BAB 1 PENDAHULUAN. halnya dengan kejahatan yang terjadi di bidang ekonomi salah satunya adalah

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Saat ini perkembangan sektor publik sudah semakin kompleks, demikian halnya dengan kejahatan yang terjadi di bidang ekonomi salah satunya adalah kecurangan. Kecurangan juga telah terjadi dimana-mana. Kejahatan di bidang ekonomi ini dilakukan karena berbagai alasan, tetapi pada umumnya karena ingin memperkaya diri. Upaya pencegahan dan pemberantasan kecurangan perlu ditingkatkan serta diintensifkan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.

Beberapa peristiwa skandal korporasi yang telah terjadi juga tidak lepas dari tindakan para pemimpin perusahaan yang menyalahi hukum dan etika. Beberapa perusahaan yang terlibat dalam skandal-skandal tersebut antara lain Enron, Worldcom, Tyco, Rite Aid, Sumbeam, Waste Management dan lain lain (Desjardins,2011:3). Runtuhnya perusahaan-perusahaaan besar di Amerika Serikat diakibatkan oleh adanya manipulasi pembukuan. Berdasarkan tiga kategori atas kecurangan yakni penyalahgunaan aset, korupsi dan kecurangan atas pernyataan, dimana jenis kecurangan yang tertinggi adalah penyalahgunaan aset, kemudian disusul dengan korupsi dan yang terendah adalah kecurangan laporan keuangan. Namun jika dilihat dari jumlah kerugian yang ditimbulkan, kecurangan laporan keuangan mengakibatkan nilai kerugian yang paling besar (ACFE, 2012)

Kasus-kasus kecurangan juga terjadi di Negara Indonesia baik di sektor publik maupun di sektor korporasi. Seperti kasus mafia pajak Gayus Tambunan

(2)

2

yang merupakan seorang pegawai pajak. Dia dijerat dengan tiga pasal berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang dan penggelapan pajak (TribunNews,2011). Lalu muncul pula skandal di dunia perbankan. Skandal tersebut melibatkan Melinda Dee yang merupakan salah satu pegawai senior di Citibank yang bertanggung jawab atas 117 transfer dana tanpa sepengetahuan atau izin nasabah yang bersangkutan (Kompas, 2012). Dan masih banyak lagi kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang ada di Indonesia. Hingga pada tahun 2013 lalu Indonesia mendapat peringkat dari Indeks Persepsi Korupsi ke 114 dari 117 negara (www.transparency.org).

Peraturan Pemerintah (PP) No.60 tahun 2008, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merupakan auditor internal yang memiliki tanggung jawab dalam menciptakan proses tata kelola pemerintahan yang baik, penerapan sistem pengendalian manajemen pemerintah yang baik dan pengelolaan pemerintah yang bebas praktik Korupsi,Kolusi dan Nepotisme (KKN). Selain itu BPKP juga melakukan audit eksternal seperti pemeriksaan khusus (audit investigasi) untuk mengungkapkan adanya indikasi praktik Tindak Pidana Korupsi (TPK), pemeriksaan terhadap proyek-proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk pelaksanaan dekonsentrasi, desentralisasi, tugas perbantuan serta pemeriksaan terhadap pemanfaatan pinjaman dan hibah di luar negeri. Menurut Bapak Doso Sukendro selaku Koordinator Pengawasan Bidang Investigasi, BPKP Perwakilan Bali telah menangani setidaknya lebih dari 10 kasus tindak pidana korupsi setiap tahunnya. Banyaknya kasus tindak pidana korupsi serta penyelewengan dana yang terjadi di

(3)

3

pemerintah Provinsi Bali, sebagian besar disebabkan oleh buruknya pengelolaan keuangan dan sistem pengendalian internal pemerintah yang kurang baik.

Istilah Fraud memang masih terdengar asing namun dalam konteks dunia akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Fraud adalah sasaran operasi utamanya. Fraud atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan kecurangan adalah objek utama yang diperangi dan dibuktikan dalam Audit Investigatif. Kecurangan adalah suatu pengertian umum yang mencakup beragam cara yang dapat digunakan oleh kecerdikan manusia, yang digunakan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain melalui perbuatan yang tidak benar. Kecurangan adalah penipuan yang disengaja, umumnya dalam bentuk kebohongan, penjiplakan dan pencurian. Kecurangan dilakukan untuk memperoleh keuntungan berupa uang dan kekayaan atau untuk menghindari pembayaran atau kerugian jasa, menghindari pajak serta mengamankan kepentingan pribadi atau usaha.

Kecurangan dalam akuntansi dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu kecurangan laporan keuangan dan kecurangan transaksi. Kecurangan laporan mencakup kesalahan pelaporan yang disengaja sehingga terlihat kondisi keuangan perusahaan lebih baik daripada kenyataannya dan akhirnya menipu para pemegang saham, investor dan kreditur. Sedangkan Kecurangan Transaksi biasanya dilakukan untuk mempermudah pencurian atau konversi aset entitas atau perusahaan menjadi aset pribadi.

Salah satu cara penting untuk mengidentifikasi dan menemukan kecurangan adalah melakukan Audit Investigasi. Audit investigasi merupakan audit khusus

(4)

4

yang dilakukan berkaitan dengan adanya indikasi tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta ketidaklancaran pembangunan. Audit investigasi ini dilakukan oleh auditor yang disebut Auditor Investigatif. Audit Investigasi ini adalah proses mencari, menemukan, dan mengumpulkan bukti secara sistematis yang bertujuan mengungkapkan terjadi atau tidaknya suatu perbuatan dan pelakunya guna dilakukan tindakan hukum selanjutnya (Pusdiklatwas BPKP,2010:58).

Pelaksanaan Audit Investigasi berhubungan langsung dengan proses litigasi. Litigasi merupakan mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan. Hal ini menyebabkan tugas auditor investigatif lebih berat. Auditor investigatif harus memahami pengetahuan tentang akuntansi dan pengauditan. Selain itu auditor investigatif juga harus memahami tentang hukum dalam hubungannya dengan kasus penyimpangan atau kecurangan yang dapat merugikan keuangan Negara (Karyono,2013:132).

Dalam pelaksanaan Audit Investigasi, maka auditor investigatif harus memiliki kemampuan untuk membuktikan adanya kecurangan yang memungkinkan terjadi dan sebelumnya telah terdeteksi oleh berbagai pihak. Prosedur dan teknik yang digunakan dalam proses penyelidikan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam standar yang berlaku. Hal itu berpengaruh terhadap pengumpulan dan pengujian bukti bukti yang dilakukan terkait dengan kasus kecurangan atau penyimpangan yang terjadi. Korupsi merupakan salah satu tindak penyimpangan atau kecurangan yang semakin marak terjadi saat ini. Akibat dari adanya tindakan korupsi antara lain lesunya perekonomian Negara,

(5)

5

meningkatnya kemiskinan, tingginya angka kriminalitas, demoralisasi, kehancuran birokrasi, terganggunya sistem politik dan fungsi pemerintahan. Hal-hal yang menyangkut tindakan korupsi ini seringkali tidak terjangkau oleh Undang-undang.

Auditor Investigatif akan melakukan suatu Audit Investigasi dalam membantu pengusutan tindak kecurangan dan korupsi. Hal ini diperlukan Auditor Investigatif yang memiliki kemampuan memadai agar dapat mengungkap suatu kecurangan yang terjadi. Auditor Investigatif ini melakukan suatu investigasi apabila ada dasar yang layak sehingga auditor tersebut dapat mereka-reka mengenai apa, bagaimana, siapa dan pernyataan yang lain yang diduganya relevan dengan pengungkapan kasus kecurangan.

Prosedur Audit Investigasi dapat tercapai apabila auditor mampu memiliki standar-standar pelaksanaannya. Terdapat beberapa standar atau ukuran mutu dalam pelaksanaan audit investigasi. Diantaranya para auditor tidak bisa memberikan jaminan bahwa mereka bisa menemukan kecurangan di atas jumlah tertentu dengan pengertian bahwa potensi menemukan kecurangan ini bergantung kepada waktu dan keahlian yang digunakan. Dengan standar tersebut pihak yang diaudit, pihak yang memakai laporan audit, dan pihak-pihak lain dapat mengukur mutu kerja auditor.

Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat apakah suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak. Seorang auditor yang profesional harus memenuhi tanggung jawabnya terhadap

(6)

6

masyarakat, klien termasuk rekan seprofesi untuk berperilaku semestinya. Sikap profesional tercermin pada pelaksanaan kualitas yang merupakan karakteristik atau tanda suatu profesi atau seorang profesional. Dalam pengertian umum, seorang dikatakan profesional jika memenuhi tiga kriteria yaitu mempunyai keahlian untuk melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya, melaksanakan suatu tugas atau profesi dengan menetapkan standar baku di bidang profesi yang ditetapkan dan menjalankan tugas profesinya dengan mematuhi etika profesi yang ditetapkan. Profesional auditor adalah suatu aktivitas independen, yang memberikan jaminan keyakinan serta konsultasi yang dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi organisasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Fitriyani (2012) di BPK Jawa Barat menyimpulkan bahwa kemampuan Auditor Investigatif memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas pelaksanaan prosedur audit dalam pembuktian kecurangan. Penelitian lain dilakukan oleh Zuliha (2008) yang dilakukan di BPKP Bandung menyimpulkan bahwa kemampuan Auditor Investigatif bermanfaat terhadap efektivitas pelaksanaan prosedur audit dalam pembuktian kecurangan. Arini Lestari (2014) menyatakan bahwa kemampuan Auditor Investigatif berpengaruh positif terhadap efektivitas pelaksanaan prosedur audit dalam pembuktian kecurangan. Pada kenyataannya, kecurangan di Indonesia semakin marak terjadi. Dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Transparansi Internasional Indonesia (TII) tercatat bahwa Indonesia menempati urutan 126 dalam daftar negara terkorup dari 180 negara yang diukur (TII, 2015).

(7)

7

Berhasil atau tidaknya Auditor Investigatif dalam menemukan kecurangan juga bisa dipengaruhi oleh profesionalisme auditor. Seorang auditor yang profesional harus memenuhi tanggung jawabnya terhadap masyarakat, klien termasuk rekan seprofesi untuk berperilaku semestinya. Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jasa audit profesional meningkat jika profesi menetapkan standar kerja dan perilaku yang dapat mengimplementasikan praktis bisnis yang efektif dan tetap mengupayakan profesionalisme yang tinggi (Mayasari,2011). Dengan demikian, nampak bahwa profesionalisme dapat mempengaruhi kinerja yang selanjutnya dapat mempengaruhi kenyamanan serta kebanggaan seorang profesional dalam bekerja.

Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini mengangkat judul “Profesionalisme Sebagai Pemoderasi Pengaruh Kemampuan Investigatif Pada Pembuktian Kecurangan Oleh Auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali”. Keistimewaan penelitian ini yakni terletak pada dugaan bahwa Profesionalisme yang akan memoderasi (memperkuat atau memperlemah) hubungan kemampuan investigatif terhadap pembuktian kecurangan oleh auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali. Penelitian ini merupakan replikasi dari beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan di luar Bali.

(8)

8 1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kemampuan investigatif berpengaruh pada pembuktian kecurangan oleh auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali?

2. Apakah profesionalisme memoderasi kemampuan investigatif pada pembuktian kecurangan oleh auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kemampuan investigatif berpengaruh pada pembuktian kecurangan oleh auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali.

2. Untuk mengetahui profesionalisme dapat memperkuat atau memperlemah hubungan kemampuan investigatif pada pembuktian kecurangan auditor oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali.

(9)

9 1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang diharapkan dapat diperoleh melalui pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Kegunaan teoritis

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai pengaruh kemampuan investigatif terhadap pembuktian kecurangan oleh auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Bali yang dimoderasi oleh profesionalisme.

2) Kegunaan praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan kajian di bidang auditing dalam materi perkuliahan serta dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut dalam meningkatkan kemampuan investigatif terhadap pembuktian kecurangan.

1.5 Sistematika Penulisan

Skripsi ini tersusun menjadi lima bab yang memiliki keterkaitan hubungan satu dengan lainnya. Gambaran dari masing-masing bab adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Bab ini menjabarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II Kajian Pustaka dan Rumusan Hipotesis

Bab ini menjabarkan teori-teori penunjang terhadap masalah yang diangkat dalam skripsi ini dan rumusan hipotesis.

(10)

10 Bab III Metode Penelitian

Bab ini menjabarkan desain penelitian, lokasi penelitian, obyek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi, sampel dan metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, serta teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian.

Bab IV Pembahasan Hasil Penelitian

Bab ini menjabarkan gambaran umum kantor BPKP Provinsi Bali, deskripsi dan karakteristik responden, deskripsi dari masing-masing variabel yang diteliti, hasil penelitian, serta pembahasan hasil dalam penelitian.

Bab V Simpulan dan Saran

Bab ini menjabarkan simpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan penelitian beserta saran-saran yang dianggap perlu bagi para peneliti selanjutnya dan auditor di BPKP Provinsi Bali pada khususnya.

(11)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :