PEMISAHAN SINAMIL ALKOHOL DARI KEMENYAN SUMATERA
(Styrax benzoin) DENGAN METODE CAMPURAN
DUA PELARUT (N‐HEKSANA : ISOPROPIL ALKOHOL)
PADA TEMPERATUR ± 60
0C
Juliati Br. Tarigan Mimpin Ginting**Fakulas MIPA USU Medan
Abstract
Styrax Benzoin has been commodity in North Tapanuli – North Sumatera. The Composition of the Styrax Benzoin is free cinnamic acid (10%), benzoic acid and conniferyl cinnamic (2 – 3%), conniferyl benzoic and cinnamil cinnamic (70 – 80%). Cinnamil alcohol has been used as raw material for making cinnamil acetic that used as base note and fixative in perfumery industry. The separation cinnamil alcohol using single solvent like kloroform has been reported. According to this, we want to separate cinnamil alcohol from styrax benzoin. First, saponification styrax benzoin with KOH to form unsaponificable cinnamil alcohol, then extracted using n-hexane / isopropyl alcohol in several composition at 60± 3 0C. The cinnamil alcohol resulted from this procedure cannot measuring because there is another salt compound in that cinnamil alcohol.
Key words: Styrax Benzoin, Cinnamil alcohol, n-hexane/isopropyl alcohol.
A. PENDAHULUAN
Kemenyan sumatera (Styrax benzoin) merupakan sumber komoditi yang terdapat di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli Utara. Kemenyan terdapat pada pohon kayu jenis tertentu yang telah memadat dan merupakan mata pencaharian sebagian penduduk yang dikenal dengan nama “haminjon”. Selama ini kemenyan tersebut masih diberlakukan sebagai kegiatan agribisnis yaitu tanam, tumbuh, pelihara, dan panen yang selanjutnya dijual ke pasar, serta belum merupakan bahan kegiatan dalam agro industri, yaitu proses pengolahan peningkatan nilai tambah dari kemenyan tersebut melalui proses kimia (Siahaan, 1993). Kemenyan sumatera ini berdasarkan laporan tentang komposisi senyawa kimianya terdiri dari asam sinamat bebas sekitar 10%, sedikit asam benzoat (2-3%) dan koniferil sinamat, koniferil benzoat bersama sinamil sinamat sekitar 70-80% (Sthal, 1985). Berdasarkan komposisi tersebut maka bila kemenyan sumatera ini diolah melalui proses kimia akan dapat menghasilkan berbagai senyawa seperti: asam sinamat, koniferil alkohol, sinamil alkohol, serta asam benzoat, yang mana senyawa ini masing-masing memiliki aktivitas dengan kegunaan tersendiri.
Sebelumnya penelitian yang berhubungan dengan penanganan kemenyan tersebut telah dikembangkan seperti pembuatan n-propil dan n-butil sinamat, di mana asam sinamat diperoleh dari hasil isolasi kemenyan sumatera yang terlebih dahulu dilakukan dengan proses penggaraman dengan NaOH atau KOH diikuti hidrolisis dengan asam serta kristalisasi dengan air panas, tetapi komponen lain yang tidak tersabunkan seperti sinamil alkohol akan dapat dipisahkan dengan pelarut organik, dan ini dapat dilakukan sebelum proses hidrolisis berlangsung (Ginting dan Ginting, 1997). Sinamil alkohol merupakan bahan dasar dalam pembuatan sinamil asetat yang dapat digunakan sebagai bahan pencampur parfum, baik sebagai bahan pewangi (Base Note) maupun sebagai pengikat (fixative) (Wells dan Billot, 1995). Peneliti terdahulu telah berhasil memisah-kan sinamil alkohol dengan pelarut tunggal seperti kloroform (Tarigan, 1995). Berdasar-kan uraian di atas peneliti tertarik untuk memisahkan sinamil alkohol dari kemenyan sumatera, di mana terlebih dahulu dilakukan reaksi penyabunan dengan menggunakan basa (KOH) terhadap kemenyan yang sudah dilarutkan dengan metanol, sinamil alkohol yang terdapat pada bagian yang tidak tersabunkan, diekstraksi
dengan campuran pelarut organik yakni n-heksana dan isopropil alkohol dengan beberapa perbandingan pada temperatur 60± 3 0C.
Permasalahan
Kemenyan sumatera yang banyak terdapat di Sumatera Utara banyak mengandung sinamil alkohol yang merupakan bahan dasar dalam pembuatan parfum, di mana selama ini kegiatan yang diberlakukan pada kemenyan ini oleh masyarakat masih sebatas agribisnis dan untuk meningkatkan nilai tambah kemenyan tersebut maka untuk itu perlu dilakukan pemisahan sinamil alkohol dari kemenyan sumatera dengan demikian apakah pemisahan sinamil alkohol dapat dilakukan dari kemenyan sumatera yang terlebih dahulu digaramkan dengan KOH kemudian diekstraksi dengan campuran dua pelarut (n-heksana : isopropil alkohol) dengan beberapa perbandingan pada temperatur 60 ± 3 0C.
Tujuan Penelitian
Untuk memisahkan sinamil alkohol dari kemenyan sumatera (Styrax benzoin) dengan sistem campuran dua pelarut yakni n-heksana dan isopropil alkohol dengan beberapa perbandingan pada temperatur 60 ± 3 0C.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bahwa sinamil alkohol dapat dipisahkan dari kemenyan sumatera dengan metode campuran dua pelarut pada temperatur 60 ± 3 0C dalam
hubungannya dengan peningkatan nilai tambah kemenyan sumatera.
Kemenyan
Adapun sistematika tumbuhan kemenyan adalah sebagai berikut:
Divisio : Sphermatophyta Sub Divisio : Angiosparmae Kelas : Dicotyledone Ordo : Styraxes Family : Styraceae Genus : Styrax
Spesies : Styrax benzoin Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kemenyan terbesar di dunia
setelah Thailand, oleh karena itu tanaman kemenyan banyak dijumpai di Indoneisia. Menurut Heyne di daerah Tapanuli terdapat dua jenis kemenyan yang dikenal dengan nama daerahnya “haminjon durame” (Styrax benzoin Dyrand) dan haminjon toba (Styrax sumatera J.J. SM), dan menurut Van Taens, di Indoneisia terdapat tujuh jenis Styrax (kemenyan) yang menghasilkan getah kemenyan tetapi hanya dua jenis yang diusahakan, yaitu:
a. Styrax benzoin Dryand (Haminjon Dairi) b. Styrax paralellononrus Perk (Haminjon
Toba)
Kedua jenis kemenyan tersebut termasuk family Styraceae dari tanaman berbiji dua. Tanaman kemenyan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Berdaun tunggal tersusun secara spiral, sebelah atas daun berwarna hijau dan sebelah bawah daunnya berwarna kekuning-kuningan, pinggiran daun merata.
- Bentuk batang tegak menyerupai tanaman-tanaman karet.
- Berbunga selalu teratur yaitu sekali dalam setahun, berkelamin dua, kelopak dan mahkota bunga masing-masing lima buah.
- Buahnya bundar (lonjong) sebesar ibu jari kaki (Panjaitan, 1999).
Haminjon toba dan haminjon dairi dapat dibedakan dengan melihat ciri-ciri di atas di mana:
- Haminjon toba buahnya berbiji bulat lonjong sebesar ibu jari kaki, sedangkan pada haminjon dairi buahnya berbiji agak bulat.
- Haminjon toba daunnya lebih besar dari haminjon dairi.
- Haminjon toba tingginya mencapai 15 sampai dengan 20 meter sedangkan pada haminjon dairi tinggi tanamannya mencapai 10 s/d 15 meter.
- Haminjon toba cabang (rantingnya) menjulang ke atas membentuk sudut kira-kira 600 dengan batang tanaman
sedangkan pada haminjon dairi cabangnya tumbuh mendatar.
Dalam dunia perdagangan dikenal dua macam mutu kemenyan yaitu:
- Kemenyan sumatera (Sumatera benzoin) - Kemenyam siam (Siam benzoin)
Kemenyan sumatera diperoleh dari pohon
Styrax benzoin Dryand dan diperdagangkan
dalam bentuk bongkahan. Kemenyan siam diperoleh dari pohon Styrax tonkinensis Craib dan diperdagangkan dalam bentuk butiran seperti krikil, perbedaan utama antara kemenyan sumatera dengan kemenyan siam adalah adanya kandungan asam sinamat dalam kemenyan sumatera, sedangkan dalam kemenyan siam terutama mengandung asam benzoat.
Kemenyan sumatera terutama dihasilkan di Tapanuli Utara dan sedikit di daerah Dairi (Sumatera Utara) dan Palembang (Sumatera Selatan). Dengan demikian di Sumatera dikenal dua jenis kemenyan yaitu: kemenyan tapanuli dan kemenyan palembang. Perbedaan utama antara kemenyan tapanuli dengan kemenyan palembang adalah:
- Adanya kandungan asam sinamat dalam kemenyan tapanuli sedangkan kemenyan palembang tidak ada atau hanya sedikit sekali mengandung zat tersebut.
- Sebaliknya kemenyan palembang mengandung lebih banyak asam benzoat sedangkan dalam kemenyan tapanuli sedikit sekali mengandung zat tersebut (Darwin,1996).
Kualitas dan Komposisi Senyawa Kimia yang Terkandung dalam Kemenyan 1. Kualitas Kemenyan
Penggolongan mutu kemenyan pada tingkat pedagang dapat dilakukan dengan melihat tingkat proses pengeringan dan pembersihan serta sortasi dari kemenyan itu sendiri. Kualitas dari kemenyan dapat dibagi sebagai berikut:
- Kualitas I. Kemenyan “mata kasar” atau “sidungkapi” yaitu: kristal/bongkahan kemenyan berwarna putih kekuning-kuningan berdiameter lebih besar dari 2 cm.
- Kualitas II. Kemenyan “mata kasar” yaitu: kemenyan berwarna putih sampai putih kekuning-kuningan berdiameter antara 1-2 cm.
- Kualitas III. Kemenyan “jurur” atau “Jarir” yaitu: jenis kemenyan yang sudah bercampur dengan kulit kemenyan atau kotoran lainnya, berwarna coklat dan adakalanya berbintik-bintik putih atau kuning.
- Kualitas IV. Kemenyan “tahir” biasanya dicampur atau disamakan mutunya dengan jenis jurur, warnanya sama dengan kemenyan kualitas III.
- Kualitas V. Kemenyan “barbar” yaitu kulit kemenyan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit sewaktu melakukan pembersihan.
- Kualitas VI. Kemenyan “abu” yaitu sisa-sisa yang berasal dari getah kemenyan dari semua kualitas, bentuk dan warna-nya seperti abu pasir (Darwin, 1996).
2. Komposisi Kimia yang Terkandung dalam Kemenyan
Kemenyan yang merupakan senyawa benzoin dikenal dua jenis yakni kemenyan siam (Styrax tonghinase) dan kemenyan sumatera (Styrax benzoin). Kemenyan siam kaya akan kandungan benzoat bebas 12%, koniferil benzoat dan sinamil sinamat 60-80%, vanilin 0,3%.
COOH
Asam Benzoat
C H O OCH3 OH Vanilin OH OCH3 O O Koniferil BenzoatSedangkan pada kemenyan sumatera terdapat dalam bentuk asam sinamat bebas 10%, sedikit asam benzoat (2-3%), koniferil benzoat, koniferil sinamat dan sinamil sinamat sebanyak 70-80% (Sthal, 1985).
COOH
Asam Sinamat
O O OH OCH3 Koniferil SinamatSinamil Sinamat
O
O
Sinamil alkohol dapat diperoleh dari hasil hidrolisa styrax benzoin yang merupakan bahan pewangi yang berbau floral. Seperti diketahui bahwa asam sinamat adalah merupakan precursor dari pembentukan senyawa p-hidroksi sinamil alkohol (Wells dan Billot, 1975). Ketiga senyawa di bawah ini merupakan building unit dari pembentukan lignin yang terikat bersama selulosa pada serat kayu (Systrom, 1981).
O OH Sinamil Alkohol
Koniferil Alkohol
OH
OH
p-Hidroksi Sinamil Alkohol OH
OCH3 OH
Sinamil Alkohol
Sinamil alkohol juga dikenal sebagai sinamik alkohol. Sinamil alkohol memiliki aroma yang menyenangkan dan sejuk yang mirip dengan aroma bunga-bungaan, di mana dapat dimanfaatkan sebagai bagian penyusun parfum dan zat pengikat pada formulasi parfum. Kemenyan merupakan sumber utama dalam memperoleh sinamil alkohol yang mana terdapat dalam jumlah yang besar sebagai sinamil sinamat. Ester sinamil sinamat juga dapat ditemukan pada balsam peru dan hondura dan pada minyak diperoleh dari kulit kayu Cinnamonum Cassia yang tumbuh luas di Pantai Barat India.
Adapun sifat-sifat sinamil alkohol adalah merupakan padatan yang berwarna putih atau kekuningan dengan titik didih 257,5 0C,
larut dalam pelarut organik, dapat digunakan secara bebas pada semua jenis formulasi parfum. Secara umum sinamil alkohol dapat diperoleh melalui reaksi saponifikasi sinamil sinamat (Styracin), yang kemudian diekstraksi dengan pelarut organik. Secara sintetik dapat dihasilkan dengan cara reduksi senamaldehida, namun sinamil alkohol yang dihasilkan secara sintetik masih memiliki aroma sinamaldehida yang menusuk atau tajam dan oleh karena itu sinamil alkohol alami yang diperoleh dari hasil hidrolisis styrax masih tetap dipertimbangkan.
Senyawa sinamil alkohol dan esternya yaitu sinamil asetat secara luas dimanfaatkan pada industri sabun dan parfum. Aroma sinamil alkohol mengingatkan kita pada aroma bunga bakung dan karena aromanya yang sejuk dan tahan lama sehingga sangat luas digunakan pada sabun dan kosmetik sebagai fragrance. Pada industri parfum digunakan dengan aroma yang berbeda pada jenis lilac, rose, mughet, jasmine,
carnation dan lain sebagainya (Gupta,
1975).
Komposisi Kimia Parfum
Pada umumnya parfum mengandung tiga macam komponen, yaitu:
1. Zat pewangi (Odoriferous substances) 2. Zat pengikat (fixative) dan
3. Bahan pelarut atau pengencer (diluent) Parfum yang terbuat dari minyak atsiri (parfum alamiah) mengandung campuran beberapa macam zat pewangi sedangkan parfum sintetis atau semi sintetis hanya terdiri dari satu macam zat pewangi.
1. Zat pewangi (odoriferous substance)
Komponen terdiri dari persenyawaan kimia yang menghasilkan bau wangi yang diperoleh dari minyak atsiri atau dihasilkan secara sintetis. Persenyawaan tersebut terdiri dari alkohol, ester, aldehida, keton, senyawa organik, lakton, amin, dan oksida yang berbau wangi.
2. Zat Pengikat (fixative)
Pada umumnya larutan zat pewangi dalam alkohol lebih dapat menguap dari alkohol, sehingga wangi parfum cepat hilang. Untuk menghindari kejadian ini maka ke dalam larutan parfum perlu ditambahkan zat pengikat (fixative). Zat pengikat adalah suatu persenyawaan yang memiliki daya menyerap yang lebih rendah dari zat pewangi atau minyak atsiri dan dapat menghambat atau mengurangi kecepatan penguapan zat pewangi yang mempunyai titik uap lebih tinggi dari titik uap zat pewangi. Zat pengikat yang ideal dan baik digunakan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Larut sempurna dalam etanol, minyak atsiri dan persenyawaan aromatik berwujud cair.
- Mudah digunakan dalam parfum beralkohol (alkoholic perfume) dan bahan berupa bubuk atau padatan misalnya, bedak, sabun dan jenis parfum lainnya.
- Mengurangi daya menyerap parfum dan menghasilkan campuran bau parfum yang harmonis.
- Berada dalam keadaan murni sehingga efektif jika digunakan dalam jumlah kecil.
Pada umumnya zat pengikat yang digunakan dapat berasal dari bahan nabati (vegetable fixative), bahan hewani (animal
fixative) dan zat fiksatif yang dibuat secara
sintetis (syntetic fixative).
- Zat Pengikat Nabati
Zat pengikat nabati yang digunakan umumnya berasal dari golongan gum resin, lilin atau beberapa jenis minyak atsiri yang bertitik didih tinggi. Zat pengikat berupa resinoit golongan gum cukup baik digunakan misalnya seperti kemenyan, galbanum, myrk, opopanax, labdanum, dan golongan balsem misalnya tolu, peru, styrax dan sebagainya.
- Zat Pengikat Hewani
Beberapa macam zat berbau wangi, merupakan hasil sekresi kelenjar pada binatang tertentu dan zat tersebut mempunyai daya fiksasi terhadap bau. Zat pengikat yang berasal dari hewani merupakan zat pengikat yang mahal, dan beberapa contoh yang telah dikenal dalam perdagangan antara lain “ambergris”, “castoreum”, “civet” dan “musk”.
- Zat Pengikat Sintetis
Beberapa macam persenyawaan ester sintetis yang tidak berbau dan bertitik didih tinggi dapat digunakan sebagai zat pengikat. Sebagai contoh gliseril asetat (titik didih 259 0C), etil ftalat (titik didih
295 0C) dan benzil benzoat (titik didih
323 0C). Beberapa macam
persenyawaan sintetis lainnya yang dapat digunakan sebagai zat pengikat adalah amil benzoat, feniletil asetat, asetofenon, benzofenon, vanilin, coumarin, hellotropin. Zat pengikat ideal digunakan dalam campuran parfum adalah zat pengikat yang mempunyai bau harum dan larut sempurna dalam alkohol.
3. Bahan Pelarut atau Pengencer
Bahan pelarut atau pengencer yang baik digunakan adalah etil alkohol (C2H5OH).
Fungsi bahan pengencer adalah untuk menurunkan konsentrasi zat pewangi dalam parfum sampai pada konsentrasi tertentu, sehingga dihasilkan parfum dengan intensitas bau wangi yang dikehendaki (Ketaren, 1985).
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat eksperimen laboratorium yang dilakukan di Laboratorium Kimia Organik FMIPA USU Medan. Untuk memisahkan sinamil alkohol dari kemenyan sumatera dilakukan prosedur sebagai berikut:
Persiapan Bahan
Kemenyan yang digunakan adalah kemenyan sumatera (Styrax benzoin) yang diperoleh dari pedagang kemenyan di Kotamadya Medan (Pusat Pasar). Kemenyan tersebut dijemur di panas matahari hingga kering dan getas lalu digiling dengan mortir sampai berbentuk serbuk yang halus. Serbuk tersebut dijemur kembali hingga betul-betul kering.
Pemisahan Sinamil Alkohol dari Kemenyan
Kemenyan yang telah halus ditimbang sebanyak 140 gram kemudian dilarutkan dalam etanol sebanyak 1,5 liter. Larutan tersebut disaring kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator sampai 700 ml. Filtrat yang pekat direaksikan dengan 400 ml KOH 15% sampai terbentuk garam. Campuran ini kemudian direfluks selama 3 jam dengan menggunakan pemanas air dan hasil reaksi selanjutnya diuapkan dengan rotary evaporator. Residu yang diperoleh dikeringkan pada temperatur 50-60 0C, selanjutnya ditumbuk
sampai halus dan diekstraksi dengan campuran pelarut n-heksana : isopropil alkohol dengan perbandingan 100 : 0 (vol/vol) ; 75 : 25 (vol/vol) ; 50 : 50 (vol/vol) ; 25 : 75 (vol/vol) dan 0 : 100 (vol/vol) pada temperatur 60±3 0C. Ekstrak yang
diperoleh dari masing-masing perbandingan
dipekatkan, kemudian rendemen sinamil alkohol ditentukan dengan gravimetri. Sinamil alkohol yang diperoleh ditentukan strukturnya dengan spektrofotometer FT-IR dan 1H-NMR.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Pemisahan sinamil alkohol dari kemenyan sumatera (Styrax benzoin) dengan sistem campuran dua pelarut yakni n-heksana dan isopropil alkohol dengan perbandingan tertentu pada temperatur 60 ± 3 0C telah
dapat dilakukan namun demikian persentase berat sinamil alkohol yang diperoleh belum dapat ditentukan dengan pasti karena masih ada senyawa garam yang ikut larut. Selanjutnya berdasarkan hasil analisa spektroskopi FT-IR seperti pada lampiran I, memberikan puncak-puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 3417 cm-1, 2931 cm-1, 1639 cm -1, 1612 cm-1, 1542 cm-1, 1454 cm-1, 1388
cm-1, 1245 cm-1, 968 cm-1 dan 694 cm-1.
Hasil analisa spektroskopi resonansi magnet inti proton pada lampiran II terdapat tiga lingkungan kimia proton yakni pada pergeseran kimia 1,3 ppm; 3,8 ppm; dan 7,3 ppm.
Pembahasan
Sinamil alkohol yang terdapat pada kemenyan sumatera (Styrax benzoin) dapat dipisahkan dengan sistem campuran dua pelarut yakni n-heksana dan isopropil alkohol dengan perbandingan tertentu pada temperatur 60 ± 3 0C namun demikian
persentase berat sinamil alkohol yang diperoleh belum dapat ditentukan dengan pasti karena masih ada senyawa garam yang ikut larut hal ini disebab karena adanya proses pemanasan pada temperatur 60 ± 3 0C pada saat proses
pemisahan, untuk menanggulangi hal ini perlu dilakukan proses pemurnian selanjutnya. Dari berbagai perbandingan pelarut yang digunakan di mana perbandingan n-heksana: isopropil (100:0) tidak menghasilkan sinamil alkohol atau dengan kata lain bahwa pemisahan sinamil alkohol tidak dapat dilakukan dengan pelarut organik n-heksana.
Dari hasil analisa dengan alat spektrofotometer FT-IR pada lampiran I memberikan
puncak-puncak serapan sebagai berikut: puncak serapan pada bilangan gelombang 3417 cm-1 menunjukkan vibrasi streching
OH yang membuktikan adanya gugus OH dari alkohol yang didukung oleh puncak serapan pada bilangan gelombang 1388 cm-1
menunjukkan vibrasi streching OH dalam bidang dan pada 694 cm-1 menunjukkan
vibrasi streching OH di luar bidang serta puncak serapan pada bilangan gelombang 1245 cm-1 menunjukkan vibrasi streching
C-O yang membuktikan adanya ikatan C-OH dari alkohol.
Ekstraksi dengan campuran pelarut n-heksana: isopropil (100:0) atau hanya n-heksana tidak menghasilkan sinamil alkohol.
Puncak serapan pada bilangan gelombang 1639 cm-1 menunjukkan vibrasi streching
asimetris C=C aromatis dan pada puncak serapan 1542 cm-1 menunjukkan vibrasi
streching asimetris untuk C=C aromatis. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1612 cm-1 menunjukkan vibrasi C=C olefin
yang terdapat di luar cincin benzen. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1454 cm-1 menunjukkan vibrasi C-H olefin dalam bidang yang didukung oleh puncak serapan pada 980 cm-1 merupakan vibrasi C-H
olefin di luar bidang. Puncak serapan pada
bilangan gelombang 2931 cm-1
menunjukkan vibrasi streching C-H sp3 dari
CH2 (metilen).
Hasil analisa dengan alat spektrofotometer resonansi magnet inti proton pada lampiran II menunjukkan beberapa pergeseran kimia yaitu: pergeseran kimia pada 7,3 ppm menunjukkan proton yang terdapat pada cincin aromatis atau membuktikan adanya gugus aromatis pada senyawa tersebut. Pergeseran kimia pada 1,3 ppm dan pada 3,8 ppm belum dapat ditentukan dengan pasti proton-proton yang mana yang terdapat pada pergeseran kimia tersebut, untuk proton-proton yang terikat pada atom karbon di luar cincin aromatis, hal ini disebabkan karena kemungkinan ada puncak-puncak yang tidak muncul oleh karena sampel yang digunakan pada saat analisa terlalu sedikit sehingga pergeseran kimia untuk proton yang terdapat pada OH alkohol sulit untuk diprediksi karena berdasarkan literatur proton dari OH alkohol terdapat pada pergeseran kimia 0,5 – 5,0 ppm (Bremann, 1983).
D. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Sinamil alkohol yang terkandung pada kemenyan sumatera dapat dipisahkan dengan cara reaksi penyabunan yang diikuti dengan ekstraksi menggunakan campuran dua pelarut n-heksana dan isopropil alkohol.
Saran
Untuk dapat menentukan persentase berat sinamil alokohol yang diperoleh maka perlu dilakukan prosedur lanjutan atau tambahan untuk mendapatkan sinamil alkohol yang lebih murni serta modifikasi metode yang digunakan.
E. DAFTAR PUSTAKA
Ginting, M dan A. Ginting., (1997), “Transformasi Asam Sinamat Hasil
Isolasi dari Kemenyan Sumatera (Styrax benzoin) Menjadi n-propil
Sinamat”, Laporan penelitian, FMIPA –
USU, Medan.
Ketaren, S., (1985), “Pengantar Teknologi
Minyak Atsiri”, PN, Balai Pustaka,
Jakarta.
Meloan, C. E., (1999), “Chemical
Separations: Principles, Techniques
and Experiments”, Jhon Willey and
Sons, Inc. New York.
Panjaitan, R. S., (1999), “Pembuatan
Isopropil Sinamat dari Kemenyan Sumatera (Styrax benzoin) Secara
Alkoholisis dengan Isopropil Alkohol”,
Skripsi Jurusan Kimia, FMIPA – USU, Medan
Siahan, N., (1993), “Pemanfaatan Asam
Sinamat yang Bersal dari Kemenyan Sumatera (Styrax benzoin) sebagai Sumber Pembuatan Ester n-propil dan
Etil Sinamat”, Skripsi Jurusan Kimia
Silverstein, R.M., G. Clayton Bassler dan T. C. Morril, (1981), “Spectrometric
Identification of Organic Compounds”,
Fourth Edition, John Willey & Sons, Inc., New York
Sinaga, E., (1985),”Hubungan Klasifikasi
Mutu dengan Komponen Kimia
Kemenyan”, Medan.
Sthal, E., (1985), “Analisa Obat secara
Kromatografi Mikroskopi”, Alih Bahasa
Padmawinata, K., Sudiro, I dan Niksolihin, S., ITB Bandung.
Sudjadi, (1988), “Metode Pemisahan”, Kanisius, Jakarta.
Tarigan, D., (1995), “Pembuatan Bahan
Pewangi Sinamil Asetat dari Hasil Reaksi Transformasi Sinamil Sinamit yang Dikandung Kemenyan Sumatera
(Styrax benzoin)”, Skripsi jurusan kimia
FMIPA-USU, Medan.
Wells, T.V, and M. Billot., (1975), “Perfumery Tecnology”, 2 nd edition,