• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Think Talk Write (TTW) pada Kelas VIII SMPN 33 Satap Hulu Sungai Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Think Talk Write (TTW) pada Kelas VIII SMPN 33 Satap Hulu Sungai Tengah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 7, No. 1, Januari-Juni, 2021, Hal. 51 – 58, P-ISSN:2460-349X, E-ISSN: 2615-7640

Artikel Penelitian

Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Think Talk Write (TTW) pada

Kelas VIII SMPN 33 Satap Hulu Sungai Tengah

Zainal Ilmi *

Guru SMP Negeri 33 Satap Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

Histori artikel:

Pengiriman: Maret 2021 Revisi: April 2021 Diterima: April 2021

ABSTRAK

Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Think Talk Write (TTW) Pada Kelas VIII SMPN 33 Satap Hulu Sungai Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar, keaktifan peserta didik, dan pelaksanaan pembelajaran melalui model Think Talk Write (TTW) materi Keunggulan dan Keterbatasan Antar ruang di kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 16 orang peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data penelitian ini berasal dari evaluasi dan lembar observasi keaktifan peserta didik serta pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar, keaktifan peserta didik, dan pelaksanaan pembelajaran melalui model Think Talk Write (TTW) di kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah. Kata Kunci: Hasil belajar, Keunggulan dan Keterbatasan Antarruang, Think

Talk Write (TTW) *Email korespondensi:

[email protected]

Pendahuluan

Mata pelajaran IPS pada hakikatnya ada-lah telaah tentang manusia dalam hubungan sosialnya atau kemasyarakatannya. Manusia sebagai makhluk sosial akan mengadakan hubungan sosial dengan sesamanya, mulai dari keluarga sampai masyarakat, baik secara lokal, nasional, regional, bahkan global (Muk-minan, dkk, 2017:5). Capaian hasil belajar pe-serta didik dalam proses pembelajaran IPS di kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Ten-gah belum optimal yaitu 45% saja peserta didik tuntas klasikal. Di samping itu, peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran,

hanya sekitar 55% peserta didik aktif mengamati, menggali informasi dari berbagai sumber, mengemukakan pendapat, berdiskusi, dan mengomunikasi. Berdasarkan fakta dalam proses pembelajaran IPS yang berlangsung di kelas yang penulis ampu, di antara penyebab kondisi tersebut dapat berasal dari guru yang belum inovatif menggunakan berbagai model pembelajaran dalam pembelajaran IPS agar dapat mendorong aktivitas peserta didik.

Para ahli menyampaikan pendapat tentang belajar dan hasil belajar. Slameto (2013:2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku

(2)

se-bagai hasil dari interaksi dengan lingkungann-ya dalam memenuhi kebutuhan hidupnlingkungann-ya. Pe-rubahan-perubahan itu akan nyata dalam se-luruh aspek tingkah laku. Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Djamarah (2015:13) juga berpendapat senada dengan menyebutkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam

interaksi dengan lingkungannya yang

menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan ber-langsung sepanjang waktu menuju pada suatu perubahan. Trianto (2013:16-17) berpendapat bahwa perubahan yang dimaksud adalah pe-rubahan perilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu. Sedangkan pen-galaman merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarn-ya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan hasil belajar merupakan perubahan positif yang diperoleh seseorang dari aktivitas belajar dan ditunjukkan dengan bertambahnya pengetahuan dan keterampi-lan, dan sikap yang berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Para ahli telah menun-jukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemam-puan berpikir kritis (Trianto, 2013:59).

Pendapat senada dikemukakan oleh

Rus-man (2014:202) bahwa pembelajaran

kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara ko-laboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Masih menurut Rus-man (2014:203) bahwa dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang

dil-akukan antara guru dengan peserta didik, pe-serta didik dengan pepe-serta didik, dan pepe-serta didik dengan guru.

Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan dalam proses pembela-jaran adalah model Think Talk Write atau bi-asa disingkat TTW. Huda (2014:218) me-nyebutkan bahwa Think Talk Write (TTW) adalah strategi yang memfasilitasi latihan ber-bahasa secara lisan dan menulis ber-bahasa terse-but dengan lancar. Strategi ini pertama kali diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin didasarkan pada pemahaman bahwa belajar adalah sebuah perilaku sosial. Strategi TTW mendorong peserta didik untuk berpikir, ber-bicara, dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu.

Sebagaimana namanya, strategi ini mem-iliki sintak yang sesuai dengan urutan yang ada di dalamnya, yaitu think (berpikir), talk (berbicara/berdiskusi) dan write (menulis) seperti diungkapkan oleh Huda (2014:218-219) berikut ini.

Tahap 1: Think yaitu peserta didik mem-baca teks berupa soal kontekstual tentang ke-hidupan sehari-hari. Pada tahap ini peserta didik secara individu memikirkan kemung-kinan jawaban (strategi penyelesaian), mem-buat catatan kecil tentang ide-ide yang ter-dapat pada bacaan, dan hal-hal yang tidak dipahami dengan bahasanya sendiri.

Tahap 2: Talk yaitu peserta didik diberi

kesempatan untuk membacakan hasil

penyelidikannya pada tahap pertama. Pada tahap ini peserta didik merefleksikan, me-nyusun, serta menguji ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Kemajuan komunikasi pe-serta didik akan terlihat pada dialognya dalam berdiskusi, baik dalam bertukar ide dengan orang lain ataupun refleksi mereka sendiri yang diungkapkannya kepada orang lain.

Tahap 3: Write yakni peserta didik menu-liskan ide-ide yang diperolehnya dari kegiatan tahap pertama dan kedua. Tulisan ini terdiri atas landasan konsep yang digunakan, ket-erkaitan dengan materi sebelumnya, strategi penyelesaian, dan solusi yang diperoleh.

Menurut Huda (2014:220) pembelajaran yang menerapkan model Think Talk Write (TTW) dapat dirancang sesuai langkah-langkah berikut ini: (1) Peserta didik

(3)

mem-baca teks dan membuat catatan dari hasil bacaan individual (think) untuk dibawa ke fo-rum diskusi; (2) Peserta didik berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu ke-lompok untuk membahas isi catatan (talk). Pemahaman dibangun melalui interaksi dalam diskusi, karena itu diskusi diharapkan dapat menghasilkan solusi atas soal yang diberikan; (3) Peserta didik mengonstruksi sendiri pengetahuan yang memuat pemahaman dan komunikasi dalam bentuk tulisan (write); dan (4) Kegiatan akhir pembelajaran adalah mem-buat refleksi dan kesimpulan atas materi yang dipelajari. Sebelum itu, dipilih satu atau be-berapa orang peserta didik sebagai perwaki-lan kelompok untuk menyajikan jawaban, se-dangkan kelompok lain diminta memberikan tanggapan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disim-pulkan bahwa model Think Talk Write (TTW) ini melatih peserta didik untuk mencoba sendiri menyelesaikan soal dengan aktivitas mengamati dan mencatat hal-hal penting se-bagai bahan yang akan dibawa dalam diskusi kelompok untuk merumuskan jawaban yang benar, serta mengomunikasikan hasil diskusi kelompok dengan santun.

Menurut Huda, Fatkhan Amirul (2017) kelebihan model Think Talk Write (TTW) se-bagai berikut: (1) Mengembangkan pemeca-han yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar; (2) Memberikan soal dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif peserta didik; (3) Berinteraksi dan berdiskusi dengan kelompok akan melibatkan peserta didik secara aktif belajar; dan (4) Membiasakan peserta didik berpikir dan berkomunikasi dengan teman, guru, dan bahkan dengan diri mereka sendiri.

Di samping memiliki kelebihan, model Think Talk Write (TTW) juga memiliki keku-rangan seperti disampaikan oleh Huda, Fat-khan Amirul (2017), yaitu: (1) Ketika peserta didik bekerjasama dalam kelompok itu mudah kehilangan kemampuan dan kepercayaan, ka-rena didominasi peserta didik yang mampu; (2) Guru harus menyiapkan semua media dengan matang agar dalam menerapkan mod-el Think Talk Write (TTW) tidak mengalami kesulitan; (3) Model Think Talk Write (TTW) adalah model pembelajaran baru di sekolah,

peserta didik belum terbiasa belajar dengan langkah-langkah pada model ini sehingga cenderung kaku dan pasif; dan (4) Kesulitan mengembangkan lingkungan social peserta didik.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Peningkatan hasil belajar me-lalui penggunaan model Think Talk Write (TTW); (2) Peningkatan aktivitas belajar pe-serta didik melalui penggunaan model Think Talk Write (TTW); dan (3) Pelaksanaan proses

pembelajaran materi Keunggulan dan

Keterbatasan Antarruang melalui model Think Talk Write (TTW).

Metodologi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah yang beralamat di Desa Mangunang Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII semester genap ta-hun pelajaran 2019/2020 dan berlangsung dari bulan Januari sampai Juni 2020 dari per-siapan penelitian, merancang RPP, memper-siapkan lembar observasi pelaksanaan pem-belajaran dan aktivitas belajar peserta didik, instrumen tes, pelaksanaan tindakan di kelas, penyusunan laporan hasil, dan seminar penelitian. Subjek pada penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah 16 orang peserta didik terdiri dari 9 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus sesuai dengan langkah-langkah penelitian yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi seperti pendapat Arikunto, dkk (2014:16) tentang model penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

Data pada penelitian ini dikumpulkan me-lalui tes hasil belajar dan lembar observasi yang terdiri dari 2 jenis, yaitu lembar observa-si aktivitas belajar peserta didik dan lembar obervasi pelaksanaan pembelajaran melalui

Think Talk Write (TTW). Hasil persentase

(4)

Tabel 1. Kategori Aktivitas Belajar Peserta Didik No Persentase Kategori 1 86% - 100% Sangat Aktif 2 71% - 85% Aktif 3 56% - 70% Cukup Aktif 4 ≤55% Kurang Aktif

(Sumber: Adaptasi Mukminan, dkk, 2017:42)

Hasil Pelaksanaan Pembelajaran

dikategorikan berdasarkan tabel berikut: Tabel 2. Kategori Pelaksanaan Pembelajaran

No Persentase Kriteria 1 91% - 100% Sangat Baik 2 81% - 90% Baik 3 71% - 80% Cukup 4 61% - 70% Kurang 5 ≤ 60% Sangat Kurang

(Sumber: Adaptasi Kemdikbud, 2019:82) Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu: (1) Keberhasilan hasil belajar peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah jika terdapat ≥85% tuntas klasikal dengan ketuntasan individual ≥60%; (2) Keaktifan belajar peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah meningkat dengan kategori aktif ≥71% dan (3)

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran

meningkat dengan kategori baik ≥81%. Hasil dan Pembahasan

Perencanaan Siklus I, Pada tahap ini ada beberapa persiapan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, di antaranya merancang RPP sesuai model Think Talk Write (TTW), mem-persiapkan lembar observasi yang terdiri dari 2 macam, yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dan aktivitas belajar peserta didik, serta instrumen tes yang akan

digunakan. Perencanaan terkait waktu

pelaksanaan tindakan juga dilakukan sesuai dengan jadwal mengajar di kelas.

Pelaksanaan dan Observasi Siklus I, Per-temuan 1 siklus I berlangsung pada hari Rabu tanggal 15 Januari 2020 jam pelajaran 6-7 dan membahas keunggulan dan keterbatasan an-tar ruang dalam permintaan, penawaran, dan teknologi. Pada pertemuan 1 siklus I ini semua peserta didik hadir sehingga jumlah peserta evaluasi lengkap sebanyak 16 orang. Hasil analisis data menunjukkan terdapat 10 orang

yang tuntas belajar dengan persentase ketun-tasan klasikal 62,50% dan nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik adalah 62.

Hasil analisis observasi aktivitas belajar menggambarkan aktivitas peserta didik pada pertemuan pertama 61,03% dengan kategori cukup aktif. Aktivitas peserta didik mencatat informasi terkait permasalahan yang disam-paikan guru masih perlu ditingkatkan, begitu juga dengan aktivitas menanggapi hasil presentasi kelompok lain dan menanya hal-hal yang belum jelas. Peserta didik Nampak masih menyesuaikan diri dengan model Think Talk

Write (TTW) yang digunakan dalam proses

pembelajaran ini karena mereka masih belum terbiasa dan guru berperan mengarahkan pe-serta didik agar terlibat aktif.

Hasil observasi pelaksanaan pembelaja-ran menggunakan model Think Talk Write (TTW) menunjukkan pelaksanaan pembelaja-ran pada siklus I pertemuan pertamaini ter-masuk kategori baik dengan persentase skor sebesar 81,25%. Rancangan proses pembela-jaran menggunakan model Think Talk Write (TTW) menjadi acuan guru dalam melakukan proses pembelajaran untuk membuat peserta didik merasa senang dan tertarik belajar IPS.

Pertemuan 2 siklus I menggunakan model

Think Talk Write (TTW) berlangsung pada hari

Jum’at tanggal 17 Januari 2020 jam pelajaran 3-4 dan membahas pengertian pelaku ekonomi. Semua peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah hadir sebanyak 16 orang. Hasil analisis data menunjukkan terdapat 11 orang yang tuntas belajar dengan persentase ketuntasan klasikal 68,75% dan nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik adalah 68.

Keaktifan peserta didik semakin mening-kat pada pertemuan 2 iniyaitu 65,81% dengan kategori cukup aktif. Aktivitas peserta didik yang masih perlu ditingkatkan di antaranya mencatat informasi terkait permasalahan yang disampaikan guru, aktivitas menanggapi hasil presentasi kelompok lain dan menanya hal-hal yang belum jelas. Aspek lain semakin mening-kat dan peran guru dalam memfasilitasi aktivi-tas belajar peserta didik sangat berpengaruh terhadap keaktifan belajarnya.

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan 2 ini termasuk kategori baik

(5)

dengan persentase sebesar 85,42%. Hal ini berarti guru semakin terpacu menerapkan rancangan proses pembelajaran menggunakan model Think Talk Write (TTW) yang telah disusun agar meningkatkan keaktifan dan hasil belajar. Hasil penelitian tindakan kelas yang meliputi hasil belajar, keaktifan peserta didik, dan pelaksanaan proses pembelajaran melalui model Think Talk Write (TTW) siklus I. Tabel 3. Hasil Penelitian Siklus I

No Data (%) Pert. 1 Pert. 2

1 Hasil Belajar 62,50 68,75 2 Keaktifan Peserta Didik 61,03 65,81 3 Pelaksanaan

Pembelajaran 81,25 85,42

(Sumber: Data diolah, 2020)

Tabel 3 terlihat hasil belajar meningkat dari 62,50% pertemuan 1 menjadi 68,75% pada pertemuan 2. Keaktifan peserta didik juga meningkat dari 61,03% menjadi 65,81%. Begitu juga dengan pelaksanaan pembelajaran siklus I semakin meningkat dari 81,25% men-jadi 85,42%. Hasil belajar dan keaktifan peser-ta didik belum memenuhi indikator yang ditentukan sehingga kegiatan penelitian dilanjutkan ke siklus II menggunakan model

Think Talk Write (TTW) dengan

memper-hatikan hasil refleksi yang dilakukan bersama observer agar hasil belajar dan keaktifan pe-serta didik semakin meningkat. Berikut grafik peningkatan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran melalui model Think Talk

Write (TTW) yang dilakukan pada siklus I.

Gambar 1. Hasil Penelitian Siklus I Berdasarkan grafik, terjadi peningkatan pada setiap data yang diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini. Hasil belajar peserta didik dari 62,50% pada pertemuan 1 menjadi 68,75% pada pertemuan 2, keaktifan peserta didik juga meningkat dari 61,03% menjadi 65,81%, dan pelaksanaan pembelajaran siklus I semakin meningkat dari 81,25% menjadi 85,42%.

Refleksi Siklus I, Refleksi proses pembela-jaran siklus I adalah: (1) Aktivitas mencatat informasi terkait permasalahan yang disam-paikan guru, menanggapi hasil presentasi ke-lompok lain dan menanya hal-hal yang belum jelas masih perlu ditingkatkan; (2) Guru harus lebih mendorong peserta didik agar berani mempresentasikan hasil kerja kelompok dan menanggapi presentasi kelompok lain.

Perencanaan Siklus II, Tahap ini kembali dilakukan untuk kelancaran pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II dengan memperhatikan hasil refleksi siklus I. Peneliti mempersiapkan lagi RPP sesuai model Think

Talk Write (TTW) melanjutkan materi yang

dibahas sebelumnya, mempersiapkan lembar observasi yang terdiri dari 2 macam, yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dan aktivitas belajar peserta didik, serta in-strumen tes yang akan digunakan. Siklus II dilaksanakan sesuai dengan jadwal mengajar peneliti di kelas.

Pelaksanaan dan Observasi Siklus II, Proses pembelajaran siklus II pertemuan 1 menggunakan model Think Talk Write (TTW) dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22 Janu-ari 2020 jam pelajaran 6-7 dan membahas peran pelaku ekonomi dalam perekonomian.

Evaluasi diikuti oleh 16 orang peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah. Hasil analisis data menunjukkan ter-dapat 12 orang yang tuntas belajar dengan persentase ketuntasan klasikal 75% dan nilai rata-rata 66,56. Hasil yang diperoleh belum mencapai indikator penelitian sehingga terus dilanjutkan ke pertemuan berikutnya.

Data menggambarkan aktivitas peserta didik pada pertemuan pertama 69,85% dengan kategori cukup aktif. Aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik semakin mening-kat skornya pada setiap aspek yang diamati. Peserta didik mulai terbiasa dengan model

Think Talk Write (TTW) yang digunakan

da-lam proses pembelajaran ini karena guru mengarahkan agar mereka terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Hasil observasi pembelajaran menunjuk-kan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II pertemuan 1 ini termasuk kategori baik dengan persentase skor sebesar 89,58%. Guru memfasilitasi peserta didik untuk

(6)

terli-bat aktif dalam proses pembelajaran menggunakan model Think Talk Write (TTW) sehingga dapat meningkatkan keaktifan peser-ta didik selama proses pembelajaran berlang-sung dan hasil belajar semakinmeningkat. Proses pembelajaran siklus II pertemuan 2 menggunakan model Think Talk Write (TTW).

peserta didik kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah sebanyak 16 orang. Hasil analisis data menunjukkan terdapat 15 orang yang tuntas belajar dengan persentase ketun-tasan klasikal 93,75% dan nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik adalah 81,56. Berikut tabel data keaktifan peserta didik dalam pros-es pembelajaran menggunakan model Think

Talk Write (TTW) pada siklus II pertemuan 2.

Tabel 4. Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik Siklus II Pertemuan 2

No Aspek yang diamati Skor

A PENDAHULUAN

1 Berhadir di dalamkelas dan berdoa sebelum memulai pelajaran 14 2 Merespon motivasi yang diberikan 13 3

Memperhatikan dan atau bertanya tentang tujuan, indikator, dan ske-nario pembelajaran

14 4 Membentuk kelompok sesuai

arahan guru 14

B KEGIATAN INTI

5

Mengamati atau memperhatikan pertanyaan atau permasalahan yang disampaikan oleh guru (Think)

14 6 Mencatat informasi terkait

permasa-lahan yang disampaikan oleh guru 10 7 Menanya hal-hal yang belumjelas 8 8 Membaca buku teks atau sumber

lain sesuai materi yang dibahas 12 9 Mencoba merumuskan jawaban

dari permasalahan 10 10

Berdiskusi bersama kelompok untuk merumuskan jawaban yang tepat (Talk)

13 11 Menyajikan hasil diskusi secara

ter-tulis dan melaporkannya (Write) 12 12 Menanggapi hasil presentasi ke-lompok lain 7 KETERLIBATAN PESERTA DIDIK

13 Aktif dalam kegiatan belajar 13 14 Ceria dan antusias dalam belajar 11

PENUTUP

15 Menyimpulkan materi pelajaran 10 16 Mengerjakan soal evaluasi 16 17 Memperhatikan informasi materi 13

No Aspek yang diamati Skor

atau tugas untuk pertemuan beri-kutnya

Jumlah 204

Persentase skor 75,00 Kategori Aktif

(Sumber: Data diolah, 2020)

Tabel di atas menunjukkan keaktifan pe-serta didik semakin meningkat pada per-temuan 2 ini yaitu 75% dengan kategori aktif. Hal ini karena peserta didik semakin terbiasa dengan model Think Talk Write (TTW) yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Proses pembelajaran siklus II pertemuan 2 dilakukan sesuai dengan langkah-langkah model Think Talk Write (TTW) yang terdiri dari 3 tahap yaitu think (berpikir), talk (ber-diskusi), dan write (menulis) dengan uraian berikut: (1) Guru menyampaikan pertanyaan atau permasalahan sesuai materi yang dibahas yaitu peran rumah tangga perusahaan/rumah

tangga produsen (RTP); (2) Guru

mengarahkan peserta didik untuk mencatat informasi terkait permasalahan yang disam-paikan dan mendorong peserta didik bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas; (3) Guru mengajak peserta didik berbudaya literasi dengan membaca buku teks atau sumber lain sesuai materi yang dibahas pada pertemuan ini; (4) Guru berperan memfasilitasi diskusi kelompok untuk merumuskan jawaban yang benar menurut mereka serta mengingatkan kembali bahwa hasil diskusi ditulis sebagai bahan penyajian; dan (5) Guru lebih memoti-vasi peserta didik berani mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi hasil penyajian dari kelompok lain.

Berikut hasil observasi pelaksanaan pem-belajaran siklus II pertemuan 2 di kelas VIII SMPN 33 SATAP Hulu Sungai Tengah menggunakan model Think Talk Write (TTW). Tabel 5. Hasil Observasi Pelaksanaan

Pem-belajaran Siklus II Pertemuan 2

No Aspek yang diamati Skor

A PENDAHULUAN

1 Mengajak peserta didik berdo'a sebe-lum memulai pelajaran 4 2

Memotivasi peserta didik dalam memulai pembelajaran dan mengkondisikan suasana belajar yang nyaman

4 3 Menyampaikan tujuan, indikator, 4

(7)

No Aspek yang diamati Skor alokasi waktu, skenario kegiatan

pembelajaran dan lingkup penilaian 4 Mengarahkan peserta didik

mem-bentuk kelompok 4

B KEGIATAN INTI

5

Menyampaikan pertanyaan atau permasalahan sesuai materi yang dibahas

3

6

Mengarahkan peserta didik mencatat informasi terkait permasalahan yang disampaikan dan mendorong ber-tanya

4

7

Mengajak peserta didik membaca buku teks atau sumber lain sesuai materi yang dibahas

4

8

Memfasilitasi diskusi kelompok un-tuk merumuskan jawaban yang tepat dan menuliskannya sebagai bahan presentasi

4

9

Mendorong berani presentasi hasil diskusi dan menanggapi hasil presentasi kelompok lain

3

C. PENUTUP

10 Memfasilitasi peserta didik menyim-pulkan materi pelajaran 3 11 Melakukan evaluasi 4 12

Menyampaikan informasi materi atau tugas untuk pertemuan beri-kutnya

3

Jumlah 44

Persentase skor 91,67 Kategori Sangat Baik

(Sumber: Data diolah, 2020)

Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II per-temuan 2 ini termasuk kategori amat baik dengan persentase 91,67%. Berarti guru se-makin memfasilitasi keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran IPS menggunakan model Think Talk Write (TTW). Tabel berikut memuat rincian hasil penelitian pada siklus II. Tabel 6. Hasil Penelitian Siklus II

No Data (%) Pert. 1 Pert. 2

1 Hasil Belajar 75,00 93,75 2 Keaktifan Peserta Didik 69,85 75,00 3 Pelaksanaan Pembelajaran 89,58 91,67 (Sumber: Data diolah, 2020)

Berdasarkan tabel diketahui hasil belajar meningkat dari 75% pada pertemuan 1 men-jadi 93,75% pada pertemuan 2. Ketuntasan secara klasikal tercapai pada siklus II per-temuan 2 ini. Keaktifan peserta didik juga

meningkat dari 69,85% menjadi 75% memen-uhi indikator. Pelaksanaan pembelajaran si-klus II semakin meningkat dari 89,58% men-jadi 91,67%. Grafik berikut menyajikan hasil penelitian siklus II.

Gambar 2. Hasil Penelitian Siklus II Berdasarkan grafik, hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari 75% pada pertemuan 1 menjadi 93,75% pada pertemuan 2 dan kondisi ini memenuhi indikator keber-hasilan. Keaktifan peserta didik juga mening-kat dari 69,85% menjadi 75%, dan pelaksa-naan pembelajaran siklus II semakin mening-kat dari 89,58% menjadi 91,67%.

Refleksi Siklus II, Refleksi proses pem-belajaran siklus II adalah: (1) Hasil belajar se-makin meningkat dan memenuhi indikator; (2) Keaktifan peserta didik juga semakin meningkat dan mencapai indikator penelitian; dan (3) Pelaksanaan pembelajaran semakin baik sesuai dengan indikator.

Pembahasan

Guru menerapkan model Think Talk Write (TTW) dalam proses pembelajaran siklus I dengan 3 tahapan sesuai dengan sintak model inimenurut Huda (2014:218-219) yaitu think (berpikir), talk (berbicara/diskusi) dan write (menulis).

Mengawali kegiatan seperti biasa guru mengucap salam, mengajak peserta didik ber-do’a, memotivasi agar bersemangat belajar materi yang dibahas dan mengondisikan sua-sana belajar yang nyaman. Guru juga menyampaikan tujuan dan alokasi waktu, ske-nario pembelajaran dengan model Think Talk Write (TTW) yang terdiri dari 3 tahap yaitu think (berpikir), talk (berdiskusi), dan write (menulis) serta lingkup penilaian dan mengarahkan peserta didik membentuk 4 ke-lompok yang terdiri dari 4 orang.

Sesuai dengan pendapat Huda (2014:220) langkah-langkah model Think Talk Write

(8)

(TTW) dapat diuraikan berikut ini. Guru menyampaikan pertanyaan atau permasala-han sesuai materi yang dibahas. Guru mengarahkan peserta didik untuk mencatat informasi terkait permasalahan yang disam-paikan dan mendorong peserta didik bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, mengajak peserta didik berbudaya literasi dengan mem-baca buku teks atau sumber lain sesuai materi. Guru memantau diskusi kelompok untuk merumuskan jawaban yang benar menurut peserta didik serta mengingatkan kembali bahwa hasil diskusi ditulis sebagai bahan pen-yajian, memotivasi peserta didik untuk berani mempresentasikan hasildiskusi dan me-nanggapi hasil penyajian dari kelompok lain.

Guru mendorong peserta didik menyim-pulkan materi pelajaran di kegiatan penutup, melakukan evaluasi berupa soal essay untuk mengukur pemahaman peserta didik, dan menginformasikan materi untuk pertemuan berikutnya. Proses pembelajaran yang sama melalui model Think Talk Write (TTW) dil-akukan pada siklus II karena pada siklus I be-lum memenuhi indikator tepatnya pada aspek hasil belajar dan keaktifan peserta didik. Re-fleksi menjadibahan pertimbangan dalam melaksanakan proses pembelajaran siklus II terkait dengan aktivitas peserta didik yang masih perlu ditingkatkan dan guru lebih ber-peran mendorong peserta didik berani presentasi dan menanggapi hasil diskusi ke-lompok lain.

Peningkatan hasil belajar yang diperoleh peserta didik dan keaktifan dalam proses pembelajaran melalui model Think Talk Write (TTW) sesuai dengan pendapat Trianto (2013:16-17) yang menyatakan bahwa proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disen-gaja atau tidak disendisen-gaja dan berlangsung sepanjang waktu menuju perubahan pada diri pembelajar berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaaan yang baru.

Penelitian tindakan kelas ini berhasil ka-rena hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar dengan ketuntasan klasikal ≥ 85%, keaktifan peserta didik dengan kategori aktif ≥71%, dan pelaksanaan pembelajaran kategori baik ≥81% melalui model Think Talk Write (TTW) pada materi Keunggulan dan Keterbatasan Antarruang.

Simpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: (1) Model Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik 68,75% pada siklus I menjadi 93,75% pada siklus II; (2) Model Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dari 65,81% pada siklus I men-jadi 75% pada siklus II; dan (3) Model Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran dari 85,42% pada siklus I menjadi 91,67% pada siklus II.

Kesimpulan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Guru dapat menambah pengalaman merancang proses pembelajaran yang meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik sep-erti model Think Talk Write (TTW); (2) Peser-ta didik dapat menambah pengalaman belajar yang menyenangkan dan berpengaruh positif terhadap hasil belajar; dan (3) Sekolah dapat menjadi sarana mengembangkan proses pem-belajaran yang efektif.

Referensi

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. (2014). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Djamarah, Syaiful Bahri. (2015). Psikologi Belajar. Jakarta:

Rineka Cipta.

Huda, Fatkhan Amirul. (2017). Pengertian Model Pembelajran Think Talk Write.http://fatkhan.web.id/pengertian-model-pembelajran-think-talk-write/.

Huda, Miftahul. (2014). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Panduan Pembelajaran untuk Sekolah Menengah Pertama Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mukminan. Mulyani, E. Nursa’ban, dan M. Supardi. (2017). Buku Guru IPS SMP/MTs kelas VIII Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusman. (2014). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Trianto. (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovaif-Progresif. Jakarta: Prenada Media Group.

Gambar

Tabel 3. Hasil Penelitian Siklus I
Gambar 2. Hasil Penelitian Siklus II  Berdasarkan  grafik,  hasil  belajar  peserta  didik  mengalami  peningkatan  dari  75%  pada  pertemuan 1 menjadi 93,75% pada pertemuan  2  dan  kondisi  ini  memenuhi  indikator   keber-hasilan

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi setelah diberikan perlakuan berupa teknik pendekatan analisis transaksional kelompok post-test pada kelas eksperimen yaitu menunjukan bahwa skor yang

Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan media pembelajaran berupa media barang bekas botol bekas dan kain perca

Berdasarkan hasil analisis data tentang upaya meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan konstruktivisme pada siswa kelas V MIN

• Aplikasi base berbasis resin dalam cincin plastik menggunakan gun setinggi 2mm, pin ditempatkan diujung tengah bahan base sebelum dicure selama 20 detik untuk

Analisis korelasi dengan menggunakan uji koefisien korelasi dimaksud untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel X (tingkat kecakapan (profiency level)

Kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi e-learning menggunakan moodle merupakan jawaban yang harus dibenahi seperti persiapan infrastruktur jaringan, akses

By implementing this method, the students have more chances to speak in a class without queuing too long, therefore their speaking skill improved during the

Mampu menggunakan struktur dan kosakata bahasa Jerman yang sesuai dengan tema-tema tertentu, menggunakan pembentukan kata dalam bahasa Jerman terutama dalam bahasa