Daftar Isi BAB I: PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Penelitian...

Teks penuh

(1)

Daftar Isi

BAB I: PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 7 1.3 Batasan Masalah ... 7 1.4 Tujuan Penelitian ... 7 1.5 Manfaat Penelitian ... 7 1.6 Sistematika Penulisan ... 8

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Kajian Pustaka ... 10

2.2 Kerangka Pemikiran ... 15

2.2.1 Konsep Aliansi Asimetris ... 15

2.2.2 Teori Balance of Power ... 21

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN ... 25

(2)

3.2 Sumber Data ... 25

3.3 Unit Analisis ... 26

3.4 Teknik Pengumpulan dan Penyajian Data... 27

BAB IV: PEMBAHASAN ... 28

4.1 Pengaruh Kebangkitan Tiongkok terhadap Amerika Serikat dan Asia Pasifik ... 28

4.2 Rebalancing (Pivot to Asia) sebagai Respon Amerika Serikat terhadap Kebangkitan Tiongkok ... 35

4.3 Jepang sebagai Mitra Strategis Amerika Serikat ... 45

4.3.1 Hubungan Bilateral Amerika Serikat dengan Jepang ... 45

4.3.2 Ancaman Tiongkok terhadap Jepang... 50

4.4 Kebijakan Rebalancing Amerika Serikat Terhadap Jepang ... 53

BAB V: KESIMPULAN ... 63

(3)

Daftar Grafik

Grafik 1. 1 Pertumbuhan perekonomian Tiongkok ... 2

Grafik 4. 1 Pertumbuhan GDP Tiongkok (1979-2013) ... 28

Grafik 4. 2 Anggaran Militer yang dipublikasikan Tiongkok ... 31

Daftar Tabel

Tabel 4. 1 Perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok dengan negara-negara di Asia Pasifik tahun 2008 (dalam juta US$) ... 39

Tabel 4. 2 Perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok dengan negara-negara di Asia Pasifik tahun 2012 (dalam juta US$) ... 39

Tabel 4. 3 Persebaran Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik Terkait Kebijakan Rebalancing ... 40

Tabel 4. 4 Kekuatan Militer di Jepang ... 48

Daftar Gambar

Gambar 4. 1 Air Identification Zone di Asia Timur ... 34

Gambar 4. 2 Perencanaan pengiriman pasukan Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik tahun 2012 ... 42

Gambar 4. 3 Peta Fasilitas Militer Amerika Serikat di Jepang ... 47

Gambar 4. 4 Geostrategis Pangkalan Amerika Serikat di Okinawa ... 49

Gambar 4. 5 Aktivitas Tiongkok di Dekat Wilayah Jepang ... 51

(4)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi aliansi Amerika Serikat terhadap Jepang. Seiring dengan pesatnya perkembangan perekonomian Tiongkok, militer Tiongkok juga mengalami peningkatan kapabilitas. Amerika Serikat melihat fenomena ini sebagai ancaman sekaligus peluang. Amerika Serikat kemudian mengeluarkan kebijakan rebalancing sebagai bentuk respon terhadap kebangkitan Tiongkok. Melalui kebijakan rebalancing, Amerika Serikat melakukan berbagai pendekatan terhadap negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Pendekatan yang dilakukan Amerika Serikat ditujukkan baik terhadap negara mitranya maupun Tiongkok sendiri. Salah satu mitra strategis Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik adalah Jepang. Jepang memainkan peranan penting dalam kebijakan rebalancing. Hubungan keamanan antara Amerika Serikat dengan Jepang didasari oleh perjanjian Japan-U.S. Security Treaty. Hubungan militer denngan Jepang memungkinkan Amerika Serikat untuk melakukan respon militer dengan cepat khususnya di kawasan Asia Pasifik. Jepang juga merupakan sekutu Amerika Serikat yang sekaligus memiliki persoalan dengan Tiongkok. Perlindungan militer dari Amerika Serikat terhadap Jepang dapat dikatakan penting mengingat Jepang memiliki persoalan sengketa wilayah Tiongkok. Amerika Serikat menerapkan kebijakan rebalancing terhadap Jepang baik dalam bidang militer maupun perekonomian. Menggunakan kerangka konseptual aliansi asimetris dan teori balance of power, dapat disimpulkan bahwa strategi aliansi Amerika Serikat terhadap Jepang terdiri dari persebaran pasukan, peningkatan fleksibilitas militer, dan peningkatan kapabilitas militer.

(5)

ABSTRACT

This research aimed to describe United States’ strategic alliance towards Japan. As China’s economic has rapidly grown, its military capability has also increased. United States saw this phenomenon as a threat and also an opportunity. United States then announced the rebalancing policy as a response to the rise of China. Rebalancing strategy provided United States to do certain approaches to Asia Pacific countries. Those approaches were aimed to United States’ partners and also China. Japan has been one of the United States’ strategic partners in Asia Pacific. Japan played an important role in the rebalancing policy. The military relations between United States and Japan are based on the Japan-U.S. Security Treaty. Military ties with Japan allows United States to do military responses quickly especially in Asia Pacific region. Japan is also one of the United States’ partner that has issues involving China. United States’ military protection of Japan is essential regarding to Japan’s territorial dispute with China. United States implemented rebalancing policy to Japan through military and economy aspects. Using conceptual framework of asymmetrical alliance and balance of power theory, it can be concluded that United States’ strategic alliance consists of force deployment, military flexibility, and military capability. Keywords: Rebalancing strategy, United States, Japan, rise of China

(6)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dinamika di kawasan Asia Pasifik tidak dapat dilepaskan dari persoalan kebangkitan Tiongkok. Kebangkitan Tiongkok telah mengubah keseimbangan power secara global. Meskipun Amerika Serikat masih menjadi kekuatan yang dominan di Kawasan Asia Pasifik, pengaruhnya di kawasan kian tersaingi oleh kebangkitan Tiongkok (Zhao, 2016). Kebangkitan Tiongkok didorong oleh perkembangan perekonomian secara pesat.

Jika dilihat secara GDP, Tiongkok mengalami pertumbuhan yang signifikan. Rata-rata pertumbuhan GDP Tiongkok mencapai 6,7% per tahun sejak tahun 1950. Angka tersebut meningkat menjadi 8,3% per tahun dalam periode tahun 1978 sampai 2007 (Xie & Page, 2010). Di tengah krisis keuangan global pada tahun 2011, Tiongkok masih mampu menaikkan GDP dari US$ 4,2 menjadi US$ 8,3 miliar. Kenaikan tersebut menjadikan Tiongkok sebagai peringkat kedua dalam pertumbuhan ekonomi setelah Amerika Serikat (Planifolia, 2017).

Seiring dengan meningkatnya kekuatan ekonomi Tiongkok, perkembangan di bidang politik dan militer juga turut meningkat. Perekonomian yang kuat mendorong dilakukannya pemutakhiran persenjataan militer. Tiongkok kini telah memiliki kapabilitas pertahanan Anti Access/Area Denial. Kekuatan ekonomi Tiongkok juga memungkinkan Tiongkok untuk melakukan upaya-upaya diplomatis serta memberi

(7)

2

bantuan luar negeri. Mempererat hubungan dagang, bantuan luar negeri, dan investasi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap negara-negara lain (Xie & Page, 2010).

Grafik 1. 1 Pertumbuhan perekonomian Tiongkok

Sumber: The Conference Board and Groningen Growth and Development Centre (2013)

Amerika Serikat melihat situasi ini sebagai sebuah peluang sekaligus tantangan. Tiongkok menjadi pasar ekspor terbesar ketiga dan pasar utama Amerika Serikat dalam bidang agrikultur (Gross, 2012). Kebangkitan Tiongkok dapat menjadi peluang bagi Amerika Serikat jika Amerika Serikat dapat membentuk perjanjian perdagangan bebas dengan Tiongkok. Di sisi lain, kebangkitan Tiongkok tentu mendatangkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat. Modernisasi militer serta pertumbuhan ekonomi yang pesat dikhawatirkan dapat menggeser pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik (Wickett, Nilsson-Wright, & Summers, 2015). Akhir tahun 2011 menjadi awal

(8)

3

perpindahan fokus Amerika Serikat dari Timur Tengah menuju Asia Pasifik. Amerika Serikat memandang bahwa kawasan Asia Pasifik patut dijadikan prioritas geostrategi Amerika Serikat.

Dalam merespon kebangkitan Tiongkok, Amerika Serikat melakukan upaya meningkatkan pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik (Zhao, 2016). Upaya tersebut dilakukan dalam bidang ekonomi, militer serta diplomasi (Yahuda & Rowman, 2014). Tujuan Amerika Serikat di bidang keamanan dipertegas oleh pernyataan wakil presiden, Joe Biden. Joe Biden mengemukakan bahwa Amerika Serikat ikut menjaga keamanan di kawasan Asia Pasifik (The White House Office of the Vice President, 2013). Hal ini dilakukan dengan cara memperkuat hubungan militer dengan mitra aliansinya. Hubungan ekonomi juga diperkuat melalui Trans Pacific Partnership. Pendekatan tersebut dilakukan dengan pendekatan secara bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik termasuk Tiongkok. Strategi Amerika Serikat ini disebut juga dengan rebalancing atau pivot to Asia. Upaya rebalancing yang dilakukan pemerintahan Obama menggunakan pendekatan yang kolaboratif dengan Tiongkok dan di saat yang bersamaan membatasi perilaku Tiongkok yang mengancam. Tujuan utama upaya tersebut bukanlah untuk melakukan containment terhadap Tiongkok, malainkan untuk melakukan constrainment (Stephens, 2012). Strategi rebalancing merupakan kerjasama Amerika Serikat baik dengan aliansinya maupun dengan Tiongkok untuk membentuk tatanan regoinal yang memungkinkan Tiongkok untuk tetap bangkit namun tetap mencegahnya untuk melakukan tindakan sewenang-wenang.

(9)

4

Strategi rebalancing diperjelas dengan dikeluarkannya artikel berjudul Foreign Policy oleh Hillary Clinton yang pada saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri Amerika Serikat (Saunder, 2014). Hillary Clinton juga menilai Kawasan Asia Pasifik sebagai kunci utama dalam politik global. Pertumbuhan dan dinamika di Kawasan Asia Pasifik menjadi penting bagi kepentingan strategis Amerika Serikat khususnya dalam bidang ekonomi dan keamanan. Kawasan Asia Pasifik juga menjadi rumah bagi aliansi Amerika Serikat. Melalui artikelnya, Clinton juga menyebutkan terdapat enam kunci utama dalam mengimplementasikan strategi rebalancing, yaitu (Saunder, 2014):

1. Menguatkan keamanan dengan aliansi Amerika Serikat secara bilateral

2. Memperdalam hubungan dengan kekuatan-kekuatan baru, termasuk Tiongkok 3. Melakukan pendekatan terhadap institusi multilateral di kawasan Asia Pasifik 4. Memperluas perdagangan dan investasi

5. Mendorong persebaran militer yang luas 6. Meningkatkan demokrasi dan HAM

Melihat keenam kunci utama dalam rebalancing, kebijakan tersebut sejatinya merupakan upaya Amerika Serikat untuk menguatkan hubungan bilateral yang sudah ada dengan negara-negara di Asia Pasifik. Penguatan hubungan bilateral yang dilakukan Amerika Serikat memiliki strategi yang berbeda terhadap setiap negara. Implementasi rebalancing terhadap mitra aliansi Amerika Serikat tentu berbeda dengan implementasi terhadap negara yang bukan aliansinya. Seperti implementasi rebalancing pada Filipina, Amerika Serikat juga menekankan kebijakan War on

(10)

5

Terror. Terhadap Indonesia, Amerika Serikat menekankan pada bantuan humanitarian (Saunder, 2014).

Selain Amerika Serikat, negara-negara tetangga Tiongkok juga tidak dapat melepaskan kekhawatirannya dari kebangkitan Tiongkok. Negara-negara tersebut akan melakukan segala cara untuk dapat menghalau Tiongkok mencapai hegemoni di kawasan Asia Pasifik (Mearsheimer, 2007). Roy (2014) mengatakan bahwa terdapat dua kemungkinan terkait kebangkitan Tiongkok. Pertama, Tiongkok akan mencoba untuk mencapai hegemoni regional dengan cara kekerasan. Kedua, kebangkitan Tiongkok akan memicu respon dari Jepang (Roy, 2014).

Jepang menjadi salah satu aliansi Amerika Serikat yang menjadi negara tujuan diimplementasikannya kebijakan rebalancing. Jepang menjadi salah satu sekutu Amerika Serikat yang sekaligus memiliki persoalan dengan Tiongkok. Perlindungan militer dari Amerika Serikat terhadap Jepang dapat dikatakan penting mengingat ancaman teritorial dan ancaman militer dari Tiongkok. Secara historis, Jepang dan Tiongkok terlibat dalam sengketa kepulauan Senkaku. Tiongkok mengklaim bahwa kepulauan Senkaku merupakan bagian dari territorial Tiongkok sejak masa dinasti Tiongkok yang digunakan sebagai wilayah penangkapan ikan. Kepulauan Senkaku adalah jalur perdagangan serta memiliki potensi penambangan minyak dan gas (Metraux, 2013).

Sengketa Kepulauan Senkaku memanas dalam beberapa dekade terakhir. Upaya normalisasi hubungan bilateral antara Jepang dan Tiongkok pernah dilakukan

(11)

6

pada tahun 1972. Akan tetapi sengketa Jepang dengan Tiongkok atas kepulauan Senkaku semakin memanas setelah kapal nelayan Tiongkok bertabrakan dengan kapal patroli Jepang pada tahun 2010 di perairan Senkaku (McCurry, 2010). Insiden tersebut kembali memicu perselisihan di antara kedua negara. Guna meredam ketegangan antar kedua negara, Jepang memutuskan untuk membeli kepulauan tersebut secara privat pada tahun 2012 (BBC News, 2012). Hingga pada bulan November 2013, Tiongkok mengumumkan Air Identification Zones (ADIZ) yang mengikutsertakan kepulauan yang bersengketa (The New York Times, 2013). Sengketa kedua negara ini kemudian mendorong Amerika Serikat untuk mengambil sikap tegas.

Pemerintahan sebelum Presiden Obama belum pernah mengambil sikap tegas terkait sengketa Kepulauan Senkaku. Barulah pada bulan April 2014, Presiden Obama menyatakan secara resmi bahwa Amerika Serikat akan menguatkan komitmennya terhadap perjanjian keamanan dengan Jepang (Mayin, 2016). Amerika Serikat dan Jepang terikat dalam perjanjian keamanan yaitu Japan-U.S. Security Treaty yang telah disepakati sejak 1960 (Chanlett-Avery & Rinehart , 2016). Perjanjian tersebut mengharuskan Amerika Serikat untuk melindungi Jepang dari ancaman luar batas negaranya. Tindakan Amerika Serikat ini memiliki keterkaitan erat dengan kebijakan rebalancing. Kebijakan rebalancing membawa pembaharuan terhadap aliansi antara Amerika Serikat dengan Jepang. Kebijakan rebalancing juga menjadi salah satu bentuk komitmen Amerika Serikat dalam meningkatkan aliansi dengan Jepang serta sebagai upaya Amerika Serikat dalam menekan pengaruh Tiongkok di kawasan Asia Pasifik.

(12)

7

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di dalam latar belakang, maka dapat penulis menarik rumusan masalah yaitu bagaimana Amerika Serikat menerapkan strategi aliansi dengan Jepang terkait kebijakan rebalancing?

1.3 Batasan Masalah

Lokus penelitian ini dimulai pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Tahun 2011 menjadi momentum pernyataan sikap oleh Obama untuk meningkatkan peran di kawasan Asia Pasifik. Kemudian, tahun 2016 menandakan berakhirnya pemerintahan Obama. Penelitian ini berfokus pada penerapan strategi Amerika Serikat dalam menerapkan kebijakan rebalancing terhadap Jepang.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan strategi Amerika Serikat terhadap Jepang terkait kebijakan rebalancing.

1.5 Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam ranah keilmuan Hubungan Internasional untuk melihat strategi suatu negara terhadap negara lain untuk merespon ancaman. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemangku kepentingan di suatu negara dalam merancang strategi aliansi untuk merespon ancaman.

(13)

8

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam Bab I (Pendahuluan), dijelaskan mengenai latar belakang permasalahan yang akan diteliti. Selanjutnya, rumusan masalah mengangkat pertanyaan utama yang ditarik dari latar belakang yang telah dipaparkan. Fokus penelitian kemudian dipaparkan melalui batasan masalah yang kemudian dilanjutkan oleh tujuan dan manfaat penelitian.

Pada Bab II (Tinjauan Pustaka), terdapat sub bab kajian pustaka yang memaparkan fenomena yang sama namun kasus yang berbeda yang dikutip dari tulisan lain. Dalam penelitian ini, tulisan yang digunakan adalah bab Structural Realism yang ditulis oleh John J. Mearsheimer dalam buku International Relations Theories: Discipline and Diversity karya Tim Dunne, Milja Kurki dan Steve Smith. Selain itu, penulis juga menggunakan jurnal yang berjudul Delicate Balance of Power in the Asia Pacific: The Obama Administration’s Strategic Rebalance and the Transformation of

US-China Relationship karya Suisheng Zhao (2016) guna melengkapi kajian pustaka. Sub bab selanjutnya merupakan kerangka konsep yang menjelaskan konsep-konsep yang menjadi dasar penelitian ini. Adapun konsep yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah konsep aliansi asimetris dan teori Balance of Power.

Pada Bab III (Metodologi Penelitian), dijelaskan mengenai jenis penelitian yang digunakan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Kemudian, sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari data sekunder atau tidak langsung berdasarkan literatur-literatur terkait.

(14)

9

Selanjutnya, unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah negara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dan pencarian data di jejaring internet sebagai teknik pengumpulan data. Narasi dengan jenis tematik menjadi teknik penyajian data dalam penelitian ini. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah ketidakmampuan penulis untuk memperoleh narusumber langsung sebagai sumber data primer.

Pada Bab IV (Pembahasan), penelitian ini akan memberi pemaparan terkait dengan strategi Amerika Serikat terhadap Jepang terkait kebijakan rebalancing pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Selanjutnya, pembahasan akan dilengkapi dengan analisis hasil temuan terkait dengan konsep yang akan digunakan dalam penelitian ini.

Pada bab V (Kesimpulan), akan dirangkum berdasarkan pemaparan pada bab-bab sebelumnya. Kesimpulan kemudian dilengkapi dengan saran guna membantu penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :