PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 15 TAHUN 2012

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASER,

Menimbang : a. bahwa dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka dipandang perlu untuk penyesuaian kembali jenis Retribusi Daerah terutama mengenai Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Paser tentang Retribusi Pelayanan Persampahan /Kebersihan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 1820);

2. Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

(2)

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851);

6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5078);

7. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5043);

8. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2007 tentang Perubahan Nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4760);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);

13. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2005 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pasir (Lembaran Daerah Kabupaten Pasir Tahun 2005 Nomor 3);

(3)

Umum (Lembaran Daerah Kabupaten Pasir Tahun 2008 Nomor 28);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PASER dan

BUPATI PASER,

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Paser;

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah;

3. Bupati adalah Bupati Paser;

4. Dinas adalah Dinas Cipta Karya, Kebersihan, dan Perumahan yang selanjutnya disingkat DCKKP Kabupaten Paser adalah dinas yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan sampah;

5. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Paser;

6. Retribusi pelayanan persampahan dan kebersihan yang selanjutnya disebut Retribusi adalah retribusi yang dipungut atas pelayanan yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Kabupaten kepada orang pribadi atau badan untuk membuang sampah;

7. Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu;

8. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/ atau proses alam yang berbentuk padat dibuang karna dianggap sudah tidak berguna lagi, baik yang berasal dari orang perorang, badan, rumah tangga, perusahaan, kantor, toko/kios, rumah makan/warung, hotel/penginapan, tempat hiburan, bengkel dan tempat lainnya yang dapat mengganggu kebersihan tempat umum;

(4)

9. Tempat Penampungan Sementara yang selanjutnya disebut TPS adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/ atau tempat pengolahan sampah terpadu yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten;

10. Tempat Pemrosesan Akhir yang selanjutnya disingkat TPA adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten;

11. Kas Daerah adalah Kas Pemerintah Kabupaten Paser;

12. Persil adalah sebidang tanah dengan batas-batas tertentu yang di atasnya belum atau telah berdiri suatu bangunan dengan fungsi apapun juga;

13. Pemakai Persil adalah setiap Kepala Keluarga (bagi Rumah Tangga/Tempat Tinggal) dan pemilik atau yang menguasai tempat/lokasi dengan fungsi apapun juga;

14. Rukun Tetangga dan Rukun Warga, yang selanjutnya dapat disingkat RT/RW adalah Rukun Tetangga/Rukun Warga dalam Kabupaten Paser;

15. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk melakukan pembayaran;

16. Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SPRD, adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan perhitungan pembayaran retribusi yang terhutang menurut perhitungan retribusi;

17. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya retribusi yang terhutang;

18. Surat Pendaftaran Obyek Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SpdORD adalah Surat Ketetapan yang menentukan besarnya jumlah Retribusi yang teratas;

19. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disebut SKRDKB adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terhutang, jumlah kredit retribusi, jumlah kekurangan pembayaran pokok retribusi, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar; 20. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya

dapat disingkat SKRDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan;

21. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya dapat disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang;

22. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut STRD adalah surat untuk melakukan tagihan dan/atau sanksi administrasi berupa bunga atau denda;

23. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan atas terhadap SKRD atau dokumen lain yang disamakan, SKRDKBT dan SKRDLB yang diajukan oleh wajib retribusi;

(5)

24. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan/atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah;

25. Penyidikan Tindak Pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya dapat disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat jelas Tindak Pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan tersangka;

26. Insentif Pemungutan Retribusi yang selanjutnya disebut insentif adalah tambahan penghasilan yang diberikan sebagai penghargaan atas capaian target dalam melaksanakan pemungutan Pajak dan Retribusi.

BAB II

NAMA, OBJEK, SUBJEK DAN WAJIB RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, dipungut retribusi sebagai pembayaran atas Pelayanan Persampahan/Kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 3

(1) Objek Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan adalah pelayanan persampahan/kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah meliputi:

a. Pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke lokasi pembuangan sampah sementara; dan

b. Pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi pembuangan sementara ke lokasi pembuangan/pembuangan akhir sampah.

(2) Dikecualikan dari Objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah Pelayanan Kebersihan Jalan Umum, Taman, Tempat Ibadah, Sosial dan tempat umum lainnya.

Pasal 4

Subjek Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan atau menikmati pelayanan jasa persampahan/kebersihan dari Pemerintah Daerah.

Pasal 5

Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan wajib untuk melakukan pembayaran Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan termasuk pemotong pemungut dan/atau pemungut Retribusi.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 6

Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum.

(6)

BAB IV

PRINSIP YANG DIANUT DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 7

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi pelayanan persampahan/kebersihan ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya operasional dan pemeliharaan, biaya bunga dan biaya modal.

(3) dalam hal penetapan tarif sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, penetapan tarif hanya untuk menutup sebagian biaya.

BAB V

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8

(1) Struktur tarif retribusi pelayanan persampahan dan kebersihan digolongkan berdasarkan peruntukan bangunan yang dimanfaatkan atau digunakan.

(2) Struktur dan besarnya tariff retribusi pelayanan persampahan dan kebersihan di tetapkan sebagai berikut :

a. Rumah Tangga ... Rp. 3.000,00/bln

b. Pertokoan/Usaha Dagang;

1) Penjual Eceran ... .Rp. 3.000,00/bln 2) Toko /Usaha Kecil dan Sedang. ... .Rp. 5.000,00/bln 3) Toko/Usaha Besar (Toserba) ... .Rp.15.000,00/bln c. Rumah Makan/Warung 1) Rombong ... .Rp. 3.000,00/bln 2) Warung ... .Rp. 5.000,00/bln 3) Rumah Makan ... .Rp. 10.000,00/bln 4) Restoran Café ... .Rp. 15.000,00/bln d. Penginapan/Hotel 1) Melati I ………..Rp. 25.000,00/bln 2) Hotel Melati II .………Rp. 50.000,00/bln 3) Hotel Melati III/IV ………..Rp. 75.000,00/bln 4) Hotel Berbintang ……….Rp. 100.000,00/bln e. Industri/Perusahaan

1) Industri Rumah Tangga ……….Rp. 15.000,00/bln 2) Industri Kecil ………Rp. 25.000,00/bln 3) Industri Menengah ………Rp. 50.000,00/bln 4) Industri Besar ………..Rp. 100.000,00/bln f. Perbengkelan

(7)

2) Bengkel Mobil ……...…..………Rp. 25.000,00/bln 3) Bengkel Sepeda Motor & Mobil (Dealer) .………..Rp. 100.000,00/bln g. Tempat Hiburan ………..Rp. 150.000,00/bln h. Lingkungan Usaha/Kegiatan Insidentil, Hiburan dan sejenisnya.

1) Pemerintah ………Rp.100.000,00/ret 2) Swasta ……..………..Rp.150.000,00/ret 3) Perorangan ….………..Rp.50.000,00/ret i. Pesanan Khusus (Pembuangan Sampah ke TPA)

1) Tebangan pohon/dahan dan ranting …….………..Rp.75.000,00/ret 2) Sisa bahan bangunan/bongkaran .……….. Rp.100.000,00/ret j. Sampah yang dibawa sendiri langsung dibuang ke TPA.

1) Kendaraan besar (truck) ……….………Rp.20.000,00/ret 2) Kendaraan kecil (pick up) …..……….……….Rp.10.000,00/ret

BAB VI

PENINJAUAN TARIF RETRIBUSI Pasal 9

(1) Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali;

(2) Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian;

(3) Penetapan tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 10

Retribusi yang terhutang dipungut di wilayah Daerah. BAB VIII

SAAT RETRIBUSI TERHUTANG Pasal 11

Saat retribusi terhutang adalah pada saat diterbitkannya Surat Keterangan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB X

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 12

(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(3) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis, kupon dan kartu langganan.

(8)

(4) Hasil Pungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini disetor seluruhnya ke Kas daerah melalui Bendaharawan Penerima pada SKPD.

(5) Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi diatur dengan Peraturan Bupati. BAB XI

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 13

Dalam hal wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB XII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 14

(1) Pembayaran Retribusi yang terutang harus dibayar sekaligus.

(2) Retribusi yang terutang dilunasi paling lambatnya 15 (Lima belas) hari sejak diterbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(3) Pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas disetorkan ke Kas Daerah.

(4) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran retribusi diatur dengan keputusan Bupati.

BAB XIII

TATA CARA PENAGIHAN Pasal 15

(1) Pengeluaran surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran.

(2) Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis, wajib retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang.

(3) Surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.

BAB XIV KEBERATAN

Pasal 16

(1) Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen yang dipersamakan.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.

(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukan

(9)

bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(4) Keadaan diluar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak atau kekuasaan Wajib Retribusi.

(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan penagihan Retribusi.

Pasal 17

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan oleh Bupati.

(3) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi terutang.

(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, Keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

Pasal 18

(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran Retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.

(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.

BAB XV

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 19

(1) Atas kelebihan pembayaran Retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati dengan menyebutkan :

a. nama dan alamat Wajib Retribusi; b. masa Retribusi;

c. besarnya kelebihan pembayaran; dan d. alasan yang singkat dan jelas.

(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan Retribusi dianggap dikabulkan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu yang paling lama 1 (satu) bulan.

(10)

(4) Apabila Wajib Pajak atau Wajib Retribusi mempunyai utang Retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang Retribusi tersebut.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan, sejak diterbitkannya SKRDLB.

(6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran Retribusi.

(7) Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB XVI

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 20

(1) Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi. (2) Pemberian pengurangan dan keringanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

pasal ini dapat diberikan kepada Wajib Retribusi antara lain, lembaga sosial untuk mengangsur, kegiatan sosial, bencana alam.

(3) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi ditetapkan oleh Bupati.

BAB XVII

KEDALUWARSA PENAGIHAN DAN PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI Pasal 21

(1) Hak untuk melakukan penagihan Retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali jika Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di Bidang Retribusi.

(2) Kedaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh jika :

a. diterbitkan Surat Teguran; atau

b. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

(3) Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.

(4) Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) huruf b, adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah. (5) Pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada

ayat 2 (dua) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi.

(11)

Pasal 22

(1) Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.

(2) Bupati menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi Kabupaten yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Tata cara penghapusan piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB XVIII

INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 23

(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan retribusi dapat diberikan insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.

(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai peraturan Perundang-undangan.

BAB XIX

PENYIDIKAN Pasal 24

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kabupaten diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu dilingkungan pemerintah daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan Perundang-undangan.

(3) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah : a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan

berkenaan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan DaerahRetribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.

b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah.

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah.

d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah. e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,

pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.

(12)

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah.

g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang benda dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e.

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah.

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.

j. menghentikan penyidikan; dan/atau

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah dan Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini memberitahukan dimulainya dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XX

KETENTUAN PIDANA Pasal 25

(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar;

(2) Tindak Pidana yang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran.

(3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan Negara. BAB XXI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 26

Pada saat Peraturan ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Paser Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan dan Kebersihan dalam Wilayah Kabupaten Paser dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(13)

Pasal 27

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Paser.

Ditetapkan di Tanah Grogot pada tanggal 3 Desember 2012

BUPATI PASER, ttd

H. M. RIDWAN SUWIDI Diundangkan di Tanah Grogot

pada tanggal 3 Desember 2012

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PASER, ttd

H. HELMY LATHYF

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PASER TAHUN 2012 NOMOR 15 Salinan sesuai dengan aslinya

Kepala Bagian Hukum Setda Kab. Paser

H. Suwardi, SH.,M.Si. Pembina

(14)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 15 TAHUN 2012

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN I. PENJELASAN UMUM

Dalam rangka lebih memantapkan pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab, diperlukan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya yang berasal dari retribusi daerah yang harus dipungut dan dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Sementara itu, dengan semakin meningkatnya pertambahan penduduk di perkotaan khususnya ibukota kabupaten dan kota-kota kecamatan dengan segala aktivitasnya membawa konsekuensi pada bertambahannya jenis dan volume sampah yang dihasilkan yang apabila tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif pada kesehatan masyarakat, lingkungan permukiman, dan penurunan nilai estetika kabupaten/kota.

Pelayanan persampahan dan kebersihan yang dilaksanakan pemerintah daerah memerlukan pembiayaan cukup besar, sehingga perlu adanya kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar iuran retribusi persampahan dan kebersihan.

Untuk menjamin terselenggaranya pelayanan persampahan dan kebersihan yang terintegrasi dan berkesinambungan sehingga tercipta lingkungan kota yang bersih dan sehat, maka perlu diatur retribusi pelayanan persampahan dan kebersihan sebagai sumber PAD yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

Dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah tentang Retribusi Daerah maka dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah perlu segera menetapkan Peraturan Daerah Tentang Retribusi Pelayanan Persampahan dan Kebersihan.

Disamping sebagai pelaksanaan ketentuan tersebut di atas, dimaksudkan pula sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dimana penetapan tarif Retribusi dan Pajak diatur dengan Peraturan Daerah.

I. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas.

(15)

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) huruf a

yang dimaksud dengan Rumah Tangga adalah dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

1. Rumah Tangga Biasa adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik, dan biasanya tinggal bersama dan makan dari satu dapur.

2. Rumah Tangga Khusus adalah orang-orang yang tinggal di Asrama, Tangsi, Panti Asuhan, Lembaga Pemasyarakatan atau Rumah Tahanan yang pengurusan sehari-harinya dikelola oleh suatu Yayasan atau Lembaga serta sekelompok orang yang mondok dengan makan (indekos) dan berjumlah 10 orang atau lebih.

huruf b Angka 1)

yang dimaksud dengan Penjual Eceran adalah Pedagang yang menjual langsung kepada konsumen akhir, tanpa didahului dengan penawaran tertulis, pemesanan tertulis, kontrak, atau lelang. tidak berpangkalan atau berpangkalan Contoh : Penjual Sayur Keliling, Pangkalan Minyak Tanah, Pedagang Kaki Lima, Kios kecil dengan luasan 5 – 25 m².

Angka 2)

yang dimaksud dengan Toko/Usaha Kecil dan Sedang adalah Semacam toko kelontong atau yang menjual segala macam barang dan makanan, namun tidak menerapkan sistem swalayan dimana pembeli mengambil sendiri barang yang ia butuhkan dari rak-rak

(16)

dagangan dan membayarnya dikasir akan tetapi penjual melayani langsung pembeli, misalnya : Toko Obat/Apotek, Kios Kelontong, Toko Sembako dengan luasan 25 - 100 m².

angka 3)

yang dimaksud dengan Toko/Usaha Besar (Toserba) adalah Pasar Swalayan atau toko serba ada dibagi dalam jenis:

Minimarket

Sebuah minimarket sebenarnya adalah semacam "toko kelontong" atau yang menjual segala macam barang dan makanan, namun tidak selengkap dan sebesar sebuah supermarket. Berbeda dengan toko kelontong, minimarket menerapkan sistem swalayan, dimana pembeli mengambil sendiri barang yang ia butuhkan dari rak-rak dagangan dan membayarnya dikasir. Sistem ini juga membantu agar pembeli tidak berhutang. Sebuah minimarket jam bukanya juga lain dari sebuah supermarket, minimarket circle K jam bukanya hingga 24 jam. Minimarket yang ada di Indonesia adalah Minimarket yang ada di Indonesia adalah Alfamart, Indomaret, Ceriamart, Starmart, Circle K, dan lain-lain.

Midimarket

Ukuran lebih besar sedikit dari minimarket adalah midimarket, di sini sudah dijual daging dan buah2an. Buka bisa 24 jam atau hanya sampai jam 24 saja. Sebagai contoh adalah Alfa Midi, dan sebagian dari jaringan Giant yang dulunya bernama Hero.

Supermarket

Kalau Supermarket semua barang ada, dari kelontong, sepeda, TV dan camera, furnitur, baju, ikan dan daging, buah2an, minuman, pokoknya serba ada kebutuhan sehari-hari. Contohnya Giant Supermarket,Toserba Yogya(Jawa Barat), Carrefour Express, Sri Ratu[Jawa Tengah], Macan Yaohan[Sumatera Utara], Foodmart, Foodmart Gourmet, Super Indo, TipTop Supermarket dan lain-lain. Hypermarket

Di sini hypermarket adalah supermarket yang besar termasuk lahan parkirnya. Sebagai contoh Carrefour, Hypermart, Giant Hypermarket, dan lain-lain. Hypermarket itu lebih besar dari Supermarket.

Grosir

Disini semua barang tersedia sehingga ada bongkar muat di dalam pusat grosir. Contoh Indo Grosir, Makro (sekarang Lotte Mart), dan lain-lain

(17)

Perbedaan istilah minimarket, supermarket dan hypermarket adalah di format, ukuran dan fasilitas yang diberikan. Contohnya: - minimarket berukuran kecil (100m² s/d 999m²)

- supermarket berukuran sedang (1.000m² s/d 4.999m²) - hypermarket berukuran besar (5.000m² ke atas)

- grosir berukuran besar (5.000m² ke atas) huruf c

yang dimaksud dengan Rumah Makan/Warung adalah Suatu usaha yang menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman yang dikelola secara komersial.

angka 1)

yang dimaksud dengan Rombong adalah Gerobak dorong beratap yang menjual minuman dingin dalam kemasan botol (seperti teh botol), kudapan, permen, rokok, krupuk, dan berbagai macam barang-barang keperluan sehari-hari.

angka 2)

yang dimaksud dengan Warung adalah Usaha kecil milik keluarga yang berbentuk kedai, yang menjual makanan umumnya dapat menjual penganan sederhana gorengan seperti pisang goreng dan kopi. Selain menjual masakan Indonesia, beberapa warung menjual makanan asia dan barat, makanan seperti nasi goreng dan mi goreng lazim ditemukan di warung. Beberapa warung yang menjual makanan barat bahkan menjual roti, panekuk, sup, ikan bakar, steak dan pizza.

Jenis warung

• Warung nasi, warung yang menjual nasi dan lauk pauk,

semacam rumah makan sederhana

• Warung kopi, warung yang menjual kopi dan kudapan;

berbagai gorengan seperti pisang goreng atau buah segar

• Warung rokok, warung yang menjual rokok, permen,

minuman ringan, kerupuk dan kudapan lainnya, serta berbagai keperluan sehari-hari

• Warung Tegal, warung nasi khas Tegal

• Warung Internet, warung yang menyewakan komputer untuk

terhubung ke internet

Warung telekomunikasi, warung yang menyewakan sambungan telepon.

angka 3)

yang dimaksud dengan Rumah Makan adalah Menurut SK Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM 73/PW 105/MPPT-85 menjelaskan bahwa Rumah Makan adalah setiap tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan hidangan dan minuman untuk umum. Dalam SK tersebut juga ditegaskan

(18)

bahwa setiap rumah makan harus memiliki seseorang yang bertindak sebagai pemimpin rumah makan yang sehari-hari mengelola dan bertanggungjawab atas pengusahaan RM tersebut.

Pengertian lain Rumah Makan adalah satu jenis usaha jasa pangan yang bertempat di sebagian atau seluruh bangunan yang permanen dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan penjualan makanan dan minuman bagi umum di tempat usahanya.

angka 4)

yang dimaksud dengan Restoran/Café adalah Menurut SK Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM 73/PW 105/MPPT-85 Restoran adalah satu jenis usaha dibidang jasa pangan yang bertempat disebagian atau seluruh bangunan yang permanen, dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan, penyajian, dan penjualan makanan dan minuman untuk umum. Pengusahaan restoran meliputi jasa pelayanan makan dan minum kepada tamu restoran sebagai usaha pokok dan jasa hiburan didalam bangunan restoran sebagai usaha penunjang yang tidak terpisahkan dari usaha pokok sesuai dengan ketentuan dan persyaratan teknis yang ditetapkan. Pemimpin restoran adalah seorang atau lebih yang sehari-hari mempimpin dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan usaha restoran tersebut, sedangkan bentuk usaha restoran ini dapat berbentuk Perorangan atau Badan Usaha (PT, CV, Fa atau koperasi) yang tunduk kepada hukum Indonesia.

huruf d

yang dimaksud dengan Penginapan/Hotel adalah hotel yang belum layak menyandang predikat sebagai hotel berbintang 1.

angka 1)

yang dimaksud dengan Hotel Melati I adalah Hotel Melati I jumlah kamar minimal 5 buah.

angka 2)

yang dimaksud dengan Hotel Melati II adalah Hotel Melati II jumlah kamar minimal 10 buah.

angka 3)

yang dimaksud dengan Hotel Melati III/IV adalah Hotel Melati II jumlah kamar minimal 15 buah.

angka 4)

yang dimaksud dengan Hotel Berbintang adalah Hotel yang memiliki minimal 15 kamar, 1 suite room, dan 1 restaurant. Sertifikat Hotel berbintang diberikan dan ditanda tangani oleh Ketua Badan Pimpinan Pusat PHRI dan Gubernur.

(19)

huruf e

angka 1)

yang dimaksud dengan Industri Rumah Tangga adalah industri yang menggunakan tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe/tahu, dan industri makanan ringan.

angka 2)

yang dimaksud dengan Industri Kecil adalah industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang, Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri batubata, dan industri pengolahan rotan.

angka 3)

yang dimaksud dengan Industri Menengah adalah industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20 sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan memiliki kemampuan manajerial tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.

angka 4)

yang dimaksud dengan Industri Besar adalah industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemapuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

huruf f

angka 1)

yang dimaksud dengan Bengkel Sepeda Motor adalah tempat memperbaiki/ service serta penjualan spare part sepeda motor dengan jumlah tenaga kerja 2-4 orang.

angka 2)

yang dimaksud dengan Bengkel Mobil adalah tempat memperbaiki/ service serta penjualan spare part mobil dengan jumlah tenaga kerja 3-10 orang.

angka 3)

yang dimaksud dengan Bengkel Sepeda Motor dan Mobil (Dealer) adalah tempat memperbaiki/ service serta penjualan spare part resmi sepeda motor/ mobil.

huruf g

(20)

huruf h

Cukup jelas. huruf i

angka 1)

yang dimaksud dengan tebangan batang, dahan dan ranting pohon yang berdiameter di atas 5 cm adalah hasil tebangan yang berasal dari taman atau tanaman pekarangan rumah atau bangunan yang ukuran diameternya di atas 5 cm.

angka 2)

yang dimaksud dengan bongkaran sisa bahan bangunan, meliputi barang berupa tanah, batu, kaca, plastik, kayu yang dihasilkan dari pembongkaran bangunan.

huruf j angka 1) Cukup jelas. angka 2) Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas.

(21)

Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PASER TAHUN 2012 NOMOR 30 Salinan sesuai dengan aslinya

Kepala Bagian Hukum Setda Kab. Paser

H. Suwardi, SH.,M.Si. Pembina

(22)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :