ditambah lagi dengan keaktifannya dalam kegiatan pelatihan serta pengalaman lama mengajarnya maka dalam merumuskan indikator dapat tepat sesuai dengan pencapaian kompetensinya agar mampu mengelola pembelajaran dengan baik sehingga potensi peserta didik data dieksplor secara maksimal.

Menurut Depdiknas dalam Eka Nodyawati (2011:45) menyatakan bahwa salah satu ciri sekolah favorit adalah guru-gurunya tangguh dan profesional. Hal ini menunjukkan bahwa pada sekolah favorit guru akan mengembangkan pembelajaran yang lebih optimal dan sesuai tuntutan kurikulum artinya guru akan mengembangkan indikator sampai pada kompetensi dasar yang harus dicapai dalam hal ini sampai pada level proses kognitif menganalisis. Hal ini sesuai dengan asumsi awal peneliti yaitu guru dituntut untuk merencanakan pembelajaran, mengelola pembelajaran dengan baik sehingga potensi peserta didik data dieksplor secara maksimal di sekolah favorit

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :