• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI I"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KEBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PESERTA PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

(PNPM) MANDIRI PERKOTAAN

ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI I34070029

DEPARTEMEN

SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

ABSTRACT

ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI Women Participation Level and Its Effect

toward the Economic Independency of Women Participant in National Community Empowerment Program (PNPM) Independent City under Supervision of TITIK

SUMARTI

This study is focusing on Women Participation Level and Its Effect toward the Economic Independency of Women Participant in National Community Empowerment Program (PNPM) Independent City which is one factor that affecting the women participant economic independency of PNPM Independent City. The aims of this study are 1) analyze the participation of women in PNPM Independent City program, 2) analyze which driving factors that most affecting toward the participation level of women in PNPM Independent City, 3) analyze how far is the participation level of women affecting toward the women economic independency in PNPM Independent City program. Respondents are women which are the participant of PNPM Independent City program with total of 60 persons. Respondent are chosen by simple random sampling. Quantitative data processed with Cross Tabulation method and supported by Rank Spearman Correlation Test. Based on the data processing result, it can be conclude that the women participation level of PNPM program participant is categorized in low level. From four factors that affecting participation, there are no one that affecting factor toward the participation level. Women participants refuse to participate in the mentoring and evaluation program of PNPM because they only want to participate in circulating funds program to gain extra salary. PNPM Independent City Program in Semplak is done quite well and can be said as successful. However, in the reality, the participation level is not affecting the economic independency level of women participant, because the low and high participation level is both having a high independency. Based on the study result, there are some recommendations for the PNPM Independent City program which are; improve the information accessibility and mentoring toward women participants; improve the participation of participants; rearrange the program success indicator which is more measureable and appropriate with the early purpose of the program which is to improve the women participants economic condition.

Keyword: PNPM Independent Program, participation, economic independency

(3)

RINGKASAN

ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI. Tingkat Partisipasi Perempuan Dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Keberdayaan Ekonomi Perempuan Peserta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. Dibawah bimbingan TITIK SUMARTI.

Kemiskinan masih menjadi permasalahan penting yang harus segera dituntaskan. Salah satu program pembangunan pemerintah yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di perkotaan adalah Program Nasional Pemberdayaan Mandiri Perkotaan. Salah satu daerah yang menerima program tersebut adalah Kota Bogor. Salah satu syarat agar program dapat berhasil dan berkelanjutan adalah adanya partisipasi dari semua pemangku kepentingan, termasuk dari komunitas miskin itu sendiri (laki-laki dan perempuan). Beberapa program/kegiatan di kota Bogor ditujukan khusus untuk perempuan miskin. Oleh karena itu partisipasi perempuan dalam program tersebut menjadi sangat penting. Dari data partisipasi perempuan yang didapat dari bagian program PNPM Mandiri Perkotaan menunjukkan tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan di kota Bogor beragam.

Partisipasi perempuan merupakan bagian integral dari partisipasi masyarakat. Perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai subyek pembangunan. Dalam kedudukannya sebagai subyek pembangunan, perempuan tentunya memiliki posisi dan peran yang sama untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Partisipasi masyarakat (baik laki-laki maupun perempuan), khususnya golongan miskin itu sendiri, sangat diperlukan dalam upaya pengentasan kemiskinan, salah satunya melalui program PNPM Perkotaan. Oleh karena itulah, berdasarkan data partisipasi perempuan tersebut penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai faktor-faktor yang menentukan tingkat partisipasi perempuan di wilayah Kelurahan Semplak dan pengaruhnya terhadap keberhasilan program PNPM Mandiri Perkotaan, khususnya di tingkat keberdayaan ekonomi perempuan peserta program yang mencakup akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan manfaat program.

(4)

Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis partisipasi kaum perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan. 2) menganalisis faktor pendorong manakah yang paling berpengaruh terhadap tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan, dan 3) menganalisis sejauhmana tingkat partisipasi perempuan berpengaruh terhadap tingkat keberdayaan ekonomi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan.

Pendekatan ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Semplak Kota Bogor. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan program, sehingga responden dalam penelitian ini adalah perempuan peserta program PNPM Mandiri Perkotaan. Responden dipilih secara acak sederhana sebanyak 60 orang. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan Tabulasi Silang didukung dengan Uji Korelasi Rank Spearman untuk mengukur tingkat kemauan, tingkat kemampuan dan kesempatan dan hubungannya dengan tingkat partisipasi, serta mengukur hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat keberdayaan ekonomi. Tabel Frekuensi digunakan untuk mendeskripsikan tingkat kemauan, kemampuan, kesempatan, tingkat partisipasi dan tingkat keberdayaan ekonomi. Pengujian ini menggunakan program komputer SPSS 16.0 for Windows dan Microsoft Excel 2007. Data kualitatif berupa hasil wawancara dengan responden dan informan dianalisis untuk mendukung data kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat partisipasi perempuan peserta program PNPM tergolong rendah. Hal ini dikarenakan adanya beban kerja ganda pada perempuan peserta program yang akhirnya mempengaruhi partisipasi dalam mengikuti program tersebut secara keseluruhan. Mereka lebih fokus dalam kegiatan rumah tangga sehari – hari seperti membersihkan rumah dan mengurus anak. Namun, dikarenakan kebutuhan ekonomi yang mendesak sehingga mereka akhirnya mengikuti kegiatan program dana bergulir PNPM Mandiri untuk menambah penghasilan serta melakukan usaha guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi partisipasi perempuan peserta dalam mengikuti program PNPM Mandiri Perkotaan yaitu tingkat kemauan, tingkat kemampuan, tingkat kesempatan dan tingkat demografi (usia dan status

(5)

pernikahan). Dari keempat faktor tersebut tidak ada yang mempengaruhi tingkat partisipasi program dikarenakan perempuan peserta program menolak untuk mengikuti kegiatan pendampingan dan evaluasi dari PNPM, karena mereka hanya ingin mengikuti program dana bergulir untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Program PNPM Mandiri Perkotaan di Semplak telah cukup dilaksanakan dengan baik dan bisa dikatakan berhasil. Namun dalam kenyataannya tingkat partisipasi tidak mempengaruhi tingkat keberdayaan ekonomi perempuan peserta program, karena baik tingkat partisipasi rendah dan tinggi sama-sama memiliki keberdayan tinggi. Hal tersebut dikarenakan perempuan peserta program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak telah berdaya dalam hal akses dan kontrol terhadap sumberdaya sekaligus dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan rumah tangga mereka sehari –hari.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, akses terhadap kesempatan cenderung memiliki hubungan yang paling kuat dengan tingkat partisipasi peserta program. Harapannya, tim pendamping PNPM Mandiri Perkotaan dapat lebih meningkatkan tingkat keterdedahan informasi dan pendampingan kepada perempuan peserta program. Tim pendamping PNPM Mandiri Perkotaan perlu meningkatkan partisipasi peserta program karena tingkat partisipasi peserta program cenderung memiliki hubungan dengan tingkat kemampuan ekonominya. Tim PNPM juga perlu menyusun kembali indikator keberhasilan program yang terukur dan sesuai dengan tujuan awal program yaitu memperbaiki kondisi perekonomian perempuan peserta program.

(6)

TINGKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KEBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN PESERTA PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

(PNPM) MANDIRI PERKOTAAN

Oleh :

ISSANTIA RETNO SULISTIAWATI I34070029

Skripsi

Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pada

Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(7)

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh: Nama : Issantia Retno Sulistiawati

No. Pokok : I34070029

Judul : Tingkat Partisipasi Perempuan Dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Keberdayaan Ekonomi Perempuan Peserta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Titik Sumarti, MS NIP. 19610927 198601 2 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003

(8)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

TINGKAT

PARTISIPASI

PEREMPUAN

DAN

PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KEBERDAYAAN

EKONOMI PEREMPUAN PESERTA PROGRAM NASIONAL

PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT

(PNPM)

MANDIRI

PERKOTAAN

” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN

TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Mei 2012

Issantia Retno Sulistiawati NRP: I34070029

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 1989. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Teguh Trianung dan Ibu Ita Nurcahyani. Riwayat pendidikan yang ditempuh penulis adalah taman kanak-kanak selama dua tahun di TK Mutiara Indonesia, sekolah dasar selama enam tahun di SD Harapan Ibu, sekolah menengah pertama selama tiga tahun di SLTPN 161 Jakarta, sekolah menengah atas selama tiga tahun di SMA Plus Pembangunan Jaya. Masuk universitas pada tahun 2007 ke Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).

Prestasi yang pernah diraih penulis adalah runner up lomba cerdas cermat bahasa inggris di EF (English First) fun day di tahun 2004 dan juara pertama speech contest dan story telling dalam kegiatan English Day di SLTP 161 Jakarta. Pernah bergabung di organisasi secara aktif selama duduk di bangku perkuliahan, diantaranya dalam Himpunan Mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA) pada tahun 2007-2009 dan ikut serta dalam berbagai kepanitian dalam acara – acara seni dan olahraga di IPB seperti IAC (IPB Art Contest) dan omi (Olimpiade Mahasiswa IPB) pada tahun 2008. Mulai aktif berorganisasi semenjak duduk di bangku SMA. Penulis juga memiliki minat pada bidang komunikasi dan seni.

(10)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tingkat Partisipasi Perempuan Dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Keberdayaan Ekonomi Perempuan Peserta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan”

Terima kasih yang setulus-tulusnya penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini. Terima kasih kepada Dr. Ir. Titik Sumarti MS, sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia memberikan bimbingan, meluangkan waktu, dan berbagi ilmu sehingga penulis dapat lebih memahami topik bahasan dan dapat menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak PNPM Mandiri Perkotaan Kelurahan Semplak yaitu Ibu Zubaidah beserta seluruh jajaran di sekertariat Badan Keswadayaan Masyarakat PNPM PWK Semplak serta Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor atas kerjasamanya sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

Skripsi ini bertujuan menganalisis partisipasi perempuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP), sejauhmana hubungan tingkat kemauan, kemampuan, dan kesempatan masyarakat dengan tingkat partisipsinya dalam program, serta sejauhmana hubungan tingkat partisipasi masyarakat dalam program dengan tingkat keberdayaan ekonomi perempuan peserta. Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Bogor, Mei 2012

(11)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyadari skripsi ini dapat diselesaikan karena adanya bantuan dari berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut telah membantu penulis dengan menyumbangkan pemikiran, memberikan masukan, dan mendukung penulis baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Allah SWT, atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya yang berlimpah, atas segala kemudahan, kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dan menyelesaikan pendidikan di IPB.

2. Dr. Ir. Titik Sumarti MS, sebagai dosen pembimbing, atas segala bimbingan, motivasi, saran, dan pemikirannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Dr. Soeryo Adiwibowo, MS sebagai dosen pembimbing akademik yang membantu Penulis apabila mendapat masalah di bidang akademik.

4. Ayahanda tercinta Teguh Trianung Djoko Susanto dan Ibunda tersayang Ita Nurcahyani yang telah melahirkan seorang anak yang insya Allah berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

5. Adikku tersayang Bagus Joko yang telah memberikan dukungan serta dorongan positif.

6. Keluarga besar Sekretariat PNPM Mandiri Kelurahan Semplak, Ibu Zubaidah, Ibu Rahnu dan Ibu Ninit.

7. Muhammad Irfan Abdullah yang selalu ada dalam suka dan duka, selalu sabar menunggu, membimbing dan memberi cinta dan kasih sayang dalam setiap langkah penulis.

8. Sahabat dalam masa sulit yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi penulis Hirma, Mona, Ka Arif, Ka Arta dan Bang Mimi.Sahabat terbaik Jakarta Community Kokom, Dimas, Fadhil, Banu, Tile, Keken, Bedil, Ucup, Winda, Igor, Lona, Rahmat dan Bayu.

(12)

9. Teman – teman kosan tersayang Amsetyo, bang Bismar, Rekha, Dela, Bobby, April, bang Des Carlo, Egi, Dinda dan Fitri.

10. Teman bermain terasik Dana, Kemal, Yoga, Reza, Ongky dan Chandra. 11. Dan kepada semua teman – teman KPM angkatan 44 yang tidak bisa

disebutkan satu – persatu.

Bogor, Mei 2012

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR GAMBAR……… xvii

DAFTAR LAMPIRAN... Xviii BAB I PENDAHULUAN……… 1

1.1 Latar Belakang………. 1

1.2 Perumusan Masalah……….. 4

1.3 Tujuan Penelitian……….. 4

1.4 Kegunaan Penelitian………. 4

BAB II PENDEKATAN TEORITIS……….. 6

2.1 Tinjauan Pustaka ………. 6

2.1.1 Kemiskinan……….. 6

2.1.2 Pengembangan Masyarakat dan Partisipasi………. 7

2.1.3 Partisipasi dan Pemberdayaan Perempuan………... 14

2.1.4 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ………. 19 2.2 Kerangka Pemikiran………. 21

2.3 Hipotesis Penelitian... 24

2.4 Definisi Operasional………. 24

BAB III PENDEKATAN LAPANG……… 29

3.1 Metode Penelitian………. 29

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……… 29

3.3 Teknik Penentuan Responden……….. 29

3.4 Teknik Pengumpulan Data ……….. 30

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ……… 31

BAB IV PETA SOSIAL KOMUNITAS DAN PROGRAM PNPM MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN SEMPLAK……… 32 4.1 Kondisi Geografis……… 32

4.2 Kependudukan………. 33

4.3 Aktivitas Ekonomi……… 37

4.4 Organisasi dan Kelembagaan ……….. 38

4.5 Program PNPM Mandiri……….. 41

BAB V TINGKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PROGRAM PNPM MANDIRI PERKOTAAN ……… 44

5.1 Profil Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan……… 44

5.2 Tingkat Partisipasi Perempuan dalam Program PNPM Mandiri menurut Derajat Partisipasi Arnstein………... 46

BAB VI PENGARUH FAKTOR PENDORONG TERHADAP TINGKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PROGRAM PNPM MANDIRI PERKOTAAN... 53

6.1 Pengaruh Tingkat Kemauan Terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan……… 53 6.2 Pengaruh Tingkat Kemampuan Terhadap Tingkat Partisipasi

(14)

Perempuan dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan……… 55

6.3 Pengaruh Tingkat Kesempatan Terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan……… 58

6.4 Pengaruh Tingkat Kesempatan terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan……… 60

6.5 Uji Korelasi Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Partisipasi... 62

BAB VII TINGKAT KEBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN………….. 65

7.1 Akses dan Kontrol Peserta Perempuan Program Terhadap Sumberdaya... 65

7.2 Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Akses dan Kontrol Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan………. 68

7.3 Keberdayaan Ekonomi Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan………... 69

BAB VIII PENUTUP……….. 71

8.1 Kesimpulan……….……… 71

8.2 Saran………. 72

DAFTAR PUSTAKA ……… 73

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tabel Karateristik Kepala Rumah Tangga menurut Kategori Miskin di Indonesia Tahun 2008……….. 2 Tabel 2 Tabel Karateristik Kepala Rumah tangga menurut Lapangan Pekerjaan di

Indonesia Tahun 2008……….. 2 Tabel 3 Matriks Tangga Pertisipasi Arnstein,1969………... 14 Tabel 4 Matriks Keberdayaan Ekonomi (Suharto,2005)………... 18 Tabel 5 Jumlah dan Persentase Penduduk menurut Golongan Umur di Kelurahan

Semplak Tahun 2011……… 34 Tabel 6. Jumlah dan Persentase Penduduk menurut Mobilitas Penduduk di

Kelurahan Semplak Tahun 2011……….. 35 Tabel 7 Jumlah dan Persentase Penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan

Semplak Tahun 2011……… 36 Tabel 8 Jumlah dan Persentase Penduduk menurut Kepercayaan di Kelurahan

Semplak Tahun 2011……… 37 Tabel 9 Jumlah Lembaga Pendidikan di Kelurahan Semplak Tahun 2011………….. 39 Tabel 10 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Usia di

Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 44 Tabel 11 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Status

Pernikahan di Kelurahan Semplak Tahun 2012………... 45 Tabel 12 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Pekerjaan

Utama di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 45 Tabel 13 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Usaha yang

Ditekuni Peserta di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 45 Tabel 14 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Status

Usaha yang Dijalani di Kelurahan Semplak Tahun 2012………... 46 Tabel 15 Jumlah dan Persentase Pendapatan Peserta Setelah Mengikuti PNPM-MP di

Kelurahan Semplak Tahun 2012……... 46 Tabel 16 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Jenis

Partisipasi dan Derajat Partisipasi Arnstein Kelurahan Semplak Tahun

2012………. 51

Tabel 17 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM-MP menurut Golongan Usia di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 52 Tabel 18 Hubungan Antara Tingkat Persepsi terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan

Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 53 Tabel 19 Hubungan Antara Sikap terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan Peserta

Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 54 Tabel 20 Hubungan Antara Motivasi terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan Peserta

Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun

(16)

Tabel 21 Hubungan Antara Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……… 56 Tabel 22 Hubungan Antara Tingkat Pendapatan terhadap Tingkat Partisipasi

Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……… 57 Tabel 23 Hubungan Antara Keterdedahan Informasi terhadap Tingkat Partisipasi

Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……… 59 Tabel 24 Hubungan Antara Pendamping yang Diterima terhadap Tingkat Partisipasi

Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……… 59 Tabel 25 Hubungan Antara Usia terhadap Tingkat Partisipasi Perempuan Peserta

Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 61 Tabel 26 Hubungan Antara Status Pernikahan terhadap Tingkat Partisipasi

Perempuan Peserta Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……… 61 Tabel 27 Uji Korelasi Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Partisipasi……….. 62 Tabel 28 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM menurut Akses terhadap

Sumberdaya di Kelurahan Semplak Tahun 2012………. 65 Tabel 29 Jumlah dan Persentase Perempuan Peserta PNPM menurut Kontrol terhadap

Sumberdaya di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 67 Tabel 30 Hubungan Antara Tingkat Partisipasi dan Akses terhadap Sumberdaya

dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun

2012………. 68

Tabel 31 Hubungan Antara Tingkat Partisipasi dan Kontrol terhadap Sumberdaya dalam Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 68 Tabel 32 Jumlah Persentase Tingkat Keberdayaan Ekonomi Peserta PNPM-MP di

Kelurahan Semplak Tahun 2012……….. 69 Tabel 33 Hubungan Antara Partisipasi dan Tingkat Keberdayaan Ekonomi dalam

Program PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Semplak Tahun

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Pemikiran……….. 23 Gambar 2 Teknik Sampling dalam Pengambilan Responden………... 30

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Peta Kelurahan Semplak………... 74

Lampiran 2 Diagram Struktur Organisasi Badan Keswadayaan Masyarakat PWK Semplak……….. 75

Lampiran 3 Kerangka Sampling……….. 76

Lampiran 4 Hasil Uji Statistik………. 77

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemiskinan masih menjadi permasalahan penting yang harus segera dituntaskan. Kemiskinan juga merupakan persoalan multidimensional yang tidak saja melibatkan faktor ekonomi tetapi juga sosial, budaya, dan politik. Secara harfiyah, kemiskinan berasal dari kata miskin yang berarti “tidak berharta benda.” Secara lebih luas kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga maupun kelompok yang dengan kondisi tersebut akan menimbulkan permasalahan sosial yang lain. Konsep tentang kemiskinan sangat beragam mulai dari sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukan aspek sosial dan moral. Kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup dan lingkungan dalam suatu masyarakat atau yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi (kemiskinan struktural) (Bapenas,2010).

Data yang didapat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Data terakhir memperlihatkan jumlah penduduk miskin pada bulan April 2011 mencapai angka 32.02 juta jiwa dan sebesar 12,49 persen di perkotaan. Jumlah penduduk miskin yang terus bertambah ini merupakan akibat dari gagalnya program pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketidakberhasilan program pembangunan dapat dilihat dari sifat program pembangunan yang masih top down dan sentralistik sehingga program pembangunan tidak cocok diterapkan di berbagai daerah.

Program pengembangan masyarakat berciri bottom-up, termasuk program pengentasan kemiskinan, mensyaratkan pemahaman tentang karakteristik

(20)

rumahtangga miskin itu sendiri. Dua karakteristik utama yang menentukan, menurut BPS (2008) adalah karakteristik demografi dan lapangan pekerjaan. (Tabel 1.1)

Tabel 1.1 Tabel Karakteristik Kepala Rumah Tangga Menurut Kategori Miskin di Indonesia tahun 2008

Karateristik Rumahtangga Miskin Tidak Miskin

Rata-rata jumlah anggota rumahtangga - Perkotaan - Perdesaan - Perkotaan + Perdesaan 4,70 4,61 4,64 3,86 3,74 3,79 Persentase wanita sebagai kepala rumahtangga

- Perkotaan - Perdesaan - Perkotaan + Perdesaan 14,18 12,30 12,91 14,15 13,03 13,52 Rata-rata usia kepala rumahtangga

- Perkotaan - Perdesaan - Perkotaan + Perdesaan 48,57 47,86 48,09 45,47 47,44 46,51 Sumber : BPS (2008)

Fenomena perempuan sebagai kepala rumahtangga miskin cukup besar di perkotaan (14,18 persen) dan memiliki tantangan untuk bekerja nafkah sekaligus mengurus rumahtangga. Sementara dari lapangan pekerjaan kepala rumah tangga, belum dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, maupun formal dan informal. Data menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan utama yang mendominasi di perkotaan adalah lainnya (44,72 persen).

Tabel 1.2 Tabel Karakteristik Kepala Rumahtangga Menurut Lapangan Pekerjaan di Indonesia Tahun 2008

Karateristik Rumahtangga Tidak Bekerja

Pertanian Industri Lainnya Rumah tangga miskin

- Perkotaan - Perdesaan - Perkotaan+Perdesaan 14,71 8,67 10,62 30,02 68,99 56,35 10,55 5,09 6,86 44,72 17,26 26,16 Rumahtangga tidak miskin

- Perkotaan - Perdesaan - Perkotaan +Perdesaan 15,36 7,91 11,1 9,39 55,2 35,06 12,19 5,97 8,7 63,07 30,92 45,05 Sumber : BPS (2008)

Catatan : Lainnya mencakup pertambangan, listik, gas dan air minum, konstruksi, perdagangan rumah makan dan akomodasi, transportasi,keuangan dan jasa.

Salah satu program pembangunan pemerintah yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di perkotaan adalah Program Nasional Pemberdayaan Mandiri Perkotaan. Salah satu daerah yang menerima program tersebut adalah Kota Bogor. Salah satu syarat agar program dapat berhasil dan berkelanjutan adalah adanya partisipasi dari semua pemangku kepentingan, termasuk dari

(21)

komunitas miskin itu sendiri (laki-laki maupun perempuan). Beberapa program/kegiatan di kota Bogor ditujukan khusus untuk perempuan miskin. Oleh karena itu partisipasi perempuan dalam program tersebut menjadi sangat penting. Dari data partisipasi perempuan yang didapat dari bagian program PNPMMandiri Perkotaan menunjukan tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan di kota Bogor beragam. Persentase partisipasi perempuan terendah terdapat di Kelurahan Menteng, Kecamatan Kemang sebesar 18,73 persen, sedangkan untuk persentase partisipasi perempuan yang dilihat dari jumlah peserta PNPM 2011 tertinggi terdapat di wilayah Kelurahan Semplak, Kecamatan Kemang sebesar 45,71 persen. Kelurahan Semplak, Kecamatan Kemang terletak di wilayah bagian Barat Kota Bogor dahulunya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bogor yang kemudian pada tahun 1995 menjadi bagian dari wilayah Kota Bogor. Kelurahan ini merupakan perbatasan dengan Kabupaten Bogor dimana warganya masih memiliki sosio-budaya pedesaan.

Partisipasi perempuan merupakan bagian integral dari partisipasi masyarakat. Perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai subjek pembangunan. Dalam kedudukannya sebagai subjek pembangunan, perempuan tentunya memiliki posisi dan peran yang sama untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Partisipasi masyarakat (baik laki-laki maupun perempuan), khususnya golongan miskin itu sendiri, sangat diperlukan dalam upaya pengentasan kemiskinan, salah satunya melalui program PNPM Perkotaan. Oleh karena itulah, berdasarkan data partisipasi perempuan tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai faktor-faktor yang menentukan tingkat partisipasi perempuan di wilayah Kelurahan Semplak dan pengaruhnya terhadap keberhasilan program PNPM Mandiri Perkotaan, khususnya di tingkat keberdayaan ekonomi perempuan peserta program yang mencangkup akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan manfaat program.

(22)

1.2. PerumusanMasalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, berikut adalah rumusan masalah dari penelitian ini :

1. Bagaimana tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan?

2. Faktor pendorong manakah yang paling berpengaruh terhadap tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan ?

3. Sejauhmana tingkat partisipasi perempuan berpengaruh terhadap tingkat keberdayaan ekonomi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Menganalisis tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan.

2. Menganalisis faktor pendorong manakah yang paling berpengaruh terhadap tingkat partisipasi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan. 3. Menganalisis sejauhmana tingkat partisipasi perempuan berpengaruh

terhadap tingkat keberdayaan ekonomi perempuan dalam program PNPM Mandiri Perkotaan.

1.4. Kegunaan Penelitian;

Penelitian ini dapat berguna bagi berbagai lapisan dan pihak-pihak terkait, yaitu:

1. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan masyarakat dapat memberikan pengetahuan mengenai peranan mereka dalam pembangunan, sehingga bisa ikut berpartisipasi dalam setiap tahap pelaksanaan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta pemanfaatan hasil. 2. Bagi perguruan tingggi, penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai

salah satu wujud Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian dan peningkatan pengetahuan.

(23)

3. Bagi pemerintah, Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan program-program selanjutnya, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi pelaku pembangunan.

(24)

II.

PENDEKATAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Kemiskinan

Kemiskinan dapat dikelompokkan ke dalam kemiskinan struktural, kemiskinan kultural dan kemiskinan alamiah. Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang disebabkan karena kondisi struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat tidak dapat memberikan kesempatan untuk menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia. Kemiskinan kultural merupakan kemiskinan yang disebabkan karena faktor budaya yang ada pada masyarakat, seperti malas, pola hidup kosumtif, sulit dalam mengorganisasi diri, dan sebagainya. Sedangkan kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor alam,dimana kondisi sumber daya alam yang ada pada suatu daerah tidak mendukung untuk kegiatan ekonomi produktif, melainkan secara alamiah rusak karena faktor alam maupun faktor manusia.

Pada wilayah perkotaan, salah satu ciri umum dari kondisi fisik masyarakat miskin adalah tidak memiliki akses dalam pemanfaatan sarana dan prasarana dasar lingkungan yang memadai, dengan kualitas perumahan dan permukiman yang jauh dibawah standar kelayakan dan mata pencaharian yang tidak menentu. Pada kasus kemiskinan dalam PNPM Mandiri Perkotaan, kemiskinan termasuk dalam kemiskinan struktural yang bersifat multidimensional yaitu;

1. Dimensi politik dapat dilihat dalam bentuk tidak dimilikinya wadah organisasi yang mampu memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat miskin, sehingga mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan serta berdampak pada tidak ada akses pada sumber daya dan informasi.

2. Dimensi sosial berkaitan dengan internalisasi budaya kemiskinan yang berpengaruh pada kualitas hidup manusia dan etos kerja serta masyarakat miskin tidak diintegrasikan ke dalam institusi sosial yang ada.

(25)

3. Dalam dimensi ekonomi, kemiskinan lebih tampak dalam bentuk rendahnya penghasilan sehingga masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sampai pada batas hidup yang layak.

4. Dimensi aset ditandai oleh rendahnya kepemilikan masyarakat miskin terhadap modal serta kualitas sumber daya manusia, peralatan kerja dan perumahan. (Sulistyowati,2002)

2.1.2 Pengembangan Masyarakat dan Partisipasi

Menurut Ambadar (2008), pengembangan masyarakat adalah salah satu pendekatan yang harus menjadi prinsip utama bagi seluruh unit-unit kepemerintahan maupun pihak korporasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan sosial. Bagi perusahaan, pengembangan masyarakat merupakan sebuah aktualisasi dari CSR yang lebih bermakna daripada sekedar aktivitas charity ataupun tujuh dimensi CSR lainnya. Hal ini disebabkan dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat terdapat kolaborasi kepentingan bersama antara perusahaan dengan komunitas, adanya partisipasi, produktivitas, dan keberlanjutan.

Menurut Nasdian (2006) komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu. Aktivitas suatu komunitas dicirikan dengan partisipasi dan keterlibatan langsung anggota komunitas dalam kegiatan tersebut, dimana semua usaha swadaya masyarakat diintegrasikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat untuk meningkatkan taraf hidup dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pembentukan pelayanan teknis, sifat berswadaya dan kegotongroyongan sehingga proses pembangunan berjalan efektif.

Peran serta masyarakat selama ini hanya dilihat dalam konteks yang sempit, yaitu manusia cukup dipandang sebagai tenaga kasar untuk mengurangi biaya pembangunan. Pada kondisi ini, partisipasi masyarakat hanya sebatas biaya pembangunan. Melihat kondisi ini, partisipasi masyarakat hanya sebatas pada implementasi atau penerapan program; masyarakat tidak dikembangkan dayanya menjadi kreatif dari dalam dirinya dan harus menerima keputusan yang sudah diambil “pihak luar”. Akhirnya, partisipasi menjadi bentuk yang pasif dan tidak

(26)

memiliki “kesadaran kritis” (Nasdian, 2006). Payne (1979) dalam Nasdian (2006) menjelaskan bahwa pemberdayaan ditujukan untuk membantu klien memperoleh daya (kuasa) untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang harus ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya.

2.1.2.1 Definisi Partisipasi

Terdapat banyak definisi mengenai partisipasi diantaranya adalah sebagai berikut (Masril,2011):

1. Partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan (Davis dalam Sastropoetro, 1988:13).

2. Partisipasi masyarakat adalah berbagai kegiatan orang seorang, kelompok atau badan hukum yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat, untuk berminat dan bergerak di penyelenggaraan penataan ruang (UU 24/1992).

3. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai subyek dan obyek pembangunan; keterlibatan dalam tahap pembangunan ini dimulai sejak tahap perencanaan sampai dengan pengawasan berikut segala hak dan tanggung jawabnya (Kamus Tata Ruang,1998:79).

Sistem pemerintahan yang demokratis, konsep partisipasi masyarakat merupakan salah satu konsep yang penting karena berkaitan langsung dengan hakikat demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang berfokus pada rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Partisipasi masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak masyarakat, terutama dalam pengambilan keputusan dalam tahap identifikasi masalah, mencari pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan. Ada tiga alasan utama mengapa partisipasi

(27)

masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. Kedua, masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut. Ketiga, timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Dapat dirasakan bahwa merekapun mempunyai hak untuk turut memberikan saran dalam menentukan jenis pembangunan yang akan dilaksanakan. Hal ini selaras dengan konsep man-centreddevelopment (suatu pembangunan yang dipusatkan pada kepentingan manusia), yaitu jenis pembangunan yang lebih diarahkan demi perbaikan nasib manusia dan tidak sekedar sebagai alat pembangunan itu sendiri.

2.1.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kejadian nyata apabila terpenuhi faktor-faktor yang mendukungnya, yaitu: 1. Adanya kesempatan, yaitu adanya suasana atau kondisi lingkungan yang

disadari oleh orang tersebut bahwa dia berpeluang untuk berpartisipasi.

2. Adanya kemauan, yaitu adanya sesuatu yang mendorong atau menumbuhkan minat dan sikap mereka untuk termotivasi berpartisipasi, misalnya berupa manfaat yang dapat dirasakan atas partisipasinya tersebut.

3. Adanya kemampuan, yaitu adanya kesadaran atau keyakinan pada dirinya bahwa dia mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi, bisa berupa pikiran, tenaga, waktu, atau sarana dan material lainnya (Slamet, 1994).

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan mata pencaharian. Faktor internal berasal dari individu itu sendiri. Secara teoritis, tingkah laku individu berhubungan erat atau ditentukan oleh ciri-ciri sosiologis, yaitu:

(28)

1. Jenis Kelamin; partisipasi yang diberikan oleh seorang pria dan wanita dalam pembangunan adalah berbeda. Hal ini disebabkan oleh adanya sistem pelapisan sosial yang terbentuk dalam masyarakat, yang membedakan kedudukan dan derajat antara pria dan wanita. Perbedaan kedudukan dan derajat ini, akan menimbulkan perbedaan-perbedaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Di dalam sistem pelapisan atas dasar seksualitas ini, golongan pria memiliki sejumlah hak istimewa dibandingkan golongan wanita. Dengan demikian maka kecenderungannya, kelompok pria akan lebih banyak ikut berpartisipasi.

2. Usia; perbedaan usia juga mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Dalam masyarakat terdapat pembedaan kedudukan dan derajat atas dasar senioritas, sehingga akan memunculkan golongan tua dan golongan muda, yang berbeda-beda dalam hal-hal tertentu, misalnya menyalurkan pendapat dan mengambil keputusan. Usia berpengaruh pada keaktifan seseorang untuk berpartisipasi. Dalam hal ini golongan tua yang dianggap lebih berpengalaman atau senior, akan lebih banyak memberikan pendapat dan dalam hal menetapkan keputusan.

3. Tingkat Pendidikan; demikian pula halnya dengan tingkat pengetahuan. Salah satu karakteristik partisan dalam pembangunan partisipatif adalah tingkat pengetahuan masyarakat tentang usahausaha partisipasi yang diberikan masyarakat dalam pembangunan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Semakin tinggi latar belakang pendidikannya, tentunya mempunyai pengetahuan yang luas tentang pembangunan dan bentuk serta tata cara partisipasi yang dapat diberikan. Faktor pendidikan dianggap penting karena dengan melalui pendidikan yang diperoleh, seseorang lebih mudah berkomunikasi dengan orang luar, dan cepat tanggap terhadap inovasi.

4. Tingkat Penghasilan; tingkat penghasilan juga mempengaruhi partisipasi masyarakat. Penduduk yang lebih kaya kebanyakan membayar pengeluaran tunai dan jarang melakukan kerja fisik sendiri. Sementara penduduk yang berpenghasilan pas-pasan akan cenderung berpartisipasi dalam hal tenaga. Besarnya tingkat penghasilan akan memberi peluang lebih besar bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Tingkat penghasilan ini mempengaruhi

(29)

kemampuan finansial masyarakat untuk berinvestasi. Masyarakat hanya akan bersedia untuk mengerahkan semua kemampuannya apabila hasil yang dicapai akan sesuai dengan keinginan dan prioritas kebutuhan mereka

5. Mata Pencaharian; mata pencaharian ini akan berkaitan dengan tingkat penghasilan seseorang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mata pencaharian dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Hal ini disebabkan karena pekerjaan akan berpengaruh terhadap waktu luang seseorang untuk terlibatdalam pembangunan, misalnya dalam hal menghadiri pertemuan, kerja bakti dan sebagainya.

2.1.2.3 Tingkat Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat adalah sebuah proses yang menyediakan individu suatu kesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan publik dan merupakan komponen dalam proses keputusan yang demokratis. Partisipasi masyarakat merupakan arti sederhana dari kekuasaan masyarakat (citizen power). Hal tersebut menyangkut redistribusi kekuasaan yang memperbolehkan masyarakat miskin dilibatkan secara sadar dalam proses-proses ekonomi dan politik. Partisipasi masyarakat juga merupakan strategi dimana masyarakat miskin ikut terlibat dan menentukan bagaimana pemberian informasi, tujuan dan kebijakan dibuat, jumlah pajak yang dialokasikan, pelaksanaan program-program, dan keuntungan-keuntungan seperti kontrak dan perlindungan-perlindungan diberikan. Arnstein (1995) menggambarkan partisipasi masyarakat adalah suatu pola bertingkat (ladder patern). Suatu tingkatan yang terdiri dari delapan tingkat dimana tingkatan paling bawah merupakan tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah, kemudian tingkat yang paling atas merupakan tingkat dimana partisipasi masyarakat sudah sangat besar dan kuat. Tingkatan partisipasi masyarakat di atas bisa dijelaskan sebagai berikut.

1. Manipulasi (Manipulation); pada tingkat ini partisipasi masyarakat berada di tingkat yang sangat rendah. Bukan hanya tidak berdaya, akan tetapi pemegang kekuasaan memanipulasi partisipasi masyarakat melalui sebuah program untuk mendapatkan “persetujuan” dari masyarakat. Masyarakat sering ditempatkan sebagai komite atau badan penasehat dengan maksud sebagai “pembelajaran”

(30)

atau untuk merekayasa dukungan mereka. Partisipasi masyarakat dijadikan kendaraan public relation oleh pemegang kekuasaan. Praktek pada tingkatan ini biasanya adalah program-program pembaharuan desa. Masyarakat diundang untuk terlibat dalam komite atau badan penasehat dan sub-sub komitenya. Pemegang kekuasaan memanipulasi fungsi komite dengan “pengumpulan informasi”, “hubungan masyarakat” dan “dukungan.”Dengan melibatkan masyarakat di dalam komite, pemegang kekuasaan mengklain bahwa program sangat dibutuhkan dan didukung. Pada kenyataannya, hal ini merupakan alas an utama kegagalan dari program-program pembaharuan pedesaan di berbagai daerah.

2. Terapi (Therapy); untuk tingkatan ini, kata “terapi” digunakan untuk merawat penyakit. Ketidakberdayaan adalah penyakit mental. Terapi dilakukan untuk menyembuhkan “penyakit” masyarakat. Pada kenyataannya, penyakit masyarakat terjadi sejak distribusi kekuasaan antara ras atau status ekonomi (kaya dan miskin) tidak pernah seimbang.

3. Pemberian Informasi (Informing); tingkat partisipasi masyarakat pada tahap ini merupakan transisi antara tidak ada partisipasi dengan tokenism. Kita dapat melihat dua karakteristik yang bercampur. Pertama, pemberian informasi mengenai hak-hak, tanggung jawab, dan pilihan-pilihan masyarakat adalah langkah pertama menuju partisipasi masyarakat. Kedua, pemberian informasi ini terjadi hanya merupakan informasi satu arah (tentunya dari aparat pemerintah kepada masyarakat). Akan tetapi tidak ada umpan balik (feedback) dari masyarakat. Alat yang sering digunakan dalam komunikasi satu arah adalah media massa, pamflet, poster, dan respon untuk bertanya.

4. Konsultasi (Consultation); konsultasi dan mengundang pendapat-pendapat masyarakat merupakan langkah selanjutnya setelah pemberian informasi. Arnstein menyatakan bahwa langkah ini dapat menjadi langkah yang sah menuju tingkat partisipasi penuh. Namun, komunikasi dua arah ini sifatnya tetap buatan (artificial) karena tidak ada jaminan perhatian-perhatian masyarakat dan ide-ide akan dijadikan bahan pertimbangan. Metode yang biasanya digunakan pada konsultasi masyarakat adalah survai mengenai perilaku, pertemuan antar tetangga, dan dengar pendapat. Di sini partisipasi

(31)

tetap menjadi sebuah ritual yang semu. Masyarakat pada umumnya hanya menerima gambaran statistik, dan partisipasi merupakan suatu penekanan pada berapa jumlah orang yang datang pada pertemuan, membawa pulang brosur-brosur, atau menjawab sebuah kuesioner.

5. Penentraman (Placation); strategi penentraman menempatkan sangat sedikit masyarakat pada badan-badan urusan masyarakat atau pada badan-badan pemerintah. Pada umumnya mayoritas masih dipegang oleh elit kekuasaan. Dengan demikian, masyarakat dapat dengan mudah dikalahkan dalam pemilihan atau ditipu. Dengan kata lain, mereka membiarkan masyarakat untuk memberikan saran-saran atau rencana tambahan, tetapi pemegang kekuasaan tetap berhak untuk menentukan legitimasi atau fisibilitas dari saran-saran tersebut. Ada dua tingkatan dimana masyarakat ditentramkan: (1) kualitas pada bantuan teknis yang mereka miliki dalam membicarakan prioritas mereka; (2) tambahan dimana masyarakat diatur untuk menekan prioritas tersebut.

6. Kemitraan (Partnership); pada tingkat kemitraan, partisipasi masyarakat memiliki kekuatan untuk bernegosiasi dengan pemegang kekuasaan. Kekuatan tawar menawar pada tingkat ini adalah alat dari elit kekuasaan dan mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Kedua pemeran tersebut sepakat untuk membagi tanggung jawab perencanaan dan pengambilan keputusan melalui badan kerjasama, komite-komite perencanaan, dan mekanisme untuk memecahkan kebuntuan masalah. Beberapa kondisi untuk membuat kemitraan menjadi efektif adalah: (1) adanya sebuah dasar kekuatan yang terorganisir di dalam masyarakat di mana pemimpin pemimpinnya akuntabel; (2) pada saat kelompok memiliki sumber daya keuangan untuk membayar pemimpinnya, diberikan honor yang masuk akan atas usaha-usaha mereka; (3) ketika kelompok memiliki sumber daya untuk menyewa dan mempekerjakan teknisi, pengacara, dan manajer (community organizer) mereka sendiri.

7. Pendelegasian Kekuasaan (Delegated Power); pada tingkat ini, masyarakat memegang kekuasaan yang signifikan untuk menentukan program-progam pembangunan. Untuk memecahkan perbedaan-perbedaan, pemegang kekuasaan perlu untuk memulai proses tawar menawar dibandingkan dengan memberikan respon yang menekan.

(32)

8. Pengawasan Masyarakat (Citizen Control); pada tingkat tertinggi ini, partisipasi masyarakat berada di tingkat yang maksimum. Pengawasan masyarakat di setiap sektor meningkat. Masyarakat meminta dengan mudah tingkat kekuasaan (atau pengawasan) yang menjamin partisipan dan penduduk dapat menjalankan sebuah program atau suatu lembaga akan berkuasa penuh baik dalam aspek kebijakan maupun dan dimungkinkan untuk menegosiasikan kondisi pada saat di mana pihak luar bisa menggantikan mereka.

Tabel 2.1 Matriks Tangga Partisipasi Arnstein, 1969

Tangga/Tingkatan Partisipasi Hakikat Kesertaan Tingkatan Pembagian Kekuasaan 1.Manipulasi (Manipulation) Permainan oleh pemerintah

Tidak ada partisipasi (Non-Participant) 2.Terapi (Therapy) Sekedar agar masyarakat

tidak marah/mengobati 3.Pemberitahuan (Information) Sekedar pemberitahuan searah/sosialisasi Tokenisme/sekedar

justifikasi agar masyarakat mengiyakan (Degree of Tokenism)

4.Konsultasi (Consultation) Masyarakat didengar, tapi tidak selalu dipakai sarannya

5.Penentraman (Placation) Saran masyarakat diterima tapi tidak selalu dilaksanakan

6.Kemitraan (Partnership) Timbal-balik dinegosiasikan

Tingkatan kekuasaan ada di masyarakat

(Degree of Citizen Power) 7. Pendelegasian Kekuasaan (Delegated power) Masyarakat diberi kekuasaan (sebagian/seluruh program) 8. Kontrol Masyarakat (Citizen control)

Sepenuhnya dikuasai oleh masyarakat

Sumber: Suciati, 2006

2.1.3 Partisipasi dan Pemberdayaan Perempuan

Angka kemiskinan di dunia menunjukan bahwa 2/3 perempuan di dunia termasuk kategori miskin. Perempuan masih menjadi pihak yang dirugikan oleh kemiskinan dan dipinggirkan oleh proses pembangunan. Dalam bidang pendidikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal masih lebih banyak diberikan kepada laki-laki dibanding perempuan. Di Indonesia 65 persen anak tidak sekolah adalah perempuan. Dalam bidang kesehatan angka kematian

(33)

ibu, merupakan angka terbesar di Asia yaitu 375 per 100.00 kelahiran. (Masril,2011)

Untuk pembangunan keterlibatan perempuan, masih banyak di sektor domestik dibandingkan dalam sektor publik. Perempuan, terutama di kalangan miskin seringkali menjadi penerima informasi kedua karena tidak pernah terlibat dalam rembug-rembug yang diselengarakan untuk memecahkan permasalahan masyarakat. Memang dibeberapa tempat kehadiran perempuan dalam penentuan keputusan terjadi walaupun jumlahnya relatif kecil, akan tetapi seringkali suaranya kalah dengan suara laki-laki yang jumlahnya cukup besar, bahkan kadang-kadang mereka hanya ikut hadir tetapi tidak bisa memberikan suaranya. Padahal rembug-rembug yang dilakukan warga merupakan asset yang besar sebagai modal sosial untuk melibatkan masyarakat dalam proses memecahkan persoalan kehidupan mereka. Menjadi strategis melibatkan perempuan dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi, karena:

1. Penghargaan terhadap perempuan sebagai manusia yang merdeka yang berhak untuk menentukan pemecahan masalah yang dihadapinya.

2. Ada pemecahan masalah-masalah; termasuk masalah kemiskinan yang menyangkut perempuan akan lebih tepat apabila dibicarakan bersama dengan perempuan karena merekalah yang betul-betul merasakan masalah dan kebutuhannya. Keputusan yang diambil hanya oleh kaum laki-laki seringkali hanya berhubungan dengan „dunia laki-laki‟ dan tidak mempunyai sensitivitas kepada masalah perempuan. Bila memikirkan masalah perempuanpun seringkali dasarnya tidak kuat karena mereka tidak mengalami masalahnya. 3. Memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjalankan tanggung

jawab sosialnya sebagai manusia.

4. Potensi yang besar yang dipunyai oleh perempuan, akan sangat berarti apabila digunakan bukan hanya sektor domestik akan tetapi juga dalam sektor publik sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

5. Keterlibatan dalam semua proses pembagunan memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang sama.

(34)

Pendekatan pembangunan yang dipakai adalah pendekatan yang adil dan setara, sehingga ada jaminan terbukannya seluruh akses baik bagi laki-laki maupun perempuan untuk ikut berperan aktif dalam seluruh kegiatan masyarakat, karena sebagai manusia laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Pendekatan yang sejajar dan setara memberi peluang kemitraan bagi laki-laki dan perempuan sehinggga akan saling melengkapi sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing bukan untuk saling menguasai. Pada kenyataanya perempuan harus berjuang untuk melibatkan diri dalam proses pembangunan. Makin banyak pembangunan tersebut semakin memunculkan fenomena mensubordinsaikan perempuan. Selama ini bukan pembangunan untuk perempuan akan tetapi perempuan untuk pembangunan. Upaya memberdayakan perempuan perlu terus dilakukan agar mereka tidak terlibat sebagai objek melainkan sebagai subjek dan memberikan seluruh potensinya untuk proses pembangunan.

Proses pembangunan, seperti yang didefinisikan oleh sebagaian besar agen-agen pembanguanan, memerlukan keterlibatan aktif kelompok sasaran sebagai peserta dalam proses pembangunan itu, mereka tidak boleh hanya menjadi penerima bantuan proyek yang pasif, tetapi harus memperbaiki kapasitas mereka agar mampu mengenali dan mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Untuk sampai definisi ini, proses pembangunan perempuan harus mengkombinasikan konsep kesetaraan gender dan konsep pemberdayaan perempuan dimana perempuan dapat terlibat dalam semua proses pembangunan.

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki merupakan tujuan hakiki pembangunan perempuan, maka wajar pemberdayaan perempuan menjadi alat utama untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mewujudkan kesetaraan perempuan. Menurut Sudirja (2007), terdapat lima tingkat kesetaraan perempuan agar perempuan terlibat dalam proses pembangunan, yaitu :

1. Kesejahteraan; perempuan lebih dianggap sebagai penerima pasif kesejahteraan. Kesenjangan gender dapat diidentifikasi melalui tingkat kesejahteraan yang berbeda diantara laki-laki dan perempuan dengan indikator keadaan gizi, angka kematian dan lain sebagainya. Pemberdayaan perempuasn tidak terjadi secara murni pada tingkat kesejahteraan ini karena tindakan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat mensyaratkan akses perempuan atas

(35)

sumber daya harus meningkat dan ini berarti perempuan maju ke tahap berikutnya.

2. Akses; tingkat produktivitas perempuan lebih rendah karena adanya pembatasan akses atas sumberdaya pembangunan dan produksi dalam masyarakat, seperti tanah, kredit, lapangan kerja dan pelayanan. Mengatasi kesenjangan gender berarti akan meningkatkan akses perempuan sehingga setara dengan laki-laki. Pemberdayaan berarti perempuan disadarkan akan situasi-situasi yang tidak adil ini dimana kesadaran baru tersebut akan mendorong untuk berjuang mendapatkan haknya , termasuk memperoleh akses yang setara dan adil atas berbagai macam sumber daya baik di dalam rumah tangga komunitas dan masyarakat.

3. Kesadaran Kritis; tingkat kesadaran ini akan meningkatkan kesadaran perempuan bahwa masalah-masalah mereka tidak bersal dari ketidakmampuan pribadi mereka, melainkan karena ditundukan oleh sistem sosial diskriminasi yang sudah terinstitusi di dalam diri perempuan. Kesadaran ini akan membangkitkan kemampuan perempuan untuk menganalisis masyarakat secara kritis dan mengenai semua hal yang dianggap perlu “normal” atau bagian dari “pemberian dunia” yang permanen dan tidak bisa diubah jika menyebabkan ketidakadilan bagi perempuan. Keyakinan pada kesetaraan gender ni merupakan elemen ideologis yang sangat penting dalam proses pemberdayaan, yang menyediakan basis konseptual untuk penggalangan kekuatan menuju keadilan dan kesetaraan perempuan.

4. Partisipasi; konsep partisipasi disini diartikan bahwa perempuan setara terhadap laki-laki untuk terlibat secara aktif dalam proses pembangunan. Kesetaraan dalam tingkat ini diartikan sebagai partisipasi setara perempuasn dalam proses pengambilan keputusan.Dalam sebuah proyek pembangunan, partisipasi dapat berarti bahwa perempuan perempuan diwakili oleh perempuan dalam proses penilaian kebutuhan, identifikasi masalah, perencanaan proyek, manajemen, penerapan dan evaluasi. “Kesetaraan dalam partisipasi” juga berarti melibatkan perempuan dari komunitas dampingan dalam proses pengambilan keputusan dikomunitasnya. Kesetaraan dalam partisipasi ini tidak mudah diperoleh. Mobilisasi perempuan yang meningkat akan menghasilkan

(36)

meningkatnya jumlah perempuan yang duduk dalam institusi-institusi yang berhak mengambil keputusan. Meningkatnya jumlah perempuan dalam posisi-posisi penting dalam komuitasnya merupakan hasil pemberdayaan sekaligus menjadi sumbangan potensial bagi peningkatan upaya pemberdayaan perempuan.

5. Kontrol; partisipasi perempuan yang meningkat pada proses pengambilan keputusan akan berdampak pada akses dan distribusi keuntungan yang adil bagi perempuan jika partisipasi tersebut diikuti dengan kontrol yang meningkat pula atas faktor-faktor produksi. Kesetaraan dalam hal kontrol berarti sebuah keseimbangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, dimana tidak ada satu pihak pun berada di bawah dominasi yang lainnya. Ini berarti perempuan mempunyai kekuasaan yang sama dengan laki-laki untuk mempengaruhi masa depan mereka dan masa depan masyarakat mereka. Hanya dengan memiliki kontrol inilah perempuan dapat meningkatkan aksesnya terhadap sumberdaya dan karenannya akan mensejahterakan diri dan anak-anaknya. Kesetaraan dalam partisipasi dan kontrol merupakan persyaratan yang diperlukan jika kita mau membuat kemajuan pada kesetaraan gender dalam hal kesejahteraan.

Mengacu pada konsep tersebut, maka tingkat keberhasilan program dilihat dari sejauhmana tercapai tingkat keberdayaan perempuan yang diukur dari tingkat akses dan kontrol perempuan dalam program tersebut. Hal ini juga merujuk dari Soeharto (2005), tentang indikator pemberdayaan ekonomi

Tabel 2.2 Matriks Keberdayaan Ekonomi (Suharto, 2005)

Jenis Hubungan Kekuasaan Kemampuan Ekonomi Kekuasaan di dalam:

Meningkatknya kesadaran dan keinginan untuk berubah

Evaluasi positif terhadap kontribusi ekonomi dirinya Keinginan ekonomi yang setara

Keinginan memiliki kesamaan hak terhadap sumber yang ada pada rumahtangga dan masyarakat

Kekuasaan untuk:

Meningkatnya kemampuan individu untuk berubah. Meningkatnya kesempatan untuk memperoleh akses.

Akses terhadap pelayanan keuangan mikro Akses terhadap pendapatan

Akses terhadap aset-aset produktif dan kepemilikan rumahtangga

Akses terhadap pasar

Penurunan beban dalam pekerjaan domestik, termasuk perawatan anak

(37)

Kekuasaan atas:

Perubahan pada hambatan- hambatan sumber dan kekuasaan pada tingkat rumahtangga, masyarakat dan makro.

Kekuasaan atau tindakan individu untuk mengahadapi hambatan-hambatan tersebut.

Kontrol atas penggunaan pinjaman dan tabungan serta keuntungan yang dihasilkannya

Kontrol atas aset produktif dan kepemilikan keluarga Kontrol atas alokasi tenaga kerja keluarga

Tindakan individu menghadapi diskriminasi atas akses terhadap sumber dan pasar

Kekuasaan dengan:

Meningkatnya solidaritas atau tindakan bersama dengan orang lain untuk menghadapi hambatan-hambatan sumber dan kekuasaan pada tingkat rumahtangga, masyarakat dan makro

Bertindak sebagai model peranan bagi orang lain terutama dalam pekerjaan publik dan modern

Mampu memberi gaji terhadap orang lain

Tindakan bersama menghadapi diskriminasi pada akses terhadap sumber (termasuk hak atas tanah), pasar dan diskriminasi gender pada konteks ekonomi makro Sumber: Suharto, 2005

2.1.4 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM –MP)

Pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki, yaitu ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat. Keberdayaan kelembagaan masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun organisasi masyarakat warga yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin, yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal, baik aspek sosial, ekonomi maupun lingkungan, termasuk perumahan dan permukiman. Penguatan kelembagaan masyarakat yang dimaksud terutama juga dititikberatkan pada upaya penguatan perannya sebagai motor penggerak dalam „melembagakan' dan „membudayakan' kembali nilai-nilai kemanusiaan serta kemasyarakatan (nilai-nilai dan prinsip-prinsip di PNPM-MP), sebagai (nilai-nilai-(nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat setempat. Melalui kelembagaan masyarakat tersebut diharapkan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang masih terjebak pada lingkaran kemiskinan, yang pada gilirannya antara lain diharapkan juga dapat tercipta lingkungan kota dengan perumahan yang lebih layak huni di dalam permukiman yang lebih responsif, dan dengan sistem sosial

(38)

masyarakat yang lebih mandiri melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kepada kelembagaan masyarakat tersebut yang dibangun oleh dan untuk masyarakat, selanjutnya dipercaya mengelola dana abadi PNPM-MP secara partisipatif, transparan, dan akuntabel. Dana tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membiayai kegiatan-kegiatan penanggulangan kemiskinan, yang diputuskan oleh masyarakat sendiri melalui rembug warga, baik dalam bentuk pinjaman bergulir maupun dana waqaf bagi stimulan atas keswadayaan masyarakat untuk kegiatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, misalnya perbaikan prasarana serta sarana dasar perumahan dan permukiman.

Model tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk penyelesaian persoalan kemiskinan yang bersifat multi dimensional dan struktural, khususnya yang terkait dengan dimensi-dimensi politik, sosial, dan ekonomi, serta dalam jangka panjang mampu menyediakan aset yang lebih baik bagi masyarakat miskin dalam meningkatkan pendapatannya, meningkatkan kualitas perumahan dan permukiman meraka maupun menyuarakan aspirasinya dalam proses pengambilan keputusan. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut, maka dilakukan proses pemberdayaan masyarakat, yakni dengan kegiatan pendampingan intensif di tiap kelurahan sasaran. Melalui pendekatan kelembagaan masyarakat dan penyediaan dana bantuan langsung ke masyarakat kelurahan sasaran, PNPM-MP cukup mampu mendorong dan memperkuat partisipasi serta kepedulian masyarakat setempat secara terorganisasi dalam penanggulangan kemiskinan. Artinya, Program penanggulangan kemiskinan berpotensial sebagai “gerakan masyarakat”, yakni; dari, oleh dan untuk masyarakat. (Petunjuk Teknis Operasional Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri,2008)

(39)

2.1.4.1 Tujuan PNPM-MP

1. Memperbaiki sarana dan prasarana dasar perumahan dan pemukiman masyarakat miskin di perkotaan.

2. Mengenalkan dan membangun upaya-upaya peningkatan pendapatan secara mandiri dan berkelanjutan untuk masyarakat miskin di perkotaan, baik masyarakat yang telah lama miskin, masyarakat yang pendapatannya menjadi tidak berarti karena inflasi, maupun masyarakat yang kehilangan sumber nafkah karena krisis ekonomi.

3. Tercipta organisasi masyarakat warga yang memiliki pola kepemimpinan kolektif yang representatif, akseptabel, inklusif, tanggap, dan akuntabel yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin perkotaan dan memperkuat suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik.

4. Memperkuat agen-agen lokal (pemerintah, dunia usaha, dan kelompok peduli) untuk membantu masyarakat miskin.

2.1.4.2 Sasaran PNPM-MP

Kelompok sasaran program PNPM Mandiri perkotaan adalah warga masyarakat miskin perkotaan, sesuai dengan rumusan kriteria kemiskinan setempat yang disepakati oleh warga, termasuk di dalamnya adalah masyarakat yang telah lama miskin, masyarakat yang penghasilannya merosot dan tidak berarti akibat inflasi serta masyarakat yang kehilangan sumber nafkah karena krisis ekonomi.

2.2 Kerangka Pemikiran

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) merupakan program pemerintah yang secara substansi berupaya dalam penanggulangan kemiskinan melalui konsep memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat, sehingga dapat terbangun "Gerakan Kemandirian Penanggulangan Kemiskinan dan Pembangunan Berkelanjutan”.

(40)

Program ini memiliki tujuan yaitu: (1) memperbaiki sarana dan prasarana dasar perumahan dan pemukiman masyarakat miskin di perkotaan, (2) mengenalkan dan membangun upaya-upaya peningkatan pendapatan secara mandiri dan berkelanjutan untuk masyarakat miskin di perkotaan, (3) tercipta organisasi masyarakat warga yang memiliki pola kepemimpinan kolektif yang representatif, akseptabel, inklusif, tanggap, dan akuntabel yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin perkotaan dan memperkuat suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik dan (4) memperkuat agen-agen lokal (pemerintah, dunia usaha, dan kelompok peduli) untuk membantu masyarakat miskin.

Partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam setiap kegiatan di dalam PNPM-MP tersebut. Salah satu program (kegiatan) PNPM-MP yang sasarannya ditujukan pada perempuan miskin adalah program dana bergulir. Partisipasi perempuan peserta program dana bergulir dipengaruhi oleh faktor tingkat kemauan, kemampuan, dan kesempatan peserta program. Tingkat kemauan peserta program meliputi persepsi dan sikap peserta terhadap program dan motivasi peserta untuk terlibat dalam program. Tingkat kemampuan peserta program meliputi tingkat pendidikan dan pendapatan peserta. Tingkat kesempatan peserta program meliputi tingkat keterdedahan informasi peserta dan tingkat pendampingan yang diterima peserta dari pihak perusahaan. Serta mencakup faktor demografi: usia dan status perkawinan.

Partisipasi perempuan diukur dari tingkat partisipasi Arnstein, yaitu: manupulasi, terapi, pemberitahuan, konsultasi, penentraman, kemitraan, pendelegasian kekuasaan dan kontrol masyarakat. Selanjutnya digolongkan menjadi tiga tingkat partisipasi: rendah, sedang, dan tinggi. Partisipasi perempuan dalam program ini berpengaruh terhadap tingkat keberdayaan ekonomi perempuan peserta program, mencakup: akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan manfaat program. Akses mencakup: Akses terhadap pelayanan keuangan mikro, Akses terhadap pendapatan, Akses terhadap aset-aset produktif dan kepemilikan rumahtangga, Akses terhadap pasar, Penurunan beban dalam pekerjaan domestik, termasuk perawatan anak. Serta kontrol mencakup: Kontrol atas penggunaan pinjaman dan tabungan serta keuntungan yang dihasilkannya,

(41)

kontrol atas aset produktif dan kepemilikan keluarga, kontrol atas alokasi tenaga kerja keluarga. (Gambar 1)

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan:

:mempengaruhi - - - : variabel yang diteliti

Tingkat Keberdayaan Ekonomi Perempuan

Akses : Akses terhadap pelayanan keuangan mikro, Akses terhadap pendapatan, Akses terhadap pasar, Penurunan beban dalam pekerjaan domestik, termasuk perawatan anak

Kontrol : Kontrol atas penggunaan pinjaman dan tabungan serta keuntungan yang dihasilkannya, Kontrol atas alokasi tenaga kerja keluarga.

Keberhasilan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri

Perkotaan (PNPM-MP)

Faktor-faktor Pendorong Partisipasi Tingkat Kemauan

Persepsi terhadap manfaat program Sikap terhadap program

Motivasi untuk terlibat dalam program

Tingkat Kemampuan

Tingkat pendidikan Tingkat pendapatan

Tingkat Kesempatan

Tingkat keterdedahan informasi Tingkat pendampingan yang diterima

Faktor Demografi Usia Status Perkawinan Tingkat Partisipasi Perempuan Manipulasi Terapi Pemberitahuan Konsultasi Penenangan Kemitraan Pendelegasian Kontrol masyarakat

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Teknik Sampling dalam Pengambilan Responden

Referensi

Dokumen terkait

airlock antara bagian dalam dan luar. Akses ambulans ke unit darurat tidak akan melalui koridor rumah sakit terbuka untuk akses publik. Semua ambulans harus ditandai dengan

Santunan Kematian Masyarakat Pandeglang atau disingkat dengan SAKTI MAPAN merupakan program Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam rangka memberikan jaminan sosial

Hal ini tampak dari masih banyaknya peserta didik yang hanya mendengarkan saja penjelasan dari guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung, sehingga terkesan

Istilah batu bata tanpa dibakar yang dimaksud pada penelitian ini merupakan batu bata yang terbuat dari tanah lempung yang dicampur dengan bahan aditif seperti limbah karbit dan

Sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat 1 POJK 42/2020, Transaksi ini merupakan Transaksi Afiliasi yang dilakukan oleh CAP2 yang merupakan perusahaan terkendali Perseroan, dan

Penerima Wasiat Menurut Kompilasi Hukum Islam yaitu seseorang baik laki maupun perempuan yang mendapat wasiat dari pemberi wasiat yang tidak dinyatakan dihukum

1) Partisipasi (Participation): Setiap orang atau warga masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilan keputusan, baik

Bagaimana laki-laki dan perempuan memiliki dampak yang berbedaa terhadap kemiskinan didpengaruhi oleh banayak faktor, salah satunya adalah karena ketimpangan gender yang