DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT
RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI V DPR RI
DENGAN SEKJEN; IRJEN; KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SDM DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA, DAERAH TERTINGGAL, DAN
TRANSMIGRASI; DAN KEPALA BADAN INFORMASI DESA, DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI
KEMENTERIAN DESA PDTT RI.
Tahun Sidang : 2020-2021
Masa Persidangan : V Rapat ke- :
Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Sifat Rapat : Terbuka
Hari, Tanggal : Kamis, 10 Juni 2021
Waktu : Pukul 10.00 s.d. 13.20 WIB
Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI (KK V) Gedung Nusantara Lantai 1, Jakarta
Ketua Rapat : H. Moh Arwani Thomafi/Wakil Ketua Komisi V DPR RI/F-PPP
Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin B., S.H.
Acara : 1. Evaluasi Pelaksanaan APBN TA 2021 sampai Bulan Mei 2021;
2. Membahas Alokasi Anggaran menurut fungsi, program dan prioritas anggaran K/L TA 2022 masing-masing Unit Eselon I.
Hadir Anggota : 41 orang Anggota hadir dari 54 Anggota Komisi V DPR dengan rincian sebagai berikut:
A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :
1. Ir. Ridwan Bae/Wk. Ketua Komisi V DPR RI/F-PG 2. H. Syarif Abdullah Alkadrie, S.H., M.H./Wk. Ketua
3. H. Moh Arwani Thomafi/Wk. Ketua Komisi V DPR RI/F-PPP
FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:
7 orang Anggota dari 10 Anggota: 1. H. Herson Mayulu, S.IP.
2. Mochamad Herviano
3. Hj. Sadarestuwati, S.P., M.MA. 4. Sarce Bandaso Tandiasik 5. Jimmy Demianus Ijie 6. Sri Rahayu
7. H. Irmadi Lubis
FRAKSI PARTAI GOLKAR: 6 orang Anggota dari 7 Anggota: 1. Drs. Hamka B Kady, MS 2. Cen Sui Lan
3. H. Tubagus Haerul Jaman, S.E. 4. Ilham Pangestu
5. Bambang Hermanto, S.E. 6. Muhammad Fauzi, S.E. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 5 orang Anggota dari 6 Anggota: 1. Sudewo, S.T., M.T.
2. Ir. Eddy Santana Putra, M.T. 3. Drs. H. Mulyadi, M.MA.
4. Hj. Novita Wijayanti, S.E., M.M. 5. Ir. Sumail Abdullah
FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT: 4 orang Anggota dari 4 Anggota:
1. Drs. H. Soehartono, M.Si. 2. Drs. H. Tamanuri, M.M. 3. Sri Wahyuni
4. Roberth Rouw
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA : 4 orang Anggota dari 6 Anggota:
1. Ruslan M. Daud 2. Sofyan Ali, S.H. 3. H. Sukamto, S.H.
4. H. An’im Falachuddin Mahrus FRAKSI PARTAI DEMOKRAT:
4 orang Anggota dari 5 Anggota: 1. Dr. H. Irwan, S.IP., M.P.
2. drh. Jhonni Allen Marbun, M.M. 3. Lasmi Indaryani, S.E.
4. Ir. H. Ishak Mekki, M.M.
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA: 4 orang Anggota dari 5 Anggota:
1. H. Suryadi Jaya Purnama, S.T. 2. Ir. H. Sigit Sosiantomo
3. H. Syahrul Aidi Maazat, Lc., M.A. 4. KH. Toriq Hidayat, Lc.
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL: 3 orang Anggota dari 5 Anggota:
1. H.A. Bakri H. M., S.E. 2. Hj. Hanna Gayatri, S.H. 3. H. Boyman Harun, S.H.
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN: 1 orang Anggota dari 1 Anggota:
1. Dr. H. Muh. Aras, S.Pd., M.M. B. UNDANGAN:
1. Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT RI (Taufik Madjid, S.Sos, M.Si.);
2. Inspektur Jenderal Kementerian Desa PDTT RI (Ir. Ekatmawati, M.M.);
3. Kepala BPSDM dan PMDDTT Kementerian Desa PDTT RI (Jajang Abdullah, S.Pd, M.Si.);
4. Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa DTT Kementerian Desa PDTT RI (Dr. Suprapedi, M.Eng.Sc).
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. MOH ARWANI THOMAFI/F-PPP):
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi dan,
Salam Sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR RI,
Yang terhormat Sekjen, Irjen, Kepala BPSDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi beserta seluruh jajarannya,
Para hadirin yang kami hormati.
Mengawali Rapat Dengar Pendapat hari ini, Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI dengan Sekjen, Irjen, Kepala BPSDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Kepala Badan Pengembangan Informasi Daerah Desa Tertinggal dan Transmigrasi, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada pagi hari ini kita bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita dalam keadaan sehat wal’afiat baik yang hadir secara fisik maupun secara virtual.
Menurut laporan Sekretariat dari Daftar Hadir Anggota Komisi V DPR RI telah ditandatangani atau telah hadir 25 orang, fisik 11 orang dan virtual 15 orang, 26 ya, jumlah fraksi 6 fraksi, sehingga telah memenuhi kuorum.
Sesuai Surat dari Ketua DPR RI Perihal Tata Cara Pelaksanaan Rapat AKD, lama pelaksanaan Raker, RDP agar lebih efisien dan efektif maksimal 2,5 jam. Oleh karena itu, sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 281 Peraturan DPR RI tentang Tatib, izinkanlah saya membuka Rapat Dengar Pendapat pada hari ini dan sesuai dengan Ketentuan Pasal 276 Ayat (1) RDP ini kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.00 WIB)
Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Pak Sekjen, Irjen, Kepala BPSDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Daerah Tertinggal dan Transmigrasi beserta dengan seluruh jajarannya yang telah memenuhi undangan kami dalam RDP hari ini.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam Raker Komisi V dengan Menteri Desa PDTT pada hari Rabu 3 Juni 2021 yang lalu telah disepakati beberapa hal, diantaranya Pagu Indikatif Tahun Anggaran 2022 Kementerian Desa PDTT adalah sebesar Rp3.102.000.000.000,-. Dari alokasi Pagu Indikatif tersebut, alokasi anggaran untuk Sekretariat Jenderal sebesar Rp67,85 miliar. Anggaran itu akan digunakan untuk mendukung kegiatan layanan dukungan manajemen perencanaan dan kerjasama, rekruitmen dan pengangkatan pegawai, operasional dan pemeliharaan kantor. Selanjutnya Inspektorat Jenderal mendapatkan alokasi Rp51,6 miliar untuk mendukung kegiatan antara lain pelaksanaan pemantauan dan evaluasi, analisa dan pemantauan hasil pengawasan, dan pelayanan Pendidikan dan Pelatihan.
Sedangkan Badan Pengembangan SDM, Pemberdayaan Masyarakat Desa PDTT memperoleh alokasi sebesar Rp1,8 miliar untuk antara lain
Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Pelatihan SDM, dan Pelatihan ASN. Kemudian Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memperoleh alokasi sebesar Rp99,18 miliar untuk kegiatan antara lain; dukungan manajemen, pengembangan kebijakan membangun desa, dan rencana keterpaduan pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi.
Sejalan dengan itu, dalam kesempatan ini kami tegaskan kembali agar dalam proses penyusunan pagu anggaran Tahun Anggaran 2022 tiap-tiap unit organisasi eselon I agar benar-benar dapat memperhatikan dan mengakomodir saran dan masukan dari Komisi V DPR RI yang disampaikan dalam seluruh rangkaian Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat sampai dengan hari ini.
Selanjutnya terdapat sejumlah permasalahan strategis yang perlu mendapatkan perhatian dari Bapak-bapak. Yang pertama, perlu adanya peningkatan koordinasi baik secara internal maupun eksternal agar terwujud pola kerja lebih efektif dan efisien. Yang ke dua, perlu meningkatkan pengawasan internal untuk meminimalisir temuan dan permasalahan dalam penggunaan angggaran. Yang ke tiga, perlu meningkatkan kualitas SDM. Yang ke empat, perlunya penyusunan rencana kebijakan teknis yang sistematis dan terarah.
Demikian pengantar dari kami. Selanjutnya kami berikan kesempatan kepada para Pejabat Eselon I Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi untuk menyampaikan penjelasan yang lebih spesifik mengenai Rencana Kerja dan Anggaran masing-masing Unit Organisasinya pada Tahun Anggaran 2022.
Silakan Pak Sekjen.
SEKJEN KEMENTERIAN DESA PDTT RI (TAUFIK MADJID S.Sos,M.Si.): Baik. Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Budhaya,
Salam Kebajikan dan Salam Sehat untuk kita semua. Terima kasih.
Yang kami hormati Wakil Ketua dan segenap Anggota Komisi V DPR RI yang kami hormati dan kami muliakan.
Pada kesempatan yang baik ini, kami pertama kali kami menyampaikan terima kasih atas undangan kami, ada 2 sesi. Pertama pagi ini, kami berempat dan nanti akan dilanjut pada siang hari ini dengan unit kerja Eselon I yang lain.
Untuk pagi ini, dari kami Sekretariat Jenderal, kemudian dari Inspektorat Jenderal dan Badan Pengembangan SDM, serta Pemberdayaan Masyarakat Desa PDT dan Transmigrasi, serta yang terakhir nanti dari Badan Pengembangan dan Informasi Desa, PDT, dan Transmigrasi. Masing-masing program dan evaluasi tentunya akan disampaikan oleh masing-masing Pimpinan Unit.
Kami mulai dari Sekretariat Jenderal.
Outline yang akan kami sampaikan pada kesempatan ini adalah antara lain:
1. Evaluasi Pelaksanaan Anggaran di Sekretariat Jenderal Tahun 2021 sampai dengan 31 Mei 2021;
2. Alokasi Anggaran Indikatif menurut fungsi, program dan prioritas anggaran di Sekretariat Jenderal Tahun Anggaran 2022; serta
3. Output Prioritas di Sekretariat Jenderal Tahun Anggaran 2022.
Yang pertama, Evaluasi Pelaksanaan Anggaran di Sekretariat Jenderal. Pagu Anggaran di Sekretariat Jenderal Tahun Anggaran 2021 sebesar total pagunya adalah Rp225.179.233.000,- yang komposisinya antara lain didistribusi di 6 Biro:
1. Biro Hukum sebesar pagunya Rp5,9 miliar atau 2,66%. 2. Biro Hubungan Masyarakat Rp21,5 miliar atau 9,58%.
3. Biro Perencanaan dan Kerjasama Rp17,1 miliar atau 7,62%. 4. Biro Kepegawaian dan Organisasi Rp19,8 miliar atau 8,81%. 5. Biro Umum dan Layan Pengadaan Rp104,1 miliar atau 46,25%. 6. Biro Keuangan dan BMN Rp56,4 miliar atau 25,07%.
Berdasarkan pada jenis belanja, komposisi anggaran di Sekretariat Jenderal:
1. Jenis Belanja Pegawai, yaitu 21,83%; 2. Belanja Modal 2,81%; serta
3. Belanja Barang 75,35%.
Untuk evaluasi pelaksanaan anggaran di Sekretariat Jenderal di slide berikutnya. Per tanggal 31 Mei 2021, penyerapan anggaran di Sekretariat Jenderal sebesar 21,36% dari target yang mesti dicapai adalah 29,97% di Bulan Juni ini per tanggal 31 Mei. Sedangkan untuk per hari ini, sebetulnya progress penyerapan di Sekretariat Jenderal sudah mencapai di angka 25,43% atau selisih dari target di Bulan Juni ini sebesar kurang lebih 4 sekian
persen. Kami akan berupaya segera mungkin atas arahan dan masukan dari Komisi V. Mudah-mudahan target penyerapan bisa kita capai sesuai dengan apa yang sudah ditentukan.
Slide berikut. Alokasi Anggaran Indikatif menurut fungsi, program, dan prioritas anggaran di Sekretariat Jenderal Tahun Anggaran 2022. Kami memulai dengan tugas serta fungsi di Sekretariat Jenderal. Tugas Sekretariat Jenderal, antara lain memiliki tugas menyelenggarakan fungsi koordinasi, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di Lingkungan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Fungsi yang diemban dari tugas ini, antara lain:
1. Koordinasi kegiatan kementerian;
2. Koordinasi penyusunan rencana program dan anggaran;
3. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerjasama, hubungan masyarakat, arsip dan dokumen kegiatan; 4. Fungsi pembinaan dan penataan organisasi serta tata laksana; 5. Fungsi koordinasi dan penyusunan Peraturan
Perundang-undangan serta pelaksanaan advokasi hukum; serta
6. Penyelenggaraan pengelolaan barang milik atau kekayaan milik negara dan pengelolaan barang dan jasa.
Dari pelaksanaan tugas dan fungsi ini ada beberapa atau sejumlah indikator kinerja utama di Sekretariat Jenderal yang mohon izin tidak akan kami sebut detail satu demi satu, tetapi paling tidak sasaran yang akan kita capai antara lain meningkatnya layanan kepegawaian, organisasi dan tata laksana dalam mendukung reformasi birokrasi. Kemudian sasaran berikut adalah meningkatnya layanan dukungan regulasi, pertimbangan hukum, dan advokasi hukum, ada sejumlah indikator kinerja utama yang bila diperkenankan akan kami sampaikan pada saat pemberian pendapat atau masukan dari Komisi V.
Kemudian meningkatnya layanan sarana dan prasarana layanan pengadaan. Sasaran program berikut adalah meningkatnya layanan dukungan regulasi, pertimbangan hukum dan advokasi hukum, meningkatnya kinerja penatakelolaan anggaran, sasaran berikutnya meningkatnya akuntabilitas kinerja di Kementerian, sasaran berikut adalah meningkatnya kinerja perencanaan dan penganggaran, yang berikut adalah meningkatnya kepuasan atas layanan dukungan manajemen, berikutnya adalah meningkatnya layanan keterbukaan informasi publik, serta syarat program berikutnya adalah terselesaikannya tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan eksternal dan aparat pengawasan internal Pemerintah.
Untuk Pagu Indikatif per unit kerja di Kementerian Desa khususnya di Sekretariat Jenderal Tahun Anggaran 2022 adalah sebesar, mohon izin untuk
pagu kebutuhan sebetulnya adalah di angka Rp288.120.000.000,-. Pagu Indikatif di 2022:
1. Dukungan manajemen ada di Rp205.260.000.546,-; 2. Program teknis Rp15 miliar.
Total Pagu Indikatif di Sekretariat Jenderal Tahun 2022 adalah di Rp222.260.546.000,- dari total pagu kebutuhan yang angkanya Rp288 miliar sekian, sehingga backlog anggaran di Sekretariat Jenderal + Rp67.859.454.000,-.
Berikut komposisi anggaran di Sekretariat Jenderal menurut unit kerja di masing-masing Eselon II atau di Biro.
1. Biro Hukum, Pagu Indikatif Rp6 miliar atau 3% dari total pagu kita di 2022.
2. Biro Hubungan Masyarakat Rp12 Miliar atau 5% dari total pagu Sekretariat Jenderal.
3. Biro Perencanaan dan Kerjasama Rp23 Miliar atau 10%.
4. Biro Kepegawaian dan Organisasi Rp23.392.275.000,- atau sebesar 11%.
5. Biro Keuangan dan Barang Milik Negara Rp58.907.720.000,- atau 27%.
6. Biro Umum dan Layanan Pengadaan Rp96.960.551.000,- atau sebesar 44% dari total pagu indikatif di Sekretariat Jenderal.
Berikutnya adalah output prioritas di Sekretariat Jenderal di Tahun 2022 khusus di layanan perencanaan dan kerjasama, ini di Biro Perencanaan dan Kerjasama, antara lain dengan pagu tersebut rincian output-nya adalah:
1. Untuk layanan perencanana manajemen kinerja, layanan perencanaan program dan anggaran, layanan perencanaan program dan kerjasama, dukungan manajemen perencanaan dan kerjasama, layanan dukungan manajemen untuk program P3PD dan PHLN Bank Dunia, kemudian pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program serta kegiatan, dan yang terakhir output prioritasnya adalah pada penyusunan laporan hasil pelaksanaan program dan kegiatan.
2. Untuk layanan kepegawaian dan organisasi, output prioritas antara lain pengelolaan data dan informasi di bidang kepegawaian, honor dari Pegawai Non PNS, kemudian administrasi kepegawaian baik Karis, Karsu maupun Karpeg, kemudian penempatan atau mutasi kepegawaian, kemudian pemantauan dan penilaian kinerja pegawai, pengelolaan kelembagaan, tata laksana organisasi, serta pelayanan dan penguatan reformasi birokrasi.
Mohon maaf ada tambahan lagi untuk layanan output ini, prioritas yang ada di Biro Kepegawaian, penyusunan laporan kepegawaian dan organisasi,
rekruitmen pengangkatan pegawai, pembinaan kepegawaian, pengembangan pegawai dan pengurusan purna tugas bagi pegawai.
Selanjutnya untuk layanan hubungan masyarakat, output prioritas antara lain untuk media massa, media pembelajaran, media sosial, pengelolaan dokumentasi dan layanan pengaduan, pengelolaan perpustakaan dan layanan informasi publik, analisis opini publik dan pemerekan, kemudian pengumpulan dan pengolahan bahan kehumasan, pengembangan hubungan internal. Selanjutnya layanan untuk hubungan lembaga pemerintah dan organisasi, kemudian tata usaha Biro Hubungan Masyarakat sendiri, Hubungan Luar Negeri, serta Layanan Hubungan Kelembagaan Kemasyarakatan dan Lembaga Komersial.
Output prioritas untuk layanan hukum, antara lain legal drafting, naskah perjanjian hukum bidang di Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, kemudian tindak lanjut monitoring dan evaluasi perjanjian hukum, layanan berikutnya adalah penyusunan rancangan per peraturan undangan, penelaahan dan evaluasi peraturan perundang-undangan, berikutnya adalah sosialisasi dan dokumentasi peraturan perundang-undangan, perencanaan bantuan hukum, kemudian pelaksanaan bantuan hukum, pemantauan dan evaluasi bantuan hukum serta layanan tata usaha dan urusan rumah tangga Biro Hukum.
Output berikut untuk layanan keuangan dan barang milik negara, antara lain di bidang layanan manajemen barang milik negara, gaji dan tunjangan bagi ASN, operasional dan pemeliharaan kantor, serta layanan keuangan dan perbendaharaan.
Berikutnya output prioritas untuk layanan umum dan pengadaan, antara lain operasional dan pemeliharaan kantor, koordinasi keprotokolan, pengelolaan layanan kesehatan, berikutnya adalah layanan pelaksanaan keprotokolan, pelaksanaan layanan urusan rumah tangga, pelayanan umum dan perlengkapan, pelaksanaan pengadaan layanan barang dan jasa, pelayanan dukungan internal lainnya, pelayanan ketatausahaan dan yang terakhir, pengelolaan sarana dan prasarana.
Demikian Pimpinan, Pak Wakil Ketua, para Anggota sekalian yang kami hormati dan kami muliakan Pagu Indikatif, kemudian output Prioritas di Sekretariat Jenderal Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi untuk Tahun Anggaran 2022 mohon arahan lebih lanjut.
Terima kasih dan mohon izin Pimpinan untuk dilanjutkan oleh Inspektorat Jenderal, mohon izin dan selanjutnya BPSDM dan BPEI.
IRJEN KEMENDES PDTT RI (Ir. EKATMAWATI, MM.): Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi dan,
Salam Sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Bapak Wakil Ketua, dan segenap Anggota Komisi V DPR RI yang kami muliakan.
Kami Pak, dari Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kami mempunyai tugas untuk menyelenggarakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dan melaksanakan fungsi dalam penyusunan kebijakan strategis pengawasan intern di lingkungan kementerian, kemudian melaksanakan pengawasan intern di lingkungan kementerian terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, review, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lainnya. Kemudian juga melaksanakan pengawasan untuk tujuan tertentu dan pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Bapak/Ibu sekalian yang kami hormati.
Inspektorat Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mempunyai 5 Inspektur.
1. Inspekorat I membawahi Sekretariat Jenderal dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
2. Inspektorat II membawahi Ditjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan juga Ditjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal.
3. Inspektorat III membawahi Ditjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi dan Badan Pengembangan dan Informasi.
4. Inspektorat IV, Ditjen Pembangunan Desa dan Perdesaan dan Inspektorat Jenderal.
5. Inspektorat V adalah pengawasan dana desa dan juga investigasi khusus.
Kami di Inspektorat Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal didukung dengan sumber daya sebanyak 208 yang terdiri dari struktural 15, kami mempunyai fungsional auditor sebanyak 56 orang, yang terdiri dari berbagai jenjang mulai dari Tortama, Auditor Madya, Auditor Muda dan Pratama dan didukung oleh Fungsional Tertentu lainnya.
Untuk Tahun Anggaran 2021, Inspektorat Jenderal mendapatkan alokasi sebesar Rp50 miliar. Untuk belanja operasional itu sebesar Rp25.042.600.000,- atau 50,09%. Sedangkan untuk belanja non operasional sebesar Rp24.957.400.000,- atau sebesar 49,91%.
Untuk realisasi, disini disampaikan per 8 Juni itu sebesar 30,22% dan hari ini sesuai dengan omspan realisasi sudah 30,35% dari target yang akan dicapai sampai dengan akhir Bulan Juni sebesar 37,16%.
Bapak/Ibu sekalian yang kami hormati.
Rencana Kerja 2022, Inspektorat Jenderal akan melakukan kebijakan pengawasan.
1. Pengawasan untuk program prioritas, 2. Pengawalan reformasi birokrasi, 3. Penanganan pengaduan dana desa,
4. Pengawasan yang bersifat konsultasi, pendampingan dan pencegahan korupsi, dan juga melakukan pengawasan berbasis teknologi informasi.
Kami mempunyai target untuk indikator kinerja sebagaimana disampaikan di paparan ini. Untuk presentasi rekomendasi kebijakan yang ditindaklanjuti 40, tingkat penerapan pengendalian intern 3 unit kerja yang berpredikat Zona Integritas Menuju WBK/WBBM 1 nilai Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi 100. Persentasi rekomendasi hasil temuan dan investigasi yang ditindaklanjuti, 40. Tingkat materialitas temuan pengawas eksternal dari total realisasi anggaran Kementerian Desa PDTT kurang atau sama dengan 3%. Tingkat materialitas temuan, pengawas internal dari total realisasi anggaran Kementerian Desa PDTT kurang atau sama dengan 3%, tingkat kapabilitas APIP 3 dan presentasi rekomendasi hasil pemeriksaan eksternal dan APIP yang telah selesai 71.
Untuk Pagu Indikatif Tahun 2022, kami mendapatkan pagu sebesar Rp51.693.093.000,-. Untuk non operasional 52% dan untuk operasional 48%. Bapak/Ibu sekalian.
Untuk Tahun 2022, jadi untuk pagu indikatif yang sudah disampaikan kepada kami, beberapa hal ada sedikit perubahan.
Lanjut. Uraian Pagu Indikatif 2022, tolong, Mas. Ada beberapa penambahan dan juga penyesuaian.
Lanjut-lanjut. Ada beberapa penambahan untuk dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya dari Rp34 miliar, sekarang 2022 kami anggarkan
menjadi 36,4. Ini beberapa terjadi penambahan pada anggaran untuk gaji non PNS, kemudian penambahan kegiatan rapat sinkronisasi pengawasan dana desa dengan BPKP dan juga Kemendagri dan Inspektorat Kabupaten, kemudian ada penambahan kegiatan workshop pengawasan di Jakarta.
Kemudian untuk Inspektorat, mohon maaf untuk Inspektur Wilayah, kami mengalami beberapa penurunan. Untuk Inspektur I itu I, II, III dan IV ini kami turun karena kami menyesuaikan dengan penurunan anggaran pada obrik kami masing-masing. Kemudian untuk yang Inspektur untuk layanan investigasi dan pengendalian dana desa, ada penambahan anggaran yaitu untuk kegiatan monitoring pengawasan dana desa.
Selanjutnya untuk kegiatan secara terinci sudah kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
KEPALA BPSDM DAN PMDDTT KEMENDES PDTT RI (JAJANG ABDULLAH, S.Pd, M.Si.):
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi,
Salam Sejahtera bagi kita semuanya,
Shaloom, Om Swastiastu, Namo Budhaya, Salam Kebajikan.
Yang mulia Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V yang saya hormati baik yang hadir secara fisik di ruangan ini maupun yang hadir melalui zoom meeting.
Saya menyampaikan dari BPSDM, yaitu dengan outline; Pertama, Pendahuluan; kemudian yang ke dua, Pagu Anggaran dan Realisasi 2021; kemudian, Rencana Kerja Tahun 2022.
Nah secara, berdasarkan Permendes Nomor 15/2020 bahwa BPSDM mempunyai tugas yaitu untuk pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat desa, daerah tertinggal dan transmigrasi dengan 7 fungsi yang harus kita laksanakan.
Nah untuk mengawal struktur organisasi tersebut, kami di BPSDM ada 5 Eselon II yaitu Sekretariat, eh Sekretaris 1, kemudian Kepala Pusat
Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Pusat Pelatihan dan Kepala Pusat Pelatihan ASN, kemudian juga ada Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional.
Untuk mengisi organisasi tersebut, kami didukung oleh sebanyak 878 orang yang terdiri dari pejabat struktural, yaitu 31 orang, kemudian jabatan fungsional tertentu ada 306 orang, jabatan fungsional umum ada 131 orang, kemudian Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri 111, kemudian Pramubakti di dalamnya ada satpam, tukang kebun itu ada 286 orang dan CPNS yang baru ada 13 orang.
Nah dalam melaksanakan organisasi, kami ada Pagu Anggaran 2021 sebesar Rp1,8 triliun yang dipergunakan untuk belanja pegawai sebesar Rp60 miliar, kemudian belanja barang Rp1,7 triliun dan belanja modal Rp8,4 miliar.
Dari anggaran tersebut tersebar untuk di Sekretariat yaitu Rp58 miliar, kemudian di pusat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat desa Rp1,6 triliun, kemudian di pusat pelatihan SDM dan pemberdayaan masyarakat desa Rp35 miliar, kemudian di pusat pelatihan ASN Rp13,9 miliar, di Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Rp9,067 miliar dan juga di 9 UPT Balai ada Rp116 miliar. Sampai dengan posisi 8 Juni kemarin, realisasi dari 1,8 itu sudah terealisasi Rp662 miliar atau setara dengan 35,60%.
Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati.
Rinciannya, tersebar dari tiap-tiap pusat juga dengan balai-balainya sudah terdapat dalam paparan ini, sehingga deviasi yang terdapat di BPSDM dari target sampai dengan Bulan Juni itu 41,41%, baru tercapai dengan posisi 8 Juni itu 35,67. Saya mengecek omspan pagi tadi sudah ada bergerak juga tidak cukup signifikan tetapi sudah 35,67%.
Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati.
Untuk Pagu Indikatif 2022, BPSDM mendapatkan alokasikan pagu sebesar Rp1,8 triliun yang dipergunakan untuk Belanja Pegawai sebesar Rp89 miliar; kemudian untuk Belanja Modal sebesar Rp7,8 miliar; kemudian untuk Belanja Operasional sebesar Rp20,351 miliar; kemudian untuk Belanja Barang Non Operasional sebesar Rp1,8 triliun.
Nah dari Pagu sebesar Rp1,8 triliun itu terdiri dari: Program teknis sebesar 1,675 triliun; kemudian, Program dukungan manajemen sebesar Rp129 miliar.
Kemudian berikutnya alokasi di Pagu Indikatif, itu berdasarkan RKP 2021 dialokasikan sebesar Rp26 miliar itu untuk mencapai target 5 ribu orang
yang akan dilatih. Namun karena kami sudah ada SBK, kami rinci berdasarkan alokasi dan apa Namanya wilayah itu hanya bisa memenuhi target untuk 4.229 orang.
Kemudian berikutnya, target yang ditetapkan adalah pendamping professional sebanyak 35 ribu orang atau sebesar Rp1,5 triliun. Berikutnya adalah Akademi Desa dengan besaran anggaran Rp19 miliar. Itu diharapkan yang akan bergabung atau mengakses pelatihan melalui Akademi Desa itu sebanyak 30 ribu orang. Barangkali itu beberapa hal yang ingin kami sampaikan.
Kemudian ada terakhir yang saya sampaikan dari pagu indikatif ini, kami sudah mencoba untuk mendistribusikan untuk semua unit yang ada di BPSDM, yaitu untuk Pusat Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang didalamnya ada pendamping adalah sebesar Rp1,6 triliun. Kemudian untuk Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia, dan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Rp22 miliar, kemudian Pusat Pelatihan ASN Rp7 miliar, Pusat Pelatihan Jabatan Fungsional Rp5 miliar, kemudian ada UPT di 9 Balai yaitu Rp26,7 miliar, kemudian di Sekretariat untuk dukungan manajemen dan dukungan lainnya adalah sebesar Rp55 miliar.
Untuk Balai-balai, ini Balai Jakarta kita alokasikan Rp7,9 miliar. Kemudian Balai Yogyakarta Rp9,16 miliar, Pekanbaru 6,250, kemudian Bengkulu 5,3, Banjarmasin 6079, kemudian Balai Makassar 7,4, Denpasar 7089, Ambon 5,817, kemudian Jayapura terakhir adalah Rp6,716 miliar.
Sementara sasaran program dan indikator kinerja Program 2021, ini adalah targetannya adalah meningkatnya Aparatur SDM Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, kemudian tingkat kepuasan stakeholder, tingkat kepuasan stakeholder terhadap hasil layanan, kemudian presentasi tenaga pendamping professional yang berkinerja baik, presentasi kader pemberdayaan masyarakat perdesaan yang mampu melakukan pendampingan masyarakat di perdesaan. Berikutnya adalah meningkatnya SDM Aparatur Pejabat Fungsional Tertentu dan Kompetensi sesuai dengan kebijakan dan regulasi yang ditetapkan.
Capaian yang ingin dicapai adalah presentasi Pejabat Fungsional Tertentu yang kompeten sesuai dengan kebijakan dan regulasi yang ditetapkan, presentasi Pejabat Fungsional Tertentu yang ditingkatkan kapasitasnya, kemudian presentasi SDM Aparatur yang mengikuti Pelatihan Struktural, Fungsional yang lulus dan bersertifikat dan terakhir adalah presentasi SDM Aparatur yang mengikuti pelatihan teknis, lulus dan bersertifikat.
Ini berikutnya adalah sebaran Balai, ada di Jakarta, kemudian ada di Yogyakarta, ada di Bengkulu, kemudian ada di Denpasar, Ambon dan juga Jayapura.
Bapak/Ibu sekalian Anggota Komisi V, Pimpinan yang saya muliakan.
Barangkali itu yang bisa saya sampaikan. Mohon arahan dan masukannya dari Bapak Pimpinan dan juga Anggota Komisi V yang berbahagia.
Terima kasih.
Wallahumma Fiq Illa Aquamittoriq,
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN DAN INFORMASI DESA DAERAH TERTINGGAL KEMENDES PDTT RI (Dr. SUPRAPEDI,M.Eng,Sc.):
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi,
Salam Sejahtera buat kita semua, Om Swastiastu Namo Budhaya.
Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR RI baik yang hadir di ruangan ini maupun secara online, serta Bapak/Ibu sekalian.
Izinkan kami untuk menyampaikan pelaksanaan anggaran Tahun 2021 dan Rancangan Program dan Anggaran Tahun 2022 dari Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Outline kami, ini perlu kami sampaikan outline untuk yang pertama yaitu terkait dengan struktur organisasi, mohon di power point-nya, power point-nya disampaikan Mas. Jadi BPI (Badan Pengembangan dan Informasi) ini adalah SOTK baru, sehingga perlu kami sampaikan bahwa susunan struktur dari BPI. Coba slide yang ke tiga langsung, coba slide yang ke tiga.
Terus. Nah ini yang terbaru mungkin sudah dikenal. Jadi SOTK kita ini ada 3 Eselon III yang berasal dari PDT yaitu; Pak Agus Kuncoro, Ses kita Pak Razali dan Bu Endang, Eselon II. Kemudian 2 dari Bali Lapo yaitu Bu Hilmi dan Pak Irfan Novit Agusta. Jadi ini keterpaduan antara PDT dan Bali Lapo sebelumnya. Mudah-mudahan ini sinkron nanti ke depannya.
Nah tugas kami ke depan untuk melaksanakan pengembangan kebijakan dan daya saing. Jadi daya saing kebijakan dan penyusunan keterpaduan rencana pembangunan ini yang harus terpadu antara UKE I dan
Pengelolaan Data dan Informasi dibidang pembangunan desa dan perdesaan, daerah tertinggal dan transmigrasi. Jadi ini punya tugas yang rada spesifik, menukik kesana terkait dengan penyusunan kebijakan teknis maupun pelaksanaan kebijakan nanti yang harus kami dukung yang berbasis dengan pengelolaan data dan informasi.
Nah terkait dengan capaian kinerja Tahun 2021 di slide berikutnya. Ini adalah gambar yang agak menyedihkan begitu, karena kami di BPI baru 10,19%. Mengapa? Ada lack minus 28,16% ini karena dikarenakan revisi DIPA kami itu baru selesai tanggal 31 Mei kemarin, karena ini SOTK baru, Satker baru begitu ya, bahkan untuk membayar ini rapelnya itu baru di Bulan April, sehingga ini saya kira dengan 2 minggu ini alhamdulillah sudah sampai mencapai itu dan sekarang, sudah akan speed up.
Kemudian berikutnya di slide berikutnya ini yang kalau kita rinci lebih spesifik, hampir semuanya tadi diserap untuk belanja pegawai, belanja barangnya baru 6,91% yang hal ini ya sekitar 5,3M, kemudian belanja modal 1,81. Jadi Kantor baru tapi belanja modalnya masih minim. Jadi infrastrukturnya juga masih terbatas tapi ke depan kita akan dorong itu mungkin cepat.
Pimpinan dan Anggota Dewan yang kami hormati.
Pagu dan target output per unit kerja Eselon II di tingkat pusat BPI ini untuk dukungan manajemen Rp54.300.319.000,-. Ini dukungan manajemen, ini berkisar sekitar 40,33% dari anggarannya BPI. Kemudian pengembangan kebijakan, dari pusat pengembangan kebijakan pembangunan ini Rp5,81 miliar dengan 12 kajian yang dikaitkan dengan kajian-kajian dalam rangka untuk mendukung kebijakan yang akan dioperasionalkan oleh Unit Kerja Eselon I.
Kemudian pengembangan kebijakan daya saing dan teknologi, ini Rp15,5 miliar tapi yang 10M itu merupakan PLH (Pinjaman Luar Negeri) atau loan dengan 350 Desa Cerdas di 10 provinsi targetnya dan nanti diharapkan keluar 4 model peningkatan daya saing yang berbasis nanti, yang pertama adalah kreativitas dan inovasi yang ada di desa sehingga nanti punya role model, kemudian TTG, kemudian teknologi digital dan teknologi tinggi. Kemudian yang tidak kalah penting yaitu pusat keterpaduan rencana pembangunan ini 8,17M. Ini 5 dokumen rencana induk desa, baik terkait dengan desa perdesaan, rencana induk pembangunan, dan pengembangan kawasan transmigrasi, percepatan pembangunan daerah tertinggal, Pengembangan Ekonomi dan Investasi serta SDM dan prosentase penyerap anggaran terbesar kedua di BPI yaitu; Pusat Data dan Informasi yaitu sebesar 50,833M yang mana di sini menjadi salah satu tulang punggung untuk melaksanakan layanan data dan sistem informasi desa yang terintegrasi dan
alhamdulillah achievement untuk Pusdatin ini cukup bagus, cukup tinggi di saat ini baik terkait dengan pendaftaran BUMDesa maupun SDGs.
Di slide berikutnya kalau kita breakdown. Di sini untuk dukungan manajemen nanti pelaksanaan reformasi birokrasi, ini yang sudah terealisasi dokumen renstra untuk kementerian, dan peningkatan kapasitas Pegawai BPI sendiri. Kemudian yang Pusat Pengembangan Kebijakan itu nanti ada 12, baru berjalan anggarannya 10,17% dan yang masih rendah yaitu di Pusat Daya Saing. Rendahnya ini karena adanya program loan smart village yang sampai hari ini masih menunggu beberapa NOL (No Object of Letter) dari Bank Dunia dan nanti diharapkan nanti keluar 4 model peningkatan daya saing untuk desa-desa itu.
Kemudian keterpaduan juga sedang berjalan yaitu 5 Dokumen Rencana Induk tadi dan yang terakhir dari Pusdatin achievement cukup baik. Sampai saat ini, telah SDGs-nya ada 39.047 desa atau 52% sudah terdaftar dengan mengisi datanya komplit yang mana untuk RT-nya ada 411 868 ribu, begitu juga warga 76 jutaan lebih, 65% ini sudah terdaftar semua dan BUMDesa-nya juga sudah terdaftar. Nah ini nanti programnya diarahkan untuk penyempurnaan aplikasi sistem informasi desa yang terintegrasi dan 2 dokumen kebijakan penting, yaitu terkait dengan Peraturan Menteri tentang Indeks Desa dan Peraturan Menteri tentang Wali Data dan Produsen Data di Kementerian Desa. Ini adalah realisasi yang sudah berjalan.
Lah untuk slide berikutnya, yaitu Rancangan Anggaran Tahun 2022. Tahun 2022 ini kita mengusulkan Renja kita itu Rp221 miliar lebih, namun Pagu Indikatif kita kurang dari setengahnya yaitu Rp99.189.667.000,- dan ini didominan program dukungan manajemen. Jadi program teknisnya sangat terbatas sekali kayak begitu ya, sehingga backlog-nya justru program teknisnya blacklog-nya jauh lebih besar. Nah ini kayaknya perlu diperjuangkan karena kalau kita lihat di slide berikutnya belanja barang termasuk di sini teknisnya itu sangat terbatas sekali.
Terus di selanjutnya, slide berikutnya. Target Pagu Indikatif, ini tidak jauh berbeda dengan di Tahun 2021 yang mencolok di sini yang tadinya data dan informasi Pusdatin yang anggarannya sekitar Rp50 miliaran lebih turun menjadi Rp15 miliar, yang 10M itu adalah loan. Nah ini untuk layanan data, sehingga sistem InsyaAllah tahun ini selesai. Kemudian untuk perencanaan sudah mulai berjalan, diharapkan tahun ini sehingga anggarannya pun berkurang. Justru nanti di perkembangan kebijakan daya saing dan teknologi, ini role model-role model yang banyak harus dilakukan makanya anggaran ini sebesar sekitar Rp13 miliar dan ini nanti kita komunikasikan untuk Tahun 2022 1.000 Desa Cerdas Smart Village ini ada di mana? Perlu kami sampaikan bahwa lokus-lokus ini untuk provinsi dan kabupatennya itu merupakan FGD dari Kominfo, dari bank, dan dari beberapa stakeholder. Namun masih terbuka menunya untuk desa-desa yang mana yang terbasis,
nanti bisa kita pilih sesuai dengan arahan dari Pimpinan dan Anggota Komisi V yang kami muliakan.
Dan terakhir, slide terakir adalah, slide yang terakhir terkait dengan gambaran umum, alokasi anggaran yang masuk kategori backlog. Ini banyak hal penting justru malah belum terdanai. Mudah-mudahan nanti di Pagu Anggarannya ada yaitu terkait misalnya Inpres 1 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Perbatasan atau AFO atau semacam itu, kemudian yang lainnya adalah penyempurnaan daripada roadmap, kemudian yang backlog yang rada crucial yaitu yang di Sekretariat BPI, karena BPI ditunjuk sebagai Penanggungjawab Penyelenggaraan Kegiatan Perhimpunan Nasional ASEAN, Senior Official Meeting on Board Development and Property Radication. Jadi disini nanti yang kami komunikasikan. Mudah-mudahan di Pagu Anggaran nanti bisa ditambahkan.
Sekian. Terima kasih.
Selanjutnya kami mohon arahan dari Pimpinan dan Anggota Komisi V yang terhormat.
Sekian. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Wa’alaikumsalam.
Terima kasih Pak Kepala, Pak Sekjen, Kepala Badan Pengembangan SDM dan Ibu Irjen atas penjelasan yang sama-sama telah kita dengarkan.
Ya selanjutnya kami persilakan, langsung saja kepada Anggota Komisi V DPR RI yang akan menyampaikan pertanyaan dan pendalaman. Kita usahakan jam 12 selesai ya, InsyaAllah ya atau sebelum jam 12 selesai ya? Ya ini kalau ada yang 5 Penanya ini. Ada 5 Penanya, kalau 1 orang 10 menit, 50 menit.
ANGGOTA:
Tambah 1 Ketua, tambah 1. KETUA RAPAT:
F-P.NASDEM (Drs. H. TAMANURI, M.M.):
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Pimpinan,
Rekan-rekan Anggota, Pak Sekjen, Ibu Irjen, Pak Dirjen Sumber Daya, Pak Kepala Badan Pengembangan dan Informasi.
Jadi saya tidak tahu ini di, yang mengelola dirjen apa. Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih saya sudah mendapat bantuan pengembangan desa wisata. Alhamdulillah, syukur. Jadi setidak-tidaknya dari sekian ribu desa yang ada di dapil saya 1.331 dapat 1. Nah ini luar biasa seperti bintang kejora di tengah langit dan juga memang masyarakat sangat merindukan itu.
Kemudian selain daripada itu karena Kementerian kita ini adalah Kementerian Desa dan Transmigrasi. Yang saya mau garisbawahi itu transmigrasi. Jadi yang diurus transmigrasi ini apakah kita juga mengurus transmigrasi perpindahan sekarang atau hanya mengurus transmigrasi-transmigrasi yang telah lalu? Kalau dia sekarang, saya ini agaknya buta tuli ya, tidak pernah mendengar di dalam apa dia di koran, apa dia di TV, segala macam tidak pernah mendengar bahwa ada pemindahan produk baru. Nah berarti kalau saya simpulkan, mudah-mudahan saya salah, ini adalah digunakan dananya untuk pembinaan transmigrasi yang sudah lalu. Nah oleh karena itu, kami juga mau melihat sebatas mana pembinaan hasil pembinaan itu dan pengembangan di desa-desa yang baru itu.
Kemudian saya lihat di Inspektorat Jenderal, ini Inspektorat V yang mengawasi masalah desa, yang punya Anggota 288 orang, mengurus 79 ribu sekian desa. Apakah punya kemampuan atau mempunyai suatu alat-alat yang canggih ataupun bisa menerawang dari kejauhan di Jakarta sini ke pelosok-pelosok, terutama Papua itu atau di manapun di tempat kita mengisi yang mesti jauh-jauh, bisa mengawasi ya setidak-tidaknya dana yang sudah kita kucurkan itu, lebih kurang Rp1 miliar itu. Dana itu juga sekarang ini kelihatannya kurang berfungsi untuk pengembangan di desa-desa baik pembangunan secara fisik atau dan lain-lain, kenapa? Karena memang 8% sudah dipotong untuk penunjang Covid. Kemudian ada lagi sekian persen untuk padat karya. Ya ini kita cobalah, kita ngomong waktu rapat-rapat sama Menteri Keuangan jangan dibebankan sama desa padat karya itu, karena padat karya itu sudah dari pusat ini, provinsi, kabupaten mentekel itu kegiatan, untuk apalagi hanya ada sekitar 4-500 juta dibebankan juga dengan padat karya dan hasilnya juga tidak signifikan seperti apa yang kita harapkan.
Kemudian dari hasil prosentase pencapaian, ini Badan Pengembangan ini kelihatannya paling jago nih. Bukan, targetnya cuman tercapainya 10,19%. Kemudian Inspektorat ini yang paling hebat ini 35% dari target 37%. Sumber
Daya Manusia juga demikian 35%. Nah sekarang ini kita ini sudah hampir masuk di bulan 7, jadi efektif 5 bulan lagi. Kalau ini digunakan untuk hal-hal untuk pengeluaran dana ini memerlukan suatu hal-hal yang memerlukan suatu proses, apakah mungkin tercapai target kita itu? Tapi kalau ini hanya pembelian-pembelian, artinya pembelian mobil, 100 mobil, ya gampang saja keluar, habis itu 95%, tapi kalau ini menggunakan proses-proses yang panjang maka kita khawatir.
Nah oleh karena itu, kami sarankan kepada semua Bapak dan Ibu supaya lebih cekatan lagi untuk kita mencapai prosentase yang kita inginkan. Tentunya tidak mengurangi kualitas, jangan kita mencapai prosentase, yang penting beres prosentasenya tapi begitu diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan kita tidak termasuk dalam, tidak penyumbang dari 4 dirjen ini tidak menyumbang Kementerian Desa Tertinggal untuk menjadi nilai yang Wajar Tanpa Pengecualian.
Saya rasa demikian. Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Wa’alaikumsalam.
Selanjutnya Pak Suryadi Jaya Purnama. F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.):
Terima kasih, Pak Ketua.
Ini kita agak leluasa ini karena waktu. KETUA RAPAT:
Ya silakan.
F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.):
Pak Sekjen, Pak Irjen dan Pak Kepala Balai beserta seluruh jajaran.
Pertama, saya minta klarifikasi terkait dengan data desa Pak. Karena dari data yang disajikan dalam materi yang kami terima itu 74.800 lebih, tapi dalam situs www.kemendes.go.id kalau tidak salah itu 69.000 Tahun 2020. Nah maksud kita ini perlu disinkronkan data mana yang kita pakai dan
kalaupun ada berbagai instrumen untuk mensosialisasikan data-data ini mestinya sama begitu dalam waktu yang sama. Apakah itu belum di-update atau memang datanya berbeda? Saya kira ini, karena akan mempengaruhi kebijakan. Kita nanti menghitung anggaran juga data mana yang kita pakai dan saya berharap ini juga diperluas koordinasinya, karena berbeda-beda data desa di Kementerian Dalam Negeri, kemudian juga di kementerian lainnya. Saya kira ini harus ada semacam peraturan yang mengikat bahwa data yang legal itu yang mana, siapa yang berhak mengeluarkan data desa ini? Karena masing-masing membuat peraturan internal, Peraturan Menteri misalnya, programnya mengacu kepada data sendiri, tapi misalnya khusus tentang desa harus ada satu acuan data begitu. Apakah Menteri Keuangan atau Menteri Dalam Negeri, Kementerian Desa? Ini supaya acuan datanya sama. Kita sering simpang siur ini masalah desa.
Nah dampak ikutannya dan ini juga yang saya pertanyakan pada poin kedua, ini anggaran Biro Humas turunnya besar sekali 44%, padahal kita ingin mengkomunikasikan program-program ini supaya tidak simpang siur. Salah satu masalah kita di desa kita ini, karena begitu banyak jumlah desa dan sumber informasinya juga tidak satu, akhirnya banyak hoax begitu. Nah saya kira salah satu yang bisa mengkomunikasikan ini kan Biro Humas. Ya ini mungkin menjadi catatan barangkali. Karena bisa jadi prestasi kita bagus atau program kita bagus tapi ketika tidak dbahasakan dengan baik oleh Humas, akhirnya kemudian menjadi bias dan menimbulkan masalah di lapangan. Saya kira ini jadi catatan. Maksud saya begini, kalaupun ada pengurangan anggaran pagu kita secara keseluruhan, beban penurunan itu harus dibagi secara proporsional. Mungkin ada yang memang perlu kita kurangi agak besar, tapi yang ya tentu kriterianya harus diini, setiap Unor di Internal Direktorat Jenderal, ini harus di, jangan sampai 1 unor mendapatkan beban penurunan yang dipikul sendiri begitu, kasihan Pak ini di samping beban tugasnya besar.
Berikutnya tentang Badan Pengembangan dan Informasi Pak, saya masih belum mendapatkan gambaran yang jelas dan legal begitu yang sah kriteria desa yang kita maksud apa ini Pak. Menurut saya kan kita ada 2 kriteria desa yang kita pakai. Ada kriteria yang memang bersifat umum merupakan suatu kriteria untuk mengukur keberhasilan kita membangun desa. Nah ini mestinya juga katakanlah kalau sekarang ada desa mandiri Pak ya, desa berkembang, desa mandiri begitu. Ini harus diseragamkan pola pendekatan datanya seperti apa indikatornya. Lalu ada kriteria desa yang sifatnya sektoral seperti yang saya kemarin sempat usulkan berbagai jenis, ada desa wisata, desa mandiri pangan, desa industri dan seterusnya. Nah ini ada desa cerdas lagi ini begitu. Apakah kriteria desa cerdas ini masuk pada kategori sektoral atau merupakan indeks keseluruhan? Karena kalau dalam bayangan saya ada indeks yang kita gunakan secara keseluruhan untuk menilai tingkat kemajuan suatu desa dan ini harus seragam semua. Lalu ada desa-desa yang sifatnya sektoral dan ini tujuannya untuk menunjang
kemajuan desa berdasarkan indeks yang tadi kita sepakati secara umum begitu. Jangan sampai nanti indeks, sehingga kita tidak fokus ini, kita mau mengejar misalnya 100% desa cerdas tapi begitu kita masukan pada kriteria desa mandiri ternyata dia tidak mandiri.
Lalu mana yang kita pakai begitu. Saya setuju program ini kalau ini yang dimaksudkan adalah sektoral, sesuai dengan keunggulan desa. Bukan menilai secara keseluruhan kinerja desa atau tingkat pembangunan di desa. Nah ini mungkin perlu diperjelas Pak, supaya kita tidak bingung dengan istilah-istilah ini. Saya setuju kalau banyak istilah desa tapi itu pendekatannya sektoral, tidak apa-apa itu, sesuai dengan karakteristik desa kita. Karena salah satu kelemahan kita di Indonesia ini adalah diversifikasi produk desa itu yang masih kurang padahal kita punya sekian banyak beragam potensi desa. Nah setiap potensi ini kita kembangkan dan menjadi desa-desa unggulan di sektor di mana dia punya potensi saya setuju, tapi ada satu indeks gabungan yang kita sepakati untuk mengukur secara seragam.
Nah ini mungkin saya kira Pak Kepala Balai, paham maksud saya, Badan ya? Kepala Badan, supaya kita tidak simpang siur dalam mengukur indeks pembangunan desa ini, supaya fokus begitu.
Yang berikutnya, tentu ini kita usul ada target 350 di 2000. Jumlah desanya dengan anggaran yang terbatas saya kira tidak apa-apa sejumlah itu, tapi jangan dibatasi 10 provinsi karena representasi Anggota Komisi V ini bukan dari 10 provinsi. Jadi nanti secara proporsional dan ini lokus desanya belum ditetapkan Pak Ketua. Nah ini kita berharap secara teknis nanti ada koordinasi dengan Anggota Komisi V untuk merekomendasikan desa-desa mana yang memenuhi kriteria untuk kita bisa masukan menjadi desa cerdas ini begitu sesuai dengan keunggulan masing-masing. Tapi dengan catatan desa cerdas ini adalah kriteria untuk yang bersifat sektoral Pak ya, bukan kriteria kemajuan suatu desa secara umum.
Berikutnya, saya berharap kriteria ini juga dibuat untuk transmigrasi begitu, karena kita belum punya model untuk mengukur keberhasilan daerah transmigrasi yang secara keseluruhan, sehingga kita bisa menilai apakah suatu daerah transmigrasi ini berhasil atau tidak. Kemudian yang lain berhasil begitu dan ini tentu keberhasilannya juga tidak harus seragam kriterianya, kan sesuai dengan lokasi transmigrasi itu. Tapi paling tidak saya kira di Badan Pengembangan dan Informasi ini bisa membuat suatu model kriteria agar acuan kita ke sana, bagaimana agar memenuhi target indeks-indeks pembangunan sehingga setiap saat kita punya peningkatan dari program-program kita usulkan begitu.
Mungkin itu Pak Ketua secara umum, karena kalau pun lebih teknis nanti ada di Direktorat Jenderal yang lain.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Wa’alaikumsalam.
Terima kasih Pak.
Pak Syahrul Aidi silakan.
F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, Lc., MA.): Terima kasih, Pimpinan.
Ini umum saja ke Pak Sekjen, dan Bapak/Ibu Dirjen.
Saya ingin melanjutkan apa yang saya sempat sampaikan ketika RDP dengan Pak Menteri kemarin. Saya mengkritisi bahwasanya nomenklatur daripada Kementerian ini adalah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Ketika distribusi anggarannya saya lihat untuk paragraf atau komponen ke dua dari nomenklatur ini tidak mendapatkan anggaran yang cukup, yaitu bagaimana menangani atau menyelesaikan daerah atau desa tertinggal. Ini kan ada 2 istilah ya, ada daerah tertinggal, ada desa tertinggal. Saya kira ada daerahnya tidak tertinggal tapi desanya tertinggal. Nah saya kira ini banyak Pak, seperti apa penanganannya? Dan kita perlu rapat bersama ini, saya kemarin di Kementerian PUPR sudah menyampaikan sejauhmana slot yang disediakan oleh PUPR untuk menunjang capaian yang dibebankan kepada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, karena kalau dibiarkan hanya Kementerian Desa dengan anggaran seperti ini, saya kira nomenkaltur ini tidak akan pernah berubah. Saya pernah menyampaikan bahwasanya nomenklatur ini tidak ada lagi, besok tidak ada lagi daerah atau desa tertinggal begitu. Dalam makna bahwasanya desa yang tidak ada konektivitasnya, jalannya yang ditempuh cukup besar. Saya beberapa desa yang saya kunjungi, sumber daya alam mereka luar biasa. Mereka bisa sejahtera tetapi saya selalu katakan yang mereka butuhkan adalah bagaimana akses mereka bisa sampai ke kota, ke kecamatan begitu.
Nah itu barangkali ini perlu duduk bersama kita rapat antar lembaga kementerian untuk, kalau saya lebih mendukung bahwasanya anggaran ini memang diberikan kepada Kementerian Desa. Kalau tidak, tidak usah dibuat. Inikan ketika dibuka nomenklaturnya, itu berarti kan ada beban yang ditugaskan kepada Kementerian Desa untuk menyelesaikan ini, sementara dengan dananya yang sangat minim. Maka kemarin, nanti walaupun kita
karena ini kita berhadapan dengan Sekjen, ini distribusi anggarannya inikan di Sekjen kan? Di Sekjen. Ini perlu dipikirkan Pak dalam anggaran kita, distribusi anggaran untuk pembangunan daerah tertinggal ini, kita tidak menganggarkan yang sifatnya pembangunan sarana dan prasarana, jalan dan jembatan. Justru itu adanya di transmigrasi saja, di daerah tertinggalnya tidak ada, di Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggalnya tidak ada.
Jadi ini yang saya minta klarifkasinya, kemarin memang sekilas Pak Menteri mengatakan bahwasanya ini kita akan kerjasama dengan DAK, Rekomendasi DAK. DAK pun tidak bahas di kita Pak, di komisi, sangat disayangkan ini. Sementara kita sebagai Komisi DPR RI ini tentu ingin membantu Kementerian agar mewujudkan cita-citanya ingin menyelesaikan daerah atau desa tertinggal. Apalagi di sini ada badan, badan ini tentu melakukan kajian Pak. Nah memang penyakitnya kita di Indonesia ini kebijakan-kebijakan ini tidak berdasarkan kepada kajian, kajian itu mohon maaf kadang-kadang kalau di daerah itu Litbang itu justru dijadikan untuk tempat-tempat pembuangan para pejabat. Mudah-mudahan di Kementerian Desa tidak, ya Pak ya? Jadi Litbang sulit berkembang jadi. Kita betul-betul, kalau perlu ini Pak Ketua, rekomendasi-rekomendasi dari Badan ini perlu kita dengarkan untuk kemudian dari situ basis kebijakan ini kita buat.
Kemudian yang ke dua, saya ingin walaupun ini memang Desa ini kan banyak sekali kementerian yang ikut campur di dalamnya, ada di Kementerian Dalam Negeri, Dirjen Bina Pemdes-nya, mereka yang membuat regulasinya, ada Kementerian Desa, ada Kementerian Keuangan. Nah selalu curhat Kepala Desa itu ke kami ketika bertemu dengan Kepala Desa adalah terlalu banyak regulator untuk desa ini, sehingga membingungkan. Nah Kementerian Keuangan memberikan anggaran Rp1 miliar yang luar biasa beban bagi Kepala Desa untuk bagaimana mengelola anggaran ini. Tapi Kementerian Dalam Negeri membuat aturan tentang standar Siltab, pendapatan Kepala Desa. Nah saya beberapa rapat dari rapat menyampaikan ke Pak Menteri Desa, agar ini kita perhatikan betul. Apalagi ini Kementerian yang langsung menyebutkan Kementerian Desa. Artinya, ruh psikologi para Kepala Desa itu harus kita tangkap Pak. Kita tentu tidak setuju dengan adanya Kepala Desa yang melakukan korupsi dan segala macamnya, penyimpangan-penyimpangan anggaran. Tetapi juga kita harus memikirkan bagaimana seorang Kepala Desa itu menjalankan tugas yang cukup berat. Ada beban sosial, ada beban tanggung jawab anggaran, ada beban keuangan, dan segala macam beban itu ditimpakan kepada Kepala Desa.
Saya ingin bertanya pada kesempatan ini barangkali hasil koordinasi Kementerian Desa dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan mengenai kesejahteraan Kepala Desa ini yang secara aturan resmi, secara aturan yang memang ada regulasinya, apa saja yang didapatkan oleh seorang Kepala Desa dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa. Kita tidak berbicara oh ini ada penghasilan dari BUMDes, tidak,
seluruh desa ada penghasilan Pak, tidak seluruh desa ada pendapatannya. Memang harapan kita ke depan kan melalui BUMDes seperti ini yang kita harapkan, tetapi fakta yang ada saat sekarang ini tidak seluruh Kepala Desa itu, tidak seluruh desa itu yang punya potensi desa yang mendapatkan penghasilan yang kemudian dapat diberikan kepada Kepala Desa. Ini faktanya, bahwa sekarang ini ada beban yang diberikan kepada mereka anggaran, hampir Rp1 miliar yang mereka kelola, bahkan lebih, ada sampai 1 miliar. Kita ingin, mereka ingin berjalan lurus, berkata benar tetapi kita juga harus memperhatikan beban yang mereka, ditimpakan kepada mereka ini, mereka jalankan ini harus seimbang dengan hak yang mereka dapatkan. Bahkan mereka mengatakan jangankan itu Pak katanya, kami selesai menjadi Kepala Desa itu tidak dapat penghargaan apa-apa katanya.
Nah ini memang harus serius kita untuk memberikan penghargaan kepada Kepala Desa, karena tadi disampaikan lebih dari 74.000 desa yang ada di Indonesia ini kalau tidak kita buat kebijakan yang baik, maka kita akan selalu mendengar sekian Kepala Desa di apa. Belum lagi kita berbicara tentang bagaimana kita memberikan, bukan perlindungan tetapi sebetulnya. Karena terlalu banyak yang kita dorong orang untuk memantau ya, untuk mengawasi dana desa itu, tapi justru saya lihat bukan semakin baik, semakin jadi beban, mohon maaf, ada Kepolisian, ada Kejaksaan, ada LSM. Saya mohon maaf, banyak yang mengadu ke saya, datang LSM, datang segala macam itu Pak, ya, ada yang murni untuk pengawasan tapi ada juga oknum. Lebih banyak oknum untuk yang justru Beliau rokok dan segala macam dan itu tidak didapatkan oleh Kepala Desa.
Barangkali ini yang dapat saya sampaikan. Secara umum, tentu beberapa program yang bisa kami bawa ke daerah apresiasi, mudah-mudahan bisa terealisasi tahun ini, Pak. Kalau untuk desa wisata, alhamdulillah kita taruh ini dan kita ajak Menteri Desa untuk turun dan kemarin mendapatkan penghargaan dari NGO Pariwisata yang untuk di Kampar dan saya lupa, mohon maaf. Saya contohkan 1 lokasi Pak. Ada di Kampar, di Kabupaten Kampar itu di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, itu belasan desa itu betul-betul terisolasi Pak, tidak ada. Ada lebih kurang 9 desa tidak ada transportasi, kecuali melalui sungai dan sungainya itu dangkal. Kalau sangat dangkal itu susah sekali. Jadi kalau ada yang sakit Pak untuk bawa ke rumah sakit itu jaraknya jauh. Nah sekarang Pemerintah Kabupaten Kampar membuat namanya Jalan Interpretasi. Itu jalan adanya lokasinya itu daerah Kawasan, kemarin dapat izin dari KLHK, tapi untuk membuat jalan itu terseok-seok, apa namanya? Pemerintah Daerah itu membangun Pak, berangsur-angsur, sudah berapa tahun tidak selesai. Maksud saya, hal seperti ini kalau Kementerian Desa langsung turun, InsyaAllah itu bisa selesai. Nah program daerah-daerah tertinggal yang terisolasi seperti ini kalau ada programnya yang jitu, yang jelas, terukur, saya kira bisa kita tetapkan sekian tahun desa tertinggal tidak ada.
KETUA RAPAT :
Itu untuk siapa itu?
F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, Lc., MA.):
Masukan untuk ke Sekjen untuk distribusi anggaran bagi Dirjen yang ada di Kementerian Desa Pak.
Hal-hal seperti ini banyak Pak, itu bisa selesai 9 Desa seperti yang saya sampaikan kemarin di Kecamatan Teluk Belengkong Pulau Burung di Kabupaten Indra Gilli Hilir hanya butuh untuk 20 kilo Pak. Kalau kita buka akses jalannya, sekarang itu ada jalan tapi sepeda motor Pak dan begitu juga ini kalau bisa langsung Kementerian Desa turun tangan, karena ada juga akses jalan yang melewati perusahaan-perusahaan Pak Ketua. Perusahaan-perusahaan ini kalau desa yang berkomunikasi, mereka tidak mau membuka akses jalan itu. Tetapi kalau Kementerian Desa kami ingin tidak ada lagi desa yang terisolasi, turun Kementerian Desa melalui Programnya. InsyaAllah, tidak akan ada lagi desa yang tertinggal.
KETUA RAPAT:
Oke, Pak Sekjen nanti bisa kasih catatan ke Pak Menteri. F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, Lc., MA.):
Terima kasih, Ketua. KETUA RAPAT:
Selanjutnya Pak Aras. Setelah ini Bu Sadarestu.
F-PPP (Dr. H. MUH. ARAS, S.Pd., M.M.): Terima kasih Pimpinan.
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi dan,
Salam Sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Pimpinan dan Kawan-kawan Komisi V,
Kepala Badan Informasi Desa.
Ini langsung saja, bahwa untuk kesekjenan, tentu kita berharap bahwa penyusunan program yang tentu akan melibatkan kepada seluruh organ Kementerian Desa terus menyesuaikan diri. Jadi untuk saat ini dengan pandemi yang ada tentu pola kinerja kita, pola budaya masyarakat kita sangat berubah dan tentu mengarah pada pengembangan teknologi. Nah berharap bahwa program-program yang dilakukan betul-betul juga menyesuaikan diri apa yang terjadi pada saat ini dan masa-masa yang akan datang.
Perlu juga diketahui bahwa untuk pengembangan desa dengan mengucurkan dana yang begitu besar, juga berimplikasi kepada tentu bagaimana cara memanfaatkan dari seluruh dana desa yang turun ke lapangan. Ini fungsi Inspektur Jenderal harus lebih maksimal untuk memberikan pengetahuan kepada mereka, sehingga bisa mengantisipasi apa yang akibat dari penggunaan desa apabila salah digunakan atau salah melakukan pelaksanaan dan penganggaran. Nah data yang ada 2019 dan 2020 itu di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang Kepala Desa-nya terdiri dari 240, kurang lebih 100 bermasalah diperhadapkan di meja hijau. Nah ini tentu fungsi Inspektorat Jenderal jangan sampai ini kasihan Kepala Desa, sudah capek-capek mengurusi desanya dengan anggaran terbatas dan kesejahteraan mereka juga sampai hari ini juga tidak jelas, berapa haknya dari dana desa yang turun ke mereka. Sehingga diperhadapkan dengan masalah hukum yang begitu pelik, nah ini perlu harus ada antisipasi dari Inspektorat.
Kemudian yang ke dua ke Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Ini lembaga baru yang resapannya masih sangat rendah, ya tentu harus segera menyesuaikan, agar pada akhir masa anggaran itu bisa menyelesaikan seluruh target yang ada.
Yang ke dua, ada beberapa program yang tentu yang berkait dengan desa. Tentu kita berharap bahwa Komisi V mendapat kesempatan untuk bisa mengakses, bisa bersinergi. Sehingga keberadaan kita para Anggota Komisi V yang hari ini bermitra dengan Kementerian Desa tentu juga dapat berkomunikasi di level bawah. Tentu hampir semua teman-teman yang ada di Komisi V punya daerah-daerah yang perlu dikembangkan dan perlu mendapat perhatian dari Kementerian Desa.
Kemudian yang selanjutnya, juga tugas utamanya dari Pengembangan dan Informasi Daerah adalah menyusun rekomendasi kebijakan bidang ekonomi, investasi desa, daerah tertinggal dan transmigrasi dan juga menyusun model pembangunan wilayah timur. Ini ada khusus untuk wilayah timur, ini tentu kita berharap bahwa rekruitmen-rekruitmen atau misalnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk melibatkan masyarakat. Tentu kita berharap bahwa merekrut putra daerah yang lebih paham bagaimana culture,
bagaimana budaya, bagaimana tentu kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh daerah-daerah di Timur sana, sehingga ini bisa lebih memudahkan kerja dari teman-teman yang ada di Kemendes.
Kemudian kita berharap bahwa betul-betul target yang dicanangkan adalah menyelesaikan masalah, bukan sekedar merencanakan sesuatu, sekedar memanas-manasi, setelah itu ditinggal. Karena banyak program-program yang terjadi saat ini kadang-kadang, ya program-program tahun ini memberikan ruang untuk desa tertentu tetapi karena tidak tuntas, ya pada akhirnya anggaran yang sudah dikucurkan tidak mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
Kemudian yang SDM, tentu kita berharap bahwa tadi sudah disampaikan bahwa budaya kita hari ini sudah berbeda dengan 2 tahun yang lalu. Tentu kita berharap budaya yang ada adalah semakin ada peningkatan pengembangan sumber daya manusia untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada. Tentu harapan kita bahwa seluruh aparatur-aparatur yang terlibat dalam Kementerian Desa ini, juga memperhatikan peningkatan kualitasnya. Ya termasuk di dalamnya adalah bagaimana pendamping desa ini juga dibekali, tentu ilmu untuk bisa lebih mengerjakan tugasnya dengan baik. Karena hari ini dengan keterbatasan pendamping yang ada, dengan keterbatasan aparatur yang ada, tentu kita bisa memanfaatkan media yang ada saat ini. Dengan tentu memperhatikan kemampuan kita untuk mengoperasikan teknologi yang ada dan tentu yang paling utama adalah kami juga ingin mengetahui sejauhmana progress rekruitmen pendamping desa, dan tentu berharap bahwa keterlibatan Teman-teman Komisi V juga bisa mengakses. Sehingga tentu keberadaan kita sebagai Anggota Komisi V betul-betul juga memberikan informasi bahwa kita bagian daripada Kementerian Desa dan menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam hal juga baik program pelaksanaan maupun dalam hal pengawasan. Karena sampai saat ini fungsi pengawasan dari kami dari Komisi V ini tidak jelas terkait dengan Kementerian Desa. Ya tentu kita berharap bahwa kehadiran kita di daerah betul-betul bisa mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan sebagai tugas kita sebagai fungsi pengawasan.
Kemudian yang terakhir, tentu kami berharap bahwa dari semua lembaga yang ada, 2 badan, Sekjen dan Irjen ini, tentu kita berharap bahwa sinergitas bersama dengan Komisi V terus harus kita pupuk. Sehingga apa yang menjadi tujuan target kita untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di desa betul-betul bisa terselesaikan dan kami juga mendapatkan gambaran yang jelas seperti apa hasil akhir daripada program-program yang tentu akan kita laksanakan. Barangkali itu yang sempat saya sampaikan.
Wallahumma Fiq Illa Aquamitoriq,
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:
Wa’alaikumsalam.
Selanjutnya Bu Sadarestuwati. Setelah itu Pak Fauzi.
F-PDIP (Hj. SADARESTUWATI, S.P., MMA.): Terima kasih Pimpinan.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi,
Salam Sejahtera untuk kita semua, Selamat Siang, sudah hampir jam 12.
Yang terhormat Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V,
Yang saya hormati jajaran mitra kerja dari Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi.
Saya sebenarnya jujur saya katakan saya itu sudah malas sebenarnya mengikuti Rapat Kerja atau Rapat RDP dengan Kementerian ini. Sudah 13 tahun loh saya duduk di sini, ternyata ya tetap-tetap saja, tidak ada sesuatu yang berubah. Semakin tahun, bukan semakin diganti Menterinya bukan tambah semakin baik, diganti menterinya tambah semakin kacau.
Yang pertama, saya menyoroti ke Pak Irjen, Inspektorat. Saya tidak tahu ini kerjanya Pak Irjen ini seperti apa sih kerja Inspektorat di Kementerian Desa? Kami ini hampir tiap hari ya disungguhi berita yang nadanya sedikit miring berkaitan dengan Kementerian Desa, tetapi kok rasanya Kementerian ini tentang-tenang saja, tidak ada sesuatu yang apa yang harus kami lakukan, apa yang harus kami perbaiki, tidak ada loh. Saya terus update berkaitan dengan itu. Dulu saya pernah sampaikan, saya pernah tanyakan, ada informasi tidak ada anggaran tetapi rumah dinas kementerian Pak Menteri direhab sampai menghabiskan dana 4 koma sekian miliar. Ini duit dari mana? Tidak pernah juga tertuang di dalam rencana anggaran dari Kementerian Desa ini. Anggaran dari mana? Ini yang perlu kita pertanyakan.
Kemudian berkaitan dengan proses pelelangan, banyak sekali, hampir bahkan di situ disebutkan ada 10 program yang paling disukai oleh Kementerian Desa. Ada 1 mitra yang selalu mendapatkan project dan itu tidak
1 project tapi sampai 6, hanya 1 bendera saja. Ada apa dengan Kementerian Desa? Belum lagi kita baru-baru ini dikagetkan dengan berita bahwa ada jual beli jabatan di Kementerian Desa. Jujur, saya malu hati, saya sama-sama orang Jombangnya ketika mendengar dan melihat Kementerian ini seperti ini rasanya sudah sampai menutup muka saya. Semua orang bertanya.
Kemudian berkaitan dengan program. Pak, saya, mungkin yang lainnya juga sudah 3 periode di sini. BUMDes kami hanya dikasih 5 sementara di daerah dikucurkan banyak sekali BUMDes. Kami di sini ini dianggap apa? Kalau memang tidak mau memberikan, sudah titik. Berarti anggaran tidak perlu ditandatangani, atau disetujui. Belum lagi rasanya kami disepelekan banget, diberi pilihan, mau pasar desa ataukah mau membangun untuk wisata desa. Hanya 1 pilihannya, padahal berapa program untuk wisata desa? Coba kita mikir bareng-bareng, apakah ini yang namanya mitra? Baru Kementerian ini saja yang mengalami seperti ini, benar-benar kami Anggota dilecehkan.
Dulu zaman Menterinya sahabat saya, kemudian ganti lagi, sahabat yang lebih sahabat lagi, ganti lagi dan sekarang boleh dibilang bukan lagi sahabat lagi, mungkin lebih dari, betul. Kalau kemudian Pak Irjen ada, ini orang dalam kan? Berarti tidak mungkin bukan orang dalam yang mengatakan bahwa ada jual beli jabatan di Kementerian, non-sense kalau ini bukan orang dalam. Artinya apa? Artinya, Kementerian ini tidak solid. Hanya mengurus internalnya saja tidak bisa. Urus internalnya saja loh tidak bisa. Kita sama-sama tuanya, Pak. Loh saya sudah tua kok, saya sudah tua, sudah mau punya cucu bagaimana, sudah tualah, kita sama-sama tua. Bukan seperti itu. Artinya apa? Kita saling memahami, kita tahu betul. Saya juga berangkat bukan ujug-ujug jadi Anggota DPR RI, saya juga dulu kakak saya juga birokrasi, eksekutif. Artinya, apa? Tahu betul proses-proses ini semua. Jangan dianggap ini semuanya hanya sekedar gurauan. Restu bergurau di luar rapat iya, tapi di dalam rapat tidak. Saya itu kalau saya inginkan Kementerian ini bubar sajalah, buat apa ada Kementerian kalau semuanya ternyata semuanya serba aneh. Saya sampai malu, bahkan kemarin baru kemarin lusa ini ada laporan di Kementerian ini kegiatan harus sekian persen dulu, malu hati saya. Demi Allah, malu hati saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Saya berharap suara saya benar-benar didengarkan oleh Pak Jokowi, benar-benar didengarkan oleh para Penegak Hukum kalau memang Pak Irjen tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Kita tahu kita saat ini kondisi semuanya susah, ayo kita bersama-sama prihatin, kita berikan yang terbaik untuk rakyat. Mana pernah sih kemudian saya ngemis-ngemis program di sini? Ketika saya tidak dikasih program, saya diam kan? Tidak apa-apa, tapi saya melihat, saya mendengar. Ini ungkapan benar-benar selama ini yang sudah tertimbun, setiap hari tertimbun, sudah benar-benar rasa malu yang luar biasa. Coba belajarlah dengan Kementerian Lembaga yang lain. Kami tahu sama tahu, semua mempunyai kepentingan, iya. Tapi kita di sini adalah
mitra, jangan lupa itu. Kita adalah mitra dan kalau hari ini terjadi apa-apa, artinya melakukan kerja tidak benar sebagaimana yang tadi saya katakan, berarti Kementerian ini telah menyakiti rakyat dan mungkin tidak hari ini, mungkin tidak hari ini karma ataupun punishment yang akan diberikan. Paling tidak, hari ini kalau Saudara melakukan tidak benar, minimal dosa setiap hari menumpuk, pertanggungjawabannya memang bukan di sini kalau panjenengan lagi beruntung, tetapi kalau tidak beruntung, di dunia ini anda akan mempertanggungjawabkan juga di akhirat. Ingat itu Kementerian ini dipenuhi dengan orang-orang yang sangat saya pahami betul keimanannya, tetapi kenapa jadi seperti ini. Itu saja Pimpinan.
Saya tidak akan ngomongkan masalah angka, karena masalah angka ini tadi saya sudah aneh. Ini apa-apaan, program model apa ini? Ini loh coba ini, dikatakan pengembangan kebijakan pembangunan desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi, pengembangan kebijakan Rp4 miliar untuk 4 rekomendasi kebijakan. Ternyata cukup mahal ini harganya kebijakan ya. Kemudian pengembangan kebijakan daya saing teknologi dan inovasi Rp13 miliar, 4 model peningkatan daya saing untuk 1.000 desa cerdas. Coba nanti ditulis, dirinci 1.000 desa itu di mana saja? Supaya kami juga tahu dan tidak kami kelihatan bodoh banget seperti ini. Itu saja Pimpinan.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Pak Fauzi silakan. Terakhir ya Pak Fauzi. F-PG (M. FAUZI, S.E.):
Ya terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Wakil Ketua Komisi V,
Yang saya hormati Teman-teman Komisi V,
Yang saya hormati Bapak-bapak/Ibu dari Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Cukup menarik apa yang disampaikan oleh Pembicara sebelum saya dan itu menjadi renungan dan menjadi masukan yang sangat berharga Pak. Terus terang saja kami memang di Komisi V ini kalau kita bandingkan dengan partner kerja yang ada di Komisi V kemudian juga kita bandingkan dengan
kementerian-kementerian lain yang ada di Komisi yang lain, mungkin kementerian inilah yang boleh kita tahu kan hampir tidak membuka ruang kepada kita sebagai partner di komisi dalam menata dapil kita masing-masing.
Saya kemarin sebenarnya sempat terkejut pada saat kalaupun mau dikasih ruang, ternyata sumber pendanaannya Pak Menteri itu sangat memperihatinkan sekali itu Pak, itu sama saja setengah hati Pak. Sebenarnya tidak mau begitu, masa sumbernya dari itu Pak? Ini memperihatinkan sekali Pak, sementara kita sama-sama mempunyai tanggung jawab untuk bagaimana proses budgeting ini kita bisa lakukan secara bersama-sama. Jadi bagaimana membagi peran itu harus cukup baik Pak mulai dari input, prosesnya, dan output-nya Pak. Nah ini kami di Komisi V merasa tertinggal atau ditinggalkan Pak. Ini menurut saya sebagai sebuah masukan pagi atau siang ini Pak ya, mudah-mudahan ini bisa disampaikan kepada Pak Menteri atau mudah-mudahan Pak Menteri menyaksikan juga begitu Pak.
Ini juga terbukti Pak, kemarin sekian banyak kita bicara dengan Dirjen-Dirjen yang lengkap semua Pak, cuman untuk pagi hari ini menjelang siang bisa dihitung Pak, karena ada atau tidaknya kita, tidak ada pengaruhnya Pak. Ini kan memperihatinkan Pak. Saya mohonlah Pak ke depan ini kita bisa saling menghargai fungsi kita masing-masing Pak.
Bapak-bapak/Ibu-ibu yang saya hormati.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.
Yang pertama, untuk ke Sekretariat Jenderal. Dari 2 output program prioritas sekjen Tahun 2021 adalah Layanan Perencanaan Kerjasama yang anggarannya Rp23 miliar dan Layanan Hubungan Masyarakat yang anggarannya Rp12 miliar, tapi sangat ironis Pak. Ke dua Biro Humas dan Perencanaan Kerjasama yang menunggangi program tersebut, merealisasikan anggarannya sangat minim sekali Pak. Ini kenapa bisa terjadi seperti itu Pak? Sangat minim sekali Pak. Kita juga ingin mengetahui apa sebenarnya sih Pak kendala dan tantangan sehingga penyerapannya sangat kecil Pak? Kemudian apa strategi yang akan ditempuh oleh Sekjen untuk mengakselerasi kinerja, merealisasikan anggaran dari ke dua biro tersebut dengan waktu yang masih tersisa.
Kemudian untuk Inspektorat. Di Pagu Tahun 2021 yang Rp50 miliar itu, ini juga penyerapannya juga masih perlu ditingkatkan, Pak. Ini juga saya ingin tahu apa penyebabnya sehingga penyerapannya belum maksimal? Nah kemudian dalam Rencana Kerja dan Rancangan Awal Tahun 2022, saya lihat Irjen fokus pada program-program pengawasan dan audit. Saya masih belum lihat bagaimana Irjen ini melakukan rencana-rencana pencegahan, Bu. Padahal disitu sangat penting sekali sehingga tidak, atau kita minimalislah Bu