BAB I PENDAHULUAN. melalui hasil observasi atau pengamatan terhadap objek-objek yang dirasakan

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Setiap penciptaan sebuah karya seni dihasilkan melalui proses cipta, rasa dan karya yang mengandung nilai keindahan. Keindahan yang dimaksud yaitu keindahan yang diciptakan dan diwujudkan oleh manusia yang di dapatkan melalui hasil observasi atau pengamatan terhadap objek-objek yang dirasakan memiliki estetis berdasarkan indrawi yaitu dengan cara melihat dan mendengar (Djelantik , 1999 : 4-5). Pada umumnya kegiatan berkesenian tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena seni khususnya seni tari mempunyai peran penting yang ada dalam kehidupan masyarakat Bali, baik sebagai sarana upacara maupun sebagai alat untuk mengekspresikan jiwa serta prasaan para senimannya. Seiring kemajuan zaman, seni tari pun mulai berkembang dan memiliki beraneka ragam jenis tari.

Mengamati keberadaan dan perkembangannya yang semakin pesat saat ini, dengan berbagai macam jenis dan bentuk yang ada, maka besar keinginan penata untuk membuat sebuah karya tari kreasi putra yang mengambil tema kepahlawanan. Penggarapan ini melalui sebuah proses yaitu merasakan, menghayati, menghayalkan, mengejawantahkan dan memberikan bentuk (Dibia, 2003 : 12). Melalui merasakan, menghayati, menghayalkan, maka dari pada itu penata memiliki keinginan untuk menghasilkan suatu bentuk karya tari kreasi putra dengan inovasi baru yang tentunya masih berpolakan pada tradisi dengan

(2)

gerak yang dikembangkan, dinamis dengan balutan kostum yang disesuaikan dengan karakter tari yang dibawakan.

Untuk memenuhi keinginan atau ketertarikan di atas maka penata mengambil cerita dalam buku Kejayaan Ganesa Buku tersebut menceritakan pernikahan Dewi Parwati dengan Dewa Siwa. Setelah hari pernikahannya, pada suatu hari Dewi Parwati sedang duduk santai dengan teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak dengan suasana hati yang sangat gembira. Dari tawanya lahirlah seorang wujud laki-laki yang gagah dan agung, Dewi Parwati sangat terkejut dengan wujud ciptaan ini siapa sebenarnya dan apa keinginannya. Pria yang gagah dan agung tersebut berkata bahwa dia terlahir dari tawa Dewi Parwati, Dewi Parwati pun memberi nama Pria tersebut Momo karena dia terlahir dari ledakan tawa. Dewi Parwati kemudian memerintahkan Momo untuk menyembah Dewa Ganesha yang akan memenuhi semua keinginannya.

Momo pergi kehutan untuk menyembah Dewa Ganesha tetapi di tengah perjalanan Momo bertemu dengan raksasa Sambara Asura yang bermaksud membujuknya untuk memuja raksasa, Momosura pun memilih memuja raksasa karena melihat sifat raksasa yang lebih memiliki kebebasan. Kemudian Momo yang memilki sifat seperti malaikat menjadi Momosura Raksasa dan dalam beberapa waktu dengan kesaktian yang dimiliki oleh Momosura dia menjadi penguasa ketiga dunia. Para Dewa yang merasa terganggu dari dunianya dan meminta bantuan kepada Dewa Ganesha untuk mengalahkan Momosura agar dapat membangun kembali kebenaran dan kedamaian, akhirnya setelah

(3)

Momosura dikalahkan oleh Dewa Ganesha, Momosura menyadari atas perbuatannya dan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran.

Bercermin dengan hal tersebut penata ingin menyampaikan pesan bahwa di dunia ini kebenaran tidak akan dapat dikalahkan. Penata tertarik dalam membuat sebuah karya tari putra keras yang mengambil penggalan cerita dari buku kejayaan ganesha karena di lihat dari postur tubuh penata tidak terlalu tinggi dan kurus, di samping itu juga penata senang menonton pertunjukan atau membawakan tari putra keras, sehingga muncullah ide untuk membuat sebuah garapan dengan judul Momosura.

Garapan ini menggunakan pendukng tari sebanyak 7 orang penari putra dengan postur tubuh yang hampir sama dengan penata, garapan ini berdurasi kurang lebih 12 menit. Sebagai iringan tari penata menggunakan seperangkat gamelan Gong Kebyar yang didukung oleh Sekaa Gong Eka Satya Budaya, Kerobokan dan penata iringan ditata oleh I Wayan Pustaka Alit S.Sn. Penata memilih Sekaa Gong Eka Satya Budaya karena penata ikut langsung dalam organisasi Sekaa Gong Eka Satya Budaya ini.

1.2 Ide Garapan

Ide merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pembuatan suatu garapan. Di dalam menciptakan garapan tari diperlukan ide dasar yang jelas, sehingga memudahkan dalam proses pelaksanaanya. Ide garapan ini muncul berawal dari menonton wayang kulit dan menonton fragmentari Kabupaten Badung pada Pesta Kesenian Bali tahun 2011. Penata memilih cerita ini sebagai

(4)

karya tari karena penata melihat pada cerita ini terdapat tokoh raksasa yang sesuai dengan karakter atau postur tubuh penata dan terdapat juga karakter Ganesha yang gagah dan agung sebagai pelindung dunia.

Adapun ide yang ingin diwujudkan dalam bentuk suatu karya seni yaitu karya tari kreasi baru yang bertemakan kepahlawanan. Penata ingin mengembangkan dan mewujudkan motif-motif karakter dari putra keras yang terdapat pada tokoh yang akan dibawakan, di samping itu karena penata sering mendapatkan peran raksasa pada setiap pertunjukan dikampus maupun diluar kampus, maka dari itu munculah ide untuk membuat sebuah karya tari bebarisan yang nantinya dapat disajikan dengan baik.

Dari sumber buku yang penata dapatkan berjudul Kejayaan Ganesa merupakan cerita yang paling tepat untuk digunakan dalam menuangkan ide penata menjadi sebuah bentuk karya seni tari. Dari cerita tersebut penata akan memberikan judul Momosura.

Cerita yang penata angkat adalah kebingungan Momo antara memilih memuja Ganesha atau memuja raksasa yang akhirnya Momo memuja sifat raksasa dan merubah Momo menjadi Momosura raksasa. Melihat keangkaramurkaan raksasa Momosura munculah Ganesha untuk menghalangi keangkaramurkaan sifat raksasa Mamasura agar tidak bisa menguasai dunia sehingga Momosura pun tidak berdaya dengan kekuatan yang dimiliki Ganesha. Mamasura sadar akan dirinya dan akhirnya menyembah Ganesha.

Garapan ini berbentuk kelompok dengan 7 orang penari yang menggambarkan kegagahan serta keagungan dari Momo. Karya tari ini

(5)

membutuhkan sebuah trap yang digunakan pada saat munculnya Ganesha, serta kostum yang akan banyak mendukung agar garapan ini terlihat lebih sempurna serta permaianan lighting dan pemakaian layar untuk memperkuat suasana agar penonton bisa menerima dan mengerti dengan apa yang disajikan.

1.3 Tujuan Garapan

Suatu penggarapan tentu mempunyai tujuan tertentu dan memperoleh hasil yang maksimal, karena adanya tujuan itu sendiri akan menentukan langkah garapan kearah yang ditentukan. Begitu juga dengan lahirnya karya seni yang merupakan persyaratan akademis oleh setiap mahasiswa dalam mengikuti ujian akhir tingkat sarjana. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, garapan ini mempunyai 2 tujuan yaitu :

1.3.1 Tujuan Umum

a. Sebagai salah satu syarat untuk menempuh Ujian Tugas Akhir di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

b. Menggali, mengembangkan dan melestarikan garapan tari kreasi sebagai perwujudan kreatifitas untuk menghasilkan sebuah karya tari kreasi baru yang mengangkat tentang Kejayaan Ganesa.

c. Berpartisipasi di dalam memajukan kesenian khususnya seni pertunjukan (seni tari).

(6)

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk menambah pengalaman berkreatifitas dibidang seni tari dari ilmu yang telah diperoleh secara formal maupun non formal.

b. Untuk merangsang dan melatih daya kreatifitas dalam berkarya yang menampilkan ide baru yang sudah dikembangkan.

c. Untuk mewujudkan garapan yang memiliki identitas pribadi.

1.4 Manfaat Garapan

Penciptaan karya seni sudah tentu mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Begitu pula dalam wujud garapan ini dapat diambil suatu manfaat dari garapan tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan berkreasi dan berapresiasi guna mewujudkan seni yang memiliki nilai keindahan yang cukup tinggi. Menambah pengetahuan masyarakat awam akan seni tentang seni pertunjukan khususunya seni tari (Tari Kreasi).

1.5 Ruang Lingkup

Garapan tari ini dituangkan dalam konsep tari kreasi baru, yaitu jenis tarian yang telah digarap baru, tidak lagi terikat dalam pola-pola yang telah ada, lebih menginginkan suatu kebebasan dalam hal ungkap sekalipun rasa gerak– gerak yang sudah ada dikembangkan dan diberikan sentuhan baru. Karya ini merupakan kreatifvitas seni tari dengan pengolahan komposisi, gerak maupun kostum untuk menunjang isi garapan. Karya tari ini berbentuk kelompok dengan didukung oleh 7 orang penari putra yang diiringi gamelan gong kebyar yang

(7)

nantinya dapat digunakan untuk mendukung suasana garapan. Tari kreasi baru ini akan diberi judul Momosura yang bertemakan kepahlawanan. Waktu yang dibutuhkan dalam garapan ini kurang lebih 12 menit.

Untuk mempermudah merealisasikan konsep atau ide dalam karya tari Momosura ini, maka dapat diuraikan dalam struktur garapan yang terdiri dari beberapa pembabakan yaitu:

Flashback : Menggambarkan kebingungan Momo antara ingin memuja Dewa Ganesha atau memuja raksasa. Suasana yang digunakan adalah suasana kacau.

Papeson : Menggambarkan karater dari Momo. Suasana yangdigunkan adalah susana agung dan gagah.

Pangawak : Menggambarkan bertemunya Momo dengan raksasa Sambara Asura. Suasana yang digunakan adalah suasana magis

Pangecet : Menggambarkan Momo menjadi raksasa Momosura. Suasana yang digunakan adalah suasana gembira atau girang.

Pasiat : Menggambarkan munculnya Ganesha untuk menghalangi keinginan Momosura dalam menguasai dunia yang akhirnya Momosura tidak berdaya. Suasana yang digunakan adalah suasana kacau.

(8)

KAJIAN SUMBER

Untuk mewujudkan sebuah karya seni yang baik, maka diperlukan berbagai sumber acuan yang dijadikan pedoman baik berupa sumber dari buku maupun dari sumber wawancara atau sumber audio visual, sebagai landasan dan pertanggung jawaban dalam mewujudkan suatu garapan

2.1 Sumber Tertulis

Sinopsis Tari Bali. Oleh I Wayan Dibia, diterbitkan oleh Sangar Tari Bali Waturenggong Denpasar, tahun 1979. Dalam buku ini menjelaskan tentang

pengertian tari kreasi yaitu jenis tarian yang telah diberi pola garapan baru, tidak lagi terikat kepada pola-pola yang telah ada,lebih mengginkan suatu kebebasan dalam hal ungkapan sekaligus rasa gerakan masih berbau tradisi. Manfaat bagi penata menggunakan buku ini adalah untuk mengetahui tentang tari kreasi baru, yang akan digunakan sebagai acuan dalam penggarapan karya seni tari.

Kejayaan Ganesa. Oleh Sri Astiti, diterbikan oleh Paramita Surabaya, tahun 2002. Dalam buku ini menjelaskan tentang Ganesa yang bereinkarnasi sebagai Vighnaraja untuk mengalahkan Momosura dan membangun kembali kebenaran dan kedamainan. Manfaat buku ini bagi penata adalah penata dapat mengetahui tentang Ganesha yang digunakan dalam ide cerita dalam karya seni tari.

Komposisi Tari Elemen-Elemen Dasar oleh Soedarsono, tahun 1975. Dalam buku ini penata mendapatkan desain dalam sebuah koreografi kelompok

(9)

dan mengenai stage proscenium. Manfaat buku ini bagi penata adalah untuk mengetahui bagaimana memebuat sebuah karya seni tari.

Bergerak Menurut Kata Hati : Metode Baru dalam Menciptakan Tari menurut sebuah karya Alam M. Hawkin dengan judul Moving From Within : A New Methor For Dance Making,yang diterjemahkan oleh I Wayan Dibia tahun 2002. Dalam buku ini menjelaskan tentang pengetahuan dan pengalaman Alma M.Hawkin dan seniman lainnya dalam penciptaan sebuah karya tari, serta menguraikan tentang proses kreativitas yaitu merasakan, menghayati, mengejawantahkan dan memberikan bentuk. Manfaat buku ini bagi penata adalah penata dalam memahami bagaimana cara berproses dalam membuat sebuah karya seni tari.

Buku Koreografi, oleh Sal Murgiyanto diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1992. Buku ini menjelaskan tentang penciptaan Koreografi tari pencatatan dan notasi tari. Buku ini memberikan pengetahuan pada penata dalam menggarap dalam bentuk kelompok. Manfaat buku ini bagi penata mengetahui cara menciptakan suatu tari.

2.2 Sumber Wawancara

Melakukan wawancara dengan I Nyoman Sadia pada tanggal 27 oktober 2012 salah satu seorang dalang wayang kulit yang bertempat tinggal di Banjar Umalas Kangin, Kerobokan. Beliau memberikan penjelasan tentang alur cerita, karakter dan sifat yang dimiliki oleh raksasa dan Ganesa.

(10)

Wawancara dengan I Wayan Pustaka Alit, S.Sn pada tanggal 10 November 2012 dengan salah satu seniman karawitan yang bertempat tinggal di Br. Tegeh, Kerobokan, Badung. Beliau memberikan masukan tentang musik iringan tari.

2.3 Sumber Audio Visual

Sumber ini adalah sumber karya seni hasil dari dokumentasi pementasan fragmentari Badung pada tahun 2011 pada saat Pesta Kesenian Bali tahun 2011. Pementasan ini memberikan bagaimana sifat dan karakter dari tokoh raksasa dan Ganesa.

(11)

Dalam mewujudkan suatu garapan sebuah karya seni tentunya mengalami suatu proses yang berbeda bagi setiap seniman sesuai dengan keadaan dan kondisi dari seniman itu sendiri. Perlu dilakukan beberapa proses yang merupakan tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam penyelesaian karya seni itu sendiri. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah : tahap penjajagan (eksplorasi), tahap percobaan (improvisasi), tahap pembentukan (forming). Tahapan-tahapan tersebut nantinya akan dilakukan untuk mempermudah proses suatu garapan.

Proses penciptaan dari seorang penggarap tari atau koreografer di dorong kuat untuk menciptakan karya-karya yang mencerminkan reaksi yang unik dari seseorang terhadap pengalaman-pengalaman hidup berkesenian dan bermasyarakat.

3.1 Tahap Penjajagan (Eksplorasi)

Tahapan ini merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penggarapan karya tari Momosura. Biasanya dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan buku-buku atau literatur-literatur yang berkaitan dengan proses penggarapan maupun pembuatan karya tulis untuk dijadikan sumber acuan dalam pembuatan karya seni, mencari sumber ide, mulai memikirkan dan membayangkan bentuk garapan yang akan digarap. Menyusun konsep garapan dilakukan pada awal memasuki semester VII dalam mata kuliah koreografi VI. Pada kegiatan penjajagan ini dilakukan

(12)

pencarian buku yang berkaitan dengan cerita Ganesa dan menonton vidio garapan seni yang berhubungan dengan ganesa, setelah membaca beberapa buku akhirnya penata mendapatkan cerita yang akan dituangkan dalam garapan yang di dalam cerita tersebut terdapat tokoh raksasa. Disini penata juga melakukan wawancara dengan I Nyoman Sadia pada tanggal 27 Oktober 2012 salah satu seorang dalang wayang kulit yang bertempat tinggal di Banjar Umalas Kangin, Kerobokan. Beliau memberikan penjelasan tentang alur cerita, karakter dan sifat yang dimiliki oleh tokoh raksasa dan Ganesa.

Penjajagan selanjutnya adalah pemilihan pendukung yang merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena pendukung merupakan media utama dalam penuangan gerak untuk mendapatkan keberhasilan sebuah pertunjukan. Dalam pemilihan dilakukan dengan melihat postur tubuh, kemampuan teknik tari dan kesanggupan setiap pendukung untuk meluangkan waktu dan tetap berkonsentrasi pada latihan demi kelancaran proses garapan. Pada tanggal 15 Oktober 2012 menghubungi penata musik untuk membicarakan masalah konsep garapan, penata musik iringan yang dipercayakan kepada I Wayan Putaka Alit, S.Sn. Untuk Pendukung karawitan akan dibantu oleh sekaa gong Eka Satya Budaya-Kerobokan, pada tanggal 18 Oktober tersebut juga bertemu dengan ketua sekaa gong, dipilihnya sekaa gong ini untuk memudahkan di dalam proses penggarapan dan latihan. Tanggal 10 November 2012 bertemu dengan I Wayan Pustaka Alit S.Sn, beliau memberi saran untuk menggunakan gong kebyar agar dapat memperkuat suasana yang diinginkan.

(13)

Tabel 1

Tahap Penjajagan (Eksplorasi)

Per Bulan September 2012 hingga November 2012

Periode Waktu Per

Minggu

Kegiatan Hasil yang dicapai

Minggu II (September)

Mencari ide, cerita serta buku-buku yang akan digunakan dalam penggarapan koreografi VI serta untuk ujian tugas akhir (TA)

Mendapatkan sebuah buku yang akan digunakan sebagai sumber cerita pada garapan yang akan dibuat.

Minggu II (Oktober)

Mencari pendukung tari sebanyak 7 orang

Mendapatkan pendukung dari mahasiswa ISI Denpasar jurusan tari semester 6 dan 1 pendukung dari mahasiswa UNHI Denpasar semseter 6.

Minggu III (Oktober)

Bertemu dengan penata iringan musik bernama I Wayan Pustaka Alit S.Sn di Banjar Tegeh, Kerobokan.

Bertemu Ketua Sekaa Gong Eka Satya Budaya, Kerobokan.

Menyerahkan konsep dan struktur garapan.

Menentukan durasi karya dan penggunaan gamelan.

Ketua sekaa gong Eka Satya Budaya menyetujui untuk menjadi pendukung dalam irngan musik.

Minggu II (November)

Bertemu dengan sekaa gong Eka Satya Budaya dan melakukan nuasen gending.

Bertemu dengan pendukung tari.

Seka gong setuju untuk mendukung dan mencari gending bagian

papeson.

Pendukung tari bersedia untuk mendukung dan mencari gerak-gerak yang akan dipakai di papeson Minggu III

(November)

Nuasen di Pura Ardha Nareswari ISI Denpasar. Latihan di studio tari.

Pendukng bersedia untuk

membantu dalam penggarapan tari. Mencari gerak pepeson

(14)

3.2 Tahap Percobaan (Improvisasi)

Tahap ini merupakan tindak lanjut dari tahap penjajagan yang dilakukan dengan cara mengadakan percobaan-percobaan, pemilihan, pengumpulan motif-motif gerak, penggarapan pada bagian-bagian tari dan penyesuaian dengan musik iringan. Dalam tahap percobaan ini terutama yang sering dilakukan adalah percobaan membuat motif-motif gerak melalui media tubuh sesuai dengan kebutuhan garapan serta mencari ciri khas gerakan dan identitas garapan. Dalam pencarian gerak bisa berbentuk pengolahan atau modifikasi gerak-gerak yang sudah ada sehingga terlihat berbeda dengan gerakan yang sudah ada, muncul juga gerak-gerak baru sebagai ungkapan emosional penata. Percobaan-percobaan ini terus dilakukan pada setiap kesempatan baik di rumah, di kampus, maupun ditempat tertentu dan pada saat yang tidak terduga manakala ide tersebut muncul dengan sendirinya. Setelah itu dilakukan pencatatan dengan cara sendiri agar gerak-gerak yang didapat tidak terlupakan dan melakukan penuangan gerak terhadap pendukung, tidak ditutup kenungkinan untuk pendukung tari nantinya memberikan pertimbangan gerak dalam kenyamanan dan mempermudah mencapai kesamaan gerak. Penuangan gerak kepada pendukung tari dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2012 bertempat di studio tari ISI Denpasar. Proses latihan dikampus terus berjalan cukup baik selama 2-3 jam setiap latihan dilaksanakan. Berkenaan hal tersebut maka juga diadakan pembicaraan dengan penata iringan guna membahas iringan yang masih kurang atau tidak sesuai dengan gerak-gerak dan konsep atau ide garapan. Kegiatan latihan juga terus diadakan guna untuk menjaga keharmonisan gerak dengan musik iringan.

(15)

Tabel 2

Tahap Percobaan (Improvisasi)

Per Bulan Desember 2012 hingga Februari 2013 Periode

Waktu Per Minggu

Kegiatan Hasil yang dicapai

Minggu I (Desember)

Mulai mencari gerak-gerak untuk gerak-gerak papeson sampai pangawak.

Latihan penabuh di Banjar Tegeh, Kerobokan.

Tebentuknya gerak papeson yang menggambarkan Momo dan pangawak menggambarkan Momo persiapan perjalanan kehutan. Terbentuk gending papeson sampai pangawak.

Minggu II (Desember)

Latihan penabuh di Banjar Tegeh Kerobokan. Melakukan latihan

dengan pendukung sambil memasukan gerak-gerak ke gending pangecet.

Bertemu dengan dosen pemibimbing Bapak Kompiang Gede widnyana.

Terbentuk gending pangecet sampai pasiat.

Terbentuknya gerakan pangecet yang menggambarkan karakter Raksasa.

Membicarakan tentang bentuk serta struktur dari karya yang penata buat.

Minggu III (Desember)

Latihan dengan pendukung tari untuk mencari geraka bagaian pasiat dan ending. Latihan penabuh di Banjar Tegeh, Kerobokan.

Terbentuk gerak pasiat dan ending yang masih kasar.

Memantapkan gending dari bagian papeson sampai ending.

Minggu IV

(Desember) Latihan penabuh di Banjar Tegeh, Kerobokan untuk melanjutkan

gending flasback.

Terbentuknya gending flasback.

Minggu V (Desember)

Latihan dengan pendukung tari

Melakukan bimbingan dengan Ibu Tjok Putra Padmi

Menghaluskan gerak dari papeson sampai ending.

Gerak kurang dimantapkan,

mencari rasa dan menguasai teknik yang digunakan.

(16)

Minggu III (Januari)

Ujian Koreografi VI di gedung Natya Mandala ISI Denpasar.

Kurangnya penjiwaan pasa setiap penari, karena kurangnya waktu latihan dan kerusan pada sound suara musik tidak terdengar jelas. Minggu IV

(Februari) Ujian Propsal

3.3 Tahap Pembentukan (Forming )

Setelah tahap percobaan atau improvisasi, akan dilanjutkan tahap pembentukan. Tahap ini merupakan tahap akhir setelah dilakukan percobaan-percobaan untuk mendapatkan bentuk akhir dari karya seni yang akan dipentaskan. Dalam tahap ini menfokuskan, merangkai, menghias, membentuk, dan menyempurnakan gerak yang telah di dapat pada tahap improvisasi sehingga diperlukan adanya latihan dan pemantapan yang lebih guna untuk mencapai kekompakan atau penguasaan gerak, pola lantai, ekspresi, dan penjiwaan karakter yang dibawakan. Di dalam tahapan ini juga terdapat kendala-kendala, di antaranya:

1. Masing-masing pendukung memiliki kegiatan yang berbeda-beda membuat latihan menjadi kurang efektif.

2. Banyaknya kegiatan upacara keagamaan membuat latihan sering tertunda. 3. 1 orang pendukung sudah bekerja, sehingga untuk mencari kekompakan

menjadi sulit.

Pemantapan mengenai penguasaan gerak, pola lantai, ekspresi dan penjiwaan karakter terus dilakukan demi menyempurnakan garapan tari yang akan dibawakan. Dalam tahap ini sangat diperlukan penjiwaam karena dengan

(17)

menjiwai, akan terwujud ekspresi muka yang gagah dan agung sesuai dengan karakter Momosura. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan latihan khusus agar menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terlepas juga dari masukan atau saran pembimbing.

Tabel 3

Tahap Pembentukan (Forming) Per Bulan Februari 2013 hingga Mei 2013 Periode

Waktu Per Minggu

Kegiatan Hasil yang dicapai

Minggu III

(Februari) Pertemuan di Natya Mandala dan pembagian pembimbing Tugas Akhir (TA).

Pembimbing TA adalah Ibu Tjok Istri Putra Padmini dan Ibu Ni Ketut Yuliasih

Minggu V (Februari)

Bertemu dengan pebimbing untuk

mengumpul skripsi bab I dan II

Skripsi diterima, untuk dikoreksi.

Minggu II

(Maret) Bimbingan skripsi bab I dan II Latihan penabuh di banjar Tegeh, Kerobokan. Latihan penari di studio tari

Banyak refisi dan disarankan untuk menambah latar belakang.

Mencari gending flasback dan menghaluskan gending pepeson sampai pangecet

Menambah bagian pada flasback dan mengubah posisi pada papeson, menghaluskan papeson.

Minggu III (Maret)

Latihan penabuh bersama penari di banjar Gede, kerobokan.

Latihan Penari di studio tari.

Penari mulai bisa merasakan kesatuan antara tari dengan iringannya.

Mencari gerak pangawak kedua.

Minggu IV (Maret)

Latihan penari diwantilan. Latihan penari di studio tari.

Menghaluskan gerakan dari papeson sampai pangawak Menambahkan gerak pada pangecet.

(18)

Minggu V (Maret)

Latihan penari di studio tari.

Latihan penari di gedung Natya Mandala.

Mengumpul perbaikan bab I dan II.

Latihan penari di wantilan.

Menghaluskan gerak pangecet dan mencari pasiat.

Mencari posisi menari di gedung Natya Mandala.

Lebih mengerti pada pembuatan latar belakang.

Melatih dan menyamakan gerak.

Minggu I (April)

Latihan penari dengan penabuh di Banjar Gede, Kerobokan.

Latihan penari di studio.

Perubahan pada pasiat, mencari kesatuan antara penari dengan penabuh

Mencari teknik-teknik angkat yang digunakan pada garapan ini. Minggu II

(April)

Latihan penari di studio. Latihan penari di gedung Natya Mandala

Menghaluskan gerak dari flasback sampai ending.

Mencari posisi setiap penari di gedung Natya Mandala,

mempersiapkan properti yang akan dipakai.

Minggu IV

(April) Latihan penari di studio tari. Latihan penari di banjar Tegeh Kerobokan.

Menghaluskan gerak pangecet yang belum rapi dan mencari teknik angkat-angkatan.

Menambahkan gerak pada pasiat. Minggu VI

(April)

Bimbingan karya di studio tari dengan Ibu Tjok Istri Putra Padmini dan Ibu Ni Ketut

Yuliasih.

Latihan penari di studio tari.

Mendapatkan banyak masukan untuk lebih memperjelas karakter tokoh yang dibawakan, menyamakn gerak/agem penari.

Memperbaiki garapan sesuai hasil bimbingan.

Minggu I (Mei)

Bimbingan karya di gedung Natya Mandala. Latihan penari di gedung Natya Mandala.

Masukan untuk menyamakan gerak dan lebih berhati-hati pada teknik angkatan dan penggunaan trap. Menyamakan teknik gerakan dan ekspresi serta penguasaan teknik angkat-angkatan.

Minggu II (Mei)

Latihan penari di gedung Natya mandala.

Mengumpulkan skripsi bab IV sampai V.

Menyeragamkan gerak dan mencari teknik angkat-angkatan.

Disarankan untuk melengkapi bab yang kurang.

(19)

Minggu III (Mei)

Bimbingan di banjar Taman, Sanur dengan Ibu Ni Ketut Yuliasih.

Gladi Bersih di Gedung Natya Mandala.

Penegasan ekspresi dan gerak pada flasback, kekompakan gerak.

(20)

Tabel 4

Proses Kegiatan karya Tari Bebarisan Momosura

Tahap Kreativitas

Rentang Waktu Kegiatan

November Desember Januari Februari Maret April Mei

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Ujian Proposal Tahap penjajagan Tahap Percobaan Tahap Pembentukan Gladi Bersih X Ujian Tugas Akhir O

KETERANGAN : : Tahap Eksplorasi : Tahap Percobaan X : Gladi Bersih

: Tahap Penjajagan : Tahap Pembentukan O : Ujian Akhir

(21)

4.1 Diskripsi Garapan

Tari Kreasi yang berjudul Momosura merupakan sebuah garapan yang masih mengambil elemen-elemen budaya tradisi khususnya Bali. Garapan ini bertemakan kepahlawanan dengan cerita yang digunakan bersumber dari buku Kejayaan Ganesha oleh Sri Astiti, diterbikan oleh Paramita Surabaya, tahun 2002, yang menguraikan tentang Ganesa untuk mengalahkan Momosura dan membangun kembali kebenaran dan kedamainan.

Tarian ini digarap dalam bentuk tari kelompok yang didukung orang 7 orang penari putra. Suatu pengembangan merupakan focus dalam garapan ini, berupa serangkaian gerak yang diolah, kemudian disusun menjadi sebuah karya tari. Tari kreasi Momosura ini berdurasi waktu kurang lebih 12 menit dengan faktor pendukung yang berhasil diolah adalah cerita, gerak, properti, struktur, dan desain, pola lantai, busana, tata rias, stage lighting, serta iringan.

Tari kreasi Momosura terdapat beberapa motif-motif gerak yang berpolakan tradisi. Motif-motif gerak tersebut, diantaranya

a. Aad : Posisi badan setengah jongkok dalam tari Bali, tumit berhadap-hadapan (tapak sirang, membentuk sudut antara enam puluh dan sembilan puluh derajat, lutut mengarah keluar)

(22)

c. Kipekan : Gerakan menoleh ke arah sudut kanan atau kiri.

d. Mecuk Alis : Kedua pangkal alis didekatkan sehingga menyatu, sebagai ungkapan ketegasan atau marah.

e. Nengkleng : Gerakan mengangkat salah satu kaki diatas tumpuan kaki yang lain.

f. Ngelier : Bagian sebelah mata dikecilkan serta dilanjutkan kipekan, dan kembali kearah semula.

g. Piles : Gerakan salah satu kaki yang diputar kearah kanan atau kiri dengan merendahkan badan.

h. Sledet : Merupakan gerakan mata kesamping atau ke sudut kanan atau kiri diikuti gerakan kepala kemudian kembali kearah semula.

i. Sregseg : Gerakan kaki yang dilakukan dengan cepat dilakukan dengan merndahkan badan.

j. Tanjek : Salah satu kaki yang menghentak ke lantai.

k. Ulap-ulap : Merupakan gerakan maknawi dalam tari, seperti sedang ingin melihat sesuatu.

l. Angsel : Suatu gerakan tari yang pelaksanaannya mempercepat tempo gerakan serta memberikan perubahan dinamika musik.

Karya ini menggunakan properti tapel raksasa dan topeng Ganesha yang akan digunakan pada garapan ini tapel ini berwarna putih dengan ukuran yang cukup besar. Tapel ini digunakan sesuai dengan kebutuhan garapan.

(23)

4.2 Analisis Pola Struktur

Struktur yang digunakan pada tari kreasi Momosura ini di bagi menjadi lima bagian :

Flashback : Menggambarkan kebingungan Momo antara ingin memuja Dewa Ganesha atau memuja raksasa. Suasana yang digunakan adalah suasana kacau.

Papeson : Menggambarkan karater dari Momo. Suasana yang digunkan adalah susana agung dan gagah.

Pangawak : Menggambarkan bertemunya Momo dengan raksasa Sambara Asura. Suasana yang digunakan adalah suasana magis

Pangecet : Menggambarkan Momo menjadi raksasa Momosura. Suasana yang digunakan adalah suasana gembira atau girang.

Pasiat : Menggambarkan munculnya Ganesha untuk menghalangi keinginan Momosura dalam menguasai dunia yang akhirnya Momosura tidak berdaya. Suasana yang digunakan adalah suasana kacau.

4.3 Analisis Estetika

Keindahan merupakan hal yang terpenting dan tidak dapat terlepas dari suatu karya seni. Keindahan dapat memberikan rasa kekaguman bagi setiap penikmatnya. Pada umumnya apa yang kita sebut indah didalam jiwa kita dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman dan bahagia, bila perasaan itu sangat kuat kita merasa terpaku, terharu, terpesona, serta

(24)

menimbulkan keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali (Djelantik, 1999 : 2). Menilai keindahan suatu karya seni tari tidak terlepas aspek-aspek yang mendasar yaitu wujud, bobot, dan penampilan. Pada setiap bagian terdapat penonjolan guna mendukung suasana yang ingin disampaikan kepada penikmat. Dalam karya tari Momosura ini dapat memberikan cermin kepada masyarakat agar didalam bermasyarakat harus tetap pada pendirian dari awal yang dipikirkan. Demi kebersihan sebuah karya seni keterampilan si penyaji di dalam karyanya membentuk dan menyusun pola lantai, ragam, kesatuan rasa dan kekompakan sangatlah penting demi sempurnanya suatu garapan atau karya seni.

4.4 Analisis Simbol

Penggarapan karya tari Momosura ini menggunkan beberapa simbol-simbol gerak dan warna kostum. Pada bagian pertama (Flashback) hanya mempergunakan ekspresi untuk memperkuat karakter. Pada bagian kedua (Papeson) menggunakan gerak-gerak gagah dan agung seperti nepuk dada, ulap-ulap. Pada bagian ketiga (Pengawak) menggunakan gerak-gerak gagah yang melambangkan kegagahan Momo. Pada bagian keempat (Pangecet) menggunakan gerak-gerak keras raksasa yang menggambarkan kegembiraan seorang raksasa. Pada bagian ke lima (Pasiat) pada bagian ini menggunakan gerak-gerak yang lincah menggambarkan seorang yang sedang berperang. Pada bagian (Ending) menggunakan gerak penyembahan kepada Ganesha (Djelantik : 1999 : 28).

(25)

Pemilihan warna kostum tari kreasi Momosura ini adalah perpaduan warna, hitam, emas, dan merah yang dapat memperkuat simbol dari karakter gagah dan agung. Selain gerak, tata busana, tata rias juga dapat membantu penampilan penari di atas panggung karena melalui tata rias wajah juga dapat menentukan kondisi atau karakter yang akan dibawakan.

4.5 Analisis Materi

Tari tradisi ini mengambil ekstensi gerak dari gerak tari babarisan, dalam garapan tari Momosura ini menggunakan desain kelompok antara lain :

1. Desain unison / serempak : Desain ini merupakan desain gerak yang dilakukan penari untuk memberikan kesan teratur dan kompak pada garapan atau karya, dengan demikan keseragaman gerak secara keseluruhan sangat diharapkan. 2. Desain balance / berimbang : Desain ini merupakan desain yang posisi atau

pola lantai penarinya terpisah menjadi 2 (dua)bagian.

3. Desain cannon / bergantian : Desain ini merupakan desain gerak yang dilakukan secara bergantian oleh penari

4. Desain broken / terpecah : Desain ini merupakan desain gerak yang tidak teratur atau tertata pola lantainya dan geraknya tidak dipatok.

4.5.1 Properti

Tari kreasi Momosura ini menggunakan properti topeng raksasa dan topeng Ganesha digunakan pada saat ending guna mempertegas karakter yang dibawakan oleh penari.

(26)

Gambar Properti Momosura sebagai berikut :

Topeng Dewa Ganesha (Koleksi Pribadi)

Topeng Raksasa Momosura (Koleksi Pribadi)

(27)

4.5.2 Ragam Gerak dan Pola Lantai

No Tata Lampu /

Suasana Pola Lantai Rangkian Gerak

1. Lampu spot light tengah panggung / Bingung

Flash Back

Satu orang penari yang berperan sebagai Momo berada di tengah

panggung melakukan gerakan nabdab gelungan,

kipekan dengan level

rendah. 2. Lampu samping dengan intensitas 70% / Gagah dan agung Pepeson

Semua penari melakukan gerakan tanjek, kepala berputar, angsel telu sambil berjalan mundur 3 orang dan maju 4 orang.

3. General / Idem Penari melakukan gerakan

berputar ke kiri sehingga menghadap ke depan.

4. Lampu General / Agung dan gembira

Penari melakukan gerakan

kipek dari arah hadap

bawah menjadi arah hadap depan, tangan kiri di dada tangan kanan di atas tangan kiri dengan level rendah, ngangsel dengan melakukan gerakan tangan ke kiri d ikuti oleh kepala. Penari melakukan gerakan

kipekan ke kanan, dan

tangan kanan di

rentangkan dan tangan kiri di dada di lanjutkan dengan meloncat.

(28)

5. Lampu General / Agung dan gembira

Penari menghadap kebelakang melakukan gerakan ngangsel,

dilanjutkan dengan tanjek kiri tangan kanan nepuk

dada, tangan kiri ke atas, tanjek kiri,dilanjutkan

dengan tangan kiri ke bawah, dan menghadap ke depan tangan kanan nepuk

dada.penari melakukan

ngoyog ke kiri dan kenan, tanjek kiri, piles kiri, nguler, tanjek kiri, nayog

kanan agem kanan.

6. Idem / Idem Penari melakukan gerakan

nabdab gelung, ngelier, sledet kanan angsel telu

untuk mencari posisi.

7. Idem / Idem Penari melakukan gerakan

dengan tangan kiri rentang lurus, tangan kanan di tekuk di depan dada menghadap ke pojok kiri, dilanjutkan dengan gerakan ngentung pajeng,

tanjek kiri jalan kedepan

mencari posis.

8. Idem / Idem Penari melakukan gerakan

tangan kiri nepuk dada, tangan kanan lurus menghadap ke pojok kiri,

jegut diikuti dengan

gerakan meloncat

(29)

9. Idem / Idem Penari malakukan gerakan

piles kanan tanjek kiri, angsel telu, agem kiri

rendah tangan kiri nepuk

dada, tangan kanan diatas

kepala dengan posisi badan rebah kekiri sambil

nyrigsig ke kanan, piles

kanan, tanjek kiri, angsel

telu, posisi badan rendah nyelier, melompat ke

kanan mencari posisi. 10. Lampu spot light

tengah panggung / Idem

Penari melakukan gerakan

ngentung pajeng kiri,

meloncat berputar ke kanan nyrigsigsig mencari posisi.

11. General / Idem Penari melakukan kipek

kekanan neloncat tangan kanan lurus keatas tangan kiri didepan dada untuk mencari posisi.

12. Idem / Idem Penari melakukan

gerakantangan kanan mengepal, tangan kiri mengepal di depan dada, meloncat dua kali nyrigsig dengan tangan kanan di atas bahu, tangan kiri lurus kebawah mencari posisi.

13. Lampu focus di pojok belakang stage. / Hening

Penari melakukan gerakan tangan kanan lurus kebawah, tangan kiri diatas bahu, tangan kanan berputar keatas, ngelier cegut, di lanjutkan dengan nyregseg mencari posisi.

(30)

14. General / Gembira, agung

Penari melakukan gerakan

ngoyog kiri kanan, angsel telu,agem kiri posisi badan penari rebah ke kiri, tangan kanan diatas kepala, tangan kiri nepuk

dada, kenser ke kanan

menghadap ke depan.

15. Idem /Idem Penari melakukan gerakan

piles kanan tanjek kiri, nyelier, nyregseg kedepan

mencari posisi.

16. Idem /Idem Penari melakukan gerakan

tangan kanan lurus ke samping kanan dengan bergantian, mengepal tangan dengan bergantian posisi badan tinggi dilanjutkan dengan badan rendah ke kanan dan ke kiri, angsel nyrigsig

mencari posisi.

17. Idem /Idem Penari melakukan gerakan

memutar kepala ke kiri, memutar bahu dan berbalik ke kanan. Satu penari diangkat oleh 4 penari, 2 penari di depan melakukan pose dengan tangan kanan di tekuk, tangan kiri lurus kedepan, penari yang diangkat melakukan gerakan

ulap-ulap dan nabdab gelung

kemudian mencari posisi.

18. general/ kegagahan Pengawak

Penari melakukan gerakan memutar tangan kanan kemudian tangan kanan

nepuk dada, tangan kiri

lurus ke bawah, penari meliukkan badan ke kiri dan ke kanan, nyregseg mencari posisi.

(31)

19. Idem / Idem Penari melakukan gerakan melikkan badan, agem kiri, nyelier berputar ke kanan menghadap ke belakang nyregseg

mencari posisi.

20. Idem / Idem Penari melakukan gerakan

meloncat ke kiri secara bersamaan dan 6 penari masuk ke wing.

21. Black light + Top Light. Fade Out. /

Bergejolak

Penari melakukan gerakan

nabdab gelun, ulap – ulap

dengan posisi badan rendah.

22. 1 Penari melakukan gerak

penyembahan terhadap penari yang satu dan 5penari lainnya melakukan gerakan tangan kiri di tekuk di depan dada tangan kanan lurus ke depan,dengan posisi badan rendah, berputar kekanan, berjalan ke depan mencari posisi

24. Pengecet

Penari melakukan gerakan kaki jinjit sambil bergerak ke depan, gerakan tangan

gegirang, kipek kanan

tengah kiri, tanjek kiri posisi badan tinggi, tangan kanan berputar keatas dengan posisi badan bungkuk, berputar ke kiri,agem kanan kipek kiri tiga kali, agem kanan dengan level tinggi, kedua tangan di pinggangsambil

(32)

melakukan gerakan

ngegol ke kiri dan ke

kanan sambil mencari posisi.

25. Penari melakukan

gerakankaki kanan di tekuk rendah kaki kiri lurus ke belakang tangan kanan dan tangan kiri di putar bergantian, kaki kiri dan kanan diangkat bergantian dengan gerakan gegirah sambil mencari posisi

26. Penari melakukan gerakan

melompat dengan tumpuan kaki kiri untuk mencari posisi.

27. Penari melakukan gerakan

gegirang, kipek kiri dan

kanan, tangan di putar ke atas secara bersamaan, dengan 2 penari bertumpu di atas paha 3 penari lainnya, penari berjalan jinjit dengan tangan

gegirang sambil mencari

posisi

28. Penari melakukan gerakan

tangan gegirang, kipek kanan, tengah, kiri, tanjek kiri posisi badan tinggi, tangan kanan berputar keatas dilanjutkan dengan badan berputar kekiri, duduk, kipek ke kiri tiga kali, gegirang, tangan kanan di putar ke atas kemudian di taruh di belakang pantat tangan kiri lurus ke depan, loncat dua kali dari bawah dengan tumpuan tangan

(33)

kanan, tanjek kiri posisi badan tinggi, ngegol untuk mencari posisi dengan satu penari masuk ke wings.

29. Penari melakukan gerakan

gegiran, kipek kiri dan

kanan, meloncat dengan tangan kanan lurus kedepan, tangan kiri di tekuk di depan dada,

nyregseg mencari posisi.

30. Penari melakukan gerakan

menoleh ke kiri dengan bergantian dengan posisi badan rebah ke kanan

nyregseg mencari posisi.

31. Pesiat

Penari melakukan gerakan

pesiat penari yang di

tengah diserang satu per satu.

32. 2 Penari melakukan

gerakan melakukan pesiat dengan penari satu diangkat di centre stage. Dilanjutkan dengan penangkilan raksasa kepada Momo sura dan kemudian Momo Sura memerintahkan raksasa untuk menyerang Ghana

(34)

33. Ending

Kesaktian Gana tidak bisa tergoyahkan kekuatan raksasa, yang menyebabkan Momosura akan kekuatan Gana.

4.6 Analisa Penyajian 4.6.1 Tempat Pertunjukan

Garapan tari Momosura dipentaskan di panggung procenium gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Menggunakan Layar, trap dan juga lighting untuk memperkuat dan mendukung suasana serta karakter atau tokoh yang dibawakan. Penempatan penabuhnya berada disebelah pojok kiri depan panggung

Gambar 1. Denah Stage Procenium

Sisi panggung bagian kanan

Sisi panggung bagian kiri

13,70 m

Pit Orchestra Pit Orchestra

Auditorium (Penonton) 20,89 m DS R UR UL DL L UC C DC

Panggung bagian Belakang Candi Bentar

(35)

Keterangan :

C = Centre (pusat)

L = Left (kiri)

R = Right (kanan)

UR = Up Right (pojok kanan belakang)

UC = Up Centre (bagian belakang pusat)

UL = Up Left (pojok kiri belakang)

DR = Down Right (pojok kanan depan) DC = Down Centre (bagian depan pusat)

DL = Down Left (pojok kiri depan)

Berdasarkan buku Notasi Laban oleh Soedarsono, dijelaskan mengenai 8 arah hadap penari (Soedarsono, 1999 : 2). Dalam garapan tari ini, digunakan beberapa arah hadap yang disesuaikan dengan pola lantai penyajian, yaitu sebagai berikut :

Gambar 2 Arah Hadap Penari

(36)

Keterangan :

: Penari menghadap ke depan stage

: Penari menghadap ke diagonal kanan depan : Penari menghadap ke kanan stage

: Penari menghadap ke diagonal kanan belakang stage : Penari menghadap ke belakang stage

: Penari menghadap ke diagonal kiri belakang stage : Penari menghadap ke kiri stage

: Penari menghadap ke diagonal kiri depan stage

4.6.2 Kostum

Dalam seni pertunjukan, khususnya seni tari penataan kostum sangat penting. Penataan kostum yang baik dapat menunjang tema dari garapan yang dibawakan, kostum dalam garapan ini disesuaikan dengan konsep garapan. Tata busana merupakan salah satu elemen garapan yang bisa menjadikan penari berubah dari kesehariaanya sesuai dengan keinginan penata, kostum yang dibuat haruslah enak dan nyaman dipakai agar tidak mengganggu dan membunuh gerakan yang sudah ada.

Penataan kostum Momosura ini menggunakan perpaduan warna dasar hitam, emas, merah dan ditambah dengan hiasan prada. Agar sesuai dengan tema tokoh dan karakter yang digunakan yaitu gagah dan agung.

Adapun perlengkapan yang digunakan pada tari Momosura ini adalah sebagai berikut :

(37)

Foto : Kostum Tampak Depan

Gelungan

Sesimping

Badong

Gelang kana bawah

Gelang kana atas

Ampok-ampok

Kancut

Stewel

Rampel Rambut palsu

(38)
(39)

4.6.3 Tata Rias

Tata rias wajah merupakaan penataan wajah memakai alat kosmetik untuk menggambarkan karakter yang terdapat dalam garapan. Tata rrias bertujuan mengubah wajah alami menjadi wajah pentas. Disamping juga untuk memperkuat eskpresi dan karakter, tata rias pertunjukan haruslah mendapatkan perhatian yang khusus, karena apabila dilihat dari jarak jauh garis-garis muka penari haruslah ditebalkan seprti mata, alis, serta pemakaian merah pipi (blash on) yang tepat. Ini dapat mempengaruhi nilai artistik yang ditampilkan oleh penari.

Secara umum tata rias wajah digunakan pada tari kreasi Momosura adalah tata rias gagah dan keras sesuai dengan karakter, ada pun bahan-bahan yang dipakai dalam penataan wajah ini adalah sebagai berikut :

- Milk cleanser sebagai pembersih wajah. - Fase tonik sebagai penyegar wajah.

- Pelembab wajah untuk melindungi kulit dan memberikan hasil yang lebih sempurna.

- Cofer foundation sebagai alas bedak, bisa menutupi kekurangan pada wajah.

- Bedak powder warna merah sebagai penghalus dasar bedak - Rounge sebagai pemerah pipi.

- Pensil alis untuk mempertajam bentuk alis.

- Eye shadow warna biru, merah, kuning yang berfungsi memberi bayangan pada mata.

- Lipstik sebagai pemerah bibir.

(40)

Foto : Tata Rias Penari

4.6.4 Iringan

Musik iringan tari adalah suatu elemen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan. Tari dan musik diharapkan saling mendukung, sehingga keluar masuknya gerak dan irama dapat dirasakan oleh penonton. Tari kreasi Momosura ini diiringi dengan gambelan Gong kebyar, karena gong kebyar dianggap dapat memenuhi kebutuhan keharmonisan garapan, penggarapan musik iringan karya tari dipercayakan kepada seorang komposer yaitu I Wayan Pustaka Alit S.Sn dengan pendukung karawitan Sekaa Gong Eka Satya Budaya, Kerobokan,

(41)

Badung. Musik iringan tari diciptakan berdasarkan konsep garapan. Harus diakui pula bahwa musik yang lahir lebih dulu dapat memeberikan rangsangan gerak, dan rangsangan bisa memahami suasana serta karakteristik dan tentu juga berfungsi memberikan aksen terhadap gerak, adapun perangkat gambelan gong kebyar yang digunakan adalah;

 1 buah kendang lanang dan wadon  1 tungguh ugal

 4 tungguh gangsa pemade  4 tungguh kantil  2 tungguh jublag  2 tungguh penyacah  2 tungguh jegogan  1 kajar  1 cengceng kecil  1 gong lanang  1 kempur  1 klentong  5 suling  1 tungguh riong

(42)

NOTASI IRINGAN TARI KREASI MOMOSURA Laras Pelog... KAWITAN REONG

. . . .

. . . .

. . . 77

71 .7 .1 7

. . . .

. . . .

. . . 77 71 .7 .1 7

. 1 . 7

. 1 . 7

13 .3 1 73 .1 7 13.3

14 .3 4 34

5 5 . 5

.5 .4 5 457

Mulai Flasback

. . . 5

. 4 . .

. 5 . 7 (

Gending Ngubeng

)

GANGSA

7 . . 7

. . 7 .

. 7 . .

7 7 77 7

REONG

. 5 . 7

. 5 . 7

. 5 . 7

. 5 .5 7

Diulang dua kali

Pengrangrang Flasback

(43)

. . . .3 .3.4 34.1 7 .

. .5 7 71 .7 1

. . . .5 7 71 .7 1

7 3 . .5 7 71 .7 1

7 3 1 5

3 5 . .

. . . .

. 5 7

Kebyar

REONG

. . . 5

. c . .

. 5 . 7

Diulang tiga kali

Ngubeng

Pukulan Kendang Gegilakan

. . . .

. . . .

. . . .

. . .5 7

. . 7 .

. 7 . 3

. . 3 .

. 3 . 7

Diulang dua kali, dilanjutkan dengan penyalit

Penyalit

. . 3 .

. 3 4 3 1

. . 1 .

4 3 1 7

3 1 7 3

.7 .1 .3 4

. . 4 7

5 1 7 5

54 3 . 3

7 3 1 77

.3.7.133 .7 .1.34 . .

. . . .

.1 3

PAPESON

. . . 5

. 3 . 1

. . . 7

. 1 . 3

. . . 1

. 3 . 5

. 7 . 1

. 3 . 4

1 . 1 7

1 . 1 3

. 13 .3 71 .1 75 .7 5

(44)

45 7 54.5

7 5 4 7

11 .7 .7 1

. . .(3)

( Diulang dua kali langsung Nyalit )

. 5 . 3

. 5 . 3

. 4 3 1

3 . .4 5

. 3 . 1

. 54 .4 5 . 34.4 31 .3 17.177

.4 .455.7 .7 11.3.3 41 .3 .4.4 5 . 3 .

7 . 43 13

4 . .7 .7 1

. 3 4 .

. .(3)

Penyalit

. 4 . 3

. 4 . 3

1 4 . 1

. 3 . 4

11 1 . 11

.1 .3 .45 54 3 . 3 .

1 . 7

3 1 7 1

.7.1.443 .3 1 . . 3

. 3(1)

Gegilakan penari menari dengan posisi tegap

. . 3 .

7 1 3 1

. . 3 .

7 1 3 1

. 1 . 3

. 4 . 5

. 4 3 5

4 3 1 7

. . 3 .

7 1 3 .

7 . 3 7

3 1 7 5

. 1 5 7

. 1 . 3

.4 5 . 4

. 3 . 1 ║

(45)

Diulang dua kali

. . . 3

. . . 1

3 1 7 3

.3 .1 .75

45 7 5 45

7 5 4 7

45 .5 4 4

1 . . 1

11 .7 .7 1 .

. . 33

.1 .13.3 4

3 1 4 3

1 7 3 .7 .1.34

. . 5 7

5 1 7 5

54 3 . 31

7 1 3 7

3 1 7 3

.7 .1.34 .1 .1 . . 1

. .(1)

Kembali ke bagian gilak awal

. . 3 .

7 1 3 1

. . 3 .

7 1 3 4

. 1 . 3

. 4 . 5

. 4 3 5

4 3 1 7

. . 3 .

7 1 3 .

7 . 3 7

3 1 7 5

. 1 5 7

. 1 . 3

.4 5. 4

. 3 .(1)

Angsel ocak-ocakan,

.5 7 . 4 .

4 . 3

langsung nyalit ke bagian pengawak

(46)

Diulang dua kali

34 5 . 5 .

1 . 5 54 3 . 3 .

1 . 77

.1.177.3 .1 3 1 4 .

7 . 5 .

4 . 3

.1.13.3 4

3 1 4 3

1 7 3 .7.1.3 4

. . 5 7

57.5.7 5 543. 3 1 7 1

3 7

3 1 7 3

.7.1.34 .5 7 . . 7 .

7(7)

Gilak cepat

. 1 . 1

. 7 . 5

. 3 . 4

. 5 . 7

Ocak-ocakan langsung,

5

4 3 5 4

3 1 (7)

peralihan nyalit ke pangawak

31 4 3 4

13 4 3 41

3455.5.4 .3.1 345

3 5 3 13

.1 3 4 1

44.13431 7

.1 345

. 3 . 7

44 .313 4 .

.7.7 1 7

.1 345

. 3 . 7

44 .3134 .

.7.7 1 .

4 3(1)

PANGAWAK I

57 1 3 1

. 7 571

. 3 1 7

. 13 4 3

. . . 45

3 . 4 5

. . 3134 5

4 3 1

(47)

. . .75 .

7 57 1 .

. . 71 .3 .7 .13

. .1.313 4 .1 34 5 7 5

4 3 44 .3 134

. .7 .7 1

. 4 3(1)

Diulang dua kali

Nyalit pangawak II

.

3 4(3)

PANGAWAK II

7 3 . .7 .1 7 7 3 1

4 4 1 4

. . 4

. . . 7

. . . 5

54 3 . 3

. 1 . 77

.3.7 .13 .7.1.3 4 . . 7

. 4 . 4

1

. . . 1

. . . 1

3 1 7 3

1 . 7 5

. . . 1

. . . 1

.7 1 . .

5 7 1 3

. . . 3

. . . 3

. . . 5

3 4 5 7

4 . 7 .

4 5 7 1

. . . .

. 13 13 1

Perubahan wujud gending keraksasaan

Gending ngubeng

. . . 5

. 3 . 4

. . . 5

. 3 . 1

(48)

. . 1 .

3 1 . 5

3 4 5 3

4 5 . .

1 1 3 3

4 4 5 5

. . 5 .

5 . 55 5

43 1 3 1

. 3 . 1

1 . 3 4

5 4 3(1)

Masuk pangecet suasana gembira

. 5 . 4

. 5 . 1

. 5 . 4

4 45 . 1

. 5 . 4

. 5 . 1

4 3 1 .

3 . 4 5

Diulang,

.

1 5 .

1 . 5 7

4 . 3 .

3 4 5 1

dua kali

. 5 . .

5 4 3 1

. 1 . .

1 3 4 5

. 5 . .

3 4 5 7

. 3 . 1

. 3 . 7

. 3 . 4

3 4 5 7

. 3 . 1

. 3 . 7

33 3 33 3

.4 .3 .1 7

7 1 3 7

1 3 1 7

7 1 3 7

1 3 4 5

. 1 . 3

. 4 . 5

. . 5 .

4 3 1 7

7 1 3 7

1 3 1 7

7 1 3 7

1 3 4 5

. 1 . 3

. 4 . 5

. . 5 .

5 . 55 5

. . . .

. . . .

(49)

Nyalit pesiat

. . . 5

4 3 1 7

43 1 11.1

.3 4 3(1)

Diulang dua kali

Ulang ke pangecet awal, sampai ke nyalit pasiat

KEBYAR PASIAT

. 7 . 7

. 7 . 7

1 3 7 3

1 . 7 3

. 5 . 1

. 1 . 5

.71 . . 5

7 1 3

. . . 3

. . . 3

.1 3 . .

. . .(3)

PASIAT, GENDING NGEMBANG

. . . 1

. 7 . .

. 3 . 4

. . . 7

. 5 . .

. 5 . 3 ║

.1 3 . .1

.3 1 13 4 .

. 1 . 3

. 4 5

.7 1 . .

1 3 4 5

.4 5 . .

4 3 1 7

Ngubeng

. 5 . 1

. 5 . 4

. 5 . 1

. 5 . 4 ║

Ocak

. 4 . 7

1 3 4 5

.4 3 . .

1 3 4 5

. . . 5

. . . 5

3 4 5 4

1 . 1(1)

(50)

Nyalit pesiat

. 3 . 1

. 7 . 5

. 1 . 7

. 3 . 1

.1 3 3 3

3 3 .1 (3)

Kembali ke pesiat awal sampai pada nyalit ending

ENDING

. 4 . 1

3 4 3 1

4 1 3 4

1 3 4 3

. . . 5

. 3 . 5

43 1 3 13

.1 31.311

(51)

5.1 Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tari kerasi Momosura merupakan tari kelompok yang ditarikan oleh lima orang penari putra yan bertemakan kepahlawanan dengan durasi waktu ±15 menit dengan menggunakan iringan Gong kebyar. Karya tari yang lahir dari penggarapan elemen-elemen tari seperti gerak sebagai media dasar utama tari, yang dipadukan dengan elemen-elemen lainya seperti : Desain, pola lantai, kostum, iringan, tata lampu dan sebagainya. Tari Momosura yang menggunakan cerita dari buku Kejayaan Ganesha yang diterjemahkan oleh Sri Astiti, S.Pd. yang memceritakan perjalanan Mama kehutan yang pada awalnya ingin memuja Ganesha tetapi ditengah perjalanan dihalangi oleh Raksasa SambaraAsura yang mengajarkannya cara memunja raksasa. Garapan Momosura ini menggunakan topeng raksasa dan Ganesha.

Garapan ini terwujud setelah mengalami tiga tahap yaitu tahap penjajagan, percobaan, dan pembentukan. Adapun struktur tari garapan Momosura secara garis besar terdiri dari bagian pertama (flash back) bagian kedua (Papeson),bagian ketiga (Pangawak), bagian empat (Pangecet), bagian kelima (Pasiat). Kostum yang dipergunakan masih mengacu pada busana tradisi, yang telah dimodifikasikan dengan tata rias yang digunakan adalah tata rias Agung dan Keras.

(52)

5.2 Saran-saran

- Upaya menciptakan karya seni yang baru tidaklah mudah, perlu adanya daya kreativitas oleh karena itu disarankan bagi calon-calon penata yang akan datang, diperlukan persiapan dari mental dan fisik agar menghasikalan hasil karya seni yang berbobot.

- Diharapkan calon-calon Sarjana yang akan datang untuk mengadakan kerjasama yang lebih baik dengan pihak lembaga dalam mempersiapkan ujian Sarjana Tingkat S1.

- Sebagai seniman akademis khususnya bidang seni tari, selain mengembangkan serta membina karya seni yang telah ada kita juga harus ikut memperkaya kesenian dan partisipasi dalam menciptakan karya seni baru sehingga yang kita ,miliki selalu berkembang.

- Menciptakan karya seni tidaklah mudah adanya, kedisiplinan dan keseriusan pendukung sangatlan membantu dalam kita berkarya.

(53)

Adi Wirawan, I Made. Cahaya Kebijaksanaan Ganesa. Surabaya : Paramita. Astiti, Sri. 2002. Kejayaan Ganesa. Surabaya : Paramita.

Bandem, I Made. 1983. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar : akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar.

Bandem dkk., I Made. 1983. “Gerak Tari Bali (Laporan Penelitian)”. Denpasar : Akademi Seni Tari Indonesia.

Dibia, I Wayan. 1979. Sinopsis Tari Bali. Denpasar : Sanggar Tari Bali Waturenggong.

_______, I Wayan. 2003. Bergerak Menurut Kata hati, Metode dalam Menciptakan Tari. (Terjemahan Buku Creating Dance karya Alma M. Hawkins). Jakarta : MSPI.

_______, 2012 Ilen-ilen Seni Pertunjukan Bali. Denpasar : Yayasan Wayan Geria. _______,1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung : Masyarakat

Seni Pertunjukan Indonesia.

Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Murgiyanto, Sal. 1983. Buku Seni Menata Tari ( terjemahan dari Tha Art Markingh Dances ), Dewan Kesenia Jakarta.

Soedarsono. 1983. Komposisi Tari, Elemen-Elemen Dasar (terjemahan dari Dance Composition, The Basic Elements, oleh La Merry). Yogyakarta : Akademik Seni Tari Indonesia.

_______. 1978. Notasi Laban, Jakarta: Direktorat Pembinaan Kesenian Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

(54)
(55)

Lampiran 1

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : I Wayan Pustaka Alit, S.Sn Alamat : Br. Tegeh, Kerobokan, Badung Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Wiraswasta

1. Nama : I Nyoman Sadia

Alamat : Br. Umalas Kangin, Kerobokan, Badung Jenis Kelamin : Laki-laki

(56)

Lampiran 2

SUSUNAN NAMA PENDUKUNG TARI DAN KARAWITAN A. Pendukung Tari

- I Kd. Ambara Jaya Kaswara ( Mahasiswa ISI Denpasar ) - I Wyn. Dedy Budhi Hartana ( Mahasiswa ISI Denpasar ) - I Wyn. Yudi Laksana ( Mahasiswa ISI Denpasar ) - I G.N. Bagus Suryaningrat ( Mahasiswa ISI Denpasar ) - I.B. Ari Sudhana Singarsa ( Mahasiswa UNHI Denpasar ) - I Ketut Vera adi Pranata ( Mahasiswa UNHI Denpasar )

B. Pendukung Karawitan

(57)

Lampiran 3

SUSUNAN STAF PRODUKSI PELAKSANAAN UJIAN AKHIR FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN ISI DENPASAR

TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Penanggung Jawab : I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn (Dekan FSP ISI Denpasar) Ketua Pelaksana : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum (Pembantu Dekan I) Wakil Ketua : 1. Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn (Pembantu Dekan II) 2. Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd (Pembantu Dekan III) Sekretaris : Dra. A.A.Istri Putri Yonari

Seksi-seksi

1. Sekretariat : 1. I Nyoman Alit Buana, S.Sos (Koordinator) 2. Putu Sri Wahyuni Emawatiningsih, SE 3. Ni Made Astari, SE

4. I Gusti Ketut Gede

5. I Gusti Ngurah Oka Ariwangsa, SE 6. Putu Liang Piada, A.Md

2. Keuangan : 1. Ni Ketut Suprapti

2. Gusti Ayu Sri Handayani, SE

3. Publikasi/Dokumentasi : 1. Drs. Rinto Widiarto , M.Si (Koordinator ) 2. Nyoman Lia Susanti,SS., MA

3. Luh Putu Esti Wulaningrum, SS 4. I Made Rai Kariasa, S.Sos 5. Ketut Hery Budiyana, A.Md

(58)

4. Konsumsi : 1. Ida Ayu Agung Yuliaswathi Manuaba,SH ( Koordinator )

2. Ketut Bambang Ayu Widyani, SE 3. Putu Gde Hendrawan

4. I Wayan Teddy Wahyudi Permana, SE 5. Keamanan : 1. H. Adi Sukirno, SH

2. Staf Satpam 6. Pagelaran

6.1 Operator Ligting, Sound System dan

Rekaman Audiovisual : 1. I Gst Ngr Sudibya, SST., M.Sn. ( Koordinator ) 2. I Made Lila Sardana, ST

3. I Nyoman Tri Sutanaya

4. I Ketut Agus Darmawan, A.Md 5. I Ketut Sadia Kariasa

6.2 Protokol : 1. A.A.A. Ngurah Sri Mayun Putri, SST ( Koordinator )

2. Mahasiswa

6.3 Penanggungjawab Tari : 1. I Nyoman Cerita, SST., M.FA 2. A.A Ayu Mayun Artati,SST., M.Si 6.4 Penanggungjawab Karw. : 1. I Wayan Suharta, SSKar., M.Si

2. Wardizal, S.Sen., M.Si 6.5 Penanggungjawab Pedal : 1. Drs. I Wayan Mardana, M.Pd

2. I Nyoman Sukerta, SSP., M.Si 6.6 Stage Manager : Ida Ayu Trisnawati, SST.,M.Si

a. Asst. Stage Manager : Ni Wayan Mudiasih , SST.,M.Si

b. Stage Crew : 1. I Gede Mawan ,SS.Kar., M.Si ( Koordinator ) 2. Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar

(59)

4. Ni Komang Sri Wahyuni,SST.,M.Sn 5. I Wayan Suena, S.Sn

6. I Ketut Budiana, S.Sn 7. I Ketut Mulyadi, S.Sn

8. Ni Nyoman Nik Suasthi, S.Sn 9. I Nyoman Japayasa, S.Sn Seksi Upakara/Banten : 1. Ketut Adi Kusuma, S.Sn

Dekan

I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn NIP. 19681231 199603 1 007

(60)

Lampiran 4

FOTO-FOTO PEMENTASAN

Foto 1: Pementasan ujian karya tari kreasi Momosura tempat panggung Proscenium Natya Mandala.

(61)

Foto 2:

Pementasan ujian karya tari kreasi

Momosura tempat panggung Proscenium Natya Mandala. Bagian Papeson

Foto 3:

Pementasan ujian karya tari kreasi

Momosura tempat panggung Proscenium Natya Mandala. Bagian Pangawak

(62)

Foto 4:

Pementasan ujian karya tari kreasi

Momosura tempat panggung Proscenium Natya Mandala. Bagian Pangecet

Foto 5:

Pementasan ujian karya tari kreasi

Momosura tempat panggung Proscenium Natya Mandala. Bagian Pasiat

(63)

Foto 6:

Pementasan ujian karya tari kreasi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :